0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan11 halaman

Prosedur dan Aktivitas Bongkar Muat Barang

Diunggah oleh

Yellow Jack
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan11 halaman

Prosedur dan Aktivitas Bongkar Muat Barang

Diunggah oleh

Yellow Jack
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perdagangan Internasional


Menurut Sasono (2012:92), “perdagangan internasional konkretnya adalah
ekspor impor, di definisikan sebagai perdagangan barang dan jasa yang melewati
batas-batas negara yang timbul akibat ketidakmampuan negara dalam memenuhi
keseluruhan kebutuhannya karena terbatasnya sumber daya yang di miliki”.

Menurut Lasse (2015:5), “ekspor adalah kegiatan usaha mengeluarkan


barang dari dalam ke luar wilayah pabean suatu negara”. Menurut Sasono
(2012:101), “impor adalah memasukkan barang dari luar negeri ke dalam daerah
pabean suatu negara”.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa perdagangan internasional


adalah hubungan antara dua negara atau lebih yang terlibat dalam kegiatan
perdagangan barang dan jasa ekspor dan impor.

2.2 Prosedur
Menurut Rasto (2015:49), “prosedur adalah urutan rencana operasi untuk
menangani aktivitas bisnis yang berulang secara seragam dan konsisten”.
Berdasarkan dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa prosedur adalah
urutan-urutan yang telah ditentukan oleh perusahaan dalam melakukan suatu
pekerjaan agar pekerjaan dapat lebih efektif dan efisien.

2.2.1 Tujuan Prosedur


Berikut ini adalah tujuan dari penetapan prosedur kantor:
a. Menjamin kelancaran arus informasi dalam urutan yang benar
b. Menghindari kemungkinan kecurangan
c. Menyediakan batas pengendalian yang tepat
d. Memungkinkan penyisipan informasi yang hilang sesuai dengan
persyaratan sistem
e. Menyesuaikan informasi yang tidak akurat
f. Memasukkan informasi tambahan yang dianggap perlu

9
10

g. Mengkonfirmasi persyaratan hukum


h. Memberikan informasi yang tepat kepada supervisor dan manajer
dengan tepat waktu
i. Mengintegrasikan prosedur dan sistem lainnya
j. Menjadi ekonomis
k. Menjawab dengan cepat pertanyaan dari staf, pelanggan, pemasok
dan lain-lain
l. Mempertahankan kinerja karyawan pada level tertinggi
m. Menyajikan semua informasi dalam bentuk yang paling cocok
n. Menunjukkan keakuratan informasi

2.2.2 Manfaat Prosedur


a. Prosedur Memberikan Urutan Tindakan
Untuk melakukan aktivitas apapun setiap karyawan diinstruksikan
untuk mengikuti alur tertentu. Ini meminimalkan keterlambatan dan
kesalahan dalam kerja.
b. Ekonomis dalam Penggunaan Sumber Daya
Hal ini dimungkinkan karena prosedur dapat meningkatkan efisiensi
melalui penghapusan gerakan yang tidak perlu dan tidak adanya
penundaan pekerjaan.
c. Memfasilitasi Koordinasi
Prosedur berfungsi sebagai dasar untuk melakukan koordinasi antar
bagian yang berbeda dalam organisasi.
d. Berfungsi sebagai Dasar Pengendalian
Prosedur menyediakan mekanisme untuk membandingkan kinerja
aktual dengan standar. Dengan demikian prosedur dapat
memfasilitasi koreksi penyimpangan.
e. Dapat Digunakan untuk Melatih Karyawan Baru
Karyawan dapat memahami rincian pekerjaan mereka dengan mudah
jika mereka mengetahui prosedur kerja.
f. Memastikan Kelancaran Operasional
11

Tujuan utama dari prosedur kantor adalah untuk melakukan aktivitas


kantor secara efektif dan ekonomis. Hal ini dapat dicapai dengan
menyederhanakan prosedur, menghilangkan formulir, dokumen yang
tidak perlu dan menghindari duplikasi kegiatan.

2.3 Bongkar Muat Barang


Menurut Sasono (2012:131), “kegiatan bongkar muat adalah kegiatan
membongkar barang-barang impor dan atau barang-barang antarpulau/interinsuler
dari atas kapal dengan menggunakan crane dan sling kapal ke daratan terdekat di
tepi kapal, yang lazim disebut dermaga, kemudian dari dermaga dengan
menggunakan lori, forklift, atau kereta dorong, dimasukkan dan ditata ke dalam
gudang terdekat yang ditunjuk oleh Administrator Pelabuhan, sementara kegiatan
muat adalah kegiatan sebaliknya.”

