Meningkatkan Kinerja Guru Melalui RPP
Meningkatkan Kinerja Guru Melalui RPP
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya
manusia dan dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat yang ingin
maju. Komponen-komponen sistem pendidikan yang mencakup sumber daya
manusia dapat digolongkan menjadi dua yaitu: tenaga kependidikan guru dan
nonguru. Menurut Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional menyatakan, ”komponen-komponen sistem pendidikan yang
bersifat sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi tenaga pendidik dan
pengelola satuan pendidikan (penilik, pengawas, peneliti dan pengembang
pendidikan). ”Tenaga gurulah yang mendapatkan perhatian lebih banyak di antara
komponen-komponen sistem pendidikan. Besarnya perhatian terhadap guru antara
lain dapat dilihat dari banyaknya kebijakan khusus seperti kenaikan tunjangan
fungsional guru dan sertifikasi guru.
Usaha-usaha untuk mempersiapkan guru menjadi profesional telah banyak
dilakukan. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua guru memiliki kinerja
yang baik dalam melaksanakan tugasnya. “Hal itu ditunjukkan dengan kenyataan
(1) guru sering mengeluh kurikulum yang berubah-ubah, (2) guru sering
mengeluhkan kurikulum yang syarat dengan beban, (3) seringnya siswa mengeluh
dengan cara mengajar guru yang kurang menarik, (4) masih belum dapat
dijaminnya kualitas pendidikan sebagai mana mestinya” (Imron, 2000:5).
Berdasarkan kenyataan begitu berat dan kompleksnya tugas serta peran
guru tersebut, perlu diadakan supervisi atau pembinaan terhadap guru secara terus
menerus untuk meningkatkan kinerjanya. Kinerja guru perlu ditingkatkan agar
usaha membimbing siswa untuk belajar dapat berkembang.
”Proses pengembangan kinerja guru terbentuk dan terjadi dalam kegiatan
belajar mengajar di tempat mereka bekerja. Selain itu kinerja guru dipengaruhi
oleh hasil pembinaan dan supervisi kepala sekolah” (Pidarta, 1992:3). Pada
pelaksanaan Kurikulum 2013 menuntut kemampuan baru pada guru untuk dapat
mengelola proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Tingkat produktivitas
1
sekolah dalam memberikan pelayanan-pelayanan secara efisien kepada pengguna
(peserta didik, masyarakat) akan sangat tergantung pada kualitas gurunya yang
terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan keefektifan mereka dalam
melaksanakan tanggung jawab individual dan kelompok.
Direktorat Pembinaan SD (2008:3) menyatakan ”kualitas pendidikan
sangat ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam mengelola proses
pembelajaran, dan lebih khusus lagi adalah proses pembelajaran yang
terjadi di kelas, mempunyai andil dalam menentukan kualitas pendidikan
konsekuensinya, adalah guru harus mempersiapkan (merencanakan) segala
sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif”.
Hal ini berarti bahwa guru sebagai fasilitator yang mengelola proses
pembelajaran di kelas mempunyai andil dalam menentukan kualitas pendidikan.
Konsekuensinya adalah guru harus mempersiapkan (merencanakan) segala
sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif.
Perencanaan pembelajaran merupakan langkah yang sangat penting
sebelum pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan yang matang diperlukan supaya
pelaksanaan pembelajaran berjalan secara efektif. Perencanaan pembelajaran
dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau beberapa
istilah lain seperti desain pembelajaran, skenario pembelajaran. RPP memuat KD,
indikator yang akan dicapai, materi yang akan dipelajari, metode pembelajaran,
langkah pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar serta penilaian.
Guru harus mampu berperan sebagai desainer (perencana), implementor
(pelaksana), dan evaluator (penilai) kegiatan pembelajaran. Guru merupakan
faktor yang paling dominan karena di tangan gurulah keberhasilan pembelajaran
dapat dicapai. Kualitas mengajar guru secara langsung maupun tidak langsung
dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran pada umumnya. Seorang guru
dikatakan profesional apabila (1) serius melaksanakan tugas profesinya, (2)
bangga dengan tugas profesinya, (3) selalu menjaga dan berupaya
meningkatkan kompetensinya, (4) bekerja dengan sungguh tanpa harus diawasi,
(5) menjaga nama baik profesinya, (6) bersyukur atas imbalan yang diperoleh
dari profesinya.
