0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan16 halaman

Pemahaman dan Penanganan Dermatitis Kontak

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan16 halaman

Pemahaman dan Penanganan Dermatitis Kontak

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINAJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak iritan adalah kelainan kulit akibat kerusakan sel
yang disebabkan oleh bahan iritan melalui kerja kimia atau fisik yang ditandai
dengan munculnya gelaja eritema, bula, skuama, edema, kulit kering. Jika
dermatitis kontak iritan sudah kronis maka akan muncul bekas garutan
serta likenfikasi (Oktari, 2023).
Dermatitis kontak (DK) adalah penyakit inflamasi pada kulir yang
disebabkan oleh bahan kimia atau ion metal yang berefek iritan (toksik),
atau oleh bahan kimia reaktif kecil (kontak alergen) yang memodifikasi
protein dan menginduksi respon imun (didominasi oleh respon sel-T)
(Gunawan et al., 2022)
Dermatitis kontak, dibagi menjadi dua, Dermatitis Kontak Iritan
(DKI) dan Dermatitis Kontak Alergi (DKA), adalah hal yang umum
pada klinik dokter kulit. Manajemen pasien dengan dermatitis
kontak merupakan hal yang menantang tapi bermanfaat bagi pasien dan
dokter terutama jika bahan kimia dapat teridentifikasi dan dihilangkan dari
lingkungan pasien, sehingga pasien dapat sembuh dari penyakit ini
yang mungkin dapat terjadi selama bertahun-tahun (Gunawan et al., 2022).
Komplikasi seperti gatal jangka panjang (kronis) dan kulit bertekstur
(bersisik) dapat muncul sebagai akibat dari Dermatitis Kontak. Suatu kondisi
kulit yang disebut neurodermatitis dimulai dengan adanya bercak kulit yang
teriritasi. Perilaku kebiasaan menggaruk terus menerus pada area tersebut
dapat menyebabkan kulit berubah warna, sehingga kulit lebih tebal dan kasar.
Jika sudah seperti ini kulit akan menjadi basah dan mengeluarkan cairan. jika
hal ini terus berlanjut, Keadaan ini sangat berbahaya untuk memicu bakteri
atau jamur berkembang dan dapat menyebabkan infeksi (Lisa et al., 2022).
Sekitar 70 –80% dermatitis kontak adalah tipe DKI. Dermatitis
iritan merusak integritas kutan dengan lesi epidermal dengan derajat
keparahan berbeda-beda dan reaksi inflamasi dibagian bawah [Link]
dapat disebabkan oleh faktor endogen dan eksogen. Faktor endogen
seperti genetik, jenis kelamin, umur dan atopic. Sedangkan faktor
eksogen seperti bahan kimia iritan, mekanisme gesekan atau
tekanan, lingkungan (suhu dan kelembapan) dan radiasi (ultraviolet).Lama
kontak atau lama paparan dengan bahan kimia yang terjadi akan
meningkatkan terjadinya dermatitis kontak akibat kerja. Semakin lama
kontak dengan bahan kimia, maka peradangan atau iritasi kulit dapat
terjadi, sehingga menimbulkan kelainan kulit. Menurut Chew, pekerja
yang terpapar lebih dari 2 jam perhari akan memberikan peluang
yang lebih besar terkena dermatitis kontak iritan (Gunawan et al., 2022)
Berdasarkan sudut pandang etiologi, terdapat perbedaan antara
alergi umumnya tipe lambat (tipe IV) dan jarang merupakan tipe segera
(tipe I), pada protein dermatitis kontak tipe iritan (non-alergi) dari
dermatitis kontak. Tipe Alergi membentuk sensitisasi pada alergen akhir
atau pada alergen reaksi silang. Terlepas dari berbagai etiologi (tipe IV atau
alergi tipe I atau iritasi kulit), ia berkembang menjadi dermatitis. Tipe
iritan juga diklasifikasikan sebagai toksik, degeneratif, subtoxic, atau
toksik kumulatif. Banyak pasien menunjukkan kombinasi mekanisme iritan
dan alergi dengan adanya efek sinergis (Gunawan et al., 2022)
Dermatitis kontak diawali dengan gatal, diikuti oleh lesi
eritematosa, vesikel, eksudat, karena selalu menggaruk, dan jika telah
sampai ke tahap kronis, penebalan kulit dapat terjadi (likenifikasi).
