BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan
1. Definisi Pengetahuan
Menurut Sulaeman, pengetahuan yaitu hasil penginderaan manusia atau
hasil pengetahuan seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya.
Dengan demikian, pengetahuan terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan
terhadap suatu objek tertentu. Tanpa pengetahuan, seseorang tidak akan
mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap
masalah yang dihadapi (Sulaeman, 2016).
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau
kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan
seseorang (overt behaviour) (Notoatmodjo, 2018). Menurut Notoatmodjo
menekankan bahwa pengetahuan perlu dibedakan dengan keyakinan, walaupun
keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Keyakinan dapat saja keliru
tetapi sah sebagai keyakinan. Artinya apa yang disadari (diyakini) sebagai „ada‟
ternyata tidak ada dalam kenyataannya. Tetapi untuk pengetahuan tidak demikian.
Bila suatu pengetahuan ternyata salah atau keliru, maka tidak dapat dianggap
sebagai pengetahuan. Sehingga apa yang dianggap pengetahuan tersebut berubah
statusnya menjadi keyakinan saja (Notoatmodjo, 2018)
Pada dasarnya pengetahuan akan terus bertambah dan bervariatif sesuai
dengan proses pengalaman manusia yang dialami. Menurut Brunner, proses
6
pengetahuan tersebut melibatkan tiga aspek, yaitu proses mendapatkan informasi,
proses transformasi, dan proses evaluasi. Informasi baru yang didapatkan
merupakan pengganti pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya atau
merupakan penyempurnaan informasi sebelumnya. Proses transformasi adalah
memanipulasi pengetahuan agar sesuai dengan tugas-tugas baru. Proses evaluasi
dilakukan dengan memeriksa kembali apakah cara mengolah informasi telah
memadai (Mubarak, 2011).
Fadliyah dan Qo’imah (2019) melalukan penelitian tentang Gambaran
Pengetahuan Tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) Ibu Hamil Trimester II Dan
III di RSI Nasrul Ummah Lamongan mendapatkan hasil hampir setengahnya
(41,7%) responden memilik pengetahuan cukup tentang Inisiasi Menyusu Dini
(IMD). Hasil penelitian Pranata (2018), yang melakukan penelitian di Puskesmas
Pilang Kenceng Madura Kabupaten Madiun (48%) responden memiliki
pengetahuan yang cukup tentang inisiasi menyusu dini. Pengetahuan tentang
IMD merupakan hal yang diketahui oleh orang yang terkait dengan IMD yang
terdiri dari pengertian, manfaat, pentingnya dan tata laksana. Pengetahuan
tentang IMD merupakan hasil pengindraan ibu hamil atau hasil tahu seseorang
perempuan tentang IMD yang dimilikinya sehinga menghasilkan pengetahuan
tentang IMD.
2. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan,
yaitu (Sulaeman, 2016):
7
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) terhadap suatu materi
yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk hal spesifik dari seluruh bahan atau
rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (Comprehension)
Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang
diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (Application)
Aplikasi yaitu suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.
d. Analisis (Analysis)
Analisis yaitu suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi
dan ada kaitannya dengan yang lain.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis diartikan sebagai suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan baru.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan untuk melaksanakan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi/objek.
3. Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Mubarak (2011) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi
pengetahuan antara lain:
8
a. Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang kepada orang lain
agar dapat memahami suatu hal. Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin tinggi
pendidikan seseorang, semakin mudah pula mereka menerima informasi. Hal
tersebut membuat pengetahuan yang dimilikinya akan semakin banyak.
Sebaliknya, jika seseorang memiliki tingkat pendidikan yang rendah, maka akan
menghambat perkembangan sikap orang tersebut terhadap penerimaan informasi
dan nilai-nilai yang baru diperkenalkan.
Semua penduduk di Indonesia wajib mengikuti program wajib belajar
pendidikan dasar selama sembilan tahun, enam tahun di sekolah dasar dan tiga
tahun di sekolah menengah pertama. Saat ini, pendidikan di Indonesia diatur
melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Pendidikan di Indonesia terbagi ke dalam tiga jalur utama, yaitu formal,
nonformal, dan informal. Pendidikan juga dibagi ke dalam empat jenjang, yaitu
anak usia dini, dasar (SD, SMP), menengah (SMA Sederajat), dan tinggi
(perguruan tinggi).
