BABkI
.PENDAHULUAN.
A. LatarkBelakang
Kematian maternal merupakanoosuatu indikasi .yang. dapat
menentukan keadaan baik buruknya keadaan pelayanan kebidanan
(maternity care) dalam suatu negara. Menurut World Health Organization
(WHO), pada tahun 2017 sekitar 810 wanita di dunia meninggal setiap
harinya dan 94%-diantaranyaipterdapatodimnegaramberkembang (WHO,
2019). Menurut Data World Bank, Indonesia berada di posisi ketiga
dengan AKI tertinggi pada tahun 2017 dengan 177 kematian per 100.000
kelahiran. Kementrian Kesehatan RI mencatat jumlah kematian ibu pada
tahun 2021 menunjukkan 3.926 kematian di Indonesia, yang dimana
1.086 kematian ibu karena PCR/Antigen Positif (KEMENKES RI, 2021).
Berdasarkan laporan rutin komdat kesmas menunjukkan 11.299 jumlah
kematian bayi di Indonesia pada tahun 2021. Jumlah kematian bayi
karena PCR/Antigen positif sebanyak 302. (KEMENKES RI, 2021).
Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,
Jumlah kematian ibu pada tahun 2020 sekitar 26 orang. Sedangkan untuk
jumlah kematian bayi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tahun 2020
berjumlah 186 orang (Dinkes Provinsi Kepulauan Babel, 2020).
Berdasarkan target Sustainable Development Goals (SDGs) pada tahun
2030, SDGs menargetkan angka kematian ibu 70 kematian per 100.000
kelahiran. AKI Indonesia masih jauh dari target SDGs tersebut
(Kementrian PPN).
1
Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia seperti
pendarahan, preeklamsi/eklamsi, dan infeksi atau penyakit yang diderita
ibu sebelum atau selama kehamilan. Sedangkan untuk penyebab tak
langsungnya seperti keterbatasan akses terhadap fasilitas pelayanan
kesehatan yang berkualitas (Susiana, 2019). Penyebab kematian ibu di
Bangka Belitung adalah 4 orang karena perdarahan, 11 orang karena
hipertensi dalam kehamilan dan 9 orang disebabkan karena lain-lain
(emboli air ketuban, emboli paru, syok cardiogenik, stroke haemoragic,
cardio myopati, tumor otak, abortus infeksiosa, hepatitis dan ginjal).
(Dinkes Provinsi Kepulauan Babel, 2020).
Pemerintah berupaya untuk menurunkan AKI dan AKB serta
mengurangi faktor risiko pada ibu dan bayi dengan mengadakan program
KB. Dengan adanya program tersebut diharapkan dapat mengurangi
kematian ibu khususnya ibu dengan 4T, terlalu muda untuk melahirkan
(usia dibawah 20 tahun), terlalu sering melahirkan, terlalu dekat jarak
melahirkan, dan terlalu tua untuk melahirkan (usia di atas 35 tahun)
(Riskesdas 2018). Upaya pemerintah dalam percepatan penurunan AKI
dan AKB dilaksanakan melalui pendekatan continuity of care di setiap
siklus kehidupan, mulai dari titik sebelum hamil, pada saat usia sekolah,
remaja, dan usia reproduksi serta penguatan sistem rujukan maternal dan
neonatal melalui pemenuhan sarana, prasarana, alat kesehatan dan
peningkatan kompetensi SDM (Kemenkes RI, 2021).
Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki
peran penting dalam penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka
Kesakitan dan Kematian Bayi (AKB). Salah satu upaya yang dapat
2
dilakukan bidan salah satunya dengan continuity of care (COC).
Continuity of care merupakan asuhan yang diberikan sejak ibu hamil,
bersalin, nifas, sampai ibu menentukan pilihannya untuk memakai
kontrasepsi yang akan digunakannya. Continuity of care dapat
mendeteksi dini adanya komplikasi yang dapat terjadi dan mencegah
kemungkinan terjadinya komplikasi. Berdasarkan hasil studi kasus yang
dilakukan Igirisa (2020) di Puskesmas Kabila menunjukkan penerapan
asuhan kebidanan komprehensif dapat menangani komplikasi anemia
dan KEK pada ibu, sehingga ibu dan bayi selamat dan sehat. di PBM
wilayah kerja Kabupaten Malang menunjukan continuity of care berhasil
menurunkan angka kejadian section caesarea di Kabupaten Malang.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik memberikan
asuhan kebidanan komfrehensif yang merupakan asuhan kebidanan
yang diberikan secara menyeluruh dari mulai kehamilan, persalinan,
masa nifas, bayi baru lahir, dan pelayanan keluarga berencana (KB) pada
ibu di wilayah kerja Puskesmas Tempilang Tahun 2022 dengan
melakukan pendokumentasian dalam bentuk SOAP.
BAB II
TINJAUAN TEORI
3
A. KEHAMILAN
1. Pengertian Kehamilan
Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional, kehamilan
merupakan suatu penyatuan dari spermatozoa dan ovum kemudian
dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Proses mata rantai yang
berkesinambungan dan terdiri dari ovulasi, migrasi spermatozoa dan
ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi) pada
uterus, pembentukan plasenta dan tumbuh kembang hasil konsepsi
sampai aterm (Sholichah, 2017). Kehamilan didefinisikan sebagai
fertilisasi dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Masa
kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya bayi dengan lama
280 hari atau 40 minggu yang dihitung dari hari pertama haid terakhir
(Fatimah and Nuryaningsih, 2017).
2. Tujuan Asuhan Kehamilan
Untuk0mengenalkdan menanganimsediniopmungkin .penyulit
yang terdapat saatokehamilan, menangani penyakit yang menyertai
hamil, serta memberi nasihat yang berkaitan dengan kehamilan, dan
menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi (Kemenkes
RI, 2020).
