MACAM MACAM MAJAS
1. MAJAS PERBANDINGAN
Berdasarkan cirinya, majas perbandingan terbagi atas beberapa macam. Yaitu majas
metafora, simile, personifikasi, hiperbola, asosiasi, metonimia, sinestesia, alegori, pars
pro toto, totem pro parte, dan eufimisme.
1. Majas metafora
Metafora berasal dari bahasa Yunani metaphora yang artinya memindahkan. Istilah
metaphora diturunkan dari kata meta yang artinya di atas dan pherein yang artinya
membawa.
Majas metafora membantu orang yang berbicara atau menulis untuk menggambarkan
hal-hal dengan jelas, dengan cara membanding-bandingkan suatu hal dengan hal lain
yang memiliki ciri-ciri atau sifat yang hampir atau sama persis.
Contoh majas metafora:
Pustaka itu gudangnya ilmu, dan membaca adalah kuncinya.
Buku adalah jendela dunia, sehingga rajin-rajinlah membaca.
Rumahku surgaku, di dalamnya aku bisa merasa tenang dan nyaman.
Meskipun sosoknya gagah perkasa, tapi ia cuma seekor kambing jantan di hadapan
harimau betina yang kelaparan.
2. Majas simile
Majas simile merupakan majas yang menggambarkan suatu keadaan dengan
membanding-bandingkan suatu hal dengan hal lainnya yang pada hakikatnya berbeda
namun disengaja untuk dipersamakan.
Istilah simile berasal dari bahasa Latin simile yang bermakna seperti. Biasanya majas
ini kerap dianggap mirip dengan majas metafora.
Padahal, terdapat perbedaan di keduanya. Ciri-ciri majas simile menggunakan kata-
kata pembanding, seperti: sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana, serupa.
Contoh majas simile:
Nasibnya sungguh tak menentu seperti air di daun talas.
Kakak beradik itu selalu bertengkar bagai anjing dengan kucing.
Laksana air dengan minyak yang tidak dapat menyatu.
3. Majas personifikasi
Selanjutnya adalah majas personifikasi. Majas personifikasi dikenal sebagai gaya
bahasa yang melekatkan sifat-sifat insani pada barang atau benda yang tidak
bernyawa ataupun pada ide yang abstrak.
Personifikasi atau disebut juga penginsanan ini menggambarkan atau
mempersamakan benda-benda dengan manusia yang punya sifat, kemampuan,
pemikiran, perasaan, seperti yang dimiliki manusia.
Contoh majas personifikasi:
Badai tsunami menyapu bersih Aceh pada 2004 silam.
Harta warisan Mbah Joko mampu menghidupi anak cucunya selama bertahun-tahun.
Raungan suara sirene mobil ambulans membuat semua pengguna jalan menepi.
Gunung Semeru di Lumajang memuntahkan lava dan awan panas pada siang itu.
4. Majas hiperbola
Majas hiperbola adalah sebuah kiasan yang menggambarkan sesuatu secara
berlebihan, seakan lebih besar dari kenyataannya. Majas hiperbola digunakan untuk
memberi kesan dramatis.
Contoh majas hiperbola:
Hatiku tercabik-cabik melihat kau berdua dengannya
Bondan lari secepat kilat setelah mendengar kabar buruk itu.
Di usianya yang tak lagi muda, Mbah Tarno masih harus banting tulang menghidupi
istri dan cucunya.
5. Majas asosiasi
Majas asosiasi merupakan majas perbandingan yang disampaikan dengan cara
melukiskan suatu hal dengan cara membandingkan suatu hal dengan hal lain, sesuai
dengan keadaan hal yang dimaksud.
Majas asosiasi adalah perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun
dinyatakan sama.
Contoh majas asosiasi:
Masalahnya bagai benang kusut yang sulit untuk ditemukan jalan keluarnya.
Suaranya merdu bagai buluh perindu.
Internet diibaratkan pedang bermata dua, bisa memudahkan manusia tapi juga bisa
menjadi persoalan jika tak digunakan dengan bijak.
6. Majas metonimia
Majas metonimia bisa diketahui dengan mudah karena menggunakan merek dari
sesuatu yang sudah dikenal umum.
Contoh majas metonimia:
Perjalanan dari Jakarta ke Surabaya lebih cepat jika naik Garuda.
Ayah selalu menikmati secangkir kapal api panas sebelum berangkat ke kantor.
