11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi yaitu pencegahan terbuahinya sel telur oleh sel
sperma (konsepsi) atau pencegahan menempelnya sel telur yang
telah dibuahi ke dinding rahim.
Kontrasepsi merupakan upaya mencegah ovulasi,
melumpuhkan sperma, atau mencegah penemuan sel telur dan sel
sperma. Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sel
sperma laki-laki mencapai dan membuahi sel telur wanita atau
mencegah sel telur yang telah dibuahi untuk berimplantasi dan
berkembang di dalam rahim.
2. Tujuan Kontrasepsi
Tujuan Kontrasepsi menurut dr. Putu mastinigsih
diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu:
a. Untuk menunda kehamilan
b. Untuk menjarangkan kehamilan
c. Untuk menghentikan kehamilan atau kesuburan.
Tujuan menjarangkan kehamilan biasanya dilakukan oleh
pasangan suami istri yang berusia antara 20-35 tahun dengan
jumlah anak yang diharapkan 2 orang dan jarak antar kehamilan
12
sekitar 2-4 tahun. Sementara itu, fase menghentikan kehamilan
atau mengakhiri kesuburan dilakukan pada periode usia istri 30
tahun, terutama 35 tahun ke atas. Menghentikan kesuburan
biasanya dilakukan setelah mempunyai 2 orang anak.
3. Jenis Jenis Metode Kontrasepsi
a. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang
1) Alat Kontrasepsi Bawah Kulit (AKBK) / Implan
Susuk KB atau implant adalah alat kontrasepsi yang
berbentuk seperti tabung kecil, sebesar korek.
Didalamnya terkandung hormone progesterone yang akan
dikeluarkan sedikit demi sedikit.
Cara kerja dalam pencegahan kehamilan sebagai
berikut :
(1) Menghambat terjadinya ovulasi
(2) Menyebabkan endometrium tidak siap untuk nidasi
(3) Mempertebal lender serviks
(4) Menipiskan lapisan endometrium
Keuntungan implant adalah:
a) Tidak mempengaruhi produksi ASI
b) Dapat digunakan jangka panjang
c) Dapat emncegah terjadinya anemia
d) Dapat digunakan oleh ibu yang tidak cocok
dengan hormon estrogen
13
e) Dapat dielpaskan jika pasangan ingin mempunyai
anak lagiKekurangan penggunaan implant
diantaranya:
a) Harus dipasang dan dilepaskan oleh petugas
kesehatan yang terlatih
b) Harganya cukup mahal
c) Sering mengubah pola haid dimana terjadi
perdarahan ringan diantara masa haid
d) Kadang timbul sakit kepala ringanPengguna yang
tidak cocok akan mengalami masa menstruasi yang
berubah-ubah
2) Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) / Intra Uterine
Device (IUD)
Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) adalah
bahan inert sintetik (dengan atau tanpa unsur tambahan
untuk sinergi efektifitas) dengan berbagai bentuk, yang
dipasangkan ke dalam rahim untuk menghasilkan efek
kontraseptif. Bentuk AKDR yang beredar di pasaran
adalah spiral (Lippes loop), huruf T ( TCu380A, TCu200C,
dan NovaT), tulang ikan (MLCu250 dan 375) dan batang
(gynefix). Unsur tambahan adalah tembaga (cuprum) atau
hormon (levonorgestrel).
IUD adalah sebuah alat kecil yang dimasukkan ke
14
dalam raim oleh dokter atau petugas kesehatan terlatih
atau bidan. Setelah di rahim, IUD akan mencegah sel mani
pria untuk bertemu dengan sel telur wanita. IUD bisa
tinggal di dalam rahim hingga 10 tahun (tergantung jenis
IUD) sebelum dilepas dan diganti.
Wanita yang sebaiknya tidak menggunakan IUD
diantaranya:
(1) Riwayat infeksi panggul
(2) Risiko tinggi PMS
(3) Riwayat tromboplebitis dalam
(4) Diabetes melitus yang tidak terkontrol
(5) Hamil atau mungkin hamil
(6) Pernah menderita infeksi tuba atau rahim, atau
infeksi setelah melahirkan ataupun keguguran
(7) Pernah hamil di luar kandungan atau Riwayat
kehamilan ektopik
(8) Pernah mengalami perdarahan hebat dan rasa
sakit yang tidak wajar selama datang bulan
(9) Sangat anemik, dan belum pernah hamil
Efek samping yang bisa terjadi dapat perubahan
perdarahan ringan selama minggu pertama setelah
memakai IUD. Beberapa wanita bisa mengalami datang
bulan yang lebih lama, lebih banyak dan lebih sakit,
15
tetapi ini akan menghilang setelah 3 bulan pertama
pemakaian IUD.
