0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan47 halaman

Brand Image Nabati dan AESPA

Diunggah oleh

kerendansianjay
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
49 tayangan47 halaman

Brand Image Nabati dan AESPA

Diunggah oleh

kerendansianjay
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

INTERPRETASI KHALAYAK PADA BRAND IMAGE NABATI

WAFER YANG DIBINTANGI GIRLGROUP KOREA AESPA

PROPOSAL TUGAS AKHIR

SKRIPSI

Proposal Tugas Akhir Skripsi Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1 (S-1) Ilmu Komunikasi Bidang Studi Public
Relations

Disusun Oleh :

Asqila Tri Amanda

44221010127

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS MERCU BUANA

JAKARTA

2024
KATA PENGANTAR

Segala Puji dan Syukur saya panjatkan Kehadirat Allah SWT karena, atas

Rahmat dan Karunia-Nya peneliti dapat menyelesaikan Proposal Penelitian

Skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam kepada baginda tercinta kita yaitu

Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Peneliti mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat

sehat-Nya, sehingga peneliti mampu untuk menyelesaikan salah satu syarat studi

Public Relations, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mercu Buana Jakarta

dalam pembuatan Proposal Penelitian Skripsi dengan judul “Interpretasi Khalayak

Pada Brand Image Nabati Yang Dibintangi Oleh Girlgroup Korea AESPA”

Peneliti menyadari bahwa pembuatan Proposal ini masih jauh dari kata

sempurna dan pembuatan penilitian ini tidak akan berjalan lancar tanpa bantuan

dari berbagai pihak. Peneliti ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada

semua pihak yang telah membantu menyelesaikan Proposal Penelitian Skripsi ini.

Tentunya, peneliti mengharapkan kritik dan saran Bapak dan Ibu Dosen demi

menyempurnakan tugas ini. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada

Proposal ini peneliti mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Dalam penyelesaian skripsi ini, tentunya tidak terlepas dari adanya

dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan kali ini penulis ingin

mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang

memberikan dorongan serta dukungan sampai terselesaikannya penulisan skripsi

ini, terkhusus kepada:


1. Kepada Bapak Dr. Farid Hamid Umarella, [Link] selaku dosen pembimbing

saya dan Kepala Program Studi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas

Mercu Buana yang membimbing saya selama menyusun proposal tugas

akhir dan banyak memberikan masukan dan ilmu.

2. Bapak Dr. Ahmad Mulyana, [Link] selaku Dekan Fakultas Ilmu

Komunikasi Universitas Mercu Buana.

3. Seluruh dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana untuk

segala ilmu serta pengajaran yang diberikan selama masa perkuliahan.

4. Kedua orang tua saya tercinta Papa Suryadi, Mama Suhaidah dan tak lupa

kakak-kakak tersayang saya Ari Saputra, Riadhus Sholihin, Fajar

Faturrohman, Muhammad Masyudi, Desi Nurul Badriah, Wahyu Haryadi,

yang selalu memberikan dukungan dan senantiasa mendoakan penulis.

Serta memberikan seluruh fasilitas penunjang sehingga penulis bisa

mengerjakan skripsi dengan lancar dari awal pengerjaan hingga akhir

pengerjaan. Terimakasi juga kepada dan kakak ipar saya Ayu restu, Cacan

ali yang selalu memberikan dukungan peneliti.

5. Keponakan-keponakan saya Delfhi, Shaquilla, Felly, Aal, Elvira, yang

telah memberi saya semangat dalam mengerjakan skripsi. Mulai dari

memberikan saya semangat agar saya tidak menyerah, hingga memberikan

canda tawa nya ketika saya mulai merasa sedih.

6. Anggota group whatsapp para pencari surga, Sahira, Marsya, Azayya,

Lagiva, Rara, Bunga, Terima kasih karena kalian masih ada disini menjadi
support system saya sejak sekolah menengah pertama hingga saat ini baik

personal saya dalam pengerjaan skripsi maupun dalam hal lainnya.

7. Sherly Rizkia Putri, Keilani Verina, Renata Putrinia, Indika Yusefi (ka

indy) selaku supporting personal yang senantiasa memberikan dukungan,

warna, serta motivasi dalam pelajaran hidup. Mulai dari pengerjaan skripsi

ini dimulai sampai pengerjaan skripsi ini selesai, serta senantiasa

menemani saya dalam menjalani kehidupan dan dalam hal apapun. Terima

kasih sudah mau mendengarkan keluh kesah saya selama ini hingga

akhirnya saya tetap bertahan melewati semua permasalahan yang ada.

8. Boni, Athaillah, dan group whatsapp cie tahun baru yang telah

memberikan support serta candaan yang dapat menghibur saya disaat saya

sedang merasa down.

9. Anggota group whatsapp OOOO, Carissa, Renata, Amanda, Zania,

Adewilly, Jihan, Teman-teman seperjuangan dalam perkuliahan dan

penulisan skripsi yang tidak pernah berhenti mendukung dan membantu

dalam proses penulisan skripsi ini.

10. Devina, Shendy, Royhan, terima kasih walaupun kita tidak terlalu akrab,

terimakasi supporting personal sayadan teman berjuang dalam pengerjaan

skripsi.

11. Kepada teman-teman seperjuangan program studi Public Relations

angakatan 2021 yang saat ini sedang berjuang.


12. Terima kasih kepada seluruh informan yang telah bersedia meluangkan

waktu dan fikirannya untuk membantu saya dalam kelancaran pengerjaan

skripsi.

13. Last but not least, terimakasih untuk diri saya sendiri yang sudah berjuang,

kuat dan selalu sabar dalam segala kondisi baik ataupun buruk meskipun

banyak rintangan yang dihadapi selama menjalani hidup, terima kasih

karena tetap memilih untuk berjuang dan tidak pernah menyerah.

Jakarta, Maret 2024

Peneliti

Asqila Tri Amanda

44221010127
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Persaingan yang kompetitif membuat semakin sulit bagi perusahaan untuk


meningkatkan jumlah konsumen. Dengan jumlah pesaing yang semakin banyak,
dan keunggulan produk segala jenis, membuat perusahaan semakin sulit merebut
pangsa pasar. Hal ini menuntut perusahaan untuk melakukan lebih dengan bekerja
keras meningkatkan pangsa pasar dengan menciptakan inovasi terkini dan
memaksimalkan sumber daya yang ada. Perusahaan tidak hanya sekedar
menciptakan produk yang berkualitas, namun juga melakukan upaya agar produk
yang dihasilkannya dapat membekas di benak konsumen.

Di era globalisasi, kebutuhan dan permintaan konsumen tentunya semakin


beragam, seiring dengan berjalannya waktu mengalami perubahan sehingga
mengakibatkan pasar dibanjiri dengan produk yang beragam, dari merek-merek
yang sudah ada sejak lama maupun merek-merek baru. Perusahaan juga bersaing
ketat untuk mendapatkan pangsa pasar, hal ini menjadi semakin penting, kondisi
ekonomi dan tingkat sosial juga semakin meningkat, artinya standar dan tuntutan
hidup juga semakin meningkat dan berusaha untuk unggul dalam lingkungannya.
Untuk menghadapi persaingan tersebut, membuat banyaknya perusahaan tentunya
untuk harus terus berkembang, memahami dan memuaskan keinginan konsumen
untuk dapat bertahan dalam dunia bisnis yang di jalani. Kotler dan Keller (2016:
225) mengatakan perilaku konsumen merupakan bagaimana individu, organisasi,
dan kelompok bertindak dalam pembelian, pemilihan, dan menggunakan ide,
produk, dan layanan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.

Strategi pemasaran penting untuk diterapkan di semua bidang terkait bisnis.


Hal ini karena sudah populer di dunia bisnis untuk mendorong setiap perusahaan
berpikir kreatif dan berinovasi untuk menarik perhatian banyak konsumen. Minat
beli konsumen terhadap suatu produk ditandai dengan tingkat memilih produk
yang diukur dari sejauh mana konsumen menyatakan keinginan untuk membeli.
Ketertarikan konsumen terhadap suatu produk menimbulkan perasaan keinginan
dan keyakinan terhadap manfaat dan keuntungan produk tersebut. Hal ini harus
dicapai oleh perusahaan dengan memahami dan memperhatikan konsumen dalam
memilih produk. Dalam hal ini, preferensi pembelian pada konsumen akan
menimbulkan keinginan untuk membeli berdasarkan merek atau minat.

Salah satu cara agar konsumen mudah mengenali dan mengingat produk
adalah dengan menciptakan brand image yang baik pada produk yang diproduksi.
Brand Image merupakan pembedaan suatu produk dengan produk lain dalam
kategori produk tertentu. Brand Image merupakan fungsi strategis bagi suatu
perusahaan untuk memasuki pasar yang semakin kompetitif. Menurut Firmansyah
(2018:87), brand image merupakan gambaran dari keseluruhan persepsi terhadap
merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman terhadap merek tersebut.
Brand Image cenderung menciptakan sikap yang baik terhadap produk dengan
menjelaskan karakteristik positifnya sehingga dapat mempengaruhi perasaan dan
emosi konsumen serta persepsi individu dalam pemilihan produk.

