PBL Tingkatkan Motivasi Belajar PAIBP
PBL Tingkatkan Motivasi Belajar PAIBP
13955
A. Pendahuluan
Pendidikan Islam adalah sebuah sistem pendidikan yang secara sengaja dirancang dan dikelola
dengan tujuan serta niat yang kuat untuk menerapkan ajaran dan nilai-nilai Islam. Hal ini
tercermin dalam visi, misi, tujuan, program kegiatan, dan praktik pelaksanaan pendidikan Islam.
Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) menjadi salah satu bentuk nyata dari
pengembangan sistem pendidikan Islam. Fungsi pendidikan adalah menciptakan situasi atau
lingkungan yang mendukung perkembangan potensi-potensi tersebut. Oleh karena itu,
kurikulum dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan dan minat peserta didik
(Muhaimin, 2014).
Towaf (1996) mencatat beberapa kelemahan dalam pendidikan agama Islam di sekolah,
termasuk pendekatan normatif yang kurang kontekstual, kurikulum yang menawarkan
minimum kompetensi, kurangnya variasi dalam metode pengajaran, dan keterbatasan fasilitas.
Dalam studi yang dilakukan oleh Furchan (1993), disampaikan bahwa sebagian besar sekolah
masih menerapkan metode pembelajaran PAI secara tradisional, metode ini cenderung
melibatkan ceramah yang monoton, statis, kurang kontekstual, serta lebih bersifat normatif dan
monolitik, serta terputus dari konteks sejarah, semakin cenderung bersifat akademis
(Alhamuddin et al., 2024; Muhaimin, 2014). Strategi pembelajaran yang berbeda dapat
memotivasi siswa untuk belajar. Hal ini dikemukakan oleh Hamalik yang menyatakan bahwa
perubahan juga dapat dilakukan dalam model pengajaran yang digunakan oleh guru dengan
mempertimbangkan perbedaan individu siswa (Alhamuddin, 2017b; Alhamuddin, Alhamuddin,
Bukhori, 2016; Indriana, 2019).
Menurut Uno (2011:23), Hakikat motivasi belajar merupakan dorongan internal dan
eksternal bagi siswa yang sedang belajar untuk melakukan perubahan tingkah laku, biasanya
dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung (Alhamuddin, 2016b, 2017a, 2019;
Sadirman, 2018). Menurut Rianto (2005:53) motivasi adalah faktor yang mendorong individu
atau kelompok individu untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan. Menurut
Santrock (2008:476), sumber motivasi dapat berasal dari dalam diri individu itu sendiri dan dari
faktor eksternal (Laka et al., 2020).
Menurut Budiariawan (2019), terdapat beberapa indikator motivasi belajar, yakni: (1)
Tekun dalam menghadapi tugas; (2) Gigih mengatasi kesulitan; (3) Menunjukkan ketertarikan
terhadap berbagai permasalahan orang dewasa; (4) Lebih suka bekerja secara mandiri; (5)
Mampu mempertahankan pendapatnya; (6) Cepat merasa bosan dengan tugas-tugas yang
bersifat rutin; (7) Tidak mudah melepaskan keyakinan; (8) Antusias dalam mencari dan
menyelesaikan masalah pada soal-soa(Alhamuddin, 2016a, 2018)l.
Berdasarkan hasil observasi di SMK Assalaam Bandung pada kelas 11, ditemukan data
mengenai tingkat motivasi belajar PAIBP siswa rendah ketika guru menggunakan model
pembelajaran konvensional/ceramah. Data ini mencakup indikator motivasi berupa ketekunan
dalam menghadapi tugas tergolong rendah, kegigihan dalam mengatasi kesulitan rendah.
ketertarikan terhadap berbagai permasalahan orang dewasa rendah. Meskipun demikian, siswa
menunjukkan kemampuan sedang dalam bekerja secara mandiri, siswa kurang mampu dalam
mempertahankan pendapatnya dan cepat merasa bosan dengan tugas-tugas yang bersifat rutin.
