BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Landasan Teori
1. Manajemen Sumber Daya Manusia
a. Pengertian Manajemen
Berdasarkan pendapat Wijaya and Rifa’i (2016) manajemen
berasal dari kata to manage dmana hal tersebut memiliki arti mengatur.
Dalam hal manage tentu bertujuan untuk menetapkan, menganalisis, goal
dari organisasi tersebut, dan mengelola tugas serta kewajiban secara
baik. Tujuan utama dari manajemen tentu tidak terlepas dari berjalannya
organisasi secara efektif dan efisien. Menurut Terry dalam Wijaya and
Rifa’i (2016) menjelaskan bahwa “management is performance of
conceiving and avhieving desired results by means of group efforts
consisting of utilizing human talent and resources”. Menurut Pratama
(2016) mendefinisikan bahwa manajemen adalah sebuah art untuk
meraih goal dari individu atau organisasi lain, dalam hal ini yaitu tujuan
organisasi. Manajemen adalah proses planning, organizing, leadership,
dan controling semua sumber daya yang ada didalam organisasi dengan
misi meraih goal organisasi atau perusahaan.
b. Model Manajemen
Manajemen tentu memiliki definisi yang beragam, demikian pula
diikuti fungsi manajemen sendiri yang bervariasi. dari fungsi yang
simple hingga kompeks. Menurut Pratama (2016) model manajemen
terdiri dari beberapa hal berikut :
1
1) Model planning, implementation, and evaluation. Bentuk paling
simple, karena terdiri dari tiga fungsi pokok didalamnya. Model ini
lebih dikenal dengan sebutan P-I-E.
2) Model planning, organizing, actuanting, and controling atau biasa
dikenal POAC merupakan model yang sering di aplikasikan dalam
suatu organisasi, dan sangat familiar didunia akademisi. Model ini
mencakup dari proses perencanaan aktivitas yang akan di lakukan
oleh organisasi, naik yang bersifat long-term maupun short-term.
Dilanjutkan dengan mengorganisasikan apa yang telah direncanakan
tentu untuk mencapai goal tersebut. Mengarahkan sumber daya yang
telah dimiliki menjadi tujuan atau langkah selanjutnya setelah
organizing. Direct tersebut bertujuan untuk melaksanakan planning
dan memimpin sumber dayanya (leading).
3) Model analisa, rumusan, rencana, implementasi, monitoring, dan
evaluasi. Konsep tersebut lebih dikenal dnegan A-R-R-I-M-E.
c. Prinsip-Prinsip Manajemen
Berdasarkan pendapat menurut Wijaya dan Rifa’i (2016) general
principles of management dibagi menjadi beberapa hal diantaranya
adalah :
1) Pembagian kerja
2) Otoritas dan tanggung jawab
3) Disiplin
4) One direct
5) One direction
2
6) Mendahulukan kepentingan umum
7) Apreciation
8) Keteraturan
9) Inisiatif
10) Stabilitas pelaksanaan pekerjaan
d. Pengertian Sumber Daya Manusia
Samsuni (2017) mendefinisikan sumber daya manusia atau SDM
sebagai penduduk yang siap, mau serta memiliki kapasitas untuk
memberikan kontribusi kepada organisasi atau industri guna meraih
cita-cita organisasi. SDM bisa disejajarkan dengan konsep tenaga
kerja yang terdiri atas angkatan kerja, dan bukan angkatan kerja.
Menurut Soetrisno (2009) Human resources didalamnya terdapat
akal, feeling, keinginan, kebutuhan, knowladge, skill, motivation,
daya dan karya.
SDM adalah suatu sumber daya yang berperan penting dalam
menjalankan roda organisasi. Keberlanjutan, baik atau tidaknya
organisasi tercermin dari bagaimana quality of human resource yang
ada didalamnya. SDM adalah aset utama dalam sebuah organisasi,
yang perlu dipelihara. SDM merupakan sumber daya yang memiliki
tugas serta fungsi lebih berat dibandingkan denganya sumber daya
pendukung lainnya.
3
e. Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Samsuni (2017) bahwa MSDM atau manajemen sumber
daya manusia yaitu sebuah ilmu atau pengetahuan untuk mengelola,
mengatur, atau memanajemen segala hal atau bentuk sumber daya
yang ada didalam perusahaansecara optimal sehingga tercapainya
goal yang telah direncanakan. Menurut Flippo dalam Samsuni (2017)
MSDM atau dikenal dengan human resource management (HRM)
adalah sebuah manajemen personalia yang meliputi perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pemutusan hubungan kerja,
pengembangan kompensasi, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan
kerja dengan SDM untuk mencapai tujuan individu, organisasi
maupun pihak ketiga atau stakeholder lainnya.
Almasri (2016) mengatakan bahwa MSDM memiliki beberapa
istilah lain diantaranya yaitu, manajemen kepegawain, manajemen
perburuhan, manajemen personalia, manajemen tenaga kerja, dan
hubungan industrial. Menurut definisi yang diungkapkan oleh
Almasri (2016) MSDM adalah salah satu bidang daei manajemen
umum yang meliputi segi-segi planning, organizing, pelaksanaan,
dan pengendalian. Definisi Hasibuan dalam Almasri (2016) MSDM
adalah ilmu dan art yang menggelola pola interaksi antar tenaga kerja
secara tepat untuk tercapainya cita-cita organisasi.
Berdasarkan definisi tersebut maka dapat ditarik big line bahwa
MSDM tidak terlepas dari cara mengelola asset utama perusahaan
yaitu manusi (tenaga kerja). Dimana pengelolaan tersebut dilakukan
4
mulai dari tahapan hiring hingga development dari sumber daya
terkait. Secara sederhana HRM merupakan sebuah art untuk
memanfaatkan prime asset dalam organisasi secara optimal hingga
tercapanya efektifitas dan efisiensi.
f. Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Adapun fungsi MSDM menurut Almasri (2016) adalah sebagai
berikut :
1) Fungsi manajerial
a) Planning
b) Organizing
c) Directing
d) Controling
2) Fungsi Operasional
a) Hiring (pengadaan karyawan)
b) Pengembangan
c) Kompensasi
d) Integration
e) Perawatan
f) Separation
2. Kepemimpinan
a. Pengertian Kepemimpinan
Kepemimpinan begitu berperan dalam manejemen organisasi
maupun sebuah industri. Definisi kepemimpinan memiliki ciri-ciri
personal, habit, cara memberi influence kepada orang lain, posisi,dan
5
cara interaksi pada organisasi. Menurut Rivai, 2014) Kepemimpinan
(leadership) merupakan sebuah kemampuan untuk mengajak seluruh
anggota organisasi atau industri menggunakan proses komunikasi yang
efektif guna meraih setiap perencanaan dalam organisasi . Farida dan
Hartono (2016) kepemimpinan yaitu sebuah skill yang ada pada seorang
pemimpin untuk mengelabuhi orang lain dan seni komunikasi untuk
ajakan kerjasama guna mencapai goal yang telah direncanakan.
Dikutip dalam Yuniarsih dan Suwanto (2016) berikut beberapa
pengertian kepemimpinan :
1) Kepemimpinan merupakan proses bagimana mengajak anggota
organisasi dalam menjalankan kegiatannya terstruktur dengan baik,
untuk pencapaian suatu industri yang optimal.