2
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang 8 Standar Nasional
Pendidikan menyatakan standar proses merupakan salah satu SNP untuk satuan
pendidikan dasar dan menengah yang mencakup: 1) Perencanaan proses
pembelajaran, 2) Pelaksanaan proses pembelajaran, 3) Penilaian hasil
pembelajaran, 4) dan pengawasan proses pembelajaran. Perencanaan
pembelajaran meliputi Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Silabus dan RPP dikembangkan oleh guru pada satuan pendidikan . Guru
pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun Silabus dan RPP secara lengkap
dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif,
serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian
sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Masalah yang terjadi di lapangan masih ditemukan adanya guru (baik di
sekolah negeri maupun swasta) yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuat
dengan alasan ketinggalan di rumah dan bagi guru yang sudah membuat RPP
masih ditemukan adanya guru yang belum melengkapi komponen tujuan
pembelajaran dan penilaian (soal, skor dan kunci jawaban), serta langkah-langkah
kegiatan pembelajarannya masih dangkal. Soal, skor, dan kunci jawaban
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pada komponen penilaian
( penskoran dan kunci jawaban) sebagian besar guru tidak lengkap membuatnya
dengan alasan sudah tahu dan ada di kepala. Sedangkan pada komponen tujuan
pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, dan sumber belajar sebagian
besar guru sudah membuatnya. Masalah yang lain yaitu sebagian besar guru
khususnya di sekolah swasta belum mendapatkan pelatihan pengembangan RPP.
Selama ini guru-guru yang mengajar di sekolah swasta sedikit/jarang
mendapatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai Diklat Peningkatan
Profesionalisme Guru dibandingkan sekolah negeri. Hal ini menyebabkan banyak
guru yang belum tahu dan memahami penyusunan/pembuatan RPP secara
baik/lengkap. Beberapa guru mengadopsi RPP orang lain. Hal ini peneliti ketahui
pada saat mengadakan supervisi akademik (supervisi kunjungan kelas) ke sekolah
binaan. Permasalahan tersebut berpengaruh besar terhadap pelaksanaan proses
pembelajaran.
3
Dengan keadaan demikian, peneliti sebagai pembina sekolah berusaha
untuk memberi bimbingan berkelanjutan pada guru dalam menyusun RPP secara
lengkap sesuai dengan tuntutan pada standar proses dan standar penilaian yang
merupakan bagian dari standar nasional pendidikan. Hal itu juga sesuai dengan
Tupoksi peneliti sebagai pengawas sekolah berdasarkan Permendiknas No.12
Tahun 2007 tentang enam standar kompetensi pengawas sekolah yang salah
satunya adalah supervisi akademik yaitu membina guru.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran harus dibuat agar kegiatan
pembelajaran berjalan sistematis dan mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, biasanya pembelajaran menjadi tidak
terarah. Oleh karena itu, guru harus mampu menyusun RPP dengan lengkap
berdasarkan silabus yang disusunnya. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sangat
penting bagi seorang guru karena merupakan acuan dalam melaksanakan proses
pembelajaran.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang muncul
dapat diidentifikasikan sebagai berikut.
1. Guru banyak yang belum paham dan termotivasi dalam menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran dengan lengkap.
2. Sebagian besar guru belum mendapatkan pelatihan pengembangan
Kurikulum 2013.
3. Ada guru yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuatnya dengan
berbagai alasan.
4. RPP yang dibuat guru komponennya belum lengkap/ tajam khususnya pada
komponen langkah-langkah pembelajaran dan penilaian.
5. Guru banyak yang mengadopsi RPP orang lain.
4
C. Pembatasan Masalah
Dari lima masalah yang diidentifikasikan di atas, masalahnya dibatasi
menjadi:
1. Guru belum paham dalam menyusun RPP.
2. RPP yang dibuat guru belum lengkap.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah di
atas, diajukan rumusan masalah sebagai berikut :
“Apakah dengan bimbingan berkelanjutan akan dapat meningkatkan
kompetensi guru dalam menyusun RPP di SDN 075054 Huno?”
E. Pemecahan Masalah/Tindakan
1. Peneliti mencoba untuk mengambil tindakan dengan memberi penjelasan
dan bimbingan berkelanjutan serta arahan kepada guru tentang
pentingnya seorang guru membuat RPP secara lengkap. Dengan
bimbingan berkelanjutan diharapkan guru termotivasi dalam menyusun
RPP dengan lengkap dan dapat digunakan sebagai acuan atau panduan
dalam mengajar, agar SK dan KD yang terdapat dalam standar isi dapat
tersampaikan semua karena sudah ada dalam RPP yang dibuat oleh guru.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada siklus pertama.
2. Peneliti mencoba untuk melihat proses peningkatan kemampuan guru
dalam menyusun RPP melalui instrument proses yang telah dirancang
yaitu berupa lembar observasi/pengamatan komponen RPP yang memuat
sebelas komponen yaitu: 1) identitas mata pelajaran, 2) kompetensi inti 3)
kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5) muatan
pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, 8) metode pembelajaran,
9) kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar dan 11) penilaian hasil
belajar ( soal, skor dan kunci jawaban ), untuk melihat apakah guru sudah
membuat RPP dengan lengkap. Hal itu nanti akan dibuktikan dengan
melihat RPP yang dibuat oleh guru. Terjadi peningkatan atau tidak pada
siklus ke-2.
5
F. Tujuan Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini bertujuan untuk meningkatkan
kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melalui
bimbingan berkelanjutan di sekolah binaan yaitu SDN 075054 Huno.
