Asuhan Keperawatan pada PDA Anak
Asuhan Keperawatan pada PDA Anak
OLEH
1. TRIVANGKA NIUFLAPU
2. WIWIN K. R. SONBAY
3. YOHANA PENI
KUPANG
2024
Kata pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan berkatnya kami
dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “MAKALAH ASUHAN
KEPERAWATAN PATENT DUCTUS ARTERIOUS” dengan tepat waktu makalah
ini di susun untuk memenuhi tugas yang di berikan. Selain itu, makalah ini bertujuan
menambah wawasan bagi para pembaca.
Penulis
A. Latar belakang
Duktus Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI
pada janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens.
Pada bayi normal duktus tersebut menutup secara fungsional 10 – 15 jam
setelah lahir dan secara anatomis menjadi ligamentum arteriosum pada usia 2 –
3 minggu. Bila tidak menutup disebut Duktus Arteriosus Persisten (Persistent
Ductus Arteriosus : PDA).
Kegagalan penutupan ductus anterior (arteri yg menghubngkn aorta &
arteri pulmonalis) dalam minggu I kelahiran selanjutnya terjadi patensy /
persisten pada pembuluh darah yang terkena aliran darah dari tekanan > tinggi
pada aorta ke tekanan yg > rendah di arteri pulmonal à menyebabkan Left to
Right Shunt.
Penyakit jantung kongenital atau penyakit jantung bawaan adalah
sekumpulan malformasi struktur jantung atau pembuluh darah besar yang telah
ada sejak [Link] jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan
pada bayi dan anak. Apabila tidak dioperasi, kebanyakan akan meninggal
waktu bayi. Apabila penyakit jantung bawaan ditemukan pada orang dewasa,
hal ini menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu melalui seleksi alam, atau
telah mengalami tindakan operasi dini pada usia muda.( Carpenito, Lynda
Juall, 2021).
Ductus Arteriosus adalah saluran yang berasal dr arkus aorta VI pada janin
yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta descenden. Bayi normal
menutup secara fungsional 10-15 jam setelah lahir secara anatomis mjd
ligamentum arteriosum usia 2-3 mgg. Jika tidak menutup PDA.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana konsep medis dari Patent Ductus Arterious (PDA) ?
2. Bagaimana konsep asuhan keperawatan mengenai Patent Ductus Arterious
(PDA) ?
C. Tujuan
Agar mahasiswa lebih mengetahui bagaimana konsep medis maupun
asuhan keperawatan dari Patent Ductus Arterious (PDA) pada anak.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus arteriosus
(arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada minggu pertama
kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah dari aorta yang bertekanan
tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. (Suriadi, Rita Yuliani,
2021,)
Patent Duktus Arteriosus (PDA) adalah tetap terbukanya duktus arteriosus
setelah lahir, yang menyebabkan dialirkannya darah secara langsung dari aorta
(tekanan lebih tinggi) ke dalam arteri pulmoner (tekanan lebih rendah). (Betz
& Sowden, 2019)
Menurut Stanford Children’s Health (2019) patent ductus arteriosus (PDA)
merupakan salah satu masalah jantung yang sering terjadi dalam beberapa minggu
pertama atau beberapa bulan setelah kelahiran. Hal ini ditandai dengan persistensi
hubungan janin normal antara aorta dan arteri pulmonalis yang memungkinkan
darah kaya oksigen (merah) yang harus masuk ke tubuh untuk disirkulasikan
melalui paru-paru. Pada umumnya semua bayi dilahirkan dengan hubungan antara
aorta dan arteri pulmonalis. Sementara saat bayi berkembang di rahim, darah tidak
diperlukan untuk disirkulasikan melalui paru-paru karena oksigen diberikan
melalui plasenta. Selama kehamilan, diperlukan saluran untuk memungkinkan
darah kaya oksigen (merah) mengalir ke paru-paru bayi dan masuk ke dalam
tubuh. Sambungan normal yang dimiliki semua bayi ini disebut duktus arteriosus.
Gambar 1.2 Aliran Darah Pada Jantung Normal dan Duktus Arteriosus
Paten
Gambar 1.3 Perbandingan Tekanan Darah Dan Saturasi Oksigen Pada Jantung
Normal Dan Paten Ductus Arteriosus
(Sumber : Wahab, 2019)
B. Epidemologi
Patent duktus arteriosus (PDA) adalah cacat jantung koengenital kelima yang
paling sering ditemukan sekitar 8-10% diseluruh kasus cacat jantung koengenital.