Indikasi penggunaan AKDR yaitu:
a) Usia reproduktif
b) Pernah melahirkan dan mempunyai anak, serta
ukuran rahim tidak kurang dari 5cm
c) Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka
panjang
d) Menyusui yang inigin menggunakan kontrasepsi
e) Setelah abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
f) Risiko rendah IMS
g) Tidak menghendaki metode kontrasepsi hormonal
h) Tidak ada kontraindikasi Keuntungan pemakaian
AKDR yaitu :
i) AKDR yang mengandung Tembaga (Cu):
1) Ukuran tabung inserter lebih kecil
2) Ekspulsi lebih jarang
3) Kehilangan darah haid lebih sedikit, dapat lebih
ditolerir oleh wanita yang belum punya anak atau
wanita dengan paritas rendah
j) AKDR yang mengandung hormonal dapat
mengurangi volume darah haid
k) Wanita yang menggunakan AKDR tidak memikirkan
16
persiapan kontrasepsi tiap hari atau setiap bulan
Kerugian penggunaan AKDR diantaranya:
a) Tidak memberikan perlindungan terhadap HIV atau
penyakit menular seksual
b) AKDR yang mengandung elemen tembaga/Cu perlu
diganti setelah pemakaian beberapa tahun
c) AKDR yang mengandung hormonal
1) Jauh lebih mahal daripada Cu AKDR
2) Harus diganti setelah 18 bulan
3) Sering menimbulkan perdarahan mid-siklus
atau perdarahan bercak/spotting
4) Setelah abortus/ keguguran (segera atau dalam
watu 7 hari) apabila tidak ada gejala infeksi
5) Insidensi kehamilan ektopik lebih tinggi
b. Kontrasepsi Mantap (Kontap)
Kontrasepsi mantap terdiri atas dua jenis yaitu
v asektomi dan tubektomi.
1) Vasektomi
Vasektomi adalah suatu tindakan bedah yang sangat
sederhana dimana dilakukan pemotongan saluran yang
membawa sperma dari buah pelir ke penis.
Operasi ini sama sekali tidak mengubah kemampuan
untuk melakukan hubungan seksual ataupun untuk
17
merasakan kenikmatan hubunga seksual. Pria masih akan
mampu untuk ejakulasi cairan sperma/semen tetapi cairan
tersebut tidak mengandung benih sperma.
Keuntungan vasektomi yaitu:
(1) Sangat aman, tidak ada efek samping jangka panjang
(2) Morbiditas dan mortalitas jarang
(3) Hanya sekali aplikasi dan efektif dalam jangka
panjang
(4) Tinggi tingkat rasio efisiensi biaya dan lamanya
penggunaan kontrasepsi
Keterbatasan metode vasektomi adalah:
a) Tidak efektif segera, WHO menyarankan kontrasepsi
tambahan selama 3 bulan setelah prosedur ( kurang
lebih 20 kali ejakulasi).
b) Teknik tanpa pisau merupakan pilihan
mengurangi perdarahan dan nyeri dibandingkan teknik
insisi.
2) Tubektomi
Tubektomi (Metode Operasi Wanita/MOW) adalah
metode kontrasepsi mantap yang bersifat sukarela bagi
seorang wanita bila tidak ingin hamil lagi dengan cara
mengoklusi tuba falopi (mengikat dan memotong atau
memasang cincin) sehingga sperma tidak dapat bertemu
18
ovum.
Waktu penggunaan yang baik untuk tubektomi adalah:
(1) Idealnya dilakukan dalam 48 pascapersalinan
(2) Dapat dilakukan segera setelah persalinan atau
setelah operasi Caesar
(3) Jika tidak dapat dikerjakan dalam 1 minggu setelah
persalinan, ditunda 4-6 minggu kemudian.
Manfaat metode tubektomi yaitu :
a) Manfaat Kontrasepsi
(1) Tidak mempegaruhi proses menyusui
(2) Tidak bergantung pada faktor senggama
(3) Baik bagi wanita yang memiliki kesehatan
berisiko yang serius terhadap kehamilan
(4) Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
(5)Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual
b) Manfaat Non kontrasepsi
Berkurangnya risiko kanker ovarium
Kekurangan tubektomi yaitu :
a) Tidak dapat dipulihkan kembali kecuali dengan
operasi rekanalisasi
b) Harus dilakukan oleh dokter ahli yang terlatih
19
c. Metode Kontrasepsi Non-Jangka Panjang
1) Metode Amenore Laktasi (MAL)
Metode Amenore Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi
yang mengandalkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara
eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan.
Keuntungan MAL adalah :
(1) Efektifitaas Tinggi dengan tingkat keberhasilan
sampai 98% pada masa 6 bulan pasca persalinan
(2) Tidak mengganggu saat berhubungan seksual
(3) Segera efektif bila digunakan secara benar
(4) Tidak ada efek samping secara sistemik
(5) Tidak perlu Tindakan medis
(6) Tidak perlu obat atau alat
(7) Tidak memerlukan biaya
Kekurangan MAL adalah:
a) Perlu persiapan dan perawatan sejak awal
kehamilan agar segera menysui dalam 30 menit
pasca persalinan
b) Sulit dilaksanakan dengan alasan kondisi sosial
c) Efektifitas tinggi hanya sampai kembalinya haid
atau sampai 6 bulan ASI eksklusif
d) Tidak melindungi terhadap infeksi menular seksual
termasuk Human Immunodeficiency Virus (HIV)/
20
Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS),
Hepatitis B Virus (HBV)
Kriteria ibu yang dapat menggunakan MAL
diantaranya:
a) Ibu menyusui secara penuh (full breast feeding) dan
lebih efektif bila pemberian asi > 8kali sehari
b) Ibu yang belum haid sejak pasca persalinan
c) Umur bayi kurang dari 6 bulan
d) Harus dilanjutkan dengan pemakaian metode
lainnya segera bila ibu sudah mendapatkan haid
setelah berakhirnya masa nifas.
