Panduan Diabetes Melitus Tipe II
Panduan Diabetes Melitus Tipe II
Dosen Pengampu :
Ns. Ursula Arus Rinestaelsa, [Link]., [Link].
Disusun Oleh:
Riris Viviani 1035241164
2. Insiden
World Health Organization (WHO) 2018, data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa
422 juta orang hidup dengan Diabetes Melitus diseluruh dunia pada tahun 2018, dan
bahwa jumlah ini akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2025, yang sebagian besar
disebabkan oleh Diabetes Melitus tipe II. Pevalensi Diabetes Tipe II jauh lebih umum dan
menyumbang 90% dari semua kasus diabetes di seluruh dunia. Riskesdas (2018)
melaporkan prevalensi kasus diabetes mellitus berdasarkan pemeriksaan darah pada
penduduk umur ≥15 tahun adalah 6,9% di tahun 2013 dan mengalami peningkatan 8,5% di
tahun 2018. Sedangkan prevalensi diabetes mellitus berdasarkan diagnosis dokter pada
penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia juga mengalami peningkatan dari 1,5% pada tahun
2013 menjadi 2,0% pada tahun 2018. Prevalensi tertinggi tahun 2018 terdapat di Ibu kota
DKI Jakarta dengan prevalensi 3,4%, Kalimantan Timur 2,9% dan Yogyakarta 2,8%.
Sementara itu Sumatera Barat menempati urutan ke 22 dari 35 Provinsi di Indonesia.
Prevalensi tersebut mengalami peningkatan dari 1,3% di tahun 2013 dan 1,7% ditahun
2018.
3. Faktor Resiko
Menurut Tarwoto (2012) faktor resiko yang menyebabkan timbulnya penyakit DM
tipe II antara lain:
a. Usia diatas 45 tahun, hal ini karena adanya perubahan anatomis, fisiologis, dan
biokimia. Perubahan dimulai dari tingkat sel, kemudian berlanjut pada tingkat jaringan
dan akhirnya pada tingkat organ yang dapat mempengaruhi homoeostasis.
b. Obesitas atau kegemukan yaitu berat badan lebih dari 20% dari berat badan ideal atau
BMI (Body Mass Index). Obesitas menyebabkan respon sel beta pankreas terhadap
peningkatan glukosa darah berkurang, selain itu reseptor insulin pada sel diseluruh
tubuh termasuk di otot berkurang jumlah dan keaktifannya.
c. Riwayat keluarga dengan DM tipe II.
d. Lingkungan seperti virus yang dapat memicu teerjadinya autoimun dan
menghancurkan sel-sel pancreas, obat-obatan dan zat kimia.
e. Riwayat adanya gangguan toleransi glukosa (IGT) atau gangguan glukosapuasa (IFG).
f. Hipertensi, dengan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg atau hiperlipidemia,
kolestrol atau trigiserida lebih dari 150 mg/dl.
g. Riwayat gestasional DM atau riwayat melahirkan bayi diatas 4 kg.
h. Polystic ovarium syndrome yang diakibatkan resistensi dari insulin.
i. Pada keadaan ini wanita tidak terjadi ovulasi (keluarnya sel telur dari ovarium), tidak
terjadi menstruasi, tumbuhnya rambut secara berlebihan, tidak bisa hamil.
j. Kebiasaan diet dan kurang olahraga atau kurang beraktifitas fisik.
4. Etiologi
Diabetes Melitus merupakan penuruanan respon terhadap insulin atau dikenal dengan
resistensi insulin. Dalam keadaan ini, insulin tidak efektif dalam menyerap glukosa dan
menurunkan gula darah. Awalnya, kondisi ini dikompensasi dengan peningkatan produksi
insulin untuk mempertahankan homeostasis glukosa, namun seeiring berjalannya waktu
produksi insulin menurun (Lestari et al., 2021).