Kondisi ini diklasifikasikan menjadi akut atau kronik bergantung pada
tipe lesi yang dominan. Membedakan kontak iritan dan alergi
melalui gejala klinisi adalah hal yang sulit. Kedua kondisi memiliki gejala
dan histopatologi yang mirip, dan bahkan bisa muncul secara bersamaan
(Gunawan et al., 2022)
B. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis Kontak Iritan
Faktor-faktor dermatitis kontak ada dua yaitu faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal Seperti umur, pengetahuan, personal hygiene dan
riwayat penyakit kulit (Lawrencesou et al., 2022).
Faktor dermatitis kontak diklasifikasikan menjadi penyebab internal
dan eksternal. Penyebab internal meliputi umur (anak 8 tahun kebawah
maupun lansia sangat mudah teriritasi), jenis kelamin (insiden DKI dominan
pada perempuan), ras (kulit gelap lebih tahan dibanding kulit putih), riwayat
alergi/atopik dan riwayat penyakit. Sedangkan faktor ekternal terdiri dari
bahan iritan, lingkungan (suhu, kelembaban). Adapun faktor lainnya meliputi
masa kerja, tingkat pendidikan, personal hygiene dan pemakaian APD serta
lama kontak dan frekuensi kontak juga mempengaruhi terjadinya dermatitis
kontak (Sholeha et al., 2021)
Kejadian dermatitis dipengaruhi oleh faktor langsung (ukuran molekul,
daya larut dan konsentrasi) dan tidak langsung (suhu, kelembaban, masa kerja,
usia, jenis kelamin, ras, riwayat penyakit sebelumnya, personal hygiene dan
penggunaan APD) dan lama kontak. Berbagai aspek dapat menjadi pemicu
kejadian dermatitis baik faktor internal ataupun eksternal (Wahyu et al., 2020).

C. Penceghan dan Pengobatan Dermatitis Kontak


Kebersihan perorangan pekerja dapat mencegah penyebaran kuman dan
Penyakit, mengurangi paparan dari bahan kimia dan kontaminasi, dan
melakukan pencegahan Alergi kulit, kondisi kulit, dan sensitifitas terhadap
bahan kimia (Wahyu et al., 2020).
1. Pencegahan Dermatitis Kontak
Idealnya, pencegahan adalah pendekatan terbaik untuk kesehatan
kerja. Pencegahan primer dermatitis akibat kerja adalah untuk memastikan
bahwa kulit tetap sehat di lingkungan kerja. Hal ini paling baik dicegah
dengan mengurangi paparan iritasi kulit dan zat alergenik, misalnya
dengan mengganti produk yang menyebabkan iritasi. Informasi tentang
faktor risiko dan perawatan kulit dapat membantu pencegahan pada
kelompok berisiko. Penggunaan sarung tangan yang tepat membantu
melindungi tangan saat tidak mungkin melepas atau mengganti zat
berbahaya. Jenis sarung tangan yang sesuai akan bervariasi, dan layanan
kesehatan kerja perusahaan dapat membantu menemukan jenis yang tepat.
Penggunaan sarung tangan yang tidak tepat dapat menyebabkan dermatitis
pada tangan, baik sebagai akibat dari sensitisasi terhadap bahan sarung
tangan (misalnya tiuram, karbamat, lateks) atau karena lingkungan lembap
yang dihasilkan oleh sarung tangan, yang disebut dermatitis oklusi
(Fathiani et al., 2023).
Sementara itu, pencegahan sekunder adalah diagnosis dan
pengobatan dini untuk menghindari perjalanan kronis dan berulang dari
dermatitis. Pengawas ketenagakerjaan setempat dapat mengunjungi tempat
kerja dan merekomendasikan langkah-langkah pencegahan dermatitis
akibat kerja (Fathiani et al., 2023).
Pencegahan tersier adalah rehabilitasi medis, pekerjaan dan sosial.
Dermatitis pada tangan yang kronis dapat menyebabkan ketidakhadiran
kerja dalam jangka panjang, kebutuhan untuk pelatihan ulang dan/atau
kehilangan kemampuan untuk bekerja. Membuat penyesuaian di tempat
kerja dapat membantu karyawan tetap bekerja. Ketika ini tidak
memungkinkan, pelatihan ulang atau training mungkin diperlukan
(Fathiani et al., 2023).
