0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
161 tayangan12 halaman

Roti: Makanan Utama Pengganti Nasi

Diunggah oleh

mitra sahabatmu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
161 tayangan12 halaman

Roti: Makanan Utama Pengganti Nasi

Diunggah oleh

mitra sahabatmu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH ROTI

Disusun Oleh
Indri Wardhani Alamsyah (9G/11)
Intan Kalisa Mahezayu (9G/12)

SMP NEGERI 1 TASIKMALAYA


Jl. Otto Iskandardinata No.21 Empangsari Kec. Tawang
Tasikmalaya Jawa Barat
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan
Rahmatnya, Saya sebagai peyusunun Makalah ini dapat menyelasaikannya secara
sederhana dan lengkap. Nantinya, makalah ini berguna untuk petunjuk maupun
pedoman bagi pembaca dalam administrasi pebdidikan dalam profesi keguruan.
Harapan saya semoga makalah ini membantu pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca sehingga saya dapt memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga sehingga kedepannya lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
saya miliki sangat kurang, oleh karena itu saya harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
makalah ini.

Tasikmalaya, Januari 2022

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iii
BAB 1 PENDAHULUAN.................................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah....................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................. 1
C. Tujuan................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................... 2
A. Sejarah Roti.......................................................................................... 2
B. Manfaat Roti......................................................................................... 3
C. Nilai Giji dari Roti................................................................................ 4
BAB III METODE.............................................................................................. 6
A. Alat dan Bahan..................................................................................... 6
B. Cara Pembuatan.................................................................................... 6
BAB IV PENUTUP.............................................................................................. 8
A. Kesimpulan........................................................................................... 8
B. Saran dan Kritik.................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pada umumnya orang sering mengkaitkan roti dengan menu sarapan
pagi,padahal roti juga bisa dijadikan makanan utama pengganti nasi. Roti yang
tadinya dianggap sebagai makanan para bangsawan Belanda di zaman penjajahan,
kini sudah jadi makanan pokokkedua setelah nasi. Kandungan gizi produk olahan
dari tepung ini unggul dibandingkan dengan nasi dan mi.
Di dalam ilmu pangan, roti dikelompokkan dalam produk bakery,bersama
dengan cake, donat, biskuit, roll, cracker, dan pie. Di dalam kelompok bakery, roti
merupakan produk yang paling pertama dikenal dan paling populer dijagat raya
hingga saat ini. Sama halnya seperti di belahan dunia lain, budaya makan roti juga
berkembang di Indonesia. Memang, mula-mula hanya pada kelompok masyarakat
tertentu. Itu pun sebatas sebagai pengganti nasi pada saat sarapan pagi, yang
umumnya disajikan bersama-sama dengan telur dadar atau segelas susu.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah roti terjadi?
2. Apa manfaat dari roti?
3. Apa saja kandungan/nilai gizi roti?
4. Bagaimana cara pembuatan roti?

C. Tujuan
1. Mengetahui sejarah roti.
2. Mengetahui manfaat roti.
3. Mengetahui kandungan/nilai gizi roti.
4. Mengetahui cara pembuatan roti.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Roti
Roti adalah salah satu makanan tertua di dunia. Sejarah berawal dari Mesir
dan Mesopotamia. Saat mereka menemukan cara lain untuk menikmati gandum.
Gandum yang awalnya dikonsumsi langsung ternyata dapat dilumat bersama air
sehingga membentuk pasta. Pasta yang dimasak diatas api kemudian mengeras
dan dapat disimpan beberapa hari.
Teknik paling dasar memasak roti seperti ini masih digunakan dibeberapa
negara walau perkembangan teknik dan jenis roti modern semakin beragam. Sebut
saja tortila Mexico, roti canai India, Pita di Timur Tengah, dan lain-lain. Roti-roti
semacam ini dikenal lebih dengan nama istilah roti datar.
Ragi roti ditemukan saat mereka menyimpan sedikit adonan dari hari
sebelumnya dan ditambahkan pada adonan yang baru. Kemudian dikembangkan
pula jenis gandum yang baru yang memungkinkan terciptanya jenis roti yang
baru.
Yunani mengambil teknologi pembuatan roti dari Mesir. Teknologi yang
kemudian menyebar di seluruh Eropa dan menjadikan roti sebagai makanan yang
dianggap penting oleh masyarakatnya. Di Roma roti dan gandum lebih penting
ketimbang daging.
Saat itu warna roti membedakan ‘kelas’ dalam masyarakat. Semakin gelap
warna roti yang dikonsumsi semakin rendah satus sosialnya. Hal ini dikarenakan
tepung putih yang mahal. Tetapi jaman sekarang roti berwarna gelap justru lebih
mahal karena rasanya yang lebih enak dan kandungan gizinya yang lebih tinggi.
Pada prinsipnya roti dibuat dengan cara mencampurkan tepung dan
bahan penyusun lainnya menjadi adonan kemudian difermentasikan dan
dipanggang. Pembuatan roti dapat dibagi menjadi dua bagian utama yaitu proses
pembuatan adonan dan proses pembakaran. Kedua proses utama ini akan
menentukan mutu hasil akhir. Di dalam ilmu pangan, roti dikelompokkan dalam
produk bakery, bersama dengan cake, donat, biskuit, roll, kraker, dan pie. Di