Kontra Indikasi penggunaan MAL adalah:
a) Sudah mendapat menstruasi setelah melahirkan
b) Tidak menyusui bayui secara eksklusif
c) Bayi sudah berumur lebih dari 6 bulan
d) Bekerja dan terpisah dari bayi lebih dari 6 jam
2) Metode Kalender
Metode ini digunakan prinsip pantang berkala, yaitu
tidak melakukan hubungan seksual pada saat masa subur
istri.
Untuk menentukan masa subur istri digunakan 3
patokan, yaitu:
a) Ovulasi terjadi 14 hari kurang lebih sebelum haid yang
21
akan datang
b) Sperma dapat hidup selama 48 jam setelah ejakulasi
c) Ovum dapat hidup 24 jam setelah ovulasi
Apabila konsepsi ingin dicegah, koitus harus dihindari
sekurang-kurangnya selama 3 hari atau 72 jam sebelum
ovulasi dan 24 jam setelah ovulasi. Metode ini hanya
digunakan pada wanita yang daur menstruasinya teratur.
3) Koitus Interuptus (senggama Terputus)
Cara kerjanya adalah dengan cara mengeluarkan alat
kelamin pria segera sebelum ejakulasi sehingga sperma
tidak masuk ke dalam vagina dan kehamilan dapat
dicegah.
Manfaat dari metode koitus interuptus yaitu :
(1) Tidak mengganggu produksi ASI
(2) Tidak ada efek samping
(3) Dapat digunakan setiap waktu
(4) Tidak membutuhkan biaya
(5) Meningkatkan keterlibatan pria dalam KB
(6) Memungkinkan hubungan lebih dekat dan lebih
pengertian antar pasangan
Indikasi dalam metode ini adalah :
a) Pria ingin berpatisipasi dalam KB
b) Pasangan yang memiliki alas an filosofi untuk
22
tidak memilih metode-metode lain.
c) Pasangan yang meemrlukan metode sementara
sambal menunggu metode yang lainnya
d) Pasangan yang menggunakan kontrasepsi segera
e) Pasangan yang menggunakan metode kontrasepsi
pendukung
f) Pasangan yang melakukan hubungan seksual secara
tidak teratur
Kontra indikasi metode ini adalah :
a) Pria dengan pengalaman ejakulasi dini
b) Pria yang mengalami kelainan fisik dan psikologis
c) Perempuan yang mempunyai pasangan yang sulit
untuk diajak bekerja sama
d) Pasangan yang kurang dapat berkomunikasi dengan
baik
e) Tidak dianjurkan dilakukan pada masa subur
4) Kondom
Prinsip penggunaan kondom adalah menghalangi
masukanya sperma ke dalam vagina sehingga pertemuan
sperma dan ovum dapat dicegah.
Kondom terbuat dari karet sintesis yang tipis,
berbentuk silinder dengan muaranya berpinggir agak tebal
yang bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk
23
seperti pusing susu.
Cara kerja kondom, yaitu dengan menghalangi
terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara
mengemas sperma di ujung selubung karet yang
dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak
tercurah kedalam reproduksi wanita. Kondom cukup
efektif bila dipakai secara benar pada setiap kali
berhubungan seksual.
Manfaat penggunaan kondom diantaranya yaitu :
(1) Manfaat kontrasepsi
(1) Efektif bila digunakan dengan benar
(2) Tidak mengganggu produksi ASI
(3) Tidak mengganggu kesehatan klien
(4) Tidak mempunyai pengaruh sistemik
(5) Murah dan dapat dibeli secara umum
(6) Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan
kesehatan khusus
(7) Metode kontrasepsi sememntara bila metode
kontrasepsi lainnya harus ditunda
(2) Manfaat non kotrasepsi
(1) Memberi dorongan kepada suami untuk ikut
berpartisipasi dalam KB
(2) Dapat mencegah penularan infeksi menular
24
seksual
(3) Mencegah ejakulasi dini
(4) Membantu mencegah terjadinya kanker serviks
(mengurangi iritasi bahan karsinogenik eksogen
pada serviks)
(5) Saling interaksi sesame pasangan
(6) Mencegah imuno fertilitas
Keterbatasan penggunaan kondom adalah:
a) Efektifitasnya tidak terlalu tinggi
b) Cara penggunaan sangat mempengaruhi
keberhasilan kontrasepsi ini
c) Agak menggangu kenyamanan hubungan seksual
dan mengurangi sentuhan langsung
d) Pada beberapa klien menyebabkan kesulitan untuk
mempertahankan ereksi
e) Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual
f) Beberapa kalien malu untuk membeli kondom di
tempat umum
g) Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan
masalah dalam hal limbah.