Setiap perusahaan tentunya memiliki faktor tersendiri yang membantu


membedakan perusahaan tersebut dengan perusahaan lainnya. Melalui faktor-
faktor tersebut, perusahaan dapat memiliki ciri atau identitas tersendiri. Identitas
dalam suatu perusahaan disebut brand atau merek Indonesia. Menurut American
Marketing Association, merek adalah nama, istilah, desain, simbol, atau fitur lain
yang mengidentifikasi dan membedakan suatu produk dari produk pesaing
lainnya. Brand merupakan suatu hal penting yang harus dimiliki oleh sebuah
perusahaan. Selain menjadi pembeda dibandingkan perusahaan lainnya, suatu
merek juga menjadi alat komunikasi yang dianggap efektif untuk diingat
konsumen. Cara suatu merek dipromosikan memiliki sebutan branding.

Semakin berkembangnya zaman, ada banyak cara untuk melakukan branding


sebuah produk yang tersedia, tidak hanya melalui iklan yang ditampilkan tetapi
juga dengan mengikuti yang sedang trend di masyarakat saat ini. Namun,
secanggih apapun dan dengan cara memanfaatkan apapun brand dipromosikan,
semua pandangan dan pemahaman bergantung pada audiens yang menerima pesan
dalam metode branding tersebut. Hampir setiap tahun ada tren baru yang menarik
perhatian. Tren ini sendiri ada karena banyaknya budaya asing yang mulai masuk
ke Indonesia, termasuk budaya Korea.

Budaya Korean Pop telah masuk ke indonesia sejak generasi hallyu 1.0 sekitar
1990-an. Masuknya gelombang budaya Korea merupakan hasil akulturasi budaya
yang terjadi di Indonesia antara gelombang budaya dengan industri hiburan asal
Korea sehingga terciptalah fenomena gelombang Korea atau Hallyu wave. Hallyu
wave semakin berkembang karena banyaknya penggemar Korea di Indonesia serta
perkembangan teknologi dan internet semakin mempercepat penyebaran Hallyu
wave. Generasi Korean Wave berlangsung pada tahun 1995 hingga 2005 dan
disebarkan oleh masyarakat Korea yang tinggal di luar Korea. Hal yang
disebarkan termasuk K-Drama dan film. Pada generasi ini, Korean wave
menyebar ke Jepang, Taiwan, dan China. Hingga generasi dimasa yang akan
datang, Korean Wave tersebut menyebarkan K-Style yang menyerupai gaya hidup
artis Hallyu, termasuk makanan, perumahan, dan pakaian.

Meningkatnya kepopuleran Hallyu Wave di Indonesia ditandai dengan


banyaknya aktivitas masyarakat yang berhubungan dengan Korea, dengan mulai
bermunculannya selebriti Korea dalam iklan komersial di Indonesia. Salah satu
produk Indonesia yang digunakan dalam iklan selebriti Korea adalah produk
Nabati.

Melansir artikel [Link] (11/04/22) Terkait


negara dengan penggemar K-pop terbanyak di Indonesia, Indonesia menduduki
peringkat ke-2 dengan penggemar K-pop terbanyak. Berdasarkan hasil survei
(2019) di portal media IDN Times, 40,7% penggemar K-pop di Indonesia berusia
20-25 tahun, 38,1% adalah berusia 15-20 tahun, 11,9% berusia di atas 25 tahun
dan 9,3% orang berusia 10, -15 tahun (Gumelar et al. 2021). Singkatnya, ini
berarti rata-rata penggemar K-pop berasal dari generasi Milenial (lahir pada tahun
1981-1996) dan Gen Z (lahir pada tahun 1997-2012)
Dengan banyaknya penggemar Kpop di Indonesia, hal ini membuat banyak
perusahaan brand yang mulai menggaet selebriti Korea sebagai brand
Ambassador (BA) produk tersebut. Menurut [Link] (2017), pada tahun
2017 hingga 2018, Brand Ambassador berpengaruh diprediksi akan semakin
banyak dicari oleh para pelaku perusahaan. Perusahaan akan semakin banyak
menginvestasikan uangnya untuk berkolaborasi dengan selebriti korea yang akan
disebut dengan Brand Ambassador serta juga dapat mewakili citra perusahaan
untuk membantu mempromosikan produk kepada masyarakat, khususnya K-
Popers. Menurut Gaynor Lea-GreenWood dalam Rico Bernardo (2021), Brand
Ambassador merupakan kegiatan dimana suatu merek atau produk mengadakan
kontrak dengan public figure untuk mewakili merek atau produknya. Dilihat dari
definisinya, brand ambasador bisa berupa siapa saja yang terkenal, dikenal
masyarakat, dan cocok dengan merek itu sendiri.

Untuk meningkatkan penjualan dan brand image di kalangan masyarakat,


Nabati juga menggandeng selebriti Korea sebagai brand Ambassador (BA)
makanan ringan mereka. Nabati juga menggunakan selebriti Korea sebagai brand
Ambassador pada tahun 2024. Nabati Wafer merupakan makanan ringan yang
diproduksi oleh PT Kaldu Sari Nabati Indonesia, perusahaan yang bergerak di
sektor fast moving Consumer Goods (FMCG). Pada awal tahun 2024, PT. Nabati
Indonesia mengumumkan melalui instagram pribadi mereka bahwa Girl Group
asal Korea yaitu AESPA yang telah resmi menjadi brand Ambassador terbaru
mereka.

([Link]
1.1 Gambar Nabati x AESPA

Salah satu girl grup K-pop yang sangat terkenal di Korea dan luar negeri
adalah girl grup AESPA yang berasal dari Negara Ginseng, Korea Selatan.
AESPA memulai debutnya pada tahun 2020 yang dimana merupakan girl group
dengan beranggotakan 4 orang dibawah perusahaan hiburan SM Entertainment.
AESPA mencakup anggota yang lahir dari tahun 2000 hingga 2002 dan
merupakan girl group termuda dalam perusahaan SM Entertainment. AESPA saat
ini memiliki 13 juta pengikut media sosial di Instagram, 4 juta pengikut Twitter,
dan 5,45 juta subscriber di YouTube. AESPA tidak hanya menjadi brand
ambassador untuk Nabati, tetapi juga menjadi brand ambassador bergengsi
ternama khususnya Givenchy, Chopard, Mediheal dan juga pernah menjadi
bintang tamu di iklan Tokopedia.

Melalui beberapa iklan dan konten yang menampilkan AESPA, banyak


penggemar AESPA tersebut yang mulai mendukung apa yang dipromosikan oleh
idolanya. Seorang penggemar akan bersedia melakukan upaya ekstra untuk
terlihat seperti idola terkenalnya dengan membeli barang yang sama dengan
idolanya, bahkan para penggemar akan percaya pada rekomendasi produk dan
layanan iklan yang di tayangkan oleh idolanya. Dengan demikian, brand image
produk juga meningkat dikarenakan citra baik para penggemar dari AESPA
tersebut. Karena sebagai penggemar bersifat yang royal, mereka tak segan
membeli apa yang di iklankan idolanya, salah satunya membeli produk Nabati.
Hal istimewa yang membuat banyak penggemar membeli produk Nabati x
AESPA ini adalah pada kemasan nabati terdapat nomor khusus dan tidak semua
kemasan nabati mempunyai nomor khusus tersebut, yang dimana jika mendapat
nomor khusus tersebut ini akan mendapatkan tiket fanmeeting AESPA yang
diselenggarakan oleh Nabati. Sehingga banyak penggemar yang mulai penasaran
ingin juga mendapatkan nomor spesial tersebut.

Sulitnya mendapatkan kartu berisi nomor spesial, banyak penggemar beramai-


ramai untuk membeli nabati wafer untuk mendapatkan kartu nomor spesial yang
mereka cari. Tak hanya itu, banyak juga publik yang penasaran untuk mencoba
peruntungan mendapatkan nomor spesial tersebut. Karena nantinya bisa dijadikan
bisnis bagi para penggemar AESPA.

Mengenai strategi pemasaran yang diterapkan Nabati, khususnya memilih


aespa sebagai Brand Ambassador dan Brand Image di Nabati sendiri, bukan tanpa
alasan. AESPA sendiri telah meraih banyak penghargaan dan selalu menjadi
topik hangat di seluruh aktivitas grupnya. Hal ini didukung oleh data dari portal
resmi media Korea yaitu [Link] dengan judul
AESPA chart, sehingga diyakini AESPA memiliki kemampuan untuk membuat
masyarakat menentukan keputusan pembelian.

Berdasakan penjelasan diatas, peneliti ingin melakukan penelitian terkait


dengan interpretasi kalayak. Penelitian ini mengkaji lebih dalam mengenai brand
image nabati wafer dimana dilakukan dengan girl group korea aespa sebagai
wadah mengembangkan sebuah brand atau perusahaan.

1.2 Fokus Penelitian

Fokus penelitian yang diangkat berdasarkan latar belakang diatas adalah


Bagaimana Interpretasi Khalayak Pada Brand Image Nabati Wafer Yang
Dibintangi Girl group Korea AESPA?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Interpretasi Khalayak
Pada Brand Image Nabati Wafer Yang Dibintangi Oleh Girl group Korea
AESPA.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Akademis

Untuk menambah wawasan dan referensi bagi studi ilmu komunikasi,


khususnya kajian di bidang Studi Public Relations terlebih dengan menggunakan
metode kualitatif dengan analisis resepsi mengenai brand image.

