0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan2 halaman

Ciri-Ciri Keputusan Etis yang Penting

Diunggah oleh

There SHa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan2 halaman

Ciri-Ciri Keputusan Etis yang Penting

Diunggah oleh

There SHa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

# Ciri-ciri Keputusan Etis

## Pendahuluan

Keputusan etis merupakan bagian penting dalam kehidupan sehari-hari setiap


individu. Dari keputusan kecil seperti memilih makanan hingga keputusan besar yang
dapat memengaruhi hidup banyak orang, semua itu memerlukan pertimbangan moral yang
mendalam. Dalam konteks ini, etika berfungsi sebagai panduan yang membantu kita
menentukan apa yang benar dan apa yang salah, serta apa yang baik dan apa yang
buruk. Dalam esai ini, kita akan membahas ciri-ciri keputusan etis, termasuk
pertimbangan tentang kebenaran dan kesalahan, pilihan yang sering sulit,
ketidakmungkinan untuk dihindari, serta pengaruh norma, situasi, iman, tabiat, dan
lingkungan sosial terhadap pengambilan keputusan tersebut.

## Pertimbangan tentang Apa yang Benar dan Apa yang Salah

Salah satu ciri utama dari keputusan etis adalah adanya pertimbangan tentang apa
yang benar dan apa yang salah. Etika, dalam definisinya yang paling sederhana,
adalah penyelidikan tentang kebaikan dan keburukan dalam perilaku manusia. Menurut
Malcolm Brownlee dalam bukunya "Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-Faktor di
Dalamnya", etika menempatkan perhatian pada norma-norma yang membimbing tindakan
manusia dan cita-cita yang membentuk tujuan manusia (Brownlee, 2020). Dalam konteks
ini, keputusan etis tidak hanya berkaitan dengan tindakan lahiriah, tetapi juga
dengan motivasi dan keadaan batin yang mendasarinya.

Penggunaan istilah "etika" dan "moral" sering kali dianggap sinonim, namun dalam
konteks ilmiah, keduanya memiliki perbedaan. Moralitas merujuk pada kebaikan atau
keburukan perilaku yang terjadi, sedangkan etika lebih kepada pemikiran sistematis
tentang perilaku tersebut. Misalnya, ketika seseorang dihadapkan pada dilema moral,
seperti berbohong untuk melindungi perasaan orang lain, keputusan yang diambil akan
mencerminkan pemahaman etis individu tersebut tentang kebenaran dan kesalahan.

## Sering Menyangkut Pilihan yang Sukar

Pengambilan keputusan etis sering kali melibatkan pilihan yang sulit. Situasi ini
terjadi karena tidak semua keputusan memiliki jawaban yang jelas antara baik dan
buruk. Dalam banyak kasus, keputusan etis melibatkan nuansa yang kompleks, di mana
dua pilihan sama-sama memiliki konsekuensi yang signifikan. Misalnya, seorang
dokter mungkin harus memutuskan antara menyelamatkan nyawa seorang pasien yang
sangat sakit atau memberi kesempatan hidup kepada pasien lain yang lebih muda dan
sehat. Dalam situasi seperti ini, keputusan yang diambil tidak hanya bergantung
pada norma-norma etis, tetapi juga pada keadaan dan nilai-nilai pribadi.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center, sekitar 70% orang
dewasa di seluruh dunia mengakui bahwa mereka pernah mengalami dilema moral yang
sulit dalam hidup mereka (Pew Research Center, 2019). Hal ini menunjukkan bahwa
keputusan etis adalah bagian integral dari pengalaman manusia, dan sering kali
melibatkan pertimbangan yang mendalam tentang nilai-nilai yang dianut.

