0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan11 halaman

Baju Pengantin Adat Pakpak

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan11 halaman

Baju Pengantin Adat Pakpak

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS KLIPING

PAKAIAN BAJU ADAT

Oleh :

Nama : Irwansyah Sinamo

Kelas : X IPA 1

Mata Pelajaran ; Prakarya dan Kewirausahaan


A. Pakaian Adat Pakpak
1. Pakaian baju adat pakpak Untuk Pria/laki laki

a. BAJU MERAPI-API

Baju model melayu leher bulat berwarna hitam yang dibubuhi atau dihiasi manik-
manik (Api-api). Jenis kain yang umum digunakan sejenis beludru namun belakangan lebih
disesuaikan dengan model dan jenis kain terbaru. Ada beberapa variasi lain yang melekat dan
pada leher dan ujung lengan terdapat warna merah putih.

b. BULANG-BULANG

Bulang-bulang Adalah penutup kepala, sebuah lambang kehormatan dan


kewibawaan, dibetuk sedemikian rupa dari bahan oles perbunga mbacang.

c. CELANA PANJANG

Celana panjang berwarna hitam, sama dengan kemeja di ujungnya juga terdapat
variasi warna merah dan putih. Ukurannya umumnya tidak sampai menyentuh ujung kaki
melainkan berada pada posisi tanggung, seperti celana yang biasa digunakan oleh atlet silat
atau karate.

d. SARUNG (OLES SIDOSDOS)

Celana panjang hitam kemudia ditutup oleh oles sidosdos secara melingkar dengan
ujung yang terbuka didepan.

e. BORGOT

Kalung yang terbuat dari emas, baik emas murni atau perak berlapis emas. Sangat
tergantung pada kemampuan ekonomi pemilik atau penggunanya. Rangkaian emas yang
kedinginan dengan benang Sitellu rupa dan diujungnya terdapat mata kalung bergambar
kepala kerbau. Rangkaiannya terdiri dari 32 keping

f. SABE-SABE

Oles Polang-polang atau pada pemakai yang memiliki keberadaan lebih tinggi oles
Gobar, Letakkan di bahu sebelah kanan terurai dari belakang hingga kedepan. Oles dilipat
dan disesuaikan dengan corak oles.

g. REMPU RIAR

Sejenis pisau yang dibungkus dengan sarung yang diliti atau dilapisi emas atau perak
(riar=uang jaman dulu). Diselipkan di pinggang melalui rante abak.
h. RANTE ABAK

Ikat pinggang dan dahulu terbuat dari perak, tetapi lazim pula menggunakan oles
dingin untuk memperkuat posisi sarung oles sidosdos dan memperindah penampilan, serta
menggambarkan pula kewibawaan dan keberadaan penggunanya.

i. UCANG

Anyaman daun pandan (legging) berbentuk tas yang dihias dengan manik-manik
dengan tali yang terbuat dari kain berwarna merah. Bisa dilatakkan pada bahu sebelah kiri
namun sesekali juga dipegang oleh pemakai.

j. TONGKET

Tongkat yang sering juga dinamakan tongket balekat, terbuat dari kayu berkualiti
tinggi, pada kepala dan batangnya terukir dengan gerga pakpak. Beberapa bukunya
kedinginan dengan bahan emas, perak, atau loyang.

2. Pakaian Adat Pakpak Untuk Wanita

a) BAJU MERAPI-API

Baju modelleher segitiga berwarna hitam yang dibubuhi atau dihias dengan manik-
manik (Api-api). Jenis kain yang umum digunakan sejenis beludru namun belakangan lebih
disesuaikan dengan model dan jenis kain terbaru. Berebda dengan pria variasi warna merah
putih tidak ditemukan, namun bisa ditemukan lengan atas terdapat manik-manik dengan
gambar terlihat seperti kepala kerbau. Demikian juga pada ujung lengan. Kancing yang
digunakan pada kemeja ini berbentuk bulat melingkat berlobang dengan ukuran jari-jari 3
Cm

b) SARUNG (OLES PERDABAITAK)

Hampir sama dengan Pria, oles perdabaitak dililit pada pinnggang secara melingkar.

c) SAONG

Tutup kepala yang dibentuk sedemikian rupa dengan oles silima takal. Pada wanita
muda dibentuk lonjong dengan sudut runcing kebelakang, dengan rambu yang terurai di dahi.
Namun pada usia dewasa bentuknya lebih sederhana dengan rambu-rambu terurai ke
belakang.

d) LEPPA-LEPPA

Kalung wanita dengan bentuk dan bahan yang sama dengan pria. Bedanya dengan
pria mungkin karena tidak ada mata kalung sebagaimana yang terdapat pada borgot. Jumlah
rangkainnya juga berbeda dan cenderung lebih pendek.
e) RANTAI ABAK

Ikat pinggang dan dahulu terbuat dari perak, tetapi lazim pula menggunakan oles
diikat untuk memperkuat posisi sarung oles sidosdos dan memperindah penampilan, serta
menggambarkan pula kewibawaan dan keberadaan penggunanya.