1.4.2 Manfaat Praktis

Peningkatan brand image pada sebuah brand di perusahaan dapat diraih


melalui berbagai cara, salah satunya dengan memanfaatkan kekuatan selebriti
Korea sebagai brand ambassador (BA). Melihat keuntungan dari penggunaan
selebriti Korea sebagai BA merupakan strategi seorang public relations di era
digital dengan mengikuti trend yang sedang hangat di masyarakat yaitu
mengangkat Kpop sebagai branding. Penelitian ini bertujuan untuk masyarakat
khususnya para penggemar AESPA yang dimana girl group Korea membantu
memahami bagaimana budaya populer, terutama K-pop, dalam mempengaruhi
brand Image terhadap perusahaan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Dalam melakukan penelitian, peneliti perlu mengacu pada penelitian-


penelitian terdahulu yang masih relevan dengan penelitian saat ini. Penelitian
terdahulu hadir sebagai acuan dasar dalam penelitian untuk lebih mengembangkan
teori yang akan digunakan dalam penelitian yang dilakukan. Peneliti harus
mengamati dan belajar dari peneliti lain, untuk menghindari duplikasi atau
pengulangan penelitian dan kesalahan yang sama yang dilakukan oleh peneliti
sebelumnya. Penelitian terdahulu dijadikan acuan dan referensi bagi peneliti untuk
memudahkan peneliti dalam membuat penelitian ini. Terdapat beberapa penelitian
yang telah disusun oleh rekan peneliti lain dan membantu penulis memberikan
wawasan terhadap apa yang diteliti.

1. Penelitian pertama adalah penelitian yang disusun oleh Indika Yusefi


Hidayat dengan judul "Interpretasi Khalayak Pada Brand Reputation
Lemonilo Melalui Iklan Yang Dibintangi Oleh Boygroup Korea Nct
Dream" dengan program studi Ilmu Komunikasi S1 Public Relations,
Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mercu Buana, Juli 2023.
Penelitian ini menggunakan metode paradigma penelitian
konstruktivis, dengan pendekatan kualitatif melalui metode analisis
resepsi. Subjek pada penelitian ini terdiri dari 6 Informan. Teknik
dalam pengumpulan data penelitian ini meliputi primer dan sekunder.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interpretasi khalayak pada
brand reputation Lemonilo dalam iklan yang di bintangi oleh
boygroup korea nct dream. Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa
mengenai iklan Lemonilo x NCT Dream seluruh informan pada posisi
Dominant Hegemonic. Sedangkan tagline dalam iklan Lemonilo kali
ini informan bervariasi baik itu Dominant, Negotiated dan Opposition.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang sedang diteliti oleh
penulis adalah penelitian ini memfokuskan pada brand reputation
terhadap merk lemonilo, sedangkan penulis memfokuskan pada brand
image terhadap merk nabati. Sedangkan persamaan penelitian ini
dengan penelitian yang sedang di teliti penulis adalah metode
penelitian dan pendekatan penelitian yang diambil.
2. Penelitian kedua adalah penelitian yang disusun oleh Lois Nathania,
Judy Djoko Wahjono Tjahjo & Felicia Goenawan dengan judul
"Pengaruh Penggunaan Lucas ‘WayV’ sebagai Celebrity Endorser
terhadap Brand Awareness Neo Coffee pada Generasi Milenial
Pengguna YouTube" dengan program studi Ilmu Komunikasi,
Universitas Kristen Petra, Surabaya. Jenis penelitian yang digunakan
adalah eksplanatif dengan pendekatan kuantitatif. Metode penelitian
adalah e-survey. Pada penelitian ini bertujuan untuk memahami
dampak penggunaan Lucas “WayV” sebagai selebriti terhadap Brand
Awarness Neo Coffee di kalangan YouTuber milenial. Untuk
mengukur pendukung selebriti, metrik TEARS yaitu, trustworthiness,
expertise, attractiveness, respect dan similarity. Untuk mengukur
Brand Awarness tersebut digunakan indikator brand recall, brand
recognition, brand purchase dan brand consumption. Neo Coffee
menggunakan idola terkenal Korea Lucas 'WayV' dalam video
promosi Neo Coffee #BosenYangOrdinary. Hasil penelitian ini
membuktikan bahwa penggunaan Lucas ‘WayV’ sebagai celebrity
endorser berpengaruh pada brand awareness Neo Coffee pada generasi
milenial pengguna YouTube. Perbedaan penelitian ini dengan
penelitian yang sedang diteliti oleh penulis adalah penelitian ini
menggunakan penelitian kuantitatif dan penelitian ini memfokuskan
Brand Awareness Generasi Milenial Pengguna YouTube saja.
Sedangkan persamaan penelitian ini dengan penelitian yang sedang di
teliti penulis adalah menganalisis iklan dari suatu brand dan
menjadikan reputasi merek sebagai variabel.
3. Penelitian ketiga adalah penelitian yang disusun oleh Novinda Dwitya
Ediyarsono dengan judul "Pemaknaan Khalayak Terhadap Trend
Penggunaan Brand Ambassador Korea Dalam Iklan Skincare Lokal"
dengan program studi Ilmu Komunikasi S1, Fakultas Humaniora Dan
Bisnis, Universitas Pembangunan Jaya, Juni 2022. Penelitian ini
menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan menggunakan
analisis resepsi Stuart Hall untuk mengetahui interpretasi khalayak atas
tayangan yang dilihat melalui media. Hasil penelitian yang di dapat
dari penelitian ini yaitu dominant-hegemonic dan negotiated, dimana
tidak ada posisi oppositional. Data yang di peroleh melalui ketiga
informan tersebut menjadi sumber data yang diperoleh secara langsung
melalui wawancara. Ketiga informan pernah melihat iklan Somethinc
x NCT Dream di jejaring sosial Instagram dan memahami maksud dari
iklan tersebut, selain itu makna yang mereka tafsirkan sama seperti
preferred reading penelitian, yaitu komitmen untuk menghasilkan
sesuatu kualitas. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang
sedang diteliti oleh penulis adalah penelitian ini melakukan objek nya
brand ambassador dan tidak membahas Brand Image. Sedangkan
persamaan penelitian ini dengan penelitian yang sedang di teliti
penulis adalah penelitian ini juga menjadikan influencer/selebriti
sebagai objek penelitian mereka.
4. Penelitian keempat adalah penelitian yang disusun oleh Praditha Nurul
Andini dan Martha Tri Lestari dengan judul "Pengaruh Brand
Ambassador dan Brand Image Terhadap Minat Beli Pengguna Aplikasi
Tokopedia" dengan S1 Public Relations, Fakultas Komunikasi dan
Bisnis, Universitas Telkom, April 2021. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan jenis penelitian
deskriptif dan kausal. Jenis data yang diperlukan untuk penelitian ini
adalah data primer dan sekunder. Dengan populasi yang dilibatkan
dalam penelitian ini adalah pengguna Tokopedia di DKI Jakarta.
Sampel penelitian ini berjumlah 100 responden asal DKI Jakarta yang
menggunakan Tokopedia. Hasil penelitian ini secara keseluruhan
menunjukkan bahwa variabel Brand Ambassador dan Brand Image
preferensi pembelian pengguna Tokopedia di DKI Jakarta semuanya
berada dalam rentang yang sesuai. Hasil analisis jalur juga
menunjukkan bahwa Brand Ambassador tidak mempunyai pengaruh
yang signifikan terhadap preferensi pembelian dan citra merek
berpengaruh terhadap preferensi pembelian. Persamaan dari penelitian
ini dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh penulis adalah
penelitian ini melihat apakah ada hasil yang diberikan dengan
menggunakan influncer atau selebriti pada media sosial terhadap citra
perusahaan. Sedangkan perbedaan penelitian ini adalah, penelitian ini
memiliki variabel X dan Y yang berbeda dengan penelitian yang
sedang dijalankan juga metode yang digunakan itu berbeda dengan
metode yang diambil.
5. Penelitian kelima adalah penelitian yang disusun oleh Jonathan ,
George Nicholas Huwae dengan judul "Pengaruh Daya Tarik Iklan dan
Brand Ambassador Song Joong Ki Terhadap Brand Image Scarlett
Whitening" dengan program studi Ilmu Komunikasi, Fakultas
Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana, November
2022. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Teknik analisis
yang digunakan regresi berganda. Populasi dalam peneitian ini adalah
519 Mahasiswi Fakultas FTI UKSW. Teknik pengambilan sampel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui penyebaran
kuesioner. Hasil penelitian menemukan bahwa: (1) daya tarik iklan
berpengaruh positif terhadap brand image scarlett whitening (2) brand
ambassador song joong ki berpengaruh positif terhadap brand image
scarlett (3) daya tarik iklan dan brand ambassador song joong ki secara
simultan berpengaruh positif terhadap brand image scarlett (4)
Besarnya pengaruh daya tarik iklan dan brand ambassador song joong
ki terhadap brand image scarlett whitening (R2) adalah sebesar 36,2%.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh
penulis adalah dengan variabel yang digunakan berbeda. Sedangkan
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan diteliti adalah
penelitian ini melihat bagaimana pengaruh brand ambassador yang
digunakan terhadap kepercayaan konsumen pada produk.
6. Penelitian keenam adalah penelitian yang disusun oleh DINDA
LOURENSIA HABIBAH dengan judul "THE IMPACT OF
CELEBRITY ENDORSER ON BRAND IMAGE AND SOCIAL
MEDIA MARKETING OF AVOSKIN BEAUTY" dengan S1
Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, May 2020. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian ini
adalah jenis penelitian deskriptif dengan studi kasus dan menggali
informasi tersebut diperoleh melalui proses wawancara dengan dua
orang informan yang berposisi di Avoskin Kecantikan sebagai
Associate Brand Officer / Brand Manager dan Spesialis Media Sosial
dan Supervisor Layanan Pelanggan. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa celebrity endorser dan media sosial influencer memang
memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan citra
merek, kesadaran merek, dan pemasaran media sosial. Perbedaan
penelitian ini dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh penulis
adalah metode yang digunakan penelitian ini menggunakan studi
kasus, sedangkan penelitian yang akan di teliti menggunakan metode
resepsi. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan diteliti
adalah penelitian ini melihat bagaimana besarnya pengaruh selebriti
terhadap Brand Image pada produk.
7. Penelitian ketujuh adalah penelitian yang disusun oleh Novelia1,
Anwar Azazi2, Bintoro Bagus Purmono3, Titik Rosnani4, M. Irfan
Hendri5 dengan judul "The influence of korean celebrities as brand
ambassador and product quality on purchase decision with brand
image as the mediating variable on Scarlett Whitening" dengan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 2023. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif dengan menggunakan teknik purposive
sampling. Dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM)
dengan bantuan perangkat lunak statistik AMOS 24 untuk
menganalisis dan menilai pengukuran dan model struktural dari
konstruksi penelitian. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang
sedang dilakukan oleh penulis adalah pendekatan yang digunakan
penelitian ini menggunakan kuantitatif, sedangkan penelitian yang
akan di teliti menggunakan pendekatan kualitatif. Persamaan penelitian
ini dengan penelitian yang akan diteliti adalah penelitian ini melihat
bagaimana besarnya pengaruh brand ambassador terhadap Brand
Image pada produk.
Merajuk pada penelitian terdahulu di atas, dapat dilihat tabel berikut ini :

