Nama: Mufidah Azzahra Hedansa
Nim: 11000120140771
Tugas Perdata Rangkuman
A. Pemeriksaan Perkara
Tindakan hakim pada pemeriksaan diawali dengan membacakan surat gugatan yang
kemungkinan terjadi pada tahapan pemeriksaan Pihak Penggugat:
a) Mencabut Gugatan, harus mendapat persetujuan tergugat karena tergugat sudah rugi
(waktu,pikiran,biaya,dll)
b) Merubah Gugatan, di perbolehkan asal tidak mengubah atau menambah pokok tuntutan
dalam praktek
c) Meneruskan Gugatan, tidak ada perubahan atas gugatan
Pihak tergugat mengajukan jawaban atas tanggapan gugatan,
1. Eksepsi yaitu tangkisan yang tidak langsung mengenai pokok perkara ( merupakan
bantahan tergugat terhadap gugatama penggugat yang tidak langsung mengenai pokok
perkara).
Eksepsi prosesuil
Ekspsi materil
Eksepsi deklinatoir : tentang kompetensi, contoh; PN semarang tidak berwenang
relatif PN tidak berwenang absolut
Eksepsi diskualifikatoir : tentang kedudukan pihak-pihak dalam perkara, contoh;
pengadilan tidak punya kedudukan sebagai penggugat
Eksepsi dilatoir : tentang saat mengajukan gugatan, contoh; gugatan belum
saatnya
Eksepsi obscuur libel : tentang persyaratan menggugat, contoh; uraian
pembacaan putusan tidak jelas
Eksepsi peremtoir : tentang saat mengajukan gugatan, contoh; gugatan sudah
daluwarsa
Eksepsi chicaneus process : gugatan rekayasa
2. Jawaban Pokok Perkara yang diajukan tergugat yang langsung mengenai pokok perkara.
3. Rekovensi yaitu tuntutan gugatn yang diajukan tergugat terhadap pihak penggugat pada
saat ia digugat oleh penggugat.
B. Merubah Gugatan
Menambah gugatan dengan menambah tuntutan sita jaminan atau permohonan putusan
dinyatakan UBV, apabila ingin mengurangi dan menegaskan isi gugatan selalu boleh. Dapat
dilakukan sebelum tergugat mengajukan jawabannya sesuai dengan petunjuk dan
yurisprudensi MA jika tergugat setuju telah mengajukan jawaban dari persetujuan tergugat.
C. Rekovensi (gugat balik)
Gugatan yang diajukan tergugat pada saat ia digugat oleh penggugatnya. Gugatan ini
diajukan oleh tergugat sebagai balasan atas gugatan yang diajukan melakukan perlawanan
untuk menggugat penggugat, dan tergugat tidak perlu mengajukan tuntutan baru.
D. Pembuktian
Upaya atau cara yang diberikan oleh hukum (kepada para pihak dalam perkara) untuk
memberikan keyakinan kepada hakim akan kebeneran sesuatu dengan alat-alat bukti yang di
tentukan UU. Setiap pemeriksaan perkara perdata tidak dilanjutkan dengan pembuktian tetapi
bila ada sanggahan atau bantahan lawan.
Kebenaran formil
a. Berlaku dalam hukum acara perdata
b. Kebenaran didasarkan pada formalitas hukum
Kebenaran materil
a. Berlaku dalam hukum acara pidana
b. Kebeneran yang tidak hanya berpaku pada formalitas hukum tetapi harus di
tunjang pula dengan pengujian terhadap formalitas hukum tersebut dimuka siding
pengadilan.
Beban bukti
beban yang harus dipikul oleh salah satu pihak yang berperkara untuk di buktikan siapa
yang ditunjuk hakim untuk membuktikan bila ternyata tidak dapat membuktikan dalilnya
ia akan dikalahkan namun bila dapat membuktikan dalilnya ia belum tentu menang
(beresiko).
Pembagian beban bukti
Pembagian dari apa yang menjadi beban bukti/ pembagian tentang siapa yang harus
membuktikan.
Cara membuktikan dalil dengan menggunakan alat bukti yang di tentukan UU.
3 jenis alat bukti :
a. Material evidence ; alat bukti yang diajukan dimuka siding sebagai alat bukti
(berwujud barang)
b. Documentary evidence ; berupa surat/akta yang memiliki nilai keperdataan atau
komersial
c. Oral evidence ; alat bukti yang didapat melalui mulut saksi atau keterangan saksi.
