Distilasi Batch: Analisis Pemisahan Kimia
Distilasi Batch: Analisis Pemisahan Kimia
PERCOBAAN 3
DISTILASI BATCH
DISUSUN OLEH
KELOMPOK IX (SEMBILAN)
2021
III-2
ABSTRAK
Distilasi adalah operasi pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau
kemudahan menguap (volatilitas) bahan. Suatu larutan biner secara teori akan lebih mudah
menguap jika memiliki derajat volatilitas atau derajat pemisahan yang besar. Tujuan percobaan ini
menentukan derajat pemisahan suatu campuran dan menentukan karakteristik kolom, seperti
jumlah tahap teoritik dan tinggi ekuivalen tahap teoritik HETP (Height Equivalen to A Theoretical
Plate). Prosedur pertama pada operasi total reflux ini, yaitu campuran biner dengan komposisi
etanol 96% sebesar 200 mL dan komposisi akuades sebesar 100 mL dimasukkan ke dalam still
kemudian dioperasikan secara batch dengan menyalakan pemanas dan kondensor. Kadar etanol
sampel dari refluks dan labu leher tiga diukur dengan menggunakan alkoholmeter. Operasi
dihentikan setelah pengambilan 10 sampel pada distilat dan bottom . Hasil yang diperoleh derajat
volatilitasnya adalah 4,5192. Dengan menggunakan metode Fenske jumlah stage yang didapat
adalah 0,2351 satuan sedangkan nilai HETP sebesar 10,63539 m. Dengan Metode McCabe Thiele
jumlah stage yang didapat adalah 2 dengan HETP 1,25 m.
PERCOBAAN 3
DISTILASI BATCH
3.1 PENDAHULUAN
II-2
III-3
dipanaskan lalu hasil aliran uap dikumpulkan ke dalam alat pendingin (kondensor)
dan mengumpulkan hasil pengembunan sebagai zat cair. Syarat utama dalam
operasi pemisahan komponen – komponen dengan cara distilasi adalah komposisi
uap harus berbeda dari komposisi cairan (Silalahi, 2018).
Distilasi dapat dilakukan dengan dua metode utama. Metode pertama
didasarkan atas pembuatan uap dengan mendidihkan campuran zat cair yang
dipisahkan dengan menggambungkan (kondensasi) uap tanpa ada zat cair yang
kembali ke dalam bejana didih, sehingga tidak ada reflux. Metode kedua
didasarkan atas pengembalian sebagian dari kondensat ke bejana didih dalam
suatu kondisi tertentu sehingga zat cair yang mengalir ke atas menuju kondensor
(McCabe dkk., 1993).
Penerapan operasi distilasi dalam dunia industri yaitu pada pabrik
pembuatan pupuk. Distilasi banyak diterapkan pada ammonia stripper, yaitu
merupakan subsistem dari plant ammonia yang memainkan peranan penting
dalam produksi ammonia, terutama saat penghematan energi (Rahayu, 2017).
Oleh karena itu, praktikum distilasi batch sangat penting untuk dilakukan.
3.2. DASAR TEORI
II-3
III-4
metode ini dilaksanakan dalam proes kontinu maupun dalam proses batch
(McCabe dkk., 1993).
Perancangan kolom distilasi dapat dibagi ke dalam langkah-langkah
sebagai berikut (Sinnot, 1993):
1. Menentukan derajat pemisahan yang diperlukan: spesifikasi produk.
2. Memilih kondisi operasi: batch atau kontinu, tekanan operasi.
3. Memilih tipe alat kontak: plates atau packing.
4. Menentukan stage dan refluks yang diperlukan: nilai kesetimbangan stages.
5. Ukuran kolom: diameter, jumlah stage.
6. Rancangan bagian dalam kolom: plates, penghubung, packing pendukung.
7. Rancangan mekanik: vessel dan internal fittings.
Distilasi batch adalah proses pemisahan suatu kuantitas spesifik beban
dari suatu campuran cairan ke dalam produk yang digunakan secara ekstensif
dalam laboratorium dan dalam unit produksi kecil. Banyak proses besar yang juga
menggunakan operasi batch. Penggunaan dari suatu unit batch adalah untuk
memisahkan padatan dan melakukan penghasilan produk tersebut (Perry, 1997).