5. Klasifikasi
Menurut Smeltzer (2017), mengklasifikasikan Diabetes Melitus menjadi:
a. Diabetes Melitus tipe 1
Diabetes Melitus tipe 1 atau Insulin Dependen Diabetes Melitus (INDDM) yaitu
Diabetes Melitus yang bergantung pada insulin yang menderita penyakit ini tidak
banyak, namun jumlah nya terus meningkat 3% setiap tahun. Diabetes Melitus tipe I
ini disebab karena kerusakan sel beta pankreas yang menghasilkan insulin.
Hal ini berhubungan dengan kombinasi antara faktor genetik, imunologi dan
lingkungan, seperti virus. Terdapat juga hubungan terjadi Diabetes Melitus I dengan
beberapa antigen leukosit manusia (HLAs) dan adanya autoimun antibody sel islet
(ICAs) yang dapat merusak sel-sel beta pankreas. Ketidakmampuan sel beta
manghasilkan insulin megakibatkan glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat
disimpan dalam hati dan tetap berada dalam darah sehingga menimbulkan
hiperglikemia.
b. Diabetes Melitus tipe II
Diabetes Melitus tipe II atau Non Insulin Dependen Diabetes Melitus (NIDDM).
Kurang lebih 90% sampai 95% penderita Diabetes Melitus adalah Diabetes Melitus
tipe ini. Diabetes Melitus tipe II masih bisa memproduksi insulin, tetapi kualitas
insulinnya buruk, tidak dapat berfungsi dengan baik sebagai kunci untuk memasukkan
gula ke dalam sel. Akibatnya, gula dalam darah meningkat, pasien biasanya tidak perlu
tambahan suntukan insulin dalam pengobatannya, tetapi memerlukan obat untuk
memperbaiki fungsi inslin, menurunkan glukosa darah dan memperbaiki pengelolaan
gula di hati. Normalnya insulin terkait oleh reseptor khusus pada permukaan sel dan
mulai terjadi rangkaian reaksi termasuk metabolisme glukosa. Pada Diabetes Melitus
tipe II reaksi dalam sel kurang efektif karena kurangnya insulin yang berperan dalam
menstimulasi glukosa masuk ke jaringan dan pengaturan pelepasan glukosa dihati.
c. Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes Melitus Gestasional yaitu Diabetes Melitus yang terjadi pada masa
kehamilan, dapat di diagnosa dengan menggunakan test toleran glukosa, terjadi kira-
kira pada 24 minggu kehamilan. Individu Diabetes Melitus gestasional 25% akan
berkembang menjadi Diabetes Melitus.
d. Diabetes Melitus tipe lain
Diabetes Melitus tipe lain adalah Diabetes Melitus sekunder atau akibat dari penyakit
lain, yang mengganggu produksi insulin atau memengaruhi kerja insulin atau
mengurangi kerja insulin. Penyebab Diabetes Melitus ini seperti penyakit eksokrin
pankreas (pankreatitis, neoplasma, trauma atau pankreatectomy), endokrineopati
(akromegali, pheochromacytoma, dan cushing’s syndrome), obat-obatan atau zat kimia
(glikokortiroid, hormon tiroid, dan dilantin), penyakit infeksi (congenital rubella,
infeksi cytomegal rubella, infeksi cytomegalovirus), serta syndrome genetik diabetes
(syndrome down).
6. Derajat
a. Prediabetes
1) Karakteristik: Kadar gula darah lebih tinggi dari normal tetapi belum cukup tinggi
untuk didiagnosis sebagai diabetes tipe 2.
2) Pengobatan: Perubahan gaya hidup seperti diet sehat dan olahraga untuk
mencegah perkembangan menjadi diabetes tipe 2.
b. Diabetes Terkontrol
1) Karakteristik: Pasien yang kadar gula darahnya dikendalikan dengan baik melalui
terapi yang sesuai (diet, obat-obatan, atau insulin).
2) Pengobatan: Terus menjalankan pengobatan dan perubahan gaya hidup untuk
mempertahankan kontrol gula darah.
c. Diabetes Tidak Terkontrol
1) Karakteristik: Kadar gula darah tetap tinggi meskipun telah menjalani pengobatan.
2) Pengobatan: Peninjauan dan penyesuaian pengobatan, pendidikan pasien, dan
pemantauan ketat kadar gula darah.