Siswa mudah melepaskan keyakinan dalam belajar dan kurang Antusias dalam mencari dan
menyelesaikan masalah pada soal-soal yang sulit. Data ini memberikan gambaran tentang
kompleksitas motivasi belajar siswa di lingkungan pembelajaran konvensional.(Alhamuddin,
n.d.)
Motivasi belajar mempunyai pengaruh yang besar terhadap keberhasilan belajar. Siswa
yang memiliki motivasi tinggi dalam mengikuti pelajaran memiliki kemampuan untuk mencapai
potensi maksimal mereka. Hal ini dapat dilakukan melalui strategi pembelajaran yang
bervariasi, sehingga dapat memotivasi siswa. Salah satu upaya yang dapat mendorong motivasi
belajar dan memunculkan kreativitas siswa adalah dengan penerapan model pembelajaran yang
berbeda. Model pembelajaran ini penting karena merupakan kegiatan yang menunjukkan dan
memperlihatkan interaksi antara guru dan siswa. Contoh dari banyak model pembelajaran
adalah model pembelajaran PBL. Menurut Sanjaya (2006: 220) keuntungan model
pembelajaran PBL yaitu dapat memahami isi pembelajaran dengan lebih mudah, merangsang
kemampuan peserta didik untuk menemukan pengetahuan baru bagi mereka, membantu peserta
didik untuk menerapkan pengetahuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, membantu peserta
didik untuk berlatih berfikir dalam menghadapi sesuatu, dan dianggap menyenangkan dan lebih
digemari peserta didik (Hendriyani et al., 2021).
Melihat permasalahan yang dihadapi saat pembelajaran seperti yang telah digambarkan
yaitu tingkat motivasi belajar PAIBP siswa SMK Assalaam Bandung yang relatif rendah, sehingga
Vol. 4 No. 2 (2024), Hal: 543-551 ISSN: 2828-2515
Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBl) Untuk… | 545
tidak dapat memaksimalkan hasil pembelajaran di kelas, maka sudah selayaknya dicari
upaya/solusi oleh guru untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu solusinya adalah dengan
meningkatkan motivasi belajar siswa pada pembelajaran PAIBP dengan menerapkan model
pembelajaran yang lebih bervariasi salah satu contoh nya menggunakan model pembelajaran PBL.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka perumusan masalah dalam penelitian ini
sebagai berikut: “Bagaimana kondisi objektif motivasi belajar PAIBP siswa kelas XI di SMK
Assalaam Bandung sebelum menggunakan model pembelajaran PBL?” “Bagaimana penerapan
model pembelajaran PBL dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI dalam pembelajaran
PAIBP di SMK Assalaam Bandung?” “Bagaimana pengaruh model pembelajaran PBL dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI dalam pembelajaran PAIBP sesudah menggunakan
model pembelajaran PBL di SMK Assalaam Bandung?”. Selanjutnya, tujuan dalam penelitian ini
diuraikan dalam pokok-pokok sebagai berikut.
1. Untuk menganalisa kondisi objektif motivasi belajar PAIBP siswa kelas XI di SMK
Assalaam Bandung sebelum menggunakan model pembelajaran PBL
2. Untuk menganalisa penerapan model pembelajaran PBL dalam meningkatkan motivasi
belajar siswa kelas XI dalam pembelajaran PAIBP di SMK Assalaam Bandung
3. Untuk menganalisa pengaruh model pembelajaran PBL dalam meningkatkan motivasi
belajar siswa kelas XI dalam pembelajaran PAIBP sesudah menggunakan model
pembelajaran PBL di SMK Assalaam Bandung.
B. Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. yang merupakan pendekatan penelitian yang
mengandalkan data berupa angka-angka dengan sifat kuantitatif. Tujuannya adalah untuk
memproyeksikan kondisi populasi atau kecenderungan masa depan. Melalui analisis statistik,
penelitian kuantitatif memungkinkan pembuatan generalisasi terhadap hasil yang diperoleh
(Mukhid 2021). Metode penelitian yang diterapkan dalam studi ini adalah penelitian
eksperimental, yang bertujuan untuk menyelidiki dampak suatu perlakuan khusus terhadap
fenomena dalam kelompok tertentu, dibandingkan dengan kelompok lain yang menerima
perlakuan yang berbeda (Ramdhan 2021).
