BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Gambaran Umum PLTU 3 Jawa Timur Tanjung
Awar-Awar Tuban
1. Profil Perusahaan
Gambar 2.1 PLTU Tanjung Awar – Awar, Jawa Timur
( Sumber : PLTU 3 JATIM Tj. Awar-Awar Tuban )
Nama Perusahaan : PLTU 3 JAWA TIMUR TANJUNG
AWAR-AWAR TUBAN
Tahun Berdiri : 24 Februari 2014 (Unit 1)
Pemilik : PT. PLN (Persero)
Operator : PT. Pembangkit Jawa Bali (PJB)
Nama Perusahaan : Jl. Tanjung awar-awar Desa
Wedung, Kecamatan Jenu
Kabupaten Tuban, Jawa Timur,
Indonesia
Daya Output : 2 x 350 MW
Transmisi : JAMALI ( Jawa Madura Bali )
Bahan Bakar Utama : Batu Bara
9
10 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
2. Struktur Organisasi
Gambar 2.2 Struktur Organisasi PLTU Tanjung Awar –
Awar, Jawa Timur
( Sumber : PLTU 3 JATIM Tj. Awar-Awar Tuban )
Organisasi PLTU 3 Jawa Timur Tanjung
Awar-Awar Tuban dipimpin oleh seorang General
Manajer yang Membawahi Empat Manajer Bidang
yaitu, Manajer Operasi, Manajer Pemeliharaan,
Manajer Engineering dan Manajer Administrasi,
yang masing-masing memiliki seperangkat
anggota yang membantu bekerja sama selama
PLTU ini beroperasi. Berikut ini adalah struktur
organisasi di PLTU 3 Jawa timur Tanjung Awar-
Awar.
General manager sebagai pemimpin
tertinggi memegang tanggung jawab penuh atas
apa yang terjadi di PLTU, namun takkan bisa
berjalan dengan lancar tanpa kerjasama dengan
bawahan yang telah dibagi menjadi beberapa
bagian Antara lain bidang operasi, perawatan,
engineering dan administrasi. Masing-masing
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 11
PUSTAKA
bagian di pimpin oleh seorang manajer yang
bertanggung jawab kepada GM. Bidang operasi
bertanggung jawab dalam pengoperasian
pembangkit unit 1 dan 2. Bidang pemeliharaan
bertanggung jawab dalam perawatan seluruh
PLTU. Bidang engineering bertanggung jawab
dalam bidang analisis data dan condition base
maintenance (CBM). Bidang administrasi
bertanggung jawab dalam bidang surat
menyurat serta urusan kantor lainnya.
B. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Ditinjau dari keilmuan, keselamatan dan
kesehatan kerja diartikan sebagai suatu ilmu
pengetahuan dan penerapannya dalam upaya
mencegah kecelakaan, kebakaran, peledakan,
pencemaran, penyakit, dan sebagainya.
Keselamatan kerja diartikan sebagai upaya-
upaya yang ditujukan untuk melindungi pekerja;
menjaga keselamatan orang lain; melindungi
peralatan, tempat kerja dan bahan produksi;
menjaga kelestarian lingkungan hidup dan
melancarkan proses produksi yang terdapat di
tempat kerja.
Kesehatan diartikan sebagai derajat/tingkat
keadaan fisik dan psikologi individu .Secara umum,
pengertian dari kesehatan adalah upaya-upaya yang
ditujukan untuk memperoleh kesehatan yang
setinggi-tingginya dengan cara mencegah dan
memberantas penyakit yang diidap oleh pekerja,
mencegah kelelahan kerja, dan menciptakan
lingkungan kerja yang sehat.
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”
12 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
Gambar 2.3 : Lambang K3
Sumber : Kepmenaker
Penjelasan arti dan makna
lambang/Logo/simbol K3 (Keselamatan dan
Kesehatan Kerja)
a. Palang : Bebas dari kecelakaan dan penyakit
akibat kerja (PAK).
b. Roda Gigi : Bekerja dengan kesegaran jasmani
dan rohani.
c. Warna Putih : Bersih dan suci.
d. Warna Hijau : Selamat, Sehat dan Sejahtera.
e. Sebelas gerigi roda : Sebelas bab dalam Undang-
Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan
Kerja.
C. Tujuan dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Tujuan utama dalam Penerapan K3
berdasarkan Undang - Undang No. 1 Tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja yaitu antara lain :
1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap
tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja.
2. Menjamin setiap sumber produksi dapat
digunakan secara aman dan efisien.
3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas
nasional.
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 13
PUSTAKA
Kecelakaan kerja dapat menimbulkan kerugian
langsung dan juga dapat menimbulkan kerugian
tidak langsung yaitu kerusakan mesin dan peralatan
kerja, terhentinya proses produksi, kerusakan pada
lingkungan kerja.
