Manajemen Berdasarkan Aktivitas (ABM)
Manajemen Berdasarkan Aktivitas (ABM)
2.1.1 Definisi
manajemen pada aktivitas dengan tujuan perbaikan nilai pelanggan dan laba yang
dicapai dengan menyediakan nilai ini (Hansen dan Mowen, 2004 : 487). Menurut
meningkatkan customer value dan laba yang dicapai dari penyediaan value
tersebut.
(MBA) adalah suatu disiplin (sistem yang luas dan pendekatan yang terintegrasi)
untuk meningkatkan nilai yang diterima oleh konsumen dan laba yang diperoleh
dari penyediaan nilai tersebut. Dari definisi – definisi di atas, dapat diketahui
kepengelolaan secara terpadu dan bersistem pada aktivitas yang bertujuan untuk
dipecah ke dalam bagian – bagian yang lebih kecil karena diyakini jika pengerjaan
1
bagian – bagian yang lebih kecil dilaksanakan secara berkualitas dan efisien,
maka proses produksi dan penyerahan jasa secara keseluruhan akan berkualitas
karena itu, ABM berusaha memadukan kembali proses produksi dan penyerahan
aktivitas bukan penambah nilai dan aktivitas penambah nilai yang tidak
penambah nilai dan memperbaiki aktivitas penambah nilai yang akibatnya adalah
atau Activity Based Costing (ABC) dan analisis nilai proses atau Process Value
dimensi: dimensi biaya dan dimensi proses. Dimensi biaya memberikan informasi
biaya mengenai sumber daya, aktivitas, produk dan pelanggan (dan objek biaya
2
pembebanan biaya. Sebagaimana disebutkan pada model tersebut, sumber biaya
ditelusuri pada aktivitas, dan kemudian biaya aktivitas dibebankan pada produk
Kedua dimensi ABM tampak pada gambar berikut ini (Hansen dan
Sumber Daya
Dimensi Proses
Mengapa? Apa?
Produk dan
Pelanggan
3
a. Dimensi Biaya
b. Dimensi Proses
Dimensi proses atau analisis nilai proses adalah dimensi ABM yang
kinerja.
4
2.1.3 Tujuan dan Manfaat ABM
Tujuan ABM adalah untuk meningkatkan nilai produk atau jasa yang
diserahkan ke konsumen. Oleh karena itu, dapat digunakan untuk mencapai laba
pada akuntabilitas aktivitas – aktivitas dan bukan pada biaya, ABM menekankan
bernilai tambah.
didasarkan pada isu – isu bisnis yang luar dan tidak semata berdasarkan
5
2.2 Process Value Analysis (PVA)
memfokuskan pada akuntabilitas aktivitas, bukan pada biaya, dan hal ini
yang muncul dalam suatu organisasi. Proses terjadi dari aktivitas yang
perbaikan cara aktivitas yang dilakukan. Jadi, manajemen aktivitas, bukan biaya,
untuk penghitungan biaya produk dan untuk pengendalian yang efektif telah
mengarah pada suatu pandangan baru terhadap proses bisnis yang disebut
S;2001: 619):
6
a. Analisis Pemacu (Driver Analysis)
pemacu biaya (cost driver) yaitu resource driver dan activity driver. Resource
driver adalah faktor yang menjadi penyebab konsumsi sumber daya oleh aktivitas.
Activity driver adalah faktor yang menjadi penyebab timbulnya konsumsi aktivitas
oleh cost object. Sebagai contoh, kuantitas produk yang dipesan oleh customer
baku, karena besarnya bahan baku ditentukan oleh kuantitas produk yang dipesan
oleh customer. Analisis pemacu adalah usaha untuk mencari faktor penyebab
timbulnya biaya suatu aktivitas. Jika penyebab timbulnya biaya diketahui, dapat
dari analisis pemacu, diketahui bahwa pemindahan bahan baku disebabkan oleh
tata letak pabrik. Oleh karena itu, biaya pemindahan bahan baku dapat dikurangi
b. Analisis Aktivitas
langkah:
7
3. Waktu dan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan aktivitas
penambah nilai.
c. Pengelolaan aktivitas
bukan penambah nilai yang perlu dikurangi dan dihilangkan serta aktivitas
pengelolaannya.