5) Pil
Terdapat dua jenis kontrasepsi pil yaitu :
(1) Pil kontraspesi kombinasi yang mengandung hormon
25
estrogen dan progesterone.
Disebut pil kombinasi karena dalam pil ini
mengandung 2 jenis hormone, yakni estrogen dan
progesterone. Kemasan pil kombinasi ada yang
tersedia atas 21 pil dan 28 pil. Pada kemasan 28 pil
terdapat hanya 21 pil aktif, dengan 7 pil lainnya
adalah placebo yang tidak mengandung hormon, tapi
berisi [Link] ini dibuat bertujuan agar akseptor
lebih mudah dalam menggunakan pil ini karena tidak
perlu ada periode istirahat tidak minum pil.
Sedangkan pada kemasan yang berisi 21 pil
semua mengandung estropgen dan progesterone
sehingga setelah akseptor mengonsumsi 21 pil
tersebut, akseptor harus mengingat beristirahat
minum pil selama seminggu. Jenis pil kombinasi
antara lain :
(1) Pil kombinasi monofasik, yaitu semua pil
mengandung estrogen dan progesterone dengan
konsentrasi yang sama dalam 1 siklus.
(2) Pil kombinasi bifasik, yaitu dari 21 pil aktif
mengandung estrogen dan progesterone dengan
konsentrasi yang berbeda dalam 2 periode yang
berbeda, misalnya mulai pada pil ke 10 atau 11
26
dalam 1 siklus.
(3) Pil kombinasi trifasik yaitu terdiri dari 21 pil aktif
mengandung estrogen dan progesterone dwgnan
konsentrasi berbeda dalam 3 periode yang
berbeda misalnya 6/5/10.
Cara kerja pil kombinasi:
(1) Menekan ovulasi
(2) Memengaruhi transportasi sperma di again tuba
fallopi
(3) Mengganggu endometrium sehingga
mempengaruhi implantasi
(4) Mengentalkan lender serviks
Kontra indikasi penggunaan pil kombinasi adalah :
(1) Hamil
(2) Usia lebih dari 35 tahun
(3) Ibu merokok
(4) Ibu dengan DM lebih dari 20 tahun dan dengan
komplikasi
(5) Tromboemboli vena
(6) Cerebrovascular disease
(7) Penyakit jantung
(8) Kanker payudara
(9) Laktasi kurang dari 6 minggu postpartum
27
(10)Penyakit hati
(11)Menjalani bedah mayor dengan istirahat
panjang (immobilisasi lama)
(12)Ibu dengan hipertensi, TD >160/100 mmHg,
disertai gangguan vaskuler progresif
(13)Ibu dnegan hepatitis
Indikasi penggunaan pil kombinasi adalah:
(1) Wanita yang sudah menikah dan bersuami
(2) Tidak sedang hamil
(3) Wanita dalam 6 bulan postpartum yang
menyusui bayinya secara eksklusif
(4) Wanita dalam 11 hari pertama abortus
(5) Wanita yang sejak haid terakhir sampai dating
ke pelayanan kesehatan belum melakukan
hubungan seksual
(6) Wanita yang sdang menggunakan
kontraspesi lain yang dilakukan secara benar
(7) Wanita usia reproduksi
(8) Wanita yang sedang menyusui bayinya dengan
usia bayi 6 bulan
(9) Wanita dalam asa postpartum dan tidak sedang
menyusui yang dimulai dari minggu ketiga
(10)Wanita dalam masa pasca abortus
28
(11)Wanita dengan anemia
(12)Wanita dengan nyeri haid yang berat
(13)Wanita dengan siklus hais yang tidak teratur
(14)Wanita yang membutuhkan alat kontrasepsi
darurat.
Pada saat ini juga diproduksi pil kontrasepsi
kombinasi yang mengandung :
(1) Cyproterone asetat dan ethynil estradiol yang
merupakan antiandrogen sehingga dapat
menghaluskan kulit pemakainya
(2) Kombinasi drosporenone dan ethynil estradiol
yang merupakan antimineralocoticoid dan
antiandrogen.
(2) Pil kontrasepsi yang hanya mengandung
progesterone (Pil Progestin)
Pil progestin adalah pil kontrasepsi yang hanya
mengandung hormone progesterone saja. Terdapat
dua jenis pil progestin, yaitu :
(1) Pil kemasan 28 tablet yang mengandung 33 µg
levonorgestrel atau 350 µg norentrindone.
(2) Pil kemasan 35 tablet yang mengandung 75 µg
norgestrel
Cara kerja pil progesterone adalah dengan
29
menghambat ovulasi, memengaruhi transportasi
sperma pada tuba fallopi, mengganggu endometrium
sehingga memengaruhi inplantasi dan mengentalkan
lender serviks. Pil progestin tidak mengandung
estrogen sehingga amamn dikonsumsi oleh ibu
menyusui karena tidak mengurangi produkasi ASI.
Pil progestin mempunyai interaksi dengan obat-
obat tertentu diantaranya : rifampisin, barbiturate,
phenytoin, carbazephin, dan griseofulvin jangka
panjang karena pengaruh metabolisme levonorgestrel
yang meningkat di hati sehingga mengurangi
efektifitas pil.