II-4
III-3
Ada 3 macam distilasi yang terjadi pada single-stage atau still yang tidak
melibatkan rektifikasi, yaitu flash distillation, simple-batch distillation atau
differential distillation dan steam distillation (Geankoplis, 1993):
1. Distilasi Flash/Flash Vaporization
Distilasi Flash adalah operasi single-stage di mana campuran fase cair di
uapkan sebagian. Uap dibiarkan mengalami kesetimbangan dengan cairan residu
kemudian fase uap dan cair yang terbentuk dipisahkan. Pemisahan dengan cara
seperti ini bias dilakukan baik secara batch ataupun kontinu.
2. Distilasi Batch/Differential Distillation
Pada distilasi Batch, cairan pertama kali di masukkan ke dalam ketel
pemanas. Cairan kemudian dipanaskan perlahan dan uap yang terbentuk
dipindahkan secara cepat ke kondensor, di mana uap yang terkondensasi
kemudian di tamping. Komposisi terbesar dari distilat yang tertampung pertama
kali adalah komponen volatil A. Pada saat tertentu, komponen volatil A menjadi
berkurang.
3. Steam Distillation
Pada tekanan atmosfer, cairan dengan titik didih tinggi tidak dapat
dimurnikan dengan distilasi karena komponen dari cairan bisa terdekomposisi
pada suhu tinggi. Oleh karena itu, partikel dengan titik didih tinggi biasanya di
larutkan dalam air terlebih dahulu sehingga pemisahan pada temperatur rendah
dapat dilakukan dengan simple steam distillation. Metode ini sering digunakan
untuk memisahkan komponen dengan titik didih tinggi dari sejumlah kecil
impurities yang tidak volatil.
Distilasi Rayleigh telah banyak dilakukan dan diterapkan pada geokimia
dalam kaitannya dengan fraksinasi elemen dan isotop antara fase hidup
berdampingan persamaan distilasi Rayleigh diturunkan oleh Lord Rayleigh (John
William) pada tahun 1982. Persamaan teoritisnya berkaitan dengan hubungan
antara perubahan komposisi dan fraksi larutan yang tersisa melalui distilasi
campuran biner. Jumlah komponen dari 1 dan 2 dari campurannya adalah n 1 dan
n2, penjumlahan antara keduanya adalah N dan fraksi masing-masing adalah x 1 dan
x2, dapat ditulisakan sebagai berikut (Matsubaya dan Matsuo, 1982):
III-4
n1 + n2 = N ...(3.1)
n1 / N = x1 ...(3.2)
n2 / N = x2 ...(3.3)
Nm=
log
[
dLK . bHK
dHK . bLK ]
log aLK . avx ...(3.5)
Keterangan:
III-4
RD XD …(3.6)
yn+1 = x n+
RD R D +1
b. Feed plate dan feed line (g-line), pada plate dimana feed – feed
dimasukkan, rate liquid atau vapor maupun keduanya kemungkinan
berubah, tergantung dari kondisi termal dari feed. Hal ini dapat
dikarakteristikan ke dalam lima tipe yang disimbolkan dengan tipe g:
1. Coldfeed, g > 1
2. Saturated liquid feed, g = 1
3. Feed parsally vapor, 0 < g < 1
4. Saturated vapor feed, g = 0
5. Superheated vapor feed , g < 0
untuk menghitung nilai g, digunakan persamaan sebagai berikut :
C PL(T −T ) …(3.7)
g=1+ b P
τ
III-4
C PV (T −T d ) …(3.8)
g=1+ F
g XF …(3.9)
y=- x+
1−g 1−g
Kata Azeotrop berasal dari bahasa Yunani yang berarti tidak berubah
dengan “pendidihan”. Campuran ini terdri dari dua komponen cairan atau lebih
dalam komposisi tertentu dan tidak dapat dipisahkan dengan proses distilasi
III-7
2. Kondisi refluks
Pemisahan semakin baik jika sedikit tray yang digunakan untuk
mendapatkan tingkat pemisahan. Tray minimum dibutuhkan di bawah
kondisi total refluks, yakni tidak ada penarikan distilat. Sebaliknya refluks
berkurang, garis operasi untuk seksi rektifikasi bergerak terhadap garis
keseimbangan.
