Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika
Volume 2, Nomor 2, Desember 2021
Pemahaman Konsep Matematika Melalui Problem Base Learning Pada Peserta Didik
Arka Winardi 1
SMP Negeri 1 Kenduruan, Jl. Raya Utara No. 2 Sidohasri, Kec. Kenduruan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur
623631; arka@gmail.com1
Abstract
Concept understanding is one of the mathematical skills or skills that are expected to be achieved in learning
mathematics, namely by demonstrating an understanding of the mathematical concepts being learned,
explaining the relationship between concepts and applying concepts or algorithms in a flexible, accurate,
efficient and precise manner in problem solving. Mathematical understanding will be meaningful if
mathematics learning is directed at developing the ability of mathematical connections between various
ideas, understanding how mathematical ideas are interrelated so that a comprehensive understanding is built,
and using mathematics in contexts outside of mathematics.
Keywords: understanding, understanding mathematical concepts, learning mathematics
Abstrak
Pemahaman konsep merupakan salah satu kecakapan atau kemahiran matematika yang diharapkan dapat
tercapai dalam belajar matematika yaitu dengan menunjukkan pemahaman konsep matematika yang
dipelajarinya, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes,
akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah. Pemahaman matematik akan bermakna jika
pembelajaran matematika diarahkan pada pengembangan kemampuan koneksi matematik antar berbagai ide,
memahami bagaimana ide-ide matematik saling terkait satu sama lain sehingga terbangun pemahaman
menyeluruh, dan menggunakan matematik dalam konteks di luar matematika.
Kata Kunci : Pemahaman, Pemahaman Konsep Matematik, Pembelajaran Matematika
INFO ARTIKEL
ISSN : 2733-0597 Jejak Artikel
e-ISSN : 2733-0600 Submit Artikel:
DOI : [Link] 2 Juni 2021
Submit Revisi:
24 Oktober 2021
Upload Artikel:
26 Desember 2021
142
143
Postulat: Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika
A. PENDAHULUAN
Matematika adalah mata pelajaran yang diajarkan mulai dari tingkat SD sampai
sekolah tingkat menengah dan perguruan tinggi. Sampai saat ini matematika masih
dianggap mata pelajaran yang sulit, membosankan, bahkan menakutkan. Anggapan ini
mungkin tidak berlebihan selain mempunyai sifat yang abstrak, matematika juga
memerlukan pemahaman konsep yang baik, karena untuk memahami konsep yang baru
diperlukan prasyarat pemahaman konsep sebelumnya. Menurut Anas Sudijono (1996: 50)
pemahaman adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah
sesuatu itu diketahui dan diingat. Seorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu
apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal
itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Dalam mempelajari matematika,
pemahaman konsep matematika sangat penting untuk siswa. Karena konsep matematika
yang satu dengan yang lain berkaitan sehingga untuk mempelajarinya harus runtut dan
berkesinambungan. Jika siswa telah memahami konsep-konsep matematika maka akan
memudahkan siswa dalam mempelajari konsep-konsep matematika berikutnya yang lebih
kompleks.
Dalam laporan hasil belajar siswa aspek-aspek yang dilaporkan kepada orang tua
siswa tentang hasil belajar siswa adalah (1) pemahaman konsep, (2) penalaran dan
komunikasi, (3) pemecahan masalah. Berarti pemahaman konsep disini sangat diperlukan
untuk mengetahui sejauh mana siswa menguasai materi yang telah diajarkan. Pemahaman
konsep tersebut perlu ditanamkan kepada peserta didik sejak dini yaitu sejak anak tersebut
masih duduk dibangku sekolah dasar maupun bagi siswa Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama. Di sana mereka dituntut mengerti tentang definisi, pengertian, cara pemecahan
masalah maupun pengoperasian matematika secara benar, karena akan menjadi bekal dalam
mempelajari matematika pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hampir sebagian besar
siswa justru mengaku bahwa mereka seringkali masih mengalami kesulitan untuk
memahami pokok bahasan matematika yang dijelaskan oleh guru. Sebagian siswa hanya
menghafal rumus tanpa mengetahui alur penyelesaian atau rumus awal yang dijadikan
dasar dari permasalahan yang diberikan. Terlebih lagi jika mereka diberikan soal dengan
sedikit variasi yang membutuhkan penalaran lebih. Hanya beberapa siswa yang mampu
144
Arka Winardi1: Pemahaman Konsep Matematika …
menjawab dengan benar, itupun siswa-siswi yang memang tergolong lebih pandai dari
siswa-siswi yang lain di kelasnya. Selain itu, banyak juga siswa yang mengaku bahwa
ketika guru menjelaskan suatu pokok bahasan yang baru, terkadang mereka lupa akan inti
dari pokok bahasan yang telah dijelaskan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Beberapa kejadian yang telah dijelaskan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman konsep
matematika siswa masih rendah.