Yuriani (2021) melakukan penelitian tentang Hubungan Pengetahun,
Pendidikan Ibu dan Dukungan Keluarga dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
pada Ibu Post Partum Di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Lubuk Batang
Kabupaten Ogan Komirting Ulu Tahun 2021, mendapatkan hasil ada hubungan
pendidikan dengan IMD dengan hasil p-value 0,015 < 0,05.
9
b. Pekerjaan
Lingkungan pekerjaan dapat membuat seseorang memperoleh pengalaman
dan pengetahuan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hasil penelitian
Bongga (2018) mendapatkan hasil bahwa pekerjaan merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi ibu dalam melakukan IMD di Puskesmas dan Kabupaten
Toraja Utara Tahun 2018.
c. Umur
Dengan bertambahnya umur seseorang akan mengalami perubahan aspek
fisik dan psikologis (mental). Secara garis besar, pertumbuhan fisik terdiri dari
empat kategori perubahan yaitu perubahan ukuran, perubahan proporsi, hilangnya
ciri-ciri lama, dan timbulnya ciri-ciri baru. Perubahan ini terjadi karena
pematangan fungsi organ. Pada aspek psikologis atau mental, taraf berpikir
seseorang menjadi semakin matang dan dewasa.
Umur ideal seorang ibu hamil adalah 20 tahun-35 tahun. Umur Ibu yang
kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun termasuk dalam ibu yang beresiko
tinggi. Hasil penelitian Bongga (2018) mendapatkan hasil bahwa umur merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi ibu dalam melakukan IMD di Puskesmas
dan Kabupaten Toraja Utara Tahun 2018.
d. Minat
Minat sebagai suatu kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap
sesuatu. Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni suatu hal,
sehingga seseorang memperoleh pengetahuan yang lebih mendalam.
10
e. Pengalaman
Pengalaman adalah suatu kejadian yang pernah dialami seseorang dalam
berinteraksi dengan lingkungannya. Orang cenderung berusaha melupakan
pengalaman yang kurang baik. Sebaliknya, jika pengalaman tersebut
menyenangkan, maka secara psikologis mampu menimbulkan kesan yang sangat
mendalam dan membekas dalam emosi kejiwaan seseorang. Pengalaman baik ini
akhirnya dapat membentuk sikap positif dalam kehidupannya.
f. Kebudayaan Lingkungan Sekitar
Lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan sikap pribadi atau
sikap seseorang. Kebudayaan lingkungan tempat kita hidup dan dibesarkan
mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apabila dalam
suatu wilayah mepunyai sikap menjaga kebersihan lingkungan, maka sangat
mungkin masyarakat sekitarnya mempunyai sikap selalu menjaga kebersihan
lingkungan.
g. Informasi
Kemudahan untuk memperoleh suatu informasi dapat mempercepat
seseorang memperoleh pengetahuan yang baru.
4. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian dan
responden (Mubarak, 2011). Adapun pertanyaan yang dapat digunakan untuk
pengukuran pengetahuan secara umum dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis:
a. Pertanyaan subjektif, misalnya jenis pertanyaan esai.
11
b. Pertanyaan objektif, misalnya jenis pertanyaan pilihan ganda, betul atau salah
dan pertanyaan menjodohkan.
Pertanyaan essai disebut pertanyaan subjektif karena penilaian untuk
pertanyaan ini melibatkan faktor-faktor subjektif dari penilai sehingga nilainya
akan berbeda dari seorang penilai satu dibandingkan dengan yang lain dari satu
waktu yang lainnya. Pertanyaan pilihan ganda, betul atau salah, dan menjodohkan
disebut pertanyaan objektif karena pertanyaan- pertanyaan itu dapat dinilai secara
pasti oleh penilainya tanpa melibatkan faktor subjektif dari penilai.
Pengetahuan manusia sebagian besar diperoleh melalui mata dan telinga.