Dengan teknik pengambilan data dengan menggunakan dokumentasi, observasi, dan
angket. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji validitas, uji
reliabilitas, uji normalitas, uji homogenitas, dan uji t.
Islamic Education
546 | Kamil Amarudin Solihin, et al.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif, diperoleh nilai rata-rata motivasi belajar awal
kelas kontrol = 54,67 dan rata-rata motivasi belajar awal kelas eksperimen = 53,28. Dengan
demikian, dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata motivasi belajar siswa sebelum
diterapkannya model pembelajaran PBL adalah 54,67 dan 53,28.
Penerapan model pembelajaran PBL dalam meningkatkan motivasi siswa kelas XI dalam
pembelajaran PAIBP di SMK Assalaam Bandung
Pelaksanaan model PBL dilaksanakan pada pada tanggal 01 Februari 2024 mulai pukul 12.00-
13.40 dengan jumlah peserta didik yang hadir 24 orang, materi pelajaran PAIBP pada kegiatan
ini adalah Adab bergaul kepada saudara dan teman. Pada proses diterapkannya model
pembelajaran ini terdiri dari empat tahap yaitu Perencanaan, Tindakan, Observasi, dan Refleksi.
Pada tahap perencanaan pembelajaran yang dipersiapkan peneliti dan guru bidang studi PAIBP
membuat modul ajar mata pelajaran PAIBP dengan materi Adab bergaul kepada saudara dan
teman, menyusun lembar observasi dan menyusun alat evaluasi pembelajaran(Alhamuddin,
2024; Alhamuddin, Surbiantoro, et al., 2022; Alhamuddin & Zebua, 2021; Alifuddin,
Alhamuddin, & Nurjannah, 2021).
Pada tahap tindakan didalamnya meliputi 3 kegiatan yaitu kegitan pendahuluan, kegiatan
inti dan kegiatan penutup. Pada kegiatan pendahuluan guru mengucap salam dan berdo’a bersama,
mengkondisikan peserta didik, kemudian dilanjutkan dengan mengabsen, memotivasi siswa
mengenai pentingnya kompetensi yang akan dipelajari, melakukan apersepsi dan menyampaikan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Pada kegiatan inti guru menjelaskan orientasi masalah
kepada siswa, mengoordinasikan peserta didik untuk belajar, membimbing penyelidikan
kelompok, menganalisis serta mengevaluasi pemecahan masalah, dan mempresentasikan serta
mengevaluasi proses pemecahan masalah. Pada kegiatan penutup guru bersama-sama dengan siswa
membuat kesimpulan pelajaran dan menutup pembelajaran dengan doa.
Pada tahap observasi guru melakukan pengamatan terhadap pembelajaran yang sedang
berlangsung untuk mengetahui aktivitas belajar dan untuk mengetahui kendala-kendala yang
dihadapi atau efek dalam menerapkan pembelajaran yang dilaksanakan. Pada tahap refleksi
adalah kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang telah dilakukan. Pada tahap ini hasil
evaluasi dijadikan feedback dalam merencanakan perbaikan untuk pelaksanaan tindakan
selanjutnya(Alhamuddin, Dermawan, et al., 2022; Alhamuddin et al., 2024; Alhamuddin,
Nurhakim, et al., 2023; Alifuddin, Alhamuddin, Rosadi, et al., 2021).