2. Pengobatan Dermatitis Kontak
Berikut ini merupakan pengobatan dermatitis kontak adalah sebagai
berikut (Harlim, 2020) :
a) Informasi kepada pasien
Informasi yang diberikan kepada pasien dan penguasaan diri
mereka dalam pengobatan, serta tindakan perawatan dan perlindungan,
dapat memberikan kontribusi yang signifikan baik dalam hal
pengobatan dan profilaksis, terutama jika pemicu dermatitis terkait
pekerjaan yang relevan.
b) Kortikosteroid topikal
pengobatan topikal dengan kortikosteroid kelas-II atau -III pada
dermatitis kontak alergi akut tidak diragukan lagi. persiapan yang lebih
kuat hanya diperlukan dalam kasus-kasus luar biasa. Namun, sediaan
yang lebih lemah setidaknya tidak selalu menghasilkan efek yang
dapat dideteksi pada dermatitis kontak iritan.
c) Antagonis Calcineurin
Di Jerman, Austria, dan Swiss, antagonis kalsineurin hanya
disetujui untuk pengobatan dermatitis atopikal. Mereka kurang efektif
dibandingkan kortikosteroid kuat pada dermatitis kontak [Link],
jika diindikasikan untuk penggunaan jangka panjang, antagonis
kalsineurin topikal mungkin bermanfaat pada dermatitis kontak
dibandingkan dengan kortikosteroid, terutama di area sensitif kulit
(misalnya, wajah, area intertriginous), karena mereka tidak membawa
risiko atrofi.
d) Terapi ultraviolet
Sinar ultraviolet gelombang pendek (UVB) dan PUVA (psoralen
plus UV-A) efektif pada dermatitis kronis, terutama pada dermatitis
tangan. Dalam beberapa bentuk dermatitis tangan, penggunaan
psoralen topikal disarankan dalam konteks terapi PUVA untuk
mengintensifkan efek terapi.
e) Terapi sistemik
Perawatan sistemik diperlukan dalam kasus di mana perawatan
lokal tidak cukup efektif. Terapi kortikosteroid sistemik jangka pendek
(dari 3 hari hingga 2 minggu) dapat diindikasikan, terutama untuk
dermatitis kontak yang luas pada kasus akut, parah, dan / atau refrakter
terapi, seringkali pada kasus dermatitis kontak sistemik (dermatitis
kontak hematogen) . Siklosporin saat ini merupakan obat pilihan
pertama dalam pengobatan dermatitis atopik yang parah dan resistan
terhadap terapi pada orang dewasa. Pemberian oral jangka panjang
siklosporin dapat membantu pada pasien dengan dermatitis tangan
yang resistan terhadap terapi. Imunomodulator lain, seperti
azathioprine, mycophenolate mofetil, atau methotrexate juga
digunakan untuk dermatitis atopik (tetapi hanya jika siklosporin tidak
efektif atau kontraindikasi), dan juga dapat dipertimbangkan untuk
dermatitis kontak
f) Proteksi kulit
Perawatan lanjutan dengan bahan pelembab dasar untuk
meningkatkan regenerasi penghalang kulit dan melindungi dari
kekambuhan, dikombinasikan dengan penggunaan krim
pelindung kulit.
D. Lama Kontak
Lama kontak adalah durasi pegawai bersinggungan dengan senyawa
kimia yang diukur dalam satuan jam setiap harinya. Setiap pegawai
mempunyai durasi kontak yang beragam sesuai dengan tanggung jawab
individu. Durasi kontak yang semakin lama dengan materi alergen ataupun
iritan maka peradangan maupun inflamasi mungkin ditimbulkan dan
menyebabkan abnormalitas pada kulit. Durasi kontak berpengaruh atas
kemunculan dermatitis kontak karena durasi bersinggungan dengan senyawa
kimia yang lama akan memenetrasi hingga ke lapisan terdalam dan
meningkatkan risiko dermatitis kontak (Hadi et al., 2021).
Lama kontak mempengaruhi kejadian dermatitis kontak, karena semakin
lama paparan atau berkontak langsung dengan bahan kimia dan semakin
dalam kerusakan sel-sel kulit, semakin tinggi risiko terjadinya
dermatitis kontak (Almaida et al., 2022).