Rumus yang digunakan untuk mengukur presentase dari jawaban yang didapat
dari kuesioner menurut Arikunto, (2016) yaitu:
Menurut Arikunto (2016) tingkat pengetahuan seseorang diinterpretasikan
dalam skala yang bersifat kualitatif, yaitu sebagai berikut.
1) Baik (jika jawaban terhadap kuesioner 76 - 100% benar)
2) Cukup (jika jawaban terhadap kuesioner 56 - 75% benar)
3) Kurang (jika jawaban terhadap kuesioner < 56% benar)
B. Sikap
1. Pengertian sikap
Sikap merupakan suatu ekspresi perasaan seseorang yang merefleksikan
kesukaannya atau ketidaksukaannya terhadap suatu objek (Damiati, 2017). Sikap
adalah evaluasi, perasaan, dan kecendrungan seseorang yang secara konsisten
menyukai atau tidak menyukai suatu objek atau gagasan (Kootler, 2017). Sikap
12
merupakan ungkapan perasaan konsumen tentang suatu objek apakah disukai atau
tidak, dan sikap juga menggambarkan kepercayaan konsumen terhadap berbagai
atribut dan manfaat dari objek tersebut (Sumarwan, 2014).
2. Komponen sikap
Menurut Damiati (2017) komponen sikap dibagi menjadi tiga yaitu :
a. Komponen kognitif
Komponen pertama dari sikap kognitif seseorang yaitu pengetahuan dan
persepsi yang diperoleh melalui kombinasi pengalaman langsung dengan objek
sikap dan informasi tentang objek itu yang diperoleh dari berbagai sumber.
Pengetahuan dan persepsi yang dihasilkannya biasanya membentuk keyakinan
artinya keyakinan konsumen bahwa objek sikap tertentu memiliki beberapa
atribut dan bahwa perilaku tertentu akan menyebabkan hasil tertentu
b. Komponen afektif
Komponen afektif berkaitan dengan emosi atau perasaan konsumen
terhadap suatu objek. Perasaan itu mencerminkan evaluasi keseluruhan konsumen
terhadap suatu objek, yaitu suatu keadaan seberapa jauh konsumen merasa suka
atau tidak suka terhadap objek itu evaluasi konsumen terhadap suatu merek dapat
diukur dengan penilaian terhadap merek dari “sangat jelek” sampai “sangat baik”
atau dari “sangat tidak suka” sampai sangat suka.
c. Komponen konatif
Merupakan komponen yang berkaitan dengan kemungkinan atau
kecenderungan bahwa seseorang akan melakukan tindakan tertentu yang berkaitan
dengan objek sikap, komponen konatif seringkali diperlukan sebagai suatu ekpresi
dari niat konsumen untuk membeli.
13
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
Faktor - faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap menurut Budiman
dan Riyanto (2013) adalah:
a. Pengalaman Pribadi
Sesuatu yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan
mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan akan
menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap.
b. Kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar
terhadap pembentukan sikap kita. Apabila kita hidup dalam budaya yang
mempunyai norma longgar bagi pergaulan heteroseksual, sangat mungkin kita
akan mempunyai sikap yang mendukung terhadap masalah kebebasan pergaulan
heteroseksual.
c. Orang yang dianggap penting
Seseorang yang kita anggap penting, seseorang yang kita harapkan
persetujuannya bagi setiap gerak dan tingkah dan pendapat kita, seseorang yang
tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang berati khusus bagi kita, akan
banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Diantara orang
yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua, orang yang status
sosialnya lebih tinggi, teman sebaya, teman dekat, guru, teman kerja, istri atau
suami dan lain-lain.
d. Media masa
Media massa sebagai sarana komunikasi. Berbagai bentuk media massa
mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang.
14
Informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi
terbentuknya sikap terhada hal tersebut.
e. Institusi atau Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem
mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan
dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu.