Profil pil progestin yaitu:
(1) Cocok untuk perempuan menyusui yang ini
memakai pil KB
(2) Sangat efektif pada masa laktasi
(3) Dosis rendah
(4) Tidak menurunkan produksi ASI
(5) Tidak memberikan efek samping estrogen
(6) Dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat.
Keuntungan pemakaian pil progestin adalah:
(1) Keuntungan kontraspesi:
(a) Sangat efektif bila digunakan secara benar
30
(b) Tidak mengganggu hubungan seksual
(c) Tidak mempengaruhi ASI
(d) Kesuburan dapat mudah kembali
(e) Nyaman dan mudah digunakan
(f) Seidikit efek samping
(g) Dapat dihentikan setiap saat
(h) Tidak mengandung estrogen
(2) Keuntungan non kontrasepsi
(a) Mengurangi nyeri haid
(b) Mengurangi jumlah darah haid
(c) Menurunkan tingkat anemia
(d) Mencegah kanker endometrium
(e) Melindungi diri dari penyakit radang panggul
(f) Tidak meningkatkan pembekuan darah
(g) Dapat diberikan pada penderita endometriosis
(h) Kurang menyebabkan peningkatan tekanan
darah, nyeri kepala dan depresi
(i) Dapat mengurangi keluhan premenstrual
sindrom (sakit kepala, perut kembung, nyeri
payudara, nyeri pada betis dan mudah marah)
(j) Sedikit sekali mengganggu metabolisme
karbohidrat sehingga relatif aman diberikan
pada perempuan pengidap kencing manis
31
yang belum mengalami komplikasi.
6) Suntikan Kontrasepsi
Menurut Hartanto terdapat dua kontrasepsi jenis
suntikan yang saat ini banyak dipakai, yaitu :
a) Suntikan Kombinasi 1 Bulan
Suntikan kombinasi 1 bulan merupakan metode
kontrasepsi suntikan yang pemberiannya tiap bulan
dengan jalan penyuntikan secara intramuscular
sebagai usaha pencegahan kehamilan berupa
hormone progesterone dan estrogen pada wanita
usia subur. Penggunaan metode suntik ini
mempengaruhi hipofisis dan hipotalamus yakni
dengan menurunkan kadar FSH dan LH sehingga
perkembangan dan perkembangan folicle de Graaf
tidak terjadi.
Suntikan kombinasi adalah 25 mg Depo
Medroksiprogesterone asetat dan 5 mg estradiol.
Sipionat yang diberikan injeksi intra muscular (IM)
sebulan sekali dan 50 mg noretindron enantat dan 5
mg estradiol valerat yang diberikan injekisi IM sebulan
sekali.
Cara kerja KB suntik 1 bulan yaitu :
(1) Menekan ovulasi
32
(2) Lender serviks menjadi kental dan sedikit,
sehingga sulit ditembus oleh spermatozoa
(3) Membuat endometrium menjadi kurang baik
untuk suasana implantasi
(4) Menghambat transportasi ovum dalam tuba fallopi
Efektifitias suntik 1 bulan sangat efektif dengan
kejadian 0,1-0,4 kehamilan per 100 perempuan
selama setahun pertama penggunaan.
Keuntungan suntik 1 bulan (kontrasepsi) yaitu:
(1) Risiko terhadap gangguan Kesehatan kecil
(2) Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
(3) Dapat bersifat jangka panjang
(4) Efek samping sangat kecil
(5) Pasien tidak perlu menyimpan obat suntik
(6) Pemberian aman, efektif, dan cenderung mudah.
Keuntungan suntik 1 bulan (non kontrasepsi)
adalah:
(1) Mengurangi jumlah perdarahan
(2) Mengurangi nyeri saat baid
(3) Mencegah anemia
(4) Mencegah kanker ovarium dan myometrium
(5) Mengurangi risiko penyakit payudara jinak dan
kista ovarium
33
(6) Mencegah kehamilan ektopik
(7) Pada keadaan tertentu dapat diberikan pada
perempuan usia perimenopause
Kerugian suntik 1 bulan adalah:
(1) Terjadi perubahan poila haid, seperti haid tidak
teratur, perdarahan bercak atau spotting,
perdarahan slea sampai 10 hari
(2) Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan
(3) Ketergantungan pasien terhadap fasilitas
pelayanan kesehatan karena harus Kembali
secara teratur sekali sebulan
(4) Efektifitas suntik 1 bulan berkurang jika
digunakan bersamaan dengan obat epilepsi atau
obat tuberculosis.
(5) Dapat terjadi perubahan berat badan
(6) Dapat terjadi efek samping yang serius
seperti serangan jantung, stroke, dan lain-lain
(7) Pemulihan kesuburan kemungkinan terlambat
setelah penghentian pemakaian suntik 1 bulan.