7. Patofisiologi
Pada DM tipe II merupakan suatu kelainan metabolik dengan karakteristik utama adalah
terjadinya hiperglikemik kronik. Faktor genetik dikatakan memiliki peranan yang sangat
penting dalam munculnya DM tipe II. Faktor genetik ini akan berinteraksi dengan faktor-
faktor lingkungan seperti gaya hidup, obesitas, rendahnya aktivitas fisik, diet, dan
tingginya kadar asam lemak bebas (Smeltzer, 2017). Diabetes melitus tipe II sebelumnya
disebut sebagai non insulin-dependent atau adult-onset diabetes, ditandai dengan resistensi
insulin, peningkatan pelepasan glukosa hati, rusaknya penyimpanan glukosa, dan
defisiensi insulin. Tujuan jangka pendek dari manajemen diabetes yaitu untuk
menyeimbangkan asupan makanan dengan pengeluaran energi dan memastikan jumlah
insulin yang cukup (endogen atau eksogen) untuk mempertankan kadar glukosa darah
mendekati normal. Mekanisme terjadinya DM tipe I I umumnya disebabkan karena
resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan
reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor
tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa didalam sel. Resistensi
insulin pada DM tipe II disertai dengan penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian
insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan
mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, harus terjadi peningkatan jumlah insulin
yang disekresikan (Smeltzer, 2017).
8. Patoflow (Pathway)
Pasien dengan diabetes melitus tipe II mungkin sama sekali tidak memperlihatkan gejala
apapun, dan diagnosis hanya dibuat berdasarkan pemeriksaan darah di laboratorium dan
melakukan tes toleransi glukosa. Pada hiperglikemia yang lebih berat pasien tersebut
mungkin menderita polidipsia, poliuria, lemah dan somnolen. Biasanya mereka tidak
mengalami ketoasidosis karena pasien ini tidak defisiensi insulin secara absolut namun
hanya relatif. Sejumlah insulin tetap disekresi dan masih cukup untuk menghambat
ketoasidosis (Price dan Wilson, 2013).
12. Komplikasi
Kadar glukosa darah yang tidak terkontrol pada pasien DM tipe II akan menyebabkan
berbagai komplikasi. Komplikasi DM tipe II terbagi dua berdasarkan lama terjadinya
yaitu: komplikasi akut dan komplikasi kronik (Smeltzer, 2017).
a. Komplikasi akut
1) Ketoasidosis diabetik (KAD)
KAD merupakan komplikasi akut DM yang ditandai dengan peningkatan kadar
glukosa darah yang tinggi (300-600 mg/dL), disertai dengan adanya tanda dan
gejala asidosis dan plasma keton (+) kuat. Osmolaritas plasma meningkat (300-320
mOs/mL) dan terjadi peningkatan anion gap (PERKENI, 2015).
2) Hiperosmolar non ketotik (HNK)
Pada keadaan ini terjadi peningkatan glukosa darah sangat tinggi (600-1200
mg/dL), tanpa tanda dan gejala asidosis, osmolaritas plasma sangat meningkat
(330-380 mOs/mL), plasma keton (+/-), anion gap normal atau sedikit meningkat
(PERKENI, 2015).
3) Hipoglikemia
Hipoglikemia ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah mg/dL. Pasien
DM yang tidak sadarkan diri harus dipikirkan mengalami keadaan hipoglikemia.
Gejala hipoglikemia terdiri dari berdebar-debar, banyak keringat, gementar, rasa
lapar, pusing, gelisah, dan kesadaran menurun sampai koma (PERKENI, 2015).
b. Komplikasi kronik
Komplikasi jangka panjang menjadi lebih umum terjadi pada pasien DM saat ini
sejalan dengan penderita DM yang bertahan hidup lebih lama. Penyakit DM yang tidak
terkontrol dalam waktu yang lama akan menyebabkan terjadinya komplikasi kronik.
Kategori umum komplikasi jangka panjang terdiri dari :
1) Komplikasi makrovaskular
Komplikasi makrovaskular pada DM terjadi akibat aterosklerosis dari pembuluh-
pembuluh darah besar, khususnya arteri akibat timbunan plak ateroma.