Menurut Sanjaya (2009) mengatakan apa yang di maksud pemahaman konsep adalah
kemampuan siswa yang berupa penguasaan sejumlah materi pelajaran, dimana siswa tidak
sekedar mengetahui atau mengingat sejumlah konsep yang dipelajari, tetapi mampu
mengungkapan kembali dalam bentuk lain yang mudah dimengerti, memberikan
interprestasi data dan mampu mengaplikasikan konsep yang sesuai dengan struktur kognitif
yang dimilikinya.
Menurut Sanjaya (2009) indikator yang termuat dalam pemahaman konsep
diantaranya (a) Mampu menerangka secara verbal mengenai apa yang telah dicapainya
(b) Mampu menyajikan situasi matematika kedalam berbagai cara serta mengetahui
perbedaan, (c) Mampu mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi atau tidaknya
persyaratan yang membentuk konsep tersebut, (d) Mampu menerapkan hubungan antara
konsep dan prosedur, (e) Mampu memberikan contoh dan contoh kontra dari konsep yang
dipelajari, (f) Mampu menerapkan konsep secara algoritma.
Warsono dan Hariyanto (2012: 152), menyebutkan bahwa kekuatan dari penerapan
model PBL antara lain: (a). Peserta didik akan terbiasa menghadapi masalah (problem
posing) dan merasa tertantang untuk menyelesaikan masalah, tidak hanya terkait dengan
pembelajaran dalam kelas, tetapi juga menghadapi masalah yang ada dalam kehidupan
sehari-hari (real world). (b). Memupuk solidaritas sosial dengan terbiasa berdiskusi dengan
teman-teman sekelompok kemudian berdiskusi dengan teman-teman sekelasnya. (c). Makin
mengakrabkan guru dengan peserta didik. (d) Karena ada kemungkinan suatu masalah
harus diselesaikan peserta didik melalui eksperimen, hal ini juga akan membiasakan peserta
didik dalam menerapkan metode eksperimen.
B. METODE PENELITIAN
145
Postulat: Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika
Dalam penelitian ini, yang menjadi subjek penelitian adalah peserta didik kelas VIII-
E SMP NEGERI 1 KENDURUAN Kabupaten Tuban semester ganjil tahun pelajaran
2020/2021. Penelitian ini dilaksanakan di SMP NEGERI 1 KENDURUAN Kabupaten
Tuban semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021. Waktu disesuaikan dengan Jadwal PPL
(PPL 1 : Tanggal 7 s.d. 20 Oktober 2020 dan PPL 2 : Tanggal 12 s.d. 16 November 2020)
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam 3 siklus, adapun
tahapan yang akan dilakukan dalam PTK ini menggunakan model yang dikembangkan oleh
Kurt Lewin seperti disebutkan dalam Dikdasmen (2003) bahwa tahap-tahap tersebut atau
biasa disebut siklus (putaran) terdiri dari empat komponen yang meliputi : (a) perencanaan
(planning), (b) aksi/tindakan (acting), (c) observasi (observing), (d) refleksi (reflecting).
Gambar model penelitian tindakan Kurt Lewin (Sanjaya, 2009) sebagai berikut:
Perencanaan
Refleksi Tindakan
Observasi
Gambar 1 Model Penelitian Tindakan Kurt Lewin
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Peneliti merupakan
instrumen penelitian yang utama karena peneliti yangberperan sebagai perencana,
pelaksana, pengamat segala tindakan, penganalisis data sekaligus penyusun laporan hasil
penelitian, (2) Tes digunakan untuk mengetahui seberapa besar pemahaman konsep
matematika siswadalam bentuk soal uraian. (3) Lembar observasi digunakan sebagai
panduan peneliti dan observer dalam mengamati berlangsungnya pembelajaran. (4) Catatan
lapangan berisi segala bentuk aktivitas pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas dan
permasalahan yang dihadapi selama pembelajaran. Catatan lapangan dibuat saat
pembelajaran berlangsung.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini diperoleh dengan cara (1) Observasi :
Data yang dikumpulkan melalui teknik observasi ini berdasarkan pada lembar observasi
yang telah disusun. Observasi dilakukan untuk mengetahui segala aktivitas yang terjadi
146
Arka Winardi1: Pemahaman Konsep Matematika …
selama proses belajar mengajar berlangsung. Peneliti mencatat segala kegiatan yang terjadi
selama proses belajar mengajar pada lembar observasi yang telah disiapkan. (2) Tes, Tes
dalam penelitian ini terdiri atas tes siklus 1 dan tes siklus lanjutan yang diberikan pada
setiap akhir siklus. (3) Dokumentasi, dokumentasi digunakan untuk memperkuat data yang
diperoleh dalam observasi. Dokumentasi berupa dokumen tugas siswa, dan daftar nilai
siswa, serta dokumentasi yang berupa video pelaksanaan pembelajaran maupun aktivitas
siswa saat proses pembelajaran dan diskusi di google classrom.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1)