2) Kepemimpinan adalah sebuah pengendali lokomotif dalam sebuah
organisasi industri atau perusahaan.
Wiyono (2018) menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah upaya
yang dijalankan oleh seorang leader dalam mengintegrasikan antara goal
individu dan organisasi secara sinkron. Tampi (2014) menjelaskan
bahwa model kepemimpinan adalah sebuah pola yang digunakan oleh
seorang leader untuk menggerakkan anggotanya agar terciptanya
efektifitas dan efisiensi dalam memimpin, serta tujuan primernya tentu
agar goal organisasi bisa tergenggam secara optimal bahkan maksimal.
Timotus (2016) leadership adalah suatu upaya yang harus
dilakukan oleh seorang leader agar bagaimana anggotanya bersedia ikut
6
serta dalam mewujudkan visi dan misi organisasi. Kepemimpinan juga
sangat berkaitan dengan sikap yang melekat dalam diri seseorang yang
tidak bisa dibentuk dengan sendirinya. Sifat ini bersifat natural, atau
biasa disebut telah memiliki jiwa kepemimpinan sejak lahir.
b. Jenis – Jenis Kepemimpinan
Terdapat dua jenis kepemimpinan menurut Aprilita (2012). Yaitu
kepemimpinan trasformasional dan kepemimpinan traksional.
1) Kepemimpinan Trasformasional
Kepemimpinan trasformasional merupakan model kepemimpinan
yang berbasis untuk menguatkan, untuk meningkatkan SDM
(sumber daya manusia) dengan ikatan timbalbalik berdasarkan
kepercayaan, kesetiaan, dan rasa hormat kepada pemimpin. Maka
itu, karakteristik dari kepemimpinan adalah :
a) Karisma, maksudnya pemimpin menerapkan visi misi sesui
tujuan, hal tersebut merupakan bentuk prosedur dan kepercayaan
serta rasa hormat.
b) Kepemimpinan inspirasional, artinya pemimpin yang diberikan
kepercayaan mampu memberikan ide-ide yang kongkrit berkaitan
dengan tujuan.
c) Stimulasi intelektual, artinya pemimpin menekankan rasionalitas,
kecerdasan, dalam penyelesaian masalah.
d) Pertimbangan individu, maksudnya pemimpin mampu mendekati
secara presuasif guna memotivasi maupun melatih individu.
2) Kepemimpinan traksional
7
Kepemimpinan traksional merupakan model kepemimpinan
transaksi atau barter dalam hubungan pimpinan dengan bawahan,
pemimpin ini akan memberian imbalan yang lebih baik untuk
karyawan yang baik, sebalikya memberikan hukuman bagi karyawan
yang tidak memiliki etika. Karakter dari kepemimpinan traksional
adalah :
a) Imbalan kontigensi, yaitu semacam kontrak barter imbalan dalam
berbagai usaha yang yang dikerjakan oleh karyawan.
b) Manajemen dengan pengecualian secara aktif, maksudnya
pemimpin ini lebih mengamati dan mengambil tindakan dalam
sekelompok yang dipimpin.
c) Laissez-faire, artinya pemimpin ini memiliki sikap tersendiri
dalam menghindari keputusan atau tanggung jawab.
c. Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan merupakan suatu bentuk perwujudan
tindakan dari leader leader yang berkaitan dengan kekuatannya atau skill
dalam memimpin. Dari perwujudannya biasanya dapat diketahui dari
karakter tertentu. Menurut Farida dan Hartono (2016), gaya
kepemimpinan merupakan perilaku atau tindakan seorang pemimpin
yang mana dapat digunakan untuk mempengaruhi para anggotanya
dalam perusahaan atau organisasi. Thoha (2012) kepemimpinan
merupakan norma, atau tindakan seseorang yang mana untuk mencoba
mempengaruhi prilaku orang lain.
8
Berdasarkan penjelasan sebelumnya maka dapat diambil
kesimpulan bahwa gaya kepemimpinan adalah suatu cara dalam bentuk
apapun yang mana dapat dijadikan kekuatan oleh seorang pemimpin
untuk mempengaruhi para anggota-anggotanya, yang salah satunya
dinyatakan dalam bentuk kepribadian maupun tingkah laku. Dalam
Teory Path Gold yang dijelaskan menurut Farida dan Hartono (2016),
terdapat beberapa jenis-jenis gaya kepemimpinan diantaranya :
1) Kepemimpinan Direktif (Directive Leadership)
Kepemimpinan direktif atau yang sering dikenali dengan pemimpin
yang otokratis, maksudnya dalam tindakan pengambilan keputusan
semuanya dihaknya pemimpin tanpa melibatkan partisipasi dari
bawahan.
2) Kepemimpinan Suportif (Suportive Leadership)
Kepemimpinan ini bersifat demokrasi, maksudnya pemimpin selalu
bersedia dalam menjelaskan sesuatu, pemimpin ini menganggap
bawahan sebagai teman, supaya mudah didekati dan menunjukkan
jati diri sebagai seorang pemimpin.
3) Kepemimpinan Partisipatif (Participative Leadership)
Dalam kepemimpinan ini, pemimpin selalu tanggap peka terhadap
bawahan, maksudnya partisipasi dari bawahan atau saran-saran yang
menjadi bakal pertimbangan pemimpin.
4) Kepemimpinan Orintasi Prestasi (Achievement Oriented Leadership).
Dalam kepemimpinan ini, pemimpin selalu memberikan tantangan
yang positif guna merangsang bawahan dalam mencapai tujuan.
9
d. Indikator Kepemimpinan
Berdasarkan Farida dan Hartono (2016) dalam bukunya yang
berjudul Manajemen Sumberdaya Manusia terdapat indikator
kepemimpinan diantaranya :
a) Kejelasan dalam memberikan tugas.
b) Pandai memanfaatkan peluang.
c) Mampu memberikan penghargaan.
d) Menciptakan suasana lingkungan kerja yang baik.
e) Konsisten dalam meciptakan kedisiplinan.
Selain itu, indikator kepemimpinan menurut Nusyabani, (2018) antara
lain :
a) Mampu mengembangkan, yaitu dengan mengayomi dan melatih.
b) Berkomunikasi yang baik dan bisa diterima oleh bawahan.
c) Memberika informasi, yaitu apa yang akan dituju oleh perusahaan.
d) Menetapkan standart hasil kerja.
e) Memahami bawahan, yaitu dengan mengamati, memperhatikan
kemampuannya.
f) Sikap dalam menganbil keputusan.
g) Waspada terhadap situasi dan kondisi.
h) Konsisten dalam mengadakan perubahan.
Menurut Komang (2012). Kepemimpinan merupakan sebuah bentuk
aktivitas untuk melakukan negosiasi, lobi agar orang lain berkenan
bekerjasama guna mencapai suatu misi dan visi tertentu. Hirarki
kepemimpinan dibagi menjadi beberapa tahapan sebagai berikut :
10
a) Top Management pada tahap ini tugas pemimpin adalah membuat
kebijakan, planning, aturan dan laporan secara berkala ke direksi.
b) Middle Management berbentuk seperti kabag yang bertugas
menjalankan setiap hal kebijakan, aturan atau hal-hal yang telah
direncanakan.
c) Operating Management pada tahap ini biasanya ada pengawas
lapangan dan kepala unit pelaksana yang bertugas mengawasi setiap
kegiatan yang terjadi lapangan atau proses produksi.