3. Kondisi aliran uap
Kondisi aliran uap yang merugikan menyebabkan:
a. Foaming
Mengacu pada ekspansi liquid melewati uap atau gas walaupun
menghasilkan kontak antar fase liquid. Uap yang tinggi, foaming
berlebihan sering mengarah pada terbentuknya liquid pada tray.
b. Entertaiment
Mengacu pada liquid yang terbawa uap menuju tray diatasnya dan
disebabkan laju alir uap yang tinggi menyebabkan efisiensi tray berkurang.
Bahan yang sukar menguap terbawa menuju plate yang menahan liquid
dengan bahan yang mudah menguap dapat mengganggu kemurnian
distilat. Enterteiment berlebihan dapat menyebabkan flooding.
c. Weeping/Dumping
Fenomena ini disebabkan aliran uap yang rendah. Tekanan yang dihasilkan
uap tidak cukup untuk menahan liquid pada tray karena itu liquid mulai
merembes melalui perforasi.
d. Flooding
Terjadi karena aliran uap berlebih menyebabkan liquid terjebak pada uap
diatas kolom. Peningkatan tekanan dari uap berlebih menyebabkan
kenaikan liquid yang tertahan pada plate diatasnya.
III-4
Rangkaian Alat :
Keterangan:
1. Kondensor
2. Kontrol reflux
3. Termometer atas
4. Kolom vigreoux
5. Termometer bawah
6. Cuplikan sampel
7. Hotplate
8. Labu leher tiga
9. Air pendingin masuk
10. Air pendingin keluar
11. Distilat keluar
3.3.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah akuades dan
etanol 96%.
III-4
III-10
III-11
III-12
V Kadar V
Volume Persentase Kadar V Etanol Mol Mol
No. Pengencera Etanol Akuades Xd
(mL) Etanol (%) (mL) Etanol Akuades
n (mL) (%) (mL)
1 13,0 17 36 47,08 6,12 6,88 0,09 0,39 0,1912
2 15,0 21 40 56,00 8,40 6,60 0,13 0,38 0,2500
3 15,0 17 43 48,73 7,31 7,69 0,11 0,44 0,2013
4 13,0 17 45 58,85 7,65 5,35 0,12 0,31 0,2713
5 17,0 19 38 42,47 7,22 9,78 0,11 0,56 0,1648
6 15,0 20 40 53,33 8,00 7,00 0,12 0,41 0,2313
7 14,5 21 39 56,48 8,19 6,31 0,12 0,37 0,2535
8 13,0 18 38 52,62 6,84 6,16 0,10 0,36 0,2264
9 14,0 17 37 44,93 6,29 7,71 0,10 0,44 0,1786
10 15,0 19 38 48,13 7,22 7,78 0,11 0,45 0,1976
4.3.4 Pembahasan
Operasi distilasi pada percobaan ini dilakukan secara batch. Distilasi
batch adalah proses cairan pertama kali masuk ke dalam ketel pemanas kemudian
dipanaskan perlahan dan uap yang terbentuk dipindahkan secara tepat kedalam
kondensor dimana uap yang terkondensasi, kemudian ditampung (Geankoplis,
1993). Campuran yang digunakan sebagai umpan adalah etil alkohol 96% (etanol)
dan akuades volume total yang digunakan yaitu 300 mL dengan 170 mL volume
etanol 96% dan akuades sebanyak 130 mL. Titik didih etanol yaitu 78,4 °C dan
akuades 100 °C (Valtech, 2012). Nilai titik didih (Tb) campuran etanol dan
akuades yang didapat yaitu 78 °C dengan waktu didih 16 menit. Menurut
(Smallwood, 2002). Nilai Tb campuran etanol dan air adalah 78°C dengan
komposisi (%w/w) etanol airnya 96:4. Nilai titik didih (Tb) campuran lebih
rendah daripada nilai titik didih komponen dikarenakan campuran etanol-air tidak
menghasilkan baik itu azeotrop positif maupun azeotrop negatif. Sehingga dapat
dikatakan tidak sesuai dengan teori. Azeotrop positif terjadi jika titik didih
campuran azeotrop kurang dari titik salah satu larutan konstituennya. Sedangkan
azeotrop negatif terjadi jika campuran azeotrop lebih dari titik didih komponennya
atau dapat dikatakan kedua komponennya (Muyassaroh, 2011).
dan mengetahui titik kesetimbangan uap cair yang terjadi jumlah stage yang
diperoleh pada percobaan ini adalah 0,2351.