3. Kebutuhan. Ibu- hamilk
a. Kebutuhan[ Oksigen
4
Saat kehamilan, untuk dapat memenuhi kebutuhan O2,
terjadi desakan diafragma karena dorongan rahim yang
membesar. nHal inip akan, berhubungang dengan hmeningkatnya
aktifitasm paru-paruv oleh. karenay selain, untukp mencukupi,
kebutuhan O2 ibu juga harus mencukupi kebutuhan O2 janin. Untuk
memenuhi kecukupan O2 yang meningkat, ibu dapat melakukan
jalan–jalan. dipagik hari, duduk–dudukx di bawah. pohonp yang
rindang, berada di ruangj yang ventilasinyal cukup (Walyani,
2015).
b. Kebutuhan Nutrisi
Selamac masam hamil, banyak diperlukan. zat gizip dalam
jumlah yang lebiha besar dariy pada sebelum hamilu Ibu
,hamil .akan mengalami pertambahan BB, pertambahan BB bisa
diukur dari IMT. Kenaikan BB yang berlebihan atau BB turun setelah
kehamilan trimester kedua harus menjadi perhatian, kemungkinan
ada hal yang tidak wajar sehingga sangat penting untuk segera
memeriksakan ke dokter (Walyani, 2015). Kebutuhan energi
perempuan selama hamil bertambah sekitar 180 kkal/hari pada
trimester I dan 300 kkal/hari pada trimester II dan III. Kebutuhan
protein bisa didapat dari nabati maupun hewani. Sumber hewani
seperti daging tak berlemak, ikan, telur, susu. Sedangkan sumber
nabati seperti tahu, tempe dan kacang-kacangan Protein digunakan
untuk: pembentukan jaringan baru baik plasenta dan janin,
pertumbuhan dan diferensiasi sel, pembentukan cadangan darah
dan Persiapan masa menyusui (Walyani,2015).
5
Tabel 2.1 Kenaikan BB Selama Hamil
c. Personal Hygiene
Pada ibu hamil karena bertambahnya aktifitas metabolisme
tubuh maka ibu hamil cenderung menghasilkan keringat yang
berlebih, sehingga perlu menjaga kebersihan badan secara ekstra
disamping itu menjaga kebersihan badan juga dapat untuk
mendapatkan rasa nyaman bagi tubuh (Walyani, 2015).
d. Eliminasi (BAB dan BAK)
1) Buang Air Besar (BAB)
Pada ibu hamil sering terjadi obstipasi. Obstipasi ini
kemungkinan terjadi disebabkan oleh kurang gerak badan,
hamil muda sering terjadi muntah dan kurang makan, peristaltik
usus kurang karena pengaruh hormone, tekanan pada rektum
oleh kepala. Dengan terjadinya obstipasi pada ibu hamil maka
panggul terisi dengan rectum yang penuh feses selain
membesarnya rahim, maka dapat menimbulkan bendungan di
dalam panggul yang memudahkan timbulnya haemorhoid. Hal
tersebut dapat dikurangi dengan minum banyak air putih, gerak
badan cukup, makan-makanan yang berserat seperti sayuran
dan buah-buahan (Kumalasari, 2015).
2) Buang Air Kecil (BAK)
Masalah buang air kecil tidak mengalami kesulitan,
bahkan cukup lancar dan malahan justru lebih sering BAK
karena ada penekanan kandung kemih oleh pembesaran
uterus. Dengan kehamilan terjadi perubahan hormonal,
sehingga daerah kelamin menjadi lebih basah. Situasi ini
6
menyebabkan jamur (trikomonas) tumbuh subur sehingga ibu
hamil mengeluh gatal dan keputihan. Rasa gatal sangat
mengganggu, sehingga sering digaruk dan menyebabkan saat
berkemih sering sisa (residu) yang memudahkan terjadinya
infeksi kandung kemih. Untuk melancarkan dan mengurangi
infeksi kandung kemih yaitu dengan banyak minum dan
menjaga kebersihan sekitar kelamin (Kumalasari, 2015).
e. Istirahat/Tidur
Istirahat atau tidur dan bersantai sangat ,penting bagi wanita
hamil dan menyusui. Istirahat dan tidur secara teratur dapat
meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani untuk kepentingan
perkembangan dan pertumbuhan janin dan juga membantu wanita
tetap kuat dan mencegah penyakit, juga dapat mencegah
keguguran, tekanan darah tinggi, bayi sakit dan masalah-masalah
lain. Sebagai bidan harus dapat meyakinkan bahwa mengambil
waktu 1 atau 2 jam sekali untuk duduk, istirahat dan menaikkan
kakinya adalah baik untuk kondisi mereka. Terlepas dari apakah
anda tidak bisa istirahat, anda hanya perlu beristirahat. Untuk
istirahat, idealnya dengan kaki terangkat, kurangi duduk, atau
terlalu lama (Walyani, 2015).
4. Perubahan fisiologis pada kehamilan trimester III
(Derviş, 2013).
a. Uterus
7
Pada kehamilan uterus mengalami pembesar pada minggu ke-38
sampai ke 40 tinggi fundus uteri mengalami penurun karna janin
sudah masuk pintu atas panggul (PAP).
Tabel 2.2 TFU
:(Indreswari et al., 2017)
TFU Berdasarkan Palpasi Leopold
: (Kemenkes RI, 2020)
b. Payudara.
Payudarak mengalamiy peningkatani dari pembentukano lobuluss
sampai dengan alveoli. karna dapat ,memproduksi asi dano
kolustrum. kolustrum timbul apabila cairan yang keluar sebelum
menjadi susuk berwarna. putihb kekuninganv atau kream.
c. endokrin
Sistem endokrim pada masa kehamilan hormon proklatin dan
oksitosin berfungsi sebagai perangsang produksi ASI.
8
d. Sistem pencernaan
Pada masa kehamilan uterus yang terus membesar karna
mengalami perubahan biasanya terjadi tergesernya dan pada saat
sehingga terjadinya sembelit apabila gerakan otot didalam usus
terlalu lambat akibat tingginya kadar progesteron.
e. Metabolisme
Sebagian besar kehamilan mempengaruhi pencernaan, oleh
karena itu ibu hamil perlu mendapatkan makanan yang bergizi dan
dalam keadaan sehat karena selama kehamilan kebutuhan kalori
meningkat, kebutuhan karbohidrat juga meningkat sampai 2300
kal/hari (sewaktu hamil) dan (sewaktu ibu menyusui) oleh karena
itu ibu sering merasakan sering haus, nafsu makan meningkat dan
sering kencing. Demikian juga selama kehamilan terjadi
perubahan dalam pencernaan lemak dan asam amino,
peningkatan metabolisme katalis juga terjadi pada ibu hamil. Jadi
ibu hamil membutuhkan makananobergizi dan harusjmengandung
banyakkprotein untuk membuat iibu dan bayi lebih baik.
5. Perubahan psikologis ibu hamil trimester III
Pada trimester III biasanya ibu merasa khawatir, takut akan
kehidupan dirinya, bayinya, kelainan pada bayinya, persalinan, nyeri
persalinan, dan ibu tidak akan pernah tahu kapan ia akan melahirkan.