Menurut Amir (2004:194), “bongkar muat barang adalah pekerjaan


membongkar barang dari atas dek atau palka kapal dan menempatkannya ke atas
dermaga (kade) atau ke dalam tongkang (membongkar barang eks impor) atau
kebalikannya memuat dari atas dermaga atau dari dalam tongkang dan
menempatkannya ke atas dek atau ke dalam palka kapal dengan mempergunakan
derek kapal (memuat barang ekspor)”.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa bongkar muat adalah


aktivitas menurunkan dan menaikkan barang dari/ke kapal ke atas truk yang
berada di darat kemudian dipindahkan ke dalam gudang.

2.3.1 Aktivitas Kegiatan Bongkar Muat


Aktivitas perusahaan bongkar muat merupakan rangkaian stevedoring,
cargodoring dan receiving/delivery untuk bongkar maupun sebaliknya untuk
muat:
1. Stevedoring adalah pekerjaan membongkar barang dari kapal ke
dermaga/tongkang/truk atau memuat barang dari
dermaga/tongkag/truk ke dalam kapal sampai dengan tersusun
dalam palka kapal dengan menggunakan derek kapal atau derek
darat.
12

2. Cargodoring adalah pekerjaan membongkar barang dari tali/jala-


jala (ex tackle) di dermaga dan mengangkut dari dermaga ke
gudang/lapangan penumpukan barang atau sebaliknya.
3. Receiving/Delivery adalah pekerjaan memindahkan barang dari
timbunan/tempat penumpukkan di gudang/lapangan penumpukan
dan menyerahkan sampai tersusun di atas kendaraan di pintu
gudang/lapangan penumpukkan atau sebaliknya.

Gambar 2.1
Aktivitas Bongkar Muat Langsung (Direct Delivery)

Sumber: Lasse, 2012:355

Gambar 2.2
Aktivitas Bongkar Muat Tidak Langsung (Indirect Delivery)

Sumber: Lasse, 2012:355

2.3.2 Tenaga Kerja Bongkar Muat


Menurut Lasse (2014:357), “tenaga kerja bongkar muat adalah tenaga
kerja yang bekerja secara manual menggeser, mendorong, mengangkat,
menyusun, memindahkan barang ke/dari sling, jala-jala, forklift atau palet
untuk di angkat dan di angkut dengan alat mekanis”.
13

Sesuai Lampiran Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 25 tahun


2002 tanggal 9 April 2002 tentang “Pedoman Dasar Perhitungan Tarif
Pelayanan Jasa Bongkar Muat Barang dari dan ke Kapal di Pelabuhan”,
jumlah satu regu kerja ditentukan sebagai berikut:
1. Bongkar muat non-mekanis (labour intensive)
a. Stevedoring 12 orang
1. Kepala regu kerja 1 orang
2. Tukang derek/pilot 3 orang
3. Anggota 8 orang
b. Cargodoring 24 orang
1. Kepala regu kerja 2 orang
2. Anggota 22 orang
c. Receiving/delivery 12 orang
1. Kepala regu kerja 1 orang
2. Anggota 11 orang
2. Bongkar muat dengan menggunakan alat-alat mekanik (semi
labour intensive)
a. Untuk barang tanpa pallet:
1. Stevedoring 12 orang
a. Kepala regu kerja 1 orang
b. Tukang derek/pilot 3 orang
c. Anggota 8 orang
2. Cargodoring 12 orang
a. Kepala regu kerja 1 orang
b. Anggota 11 orang
3. Receiving/delivery 6 orang
b. Untuk barang palletisasi:
1. Stevedoring 12 orang
a. Kepala regu kerja 1 orang
b. Tukang derek/pilot 3 orang
c. Anggota 8 orang
14

2. Cargodoring 6 orang
3. Receriving/delivery 6 orang
3. Supervisi
Tenaga supervisi bongkar muat adalah tenaga pengawas
bongkar muat yang disediakan oleh perusahaan bongkar muat
(PBM) yang terdiri dari:
a. Stevedoring
1. Stevedore adalah pelaksana penyusun rencana dan
pengendalian kegiatan bongkar muat di atas kapal.
2. Chief tally clerk adalah penyusunan rencana
pelaksanaan dan pengendali perhitungan fisik,
pencatatan dan survei kondisi barang pada setiap
pergerakan bongkar muat dan dokumentasi serta
membuat laporan secara periodik.
3. Foreman adalah pelaksana dan pengendali kegiatan
operasional bongkar muat barang dari dan ke kapal
sampai ke tempat penumpukkan barang dan
sebaliknya serta membuat laporan periodik hasil
kegiatan bongkar muat.
4. Tally clerk adalah pelaksana yang melakukan kegiatan
perhitungan pencatatan jumlah, merk dan kondisi
setiap gerakan barang berdasarkan dokumen serta
membuat laporan.
5. Mistry adalah pelaksana perbaikan kemasan barang
dalam kegiatan stevedoring, cargodoring dan
receiving/delivery.
6. Watchman adalah pelaksana keamanan barang pada
kegiatan stevedoring, cargodoring dan
receiving/delivery.
15