2
dalam kelompok bakery, roti merupakan produk yang paling pertama dikenal dan
paling populer di jagat raya hingga saat ini.
Sama halnya seperti di belahan dunia lain, budaya makan roti
juga berkembang di Indonesia. Memang, mula-mula hanya pada kelompok
masyarakat tertentu. Itupun sebatas sebagai pengganti nasi pada saat sarapan pagi,
yang umumnya disajikan bersama-sama dengan telur dadar atau segelas susu.
Fenomena gandrung roti kemudian menjalar ke kelompok masyarakat sibuk, yaitu
yang harus terburu-buru ke tempat kerja. Dalam kondisi demikian, setangkap roti
isi selai dan mentega atau keju menjadi pilihan sarapan pagi paling praktis, yang
bisadimakan di mobil dalam perjalanan ke kantor.
Seiring dengan berjalannya waktu, roti akhirnya tidak lagi dikaitkan
dengan sarapan pagi, tetapi sudah meluas sebagai menu makanan alternatif
disegala kondisi dan waktu makan. Roti tidak lagi dinikmati di pagi hari, tetapi
juga di siang hari, malam hari, atau sebagai snack di antara dua waktu makan.
Begitulah, roti berkembang menjadi suatu budaya makan di Indonesia, sehingga
pada akhirnya kita dengan mudah mendapatkan roti di hotel,
restoran, warung pojok, pedagang kaki lima, dan juga di kios-kios penjual rokok. Roti
juga dijajakan ke kompleks perumahan dan perkampungan melalui berbagai
sarana angkutan (mobil boks, kereta dorong, atau sepeda) dengan iringan musik
yang sangat khas sebagai penanda bagi setiap merek dan produsen roti.

B. Manfaat Roti
Selain praktis sebagai kudapan sarapan atau cemilan di kala santai, roti
juga memiliki segudang manfaat untuk tubuh Anda. Penelitian menunjukkan 100
gram roti bisa memberikan lebih banyak energi, karbohidrat, protein, kalsium,
fosfor, dan besi dibandingkan 100 gram nasi putih.
Roti dibedakan atas roti tawar dan roti manis. Roti tawar terdiri dari roti
putih dan roti gandum. Sedangkan roti manis memiliki ragam variasi isi, seperti
selai kacang, strawberry, coklat, susu, daging, keju, pandan, dan lainnya.
Roti mengandung zat bermanfaat, seperti vitamin B1, vitamin B2, dan
niasin serta sejumlah mineral berupa zat besi, yodium, kalsium, dan kandungan
mineral lainnya. Tingginya kandungan serat dalam roti gandum juga sangat baik

3
untuk sistem pencernaan. Selain itu, roti gandum juga mengandung antioksidan
dan fitoestrogen yang baik untuk mencegah penyakit jantung dan kanker.
Seperti pembahasan pada artikel sebelumnya mengenai perbedaan roti
putih dan roti gandum, walaupun sama-sama memiliki nilai gizi, roti yang terbuat
dari gandum utuh memang lebih menyehatkan daripada roti putih. Roti gandum
dapat menurunkan kolesterol dan baik dikonsumsi bagi penderita diabetes. Roti
gandum juga memiliki cita rasa yang khas dibanding roti putih.
Perlu Anda ketahui, untuk meningkatkan mutu protein bagi tubuh,
belakangan ini roti juga diperkaya dengan asam lemak tak jenuh ganda (PUFA)
dan kelompok Omega-3 jenis EPA (Eicosa Pentaenoic Acid) dan DHA (Docosa
Hexaenoic Acid). Roti isi tuna merupakan salah satu contoh roti yang diperkaya
Omega-3.
Asam lemak ini membantu perkembangan otak dan menguatkan daya
ingat. Kandungan PUFA dalam roti terbukti meningkatkan kemampuan anak
untuk memusatkan perhatian, memecahkan masalah, dan penglihatan.
Banyaknyamanfaat roti untuk kesehatan, membuat makanan ini cocok dijadikan
hidangan alternatif bagi keluarga Anda.
Agar roti tetap fresh, masukkan roti ke dalam tempat khusus atau bungkus
dengan wax paper dan masukkan dalam lemari pendingin. Jika ingin
mengkonsumsinya lagi, Anda bisa menghangatkannya dalam microwave. Jauhkan
bahan-bahan berbau tajam, seperti bawang, deterjen, atau sabun dari tempat
penyimpanan roti. Manfaat roti untuk kesehatan menjadi lebih nikmat dan bergizi
padat asal tidak dikonsumsi secara berlebihan.