Bagan 2.1.

Matrix Penelitian Terdahulu

No Peneliti, Judul penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Hasil Penelitian Persamaan dan
dan Tahun Penelitian Perbedaan

1. Indika Yusefi Hidayat. Untuk mengetahui Metode analisis Hasil Penelitian Perbedaan penelitian ini
Interpretasi Khalayak Pada Interpretasi resepsi dengan menunjukan bahwa dengan penelitian yang
Brand Reputation Lemonilo Khalayak Pada pendekatan mengenai iklan sedang diteliti oleh
Melalui Iklan Yang Brand Reputation kualitatif, Lemonilo x NCT penulis adalah penelitian
Dibintangi Oleh Boygroup Lemonilo Dalam menggunakan Dream seluruh ini memfokuskan pada
Korea Nct Dream. Iklan Yang paradigma informan pada brand reputation
Diterbitkan tahun 2023. Dibintangi Oleh penelitian posisi Dominant terhadap merk lemonilo,
[Link] Boygroup Korea Nct konstruktivis. Hegemonic. sedangkan penulis
[Link]/79360/ Dream. Sedangkan tagline memfokuskan pada
dalam iklan brand image terhadap
Lemonilo kali ini merk nabati. Sedangkan
informan bervariasi persamaan penelitian ini
baik itu Dominant, dengan penelitian yang
Negotiated dan sedang di teliti penulis
Opposition. adalah metode penelitian
dan pendekatan
penelitian yang diambil.
2. Untuk menemukan Metode penelitian Hasil penelitian ini Perbedaan penelitian ini
Lois Nathania, Judy Djoko
adanya pengaruh yang digunakan membuktikan dengan penelitian yang
Wahjono Tjahjo & Felicia penggunaan Lucas adalah eksplanatif bahwa penggunaan sedang diteliti oleh
Goenawan. Pengaruh ‘WayV’ sebagai dengan Lucas ‘WayV’ penulis adalah penelitian
Penggunaan Lucas ‘WayV’ celebrity endorser pendekatan sebagai celebrity ini menggunakan
sebagai Celebrity Endorser terhadap brand kuantitatif. endorser penelitian kuantitatif dan
terhadap Brand Awareness awareness Neo Metode penelitian berpengaruh pada penelitian ini
Neo Coffee pada Generasi Coffee pada adalah e-survey. brand awareness memfokuskan Brand
Milenial Pengguna masyarakat generasi Neo Coffee pada Awareness Generasi
YouTube. Jurnal E- milenial pengguna generasi milenial Milenial Pengguna
Komunikasi, Vol.8 No.2 YouTube. pengguna YouTube saja.
Diterbitkan tahun 2020. YouTube. Sedangkan persamaan
[Link] penelitian ini dengan
d/[Link]/ilmu- penelitian yang sedang di
komunikasi/article/view/ teliti penulis adalah
11076 menganalisis iklan dari
suatu brand dan
menjadikan reputasi
merek sebagai variabel.
3. Novinda Dwitya Ediyarsono Untuk mengetahui Penelitian ini Hasil dari Perbedaan penelitian ini
PEMAKNAAN KHALAYAK pemaknaan khalayak menggunakan penelitian yang di dengan penelitian yang
TERHADAP TREND terkait penggunaan metode kualitatif dapat yaitu posisi sedang diteliti oleh
PENGGUNAN BRAND brand ambassador deskriptif dengan dominant- penulis adalah penelitian
AMBASSADOR KOREA Korea NCT Dream menggunakan hegemonic dan ini melakukan objek nya
DALAM IKLAN SKINCARE pada iklan produk analisis resepsi negotiated, dimana Brand Ambassador dan
LOKAL (Analisis Resepsi skincare lokal Stuart Hall yang tidak ada posisi tidak membahas Brand
Iklan Somehtinc x NCT Somethinc. bertujuan untuk oppositional. Data Image. Sedangkan
Dream) Tahun 2022. mengetahui yang diperoleh persamaan penelitian ini
[Link] pemaknaan peneliti melalui dengan penelitian yang
eprint/3032/ khalayak terkait tiga informan ini sedang di teliti penulis
tayangan yang menjadi sumber adalah penelitian ini juga
dilihat melalui data yang didapat menjadikan
media. langsung melalui influencer/selebriti
wawancara. sebagai objek penelitian
Melalui ketiga mereka.
informan telah
menonton iklan
Somethinc x NCT
Dream di sosial
media instagram
serta memahami
apa makna yang
ada terdapat dalam
iklan tersebut,
selain itu
pemaknaan yang
telah mereka
maknai sama
seperti preferred
reading penelitian
yaitu berkomitmen
dalam
menghasilkan
sesuatu yang
berkualitas.
4. Praditha Nurul Andini 1 , Untuk mengetahui Metode yang Hasil penelitian Persamaan dari
Martha Tri Lestari2. apakah brand digunakan dalam secara keseluruhan penelitian ini dengan
PENGARUH BRAND ambassador dan penelitian ini menunjukan bahwa penelitian yang sedang
AMBASSADOR DAN brand image adalah metode variabel brand dilakukan oleh penulis
BRAND IMAGE berpengaruh kuantitatif dengan ambassador, brand adalah penelitian ini
TERHADAP MINAT BELI terhadap minat beli jenis penelitian image, dan minat melihat apakah ada hasil
PENGGUNA APLIKASI pengguna Tokopedia deskriptif dan beli pengguna yang diberikan dengan
TOKOPEDIA. e-Proceeding di DKI Jakarta. kausal. Tokopedia di DKI menggunakan influncer
of Management : Vol.8, Jakarta berada pada atau selebriti pada media
No.2. Diterbitkan tahun kategori baik. Hasil sosial terhadap citra
2021. analisis jalur juga perusahaan. Sedangkan
[Link] menunjukan bahwa perbedaan penelitian ini
[Link]/in brand ambassador adalah, penelitian ini
[Link]/management/ tidak berpengaruh memiliki variabel X dan
article/view/14873 signifikan terhadap Y yang berbeda dengan
minat beli dan penelitian yang sedang
brand image dijalankan juga metode
berpengaruh yang digunakan itu
terhadap minat berbeda dengan metode
beli. yang diambil.