Ibu menyuruh adik membeli aqua untuk disuguhkan kepada tamu.
7. Majas sinestesia
Majas sinestesia berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indera yang dicurahkan lewat
ungkapan rasa indra lainnya.
Dalam majas sinestesia, perbandingan dilakukan dengan cara membandingkannya
dengan sesuatu yang dapat dirasakan oleh panca indera.
Contoh majas sinestesia:
Wajahnya memucat masam ketika terbongkar aksi kejahatannya.
Senyumnya yang manis membuatku tak bisa berhenti memikirkan gadis itu.
Ucapannya sungguh pedas hingga membuatku tak kuasa menahan air mata.
8. Majas alegori
Majas alegori merupakan sebuah majas yang membandingkan dua objek dengan
penggambaran atau cara lain.
Contoh majas alegori:
Jangan sombong, karena hidup ibarat roda yang selalu berputar, kadang di atas,
kadang di bawah.
Lidah manusia ibarat pisau yang sangat tajam, maka berhati-hatilah dalam bertutur.
Anak yang baru lahir itu ibarat kertas putih. Orang tualah yang akan menuliskan
sesuatu di atasnya.
9. Majas pars pro toto
Majas pars pro toto adalah majas yang menggunakan sebagian dari objek untuk
menunjukkan keseluruhan dari objek tersebut.
Contoh majas pars pro toto:
Karena tak mampu bayar sewa, Ani terpaksa angkat kaki dari kontrakan itu.
Sedari pagi Arini tak menampakkan batang hidungnya di kantor.
10. Majas totem pro parte
Majas ini merupakan kebalikan dari majas pars pro toto. Majas totem pro parte
menggunakan keseluruhan objek untuk merujuk sebagian dari objek tersebut.
Contoh majas totem pro parte:
Indonesia menjadi ruan rumah KTT G20 pada 2022.
Hujan deras yang mengguyur semalam membuat Jakarta terendam banjir.
11. Majas eufemisme
Majas eufemisme digunakan untuk menggantikan istilah dengan istilah lain yang
lebih halus sehingga tidak menyinggung perasaan.
Contoh majas eufemisme:
Bu Yati sekarang menjadi asisten rumah tanggaku yang baru, menggantikan Yuk Jum
yang balik kampung. (asisten rumah tangga = pembantu)
Akibat pandemi, sebagian buruh di pabrik itu harus rela dirumahkan tanpa diberi
pemberitahuan. (dirumahkan = di-PHK)
Banyak tunakarya di ibu kota yang terpaksa mengemis demi menghidupi keluarga.
(tunakarya = tidak punya pekerjaan)
2. Majas Penegasan
Majas penegasan adalah majas yang dibuat untuk menegaskan dan mempengaruhi
orang lain. Jenis majas yang termasuk ke dalam majas penegasan yaitu:
[Link]
Majas retorika adalah majas yang berbentuk kalimat tanya tetapi tidak memerlukan
jawaban karena hanya digunakan sebagai penegasan saja. Contoh majas retorika:
Siapa yang tidak senang ketika tim yang dibelanya menang?
Siapa yang tidak ingin hidup bergelimang harta?
2. Pleonasme
Majas pleonasme adalah majas yang dibuat untuk menegaskan kalimat dengan
menambahkan keterangan penjelas pada pernyataan yang telah jelas.
Contoh:
Kita harus terus maju ke depan menyambut masa depan.
Siswa-siswi masuk ke dalam kelas pagi hari.
3. Tautologi
Majas tautologi adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata yang bersinonim
untuk menegaskan sesuatu.
Contoh Majas Tautologi
Jadilah anak yang berbakti, taat, patuh, dan penurut kepada kedua orang tua.
Dalam kehidupan bermasyarakat, hendaknya hidup bersama dengan rukun, akur,
dan berasudara.
3. Kiasmus
Majas kiasmus adalah gaya bahasa yang berisikan perulangan sekaligus merupakan
pembalikan susunan antara dua kata dalam satu kalimat. Contoh majas kiasmus
sebagai berikut:.
Yang kaya merasa dirinya miskin, sedang yang miskin mengaku dirinya kaya.
Sudah biasa dalam kehidupan sehari-hari, orang pandai ingin disebut bodoh, namun
banyak orang bodoh mengaku pandai.
