0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan4 halaman

Alokasi Optimal Karyawan dan Proyek

Diunggah oleh

Shinta Xinxin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
15 tayangan4 halaman

Alokasi Optimal Karyawan dan Proyek

Diunggah oleh

Shinta Xinxin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS 3 RISET OPERASI

NAMA : SHINTA
NIM : 049007164

1. Berikut adalah tabel biaya penyelesaian pekerjaan oleh tiap-tiap karyawan


Pekerjaan Karyawan
A B C D
I 25 10 17 12
II 20 15 30 10
III 30 12 20 25
IV 28 11 15 25

Saudara tentukan alokasi optimal penugasan tiap-tiap karyawan serta biaya yang dikeluarkan!
Pekerjaan I diselesaikan oleh karyawan A, memakan biaya Rp.25, karyawan B Rp.10, karyawan C Rp.17 dan
karyawan D Rp.12. Pekerjaan II diselesaikan oleh karyawan A memakan biaya Rp.20, karyawan B Rp.15,
karyawan C Rp.30 dan karyawan D Rp.10. Pekerjaan III diselesaikan oleh karyawan A Rp.30, karyawan B Rp.12,
karyawan C Rp.20 dan karyawan D Rp.25. Pekerjaan IV diselesaikan oleh karyawan A Rp.28, karyawan B Rp.11,
karyawan C Rp.15 dan Karyawan D Rp.25.
Untuk menentukan alokasi optimal penugasan tiap tiap karyawan adalah sebagai berikut :
Langkah 1 : Membuat opportunity Cost Matrix
Caranya dengan nilai tiap-tiap baris dikurangi nilai terkecil dari baris itu.
Pekerjaan Karyawan
A B C D
I 15 0 7 2
II 10 5 20 0
III 18 0 8 13
IV 17 0 4 14

Langkah 2 : membuat total opportunity cost matrix


Dalam Tabel, terlihat bahwa kolom B dan D sudah memiliki nilai 0. tetapi kolom A dan C belum. Kalau dalam
tabel Opportunity Cost ini masih ada kolom yang tidak memiliki nilai 0, harus kita usahakan agar kolom itu
memiliki nilai 0. Caranya, mengurangi nilai-nilai pada kolom itu dengan nilai kolom yang terkecil. Pada kolom
A, nilai terkecil sebesar 10 (pada baris II). Maka, nilai baru dari kolom A baris I 5, baris II 0, baris III 8 dan baris
IV 7. Nilai baru kolom C menjadi 3,16, 4, dan 0. Setelah semua baris dan kolom mempunyai nilai 0, tabel itu
disebut total Opportunity Cost Matrix. Hal ini seperti terlihat pada Tabel dibawah ini
Pekerjaan Karyawan
A B C D
I 5 0 3 2
II 0 5 16 0
III 8 0 4 13
IV 7 0 0 14

Langkah 3: Menggambar garis untuk meliputi angka 0


Setelah semua baris dan kolom memiliki nilai 0, tariklah garis seminimum mungkin, baik vertikal maupun
horizontal, yang bisa menghubungkan setiap angka 0 yang ada. Dalam hal ini, garis minimal bisa dibuat pada baris
II, baris IV, dan dapat pula pada kolom B. Sebenarnya, bisa dibuat empat garis, yaitu pada kolom A, B, C, dan D.
Akan tetapi, ini tidak minimum. Hasilnya, minimum garis seperti tampak pada Tabel dibawah.
Kalau jumlah garis minimum yang bisa dibuat itu paling tidak sama dengan jumlah baris atau jumlah kolom, alokasi
optimal dapat dilaksanakan berdasarkan Tabel diatas Namun, kalau jumlah garis minimum yang bisa dibuat kurang
dari jumlah baris atau kolom, Tabel diatas harus diubah lagi.
Pekerjaan Karyawan
A B C D
I 5 0 3 2
II 0 5 16 0
III 8 0 4 13
IV 7 0 0 14

Langkah 4: Mengubah Total Opportunity Cost Matrix


Sesuai dengan Tabel diatas, kita baru memiliki tiga garis minimum. Padahal, kita memiliki empat kolom atau baris.
Maka, tabel ini harus diubah. Untuk mengubah Total Opportunity Cost Matrix, dilakukan dengan cara berikut.
a. Pilihlah angka terkecil di antara semua angka yang belum terliput (terkena) garis minimum. Semua angka
yang belum terliput garis dikurangi dengan angka terkecil ini. Yang belum terliput oleh garis adalah nilai-
nilai pada baris I dan baris III kolom A, kolom C, dan kolom D. Angka terkecil di antara semua angka
tersebut adalah 2 sehingga angka-angka tersebut dikurangi 2.
b. Nilai-nilai yang terliput garis dua kali (atau oleh dua garis) harus
ditambah dengan angka terkecil yang belum terliput garis (yang dipakai untuk mengurangi pada butir a).
Dalam Tabel diatas, ada dua buah, yakni baris II kolom B sebesar 5 diubah menjadi 5 + 2 = 7 dan baris IV
kolom B sebesar 0 diubah menjadi 0 + 2 = 2. Hasil setelah perubahan ini tampak pada Tabel dibawah
c. Angka di Tabel dibawah yang terkena garis satu kali tetap dan tidak berubah.
Pekerjaan Karyawan
A B C D
I 3 0 1 0
II 0 7 16 0
III 6 0 2 11
IV 7 2 0 14