Ibu yang boleh memakai suntik kombinasi adalah:
(1) Usia reproduksi
(2) Telah memiliki anak ataupun belum memiliki anak
(3) Inign mendapatkan kontrasepsi dengan efektiftas
34
yang tinggi
(4) Menyusui pasca persalinan sampai minimal 6
bulan Pasca persalinan dan tidak menyusui
(5) Anemia
(6) Nyeri haid hebat
(7) Haid teratur
(8) Riwayat kehamilan ektopik
(9) Sering lupa menggunakan pil kontrasepsi
Ibu yang tidak boleh memakai suntik kombinasi
adalah :
(1) Hamil atau diduga hamil
(2) Menyusui dibawah 6 minggu pascapersalinan
(3) Perdarahan pervaginam yang belum jelas
penyebabnya
(4) Ibu dengan Riwayat penyakit hati sepreti hepatitis
(5) Umur ibu lebih dari 35 tahun dan ibu yang
merokok ibu yang memiliki Riwayat oenyakit
jantung, stroke, tekanan darah tinggi diatas
180/110 mmHg
(6) Ibu yang mempunyai kelainan troboemboli atau
kencing manis >29 tahun
(7) Kelainan pembuluh darah yang menyebabkan
sakit kepala ringan atau migrain
35
(8) Keganasan pada payudara
Cara penggunaan suntikan 1 bulan yaitu:
Suntikan kombinasi 1 bulan dapat diberikan setiap
bulan dengan injeksi Intramuskular. Suntikan ulang
dapat diberikan 2 hari lebih awal dari tanggal
pemberian sebelumnya dengan kemungkinan terjadi
gangguan perdarahan. Dapat juga diberikan setelah 7
hari dari jadwal yang ditentukan asalkan ibu tidak
hamil dan belum ada melakukan hubungan seksual.
b) Suntikan KB 3 bulan / progestin
Suntikan Progestin menggunakan Depo Medroksi
Progesteron Asetat (DMPA) yang mengandung 150
mg DMPA yang diberikan tiap 3 bulan dengan cara
disuntik Intramuscular di daerah bokong.
Cara kerja suntikan progestin adalah :
(1) Mencegah ovulasi
(2) Mengentalkan lender serviks sehingga menurnkan
kemampuan penetrasi sperma
(3) Menjadikan selaput lender rahin tipis dan strofi
(4) Menghambat transportasi gamet oleh tuba
Keuntungan metode KB suntikan progestin yaitu:
(a) Sangat efektif
(b) Pencegahan kehamilan jangka panjang
36
(c) Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
(d) Tidak mengandung estrogen sehingga tidak
berdampak serius terhadap penyakit jantung dan
gangguan pembekuan darah
(e) Tidak memiliki pengaruh terhadap ASI
(f) Sedikit efek samping
(g) Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
(h) Dapat dipergunakan oleh perempuan usia
>35 tahun sampai perimenopause
(i) Membantu mencegah kanker endometrium
dan kehamilan ektopik
(j) Menurunkan kejadian penyakit jinak dan
ganas pada payudara
(k) Mencegah beberapa penyebab pe nyakit
radang panggul
(l) Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle
cell)
Kekurangan metode suntikan progestin adalah:
(1) Sering ditemukan gangguan haid seperti siklus
haid memendek atau memanjang, perdarahan
banyak atau sedikit, perdarahan tidak teratur, atau
tidak haid sama sekali
(2) Klien sangat bergantung pada tempat pelayanan
37
kesehatan KB untuk kembali mendapat suntikan
(3) Tidak dapat dihentikan sewaktu waktu
sebelum suntikan berikutnya
(4) Dapat menyebabkan permasalahan kenaikan
berat badan
(5) Tidak menjamin perlindungan terhadap IMS,
hepatitis B hingga HIV/AIDS
(6) Terlambatnya kembali kesbururan setelah
penghentian pemakaian
(7) Pada penggunaan jangka panjang dapat sedikit
menurunkan kepadatan tulang
(8) Pada penggunaan jangka panjang dapat
menimbulkan kekeringan pada vagina,
menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala,
nervositas dan jerawat.
Kriteria yang dapat menggunakan suntikan
progestin adalah :
(1) Usia reproduksi
(2) Nullipara dan yang telah memiliki anak
(3) Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan
yang memiliki efektifitas tinggi
(4) Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang
sesuai
38
(5) Setelah melahirkan dan tidak menyusui
(6) Setelah abortus atau setelah keguguran
(7) Perokok
(8) Tekanan darah >180/110 mmHg dengan
masalah gangguan pembekuan darah atau
anemia bulan sabit
(9) Menggunakan obat untuk epilepsy seperti fenitoin
dan barbiurat atau obat untuk terapi tuberculosis
seperti rifampisin
(10)Tidak dapat memakai kontrasepsi yang
mengadung estrogen
(11)Sering lupa mengonsumsi pil kontrasepsi
(12)Anemia
(13)Mendekati usia menopause yang tidak mau
atau tidak boleh menggunakan pil kontrasepsi
kombinasi
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemakaian Metode
Kontrasepsi
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode
kontrasepsi sehingga perlu menjadi perhatian diantaranya adalah
sebagai berikut:
a. Faktor Pribadi
Faktor pribadi yang mempengaruhi seseorang dalam
39
pengambilan keputusan untuk pemakaian jenis metode
kontrasepsi meliputi faktor usia, paritas, usia anak terakhir,
tujuan reproduksi, frekuensi hubungan kelamin, hubungan
dengan pasangan, pengaruh orang lain dalam pengambilan
keputusan, pentingnya kenyamanan metode, dan pengenalan
pemakaian serta tingkat kenyamanan pada tubuh dan sistem
reproduksi masing-masing.