f) RABI MUNDUK

Sejenis Pisau yang terbuat dari besi dengan ujung pisau melingkar kecil keatas,
gagangnya (sukul) terbuat dari jenis kayu berkwalitas tinggi, berukir dan ujungnya dililiti
emas atau perak.

g) PAPUREN

Sejenis sumpit dari rajutan atau anyaman daun pandan dilapisi dengan api-api
(manik-manik). Sama dengan pria sumpit ini juga bertali berwarna merah.

h) CULAPAH

Kotak kecil tempat tembakau dengan bahan yang terbuat bdari emas, perak atau
loyang berukir sesuai gerga atau ornamen Pakpak yang ada. Ukurannya lebih kurang 6 x 8
cm.

i) KANCING EMMAS

Kancing bulat (berbentuk lingkaran) namun dengan lobang ditengah. Jari-jari lebih
kurang 3-4 cm. Terbuat dari emas, perak atau logam yang dilapisi emas. Fungsinya sebagai
hiasan, dan menutupi kancing sebenarnya. Artinya umumnya tidak berfungi sebagai kancing
dalam artian yang sebenarnya, hanya merupakan assesories semata.
B. Pakaian Adat Batak Karo

Suku Batak Karo merupakan suku Batak yang bertempat tinggal khusus di daerah
Kabupaten Karo Sumatera Utara, dan juga sebagian dari Provinsi Aceh yaitu meliputi
Wilayah daerah Kabupaten Langkat Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi, Kabupaten Aceh
Timur, Kabupaten Deli Serdang Kabupaten Simalungun. Suku Batak Karo memiliki bahasa
tersendiri yang disebut dengan bahasa Karo atau cakap karo.

Pakaian adat suku Batak Karo dari Sumatera Utara ini didominsai oleh warna merah
dan hitam dan penuh dengan perhiasan emas. Baju adat Batak Karo dari Sumatera Utara
biasanya dibuat dari Kain Uis yaitu kain tenun dari Kabupaten Karo Sumatera Utara.
Uis gara berasal dari bahasa Karo yang memiliki makna uis yakni kain dan negara
yakni merah. Jadi secara bahasa bermakna kain merah di mana diproses dari kapas yang
ditenun secara manual.

Namun bukan berarti kainnya berwarna merah semua walaupun dominan berwarna
merah tetapi dihiasi juga dengan ragam warna lain seperti putih, hitam, dan juga benang
perak dan emas. Meskipun dipadu dengan berbagai warna, namun tidak menghilangkan nilai-
nilai tradisi.

Dengan bahan dasar dari kapas yang dipintal serta ditenun secara manual membuat
kain Uis Gara menjadikannya khas masyarakat suku Karo. Pewarnaan dari kain tersebut juga
menggunakan zat warna alami untuk menjaga ciri khas dari masyarakat Suku Karo tersebut.
Pewarna yang digunakan diambil secara alami dari berbagai jenis tumbuhan.

Kegunaan dari Uis Gara berawal untuk melengkapi pakaian sehari-hari para
perempuan di Karo. Akan tetapi, kini digunakan pada saat acara adat di kalangan masyarakat
Karo maupun di luar dari daerah masyarakat Karo. Bahkan saat ini ini bisa bervariasi
kegunaannya termasuk dijadikan sebagai souvenir seperti ikat pinggang, sarung, tas, hingga
dasi.

C. Pakaian Adat Mandailing

Berikut bagian yang terdapat di pakaian adat etnis Mandailing:


 Pakaian Adat Perempuan

 Bulang,

Bulang merupakan mahkota yang digunakan untuk menutup kepala pengantin


perempuan. Bulang asli biasanya terbuat dari emas, sedangkan yang lainnya terbuat
dari emas sepuhan. Jumlah tingkatan Bulang biasanya menentukan kelas sosial
mempelai perempuan.

Terdapat dua jenis Bulang, yakni Bulang Hambeng (kambing) dan Bulang Horbo
(kerbau). Bulang Hambeng biasanya digunakan jika dalam pesta tersebut
menyembelih hewan kambing, sedangkan Bulanb Horbo digunakan jika
menyembelih hewan kerbau, dan Bulang ini hanya bisa digunakan oleh keluarga raja.
Berdasarkan tingkatan Bulang, Bulang Hambeng hanya memiliki satu tingkat,
sedangkan Bulang Horbo memiliki tiga tingkat.

 Baju kurung panjang hitam dengan bordir keemasan.

 Kain songket panjang untuk digunakan di bagian bawah.

 Dua helai selendang tenun Pattani (songket) berwarna merah hati dan
diselempangkan di bahu kiri dan kanan. Kedua selempang ini bersilang di bagian
dada dan ujungnya bersilang di kiri kanan pinggang.

 Bobat (ikat pinggang), Bobat ini berwarna keemasan. Yang diukir dengan bentuk segi
empat yang disambung-sambung.

 Sepasang keris yang berukuran kecil. Keris ini diselipkan di ikat pinggang di bagian
depan.