G. Manfaat Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini diharapkan dapat memberikan manfaat
1. Manfaat bagi peneliti
a. Meningkatkan kemampuan profesionalisme peneliti untuk melakukan
penelitian tindakan sekolah sesuai dengan permasalahan yang
dihadapi di sekolah binaan peneliti.
b. Meningkatkan kemampuan peneliti dalam menyusun serta menulis
laporan dan artikel ilmiah.
c. Sebagai motivasi bagi peneliti dalam membuat karya tulis ilmiah.
d. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti sebagai syarat
untuk kenaikan golongan.
e. Dengan adanya pengalaman menulis, dapat memberikan bimbingan
kepada teman-teman pengawas dan guru yang akan menulis.
f. Hasil penelitian ini digunakan peneliti sebagai evaluasi terhadap
guru dalam menyusun RPP yang selanjutnya akan digunakan sebagai
bahan pembinaan kepada guru di sekolah binaan.
2. Manfaat bagi sekolah
a. Akan berdampak adanya peningkatan administrasi guru pada KBM
yang lebih lengkap.
b. Dapat meningkatkan kualitas pendidikan .
3. Manfaat bagi guru
a. Dapat meningkatkan kompetensi dalam membuat RPP dengan
lengkap serta menciptakan kesadaran guru tentang tanggung
jawabnya terhadap pelaksanaan tugasnya.
b. Sebagai panduan dan arahan dalam mengajar sehingga apa yang
diinginkan dalam standar isi dapat tersampaikan.
6
4. Manfaat bagi siswa
a. Adanya kesiapan belajar, keseriusan , keingintahuan, dan semangaat
belajar tinggi terhadap pelajaran.
b. Siswa lebih percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran
sehingga tercapai target kompetensinya.
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Guru
Secara etimologi (asal usul kata), istilah ”Guru” berasal dari bahasa India
yang artinya ” orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara”
Shambuan, Republika, ( dalam Suparlan 2005:11).
Kemudian Rabindranath Tagore (dalam Suparlan 2005:11) menggunakan
istilah Shanti Niketan atau rumah damai untuk tempat para guru mengamalkan
tugas mulianya membangun spiritualitas anak-anak bangsa di India (spiritual
intelligence).
Pengertian guru kemudian menjadi semakin luas, tidak hanya terbatas
dalam kegiatan keilmuan yang bersifat kecerdasan spiritual (spiritual intelligence)
dan kecerdasan intelektual (intellectual intelligence), tetapi juga menyangkut
kecerdasan kinestetik jasmaniah (bodily kinesthetic), seperti guru tari, guru olah
raga, guru senam dan guru musik. Dengan demikian, guru dapat diartikan sebagai
orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam
semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek
lainnya.
Poerwadarminta (dalam Suparlan 2005:13) menyatakan, “guru adalah
orang yang kerjanya mengajar.” Dengan definisi ini, guru disamakan dengan
pengajar. Pengertian guru ini hanya menyebutkan satu sisi yaitu sebagai pengajar,
tidak termasuk pengertian guru sebagai pendidik dan pelatih. Selanjutnya
Zakiyah Daradjat (dalam Suparlan 2005:13) menyatakan,” guru adalah pendidik
profesional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk
ikut mendidik anak-anak.”
UU Guru dan Dosen Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 ”Guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta
didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan
dasar, dan pendidikan menengah”.
8
Selanjutnya UU No.20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2 tentang sistem
pendidikan nasional menyatakan, ”pendidik merupakan tenaga profesional yang
bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil
pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada
perguruan tinggi.”
PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan,
”pendidik (guru) harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai
agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah tenaga
pendidik yang profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, dan bertugas
merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.
9
Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai
dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Dalam
Suparlan). Arti lain dari kompetensi adalah spesifikasi dari pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapannya di dalam
pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan kompetensi adalah
sebagai suatu kecakapan untuk melakukan sesuatu pekerjaan berkat pengetahuan,
keterampilan ataupun keahlian yang dimiliki untuk melaksanakan suatu pekerjaan.
Undang-Undang Guru dan Dosan No.14 Tahun 2005 Pasal 8 menyatakan,
”guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat
jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan
pendidikan nasional.” Dari rumusan di atas jelas disebutkan pemilikan
kompetensi oleh setiap guru merupakan syarat yang mutlak harus dipenuhi oleh
guru. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan
menunjukkan kualitas guru yang sebenarnya.
Selanjutnya Pasal 10 menyebutkan empat kompetensi yang harus dimiliki
oleh guru yakni (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3)
kompetensi sosial, dan (4) kompetensi profesional. Kompetensi tersebut akan
terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan, maupun sikap
profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru.