## Tidak Mungkin Dielakkan

Keputusan etis tidak mungkin dielakkan. Setiap individu, baik secara sadar maupun
tidak sadar, dihadapkan pada pilihan etis dalam kehidupan sehari-hari. Dari cara
kita memperlakukan orang lain hingga keputusan yang lebih besar yang memengaruhi
masyarakat, setiap tindakan kita memiliki implikasi etis. Menurut Brownlee,
keputusan untuk tidak mengambil keputusan juga merupakan keputusan yang membawa
konsekuensi (Brownlee, 2020). Misalnya, ketika seseorang memilih untuk tidak
terlibat dalam masalah sosial yang penting, mereka secara tidak langsung mendukung
status quo yang mungkin tidak adil.
Dalam konteks sejarah, banyak contoh menunjukkan bagaimana keputusan etis yang
diambil oleh individu atau kelompok dapat memengaruhi arah suatu bangsa. Contohnya,
pada tahun 1945, bangsa Indonesia dihadapkan pada pilihan antara penjajahan dan
revolusi. Keputusan untuk berperang atau tidak berperang memiliki konsekuensi
besar, baik untuk individu maupun masyarakat secara keseluruhan. Dalam situasi
seperti ini, keputusan untuk tidak bertindak juga merupakan keputusan yang penting.

## Dipengaruhi oleh Norma, Situasi, Iman, Tabiat, dan Lingkungan Sosial

Keputusan etis tidak hanya dipengaruhi oleh norma-norma yang dipertimbangkan,


tetapi juga oleh situasi, iman, tabiat, dan lingkungan sosial. Norma-norma sosial
sering kali membentuk cara kita berpikir dan bertindak dalam situasi tertentu.
Misalnya, dalam budaya tertentu, norma kesopanan mungkin mengharuskan seseorang
untuk tidak langsung menolak permintaan orang lain, meskipun mereka merasa tidak
nyaman. Dalam hal ini, keputusan etis yang diambil akan dipengaruhi oleh norma-
norma sosial yang berlaku.

Situasi juga memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan etis. Dalam banyak
kasus, konteks di mana keputusan diambil dapat memengaruhi hasilnya. Misalnya,
seorang pemimpin perusahaan mungkin harus memutuskan antara memecat karyawan untuk
mengurangi biaya atau mempertahankan karyawan demi menjaga moral tim. Keputusan ini
akan dipengaruhi oleh situasi keuangan perusahaan dan dampaknya terhadap karyawan
yang terlibat.

Iman dan tabiat juga berkontribusi pada pengambilan keputusan etis. Seseorang yang
memiliki keyakinan religius yang kuat mungkin merasa terikat untuk mengambil
keputusan yang sesuai dengan ajaran agamanya. Dalam hal ini, keputusan etis tidak
hanya didasarkan pada pertimbangan rasional, tetapi juga pada keyakinan spiritual
yang mendalam.

Lingkungan sosial, termasuk keluarga, teman, dan komunitas, juga dapat memengaruhi
keputusan etis. Misalnya, seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang menekankan
pentingnya kejujuran mungkin lebih cenderung untuk mengambil keputusan yang jujur,
bahkan dalam situasi yang sulit. Sebaliknya, individu yang terpapar pada praktik
korupsi dalam lingkungan sosialnya mungkin merasa bahwa tindakan curang adalah hal
yang dapat diterima.

## Kesimpulan

Keputusan etis merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ciri-ciri
keputusan etis, termasuk pertimbangan tentang apa yang benar dan salah, pilihan
yang sering sulit, ketidakmungkinan untuk dihindari, serta pengaruh norma, situasi,
iman, tabiat, dan lingkungan sosial, menunjukkan kompleksitas pengambilan keputusan
dalam konteks etika. Sebagai individu, penting bagi kita untuk terus mengembangkan
pemahaman etis kita dan berusaha untuk membuat keputusan yang tidak hanya
menguntungkan diri sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat secara
keseluruhan. Dengan demikian, kita dapat berkontribusi pada pembentukan masyarakat
yang lebih adil dan beretika.

### Referensi

Brownlee, M. (2020). *Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-Faktor di Dalamnya*.


BPK Gunung Mulia. Jakarta.

Pew Research Center. (2019). *The Ethics of Decision Making: A Global Perspective*.
Retrieved from [Pew Research Center]([Link]

Anda mungkin juga menyukai