0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan14 halaman

Proses Leaching dalam Teknik Kimia

.

Diunggah oleh

rifky algifary
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan14 halaman

Proses Leaching dalam Teknik Kimia

.

Diunggah oleh

rifky algifary
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LABORATORIUM SEPARASI THERMAL DAN DIFUSI

LEACHING

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG
I. JUDUL PERCOBAAN : LEACHING

II. TUJUAN

 Menghitung Jumlah minyak kacang yang diperoleh.

III. ALAT DAN BAHAN

 Alat yang digunakan :


● Satu Unit Peralatan Leaching
● Kain (Sebagai wadah bahan/socklet)
● Gelas kimia 1000 mL 1 buah
● Gelas plastik plastik 2000 mL
● Neraca analitik
● Corong pisah
● Erlenmeyer
● Baskom
 Bahan yang digunakan :
● Etanol teknis
● Kacang tanah

IV. DASAR TEORI

Dalam industri kimia, pemisahan merupakan operasi utama disamping


pencampuran dan perubahan kimiawi, untuk mencapai tujuan pemisahan
yang diinginkan, dikenal berbagai jenis operasi pemisahan, baik secara
thermal maupun mekanikal, masing-masing mempunyai keuntungan tertentu
dalam penggunaannya. Dalam hal bahan yang ingin dipisahkan berupa zat
yang dapat melarutkan (solut), baik padatan maupun cairan, dan bercampur
dalam campuran padatan yang dapat larut (inert). Operasi leaching akan lebih
banyak dipilih sebagai cara pemisahannya. Sebagai contoh adalah pemisahan
biji-biji logam dari pasir atau batuan yang mengandungnya dalam industri
metalurgi, atau dalam kehidupan sehari-hari, cara pemisahan leaching yang
tidak lain adalah ekstraksi padat-cair ini dapat dijumpai pada pembuatan air
kopi atau pembuatan santan kelapa.
Pada pokoknya, operasi leaching berlangsung dengan mengontakkan
antara pelarut cair dan campuran padatan sedemikian rupa sehingga terjadi
perpindahan solut ke dalam pelarut tersebut. Perlakuan selanjutnya adalah
pemisahan larutan yang terbentuk dari padatan sisanya. Hal ini, bila dalam
industri , dapat dilangsungkan baik dengan metode batch, continous co-
curent maupun continues counter current.
Percobaan ini mempelajari efisiensi operasi pada beberapa metode operasi
di atas. Selain itu juga dipelajari kesetimbangan sistem padat-cair tiga
komponen (kedelai-etanol-air). Hal ini penting dilakukan sehubungan dalam
industri sering dihadapkan persoalan memilih metode operasi yang dengan
kapasitas dan perolehan per satuan waktu yang diinginkan, terlebih lagi
karena kurangnya teori tentang leaching yang dikemukakan , maka percobaan
semacam ini akan banyak membantu dalam merancang operasi leaching
skala industri.
Leaching merupakan suatu metode yang tepat untuk memisahkan padatan
campuran yang terkontak dengan pelarut cair. Proses ini dilakukan untuk
mengambil / mendapatkan bagian dari padatan tersebut (lebih berharga dari
padatannya) dengan larutan yang hanya larut pada bagian yang ingin diambil.
Leaching banyak digunakan pada industri metalurgi, yaitu digunakan untuk
memisahkan suatu mineral dari suatu batuan. Leaching dapat dikerjakan
secara batch, semibatch atau secara kontinyu.
Teknik operasi yang biasa digunakan untuk proses leaching adalah
spraying atau aliran liquid dan mencelup zat padat seluruhnya kedalam zat
cair, atau dapat pula digunakan beberapa tingkat tabung, solvent dialirkan
dari tabung teratas kemudian mengalir ke tabung dibawahnya. Hal ini
dimaksudkan agar luas permukaan bidang kontak semakin besar, sehingga
akan meningkatkan effisiensi leaching.
Pada leaching, ketika komponen yang tidak diinginkan dipisahkan dari solid
dengan menggunakan air maka disebut washing.