• Macam-macam alat bukti (164 HIR) :
1. SURAT atau TULISAN (165 HIR)
2. SAKSI (139-168 HIR)
3. PERSANGKAAN (173 HIR)
4. PENGAKUAN (174-175 HIR)
5. SUMPAH (155-156 & 177 HIR)
D. Alat – Alat Pembuktian
1. Alat Bukti Tertulis
Alat bukti tertulis diatur dalam Pasal 138, 165, 167 HIR, 164, 285, 305 Rbg dan Pasal 1867-1894
BW. Alat bukti tertulis atau surat adalah “segala sesuatu yang memuat tanda-tanda bacaan yang
dimaksudkan untuk mencurahkan isi hati atau untuk menyampaikan buah pikiran seseorang dan
dipergunakan sebagai pembuktian”.
Surat sebagai alat bukti tertulis dibagi dua yaitu: surat yang merupakan “akta” dan surat-surat
lain yang “bukan akta”. Sedangkan akta dibagi menjadi “akta otentik” dan “akta di bawah
tangan”.
Akta adalah surat yang diberi tanda tangan, yang memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi dasar
daripada suatu hak atau perikatan, yang dibuat sejak semula dengan sengaja untuk pembuktian.
Yang dimaksud dengan penanda tanganan ialah “membubuhkan nama dari si penanda tangan”.
a. Akta Otentik
Menurut bentuknya maka akta dapat dibagi menjadi akta otentik dan akta di bawah
tangan.
Akta otentik adalah akta yang dibuat oleh pejabat yang diberi wewenang untuk itu oleh
penguasa, menurut ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan, baik dengan maupun tanpa
bantuan dari yang berkepentingan, yang mencatat apa yang dimintakan oleh yang
berkepentingan.
b. Akta di Bawah Tangan
Akta di bawah tangan adalah akta yang sengaja dibuat untuk pembuktian oleh para pihak
tanpa bantuan dari pejabat. Akta di bawah tangan tidak diatur dalam HIR, tetapi diatur
dalam S. 1867 No. 29 untuk Jawa dan Madura, sedang untuk luar Jawa dan Madura
diatur dalam Pasal 286 sampai dengan 305 Rbg. Pegertian surat di bawah tangan menurut
Pasal 1 S. 1867 No. 29 (Pasal 1874 Bw,286 Rbg) adalah akta di bawah tangan, surat-
surat daftar (register), catatan mengenai rumah tangga dan surat-surat lainnyayang dibuat
tanpa bantuan seorang pejabat.
c. Kekuatan Pembuktian akta.
Fungsi terpenting dari akta adalah sebagai alat bukti. Kekuatan pembuktian dari akta
dapat dibedakan antara lain:
1). Kekuatan pembuktian lahir
Yaitu kekuatan pembuktian yang didasarkan atas keadaan lahir, apa yang tampak pada
lahirnya: yaitu bahwa surat yang tampaknya (dari lahir) seperti akta dianggap
(mempunyai kekuatan) seperti akta sepanjang tidak terbukti sebaliknya.
2) Kekuatan pembuktian formil
Yaitu kekuatan pembuktian yang didasarkan atas benar tidaknya ada pernyataan oleh
yang bertanda tangan di bawah akta itu. Kekuatan pembuktian formil memberi kepastian
tentang peristiwa bahwa pejabat dan para pihak menyatakan dan melakukan apa yang
dimuat dalam akta.
3) Kekuatan pembuktian materil
Yaitu memberi kepastian tentang materi suatu akta, memberi kepastian tentang peristiwa
bahwa pejabat atau para pihak menyatakan dan melakukan seperti yang dimuat dalam
akta.
d. Fungsi Akta
Akta dapat mempunyai fungsi “formil”(formalitatis causa), yang berarti bahwa untuk
lengkapnya atau sempurnanya (bukan untuk sahnya) suatu perbuatan hukum, haruslah
dibuat suatu akta. Akta merupakan syarat formil untuk adanya suatu perbuatan hukum.
Misalnya, dalam Pasal 1610 BW Tentang Perjanjian Pemborongan, untuk itu semua
disyaratkan adanya akta dibawah tangan.
e. Kekuatan Pembuktian Akta Otentik
Menurut Pasal 165 HIR (Pasal 285 Rbg) maka akta otentik bagi para pihak dan ahli
warisnya serta mereka yang memperoleh hak dari padanya, merupakan bukti sempurna,
tentang apa yang termuat dalamnya.