Analisis Data Observasi, Data observasi merupakan data yang didapat dari hasil observasi
tentang keterlaksanaan pembelajaran matematika online dengan zoom, google classroom,
maupun WA melalui pendekatan problem base learning berdasar lembar observasi. Pada
setiap pertemuan, peneliti melakukan observasi tentang keterlaksanaan pembelajaran model
pembelajaran Problem Based Learning. Data hasil observasi akan dianalisis memilih angka
1, 2, 3, atau 4 untuk memberikan skor pada tiap Aspek yang Dinilai (angka 4 menunjukkan
nilai terbaik dari tiap aspek) yang kemudian dihitung presentasenya:
Selanjutnya nilai observasi tiap siklus lalu dikategorikan sesuai dengan kualifikasi
sebagai berikut:
Analisis Data Hasil Tes Hasil pengerjaan tes pada siklus 1 dan lanjutan dianalisa
dengan langkah- langkah sebagai berikut: (1) Mengklasifikasikan setiap butir soal tes
tertulis sesuai dengan indikator pemahaman konsep yang telah ditetapkan. (b) Menentukan
skor hasil klasifikasi dari langkah di atas. Adapun kriteria penilaian kemampuan pemahaman
konsep matematika dengan rentang 0 – 4
Menghitung rata-rata pencapaian siswa tiap indikator pemahaman konsep yang telah
ditetapkan dengan rumus sebagai berikut:
Menghitung persentase pencapaian seluruh siswa untuk setiap indikator pemahaman
konsep dengan rumus sebagai berikut:
147
Postulat: Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika
dengan n adalah indikator ke-n
Menghitung rata-rata persentase pemahaman konsep siswa dengan rumus sebagai
berikut :
∑
Tabel 1 Kualifikasi hasil Nilai observasi
Rentang Skor Kriteria
66,68 ≤ x ≤ 100 Tinggi
33,34 ≤ x ≤ 66,67 Sedang
0 ≤ x ≤ 33,33 Rendah
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah (1) Nilai rata-rata persentase
pemahaman konsep berdasarkan nilai tes akhir siklus mengalami peningkatan dari siklus 1
ke siklus berikutnya dan rata-rata tersebut tergolong dalam kategori tinggi. (2)
Keterlaksanaan pembelajaran matematika melalui model pembelajaran Problem Base
Learning (PBL) termasuk kategori tinggi. (3) Persentase ketuntasan belajar siswa
mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus berikutnya dengan Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) sebesar 70 (KKM Matematika kelas VIII Sekolah).
C. HASIL PENELITIAN
Secara umum keterlaksanaan pembelajaran matematika melalui pendekatan Problem-
Based Learning (PBL) pada siklus 1, siklus 2, dan siklus 3 sudah sesuai dengan tahapan
pada pedoman observasi pembelajaran yang sudah disusun peneliti sebelumnya. Rata-rata
persentase keterlaksanaan pembelajaran pada siklus 1 adalah sebesar 88,3% dan
berdasarkan pedoman kualifikasi persentase tersebut tergolong dalam kategori tinggi.
Persentase tersebut meningkat pada siklus II menjadi sebesar 90,0% dan dan berdasarkan
pedoman kualifikasi persentase tersebut tergolong dalam kategori tinggi. Persentase
tersebut meningkat lagi pada siklus III menjadi sebesar 90,9% dan dan berdasarkan
148
Arka Winardi1: Pemahaman Konsep Matematika …
pedoman kualifikasi persentase tersebut tergolong dalam kategori tinggi. Berikut penyajian
datanya :
100
90 74,81
80 68,81 71
70
60 Siklus I
50
40 Siklus II
30
20 Siklus III
10
0
Rata-rata pemahaman
konsep
Gambar 2. Perbandingan Pemahaman konsep Siklus I, Siklus II, dan Siklus 3
100
80
60
40 Siklus I
20
Siklus II
0
Gambar 3. Perbandingan Pemahaman konsep Siklus I. Siklus II, dan Siklus III setiap
indikator
100
90
77,4 79,9
80 73,2
70
60 Siklus I
50
Siklus II
40
Siklus III
30
20
10
0
Rata-rata pemahaman konsep
149
Postulat: Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika
Gambar 4. Perbandingan Rata-rata Pemahaman konsep Siklus I. Siklus II, dan Siklus III
D. KESIMPULAN, DISKUSI DAN REKOMENDASI
Hasil perbaikan yang dilakukan pada beberapa langkah pembelajaran melalui
pendekatan Problem-Based Learning (PBL) di siklus 1 dapat meningkatkan pemahaman
konsep matematika siswa pada siklus berikutnya. Hal ini berdasarkan data yang diperoleh
baik melalui hasil tes siklus 1 dan tes siklus 2. Berdasarkan analisis hasil tes siklus 1, tes
siklus 2, dan tes siklus 3 persentase pemahaman konsep matematika siswa mengalami
peningkatan sebesar 4,2% yaitu pada siklus 1 sebesar 73,2% dan meningkat menjadi 77,4%
pada siklus 2, dan meningkat lagi 2,5% yaitu pada siklus 3 sebesar 79,9%. Berdasarkan
pedoman kualifikasi pada tabel 3.4 persentase tersebut tergolong dalam kategori tinggi.