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan standar
Kompetensi guru adalah suatu pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratkan,
ditetapkan dalam bentuk penguasaan perangkat kemampuan yang meliputi
pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan bagi seorang tenaga kependidikan
sehingga layak disebut kompeten. Standar kompetensi guru dipilah ke dalam tiga
komponen yang kait- mengait, yakni: 1) pengelolaan pembelajaran, 2)
pengembangan profesi, dan 3) penguasaan akademik. Komponen pertama
terdiri atas empat kompetensi, komponen kedua memiliki satu kompetensi, dan
komponen ketiga memiliki dua kompetensi. Dengan demikian, ketiga komponen
tersebut secara keseluruhan meliputi tujuh kompetensi dasar, yaitu: 1)
penyusunan rencana pembelajaran, 2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar,
3) penilaian prestasi belajar peserta didik, 4) pelaksanaan tindak lanjut hasil
10
penilaian prestasi belajar peserta didik, 5) pengembangan profesi, 6)
pemahaman wawasan kependidikan, dan 7) penguasaan bahan kajian
akademik ( sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan).
Abdurrahman Mas’ud (dalam Suparlan 2005:99) menyebutkan tiga
kompetensi dasar yang harus dimiliki guru, yakni: (1) menguasai materi atau
bahan ajar, (2) antusiasme, dan ( 3) penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar
dan mendidik.
2. Tujuan dan Manfaat Standar Kompetensi Guru
Depdiknas (2004: 4) tujuan adanya Standar Kompetensi Guru adalah
sebagai jaminan dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru sehingga yang
bersangkutan dapat melakukan tugasnya secara profesional, dapat dibina secara
efektif dan efisien serta dapat melayani pihak yang berkepentingan terhadap
proses pembelajaran, dengan sebaik-baiknya sesuai bidang tugasnya. Adapun
manfaat disusunnya standar kompetensi guru adalah sebagai acuan pelaksanaan
uji kompetensi, penyelenggaraan diklat, dan pembinaan, maupun acuan bagi pihak
yang berkepentingan terhadap kompetensi guru untuk melakukan evaluasi,
pengembangan bahan ajar dan sebagainya bagi tenaga kependidikan.
11
Selanjutnya Oemar Hakim (dalam Kurniawati 2009:74) menyatakan, ”bahwa
perencanaan program pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan
program jangka pendek untuk memperkirakan suatu proyeksi tentang sesuatu
yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran”.
Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan, “Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan
pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang
ditetapkan dalam standar isi dan telah dijabarkan dalam silabus.”
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan
pembelajaran adalah suatu upaya menyusun perencanaan pembelajaran yang akan
dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dalam kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah.
Dalam Kurikulum 2013, guru bersama warga sekolah berupaya menyusun
kurikulum dan perencanaan program pembelajaran, meliputi: program tahunan,
program semester, silabus, dan rencana peleksanaan pembelajaran. Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan
belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar. RPP merupakan
acuan guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk setiap KD. Oleh karena itu,
apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkaitan dengan
aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu KD.
2. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Menurut Permendiknas No. 41 Tahun 2007, komponen RPP terdiri dari
a). identitas mata pelajaran, (b) kompetensi inti, (c) kompetensi dasar, (d)
indikator pencapaian kompetensi, (e) tujuan pembelajaran, (f) materi ajar, (g)
alokasi waktu , (h) metode pembelajaran, (i) kegiatan pembelajaran meliputi:
pendahuluan, inti, penutup. (j) sumber belajar, (k) penilaian hasil belajar meliputi:
soal, skor dan kunci jawaban.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 (2005 pasal 20)
menyatakan bahwa, ”RPP minimal memuat sekurang-kurangnya lima
komponen yang meliputi: (1) tujuan pembelajaran, (2) materi ajar, (3) metode
pengajaran, (4) sumber belajar, dan (5) penilaian hasil belajar.”
12
3. Prinsip-Prinsip Penyusunan RPP
Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan dalam menyusun rencana
pelaksanaan pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) memperhatikan perbedaan individu peserta didik, b) mendorong
partisipasi aktif peserta didik, c) mengembangkan budaya membaca dan
menulis, d) memberikan umpan balik dan tindak lanjut, e) keterkaitan dan
keterpaduan, f) menerapkan teknologi informasi dan komunikasi RPP .
