0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan54 halaman

Efektivitas Media Pembelajaran Siswa

Diunggah oleh

Heppi Sirajuddin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan54 halaman

Efektivitas Media Pembelajaran Siswa

Diunggah oleh

Heppi Sirajuddin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hubungan dengan Penelitian Relevan

Setelah mencermati beberapa buku seperti Media Mengajaran oleh

Sujana, Media Pembelajaran oleh Azhar Arsyad, dan Kurikulum Berbassis

Kompetensi oleh Mulyasa. Dari buku tersebut dapat disimpulkan bahwa media

pembelajaran adalah segala sesuatu yang menjadi subyek pengajaran termasuk

sarana atau alat pelajaran yang dapat menunjang keefektifan dan efisiensi

pengajaran, sehinga pelaksanaan kegiatan belajar mengajar berdaya guna dalam

peningkatan prestasi belajar siswa atau peserta didik.

Sehubungan dengan hal tersebut, terdapat kesamaan antara penelitaian

yang penulis lakukan, yaitu dalam hal efektifitas media pembelajaran dalam upaya

peningkatan prestasi belajar siswa khususnya pada Madrasah Aliyah DDI

Kaballangang Pinrang. Adapun letak perbedaannya adalah bahwa peneliti

sebelumnya lebih menyoroti teori tentang media pengajaran dalam meningkatkan

motivasi belajar, sementara penulis lebih menyoroti terkait efektifitas media

pembelajaran dalam upaya peningkatan prestasi belajar siswa

B. Landasan Teori

1. Pengertian Media Belajar

Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak

dari kata medium yang secara harfiyah berarti perantara atau pengantar. Dalam
16

bahasa Arab, media adalah perantara (wasaail) atau pengantar pesan dari

pengirim kepada penerima pesan.1

Sedangakan secara istilah terdapat berbagai pendapat, menurut Gerlach

& ely, mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah

manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa

mampu memperoleh pengetahuan. Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan

lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media

dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat grafis,

photografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses dan menyusun

kembali informasi visusal atau verbal.

Istilah media pembelajaran ternyata diartikan dengan berbagai cara.

Para ahli mengartikannya dengan berbagai definisi. Tetapi dapat

dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu definisi secara luas dan secara

sempit atau lebih spesifik. pengarang yang mendefinisikannya secara luas,

yaitu “setiap orang, materi atau perestiwa yang memberikan kesempatan pada

siswa untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap”. 2 Dengan

demikian, tenaga pengajar, buku pelajaran, gedung sekolah, menjadi suatu

medium pembelajaran.

Adapun yang mendefinisikann media secara lebih spesifik. media yaitu

alat-alat elktro mekanis yang menjadi perantara antara dengan materi

pembelajaran. Dengan mengikuti pandangan E. De Corte, di sini media

pembelajaran diartikan sebagai : suatu sarana non personal yang digunakan

1
Azhar Arsyad, Media Pembelajaran (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2005), h. 3
2
Winkel. Psikologi Pengajaran, (Jakarta : PT. Grasindo. 1991) h. 187.
17

atau disediakan oleh tenaga pengajar, yang memegang peranan dalam proses

pembelajaran untuk mencapai tujuan instruksional. 3 yang pada akhir-akhir ini

kerap disebut dengan teknologi pendidikan atau teknologi pembelajaran dan

masih banyak lagi definisi media yang akan dikaitkan dengan beberapa hal

dalam pembelajaran.

Banyak batasan yang diberikan para ahli tentang media. Asosiasi

teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Association of Education and

Communication technology / AECT ) di Amerika, membatasi media sebagai

segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/

informasi. Dalam hal ini, Gegne menyatakan bahwa media adalah berbagai

komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.

Gegne menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen

dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara

itu, Briggs berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat

menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.4

Dari beberapa definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa media

adalah alat yang digunakan sebagai penyalur pesan dalam proses pembelajaran

untuk memberikan stimulus pikiran, perasaan, dan menumbuhkan minat siswa

dalam kegiatan belajar mengajar.

Sementara itu, Briggs berpendapat bahwa media adalah segala alat

fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar.

3
De Corte E. Beknopte Didaxsologie. diterjemahkan oleh Samsunuwiyati Mar’at dan
Andoyo Sastromohadjo dalam buku Psikologi Pengajaran (Gronigen: Wolters 1981) h. 187.
4
Azhar Arsyad. [Link]., h. 3.
18

Buku, film, kaset, dan film bingkai adalah contoh-contohnya. Asosiasi

Pendidikan Nasional (National Education Association) memiliki pengertian

yang berbeda. Media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun

audio visual serta peralatanya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat

dilihat, didengar dan dibaca.5 Sedangkan menurut [Link] Usman,

media merupakan sesuatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat

merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan audien (siswa) sehingga dapat

mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya.6

Sejalan dengan pengertian di atas, media merupakan wahana penyalur

pesan atau informasi belajar, yakni segala sesuatu yang dapat digunakan untuk

merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan peserta didik sehingga

dapat mendorong terjadinya proses belajar pada diri peserta didik.7

Menurut Asnawir dan M. Basyiruddin definisi dari media pendidikan

Agama adalah semua aktivitas yang ada hubungannya dengan materi

pendidikan agama, baik berupa alat yang dapat diragamkan maupun teknik

atau metode yang secara efektif dapat digunakan oleh guru agama dalam

rangka mencapai tujuan tertentu dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.8

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa media adalah

segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim

5
Arief S. Sadiman, dkk. Media Pendidikan (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005),
t.h.
6
M. Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), h.13
7
Muhaimin, Arah Baru Pengembangan Pendidikan Agama Islam (Bandung: Nuansa,
2003), h. 132-133.
8
Asnawir dan Basyiruddin Umar, Media Pembelajaran, (Jakarta : Ciputat Pers, 2002), h.
117.
19

ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan

minat serta perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa,

demikian juga dalam pendidikan agam islam sehingga proses belajar dapat

terjadi. Jadi, media pembelajaran merupakan komponen sumber belajar atau

wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang

dapat merangsang siswa untuk belajar.