5. Aliterasi
Majas aliterasi digunakan untuk meningkatkan ritme, memperkuat perasaan, atau
untuk memberikan efek khusus lainnya. Ciri khas yang tampak dalam majas aliterasi
adalah pengulangan kata atau kalimat yang sama atau serupa dengan kata atau kalimat
yang berdekatan.
Contoh:
– Si Siti tidur di atas selimut sutra yang sama.
– Bunga berguguran di bumi yang basah.
6. Paralelisme
Majas paralelisme adalah majas yang dibuat untuk menegaskan informasi dengan
penggunaan kata yang dipakai berulang-ulang. Ini biasanya dipakai dalam puisi untuk
mendefinisikan sesuatu yang dianggap penting untuk diulang-ulang. Pengulangan kata
di awal kalimat disebut anafora sedangkan pengulangan kata di akhir kalimat disebut
epifora.
Contoh:
Cinta itu adalah pengorbanan
Cinta itu tangis dan tawa.
7. Repetisi
Majas repetisi adalah majas yang dibuat untuk menegaskan dengan menggunakan
pengulangan kata yang sama dalam satu kalimat.
Contoh:
Mereka yang ku sayang, mereka yang ku cinta, mereka yang rindu.
Dirimu yang kutunggu, dirimu yang kunanti, dirimu yang kuharap.
8. Klimaks
Majas klimaks adalah gaya bahasa yang menyebutkan lebih dari dua hal secara
berurutan dari tingkatan paling rendah menuju tingkatan yang lebih tinggi.
Contoh Majas Klimaks
Acara ulang tahun Universitas dihadiri oleh mahasiswa, karyawan, dosen dan
dihadiri oleh rektor.
Lomba diselenggarakan dari tingkat kabupaten, kota, provinsi, bahkan tingkat
nasional.
9. Metonimia
Majas metonimia digunakan untuk menyampaikan suatu ide atau perasaan secara
implisit atau memberikan efek khusus dalam teks. Caranya adalah dengan
menggunakan suatu kata atau frasa untuk mewakili suatu hal yang lain.
Contoh:
- "Kursi kepresidenan" tidak diartikan sebagai kursi yang digunakan oleh presiden,
tetapi lebih mengarah pada posisi dan kekuasaan presiden.
- "Mata uang" bukanlah sebuah mata fisik, melainkan bentuk uang.
- "Tangan industri" bukanlah tangan fisik, melainkan sebuah organisasi di sektor
ekonomi.
- "Langkah kebijakan" bukanlah langkah fisik, melainkan keputusan atau tindakan
yang diambil oleh pemerintah atau organisasi.
- "Kekaisaran" digunakan untuk menyatakan pemerintahan yang dipegang oleh
seorang kaisar.
10. Asindeton
Asindenton ialah gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau suatu konstruksi yang
mengandung kata-kata yang sejajar, tetapi tidak dihubungkan dengan kata-kata penghubung.
Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung. Beberapa hal
keadaan atau benda disebutkan berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung.
Contoh:
Meja, kursi, lemari ditangkubkan dalam kamar itu.
Ayah, ibu, anak merupakan inti dari sebuah keluarga.
3. Majas Pertentangan
Majas pertentangan bertujuan untuk menggambarkan dua hal yang bertentangan atau
berkebalikan. Jenis majas ini sering digunakan tak hanya pada karya sastra, tetapi juga
dalam percakapan sehari-hari.
Macam-macam majas pertentangan, yaitu majas litotes, paradoks, oksimoron,
kontradiksi interminus, anakronisme, dan antitesis.
1. Majas litotes
Majas litotes digunakan untuk mengecilkan kenyataan dengan maksud untuk
merendahkan diri. Majas ini merupakan kebalikan dari majas hiperbola.
Contoh majas litotes:
Maaf, hanya makanan sederhana ini yang bisa aku hidangkan.
Jika ada waktu, silakan mampir ke gubuk tempat tinggalku.
2. Majas paradoks
Majas paradoks menggunakan bahasa kiasan untuk membandingkan sesuatu yang
berkebalikan.
Contoh majas paradoks:
Sawah itu tetap subur meski kemarau sedang melanda daerah tersebut.
Dina selalu merasa kesepian meskipun tinggal di tengah keramaian kota.
3. Majas oksimoron
Oksimoron adalah majas yang menempatkan paradoks atau dua hal berlawanan dalam
sebuah kalimat yang sama
Contoh majas oksimoron:
Hal yang tetap dalam dunia adalah perubahan.