Ketidaknyamanan pada trimester ini meningkat, ibu merasa dirinya
aneh dan jelek, menjadi lebih ketergantungan, malas dan mudah
tersinggung. Wanita banyak kekhawatiran seperti tindakan
medikalisasi saat persalinan, perubahan body image merasa
9
kehamilannya sangat berat. Bidan harus mampu mengkaji dengan
teliti sejumlah stress yang dialami ibu hamil, mampu menilai dan
memberikan dukungan. Dukungan dan peran serta suami dalam
masa kehamilan terbukti meningkatkan kesiapan ibu hamil dalam
menghadapi kehamilan dan proses persalinan, bahkan juga memicu
produksi ASI (Walyani, 2015).
6. Tanda bahaya kehamilan trimester III
a. Perdarahan Pervaginam
Pendarahan pervaginam dianggap aneh jika lada tanda-
tanda/ sepertih keluarnyam darahi meraho atau ekehitaman
dengani gumpalan, kadango pengeluaran mbanyak ;kadang
btidak konsisten, pengeluaran diikuti oleh rasal nyeri.
(Kusumawati, 2014).
1) Placenta Previa
[Link]..yang;
berinsersi di atas atau di dekat ostiumuserviks bagian dalam.
Efek samping yang biasanya terjadi antara lain perdarahan
disertai rasa sakit yang tidak terduga, uterusptidak
berkontraksil dan [Link] tidak masuk ke
[Link]. (Kusumawati).
SolusiomPlasenta
Dalam persalinanonormal, plasentallakan lepasksetelah
bayiplahir, namunpkarena kondisi abnormalkplasenta dapatklepas
sebelumowaktunya, yanggdisebutppsolusioo;plasenta. Faktor
penyebab yaitu kekurangan zat besi. Tandaoogejala yang
10
ditimbulkan meliputi perdarahan dengan nyeri yang menetap,
hilangnyabdenyut nadikjanin (nyeri janin), fiksasi uterus, dan syok
(Kusumawati, 2014).
2) Rupture Uteri
Rupturkkuteri adalah robeknyahudinding rahim selama
kehamilan/persalinanp,pada >28 minggu masa inkubasi
Dewi, (2015) mengatakan bahwa robeknya uteri selama
kehamilan terjadi karena lemahnya dinding rahim yang
disebabkanjloleh adanyailsectio caesarea, bekas luka miom uteri,
kuretase manual/parut plasenta. Sesuai dengan kondisi robekan,
ruptur uteri dapat dibagi menjadi 2, yaitu:
3) Sakit Kepala
Sakit kepala yang hebat pada kehamilan merupakan
indikasi preeklamsia dan jikapptidak diobati ldapat menyebabkan
komplikasippkejang ibu, koagulopati hinggapkematian, sehingga
penting untuk melakukan penilaian lengkap edema pada.
4) Penglihatan Mata Kabur
Karena pengaruh hormonal, ketajaman penglihatan ibu
dapat berubah selama kehamilan. Perubahan ringan adalah
normal. Masalah Dengan visual yang mengindikasikan keadaan
yang mengancam jiwa adalah perubahan visual (penglihatan)
yang mendadak, misalnya, penglihatan kabur dan penglihatan
berkabut diikuti oleh sakit kepala yang hebat, yang mungkin
menunjukkan indikasi preeklamsia (Parwatiningsih, 2021).
5) Nyeri Hebat Pada Abdomen
11
Nyerihperut yangghebat dapat menganam jiwa, menetap
dan tidakllhilangnjsetelah istirahat, terkadangodisertai perdarahan
lewat jalanhlahir. Ini dapat mengacu pada kehamilan ektopik,
appendicitis, abortus, penyakit radang panggul, kelahiran
prematur, solusio plasenta,
6) BengkakpPada Wajah danoEkstremitas
Bengkak biasa pada ibuplhamil yang biasanyaomuncul
padajksore hari dan akan hilang setelah istirahat atau dengan
mengangkat kaki lebih tinggi dari kepala. Namun, bengkak yang
bukan menjadikllmasalah serius digambarkan dengan bengkak
pada wajah, tangan dan kaki, bengkak yang tidakuhilang setelah
istirahat, bengkak disertaikkkeluhan lain, seperti anemia dan
gerakan janin berkurang (Kusumawati, 2014).
7) Waktunya (KPSW)
[Link] berkurangnya
kekuatanzo membrane/peningkatann tekananouteri;lyang juga
dapat hdisebabkanadanyan infeksilkyang berasall dari vaginadan
servik (Kumalasari, 2015).
8) Demam Tinggi
Demam pada kehamilan merupakanksalah satuybentuk
efek samping dari [Link] yang[.digambarkan dengan
tingkat suhu tubuh >38oC. Penanganannya dapatlkdengan
memiringkankbadan ibu ke kiri, cukupiokebutuhanlkcairan ibu dan
kompresmhangat guna menurunkanhsuhu tubuh ibu (Kumalasari,
2015).
12
Tabel. 2.4 Imunisasi TT
Selang Waktu
Imunisasi TT Minimal Lama
Pemberian Perlindungan
Imunisasi
TT 1 -
TT 2 1 bulan setelah
TT 1
TT 3 6 bulan setelah
TT 2
TT 4 12 bulansetelah
TT 3
TT 5 12 bulan setelah
TT 4
: (Kemenkes RI, 2015)
a. Pemberian tablet penambah darah
Tablet tambah darah.
b. Pemeriksaan laboratorium
c. Tatalaksana kasus
d. Temu wicara/konseling
7. Kunjungan Kehamilan
Apabila ibu sudah di pastikan hamil pemeriksaan testpack dan
pemeriksa USG. Maka segera lakukan pemeriksaan di bidan atau
dokter kandungan dengan kebijakan program pemerintah dalam
pemeriksaan kehamilan dilakukan minimal 6 kali selama kehamilan
(Menkes RI, 2021).
a. Trimester I : Satu kali kunjungan (0-12 minggu)
b. Trimester II : Dua kali kunjungan (12-24 minggu)
c. Trimester III : Tiga kali kunjungan (24-40 minggu)
8. Pedoman Bagi ibu hamil selama Sosial Distancing
13
a. Untuk pemeriksaan hamil pertama kali, buat janji dengan dokter
agar tidak menunggu lama. Selama perjalanan ke fasyankes tetap
melakukan pencegahan penularan COVID-19 secara umum.
b. Pengisian stiker Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) dipandu bidan/perawat/dokter
melalui media komunikasi.
c. Pelajari buku KIA dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
d. Ibu hamil harus memeriksa kondisi dirinya sendiri dan gerakan
janinnya. Jika terdapat risiko / tanda bahaya (tercantum dalam
buku KIA), maka periksakan diri ke tenaga kesehatan. Jika tidak
terdapat tanda-tanda bahaya, pemeriksaan kehamilan dapat
ditunda.
e. Pastikan gerak janin diawali usia kehamilan 20 minggu dan
setelah usia kehamilan 28 minggu hitung gerakan janin (minimal
10 gerakan per 2 jam).
f. Ibu hamil diharapkan senantiasa menjaga kesehatan dengan
mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menjaga kebersihan
diri dan tetap mempraktikan aktivitas fisik berupa senam ibu hamil
/ yoga / pilates / aerobic / peregangan secara mandiri dirumah
agar ibu tetap bugar dan sehat.
g. Ibu hamil tetap minum tablet tambah darah sesuai dosis yang
diberikan oleh tenaga kesehatan
h. Kelas Ibu Hamil ditunda pelaksanaannya sampai kondisi bebas
dari pandemik COVID-19 (Kemenkes RI, 2020).