d. Pengelolaan Kinerja
baik dalam bentuk keuangan dan non keuangan. Pengukuran ini didesain untuk
8
2.3 Aktivitas
yang digunakan perusahaan termasuk waktu dan sumber daya untuk mencapai
kombinasi dari organisasi, teknologi, bahan baku, metode dan lingkungan untuk
menghasilkan produk dan jasa. Aktivitas itu menggambarkan apa yang dilakukan
oleh suatu perusahaan, yaitu cara waktu digunakan dan prosedur untuk
Berkaitan dengan hal ini dapat dikatakan pula bahwa aktivitas merupakan
suaru proses yang mengkonsumsi sumber daya untuk menghasilkan output. Pada
intinya fungsi dari aktivitas adalah untuk mengubah sumber daya (material,
tenaga kerja, teknologi) menjadi output atau produk. Sekumpulan aktivitas yang
aktivitas yang lebih spesifik maupun digabung menjadi satu aktivitas yang bersifat
9
a. Fungsi
tidak berkaitan satu dengan yang lainnya. Satu – satunya hal yang
secara umum. Contoh aktivitas pada tingkat fungsi adalah tanggung jawab
atas nama mutu. Dalam hal ini terdapat beberapa aktivitas, antara lain:
konsumennya.
b. Proses Bisnis
tersebut memiliki hubungan sebab akibat yang kuat. Keluaran yang satu
c. Aktivitas
10
d. Tugas
e. Operasi
1999: 11):
Fungsi-fungsi
Proses bisnis
Aktivitas-aktivitas
Tugas-tugas
Operasi
proses bisnis atau menciptakan nilai yang dapat memuaskan para konsumennya
11
(Supriyono, 1999: 377). Aktivitas ini jika dieliminasi akan mengurangi pelayanan
karena produk yang dihasilkan tidak dapat memuaskan pelanggan lagi, sehingga
memenuhi ketiga kondisi berikut ini (Hansen dan Mowen, 2004: 489):
pelanggan adalah selisih antara pengorbanan yang dilakukan oleh pemakai dan
manfaat yang diterima bagi perusahaan. Jadi ini memberikan pengertian bahwa
mendapatkan manfaatnya.
12
2.4.2 Aktivitas Tidak Bernilai Tambah (Non Value Added Activities)
“Aktivitas tidak bernilai tambah adalah aktivitas yang dapat dikurangi biayanya
tidak akan berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan. Selain itu, aktivitas
“aktivitas tidak bernilai tambah adalah aktivitas – aktivitas yang tidak perlu atau
aktivitas – aktivitas yang perlu namun tidak dilaksanakan secara efisien dan dapat
disempurnakan.”
tambah karena hanya menambah biaya yang tidak berguna dan menghalangi
apabila aktivitas tersebut tidak memenuhi satu dari ketiga kondisi kriteria aktivitas
mengeleminasi biaya yang telah terjadi karena aktivitas tidak bernilai tambah
13
produksi pada perusahaan. Suatu aktivitas tidak bernilai tambah tidak mempunyai
disebut sebagai suatu yang sia – sia dan tidak perlu (Hansen dan Mowen, 2004:
491):
1. Penjadwalan
akses untuk pemrosesan (atau kapan dan berapa banyak persiapan harus
2. Pemindahan
sumber daya untuk memindahkan bahan, barang dalam proses dan barang
3. Penantian
proses selanjutnya.
4. Pengawasan
5. Penyimpanan
14
Penyimpanan adalah suatu aktivitas yang menggunakan waktu dan
sumber daya ketika suatu barang atau bahan disimpan dalam persediaan.
efisiensi, kualitas dan waktu (Hansen dan Mowen, 2004: 493). Efisiensi
berkaitan dengan apakah aktivitas sudah dilakukan dengan benar sejak pertama
suatu aktivitas juga merupakan faktor penting. Karena semakin lama waktu untuk
menjalankan suatu aktivitas maka semakin banyak pula sumber daya yang
dikonsumsi untuk menjalankan aktivitas tersebut. Dalam hal ini, ukuran kinerja
aktivitas yang dinyatakan dalam satuan uang (Supriyono, 1999: 390). Oleh karena
informasi biaya yang ada harus memisahkan biaya bernilai tambah dan biaya yang
15
tidak bernilai tambah. Pemisahan biaya – biaya tersebut diperlukan agar
tambah
masukan. Dengan kata lain, semakin banyak keluaran yang dapat dihasilkan dari
16
konsumsi masukan tersebut semakin produktif aktivitas yang dilakukan
seberapa besar nilai suatu aktivitas bagi pemenuhan kebutuhan konsumen. MCE
dihitung dengan menggunakan data throughput time dan data processing time.
yaitu: waktu pengolahan, waktu gerakan, waktu inspeksi, dan waktu tunggu.