Pranata (2018) melakukan penelitian tentang hubungan pengetahuan ibu
dalam memberikan ASI dini dengan sikap ibu tentang IMD yang berada di
Puskesmas Pilang Kenceng Kabupaten Madiun Bulan Oktober 2017 mendapatkan
hasil nilai signifikan sebesar 0,003 ( < 0,05), karena nilai lebih kecil dari 0,05
maka berdasarkan kriteria pengambilan keputusan H0 ditolak. Artinya ada
hubungan secara statistik signifikan antara pengetahuan ibu dalam memberikan
ASI dini dengan sikap ibu tentang IMD yang berada di Puskesmas Pilang
Kenceng Kabupaten Madiun Bulan Oktober 2017. Begitu juga dengan hasil
penelitian dari Agustini dan Panjaitan (2016), yang mendapatkan hasil terdapat
hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang IMD.
4. Cara pengukuran sikap
Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan menilai pernyataan sikap
seseorang. Penyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang mengatakan sesuatu
mengenai objek sikap, yaitu hendak diungkap. Pernyataan sikap mungkin berisi
atau mengatakan hal-hal yang positif mengenai objek sikap, yaitu kalimatnya
bersifat mendukung atau memihak pada objek sikap. Pernyataan ini disebut
dengan pernyataan yang favourable. Sebaliknya pernyataan sikap mungkin pula
berisi hal-hal negatif mengenai objek sikap yang bersifat tidak mendukung
15
maupun kontra terhadap objek sikap. Pernyataan seperti ini disebut dengan
pernyataan yang tidak favourable. Suatu skala sikap sedapat mungkin diusahakan
agar terdidi atas pernyataan favourable dan tidak favourable dalam jumlah yang
seimbang. (Azwar, 2015). Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung atau
tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat/pernyataan
responden terhadap suatu objek. Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
pertanyaan-pertanyaan hipotesis kemudian ditanyakan pendapat responden
melalui kuesioner. Dalam pengukuran sikap skala pengukuran yang digunakan
adalah skala Likert, terdapat 10 pernyataan tentang sikap ibu terhadap inisiasi
menyusu dini lembar kuesioner dengan 7 pernyataan positif dan 3 penyataan
negatif dimana untuk penyataan positif dengan SS= Sangat Setuju bernilai 4, S=
Setuju bernilai 3, TS= Tidak Setuju bernilai 2, STS= Sangat Tidak Setuju bernilai
1, dan untuk pernyataan negatif STS= Sangat Tidak Setuju bernilai 4, TS=Tidak
Setuju bernilai 3, S= Setuju bernilai 2, SS= Sangat Setuju bernilai 1. Jumlah nilai
positif ≥ 50% bila hasil pernyataan mencapai skor 25-40 dan nilai negatif < 50%
jika hasil pernyataan hanya mencapai skor 10-24.
5. Fungsi sikap
Fungsi sikap dibagi menjaid empat yaitu
a. Fungsi Utilitarian
Fungsi ulitarian adalah fungsi yang berhubungan dengan prinsip-prinsip
dasar imbalan dan hukuman. Di sini kosumen mengembangkan beberapa sikap
terhadap produk atas dasar apakah suatu produk memberikan kepuasaan atau
kekecewaan.
16
b. Fungsi Ekspresi Nilai
Konsumen mengembangkan sikap terhadap suatu merek produk bukan
didasarkan atas manfaat produk itu, tetapi lebih didasarkan atas kemampuan
merek produk itu mengekpresikan nilai-nilai yang ada pada dirinya.
c. Fungsi Mempertahankan Ego
Sikap yang dikembangkan oleh konsumen cenderung untuk
melindunginya dari tantangan eksternal maupun perasaan internal, sehingga
membentuk fungsi mempertahankan ego.
d. Fungsi Pengetahuan
Sikap membantu konsumen mengorganisasi infromasi yang begitu
banyak yang setiap hari dipaparkan pada drinya. Fungsi pengetahuan dapat
membantu konsumen mengurangi ketidakpastian dan kebingungan dalam
memilah-milah informasi yang relevan dan tida relevan dengan kebutuhannya.
Sarinah dan Fani (2017) melakukan penelitian di RSKD Ibu dan Anak
Siti Fatimah Makasar yang mendapatkan hasil sebagian besar responden
memiliki sikap yang positif terhadap tentang IMD. Ernawati dkk (2016) meneliti
tentang Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Sikap Ibu Hamil Tentang
Inisiasi Menyusu Dini Di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta mendapatkan hasil
sebagian besar memiliki sikap positif tentang IMD sebesar 79,1%.