C. Nilai Gizi dari Roti


Roti bukan sekadar makanan yang mudah didapat, tapi juga punya
segudang gizi bermanfaat. Peranan roti kelak, bisa tidak lagi sebatas menu untuk
sarapan, tetapi juga untuk makan siang dan makan malam. Oleh karena itu,
kandungan gizi roti perlu diperhatikan agar dapat memberikan sumbangan gizi
yang berarti.
Secara umum roti dibedakan atas roti tawar dan roti manis. Roti tawar
dapat dibedakan lagi atas roti putih (white bread) dan roti gandum (whole wheat

4
bread). Sedangkan roti manis sendiri dibedakan atas dasar bahan pengisinya,
seperti roti isi pisang, nenas, kelapa, daging sapi, daging ayam, sosis, coklat, keju,
dan lain-lain.
Dibandingkan dengan 100 gram nasi putih atau mi basah, maka 100 gram
roti memberikan energi, karbohidrat, protein, kalsium, fosfor dan besi yang lebih
banyak. Sebagai menu sarapan atau bekal “sekolah” si kecil, biasanya roti
disajikan bersama susu dan telur goreng atau dadar. Menu ini akan meningkatkan
perolehan zat gizi, khususnya protein yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan
anak balita.
Di dalam kelompok bakery , roti merupakan produk yang paling pertama
dikenal dan paling populer hingga saat ini. Komposisi roti tawar umumnya terdiri
dari: 57% tepung terigu; 36% air; 1,6% gula; 1,6% shortening (mentega atau
margarin); 1% tepung susu; 1% garam dapur; 0,8% ragi roti (yeast); 0,8% malt
dan 0,2% garam mineral. Gula, walaupun dalam jumlah sedikit perlu ditambahkan
ke dalam adonan roti. Hal ini karena gula berperan sebagai bagi pertumbuhan ragi
roti (Saccharomyces cereviseae) untuk dapat menghasilkan gas karbondioksida
(CO2) dalam jumlah yang cukup untuk mengembangkan adonan secara optimal.
Selain roti putih, kita juga mengenal roti gandum yang berwarna
kecoklatan. Roti putih dibuat dari tepung terigu kuat, yaitu tepung yang mampu
menyerap air dalam jumlah besar, dapat mencapai konsistensi adonan yang tepat,
serta memiliki elastisitas yang baik untuk menghasilkan roti dengan remah yang
halus, tekstur yang lembut, volume yang besar, dan mengandung 12-13% protein.
Kebanyakan konsumen lebih menyukai roti putih karena beberapa alasan,
seperti: Secara psikologis, roti putih dianggap lebih bersih, murni, bebas cemaran
dan lebih aman. Roti putih memiliki tekstur yang lebih lembut. Harganya lebih
murah.

5
BAB III
METODE

A. Alat dan Bahan


 Alat:
 Timbangan
 Wadah/baskom
 Mixer
 Plastik
 Loyang
 Pemanggang (oven)

 Bahan:
 Tepung roti protein tinggi 250 gram
 Tepung terigu protein sedang 250 gram
 Pasir 100 gram
 Garam 7 gram
 Ragi instan 11 gram
 Susu bubuk 25 gram
 Telur ayam 1 butir
 Air 250 ml
 Shortening/ mentega putih 90 gram
 Susu evaporated secukupnya, untuk olesan
 Wijen putih 2 sendok makan

B. Cara Pembuatan
1. Larutkan garam dan air, sisihkan.
2. Campur semua bahan kecuali air garam, telur, margarin susu evaporated,
dan wijen. Aduk dan ratakan.
3. Pecahkan telur di tengah-tengah campuran adonan kering, tuang
air perlahan sambil diuleni hingga adonan setengah kalis.