 Puntu (gelang emas), Puntu ini digunakan di lengan atas pengantin perempuan.

 Gaja Meong, dibuat dari kain yang dibentuk sedemikian rupa sehingga agak tebal.

 Kalung emas atau bercorak keemasan, yang bentuknya menyerupai tapak kuda.
Kalung emas ini disematkan di atas bahan kain beludru berwarna hitam.

 Anting-anting emas

 Kuku emas pada jari kanan, untuk memperindah bentuk kuku.

 Pakaian Adat Laki-laki

 Ampu, mahkota yang dipakai sebagai penutup kepala. Ampu ini terbuat dari kain
beludru berwarna hitam dengan hiasan berwarna emas. Bagian bawah dari Ampu
melilit dengan motif keemasan, yang kedua ujungnya menyilang dengan satu arah
atas dan satu ke arah bawah. Makna dari ujung menghadap ke atas dan ke bawah
tersebut adalah agar senantiasa mengingat pencipta dan rendah diri terhadap sesama
manusia.

 Bajo Godang, baju berbentuk jas dengan warna hitam keemasan atau merah. Bajo
Godang ini tidak memiliki kerah di bagian leher.

 Bobat (ikat pinggang), item ini juga ditemukan di pengantin laki-laki. Bobat
diselipkan di pinggang pada bagian luar. Di Bobat tersebut juga diselipkan pisau
sebanyak dua pisau. Pisau tersebut adalah pisau jantan dan pisau betina, kedua pisau
ini memiliki gagang yang berbeda. Pisau jantan diselipkan di sebelah kanan dan pisau
betina di sebelah kiri.

 Gelang, gelang ini dipasangkan di masing-masing lengan pada bagian luar baju.
Gelang ini bermotif polos dengan warna keemasan.

 Kain Sesamping, kain ini merupakan kain tenun songket yang dililitkan di bagian
pinggang.

D. Pakaian Adat Batak Toba


Pakaian adat Sumatera Utara khas Batak Toba terbuat dari kain ulos atau kain tenun
tradisional, mulai dari bagian atas sampai bawah. Pakaian adat pria bagian atas disebut ampe-
ampe dan bagian bawah disebut singkot. Sementara untuk perempuan, bagian atas berupa
hoba-hoba dan bagian bawah adalah haen. Mengenakan busana ini juga dilengkapi dengan
aksesoris berupa penutup kepala pada laki-laki yang disebut bulang-bulang dan pengikat
kepala atau tali-tali pada perempuan, serta memakai selendang ulos.

Bagi orang-orang Batak Toba, ulos memiliki arti khusus. Jenisnya pun ada banyak,
sesuai dengan maknanya masing-masing. Misalnya saja, ulos ragi hotang digunakan untuk
pesta sukacita, ulos simbolang dikenakan saat berduka, dan banyak jenis lainnya. Selain
upacara adat, pakaian adat Batak Toba digunakan untuk acara tertentu seperti pernikahan dan
pesta syukuran.

Kain ulos biasanya menggunakan benang kapas dan diwarnai dengan cara merendam
benang ke dalam pewarna alami yang berasal dari tanaman. Warna biru terbuat dari tanaman
indigo, warna merah dari kayu secang dan mengkudu, warna kuning berasal dari kunyit,
sedangkan hitam dihasilkan dengan mencampurkan mengkudu dengan indigo, serta hijau
adalah campuran indigo dan kunyit. Saat ini, pembuatan ulos sudah lebih modern, yakni
dengan memanfaatkan ATBM (alat tenun bukan mesin). Benang yang dipakai juga tidak
diproduksi sendiri, tetapi menggunakan benang jadi. Selain itu, banyak juga penenun yang
lebih memilih pewarna sintetis untuk membuat kain ulos dengan harga yang lebih terjangkau.

E. Pakaian Adat Suku Nias


Pakaian adat suku Nias dinamakan Baru Oholu untuk pakaian laki-laki dan Õröba
Si’öli untuk pakaian perempuan. Pakaian adat tersebut biasanya berwarna emas atau kuning
yang dipadukan dengan warna lain seperti hitam, merah, dan putih. Adapun filosofi dari
warna itu sendiri antara lain:

Warna kuning yang dipadukan dengan corak persegi empat (Ni’obakola) dan pola
bunga kapas (Ni’obowo gafasi) sering dipakai oleh para bangsawan untuk menggambarkan
kejayaan kekuasaan, kekayaan, kemakmuran dan kebesaran.

Warna merah yang dipadukan dengan corak segi-tiga (Ni’ohulayo/ ni’ogöna) sering
dikenakan oleh prajurit untuk menggambarkan darah, keberanian dan kapabilitas para
prajurit.

Warna hitam yang sering dikenakan oleh rakyat tani menggambarkan situasi
kesedihan, ketabahan dan kewaspadaan.

Warna putih yang sering dikenakan oleh para pemuka agama kuno (Ere)
menggambarkan kesucian, kemurnian dan kedamaian.

Anda mungkin juga menyukai