C. Inisiasi Menyusu Dini
1. Definisi Inisiasi Menyusu Dini
Inisiasi menyusu dini (early initiation) atau permulaan menyusu dini
adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Sebenarnya bayi manusia
seperti juga bayi mamalia lain mempunyai kemampuan untuk menyusu sendiri.
17
Asalkan dibiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibunya, setidaknya selama satu
jam segera setelah lahir. Cara bayi melakukan inisiasi menyusu dini ini
dinamakan the breast crawl atau merangkak mencari payudara (Roesli, 2012),
pada IMD bayilah yang diharapkan berusaha untuk menyusu. Pada jam pertama,
bayi berhasil menemukan payudara ibunya. Inilah awal hubungan menyusui
antara bayi dan ibunya, yang akhirnya berkelanjutan dalam kehidupan ibu dan
bayi (Prasetyono, 2012).
Menurut Wiji IMD adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan,
di mana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri (tidak disodorkan ke
puting susu). Inisiasi Menyusu Dini akan sangat membantu dalam
keberlangsungan pemberian ASI eksklusif (Wiji, 2013).
2. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini
Inisiasi menyusu dini sangat penting tidak hanya untuk bayi, namun juga
bagi si ibu. Dengan demikian, sekitar 22% angka kematian bayi setelah lahir pada
1 bulan pertama dapat ditekan. Bayi disusui selama 1 jam atau lebih di dada
ibunya segera setelah lahir. Hal tersebut juga penting dalam menjaga
produktivitas ASI. Isapan bayi penting dalam meningkatkan kadar hormon
prolaktin, yaitu hormon yang merangsang kelenjar susu untuk memproduksi ASI.
Isapan itu akan meningkatkan produksi susu dua kali lipat. Itulah bedanya isapan
dengan perasan (Yuliarti, 2013).
Penelitian Smith dkk di Tanzania mengungkapkan bahwa penundaan
inisiasi menyusu dini berhubungan dengan peningkatan risiko morbiditas bayi
pada 6 bulan awal kehidupannya sehingga inisiasi menyusu dini, pemberian ASI
eksklusif selama 6 bulan dan diperpanjang hingga usia bayi 2 tahun harus
18
diprioritaskan serta dipromosikan sebagai upaya untuk meningkatkan kesehatan
anak (Smith dkk, 2017). Sementara penelitian Rosyid dan Sumarmi menyebutkan
bahwa dengan melakukan inisiasi menyusu dini, ibu akan semakin percaya diri
untuk terus memberikan ASI secara eksklusif dan bayi akan merasa nyaman saat
terjadi kontak kulit dengan ibu (Rosyid dan Sumarmi, 2017).
Beberapa manfaat lain IMD menurut Roesli, yaitu (Roesli, 2012):
a. Dada ibu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari
payudara. Ini akan menurunkan kematian yang disebabkan kedinginan
(hypothermia)
b. Ibu dan bayi merasa lebih tenang. Pernapasan dan detak jantung bayi lebih
stabil. Bayi akan lebih jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian
energi,
c. Saat merangkak mencari payudara, bayi memindahkan bakteri dari kulit
ibunya. Ia akan menjilat-jilat kulit ibu dan menelan bakteri baik di kulit ibu.
Bakteri baik ini akan berkembang biak membentuk koloni di kulit dan usus
bayi lalu menyaingi bakteri jahat dari lingkungan,
d. Bonding (ikatan kasih sayang) antara ibu dan bayi akan lebih baik karena pada
1-2 jam pertama bayi dalam keadaan siaga. Setelah itu, biasanya bayi tidur
dalam waktu yang lama,
e. Makanan awal non-ASI mengandung zat putih telur yang bukan berasal dari
susu manusia, misalnya dari susu hewan. Hal ini dapat mengganggu
pertumbuhan fungsi usus dan mencetuskan alergi lebih awal.
f. Bayi yang diberi kesempatan menyusu dini lebih berhasil menyusu eksklusif
dan akan lebih lama disusui.