4. Langkah- langkah Menyusun RPP
Langkah-langkah menyusun RPP adalah a) mengisi kolom identitas,
b) Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah
ditetapkan, c) Menentukan KI, KD, dan indikator yang akan digunakan yang
terdapat pada silabus yang telah disusun, d) Merumuskan tujuan pembelajaran
berdasarkan KI, KD dan indikator yang telah ditentukan, e) mengidentifikasi
materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaran yang terdapat dalam silabus,
materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran, f) menentukan
metode pembelajaran yang akan digunakan, g) merumuskan langkah-langkah
yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir. h) menentukan alat/bahan/sumber
belajar yang digunakan, i) menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan,
contoh soal, teknik penskoran dan kunci jawaban
5. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menyusun RPP
Dalam penyusunan RPP perlu memperhatikan hal sebagai berikut: (a) RPP
disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau
lebih, b) tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang harus
di capai oleh peserta didik sesuai dengan kompetenrsi dasar, c) tujuan
pembelajaran dapat mencakupi sejumlah indikator, atau satu tujuan pembelajaran
untuk beberapa indikator, yang penting tujuan pembelajaran harus mengacu pada
pencapaian indikator, d) Kegiatan pembelajaran (langkah-langkah pembelajaran)
dibuat setiap pertemuan, bila dalam satu RPP terdapat 3 kali pertemuan, maka
dalam RPP tersebut terdapat 3 langkah pembelajaran, e). Bila terdapat lebih dari
satu pertemuan untuk indikator yang sama, tidak perlu dibuatkan langkah kegiatan
yang lengkap untuk setiap pertemuannya.
13
D. Bimbingan Berkelanjutan
Pengertian Bimbingan dan berkelanjutan
Frank Parson. 1951 (dalam RM Fatihah) menyatakan, “bimbingan
sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih,
mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam
jabatan yang dipilihnya.” Chiskon 1959 menyatakan, “bimbingan membantu
individu untuk lebih mengenal berbagai informasi tentang dirinya sendiri.”
Berikutnya Bernard dan Fullmer menyatakan, ”bahwa bimbingan
dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri individu.” Dapat dipahami bahwa
bimbingan membantu individu untuk mengaktualisasikan diri dengan
lingkungannya. Menurut Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia,
”bimbingan adalah petunjuk penjelasan cara mengerjakan sesuatu, tuntutan.”
Dari beberapa pengertian bimbingan di atas, dapat ditarik kesimpulan
bahwa bimbingan adalah pemberian bantuan kepada individu secara
berkelanjutan dan sistematis yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah
mendapat latihan khusus untuk itu,dimaksudkan agar individu dapat memahami
dirinya, lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri
dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal
untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat. Menurut Redaksi
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, ”berkelanjutan adalah berlangsung
terus menerus, berkesinambungan.”
Berdasarkan pengertian bimbingan dan berkelanjutan dapat ditarik suatu
kesimpulan bahwa bimbingan berkelanjutan adalah pemberian bantuan yang
diberikan seorang ahli kepada seseorang atau individu secara berkelanjutan
berlangsung secara terus menerus untuk dapat mengembangkan potensi dirinya
secara optimal dan mendapat kemajuan dalam bekerja.
14
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Setting Penelitian
Setting dalam penelitian ini meliputi: tempat penelitian, waktu penelitian,
dan siklus PTS sebagai berikut :
1. Tempat Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di sekolah binaan peneliti
yaitu SD Negeri 075054 Huno.
Pemilihan sekolah tersebut bertujuan untuk meningkatkan
kompetensi guru dalam menyusun rencana perlaksanaan
pembelajaran (RPP) dengan lengkap.
2. Waktu Penelitian
PTS ini dilaksanakan pada semester dua tahun pelajaran 2018/2019
selama kurang lebih satu bulan mulai tanggal 6 Februari sampai dengan
9 Maret 2019.
3. Siklus Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan melalui dua siklus untuk
melihat peningkatan kompetensi guru dalam menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP ).
C. Subjek Penelitian
Yang menjadi subyek dalam PTS ini adalah guru SD Negeri 075054 Huno.
D. Sumber Data
Sumber data dalam PTS ini adalah rencana pelaksanaan pembelajaran yang
sudah dibuat guru.
15
E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1. Teknik
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara,
observasi, dan diskusi.
a. Wawancara dipergunakan untuk mendapatkan data atau informasi
tentang pemahaman guru terhadap RPP.
b. Observasi dipergunakan untuk mengumpulkan data dan mengetahui
kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran dengan lengkap.
c. Diskusi dilakukan antara peneliti dengan guru.
2. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data dalam PTS ini sebagai berikut.
a. Wawancara menggunakan panduan wawancara untuk mengetahui
kemampuan awal yang dimiliki guru tentang Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran.
b. Observasi menggunakan lembar observasi untuk mengetahui
komponen RPP yang telah dibuat dan yang belum dibuat oleh guru .
c. Diskusi dilakukan dengan maksud untuk sharing pendapat antara
peneliti dengan guru.
F. Prosedur Penelitian
Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (School Action
Research), yaitu sebuah penelitian yang merupakan kerjasama antara peneliti dan
guru, dalam meningkatkan kemampuan guru agar menjadi lebih baik dalam
menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran .
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif,
dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat peningkatan yang terjadi
dari siklus ke siklus. ”Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur
pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan
subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat
sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya
(Nawawi, 1985:63). Dengan metode ini peneliti berupaya menjelaskan data yang
16
peneliti kumpulkan melalui komunikasi langsung atau wawancara,
observasi/pengamatan, dan diskusi yang berupa persentase atau angka-angka.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang
dialami oleh guru dalam menyusun RPP. Selanjutnya peneliti memberikan
alternatif atau usaha guna meningkatkan kemampuan guru dalam membuat
rencana pelaksanaan pembelajaran.
Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam Penelitian Tindakan
Sekolah, menurut Sudarsono, F.X, (1999:2) yakni:
1. Rencana: Tindakan apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan
kompetensi guru dalam menyusun RPP secara lengkap.
Solusinya yaitu dengan melakukan : a) wawancara dengan guru
dengan menyiapkan lembar wawancara, b) diskusi dalam
suasana yang menyenangkan dan c) memberikan bimbingan
dalam menyusun RPP secara lengkap.
2. Pelaksanaan: Apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya meningkatkan
kompetensi guru dalam menyusun RPP yang lengkap yaitu
dengan memberikan bimbingan berkelanjutan pada guru
sekolah binaan .
3. Observasi: Peneliti melakukan pengamatan terhadap RPP yang telah
dibuat untuk mengukur seberapa jauh kemampuan guru dalam
menyusun RPP dengan lengkap, hasil atau dampak dari
tindakan yang telah dilaksanakan oleh guru dalam mencapai
sasaran.
Selain itu juga peneliti mencatat hal-hal yang terjadi dalam
pertemuan dan wawancara. Rekaman dari pertemuan dan
wawancara akan digunakan untuk analisis dan komentar
kemudian.
4. Refleksi: Peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau
dampak dari tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil
dari refleksi ini, peneliti bersama guru melaksanakan revisi atau
perbaikan terhadap RPP yang telah disusun agar sesuai dengan
17
rencana awal yang mungkin saja masih bisa sesuai dengan yang
peneliti inginkan.
Prosedur penelitian adalah suatu rangkaian tahap-tahap penelitian dari
awal sampai akhir. Penelitian ini merupakan proses pengkajian sistem berdaur
sebagaimana kerangka berpikir yang dikembangkan oleh Suharsimi Arikunto dkk.
Prosedur ini mencakup tahap-tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3)
pengamatan, dan (4) refleksi. Keempat kegiatan tersebut saling terkait dan secara
urut membentuk sebuah siklus. Penelitian Tindakan Sekolah merupakan
penelitian yang bersiklus, artinya penelitian dilakukan secara berulang dan
berkelanjutan sampai tujuan penelitian dapat tercapai.”
Perencanaan Pelaksanaan
Permasalahan
tindakan I
Pengamatan/
Refleksi I
pengumpulan data I
Permasalahan baru
Perencanaan
hasil refleksi Pelaksanaan
tindakan II
tindakan II
Refleksi II Pengamatan/
pengumpulan data II
Apabila
permasalahan belum
Dilanjutkan ke siklus
terselesaikan
berikutnya
G. Rencana Pelaksanaan
Rencana pelaksanaan dilakukan dalam dua siklus yaitu:
1. Siklus Pertama (Siklus I )
18
a. Peneliti merencanakan tindakan pada siklus I (membuat
format/instrumen wawancara, penilaian RPP, rekapitulasi hasil
penyusunan RPP).
b. Peneliti memberi kesempatan kepada guru untuk mengemukakan
kesulitan atau hambatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran.
c. Peneliti menjelaskan kepada guru tentang pentingnya RPP dibuat
secara lengkap.
d. Peneliti memberikan bimbingan dalam pengembangan RPP.
e. Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah
dibuat guru.
f. Peneliti melakukan revisi atau perbaikan penyusunan rencana
pelaksanaan pembelajaran yang lengkap.
g. Peneliti dan guru melakukan refleksi.
2. Siklus Kedua (Siklus II)
a. Peneliti merencanakan tindakan pada siklus II yang mendasarkan
pada revisi/perbaikan pada siklus I, seperti menugasi guru
menyusun RPP yang kedua, mengumpulkan, dan melakukan
pembimbingan penyusunan RPP.
b. Peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana pada siklus
II.
c. Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah
dibuat guru.
d. Peneliti melakukan perbaikan atau revisi penyusunan RPP.
e. Peneliti dan guru melakukan refleksi.
19
2. Komponen kompetensi inti diharapkan ketercapaiannya 85%.
3. Komponen kompetensi dasar diharapkan ketercapaiannya 85%.
4. Komponen indikator pencapaian kompetensi diharapkan
ketercapaiannya 75%.
5. Komponen tujuan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 75%.
6. Komponen materi pembelajaran diharapkan kecercapaian 75%.
7. Komponen alokasi waktu diharapkan ketercapaiannya 75%.
8. Komponen metode pembelajaran diharapkan kecercapaiannya
75%.
9. Komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran diharapkan
ketercapaiannya 70%.
10. Komponen sumber belajar diharapkan ketercapaiannya 70%.
11. Komponen penilaian (soal, pedoman penskoran, kunci jawaban)
diharapkan ketercapaiannya 75%.