b. Faktor Kesehatan Umum
Faktor kesehatan umum yang ikut mempengaruhi
seseorang dalam pengambilan keputusan pemakaian suatu
jenis kontrasepsi diantaranya yaitu riwayat reproduksi, riwayat
infeksi atau penyakit menular seksual, riwayat penyakit radang
panggul, serta riwayat perilaku beresiko dan kontraindikasi
terhadap suatu jenis metode kontrasepsi tertentu.
c. Faktor Budaya
Faktor budaya juga dapat mempengaruhi klien dalam
pengambilan keputusan untuk pemakaian metode kontrasepsi
yang meliputi kepercayaan religius dan tradisi budaya atau
adat, kesalahan persepsi yang terkait tentang penggunaan
kontrasepsi, tingkat pendidikan, persepsi mengenai
reproduksi dan risiko kehamilan, serta status wanita dalam
kehidupan berbudaya.
40
5. Usia
Usia adalah lamanya waktu hidup sejak dilahirkan. Usia
juga berpengaruh terhadap psikis seseorang dimana usia muda
seringkali menimbulkan ketegangan, kebingungan, rasa cemas,
dan rasa takut sehingga dapat berpengaruh terhadap tingkah
lakunya. Biasanya semakin dewasa maka cenderung semakin
menyadari dan mengetahui tentag permasalahan yang
sebenarnya. Semakin bertambahnya usia maka semakin banyak
pengalaman yang diperoleh, sehingga seseorang dapat
meningkatkan kematangan mental dan intelektual sehingga dapat
membuat keputusan yang lebih bijaksana dalam bertindak.
Usia ibu merupakan salah satu faktor risiko yang berhubungan
dengan kualitas kehamilan atau kesiapan ibu dalam proses
reproduksi. Umur reproduksi dianggap sehat untuk kehamilan dan
persalinan adalah 20-35 tahun, sedangkan yang dianggap
berbahaya adalah umur 35 tahun ke atas dan dibawah 20 tahun.
Wanita yang melahirkan di bawah usia 20 tahun atau lebih dari 35
tahun akan mempunyai risiko yang tinggi baik pada ibu maupun
bayi. WHO memberikan rekomendasi usia yang aman untuk
menjalani kehamilan dan persalinan adalah 20 sampai 30 tahun,
tapi mengingat kemajuan teknologi saat ini sampai usia 35 tahun
masih dibolehkan untuk hamil. Usia reproduksi yang optimal bagi
seorang perempuan adalah 21-35 tahun.
41
a. Usia <20 tahun
Ibu hamil diusia kurang dari 20 tahun bisa menimbulkan
masalah. Karena secara psikologi, mental wanita di usia
kurang 20 tahun belum 100% siap untuk hamil. Selain itu,
secara fisik alat reproduksi pada wanita usia kurang dari 20
tahun juga belum berfungsi sempurna sehingga akan mudah
mengalami komplikasi.
Kehamilan dan persalinan pada usia tersebut
meningkatkan angka kematian ibu dan janin 4-6 kali lipat
dibandingkan wanita yang hamil dan bersalin di usia 20-35
tahun. Pada umumnya wanita dibawah 20 tahun rahim masih
terlalu kecil karena pembentukan yang belum sempurna dan
pertumbuhan tulang panggul yang belum cukup lebar. Karena
rahim merupakan tempat pertumbuhan janin, rahim yang
terlalu kecil akan mempengaruhi pertumbuhan janin.
b. Usia 20 sampai 35 tahun
Usia 20-35 tahun dianggap ideal untuk hamil dan
melahirkan atau disebut sebagai usia reproduksi sehat. Di
rentang usia ini, kondisi fisik wanita dalam keadaan prima.
Rahim sudah mampu memberi perlindungan atau kondisi
yang maksimal untuk kehamilan. Secara fisik mental pun siap,
yang berdampak perilaku merawat dan menjaga kehamilan
secara berhati-hati.
42
c. Usia >35 tahun
Wanita yang hamil pada usia ini sudah dianggap sebagai
kehamilan yang bersiko tinggi. Faktor risiko untuk persalinan
sulit pada ibu hamil yang berumur diatas 35 tahun adalah 2-3
kali lebih tinggi dari kelompok umur reproduksi sehat. Pada
usia ini, wanita biasanya sudah dihinggapi penyakit seperti
kanker mulut rahim, kencing manis, darah tinggi dan jantung.
Keadaan jalan lahir sudah kurang elastis dibanding
sebelumnya, sehingga persalinan menjadi sulit dan berisiko
mengalami komplikasi. Hal ini di tambah dengan penurunan
kekuatan ibu untuk mengeluarkan bayi karena faktor umur dan
faktor penyakit yang di deritanya.