tambah, sedangkan waktu gerakan, waktu inspeksi, dan waktu tunggu termasuk
Proses produksi yang ideal akan menghasilkan throughput time yang sama
waktu pengolahan
MCE =(waktu pengolahan + waktu gerakan + waktu inspeksi + waktu tunggu )
17
2. Menentukan processing time
standar dengan pemicu biaya. Setelah processing time dan throughput time
waktu dengan menggunakan time study. Time study adalah prosedur untuk
untuk mengurangi waktu tidak bernilai tambah menjadi nol, telah berhasil. Jadi,
tambah dengan cara mengurangi waktu tidak bernilai tambah menjadi nol. MCE
yang sempurna atau ideal adalah sebesar 1. MCE dapat sempurna hanya dengan
cara menurunkan aktivitas tidak bernilai tambah dan diikuti oleh pengurangan
biaya. Namun untuk mencapai nilai sempurna merupakan sesuatu yang sangat
18
sulit, oleh karena itu, ditetapkan bahwa perusahaan dapat dikatakan efisien bila
merupakan cara untuk menentukan rating factor atau faktor penyesuaian seorang
operator (Blocher, 2007; 414). Penentuan rating factor atau faktor penyesuaian
kerja yang buruk. Jadi jika pada waktu rata-rata diketahui diselesaikan dengan
kecepatan tidak wajar oleh operator, maka harga rata-rata tersebut harus
(rating factor).
empat faktor (Sutalaksana, 2006; 160), yaitu ketrampilan, usaha, kondisi kerja dan
19
Tabel 2.1
Pembagian kelas-kelas faktor Ketrampilan
Kelas Ciri-ciri
1. Super skill a. Secara bawaan cocok sekali dengan pekerjaannya.
b. Bekerja dengan sempurna.
c. Tampak seperti telah terlatih dengan sangat baik.
d. Gerakan-gerakannya halus tapi sangat cepat sehingga sulit
untuk diikuti.
e. Kadang-kadang terkesan tidak berbeda dengan gerakan-
gerakan mesin.
f. Perpindahan dari satu elemen pekerjaan ke elemennya
lainnya tidak terlampau terlihat karena lancar.
g. Tidak terkesan adanya gerakan-gerakan berpikir dan
merencanakan tentang apa yang dikerjakan (sudah sangat
otomatis).
h. Secara umum dapat dikatakan bahwa pekerja yang
bersangkutan adalah pekerja terbaik.
2. Excellent skill a. Percaya pada diri sendiri.
b. Tampak cocok dengan pekerjaannya.
c. Terlihat telah terlatih baik.
d. Bekerjanya teliti dengan tidak banyak melakukan
pengukuran-pengukuran atau pemeriksaan-pemeriksaan.
e. Gerakan-gerakan kerjanya beserta urutan-urutannya
dijalankan tanpa kesalahan.
f. Menggunakan peralatan dengan baik.
g. Bekerjanya cepat tanpa mengorbankan mutu.
h. Bekerjanya cepat tetapi halus.
i. Bekerjanya berirama dan terkoordinasi.
3. Good skill a. Kualitas hasil baik.
b. Bekerjanya tampak lebih baik daripada
kebanyakan pekerja umumnya.
c. Dapat memberi petunjuk-petunjuk pada pekerja lain yang
ketrampilannya lebih rendah.
d. Tampak jelas sebagai pekerja yang cakap.
e. Tidak memerlukan banyak pengawasan.
f. Tidak ada keragu-raguan.
g. Bekerjanya ”stabil”.
h. Gerakan-gerakannya terkoordinasi dengan baik.
i. Gerakan-gerakannya cepat.
4. Average skill a. Tampak adanya kepercayaan pada diri sendiri.
b. Gerakan-gerakannya tidak cepat tetapi tidak lambat.
c. Terlihat adanya pekerjaan-pekerjaan perencaan.
d. Tampak sebagai pekerja yang cakap.
e. Gerakan-gerakannya cukup menunjukkan tidak
adanya keragu-raguan.
f. Mengkoordinasi tangan dan pikiran dengan cukup baik.
g. Tampak cukup terlatih dan karenanya mengetahui seluk
beluk pekerjaannya.
h. Bekerjanya cukup teliti.
i. Secara keseluruhan cukup memuaskan.
20
5. Fair skill a. Tampak terlatih tetapi belum cukup baik.
b. Mengenal peralatan dan lingkungan secukupnya.
c. Terlihat adanya perencanaan-perencanaan sebelum
melakukan gerakan.
d. Tidak mempunyai kepercayaan diri yang cukup.
e. Tampaknya seperti tidak cocok dengan pekerjaannya
tetapi telah ditempatkan diperkerjaan itu sejak lama.
f. Mengetahui apa yang dilakukan dan harus
dilakukan tetapi tampak tidak selalu yakin.
g. Sebagian waktu terbuang karena kesalahan-kesalahan
sendiri.
h. Jika tidak bekerja sungguh-sungguh output-nya akan
rendah.
i. Biasanya tidak ragu-ragu dalam menjalankan
gerakangerakannya.