Indikator dari kepemimpinan menurut Wahjosumidjo (2012) yaitu
sebagai berikut :
a) Bersifat adil.
b) Bertanggung jawab.
c) Menciptakan rasa aman.
d) Sumber inspirasi.
e) Bersikap menghargai.
3. Kompensasi
a. Pengertian Kompensasi
Menurut Sari (2009) kompensasi adalah salah satu bentuk
penghargaasn suatu organisasi terhadap SDM yang ikut kontribusi di
dalamnya. Berdasarkan pendapat Schuler dan Jackson dalam Muljani
(2002) kompensasi total dibedakan menjadi tiga yaitu kompensasi
dasar, kompensasi variabel, dan kompensasi tidak langsung.
Kompensasi dasar adalah kompensasi yang diberikan dalam jumlah
dan waktu yang tetap, adapun contohnya adalah gaji dan upah.
11
Bentuk kompensasi yang kedua adalah kompensasi variabel, dimana
kompensasi tersebut dalam bentuk penghargaan pada karyawan yang
memiliki prestasi baik, kompensasi jenis ini memiliki jumlah yang
bervariasi dan waktu pembayaran kepada karyawannya tidak pasti,
sesuai dengan effort karyawan itu sendiri.
Kompensasi di dalamnya terdapat upah yang harus diterima oleh
karyawan, dimana hal itu merupakan suatu penerimaan yang
berfungsi sebagai jaminan kehidupan yang layak. Berdasarkan
pendapat Hasibuan dalam Jufrizen (2018) orang yang memiliki niat
untuk bekerja secara maksimal disebabkan oleh beberapa faktor
diantaranya adalah sebagai berikut :
1) Keinginan untuk hidup (the desire for live), artinya keinginan
utama setiap orang. Tujuan utama manusia bekerja adalah untuk
memenuhi kebutuhan primernya yaitu untuk makan tentu guna
melanjutkan kehidupannya.
2) Keinginan untuk memperoleh/memiliki sesuatu (the desire for
possesion), keinginan jenis ini adalah dorongan terdalam manusia
untuk semangat dalam menjalankan aktivitas pekekrjaannya.
3) Keinginan untuk kekuasaan (the desire fir power), kekuasaan
erupakan keinginan untuk memiliki, menduduki, mendorong
orang-orang yang mau untuk bekerja.
4) Pengakuan , hal ini merupakan keinginan untuk diakui, masuk
dalam hirarki kebutuhan manusia paling akhir.
12
Hasibuan dalam Jufrizen (2018) menjelaskan bahwa kompensasi
memiliki tujuan pokok yaitu sebagai ikatan kerja sama, membentuk
kepuasan kerja karyawan, dorongan semangat, pembentuk sikap taat
aturan serta keterlibatan puhak ketiga yaitu pemerintah.
b. Jenis Kompensasi
Berdasarkan pendapat Farida dan Hartono (2017) kompensasi
dibagi menjadi beberapa jenis adapun sebagai berikut :
1) Kompensasi dalam bentuk uang, artinya kompensasi yang harus
dibayarkan dalam karyawan dalam bentuk sejumlah uang
tertentu.
2) Kompensasi dalam bentuk barang, dimana kompensasi yang
diberikan kepada karyawan yang bersangkutan dalam bentuk
barang tertentu.
Berdasarkan pemberiannya kompensasi menurut Farida dan Hartono
(2017) dibedakan menjadi dua sebagai berikut :
1) Direct compensation (kompensasi langsung)
Bentuk kompensasi jenis ini adalah gaji, upah, atau upah insentif.
Farida dan Hartono (2017) menjelaskan bahwa gaji merupakan
balas jasa yang wajid diberikan secara periodik terhadap
keryawan, berbeda dengan upah yang merupakan balas jasa yang
wajid diberikan kepada pekerja harian dengan prosedur tertentu.
Upah insentif adalah bentuk apresiasi kepada karyawan yang
memiliki jejak prestasi baik.
13
2) Indirect compensation (kompensasi tidak langsung)
Farida dan Hartono (2017) menjelaskan bahwa kompensasi ini
diberikan berdasarkan keputusan masing-masing industri atau
perusahaan untuk karyawannya sebagai wujud kepedulian
perusahaan terhaap kesejahteraan asset utama mereka.
4. Upah
a. Pengertian Upah
Matris dan Jakson, (2010) menjelaskan bahwa upah adalah
bagian dari kompensasi yang memiliki peran untuk memberikan
stimulus terhadap karyawan agar bekerja secara optimal, sehingga
goal perusahaan bisa terwujud. Dalam pengertian lain menurut Ruky
dalam Telaumbanua, dkk. (2016) mendefinisikan upah merupakan
sesuatu yang diterima karyawan dari tempat dimana karyawan
bekerja sebagai bentuk apresiasi atau balas jasa atas pengorbanan
waktu, tenaga dan pikiran. Dinyatakan dalam bentuk uang yang
ditetapkan menurut persetujuan atau perundagan-undangan dan
dibayarkan atas perjanjian kerja untuk pekerja sendiri maupu
keluargannya.
Mangkunegara (2011) dalam penelitiannya menyatakan bahwa
upah merupakan uang yang dibayarkan kepada karyawan atas
pekerjaan yang mereka lakukan. Sejalan dengan pengertian upah
menurut Riskiansyah (2017) sebagai hak yang wajib untuk diberikan
perusahaan kepada tenaga kerja atas apa yang telah karyawan
14
lakukan kepada perusahaan sesuai kesepakatan guna mencapai
kesejahteraan kehidupan karyawan.
Sehingga kesimpulannya bahwa upah adalah uang yang harus
diterima karyawan atas pekerjaan yang mereka lakukan baik di suatu
instansi, ataupun sebuah industri.
b. Tujuan Upah
Rivai dan Jauvani (2010) tujuan pemberian upah adalah sebagai
berikut:
1) Wujud menjalin kerjasama.
2) Menciptakan kepuasan dalam bekerja.
3) Bentuk doringan semangat.
4) Stabilitas karyawan.
5) Disiplin.
6) Pengaruh pemerintah
c. Faktor – Faktor Upah
Menurut Hasibuan (2019) upah dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain :
1) Pengalaman kerja.
2) Hari/jam kerja
3) Persediaan tenaga kerja
4) Produktivitas pegawai
5) Nilai sosial dan etika
Menurut Wulansih (2012) faktor yang mempengaruhi tingkat upah:
1) Supply , demand, dan tingkat pekerjaan
15
Upah akan cenderung lebih tinggi jika posisi pekerjaan yang
diminta perusahaan termasuk kualikasi tinggi, karena kondisi
tersebut menunjukkan di pasar tenaga kerja penawaran
terbatas.
2) Kemampuan to pay
Ekspektasi upah antara serikat buruh dengan kemampuan
perusahaan kadang tidak berbanding lurus. Goal diantara
kedua belah pihak tersebut tidak sinkron, artinya karyawan
mengharapkan upah yang tinggi sedangkan perusahaan
sebaliknya, karena dalam industri upah adalah bagian biaya
yang harus dikeluarkan. Semakin minimalis maka akan
semakin efektif terhadap arus financial suatu perusahaan.