III-16
menentukan jumlah tray minimum pada refluks total sehingga persamaan Fenske
kurang tepat untuk perhitungan campuran etanol-air (Jones dan Piyaldo, 2016).
Faktor-faktor yang mempengaruhi distilat batch adalah kondisi feed,
kondisi refluks dan kondisi aliran uap. Kondisi feed mempengaruhi garis operasi
dan jumlah stage dalam pemisahan. Kondisi refluks mempengaruhi jumlah tray
yang dihasilkan kondisi aliran uap mempengaruhi roaming, etertaiment, weeping
dan floading yang dapat menyebabkan efisiensi kolom menurun. Sedangkan
kondisi cuaca mempengaruhi jumlah uap yang dapat dihasilkan reboiler pada
setiap musim (Komariah dkk., 2009). Selain itu, dikarenakan larutan biner ini
merupakan azaetrop positif, dimana titik didih larutan lebih rendah daripada titik
didih komponennya. Suhu ruangan juga mempengaruhi proses berlangsungnya
distilasi dimana saat suhu ruangannya tinggi, proses distilasi berlangsung cepat,
sedangkan suhu ruangan rendah proses distilasi berlangsung lambat.
III-4
3.5 PENUTUP
3.5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat diperoleh dari percobaan ini adalah :
1. Derajat volatilitas etanol adalah 4,5192.
2. Jumlah stage berdasarkan metode Fenske adalah 0,2351 dan nilai HETP
sebesar 10,63539 m.
3. Jumlah stage berdasarkan metode McCabe-Thiele adalah 2 dan nilai HETP
1,25 m.
5.4.2 Saran
Saran yang dapat diberikan pada percobaan ini adalah menggunakan
campuran biner lain. Campuran bisa berupa benzene-etanol. Hal ini dilakukan
agar dapat perbandingan derajat pemisahan dari campuran tersebut.
III-4
DAFTAR PUSTAKA
Silalahi, R. (2018): Pengujian Alat Distilasi dengan Sieve Tray untuk Distilasi
Bioethanol Nira Kelapa Tipe Batch [Skripsi]. Fakultas Teknologi
Pertanian.
LAMPIRAN PERHITUNGAN
Komposisi umpan
C2H5OH 96% = 100 mL
H2O = 200 mL
Distilat
Persentase V Kadar Volume
No Volume % Volume Mol Mol
Kadar pengenceran Etanol Etanol Xd
(mL) Pengenceran Air (mL) C2H5OH H2O
Etanol (mL) (%) (mL)
1 5,60 18 40 14,00 94,57 5,30 0,30 0,08 0,03 0,7386
2 6,00 19 40 15,00 92,67 5,56 0,44 0,08 0.04 0,6979
3 6,00 18 43 13,95 95,00 5,70 0,30 0,09 0,03 0,7482
4 6,00 15 44 13,64 76,00 4,56 1,44 0,07 0,09 0,4362
5 7,00 19 43 16,28 82,71 5,79 1,21 0,09 0,08 0,5251
6 6,00 17 42 14,29 85,00 5,10 0,90 0,08 0,06 0,5598
7 7,00 19 39 17,95 71,86 5,03 1,97 0,08 0,12 0,3894
8 6,50 19 36 18,06 71,23 4,63 1,87 0,07 0,11 0,3828
