0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
52 tayangan86 halaman

Pengetahuan Teknik Mengejan dan Ruptur Perineum

Diunggah oleh

Kholifatul Jannah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
52 tayangan86 halaman

Pengetahuan Teknik Mengejan dan Ruptur Perineum

Diunggah oleh

Kholifatul Jannah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG TEKNIK MENGEJAN

DENGAN RUPTUR PERINEUM PADA PERSALINAN


NORMAL DI RUMAH BERSALIN RANTARANI
PERBAUNGAN 2018

SKRIPSI

Oleh :

RANTA RANI
1701032707

PROGRAM STUDI D4 KEBIDANAN


FAKULTAS FARMASI DAN KESEHATAN
INSTITUT KESEHATAN HELVETIA
MEDAN
2018
HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG TEKNIK MENGEJAN
DENGAN RUPTUR PERINEUM PADA PERSALINAN
NORMAL DI RUMAH BERSALIN RANTARANI
PERBAUNGAN 2018

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan


Program Studi D4 Kebidanan dan Memperoleh Gelar
Sarjana Terapan Kebidanan ([Link])

Oleh :

RANTA RANI
1701032707

PROGRAM STUDI D4 KEBIDANAN


FAKULTAS FARMASI DAN KESEHATAN
INSTITUT KESEHATAN HELVETIA
MEDAN
2018
Telah di Uji pada Tanggal 19 Oktober 2018

Panitia Penguji Skripsi


Ketua : Faradita Wahyuni, SST, [Link]
Anggota : 1. Yuka Oktafirnanda, SST., M.K.M.
2. Rina Hanum, SST., [Link].
i
ABSTRAK

HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG TEKNIK MENGEJAN DENGAN


RUPTUR PERINEUM PADA PERSALINAN NORMAL DI RUMAH
BERSALIN RANTARANI PERBAUNGAN 2018

RANTA RANI
1701032707

Teknik mengejan merupakan faktor terjadinya ruptur perineum sewaktu


persalinan. Wanita yang tidak dapat mengendalikan diri ketika mengejan lebih
mudah mengalami robekan atau lebih membutuhkan episiotomi. Adapun ruptur
perineum merupakan salah satu penyebab terjadinya perdarahan peraginam saat
persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu
tentang teknik mengejan dengan ruptur perineum pada persalinan normal di
Rumah Bersalin Rantarani Perbaungan Tahun 2018.
Desain penelitian ini menggunakan metode survei analitik dengan
pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang
ada di Rumah Bersalin Rantarani Perbaungan dari Bulan Agustus - September
2018 sebanyak 30 Orang. Sampel penelitian adalah 30 orang. Teknik
pengambilan sampel adalah Total Populasi. Data yang digunakan adalah data
sekunder dan tertier. Teknik analisa data menggunakan analisis univariat dan
bivariat dengan uji Chi-square.
Hasil penelitian menunjukkan dari 30 responden, mayoritas ibu memiliki
pengetahuan kurang sebanyak 15 orang (50%) dan mengalami ruptur perineum
tingkat 1 sebanyak 13 orang (43,3 %). Hasil uji statistik pengetahuan tentang
teknik mengejan dengan ruptur perineum menunjukkan nilai p-value = 0,015.
berarti Ha diterima Ho ditolak.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan yang signifikan
antara hubungan pengetahuan ibu tentang teknik mengejan dengan ruptur
perineum pada persalinan normal di Rumali Bersalin Rantarani Perbaungan
tahun 2018. Disarankan kepada petugas kesehatan agar lebih meningkatkan
penyuluhan dan konseling kepada ibu hamil trimester III saat ANC tentang teknik
mengejan yang benar.

Kata Kunci : Pengetahuan, Teknik Mengejan dan Ruptur Perineum


Daftar Pustaka : 9 Buku + 13 Jurnal (2010-2018)

ii
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah penulis mengucapkan kepada kehadhirat Allah SWT karena


berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan
judul “Hubungan Pengetahuan Tentang Teknik Mengejan dengan Ruptur
Perineum Pada Persalinan Normal di Rumah Bersalin Rantarani Perbaungan
Tahun 2018”.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak terdapat kekurangan
dan kelemalhan, baik dari segi penulisan, segi penggunaan bahasa maupun
penempatan materi. Hal disebabkan keterbatasan kemampuan, dan pengetahuan
yang penulis miliki. Oleh karena, itu dengan segala kerendahan hati
mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca yang bersifat membangun guna
menyempurnakan pembuatan skripsi ini dimasa akan datang.
Selanjutnya dalaın pembuatan skripsi ini juga ınendapat banyak dukungan
dari semua pihak, untuk penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada Bapak/
lbu:
1. Dr. dr. Hj. Razia Begum Sııroyo, [Link], [Link]., selaku Pembina Yayasan
Helvetia Medan
2. Iman Muhammad, SE, [Link], MM, [Link]., selaku Ketua Yayasan
Helvetia Medan.
3. Dr. H. Ismail Effendy, M. Si., selaku Rektor Institut Kesehatan Helvetia
Medan
4. Darwin Syamsul, [Link]., [Link]., Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Dan
Kesehatan Institut Helvetia.
5. Elvi Era Liesmayani, [Link]., [Link]., selaku Ketua Program Studi D4
Kebidanan Fakultas Farmasi Dan Kesehatan Umıım Institut Kesehatan
Helvetia.
6. Faradita Wahyuni, SST, [Link]., selaku Peınbimbing I yang telah
memberikan bimbingan dan mencurahkan waktu, perhatian, ide dan
motivasi selama penyusunan skripsi ini.
7. Yuka Oktafimanda, SST., M.K.M., selaku Pembimbing II yang telah
meluangkan waktu dan memberikan pemikiran dalam membimbing penulis
selama penyusunan skripsi ini.
8. Rina Hanum, SST., [Link]. selaku Penguji III yang telah meluangkan
waktunya untuk memberi kritik dan saran yang membangun dalam
penyempurnaan skripsi ini.
9. Seluruh Dosen Program Studi D4 kebidanan yang telah mendidik dan
mengajarkan berbagi ilmu yang bermanfaat bagi penulis.
10. Teristimewa kepada Ayahanda dan Ibunda yang selalu tiada henti-hentinya
memberikan dukungan moril maupun material, mendoakan dan selalu
memotivasi penıılis dalam penyelesaian skripsi ini.
11. Kepada seluruh sahabat dan teman-teman, yang selalu menemani dan
memberikan motivasi Kepada penulis.

iii
Akhir kata penulis berharap semoga skripsi int dapat bermanfaat bagi
pendidikan kita khususnya bagi para pembaca. Semoga Allah SWT senantiasa
memberikan hidayah dan petunjuk-Nya.

Medan, 19 Oktober 2018


Penulis

Ranta Rani
1701032707

iv
DAFTAR ISI

Halaman
COVER LUAR
COVER DALAM
LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PANITIA PENGUJI SKRIPSI
LEMBAR KEASLIAN PENELITIAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
ABSTRACT ................................................................................................. i
ABSTRAK ................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................. iii
DAFTAR ISI ............................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR .................................................................................. vii
DAFTAR TABEL ....................................................................................... viii
LAMPIRAN ................................................................................................ ix

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang............................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah.......................................................................... 5
1.3. Tujuan Penelitian ........................................................................... 5
1.4. Manfaat Penelitian ......................................................................... 6
1.4.1. Manfaat Teoritis................................................................. 6
1.4.2. Manfaat Praktis .................................................................. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Tinjauan Penelitian Terdahulu....................................................... 7
2.2. Telaah Teori ................................................................................... 10
2.2.1. Ruptur Perenium ................................................................ 10
2.2.2. Posisi dalam Persalinan ..................................................... 15
2.2.3. Teknik Mengedan .............................................................. 16
2.2.4. Pengetahuan ....................................................................... 19
2.3. Hipotesis ........................................................................................ 23

BAB III METODE PENELITIAN


3.1. Desain Penelitian ........................................................................... 25
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................ 25
3.2.1. Lokasi Penelitian(Lokus) ................................................... 25
3.2.2. Waktu Penelitian ................................................................ 25
3.3. Populasi dan Sampel ...................................................................... 25
3.3.1. Populasi.............................................................................. 25
3.3.2. Sampel ............................................................................... 26
3.4. Kerangka Konsep .......................................................................... 26
3.5. Defenisi Operasional dan Aspek Pengukuran ............................... 27
3.5.1. Definisi Operasional ......................................................... 27
3.5.2. Aspek Pengukuran ............................................................ 27

v
3.6. Metode Pengumpulan Data ........................................................... 28
3.6.1. Jenis Data .......................................................................... 28
3.6.2. Teknik Pengumpulan Data ................................................ 29
3.6.3. Uji Validitas dan Reliabilitas ............................................ 29
3.7. Metode Pengolahan Data ............................................................... 31
3.8. Analisa Data ................................................................................. 32
3.9.1. Analisa Univariat .............................................................. 32
3.9.2. Analisa Bivariat ................................................................ 32

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1. Gambaran Lokasi Penelitian......................................................... 33
4.1.1. Sejarah Singkat Klinik ....................................................... 34
4.2. Hasil Penelitian .............................................................................. 34
4.2.1. Analisa Univariat ............................................................... 36
4.2.2. Analisa Bivariat ................................................................. 35
4.3. Pembahasan .................................................................................. 36
4.3.1. Pengetahuan Ibu tentang Teknik Mengejan di Rumah
Bersalin Rantarani Kec. Perbaungan Tahıın 2018 ............ 37
4.3.2. Ruptur Perenium di Rumah Bersalin Rantarani Kec.
Perbaungan Tahıın 2018 ................................................... 38
4.3.3. Hubungan Pengetahuan Ibu Hamil tentang Teknik
Mengedan dengan Ruptur Perenium di Rumah Bersalin
Rantarani Kec. Perbaungan Tahıın 2018 ......................... 40