Umur lebih dari 35 tahun berhubungan dengan mulainya
terjadi regenerasi sel-sel tubuh terutama dalam hal ini adalah
endometrium akibat usia biologis jaringan dan adanya
penyakit. Ibu hamil pada usia 36 tahun meskipun mental dan
sosial ekonomi lebih mantap tapi fisik dan alat reproduksinya
sudah mengalami kemunduran, serviks menjadi kaku untuk
berdilatasi. Oleh karena itu usia 35 tahun ke atas tidak
dianjurkan bagi perempuan untuk hamil dan melahirkan
karena dikhawatirkan akan adanya resiko tinggi berbagai
komplikasi dan penyulit bahkan bisa berakibat kematian.
Penyebab tingginya Angka Kematian Maternal
43
diantaranya adalah faktor Usia yang termasuk dalam 4T (4
Terlalu) yakni terlalu tua atau terlalu muda untuk hamil dan
melahirkan. Usia reproduksi yang sehat bagi wanita untuk
hamil dan melahirkan sebaiknya adalah antara usia 20 sampai
35 tahun. Usia seseorang hamil sebaiknya tidak terlalu muda
yaitu kurang dari 20 tahun atau terlalu tua yaitu lebih dari 35
tahun karena umur diluar rentang masa reproduksi baik
dikhawatirkan menyebabkan kondisi bahaya pada ibu
tersebut. Seorang perempuan hamil dan bersalin dianjurkan
siap secara fisik, psikoligs, emosional, sosial dan ekonomi.
6. Paritas
Paritas adalah banyaknya kelahiran hidup yang dipunyai oleh
seorang wanita. Paritas adalah jumlah kehamilan yang
menghasilkan janin yang mampu hidup di luar rahim .27
Pembagian paritas terdiri dari: 10
a. Primipara
Ibu dikatakan primipara apabila seorang wanita pernah
melahirkan satu kali viable, tanpa mengingat janinnya apakah
hidup atau mati pada saat lahir, juga ibu yang sedang inpartu
untuk anak satu.
Pada ibu dengan primipara, karena pengalaman
melahirkan belum pernah maka kemungkinan terjadinya
kelainan dan komplikasi cukup besar baik pada kekuatan his,
44
jalan lahir, dan kondisi janin.
b. Multipara
Ibu dikatakan multipara apabila seorang wanita telah
melahirkan dua kali sampai empat janin mencapai batas
viable yakni berapa banyak jumlah anak dapat hidup dan
tumbuh dengan baik.
c. Grandemultipara
Grandemultipara adalah apabila seorang wanita telah
melahirkan lebih dari lima kali viable sampai lebih.
Jumlah anak atau paritas erat keterkaitannya dengan
program KB dimana salah satu tujuan program KB adalah
untuk mengontrol jumlah anak dan jarak antar anak. Selain
itu, hak- hak reproduksi juga termasuk adalah hak individu
dan pasangan untuk menentukan kapan akan melahirkan,
berapa jumlah anak dan jarak anak yang akan dilahirkan,
serta memilih sendiri upaya untuk mencapai tujuan
terpenuhinya hak-hak tersebut.
Paritas 1-3 merupakan angka paritas yang paling aman
dari sudut resiko kematian maternal bagi seorang ibu. Seorang
ibu dengan paritas 1-3 cenderung lebih terhindar dari resiko
komplikasi pada masa kehamilan, persalinan, dan nifas yang
bahkan dapat mengakibatkan kematian ibu bila tidak ditangani
dengan baik. Sedangkan ibu dengan paritas tinggi yakni lebih
45
dari tiga mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi
dibanding paritas rendah. Sehingga paritas lebih dari tiga
dinyatakan beresiko bagi seorang perempuan untuk hamil,
bersalin, nifas, atau bereproduksi dengan adanya resiko tinggi
karena fungsi organ reproduksi wanita yang telah melahirkan
lebih dari tiga kali tidak lagi kondusif untuk proses
pembuahan, nidasi dan pertumbuhan janin. Oleh karena itu
ibu dengan paritas tiga atau lebih tidak disarankan lagi untuk
hamil dan bersalin, salah satunya dengan menggunakan
kontrasepsi.
B. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan turunan dari kerangka teori yang
telah disusun sebelumnya dalam telaah pustaka. Kerangka konsep
yaitu kerangka hubungan antara konsep-konsep yang akan diukur
atau diamati melalui penelitian yang akan dilakukan. Diagram dalam
kerangka konsep harus menunjukkan hubungan antara variable-
variabel yang akan diteliti (Heryana A, 2019). Adapun kerangka
konsep penelitian dijabarkan seperti di bawah ini.
46
Variabel Independen Variabel Dependen
Usia
Pemakaian Jenis Metode
Kontrasepsi
Paritas
Keterangan
: Variabel yang diteliti.
Bagan 2.1 Kerangka Konsep Penelitian Hubungan Usai dan Paritas
Dengan Pemakaian Jenis Metode Kontrasepsi Pada
Akseptor KB Di Puskesmas Pagesangan.