20
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
1. Siklus I (Pertama)
Siklus pertama terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan,
(3) observasi, dan (4) refleksi seperti berikut ini.
1. Perencanaan ( Planning )
a. Membuat lembar wawancara
b. Membuat format/instrumen penilaian RPP
21
c. Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP siklus I dan II
d. Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP dari siklus ke siklus
2. Pelaksanaan (Acting)
Pada saat awal siklus pertama indikator pencapaian hasil dari setiap komponen
RPP belum sesuai/tercapai seperti rencana/keinginan peneliti. Hal itu
dibuktikan dengan masih adanya komponen RPP yang belum dibuat oleh
guru. Sebelas komponen RPP yakni: 1) identitas mata pelajaran, 2)
kompetensi inti, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5)
tujuan pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, 8) metode pembelajaran,
9) langkah-langkah kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar, 11) penilaiaan
hasil belajar ( soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban). Hasil observasi
pada siklus kesatu dapat dideskripsikan berikut ini:
Observasi dilaksanakan Selasa, 31 Agustus 2010, terhadap enam orang guru.
Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang belum melengkapi RPP-
nya baik dengan komponen maupun sub-sub komponen RPP tertentu. Satu
orang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen indikator pencapaian
kompetensi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan
sebagai berikut.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik dan bentuk instrumen.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik, bentuk instumen, soal,
pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
- Dua orang tidak melengkapinya dengan teknik, pedoman penskoran, dan
kunci jawaban.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan soal, pedoman penskoran, dan
kunci jawaban.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan pedoman penskoran dan kunci
jawaban.
Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.
Siklus II (Kedua)
Siklus kedua juga terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2)
pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Hasil observasi pada siklus kedua
dapat dideskripsikan berikut ini:
22
Observasi dilaksanakan Selasa, 21 September 2010, terhadap enam orang guru.
Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang keliru dalam menentukan
kegiatan siswa dalam langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan metode
pembelajaran, serta tidak memilah/ menguraikan materi pembelajaran dalam
sub-sub materi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan
sebagai berikut.
- Satu orang keliru dalam menentukan teknik dan bentuk instrumennya.
- Satu orang keliru dalam menentukan bentuk instrumen berdasarkan teknik
penilaian yang dipilih.
- Dua orang kurang jelas dalam menentukan pedoman penskoran.
- Satu orang tidak menuliskan rumus perolehan nilai siswa.
Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.
B. Pembahasan
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di SD Negeri 075054 Huno
Kabupaten Sambas yang merupakan sekolah binaan peneliti berstatus swasta,
terdiri atas enam guru, dan dilaksanakan dalam dua siklus. Keenam guru tersebut
menunjukkan sikap yang baik dan termotivasi dalam menyusun RPP dengan
lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan pada saat melakukan
wawancara dan bimbingan penyusunan RPP.
Selanjutnya dilihat dari kompetensi guru dalam menyusun RPP, terjadi
peningkatan dari siklus ke siklus.
1. Komponen Identitas Mata Pelajaran
Pada siklus pertama semua guru (enam orang) mencantumkan identitas mata
pelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan identitas mata
pelajaran). Jika dipersentasekan, 84%. Lima orang guru mendapat skor 3
(baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua
keenam guru tersebut mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-
nya. Semuanya mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 100%,
terjadi peningkatan 16% dari siklus I.
2. Komponen Standar Kompetensi
23
Pada siklus pertama semua guru (enam orang) mencantumkan standar
kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan standar
kompetensi). Jika dipersentasekan, 81%. Masing-masing satu orang guru
mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang
guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua keenam guru tersebut
mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya. Dua orang mendapat
skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika
dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.
3. Komponen Kompetensi Dasar
Pada siklus pertama semua guru (enam orang) mencantumkan kompetensi
dasar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan kompetensi dasar). Jika
dipersentasekan, 81%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1, 2,
dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4
(sangat baik). Pada siklus kedua keenam guru tersebut mencantumkan
kompetensi dasar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan
enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 94%,
terjadi peningkatan 13% dari siklus I.
4. Komponen Indikator Pencapaian Kompetensi
Pada siklus pertama tujuh orang guru mencantumkan indikator pencapaian
kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan indikator
pencapaian kompetensi). Sedangkan satu orang tidak
mencantumkan/melengkapinya. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru
masing-masing mendapat skor 1 dan 2 (kurang baik dan cukup baik). Empat
orang guru mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua keenam guru tersebut
mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya. Tujuh
orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik).
Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.
5. Komponen Tujuan Pembelajaran
Pada siklus pertama semua guru (enam orang) mencantumkan tujuan
pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan tujuan
pembelajaran). Jika dipersentasekan, 63%. Satu orang guru mendapat skor 1
(kurang baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan lima orang
24
mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua keenam guru tersebut
mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya. Lima orang mendapat
skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika
dipersentasekan, 84%, terjadi peningkatan 21% dari siklus I.