6. Poor skill a. Tidak bisa mengkoordinasikan tangan dan pikiran.
b. Gerakan-gerakannya kaku.
c. Kelihatan ketidakyakinannya pada urutan gerakan.
d. Seperti tidak terlatih untuk pekerjaan yang bersangkutan.
e. Tidak terlihat adanya kecocokkan dengan pekerjaannya.
f. Ragu-ragu dalam menjalankan gerakan-gerakan kerja.
g. Sering melakukan kesalahan-kesalahan.
h. Tidak ada kepercayaan pada diri sendiri.
i. Tidak bisa mengambil inisiatif sendiri.
(Sumber: Sutalaksana, 2006; 160)
Tabel 2.2
Pembagian kelas-kelas faktor Usaha
Kelas Ciri-ciri
1. Excessive effort a. Kecepatannya sangat berlebihan.
b. Usahanya sangat sungguh-sungguh tetapi dapat
membahayakan kesehatannya.
c. Kecepatan yang ditimbulkannya tidak dapat
dipertahankan sepanjang hari kerja.
2. Excellent effort a. Jelas terlihat kecepatan kerjanya yang tinggi.
b. Gerakan-gerakannya lebih ”ekonomis” dari pada
operator-operator biasa.
c. Penuh perhatian pada pekerjaannya.
d. Banyak memberi saran-saran.
e. Menerima saran-saran dan petunjuk-petunjuk dengan
senang.
f. Percaya kepada kebaikan maksud pengukuran waktu.
g. Tidak dapat bertahan lebih dari beberapa hari.
21
h. Bangga atas kelebihannya.
i. Gerakan-gerakan yang salah sangat jarang terjadi.
j. Bekerjanya sistematis.
k. Karena lancarnya, perpindahan dari suatu elemen
ke elemen lain tidak terlihat..
3. Good effort a. Bekerja berirama.
b. Saat-saat menganggur sangat sedikit, bahkan kadangkadang
tidak ada.
c. Penuh perhatian pada pekerjaannya.
d. Senang pada pekerjaannya.
e. Kecepatannya baik dan dapat dipertahankan sepanjang
hari.
f. Percaya pada kebaikan maksud pengukuran waktu.
g. Menerima saran-saran dan petunjuk-petunjuk dengan
senang.
h. Dapat memberi saran-saran untuk perbaikkan kerja.
i. Tempat kerjanya diatur baik dan rapi.
j. Menggunakan alat-alat yang tepat dengan baik.
k. Memelihara dengan baik kondisi peralatan.
4. Average effort a. Tidak sebaik good effort tetapi lebih baik dari
poor effort.
b. Bekerja dengan stabil.
c. Menerima saran-saran tetapi tidak melaksanakannya.
d. Set up dilaksanakan dengan baik.
e. Melakukan kegiatan-kegiatan perencanaan..
5. Fair effort a. Saran-saran perbaikan diterima dengan kesal.
b. Kadang-kadang perhatian tidak ditujukan pada
pekerjaannya.
c. Kurang sungguh-sungguh.
d. Tidak mengeluarkan tenaga dengan secukupnya.
e. Terjadi sedikit penyimpangan dari cara kerja baku.
f. Alat-alat yang dipakainya tidak selalu yang terbaik.
g. Terlihat adanya kecenderungan kurang perhatian pada
pekerjaannya.
h. Terlampau hati-hati.
i. Sistematika kerjanya sedang-sedang saja.
j. Gerakan-gerakannya tidak terencana.
6. Poor effort a. Banyak membuang waktu.
b. Tidak memperlihatkan adanya minat kerja.
c. Tidak mau menerima saran-saran.
d. Tampak malas dan bekerja lambat.
e. Melakukan gerakan-gerakan yang tidak perlu untuk
mengambil alat-alat dan bahan-bahan.
f. Tempat kerjanya tidak diatur rapi.
g. Tidak peduli pada cocok atau baik tidaknya peralatan
yang dipakai.
h. Mengubah-ubah tata letak tempat kerja yang telah
diatur.
i. Set up kerjanya terlihat tidak baik.
(Sumber: Sutalaksana, 2006; 160)
22
Ketiga, kondisi kerja. Kondisi kerja yang dimaksud adalah kondisi fisik
dibagi menjadi enam kelas, yaitu ideal, excellent, good, average, fair dan poor.
Kondisi yang ideal tidak selalu sama bagi setiap pekerjaan. Pada dasarnya kondisi
yang ideal adalah kondisi yang memungkinkan kinerja maksimal dari pekerjaan
dapat dicapai.
Konsistensi juga dibagi kedalam enam kelas, yaitu perfect, excellent, good,
average, fair dan poor. Seorang operator dikatakan perfect adalah yang dapat
Angka-angka yang diberikan bagi setiap kelas dari keempat faktor diatas,
diperlihatkan pada table 2.3 dibawah ini. Dalam menghitung faktor penyesuaian,
23
Tabel 2.3
Penyesuaian Menurut Westinghouse
FAKTOR KELAS LAMBANG PENYESUAIAN
24