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan .................................................................................... 44
5.2. Saran .............................................................................................. 44

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 48

LAMPIRAN ................................................................................................. 49

vi
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 3.1. Kerangka Konsep ............................................................. 26

vii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 3.1. Aspek Pengukuran Variabel Independen (X) dan


Dependen (Y) .................................................................. 28
Tabel 3.2. Hasil Uji Validitas Kuesioner ........................................... 29
Tabel 3.2. Uji Reliabilitas Pengetahuan Ruptueteri .......................... 31
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan di Rumah Bersalin
Rantarani Kec. Perbaungan Tahıın 2018 ........................... 34
Tabel 4.2. Hasil Perhitungan Jawaban Responden di Rumah
Bersalin Rantarani Kec. Perbaungan Tahıın 2018 .......... 35
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Ruptur Perenium di Rumah Bersalin
Rantarani Kec. Perbaungan Tahıın 2018 ........................... 36
Tabel 4.4. Tabulasi Silang Hubungan Pengetahuan dengan Ruptur
Perenium di Rumah Bersalin Rantarani Kec. Perbaungan
Tahıın 2018 ....................................................................... 36

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Kuesioner .......................................................... 47


Lampiran 2 Master Data Uji Validitas ............................................... 49
Lampiran 3 Master Data Penelitian ................................................... 50
Lampiran 4 Hasil Uji Validitas .......................................................... 52
Lampiran 5 Hasil Output Penelitian .................................................. 56
Lampiran 6: Surat Survei Awal .......................................................... 62
Lampiran 7 Surat Balasan Survei Awal ............................................. 63
Lampiran 8 Surat Uji Validitas .......................................................... 64
Lampiran 9 Surat Balasan Surat Uji Validitas .................................. 65
Lampiran 10 Surat Izin Penelitian ....................................................... 66
Lampiran 11 Surat Balasan Ijin Penelitian .......................................... 67
Lampiran 12 Surat Permohonan Pengajuan Judul Skripsi .................. 68
Lampiran 13 Lembar Revisi Proposal ................................................. 69
Lampiran 14 Lembar Revisi Skripsi .................................................... 70
Lampiran 15 Lembar Bimbingan Proposal .......................................... 71
Lampiran 16 Lembar Bimbingan Skripsi ............................................ 73
Lampiran 17 Dokumentasi ................................................................... 75

ix
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Persalinan normal merupakan proses pengeluaran hasil konsepsi yang

sudah cukup bulan, lahir secara spontan dengan presentasi belakang kepala yang

berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin.

lbu hamil sangat menanti datanggnya waktu persalinan, karena mendambakan

kehadiran buah hati yang sudah dinanti selama 40 minggu. Ibu hamil

menganggap persalinan merupakan waktu yang paling mendebarkan karena

persalinan identik dengan rasa sakit yang hebat, menguras tenaga dan sangat

melelahkan, bahkan perjuangan yang menegangkan karena mempertaruhkan

nyawa.

Untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan maternal dan neonatus yang

berkualitas dibutuhkan tenaga kesehatan terampil yang didukung tersedianya

sarana dan prasarana yang memadai. Pemerintah juga telah menetapkan Asuhan

Persalinan Normal (APN) pada petugas pelaksana asuhan kebidanan dan

keperawatan yang dicanangkan dalam kerja kolaborasi Depkes Rl, POGI, IBI,

JNPKKIC atas dukungan JHPIEGD Corporation. Fokus utama APN adalah

mencegah terjadinya komplikasi seperti perdarahan post partum yang disebabkan

oleh ruptur perineum. (l)

Data di berbagai dunia pada tahun 2009 menunjukkan tejadi 2,7 juta kasus

robekan (ruptur) perineum pada ibu bersalin. Angka ini diperkirakan mencapai 6,3

1
2

juta pada tahun 2020, seiring dengan bidan yang tidak mengetahui asuhan

kebidanan dengan baik dan kurang pengetahuan ibu tentang perawatan mandiri

ibu di rumah. Data di Amerika dari 26 juta ibu bersalin, terdapat 40% mengalami

ruptur perineum. Data di Asia menunjukan bahwa masalah robeka perineum

cukup banyak dalam masyarakat, 50% dari kejadian robekan perineum di dunia

terjadi di Asia. Prevalensi ibu bersalin yang mengalami robekan perineum di

Indonesia pada golongan umur 25-30 tahun yaitu 24%, dan pada ibu umur 32-39

tahun sebesar 62%. (2)

Keberhasilan upaya kesehatan ibu, di antaranya dapat dilihat dari indikator

Angka Kematian Ibu (AKI). AKI adalah jumlah kematian ibu selama masa

kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan

nifas atau pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan

atau terjatuh di setiap 100.000 kelahiran hidup. (3)

Indikator ini tidak hanya mampu menilai program kesehatan ibu, terlebih.

lagi mampu menilai derajat kesehatan masyarakat, karena sensitifitasnya terhadap

perbaikan pelayanan kesehatan, baik dari sisi aksesibilitas maupun kualitas.

Penurunan AKl di Indonesia terjadi sejak tahun 1991 sampai dengnn 2007, yaitu

dari 390 menjadi 228. Namun demikian, SDKl tahun 2012 menunjukkan

peningkatan AKI yang signifikan yaitu menjadi 359 kematian ibu per 100.000

kelahiran hidup. AKI kembali menunjukkan penurunan menjadi 305 kematian ibu

per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Suıvei Penduduk Antar Sensus

(SUPAS) 2015. (3)


3

Pada tahun 2012 Kementerian Kesehatan meluncurkan program

Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) dalam rangka menurunkan

angka kematian ibu dan neonatal sebesar 25%. Program ini dilaksanakan di

provinsi dan kabupaten dengan jumlah kematian ibu dan neonatal yang besar,

yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan

Sulawesi Selatan. Dasar penelitian provinsi tersebut disebabkan 52,6% dari

jumlah total kejadian kematian ibu di Indonesia berasal dari enam provinsi

tersebut. Sehingga dengan menurunkan angka kematian ibu di enam provinsi

tersebut diharapkan akan dapat menurunkan angka kematian ibu di Indonesia

secara signifikan. (3)

Adapun Kematian Ibu di Indonesia 40% disebabkan oleh perdarahan

postpartum. Penyebab perdarahan utama adalah atonia uteri sedangkan rupture

perineum merupakan penyebab kedua yang hampir terjadi pada setiap persalinan

pervaginam. Lapisan mukosa dan kulit perineum pada seorang ibu primipara

mudah terjadi ruptur yang bisa menimbulkan perdarahan pervaginam. (4)

Sementara di Provinsi Sumatera Utara AKI dalam 7 tahun terakhir

menunjukkan kecenderungan penurunan, dari 360 per 100.000 kelahiran hidup

tahun Utara 2002 menjadi 345 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2003, 330

per 100.000 tahun 2004, 320 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2005, 315

per 100.000 kelahiran hidup tahun 2006, 275 per 100.000 kelahiran hidup tahun

2007, dan pada tahun 2008 menjadi 260 per 100.000 kelahiran hidup yang masih

lebih tinggi bila dibandingkan rata-rata nasional tahun 2007 yaitu 228 per 100.000

kelahiran hidup. (5)


4

Profil Kesehatan Kab. Serdang Bedagai menyatakan bahwa Angka

kematian ibu berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup

sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat

pelayanan kesehatan terutama untuk ibu haınil adalah pelayanan kesehatan waktu

melahirkan dan masa nifas. Kematian ibu yang melahirkan masih merupakan

indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di kab. Serdang Bedagai maupun

Nasional. Jumlah kematian ibu pada Tahun 2015 sebanyak 15 kasus. Jumlah

Kematian Ibu Meningkat sebanyak 4 Kasus dari Tahun 2014. AKI kabupaten

Serdang Bedagai tahun 2014 sebesar 127 per 100.000 kelahiran hidup dan

memang masih jauh dari target nasional tetapi telah sesuai dengan target MDG’s.

(6)

Ruptur perineum merupakan robekan yang terjadi sewaktu persalinan dan

disebabkan oleh beberapa faktor antara lain posisi persalinan, cara mengedan,

pimpinan persalinan dan berat bayi baru lahir. Selain itu, bayi baru lahir yang

terlalu besar atau berat badan lahir lebih dari 4000 gram akan ıneningkatkan

resiko proses persalinan yaitu kemungkinan terjadi bahu bayi tersangkut, bayi

akan lahir dengan gangguan nafas dan kadang bayi lahir dengan trauma trılang

leher, bahu dan sarafnya. Hal ini terjadi karena masa bayi yang besar sehingga

sulit melewati panggul dan menyebabkan terjadinya ruptur perineum pada ibu

bersalin. (7)

Persalinan dengan ruptur perineum bila tidak ditangani dengan tepat akan

menyebabkan perdarahan dan infeksi menjadi lebih berat, serta pada jangka waktu
5

yang lama dapat mengganggu ketidaknyamanan ibu dalam hal berhubungan

seksual. (8)

Survei awal yang dilakukan peneliti di rumah bersalin Rantarani, 7 dari 10

ibu nifas mengalami ruptur perineuın yang disebabkan karena berbagai alasan (3

orang nıenyatakan karena janin besar, l diantaranya panggul sempit dan 3 orang

lainnya mengalami his yang adekuat) sedangkan 3 lainnya dari 10 orang ibu tidak

mengalami ruptur perineum.

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian mengenai ruptur perineum dimana permasalahan diatas harus diteliti

apa penyebab pastinya ruptur perineum itu bisa terjadi sehingga peneliti

melakukan penelitian tentang Hubungan Pengetahuan tentang Teknik Mengejan

dengan Ruptur Perineum di Rumah Bersalin Rantarani Perbaungan Tahun 2018.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas runusan masalah dalmn penelitian ini

adalah “Apakah Ada Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Teknik Mengejan

dengan Ruptur Perineum Pada Persalinan Normal di Rumah Bersalin Rantarani

Perbaungan Tahun 2018.

