0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan19 halaman

Teori dan Faktor Motivasi Belajar

Diunggah oleh

Markus arkian Boto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan19 halaman

Teori dan Faktor Motivasi Belajar

Diunggah oleh

Markus arkian Boto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Teori-Teori tentang Variabel Penelitian

1. Motivasi Belajar

a. Pengertian Motivasi Belajar

Menurut Sardiman (2018:75),

Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak didalam diri siswa


yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari
kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga
tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.

Selanjutnya Uno (2017: 23) menjelaskan bahwa motivasi belajar

merupakan dorongan internal dan eksternal pada siswa-siswa yang sedang

belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan

indiakator atau unsur yang mendukung.

Selain itu Tadjab (dalam Khalifah ( 2021 : 38)) mengemukakan bahwa

motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa

yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan

belajar itu demi mencapai suatu tujuan.

Berdasarkan ketiga pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan

bahwa motivasi belajar merupakan keseluruhan daya penggerak yang ada

dalam diri siswa untuk melakukan suatu tindakan dan menentukan arah
dalam melakukan sesuatu sehingga tercapainya hasil dan tujuan yang

dikehendaki.

b. Fungsi motivasi belajar

Motivasi belajar mempunyai fungsi yang sangat penting dalam

suatu kegiatan belajar, yang nantinya akan mempengaruhi kekuatan dari

kegiatan tersebut. Motivasi belajar juga merupakan pendorong seseorang

untuk melakukan suatu kegiatan.

Menurut Sardiman (2018:25), fungsi motivasi ada 3 yaitu:

1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor


yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor
penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2) Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak
dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan
kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.
3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa
yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan
menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan
tersebut.

Selanjutnya, Sukmadinata (2011:62), mengatakan bahwa motivasi

memiliki 2 fungsi, yaitu:

1) Mengarahkan (directional function).

Dalam mengarahkan kegiatan, motivasi berperan mendekatkan

atau menjauhkan individu dari sasaran yang akan dicapai. Apabila

sasaran atau tujuan merupakan sesuatu yang diinginkan oleh individu,

maka motivasi berperan mendekatkan. Sedangkan bila sasaran tidak

diinginkan oleh individu, maka motivasi berperan menjauhi sasaran.


2) Mengaktifkan dan meningkatkan kegiatan (activating and energizing

function).

Suatu perbuatan atau kegiatan yang tidak bermotif atau

motifnya sangat lemah, akan dilakukan dengan tidak sungguh-

sungguh, tidak terarah dan kemungkinan besar tidak akan membawa

hasil. Sebaliknya apabila motivasinya besar atau kuat, maka akan

dilakukan dengan sungguh-sungguh, terarah dan penuh semangat,

sehingga kemungkinan akan berhasil lebih besar.

c. Macam-Macam Motivasi belajar.

Motivasi belajar banyak macamnya. Ragam motivasi dapat dilihat

dari berbagai sudut pandang. Peneliti hanya akan membahas dari dua

sudut pandang yaitu motivasi yang berasal dari dalam pribadi seseorang

yang biasa disebut motivasi intrinsik dan motivasi yang berasal dari luar

pribadi seseorang yang biasa disebut motivasi ekstrinsik.

Menurut Tambunan (2015:196), motivasi intrinsik dan motivasi

ekstrinsik merupakan jenis motivasi berdasarkan sumbernya, yaitu:

1) Motivasi intrinsik, adalah motivasi yang ditimbulkan dari diri


seseorang. Motivasi ini biasanya timbul karena adanya harapan, tujuan
dan keinginan seseorang terhadap sesuatu sehingga dia memiliki
semangat untuk mencapai itu.
2) Motivasi ekstrinsik, adalah sesuatu yang diharapkan akan diperoleh
dari luar diri seseorang. Motivasi ini biasanya dalam bentuk nilai dari
suatu materi, misalnya imbalan dalam bentuk uang atau intensif
lainnya yang diperoleh atas suatu upaya yang telah dilakukan.
Selanjutnya, Sardiman (2018:89), mengemukakan bahwa ada dua jenis

motivasi belajar yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik :

1) Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau

berfungsinya tidak perlu rangsangan dari luar, karena dalam diri

setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

2) Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau

berfungsinya karena adanya rangsangan dari luar.