5. Jonathan1 , George Untuk menganalisis Metode penelitian Hasil penelitian Perbedaan penelitian ini
Nicholas Huwae2. pengaruh daya tarik ini adalah menemukan dengan penelitian yang
Pengaruh Daya Tarik Iklan iklan dan brand penelitian bahwa: (1) daya sedang dilakukan oleh
Dan Brand Ambassador ambassador song kuantitatif. tarik iklan penulis adalah dengan
Song Joong Ki Terhadap joong ki terhadap berpengaruh positif variabel yang digunakan
Brand Image Scarlett brand image scarlett terhadap brand berbeda. Sedangkan
Whitening. Jurnal Ilmu whitening. image scarlett Persamaan penelitian ini
Komunikasi Dan Media whitening dengan penelitian yang
Sosial. Vol.9, No.2 (2) brand akan diteliti adalah
Diterbitkan Tahun 2022. ambassador song penelitian ini melihat
[Link] joong ki bagaimana pengaruh
[Link]/jkomdis/article/ berpengaruh positif brand ambassador yang
download/271/225 terhadap brand digunakan terhadap
image scarlett kepercayaan konsumen
whitening pada produk.
(3) daya tarik iklan
dan brand
ambassador song
joong ki secara
simultan
berpengaruh positif
terhadap brand
image scarlett
whitening
(4) Besarnya
pengaruh daya tarik
iklan dan brand
ambassador song
joong ki terhadap
brand image
scarlett whitening
(R2) adalah sebesar
36,2%
6. DINDA LOURENSIA Untuk menganalisis Penelitian ini Hasil penelitian ini Perbedaan penelitian ini
HABIBAH. THE IMPACT dan mencari menggunakan menunjukkan dengan penelitian yang
OF CELEBRITY informasi mengenai metode kualitatif bahwa celebrity sedang dilakukan oleh
ENDORSER ON BRAND selebriti penelitian ini endorser dan media penulis adalah metode
IMAGE AND SOCIAL endorsernya adalah jenis sosial influencer yang digunakan
MEDIA MARKETING OF memang sangat penelitian memang penelitian ini
AVOSKIN BEAUTY. berdampak bagi deskriptif dengan memberikan menggunakan studi
Diterbitkan Tahun 2020. Avoskin Beauty. studi kasus dampak yang kasus, sedangkan
[Link] 1. Menganalisis signifikan terhadap penelitian yang akan di
eam/handle/123456789/289 pengaruh celebrity peningkatan citra teliti menggunakan
55/16311021%20Dinda endorser dalam merek, kesadaran metode resepsi.
%20Lourensia membangun brand merek, dan Persamaan penelitian ini
%[Link]? image Avoskin pemasaran media dengan penelitian yang
sequence=1&isAllowed=y Kecantikan. sosial. akan diteliti adalah
2. Menganalisis penelitian ini melihat
dampak celebrity bagaimana besarnya
endorser yang dapat pengaruh selebriti
meningkatkan terhadap Brand Image
awareness pada produk.
pemasaran media
sosial untuk Avoskin
Beauty.

7. Novelia1, Anwar Azazi2, untuk menguji Penelitian ini Hasil ini Perbedaan penelitian ini
Bintoro Bagus Purmono3, pengaruh Selebriti menggunakan menunjukkan dengan penelitian yang
Titik Rosnani4, M. Irfan Korea sebagai Brand pendekatan adanya mediasi sedang dilakukan oleh
Hendri5. The influence of Ambassador dan kuantitatif dengan antara Kualitas penulis adalah
korean celebrities as brand Kualitas Produk menggunakan Produk dan pendekatan yang
ambassador and product terhadap Keputusan teknik purposive Keputusan digunakan penelitian ini
quality on purchase Pembelian sampling. Pembelian melalui menggunakan kuantitatif,
decision with brand image perantara Citra sedangkan penelitian
as the mediating variable Merek. yang akan di teliti
on Scarlett Whitening . menggunakan
Journal Of Management, pendekatan kualitatif.
Vol.13, No.5. Diterbitkan Persamaan penelitian ini
Tahun 2023. dengan penelitian yang
[Link] akan diteliti adalah
[Link]/[Link]/enrichme penelitian ini melihat
nt/article/view/1746 bagaimana besarnya
pengaruh brand
ambassador terhadap
Brand Image pada
produk.
2.1 Kajian Teoritis

2.2. Komunikasi

Komunikasi merupakan proses penting yang terus akan ada selama


manusia hidup. Karena, sebagai makhluk sosial dan tidak pernah lepas dari proses
kehidupan. Dengan komunikasi, manusia dapat saling memahami satu sama lain.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan komunikasi merupakan pengiriman
atau penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih. Dengan cara yang
pantas sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami; hubungan; kontak.
Menurut Arni (2016: 4), menjelaskan bahwa komunikasi merupakan pertukaran
informasi verbal dan nonverbal antara pengirim dan penerima informasi untuk
mengubah perilaku.

Komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna dalam pesan yang


diterima oleh komunikator. Prosesnya yaitu komunikator mengkodekan pesan
yang ingin disampaikan kepada komunikator. Artinya komunikator membentuk
pikiran atau perasaannya dalam simbol-simbol (bahasa) yang dapat dipahami oleh
komunikator. Kemudian komunikator menerjemahkan atau yang biasa di sebut
(decode) pesan komunikator. Artinya komunikator menafsirkan simbol yang
mengandung emosi dan pikirannya. Menurut Wilbur Schramm (dalam Effendy,
1994), komunikasi akan berhasil jika pesan yang disampaikan komunikator
sesuai dengan kerangka acuan, khususnya kombinasi pengalaman dan pemahaman
yang dimiliki komunikator.

2.2.1 Proses Komunikasi

Menurut Harold D. Laswell (dalam Uchjana, 1993: 301), mengatakan


bahwa dalam proses komunikasi, seseorang harus menjawab pertanyaan “who say
what, in wich channel to whom and with what effect” yaitu :

a. Who (siapa) : yang artinya siapa komunikatornya.


b. Say what (Apa yang dikatakan) : yang artinya isi pesan yang disampaikan
harus diikuti atau dilaksanakan.
c. In wich channel (saluran yang dipakai) : yang artinya saluran komunikasi
yang digunakan dalam proses komunikasinya adalah secara langsung atau
tatap muka.
d. To whom (kepada siapa) : yang artinya sasaran atau komunikator.
e. With what effect (efek yang timbul) : yang artinya dengan efek apa, hasil
yang terjadi setelah pengiriman pesan adalah suatu tindakan

2.3. Public Relations

Public Relations (PR) merupakan departemen suatu organisasi yang


bertanggung jawab terhadap hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat. Public
Relations atau humas merupakan salah satu departemen yang bertanggung jawab
terhadap citra perusahaan, karena humas bertanggung jawab terhadap citra yang
akan ditampilkan, menjaga dan meningkatkan kualitas citra perusahaan di
masyarakat. Public Relations juga bertanggung jawab atas hubungan antar
departemen dalam organisasi atau perannya tidak hanya meluas ke luar, tapi juga
ke dalam. Humas menjadi jembatan segala permasalahan yang muncul antar
departemen. Secara umum Public Relations merupakan suatu strategi perusahaan
yang bertujuan untuk menjalin hubungan baik dengan masyarakat agar dapat
memperoleh feedback yang positif.

Frank Jefkins menyatakan: Humas adalah semua bentuk komunikasi yang


terencana, baik itu ke dalam maupun ke luar, antara suatu organisasi dengan
semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan tujuan spesifik yang
berlandaskan pada saling pengertian” (Jefkins, 2017:9). Sedangkan International
Public Relations Association (IPRA) mendefinisikan humas sebagai aktivitas
pengambilan keputusan manajemen yang bertanggung jawab untuk membangun
hubungan dan kepentingan antara organisasi dan publiknya berdasarkan
penyampaian informasi melalui metode komunikasi yang dapat dipercaya dan
etis.

Dalam era sekarang ini, Public Relations menjadi sebuah profesi yang
wajib bagi setiap perusahaan untuk menjaga kelangsungan operasional bisnisnya
karena para praktisi PR akan selalu memahami kondisi dan tren terkini yang
dijadikan strategi bisnis dan juga terus berkembang sesuai tren saat ini.

2.3.1 Fungsi Public Relations

Pada prinsipnya fungsi dan peran humas bertujuan untuk menjalin


hubungan yang harmonis melalui komunikasi dua arah dan memfasilitasi
publikasi informasi antara organisasi dan masyarakat (untuk khalayak sasaran)
atau sebaliknya masyarakat dan organisasi, guna mencapai tujuan tersebut. Agar
memperoleh opini positif dan persepsi serta untuk mendapatkan citra yang baik.
Rachmad Kriyantoro (2008: 18) menyatakan: Fungsi atau peranan adalah harapan
publik terhadap apa yang seharusnya dilakukan oleh public relations sesuai
dengan kedudukannya sebagai seorang public relations. Jadi, public relations
dikatakan berfungsi apabila dia mampu melakukan tugas dan kewajibannya
dengan baik, berguna atau tidak dalam menunjang tujuan perusahaan dan
menjamin kepentingan publik. Dalam pandangan Rachmad Kriyantoro, fungsi
atau peran humas adalah humas harus selalu mendukung tujuan perusahaan untuk
menjamin seluruh kemaslahatan masyarakat, menjalankan setiap tugas dan
tugasnya dengan baik.

Fungsi public relations menurut Edward L. Bernay yang dikutip oleh


Rosady Ruslan (2012: 18) fungsi public relations adalah :

1. Memberikan penerangan kepada publik


2. Melakukan persuasi untuk mengubah sikap dan perbuatan publik secara
langsung
3. Mengintegrasikan suatu sikap badan/lembaga sesuai dengan sikap dan
perbuatan publik atau sebaliknya.