Di Amerika Serikat, diperkirakan bahwa dari 1000 kelahiran hidup ditemukan 1
kasus PDA. Perbandingan pada anak perempuan dan laki-laki adalah 2:1, dan
kecenderungan kasus meningkat pada saudara penderita yang juga mengalami
PDA. Sekitar 75% PDA terjadi pada bayi yang lahir dengan berat badan <1200
gram dan sering bersamaan dengan penyakit jantung kongenital lain (Wahab,
2019).
Angka kejadian PDA dilaporkan 1 per 2000 kelahiran pada bayi cukup bulan dan
kejadiannya meningkat menjadi 8 per 1000 kelahiran hidup pada bayi kurang
bulan terutama dengan berat lahir rendah. Sedangkan insiden pada bayi cukup
bulan (BCB) lebih kecil yaitu, 1 per 2000 kelahiran. Di Departemen Ilmu
Kesehatan Anak (IKA) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta
insiden PDA pada bayi kurang bulan (BKB) dilaporkan 32%, sedangkan di
Departemen IKA Rumah Sakit [Link] (RSMH) Palembang dilaporkan
insiden pada bayi usia gestasi <37 minggu sebanyak 58,7% (Sari dkk., 2021).
C. Anatomi Fisiologi
Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran
darah pulmonal (arteri pulmonalis) ke aliran darah sistemik (aorta) dalam
masa kehamilan (fetus). Hubungan ini (shunt) diperlukan oleh karena sistem
respirasi fetus yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut. Aliran
darah balik fetus akan bercampur dengan aliran darah bersih dari ibu
(melaluivena umbilikalis) kemudian masuk ke dalam atrium kanan dan
kemudian dipompa oleh ventrikel kanan kembali ke aliran sistemik melalui
duktus arteriosus, dan hanya sebagian yang diteruskan ke paru.
Duktus Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI pada
janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens. Pada
bayi normal duktus tersebut menutup secara fungsional 10 – 15 jam setelah
lahir dan secara anatomis menjadi ligamentum arteriosum pada usia 2 – 3
minggu. (Buku ajar kardiologi FKUI, 2018 )
Dinding duktus arteriosus terutama terdiri dari lapisan otot polos (tunika
media) yang tersusun spiral. Diantara sel-sel otot polos terdapat serat-serat
elastin yang membentuk lapisan yang berfragmen, berbeda dengan aorta yang
memiliki lapisan elastin yang tebal dan tersusun rapat (unfragmented). Sel-sel
otot polos pada duktus arteriosus sensitif terhadap mediator vasodilator
prostaglandin dan vasokonstriktor (pO2). Setelah persalinan terjadi perubahan
sirkulasi dan fisiologis yang dimulai segera setelah eliminasi plasenta dari
neonatus. Adanya perubahan tekanan, sirkulasi dan meningkatnya pO2 akan
menyebabkan penutupan spontan duktus arteriosus dalam waktu 2 minggu.
Diagram skematik pirau aliran darah kiri ke kanan dari aorta desendens
melalui paten ductus arteriosus ke arteri pulmonalis utama.
D. Etiologi
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui
secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh
padapeningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan :
a. Faktor Prenatal :
• Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.
• Ibu alkoholisme, peminum obat penenang atau jamu
• Umur ibu lebih dari 40 tahun.
•Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan
insulin.
b. Faktor Genetik :
• Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
• Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
• Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
• Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.
(Suriadi, Rita Yuliani, 2021)
E. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis PDA pada bayi prematur sering disamarkan oleh
masalah-masalah lain yang berhubungan dengan prematur (misalnya sindrom
gawat nafas).Tanda-tanda kelebihan beban ventrikel tidak terlihat selama 4 – 6
jam sesudah lahir. Bayi dengan PDA kecil mungkin asimptomatik, bayi dengan
PDA lebih besar dapat menunjukkan tanda-tanda gagal jantung kongestif
(CHF) diantaranya :
1. Kadang-kadang terdapat tanda-tanda gagal jantung.
2. Machinery mur-mur persisten (sistolik, kemudian menetap, paling nyata
terdengar di tepi sternum kiri atas).