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Sardiman (2018:56), mengemukakan bahwa motivasi belajar

dipengaruhi empat faktor utama, yaitu:

1) Kebudayaan

Setiap kelompok budaya memiliki pandangan tersendiri terhadap

pendidikan. Jika suatu wilayah mempunyai nilai budaya yang cukup

tinggi terhadap pendidikan, masyarakat budaya tersebut akan

banyak ,mendorong perilaku anak didik belajar keras agar menjadi

orang yang benar-benar terdidik.

2) Lingkungan keluarga

Berdasarkan penelitian yang sudah ada selama ini, keluarga terbukti

memberi pengaruh terhadap motivasi belajar siswa karena motivasi

belajar siswa dipengaruhi oleh kondisi yang terjadi pada setiap

perkembangan.
3) Lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah menyangkut sarana dan prasarana, sumber-

sumber, media belajar, hubungan siswa dengan teman-temanya, guru-

guru, serta staf sekolah lainya dan suasana pelaksanaan kegiatan

belajar mengajar. Sekolah yang kaya akan aktivitas belajar memiliki

sarana dan prasarana yang memadai, dikelola dengan baik, dan

diliputi suasana akademis yang wajar sehingga sangat mendorong

semangat belajar siswa.

4) Keinginan siswa sendiri untuk belajar

Keinginan dari siswa sendiri untuk belajar merupakan hal yang

penting. Siswa yang memiliki kekinginan untuk belajar akan

memperoleh manfaat dari hasil belajarnya, menjadi orang terdidik,

serta memiliki keahlihan di bidang tertentu. Usaha untuk mencapai

tujuan tersebut harus di lakaukan sendiri tanpa paksaan dari orang tua

maupun faktor-faktor dari luar seperti: hadiah atau pujian.

Selanjutnya Dimyati dan Mudjiono (2015:97), mengatakan bahwa

unsur yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu:

1) Cita-cita dan aspirasi siswa.

Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsik maupun

ekstrinsik. Sebab tercapainya suatu cita-cita akan mewujudkan

aktualisasi diri.
2) Kemampuan siswa.

Keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemampuan atau

kecakapan mencapainya. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa

kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan

tugas-tugas perkembangan.

3) Kondisi siswa.

Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani

mempengaruhi motivasi belajar. Seorang siswa yang sedang sakit,

lapar atau marah-marah akan mengganggu perhatian belajar.

Sebaliknya, seorang siswa yang sehat, kenyang dan gembira akan

memusatkan perhatian pada penjelasan pelajaran. Dengan demikian,

kondisi jasmani dan rohani siswa berpengaruh pada motivasi belajar.

4) Kondisi lingkungan siswa.

Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat

tinggal, pergaulan sebaya dan kehidupan kemasyarakatan. Sebagai

anggota masyarakat, maka siswa dapat terpengaruh oleh lingkungan

sekitar. Bencana alam, tempat tinggal yang kumuh, perkelahian antar

siswa akan mengganggu kesungguhan belajar. Sebaliknya, kampus

sekolah yang indah, pergaulan siswa yang rukun akan memperkuat

motivasi belajar. Dengan lingkungan yang aman, tentram, tertib dan

indah, maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.


5) Unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran.

Lingkungan belajar dan pergaulan siswa mengalami perubahan.

Lingkungan budaya siswa yang berupa televisi dan film semakin

menjangkau siswa. Kesemua lingkungan tersebut mendinamiskan

motivasi belajar. Guru profesional diharapkan mampu memanfaatkan

sumber belajar di sekitar sekolah untuk memotivasi belajar siswa.

