0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan3 halaman

Ciri-ciri Keputusan Etis dalam Kehidupan

Diunggah oleh

There SHa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan3 halaman

Ciri-ciri Keputusan Etis dalam Kehidupan

Diunggah oleh

There SHa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai TXT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

### II.

Ciri-ciri Keputusan Etis

Keputusan etis merupakan bagian integral dari kehidupan manusia yang melibatkan
pertimbangan mendalam mengenai apa yang benar dan salah, baik dan buruk. Dalam
konteks ini, etika berfungsi sebagai panduan untuk memahami norma-norma yang
membentuk perilaku manusia dan cita-cita yang menjadi tujuan hidup. Etika Kristen,
khususnya, berupaya membantu individu dan masyarakat untuk memahami kehendak Allah,
sehingga mereka dapat mengembangkan kehidupan yang selaras dengan prinsip-prinsip
ilahi.

#### 1. Definisi Etika dan Moralitas

Secara sederhana, etika dapat didefinisikan sebagai penyelidikan tentang apa yang
baik atau benar serta apa yang buruk atau salah dalam perilaku manusia. Dalam
konteks ilmiah, istilah "moralitas" lebih merujuk pada kebaikan atau keburukan
perilaku yang nyata, sedangkan "etika" berkaitan dengan pemikiran sistematis
tentang perilaku tersebut, termasuk motivasi dan kondisi batin yang mendasarinya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), etika adalah "ilmu tentang apa yang
baik dan buruk serta tentang hak dan kewajiban moral."

Kata "kesusilaan" berasal dari bahasa Sanskerta, yang terdiri dari dua suku kata:
"sila," yang berarti norma kehidupan, dan "su," yang berarti baik. Meskipun saat
ini "kesusilaan" sering diartikan sebagai sopan santun, pada dasarnya istilah ini
memiliki makna yang sama dengan etika. Akhlak, yang berarti tabiat atau watak, juga
sangat erat kaitannya dengan etika, karena akhlak menjadi sumber dari tindakan
manusia.

Etika berkaitan dengan penggunaan istilah seperti "baik," "jahat," "benar,"


"salah," dan lain-lain, yang menunjukkan kewajiban dan tanggung jawab manusia.
Contohnya, pernyataan seperti "Kita wajib menolong sesama" atau "Jangan membunuh"
mencerminkan pandangan etis tentang tindakan yang dianggap baik dan buruk dalam
masyarakat.

#### 2. Hubungan Antara Etika dan Ilmu Sosial

Etika tidak bisa dipisahkan dari kajian ilmu sosial seperti antropologi, sosiologi,
dan psikologi. Meskipun ilmu sosial menyelidiki perilaku manusia, mereka tidak
menilai apakah perilaku tersebut baik atau buruk. Sebagai contoh, dalam kajian
sosiologi, peneliti mungkin menganalisis fenomena sosial tanpa memberikan penilaian
moral. Namun, etika berusaha untuk memberikan bimbingan agar individu dapat
memperbaiki tindakan mereka berdasarkan norma-norma yang ada.

Tidak ada batas mutlak antara ilmu sosial dan etika. Etika memerlukan data empiris
dari ilmu sosial untuk memahami perilaku manusia secara lebih baik. Sebaliknya,
ilmu sosial membutuhkan asumsi etis untuk menjalankan tugasnya. Misalnya, dalam
penelitian tentang keadilan sosial, seorang sosiolog mungkin perlu mempertimbangkan
nilai-nilai etis yang mendasari konsep keadilan itu sendiri.

#### 3. Keputusan Etis dalam Kehidupan Sehari-hari

Pengambilan keputusan etis sering kali melibatkan pilihan yang sulit. Dalam banyak
kasus, jalan terbaik tidak selalu jelas. Misalnya, dalam situasi di mana seseorang
harus memilih antara mengatakan kebenaran yang menyakitkan atau berbohong untuk
melindungi perasaan orang lain, keputusan tersebut tidak selalu mudah. Dalam hal
ini, keputusan etis tidak hanya bergantung pada prinsip moral, tetapi juga pada
konteks dan konsekuensi dari tindakan tersebut.

Ada anggapan bahwa memilih perbuatan yang benar selalu mudah, asalkan seseorang
memiliki niat baik. Namun, kenyataannya, banyak orang merasa bingung ketika
dihadapkan pada dilema moral. Sebagai contoh, seorang remaja mungkin merasa
terjebak ketika diminta untuk berbohong oleh orang tuanya. Dalam situasi seperti
ini, meskipun ada kesepakatan umum bahwa berbohong itu salah, penerapan prinsip
tersebut dalam konteks konkret bisa menjadi rumit.