D. Syarat-syarat Keselamatan dan Kesehatan
Kerja
Adapun syarat-syarat keselamatan kerja yang
di atur dalam Undang-undang keselamatan dan
kesehatan kerja yang di buat untuk (Undang-undang
k3 pasal 3 ayat 1, tahun 1970)
1. mencegah dan mengurangi kecelakaan;
2. mencegah, mengurangi dan memadamkan
kebakaran;
3. mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;
4. memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan
diri pada waktu kebakaran atau kejadian-
kejadian lain yang berbahaya;
5. memberi pertolongan pada kecelakaan;
6. memberi alat-alat perlindungan diri pada para
pekerja;
7. mencegah dan mengendalikan timbul atau
menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu,
kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca,
sinar atau radiasi, suara dan getaran;
8. mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit
akibat kerja baik physik maupun psychis,
peracunan, insfeksi dan penularan;
9. memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;
10. menyelenggarakan suhu dan lembah udara yang
baik;
11. menyelenggarakan penyegaran udara yang
cukup;
12. memelihara kebersihan, kesehatan dan
ketertiban;
13. memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat
kerja, lingkungan cara dan proses kerjanya;
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”
14 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
14. mengamankan dan memperlancar pengangkutan
orang, binatang, tanaman atau barang;
15. mengamankan dan memelihara segala jenis
bangunan;
16. mengamankan dan memperlancar pekerjaan
bongkar muat, perlakuan dan Penyimpanan
barang;
17. mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;
18. menyesuaikan dan menyempurnakan
pengamanan pada pekerjaan yang bahaya
kecelakaannya menjadi bertambah tinggi
E. Kecelakaan Akibat Kerja
Kecelakaan kerja menurut Peraturan Menteri
Tenaga Kerja Nomor: 03/Men/1998 adalah suatu
kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak terduga
semula yang dapat menimbulkan korban jiwa dan
harta benda. Word Health Organization (WHO)
mendefisinisikan kecelakaan sebagai suatu kejadian
yang tidak dapat dipersiapkan penanggulangannya,
sehingga menyebabkan cidera yang nyata (Salam
dkk 2010) Kecelakaan adalah suatu kejadian yang
tidak dikehendaki yang dapat mengakibatkan
kerugian jiwa serta kerusakan hrta benda dan
biasanya terjadi sebagai akibat dari kontak dengan
sumber yang melebihi ambang batas atau struktur
Bird 1985 (Ramli 2010)
Definisi kecelakaan menurut beberapa ahli,
antara lain
kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak
terduga dan tidak terkendali yang mengacaukan
suatu proses aktivitas yang telah diatur (M.
Sulaksmono 1997).
Kecelakaan terjadi tanpa disangka – sangka
dan dalam sekejab mata, dan setiap kejadian
(Benneth Silalahi 1995)
Berdasarkan definisi-devinisi kecelakaan di atas
dapat disimpulkan bahawa kecelaaan merupakan
kejadian yang tidak dapat terduga yang merupakan
hasil dari serangkaian kejadian yang melibatkan
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 15
PUSTAKA
empat faktor penyebab di tempat kerja, yakni
lingkungan, bahaya, peralatan dan manusia.
Penyebab kecelakaan di bagi menjadi tiga, yaitu
penyebab langsung yang sangat dekat hubungannya
dengan kecelaaan, penyebab tidak langsung dan
penyebab dasar.
1. .Penyebab Kecelakaan Akibat Kerja
Secara umum penyebab kecelakaan ada dua,
yaitu unsafe action (faktor manusia) dan unsafe
condition (faktor lingkungan). Menurut penelitian
bahwa 80-85% kecelakaan disebabkan oleh unsafe
action (faktor manusia) (Anizar 2009).
a. unsafe action (faktor manusia)
unsafe action dapat disebabkan oleh berbagai
hal berikut:
1) Ketidakseimbangan fisik tenaga kerja, yaitu:
i. Posisi tubuh yang menyebabkan
mudah lelah
ii. Cacat fisik
iii. Cacat sementara
iv. Kepekaaan panca indra terhadap
sesuatu
2) Kurang pendidikan
i. Kurang pengalaman
ii. Salah pengertian terhadap suatu
perintah
iii. Kurang terampil
iv. Salah mengartikan SOP (Standard
Operatinal Procedure) sehingga
mengakibatkan kesalahan pemakaian
alat kerja.
3) Menjalankan pekerjaan tanpa mempunyai
wewenangan
4) Menjalankan pekerjaan yang tidak sesuai
keahliannya
5) Pemakaian alat pelindung diri (APD) hanya
berpura-pura
6) Mengangkut beban yang berlebihan
7) Bekerja berlebihan atau melebihi jam kerja
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”
16 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
[Link] Condition (faktor lingkungan).
Unsafe Condition dapat disebabkan oleh
berbagai hal berikut:
1) Peralatan yang sudah tidak layak pakai
2) Ada api di tempat bahaya
3) Pengamanan gedung yang kurang standart
4) Terpapar bising
5) Terpapar radiasi
6) Pencahayaan dan fentilasi yang kurang atau
berlebihan
7) Kondisi suhu yang membahayakan
8) Dalam keadaan keamanan yang berlebiahan
9) Sisitem peringatan yang berlebihan
10) Sifat pekerjaan yang mengandung potensi
bahaya
F. Bahaya
Bahaya adalah segala sesuatu termasuk situasi
atau tindakan yang berpotensi menimbulkan
kecelakaan atau cidera pada manusia, kerusakan
atau gangguan lainnya, Karena hadirnya bahaya
maka diperlukan upaya pengendalian agar bahaya
tersebut tidak menimbulkan akibat yang merugikan
(Soehatman Ramli, 2010).