19
g. Hentakan kepala bayi kedada ibu, sentuhan tangan bayi diputing susu dan
sekitarnya, emutan dan jilatan bayi pada puting ibu merangsang pengeluaran
hormon oksitosin. Hormone oksitosin penting untuk membantu rahim
berkontraksi sehingga membantu pengeluaran ari-ari (plasenta) dan
mengurangi perdarahan ibu, merangsang produksi hormone lain yang membuat
ibu menjadi lebih rileks, lebih mencintai bayinya, meningkatkan ambang nyeri
dan perasaan sangat bahagia, menenangkan ibu dan bayi serta mendekatkan
mereka berdua, merangsang pengaliran ASI dari payudara.
h. Bayi mendapatkan ASI kolostrum, ASI yang pertama kali keluar. Cairan emas
ini kadang juga dinamakan the gift of life. Bayi yang diberi kesempatan inisiasi
menyusu dini lebih dulu akan mendapatkan kolostrum daripada yang tidak
diberi kesempatan. Kolostrum merupakan ASI istimewa yang kaya akan daya
tahan tubuh, penting untuk ketahanan terhadap infeksi, penting untuk
pertumbuhan usus, bahkan kelangsungan hidup bayi. Kolostrum akan membuat
lapisan yang melindungi dinding usus bayi yang masih belum matang sekaligus
mematangkan dinding usus.
i. Ibu dan ayah akan merasa sangat bahagia bertemu dengan bayinya untuk
pertama kali dalam kondisi seperti ini. Bahkan, ayah mendapat kesempatan
mengazankan anaknya di dada ibunya, suatu pengalaman batin yang amat
indah bagi ketiganya.
3. Tata Laksana Inisiasi Menyusu Dini
Tahun 1992 WHO/UNICEF telah mengeluarkan protokol tentang 10
langkah untuk keberhasilan menyusui (the ten steps to succesful breastfeeding)
yang harus diketahui oleh setiap tenaga kesehatan yang berhubungan dengan ibu
20
bersalin dan bayi yang dilahirkan. Langkah keempat adalah Inisiasi Menyusu
dalam waktu 30 menit setelah lahir.
Pada waktu itu pelaksanaan, langkah keempat ini belum seperti yang
diluncurkan sekarang. Pelaksanaan waktu itu setelah bayi dikeringkan dalam
keadaan dibungkus (tidak ada kontak kulit dengan kulit) diletakkan dekat ibunya
dan disuruh menyusu. Sekarang perubahan pada langkah keempat tersebut adalah
sebagai berikut (Kosim dkk, 2012):
a. Bayi baru lahir yang diputuskan tidak memerlukan resusitasi segera
diletakkan di atas perut ibunya dan dikeringkan mulai dari muka, kepala, serta
bagian tubuh lainnya kecuali kedua tangannya. Bau cairan amnion pada
tangan bayi akan membantunya mencari puting ibu yang mempunyai bau
yang sama. Maka agar baunya tetap ada, dada ibu juga tidak boleh
dibersihkan. Mengeringkan bayi tidak perlu sampai menghilangkan verniks
karena verniks dapat berfungsi sebagai penahan panas pada bayi.
b. Setelah dua menit tali pusar dipotong dan diikat kemudian bayi
ditengkurapkan di atas perut ibunya dengan kepala bayi menghadap ke kepala
ibunya.
c. Jika ruang bersalin dingin, maka kepala bayi diberi topi dan diberikan selimut
yang akan menyelimuti ibu dan bayinya.
d. Pengamatan oleh Widstrom, Righard, dan Alade memperlihatkan bahwa
bayi-bayi yang tidak mengalami sedasi mengikuti suatu pola perilaku
prefeeding yang dapat diprediksi. Apabila bayi dibiarkan tengkurap di perut
ibunya selama beberapa lama dia akan diam saja kemudian akan waspada dan
melihat sekelilingnya.