9 7,00 19 38 18,42 69,14 4,84 2,16 0,07 0,13 0,3615
10 4,80 17 36 13,33 93,50 4,49 0,31 0,07 0,03 0,7154
Jumlah 61,90 50,994 10,906 Xd avg 0,5555
Hasil Perhitungan Distilat
Xd average : 0,5555
Xd : 0,7489
Xb average : 0,2164
Xb : 0,1648
Distilat
1. Perhitungan mol C2H5OH
VC H OH . ρC . kemurnianC 2 H 5 OH
mol C2H5OH =
2 5 2
H 5 OH
BM C2 H 5 OH
g
5,296 mL . 0,706 . 96 %
= mL
46,070 g/mol
= 0,0779 mol
Bottom
4. Perhitungan mol C2H5OH
VC H OH . ρC . kemurnianC 2 H 5 OH
mol C2H5OH =
2 5 2
H 5 OH
BM C2 H 5 OH
[Link]-3
g
6 ,1 mL .0,706 . 96 %
= mL
46,070 g/mol
= 0,09 mol
BM H 2 O
6 , 88 mL+ [ ( 1−0 ,50 % ) .1 , 8 mL ] . 0,9978 g/mL
=
18,013 g/mol
= 0,3811 mol
N = 0,2351
tinggi kolom
HETP =
jumlah tahap
2 ,5
¿
0,2351
= 10,6354 m
Penentuan Reflux
Distilat
1. Perhitungan mol C2H5OH
VC H OH . ρC . kemurnianC 2 H 5 OH
mol C2H5OH =
2 5 2
H 5 OH
BM C2 H 5 OH
g
51, 0 mL . 0,706 . 96 %
= mL
46,070 g/mol
= 0,7502 mol
BM H 2 O
10 , 91mL+ [ ( 1−4 , 0 % ) . 51 ,0 mL ] .0,9978 g /mL
=
18,013 g /mol
= 0,7171 mol
3. Mol Distilat
D = (0,7502 + 0,7171) mol
= 1,4673 mol
Bottom
4. Perhitungan mol C2H5OH
[Link]-3
VC H OH . ρC . kemurnianC 2 H 5 OH
mol C2H5OH =
2 5 2
H 5 OH
BM C2 H 5 OH
g
73 ,2 mL . 0,706 . 96 %
= mL
46,070 g/mol
= 1,0775 mol
BM H 2 O
71, 26 mL+ [ ( 1−4 % ) . 71 ,3 mL ] .0,9978 g /mL
=
18,013 g /mol
= 4,1052 mol
6. Mol Bottom
B = (1,0775+ 4,1052) mol
= 5,1827 mol
D 1,4673 mol
R = = =0,2831
B 5,1827 mol
R Xd avg
y = x+
R +1 R+1
0,2831 0,5555
= x+
0,2831+1 0,2831+1
= 0,2206 x + 0,4329
Penentuan Xf
1. Perhitungan mol C2H5OH
VC H OH . ρC . kemurnianC 2 H 5 OH
mol C2H5OH =
2 5 2
H 5 OH
BM C2 H 5 OH
[Link]-3
g
170 mL . 0,706 . 96 %
= mL
46,070 g/mol
= 2,5010 mol
BM H 2 O
130 mL+ [ ( 1−4 % ) .100 mL ] .0,9978 g /mL
=
18,013 g/mol
= 7,5937 mol
0,3 0,65 1 1
0,3 0,67
Xb
Didapat Xd Xf jumlah stage termasuk reboiler adalah
2 stage
tinggi kolom
HETP =
jumlahtahap
2, 5
¿ =1 , 25 m
2
Data persamaan Rayleigh
Volume
Xd Xb Xd-Xb 1/(Xd-Xb)
Distilat (mL)
5,60 0,7482 0,1648 0,5834 1,7142
6,00 0,7386 0,1786 0,5600 1,7858
6,00 0,7154 0,1912 0,5242 1,9078
1.00
0.90
0.80
0.70
0.60
0.50
0.40
0.30
0.20
0.10
0.00
0.0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0
[Link]-3
Pers. Rayleigh
10.0 b
9.0
8.0
7.0
6.0
t
5.0
4.0
3.0 a
2.0
1.0
0.0
0.15 0.20 0.25 0.30
0,2535+8,9687
=( ) x 0,0138
2
= 0,0636
2. Menghitung WO
Massa etanol = ρ etanol x Vetanol
= 0,706 g/mL x 170 mL
= 120,02 gram