3. Tekanan nadi besar (water hammer pulses) / Nadi menonjol dan meloncat-
loncat, Tekanan nadi yang lebar (lebih dari 25 mmHg).
4. Takhikardia (denyut apeks lebih dari 170), ujung jari hiperemik.
5. Resiko endokarditis dan obstruksi pembuluh darah pulmonal.
6. Infeksi saluran nafas berulang, mudah lelah.
a. Apnea dan Tachypnea.
b. Nasal flaring dan Retraksi dada.
c. Hipoksemia
Peningkatan kebutuhan ventilator (sehubungan dengan masalah paru).
Jika PDA memiliki lubang yang besar, maka darah dalam jumlah yang besar
akan membanjiri paru-paru. Anak tampak sakit, dengan gejala berupa:
1) Tidak mau menyusu
2) Berat badannya tidak bertambah
3) Berkeringat
4) Kesulitan dalam bernafas
5) Denyut jantung yang cepat.
Timbulnya gejala tersebut menunjukkan telah terjadinya gagal jantung
kongestif, yang seringkali terjadi pada bayi prematur.
(Doenges, M.E.,Moorhouse M.F.,Geissler A.C., 2020,).
F. Patofisiologi
Normalnya duktus arteriosis menutup pada saat kadar prostaglandin yang
di hasilkanplasenta menurun dan kadar oksigen meningkat. Proses penutupan
ini harus segera dimulai ketika bayi menarik nafas yang pertama tetapi bisa
saja memerlukan waktu 3 bulan pada beberapa anak.
Duktus arteriosus adalah pembuluh darah yang menghubungkan aliran
darah pulmonal ke aliran darah sistemik dalam masa kehamilan
(fetus).Hubungan ini (shunt) ini diperlukan oleh karena sistem respirasi fetus
yang belum bekerja di dalam masa kehamilan tersebut. Pada saat lahir
resistensi dalam sirkulasi pulmonal dan sistemik hampir sama, persamaan
tersebut juga pada resistensi dalam aorta dan arteri pulmonalis. Karena tekanan
sistemik melebihi tekanan pulmonal, darah mulai mengalir dari aorta, melintasi
ke duktus ke arteri pulmonalis (left to right shunt) darah kembali bersirkulasi
melalui paru & turun ke atrium kiri ventrikel kiri pengaruh perubahan sirkulasi
meningkatkan kerja jantung bagian kiri meningkatkan kongesti pembuluh
darah pulmonal & memungkinkan resistensi meningkatkan tekanan ventrikel
kanan & hypertrofi. Jika duktus tetap terbuka, darah yang seharusnya mengalir
ke seluruh tubuh akan kembali ke paru-paru sehingga memenuhi pembuluh
paru-paru( Engram, Barbara, 2020,)
a. Mekanisme Sirkulasi Darah Janin
Dalam sistem perdarahan darah janin tidak hanya melibatkan pembuluh
dara saja tetapi juga melibatkan organ tubuh janin, sebagai berikut :
1) Plasenta, merupakan tempat terjadinya pertukaran darah bersih dengan
yang kotor.
2) Umbilikalis, mengalirkan darah dari plasenta ke janin dan dari janin ke
plasenta.
3) Hati, terdapatnya percabangan antara vena porta dengan duktus
venosus aranti.
4) Jantung, terdapatnya foramen ovale yang langsung menyalurkan darah
dari atrium dekstra ke atrium sinistra.
5) Paru- paru, terdapatnya duktus arteriosis bothali.
Mekanisme sirkulasi darah janin
Perdarahan darah janin digambarkan sebagai berikut :
Mula- mula darah yang kaya akan oksigen dana nutrisi yang berasal dari plasenta
masuk ke jaringan melalui vena umbilikus yang bercabang dua setelah memasuki
dinding perut, yaitu :
a. Cabang yang kecil bersatu dengan vena aorta, darahnya beredar dalam hati
dan kemudian diangkut melalui vena hepatika ke vena cava inferior.
b. Cabang satunya lagi duktus venosus arantii yang langsung masuk ke dalam
vena cava inferior. Darah dari vena cava inferior masuk ke atrium kanan dan
sebagian besar darah dari atrium kanan akan dialirkan ke atrium kiri melalui
foramen ovale. Sebagian kecil darah dari atrium kanan masuk ke ventrikel
kanan bersama- sama dengan darah yang berasal dari vena cava superior.
c. Darah dari ventrikel kanan ini dipompakan ke paru- paru yang mengembung
maka darah yang terdapat pada arteri pulmonalis sebagian akan dialirkan ke
aorta melalui duktus arteriosis bothali dan sebagian kecil akan menuju paru-
paru dan selnajutnya ka atrium sinistra melalui vena pulmonalis.