Bahaya merupakan suatu sifat yang melekat
dan mejadi bagian dari suatu zat, sistem, kondisi
atau peralatan. Misalnya api, secara alamiyah
mengandung sifat panas yang bila mengenai benda
atau tubuh manusia dapat menimbulkan kerusakan
atau cidera
1. Jenis Bahaya
Menurut Soehatman Ramli (2010) jenis bahaya ada 5
(lima) yaitu :
a. Bahaya mekanis
Bahaya mekanis bersumber dari peralatan
mekanis atau benda bergerak dengan gaya
mekanika baik yang digerakkan secara manual
dengan penggerak
b. Bahaya listrik
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 17
PUSTAKA
Bahaya listrik bersumber dari energi listrik yang
dapat mengkibatkan berbagai bahaya seperti
kebakaran, sengatan listrik, dan hubungan arus
pendek.
c. Bahaya kimiawi
Bahaya yang dapat ditimbulkan oleh bahan-
bahan kimia
d. Bahaya fisis
Bahaya yang berasal dari faktor fisis / Lingkungan
kerja.
e. Bahaya biologis
Di berbagai lingkungan kerja terdapat bahaya
yang bersumber dari unsur biologis seperti flora
dan fauna yang terdapat di lingkungan kerja atau
berasal dari aktivitas kerja.
G. Analisis Resiko
1. Pengertian resiko
Risiko adalah kemungkinan, bahaya, kerugian,
akibat kurang menyenangkan dari sesuatu
perbuatan, usaha, dan sebagainya (Kamus Besar
Bahasa Indonesia, 2005). Menurut Soehatman
Ramli (2010), risiko merupakan kombinasi dari
kemungkinan dan keparahan dari suatu kejadian.
Besarnya risiko ditentukan oleh berbagai faktor,
seperti besarnya paparan, lokasi, pengguna,
kuantiti serta kerentanan unsur yang terlibat.
Risiko K3 berkaitan dengan sumber bahaya yang
timbul dalam aktivitas bisnis yang menyangkut
aspek manusia, peralatan, material, dan
lingkungan kerja. Umumnya risiko K3
dikonotasikan sebagai konotasi negatif (negative
impact) antara lain : kecelakaan terhadap
manusia dan aset perusahaan, kebakaran dan
peledakan, penyakit akibat kerja, kerusakan
sarana produksi, gangguan operasi (Soehatman
Ramli 2010)
H. Manajemen resiko
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”
18 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
1. Pengertian Manajemen
Risiko Manajemen risiko K3 adalah suatu upaya
mengelola risiko K3 untuk mencegah terjadinya
kecelakaan yang tidak diinginkan secara
komprehensif, terencana dan terstruktur dalam
suatu kesisteman yang baik. Manajemen risiko
K3 berkaitan dengan bahaya dan risiko yang ada
di tempat kerja yang dapat menimbulkan
kerugian bagi peusahaan (Soehatman Ramli
2010).
2. Tujuan Dari Manajemen Resiko
Tujuan dari manajemen risiko adalah minimisasi
kerugian dan meningkatkan kesempatan
ataupun peluang. Bila dilihat terjadinya kerugian
dengan teori accident model dari ILCI, maka
manajemen risiko dapat memotong mata rantai
kejadian kerugian tersebut, sehingga efek
dominonya tidak akan terjadi. Pada dasarnya
manajemen risiko bersifat pencegahan terhadap
terjadinya kerugian maupun „accident’. Menurut
AS/NZS 4360 Risk Management Standard,
manajemen risiko adalah “the culture, process,
and structures that are directed towards the
effective management of potential opportunities
and adserve effects”. Menurut standar AS/NZS
4360 tentang standar manajemen risiko
(Soehatman Ramli 2010).
Manajemen risiko dikatakan sebagai suatu
proses logis dalam usahanya untuk memahami
eksposur terhadap suatu kerugian. Pelaksanaan
manajemen risiko haruslah menjadi bagian
integral dari pelaksanaan sistem manajemen
perusahaan/ organisasi. Proses manajemen risiko
Ini merupakan salah satu langkah yang dapat
dilakukan untuk terciptanya perbaikan
berkelanjutan (continuous improvement). Proses
manajemen risiko juga sering dikaitkan dengan
proses pengambilan keputusan dalam sebuah
organisasi. Manajemen risiko adalah metode
yang tersusun secara logis dan sistematis dari
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 19
PUSTAKA
suatu rangkaian kegiatan: penetapan konteks,
identifikasi, analisa, evaluasi, pengendalian serta
komunikasi risiko. Proses ini dapat diterapkan di
semua tingkatan kegiatan, jabatan, proyek,
produk ataupun asset. Manajemen risiko dapat
memberikan manfaat optimal jika diterapkan
sejak awal kegiatan. Walaupun demikian
manajemen risiko seringkali dilakukan pada
tahap pelaksanaan ataupun operasional
kegiatan. Sesuai persyaratan OHSAS 18001,
organisai harus menetapkan prosedur mengenai
identifikasi bahaya (Hazards identification),
penilaian risiko (Risk Assessment), dan
menentukan pengendaliannya (Risk Control)
atau disingkat HIRARC.
3. Manfaat manajemen risiko
Manajemen resiko sangat penting bagi
keberlangsungan suatu usah ataau kegiatan dan
merupakan alat untuk melindungi perusahaaan
dari setiap kemungkinan yang merugikan
manajemen tidak cukup melakukan langkah –
langkah pengamanan yang memadai sehingga
peluang terjadinya bencana semakin besar.