Keterlaksanaan pembelajaran matematika melalui model pembelajaran Problem Base
Learning (PBL) termasuk kategori tinggi pada tiap siklusnya yaitu 88,3%, pada siklus 1,
90,0% pada siklus 2, dan 90, 9% pada siklus [Link] ketuntasn belajar siswa juga
mengalami peningkatan. Pada siklus 1, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 70
sebesar 68,8% dari jumlah siswa, sedangkan pada siklus 3 mencapai Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) atau sebesar 77,8% dari jumlah siswa. Berdasarkan hasil analisis serta
uraian di atas dan berdasarkan indikator keberhasilan, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran matematika melalui pendekatan Problem-Based Learning (PBL) dapat
meningkatkan pemahaman konsep matematika sehingga indikator keberhasilan yang telah
ditetapkan terpenuhi maka tindakan sudah dapat dihentikan.
E. DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, F., Widihastrini, F., & Widhanarto, G. P. (2019). IBM Guru Sekolah Dasar
melalui Pelatihan Peningkatan Keterampilan Menulis Artikel Penelitian Tindakan
Kelas. Jurnal Abdimas, 22(2), 137–142.
Arikunto, S. (2009). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Darmawijoyo & Mulyono, B. (2012). Pengembangan lembar kerja siswa pokok bahasan
geometri bidang sekolah menengah pertama (smp) berbasis apos menggunakan model
van hiele. Jurusan pendidikan mipa fkip unsri. (unpublished).
Fajriah, N., & Sari, D. (2016). Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematis Siswa pada
Materi SPLDV melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share di
150
Arka Winardi1: Pemahaman Konsep Matematika …
Kelas VIII SMP. EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika, 4(1), 68–75.
[Link]
Gunantara, S. R. (2014). Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk
meningkatkan kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Peserta didik Kelas V.
Hadi, S., & Radiyatul, R. (2014). Metode Pemecahan Masalah Menurut Polya untuk
Mengembangkan Kemampuan Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematis di
Sekolah Menengah Pertama. EDU-MAT: Jurnal Pendidikan Matematika, 2(1), 53–
61. [Link] Hutagalung, R. (2017). Peningkatan
kemampuan pemahaman konsep matematis siswa melalui pembelajaran guided
discovery berbasis budaya toba di smp negeri 1tukka. Journal of Mathematics
Education and Science, 2(2), 70–77.
Hardiyanto. (2010). Studi Tentang Kesalahan Pemahaman Konsep Matematika Bagi Siswa
Kelas Viii Semester I Smp Se- Kecamatan Maritengngae Kabupaten Sidrap Provinsi
Sulawesi Selatan Tahun Ajaran 2009/2010.
Hosnan. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21.
Bogor : Ghalia Indonesia.
Hudojo, H. (1981). Teori Belajar untuk Pengajaran Matematika. Jakarta: Proyek
Pengembangan Pendidikan Guru.
Indarwati, W. (2014). peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika melalui
penerapan PBL untuk peserta didik kelas V SD.
Kusuma, W. (2011). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Indeks
Kyriacou, C. (2009). Effective Teaching: Theory and Practice. Bandung: NusavMedia.
Penerjemah: M. Khozim.
Mayer, R. (2004). Should there be a threestrikes rule against pure discovery learning? the
case for guided methods of instruction. American Psychologist. 59(1).14-19.
Nugroho. (2007). Belajar Mengatasi Hambatan Masalah. Surabaya: Prestasi Pustaka.
Setiawan, D . (2017) deskripsi kemampuan pemahaman konsep, pend. Matematika, ump
Sugihartono. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Suherman, E., dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia
Virlianti, Y. (2002). Analisis Pemahaman Konsep Siswa dalam Memecahkan Masalah
kontekstual pada Pembelajaran Matematika Melalui Pendekatan Realistik. Skripsi
Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UPI (tidak dipublikasikan).
151
Postulat: Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika
Zulkardi (2003). Pendidikan Matematika di Indonesia: Beberapa Permasalahan dan Upaya
Penyelesaiannya. Palembang: Universitas Sriwijaya