Sementara itu, darah yang terdapat pada atrium kiri kemudian dialirkan
ke ventrikel kiri dan diteruskan ke seluruh tubuh melalui aorta guna
memberikan oksigen dan nutrisi bagi tubuh bawah. Cabang aorta bagian
bawah ini menjadi 2 arteri hipograstika interna yang mempunyai cabang
arteri umbilikalis. Darah yang miskin nutrisi dan banyak karbondioksida
serta sisa metabolisme akan dikembalikan ke plasenta melalui arteri
umbilikalis ke plasenta melalui arteri umbilikalis untuk diteruskan ke ibu.
Faktor genetik
Faktor parental
1. Ayah / Ibu menderita
1. Ibu menderita penyakit infeksi :
penyakit jantung bawaan.
Rubella.
2. Kelainan kromosom
2. Ibu alkoholisme
seperti Sindrom Down.
3. Umur ibu lebih dari 40 tahun
4. Ibu menderita penyakit Diabetes
Kelainan Patent
ductus arteriosus
(PDA)
Shunting/pirau kiri ke
Stimulasi sistem saraf kanan (dari aorta ke Murmur sistolik
simpatik HR arteri pulmonalis)
meningkat
Beban vertikal
Aliran darah ke paru kanan meningkat
meningkat ( hipertensi
pulmonal )
Hipertropi vertikel
kanan
Aliran darah keatrium
kiri meningkat melalui
katup mitral
Aliran darah ke vebtrikel kiri
Takipnea
Respirasi anaerob
Sianosis sentral
meningkat
Mk. Gangguan Sesak napas
pola napas
Pembentukan energi Mk. Gangguan
menurun perfusi jaringan
Sulit makan
dan minum
Kelelahan
Nutrisi ke sel
menurun
Kurang aktif
BB dan BT
menurun
[Link]
aktifitas
A. Pengkajian
I. Identitas (Data Biografi)
PDA sering ditemukan pada neonatus, tapi secara fungsional menutup
pada 24 jam pertama setelah kelahiran. Sedangkan secara anatomic
menutup dalam 4 minggu pertama. Insidens PDA ( Patent Ductus
Arteriosus) lebih sering pada bayi perempuan yaitu 2 x lebih banyak
terjadi daripada bayi laki-laki. Sedangkan pada bayi prematur
diperkirakan insidennya sebesar 15 %. PDA juga bisa diturunkan secara
genetik dari orang tua yang menderita jantung bawaan atau juga bisa
karena kelainan kromosom.
II. Keluhan Utama
Pasien dengan PDA biasanya mengalami keluhan lelah dan sesak napas.
III. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien pada umumnya mengeluh sesak nafas dan merasa cepat
lelah. Pada pasien PDA, biasanya akan diawali dengan tanda-tanda
respiratory distress, dispnea (sesak), takipnea, hipertropi ventrikel kiri,
retraksi dada dan hiposekmia
b. Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji riwayat kesehatan ibu sewaktu mengandung mulai dari gaya hidup
(diet, latihan, olah raga, kebiasaan merokok, kebiasaan minum alcohol,
stress, kebiasaan mengkonsumsi obat-obatan dan jamu, serta riwayat
penyakit kardiovaskuler), perlu juga ditanyakan apakah pasien lahir
prematur atau ibu menderita infeksi dari rubella.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Identifikasi riwayat penyakit keluarga yang dapat menyebabkan PDA.
Faktor kesehatan keluarga yang dikaji mencakup penyakit jantung
congenital, di dalam keluarga apakah ada yang mempunyai riwayat
penyakit genetik/penyakit yang serupa terutama pada klien PDA, karena
PDA juga bisa diturunkan secara genetik dari orang tua yang menderita
penyakit jantung bawaan atau juga bisa karena kelainan kromosom.
IV. Riwayat kehamilan
Kaji faktor resiko prenatal antara lain ibu pengguna obat-obatan, riwayat
merokok, dan minum-minuman alcohol, ibu terpajan oleh radiasi,
penyakit virus maternal (misalnya: influenza, gondongan atau rubella)
atau usia ibu di atas 40 tahun saat hamil.