Leaching banyak dipakai dalam berbagai industri. Pada proses industri biologi
dan makanan banyak produk dipisahkan dari struktur alaminya dengan proses
leaching. Sebagai contoh, gula dihasilkan dari proses leaching dari tebu atau
gula bit dengan menggunakan air. Dalam produksi minyak sayur, pelarut organik
seperti heksana, aseton, dan eter digunakan untuk mengekstrak minyak dari
kacang tanah, kacang kedelai, biji bunga matahari, biji kapas, dan sebagainya.
Pada industri farmasi, berbagai produk farmasi yang berbeda dihasilkan dengan
proses leaching akar tanaman, daun, ataupun batang. Selain untuk berbagai
kegunaan di atas leaching juga dijumpai dalam industri pemrosesan logam.
Biasanya logam yang bermanfaat biasanya terdapat dalam campuran dengan
jumlah konstituen tak diinginkan yang cukup besar. Leaching dipakai untuk
memisahkan logam sebagai garam yang terlarut. Misalnya garam tembaga di-
leaching dari bijih yang mengandung berbagai logam dengan menggunakan asam
sulfat atau larutan amoniak.

Persiapan dari solid yang akan di-leaching tergantung pada proporsi solut yang
ada, distribusinya pada solid dan sifat alami dari solid. Bila senyawa terlarut
dikelilingi oleh bahan yang tidak larut, pelarut harus berdifusi ke dalam dan lalu
berkontak serta melarutkan solut dan kemudian berdifusi keluar.

Material biologi biasanya memiliki struktur seluler dan solut berada dalam sel.
Proses leachingnya berlangsung relatif lebih lambat karena dinding sel
menyebabkan suatu halangan untuk berdifusi. Untuk itu biasanya materi biologi
yang akan dileaching dipotong tipis memanjang atau dikecilkan ukurannya lebih
dahulu agar sel-sel terpecah sehingga difusi dapat berlangsung lebih cepat.
Contohnya dalam untuk mengekstraksi gula dari tebu, tebu harus dipotong
terlebih dulu.
Pada proses leaching, mekanismenya ialah solven ditransfer menuju
permukaan solid, kemudian solven berdifusi atau masuk ke dalam solid. Lalu,
solut yang ada dalam solid berdifusi ke solven. Kemudian solut yang sudah
terlarut dalam solven berdifusi menuju permukaan lalu ditransfer ke pelarut.

Proses leaching terdiri dari 3 bagian, yaitu :


1. Proses perubahan fasa dari solute saat terlarut ke dalam pelarut (padat-cair)
dari bentuk padat ke dalam bentuk cair
2. Difusi dari solute melalui pelarut dalam padatan, yang keluar melalui pori-
pori padatan. Pelarutnya masuk ke pori-pori karena ada beda konsentrasi
dari tinggi menuju rendah.
3. Perpindahan solute dari larutan/pelarut dalam kontaknya dengan partikel
ke larutan utama.

Jadi proses leaching dapat dilakukan 3 macam:


1. Pelarutan solute.
2. Pemisahan larutan terhadap ampas padat.
3. Pencucian ampas padat

Ada beberapa jenis metode operasi leaching, yaitu :

1. Operasi dengan sistem bertahap tunggal dalam metode ini pengontakan


antara padatan dan pelarut dilakukan sekaligus dan kemudian disusul
dengan pemisahan larutan dari padatan sisa. Cara ini jarang ditemui dalam
operasi industri, karena perolehan solute yang rendah.
2. Operasi kontinu dengan sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan
(countercurrent) dalam sistem ini aliran bawah dan atas mengalir secara
berlawanan. Operasi ini dimulai pada tahap pertama dengan
mengontakkan larutan pekat, yang merupakan aliran atas tahap kedua, dan
padatan baru, operasi berakhir pada tahap ke n (tahap terakhir), dimana
terjadi pencampuran antara pelarut baru dan padatan yang berasal dari
tahap ke-n (n-1). Sistem ini memungkinkan didapatnya perolehan solute
yang tinggi, sehingga banyak digunakan di dalam industri (Treyball,
1985: 719).