Pengaruh model pembelajaran PBL dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas XI
dalam pembelajaran PAIBP sesudah menggunakan model pembelajaran PBL di SMK
Assalaam Bandung
Berdasarkan hasil analisis deskriptif maka dapat diketahui bahwa motivasi belajar akhir pada
kelas kontrol terdapat 12,5% atau 3 siswa yang termasuk kategori motivasi rendah, kemudian
terdapat 37,5% atau 9 siswa yang termasuk kategori motivasi sedang, dan terdapat 50% atau 12
siswa yang termasuk kategori motivasi tinggi, kemudian diketahui bahwa motivasi belajar akhir
pada kelas eksperimen terdapat 12,5% atau 3 siswa yang termasuk kategori motivasi rendah,
kemudian terdapat 62,5% atau 15 siswa yang termasuk kategori motivasi sedang, dan terdapat
25% atau 6 siswa yang termasuk kategori motivasi tinggi.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif, diperoleh nilai rata-rata motivasi belajar akhir
kelas kontrol adalah 70,37 sedangkan nilai rata-rata motivasi belajar akhir kelas eksperimen
adalah 84,49. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata motivasi belajar akhir
kelas eksperimen setelah diterapkannya model pembelajaran PBL lebih tinggi jika dibandingkan
dengan nilai akhir motivasi belajar akhir kelas kontrol yaitu 84,49 sedangkan kelas kontrol
sebesar 70,37.
Tabel 3. Hasil Uji Hipotesis Motivasi Belajar (Paired-Samples t-Test)
Paired Differences
95% Confidence
Std. Std. Interval of The Sig. (2-
Hasil Mean t df
Deviation Error Difference tailed)
Lower Upper
Motivasi
Belajar Kelas
Pair Kontrol -
-14,121 3,381 0,690 -15,549 -12,693 -20,459 23 0,000
1 Motivasi
Belajar Kelas
Eksperimen
Berdasarkan tabel output hasil uji t, diperoleh nilai Sig = 0.000, yang berarti lebih kecil
dari 0.05. Dengan demikian, 𝐻0 ditolak dan 𝐻1 diterima. Maka dapat diinterpretasikan bahwa
hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pada peningkatan motivasi
belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di kelas XI SMK
Assalaam Bandung secara signifikan setelah diimplementasikannya model pembelajaran
PBL(Alhamuddin, Fanani, et al., 2020; Alhamuddin, Aziz, et al., 2020; Alhamuddin et al., 2018,
2021; Alhamuddin, Inten, Adwiyah, et al., 2023; Alhamuddin, Inten, Mulyani, et al., 2023;
Alhamuddin Alhamuddin et al., 2022; Alhamuddin & Hamdani, 2018; Alifuddin et al., 2022;
Nuriten et al., 2016; Rachmah et al., 2022).
Islamic Education
548 | Kamil Amarudin Solihin, et al.
D. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dalam penelitian ini, peneliti menyimpulkan beberapa hasil penelitian
sebagai berikut:
4. Kondisi objektif motivasi belajar awal PAIBP siswa di kelas XI TKR sebelum diterapkan
model pembelajaran PBL bisa dikatakan rendah. Hal ini dapat dilihat tabel 4.2 dari
motivasi belajar awal rata-rata kelas kontrol dan kelas eksperimen siswa yang
memperoleh motivasi belajar rata-rata 54,67 dan 53,28. Berdasarkan tabel 4.1
menunjukkan bahwa nilai terendah motivasi belajar awal kelas kontrol adalah 48,89
sedangkan nilai terendah kelas eksperimen adalah 47,78, Kemudian nilai tertinggi
motivasi belajar awal kelas kontrol adalah 60 dan nilai tertinggi motivasi belajar akhir
kelas eksperimen adalah adalah 62,22.