21
e. Setelah 12-44 menit bayi akan mulai bergerak dengan menendang,
menggerakkan kaki, bahu dan lengannya. Stimulasi ini akan membantu uterus
untuk berkontraksi. Meskipun kemampuan melihatnya terbatas, bayi dapat
melihat areola mammae yang memang warnanya lebih gelap dan menuju ke
sana. Bayi akan membenturkan kepalanya ke dada ibu. Ini merupakan
stimulasi yang menyerupai massage untuk payudara ibu.
f. Bayi kemudian mencapai puting dengan mengandalkan indera penciumannya
dan dipandu oleh bau pada kedua tangannya. Bayi akan mengangkat kepala,
mulai mengulum puting dan mulai menyusu. Hal tersebut dapat tercapai
antara 27-71 menit.
g. Menyusu pertama berlangsung sekitar 15 menit dan setelah selesai selama 2-
2,5 jam berikutnya tidak ada keinginan untuk menghisap. Selama menyusu
bayi akan mengkoordinasi isapan, menelan dan bernapas. Pada saat itu
kadang sudah terdapat kolostrum jadi proses menyusu jangan diinterupsi.
h. Setelah usai penyusuan dini dilanjutkan tindakan asuhan perawatan seperti
menimbang, pemeriksaan antropometri, menyuntikkan vitamin K1, dan
mengoleskan salep pada mata.
i. Tunda memandikan bayi paling tidak 6 jam setelah lahir atau pada hari
berikutnya.
j. Bayi tetap berada dalam jangkauan ibunya agar dapat disusukan sesuai
keinginan bayi atau ibu.
22
4. Tahapan Perilaku sebelum Bayi Berhasil Menyusu
Bayi baru lahir yang mendapat kontak kulit ke kulit segera setelah lahir
akan melalui lima tahapan perilaku (pre-feeding behaviour) sebelum ia berhasil
menyusu. Lima tahapan tersebut, yakni (Maryunani, 2012):
1) Dalam 30-45 menit pertama
a) Bayi akan diam dalam keadaan siaga.
b) Sesekali matanya membuka lebar dan melihat ke ibunya.
c) Masa ini merupakan penyesuaian peralihan dari keadaan di dalam kandungan
ke luar kandungan dan merupakan dasar pertumbuhan rasa aman bayi
terhadap lingkungannya.
d) Hal ini juga akan meningkatkan rasa percaya diri ibu akan kemampuannya
menyusui dan mendidik anaknya.
e) Demikian pula halnya dengan ayah, dengan melihat bayi dan istrinya dalam
suasana menyenangkan ini akan tertanam rasa percaya diri ayah untuk ikut
membantu keberhasilan ibu menyusui dan mendidik anaknya.
2) Dalam 45-60 menit pertama
a) Bayi akan menggerakkan mulutnya seperti mau minum, mencium dan kadang
mengeluarkan suara dan menjilat tangannya.
b) Bayi akan mencium dan merasakan cairan ketuban yang ada di tangannya.
c) Bau ini sama dengan bau yang dikeluarkan payudara ibu. Bau dan rasa
tersebut yang akan membimbing bayi untuk menemukan payudara dan puting
susu ibu. Oleh karena itu pula tidak disarankan untuk mengeringkan kedua
tangan bayi pada saat bayi baru lahir.
d) Mengeluarkan liur. Bayi telah siap dan menyadari ada makanan di sekitarnya.
23
3) Bayi mulai bergerak kearah payudara
a) Areola payudara akan menjadi sasarannya dengan kaki bergerak menekan
perut ibu.
b) Bayi akan menjilat perut ibu, mengentakkan kepala ke dada ibu, menoleh ke
kanan dan kiri, serta menyentuh dan meremas daerah putting susu dan
sekitarnya dengan tangan.
4) Akhirnya bayi menemukan, menjilat, mengulum puting, membuka mulut
lebar-lebar dan melekat dengan baik serta mulai menyusu.