b. Cargodoring
1. Quary supervisor adalah petugas pengendali kegiatan
operasional bongkar muat barang di dermaga dan
mengawasi kondisi barang sampai ke tempat
penimbunan atau sebaliknya.
2. Tally clerk adalah pelaksana yang melakukan kegiatan
perhitungan pencatatan jumlah, merk dan kondisi
setiap gerakan barang berdasarkan dokumen serta
membuat laporan.
3. Watchman adalah pelaksana keamanan barang pada
kegiatan stevedoring, cargodoring dan
receiving/delivery.
c. Receiving/delivery
1. Tally clerk adalah pelaksana yang melakukan kegiatan
perhitungan pencatatan jumlah, merk dan kondisi
setiap gerakan barang berdasarkan dokumen serta
membuat laporan.
2. Mistry adalah pelaksana perbaikan kemasan barang
dalam kegiatan stevedoring, cargodoring dan
receiving/delivery.
3. Watchman adalah pelaksana keamanan barang pada
kegiatan stevedoring, cargodoring dan
receiving/delivery.
16

2.3.3 Peralatan Bongkar Muat


Peralatan bongkar muat adalah alat-alat pokok penunjang pekerjaan
bongkar muat yang meliputi:
a. Peralatan Mekanis

Gambar 2.3
Peralatan Mekanis (Forklift Truck)

Sumber: Lasse, 2012:55

Gambar 2.4
Peralatan Mekanis (Mobile Crane)

Sumber: Lasse, 2012:60


17

b. Peralatan Non-mekanis

Gambar 2.5
Peralatan Non-Mekanis

Sumber: Lasse, 2012:63

Keterangan:
a. Sling rantai
b. Jarring kawat baja
c. Sling rangka
d. Ganco pengangkat drum
e. Sling pengangkat pipa
f. Jarring tali
g. Spreader kendaraan bersumbu 2 atau 3
h. Sling pengangkat rol
i. Sling sabuk baja
j. Sling ganco berkaki 4
k. Sling pengangkat unit
l. Sling tali
m. Tali bermata di kedua ujung
n. Sling kanvas tali ukuran 2,5 x 1 m
o. Pallet 4 kait ukuran 1,8 x 1,2 m
p. Ganco pengangkat model “c”
18

2.3.4 Prosedur Bongkar Muat


Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: KM 21 Tahun 2007
tentang system dan prosedur pelayanan kapal barang dan penumpang pada
pelabuhan laut yang dilaksanakan sebagai berikut:
a. Pelayanan kegiatan bongkar muat langsung (truck losing)
diperuntukan bagi sembilan bahan pokok, bahan strategis, barang
militer serta barang atau bahan berbahaya yang memerlukan
penanganan khusus sesuai kondisi pelabuahan setempat.
b. Untuk barang-barang yang dikeluarkan dari tempat
penumpukkan/gudang, pemilik barang/perusahaan
EMKL/Perusahaan JPT berdasarkan otorisasi/surat perintah kerja
dari pemilik barang mengambil delivery order (DO) dari
perusahaan angkatan laut nasional atau penyelenggara kegiatan
angkutan laut khusus/agen umum/sub agen yang bersangkutan
untuk kemudian menyelesaikan kewajiban keuangannya kepada
Bendahara Penerima Kanpel sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
c. Berdasarkan bukti pembayaran jasa kepelabuhan dan
menyelesaikan kewajiban dengan instansi pemerintah terkait di
pelabuhan, pemilik barang/perusahaan EMKL/perusahaan JPT
menyampaikan pemberitahuan pengeluaran barang (P2B) kepada
Kakanpel untuk mendapatkan persetujuan.
d. Kakanpel setelah melakukan penilikan terhadap pemberitahuan
pengeluaran barang (P2B) sebagaimana di maksud pada huruf c,
memberikan persetujuan pengeluaran barang.
e. Setelah kapal selesai melakukan kegiatan bongkar muat serta telah
menyelesaikan semua persyaratan teknis, administrasi, biaya
pelayanan jasa transportasi laut dan penyelesaian kewajiban dengan
instansi pemerintah terkait di pelabuhan serta telah mendapatkan
clearance out/surat izin berlayar berlayar (SIB) dari kakanpel maka
perusahaan angkutan laut nasional/penyelenggara kegiatan
19

angkutan laut khusus/agen umum/sub agen dapat


memberangkatkan kapalnya dari pelabuhan.

Anda mungkin juga menyukai