5. Penerapan model pembelajaran PBL dalam meningkatkan motivasi siswa kelas XI dalam
pembelajaran PAIBP: 1) Pada kegiatan pendahuluan guru mengucap salam dan berdo’a
bersama, mengkondisikan peserta didik, kemudian dilanjutkan dengan mengabsen,
memotivasi siswa mengenai pentingnya kompetensi yang akan dipelajari, melakukan
apersepsi dan menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. 2) Guru
menjelaskan orientasi masalah terkait materi adab bergaul kepada teman dan saudara
kepada siswa, lalu memberikan pemahaman yang mendalam agar mereka menguasai
konsep dengan baik serta menegaskan pentingnya materi yang dipelajari, menyampaikan
nilai dan relevansi konsep bagi perkembangan siswa. 3) Guru mengevaluasi kemampuan
siswa untuk memastikan pemahaman materi lalu siswa dibagi menjadi kelompok kecil,
kemudian guru menjelaskan strategi penyelesaian masalah dan memberikan arahan
kepada siswa. 4) Siswa menganalisis gambar masalah tentang adab bergaul dengan
saudara dan teman dan mencari contoh masalah dalam kehidupan sehari-hari yang terkait
dengan materi, lalu siswa berpartisipasi dalam diskusi dan bertanya terkait masalah yang
diorganisir oleh guru untuk mencari solusi masalah melalui diskusi kelompok, guru
membimbing dalam melakukan penyelidikan. 5) siswa mempresentasikan hasil diskusi
kelompok, kemudian guru menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
untuk menilai keberhasilan model pembelajaran. 6) guru bersama-sama dengan siswa
membuat kesimpulan pelajaran dan menutup pembelajaran dengan doa.
6. Pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran PBL
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi motivasi belajar PAIBP siswa
kelas Kontrol tanpa diberi perlakuan bisa dikatakan rendah, sedangkan kondisi objektif
motivasi belajar PAIBP siswa kelas Eksperimen setelah diterapkan model pembelajaran
PBL bisa dikatakan tinggi. Hal ini dapat dilihat tabel 4.5 dari motivasi belajar akhir rata-
rata kelas kontrol dan kelas eksperimen memperoleh nilai motivasi rata-rata 70,37 pada
kelas kontrol sedangkan pada kelas eksperimen memperoleh nilai motivasi rata-rata
84,49. Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan bahwa nilai terendah motivasi belajar akhir
kelas kontrol adalah 62,22 sedangkan nilai terendah kelas eksperimen adalah 78,88,
Kemudian nilai tertinggi motivasi belajar akhir kelas kontrol adalah 76,66 dan nilai
tertinggi motivasi belajar akhir kelas eksperimen adalah adalah 88,88. Maka dapat
disimpulkan bahwa nilai motivasi belajar akhir setelah diterapkan model pembelajaran
PBL di kelas eksperimen lebih baik dari pada motivasi belajar akhir di kelas kontrol.
Penerapan model pembelajaran PBL dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada
mata pelajaran PAIBP. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji Paired- Samples t-Test yang
memperoleh nilai Sig (2-tailed) = 0.000. Berdasarkan pengujian yang sudah dilakukan,
maka dapat dikatakan bahwa H_0 ditolak dan H_1 diterima karena 0.000 < 0.05.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada
penggunaan model pembelajaran PBL terhadap peningkatan motivasi belajar siswa kelas
XI TKR pada mata pelajaran PAIBP di SMK Assalaam Bandung.
Acknowledge
Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing 1 Dr. Alhamuddin, M.M. Pd dan
dosen pembimbing 2 Nurul Afrianti, [Link]., [Link]. Psi yang sudah memberikan arahan maupun
bimbingan yang sabar, dan juga kepada para dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang sudah
terlibat dalam penyusunan dalam proses penyusunan skripsi..
Daftar Pustaka
[1] Alhamuddin. (2024). Enhancing Social Skills in Islamic Religious Education at the
Junior High School Level: A Differential Instruction Approach. Jurnal Pendidikan
Islam Indonesia, 8(2). [Link]
[2] Alhamuddin, A. (n.d.). SEJARAH KURIKULUM DI INDONESIA (Studi Analisis
Kebijakan Pengembangan Kurikulum).
[3] Alhamuddin, A. (2016a). 4-Kurikulum Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Mutu
Dan Relevansi. 3(April), 1–15.
[4] Alhamuddin, A. (2016b). Desain Pembelajaran Untuk Mengembangkan
Kecerdasan Majemuk Siswa Sekolah Dasar. 2(2), 180–201.