2. Media Pembelajaran dalam Prespektif Islam

Dalam pandangan Islam, terkait dengan media pembelajaran, bahwa

media itu sangat penting dalam penyampaian pengetahuan atau pembelajaran.

maknanya adalah tanpa media, pelajaran yang disampaikan akan terasa sulit

dicerna. Terlebih terkait dengan pentingnya media dalam pembelajaran, Allah

telah memberikan penjelasan dalam surat al-‘Ala ayat 4-5 sebagai berikut :

Terjemahnya:
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia
mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS.
Al-‘Alaq. 96: 4-5) 9

Bukan itu saja dalil yang menunjukkan pentingnya media dalam

pembelajaran. Di ayat yang lain Allah memberikan isyarat bahwa untuk

memahami tentang keagungan Tuhan yang Maha Besar, Allah memberikan

gambaran lewat alam yang konkrit ini, tersebut dalam surat al-Ghasyiah ayat

18-20 sebagai berikut:

9
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Tewrjemahnya, (Jakarta: 1999)
h. 597.
20

Terjemahnya:
Dan langit, bagaimana ia ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana
ia ditegakkan. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan.(QS. Al-
Ghasyiah 88:18-20).10

Ayat tersebut sangat erat kaitannya dengan kemampuan sesorang

dalam menerima pelajaran yang mana awalnya belum mampu memahami hal

yang abstrak, oleh karena itu menggunakan contoh-contoh yang konkrit

sehingga peserta didik mudah mengerti dan lama dalam ingatan. lebih jelasnya

lagi akan dibahas bagaimana keterkaitan ayat di atas dengan beberapa teori

yang menjadi landasan pentingnya penggunaan media dalam pembelajaran.

Kajian tentang landasan teoritis penggunaan media pembelajaran.

Pemerolehan-pemerolehan pengetahuan dan keterampilan, perubahan-

perubahan sikap dan prilaku dapat terjadi karena adanya interaksi antara

pengalaman baru dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya oleh

siswa. Mengenai tingkatan modus belajar yang terkait dengan penggunaan

media Bruner menjelaskan sebagai berikut:

Ada tiga tingkatan utama modus belajar, yaitu pengalaman langsung


(enavtive), pengalaman piktorial/gambar (iconic), dan pengalaman
abstrak (symbolic). Pengalaman langsung adalah mengerjakan,
misalnya arti kata simpul difahami langsung dengan membuat simpul.
Pada tingkatan ke dua yang di beri label iconic (artinya gambar), kata
simpul difahami dari gambar, lukisan, foto atau film. Selanjutnya pada
tingkatan simbol, siswa membaca atau mendengarkan kata simpul dan
mencoba mencocokkannya dengan pengalamannya membuat simpul.11

10
Ibid., h. 592
11
Bruner, Jeromes. S. Tward aTheory of Instruction (Cambridge: Harvard Univercity,
1966) h. 10
21

Uraian tersebut menunjukkan bahwa proses belajar dapat berhasil jika

ada yang membuat siswa termotivasi dalam belajar dalam hal ini adalah

penggunaan media dalam pembelajaran. Selain diri itu, ada juga konsep yang

paling banyak dijadikan acuan sebagai landasan penggunaan dalam proses

belajar adalah Dale’s Cone of Experience (krucut pengalaman Dale).12 Prinsip

ini merupakan elaborasi yang rinci dari konsep tiga tingkatan pengalaman

yang dikemukakan oleh Bruner sebagaimana diuraikan sebelumnya. Bahwa

hasil belajar seseorang dimulai dari pengalaman langsung (Konkrit),

kemudian melalui benda tiruan sampai pada lambing verbal (abstrak).

Semakin ke atas di puncak krucut semakin abstrak media penyampaian pesan

itu. Pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan paling

bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam gagasan

itu, oleh karena ia melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasaan,

penciuman dan verbal, hal ini yang akan membuat siswa semakin termotivasi

dalam belajar.

Krucut ini dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini:

Abstrak
lam-
bang
kata
Lambang
visual
Gambar diam,
rekaman video

Konkrit Gambar hidup

Televisi
Karyawisata

Dramatisasi

12
Dale, E Audiovisual Methos in Teaching. (New York : The Drayden Press. 1969), h.
12.
22

Benda tiruan/pengamatan
Pengalaman langsung Gambar II.1 Krucut Pengalaman Edgar Dale
Dasar pengembangan kerucut tersebut bukanlah tingkat kesulitan,

melainkan gambaran tingkat keabstrakan jumlah jenis indera yang turut serta

dalam penerimaan isi pengajaran atau pesan yang akan mempengaruhi

pemahaman siswa dalam pembelajaran. Arsyad mengungkapkan bahwa

tingkat keabstrakan pesan akan semakin tinggi jika pelajaran atau

informasi/pesan itu hanya dalam bentuk lambing-lambang kata saja tanpa

menggunakan media, akan tetapi sebaliknya, pesan akan menjadi konkrit dan

lebih lama dalam ingatan jika pesan itu diterima dengan indera yang lebih

banyak, yakni penyampaian pelajaran atau pesan dengan menggunakan

media.13

3. Hakikat Media Pembelajaran

Belajar adalah suatu proses yang kompleks pada semua orang dan

terjadi seumur hidup yaitu semenjak bayi sampai akhir hayat (belajar

sepanjang hayat). Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan

teknologi berkembang pula tugas dan peran guru sejalan dengan jumlah anak

yang memerlukan pendidikan. harus diakui guru bukanlah satu-satunya

sumber belajar, siswa dapat belajar dari beraneka sumber.