Dengan melaksanakan manajemen resiko
diperleh berbagai manfaat antara lain
(Soehatman Ramli 2010)
a. Menjamin kelangsungan usaha dengan
mengurangi risiko dari setiap kegiatan yang
mengandung bahaya
b. Menekan biaya untuk penanggulangan
kejadian yang tidak diinginkan
c. Menimbulkan rasa aman dikalangan
pemegang saham mengenai kelangsungan
dan keamanan investasinya
d. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran
mengenai risiko operasi bagi setiap unsur
dalam organisasi/ perusahaan
e. Memenuhi persyaratan perundangan yang
berlaku
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”
20 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
4. Perangkat manajemen resiko
Untuk membantu Pelaksanaan manajemen
resiko khususnya untuk melakukan identifikasi
bahaya, penilaian dan pengendaliannya
diperlukan metode atau perangkat. Khusu untuk
resiko K3, ada beberapa metode yang dapat
dipakai untuk mengidentifikasi bahaya
diantarannya (Soehatman Ramli 2010).
a. Data Kecelakaan
b. Data Periksa
c. Brainstorming
d. What-If
e. Hazops
f. Failure Mode Effects Analysis
g. Analisis Pohon Kegagalan
h. Task Risk Assessment
i. Job Safety Analysis (JSA)
I. SISTEM MANAJEMEN K3
Sistem manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3) seperti yang didefinisikan
dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi adalah bagian dari sistem manajemen
secara keseluruhan yang meliputi struktur
organisasi, perencanaan, tanggung jawab,
pelaksanaan prosedur, proses dan sumber daya yang
dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan,
pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan
keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka
pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan
kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman,
efisien dan produktif.
Tujuan dan sasaran SMK3 sesuai Permenaker
tersebut adalah menciptakan suatu sistem
keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja
dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja,
kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi
dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan
dan penyakit akibat kerja serta terciptanya kerja yang
aman, efisien dan produktif.
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 21
PUSTAKA
1. DASAR HUKUM DAN STANDAR SISTEM
MANAJEMEN K3
a. Undang – undang No. 1 tahun 1970
b. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. PER.
05/MEN/1996
c. Peraturan perundangan lainnya
(disesuaikan/dilengakapi)
d. Standar Nasional maupun internasional
(disesuiakan/dilengkapi)
J. SISTEM MANAJEMEN OHSAS 18001 : 2007
OHSAS (Occupational Health and Safety
Assesment Series ) adalah merupakan serial dari
persyaratan dan spesifikasi dalam penerapan sistem
manajemen kesehatan dan keselamatan kerja.
Adapun OHSAS 18001:2007 merupakan pembaruan
dari OHSAS 18001:1999 yang menjelaskan
persyaratan dan spesifikasi standar dalam penerapan
sistem manajemen kesehatan dan keselamatan
kerja. OHSAS 18001:2007 meniti beratkan pada
pencegahan cidera dan sakit serta kecelakaan. Selain
itu juga menitiberatkan pada pengontrolan resiko K3
untuk meningkatkan kerja K3.
1. Elemen – elemen OHSAS 18001:2007
a. Kebijakan K3
b. Identifikasi bahaya, penilaian resiko dan
menetukan pengendaliannnya
c. Persyaratan hukum dan lainnya
d. Objektik K3 dan program K3
e. Sumberdaya, peran, tanggung jawab,
akuntabilitas dan wewenang
f. Kopetensi, pelatihan dan kepedulian
g. Komunikasi, partisipasi dan konsultasi
h. Pendokumentasian
i. Pengendalian dokumen
j. Pengendalian operasi
k. Tanggap darurat
l. Pengukuran kinerja dan pemantauan
m. Evaluasi kesesuaian
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”
22 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
n. Penyelidikan insiden, ketidakkesesuaian,
tindakan koreksi, dan langkah pencegahan
o. Pengendalian rekaman
p. Internal audit
q. Tinjuan manajemen
2. Risiko K3 Menurut OHSAS 18001
Menurut OHSAS 18001, risiko K3 adalah
kombinasi dari kemungkinan terjadinya kejadian
berbahaya atau paparan dengan keparahan dari
cedera atau gangguan kesehatan yang
disebabkan oleh kejadian atau paparan
tersebut (Soehatman Ramli 2010).
3. Tahapan Proses Penerapan OHSAS 18001
a. Tahap identifikasi awal
Analisi atau identifikasi terhadap tingkat
kecukupan terhadap sistem dan fasilitas
kesehatan dan keselamatan kerja di
organisasi atau industri. Mencakup evaluasi
proses di organisasi, pemeriksaan terhadap
prosedur yang ada, analisa tingkat
kecelakaan masa lalu dan peraturan atau
perundang – undangan yang berlaku.
b. Tahap persiapan dan implementasi
Tahap ini merupakan persiapan dokumen
dan program kerja serta pelaksanaan
implementasinya, Pada tahap ini yang harus
diperhatikan yaitu:
i. Kebijakan kesehatan dan keselamatan
kerja serta kepemimpinannya
ii. Organisasi sumber daya dan training
iii. Pengendalian oprasional yang menjadi
titik tolak prosedur proses, peraturan
kesehatan dan keselamatan kerja, dan
perijinan di lingkungan kerja.
iv. Tujuan dan target dari kesehatan dan
keselamatan kerja dan dokumentasi
v. Pengendalian oprasional yang mencakup
pemantauan kesehatan kerja, persiapan
proyek, pembelian, dan pemasok
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 23
PUSTAKA
vi. Pemeriksaan dan tindakan pencegahan,
investigasi, dan tindakan perbaikan.
vii. Pengendalian catatan, audit dan tinjauan
manajemen.
c. Tahap penilaian kinerja proses
Tahap ini merupakan tahap penilaian
terhadap sistem yag telah ditetapkan
mencakup penilaian dokumentasi, verifikasi
penerapan, dan tindakan perbaikan atau
pencegahan yang diperlukan.
4. Pengendalian Menurut OHSAS 18001 Ada 5
a. Eliminasi
b. Subtitusi
c. Pengendalian teknis
d. Pengendalian administratif
e. Pengunaan alat pelindung diri
K. TRA (Task risk Assessment)
Merupakan salah satu sistem alat bantu yang
terutama dapat digunakan untuk pekerjaan yang
mengandung potensi bahaya tinggi dengan
identifikasi bahaya dan penilaian resiko yang dalam
pelaksanaan ditekankan pada identifikasi bahaya
yang muncul pada tiap-tiap tahapan pekerjaan.