6) Upaya guru membelajarkan siswa.

Upaya guru dalam mempersiapkan diri untuk membelajarkan siswa

mulai dari penguasaan materi, cara menyampaikan materi, menarik

perhatian siswa dan mengevaluasi hasil belajar siswa. Bila upaya guru

hanya sekedar mengajar, artinya keberhasilan guru yang menjadi titik

tolak, besar kemungkinan siswa tidak tertarik untuk belajar sehingga

motivasi siswa menjadi lemah atau kurang.

Berdasarkan pemaparan pendapat kedua ahli diatas, dapat disimpulkan

bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa.

Bahwa faktor-faktor tersebut dapat berasal dari dalam diri siswa itu sendiri

seperti kondisi jasmani dan rohani siswa, kemampuan siswa dan lain

sebagainya. Sedangkan faktor ekstrinsik yang dapat mempengaruhi

motivasi belajar siswa diantaranya kondisi lingkungan sekolah, keluarga,

guru, fasilitas belajar, dan pergaulan.


e. Aspek-aspek dalam Motivasi Belajar

Cherniss dan Goleman (2001 :88), menyebutkan bahwa ada empat

aspek dalam motivasi belajar, yaitu:

1) Achievement Drive

Suatu kondisi yang mana individu memiliki keinginan untuk

memperjuangkan sesuatu agar sesuai dengan apa yang diharapkan.

Seseorang individu melakukan aktivitas belajar karena adanya

dorongan untuk mengetahui, memahami dan menguasai apa yang

dipelajarinya.

2) Commitment

Selain adanya dorongan mencapai sesuatu, seseorang individu yang

termotivasi mempelajari sesuatu biasanya memiliki komitmen dalam

belajar. Demikian halnya dengan siswa yang memiliki motivasi dalam

belajar, siswa tersebut akan menyadari bahwa ia memiliki tugas dan

kewajiban untuk belajar.

3) Initiative

Inisiatif dapat diartikan sebagai melakukan suatu tindakan berdasarkan

pemikiran dan kemampuan, serta kesempatan. Misalnya, seorang

siswa yang membiasakan diri belajar dan selalu menyelesaikan

tugasnya tepat waktu tanpa adanya suruhan atau teguran dari orang

tuanya. Apabila siswa memiliki inisiatif sesuai dengan tugasnya, maka


ia akan lebih memiliki kesempatan untuk memperluas pengetahuan

dan wawasannya.

4) Optimism

Optimis dapat dimaknai sebagai suatu sikap yang gigih dalam upaya

mencapai tujuan tanpa peduli adanya kegagalan dan kemunduran.

Siswa yang memiliki sikap optimis, tidak akan mudah menyerah dan

putus asa, meskipun prestasinya kurang memuaskan. Ia akan terus giat

belajar sambil mengoreksi diri guna mengurangi kelemahan-

kelemahan yang dimiliki.

2. Prestasi Belajar

a. Pengertian prestasi belajar

Istilah prestasi dalam Kamus Ilmiah Populer di definisikan sebagai

hasil yang telah dicapai.

Menurut Zaiful, dkk (2019: 9),

Prestasi belajar merupakan hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk


simbol, angka, huruf, maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil
yang sudah dicapai oleh setiap mahasiswa dalam periode tertentu dan
dapat dinyatakan bahwa prestasi belajar merupakan hasil dari suatu
kegiatan pembelajaran yang disertai perubahan yang dicapai siswa.

Selanjutnya Djamarah (2012: 23) menyatakan bahwa prestasi belajar

adalah hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan

perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.

Pendapat lain dari Helmawati (2018: 36) menyatakan bahwa prestasi

belajar adalah hasil dari pembelajaran. Prestasi diperoleh dari evaluasi


atau penilaian. Setiap anak akan memiliki hasil belajar atau prestasi yang

berbeda antara satu dengan yang lain. Prestasi yang diperoleh dari hasil

pembelajaran setelah dinilai dan dievaluasi dapat saja rendah, sedang

ataupun tinggi.