E. Penggunaan APD
Dalam pengendalian penyakit dermatitis dapat dilakukan dengan
mengurangi atau menghilangkan penyebab bahayanya. Namun jika kondisi
tersebut tidak memungkinkan dan sulit dijalankan, dapat dilakukan
pembatasan kontak kulit dengan agen penyebab. Pengendalian dapat
dilakukan dengan pengendalian administratif ataupun penggunaan alat
pelindung diri (APD). Penggunaan alat pelindung diri merupakan bentuk
pengendalian terakhir karena dianggap lebih sederhana (Asfihani, Rosy &
Sudiana, 2022).
Alat Pelindung Diri (APD) merupakan alat yang digunakan oleh pekerja
untuk melindungi dirinya sendiri dari berbagai resiko akibat kecelakaan kerja
dan penyakit akibat kerja. Permenkertrans RI No. 8 Tahun 2010 menyebutkan
Alat Pelindung Diri (APD) merupakan suatu alat yang mempunyai
kemampuan untuk melindungi seseorang dengan cara mengisolasi sebagian
atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat kerja. Penggunaan APD
sebagai upaya menjaga keselamatan dan kesehatan pekerja merupakan
pengendalian yang paling mudah dilakukan. Meskipun penggunaan alat
pelindung diri tidak memberikan perlindungan yang sempurna, namun dalam
penggunaannya dapat meminimalisir tingkat ancaman pada kondisi kesehatan
(Asfihani, Rosy & Sudiana, 2022).
Suatu alat yang wajib dipakai ketika dalam kondisi bekerja dan sesuai
dengan kebutuhan serta jenis pekerjaannya sehingga potensi bahaya yang ada
dapat diminimalisir dan pekerja serta orang dan sekitarnya selamat merupakan
definisi dan tujuan dari pemakaian APD. Tidak lengkapnya APD yang dipakai
merupakan yang menyebabkan gejala penyakit dapat terjadi. Selain kepatuhan
pemakaian APD, kelayakan APD yang digunakan juga dapat menjadi faktor
terjadinya dermatitis. Pihak perusahaan yang menyediakan Alat Pelindung
Diri (APD) harus dalam kondisi bagus dan sesuai standar ketika diberikan
kepada pekerja pada awal bekerja sesuai dengan kebutuhan ketikan melakukan
pekerjaan. Kelayakan APD juga dilihat ketika pekerja melakukan pekerjaan
secara terus menerus, kondisi APD masih dalam kondisi yang sesuai standar
dan bagus untuk digunakan bekerja (Rusdhianata et al., 2023).
F. Personal Hygiene
Personal hygiene merupakan kebiasaan pekerja untuk membersihkan
tangan sebelum dan setelah bekerja, pakaian yang digunakan dicuci setelah
bekerja, dan tidak adanya noda atau cipratan bahan kimia pada
pakaian pekerja (Beno et al., 2022).
Faktor penyebab penyakit dermatitis di masyarakat, antara lain direct
causes (faktor langsung), seperti bahan kimia dan indirect causes (faktor tidak
langsung) seperti riwayat penyakit sebelumnya, usia, lingkungan, dan personal
hygiene. Selain itu, faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit
dermatitis seperti kebiasaan mencuci tangan yang kurang bersih dan tidak
menggunakan sabun, tingkat pendidikan yang menyebabkan kurangnya
kesadaran dalam menjaga kebersihan dan riwayat pekerjaan yang berisiko
(Sari P et al., 2022).
G. Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan mengerti yang ini terjadi
setelah seseorang melakukan penginderaanterhadap suatu obyek tertentu.
Penginderaanterjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besarpengetahuan
manusia diperoleh melalui matadan telinga. Berdasar dua de nisi di atas,
pengetahuan merupakan suatu proses mengingat hal-hal yang telah
dipelajari melalui pancaindera pada suatu bidang tertentu dengan baik
(Meliono, Irmayanti, 2019).