TRA mempelajari potensi insiden yang
berhubungan dengan setiap langkah,
mengembangkan solusi yang dapat
menghilangkan dan mengkontrol bahaya
serta incident.
1. Identifikasi bahaya
Identifikasi bahaya adalah untuk menjawab
pertanyaan apa potensi bahaya yang dapat
terjadi atau menimpa organisasi. Identifikasi
bahaya merupakan langkah awal dalam
mengembangkan manajemen resiko K3,
Identifikasi bahaya adalah upaya sistematis
untuk mengetahui adanya bahaya dalam
aktifitas organisasi. Identifikasi bahaya
merupakan landasan dari manajemen resiko.
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”
24 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
Tanpa melakukan identifikasi bahaya tidak
mampu melakukan pengendalian resiko
(Soehatman Ramli 2010).
a. Identifikasi bahaya memberikan berbagai
manfaat :
1) Mengurangi presentasi kecelakaan pada
suatu pekerjaan karena identifikasi
bahaya berkaitan dengan faktor
penyebab kecelakaan di pekerjaan
2) Untuk memberikan pemahaman bagi
semua pihak mengenai potensi bahaya
dari aktifitas perusahaaan sehingga
dapat meningkatkan kewaspadaan
dalam menjalankan operasi perusahaan
3) Sebagai landasan sekaligus masukan
untuk menentukan strategi pencegahan
dan pengamanan yang tepat dan efektif
4) Memberikan informasi yang
terdokumentasi mengenai sumber
bahaya dalam perusahaan
2. Penilaian Resiko
Penilaian resiko adalah upaya untuk menghitung
besarnya suatu resiko dan menetapkan apakah
resiko tersebut dapat diterima apa tidak, Analisis
resiko dimasukkan untuk menentukan besarnya
suatu resiko dengan mempertimbangkan
kemungkinan terjadinya dan besar akibat yang
ditimbulkannya. Untuk memberikan makna
terhadap suatu bahaya perlu dilakukan penilaian
resiko sehingga seseorang mengetahui besarnya
resiko yang dapat terjadi. Untuk itu setelah
resiko atau bahaya diidentifikasi dilakukan
penilaian resiko untuk mengetahui seberapa
besar resiko tersebut (Soehatman Ramli 2010).
a. Analisis dari Kemungkinan Resiko
Resiko adalah penentuan kemungkinan dan
keparahan dari urutan kecelakaan / peristiwa
yang terjadi untuk menentukan besarnya
dan prioritas terhadap bahaya yang
teridentifikasi. Hal ini dapat dilakukan
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 25
PUSTAKA
dengan metode kuantitatif, kualitatif, atau
metode semi kuantitatif. (Soehatman Ramli
2010).
b. Kemungkinan Suatu Kejadian
Nilai tersebut didasarkan pada kemungkinan
suatu peristiwa yang terjadi Anda dapat
mengajukan pertanyaan "Berapa kali
peristiwa ini terjadi di masalalu?" Menilai
kemungkinan didasarkan pengalaman
pekerja, analisis atau pengukuran. Tingkat
kemungkinan berkisar dari "paling mungkin"
untuk "tidak dapat terbayangkan." Sebagai
contoh, tumpahan kecil oli dari wadah ketika
mengisi oli yang terdapat pada kendaraan
yang paling mungkin terjadi selama setiap
shift di industri kendaraan. Atau kebocoran
bahan bakar motor dari tangki
penampungan yang terdapat pada
kendaraan yang aman mungkin tidak terlalu
memungkinkan terjadi, sebagaimana dapat
dilihat pada tabel 2.1
Tabel 2.1. Nilai Kemungkinan (Likelihood) menurut
Standar AS/NZS 4360
Leve Descripto Uraian
l r
5 Almost Dapat Terjadi setiap saat (Terdapat
Certain ≥ 1 kejadian dalam setiap shift)
4 Likely Kemungkinan terjadi sering
(Terdapat ≥ 1 kejadian dalam setiap
hari)
3 Possible Dapat terjadi sekali-sekali (Terdapat
≥ 1 kejadian dalam setiap minggu)
2 Unlikely Kemungkinan terjadi jarang
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”
26 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
(Terdapat ≥ 1 kejadian dalam setiap
bulan)
1 Rare Menilai (Terdapat ≥ 1 kejadian
dalam setahun atau lebih)
Sumber : Pelatihan K3
c. Tingkat Keparahan Bahaya
Tingkat keparahan dapat dibagi menjadi limakategori.