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu tentang Teknik

Mengejan pada persalinan normal di Rumah Bersalin Rantarani

Perbaungan Tahun 2018.

2. Untuk mengetahui distribusi Frekekuensi Ruptur Perineum pada

persalinan normal diRumah Bersalin Rantarani Perbaungan Tahun 2018.


6

3. Untuk mengetahui hubungan Pengetahuan ibu Tentang Teknik Mengejan

dengan Ruptur Perineum pada persalinan normal diRtımah Bersalin

Rantarani Perbaungan Tahun 2018.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

1. Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi dalam bidang

keilmuan untuk mengkaji lebih dalam lagi mengenai ruptur perineum pada

ibu nifas

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

Untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian dengan

judul yang sama dengan mengembang variabel yang lebih banyak lagi

sekaligus mengembangkannya dalam penelitian lebih lanjut.

1.4.2 Manfaat Praktis

1. Bagi Responden

Penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi bagi responden dalam

ınelakukan persalinan normal agar tidak terjadi ruptur perineum seperti

mengetahui informasi mengenai cara mengejan yang baik dan benar.

2. Bagi Pelayanan Kesehatan

Penelitian ini diharapkan menjadi panduan kepada tenaga kesehatan

untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada ibu lıamil

mengenai ruptur perineum.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian yang dilakukan Setyorini dan Utami Elviandari dengan Judul

Pengetahuan Ibu Hamil Trimester III tentang Teknik Mengejan dalam Persalinan

di RB Sukoasih Sukoharjo Tahun 2016. Desain penelitian ini adalah penelitian

deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi penelitian ini adalah

semua ibu hamil trimester III di RB Sukoasih Sukoharjo Tahun 2015, teknik

sampling yang digunakan adalah Accidental Sampling dimana saat penelitian

dijumpai responden sebanyak 30 responden. Alat pengumpulan data berupa

kuesioner. Analisa data menggunakan rumus prosentase dan distribusi frekuensi

Hasil penelitian didapatkan pengetahuan ibu hamil trimester III tentang teknik

mengejan yang benar berpengetahuan baik 8 responden (26,7%), cukup sebanynk

15 responden (50,0%), kurang sebanyak 7 responden (23,3%).

Karakteristik responden di RB Stiko Asih Sukoharjo mayoritas berumur 21-25

sebanyak 16 responden (53,3%), primigravida 19 responden (63,3%), dan

pendidikan SMA sebanyak 17 responden (56,70%). (9)

Penelitian lain yang dilakukan Sinta Lusiana yang berjudul Hubungan

Pengetahuan Ibu bersalin tentang Teknik Mengejan dengan Kejadian Ruptur

Perineum pada Persalinan Normal di BPM N Kelurahan Batipuh Panjang

Kecamatan Koto Tangah Padang Tahun 2012. Hasil analisis data, dari 69

responden dimana diketahui bahwa ibu bersalin pengetahuan rendah dan tidak

mengalami ruptur perineum sebanyak 5 orang ( 7,2 %). Pengetahuan rendah

7
8

serta mengalami ruptur perineum sebanyak 41 orang ( 59,4%),

pengetahuan tinggi serta tidak mengalami ruptur perineum sebanyak 19 orang (

27,5%), dan pengetahuan tinggi serta mengalami ruptur perineum sebanyak 4

orang (5,8%). Hasil uji statistik Chi-square dengan diperoleh nilai p = 0,000 (p <

0,05). Dari nilai p tersebut dapat dijelaskan bahwa Ho ditolak artinya ada

hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian ruptur perineum.

(10)

Berdasarkan Penelitian yang dilakukan Nasriah dengan Judul Hubungan

antara Berat badan Bayi Lahir Terhadap kejadian ruptur perineum pada ibu

dengan persalinan normal di RSIA Siti Fatimah Makasar pada Tahun 2011.

Analisis data mulüvariat dengan menggunakan uji chi square dengan nilai

kemaknaan 0,05 menyatakan bahwa hasil hasil uji statistik dapat diinterpretasikan

bahwa 150 responden diperoleh nilai p 0,000 lebih kecil dari nilai p = 0,05.

Dengan demikian, Ho ditolak dan Ha diterima berarti ada hubungan antara berat

badan lahir bayi terhadap kejadian ruptur perineum. (11)

Penelitian lain yang dilakukan Mujab, Rusmiyati dan Purnomo tentang

pengaruh tehnik meneran terhadap laserasi jalan lahir pada ibu inpartu

primigravida di Rumah bersalin Semarang Tahun 2014. Metode penelitian ini

adalah Eksperimen Semu dengan pendekatan pretest posttest design, jumlah

sampel yang digunakan adalah sebanyak 34 responden dengm teknik yang

digunakan adalah total sampling. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan

bahwa hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan, berdasarkan uji

statistik Chi-square diketahui p value 0,005< α (0,05), dapet disimpukan bahwa


9

Ha diterima dan Ho ditolak, berarti ada hubungan tehnik meneran terhadap

laserasi jalan pada ibu inpartu priınigravida. Diketahui bahwa dari 34 responden,

17 (50%) mengalami laserasi perineum derajat I dan 17 (50%) mengalami

laserasi perineum derajat II. Berdasarkan responden yang melakukan tehnik

meneran adalah sebagian besar tehnik meneran salah sebesar 21 (61,8%), dan

sisanya tehnik meneran benar sebesar 13 (38,2 %). (12)

Studi Kasus yang dilakukan Alfiani Safrita dan Marliandiani dengan judul

Hubungan Antara Teknik Mengejan dengan Ruptur Perineum Pada Ibu Bersalin

yang Selama Kehamilan Mengikuti Senam Haınil Di BPM Ny. Wiwik S

Aengsareh Sampang Tahun 20l3. Metode yang digunakan dalam penelitian ini

adalah metode analitik dan menggunakan purposive sampel yaitu pengambilan

sampel yang didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh

peneliti sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui

sebelumnya. Sampel ibu bersalin yang pada waktu hamil mengikuti senam hamil

sebanyak 30 responden. Instrumen yang digunakan adalah dengan observasi

menggunakan ceklis, baik pada teknik meneran maupun pada ruptur perineum.

Berdasarkan hasü penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa dari 30

responden, melakukan teknik meneran dengan benar pada kala II sebağian besar

tidak terjadi ruptur perineum yaitu sebanyak 770%, dan responden dengan teknik

meneran yang salah pada kala II yang terbanyak mengalami ruptur perineum

sebanyak 82%, dan dari hasil chi-square didapatkan Ho ditolak, Ha diterima maka

dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara teknik meneran dengan ruptur

perineum pada ibu bersalin yang selama kehamilan mengikuti senam hamil.
10

Dengan kolerasi salahnya meneran pada ibu bersalin yang selama kehamilan

menğkuti senam hamil tidak rutin maka terjadi ruptur perineum semakin banyak.

(13)

2.2 Ruptur Perineum

2.2.1. Defınisi

Ruptur perineum adalah luka pada perineum yang terjadi saat proses

persalinan karena desakan kepala atau bagiaan tubuh janin secara tiba-

tiba,sehingga kulit dan jaringan perineum robek.

Ruptur perineıun umumnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas

apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada

biasa, kepala janin melewati pintu atas panggul dengan ukuran yang lebih besar

daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika. Adanya luka pada perinium

menimbulkan rasa nyeri yaııg bertahan selama beberapa minggu setelah

melahirkan.

Keadaan perineum dievaluasi untuk menentukan apakah pelahiran

kemungkinan dapat dilakukan dengan perineum yang utuh atau apakah episiotorni

diindikasikan. Keputusan ini terus dievaluasi ulang sampai bayi lahir. (Vamey

2007; h.762) Pengendalian diri ibu merupakan kunci semua metode pelahiran

dengan perineum utuh, yang akan digunakan. Wanita yang tidak dapat

mengendalikan diri ketika mengejan lebih mudah mengalami robekan atau lebih

membutuhkan episiotoıni. (14)


11

2.2.2. Anatomi Perineum

Menurut Oxom dan William, perenium merupakan ruang berbentuk

jajaran genjang yang terletak di bawah dasar panggul. Batas-batasnya adalah:

1. Superior: dasar panggul yang terdiri dari m. Levator ani dan m.

Coccygeus.

2. Lateral: ntlang dan ligamenta yang membentuk pintu bawah pinggul

(exitus pelvis); yakni dari depan ke belakang angulus subpubicius, ramus

ischiopubicus, tuber ischiadicum, lig. Sacrotuberosum, os Coccygeus.

3. Inferior: kulit dan fascia. Daerah ini dibagi menjadi dua buah segitiga:

trigonum urogenitale di sebelah depan dan trigonuin anale di sebelum

belakang. Keduanya dipisahkan oleh sekat melintang yang dibentuk oleh

man. Transversus perinci dan basis diaphragma urogenitale

2.2.3. Etiologi

1. Faktor Penyebab dari maternal

1) Partus presipitatus yang tidak dikendalikan dan tidak ditolong (sebab

paling sering)

2) Pasien tidak mampu berhenti untuk mengejan

3) Pasien diselesaikan secara tergesa-gesa dengan dororngan fundus yang

berlebihan

4) Edema dan kempuhan pada perenium

5) Arcus pubis sempít dengan pintu bawah panggul yang sempit pula

sehingga menekan kepala bayi ke arah posterior

6) Perluasan episiotorni
12

7) Paritas

1) Definisi:

Menurur kamus Dorlan paritas adalah keadmn perempuan yang telah

melahirkan anak yang viabel.

2) Klasifikasi Jumlah Paritas :

a. Nullipara adalah seorang perempuan yang belum pernah

melahirkan seorang anak yang viable

b. Primipara adalah wanita yang pernah mengandung dan

melahirkan satu anak yang hidup.

c. Multipara adalah seorang wanita yang telah dua kali atau lebih

mengandung janin viabel, tanpa memandang apakah anak itu

hidup atau mati ketika lahir.

d. Grandemultipara adalah wanita yang telah lima kali atau lebih

mengandung janin viabel.