Bila ditinjau dari jenis katanya 'pengetahuan' termasuk dalam kata
benda, yaitu kata benda jadian yang tersusun dari kata dasar 'tahu' dan
memperoleh imbuhan 'pe- an', yang secara singkat memiliki arti 'segala hal
yang berkenaan dengan kegiatan tahu atau mengetahui. Pengertian
pengetahuan mencakup segala kegiatan dengan cara dan sarana yang
digunakan maupun segala hasil yang diperolehnya. Pada hakikatnya
pengetahuan merupakan segenap hasil dari kegiatan mengetahui berkenaan
dengan sesuatu obyek (dapat berupa suatu hal atau peristiwa yang dialami
subyek). Pada dasarnya pengetahuan manusia sebagai hasil kegiatan
mengetahui merupakan khasanah kekayaan mental yang tersimpan dalam
benak pikiran dan benak hati manusia. Pengetahuan yang telah dimiliki oleh
setiap orang tersebut kemudian diungkapkan dan dikomunikasikan satu
sama lain dalam kehidupan bersama, baik melalui bahasa maupun kegiatan;
dan dengan cara demikian orang akan semakin diperkaya pengetahuannya
satu sama lain. Selain tersimpan dalam benak pikir dan atau benak hati
setiap orang, hasil pengetahuan yang diperoleh manusia dapat tersimpan
dalam berbagai sarana, misalnya: buku, kaset, disket, maupun berbagai hasil
karya serta kebiasaan hidup manusia yang dapat diwariskan dan
dikembangkan dari generasi ke generasi berikutnya (Octaviana &
Ramadhani, 2021).
Pengetahuan adalah bagian esensial dari eksistensi manusia, karena
pengetahuan merupakan buah dan aktivitas berfikir yang dilakukan oleh
manusia. Berfikir merupakan diffensia yang memisahkan manusia dari
semua genus lainnya seperti hewan. Pengetahuan dapat berupa pengetahuan
empiris dan rasional. Pengetahuan empiris menekankan pada pengalaman
indrawi dan pengamatan atas segala fakta tertentu. Pengetahuan ini disebut
juga pengetahuan yang bersifat apesteriori. Adapun pengetahuan rasional,
adalah pengetahuan yang didasarkan pada budi pekerti, pengetahuan ini
bersifat apiriori yang tidak menekankan pada pengalaman melainkan
hanya rasio semata (Octaviana & Ramadhani, 2021).
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Faktor- faktor yang mempengaruhi pengetahuan ada tujuh faktor-
faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu (Pariati &
Jumriani, 2021):
1) Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada
orang lain terhadap suatu hal agar mereka dapat memahami. Tidak
dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan seseorang semakin
mudah pula mereka menerima informasi, dan pada akhirnya makin
banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya, jika seseorang
tingkat pendidikannya rendah, akan menghambat perkembangan sikap
seseorang terhadap penerimaan informasi dan nilai-nilai baru
diperkenalkan.
2) Pekerjaan
Lingkungan pekerjaan dapatmenjadikan seseorang memperoleh
pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun tidak
langsung.
3) Umur
Dengan bertambahnya umur seseorang akan terjadi perubahan
pada aspek psikis dan psikologis (mental). Pertumbuhan fisik secara
garis besar ada empat kategori perubahan, yaitu perubahan
ukuran,perubahan proporsi, hilangnya ciri-ciri lama dan timbulnya ciri-
ciri baru.
4) Minat
Sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi
terhadap sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan
menekuni suatu hal dan pada akhirnya diperoleh pengetahuan yang
lebih dalam.
5) Pengalaman
Suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam berinteraksi
dengan lingkungannya. Ada kecenderungan pengalaman yang baik
seseorang akan berusaha untuk melupakan, namun jika pengalaman
terhadap objek tersebut menyenangkan maka secara psikologis akan
timbul kesan yang membekas dalam emosi sehingga menimbulkan
sikap positif.
6) Kebudayaan
Kebudayaan lingkungan sekitar, apabila dalam suatu wilayah
mempunyai budaya untuk menjaga kebersihan lingkungan maka sangat
mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap untuk selalu
menjaga
kebersihan lingkungan.
H. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu berguna untuk mengetahui metode dan hasil
penelitian yang telah dilakukan, penelitian terdahulu dapat digunakan sebagai
titik acuan bagi peneliti dalam menulis dan menganalisis sebuah penelitian.