Pria tersebut telah merasakan pahit manisnya kehidupan.
4. Majas antitesis
Majas antitesis menggunakan kata-kata yang berlawanan arti untuk mengungkapkan
suatu pertentangan.
Contoh majas antitesis:
Dia bekerja siang malam untuk membahagiakan keluarganya.
Hidup dan mati manusia hanya Tuhan yang menentukan.
Dia selalu bangun pagi-pagi sekali.
5. Majas Kontradiksi interminus
Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya. Yaitu
majas yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sudahdikatakan
semula. Apa yang sudah dikatakan, disangkal lagi oleh ucapan kemudian.
Contoh: Semuanya sudah hadir, kecuali Si Amir.
6. Anakronisme
Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.
Anakronisme merupakan majas yang mengungkapkan sesuatu yang bertentangan dengan
waktu kejadian yang dibicarakan (anakronisme, ana = mundur; chronos = waktu). Biasanya
majas ini digunakan untuk menceritakan sesuatu yang telah terjadi (masa lalu atau sejarah)
dan menambahkan unsur-unsur yang belum ada kala itu dalam menyatakan sesuatu.
Contoh :
Sambil menyalakan TV, sekali-sekali Hang Tuah melirik jam tangan Titusnya.
Sementara tidak jauh, tampak Hang Jebat sedang bermain golf.
4. Majas Sindiran
Gaya bahasa bermajas sindiran bertujuan menyindir perilaku, seseorang, maupun
kondisi tertentu. Untuk tujuan tersebut, kita menggunakan kata kiasan. Di bawah ini
ragam sindiran majas dan contohnya, Sobat.
1. Ironi
Kita menggunakan majas ironi untuk mengejek atau mengejutkan dengan
mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan
atau diinginkan. Pernyataan yang dibuat kelihatannya sesuai dengan konteks, tetapi
sebenarnya bertolak belakang dengan apa yang dimaksudkan atau diharapkan.
Contoh:
- Santun sekali perilakunya, bertanya saja pakai teriak-teriak.
- Hari ini hujan deras sekali, benar-benar cocok untuk berenang.
- Ibu bilang tidak boleh makan es krim, tapi dia yang pertama yang menyentuh es krim
itu.
2. Sinisme
Dalam majas sinisme, kita menyindir secara langsung. Meskipun tanpa memperhalus
seperti pada majas ironi, gaya bahasa sinisme tidak dapat serta-merta disebut kasar.
Contoh:
- Kakakku pelit sekali, tak mau berbagi penganannya denganku.
- Keberuntungan? Itu hanyalah istilah yang digunakan orang-orang untuk menutupi
kesalahan mereka.
- Semua orang berbicara tentang persatuan, tapi tindakan mereka justru menunjukkan
sebaliknya.
3. Sarkasme
Kata-kata sindiran dalam sarkasme disampaikan secara langsung dan cenderung pedas.
Majas ini digunakan untuk mengejek, mengecilkan, atau mengolok-olok sesuatu atau
seseorang dengan menggunakan bahasa yang tidak langsung dan seringkali
bertentangan dengan apa yang sebenarnya dikatakan. Biasanya sarkasme digunakan
untuk menyampaikan kritik atau komentar yang tidak serius atau untuk menimbulkan
humor dalam percakapan atau tulisan.
Contoh:
- Oh, terima kasih banyak untuk bantuanmu. Tanpa bantuanmu, pasti aku tidak akan
bisa menyelesaikannya
- Ya, benar sekali. Kenapa tidak kita pikirkan hal yang benar-benar penting seperti ini
selama ini?
- Ah, ini pasti cara yang paling efektif untuk menyelesaikan masalah.
- Senang sekali bisa bertemu dengan seseorang yang begitu cerdas dan bijaksana.
4. Satire
Satire Gaya bahasa ini menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi untuk mengecam atau
menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
Contoh
Jemu aku dengan bicaramu
Kemakmuran, keadilan dan kebahagiaan
Sudah sepuluh tahun engkau bicara
Aku masih tak punya celana
Budak kurus pengangkut sampah.
5. Inuendo
Semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Inuendo
menyatakan kritik dengan sugesti tidak langsung, dan sering tampaknya tidak menyakitkan
hati kalau dilihat sambil lalu.
Contoh
Ia menjadi kaya karena sedikit mengadakan komersialisasi jabatannya
Ia memang cantik, hanya saja suka berbohong.