14
[Link]
1. Definisi Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaranxhasilxxkonsepsi
(janin dan plasenta)oyang telahocukup bulanoatau dapatohidupkzdi
luarokandunganolmelaluipojalanlllahirioatau melaluikjalan lain,
dengankkbantuan atauotanpa bantuano(kekuatan sendiri).
Persalinanoserangkaian kejadianoyang berakhirodengan
pengeluaranobayi yangocukup bulanoatau hampirocukup bulan,
disusulopelepasan danopengeluaran plasentaoserta selaputojanin
dariotubuh ibu. Persalinanodianggapllnormaluujika prosesnyaoterjadi
pada usiaklkehamilan cukupmbulan (setelah kehamilan 37 minggu)
tanpapdisertai adanyalmpenyulit. (Kumalasari, 2015).
2. Tanda-tanda persalinan
Tanda-tanda persalinan menurut Mutmainnah (2017) :
a. Ibu akan merasakan nyeri pada saat his datang.
b. Keluar lendir bercampur darah yang lebih banyak karena
robekan-robekan kecil pada serviks.
c. Ketuban pecah sendiri.
d. Pemeriksaan dalam, serviks ada pembukaan
3. Faktor yang mempengaruhi persalinan
Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan menurut (Walyani,
2015). antara lain:
a. Power (tenaga) meliputi kekuatan dan reflex meneran.
b. Passage Jalan lahir yang paling penting dalam menentukan
proses persalinan adalah pelvis.
15
c. Pasanger
Merupakan janin dan plasenta, terdiri dari janin dengan ukuran
dan moulage, sikap fetus, letak janin, presentasi fetus dan posisi
fetus. Bidang panggul adalah bidang datar imajiner yang
melintang terhadap panggul pada tempat yang berbeda.
Bidang ini digunakan untuk menjelaskan proses persalinan.
bidang Hodge:
1) Hodge I: Dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian
atas simfisis dan promontorium;
2) Hodge II: Sejajar dengan Hodge I setinggi pinggir
bawahsimfisis
3) Hodge III: Sejajar dengan Hodge I dan II setinggi
spina ischiadikanan kiri
4) Hodge IV: Sejajar Hodge I, II, dan III setinggi os Coccygis
d. Posisi
Ganti posisi secara teratur kala II persalinan karena dapat
mempercepat kemajuan persalinan. Bantu ibu memperoleh posisi
yang paling nyaman sesuai dengan keinginannya.
e. Penolong persalinan
Kehadiran penolong yang berkesinambungan (bila
diinginkan ibu) dengan memelihara kontak mata seperlunya,
bantuan member rasa nyaman, sentuhan pijatan dan dorongan
16
verbal, pujian serta penjelasan mengenai apa yang terjadi dan
beri berbagai informasi.
f. Pendamping persalinan
Pendamping persalinan merupakan faktor pendukung
dalam lancarnya persalinan. Dorong dukungan
berkesinambungan, harus ada seseorang yang menunggui setiap
saat, memegang tangannya dan memberikan kenyamanan.
g. Psikologi ibu
Melibatkan psikologi ibu, emosi dan persiapan intelektual,
pengalaman bayi sebelumnya, kebiasaan adat, dukungan dari
orang terdekat pada kehidupan ibu.
4. Langkah-langkah pertolongan persalinan
a. Langkah Asuhan Persalinan Normal
Menurut (Rosyati, 2019) 60 Langkah APN (Asuhan Persalinan
Normal) melihat tanda dan gejala kala II adalah sebagai berikut :
b. Partograf
Partograf Menurut JNPK-KR (2019) Kegunaan partograf
adalah mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan
memeriksa pembukaan serviks berdasarkan pemeriksaan dalam
dan mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal,
dengan demikian dapat mendeteksi secara dini kemungkinan
terjadinya partus lama. Tujuan utama dari penggunaan partograf
adalah untuk:
17
a. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan
menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam.
b. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal.
Dengan demikian juga dapat mendeteksi secara dini
kemungkinan terjadinya partus lama.
c. Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu
6. Pedoman Bagi Ibu Bersalin Selama Sosial Distancing
C. BAYI BAR LAHIR (BBL)
1. Definisi bayi baru lahir
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam
presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa menggunakan alat,
pada usia kehamilan 37–42 minggu dengan berat badan 2500-4000
gram serta tanpa cacat bawaan. Masa neonatal adalah masa sejak
lahir sampai dengan 28 hari setelah kelahiran dimana neonatus dini
adalah usia 0-7 hari dan neonatus lanjut 7-28 hari (Sholichah, 2017).
2. Ciri-ciri bayi baru lahir
a. Usia kehamilan aterm antara 37 - 42 minggu
b. Berat badan 2.500-4000 gram
c. Panjang badan 48-52 cm
d. Lingker dada 30-38 cm
e. Lingkar kepala 33-35 cm
f. Frekuensi jantung 120-160 cm
g. Pernafasan 40-60 cm
18
h. Kulit kemerahan-merahan dan licin karena jaringan subkutan
cukup.
i. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah
sempurna
j. Kuku agak panjang dan lemas
k. Genetalia pada perempuan, labia mayora sudah menutupi labia
minora, pada laki-lakitestis sudah turun ke skrotum dan penis
berlubang.
l. Refleks isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
m. Reflek moro atau gerak memeluk jika di kagetkan sudah baik
n. Reflek grasp atau mengenggam sudah baik
o. Eliminasi baik, mekonium keluar dalam 24 jam pertama,
mekonium berwarna hitam kecoklat (Tando, 2016).
3. Konsep dasar asuhan bayi baru lahir
Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang
diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah kelahiran.