Sifat unik tiap siswa, lingkungan dan pengalaman yang berbeda,

kurikulum dan materi pelajaran ditentukan sama untuk setiap siswa, maka

guru akan kesulitan bila harus diatasi sendiri. Briggs dalam Wijaya

mengatakan bahwa masalah ini dapat diatasi dengan media pembelajaran,

yaitu kemampuannya dalam:


13
Azhar Arsyad, [Link]., h. 172.
23

a. Sebagai alat bantu untuk memberikan stimulus yang sama

b. Mempersamakan pengalaman konkrit

c. Menimbulkan persepsi yang sama

d. Mempertinggi daya serap

e. Meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa.14

Perkembangan ICT juga semakin mengembangkan bentuk dan variasi

media pembelajaran. Menurut Thomson dalam Wijaya media computer yang

digunakan dalam pembelajaran dapat memberikan manfaat, yakni saat

digunakan dapat meningkatkan motivasi pembelajaran. Karena para siswa

akan menikmati kerja computer seperti menampilkan perpaduan antar teks,

gambar, animasi gerak suara dan sebagainya.15

Bower dan Hilgard dalam Sardiman menegaskan bahwa media

computer bermanfaat besar dibandingkan dengan media lainnya karena

mampu memberikan presentasi materi yang sangat fleksibel bagi

pembelajaran dan dapat mengikuti kemajuan sejumlah pembelajaran dalam

waktu yang sama.16

4. Hubungan Media dengan Pembelajaran

Heinich mengartikan istilah media sebgai “the term refer to anything

that carries information between a source and a receiver” 17 Sementar media

pembelajaran dimaknai sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar.


14
Dedi, Wijaya Kusuma, Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. (Jakarta : PT. Indeks
2009), h. 294
15
Ibid., h. 296.
16
Arief Sardiman, dkk, [Link]., h. 145.
17
“istilah merujuk kepada sesuatu yang membawa informasi antara sumber dan
penerima”
24

Batasan tersebut terungkap antara lain dari pendapat-pendapat para ahli seperti

Wilnur Schramm, Gagne dan Briggs. Darei pendapat para ahli tersebut dapat

disimpulkan bahwa setidaknya mereka sependapat bahwa:

a. Media merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau

penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan

tersebut.

b. Materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran.

c. Tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar.

Jika media dikaitkan dengan pembelajaran maka dapat didefinisikan

dengan beberapa hal diantaranya sebagai berikut: media pembelajaran adalah

teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan

pembelajaran.18 Kutipan lain mengatakan bahwa media pembelajaran adalah

segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim

ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan perhatian dan

minat siswa, dan dengan demikian terjadilah proses pembelajaran. Media

pembelajaran merupakan bagian dari sumber belajar yang menekankan pada

software.19 Ditegaskan juga, bahwa media pembelajaran adalah alat, metode

dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi

dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran

di kelas.20 Secara umum, dalam pembelajaran sumber informasi adalah

seorang guru instruktur peserta didik, bahan bacaan dan sebagainya.

18
Suarana. Pengajaran Mikro, (Yogyakarta: Tiara Wacana. 2006) h. 99
19
Cepi Ryana. ([Link] diakses 1 Juni 2012
20
Oemar Hamalik. [Link]., h. 12.
25

Penting untuk diperhatikan dalam pemilihan media pembelajaran

adalah mempertimbangkan tujuan yang akan dicapai, kondisi dan keterbatasan

yang ada dan karateristik media yang akan digunakan. bahwasanya media

pembelajaran yang akan populer digunakan adalah media yang bersifat

aplikatif dimana siswa dengan media ini dapat belajar sendiri, khususnya

media yang bertujuan menimbulkan motivasi siswa dalam belajar untuk

peningkatan prestasi dan produktif skil siswa masing-masing. Seperti yang

diungkapkan oleh Yusuf Hadi bahwa dalam penggunaan media yang

berkarakteristik interaktif, siswa tidak hanya memperhatikan penyajian atau

obyek, akan tetapi dituntut untuk berinteraksi yang akan dialalui siswa yaitu:

Pertama, siswa berinteraksi dengan sebuah program. Ke dua, berinteraksi

dengan mesin, dan Ke Tiga, mengatur interaksi antar siswa saat menjalankan

media pembelajaran.

Beberapa keterangan tersebut merupakan petunjuk mengenai bentuk

rangsangan dan kegiatan yang dilakukan dengan perantara media yang tepat.

Strategi yang paling baik dalam pembelajaran adalah memanfaatkan secara

optimal media yang ada. Jadi bukan kecanggihan media yang perlu dijadikan

dasar untuk meilih dan menggubakan media dalam proses pembelajaran.

Kesiapan untuk belajar sangat erat hubungannya dengan intelektual

dan tingkat perkembangan siswa terhadap mata pelajaran tertentu. Hal tersebut

ditegaskan oleh J. Bruner dalam Nasution bahwa setiap mata pelajaran dapat

diajarkan dengan efektif dalam bentuk yang sesuai secara intelektual kepada
26

setiap anak dalam setiap tingkat perkembangannya. 21 Keterangan tersebut

dapat disimpulkan bahwa materi pelajaran dan penggunaan media dalam

penyampaian pesan disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual

peserta didik.