#### 4. Pentingnya Pertimbangan Etis

Pertimbangan etis perlu dibedakan dari kemauan etis. Meskipun kemauan untuk berbuat
baik sangat penting, terkadang keputusan yang diambil dipengaruhi oleh faktor-
faktor eksternal dan internal yang kompleks. Misalnya, orang yang memiliki kemauan
kuat untuk melakukan kebaikan mungkin masih merasa ragu tentang tindakan yang harus
diambil dalam situasi yang rumit. Oleh karena itu, penting untuk mendekati
keputusan etis dengan pemikiran yang jernih dan terbuka.

Dalam banyak kasus, orang mungkin merasa bahwa semua pilihan memiliki aspek baik,
sehingga memilih salah satu tidak terlalu penting. Namun, pandangan ini mengabaikan
tanggung jawab moral untuk memilih yang terbaik, meskipun tidak ada pilihan yang
sempurna. Misalnya, dalam konteks pengeluaran uang, seseorang harus
mempertimbangkan tidak hanya keinginan pribadi tetapi juga tanggung jawab terhadap
keluarga dan masyarakat.

#### 5. Keputusan Etis dan Tanggung Jawab Sosial

Keputusan etis tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada masyarakat
secara keseluruhan. Dalam konteks sosial, keputusan untuk tidak bertindak juga
merupakan keputusan yang memiliki konsekuensi. Sebagai contoh, selama periode
transisi politik di Indonesia pada tahun 1945, masyarakat dihadapkan pada pilihan
antara tetap dalam penjajahan atau berjuang untuk kemerdekaan. Keputusan untuk
tidak terlibat dalam perjuangan tersebut dapat dianggap sebagai keputusan yang
tidak etis, karena tidak berkontribusi pada perubahan yang diperlukan.

Kita perlu menjadi individu yang aktif dalam pengambilan keputusan, bukan hanya
pasif membiarkan keadaan mengendalikan hidup kita. Dalam konteks Kristen, Yesus
mengajarkan bahwa kita harus menjadi "garam" yang memberikan rasa pada dunia, bukan
"tawar" yang tidak berpengaruh. Keputusan yang diambil harus didasarkan pada
pertimbangan etis yang matang, bukan sekadar mengikuti arus atau kebiasaan.

#### 6. Menghadapi Ketakutan dalam Pengambilan Keputusan

Ketakutan akan membuat keputusan yang salah sering kali menghalangi orang untuk
bertindak. Meskipun keputusan yang salah dapat memiliki konsekuensi serius,
kepercayaan pada kasih karunia Tuhan dapat membantu mengurangi ketakutan tersebut.
Dalam iman Kristen, ada keyakinan bahwa Tuhan akan menerima dan mengasihi kita
meskipun kita membuat kesalahan. Oleh karena itu, kita harus berani mengambil
keputusan, dengan memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar.

#### 7. Memahami Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Etis

Untuk memahami pengambilan keputusan etis, kita perlu mempertimbangkan faktor-


faktor yang sering kali tidak disadari. Keputusan kita dipengaruhi oleh norma-norma
sosial, kepercayaan pribadi, dan lingkungan tempat kita berada. Misalnya, seseorang
yang dibesarkan dalam lingkungan yang menekankan pentingnya kejujuran mungkin lebih
cenderung untuk bersikap jujur dalam situasi sulit.

Dalam konteks etika, kata Yunani "ethos" mencerminkan kebiasaan individu dan
masyarakat. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa keputusan etis tidak
hanya bergantung pada prinsip-prinsip moral, tetapi juga pada karakter dan
lingkungan sosial individu.
### Kesimpulan

Keputusan etis adalah bagian penting dari kehidupan manusia yang melibatkan
pertimbangan mendalam tentang apa yang benar dan salah. Dalam pengambilan
keputusan, penting untuk memahami bahwa tidak ada pilihan yang sepenuhnya baik atau
buruk. Kita harus berusaha untuk membuat keputusan yang sebaik mungkin dengan
mempertimbangkan semua faktor yang relevan. Dengan demikian, kita dapat menjalani
hidup yang lebih bermakna dan sesuai dengan nilai-nilai etis yang kita anut.

### Referensi

1. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).


2. Magnis, Frans von. Etika dalam Kehidupan Sehari-hari. Jakarta: Penerbit XYZ,
2020.
3. Kisah Para Rasul 15:1-21, Alkitab.
4. Galatia 2:11-21, Alkitab.
5. Matius 5:13, Alkitab.

Dengan demikian, pengertian dan penerapan etika dalam kehidupan sehari-hari sangat
penting untuk membentuk individu dan masyarakat yang lebih baik. Kita perlu terus
belajar dan berusaha untuk membuat keputusan yang etis, serta bertanggung jawab
terhadap pilihan yang kita ambil.

Anda mungkin juga menyukai