Tujuan dari penelitian terdahulu sendiri adalah untuk memastikan apakah
langkah yang diambil peneliti benar atau salah, Adapun terdapat beberapa
penelitia terdahulu yang dilakukan oleh:
Tabel. 2.1 Penelitian Terdahulu
N Peneliti/Judul Variabel Metode/ alat Hasil Penelitian
o yang di Analisis
amati
1. Al Hadi Independ Kuantitatif Ada hubungan
(2021) en : Lama analitik dengan antara lama
/Hubungan Kerja, pendekatan cross kontak dengan
Faktor Risiko Masa sectional / kejadian
Kejadian Kerja, chi square dermatitis kontak,
Dermatitis Riwayat ada hubungan
Kontak Tangan Penyakit antara masa kerja
Pada Pekerja Kulit, dengan kejadian
Bengkel Motor Riwayat dermatitis
di Kecamatan Atopi, kontak,tidak ada
Plaju. Personal hubungan antara
Hygiene, riwayat penyakit
Pengguna kulit dengan
an APD kejadian
Depende dermatitis kontak,
n: ada hubungan
kejadian antara riwayat
dermatitis atopi dengan
kontak kejadian
dermatitis kontak,
ada hubungan
antara personal
hygiene dengan
kejadian
dermatitis kontak,
tidak ada
hubungan antara
penggunaan APD
dengan kejadian
dermatitis kontak.
2. Defi, L. dkk/ Independ Metodologi Terdapat
Hubungan en : kuantitatif dan hubungan antara
Personal Dermatiti desain penelitian personal hygiene
Hygiene Dengan s Kontak, observasional dengan kejadian
Kejadian Personal analitik cross- dermatitis kontak
Dermatitis Hygiene, sectional. pada pekerja
Kontak Pada Usia, bengkel di
Pekerja Bengkel Jenis Kabupaten Wonob
Di Kelamin oso.
Kabupaten Won dan APD
osoo Depende
n:
kejadian
dermatitis
kontak
3. Bahri s., Dkk./ Independ Penelitian ini Hasil analisis
Hubungan faktor en : menggunakan menunjukkan
individu dan Umur, desain cross- hubungan yang
personal hygiene masa sectional pada signifikan antara
dengan gejala kerja, seluruh pekerja masa kerja (p-
dermatitis Lama bengkel motor di value=0,026),
kontak Kontak, Kelurahan lama kontak (p-
pada pekerja Personal Jelupang, Kota value=0,001),
bengkel motor di Hygine Tangerang dan personal
wilayah Depende Selatan. Besar hygiene (p-
Kelurahan n: sampel penelitian value=0,049)
Jelupang Kota kejadian ini adalah 42 dengan gejala
Tangerang Selat dermatitis orang dengan dermatitis,
an kontak Teknik total sedangkan tidak
sampling. ada hubungan
Analisis data yang
menggunakan uji signifikan antara
chi-square. usia dengan gejala
dermatitis (p-
value=0,672).

I. Kerangka Teori
Faktor yang Mempengaruhi Dermatitis
Kontak
1. Faktor Endogen
a. Jenis kelamin
b. Riwayat Penyakit Kulit
c. Usia
d. Faktor Genetik
e. Ras
f. Lokasi Kulit
2. Faktor Eksogen
h.
a. Lama
LamaKontak
Kontak
i.b. Penggunaan
Penggunaan (Alat
(Alat Pelindung
Pelindung Diri)
Diri)
APD
APD
Kejadian
c. Personal Hygiene
Dermatitis
d. Masa Kerja
e. Karakteristik Bahan Kimia
f. Karekteristek Paparan
g. Faktor
g. Faktorlain
lainIndividu
Individu(Pengetahuan)
(Pengetahuan)

Gambar 2.1 Kerangka teori Penelitian


Keterangan :
: Tidak diteliti

: Diteliti
DAFTAR PUSTAKA
Almaida, P., Zulfikar Adha, M., & Bahri, S. (2022). Hubungan Personal Hygiene, Lama
Kontak Dan Frekuensi Kontak Dengan Keluhan Dermatitis Kontak Pada Pekerja
Cuci Mobil Di Kecamatan Bojongsari. PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat,
6(2), 1757–1762. [Link]
Asfihani, Rosy, & Sudiana, H. (2022). HUBUNGAN Penggunaan Apd Dengan Keluhan
Dermatitis Pada Pekerja Primering Di Pt. Big Kabupaten Brebes. 16(1), 1–23.
Beno, J., Silen, A. ., & Yanti, M. (2022). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
Dermatitis Kontak Iritan Pada Pekerja Bengkel Motor Di Wilayah Kerja Puskesmas
Loa Bakung Samarinda. In Braz Dent J. (Vol. 33, Issue 1).