2. Faktor Penyebab dari Janin

1) Bayi yang besar

2) Posisi kepala yang abnormal

3) Kelahiran bokong ekstraksi forceps yang sukar

4) Dystocia bahu

5) Anomali kongenital, seperti hidrocepalus

2.2.4. Tanda dan Gejala

1. Perdarahan segera

2. Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir


13

3. Uterus berkontraksi dengan baik

4. Plasenta baik

5. Pucat

6. Lemah

7. Menggigil

2.2.5. Klasifikasi Ruptur Perineum

1. Derajat Pertama :

Ruptur perineum derajat pertama meliputi mukosa vagina. fourchette dan

kulit perineum tepat dibawahnya.

2. Derajat Kedııa

Ruptur perineum derajat kedua merupakan luka robekan yang lebih dalam.

Luka ini terutama mengenai garis tengah dan melebar sampai corpus

perineuin. Acapkali musculus perineus transversus turut terobek dan

robekan dapat turun tapi tidak mencapai sphincter recti. Biasanya robekan

meluas keatas dan disepanjang mukosa vagina dan jaringan submukosa.

Keadaan ini menimbulkan lııka laserasi yang berbentuk segitiga ganda

dengan dasar pada fourchette, salah satu apex pada vagina dan apex lainnya

di dekat rectum.

3. Derajat Ketiga

Ruptur perineum derajat tiga melııas sampai corpus perineum, musculus

transversus perineus dan sphincter recti. Pada ruptur partialis derajat

ketiga, yang robek hanyalah sphincter recti.


14

4. Derajat keempat (totalis)

Pada ruptur yang total, sphincter recti terpotong dan laserasi inserasi hingga

dinding anterior rectum dengan jarak yang bervariasi. (15)

2.2.6. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan perbaikan ruptur perineum dengan cara dilakukan penjahitan

untuk menyatukan jaringan-jaringan yang terbuka akibat robekan atau ruptur

perineum. Prosedur perbaikan ruptur perineum adalah sebagai berikut:

1. Mengeksplorasi untuk mengidentifikasi lokasi laserasi dan sumber

Perdarahan

2. Melakukan irigasi pada luka dan memberikan antiseptic

3. Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan kemudian ikat dengan

benang yang dapat diserap.

4. Melakukan penjahitan luka mulai dari bagian yeng paling distal terhadap

operator

5. Khusus pada ruptur perineum totalis dilakukan penjahitan lapis dermis

6. lapis dengan bantuan busi pada rektum, sebagai berikut:

1) Setelah prosedur aseptic-antiseptic, pasang busi rektum hingga

ujung robekan

2) Mulai penjahitan dari ujung robekan dengan jahitan dan simpul

submukosa, menggunakan benang poliglikolik no.2/0(Dexon/Vicryl)

hingga ke sfingter ani. Jepit kedua sfingter ini dengan klem dan jahit

dengan benang no.2/0


15

3) Lanjutkan penjahitan ke lapisan otot perenieum dan submukosa

dengan benang yang sama (atau kromik 2/0) secara jelujur

4) Mukosa vagina dan kulit perineum dijahit secara submukosa dan

subkutiler.

5) Berikan antibiotika profilaksis (ampisilin 2 g dan metronidazol I g

per oral). Terapi penuh antibiotika hanya diberikan apabila luka

tampak kotor atau dibubuhi ramuan tradisional atau terdapat tanda-

tanda infeksi yang jelas.

2.3 Posisi Dalam Persalinan

Pengaturan posisi adalah salah satu teknik relaksasi karena dapat

mengurangi titik tekanan dan ketegangan otot-otot dasar panggul. Jenis posisi

dalam persalinan menurut JNPK-KR adalah sebagai berikut. Posisi duduk atau

setengah duduk dapat meınberikan rasa nyaman dan ınemberi kemudahan baginya

untuk istiıahat diantara kontraksi. Keuntungan dari kedua posisi ini adalah gaya

grafitasi untuk membantu ibu melahirkan bayinya. Posisi jongkok atau berdiri

membantu mempercepat kemajuan kala II persalinan dan mengurangi rasa nyeri.

Posisi merangkak atau berbaring miring ke kiri membuat ibu lebih nyaman dan

efektif untuk meneran. Kedua posisi tersebut juga akan ınembantu perbaikan

posisi oksiput yang melintang untuk berputar menjadi posisi oksiput anterior.

Posisi merangkak seringkali membantu ibu mengurangi nyeri punggung saat

persalinan. Posisi berbaring miring ke kiri memudahkan ibu untuk beristirahat

diantara kontraksi jika ia mengalami kelelahan dan juga dapat mengurangi resiko

teradinya ruptur perineum.


16

2.4 Teknik Mengejan

2.4.1 Cara Mengejan

Cara Mengedan Kekuatan yang sangat penting pada ekspulasi dihasilkan oleh

peningkatan tekanan infra-abdomen yang diciptakan oleh kontraksi otot-otot

abdomen bersamaan dengan usaha pernafasan paksa dengm glotis tertutup (mulut

tertutup), setelah serviks terbuka lengkap. Ibu maupun bayi tidak akan cedera jika

ibu mengedan selama kontraksi karena dinding vagina sangat lentur dan terdiri

dan otot-otot yang dapat melebar untuk memudahkan kepala bayi melewatinya

dan ketika kontraksi mereda ibu dapat berubah posisi. Ada dua cara mengedan

yaitu:

1. Posisi berbaring dengan tangan merangkul kedua paha sampai batas siku,

kepala sedikit diangkat sehingga dagu mendekati dada dan perut terlihat.

2. Posisi berbaring tetapi badan dalam posisi miring kekiri atau kekanan

tergantung pada letak punggung anak, satu kaki dirangkul yaitu kaki yang

berada di atas.

3. Kebiasaan yang tidak perlu dilakukan pada kala II pada saat mengedan

adalah mengedan dengan menahan napas panjang, hal ini dapat

menimbulkan kekurangan oksigen janin dalam kandungan, mengedan

dengan posisi telentang, hal ini dapat menekan aorta bagian bawah dan

menurunkan aliran darah kerahim dan anggota gerak bawah dan juga dapat

menyebabkan gangguan aliran darah dari ibu ke janin.


17

4. Hal lain yang harus dihindari adalah mengedan sebelum pembukaan

lengkap (10 cm) karena hal ini dapat menyebabkan pembengkakan mulut

rahim dan kemungkinan robekan mulut rahim. (9)

2.4.2 Cara Bernafas

Teknik bernapas selama persalinan sebagai berikut: inspirasi dan ekspirasi

seimbang, bernapas dalam sebelum ınengedan, bernapas melalui hidung (bukan

melalui mulut) menghindari kekeringan pada mulut, bernapas pendek dan cepat

setelah mengedan.

Ibu dibimbing bernapas untuk menghindari terjadinya hyperventilasi

(ditandai dengan ibu pusing) agar janin tidak kekurangan oksigen. Tehnik

bernapas ini harus digunakan selama persalinan (mengedan). Tujuan mempelajari

tehnik pernapasan menjaga agar oksigenisasi ibıı dan janin seimbang.

meningkatkan relaksasi, menurunkan rasa cemas dan gelisah, meningkatkan

konsentrasi pada proses persalinan.

Pada sat kontraksi mencapai puncaknya, mengedan sekuat tenaga sampai

tidak dapat menahan napas lagi, pada saat kontraksi rahim hilang, bernapas cepat

dan dangkal agar tubuh rileks. Adapun rata-rata jumlah pernapasan pada saat

mengedan adalah 6-9 kali per menit dengan menahan napas maksimal selama 6

detik. Tiga hal yang diperhatikan dalam bernapas yaitu. Bernapas lambat, dapat

mengatur pernapasan (inspirasi dan ekspirasi). mengetahui langkah-langkah

dalam bernapas selama proses persalinan. (10)


18

2.4.3 Posisi Mengejan

Beberapa uji coba menanyakan kepada wanita posisi mana yang lebih

mereka sukai dan menemukan antusiasme yang sangat besar untuk sikap tegak

lurus, karena rasa sakit dan nyeri punggung lebih rendah. Posisi litotomi dengan

kaki pada pemijak kaki dialami kurang nyaman dan lebih menyakitkan serta

restriksi pada pergerakan. Wanita yang pernah melahirkan pada posisi-posisi

tersebut akan lebih suka memilih pada posisi vertikal pada persalinan selanjutnya.

(16)

Posisi persalinan dapat dipilih mulai posisi setengah duduk, duduk tegak,

berdiri, jongkok, merangkak, atan posisi miring, dan posisi lainnya. Posisi

persalinan yang saat ini dianjurkan adalah setengah duduk karena merupakan

posisi yang paling umum, mudah dilakukan, dan nyaman bagi pasien maupun

penolong, Akan tetapi bayi akan lebih mudah lahir jika dalam posisi tegak karena

kombinasi aktivitas rahim, dorongan ibu, dan gravitasi bumi merupakan kekuatan

besar, sedangkan posisi telentang dengan kaki disangga (litotomi) tidak

dianjurkan lagi karena akan mengakibatkan berkurangnya aliran darah dari ibu ke

rahim plasenta dan janin akibat tertekannya pembuluh darah di daerah punggung

oleh rahim yang membesar, hal ini menyebabkan bayi kekurangan oksigen.