Tingkat keparahan didasarkan pada peningkatan
keparahan untuk kesehatan individu,lingkungan, atau
properti, sebagaimana dapat dilihatpada tabel 2.2
Tabel 2.2 : Nilai Keparahan (saverity) menurut Standar
AS/NZS 4360
Leve Descriptor Uraian
l
A Insignifant Tidak terjadi cedera, kerugian
finansial kecil
B Minor Cedera ringan, kerugian finansial
sedang
C Moderate Cedera sedang, perlu penanganan
medis, kerugian finansial besar
D Major Cedera berat lebih satu orang,
kerugian besar, gangguan produksi
E Catastroph Fatal lebih satu orang, kerugian
ic sangat besar dan dampak luas yang
berdampak panjang, terhentinya
seluruh kegiatan
Sumber : Pelatihan K3
Tabel 2.3 : Skala “risk rating” menurut Standar AS/NZS
4360
Frekuesi Dampak Resiko
Resiko 1 2 3 4
5
A VL L L M H
B L L M H H
C L M H H VH
D M H H VH VH
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 27
PUSTAKA
E H H VH VH VH
Keterangan :
VH=Very High Harus selalu monitoring (setiap akan pekerjaan
dimulai)
H = High Harus selalu monitoring (seminggu sekali)
M = Medium Secara periodik dimonitoring (sebulan sekali)
L = Low Sekali dimonitor (setiap enam bulan sekali)
VL=Very Low Tidak perlu tindakan khusus
Sumber : Pelatihan K3
3. Pengendalian resiko
Pengendalian resiko merupakan langkah pening
dan menetukan dalam keseluruhan manajemen
resiko, jika pada tahapan sebelumnya lebih
banyak bersifat konsep dan perencanaan, maka
pada tahap ini sudah merupakan realisasi dari
upaya pengelolaan resiko dalam perusahaa.
Resiko yang telah diketahui besar dan potensi
akibatnya harus dikelola dengan tepat dan
efektif. Pengendalian resiko dapat dilakukan
dengan berbagai pilihan, misalnya dengan
dihindarkan, dialihkan kepada ihak lain, atau
dikelola dengan baik (Soehatman Ramli 2010).
Pengendalian resiko menurut Soehatman Ramli
2010 sebagai berikut :
Strategi pertama dalam pengendalian resiko
adalah menekan dengan menekan kemungkinan
terjadinya (likelihood). Pengurangan
kemungkinan ini dapat dilakukan dengan
berbagai Pendekatan yaitu secara teknis,
administratif dan pendekatan manusia
a. Pendekatan teknis (Enggineering control)
1) Eliminasi
Resiko dapat dihilangkan dengan
menghilangkan sumbernya. jika sumber
bahaya dihilangkan maka resiko yang
akan timbul dapat dihindarkan.
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”
28 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
2) Subtitusi
Teknik subtitusi adalah mengganti
bahan, alat atau cara kerja dengan yang
lain sehingga kemungkinan kecelakaan
dapat ditekan.
3) Isolasi
Kemungkinan terjadi kecelakaan atau
kejadian dapat dikurangi atau
dihilangkan menggunakan teknik isolasi
artinya sumber bahaya dengan
penerima diisolir dengan penghalang
atau dengan pelindung diri.
4) Pengendalian jarak
Kemungkinan kecelakaan atau resiko
dapat dikurangi dengan melakukan
pengendalian jarak antra sumber
bahaya (energi) dengan penerima.
Semakin jauh manusia dari sumber
bahaya semakin kecil kemungkinan
mendapat kecelakaan.
5) Pendekatan Administratif
Pengendalian pajanan ialah pendekatan
ini dilakukan untuk mengurangi kontak
antara penerima dengan sumber
bahaya.
6) Pendekatan manusia (Human control)
Memberiakan pelatihan kepada pekerja
mengenai cara kerja yang aman, budaya
keselamatan dan prosedure
keselamatan.
2. Menekan Konsekuensi
Pendekatan berikutnya untuk
mengendalikan resiko adalah dengan
menekan keparahan atau konsekuensi yang
ditimbulkannya. Suatu resiko kemungkinan
tidak dapat dihilangkan sepenuhnya karena
pertimbangan teknis, ekonomis atau operasi.
Bebebrapa pendekatan yang dapat
dilakukan untuk mengurangi konsekuensi
antara lain:
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 29
PUSTAKA
1) Tanggap darurat
Keparahan suatu kejadian dapat ditekan
jika perusahaan memiliki sistem tanggap
darurat yang baik dan terencana.
2) Penyediaan alat pelindung diri (APD)
Penggunaan APD bukan untuk
mencegah kecelakan tetapi untuk
mengurangi dampak atau konsekuensi
dari suatu kejadian.
3) Sistem pelindung
Dengan memasang sistem pelindung,
dampak kejadian dapat ditekan.
3. Pengalihan resiko
Opsi ketiga adalah pengalihan resiko ke
pihak lain, sehingga beban resiko yang
ditanggung perusahaan menurun
E
li
m
in
a
si
S
u
bt
it
u
si
Pe
ng
en
dal
ian
Te
kni
s
Pe
ng
en
dal
ian
ad
mi
nis
tra
tif
A
P
D
Gambar 2.4 : Hirarki Pengendalian Bahaya
L. Langkah-langkah melakukan TRA (Task Risk
Assesssment):
1. pilih pekerjaan
2. identifikasi aktivitas, material, peralatan, atau
prosedur kerja yang ada
3. analisis potensi bahaya dari masing-masing
aktivitas
4. tentukan tingkat resikonya
5. tentukan langkah pengendalian resiko
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”
30 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
6. tentukan sisa resiko setelah dilakukan
pengendalian
7. apabila resiko dapat diterima maka pekerjaan
dapat dijalankan, apabila tidak maka perlu
langkah pengendalian lain atau bahkan bisa
dibatalkan bila tidak memungkinkan.
M. Tujuan TRA (Task Risk Assesssment)
1. mampu mengidentifikasi sumber potensi bahaya
(Hazard)
2. mampu mengenali bahaya tersebut sebelum
terjadi kecelakaan atau penyebab akibat kerja
3. mampu menetapkan tindakan pengendalian dan
evaluasi keefektifan dari setiap situasi yang tidak
diduga dan meyakinkan telah diselesaikan
N. Pembangkit Listrik Tenaga Uap
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) adalah
jenis pembangkit listrik tenaga termal yang banyak
digunakan, karena efisiensinya tinggi sehingga
menghasilkan energi listrik yang ekonomis. PLTU
merupakan mesin konversi energi yang mengubah
energi kimia dalam bahan bakar menjadi energi
listrik.