6. Komponen Materi Ajar
Pada siklus pertama semua guru (enam orang) mencantumkan materi ajar
dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan materi ajar). Jika
dipersentasekan, 66%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 4
(kurang baik dan sangat baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan
empat orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua keenam guru tersebut
mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya. Enam orang mendapat skor 3
(baik) dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan,
81%, terjadi peningkatan 15% dari siklus I.
7. Komponen Alokasi Waktu
Pada siklus pertama semua guru (enam orang) mencantumkan alokasi waktu
dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan alokasi waktu). Semuanya
mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 75%. Pada siklus kedua
keenam guru tersebut mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya. Tiga
orang mendapat skor 3 (baik) dan lima orang mendapat skor 4 (sangat baik).
Jika dipersentasekan, 91%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.
8. Komponen Metode Pembelajaran
Pada siklus pertama semua guru (enam orang) mencantumkan metode
pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan metode
pembelajaran). Jika dipersentasekan, 72%. Dua orang guru mendapat skor 2
(cukup baik), lima orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat
skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua keenam guru tersebut mencantumkan
metode pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup
baik), enam orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4
(sangat baik). Jika dipersentasekan, 75%, terjadi peningkatan 3% dari siklus
I.
9. Komponen Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
25
Pada siklus pertama semua guru (enam orang) mencantumkan langkah-
langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan
langkah-langkah kegiatan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 53%. Tujuh
orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan satu orang mendapat
skor 3 (baik). Pada siklus kedua keenam guru tersebut mencantumkan
langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang
mendapat skor 2 (cukup baik) dan tujuh orang mendapat skor 3 (baik). Jika
dipersentasekan, 72%, terjadi peningkatan 19% dari siklus I.
10. Komponen Sumber Belajar
Pada siklus pertama semua guru (enam orang) mencantumkan sumber belajar
dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan sumber belajar). Jika
dipersentasekan, 66%. Tiga orang guru mendapat skor 2 (cukup baik),
sedangkan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua keenam
guru tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya. Dua orang
mendapat skor 2 (cukup baik) dan enam orang mendapat skor 3 (baik). Jika
dipersentasekan, 69%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.
11. Komponen Penilaian Hasil Belajar
Pada siklus pertama semua guru (enam orang) mencantumkan penilaian hasil
belajar dalam RPP-nya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk
instrumen, soal), pedoman penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap.
Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1
dan 3 (kurang baik dan baik), tiga orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan
satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua keenam guru
tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun ada
guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya.
Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat
baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.
Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan kompetensi guru dalam
menyusun RPP. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69%, pada
siklus II nilai rata-rata komponen RPP 83%, terjadi peningkatan 14%.
26
Untuk mengetahui lebih jelas peningkatan setiap komponen RPP, dapat
dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke
Siklus SD Negeri 075054 Huno (Lampiran 4).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil Penelitian Tinadakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan
sebagai berikut.
1. Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi guru dalam
menyusun RPP dengan lengkap. Guru menunjukkan keseriusan dalam
memahami dan menyusun RPP apalagi setelah mendapatkan bimbingan
pengembangan/penyusunan RPP dari peneliti. Informasi ini peneliti
peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan
bimbingan pengembangan/penyusunan RPP kepada para guru.
2. Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam
menyusun RPP. Hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi /pengamatan
yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kompetensi guru dalam
menyusun RPP dari siklus ke siklus . Pada siklus I nilai rata-rata
27
komponen RPP 69% dan pada siklus II 83%. Jadi, terjadi peningkatan
14% dari siklus I.
B. Saran
Telah terbukti bahwa dengan bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan
motivasi dan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Oleh karena itu,
peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.
1. Motivasi yang sudah tertanam khususnya dalam penyusunan RPP
hendaknya terus dipertahankan dan ditingkatkan/ dikembangkan .
2. RPP yang disusun/dibuat hendaknya mengandung komponen-komponen
RPP secara lengkap dan baik karena RPP merupakan acuan/pedoman
dalam melaksanakan pembelajaran.
3. Dokumen RPP hendaknya dibuat minimal dua rangkap, satu untuk arsip
sekolah dan satunya lagi untuk pegangan guru dalam melaksanakan proses
pembelajaran.
28
DAFTAR PUSTAKA
29
Kemendiknas. 2010. Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta.
2010. Supervisi Akademik. Jakarta.
Kumaidi. 2008. Sistem Sertifikasi ([Link] diakses 10
Agustus 2009).
Nawawi, Hadari. 1985. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Pidarta, Made . 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Sudjana, Nana. 2009. Standar Kompetensi Pengawas Dimensi dan Indikator.
Jakarta : Binamitra Publishing.
Suharjono. 2003. Menyusun Usulan Penelitian. Jakarta: Makalah Disajikan
pada Kegiatan Pelatihan Tehnis Tenaga Fungsional Pengawas.
Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
2006. Guru Sebagai Profesi. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua
30
31