Secara umum manfaat media dalam pembelajaran adalah

memperlancar interaksi guru dan siswa, dengan maksud membantu siswa

belajar secara optimal.22 Dijelaskan juga bahwa manfaat media dalam

pembelajaran adalag sebagai alat bantu pembelajaran yang turut

mempengaruhi iklim, kondisi, lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan

oleh guru.23 Amin menyebutkan “media juga dapat memberikan rangsangan

yang berfariasi kepada otak, sehigga otak dapat berpungsi secara optimal”.24

Disamping itu media berperan menggantikan beberapa fungsi

instruksional dari guru yakni dapat membebaskan guru kelas atau guru mata

pelajaran sari kegiatan rutin yang banyak. 25 Seperti yang diungkapkan oleh

Dayton dalam suarana menyatakan bahwa manfaat media dalam pembelajaran

adalah sebagai berikut:26

a. Jumlah waktu pembelajaran dapat dioptimalkan


b. Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan
c. Peran guru dapat berubah kearah yang lebih positif dan produktif
d. Proses pembelajaran dapat terjadi kapan saja dan diaman saja

21
Nasution. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar. (Jakarta: Rineka Cipta 2010) h.
6.
22
Suarana, [Link]., h. 128.
23
Azhar Arsyad, [Link]., h. 15.
24
Amin, Moh. Metodologi Penelitian. (Surabaya: Hilal 2010), h. 175.
25
[Link] diakses 1
Juni 2013.
26
Suarana, [Link]., h. 129
27

e. Proses pembelajaran menjadi lebih menarik.

Senada dengan manfaat media tersebut, dijelaskan juga oleh Nana

Sudjana dan Rifai, bahwa manfaat media adalah sebagai berikut:27

1. Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat


menumbuhkan motivasi belajar.
2. Bahan pelajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga mudah
difahami dan memungkinkannya menguasainya dan akan mencapai
tujuan mengajar pada pelajaran berikutnya.
3. Dengan adanya media, metode pembelajaran akan lebih bervariasi,
sehingga siswa tidak bosan dan guru kehabisan tenaga untuk
mengajar pada pelajaran berikutnya
4. Siswa lebih aktif dalam pembelajaran, karena tidak hanya
mendengar penjelasan guru, akan tetapi juga melakukan aktifitas
lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain
sebagainya.

5. Fungsi Media Pembelajaran

Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, ada beberapa manfaat media

pengajaran dalam proses belajar siswa antara lain: pengajaran akan lebih

menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar,

bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami

oleh para siswa, memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih

baik, metode mengajar akan lebih bervariasi, dan siswa lebih banyak

melakukan kegiatan belajar.28

Dalam hal ini Hamalik berpendapat bahwa pemakaian media

pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan

27
Nana Sudjana dan Ahmad Rifai, Media Pengajaran (Bandung; Sinar Baru Algesindo,
2002), h. 3.
28
Nana Sudjana dan Ahmad Rifai, [Link]., h. 2.
28

dan minat baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar dan

bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologi terhadap siswa.29

Sejalan dengan pendapat di atas, Yunus dalam bukunya Attarbiyatu

Watta alim mengungkapkan bahwasannya media pengajaran paling besar

pengaruhnya bagi indera dan lebih dapat menjamin pemahaman orang yang

mendengarkan saja tidaklah sama tingkat pemahamannya danlamanya

bertahan apa yang dipahaminya dibandingkan dengan mereka yang melihat

atau melihat dan mendengarkannya.

Selanjutnya Ibrahim menjelaskan betapa pentingnya media pengajaran

karena media pengajaran membawa dan membangkitkan rasa senang dan

gembira bagi murid-murid dan memperbaruhi semangat mereka, membantu

memantapkan pengetahuan pada benak para siswa sehingga menghidupkan

pelajaran.

Dalam hal ini, Levied dan Lentz mengemukakan empat fungsimedia

pengajaran, yaitu sebagai berikut:30

a. Fungsi atensi, media visual merupakan inti, yaitu menarik dan

mengarahkan perhatian siswa untuk berkosentrasi kepada isi pelajaran

yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks

materi pelajaran.

b. Fungsi afektif, media visual terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika

belajar atau membaca teks yang bergambar.

29
Azhar Arsyad, op cit., h. 4.
30
Azhar Arsyad, Ibid., h.16-17.
29

c. Fungsi kognitif, media visual terlihat temuan-temuan penelitian yang

mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar

pencapain tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan

yang terkandung dalam gambar.

d. Fungsi kompensatoris, media pengajaran terlihat dari hasil penelitian

bahwa media visual memberikan konteks untuk memahami teks

membantu siswa yang lemah dalam membaca dan untuk

mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali.

Sedangkan menurut Kemp & Daytory media pengajaran dapat

memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakan untuk perorangan,

kelompok pendengar yang jumlahnya besar, yaitu: memotivasi, minat atau

tindakan, menyajikan informasi dan memberi instruksi.

Memperhatikan penjelasan tersebut, maka secara khusus media

pembelajaran memiliki fungsi dan berperan untuk:31

a. Menangkap suatu obyek atau peristiwa-peristiwa tertentu yaitu

peristiwaperistiwa penting atau objek yang langkah dapat diabadikan

dengan foto, film atau direkam melalui video atau audio, kemudian

peristiwa itu dapat disimpan dan dapat digunakan manakala diperlukan.

b. Memanipulasi keadaan, peristiwa atau obyek tertenu yaitu melalui media

pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat

abstrak menjadi kongkret sehingga mudah dipahami dan dapat

menghilangkan verbalisme.

31
Wina Sanjaya, startegi Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2007), h. 169-171.
30

c. Menambah gairah dan motivasi belajar siswa sehingga perhatian siswa

terhadap materi pembelajaran dapat lebih meningkat.