3) Produktivitas
Produktivitas perusahaan ditentukan oleh kinerja karyawan.
Semakin baik karyawan membentuk produktivitas individu
yang berdampak terhadap produktivitas kolektif maka akan
semakin besar upah yang dibayarkan kepada pihak pekerja.
d. Indikator Upah
Amin Zainullah (2012) berikut indikator upah menurut pendapatnya :
1) Upah tepat waktu
2) Upah sesuai dengan lama kerja
3) Upah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Ad’ad (2015) indikator
upah diantaranya :
16
1) Sistem pengupahan
Adanya sitem upah per jam, minggu, dan bulan adalah bentuk
kegagalan dalam mengatur perbedaan kemampuan setiap orang.
2) Berdasarkan tingkat produksi
Upah ini cenderung menghargai kapasitas masing-masing
individu. Hasil produksi masing-masing karyawan adalah
penentu besar upah yang akan mereka terima.
3) Sistem upah menurut senioritas
Lama bekerja dalam perusahaan juga memoengaruhi besaran
upah yang harus dibayarkan perusahaan. Biasanya hal ini
merupakan apresiasi atas loyalitas karyawan.
4) Upah secara terbuka
Sistem ini dimana dala, pemberian upah perusahaan bersikap
secara terbuka dan transparan. Tanpa ada rahasia tertentu.
5. Motivasi
a. Pengertian Motivasi
Hasibuan (2014) bahasa awal motivasi sebenarnya lahir dari
bahasa latin “movere” yang memiliki artian dorongan atau
menggerakkan. Setiap hal yang dilakukan manusia dalam aktivitas
apapun tentu berawal dari dorongan entah dorongan dari diri sendiri
ataupun dorongan dari pihak luar atau lingkungan sekitar.
Keberadaan motivasi dalam manajemen berperan untuk mendorong
karyawan secara keseluruhan bekerja dengan optimal. Julianry dan
Syarief. (2017) menjelaskan motivasi merupakan semangat yang
17
muncul dari individu baik dipengaruhi oleh internal maupun eksternal
yang mampu menggerakannya untuk melakukan sesuatu demi
mencapai tujuan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia motivasi adalah sebuah
dorongan yang timbul dalam diri seseorang dengan sadar atau tidak
sadar untuk melakukan sebuah tindakan dengan tujuan tertentu,
ataupun usaha seseorang dalam mencapai tujuan yang telah
disepakati atau dikehendaki. Warna, Suratno, dan Tiara (2020)
menjelaskan bahwa motivasi adalah dorongan atau keinginan yang
berasal dari dalam maupun luar diri seseorang untuk melakukan suatu
pekerjaan atau upaya-upaya guna memenuhi kebutuhan individu
ataupun suatu kelompok.
Menurut Ismawati, Jaelani, dan Slamet (2016) motivasi adalah
sebuah kondisi atau energi yang bisa menggerakkan diri karyawan
yang berfungsi untuk mencapai tujuan organisasi dari sebuah industri
perusahaan. Sikap positif yang terbentuk dalam diri karyawan itulah
yang membantu memperkuat motivasi dalam bekerja untuk mencapai
kinerja yang optimal. Adapun berdasarkan definisi tersebut, motivasi
tidak terlepas dari alasan yang menjadikan seseorang terdorong untuk
do the best terhadap apapun hal yang ia sedang kerjakan.
b. Teori – Teori Motivasi
1) Teori Maslow
Maslow dalam Hasibuan (2010) berpendapat bahwa motivasi
adalah sebuah dorongan kerja yang timbul dalam diri seseorang
18
untuk memenuhi kebutuhannya. Adapun tingkat kebutuhan
manusia dibedakan dalam lima tingkatan sebagai berikut :
a) Kebutuhan Fisiologis
b) Kebutuhan akan rasa aman
c) Kebutuhan social
d) Kebutuhan untuk sebuah pengakuan
e) Kebutuhan aktualisasi diri
2) Teori dua Faktor
Hezberg dalam Hasibuan (2010) menjelaskan bahwa orang
dalam menyelesaikan pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor
diantaranya yaitu faktor motivasional dan pemeliharaan.
Motivasional adalah sebuah faktor atau hal-hal yang mendorong
karyawan untuk berprestasi, namun sifatnya intrinsik. Adapun
yang termasuk dalam faktor motivasional adalah :
a) Prestasi
b) Pengakuan
c) Pekerjaan itu sendiri
d) Tanggung jawab
e) Pengembangan potensial individu
Faktor pemeliharaan adalah faktor-faktor yang lebih bersifat
ekstrinsik, artinya dorongan tersebut bersumber dari luar. Adapun
yang termasuk faktor pemeliharaan adalah sebagai berikut :
a) Gaji dan upah
b) Kondisi kerja
19
c) Kebijakan dan administrasi perusahaan
d) Hubungan antar pribadi
e) Kualitas supervise
c. Jenis – Jenis Motivasi
Hasibuan (2016) menjelaskan bahwa jenis motivasi dibedakan
sebagai berikut :
1) Motivasi positif Pemimpin memotivasi bawahan dengan
memberikan hal atau nilainilai yang positif, seperti memberikan
hadiah terhadap karyawan yang memiliki kinerja baik atau
bahkan berprestasi.
2) Motivasi Negatif Motivasi ini merupakan motivasi dengan cara
memberikan hal-hal yang cenderung negatif terhadap karyaan, hal
itu seperti memberikan hukuman terhadap karyawan yang
melanggar atau bekerja kurang optimal.
Menurut Siagian (2010) motivasi adalah motiv yang bisa membuat
seseorang berkenan bekerja dengan baik sesuai aturan dan prosedur
untuk tercapainya efisiensi organisasi.
Motivasi di bedakan menjadi dua jenis diantaranya adalah :
1) Motivasi intrinsik
Suwatno (2011) motivasi intrinsic adalah sebuah dorongan untuk
aktif melakukan auatu tindakan atau aktivitas dalam konteks ini
yaitu bekerja. Permana mengutip dari Nawawi dalam Maulana,
dkk (2015) menjelaskan bahwa motivasi ini merupakan dorongan
20
karyawan untuk bekerja yang bersumber dari dalam diri masing-
masing karyawan.
Menurut Herzberg dalam Noor juliansyah (2013) indikator
motivasi intrinsik adalah sebagai berikut :
a) Responsibility
b) Penghargaan
c) Work it selfi
d) Kemajuan dan pengembangan diri
2) Motivasi ekstrinsik
Komarudin (2013) menjelaskan bahwa motivasi ini lahir karena
adanya pengaruh dari pihak ketiga atau factor luar. Husdarta
(2012). Menyatakan bahwa motif ini muncul akibat efek factor
luar. Menurut Permana (2015) mengartikan bahwa motivasi
ekstrinsik adalah sebuah dorongan yang berasal dari factor luar,
factor tersebut secara tidak langsung memaksa mereka (karyawan
) untuk bekerja secara maksimal.