2.4. Brand Image

Citra merek atau brand image merupakan hasil persepsi konsumen


terhadap suatu produk. Persepsi konsumen terhadap suatu produk didasarkan pada
hasil pengetahuan dan pengalamannya terhadap produk tersebut yang terekam
dalam ingatannya. Menurut Rangkuti (2009:43) citra merek adalah sekumpulan
asosiasi merek yang terbentuk dibenak konsumen yang terbiasa menggunakan
merek tertentu cenderung memiliki konsistensi terhadap brand image atau hal ini
disebut juga dengan kepribadian merek. Sedangkan menurut Kotler dan Keller
(2009) mendefinisikan citra merek yaitu suatu kesan yang ada didalam benak
konsumen mengenai suatu merek yang hal ini dibentuk oleh pesan dan
pengalaman konsumen mengenai merek, sehingga menimbulkan citra yang ada
dalam benak konsumen.

Citra merek merupakan gambaran unsur-unsur yang berkaitan dengan


merek atau kesan utama merek di benak konsumen (Suryani 2017).
mendefinisikan merek sebagai sesuatu yang tidak dapat diucapkan tetapi dapat
dikenali dan dapat digambarkan melalui simbol, tipografi, warna atau pemikiran
khas yang berkaitan dengan produk atau jasa yang diungkapkan melalui merek.
Citra Merek tidak hanya dibangun untuk menjual produk dengan sukses, namun
branding juga bertujuan untuk menciptakan citra dengan memperbarui pesan yang
membawa merek di benak mereka sehingga menjadi bagian dari kehidupan
mereka (Wijaya, 2018).

Berdasarkan definisi di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa citra


merek adalah ciri pengenal suatu merek yang menciptakan interpretasi konsumen
terhadap merek tersebut. Dimana konsumen mengetahui tentang merek tersebut.
Menurut Kotler (dalam Linda Desy Prakasi,2017) menyatakan ada enam
makna yang dapat disampaikan melalui suatu citra merek

1. Atribut (atributes)
2. Manfaat (benefit)
3. Nilai (value)
4. Budaya (culture)
5. Kepribadian (personality)
6. Pemakai (user)

2.4.1. Faktor pembentukan Citra Merek

Citra Merek didasarkan pada ingatan konsumen terhadap produk, sehingga


tingkat keputusan pembelian dianggap tidak signifikan dibandingkan dengan
variabel tingkat merek. Faktor yang paling berpengaruh adalah tingkat
pengalaman penggunaan produk pada tingkat citra merek. Perasaan
menyenangkan atau tidak menyenangkan terhadap suatu merek akan membentuk
suatu citra dan tersimpan dalam ingatan konsumen. Konsumen dengan citra
positif terhadap merek tersebut kemungkinan besar akan membeli produk
tersebut. Jika suatu produk memiliki merek yang buruk, maka sebagian kecil
konsumen akan membeli produk tersebut karena konsumen akan tertarik untuk
mencari produk lain dengan merek yang lebih baik dari produk tersebut.

Menurut Ferrinadewi (2009), faktor-faktor pendukung terbentuknya brand


image dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Keunggulan asosiasi merek. (favorability of brand association)


2. Kekuatan asosiasi merek. (strength of brand association)
3. Keunikan asosiasi merek. (uniqueness of brand association)

Memiliki citra yang baik terhadap suatu merek akan membawa banyak manfaat
dalam banyak hal, termasuk loyalitas konsumen. Ketika konsumen loyal terhadap
suatu merek, maka mereka akan terus menggunakan merek tersebut dan tidak ragu
untuk merekomendasikannya kepada orang lain.

2.5. Brand Ambassador

Duta Merek atau Brand Ambassador dapat dipahami sebagai alat yang
digunakan oleh bisnis untuk berkomunikasi dan terhubung dengan konsumen.
Brand Ambassador merupakan lambang dari suatu merek kontrak. Dikutip dari
website [Link] (23 Januari 2022), brand Ambassador adalah
yang memiliki perjanjian kontrak untuk dijadikan ikon iklan karena memiliki
jumlah pengikut di atas rata-rata. Menurut Firmansyah (2019:137) brand
ambassador yaitu seseorang yang mempunyai passion terhadap brand ataupun
merek dan dapat mempengaruhi khalayak serta mengajak konsumen untuk
membeli atau menggunakan suatu produk.

Strategi kreatif yang diterapkan perusahaan untuk meningkatkan minat,


mempertahankan atau membentuk citra, dan mempromosikan produk kepada
konsumen seringkali melibatkan penunjukan duta merek. Kehadiran brand
ambasador suatu produk merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan arus
penjualan suatu merek, selain itu berkat adanya brand ambasador maka citra
perusahaan dapat berubah, baik meningkat maupun sebaliknya. Perusahaan dapat
mempengaruhi atau mengajak konsumen untuk menggunakan produknya.
Pemilihan Brand Ambassador seringkali jatuh ke tangan selebriti.

Penunjukan brand duta juga umumnya didorong oleh citra positif yang
mereka sampaikan sehingga dapat mewakili citra produk secara keseluruhan.
Penunjukan seorang brand ambasador seringkali dilakukan sebagai sebuah
simbol yang dapat mewakili keinginan, keinginan atau kebutuhan agar mudah
diterima oleh konsumen. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang brand
ambassador diperlukan beberapa syarat penting untuk menunjang operasional
bisnis, yaitu (1) mempunyai pengaruh yang besar di media sosial (2) mempunyai
dampak yang positif (3) mempunyai pengetahuan pemasaran mengenai produk (4)
profesional.

2.6. Teori Resepsi

Teori penerimaan merupakan teori yang pertama kali dikemukakan oleh


Stuart Hall untuk melihat bagaimana khalayak menerima pesan yang dikirimkan
oleh pengirim pesan. Sang pengemuka, Stuart Hall, menjelaskan bahwa proses
penerimaan merupakan hasil model coding-decoding di mana penerima pesan
menafsirkan makna pesan berdasarkan kondisi sosialnya. Stuart Hall membagi
berbagai jenis audiens berdasarkan cara mereka menafsirkan pesan berdasarkan
pengalaman mereka.

Menurut Stuart Hall (1980, p. 119) studi resepsi merupakan suatu elemen
dari produksi (teks) dan pemahaman khalayak terhadap teks media (umpan balik).
Kunci dari model Hall menyangkut pada pengenalan akan kode encoding dan
decoding belum tentu simetris sempurna. (Ott & Mack, 2014, p. 248).

Dalam teori resepsi, opini publik lebih mementingkan isi media atau
karya, dan makna yang diberikan bisa saja berubah dibandingkan dengan karya
tersebut. Model ini menawarkan penjelasan bahwa makna yang dikodekan oleh
pengirim dapat diinterpretasikan (decoded) secara berbeda oleh penerima pesan.
Pengirim pesan mengirimkan pesan yang bermakna berdasarkan tujuannya,
namun berbeda dengan penerima pesan karena mereka menerima pesan dan
menafsirkannya sesuai persepsinya (Fauzi, 2019). “Teori ini berkaitan dengan
bagaimana khalayak menguraikan seluruh konten yang disampaikan oleh media
yang melibatkan keterlibatan dengan makna pesan yang disampaikan” McQuails
(dalam Fauzi, 2019: 14)

Dengan demikian, ditinjau dari teori resepsi, khalayak dianggap sebagai


khalayak yang aktif, bukan khalayak yang pasif, yang mana khalayak tidak hanya
berperan sebagai penerima pesan tetapi juga pencipta pesan yang disampaikan
kepada khalayak. (Utami [Link].2021)

2.7 Model Encoding -Decoding

Teori encoding-decoding dikembangkan oleh Stuart Hall pada tahun 1980.


Saat itu, Hall sedang mencari model teoretis tentang bagaimana pesan media
dibuat dan diinterpretasikan, berdasarkan hubungan antara produser, teks, dan
publik. Hubungan itu disebut encode-decode. Encoding dan decoding merupakan
model komunikasi yang digunakan dalam penelitian dengan menggunakan teori
makna atau teori penerimaan. Mengutip dari situs [Link]
encoding sendiri adalah proses menghasilkan pesan berdasarkan kode tertentu,
sedangkan decoding adalah proses menggunakan kode tertentu untuk menafsirkan
pesan yang diterima.

Dalam proses produksi yang dilakukan oleh media, mempunyai dua


tahapan yaitu encoding dan decoding pada saat pesan diterima. Pada tahap ini,
masyarakat bebas menafsirkannya sesuai dengan kondisi yang dialaminya. Hal ini
terjadi karena kode-kode yang digunakan tidak selalu mempunyai arti yang sama.
Model encoder-decoder juga menjelaskan bahwa kelas sosial, serta usia, ras, etnis,
jenis kelamin, atau karakteristik pengenal lainnya, memainkan peran penting
dalam “alat” budaya saat dekripsi. Pada akhirnya, terdapat kesimpulan: lokasi
sosial dapat menyebabkan individu memiliki cara pandang berbeda dalam
memandang dunia dan menafsirkan citra media.

Dalam buku Ott & Mack (2014, p. 248) encoding adalah proses
menciptakan pesan yang berarti menurut kode tertentu, sementara decoding
adalah proses menggunakan kode untuk menguraikan pesan dan membentuk arti/
makna.