Ada empat faktor penting yang harus diperhatikan dalam operasi


ekstraksi:
1. Ukuran partikel

Ukuran partikel mempengaruhi kecepatan ekstraksi. Semakin


kecil ukuran partikel maka areal terbesar antara padatan terhadap
cairan memungkinkan terjadi kontak secara tepat. Semakin besar
partikel, maka cairan yang akan mendifusi akan memerlukan waktu
yang relative lama.
2. Faktor pengaduk
Semakin cepat laju putaran pengaduk partikel akan semakin
terdistribusi dalam permukaan kontak akan lebih luas terhadap pelarut.
Semakin lama waktu pengadukan berarti difusi dapat berlangsung terus
dan lama pengadukan harus dibatasi pada harga optimum agar dapat
optimum agar konsumsi energi tak terlalu besar. Pengaruh faktor
pengadukan ini hanya ada bila laju pelarutan memungkinkan.
3. Temperatur
Pada banyak kasus, kelarutan material akan diekstraksi akan
meningkat dengan temperatur dan akan menambah kecepatan ekstraksi.
4. Pelarut

Pemilihan pelarut yang baik adalah pelarut yang sesuai dengan


viskositas yang cukup rendah agar sirkulasinya bebas. Umumnya pelarut
murni akan digunakan meskipun dalam operasi ekstraksi konsentrasi dari
solute akan meningkat dan kecepatan reaksi akan melambat, karena
gradien konsentrasi akan hilang dan cairan akan semakin viskos pada
umumnya (Coulson, 1955: 721). Dalam biologi dan proses pembuatan
makanan, banyak produk yang dipisahkan dari struktur alaminya
menggunakan ekstraksi cair-padat. Proses terpenting dalam pembuatan
gula, leaching dari umbi-umbian dengan produksi minyak tumbuhan,
pelarut organic seperti hexane, acetone, dan lainnya digunakan untuk
mengekstrak minyak dari kacang kedelai, biji bunga tumbuhan dan lain-
lain. Dalam industri farmasi, banyak produk obat-obatan diperoleh dari
leaching akar tanaman, daun dan batang. Untuk produksi kopi instan, kopi
yang sudah dipanggang di leaching dengan air segar. Teh dapat larut
diproduksi dengan menggunakan pelarut air dan daun teh (Geankoplis,
1997: 724-725).
Karena alasan ekonomi dan pelestarian lingkungan, seringkali sisa
pelarut yang tertinggal dalam rafinat dipisahkan (misalnya dengan pemanasan
langsung menggunakan kukus) dan diambil kembali pada akhir proses
[Link] mencapai unjuk keda ekstraksi atau kecepatan ekstraksi yang
tinggi pada ekstraksi padat-cair, syarat-syarat berikut harus dipenuhi:

a. Karena perpindahan massa berlangsung pada bidang kontak


antara fasa padat dan fasa cair, maka bahan itu perlu sekali
memiliki permukaan yang seluas mungkin. Ini dapat dicapai
dengan rnemperkecil ukuran bahan ekstraksi. Dalam hal itu
lintasan-lintasan kapiler,yang harus dilewati dengan cara difusi,
menjadi lebih pendek sehingga mengurangi tahanannya. Pada
ekstrak terkurung dalarn sel-sel seringkali perlu dibentuk kontak
langsung dengan pelarut melalui dinding sel yang dipecahkan.
Pemecahan dapat dilakukan misalnya dengan menekan atau
menggerus bahan [Link] alat-alat ekstraksi tertentu
harus dijaga agar pada pengecilan bahan ekstraksi, ukuran
partikel yang diperoleh tidak menjadi terlalu kecil. Bila hal itu
terjadi, tidak dapat dipastikan bahwa bahan ekstraksi cukup
permeabel untuk pelarut.
b. Kecepatan alir pelarut, sedapat mungkin besar dibandingkan
dengan laju alir bahan ekstraksi, agar ekstrak yang terlarut dapat
segera diangkut keluar dari permukaan bahan padat. Tergantung
pada jenis ekstraktor yang digunakan, hal tersebut dapat dicapai
baik dengan pengadukan secara turbulen, atau dengan
pemberian laju alir pelarut yang tinggi Suhu yang lebih tinggi
(viskositas pelarut lebih rendah, kelarutan ekstrak lebih besar)
pada umumnya menguntungkan untuk kerja ekstraksi.