[5] Alhamuddin, A. (2017a). Studi Perbandingan Kurikulum Pendidikan Dasar Negara
Federasi Rusia dan Indonesia. 3(2), 2406–2775.
[6] Alhamuddin, A. (2017b). TRANSDICIPLINARY : MODEL PENGEMBANGAN
KURIKULUM BERORIENTASI KEBUTUHAN Alhamuddin. 2, 55–64.
[7] Alhamuddin, A. (2018). Abd Shamad al-Palimbani’s Islamic education concept:
Analysis of Kitab Hidayah al-Sālikin fi Suluk Māsālāk lil Muttāqin. Qudus
International Journal of Islamic Studies, 6(1), 89–102.
[Link]
[8] Alhamuddin, A. (2019). Politik Kebijakan Pengembangan Kurikulum di Indonesia
Sejak Zaman Kemerdekan Hingga Reformasi (1947-2013). Prenada Kencana.
[9] Alhamuddin, A., Andi Murniati, Eko Surbiyantoro, & Dewi Mulyani. (2021).
Developing Core Competencies for Islamic Higher Education in Indonesia in the
Era of Industrial Revolution 4.0. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 5(2), 136–152.
[Link]
[10] Alhamuddin, A., Aziz, H., Nur Inten, D., & Mulyani, D. (2020). Pemberdayaan
Berbasis Asset Based Community Development (ABCD) untuk Meningkatkan
Kompetensi Profesional Guru Madrasah di Era Industri 4.0. International Journal
of Community Service Learning, 4(4), 321–331. [Link]
[11] Alhamuddin, A., Dermawan, O., Azis, H., & Erlangga, R. D. (2022). Character
Education Based on Minangkabau Local Wisdom. Hayula: Indonesian Journal of
Multidisciplinary Islamic Studies, 6(2), 185–204.
[Link]
[12] Alhamuddin, A., Hamdani, F. F. R. S., Tandika, D., & Adwiyah, R. (2018).
Developing Al-Quran Instruction Model Through 3a (Ajari Aku Al-Quran or Please
Teach Me Al-Quran) To Improve Students’ Ability in Reading Al-Quran At
Bandung Islamic University. International Journal of Education, 10(2), 95–100.
[Link]
[13] Alhamuddin, A., Inten, D. N., Adwiyah, R., Murniati, A., & Fanani, A. (2023).
Academic Fraud during the Covid-19 Pandemic for High School Students.
Indonesian Journal of Islamic Education Studies (IJIES), 5(2), 233–251.
[Link]
[14] Alhamuddin, A., Inten, D. N., Mulyani, D., Suganda, A. D., Juhji, J., Prachagool,
V., & Nuangchalerm, P. (2023). Multiple intelligence-based differential learning on
critical thinking skills of higher education students. International Journal of
ADVANCED AND APPLIED SCIENCES, 10(8), 132–139.
[Link]
[15] Alhamuddin, A., Nur Inten, D., Adwiyah, R., & Fauzan, N. (2024). Developing the
I am Anti-Corruption Learning Model and Its Impact on Reducing Student Fraud.
Jurnal Pendidikan Progresif, 14(01), 713–731.
Islamic Education
550 | Kamil Amarudin Solihin, et al.
[Link]
[16] Alhamuddin, A., Nurhakim, H. Q., Adwiyah, R., & Fanani, A. (2023). Arabilitas:
A Web-Based Arabic Learning Application and Teaching Material for Visually
Impaired Students in Higher Education. Jurnal Pendidikan Islam, 12(2), 1411–
8173. [Link]
[17] Alhamuddin, A., Surbiantoro, E., & Dwi Erlangga, R. (2022). Character Education
in Islamic Perspective.
[18] Alhamuddin, A., & Zebua, R. S. Y. (2021). Perceptions of Indonesian Students on
the Role of Teachers in Offline and Online Learning During the Covid-19 Pandemic
Period. Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian Dan Kajian Kepustakaan Di
Bidang Pendidikan, Pengajaran Dan Pembelajaran, 7(4), 834.