Menurut Yusuf Hadi Miarso, media pembelajaran mempunyai nilai-

nilai praktis berupa ketrampilan/ kemampuan untuk membuat konkrit konsep

yang abstrak, membawa obyek yang berbahaya atau sukar didapat ke dalam

lingkungan belajar, menampilkan obyek yang terlalu besar, menampilakn

obyek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang, mengamati gerakan

yang terlalu cepat, memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan

lingkungannya, memungkinkan keseragaman pengamatan dan presepsi bagi

pengalaman belajar siswa, membangkitkan motivasi belajar, memberi kesan

perhatian individual untuk seluruh anggota kelompok belajar, menyajikan

informasi atau pesan belajar secara serempak, mengatasi batasan waktu

maupun ruang dan mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.

Sejalan dengan pendapat di atas, M. Basyiruddin Usman berpendapat

bahwa penggunaan media pembelajaran mempunyai nilai-nilai praktis sebagai

berikut: media dapat mengatasi berbagai keterbatasan pengalaman yang

dimiliki siswa atau mahasiswa, media dapat mengatasi ruang kelas, media

memungkinkan adanya interaksi langsung antara siswa dengan lingkungan,

media menghasilkan keseragaman pengamatan, media dapat menanamkan

konsep dasar yang benar, kongkrit dan realistis, media dapat membangkitkan

keinginan dan minat yang baru, media dapat membangkitkan motivasi dan
31

merangsang siswa untuk belajar dan media dapat memberikan pengalaman

yang integral dari sesuatu yang konkrit sampai kepada yang abstrak.32

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengenalan

tentang fungsi dan nilai-nilai media ini sangat penting, artinya media

merupakan bagian integral dari sistem pembelajaran karena dasar kebijakan

dalam pemelihan, pengembangan, maupun pemanfaatan media tidak dapat

terlepas dari pengetahuan ini.

Terkait dengan fungsi media dalam pembelajaran Yunus dalam Azhar

menyebutkan dalam bukunya “Attarbiyatu watta’lim” mengungkapkan

sebagai berikut:

‫فما راء كمن سمع‬.........‫أنها اعظم تأثيرا فى الحواس واضمن للفهم‬

Terjemahnya:
Bahwa media pengajaran paling besar pengaruhnya bagi indra dan
lebih dapat menjamin pemahaman….. orangyang mendengarkan saja
tidaklah sama tingkat pemahamannya dan lamanya bertahan apa yang
dipahaminya dibandingkan dengan orang yang melihat, melihat dan
mendengarnya.

Selanjutnya Ibrahim menjelaskan betapa pentingnya media

pembelajaran karena:

‫انها تساعد على تشبيت الحقائق في‬...‫تجب السرور للتالميذ وتجدد نشاطهم‬

‫انها تحيي الدرس‬...‫إذهان التالميذ‬

Terjemahnya:
Media pembelajaran membawa dan membangkitkan rasa senang dan
gembira bagi para siswa dan memperbarui semangat mereka…
membantu memantapkan pengetahuan pada benak para siswa serta
menghidupkan pelajaran.33

32
M. Basyiruddin, [Link]., h. 14.
33
Azhar Arsyad, [Link]., h. 16.
32

Keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa peran media dalam

pembelajaran adalah media membangkitkan motivasi dan merangsang untuk

belajar karena siswa tidak hanya “membaca tentang“ atau “berbicara tentang”

tetapi berkontak langsung dengannya.

Menurut Nasution, bahwa pada pembelajaran di tingkat

SMA/MA/SMK peserta didik hanya dapat belajar dengan efektif berdasarkan

dengan benda-benda dan peristiwa yang sebenarnya. Kemudian denga media,

dapat menajadi lebih efektif dan setelah belajar siswa dapat menghubungkan

gambar dengan dunia kenyataan. Gambar-gambar sangat memperluas situasi

stimulus untuk dipelajari. Media dapat menyatakan hal-hal yang sukar

disampaikan dengan kata-kata.34

6. Jenis-jenis Media Pembelajaran

Media, menurut Gerlach dapat diklasifikasikan menjadi delapan

kategori, yaitu: Real Things; yakni manusia, benda yang sesungguhnya dan

peristiwa yang sebenarnya terjadi, Verbal Respresentation; adalah media tulis

atau cetak, Graphic Respresentation; misalnya Chart, diagram, gambar atau

lukisan, Stiil picture; seperti foto, slide, film strip, OHP, motion picture;

seperti film, TV, video, tape, Audio recording; seperti pita kaset, reel tape,

piringan hitam, Progamming; adalah kumpulan informasi yang berurutan,

Simulations; yaitu suatu permainan yang menirukan kejadian yang

sebenarnya, misalnya pelajaran menyetir mobil .35

34
Nasution, [Link],, h. 196.
35
Muhaimin, [Link]., h. 133-134.
33

Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rifai, ada empat jenis media

pengajaran yang biasa digunakan dalam proses pengajaran, yaitu pertama;

media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun,

komik dan lain-lain. Media grafis sering juga disebut media dua dimensi,

yakni media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Kedua; media tiga

dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat (solid model), model

penampang, model susun, model kerja, mock up, diorama dan lain-lain.

Ketiga; media proyeksi seperti slide, film strips, film, penggunaan OHP dan

lain-lain. Keempat; penggunaan lingkungan sebagai media pengajaran.36

Rudy Bretz, mengklasifikasikan ciri utama media pada tiga unsur

pokok yaitu suara, visual dan gerak. Bentuk visual itu sendiri dibedakan lagi

pada tiga bentuk, yaitu gambar visual, garis (linrgraphic) dan simbol.