Pada ekstraksi bahan-bahan yang peka terhadap suhu terdapat


sebuah bak penampung sebagai pengganti ketel destilasi. Dari bak tersebut
larutan ekstrak dialirkan ke dalam alat penguap vakum (misalnya alat
penguap pipa atau film). Uap pelarut yang terbentuk kemudian
dikondensasikan,pelarut didinginkan dan dialirkan kem bali ke dalam
ekstraktor dalam keadaan dingin.

Variabel Operasi
Faktor Pelarut
Adadua hal yang berhubungan dengan faktor pelarut :
 Jumlah Pelarut
Semakin banyak jumlah pelarut semakin banyak perolehan yang didapatkan
sebab :

● Distribusi partikel dalam pelarut semakin menyebar, sehingga memperluas


permukaan kontak
● Perbedaan konsentrasi solut dalam pelarut dan padatan semakin besar
sehingga fluksi molar bertambah.
 SifatPelarut
Sifat pelarut mencakup beberapa hal antara lain :

● Selektivitas
Pelarut harus mempunyai selektivitas tinggi artinya kelarutan zat yang
ingin dipisahkan dalam pelarut tadi harus besar sedang kelarutan dari
padatan pengotor kecil atau diabaikan.

 Kapasitas
Yang dimaksud kapasitas pelarut adalah besarnya kelarutan solut dalam
pelarut tersebut. Bila kapasitas pelarut kecil, maka :

o Butuh jumlah pelarut yang lebih banyak


o Larutan ekstrak lebih encer
o Kebutuhan panas untuk evaporator/pemekatan larutan ekstrak
bertambah banyak.
● Kemudahan Untuk Dipisahkan
Untuk penghematan, pelarut dipisahkan dari solut untuk dapat dipakai
kembali. Biayanya dengan cara evaporasi atau distilasi. Oleh karena itu,
pelarut biasanya dipilih yang bertitik didih rendah namun tetap diatas
temperatur operasi leaching.

● Sifat-sifat Fisik Pelarut


Viskositas dan density pelarut akan berpengaruh pada pemakaian daya
untuk pengadukan. Selain itu viskositas akan berpengaruh pada laju difusi
sedang density akan berpengaruh pada pemisahan mekanik.

Metode Operasi
Dikenal beberapa jenis metode operasi ekstraksi padat-cair. Berikut ini
disajikan uraian singkat tentang masing-masing metode tersebut.
 Operasi Dengan Sistem Bertahap Tunggal
Dengan metode ini, pengontakan antara padatan dan pelarut dilakukan
sekaligus, dan kemudian disusul dengan pemisahan larutan dari padatan sisa.
Cara ini jarang ditemui dalam operasi industri, karena perolehan solut yang
rendah.

 Operasi Sistem Bertahap Banyak Dengan Sistem Aliran Sejajar atau Aliran
Silang.
Operasi ini dimulai dengan pencampuran umpan padatan dan pelarut pada
tahap pertama : kemudian aliran bawah dari tahap ini diciptakan dengan
pelarut baru pada tahap berikutnya.
 Operasi Secara Kontinu dengan Sistem Bertahap Banyak dengan Aliran
Berlawanan.
Dalam sistem ini aliran bawah dan atas mengalir secara belawanan.
Operasi dimulai pada tahap pertama dengan mengontakkan larutan pekat,
yang merupakan aliran atas tahap kedua, dan padatan “baru”, operasi
berakhir pada tahap ke-n (tahap terakhir), dimana terjadi pencampuran antara
pelarut “baru” dan padatan yang berasal dari tahap ke-n (n-1). Dapat
dimengerti bahwa sistem ini memungkinkan didapatkannya perolehan solut
yang tinggi, sehingga banyak digunakan di dalam industri.

inert Padatanbaru

1 2 n
Pelarut LarutanPekat

Sistem Bertahap Banyak dengan Aliran Berlawanan

Larutan yang diperoleh sebagai aliran atas dapat dikumpulkan menjadi


satu seperti yang terjadi pada sistem dengan aliran sejajar, atau ditampung
secara terpisah seperti pada sistem dengan aliran silang.