Makroangiopati tidak spesifik pada DM namun dapat timbul lebih cepat, lebih
sering terjadi dan lebih serius. Berbagai studi epidemiologis menunjukkan bahwa
angka kematian akibat penyakit kardiovaskular dan penderita DM meningkat 4-5
kali dibandingkan orang normal. Komplikasi makroangiopati umumnya tidak ada
hubungan dengan kontrol kadar gula darah yang baik. Tetapitelah terbukti secara
epidemiologi bahwa hiperinsulinemia merupakan suatu faktor resiko mortalitas
kardiovaskular dimana peninggian kadar insulin dapat menyebabkan terjadinya
risiko kardiovaskular menjadi semakin tinggi. Kadar insulin puasa > 15 mU/mL
akan meningkatkan risiko mortalitas koroner sebesar 5 kali lipat. Makroangiopati,
mengenai pembuluh darah besar antara lain adalah pembuluh darah jantung atau
penyakit jantung koroner, pembuluh darah otak atau stroke, dan penyakit
pembuluh darah. Hiperinsulinemia juga dikenal sebagai faktor aterogenik dan
diduga berperan penting dalam timbulnya komplikasi makrovaskular (Smeltzer,
2017).
2) Komplikasi mikrovaskular
Komplikasi mikrovaskular terjadi akibat penyumbatan pada pembuluh darah kecil
khususnya kapiler yang terdiri dari retinopati diabetik dan nefropati diabetik.
Retinopati diabetik dibagi dalam 2 kelompok, yaitu retinopati non proliferatif dan
retinopati proliferatif. Retinopati non proliferatif merupakan stadium awal dengan
ditandai adanya mikroaneurisma, sedangkan retinopati proliferatif, ditandai dengan
adanya pertumbuhan pembuluh darah kapiler, jaringan ikat dan adanya hipoksia
retina. Seterusnya, nefropati diabetik adalah gangguan fungsi ginjal akibat
kebocoran selaput penyaring darah. Nefropati diabetik ditandai dengan adanya
proteinuria persisten (>0,5 gr/24 jam), terdapat retinopati dan hipertensi.
Kerusakan ginjal yang spesifik pada DM mengakibatkan perubahan fungsi
penyaring, sehingga molekul-molekul besar seperti protein dapat masuk ke dalam
kemih (albuminuria). Akibat dari nefropati diabetik tersebut dapat menyebabkan
kegagalan ginjal progresif dan upaya preventif pada nefropati adalah kontrol
metabolisme dan kontrol tekanan darah (Smeltzer, 2017).
3) Neuropati
Diabetes neuropati adalah kerusakan saraf sebagai komplikasi serius akibat DM.
Komplikasi yang tersering dan paling penting adalah neuropati perifer, berupa
hilangnya sensasi distal dan biasanya mengenai kaki terlebih dahulu, lalu
ke bagian tangan. Neuropati berisiko tinggi untuk terjadinya ulkus kaki dan
amputasi. Gejala yang sering dirasakan adalah kaki terasa terbakar dan bergetar
sendiri, dan lebih terasa sakit di malam hari. Setelah diagnosis DM ditegakkan,
pada setiap pasien perlu dilakukan skrining untuk mendeteksi adanya
polineuropatidistal. Apabila ditemukan adanya polineuropati distal, perawatan kaki
yang memadai akan menurunkan risiko amputasi. Semua penyandang DM yang
disertai neuropati perifer harus diberikan edukasi perawatan kaki untuk
mengurangi risiko ulkus kaki (PERKENI, 2015).
c. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, dimana pada dokuemtasi ini
akan membandingkan secara sistematis dan tidak terencana tentang kesehatan pada
pasien dengan tujuan yang telah diformulasikan dengan kenyataan yang dialami oleh
pasien dan melibatkan tenaga kesehatan laiannya. Diagnose keperawatan, masalah
kolaborasi, prioritas, intervensi keperawatan dan kriteria hasil merupakan pedoman
khusus yang menentukan fokus pada evaluasi (Pangkey, 2021).
DAFTAR PUSTAKA