Disamping itu juga dapat dibedakan media siar (transmisi) dan media rekam

(recording), sehingga terdapat delapan klasifikasi media, yaitu media audio

visual gerak, media audio visual diam, media audio semi gerak, media visual

gerak, media visusal diam, media visual semi gerak, media audio dan media

cetak.

Menurut Oemar Hamalik, terdapat empat klasifikasi media pengajaran,

yaitu:37

a. Alat-alat visual yang dapat dilihat, misalnya; film strip, transparasi, micro

projection, papan tulis, bulletin board, gambar-gambar,ilustrasi, chart,

grafik, poster, peta dan globe.

36
Nana Sudjana, [Link]., h. 3-4.
37
Oemar Hamalik, [Link]., h. 117.
34

b. Alat-alat yang bersifat auditif atau hanya dapat didengar, misalnya;

phonograph record, transkripsi electris, radio, rekaman pada tape recorde.

c. Alat-alat yang bisa dilihat dan didengar, misalnya; film, televisi, benda-

benda tiga demensi yang biasanya dipertunjukan, seperti; model,

spicemens, bak pasir, peta elektris, dan koleksi diorama.

d. Dramatisasi, bermain peranan, sosiodrama, sandiwara boneka dan

sebagainya.

Di samping itu para ahli media lainnya juga membagi jenis-jenis media

pengajaran itu kepada media asli dan tiruan, media bentuk papan, media bagan

dan grafis, media proyeksi, media dengar (audio), dan media cetak atau

printed materials.38

Dalam hal ini, Briggs juga mengidentifikasi 13 macam media yang

dipergunakan dalam proses belajar mengajar, yaitu obyek, model, suara

langsung, rekaman audio, media cetak, pembelajaran terprogram, papan tulis,

media transparansi, film, televisi dan gambar. Sedangkan Gagne membuat

tujuh macam pengelompokkan media, yaitu benda untuk didemontrasikan,

komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara dan

mesin belajar.

Dilihat dari segi kerumitan media dan besarnya biaya, Schramm

membedakan media rumit dan mahal (big media) serta media sederhana dan

murah (little media). Dia juga mengelompokkan media menurut daya liputnya

menjadi media massal, media kelompok dan media individual. Selain itu, dia

38
M. Basyiruddin Usman, [Link]., h. 27-29.
35

juga membuat pengelompokkan lain menurut control pemakaiannya dalam

pengertian portabilitas, kesesuaianya untuk di rumah, kesiapan setiap saat

diperlukan, dapat tidaknya laju penyampaiannya dikontrol, kesesuaiannya

untuk belajar mandiri dan kemampuannya untuk memberikan umpan balik.39

Dari beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan

bahwasannya terdapat tiga jenis media pembelajaran, yaitu media grafis,

misalnya; gambar, grafik, diagram, bagan dan lainnya. Media audio, misalnya;

radio, laboratorium dan lainnya. Media proyeksi diam, misalnya; film, TV,

OHP dan lainya. Ketiga macam media pembelajaran tersebut sangat penting

sekali dalam mensukseskan proses belajar mengajar.

Sedangkan menurut Syaiful Bahri bahwa, Ada beberapa jenis media

yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran dilihat dari jenisnya, daya

liputnya dan dari bahan serta cara pembuatannya.

Dilihat dari jenisnya, media dibagi menjadi tiga jenis.40

a. Media Auditif

Media auditif adlah media yang hanya mengandalkan kemampuan

suara saja, seperti radio, casserre recorder, dan piringan hitam. Media

ini tidak cocok untuk orang yang mempunyai gangguan atau kelainan

dalam pendengaran.

b. Media Visual

39
Arief S. Sadiman, dkk. [Link]., h. 23-27.
40
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : Rineka
Cipta, 2002), h. 140-142.
36

Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra

penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam

seperti film strip (film rangkai), slides (film bingkai), foto, gambar

atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan

gambar atau symbol yang bergerak seperti film bisu (tanpa suara) dan

film kartun.

c. Media Audiovisual

Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsure suara dan

unsure gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih

baik, karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan yang kedua.

1) Audiovisual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan

gambar diam seperti bingkai, suara (sound slides), film rangkai

suara, cetak suara.

2) Audiovisual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsure

suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video.

Pembagian lain dari media audiovisual ini adalah:

1) Audiovisual murni, yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar

berasal dari suatu sumber seperti film video cassette dan,

2) Audiovisual tidak murni yaitu unsur suara dan unsur gambarnya

berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai suara

yang unsur gambarnya bersumber dari slides proyektor dan unsur

suaranya bersumber dari tipe recorder.

Dilihat dari daya liputnya, media dibagi menjadi 3 yaitu:


37

a. Media dengan daya liput luas dan serentak

penggunaan media ini tidak terbatas oleh tempat ruang serta dapat

menjangkau jumlah anak didik yang banyak dalam waktu yang sama.

Contoh : Radio dan Televisi

b. Media daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat

Media ini dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang

khusus seperti film, sound slide, film rangkai, yang harus

menggunakan tempat yang tertutup dan gelap.

c. Media untuk pengajaran individual

Media ini penggunaannya hanya untuk seorang diri. Termasuk media

ini adalah modul berprogram dan pengajaran melalui computer.