V. Riwayat Tumbuh Kembang
Biasanya anak cendrung mengalami keterlambatan pertumbuhan karena
fatiq selama makan dan peningkatan kebutuhan kalori sebagai akibat dari
kondisi penyakit. Serta keterbatasan dalam aktivitas mempengaruhi
perkembanganya.
VI. Riwayat Nutrisi
a. Pemberian Asi
Identifikasi kepada keluarga saat pertama kali anak diberikan asi, cara
pemberian ASI (apakah setiap kali menangis atau terjadwal), lama
pemberian asi berapa tahun, Identifikasi apakah keluarga memberikan
anak susu formula.
b. Pola perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai nutrisi saat ini
Identifikasi kepada keluarga pola perubahan nutrisi yang diberikan
kepada anak dari usia 0-4 bulan, 4-12 bulan, dan nutrisi saat ini.
VII. Riwayat Psikososial/perkembangan
a. Kemungkinan mengalami masalah perkembangan
b. Mekanisme koping anak/ keluarga
c. Pengalaman hospitalisasi sebelumnya
d. Tugas perasaan anak terhadap penyakitnya
e. Bagaimana perilaku anak terhadap tindakan yang dilakukan terhadap
dirinya
f. Kebiasaan anak
g. Respon keluarga terhadap penyakit anak
h. Koping keluarga/anak dan penyesuaian keluarga/anak terhadap stress
VIII. Riwayat Aktifitas Bermain
Kaji pola aktifitas bermain dan pergerakkan pada bayi dan anak-anak ,
karena pada penderita kelainan jantung kongenital akan lebih terbatas
aktifitas bermainnya dikarenakan kondisi tubuh yang tidak stabil serta
mudah lelah sehingga pergerakkan bermain anak pun akan terganggu.
IX. Riwayat Spiritual
Identifikasi suport sistem yang ada dalam keluarga dan bagaimana cara
keluarga mengenalkan nilai dan norma agama kepada anak.
X. Reaksi Hospitalisasi
a. Pengalaman keluarga tentang sakit dan rawat inap
Identifikasi orang tua mengenai alasan mereka membawa anaknya ke
rumah sakit, bagaimana perasaan orang tua mengenai kondisi anak
saat ini apakah cemas, takut, khawatir atau biasa saja. Tanyakan juga
kepada orang tua apakah orang tua apakah selalu menemani saat di
rumah sakit.
b. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat inap
Identifikasi perasaan anak saat berada di rumah sakit apakah senang,
cemas, takut dll. Dan apakah anak selalu menangis saat di rumah
sakit.
XI. Pemeriksaan Fisik
A. Pemeriksaan Fisik
1. Kesadaran : Compos mentis
2. Keadaan Umum Klien
Pada anak dengan PDA biasanya lemah dan tidak bergairah.
3. Tanda-tanda Vital
a. Suhu : Tidak normal (normal 36oC- 37o C)
b. Nadi : Takikardi, batas normal (pada bayi : 120-130x/menit);
(pada anak-anak : 80-90x/menit)
c. Respirasi : Dispnea, batas normal (bayi : 30-40x/menit) ; (anak : 20-
30x/menit)
d. TD : Terjadi peningkatan tekanan darah sistolik, batas normal
(bayi : 70-90/50 mmHg); (anak : 80-100/ 60 mmHg)
4. Antropometri
Identifikasi tinggi badan, berat badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas,
lingkar kepala, lingkar dada, lingkar perut dan skin fold pada anak.