Dari pendapat para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa,

prestasi belajar merupakan hasil dari suatu kegiatan pembelajaran yang

dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat sebagai

ukuran tingkat keberhasilan siswa selama proses pembelajaran.

b. Aspek-aspek prestasi belajar

Tohirin (2011: 151) mengemukakan bahwa pencapaian prestasi

belajar, merujuk kepada aspek-aspek:

1) Kognitif adalah kegiatan mental (otak), yaitu: pengetahuan,

pemahaman, penerapan, dan penilaian.

2) Afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai, mencakup

watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi dan nilai.

3) Psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill)

atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman

belajar tertentu.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Slameto (2015:54), mengatakan bahwa ada dua faktor yang

mempengaruhi prestasi belajar. Faktor-faktor yang dimaksud yaitu sebagai

berikut :

1) Faktor Internal

Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu yang

sedang belajar, meliputi:

a) Kesehatan,

b) Kondisi panca indera

c) Inteligensi dan bakat

d) Minat dan motivasi, serta

e) Cara belajar.

2) Faktor Eksternal

Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar individu, meliputi:

a) Keluarga

b) Tempat Belajar (Rumah, Sekolah, Kampus)

c) Masyarakat

d) Lingkungan Sekitar

e) Faktor Instrumental

f) Kurikulum Kurikulum

g) Faktor Tenaga Pendidik

h) Fasilitas Belajar
d. Fungsi prestasi belajar

Untuk mengetahui seberapa jauh prestasi belajar yang telah dicapai

peserta didik, maka diadakan kegiatan evaluasi pembelajaran. Tujuan

diadakannya kegiatan evaluasi adalah untuk mengetahui keefektifan dan

keberhasilan belajar mengajar sehingga dalam pelaksanaannya evaluasi

harus dilakukan secara terus-menerus.

Selanjutnya, Arifin (yang dikutip Risnawati (2018:7)), mengatakan

bahwa prestasi belajar mempunyai beberapa fungsi sebagai berikut:

1. Indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai

peserta didik.

2. Lambang pemuasan hasrat ingin tahu.

3. Bahan informasi dalam inovasi pendidikan.

4. Indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan.

5. Dapat dijadikan sebagai indikator terhadap daya serap anak didik.

B. Hasil Penelitian Terdahulu Yang Relevan

Penelitian terdahulu adalah penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti

sebelumnya yang memiliki kaitan dengan variabel-variabel dalam penelitian ini.

Tujuannya sebagai bahan acuan atau masukan bagi peneliti yang satu dengan

peneliti yang lain. Adapun penelitian terdahulu akan dipaparkan adalah sebagai

berikut:
1. Penelitian yang di lakukan Bayu dengan judul : hubungan antara motivasi
belajar dengan prestasi belajar siswa Kelas VIII MTs. Muhammadiyah
Kasihan Tahun Ajaran 2016/2017.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara

motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa Kelas VIII MTs.

Muhammadiyah Kasihan Tahun Ajaran 2016/2017. Populasi penelitian ini

adalah seluruh siswa kelas VIII MTs. Muhammadiyah Kasihan Tahun Ajaran

2016/2017 yang berjumlah 98 siswa. Sampel dalam penelitian ini sebesar 98

anak dengan menggunakan teknik total sampling. Metode pengumpulan data

dalam penelitian ini adalah angket. Teknik analisis data dengan menggunakan

analisis korelasi product moment.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif dan

signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar siswa kelas VIII

MTs. Muhammadiyah Kasihan Tahun Ajaran 2016/2017 yang dibuktikan

dengan nilai rhitung sebesar 0,391 dengan p = 0,000 lebih kecil dari 0,05 (taraf

signifikansi 5%).