Langkah 5 : membuat alokasi penugasan


Berdasarkan tabel di atas kita dapat melakukan alokasi karyawan karena banyaknya garis minimum
(sebanyak empat) sudah tidak kurang dari jumlah baris atau kolom ( ada empat). Caranya tugas diberikan
pada mesin atau karyawan yang dihubungkan oleh 0 (nol).
Langkah-langkah untuk melakukan penugasan karyawan setelah diketahui Opportunity Cost Matrix
sebagai berikut.
Langkah penugasan pertama, berikan tugas kepada karyawan yang hanya memiliki satu 0 (nol) pada Total
Opportunity Cost Matrix tabel diatas. Berarti tugas/pekerjaan II diberikan kepada A. Dan pekerjaan IV
diberikan kepada C.
Langkah penugasan kedua, kalau sudah tidak ada tugas/pekerjaan yang hanya memiliki satu 0, lanjutkan
pada tugas lain yang memiliki dua angka 0 (nol). Berarti alokasikan pekerjaan I pada D dan pekerjaan III
pada B.
Langkah penugasan kelima, hitung biaya untuk mengerjakan semua tugas ini dengan menggunakan angka
biaya pada Tabel awal. Kalau tugas I dikerjakan oleh D, biayanya Rp12. Kalau tugas II dikerjakan oleh A,
biayanya Rp20 minimum. Kalau tugas III dikerjakan oleh B, biayanya Rp12. Kalau tugas IV dikerjakan
oleh C, biayanya Rp15. Maka, biaya seluruhnya Rp59. Biaya ini adalah minimum dan sesuai dengan
tujuannya, yaitu meminimumkan biaya.

2. Suatu proyek memiliki kegiatan, seperti yang tercantum dalam tabel berikut
Kegiatan Kegiatan yang mendahului Waktu setiap kegiatan
(dalam minggu)
A 5
B 5
C 7
D A 5
E B 6
F C 4
G D, E 3
H F, G 5

Saudara gambarlah networknya, cari jalur kritis dan berapa waktu untuk menyelesaikan proyek itu!
Dik :
 Kegiatan A (durasi 5 minggu)
 Kegiatan B (durasi 5 minggu)
 Kegiatan C (durasi 7 minggu)
 Kegiatan D (mendahului A, durasi 5 minggu)
 Kegiatan E (mendahului B, durasi 6 minggu)
 Kegiatan F (mendahului C, durasi 4 minggu)
 Kegiatan G (mendahului D dan E, durasi 3 minggu)
 Kegiatan H (mendahului F dan G, durasi 5 minggu)

Jadi :
 Kegiatan A (durasi 5 minggu) tidak memiliki kegiatan yang mendahului, jadi ini adalah titik awal.
 Kegiatan B (durasi 5 minggu) juga tidak memiliki kegiatan yang mendahului, jadi ini adalah titik awal lainnya.
 Kegiatan C (durasi 7 minggu) juga tidak memiliki kegiatan yang mendahului, jadi ini juga titik awal.
 Kegiatan D (durasi 5 minggu) bergantung pada A.
 Kegiatan E (durasi 6 minggu) bergantung pada B.
 Kegiatan F (durasi 4 minggu) bergantung pada C.
 Kegiatan G (durasi 3 minggu) bergantung pada D dan E.
 Kegiatan H (durasi 5 minggu) bergantung pada F dan G.

2
A5

B3 E5 G4 H5
1 3 5 6 7

C4
4

Jalur pertama: A → D → G → H = 5 + 5 + 3 + 5 = 18 minggu


Jalur kedua: B → E → G → H = 5 + 6 + 3 + 5 = 19 minggu
Jalur ketiga: C → F → H = 7 + 4 + 5 = 16 minggu

Jalur kritis :

Jalur kritis adalah jalur dengan waktu total paling lama, yang berarti proyek tidak dapat diselesaikan lebih cepat
daripada jalur ini.

Jalur kritis: B → E → G → H dengan waktu 19 minggu.

Jadi, waktu untuk menyelesaikan proyek adalah 19 minggu.

Anda mungkin juga menyukai