Proses konversi energi pada PLTU berlangsung
melalui 3 tahapan, yaitu :
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 31
PUSTAKA
Gambar 2.5 Proses Perubahan Energy Pada PLTU
1. Pertama, energi kimia dalam bahan bakar diubah
menjadi energi panas dalam bentuk uap
bertekanan dan temperatur tinggi.
2. Kedua, energi panas (uap) diubah menjadi energi
mekanik dalam bentuk putaran.
3. Ketiga, energi mekanik diubah menjadi energi
listrik.
O. Prinsip Kerja PLTU
PLTU menggunakan fluida kerja air uap yang
bersirkulasi secara tertutup. Siklus tertutup artinya
menggunakan fluida yang sama secara berulang-ulang.
Urutan sirkulasinya secara singkat adalah sebagai berikut
:
1. Pertama air diisikan ke boiler hingga mengisi
penuh seluruh luas permukaan pemindah panas.
Didalam boiler air ini dipanaskan dengan gas
panas hasil pembakaran bahan bakar dengan
udara sehingga berubah menjadi uap.
2. Kedua, uap hasil produksi boiler dengan tekanan
dan temperatur tertentu diarahkan untuk
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”
32 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
memutar turbin sehingga menghasilkan daya
mekanik berupa putaran.
3. Ketiga, generator yang dikopel langsung dengan
turbin berputar menghasilkan energi listrik
sebagai hasil dari perputaran medan magnet
dalam kumparan.
Uap bekas keluar turbin masuk ke kondensor untuk
didinginkan dengan air pendingin agar berubah kembali
menjadi air. Air kondensat hasil kondensasi uap
kemudian digunakan lagi sebagai air pengisi boiler.
Demikian siklus ini berlangsung terus menerus dan
[Link] turbin digunakan untuk memutar
generator yang dikopel langsung dengan turbin sehingga
ketika turbin berputar dihasilkan energi listrik dari
terminal output [Link] siklus fluida kerjanya
merupakan siklus tertutup, namun jumlah air dalam
siklus akan mengalami pengurangan. Pengurangan air ini
disebabkan oleh kebocoran kebocoran baik yang
disengaja maupun yang tidak disengaja. Untuk
mengganti air yang hilang, maka perlu adanya
penambahan air kedalam siklus. Kriteria air penambah
(make up water) ini harus sama dengan air yang ada
dalam siklus.
P. Skema Proses Kerja PLTU
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 33
PUSTAKA
Gambar 2.6 Skema Proses Kerja PLTU
Sumber : [Link]
1. Air dari laut dipompa kemudian dialirkan melalui pipa
dan masuk ke proses desalinasi. Dalam proses ini air
laut yang mengandung garam-garam maka akan
dipisahkan garamnya, sehingga air yang sudah
didesalinasi tidak mengandung garam-garam.
2. Setelah air tidak mengandung garam maka air akan
dipompa menuju tanki make up water tank. Setelah
dari Make Up water tank kemudian air dipompa
menuju Demin Water Tank.
3. Dari demin water tank maka air akan dipompa
kemudian melewati kondensor,di dalam kondensor air
yang berasal dari water demin tank kemudian akan
bercampur dengan air yang berasal dari uap air sisa
turbin.
4. Setelah air keluar dari kondensor kemudian air
dipompa menuju LP Heater. LP Heater adalah Low
Pressure Heater,fungsinya untuk memanaskan air
supaya suhunya layak untuk dip roses di Daerator.
Agar proses pelepasan ini berlangsung sempurna,
suhu air harus memenuhi suhu yang disyaratkan.
Oleh karena itulah selama perjalanan menuju
Dearator, air mengalamai beberapa proses
pemanasan oleh peralatan yang disebut LP (Low
Pressure Heater). Daerator biasanya terletak di lantai
atas PLTU,tapi bukan lantai yang paling atas.
5. Dari dearator, air turun kembali ke Ground Floor.
Sesampainya di Ground Floor, air langsung
dipompakan oleh Boiler Feed Pump / BFP (Pompa air
pengisi) menuju Boiler atau tempat “memasak” air.
Bisa dibayangkan Boiler ini seperti panci, tetapi panci
berukuran raksasa. Air yang dipompakan ini adalah
air yang bertekanan tinggi, karena itu syarat agar uap
yang dihasilkan juga bertekanan tinggi. Karena itulah
konstruksi PLTU membuat dearator berada di lantai
atas dan BFP berada di lantai dasar. Karena dengan
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”
34 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
meluncurnya air dari ketinggian membuat air menjadi
bertekanan tinggi.
6. Sebelum masuk boiler air mengalami beberapa
proses pemanasan di HP (High Pressure) Heater.
Setelah itu barulah air masuk boiler untuk dilakukan
pemanasan lebih lanjut.
7. Setelah air masuk ke dalam Boiler maka air akan
dipanaskan sampai terbentuk uap. Untuk
menguapkan air tersebut maka dibutuhkan
Boiler,boiler tersebut untuk menghasilkan api
menggunakan bahan bakar,bahan bakar tersebut bisa
berupa batu bara / minyak & gas. Untuk membantu
proses pemanasan digunakan juga FDF ( Force Draft
Fan),FDF akan menghisap udara luar,udara tersebut
kemudian dipanaskan dan udara tersebut akan
disemprotkan di sekitar boiler,sehigga pemanasan
akan lebih optimum. Dari pemanasan tersebut akan
terdapat sisa-sisa pembakaran yang berua gas,gas
sisa tersebut akan dibuang melalui cerobong asap.