Berdasarkan hasil analisis data penelitian di atas dapat disimpulkan

bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan motivasi belajar dengan

prestasi belajar siswa kelas VIII MTs. Muhammadiyah Kasihan Tahun Ajaran

2016/2017.

2. Penelitian yang di lakukan oleh Agus dengan judul : hubungan antara


motivasi belajar dengan hasil belajar matematika siswa kelas VII MTs
Darusalam Bermi tahun ajaran 2016/2017.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara motivasi

belajar dengan hasil belajar matematika siswa kelas VII MTs Darussalam

Bermi tahun ajaran 2016/2017. Model penelitian ini merupakan penelitian

ExPost Facto dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan jenis korelasional.

Intrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar angket yang

diberikan kepada sampel untuk mengetahui motivasi belajar siswa, dimana

lembar angket ini meliputi indikator-indikator motivasi belajar siswa. Metode

pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

observasi, lembar angket, dan metode wawancara. Populasi penelitian ini

adalah semua siswa kelas siswa kelas VII MTs Darussalam Bermi tahun

ajaran 2016/2017 sebanyak 129 siswa yang terdiri dari 6 kelas yaitu 3 kelas

putri dan 3 kelas putra. Jumah sampel yang diambil dalam penelitian adalah

42 siswa, dimana peneliti mengambil dari masing-masing kelas sebanyak 7

siswa dengan teknik Simple Random Sampling. Alat pengumpulan data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah angket motivasi belajar dan dokumen

hasil belajar matematika siswa. Teknik analisis data menggunakan korelasi

product moment.

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukan nilai r hitung = 0,539 dan rtabel

= 0,304 untuk taraf signifikan 5% dengan jumlah sampel (N) = 42.

Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis tersebut, jika r hitung ≥ rtabel (0,539 ≥

0,304) , maka Ho ditolak dan Ha diterima. Hal ini menunjukkan bahwa

terdapat hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar matematika


siswa kelas VII MTs Darussalam Bermi tahun pelajaran 2016/2017. Kriteria

motivasi belajar siswa yang diproleh dalam penelitian ini sebanyak 28,6%

sangat tinggi, 45,2 tinggi dan 26,2 kriteria motivasi cukup. Sedangkan kriteria

hasil belajar matematika yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 11,9%

sangat tinggi, 21,4% tinggi, 52,4 cukup, 7,1% rendah dan 7,1% sangat rendah.

Berdasarkan hasil analisis data penelitian di atas dapat disimpulkan

bahwa terdapat hubungan signifikan antara motivasi belajar dengan hasil

belajar matematika siswa kelas VII MTs Darusalam Bermi tahun ajaran

2016/2017.

3. Penelitian yang di lakukan oleh Huzna dengan judul : hubungan motivasi


belajar dengan hasil belajar mata pelajaran akidah ahlak siswa kelas VII
Madrasah Aliyah Ma’arif 1 Punggur tahun pelajaran 2018/2019.

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah

ada hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar mata pelajaran

Akidah Akhlak siswa kelas VII MA Ma‟arif 1 Punggur Tahun Pelajaran

2018/2019. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi

penelitian ini adalah semua siswa kelas kelas VII dengan jumlah 89 siswa.

Anggota sampel dalam penelitian ini sebanyak 36 siswa yang dipilih dengan

menggunakan teknik Proporsional Random Sampling. Teknik pengumpul data

yang digunakan dalam penelitian ini yaitu angket dan dokumentasi. Teknik

analisis data dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi Product

Moment.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 16 siswa atau 44,45%

termasuk kriteria motivasi belajar cukup, 20 siswa dari 36 siswa yang hasil

belajarnya tergolong baik. Adanya hubungan antara motivasi belajar dengan

hasil belajar dibuktikan dengan diperolehnya harga rxysebesar (rxy) 0,665 yang

berada pada kategori kuat. Kemudian dilakukan uji t, dan diperoleh harga

thitung>ttabel = 5,192 > 2,042, sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini

menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi belajar dengan hasil

belajar mata pelajaran Akidah Akhlak kelas VII Madrasah Aliyah Ma‟arif 1

Punggur tahun ajaran 2018/2019.