6
4. Masukkan margarin, uleni kembali hinga adonan kalis. Bagi adonan
menjadi 16 buah, bulatkan. Tutup adonan dengan plastik, istirahatkan
selama 25 menit.
5. Kempiskan adonan, bentuk bulat untuk burger atau bentuk lonjong untuk
hot dog.
6. Atur dalam loyang bersemir margarin, istirahatkan kembali selama kurang
lebih 40-45 menit.
7. Oles bagian atas roti dengan susu evaporated, taburi dengan wijen untuk
burger.
8. Panggang dalam oven bersuhu 180 derajat celcius selama kurang lebih 20
menit (hingga matang).

7
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian dari makalai ini, dapat disimpulkan bahwa roti adalah
salah satu makanan tertua di dunia. Penelitian menunjukkan 100 gram roti bisa
memberikan lebih banyak energi, karbohidrat, protein, kalsium, fosfor, dan besi
dibandingkan 100 gram nasi putih. Tingginya kandungan serat dalam roti gandum
juga sangat baik untuk sistem pencernaan. Selain itu, roti gandum juga
mengandung antioksidan dan fitoestrogen yang baik untuk mencegah penyakit
jantung dan kanker. Dibandingkan dengan 100 gram nasi putih atau mi basah,
maka 100 gram roti memberikan energi, karbohidrat, protein, kalsium, fosfor dan
besi yang lebih banyak.

B. Saran Dan Kritik


Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan roti
1. Pemilihan bahan yang tepat, seperti pemilihan jenis tepung terigu dan
kualitasnya, yaitu menggunakan jenis tepung terigu dari gandum soft.
2. Penimbangan yang tepat. Hindari menggunakan ukuran rumah tangga atau
kira-kira, karena akan menghasilkan roti yang tidak seragam kualitasnya.
3. Pengadukan yang benar sesuai dengan metode yang dipilih. Hal ini akan
diperoleh hanya dengan menggunakan teknik pengadukan yang benar dan
komposisi yang tepat.
4. Pengolesan yang rata. Untuk roti tertentu ada yang harus oles dengan telur.
5. Pemanggangan. Roti tidak menghendaki penggunaan oven yang terlalu
tinggi temperaturnya. Bila oven tidak menggunakan blower atau jenis
oven molen maka perlu diubah tata letaknya untuk pengeringannya.
6. Pendinginan harus dilakukan untuk memberikan kesempatan penguapan
uap air yang tertinggal, sehingga menghasilkan roti yang tahan lama.
7. Pengepakan. Tahap ini harus dilakukan untuk menghindari udara masuk
kembali ke dalam adonan, selain juga untuk memudahkan pendistribusian.

8
DAFTAR PUSTAKA

Alex. (2013). Makalah Fermentasi Roti, [Online].


Tersedia: [Link]
[Link]. [06 September 2013]
Dafen, Firenda. (2011). Laporan Pembahasan Pembuatan Roti, [Online].
Tersedia: [Link]
Pembuatan-Roti. [06 September 2013]
Sharon. (2013). Manfaat Roti Untuk Kesehatan, [Online].
Tersedia: [Link] [Link]/artikel/19/Nikmat-dan-Bergizi:-
[Link]. [06 September 2013]
Rusli, Valerie Cindy. (2013). Sejarah dan Pembuatan Roti. (Karya Ilmiah).
Bandung: SMA Santo Aloysius II
Khasanah, Arifah Nur. (2011). Manfaat dan Bahaya Roti Bagi Anda, [Online].
Tersedia: [Link]
[Link]. [06 September 2013]

Common questions

Didukung oleh AI

Historically, bread development started from Mesopotamia and Egypt where it was initially just a staple made from ground wheat. Over time, cultures like the Greeks and Romans included other ingredients like yeast, which further influenced the types of bread produced. In Indonesia, although bread initially aligned with European colonial influence, it evolved to become a staple alternative to rice. This shift was aided by its nutritional benefits, as bread provides more energy, protein, vitamins, and minerals compared to rice . Bread's high fiber content, particularly in whole wheat versions, has also boosted its nutritional perception, offering benefits like improved digestion and reduced risks of chronic diseases . Thus, historical developments have substantially shaped the nutritional perception of bread in Indonesia, aligning it as a versatile, nutritious alternative to rice, especially among urban populations .

The commercialization and mechanization of bread production have significantly altered traditional bread-making practices by prioritizing efficiency and uniformity over artisanal techniques. Traditional methods, which relied on hand kneading, long fermentation times, and natural ingredients, have often been replaced with automated systems that can produce bread much faster and in larger quantities . This shift has led to the widespread use of refined ingredients and chemical additives to enhance shelf life and improve texture, often at the cost of flavor and nutritional quality . However, there is a growing movement that values artisanal baking, focusing more on quality and traditional methods, despite the predominance of industrial bread .