Posisi persalinan dengan berdiri juga dapat dilakukan, hanya dengan posisi

berdiri akan lebih ınenyulitkan ibu karena jalan lahir akan menyempit dengan

posisi berdiri. Adapun tujuan posisi melahirkan yang berbeda untuk setiap

tahapan persalinan adalah meminimalkan rasa sakit, membuat ibu merasa lebih

nyaman dan membuat proses persalinan lebih mudah. (17)


19

2.4.4 Pengetahuan Ibu tentang Teknik Mengejan

Hal yang mendasari pentingnya pengetahuan tentang tehnik mengedan

yaitu mengedan merupakan salah satu kekuatan dalam persalinan (kekuatan

primer) yang membantu ibu melahirkan janin secara spontan. Pengetahuan teknik

mengedan pada ibu mencakup pegetahuan tentang teknik bernapas, mengedan,

dan posisi yang benar dalam proses persalinan. Ketidaktahuan ibu tentang teknik

mengedan dapat menyebabkan pembengkakan mulut rahim dan kemungkinan

robekan mulut rahim, hal ini disebabkan mengedan sebelum pembukaan lengkap.

(17)

2.5 Pengetahuan

2.5.1 Defenisi Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui

panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan

raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. (2)

2.5.2 Jenis-jenis Pengetahuan

Pengetahuan dipandang dari jenisya dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Pengetahuan Biasa (OrdinaryKnowledge/CommonKnowledeg)

Pengetahuan seperti bersifat subjektif, artinya sangat amat terikat pada

subjek yang mengenal.


20

2. Pengetahuan Ilmiah

Pengetahuan yang telah menetapkan obyek yang khas atau spesifik dengan

menerapkan pendekatan metodologi yang telah mendapat kesepakatan

diantara para ahli yang sejenis.

3. Pengetahuan Filsafat

Jenis pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologí pemikiran

filsafat. Nilai kebenaran yang terkandung pada jenis pengetahuan filsafat

selalu merupakan pendapat yang selalu melekat pada pandangan dari

seorang Filstifi.

4. Pengetahuan Agama

Pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis, artinya pernyataan dalam

suatu agama selalu didasarkan pada keyakinan yang telah tertentu,

sehingga pernyataan-pernyataan dalam ayat-ayat suci agama yang

memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk

memahami itu. (2)

2.5.3 Cara Memperoleh Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo, cara memperoleh pengetahuan dapat

dikelompokkan menjadi dua, yakni:

1. Cara memperoleh kebenaran nonilmiah

1) Cara coba-coba salah (Trialanderror)

Cara coba-coba dilakukan dengan menggunakan beberapa

kemungkinan dalam mencegah masalah, dan apabila kemungkinan

tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila


21

kemungkinan kedua ini gagal, maka dicoba lagi dengan kemungkinan

ketiga, dan apabila ketiga ini gagal, dicoba kemungkinan keempat dan

seterusnya, sampai masalah tersebut dapat terpecahkan. Itu sebabnya

cara ini disebut trial (coba) error (gagal) atau metode coba salah

(coba-coba)

2) Secara Kebetulan

Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak disengaja

oleh orang yang bersangkutan. Salah satu contoh adalah penemuan

enzim urease oleh Summers pada tahun 1926. Pada suatu hari

Summers sedang bekerja dengan ekstrak acetone disimpan didalam

kulkas. Keesokan hańnya ketika ingin mereruskan percobaannya,

ternyata ekstrak acetone yang disimpan dalam kulkas tersebut timbul

kristal-kristal yang kemudian tersebut enzim urease.

3) Cara Kekuasaan atau Otoritas

Pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada pemegang otoritas,

yakni orang yang mempunyai wibawa atau kekuatan, baik tradisi,

otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu

pengetahuan atau ilmuan. Otoritas pengetahuan tersebut bukan saja

berasal dari ahli-ahli kesehatan atau kedokteran, tetapi juga berasal

dari para dukun.

4) Cara Akal Sehat (commonsense)

Akal sehat commonsens kadang- kadang dapat menemukan teori atau

kebenaran. Pembenaran hadiah atau hukuman merupakan cara yang


22

masih dianut oleh banyak orang tua untuk mendisiplinkan anak dalam

konteks pendidikan.

5) Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Pengalaman ini dapat diperoleh berdasarkan pengalaman hidup

seseorang.

6) Kebenaran melalui Wahyu

Pengetahuan ( kebenaran) melalui wahyu diperoleh dari Tuhan yang

diterima oleh para Nabi, bukan karena hasil usaha penalaran uttuk

penyelidikan manusia.

7) Kebenaran Secara Intuitif

Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan intuisi (bisikan hati),

prosesnya diluar kesadaran dan tanpa proses penalaran atau berpikir.

8) Melalui Jalan Pikir

Pengetahuan ini diperoleh melalui jalan pikirnya, baik melalui induksi

maupun deduksi.

9) Proses penarikan kesimpulan yang dimulai dari pernyataan-pernyataan

yang bersifat umum.

10) Deduksi

Proses penarikan kesimpulan yang dimulai pernyataan-pernyataan

umum khusus.

2. Cara ilmiah dalam Memperoleh Pengetahuan

Cara baru atau modern dalam memperoleh Pengetahuan pada dewasa ini lebih

sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut metode penelitian ilmiah, atau lebih
23

popular disebut metodologi penelitian (research methodology). Mula-mula

mengadakan hasil pengamatan langsung terhadap gejala alam atau

kemasyarakatan. Kemudian hasil pengamatan dikumpulkan dan diklasifikasikan,

dan akhirnya diambil kesimpulan umum. (2)

2.5.4 Faktor yang Memengaruhi Pengetahuan

1. Pendidikan

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap

perkernbangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang

menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk

mencapai keselamatan dan kebahagiaan.

2. Media/lnformasi

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun nonformal

dapat memberikan pengaruh jangka pendek (Immediate Impact) sehingga

ınenghasilkan perubahan pengetahuan.

3. Sosial Budaya dan Ekonomi

Kebiasaan dari tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui penalaran

apakah yang dilakukan baik atau buruk. Status ekonomi seseoraug juga

akan menentukan tersedıanya suatu fasilitas yang diperlukan untuk

kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan memengaruhi

pengetahuan seseorang.
24

4. Lingkungan

Lingkungan berpengaruh terhadap suatu proses masuknya pengetahııan

kedalam iııdividu yang berada dalam lingkungan tersebut.

5. Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali

pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkah masalah yang dıhadapi

masa lalu.

6. Usia

Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang.

Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan

pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin baik.

2.6 Hipotesis

Hipotesis merupakan pernyataan sementara mengenai keınungkinan hasil dari

suatu kemungkinan hasil dari suatu penelitian. Hipotesis merupakan jawaban yang

sifatnya sementara terhadap permasalahan yang diajukan dalam penelitian. Hasil

pengkajian di atas dapat ditarik hipotesis bahwa “Ada Hubungan Pengetahuan lbu

tentang Teknik mengejan dengan Ruptur Perineum Pada Persalinan Normal di

Rumah Bersalin Rantarani Perbaungan Tahun 2018”.(18)


BAB IV

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian dalam penelitian ini adalah survei analitik dengan

pendekatan cross sectional. Pada penelitian ini, dikaji hubungan antara variable

bebas (Pengetahuan ibu) dengan variable terikat (ruptur periniunm di Rumah

Bersalin Rantarani Perbaungan Tahun 2018.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Bersalin Rantarani yang terletak di Desa

Lubuk Bayas Dusun I Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai,

Sumatera Utara.

3.2.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian yang diperlukan untuk penelitian ini adalah pada bulan

Juni - Oktober tahun 2018.

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang

mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini

adalah seluruh ibu Hamil yang ada di Rumah Bersalin Rantarani Perbaungan dari

Bulan Agustus- September 2018 sebanyak 30 Orang.

25
26

3.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian atau jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut. Sampel dalam penelitian ini dari bulan Agustus sampai dengan

September 2018 sebanyak 30 orang. Pengambilan sampel menggunakan

pendekatan non probability sampling dan teknik pengambilan sampel dalam

penelitian ini adalah Total Populasi dengan menggunakan kriteria inklusi dan

eksklusi sebagai berikut:

Kriteria Inklusi :

1. Ibu hamil yang pernah mengalami Ruptur Perineum

2. Ibu hamil yang berkunjung ke Rumah bersalin Rantarani

3. Ibu dan bayi tidak dalam kegawatdaruratan

Kriteria Eksklusi

1. Ibu yang belum pernah mengalami Ruptur Perineum

2. Ibu yang sudah pandai meneran

3. Ibu dalam keadaan Gawat darurat

3.4 Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian ini adalah sebagai berikut :

Variabel Independen Variabel Dependen

Pengetahuan Ibu tentang


Ruptur Perineum
Teknik Mengejan

Gambar 1 : Kerangka Konsep Penelitian


27

3.5 Defenisi Operasional dan Aspek Pengukuran

3.5.1 Defenisi Operasional

Defenisi operasional adalah batasan yang digunakan untuk mendefinisikan

variabel-variabel atau faktor-faktor yang mempengaruhi variabel.

Definisi operasional dalam penelitian ini meliputi :

1. Variabel Dependen

Pengetahuan adalah pengetahuan yang dimiliki ibu hamil tentang teknik

dan cara mengejan yang baik dan benar.

2. Variabel Independen

Ruptur Perineum dimana robekan yang terjadi pada perenium secara

spontan yang disebabkan karena perineum tidak kuat menahan regangan

pada saat janin lewat, bukan díkarenakan tindakan episiotorni.