Meng dan Wang (2016) menjabarkan indikator motivasi
ekstrinsik terdiri dari sebagai berikut :
a) Penghargaan
b) Kepemimpinan
c) Hubungan
kerja
d) Lingkungan kerja
21
3) Teori Keadilan
Siagian (2010) menjelaskan bahwa teori ini terletak pada presepsi
bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan
antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dan belas
jasa yang diterima. Adapun empat pembanding untuk mengukur
suatu keadilan tersebut adalah sebagai berikut :
a) Harapan tentang jumlah imbalan yang dianggapnya layak
diterima dengan berdasarkan kualifikasi pribadi seperti,
background pendidikan, keterampilan, sifat pekerjaan dan
pengalamannya.
b) Imbalan yang diterima oleh orang lain dalam organisasi yang
kualifikasi dan sifat pekerjaannya relatif sama dengan yang
bersangkutan sendiri.
c) Imbalan yang diterima oleh pegawai lain di organisasi lain di
sektor industri yang sama.
d) Peraturan perundang-undangan yang berlaku.
d. Indikator Motivasi
Sunyoto (2012) menjelaskan indicator motivasi sebagai berikut :
1) Promotion
Promosi adalah tahapan dimana karyawan naik secara hirarki
posisi. Individu tersebut mendapatkan tanggung jawab baru yang
lebih berat, secara kedudukan lebih tinggi dari sebelumnya, tentu
hal itu diikuti oleh bertambahnya gaji dan upah yang diperoleh.
22
2) Prestasi kerja
Hal ini bermakna capaian yang diraih oleh karyawan terhadap
pekerjaan yang ia lakukan. Hal tersebut berpotensi terhadap
pengembangan karir mereka.
3) Pekerjaan itu sendiri
Pekerjaan yang karyawan lakukan juga berdampak terhadap a
menyelesaikan setiap tugas yang dibebankannya. Dorongan itu
muncul karena ada nilai-nilai pekerjaan yang membangunkan
ghairah.
4) Penghargaan
Adanya apresiasi dari industry perusahaan berupa penghargaan
terhadap karyawan membuat mereka cenderung terdorong untuk
bekerja dengan lebih baik lagi.
5) Pengakuan
Hal ini menjadi kebutuhan yang harus diberikan kepada karyawan
yang tentu mampu membangkutkan semangat mereka untuk
bekerja.
6) Keberhasilan dalam bekerja
Dalam menjelankan pekerjaan karyawan dihadapkan pada dua
akhir, yaitu berhasil atau tidak sesuai dengan rencana. Apabila
karyawan berhasil dalam menyelesaikan tugasnya maka akan
menjadi poin pendorong untuk karyawan dalam menyelesaiakan
project selanjutnya.
Adapun menurut Mangkunegara (2017) indikator motivasi adalah :
23
1) Hard work
2) Orientasi masa depan
3) Cita-cita
4) Keseriusan tugas
5) Effort untuk maju
6) Nilai ketekunan
7) Relasi dengan teman kerja
8) Manajemen waktu
Menurut Uno (2011) menjabarkan indikator motivasi sebagai berikut
1) Tanggung jawab
2) Prestasi yang dicapai
3) Pengembangan diri
4) Kemandirian
6. Kinerja Karyawan
a. Pengertian Kinerja Karyawan
Menurut Ali dan Agustian (2018) kinerja karyawan merupakan
output yang dihasilkan oleh karyawan dalam menyelesaiakan
pekerjaannya dengan mekanisme atau tolak ukur yang telah ditentukan.
Selain itu Widodo dan Alamsyah, (2018) kinerja berarti kemampuan,
penampilan dan target pencapaian yang harus dimiliki dalam seorang
karyawan. Menurut Mangkunegara (2014) kinerja karyawan adalah
sebuah output baik secara quality dan quantity yang bisa diraih oleh
24
masingmasing individu karyawan atas tanggung jawab yang dilimpahkan
kepadanya.
Simanjuntak (2010) kinerja adalah capaian atas penyelesaian dari
tugas yang diberikan kepada karyawan untuk meraih cita-cita organisasi.
Manajemen kinerja dapat didefinisikan sebagai kegiatan yang
dilaksanakan untuk meningkatkan kinerja secara kumulatif. Menurut
Afandi (2018) wewenang dan tanggung jawab yang diberikan
perusahaan kepada individu dan kelompok melahirkan sebuah kinerja.
Hal tersebut erat kaitannya dalam mencapai goal dari perusahaan. Tentu
berdasarkan hal tersebut dapat dikerucutkan bahwa kinerja adalah output
dari masingmasing individu dalam menyelesaiakan tugas yang diberikan
kepadanya dalam rentang waktu terkait.
b. Faktor-Faktor Kinerja
Factor yang berpeluang untuk mempengaruhi kinerja salah
satunya adalah ability dan motivation. Hal ini sesuai dengan pendapat
Keith Davis yang dikutip Mangkunegara dan Prabu, (2004). Adapun
penjelasannya sebagai berikut :
a. Faktor kemapuan (ability)
Pada dasarnya kemampuan terbagi menjadi dua yaitu
kemampuan dalam logika atau pemahaman terhadap pengetahuan
atau secara teoristis yang tergambar melalui kualitas IQ, dan
kemampuan atas kombinasi pengetahuan dan skill. Hal tersebut
memiliki makna bahwa karyawan yang memiliki tingkat IQ serta
pendidikan cukup maka mereka cenderung lebih menguasai teknik-
25
teknik pekerjaan dengan baik, sehingga peluang tercapainya suatu
pekerjaan akan lebih besar.
b. Faktor motivasi (motivation)
Motivasi dapat tercipta dari perilaku seorang karyawan dalam
menghadapi suatu kondisi. Perilaku tersebut pada akhirnya mampu
mendorong diri karyawan untuk berusaha meraih prestasi yang baik.
Artinya seorang karyawan harus memiliki paket lengkap dalam
dirinya baik secara mental, fisik, serta harus memahami tujuan dan
target kerja yang telah direncanakan. Hal itu tentu membantu
karyawan dalam menciptakan suatu kondisi kerja yang baik.
Menurut Mahmudi (2010) kinerja adalah sebuah tatanan yang
erstruktur dari pengaruh beberapa demensi yang terdiri dari beberapa
faktor didalamnya. Faktor-faktor yang memengaruhi kinerja adalah :
1) Faktor diri sendiri, individu berperan dalam menentukan tingkat
kinerja mereka. Semakin baik skill, kepercayaan diri, drongan
semangat, serta komitmen dalam diri mereka, maka akan
berkontribusi membentuk pola kinerja yang sangat baik.
2) Faktor leadership, faktor tersebut terdiri atas, kemampuan
seorang pemimpin dalam memberi semangat, membangun nilai-
nilai positif yang mendorong mereka untuk bekerja optimal.
Support pemimpin adalah kuncinya.
3) Faktor tim disini dibagi menjadi beberapa seperti, kualitas tim
sangat menentukan arah gerak terselesaikan dengan baik atau
26
tidaknya suatu pekerjaan. Rasa trust perlu dibangun agar tim bisa
bekerja sama dengan baik.
4) Faktor sistem yang terdiri dari, hal-hal yang berkaitan dengan
organ dalam organisasi adalah sesuatu yang sangat vital.