Sebagian besar bayi yang baru lahir akan menunjukkan usaha
pernapasan spontan dengan sedikit bantuan atau gangguan
(Satyawati et al., 2016).
4. Penilaian Sepintas
Menurut (Rosyati, 2019) adapun penilaian sepintasyang dilakukan
pada bayi baru lahir adapun sebagai berikut :
1) apakah bayi menangis kuat atau bernafas tanpa kesulitan?
2) Apakah bayi bergerak aktif?
5. Asuhan Bayi Baru Lahir
19
a. Pencegahan Infeksi
1) Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah
bersentuhan dengan bayi .
2) Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang
belum dimandikan.
3) Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan,
terutama klem, gunting, penghisap lendir DeLee dan benang
tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau steril.
4) Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang
digunakan untuk bayi, sudah dalam keadaan bersih.
Demikian pula dengan timbangan, pita pengukur, termometer,
stetoskop(Hamidah, 2017)
b. Pencegahan Kehilangan Panas
1) Hindari memandikan bayi hingga sedikitnya 6 jam dan hanya
setelah itu jika tidak terdapat masalah medis dan jika suhunya
36,5ºC.
2) Membungkus bayi dengan kain kering dan hangat, kepala
bayi harus tertutup.
Mekanisme kehilangan panas tubuh bayi baru lahir, antara lain:
1) Konduksi
Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya
yang kontak langsung dengan tubuh bayi (pemindahan panas
dari tubuh bayi ke objek lain melalui kontak langsung).
Contohnya, ketika menimbang bayi tanpa alas timbangan alas
20
timbangan, memegang bayi saat tangan dingin, dan
menggunakan stetoskop dingin untuk memeriksa BBL.
2) Konveksi
Panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitarnya yang
sedang bergerak (jumlah panas yang hilang bergantung pada
kecepatan dan suhu tubuh). Sebagai contoh, konveksi dapat
terjadi ketika membiarkan atau menempatkan BBL dekat
jendela, atau membiarkan BBL di ruangan yang terpasang
kipas angin.
3) Radiasi
Panas dipancarkan dari BBL keluar tubuhnya ke
lingkungan yang lebih dingin (pemindahan panas antara 2
objek yang mempunyai suhu berbeda). Contohnya,
membiarkan BBL dalam ruangan AC tanpa diberikan
pemanas (radiant warmer), membiarkan BBL dalam keadaan
telanjang, atau menidurkan BBL berdekatan dengan ruangan
yang dingin (dekat tembok).
4) Evaporasi
Panas hilang melalui proses penguapan yang
bergantung pada kecepatan dan kelembapan udara
(pemindahan panas dengan cara mengubah cairan menjadi
uap). Contohnya, penguapan cairan ketuban yang ada di
tubuh bayi.
Agar dapat mencegah terjadinya kehilangan panas
pada bayi, maka dapat dilakukan hal berikut, antara lain
21
mengeringkan bayi secara seksama, menyelimuti bayi
dengan selimut atau kain bersih yang kering dan hangat,
menutup bagian kepala bayi, menganjuran ibu untuk
memeluk dan menyusui bayinya, tidak segera menimbang
atau memandikan bayi baru lahir, dan menempatkan bayi di
lingkungan yang hangat (Norma, 2015)
c. Membersihkanmjalannnafas
Bayiolnormalolakanjomenangisjospontanolsetelahojlahir.
Apabilakltidak langsungmmenangis, penolongosegera melakukan
resusitasi.
d. Memotong dan merawat tali pusat bayi
Sebelum melakukan pemotongan tali pusat, dipastikan
bahwa tali pusat bayi telah di klem dengan baik untuk mencegah
terjadinya pendarahan. Tali pusat di potong 3 cm dari dinding
perut bayi. luka tali pusat di balut dengan kasa steril.
e. MemberioVitaminoK
Kejadianoperdarahanokarena defisiensiovitaminK padaobayi
baru lahir dilaporkanocukup tinggioberkisar 0,25-0,5 %. Untuk
mencegahopperdarahan semua neonatus fisiologis dan cukup
bulan perluiovitamin K peroral 1mg/hari selama 3 hari,
sedangkan bayi risiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan
dosis 0,5-1 mg I.M. Semua neonatus yang lahir harus diberi
penyuntikan vitamin K1(Phytomenadione) 1 mg intramuskuler di
paha kiri.
f. Memberi Obat Tetes atau Salep mata
22
g. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
h. BAK dan BAB
Bayi normal harus BAK dalam 24 jam pertama, BAB paling lama
dalam 48 jam pertama jika bayi dalam waktu tersebut tidak BAB
dan BAK maka akan dilakukan pemeriksan lebih lajut takut terjadi
kelainan pada bayi.
6. Tanda Bahaya pada Bayi Baru Lahir
TandaoBahaya BBLoMenurut Affandi (2017) tandaobahayaopada
bayi adalah :
a. Suhu tubuh ≤ 35,5°C dan ≥ 37,5°C
b. Nanah banyak di mata.
c. Pusat kemerahan meluas ke dinding perut.
d. Mata cekung dan cubitan kulit perut kembali sangat lambat.
e. Timbul kuning dan atau tinja berwarna pucat.
f. Berat badan menurut umur rendah dan atau ada masalah
pemberian ASI.
g. BBLR: Bayi Berat Lahir Rendah < 2500 gram.
h. Kelainan kongenital seperti ada celah di bibir dan langit-langit.
7. Kunjungan neonatal
Kunjungan neonatal menurut Magee et al (2017) adalah
pelayanan kesehatan kepada neonatus sedikitnya 3 kali yaitu:
a. Kunjungan neonatal I (KN 1) pada 6 jam sampai dengan 48 jam
setelah lahir.
23
1) Timbang berat badan bayi. Bandingkan berat badan
dengan berat badan lahir.
2) Jaga selalu kehangatan bayi.
3) Perhatikan intake dan output bayi.
4) Kaji apakah bayi menyusu dengan baik atau tidak.
5) Komunikasikan kepada orang tua bayi caranya merawat
tali pusat.
1) Dokumentasikan.
b. Kunjungan neonatal II (KN 2) pada hari ke 3 - 7 hari.