Stuart Hall mengklasifikasikan 3 (tiga) jenis objek yang telah mengalami


proses penyandian dan penguraian pesan, yaitu:
1. Objek hegemonik dominan (dominant hegemonic position) khususnya
objek penerimaan pesan yang disampaikan media
2. Khalayak yang dinegosiasikan (negotiated position) khususnya audiens
yang menerima pesan-pesan yang disampaikan oleh media komunikasi,
namun dengan beberapa pengecualian dalam penerapannya
3. Masyarakat yang menentang (oppositional position), yaitu masyarakat
secara kritis memodifikasi pesan-pesan yang disampaikan media dengan
pesan-pesan lain sebagai alternatifnya.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Paradigma Penelitian

Paradigma penelitian merupakan cara mengukur penelitian dan sering disebut


juga dengan pendekatan atau metode yang digunakan dalam penelitian. Paradigma
adalah cara pandang penelitian yang digunakan untuk memahami kesulitan dunia
nyata, karena paradigma menunjukkan apa yang penting, berharga, dan logis
dalam penelitian (Pratama, 2021). Paradigma pola atau model tentang bagaimana
sesuatu distruktur (bagian dan hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian
berfungsi (perilaku yang di dalamnya ada konteks khusus atau dimensi waktu)
(Moleong dalam Hakim, 2021:34) Paradigma meliputi keseluruhan proses yang
terjadi dalam penelitian untuk dibahas secara mendalam mengenai suatu
fenomena yang diteliti.
Penelitian pada ini menggunakan paradigma konstruktivis. Paradigma
konstruktivis hampir merupakan anestesi terhadap paham observasi dan
objektivitas dalam penemuan realitas intelektual. Pemahaman ini dengan tegas
menegaskan bahwa positivisme dan post-positivisme keliru dalam mengungkap
realitas dunia dan harus ditinggalkan dan digantikan dengan pemahaman yang
konstruktif. Secara ontologis aliran ini menegaskan bahwa realitas ada dalam
berbagai bentuk konstruksi mental berdasarkan pengalaman sosial, bersifat lokal,
spesifik dan bergantung pada pihak yang melaksanakannya. Hal tersebut
merupakan kenyataan yang diamati oleh seseorang dan tidak dapat
digeneralisasikan kepada semua orang seperti yang sering dilakukan oleh
kalangan positivis atau post-positivis (Agus, 2010, hal. 87)
Paradigma konstruktivisme pun tepat dipilih pada penelitian ini karena
peneliti ingin melihat dan menjelasakan bagaimana interpretasi khalayak
mengenai sebuah iklan yang menekankan pada penciptaan makna dan pikiran
seseorang tehradap iklan Nabati X aespa. Karena khalayak akan memiliki
pemaknaan yang berbeda dan pendapat yang berbeda pada pesan yang ada dalam
iklan yang diteliti.

3.2 Metode Penelitian


Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan
metode Analisis Resepsi. Penelitian kualitatif adalah suatu proses penelitian
yang berupaya memahami fenomena manusia atau sosial dengan menciptakan
gambaran menyeluruh dan kompleks yang dapat disajikan secara lisan,
melaporkan perspektif rinci yang diperoleh dari sumber informasi dan
dilakukan di lingkungan alam (Walidin, Saifullah & Tabrani, 2015: 77).
Sejalan dengan Denzin & Lincoln (1994), penelitian kualitatif adalah
penelitian yang menggunakan latar alam dengan tujuan menjelaskan suatu
fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan menggunakan berbagai metode
yang ada. Penelitian kualitatif berupaya mengeksplorasi dan mendeskripsikan
secara naratif aktivitas yang dilakukan dan dampak tindakan yang diambil
terhadap kehidupan mereka.
Analisis resepsi merupakan suatu metode yang digunakan untuk melihat
bagaimana masyarakat menafsirkan pesan yang disampaikan dalam media dari
sudut pandangnya sendiri. Lebih detailnya, cara ini digunakan untuk
mengetahui bagaimana penonton memaknai pesan iklan Nabati x aespa.
Analisis resepsi memperhatikan kondisi sosial. Analisis resepsi sendiri
menggunakan pendekatan kualitatif dimana media memahami makna
individu berdasarkan pengalaman hidup yang mana pesan-pesan media
ditempatkan secara subyektif pada masing-masing khalayak.

3.3 Subjek Penelitian


Pada penelitian yang diteliti kali ini, berfokus pada interpretasi khalayak
mengenai iklan Nabati X aespa di lingkungan sekitar peneliti. Jumlah
informan yang dibutuhkan dalam penelitian ini berjumlah 7 orang karena
dianggap cukup mewakili jawaban yang dibutuhkan dalam penelitian yang
dilakukan. Selanjutnya pemilihan subjek penelitian juga diharuskan bersifat
kredibel sehingga data yang didapatkan dapat bersifat riil. Oleh karena itu,
dalam pemilihan informan yang dicari adalah mereka yang merupakan
mahasiswa aktif dan pernah menonton video tayangan iklan Nabati X aespa.
Berdasarkan penjelasan di atas, kriteria yang ditetapkan dalam penelitian
ini yaitu:
1. Familiar dengan merek cemilan nabati dan pernah melihat iklan
nabati x aespa.
2. Informan yang termasuk dalam segmen gender laki-laki dan
perempuan adalah mahasiswa aktif, berusia 21 hingga 24 tahun.
3. Memahami dan memiliki pengetahuan dasar atau non-dasar
tentang periklanan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan
penafsiran masing-masing informan berdasarkan pengetahuannya.
4. Bersifat komunikatif. Informan yang dipilih harus mempunyai
kemampuan berkomunikasi agar selanjutnya dapat menjawab
seluruh aspek pertanyaan yang diajukan peneliti dan mampu
berkomunikasi dengan baik sehingga mudah dipahami pada saat
wawancara berikutnya.
Berdasarkan kriteria di atas, maka kemudia peneliti memilih informan yang
dianggap sesuai dengan kriteria nya. Mengenai deskripsi lebih lanjut tentang
informan akan lebih di detailkan pada tabel di bawah :

Tabel 3.3 Daftar Informan

No NAMA USIA
1 Sherly Rizkia Putri 21 tahun
2 Indika Yusefi Hidayat 23 tahun
3 Sabrina Elsa Widyani 21 tahun
4 Renata Putrinia Irawan 22 tahun
5 Devina Amadea Ayla Putri 21 tahun
6 Muhammad Rizky Rajab 22 tahun
7 Amanda Oktaviana Putri 21 tahun
8 Zibran Muhammad 21 tahun
9 Carissa Amalia Putria 22 tahun
10 Brian Nughroho 21 tahun

3.4 Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data adalah cara atau metode yang digunakan untuk
mengumpulkan data. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik
pengumpulan data melalui wawancara mendalam serta studi literature
berdasarkan penelusuran internet.

3.4.1 Data Primer


Data primer merupakan data penting dan utama dalam suatu penelitian.
Dalam penelitian ini data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam
terhadap informan dengan tujuan untuk memperoleh hasil penelitian yang
dilakukan. Peneliti ingin memperoleh informasi mendalam tentang bagaimana
khalayak memaknai tayangan iklan Nabati x AESPA sebagai subjek
penelitian. Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian
ini menggunakan beberapa metode yaitu :
1. Wawancara mendalam
Wawancara mendalam sering kali menggambarkan proses
pengumpulan informasi berdasarkan tujuan penelitian. Wawancara
ini dilakukan secara tatap muka dan dapat dilakukan dengan
berbagai cara, yaitu tatap muka atau melalui media.
2. Observasi
Observasi adalah proses mengamati dan mempelajari sesuatu
secara sistematis melalui iklan yang diteliti. Para ahli berpendapat
tentang pengertian observasi dengan menekankan aspek-aspek
tertentu dalam proses pengamatan tersebut. Teknik Observasi
digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa
peristiwa, tempat atau lokasi, dan benda, serta rekaman gambar.

3.4.2 Data Sekunder


Data sekunder merupakan data yang mendukung penelitian. Untuk
mendukung penelitian ini dan memperjelas pencarian data pendukung
penelitian, penelitian ini mengumpulkan data sekunder berdasarkan studi
literatur. Studi literatur diperoleh melalui membaca buku, mencari di internet,
atau penelitian terdahulu yang berkaitan dengan interpretasi khalayak terhadap
pesan iklan. Jadi, data sekunder sangat membantu peneliti dalam melakukan
penelitian yang ada.