The quality and nutritional value of bread are significantly influenced by the selection of ingredients and preparation methods. Using high-protein flour like strong or bread flour can improve the texture and nutritional content, as these flours can absorb more water and contain 12-13% protein . Proper ingredient measurements need to be precise, as incorrect proportions can adversely affect the bread's quality and uniformity . The use of whole ingredients, such as whole wheat flour, can enhance the bread's nutritional profile with additional fiber and nutrients . Furthermore, correct fermentation and baking temperatures are crucial, as they ensure the development of flavor and bread structure .

Bread's global popularity as a staple food is primarily attributed to its versatility, nutritional value, and cultural integration. Historically, bread has been a key food due to its ease of preparation, storage ability, and nutritional content, providing essential carbohydrates, proteins, and micronutrients . Its adaptability in terms of flavor and form allows it to cater to various cultural tastes, such as in the forms of tortillas, pita, or naan . The incorporation of yeast in bread-making greatly improved its texture and flavor, which increased its popularity across different cultures and epochs . In modern societies, bread's ability to transition from a breakfast food to a versatile all-day meal has further cemented its place as a staple worldwide .

Yeast plays a critical role in bread-making through the process of fermentation, where it consumes sugars and produces carbon dioxide and alcohol. The carbon dioxide causes the bread to rise, creating a light and fluffy texture. The activity of yeast also contributes to the development of complex flavors as the dough ferments. Additionally, yeast fermentation helps to improve the nutritional profile of the bread by breaking down certain compounds and increasing the bioavailability of nutrients . The specific yeast strains and fermentation times used can greatly influence the taste, texture, and aroma of the final bread product .

In ancient societies such as Rome, bread consumption was directly influenced by social status. White bread, which was made from fine flour, was expensive and symbolized higher social standing. Consequently, wealthier classes consumed white bread, while the poorer classes consumed darker, coarser bread, which was made from whole grains or less refined flour . This preference was due to the costly processing associated with producing fine white flour which was a luxury . Over time, this association has reversed in some contexts, as darker breads like whole wheat have come to be seen as healthier options because of their richer nutrient content .

Whole wheat bread offers numerous health benefits compared to white bread, primarily because it contains more fiber, antioxidants, and phytoestrogens, which are beneficial in preventing heart disease and certain cancers . Whole wheat bread helps lower cholesterol and is suitable for diabetes management due to its lower glycemic index. It is also enriched with essential nutrients like vitamins B1, B2, and niacin as well as minerals such as iron and calcium . While white bread is often preferred for its softness and taste, it lacks the nutrient density of whole wheat bread, which makes whole wheat a healthier choice .

The nutritional content of bread compared to rice notably differs in terms of macronutrient composition and micronutrient density. Bread generally provides higher levels of protein, vitamins (such as B vitamins), minerals (like calcium and iron), and dietary fiber than rice . This enhanced nutritional profile allows bread to offer more balanced energy release and greater satiety, impacting dietary choices by making it a preferable option for those seeking a nutrient-dense food. Whole grain breads increase these nutritional differences even further by providing additional fiber and phytochemicals beneficial for health . This influences dietary considerations, with bread being favored in diets that emphasize nutrient density and controlled energy intake .

A balanced diet typically includes carbohydrates, proteins, fats, vitamins, minerals, and water. Bread, particularly whole grain varieties, can serve as an integral component of a balanced diet by providing essential carbohydrates, dietary fiber, and nutrients like B vitamins, iron, and magnesium . These nutrients are vital for energy production, digestive health, and overall well-being. Bread complements other food groups by acting as a vehicle for proteins and fats, making it a versatile component in meals across all dayparts. Its inclusion in a diet should be moderated and ideally balanced with fruits, vegetables, proteins, and healthy fats to ensure nutritional adequacy .

Storage conditions greatly influence the shelf life and quality of bread. Bread should be stored in a cool, dry place to prevent mold growth and maintain its freshness. Conditions that are too moist or warm can promote mold, while overly dry environments can cause the bread to become stale. Wrapping bread in materials like wax paper and ensuring it is kept away from strong odors, such as onions or soaps, helps preserve its quality . Refrigeration can extend shelf life but may also cause the bread to dry out faster due to starch retrogradation. For longer storage, bread can be frozen, which halts microbial growth and preserves textural qualities when thawed correctly .

Anda mungkin juga menyukai