BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lansia atau lanjut usia merupakan suatu proses kehidupan ditandai
dengan penurunan kemampuan berbagai fungsi, organ, dan sistem tubuh
secara fisiologis atau alamiah agar mampu beradaptasi dengan lingkungan.
Semua lansia akan mengalami proses kehidupan yang tidak dapat dihindari
dan akan berjalan secara terus menerus serta berkesinambungan, lanjut usia
yaitu seseorang yang sudah mencapai usia 60 tahun ke atas (Simarmata,
2022).
Pada Lansia banyak yang mengalami kemunduran fisik yaitu penyakit
degeneratif yang mengalami penurunan berbagai fungsi tubuh karena penuaan.
Beberapa jenis penyakit degeneratif paling umum seperti Kanker, Diabetes
Mellitus, Parkinson, Alzheimer, Rheumatoid Arthritis, dan Osteoporosis.
Dimana Diabetes Mellitus menduduki peringkat ke dua untuk penyakit lansia
terbanyak di Indonesia (Kemenkes, 2022).
Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu Penyakit Tidak Menular
(PTM) yang utama di masyarakat. International Diabetes Federation (IDF)
menyatakan bahwa terdapat 463 juta orang pada usia 20-79 tahun di dunia
menderita diabetes mellitus pada tahun 2019 dengan prevalensi sebesar 9,3%
pada total penduduk pada usia yang sama. Prevalensi diabetes diperkirakan
meningkat seiring bertambahan umur penduduk menjadi 19.9% atau 111.2
juta orang pada umur 65-79 tahun. Angka ini diprediksikan akan terus
meningkat mencapai hingga 578 juta ditahun 2030 dan 700 juta ditahun 2045
(IDF, 2021).
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa
prevalensi Diabetes Mellitus berdasarkan pemeriksaan darah pada umur ≥15
tahun pada tahun 2013 terdapat 6,9% kemudian meningkat pada tahun 2018
menjadi 8,5%. Dengan prevalensi tertinggi yaitu 3,4% di DKI, dan terendah di
NTT0,9%, sedangkan di DIY menempati urutan ke-3 dengan prevalensi 3,1%
yaitu sebanyak 747.721 penyandang. Prevalansi Diabetes Melitus di
1
Kota Yogyakarta sebanyak 4,9%, kabupaten Sleman 3,3%, Kabupaten Bantul
3,3%, Kabupaten Kulon Progo 2,8%, dan Kabupaten Gunung Kidul 2,4%.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang telah dilakukan, Diabetes
Melitus juga menempati urutan ke dua dalam 10 besar penyakit yang ada di
Wilayah Kerja Puskesmas Godean 1 tahun 2022. Diperoleh hasil kejadian
Diabetes Mellitus selama 3 bulan terakhir di tahun 2022. Pada bulan Februari
sebanyak 54 jiwa, pada bulan sebanyak 57 jiwa, pada bulan April sebanyak 64
jiwa. Dilihat dari angka tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi kenaikan
kasus penyandang Diabetes Melitus selama 3 bulan terakhir pada tahun 2022
di Wilayah Kerja Puskesmas Godean 1.
Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja
insulin atau kedua-duanya. Kriteria diagnosa Diabetes Mellitus yaitu kadar
glukosa darah sewaktu ≥ 200 mg/dl dengan keluhan klasik, kadar glukosa
darah puasa ≥126 mg/dl, kadar glukosa darah ≥200mg/dl di 2 jam setelah Tes
Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dengan beban glukosa 75 gram (Perkeni,
2021).
Menurut (Hariani, J, Jalil, & Putra, 2020) komplikasi Diabetes Mellitus
merupakan keadaan gawat darurat yang dapat terjadi pada perjalanan penyakit
Diabetes Mellitus. Komplikasi ini terdiri atas komplikasi akut dan komplikasi
kronis. Menurut (IDF, 2021), kadar glukosa darah yang tinggi dalam waktu
yang lama dapat mengarah kepada penyakit yang mempengaruhi jantung,
pembuluh darah, mata, ginjal, saraf, dan gigi.