Berdasarkan hasil analisis data penelitian di atas dapat di simpulkan

bahwa terdapat hubungan signifikan antara motivasi belajar dengan hasil

belajar matematika siswa kelas VII Madrasah Aliyah Ma‟arif 1 Punggur

Tahun ajaran 2018/2019.

C. Kerangka Konseptual

Sugiyono (2019:95) menyatakan bahwa kerangka berpikir merupakan model

konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang

telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Kerangka berpikir yang baik

akan menjelaskan secara teoritis pertautan antara variabel yang akan diteliti.
Berdasarkan pendapat ahli di atas dan landasan teori yang telah

dikemukakan, dapat disusun kerangka konseptual penelitian sebagaimana dapat

dilihat pada bagan 2.1

Variabel Penelitian

Motivasi Belajar(X) Prestasi Belajar (Y)


.
1) Achievement Drive
2) Commitment Nilai Rapor semester
3) Initiative ganjil tahun pelajaran
4) Optimism 2023/2024

Cherniss dan Goleman (2001 :88)

Bagan 2.1

Keterangan bagan :

: Variabel X

: Variabel Y

: Hubungan antara variabel X dan variabel Y

D. Anggapan Dasar dan Hipotesis Penelitian

1. Anggapan Dasar

Anggapan dasar merupakan titik tolak dalam pengkajian masalah

secara ilmiah, yang diyakini kebenarannya oleh peneliti. Berkaitan dengan itu,

Arikunto (2014:104) menyatakan bahwa, anggapan dasar adalah suatu hal

yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang dirumuskan secara jelas, dan
berfungsi sebagai tempat berpijak bagi peneliti dalam melaksanakan

penelitiannya.

Lebih lanjut Arikunto mengemukakan bahwa ada beberapa alasan

perlunya merumuskan anggapan dasar sebagai berikut:

a. Agar ada dasar pijak yang kokoh bagi masalah yang diteliti

b. Untuk mempertegas variabel yang akan menjadi fokus penelitian

c. Guna menentukan dan merumuskan suatu hipotesis

Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa anggapan dasar

merupakan titik tolak atau pedoman kerja yang kokoh untuk mempertegas

variabel, guna menentukan dan merumuskan hipotesis dalam penelitian.

Dengan demikian anggapan dasar dalam penelitian ini dapat dirumuskan

sebagai berikut:

a. Prestasi belajar siswa berhubungan dengan banyak faktor, salah satunya

adalah motivasi belajar.

b. Semakin tinggi motivasi belajar maka akan semakin tinggi pula prestasi

belajar siswa dan sebaliknya semakin rendah motivasi belajar maka akan

semakin rendah pula prestasi belajar siswa.

2. Hipotesis Penelitian

Menurut Arikunto (2014:110), “Hipotesis merupakan suatu jawaban

yang bersifat sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoretis


dianggap paling mungkin dan paling tinggi kebenarannya”. Selanjutnya

Margono (2010: 68) mengatakan hipotesis terdiri dari dua yaitu:

Hipotesis nol (Ho) yang menyatakan bahwa tidak adanya hubungan

atau korelasi antara sesuatu (Variabel X) dengan sesuatu yang lainnya

(Variabel Y) dan hipotesis kerja (Ha) yang menyatakan adanya hubungan atau

korelasi antara sesuatu (Variabel X) dengan sesuatu lainnya (Variabel Y).

Berdasarkan rumusan masalah penelitian di atas maka hipotesis dalam

penelitian ini adalah:

H0 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dan prestasi

belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 16 Kota Kupang tahun pelajaran

2023/2024.

Ha : Ada hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dan prestasi belajar

kelas VIII A SMP Negeri 16 Kota Kupang tahun pelajaran 2023/2024.

Anda mungkin juga menyukai