Kekuatan pembuktian akta otentik terdiri atas:
1) Kekuatan Pembuktian Lahir Akta Otentik Sebagai asas yang berlaku acta publica
probant sese ipsa, yang berarti bahwa suatu akta yang lahirnya tampak sebagai akta
otentik serta memenuhi syarat- syarat yang telah ditentukan, maka akta itu berlaku atau
dapat dianggab sebagai akta otentik, sampai terbukti sebaliknya. Hal ini berarti bahwa
tanda tangan pejabat dianggab asli, sampai ada pembuktian sebaliknya.
2) Kekuatan Pembuktian Formil Akta Otentik Dalam arti akta otentik membuktikan
kebenaran dari pada apa yang dilihat, didengar dan dilakukan pejabat. Ini adalah
pembuktian tentang kebenaran dari pada keterangan pejabat mengenai apa yang
dilakukan dan dilihatnya. Dalam hal ini yang telah pasti adalah tentang tanggal dan
tempat akta dibuat serta keaslian tanda tangan.
3) Kekuatan Pembuktian Materil Akta Otentik Pada umumnya akta tidak mempunyai
kekuatan pembuktian materil, akta pejabat hanya membuktikan kebenaran apa yang
dilihat dan dilakukan oleh pejabat. Akta pejabat yang mempunyai kekuatan materil
adalah akta yang dikeluarkan oleh Kantor Pencatatan Sipil, yang tidak lain merupakan
petikan langsung atau salinan dari daftar aslinya, sepanjang isinya sesuai dengan daftar
aslinya harus dianggap benar sampai dapat dibuktikan sebaliknya
• Alat Bukti di luar Pasal 164 HIR:
PEMERIKSAAN SETEMPAT (153 HIR)
PEMBUKUAN (167 HIR jo Ps 7 KUHD)
PENGETAHUAN HAKIM (UU MA & YURISPRUDENSI)
AB ELEKTRONIK : INFORMASI ELEKTRONIK, DOKUMEN
ELEKTRONIK & HASIL CETAK INFORMASI DAN DOKUMEN
ELEKTRONIK (Pasal 5 UU 11/2008 jo. UU 19/2016)
Ada tiga kewajiban bagi seseorang yang dipanggil sebagai saksi, yaitu:
1. Kewajiban Untuk Menghadap
Apabila pada hari yang telah ditetapkan saksi yang
telah dipanggil tidak datang, maka ia dihukum membayar bea yang telah dikeluarkan sia-sia dan
ia akan dipanggil lagi (Pasal 140 HIR, 166 Rbg). Kalau setelah dipanggil untuk kedua kalinya ia
tidak juga datang menghadap, maka untuk kedua kalinya ia dihukum untuk membayar bea yang
telah dikeluarkan dan dihukum pula untuk mengganti kerugian yang diderita oleh para pihak
karena ketidak hadirannya saksi dan di samping itu hakim dapat memerintahkan agar saksi
dibawa oleh polisi ke pengadilan (Pasal 141 HIR, 167 Rbg).
2. Kewajiban Untuk Bersumpah
Apabila saksi tidak mengundurkan diri sebelum
memberi keterangan harus disumpah menurut agamanya (Pasal 147 HIR, 175 Rbg). Sumpah
diucapkan sebelum memberi kesaksian dan berisi janji untuk menerangkan yang sebenarnya,
maka sumpah ini disebut juga sumpah promissoir. Sumpah oleh saksi ini harus diucapkan
dihadapan kedua belah pihak di persidangan.
3. Kewajiban Untuk Memberi Keterangan.
Kalau saksi setelah disumpah enggan memberi
keterangan, maka atas permintaan dan beaya pihak yang bersangkutan hakim dapat
memerintahkan untuk menyandera saksi.
4. Persangkaan
Pada hakekatnya yang dimaksud dengan persangkaan tidak lain adalah alat bukti yang bersifat
tidak langsung. Misalnya saja pembuktian dari ketidak hadiran seseorang pada suatu waktu di
tempat tertentu, dengan membuktikan kehadirannya pada waktu yang sama di tempat lain.
Dengan demikian maka setiap alat bukti dapat menjadi persangkaan. Bahkan hakim dapat
menggunakan peristiwa prosesuil maupun peristiwa notoir sebagai persangkaan.