Tabel 2.5 Kunjungan Neonatus
Jenis pelayanan Zona hijau (tidak Zona kuning (Risiko
terdampak/tidak ada kasus) Rendah), Orange
(Risiko Sedang), Merah
(Risiko Tinggi)
Kunjungan 1 : 6 jam – Kunjungan nifas 1 bersamaan dengan kunjungan
2 hari setelah neonatal 1 dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan
persalinan
Kunjngan 2 : 3-7 hari Pada kunjungan nifas 2,3,4 Pada kunjungan nifas
pasca persallinan bersamaan dengan 2,3,4 bersamaan
Kunjungan 3 : 8-28 kunjungan neonatal 2 dan dengan kunjungan
3 : dilakukan kunjungan neonatal 2 dan 3 :
hari setelah
rumah oleh tenaga dilakukan melalui media
persalinan kesehatan didahuI dengan komunikasi/ secara
Kunjungan 4 : 29-42 janji temu dan menerapkan daring, baik untuk
protocol kesehatan. pemantauan maupun
hari setelah
Apabila diperlukan dapat edukasi. Apabila sangat
persalinan dilakukan kunjungan ke diperlukan, dapat
Fasyankes dengan dilakukan kunjungan
didahului janji temu. rumah oleh tenanga
kesehatan didahului
dengan janji temu dan
menerapkan protocol
24
kesehtan, baik tenaga
kesehatan maupun ibu
dan keluarga
Sumber : (Kemenkes RI, 2020)
8. Jadwal imunisasi
Table 2.6 jadwal pemberian imunisasi
Umur Vaksin
0-1 bulan Hepatitis B-1 dan Polio-
0
2 bulan DPT-HB-Hib-1-BCG-
Polio-1
3 bulan DPT-HB-Hib-2-Polio-2
4 bulan DPT- HB-Hib-3-Polio-3
9 bulan Campak
Sumber : (IDAI, 2017)
D. MASA NIFAS
1. Pengertian
Masa nifas (puerperium) adalah masa pemulihan kembali,
mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali
seperti pra hamil. Lama masa nifas yaitu 6-8 minggu. Masa nifas
(puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika
alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa
nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Jamil, 2017).
25
2. Tujuan Asuhan Masa Nifas
a. Menjaga kesehatan ibu dan bayi secara fisik maupun psikologis.
b. Melaksanakan skrining.
c. Melakukan deteksi dini terhadap masalah.
d. Mengobat atau merujuk jika ada komplikasi pada ibu atau
bayinya.
e. Penyuluhan terkait nutrisi, personal hygiene, kontrasepsi, laktasi,
jadwal pemberian imunisasi, dan manfaat imunisasi dan
perawatan pada bayi.
f. Mempercepat proses involusi organ reproduksi ibu nifas (Fitriani &
Wahyuni, 2021).
3. Tahapan Masa Nifas
Menurut (Aritonang & Yunida Turisna, 2021), ibu dalam masa
nifasnya ibu akan mengalami 3 periode yaitu:
a. Puerperium Dini
Ibu dibolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan.
b. Puerperium Intermedial
Pada periode ini organ-organ kewanitaan ibu nifas akan kembali
pulih yang lamanya kurang lebih 6 minggu.
c. Remote Puerperium
Waktu ibu untuk pulih kembali setelah melahirkan terutama untuk
ibu selama hamil atau waktu persalinan yang mengalami
komplikasi.
4. Perubahan fisiologis masa nifas
26
Tubuhoibuoberubahosetelahoopersalian, rahimnyaoomengecil,
serviksomenutup, vaginaokembali keokuran normal dan payudaranya
mengeluarkan ASI. Masa nifas berlangsung selama 6 minggu.
Perubahan sistem reproduksi
1) Involusi rahim
Setelah placenta lahir, uterus merupakan alat yang keras
karena kontraksi dan retraksi otot – ototnya. Fundus uteri ± 3
jari bawah pusat. Selama 2 hari berikutnya, besarnya tidak
seberapa berkurang tetapi sesudah 2 hari, uterus akan
mengecil dengan cepat, pada hari ke – 10 tidak teraba lagi dari
luar. Setelah 6 minggu ukurannya kembali ke keadaan
sebelum hamil. Pada ibu yang telah mempunyai anak biasanya
uterusnya sedikit lebih besar daripada ibu yang belum pernah
mempunyai anak. Involusi terjadi karena masing – masing sel
menjadi lebih kecil, karena sitoplasma nya yang berlebihan
dibuang, involusi disebabkan oleh proses autolysis, dimana zat
protein dinding rahim dipecah, diabsorbsi dan kemudian
dibuang melalui air kencing, sehingga kadar nitrogen dalam air
kencing sangat tinggi (Jamil, 2017)
2) involusi tempat plasenta
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat
dengan permukaan kasar, tidak rata dan kira – kira sebesar
telapak tangan. Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir
minggu kedua hanya sebesar 3 – 4 cm dan pada akhir masa
nifas 1 -2 cm.
27
3) Perubahan pembuluh darah rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai banyak
pembuluh-pembuluh darah yang besar, tetapi karena setelah
persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang banyak,
maka arteri harus mengecil lagi dalam nifas.
4) Perubahan pada serviks dan vagina
Beberapa hari setelah persalinan, ostium extemum
dapat dilalui oleh 2 jari, pinggir-pibggirnya tidak rata tetapi
retak-retak karena robekan persalinan, Pada akhir minggu
pertama hanya dapat dilalui oleh satu jari saja, dan lingkaran
retraksi berhubungan dengan bagian dari canalis cervikalis.
b. Perubahan pada cairan vagina (lochia)
Dari cavum uteri keluar cairan secret disebut Lochia. Jenis
Lochia yakni:
1) Lochia Rubra (Cruenta) : ini berisi darah segar dan sisa-sisa
selaput ketuban , sel-sel desidua (desidua, yakni selaput
lendir Rahim dalam keadaan hamil), verniks caseosa (yakni
palit bayi, zat seperti salep terdiri atas palit atau semacam
noda dan sel-sel epitel, yang menyelimuti kulit janin) lanugo,
(yakni bulu halus pada anak yang baru lahir), dan meconium
(yakni isi usus janin cukup bulan yang terdiri dari atas getah
kelenjar usus dan air ketuban, berwarna hijau kehitaman),
selama 2 hari pasca persalinan.
28
2) Lochia Sanguinolenta: Warnanya merah kuning berisi darah
dan lendir. Ini terjadi pada hari ke 3-7 pasca persalinan.
3) Lochia Serosa: Berwarna kuning dan cairan ini tidak berdarah
lagi pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
4) Lochia Alba : Cairan putih yang terjadinya pada hari setelah 2
minggu.
5) Lochia Purulenta: Ini karena terjadi infeksi, keluar cairan
seperti nanah berbau busuk. Lochiotosis : Lochia tidak lancer
keluarnya( Jamil, 2017).
c. Perubahan Sistem Pencernaan
. (Jamil, 2017).