Dilihat dari bahan pembuatan, media dibagi menjadi dua yaitu:

a. Media Sederahana

Media yang bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya terjangkau,

cara pembuatannya mudah, dan penggunaannya tidak terlalu sulit.

b. Media Kompleks

Media ini adalah media yang bahan dan alat pembuatannya sulit

diperoleh serta harganya pun mahal, sulit membuatnya, dan

penggunaannya memerlukan keterampilan yang memadai.41

7. Karakteristik Media Pembelajaran

a. Media Grafis

41
Ibid., h. 140-142.
38

Media grafis termasuk media visual. Sebagaimana halnya media yang

lain media grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima

pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan. Pesan yang akan

disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Simbo-

lsimbol tersebut perlu dipahami benar artinya agar proses penyampaian pesan

dapat berhasil dan efesien.42

Selain fungsi umum tersebut, secara khusus grafis berfungsi pula untuk

menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi

fakta yang mungkin akan cepat dilupakan atau diabaikan bila tidak

digrafiskan.

Karakteristik jenis media ini yaitu sederhana dan mudah

pembuatannya yang dapat ditinjau dari segi biayanya relative murah. Adapun

jenis media grafis diantaranya:

1) Gambar/ Foto

Diantara media pendidikan, gambar/ foto adalah media yang paling

imum dipakai. Gambar/ foto bahasa yang umum, yang dapat

dimengerti dan dinikmati dimana-mana. Beberapa kelebihan media

gambar/ foto yang lain yaitu sifatnya kongkrit, gambar dapat

mengatasi keterbatasan pengamatan kita, foto dapat memperjelas suatu

masalah dan foto harganya murah dan gampang didapat serta

digunakan tanpa memerlukan peralatan khusus.

42
Ibid., h. 28-29.
39

Selain kelebihan-kelebihan tersebut, gambar/ foto mempunyai

beberapa kelemahan yaitu gambar/ foto hanya menekankan persepsi

indera mata, gambar/ foto benda yang terlalu kompleks kurang efektif

untuk kegiatan pembelajaran dan ukurannya sangat terbatas untuk

kelompok besar.

Selain itu, ada enam syarat yang perlu dipenuhi oleh gambar/ foto yang

baik sehingga dapat dijadikan sebagai media pendidikan, yaitu

autentik, sederhana, ukuran relative, gambar/ foto sebaiknya

mengandung gerak atau perbuatan, gambar yang bagus belum tentu

baik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Walaupun dari segi mutu

kurang, gambar/ foto karya siswa sendiri sering kali lebih baik, dan

tidak setiap gambar yang bagus merupakan media yang bagus. Sebagai

media yang baik, gambar hendaklah bagus dari sudut seni dan sesuai

dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.43

2) Diagram

Sebagai suatu gambar sederhana yang menggunakan garis-garis dan

simbol-simbol, diagram atau skema menggambarkan struktur dari

obyek secara garis besar. Diagram menunjukkan hubungan yang ada

antar komponennya atau sifat-sifat proses yang ada di diagram

tersebut. Diagram pada umumnya berisi petunjukpetunjuk. Diagram

menyederhanakan hal yang kompleks sehingga dapat memperjelas

penyajian pesan.

43
Ibid., h. 28-33.
40

Beberapa cirri diagram yaitu diagram bersifat simbolis dan abstrak,

sehingga kadang-kadang sulit dimengerti untuk dapat membaca

diagram seseorang harus mempunyai latar belakang tentang apa yang

di diagramkan, walaupun sulit dimengerti karena sifatnya yang padat,

diagram dapat memperjelas arti.

Sedangkan beberapa kriteria diagram yang baik sebagai media

pendidikan adalah benar, diagram rapi, diberi title, label dan

penjelasan-penjelasan yang perlu, cukup besar dan ditempatkan secara

strategis dan penyususnannya disesuaikan dengan pola membaca yang

umum yaitu dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. 44

3) Bagan/Chart

Menurut M. Basyiruddin Usman, media bagaan/ chart adalah suatu

media pengajaran yang penyajiannya secara diagramatik dengan

menggunakan lambing-lambang visual, untuk mendapatkan sejumlah

informasi yang menunjukkan perkembangan ide, objek, lembaga,

orang, keluarga ditinjau dari sudut waktu dan ruang. Pesan yang akan

disampaikan biasanya berupa ringkasan visual suatu proses,

perkembangan atau hubungan-hubungan penting.45

Menurut Arief S. Sadiman, dkk, mengemukakan bahwa media bagan

(chart) ini sebagai yang baik bilamana dapat dimengerti anak secara

sederhana dan lugas, tidak rumit atau berbelit-belit, diganti pada waktu

44
Ibid., h. 33-35.
45
M. Basyiruddin Usman, [Link]., h. 33.
41

tertentu agar selain tetap termasa (up to date) juga tak kehilangan daya

tarik.

4) Cetak

Media cetak adalah bentuk pengajaran yang bersifta individual dan

masih termasuk pada klasifikasi metode pengajaran yang bersifat

inkonnvensial, di mana siswa dapat belajar tanpa kehadiran guru atau

tidak melalui tatap muka secara langsung.46

S. Nasution menyebutkan ada 4 tujuan pengajaran cetak, yaitu media

cetak memberi kesempatan bagi siswa untuk belajar menurut

kecepatan masing-masing; memberikan kesempatan kepada siswa

untuk belajar menurut cara masing-masing; pengajaran media cetak

terdapat alternative atau pilihan dari sejumlah topic bidang studi atau

disiplin ilmu yang lainya; pengajaran media cetak memberikan

kesempatan terhadap murid untuk mengenal kelebihan dan kekurangan

dan memperbaiki kelemahan mereka melalui remidal, ulangan atau

variasi dalam belajar.47

5) Grafik/ Graphs

Grafik adalah gambar sederhana yang mengguankan titik-titik, garis

atau gambar. Untuk melengakapinya sering kali simbolasimbol verbal

digunakan pula. Fungsi grafik adalah untuk menggambarkan data

kuantiatatif secara teliti dan menerangkan perkembangan atau

46
M. Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam (Jakarta: PT.
Intermasa, 2002), h. 62.
47
Ibid., h. 64-65.
42

perbandingan suatu obyek peristiwa yang saling berhubungan secara

singkat dan jelas.