Menurut Pasal 1915 BW, persangkaan adalah “kesimpulan yang oleh undang-undang atau hakim
ditarik dari suatu peristiwa lain yang belum terang nyata kearah peristiwa lain yang belum terang
kenyataannya, yaitu yang didasarkan atas undang- undang (praesumptiones juris) dan yang
merupakan kesimpulan-kesimpulan yang ditarik oleh hakim (pboleh raesumptiones facti).
5. Pengakuan
Pengakuan diatur dalam HIR (Pasal 174, 175, 176), Rbg (Pasal 311, 312, 313) dan BW (Pasal
1923- 1928).
Pengakuan dapat diberikan di muka hakim di persidangan atau di luar persidangan. Pengakuan di
muka hakim di persidangan (gerechtelijke bekentenis) merupakan keterangan sepihak, baik
tertulis maupun lisan yang tegas dan dinyatakan oleh salah satu pihak dalam perkara di
persidangan, yang membenarkan baik seluruhnya atau sebagian dari suatu peristiwa, hak atau
hubungan hukum yang diajukan oleh lawannya, yang mengakibatkan pemeriksaan lebih lanjut
oleh hakim tidak perlu lagi.
6. Sumpah
Sumpah pada umumnya adalah suatu pernyataan yang khidmat yang diberikan atau diucapkan
pada memberi janji atau keterangan, dengan mengingat akan sifat Mahakuasa dari pada Tuhan,
dan percaya bahwa siapa yang memberi keterangan atau janji yang tidak benar akan dihukum
oleh-Nya. Jadi sumpah pada hakekatnya merupakan tindakan religius yang digunakan dalam
peradilan.
Alat bukti sumpah diatur dalam HIR (Pasal 155- 158, 177), Rbg (Pasal 182-185, 314), BW
(Pasal 1929- 1945).
E. Keputusan Hakim
Eksistensi putusan hakim atau lazim disebut dengan istilah “putusan pengadilan” sangat
diperlukan untuk menyelesaikan perkara perdata. Apabila ditinjau dari visi hakim yang
memutus perkara maka putusan hakim merupakan “mahkota” sekaligus “puncak
pencerminan nilai-nilai keadilan, kebenaran, penguasaan hukum dan fakta, etika serta
moral dari hakim yang bersangkutan.
a. Jenis-Jenis Putusan Hakim:
Putusan yang bukan Putusan Akhir Lazim disebut dengan istilah: putusan sela,
putusan antara, tussen vonis, putusan sementara atau interlocutoir vonnis yaitu
“putusan yang dijatuhkan oleh hakim sebelum memutus pokok perkaranya,
dimaksudkan agar mempermudah kelanjutan pemeriksaan perkara”.
Putusan Akhir Lazim disebut dengan istilah: “Eind vonnis”, atau “ final
judgement” yaitu putusan dijatuhkan oleh hakim sehubungan dengan pokok
perkara dan mengakhiri perkara pada tingkat peradilan tertentu.
b. Susunan Isi Keputusan Hakim
Pada ketentuan perundang-undangan secara eksplisit dan teoretis tidak ditemukan
bagaimana seharusnya susunan isi kepurusan hakim. Dalam ketentuan Pasal 183, 184,
187 HIR dan Pasal 194, 195, 198 Rbg, Pasal 27 R.O., Pasal 61 Rv dan dalam Pasal 25
UU No. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman tidak mengatur secara mendetail
apa yang harus dimuat dalam dalam putusan hakim
c. Kekuatan Keputusan Hakim
Dalam putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap terdapat tiga macam
kekuatan, yaitu:
1. Kekuatan Mengikat Putusan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap
(kracht van gewijsde power in force) tidak dapat diganggu gugat, artinya sudah tertutup
kesempatan menggunakan upaya hukum biasa untuk melawan putusan itu, karena
tenggang waktu yang ditentukan undang-undang sudah lampau
2. Kekuatan Pembuktian
Putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dapat digunakan sebagai alat
bukti oleh pihak yang berperkara, sepanjang mengenai peristiwa yang telah ditetapkan dalam
putusan itu. Karena putusan hakim itu pembentukan hukum in concreto, maka peristiwa yang
telah ditetapkan dianggab benar, sehingga memperoleh kekuatan pembuktian yang sempurna.
Kekuatan bukti sempurna itu berlaku baik antara pihak-pihak yang berperkara maupun terhadap
pihak ketiga.
3. Kekuatan Untuk Dilaksanakan
Putusan hakim yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap, memperoleh kekuatan pasti.
Dengan demikian mempunyai kekuatan untuk dilaksanakan (executoriale kracht).