5. Penghambat Inisiasi Menyusu Dini
Berikut ini beberapa pendapat yang menghambat terjadinya kontak dini
kulit ibu dengan kulit bayi (Roesli, 2012).
a. Bayi kedingingan
Bayi berada dalam suhu yang aman jika melakukan kontak kulit dengan
sang ibu. Suhu payudara ibu meningkat 0,5 derajat dalam dua menit jika bayi
diletakkan di dada ibu. Berdasarkan hasil penelitian Dr. Niels Bergman,
ditemukan bahwa suhu dada ibu yang melahirkan menjadi 10 lebih panas daripada
suhu dada ibu yang tidak melahirkan. Jika bayi yang diletakkan di dada ibu ini
kepanasan, suhu dada ibu akan turun 10. Jika bayi kedinginan, suhu dada ibu akan
meningkat 20C untuk menghangatkan bayi. Jadi, dada ibu yang melahirkan
merupakan tempat terbaik bagi bayi yang baru lahir dibandingkan tempat tidur
yang canggih dan mahal .
24
b. Ibu terlalu lelah untuk segera menyusui bayinya
Seorang ibu jarang terlalu lelah untuk memeluk bayinya segera setelah lahir.
Keluarnya oksitosin saat kontak kulit ke kulit serta saat bayi menyusu dini
membantu menenangkan ibu.
c. Tenaga kesehatan kurang tersedia
Saat bayi di dada ibu, penolong persalinan dapat melanjutkan tugasnya.
Bayi dapat menemukan sendiri payudara ibu. Libatkan ayah atau keluarga
terdekat untuk menjaga bayi sambil memberi dukungan pada ibu.
d. Ibu harus dijahit
Kegiatan merangkak mencari payudara terjadi di area payudara. Yang
dijahit adalah bagian bawah tubuh ibu.
e. Suntikan vitamin K dan tetes mata harus segera diberikan
Menurut American College of Obstetrics and Gynecology dan Academy
Breastfeeding Medicine (2007), tindakan pencegahan tersebut dapat ditunda
setidaknya selama satu jam sampai bayi menyusu sendiri tanpa membahayakan
bayi.
f. Bayi harus dimandikan dan dilakukan pemeriksaan antropometri
Menunda memandikan bayi berarti menghindarkan hilangnya panas badan
bayi. Selain itu, kesempatan vernix meresap, melunakkan dan melindungi kulit
bayi lebih besar. Bayi dapat dikeringkan segera setelah lahir. Penimbangan dan
pengukuran dapat ditunda sampai menyusu awal selesai.
g. Bayi kurang siaga
Justru pada 1-2 jam pertama kelahirannya, bayi sangat siaga (alert). Setelah
itu, bayi tidur dalam waktu yang lama. Jika bayi mengantuk akibat obat yang
25
diasup ibu, kontak kulit akan lebih penting lagi karena bayi memerlukan bantuan
lebih untuk bonding.
h. Kolostrum tidak keluar atau jumlah kolostrum tidak memadai
Kolostrum cukup dijadikan makanan pertama bayi baru lahir. Bayi
dilahirkan dengan membawa bekal air dan gula yang dapat dipakai pada saat itu.
i. Kolostrum tidak baik, bahkan berbahaya bagi bayi
Kolostrum sangat diperlukan untuk tumbuh-kembang bayi. Selain sebagai
imunisasi pertama dan mengurangi kuning pada bayi baru lahir, kolostrum
melindungi dan mematangkan dinding usus yang masih muda.
Penelitian Heryanto (2016) menyebutkan kurangnya pengetahuan dan
informasi yang benar mengenai Inisiasi Menyusu Dini merupakan salah satu
faktor yang menghambat pelaksanaan IMD tersebut. Banyak orang tua yang
merasa kasihan bahkan tidak percaya jika bayinya dapat mencari dan menemukan
puting susu ibunya saat dilakukan IMD. Selain itu, minimnya pengetahuan
mengenai manfaat inisiasi menyusu dini juga menyebabkan ibu ragu untuk
meminta bantuan tenaga kesehatan (Heryanto, 2016). Demikian pula dalam
penelitian Saleha dkk yang menegaskan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari
pengetahuan terhadap implementasi inisiasi menyusu dini. Dengan kata lain,
semakin tinggi tingkat pengetahuan ibu, maka semakin mungkin bagi ibu untuk
melakukan IMD pada bayinya (Saleha, 2016).
26