5. Perubahan psikologis masa nifas
Perubahan ibu memerlukan adaptasi yang dijalani. Tanggung
jawab bertambah dengan hadirnya bayi. Dorongan serta perhatian
anggota keluarga merupakan dukungan positif untuk ibu. Dalam
menjalani, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut:
6. Tanda Bahaya masa0nifas
Dampakoyang terjadio,apabila cakupanopelayanan yang
diberikan rendahodapat menyebabkanmpermasalahan (Wahyuni,
2014) antara lain:
a. Perdarahan pasca persalinan
Perdarahan pasca persalinanokyaitu perdarahan
pervaginam yangomelebihi 500 ml setelahobayi lahir. Menurut
Kemenkes RI (2014), perdarahan pasca persalinan dibagi
menjadi 2, yaitu:
29
1) Early Postpartum Haemorraghe (perdarahanopascasalin
primer) adalah perdarahan yangolterjadi dalamol24 jam
pertama pasca persalinan segera. Penyebabnyamiantara
lain, atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta dan
robekanojalan lahir.
2) Late Postpartum Haemorraghe (perdarahan pascasalin
sekunder) adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam
pertama pasca persalinan. Penyebabnya antara lain
robekan jalan lahir dan sisa plasenta.
b. Infeksi Masa Nifas
Infeksi pada masa nifas bisa disebabkan oleh bakteri
karena kurang menjaga kebersihan pada organ reproduksi,
atau luka bekas pelepasan plasenta, laserasi jalan lahir
maupun bekas luka episiotomi. Gejalaoumum yangoterjadi,
antara lain suhu tubuh meningkat hingga >380C, peningkatan
pernafasan (takikardi), dan penurunan pernafasan (brakikardi)
sertaotekanan darahoyang tidakoteratur, ibu terlihat lemah,
gelisah, sakit kepala, hingga tidak sadar/koma.
c. Demam, Muntah, dan Nyeri Saat Berkemih
d. Payudara BerubahjoKemerahan, Panas, danoTerasa Sakit
Jika ibu tidak menyusui bayinya maka akan
menyebabkan terjadinya bendungan ASI, payudara bengkak,
30
terasa panas dan akan berlanjut pada mastitis bahkan abses
payudara.
e. Bengkak pada Wajah dan Ekstremitas
Gejala pre eklamsia diantaranya, tekanan darah ibu
tinggi, terdapat oedema/bengkak pada wajah/ekstremitas,
dan pada pemeriksaan urine ditemukan protein pada urine.
7. Kunjungan Masa Nifas
Kunjungan postpartum mulaimdari 6-jam sampai 423hari
pasca bersalinpoleh tenaga kesehataninminimal 4 kali kunjungan
nifas (Kementrian Kesehatan, 2020).
a.
1) Mencegah pendarahan masa nifas akibat atonia uteri.
2) Mendeteksi dan merawat penyebab lain pendarahan rujuk
jika pendarahan berlanjut.
3) Memberikan konseling pada ibu /salah satu anggota
keluarga bagaimana mencegah pendarahan masa nifas
karena atonia uteri.
4) Memberikan ASI awal.
5) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
6) Menjaga bayi tetap sehat dengan
b. Kunjungan II : 3 – 7 hari setelah persalinan.
Tujuannya :
31
1) Memastikan involusi uterus berjalan normal uterus ber
kontraksi fundus di bawah umbilicus tidak ada pendarahan
abnormal tidak bau.
Tabel 2.7 Kunjungan Masa Nifas
Jenis pelayanan Zona hijau (tidak Zona kuning (Risiko
terdampak/tidak ada Rendah), Orange
kasus) (Risiko Sedang), Merah
(Risiko Tinggi)
Kunjungan 1 : 6 jam – 2 Kunjungan nifas 1 bersamaan dengan kunjungan
hari setelah persalinan neonatal 1 dilakukan di fasilitas pelayanan
kesehatan
Kunjngan 2 : 3-7 hari Pada kunjungan Pada kunjungan nifas
pasca persallinan nifas2,3,4 bersamaan 2,3,4 bersamaan
Kunjungan 3 : 8-28 hari dengan kunjungan dengan kunjungan
setelah persalinan neonatal 2 dan 3 : neonatal 2 dan 3 :
Kunjungan 4 : 29-42 hari dilakukan kunjungan dilakukan melalui media
setelah persalinan rumah oleh tenaga komunikasi/ secara
kesehatan didahuI daring, baik untuk
dengan janji temu dan pemantauan maupun
menerapkan protocol edukasi. Apabila sangat
kesehatan. Apabila diperlukan, dapat
diperlukan dapat dilakukan kunjungan
32
dilakukan kunjungan ke rumah oleh tenanga
Fasyankes dengan kesehatan didahului
didahului janji temu. dengan janji temu dan
menerapkan protocol
kesehtan, baik tenaga
kesehatan maupun ibu
dan keluarga
Sumber : (Kemenkes RI, 2020)
E. KELUARGAoBERENCANA
1. DefinisioKeluarga Berenca
KeluargaoBerencana (KB)madalah strategi pemerintah yang
krusial dalam menaikkan kesejahteraan wanita, baik secara individu
maupun bagian dari keluarga dan komunitasnya (Kemenkes RI,
2021). Keluarga berencana merupakan upaya untuk mengatur
kelahiran anak, jarak, dan usia ideal melahirkan untuk mewujudkan
keluarga yang berkualitas (Jurisman and Kurniati, 2016).
2. Tujuan Program KB
Tujuan program ini adalah meningkatkan status kesehatan ibu
dan kualitas reproduksi di Indonesia. Program KB bermanfaat untuk
menurunkan risiko terjadinya CA Cervix, meningkatkan kesejahteraan
keluarga, menurunkan AKI, dan menjauhkan dari kehamilan yang
tidak diinginkan (Kemenkes RI, 2021).
3. Macam-macam kontrasepsi
Alat Kontrasepsi ini terdiri metode kontrasepsi sederhana tanpa
alat dan metode kontrasepsi dengan alat. metode kontrasepsi tanpa
alat menururt (Rahayu, 2017).antara lain :
33
a. KontrasepsioSederhana ( Tanpa Alat)
1) MetodeoAmenorhoe Laktasi (MAL)
Metode Amenorhea Laktasiyyang berpusatkan pada
pemberianoASI eksklusif dan tidak MPASI. MAL berupa alat
kontrasepsi alamiah untuk menekan ovulasi. Keuntungan
amenorea laktasi yaitu, tidak menggunakan biaya, tidak
menganggu senggama, bayi mendaptkan asupan gizi terbaik
dari ASI.