Insfraktruktur, dan fasilitas, serta kondisi organisasi adalah poin
utamanya.
c. Tujuan dan Sasaran Kinerja Karyawan
Tujuan kinerja yaitu mensinkronkan antara ekspektasi individu
dan goal dariorganisasi. Menurut Wibowo (2010) berikut tingkatan
tujuan organisasi :
a) Corporate level tujuan disini terintegrasi dengan rencana-rencana
strategis dari sebuah organisasi.
b) Senior manajement level hal ini berkaitan dengan harapan atas
kontribusi dari manajemen senior untuk meraih goal organisasi.
c) Business-unit, functional atau departement level pada level ini
dimana setiap unit bisnis segala fungsi dan hal yang mencakup
didalamnya harus berkaitan dengan tujuan dari perusahaan.
d) Team level setiap team yang dibentuk harus mampu memberi
kontribusi terhadap tujuan perusahaan, dan setiap tim harus memiliki
tujuan yang selaras jika dihubungkan dengan kepentingan industry
perusahaan.
e) Individual level tingkatan dimana setiap hal yang dikerjakan oleh
individu harus memiliki kertaitan dengan perusahaan, fokuspada
27
hasil sesuai target perusahaan, tugas pokok yang dikerjakan sesuai
pada focus perusahaan.
d. Indikator Kinerja Karyawan
Afandi (2018) indicator kinerja karyawan adalah :
1) Kuanlitas hasil kerja
Jumlah hasil kerja yang bisa dihitung atau diakumulasikan
menggunakan angka. Bisa diukur berdasarkan indicator atau tolak
ukur hitungan.
2) Kualitas hasil kerja
Hal ini berkaitan dengan mutu dari pekerjaan yang dihasilkan.
Quality masing-masing karyawan yang tentu juga memiliki tolak
ukur yang jelas.
3) Efisiensi daam melaksanakan tugas
Dalam menjalankan setiap aktivitas ataupun tugas maka karyawan
dengan kategori memiliki kerja yang baik maka harus hemat terhadap
penggunaan berbagai macam sumber saya.
4) Disiplin kerja
Taat kepada hukum dan peraturan yang berlaku dimana karyawan
tersebut bekerja.
5) Inisiatif
Hal ini berkaitan dengan sikap karyawan dalam mengambil sebuah
tindakan untuk bekerja. Dimana ia bisa melakukan suatu pekerjaan
tanpa menunggu perintah
28
6) Ketelitian
Ketelitian ini bisa dilihat dengan melihat antara kesuaian hasil
pekerjaan dengan alat ukur kerja.
7) Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah proses mengajak, serta memberi contoh
karyawan dalam melakukan pekerjaan. Semakin benar pemimpin
dalam model yang dipakai maka akan berdampak pada kinerja yang
positif.
8) Kejujuran
Hal tersebut merupakan bagian dari karakter karyawan yang paling
dasar dan primer.
9) Kreativitas
Hal ini adalah kunci karyawan dalam menciptakan inovasi dan sikap
smart dalam bekerja.
Adapun indikator dalam kinerja karyawan menurut Flippo yang dikutip
Hadi (2008) adalah sebagai berikut :
1) Nilai mutu kerja
Aspek dalam mutu kerja yaitu terdiri dari ketepatan waktu saat
bekerja, ketrampilan dan kepribadian dalam melakukan
pekerjaan.
2) Kualitas kerja
Kualitas bekerja adalah berkaitan dengan maksimal atau tidaknya
output yang dikerjakan oleh karyawan.
29
3) Ketangguhan
Ketangguhan ini berarti berkaitan dengan dimana karyawan selalu
siap dalam melaksanakan tugas seberat apapun yang diberikan,
mampu mengendalikan diri dalam menghadapi permasalahan
dalam pekerjaan.
4) Sikap
Sikap ini mencakup perilaku untuk berinteraksi dalam
menyelesaikan pekerjaannya secara vertikal maupun secara
horizontal. Hubungan sikap horizontal yang baik terwujud
bersama rekan kerja dalam menyelesaikan sebuah project secara
bersama-sama. Sikap hubungan secara vertikal yaitu bentuk
perilaku dalam menjalankan pekerjaan yang langsung
dipertanggung jawabkan ke atasan.
Terdapat delapan indikator pengukuran kinerja menurut Ramdhani
(2011) yang termasuk juga dalam teori Dessler, yaitu :
1) Pemahaman pekerjaan/kompetensi
2) Kuantitas/kualitas kerja
3) Perencanaan/organisasi
4) Komitmen/inisiatif
5) Penyelesaian masalah/kreatifitas
6) Kerjasama dan kerja tim
7) Kemampuan berhubungan dengan orang lain
8) Komunikasi (lisan dan tulisan)
30
Setiawan (2014) menjelaskan bahwa untuk melakukan sebuah
pengukuran kinerja dapat memakai idikator-indikator sebagai berikut :
1) Waktu ketepatan dalam menyelesaiakn tugas adalh faktor yang
penting.
2) Kesesuaian jam kerja juga faktor utama, dalam artian kesangupan
karyawan dalam mematuhi regulasi dari perusahaan yang
hubungannya dengan kesesuaian dengan waktu masuk dan
pulang, serta akumulasi dari kehadiran mereka.
3) Tingkat kehadiran dan ketidakhadiran adalah faktor yang saling
berkaitan. Untuk melihat kontes kehadiran maka yang perlu
dilihat adalah total ketidakhadiran, begitu juga sebaliknya.
4) Untuk menyelesaiakan sebuah tugas tentu seorang karyawan
tidak hanya bekerja sebagai individu tetapi juga dengan
penyelesaian secara tim. Nilai kerjasama juga menjadi tolak ukur
dalam kinerja.
31
2. Penelitian Terdahulu
Nama dan
No Tahun Judul Penelitian Alat Analisis Kesimpulan
Penelitian
Pengaruh Motivasi
Kerja terhadap
Kiner
1. Secara parsial motivasi berpengaruh terhadap
ja
kinerjakaryawan
1. Larasati (2014) Karyawan Regresi linier berganda
2. Motivasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan
Wilay secarabersama-sama
ah Telkom Jabar
Barat Utara (Witel
Bekasi)
Pengaruh
Kepemimpinan dan
Team Work
Terhadap Kinerja
Karyawan di Kualitatif deskriptif 1. Kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja
2. Marpaung (2014)
Koperasi karyawan
Sekje
n
Kemdikbud Senayan
Jakarta
Pengaruh
kepeminminan
terhadap 1. Secara pasrial kepemimpinan berpengaruyh
3. Ode, dkk. (2019) Survei deskriptif
kinerj terhadap kinerjakaryawan.
a
karyawan
3
Pengaruh
motivasi,upah dan 1. Hasil penelitian menujukan bahwa motivasi,upah
disiplin kerja dan dispilin kerja secara simultan berpengaruh
4. Lomban, dkk. (2015) terhadap kinerja Metode asosiatif secara signifikan terhadap kinerja pegawai.
pegawai di kantor 2. Motivasi,upah dan dispilin kerja secara parsial
catatan sipil berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai.
manado
Pengaruh Upah
Terhadap Motivasi
Kerja Karyawan
(Studi Kasus Pada
Analisis regresi
5. Ni’am, dkk (2018) Karyawan UD. 1. Upah berpengaruh terhadap motivasi kinerja
linier karyawan
Pakem Sari, Desa
berganda
Sumberpakem,
Kecamatan
Sumberjambe,
KabupatenJember)
1. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan
Pengaruh Upah Dan antara variabel upah terhadap kinerja karyawan
Insentif Terhadap RSI. Sakinah Mojokerto.