3.5 Teknik Analisis Data


Analisis data kualitatif meliputi manipulasi data, pengorganisasian, dan
pengelompokan data ke dalam unit-unit yang dapat dikelola. Pada hakikatnya
analisis data adalah kegiatan mengorganisasikan, memilah, mengelompokkan,
mengkodekan atau menandai dan mengklasifikasikan data untuk
menghasilkan hasil berdasarkan tujuan atau pertanyaan yang ingin dijawab.
Proses ini membantu menyederhanakan data kualitatif yang cenderung
tersebar dan bertumpuk sehingga lebih mudah dipahami.
Sugiyono dalam (Hakim, 2021:36) menjelaskan Teknik analisis data
adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh
dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara
mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-hnit,
melakukan sintesis, menyusun kedalam pola, memiliih mana yang penting dan
akan dipelajari, dan membuat kesimpulan hingga mudah dipahami oleh diri
sendiri dan orang lain.
Teknik analisis data sendiri merupakan suatu cara mengolah data yang
diperoleh menjadi informasi yang dapat dipahami dan menjadi solusi atau
jawaban atas permasalahan penelitian yang sedang dilakukan. Dari sudut
pandang ini, analisis mencakup tiga aliran kegiatan, yaitu reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan (B. Milles dan Huberman, 2014).
Pada penelitian ini, teknik analisis data yang digunakan adalah analisis
data kualitatif dan mengikuti konsep dari Miles dan Huberman melalui tiga
tahapan analisis, yaitu:
1. Data Reduction (Data Reduksi)
Menurut Sugiyono dalam (Hakim, 2021:37) mereduksi data berarti
merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal
penting, dicari tema dan polanya. Jadi reduksi data adalah proses
pemilihan, dan menaruh perhatian pada data yang muncul dalam
penelitian.
2. Data Display (Penyajian Data)
Penyajian data merupakan menyajikan data agar lebih mudah
dipahami melalui tabel, diagram, grafik dan sejenisnya. Pada
penelitian ini, data yang disajikan berbentuk teks naratif, dan
diperoleh dari hasil wawancara mendalam.
3. Conclusion Drawing (Penarikan Kesimpulan)
Kesimpulan akhir diperoleh melalui berbagai tahap selain
pengumpulan data, dan dilakukan secara berulang sehingga dapat
di verifikasi dengan meninjau ulang catatan lapangan sehingga bisa
dipertanggung jawabkan.

3.6 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data


Data yang diperoleh peneliti harus segera dianalisis dengan cermat agar
dapat diperiksa keaslian dan keabsahannya. Untuk mengetahui data yang
diperoleh merupakan data yang benar, termasuk dengan menggunakan
teknik validasi data triangulasi sumber. Sugiyono (2015: 92) menyatakan
bahwa teknik keabsahan data adalah sejauh mana data penelitian yang
diperoleh dapat dipercaya dan dapat dipastikan keasliannya. Burhan
menyatakan (dalam Paraka, 2022:41) bahwa Triangulasi sumber adalah
membandingkan dan mengecek kembali derajat kepercayaan suatu
informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam
penelitian kualitatif. Triangulasi sumber didapatkan melalui hasil
wawancara yang dilakukan dengan para informan penelitian dengan cara
membandingkan data dengan hasil wawancara. Untuk mengetahui
kebenaran temuan penelitian ini, peneliti akan mengeksplorasi dengan
berbagai cara, yaitu:
a) Membandingkan hasil wawancara dengan dokumenatau arsip yang
relevan.
b) Melihat sudut pandang informan yang berbeda dari berbagai pandang lain.
c) Bandingkan jawaban informan dengan pertanyaan serupa.
DAFTAR PUSTAKA

Amaliantami Putri, K., Hadi Purnomo, M., & Wave dalam Fanatisme dan Konstruksi Gaya
Hidup Generasi, K. Z. (2019). Korean Wave dalam Fanatisme dan Konstruksi Gaya Hidup
Generasi Z. In NUSA (Vol. 14, Issue 1).

Andini, P. N., Lestari, M. T., & Sos, S. (n.d.). PENGARUH BRAND AMBASSADOR
DAN BRAND IMAGE TERHADAP MINAT BELI PENGGUNA APLIKASI
TOKOPEDIA.

Azazi, A., Bagus Purmono, B., Rosnani, T., & Irfan Hendri, M. (2023). Enrichment:
Journal of Management The influence of korean celebrities as brand ambassador
and product quality on purchase decision with brand image as the mediating
variable on Scarlett Whitening. In Enrichment: Journal of Management (Vol. 13,
Issue 5).

Citraningsih, D., & Wiranata, Rz. R. S. (2022). Analisis SWOT pembelajaran daring
era pandemi covid-19 pada sekolah dasar. Humanika, 22(1), 21–40.
[Link]
Endri, E. P., & Widyastuti, D. R. (n.d.). PENGARUH IKLAN INTERNET SHOPEE
DALAM SEARCH ENGINE MARKETING TERHADAP KEPUTUSAN
PEMBELIAN MAHASISWA FIKOM UNIVERSITAS MERCU BUANA KAMPUS
MERUYA DI TAHUN 2022.

Fariastuti, I., & Azis, M. A. (2019). STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN


[Link] DI INSTAGRAM DALAM MENINGKATKAN BRAND
AWARENESS (Vol. 2, Issue 1).

Ghadani, A., Muhar, A. M., & Sari, A. I. (2022). Pengaruh brand ambassador dan
brand image terhadap keputusan pembelian di shopee dengan mediasi brand
awareness Article info A b s t r a c t. In Insight Management Journal (Vol. 2,
Issue 3). [Link]

Habibah, D. L. (n.d.). THE IMPACT OF CELEBRITY ENDORSER ON BRAND


IMAGE AND SOCIAL MEDIA MARKETING OF AVOSKIN BEAUTY (STUDY
CASE ON AVOSKIN BEAUTY IN INDONESIA).

Hertiwi Khasanah, S., Ariani, N., & Gunaedi Argo, J. (n.d.). Analisis Citra Merek,
Kepercayaan Merek, dan Kepuasan Merek terhadap Loyalitas Merek (Vol. 2).

Jonathan, J., & Huwae, G. N. H. G. N. (2022). Pengaruh Daya Tarik Iklan Dan Brand
Ambassador Song Joong Ki Terhadap Brand Image Scarlett Whitening. Jurnal
Ilmu Komunikasi Dan Media Sosial (JKOMDIS), 2(1), 156–163.

Kusniadji, S. (n.d.). Suherman Kusniadji: Strategi Komunikasi Pemasaran Dalam


Kegiatan Pemasaran Produk Consumer Goods (Studi Kasus Pada PT Expand
Berlian Mulia Di Semarang) Strategi Komunikasi Pemasaran Dalam Kegiatan
Pemasaran Produk Consumer Goods (Studi Kasus Pada PT Expand Berlian
Mulia Di Semarang).

Kuswandy, J., & Aulia, S. (2022). Strategi Komunikasi Pemasaran Instagram Online
Shop (Studi Kasus Online Shop Mishalot Florist). Kiwari, 1(3), 415–423.
Liani, T. A., & Kartika Wienanda, W. (n.d.). ANALISIS SEMIOTIK TERHADAP
IKLAN YOUTUBE MIE SEDAAP KOREAN SPICY CHICKEN.

Manajemen, J., & Ekonomi, F. (2013). PENGARUH CITRA MEREK TERHADAP


LOYALITAS KONSUMEN INDRA WIJAYANTO SRI SETYO IRIANI. In
Jurnal Ilmu Manajemen | (Vol. 1).

Manajemen, J., & Keuangan, D. (2017a). Pengaruh Brand Image (Citra Merek)
terhadap Loyalitas Konsumen Produk Oli Pelumas Evalube di Kota Langsa (Vol.
6, Issue 2).

Manajemen, J., & Keuangan, D. (2017b). Pengaruh Brand Image (Citra Merek)
terhadap Loyalitas Konsumen Produk Oli Pelumas Evalube di Kota Langsa (Vol.
6, Issue 2).

Mardiyanto, D. (2019). ANALISIS STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN (Studi


Kasus Strategi Komunikasi Pemasaran Merchandise di Kedai Digital 8 Solo)
(Vol. 03, Issue 01).

Penggunaan, P., Wayv’ Sebagai, L. ’, Nathania, L., Djoko, J., Tjahjo, W., Prodi, F. G.,
Komunikasi, I., Kristen, U., & Surabaya, P. (n.d.). JURNAL E-KOMUNIKASI
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS KRISTEN PETRA,
SURABAYA Celebrity Endorser terhadap Brand Awareness Neo Coffee pada
Generasi Milenial Pengguna YouTube.

Puspitaningrum, D. (2023). CRAZY RICH DI MEDIA SOSIAL DITINJAU DARI


TEORI ENCODING-DECODING. Jurnal Inovasi Penelitian, 4(2), 487–494.

Rijal Fadli, M. (2021). Memahami desain metode penelitian kualitatif. 21(1), 33–54.
[Link]

Samsiyah, S. N., Amalia, N. R., & Regita, N. A. (2022). Pengaruh Idol Kpop Sebagai
Brand ambassador, Brand Image Dan Brand awareness terhadap Keputusan
Pembelian Mie Lemonilo. Solusi, 20(4), 403–413.
Sarastuti, D. (n.d.). STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN ONLINE PRODUK
BUSANA MUSLIM QUEENOVA (Vol. 16, Issue 01). [Link],

Tjokroaminoto, J., Yohanes, D., Kunto, S., & Si, S. (2014). ANALISA PENGARUH
BRAND IMAGE DAN COMPANY IMAGE TERHADAP LOYALITAS
RETAILER STUDI KASUS PT ASIA PARAMITA INDAH. In Jurnal
Manajemen Pemasaran Petra (Vol. 2, Issue 1).

Anda mungkin juga menyukai