2) Metode kalender (Pantang berkala)
Cara sederhana dimana ini menghindari hubungan
seksual saat masa subur, metode ini digunakan berdasarkan
pada siklus menstruasi.
3) Coitus interuptus (senggama terputus)
Interupsi hubungan intim adalah cara tradisional seperti
mengeluarkan sperma diluar sebelum mencapai klimaks
orgasme. Keuntungannya adalah tidak mempengaruhi
produksii ASI. Salah satu cara untuk mendukung metode
keluarga berencana lainnya.
b. Metode kontrasepsi sederhana (dengan alat)
1) Kondom
Kondom merupakan alat kontrasepsi berstruktur
cangkang karet, tahan air, elatis, dan pada umumnya
digunakan oleh pria. Kondom tidak hanya mencegah
kehamilan, tetapi juga mencegah penyakit menular seksual
seperti HIV/AIDS.
34
2) Spermasida
Kontrasepsi terbuat dari bahan kimia yang berguna
untuk membunuh sperma yang bertekstur aerosol (busa).
Keuntungan nya tidak menghalangi pemberian ASI, tidak
menganggu kesehatan dan, merupakanopsalah satu
perlindungan dari IMS termasukoHIV/ AIDS.
c. Metode Kontasepsi Hormonal
Metode kontasepsi hormonal terbagi menjadi 2, yaitu dalam
kombinasi (mengandung hormone progesterone dan estrogen)
dan yang hanya berisi progesterone saja.
1) Kontrasepsi Hormonal Kombinasi
a) Suntikan kombinasi
Suntikan yang mengandung hormone progesterone
dan estrogen. cara kerja adalah menekan ovulasi,
membuat lendir serviks menjadi kental sehingga adanya
penurunan aktifitas kerja sperma. Keuntungannya tidak
berpengaruh pada hubungan senggama, mengurangi
jumlah perdarahan dan nyeri haid, serta mencegah
anemia, dan mencegah kehamilan ektopik. Digunakan
untuk ibu menyusui < tinggi.
b) Pil kombinasi
Alat kontrasepsi ini menekan ovulasi, dalam
pencegahan pembuahan (implantasi), dengan cara lendir
serviks akan mengental sehingga sperma sulit
melewatinya. Keuntungan dari alat kontrasepsi ini dapat
35
digunakan sejak remaja hingga menopause, siklusohaid
menjadioteratur, mencegahoanemia. Jika kesuburan
segera kembali pada saat penggunaan pil dihentikan,
membantu mencegah kehamilan ektopik, kanker ovarium,
kelainan jinak pada payudara dan penyakit radang
panggul.
2) Kontrasepsi hormone progestin (Progestin)
a) Suntikan progestin
Suntikan ini berisi hormon progesteron. Ini sangat
aman dan efektif untuk wanita usia subur dan cocok untuk
wanita menyusui. Karena tidak mengandung estrogen, ia
memiliki keuntungan bahwa ia tidak secara serius
mempengaruhi penyakit jantung dan tidak mempengaruhi
produksi ASI.
dalam dosis rendah. Keuntungan tidak menganggu
produksi ASI, tidak mengangguohubungan seksual, dapat
dihentikan setiap saat, tidak menyebabkan peningkatan
tekanan darah, mencegahopkanker endometrium dari
penyakitopradang panggul.
hormonal yang efektif dan efisien dalam bentuk batang
yang ditanam di bawah kulit lengan atas untuk perlindungan
hingga 5 tahun. Implan dapat digunakan untuk wanita usia subur,
wanita menyusui, masa nifas, pasca keguguran, dan orang
dengan riwayat kehamilan ektopik. Siapa yang tidak boleh
menggunakan implan wanita. Alat kontrasepsi hormonal yang
36
efektif dan efesien berbentuk batang yang ditananmkan dibawah
kulit pada bagian lengan atas dalam jangka waktu perlindungan
sampai 5 tahun. Yang boleh menggunakan implant adalah wanita
usia reproduksi, ibu menyusui, pascapersalinan, pasca
keguguran, kanker payudara, tidak dapat menerima perubahan
pola haid (Brahmana, 2021).
d. Metode kontrasepsi Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
AKDR merupakan alat kecil lemvut dengan cara
memasukin kedalam rahim, untuk nilai kegagalan sangat rendah
dan lebih kualitas dalm ektivitasnya dibandingkan dengan metode
kontrasepsi lainnya. Kontarsepsi ini berfungsi sebagai
penghambat sperma masuk ke tubafalopi,menghalangi sperma
dan ovum bertemu. IUD adalah sepotong kecil brbentuk huruf T
dan memiliki kumparan tembaga yang mengandung hormon yang
dimasukkan melalui vagina ke dalam rahim.
Metode ini lama digunakan dalam jangka waktu panjang 5
– 10 tahun, tidak mendorong produksi ASI, tidak mempengaruhi
hubungan senggama, ekspulasi lebih jarang bagi AKDR yang ada
mengandung Cu (Brahmana, 2021).
f. Metode Kontrasepsi Mantap (KONTAP)
Pada metode ini dapat untuk menghentikan kehamilan dalam
jangka waktu selamanya yang di lakukan atas permintaan dari
pihak suami istri (Brahmana, 2021).
1) Tubektomi/ Metode Operatif wanita
37
Pada metode ini dengan memasukan cincin pada
saluran tuba falopi berfungsi sebagai menghalani sperma
bertemu ovum. Keuntungannya menguragi terjadinya
radangan panggul dan kanker endometrium. Kekurangan
pada alat kontrasepsi ini yaitu tidak reversible atau tidak untuk
perempuan dengan infeksi pelvic akut, hamil (Brahmana,
2021).
2) Vasektomi/Metode Operatif Pria (MOP)
Pada metode ini dengan cara kerja dengan memotong
atau mengikat saluran vas deferens sehingga transportasi
sperma terhambat. Dengan efek samping yang dirasakan
seperti rasa nyeri, abses bekas luka operasi, dan hematoma
(Brahmana, 2021).
4. Asuhan Kebidanan KB oleh Bidan pada Masa Pandemi COVID-19
Melakukan pelayanan dengan menggunakan APD level 1 atau
2 saat bertatap muka. Ibu dan pendamping serta petugas wajib
mengenakan masker di masa pandemi Covid-19. Ibu yang ingin
konsultasi kontrasepsi dapat dilakukan secara online (Nurjasmi,
2020).
38