6. Suryani (2018) Kinerj Karyawan Regresi linier berganda 2. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan
Pada Rsi. antara variabel upah terhadap kinerja karyawan
Sakinah Mojokerto
RSI. Sakinah Mojokerto.
3
1. Kepemimpinan berpengaruh positif signifikan
terhadapmotivasi.
2. Lingkungan kerja berpengaruh positif signifikan
terhadapmotivasi.
3. Kepemimpinan dan lingkungan kerja secara
simultanberpengaruh positif terhadap Motivasi.
Pengaruh
4. Kepemimpinan berpengaruh positif signifikan
Kepemimpinan dan
terhadapkinerja.
Lingkungan Kerja
5. Lingkungan kerja tidak berpengaruh positif
terhadap
Analisis deksriptif signifikanterhadap kinerja.
Kiner
7. Aryono (2017) dan regresi 6. Motivasi berpengaruh positif signifikan
jaKaryawan PT. KAI
linier berganda terhadap kinerja.
DAOP 6 Yogyakarta
7. Kepemimpinan, lingkungan kerja dan motivasi
dengan variabel
secara simultan berpengaruh terhadap kinerja.
Motivasi sebagai
8. Kepemimpinan berpengaruh positif terhadap
intervening
kinerja karyawan melalui motivasi.
9. Pengaruh langsung kepemimpinan terhadap
kinerja sebesar 0,229 sedangkan pengaruh tidak
langsung kepemimpinan terhadap kinerja melalui
motivasi sebagai variabel intervening sebesar
0,084.
Pengaruh
Gaya
Kepemimpinan
Partisipatif 1. Kepemimpinan berpengaruh terhadap motivasi
terhad 2. Motivasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan
8. Setiawan (2017) Analisis Regresi Kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja
ap 3.
Kinerja karyawanmelalui motivasi
Karyaw
an Melalui Motivasi
Kerja dan Kepuasan
Keja
3
Pengaruh
Kepemimpinan
terhadap Motivasi 1. Kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan
dan Kinerja terhadap motivasi kerja yang ditunjukkan dengan
Karyawan pada nilai sebesar 0,006.
Dorektorat 2. Kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan
9. Rego, dkk. (2017) Analisis path terhadap kinerja karyawan yang ditunjukkan
Jendr
al dengan nilai sebesar0,000.
Administrasi 3. Motivasi kerja berpengaruh positif dan signifikan
da terhadap kinerja karyawan yang ditunjukkan
n Keuangan, dengan nilai 0,000.
Kementrian Estatal
Timor Leste
3
10. Pengaruh
Buda 1. Terdapat pengaruh budaya organisasi terhadap
ya Organisasi dan kinerjapegawai
Gaya Kepemimpinan 2. Terdapat pengaruh antara gaya kepemimpinan
terhadap Kinerja terhadapkinerja pegawai
Wahyuni (2015) Pegawai bagian Regresi linier sederhana 3. Terdapat pengaruh budaya organisasi terhadap
Keuangan Organisasi kinerjapegawai melalui motivasi kerja
Sektor Publik dengan 4. Terdapat pengaruh amtara gaya kepemimpinan
Motivasi sebagai terhadapkinerja pegawai melalui motivasi kerja
Variabel
Intervening
11. Pengaruh
Gaya
Kepemimpinan
Transformasional 1. Gaya kepemimpinanberpengaruh terhadap
terhadap kinerjakaryawan
Kiner 2. Gaya kepemimpinan berpengaruh terhadap
ja motivasi
Haka dan Ruhana (2015) Karyawan Path analysis
3. Motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja
denga karyawan
n Motivasi Kerja 4. Gaya kepemimpinanberpengaruh terhadap
sebagai Variabel kinerjakaryawan melalui motivasi
Intervening (Studi
pada Karyawan
Bank Jatim Cabang
Malang)
45
3. Kerangka
H3
Kepemimpinan
H6
H1
H4 Kinerja
Motivasi Karyawan
H5
H2
Upah
H7
Gambar 1. Keragka Pemikiran
Keterangan :
= Pengaruh Langsung
= Pengaruh Tidak Langsung
4. Hipotesis
Slamet Santoso (2014) goal yang telah ditetapkan. Hubungan antara
kepemimpinan terhadap kinerja karyawan berada di kondisi dimana menurut
Marjaya dan Pasaribu (2019) pemimpin sebagai fasilitator, katalisator, pemecah
masalah, dan komunikator, yang berperan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Secara tidak langsung tujuan perusahaan bisa tercapai karena peran karyawan
dalam melaksanakan pekerjaannya, sehingga ketika pemimpin mampu berperan
dengan semestinya maka kinerja karyawan yang optimal akan terbentuk.
Adapun tugas pemimpin menurut Siswanto dan Hamid (2017) adalah
memanfaatkan, mengoptimalkan kemampuan, bakat dan produktifitas semua
anggota kelompok untuk berkarya dan bekerja secaramaksimal.
4
Sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Muizu
(2019) menunjukkan hasil bahwa kepemimpinan berpengaruh signifikan
baik secara parsial maupun simultan terhadap kinerja karyawan. Penelitian
lain yang dilakukan oleh Marjaya dan Pasaribu (2019) bahwa
kepemimpinan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Sehingga
berdasarkan linieritas antara teori dengan penelitian terdahulu, hipotesis
dalam penelitian ini sebagai berikut:
H1: Kepemimpinan berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan di
CV. Banyu Biru Balong.
1. Pengaruh Upah (X2) terhadap Kinerja Karyawan (Y2)
Amin Zainullah (2012) menjelaskan bahwa upah adalah balas
jasa yang berupa uang atau jasa yang diberikan oleh lembaga atau
perusahaan kepada perkerja atas prestasinya. Menurut pendapat Umar
(2012) bahwa salah satu hal yang mempengaruhi kinerja individu adalah
balas jasa atau upah organisasi atau perusahaan, sebab upah adalah salah
satu bentuk penghargaan dan berperan efektif terhadap kinerja karyawan.
Semakin baik strategi pemberian upah maka akan linier terhadap kinerja
yang baik atau optimal. Menurut Masilan, Sunuharyo, dan Utami (2015)
menjelaskan bahwa pemberian upah kepada karyawan dilakukan dengan
tujuan untuk meningkatkan kinerja karyawan dalam perusahaan tersebut.
Berdasarkan penjelasan tersebut tentu ada hubungan timbal balik antara
karyawan dengan pihak perusahaan, upaya pemberian upah yang sesuai
dengan harapan karyawan mampu optimal dalam bekerja. Sehingga
terdapat simbiosis mutualisme dalam konteks ini.
4
Berdasarakan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Suryani
(2018) menunjukan hasil bahwa pengaruh yang positif dan signifikan
antara variabel upah terhadap kinerja karyawan. Penelitian yang dilakukan
olehUmar (2012) menunjukkan bahwa upah berpengaruh terhadap kinerja
karyawan. Warna, Suratno, dan Tiara (2020) juga melakukan penelitian
yang menunjukkan bahwa upah berpengaruh terhadap kinerja karyawan.