Fathiani, R., Oktarika, S., Larasati, T. A., Djausal, A. N., Praktis, P., Kontak, D., & Kerja,
A. (2023). Pendekatan Praktis Dermatitis Kontak Akibat Kerja. Journal of Medula,
13(April), 569–574.
Gunawan, Y. D., Setyawati, T., & Sofyan, A. (2022). Dermatitis Kontak Iritan: Laporan
KasusIrritant Contact Dermatitis: Case Report. Jurnal Medical Profession
(MedPro), 4(2), 119–127.
Hadi, A., Pamudji, R., & Rachmadianty, M. (2021). Hubungan Faktor Risiko Kejadian
Dermatitis Kontak Tangan Pada Pekerja Bengkel Motor Di Kecamatan Plaju.
OKUPASI: Scientific Journal of Occupational Safety & Health, 1(1), 13.
[Link]
Harlim, A. (2020). Buku Ajar : Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Alergi Kulit.
Lawrencesou, D., Febe, C., Masdalena, M., & Nasution, C. R. (2022). Risk Factors for
Contact Dermatitis in Workers At Tofu Factory. Jambura Journal of Health
Sciences and Research, 4(1), 484–492. [Link]
Lisa, R., Santi, T. D., & Fahdhienie, F. (2022). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
Pencegahan Dermatitis Pada Nelayan Di Wilayah Teupin Pukat Kecamatan Meurah
Dua Kabupaten Pidie Jaya Tahun 2022. Journal of Health and Medical Science,
1(4), 41–55. [Link]
Meliono, Irmayanti, dkk. (2019). Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang Disminorhoe
terhadap Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Mengena Disminorhoe di Kelas XI
SMAN 2 Banguntapan Effect of Health Education Level of Knowladge about
Disminorhoe teen Prinvess Disminorhoe on in Class XI SMAN 2. Jurnal, 3(2), 37–
54.
Octaviana, dila rukmi, & Ramadhani, reza aditya. (2021). Hakikat Manusia:
Pengetahuan (Knowladge), Ilmu Pengetahuan (Sains), Filsafat Dan Agama. Jurnal
Tawadhu, 2(2), 143–159.
Oktari, R. I. (2023). Asuhan Keperawatan Keluarga Pada An.A Dengan Dermatitis
Kontak Iritan Di Desa Pulau Terap Wilayah Kerja Upt Puskesmas Kuok. Sehat:
Jurnal Kesehatan …, 2(3).
[Link]
23547%0A[Link]
download/23547/16684
Pariati, P., & Jumriani, J. (2021). Gambaran Pengetahuan Kesehatan Gigi Dengan
Penyuluhan Metode Storytelling Pada Siswa Kelas Iii Dan Iv Sd Inpres Mangasa
Gowa. Media Kesehatan Gigi : Politeknik Kesehatan Makassar, 19(2), 7–13.
[Link]
Rusdhianata, A. P., Widjasena, B., & Wahyuni, I. (2023). Hubungan Usia, Jenis
Pekerjaan, Kepatuhan Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD), dan Kelayakan Alat
Pelindung Diri terhadap Keluhan Dermatitis pada Pekerja Pembuatan Timbangan
PT. A Kabupaten Tangerang. Media Kesehatan Masyarakat Indonesia, 22(3), 204–
208. [Link]
Sari P, Fauziah, M., Lusida, N., Herdiansyah, D., Studi Kesehatan Masyarakat, P.,
Kesehatan Masyarakat, F., Muhammadiyah Jakarta Jl Ahmad Dahlan, U. K., &
Selatan Kode, T. (2022). Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Penyakit
Dermatitis di Wilayah Kerja Puskesmas Poris Gaga Lama Tahun 2021. Jurnal
Kedokteran Dan Kesehatan , 18(1), 25–32. [Link]
Sholeha, M., Ena Sari, R., & Hidayati, F. (2021). Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Gejala Dermatitis Kontak Pada Pemulung Di Tpa Talang Gulo Kota Jambi
Tahun 2021. Electronic Journal Scientific of Environmental Health And Disease,
2(2), 82–93. [Link]
Wahyu, A., Salamah, A. U., Fauziah, A. R., Angaradipta, M. A., & Russeng, S. S. (2020).
Faktor Dominan Yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Kontak Dan Dampaknya
Terhadap Kualitas Hidup Pada Petani Rumput Laut Di Dusun Puntondo Takalar.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Maritim, 1(1).
[Link]

Anda mungkin juga menyukai