3.5.2 Aspek Pengukuran

Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan data

Primer dan sekunder yang diperoleh Peneliti dari responden melalui kuesioner dan

melihat data rekam medik di rumah bersalin rantarani Perbaungan Tahun 2018.
28

TABEL 3.1. Aspek Pengukruan Variabel Independen (X) dari Dependen (Y)

No Nama Jumlah Alat Ukur dan Skala Value Jenis


Variable Pertanyaan Cara Ukur Pengukuran Skala
1 Pengetahuan 15 Kuesioner Skor 12-15 Baik (3) Ordinal
ibu hamil Menghitung (76-100%)
tentang Skor
teknik Pengetahuan Skor 9-11 Cukup (2)
mengejan Benar : 1 56-75%)
Sdah : 0
(Skor Max= Skor ≤ 8 Kurang (1)
15) (<55%)

No Nama Jumlah Alat Ukur dan Skala Value Jenis


Variable Pertanyaan Cara Ukur Pengukuran Skala
2 Ruptur - Lembar Robekan Tingkat 1 Ordinal
Perenium Pencatatan perenium (3)
tingkat > 3 Tingkat 2
Berdasarkan Robekan (2)
Rekam Medik perenium
tingkat 2 Tingkat 3
Robekan (1)
perenium
tingkat 1

3.6 Metode Pengumpulan Data

3.6.1. Jenis Data

Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah dengan

menggunakan:

1. Data Primer

Data yang diperoleh dari penelitian ini merupakan data primer yang di

peroleh melalui kuesioner yang diberikan kepada responden untuk

diisi sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki responden di Rumah

Bersalin Rantarani Perbaungan Tahun 2018.


29

2. Data Sekunder

Data yang diperoleh dari penelitian ini merupakan data sekunder yang

diperoleh dari rekam medik, meliputi nama pasien, paritas, berat

badan bayi lahir dan tingkatan ruptur perineum yang terjadi pada

pasien di Rumah Bersalin Rantarani Perbaungan Tahun 2018.

3. Data Tertier

Data tertier diperoleh dari berbagai referensi yang sangat valid dan

telah dipublikasikan sepertiProfil kesehatan Indonesia, BKKBN, dan

bukii yang mendukung penelitian.

3.6.2. Uji Validitas dan Reliabilitas

1. Uji Validitas

Uji validitas adalah untuk menemukan derajat ketepatan dari instrument

penelitian berbentuk kuesioner. Uji validitas dapat dilakukan menggunakan SPSS

yaitu menggunakan korelasi, instrument valid apabila korelasi (person

correlation) adalah positif dan nilai probabilitas korelasi (sign) < taraf signifikan

terbesar (e) sebesar 0,05. Uji validitas dilakukan di klinik Nilawati Ginting yang

merupakan klinik dengan karakteristik yang sanna dengan tempat penelitian. (19)
30

Tabel 3.2 Hasil Uji Validitas Kuesioner

Pengetahuan
No Nilai Probabilitas
Taraf Signifikan Keterangan
Korelasi (Sig.(2-Tailed)
1 0,018 0,05 Valid
2 0,000 0,05 Valid
3 0,001 0,05 Valid
4 0,005 0,05 Valid
5 0,000 0,05 Valid
6 0,000 0,05 Valid
7 0,003 0,05 Valid
8 0,018 0,05 Valid
9 0,003 0,05 Valid
10 0,000 0,05 Valid
11 0,018 0,05 Valid
12 0,029 0,05 Valid
13 0,000 0,05 Valid
14 0,018 0,05 Valid
15 0,018 0,05 Valid

2. Uji Reliabilitas

Menentukan derajat konsístensi dari instrument penelitian berbentuk

kuesioner. Hal ini menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten

atau bila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala sama dengan

menggunakan alat ukur yang sama. Tingkat reliabilitas pada penelitian ini

dilakukan dengan menggunakan SPSS melalui Uji Cronchbach Alpha.


Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan

sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas bila dilakukan

pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan menggunakan

alat ukur yang sarna. Nilai Cronchbach Alpha (Reliabilitas) yang diperoleh

kemudian dibandingkan dengan r product moment pada tabel dengan ketentuan

jika r hitung > r tabel maka tes tersebut dikatakan reliabel.

Dalam mengukur realibilitas dapat digunakan dengan Spearmen Brown

atau dengan bantuan SPSS yaitu :

Keterangan :

= Koefisien realibilitas seluruh item

rb = Koefisien product moment atau belahan

Tabel 3.3 Uji Reliabilitas Pengetahuan Ruptur Uteri

Variabel Cronbach Alpha Keterangan


Pengetahuan 0,646 Reliabel

Kriteria realibilitas instrumen penelitian yaitu jika 1-22 > r tabel (0,423)

maka butir instrunen dikatakan reliable, dari jika r22r tabel maka butir instrument

dikatakan tidak reliabel. Didapatkan hasil pengetahuan dengan Cronbach Alpha

0,646, dan dinyatakan reliabel. Dikatakan reliabel bila hasilnya > 0,423.

31
32

3.7 Metode Pengolahan Data

Menurutt Iman pengolahan dapat dilakukan secara manual maupun komputerisasi.

Pengolahan data dengan komputerisasi dapat dilakukan dengan langkah-langkah

sebagai berikut :

1. Collecting: Mengumpulkan data yang berasal dari kuesioner dan rekam

rnedik

2. Checking: Dilakukan dengan memeriksa kelengkapan data rekam medic

atau lembar observasi dengan tujuan agar data diolah secara benar

3. Coding: Memberikan kode pada variabel yang diteliti

4. Entering: Data entry yakni jawaban dari masing-masing responden yang

masih dalam bentuk kode dimasukkan kedalam program computer yang

digunakan peneliti yaitu SPSS

5. Data Processing: Semua data yang telah di input kedalam aplikasi

computer akan diolah sesuai dengan kebutuhan dari penelitian.

3.8 Teknik Analisa Data

Analisa data dilakukan untuk menunjang pembuktian hipotesa dengan

menggunakan :

3.8.1 Analisis Univariat

Analisis univariat digunakan untuk mendapatkan gambaran distribusi

frekuensi dan presentase dari tiap variabel dependen dan independen yang akan

diteliti. Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.


33

3.8.2 Analisis Bivariat

Analisis Bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan (korelasi) antara

variabel bebas (independen Variabel) dengan variabel terikat (dependen variabel).

Untuk membuktikan adanya hubunggan yang signifikan antara variabel terikat

digunakan analisis Chi-Square, pada batas kemaknaan perhitungan statistic p-

value (0,05). Apabila hasil perhitungan menunjukkan nilai x tabel < p-value

(0,05) maka dikatakan (Ho) ditolak, artinya kedua variabel secara statistk

mempunyai hubungan yang signifikan. (18)


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

4.1.1 Letak Georafis

Rumah Bersalin Rantarani merupakan salah satu unit pelaksana teknis dari

puskesmas Melati Perbaungan yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan

pernbangunan kesehatan ibu dan anak. Rumah Bersalin Rantarani ini terletak di

didesa Lubuk Bayas dsn 1 Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai.

Secara geografis terletak pada posisi 03"01'2,5 - 03"46'33 Lintang Utara

98"44'22"- 99"19'01" Bujur Timur, terletak pada daerah bertopografi datar dan

bergelombang dengan ketinggian berkisar antara 0-500 Meter diatas pennukaan

laut. Desa Lubuk Bayas adalah salah satu dari 9 Desa dan 73 Dusun yang menjadi

lingkungan kerja Puskesmas Melati Perbaungan. Batas-batas Wilayahnya sebagai

berikut :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Pantai Cermin

2. Sebelah Selatan berbatasan dengau Kecamatan Pegajahan

3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sei Rampah

4. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Citaman Jernih

Desa Lubuk Bayak meiniliki luas wilayah sebesar 4,81 KM² dengan

jumlah penduduk ±2300 jiwa penduduk. Desa lubuk banyak memiliki iklim

sedangdengan suhu udara 30ºC Curah hujan berkisar antara 10-345,5 mm

perbulan dengan periodic tertinggi di bulan September.

34
35

4.1.2 Sejarah Singkat Klinik

Rurnah bersalin Rantarani berdiri sejak tahun 2008, dibawah lingkungan kerja

Puskesmas Melati Perbaungan. Rumah bersalin ini menerima pasien BPJS,

Jamskesmas dan jamkesda juga menerima penyakit-penyakit umum lainnya.

Dalam kesehariannya Rumah Bersalin Rantarani ini juga ikut serta dalam

mensosialisasikan program-program yang dicanangkan oleh pemerintah pusat

maupun pemerintah daerah.

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Analisa Univariat

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Rumah bersalin Rantarani

diperoleh gambaran tentang distribusi frekuensi jawaban responden berdasarkan

pengetahan dan ruptur perineum seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden di Rumah Bersalin


Rantarani Kecamatan Perbaungan Tahun 2018
No Pengetahuan f %
1 Baik 9 30
2 Cukup 6 20
3 Kurang 15 50
Total 30 100

Berdasarkan tabel 4.2 dari 30 responden diketahtli bahwa responden

memiliki pengetahuan baik yaitu sebanyak 9 orang (30%), yang memiliki

pengetahuan cukup sebanyak 6 orang (20%), dan yang memiliki pengetahuan

kurang sebanyak 15 orang (50%).


36

Tabel 4.2. Hasil Perhitungan Jawaban Responden Berdasarkan Pengetahuan di


Rumah Bersalin Rantarani Kec Perbaungan Tahun 2018
Benar Salah
No Pertanyaan
f % f %
1 Siapakah yang sebaiknya mengetahui
24 80.0 6 20.0
tentang teknik mengedan
2 Apakah yang diınaksud dengan teknik
21 70,0 9 30.0
Mengedan
3 Tujuan dilakukannya tehnik mengedan
19 63.3 11 36.7
adalah
4 Pada saat pembukaan berapakah
20 66.7 10 33.3
dilakukannya tehnik mengedan
5 Teknik mengedan yang baik sebaiknya
19 53.3 11 36.7
dilakukan dengan cara
6 Yang harus dihindari sebelum
19 53.3 11 36.7
pembukaan lengkap
7 Menahan nafas pada saat mengedan
19 53.3 11 36.7
sebaiknya dilakukan maksimal..
8 Tehnik mengedan dalam posisi
22 73.3 8 26.7
persalinan yang baik adalah
9 Gerakan yang tidak boleh dilakukan ibu
16 53.3 14 46.7
pada saat bernafas adalah
10 Syarat utama dilakukannya tehnik
mengedan adalah jika ibu melakukan 16 53.3 14 46.7
proses persalinan dengan cara?
11 Berikanlah pendapat anda tentang
pernyataan ini, bernafas pendek dan
16 53.3 14 46.7
cepat selesai mengedan merupakan
tindakan yang
12 Bagaimanakah posisi mulut ibu selama
15 50.0 15 50.0
Mengedan?
13 Mengedan akan lebih baik jika dilakukan
21 70.0 9 30.0
pada waktu?
14 Lamanya Pengeluaran janin dipengaruhi
15 50.0 15 50.0
oleh?
15 Posisi dalam persalinan akan
21 70.0 9 30.0
mempengaruhi

Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa mayoritas jawaban yang benar

dijawab oleh responden adalah pertanyaan nomor 1 yaitu sebanyak 24 orang

(80%) dan minoritas pada nomor 12 dan 14 yaitu sebanyak 15 orang (50, 0%)).
37

Sedangkan jawaban salah yang dijawab oleh responden terdapat pada

pertanyaan nomor 12 dan 14, yaitu sebanyak 15 orang (50,0%) dan minoritas

pada nomor 1 , yaitu sebanyak 6 orang (20,0%).

Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Ruptur Perineum di Rumah Bersalin Rantarani


[Link] Tahun 2018
No Ruptur Perineum f %
1 Tingkat 1 13 43,3
2 Tingkat 2 10 33,3
3 Tingkat 3 7 23,3
Total 30 100

Berdasarkan tabel 4.3 dari 30 responden diketahui mayoritas yang

mengalami ruptur uteri tingkat 1 sebanyak 13 responden (43,3%), dan minoritas

responden yang mengalami ruptur yaitu tingkat 3 sebanyak 7 responden (23,3%).

4.2.2 Analisa Bivariat

Tabel 4.4 Tabulasi silang hubtmgan pengetahuan dengan ruptur perineum di


Rumah Bersalin Rantarani KecPerbaungan Tahun 2018
Rupture Perineum
Jumlah P-
No Pengetahuan Tingkat 1 Tingkat 2 Tingkat 3
Value
f % f % f % f %
1. Baik 8 26,7 1 3,3 0 0 9 30
2. Cukup 2 6,7 3 10 1 3,3 6 20 0,015
3. Kurang 3 10 6 20 6 20 15 50
Jumlah 13 43,3 10 33,3 7 23,3 30 100

Berdasarkan tabel 4.4 dari 30 responden diketahui bahwa Hubungan

pengetahuan ibu tentang teknik mengejan dengan ruptur perineum di Rumah

Bersalin Rantarani [Link] Tahun 2018 menunjukkan bahwa dari 9 orang

responden ymg berpengetahuan baik sebanyak 8 orang (26,7%) mengalami ruptur

perineum tingkat 1 dan 1 orang (3,3%) mengalami ruptur perineum tingkat 2.

Pengetahuan cukup sebanyak 6 responden dimana 2 orang( 6,7%) mengalami


38

Berdasarkan tabel 4.4 dari 30 responden diketahui bahwa Hubungan

pengetahuan ibu tentang teknik mengejan dengan ruptur perineum di Rumah

Bersalin Rantarani [Link] Tahun 2018 menunjukkan bahwa dari 9 orang

responden yang berpengetahuan baik sebanyak 8 orang (26,7%) mengalami

rupture perineum tingkat 1 dan 1 orang (3,3%) mengalami ruptur perineum

tingkat 2. Pengetahuan cukup sebanyak 6 responden dimana 2 orang (6,7%)

mengalami ruptur perineum tingkat 1 dan 3 orang (10%) mengalami ruptur

perineum tingkat 2 serta I orang (3,3%) sisanya mengalami ruptur pereniun

tingkat 3. Sedangkan pengetahuan kurang sebanyak 15 responden, dimana

sebanyak 3 orang (10%) mengalami ruptur perenium tingkat 1 dan 6 orang (20%)

mengalami rupture perineum tingkat 2 serta 6 orang (20%) sisanya mengalami

ruptur perineum tingkat 3.

Hasil uji Chi-square menunjukkan bahwa p = 0,015 < 0,05, artinya

terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang teknik

mengejan dengan ruptur perineum di Rumah Bersalin Rantarani [Link]

Tahun 2018.

4.3 Pembahasan

4.3.1 Pengetahuan Ibu tentang Teknik Mengejan di Rumah Bersalin


Rantarani Kec. Perbaungan Tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.2 dari 30 responden diketahui bahwa responden

memiliki pengetahuan baik yaitu sebanyak 9 orang (30%), yang memiliki

pengetahuan cukup sebanyak 6 orang (20%), dan yang memiliki pengetahuan

kurang sebanyak 15 orang (50%).


39

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui

panca indra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan

raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh melalui mata dan telinga. (19)

Pengetahuan ini didukung oleh Penelitian yang dilakukan Sinta Lusiana

yang berjudul Hubungan Pengetahuan Ibu bersalin tentang Teknik Mengejan

dengan Kejadian Ruptur Perineum pada Persalinan Normal di BPM N Kelurahan

Batipuh Panjang Kecamatan Koto Tangah Padang Tahun 2012. Hasil analisis

data, dari 69 responden dimana diketahui bahwa ibu bersalin pengetahuan rendah

dan tidak mengalami ruptur perineum sebanyak 5 orang (7,2%), pengetahuan

rendah serta mengalami ruptur perineum sebanyak 41 orang(59,4%), pengetahuan

tinggi serta tidak mengalami ruptur perineum sebanyak 19 orang ( 27,5%), dan

pengetahuan tinggi serta mengalami ruptur perineum sebanyak 4 orang (5,8%).

Hasil uji statistik chi square dengan diperoleh nilai p = 0,000 (p < 0,05). Dari nilai

p tersebut dapat dijelaskan bahwa Ho ditolak artinya ada hubungan yang

signifikan antara pengetahuan dengan kejadian ruptur perineum. (11)

Menurut peneliti pengetahuan ibu hamil tentang teknik mengejan

sangatlah penting ha1 ini dapat dilillat dari Tabel 4.2 dimana masih banyaknya

ibu yang berpengetahuan kurang sehingga menyebabkan terjadinya ruptur

perineum. Pengetahuan yang kurang didasari karena masih banyak ibu yang

berpendidikan SD-SMP di wilayah kerja puskesmas Samadua ini, hal tersebut

yang membuat peneliti berasumsi bahwa dalan melakukan tindakan harus didasari

kepada pengetahuan yang baik agar hasil yang didapat maksimal.


40

4.3.2 Ruptur Perineum di Rumah Bersalin Rantrtrani Kec. Perbaungan


Tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.3 dari 30 responden diketahui bahwa responden yang

mengalami ruptur perineum tingkat 1 yaitu sebanyak 13 orang (43,3%), yang

mengalami ruptur perineum tingkat 2 sebanyak 10 orang (33,3%), dan yang

mengalami ruptur perineum tingkat 3 shinyak 7 orang (23,3%).

Ruptur perenium umunnya terjadi di garis tengah dan bisa menjadi luas

apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil daripada

biasa, kepala janin melewati pintu atas panggul dengan ukuran yang lebih besar

daripada sirkumferensia suboksipito bregmatika. Adanya luka pada perineum

menimbulkan rasa nyeri yang bertahan selama beberapa minggu setelah

melahirkan.

Keadaan perineum dievaluasi untuk menentukan apakah pelahiran

keinungkinan dapat dilakukan dengan perineum yang utuh atau apakah episiotomi

diindikasikan. Keputusan ini terus dievaluasi ulang sampai bayi lahir.

Pengendalian diri ibu merupakan kunci semua metode pelahran dengan perineum

utuhi, yang akan digunakan. Wanita yang tidak dapat mengendalikan diri ketika

mengejan lebih mudah mengalami robekan atau lebih membutuhkan

episiotoini.(l4)

Penelitian lain yang dilakukan Mujab, Rusmiyati dan Purnomo tentang

pengaruh tehnik meneran terhadap laserasi jalan lahir pada ibu inpartu

primigavida di Rumah bersalin Semarang Tahnb 2014. Metode penelitian ini

adalah Eksperimen Semu dengan pendekatan pretest posttest design, jumlah

sanpel yang digunakan adalah sebanyak 34 responden dengan teknik yang


41

digunakan adalah total sampling. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan

bahwa hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan, berdasarkan uji

statistik Chi-Square Diketahui p value 0,005< a (0,05), dapat disimpulkan bahwa

Ha diterima dan Ho ditolak, berarti ada hubungan teknik meneran terhadap

laserasi jalan lahir pada ibu inpartu primigravida. Diketahui bahwa dari 34

responden, 17 (50%) mengalami laserasi perineum derajat I dan 17 (50%)

mengalami laserasi perineum derajat 11. Berdasarkan responden yang melakukan

teknik meneran adalah sebagian besar teknik meneran salah sebesar 21 (61,8 %),

dan sisanya teknik meneran benar sebesar 13 (38,2 %). (12)

Asumsi peneliti bahwa beberapa penyebab terjadinya robekan pada

perineum ialah disebabkan karena ibu tidak pandai mengejan. Luka pada

perineum yang terjadi saat proses persalinan karena desakan kepala atau bagian

tubuh janin secara tiba-tiba, sehingga kulit dan jaringan perineum akan robek

mengalami robekan bila ibu tidak dapat mengendalikan dirinya dalam proses

persalinan tersebut.

4.3.3 Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Teknik Mengejan dengan


Ruptur Perineum di Rumah Bersalin Rantarani Kec. Perbaungan
Tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.4 dari 30 responden diketahui bahwa Hubungan

pengetahuan ibu tentang teknik mengejan dengan ruptur perineum di Rumah

Bersalin Rantarani [Link] Tahun 2018 menunjukkan bahwa dari 9 orang

responden yang berpengetahuan baik sebanyak 8 orang (26,7%) mengalarni

rupture perineum tingkat 1 dan I orang (3,3%) mengalarni ruptur perineum tingkat

2. Pengetahuan cukup sebanyak 6 responden dimana 2 orang (6,7%) mengalami


42

rupture perineum tingkat 1 dan 3 orang (10%) mengalami ruptur perineum

tingkat 2 serta 1 orang (3,3%) sisanya mengalami ruptur perineum tingkat 3.