Linieritas antara teori dengan penelitian terdahulu tersebut membuat
peneliti menarik hipotesis sebagai berikut.
H2 : Upah berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan di CV. Banyu
Biru Balong.
2. Pengaruh motivasi (Y1) terhadap knerja karyawan (Y2)
Hasibuan (2014) Motivasi adalah sebuah dorongan yan berasal
dari dalam diri atau luar diri karyawan untuk melakukan suatu aktivitas
tertentu. Karyawan bisa melakukan kinerja secara ulet dan tekun
apabila didorong oleh motivasi baik secara internal maupun eksternal.
Dorongan bekerja yang kuat tentu akan berbanding lurus dengan hasil
kerja masing-masing karyawan. Rivai (2011) menjelaskan bahwa dasrnya
otivasi adalah bertujuanuntuk mendororng karyawan agar bisa bekerja
keras guna mencapai tujuan yang diharapkan. Menurut Rozalia, Utam, and
Ruhana (2015) menunjukkan bahwa setiap peningkatan motivasi kerja
karyawan maka akan memberikan peningkatan yang signifikanterhadap
kinerja karyawan dalam menuntaskan segala tanggung jawab yang
dibebankan kepadanya.
Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sindi
4
Larasati (2014) hasil penelitian, secara individual dan bersama-sama
motivasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Penelitian yang
dilakukan oleh Bachtiar (2012) menunjukkan bahwa Motivasi berpengaruh
terhadap kinerja karyawan. Hasil penelitian yang selaras juga dilakukan
oleh Fadhil and Mayowan (2018) dimana hasil penelitian menunjukkan
bahwa motivasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan. Berdasarkan teori
dan penelitianterdahulu maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
H3 : Motivasi Berpengaruh Positif Terhadap Kinerja Karyawan di CV.
Banyu Biru Balong.
3. Pengaruh kepemimpinan (X1) terhadap motivasi (Y1)
Menurut Rivai, (2014) Kepemimpinan (leadership) adalah proses
menggerakan dan mengajak seluruh anggotanya dengan implementasi
komunikasi yang baik dan benar. Bonaparte (2017) menjelaskan bahwa
motivasi berkaitan dengan perilaku karyawan, dan hal itu tentu harus
dirumuskan oleh pemimpin, dalam hal ini pemimpin harus memahami
mengenai keberagaman kemampuan yang dimiliki oleh karyawan,
sehingga menjadikan sebuah kebijaksanaan pemimpin dalam merumuskan
sebuah nilai untuk membangun motivasi dalam diri karyawan. Nilai
yang tepat untukmendorong perilaku karyawan dapat tercapai apabila
pemimpin merumuskan nilai yang benar untuk ditanamkan dalam perilaku
karyawan. Berdasarkan penelitian terdahulu Aryono
(2017) dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan
berpengaruh positif signifikan terhadap motivasi. Penelitian lain yang
sejalan yaitu dilakukan oleh Ady dan
4
Wijono ( 2013). Berdasarkan penjelasan secara teori dan riset terdahulu
maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut :
H4 : Kepemimpinan berpengaruh positif terhadap motivasi CV. Banyu
Biru Balong.
4. Pengaruh upah (X2) terhadap motiovasi (Y1)
Menurut Matris dan Jakson (2010) upah adalah faktor yang
mampu memberikan stimulus kepada karyawan untuk membuat kinerja
mereka semakin lebih baik. Ni’am, Suyadi, dan Ani (2018) menjelaskan
bahwa tujuan pemberian upah selain untuk meningkatkan disiplin kerja
karyawan, atau sebagai ikatan kerja, namun juga untuk memotivasi kerja
karyawan, berdasarkan hal itu maka pemberian upah secara adil, dan benar
akan merangsang pwningkatan motivasi karyawan.
Berdasarkan penelitian terdahulu mengatakan bahwa Lomban
(2016) dalam penelitiannya memperoelh hasil yang menujukan bahwa
upah berpengaruhn signifikan baik secara simultan maupun parsial
terhadap motivasi karyawan. Penelitian yang dilakukan oleh Hidayah
(2017) menunjukkan bahwa upah berpengaruh terhadap motivasi
karyawan dalam bekerja. Adapun berdasarkan linieritas teori dan
penelitian terdulu, hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
H5 : Upah berpengaruh positif terhadap motivasi CV. Banyu Biru
Balong.
5. Pengaruh kepemimpinan (X1) terhadap kinerja karyawan (Y2),
melalui motivasi (Y1)
Menurut Rivai, (2014) Kepemimpinan (leadership) adalah proses
5
menggerakan dan mengajak seluruh anggotanya dengan implementasi
komunikasi yang baik dan benar. Ali dan Agustian (2018) kinerja
karyawan output baik secara quality ataupun quantity yang didapatkan
karyawan setelah menuntaskan pekerjaan yang diberikan kepadanya.
Julianry dan Syarief, (2017), Motivasi diartikan sebagai semangat yang
muncul dari dalam atau luar pribadi seseorang yang mampu
menggerakannya untuk melakukan sesuatu demi mencapai tujuan.
Tentu antara kepemimpinan, motivasi, dan kinerja memiliki
keterikatan. Pemimpin berperan membentuk motivasi karyawan secara
baik dari faktor eksternal, sedangkan tujuan adanya motivasi yang kuat
adalah untuk memberikan dampak terhadap kinerja karyawan yang
optimal. Penelitian terdahulu yang linier dengan permasalahan ini adalah
Haka and Ruhana (2015) dimana hasil menunjukkan bahwa gaya
kepemimpinan berpengaruh terhadap kinerja melalui motivasi. Hasil
penelitian Wahyuni (2015) menunjukkan bahwa kepemimpinan
berpengaruh terhadap kinerja melalui motivasi sebagai variabel
intervening. Ditarik hipotesis penelitian sebagai berikut, berdasarkan teori
dan penelitian terdahulu :
H6 : Kepemimpina berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan
melalui motivasi.
6. Pengaruh upah (X2) terhadap kinerja karyawan (Y2), melalui motivasi
(Y1)
Menurut Matris dan Jakson (2010) upah adalah faktor yang
mampu memberikan stimulus kepada karyawan untuk membuat kinerja
5
mereka semakin lebih baik. Ni’am, Suyadi, dan Ani (2018) menjelaskan
bahwa tujuan pemberian upah selain untuk meningkatkan disiplin kerja
karyawan, atau sebagai ikatan kerja, namun juga untuk memotivasi kerja
karyawan. Tentu ke-3 variabel tersebut memiliki keterkaitan satu sama
lain. Upah adalah belas jasa untuk akhirnya perusahaan bisa memperoleh
timbal balik berupa dorongan yang kuat dalam bekerja sehingga berakhir
pada kinerja karyawan sesuai dengan yang diharapkan, bahkan lebih
optimal. Berdasarkan teori tersebut maka dapat ditarik kesimpulan
hipotesis sebagai berikut :
H7 : Upah berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan melalui
motiasi CV. Banyu Biru Balong.