Peran perawat sangatlah penting yaitu sebagai edukator dalam
memberikan pendidikan kesehatan Diabetes Mellitus kepada pasien agar dapat
memperbaiki kesalahpahaman terkait penyakit tersebut. Kemudian edukasi
yang didapatkan oleh pasien Diabetes Mellitus dapat meningkatkan
kemampuan untuk mencapai, memperoleh pemahaman tentang pengetahuan
kesehatan, dan memahami kondisi mereka. Pemberian edukasi yang dilakukan
oleh perawat dapat memunculkan persepsi yang dapat menentukan perilaku
2
kesehatan seseorang terhadap penyakitnya (Anggraeni, Widayati, &
Sutawardana, 2020).
Terdapat 3 hal utama untuk mengendalikan penyakit Diabetes Mellitus,
yaitu dengan mengubah perilaku, memeriksakan diri secara rutin, serta
memperbaiki tatalaksana dalam penanganan klien dengan cara memperkuat
pelayanan kesehatan primer. Perubahan perilaku yang dimaksud yaitu dengan
tidak merokok, mengonsumsi buah dan sayur, membatasi konsumsi gula yang
berlebih, dan rajin melakukan aktivitas fisik (Kemenkes, 2022).
Aktivitas fisik merupakan salah satu pilar dalam pengendalian DM yang
berperan dalam membantu mengontrol gula darah. Aktivitas fisik dapat
menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin sehingga dapat
membantu dalam pengendalian glukosa darah. Bagi penyandang DM aktivitas
fisik yang dapat dilakukan yaitu aerobic dengan intensitas ringan seperti
berjalan kaki, bersepeda, dan yoga (Perkeni, 2019).
Menurut ACSM (American Collage of Sorts Medicine), aktivitas fisik
yang direkomendasikan untuk Diabetes Mellitus yaitu jalan kaki. Jalan kaki
merupakan salah satu bentuk aktivitas fisik yang disarankan untuk diterapkan
dalam sehari-hari. Hal ini karena membantu otot memompa darah kembali ke
jantung, serta melatih peningkatan sirkulasi, daya tahan otot, dan
keseimbangan dinamis. Namun masyarakat belum tahu tentang penerapan
jalan kaki terhadap penurunan kadar glukosa darah dan jalan kaki belum
diterapkan di masyarakat. Selain itu, dalam penerapannya juga mudah dan
tidak perlu mengeluarkan biaya. Sejalan dengan penelitian (Rizki, Safitri, &
Sari, 2022).
Hal ini didukung oleh penelitian (Dahliana & Juwita, 2021) dengan judul
Efektivitas Latihan Jalan Kaki Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada
Pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Blang Mangat
Kota Lhoksumawe. Terdapat penurunan kadar gula darah terhadap jalan kaki
30 menit pada lansia dengan Diabetes Mellitus Tipe II. Dua keluarga di Dusun
Karanglo yang masuk dalam Wilayah Kerja Puskesmas Godean 1 didapatkan
salah satu anggota menyandang DM. Hasil pemeriksaan gula darah
3
>200mg/dl, terdapat keluhan kesemutan dan kebas pada kaki, serta belum
melakukan pengendalian diabetes secara optimal terutama dalam
melaksanakan aktivitas fisik. Oleh karena itu, pada Karya Ilmiah Akhir Ners
(KIAN) ini penulis menerapkan jalan kaki sebagai upaya dalam pemenuhan
kebutuhan aktivitas fisik kepada dua lansia di Dusun Karanglo yang termasuk
dalam Wilayah Kerja Puskesmas Godean I, didapatkan keluhan mudah
mengantuk, mudah lelah, sering merasa haus, hasil kadar gula darah >200
mg/dL, sering BAK, dan sesekali kesemutan pada tangan dan kaki. Oleh
karena itu, pada Karya Ilmiah Akkhir Ners (KIAN) penulis menerapkan jalan
kaki dalam upaya pemenuhan kebutuhan aktivitas fisik pada lansia dengan
diabetes mellitus tipe II di Wilayah Kerja Puskesmas Godean I.