[Link]
[19] Alhamuddin Alhamuddin, Abdul Rohman, & Ahmad Fanani. (2022). Developing a
Project-Based Learning Model for Slow Learners in Higher Education. Jurnal
Pendidikan Islam Indonesia, 6(2), 86–96. [Link]
[20] Alhamuddin, Alhamuddin, Bukhori, B. (2016). The Effect of Multiple Intelligence-
Based Instruction on Critical Thinking of Full Day Islamic Elementary Schools
Students. 21(1), 31–40.
[21] Alhamuddin, Fanani, A., Yasin, I., & Murniati, A. (2020). Politics of Education in
Curriculum Development Policy in Indonesia from 1947 to 2013: A Documentary
Research. Jurnal Pendidikan Islam, 9(1), 29–56.
[Link]
[22] Alhamuddin, & Hamdani, F. F. R. S. (2018). Hidden Curriculum: Polarisasi
Pesantren dalam Upaya Membentuk Kesalehan Individu Dan Sosial (Case Study
Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo). AL-MURABBI: Jurnal Studi
Kependidikan Dan Keislaman, 5(1), 50–65.
[Link]
[23] Alifuddin, M., Alhamuddin, A., & Nurjannah, N. (2021). School of Anak Laut (Sea
Children): Educational Philanthropy Movement in Bajo Community of Three-Coral
World Center. Jurnal Iqra’ : Kajian Ilmu Pendidikan, 6(1), 164–179.
[Link]
[24] Alifuddin, M., Alhamuddin, A., Rosadi, A., & Amri, U. (2021). Understanding
Islamic Dialectics in The Relationship with Local Culture in Buton Architecture
Design. KARSA: Journal of Social and Islamic Culture, 29(1), 230–254.
[Link]
[25] Alifuddin, M., Suarni, Alhamuddin, & Fanani, A. (2022). Religious Education in
the Mitigation Space: The Significance of the Muhammadiyah Enlightenment
Movement for West Sulawesi Earthquake Survivors. Jurnal Pendidikan Islam ,
11(1), 61–74.
[26] Hendriyani, A. P., Ratnasari, I. D., Astrini, N. A. F. D., Verdianti, R., & Marhabani,
Y. (2021). Studi Literatur Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan
Hasil Belajar SD. Seminar Nasional Hasil Riset Dan Pengabdian Ke-III (SNHRP-
III 2021), 151–155.
[27] Indriana, R. (2019). Layanan Pembelajaran Siswa Tunadaksa Di Kelas V Sd Negeri
Gunungdani Pengasih Kulon Progo. Basic Education, 327–336.
[28] Laka, B. M., Burdam, J., & Kafiar, E. (2020). Role of Parents in Improving
Geography Learning Motivation in Immanuel Agung Samofa High School. Jurnal
Inovasi Penelitian, 1(2), 69–74. [Link]
[29] Muhaimin. (2014). Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah,
Madrasah, dan Perguruan Tinggi. In Rajawali Pers: Vol. ed. 1, 6. RajaGrafindo
Persada.
[30] Nuriten, D., Mulyani, D., Alhamuddin, & Permatasari, A. N. (2016). Kearifan Lokal
Vol. 4 No. 2 (2024), Hal: 543-551 ISSN: 2828-2515
Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBl) Untuk… | 551
Sebagai Media Pendidikan Karakter Antikorupsi pada Anak Usia Dini Melalui
Strategi Dongkarak. Integritas Jurnal Anti Korupsi, 2(1), 135–154.
[Link]
[31] Rachmah, H., Tsaury, A. M., Alhamuddin, A., & Gunawan, R. (2022). Development
of Social Skills based on Local Wisdom in the Osing Community of Kemiren Village
Banyuwangi, East Java.
[32] Sadirman. (2018). Pengaruh Kepemimpinan Dan Kemampuan Berkomunikasi
Terhadap Motivasi Belajar Mata Pelajaran Ekonomi. Dinamika Pendidikan, 1(2),
10–35.
Islamic Education