8. Setelah terbentuk uap,maka uap tersebut masih
berupa uap jenuh,uap tersebut tidak akan kuat untuk
menghasilkan turbin. Sebelumnya uap tersebut akan
disimpan di dalam steam drum yang berfungsi
sebagai penampungan uap air sebelum menuju super
[Link] uap tersebut bisa menggerakan turbin
sehinngga uap akan dialirakan menuju Super Heater.
Dalam Super heater uap tersebut akan dihilangkan
kadar airnya,sehingga uap tersebut benar-benar
kering. Di dalam boiler juga terdapat
economizer,economizer berfungsi untuk menyerap
gas hasil pemanasan super heater yang akan
digunakan untuk memanaskan air pengisi sebelum
masuk ke main drum.
9. Setelah itu uap dari Super heater akan mengalir
menuju HP Turbin dan kemudian menggerakan turbin
tersebut,setelah itu sisa uap akan kembali menuju
reheater dalam boiler untuk kembali dipanaskan
supaya uapnya kuat untuk menggerakkan LP Turbin.
10. Setelah uap dari reheater maka uap akan menuju LP
Heater dan menggeerakan turbin tersebut,karena
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 35
PUSTAKA
poros-poros HP Turbin & LP Turbin terhubung ke
Generator maka jika kedua turbin ikut berputar maka
generator juga ikut berputar. Putaran generator inilah
yang akan menghasilkan perbedaan potensial listrik
yang kemudian menghasilkan listrik. Kemudian listrik
akan ditampung dan kemudian akan disalurkan.
11. Dari LP Turbin masih terdapat sedikit sisa uap,dari
sisa tersebut maka uap air akan dikondensasi oleh
kondensor,sehingga akan menjadi cair kembali dan
akan digunakan kembali dan ada yang dibuang
kembali ke laut.
Q. Kerangka Berfikir
Tempat kerja di unit workshop pemeliharaan
mesin 1
Daftar aktifitas pekerjaan
Sumber
bahaya
Menganalisis Identifikasi Tidak ada identifikasi
Bahaya
Kecelakaan
Penilaian Resiko
kerja
Pengendalian Resiko
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”
36 BAB II KAJIAN
PUSTAKA
Gambar 2.7: Flow Chart Kerangka
berfikir
R. Penelitian Yang Relevan
Penelitian pertama yang relevan dengan
penelitian ini dengan judul ‘’HAZARD IDENTIFIKASI
DAN RISK ASSESMENT DALAM UPAYA MENGURANGI
TINGKAT RISIKO DIBAGIAN PRODUKSI PT. BINA GUNA
KIMIA UNGARAN SEMARANG’’ Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui bagaimana upaya
perusahaan dalam mencegah kecelakaan kerja
dengan mengindentifikasi potensi bahaya yang ada,
menetapkan resiko serta mengupayakan
pengendalian pada proses produksi [Link] GUNA
KIMIA UNGARAN SEMARANG. Sejalan dengan
masalah dan tujuan penelitian maka penelitian ini
dilaksanakan dengan metode yang digunakan adalah
metode diskriptif. Dengan nama mahasiswa Nindya
Puspitasari, salah satu mahasiswi di salah satu
perguruan tinggi yang ada di Surakarta.
Penelitian kedua yang relevan dengan
penelitian ini dengan judul ‘’Usulan Penanganan
Identifikasi Bahaya Menggunakan Teknik Hazard
Identification Risk
Assessment and Determining Control (HIRADC) (Studi
Kasus di PT. Komatsu Undercarriage Indonesia)’’
Penelitian ini membahas usulan penanganan
identifikasi bahaya menggunakan teknik Hazard
Identification Risk Assessment and Determining
Control (HIRADC) studi kasus di PT. Komatsu
Undercarriage Indonesia. Keadaan pada lingkungan
kerja yang menggunakan energi merupakan salah
satu penyebab terjadinya potensi bahaya kecelakaan
kerja di lingkungan kerja. Tahap-tahap yang
dilakukan yaitu menganalisis identifikasi potensi
bahaya pada lantai produksi saat ini dan memberikan
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
BAB II KAJIAN 37
PUSTAKA
usulan penanganan identifikasi potensi bahaya
menggunakan teknik HIRADC. Hasil dari penanganan
identifikasi potensi bahaya
inidapat membantu PT. Komatsu Undercarriage
Indonesia dalam penetapan pengendalian dan
mengurangi dampak risiko yang mungkin terjadi
pada lantai produksi. Dengan nama mahasiswa
Ahmad Afandi salah satu mahasiswi di salah satu
perguruan tinggi yang ada di Bandung.
Penelitian ketiga yang relevan dengan
penelitian ini dengan judul “Analisis resiko
keselamatan kerja dengan metode TRA (Task risk
assessment) pada alat di bagian produsi di salah satu
perusahaan yang bergerak di industri pembuatan
semen”. Dengan nama mahasiswa Muhammad Fil
Socrates, salah satu mahasiswa di salah satu
perguruan tinggi yang ada di Jakarta, metode
makalah ini menggunakan metode kualitatif.
Skripsi “Study Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Resiko Dengan
Menggunakan Metode TRA (Task Risk Assessment) Di Unit
Workshop Perawatan Mesin 1 Sebagai Upaya
Pencegahan Kecelakaan Kerja
Di PT. PJB OBJ O & M Tanjung Awar – awar Tuban”