B. Tujuan Penulisan KIAN
1. Tujuan Umum
Karya ilmiah ini membuat penulis memperoleh pengalaman nyata pada
penerapkan jalan kaki dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas fisik pada
kedua lansia dengan Diabetes Mellitus Tipe II di Wilayah Kerja
Puskesmas Godean I.
2. Tujuan Khusus
a. Menerapkan asuhan keperawatan meliputi pengkajian, diagnosis,
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi keperawatan dengan
penerapan jalan kaki dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas fisik
pada kedua Lansia dengan Diabetes Mellitus Tipe II di Wilayah
Kerja Puskesmas Godean I.
b. Mendokumentasikan Asuhan Keperawatan Gerontik pada dua
lansia dalam Pemenuhan Kebutuhan Aktivitas Fisik pada kedua
Lansia dengan Diabetes Mellitus Tipe II Di Wilayah Kerja
Puskesmas Godean I.
c. Menganalisis pelaksanaan penerapan Jalan kaki dalam Pemenuhan
Kebutuhan Aktivitas Fisik pada kedua Lansia dengan Diabetes
Mellitus Tipe II Di Wilayah Kerja Puskesmas Godean I.
4
d. Mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat pada
pelaksanaan penerapan Jalan Kaki dalam Pemenuhan Kebutuhan
Aktivitas Fisik pada kedua Lansia dengan Diabetes Mellitus Tipe
II Di Wilayah Kerja Puskesmas Godean I.
C. Manfaat KIAN
1. Manfaat Teoritis
Karya Ilmiah ini diharapkan dapat memberikan gambaran untuk
pengembangan kemajuan di bidang ilmu keperawatan gerontik tentang
penerapan jalan kaki dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas fisik pada
lansia dengan diabetes mellitus tipe II.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Lansia
Karya Ilmiah ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan
lansia tentang penerapan jalan kaki serta keluarga mampu
mendukung lansia dalam melakukan Jalan Kaki sebagai terapi non
farmakologis dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas fisik.
b. Bagi Puskesmas
Karya Ilmiah ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi
Puskesmas dalam meningkatkan kebijakan pelayanan kesehatan
kepada masyarakat serta menjadi alternatif intervensi dengan
menerapkan Jalan Kaki dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas fisik
pada lansia dengan Diabetes Mellitus Tipe II di Wilayah Kerja
Puskesmas Godean I.
c. Bagi Perawat
Karya ilmiah ini diharapkan dapat memperbaharui pengetahuan
perawat serta menjadi alternatif intervensi dengan menerapkan
Jalan Kaki dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas fisik pada lansia
dengan Diabetes Mellitus Tipe II.
d. Bagi Institusi Pendidikan
Karya ilmiah ini diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran
dan menambah wawasan bagi mahasiswa khususnya jurusan
5
keperawatan poltekkes kemenkes Yogyakarta tentang penerapan
jalan kaki dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas fisik pada lansia
dengan Diabetes Mellitus Tipe II.
e. Bagi Mahasiswa Keperawatan
Karya Ilmiah Akhir ini diharapkan dapat menjadi tambahan ilmu
serta menjadi bahan referensi materi pembelajaran untuk
mengetahui pengaruh tentang Penerapan Jalan Kaki dalam upaya
pemenuhan kebutuhan aktivitas fisik pada lansia dengan Diabetes
Mellitus Tipe II.
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam Karya Ilmiah Akhir Ners (KIAN) pada Penerapan
Jalan Kaki dalam upaya penurunan kadar glukosa darah ini adalah ilmu
keperawatan gerontik. Asuhan keperawatan diberikan pada lansia Ny. T
dan Ny. J ini dilakukan di Dusun Karanglo dalam Wilayah Kerja
Puskesmas Godean I yang dimulai pada tanggal 20 Februari 2023 – 4
Maret 2023. Diagnosis keperawatan, target luaran dan rencana
keparawatan pada kasus ini berpedoman pada SDKI, SLKI, dan SIKI.