Pelarut P1 P2 Pn

1 2 n Pn

Padatan

Sistem Bertahap Banyak dengan Aliran Sejajar

L1 L2 Ln
Ln-1

P P1 P2 Pn-1
1 2 n Pn
Padatan

Pelarut

Sistem Bertahap Banyak dengan Aliran Silang


 Operasi “Batch” dengan Sistem Bertahap Banyak dengan Aliran
Berlawanan
Sistem ini terdiri dari beberapa unit pengontak batch yang disusun
berderet atau dalam lingkaran, yang dikenal sebagai “rangkaian ekstraksi”
(extraction Battery).
Di dalam sistem ini, padatan dibiarkan stasioner dalam setiap tangki
dan dikontakkan dengan beberapa larutan yang konsentrasinya makin
menurun. Padahal yang hampir tidak mengandung solut meninggalkan
rangkaian setelah dikontakkan dengan pelarut baru, sedangkan larutan
pekat sebelum keluar dari rangkaian terlebih dahulu dikontakkan dengan
padatan baru di dalam tangki yang lain.

Larutan Padatanba
Larutan baru ru inert
pekat
1 LarutanP
inert 1 ekat

2 4
2 Pelarutb
4 aru
Padatanba
ru
3 3

LangkahPertama LangkahKedua

Operasi Batch Bertahap Empat dengan Aliran Berlawanan

Efisiensi Tahap
Bila dimisalkan suatu operasi leaching dimana pengaruh adsorpsi padatan
inert terhadap solut tidak ada dan pemisahan sempurna solut dari padatan inert
dapat dilakukan maka seluruh solut yang ada dapat terbawa dalam larutan ekstrak.
Operasi semacam ini dikatakan mempunyai efisiensi 100%. Jadi efisiensi dapat
dinyatakan sebagai :
Berat Solut yang dapat terestrak
= ×100 %
Berat solut yang semula ada

Bila perhitungan efisiensi diatas dilakukan untuk tiap tahap operasi maka
diperoleh efisiensi tahap dan bila dilakukan terhadap seluruh tahap dalam suatu
metode operasi maka hasil yang diperoleh disebut efisiensi keseluruhan (overall).
Rangkaian Peralatan Ekstraksi Padat – Cair (Leaching)

Air Keluar

Kondensa Air Masuk


t

TangkiSa
mpel
Packing

SampelEk
strak

Pemanas

Steam

Kondensa
t
V. Prosedur Kerja

a. Mengiling Kacang tanah sebanyak 3 kg, kemudian menimbangnya kembali.


b. Mengisi kacang tanah yang telah digiling dalam Kain tipis dan
menempatkan kain tersebut dalam tangki sampel.
c. Memasukkan Zat pelarut (etanol) ke dalam labu distilasi sampai volumenya
memenuhi setengah dari volume labu (± 30 liter).
d. Menjalankan air pendingin.
e. Membuka keran steam degan pelan dan hati-hati.
f. Mengatur tekanan pada barometer menunjuk pada 1-1.5 bar gauge.
g. Melakukan proses leaching selama ± 3 jam sampai menghasilkan minyak.
h. Menghentikan proses leaching, dan mengeluarkan kacang tanah yang ada
pada tangki sampel.
i. Melanjutkan dengan tahap destilasi untuk memisahkan minyak dengan
etanol.
j. Memasukkan etanol hasil distilasi kedalam jergen.
k. Memasukkan sisa destilasi yang masih berada dalam labu (mengandung air,
minyak, dan etanol) kedalam corong pisah, dan didiamkan selama beberapa
hari ± 5 hari.
l. Mengambil cairan bagian bawah (minyak). Dan menimbang untuk
menghitung yield.

VI. DATA PENGAMATAN

 Berat kacang = gram


Sebelum Pemanasan
 Berat cawan petrdiks kosong = gram
 Berat cawan petrdiks + minyak = gram
Setelah Pemanasan
 Berat cawan petrdiks kosong = gram
 Berat cawan petrdiks + minyak = gram
 Volume minyak kacang = mL
 Berat minyak = gram

VII. DAFTAR PUSTAKA


[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

Anda mungkin juga menyukai