5. Sistem Kardiovaskuler
a. Pemeriksaan toraks dan hasil auskultasi
1) Lingkar dada.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan Curah jantung b.d perubahan afterload d.d. tekanan darah
rendah ( D.0008)
2. Perfusi perifer tidak efektif b.d penurunan aliran darah dan atau/vena
d..d. nadi perifer menurun atau tidak teraba (D.0009)
3. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh
tubuh dan suplai oksigen ke sel. d.d. mengeluh lelah (D.0056)
4. Gangguan tumbuh kembang b.d tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat
nutrisi ke jaringan. d.d. pertumbuhan fisik terganggu (D.0056)
5. Defisit nutrisi b.d kelelahan pada saat makan dan meningkatnya
kebutuhan kalori. d.d. berat badan menurun minimal 10 persen di bawah
rentang ideal (D.0019)
6. pola napas tidak efektif [Link] upaya napas ([Link] saat
bernapas,kelemahan otot pernapasan) d.d. penggunaan otot bantu
pernapasan (D.0005)
C. Intervensi Keperawatan
N Diangnosa SLKI SIKI
o keperawatan
1 Penurunan Curah Curah jantung Perawatan jantung (I0275)
jantung b.d . (L.02008) Observasi
Setelah dilakukan Identifikasi tanda dan gejala
tindakan penurunan curah jantung
keperawatan (meliputi dispnea,kelelahan
diharapkan curah edema,ortopnea)
jantung meningkat Identifikasi tanda dan gejala
dengan kriteria sekunder penurunan curah
hasil : jantung (meliputi peningkatan
1. kekuatan nadi berat
perfier badan,hepatomegali,distensi
meningkat(5) vena jugularis,palpitasi)
2. dispnea Monitor tekanan darah
menurun(5) Terapeutik
Posisikan pasien semi fowler
atau fowler dengan kaki
kebawah atau posisi nyaman.
Fasilitasi pasien dengan
keluarga untuk modifikasi gaya
hidup sehat
Berikan dukungan emosional
dan spritual
Berikan oksigen untuk
mempertahankan saturasi
oksigen >9empat%
Edukasi
Anjurkan baraktifitas fisik
sesuai toleransi
Anjurkan beraktifitas fisik
secara bertahap
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian
antiaritmia,jika perlu
D. Implementasi Keperawatan
Proses pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien dengan PDA
membutuhkan pendidikan kesehatan yang komprehensif pada keluarga untuk
bersama – sama melakukan asuhan keperawatan yang sesuai dengan keluhan
dan respon pasien selama melakukan tindakan dan implementasi keperawatan.
E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi didasarkan pada keberhasilan pencapaian melalui catatan
perkembangan dan disesuaikan dengan kriteria hasil yang ditetapkan pada
evaluasi masalah dengan diagnose keperawatan pada kasus PDA masalah
teratasi
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah kelainan jantung kongenital (bawaan)
dimana tidak terdapat penutupan (patensi) duktus arteriosus yang menghubungkan
aorta dan pembuluh darah besar [Link] ini sering ditemui pada bayi
yang lahir prematur namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada bayi cukup
bulan. Duktur arteriosus umumnya menutup 12-24 jam setelah bayi lahir dan
mencapai penutupan sempurna pada usia 3 minggu. Apabila duktus tersebut
masih terbuka, penutupan spontan 75% dapat terjadi sampai bayi berusia 3
[Link] dari 3 bulan, penutupan spontan sangat jarang terjadi.
Gejala dari PDA tergantung dari besarnya kebocoran, apabila Duktus Arteriosus
(DA) kecil mungkin saja tidak menimbulkan gejala, apabila DA sedang sampai
besar dapat mengalami batuk, sering infeksi saluran pernapasan, dan infeksi paru.
Apabila DA besar, maka gagal jantung serta gagal tumbuh dapat [Link]
PDA manapun juga, penutupan baik dengan operasi maupun kateterisasi (tanpa
operasi) sebaiknya dilakukan mempertimbangkan risiko terinfeksinya jantung
akibat kelainan ini. Apabila tetap tidak ditangani, dapat terjadi kemungkinan
risiko kematian 20% pada usia 20 tahun, 42% pada usia 45 tahun, dan 60% pada
usia 60 tahun.
B. SARAN
Diharapkan dapat menjadi acuan bagi pembaca terutama perawat dalam
membuat asuhan keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall, 2021, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC,
Jakarta.
Stanford Children’s Health (2019), : Wahab, 2019)
Doenges, M.E.,Moorhouse M.F.,Geissler A.C., 2020, Rencana Asuhan
Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia
Edisi 1. Jakarta: PPNI
Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria hasil NOC Edisi 9. Alih Bahasa Ns.
Esti Wahuningsih, [Link] dan Ns. Dwi Widiarti, S,Kep. EGC. Jakarta.
Budhi Subekti ; Editor Edisi Bahasa Indonesia, Barrah Bariid, Monica Ester, Dan
Wuri Praptiani. Jakarta; EGC.