Sedangkan pengetahuan kurang sebanyak 15 responden, dirnana sebanyak 3 orang

(10%) mengalami ruptur perenium tingkat 1 dan 6 orang (20%) mengalami ruptur

perineum tingkat 2 serta 6 orang (20%) sisanya mengalami ruptur perineum

tingkat 3.

Hasil uji Chi-square menunjukkan bahwa p = 0,015 < 0,05, artinya

terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang teknik

mengejan dengan ruptur perineum di Rumah Bersalin Rantarani [Link]

Tahun 2018.

Pengetahuan bisa didapat dengan berbagai cara salah satunya adalah

dengan cara coba-coba hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa

kemungkinan dalam mencegah masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak

berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal,

maka dicoba lagi dengan kemungkinan ketiga, dan apabila ketiga ini gagal, dicoba

kemungkinan keempat dan seterusnya, sampai masalah tersebut dapat

terpecahkan. Itu sebabnya cara ini disebut trial( coba) error(gagal) atau metode

coba salah (coba-coba).

Pengalaman seseorang dalam hidupnya dapat sebagai sumber pengetahuan

adalah suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara

mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah

yang dihadapi masa lalu. Seperti rnelakukan perawatan terhadap luka perineum

agar luka perineum tersebut dapat sembuh dengan cepat tanpa ada infeksi yang
43

mengganggu, selain itu usia juga mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola

pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya

tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin

baik.(2)

Pendapat diatas didukung oleh penelitian yang dilakukan Setyorini dan

Utami Elviandari dengan Judul Pengetahuan Ibu Hamil Trimester III tentang

Teknik Mengejan dalam Persalinan di RB Sukoasih Sukoharjo Tahun 2016.

Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan Cross

Sectional. Populasi penelitian ini adalah semua ibu hamil timester III di RB

Sukoasih Sukoharjo Tahun 2015, teknik sampling yang digunakan adalah

Accidental Sampling dimana saat penelitian dijumpai responden sebanyak 30

responden. Alat pengumpulan data berupa kuesioner. Analisa data menggunakan

rumus prosentase dan distribusi frekuensi. Hasil penelitian didapatkan

pengetahuan ibu hamil timester III tentang teknik mengejan yang benar

berpengetahuan baik 8 responden (26,7%), cukup sebanyak 15 responden

(50,0%), kurang sebanyak 7 responden (23,3%). karakteristik responden di RB

Suko Asih Sukoharjo mayoritas bemur 21-25 sebanyak 16 responden (53,3 %),

primigravida 19 responden (63,3%), dan pendidikan SMA sebanyak 17 responden

(56,7%). (9)

Berbagai penatalaksanaan perbaikan ruptur perineum dilakukan untuk

menyatukan jaringan-jaringan yang terbuka akibat robekan atau ruptur perineum.

Prosedur perbaikan ruptur perineum adalah Mengeksplorasi untuk luka dan

memberikan antiseptic. Jepit dengan ujung klem sumber perdarahan kemudian


44

ikat dengan benang yang dapat diserap. Melakukan penjahitan luka mulai dari

bagian yang paling distal terhadap operator Khusus pada rupture perineum totdis

dilakukan penjahitan lapis dermis.

Cara mengejan yang baik juga ditentukan oleh posisi dalam persalinan ibu.

Pengaturan posisi adalah salah satu teknik relaksasi karena dapat mengurangi titik

tekanan dan ketegangan otot-otot dasar panggul. Jenis posisi dalam persalinan

menurut JNPK-KS adalah sebagai berikut. Posisi duduk atau setengah duduk

dapat memberikan rasa nyaman dan memberi kemudahan baginya untuk istirahat

diantara kontrasi. Keuntungan dari kedua posisi ini adalah gaya grafitasi untuk

membantu ibu melahiran bayinya. (15)

Menurut peneliti Hal yang rnendasari pentingnya pengetahuan tentang

teknik mnengedan. Mengedan merupakan salah satu kekuatan dalam persalinan

(kekuatan primer) yang membantu ibu melahirkan janin secara spontan.

Pengetahan teknik mengedan pada ibu mencakup pegetahuan tentang teknik

bernapas, mengedan, dan posisi yang benar dalam proses persalinan.

Ketidaktahuan ibu tentang teknik mengedan dapat menyebabkan pembengkakan

mulut rahim dan kemungkinan robekan mulut rahim, hal ini disebabkan

mengedan sebelum pembukaan lengkap.


BAB V

KESJMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan mengenai "Hubumgan Pengetahuan

Ibu Hamil tentang Teknik Mengejan dengan Ruptur Perineum di Rumah Bersalin

Rantarani kec. Perbaungan 2018, Maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Pengetahuan ibu tentang teknik mengejan di Rumah Bersalin Rantarani

menunjukkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan baik yaitu

sebanyak 9 orang (30%), pengetahuan cukup sebanyak 6 orang (20%), dan

pengetahuan kurang sebanyak 15 orang (50%).

2. Ruptur perineum di Rumah Bersalin Rantarani menunjukan bahwa

responden yang mengalami ruptur perineuun tingkat 1 yaitu sebanyak 13

orang (43,3 %), ruptur perineum tingkat 2 sebanyak 10 orang (33,3%), dan

ruptur perineum tingkat 3 sebanyak 7 orang (23,3).

3. Ada hubungan yang signifikan antata pengetahuan ibu tentang teknik

mengejan dengan ruptur perineum di Ruinah Bersalin Rantarani

[Link] Tahun 2018 dengan hasil p = 0,015 < 0.05.

45
46

5.2 Saran

5.2.1 Praktis

1. Bagi responden

Agar lebih banyak mencari informasi untuk menambah pengetahuannya

khususnya tentang tekhnik mengejan agar terhindar dari kejadian ruptur

perineum di internet, tenaga kesehatan, dan sebagainya.

2. Bagi Tempat Penelitian

Diharapkan untuk lebih banyak memberikan penyuluhan kepada ibu hamil

tentang teknik mengejan.

5.2.2 Teoritis

1. Bagi lnstitusi Kesehatan Helvetia

Agar lebih banyak menyediakan sumber bacaan atau buku yang lebih

terbaru lagi dan lebih lengkap mengenai teknik mengejan dan rupture

perineum.

2. Bagi peneliti selanjutnya

Agar lebih memperluas cakupan penelitian yaitu dengan memperluas

tempat penelitian dan bahan penelitian serta menambahkan variable

pendukung lainnya agar hasil yang didapatkan lebih baik lagi.


DAFTAR PUSTAKA

1. Kesehatan Reproduksi JNPK. Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal.


2015;l:5.
2. Notoatmodjo S. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2014.
3. Budijanto D. Profil Kesehatan Indonesia 20 17.20 18; 184.
4. Muchtar R. Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi. 3rd ed. Jakarta: EGC;
2013.313 p.
5. Agustama. Profil Kesehatan Sumatera Utara. 20 16;244,
6. Kabupaten Serdang Bedagai DK. Profil Kesehatan. 20 16;(300).
7. Unimus R. Ruptur Perineum. 201 7;20.
8. Manuaba IBG. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk
Pendidikan Bidan. 2nd ed. Jakarta: EGC; 2014.639 p.
9. Setyorini C. Pengetahuan Ibu Hamil Trimester III Tentang Teknik
Mengejan Dalam Persalinan Di RB Sukoasih Sukdkarjo. 20 16;3(Apil):45-
6.
10. Lusiana S. Hubungan Pengetahuan Ibu Bersalin Tentang Teknik
Mengedan Dengan Kejadian Ruptur Perineum Pada Persalinan Normal Di
BPM N Kelurahan Batipuh Panjang Kecamatan Koto Tangah Padang
Tahun 2012. 'Afiyah. 2014;1(1).
11. Nasriah. Hubungan Berat Badan Lahir Bayi Dengan Tingkat Ruptur
Perineum Pada Ibu Dengan Persalinan Normal Di Rumah Sakit Ibu dan
Anak Siti Fatimah Makassar. 201 1 ;92.
12. Mujab S dkk. Pengaruh Tehnik Meneran Terhadap Laserasi Jalan Lahir
Pada Ibu Impartu Primigravida Di Rumah Bersalin Semarang. 20 14; 17.
13. Alfiani SA. Hubungan Antara Teknik Meneran dengin Ruptur Perenium
pada Ibu Bersalin yang Selama Kehamilan Mengikuti Senam Hamil (Studi
Kasus di BPM Ny. Wiwik S. Angsareh Sampang). 2013;111:13-8.
14. Oxorn H& WRF. Ilmu Kebidanan Patalogi & Fisiologi Persalinan Human
Labor and Birth. 1st ed. Yogyakarta: Penerbit Andi; 2010. 708 p.
15. Cunningham. Obstetri Williams. 23rd ed. Jakarta: EGC; 2015.
16. Hanifa W. llmu Kandungan. 2nd ed. Vol. 53, PT. Yayasan Bina Pustaka.
Jakarta: PT. Yayasan Bina Pustaka; 201 6. 436.461 p.
17. Rukiyah AY. Asuhan Kebidanan IV. 1st ed. Jakarta: Trans Info Media;
2015.395 p.
18. Muhammad I. Panduan Penyusunan Karya Tulis Illniah Bidang Kesehatan
Menggunakan Metode Ilmiah. 6th sd. Suroyo RIB, editor. Bandung:
Citapustaka Media Perintis; 2017. 139 p.
19. Notoatmodjo S . Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta;
2010.216 p.

47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71

Anda mungkin juga menyukai