Ada beberapa manfaat/ kelebihan grafik sebagai media yaitu grafik

bermanfaat sekali untuk mempelajari dan mengingat data-data

kuantitatif dan hubungan-hubunganya. Grafik dengan cepat

memungkinkan kita mengadakan analisis, interpretasi dan

perbandingan antara data-data yang disajikan baik dalam hal ukuran,

jumlah, pertumbuhan dan arah. Penyajian data grafik jelas, cepat,

menarik, ringkas dan logis.

Beberapa ketentuan media grafik dapat dikatakan media pendidikan

yang baik yaitu jelas untuk dilihat oleh seluruh kelas, hanya

menyajikan satu ide setiap grafik, ada jarak/ ruang kosong antara

kolom-kolom bagiannya, warna yang digunakan kontras dan harmonis,

berjudul dan ringkas, sederhana (simplicity), mudah dibaca (legibility),

praktis mudah diatur (manageability), menggambarkan kenyataan

(realisme), menarik (attractiveness), jelas dan tidak memerlikan

informasi tambahan (appropiateness) serta teliti (accuracy)

b. Media Audio

Media audio berhubungan dengan indera pendengaran. Pesan yang

akan disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif, baik verbal

(ke dalam kata-kata/ bahasa lisan) maupun nin verbal. Ada beberapa jenis

media audio, yaitu:

1) Radio
43

Sebagai suatu media, radio mempunyai beberapa kelebihan antara lain:

harganya relative murah dan variasi programnya lebih banyak dari

pada TV, sifatnya mudah, dapat merangsang partisispasi aktif

pendengar, radio dapat memusatkan perhatian siswa pada kata-kata

yang digunakan pada bunyi dan artinya. Siaran lewat suara terbukti

amat tepat/ cocok untuk mengajarkan musik dan bahasa, radio dapat

mengerjakan hal-hal tertentu yang tak dapat dikerjakan oleh guru,

radio dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, jangkauannya luas.

Sedangkan kelemahan-kelemahanya adalah sifat komunikasinya hanya

satu arah (one way communication), biasanya siaran disentralisasikan

sehingga guru tak dapat mengontrolnya dan penjadwalan pelajaran dan

siaran sering menimbulkan masalah.

2) Alat Perekam Pita Magnetik/ Tape Recorder

Tape recorder adalah suatu media pendidikan yang tak dapat

diabaikan untuk menyampaikan informasi, karena mudah

menggunakanya. Ada dua macam rekaman dalam tape recorder yaitu

sistem full track recording dan double track recording.

Beberapa kelemahan alat perekam pita magnetic sebagai media

pendidikan yaitu alat perekam pita magnetic mempunyai fungsi ganda

yang efektif sekali, untuk merekam, menampilkan rekaman dan

menghapusnya, pita rekaman dapat diputar berulang-ulang tanpa

mempengaruhi volume, rekaman dapat dihapus secara otomatis dan

pitanya bisa dipakai lagi, pita rekaman dapat digunakan sesuai jadwal
44

yang ada, program kaset dapat menyajikan kegiatan-kegiatan atau hal-

hal di luar sekolah, program kaset bisa menimbulkan berbagai kegiatan

(diskusi, dramatisasi dan lain-lain), dan program kaset memberikan

efesiensi dalam pengajaran.

Sedangkan kelemahan-kelemahan media tape recorder ini adalah daya

jangkaunnya terbatas dan dari biaya pengadaannya bila untuk sasaran

yang banyak jauh lebih mahal.

c. Media Proyeksi Diam

1) OHP

Transparansi yang diproyeksikan adalah visual baik berupa huruf,

lambing, gambar, grafik atau gabungannya pada lembaran bahan yang

tembus pandang atau plastic yang dipersiapkan untuk diproyeksikan ke

sebuah layer atau dinding melalui sebuah proyektor.

Penggunaan OHP dalam dunia pendidikan mempunyai beberapa

kelebihan yaitu bersifat kongkri; mengatasi ruang waktu; mengatasi

kelemahan-kelemahan panca indera; tranparansi dapat ditulis saat

OHP digunakan pada cahaya yang terang; lebih efektif; tidakterlalu

menggunakan gerak fisik; dapat disimpan dan digunakan berulang

kali; dapat dipindah-pindah; dapat menggunakan warna jika

diperlukan.

Sedangkan keterbatasan-keterbatasan penggunaan media OHP adalah

fasilitas OHP harus tersedia, listrik pada ruang/ lokasi penyajian harus

tersedia, tanpa layer yang dapat dimiringkan, sulit untuk mengatasi


45

distorasi tayangan yang berbentuk trapezium (keystoning), dan harus

memiliki teknik khussus untuk pengaturan urutan baik dalam hal

penyajian maupun penyimpanan.

2) Film

Film atau gambar merupakan gambar-gambar dalam frame di mana

frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara

mekanis, sehingga memberikan visual yang komtinyu.

Oemar Hamalik, mengemukakan bahwa film yang baik memiliki cirri-

ciri yaitu dapat menarik miant anak; benar dan autentik; up to date

dalam setting; pakaian dan lingkungan; sesuai dengan tingkatan

kematangan audien; perbendaharaan bahasa yang dipergunakan cukup

memenuhi persyaratan dan cukup memuaskan.

Adapun beberapa kelebihan media film adalah dapat menstimulasi

efek gerak dan kaitan atau penglaman, dapat digunakan untuk belajar

kelompok maupun individual, mempunyai nilai kosistensi sajian yang

tinggi, dapat diberi suara maupun warna untuk efek tertentu atau

diskriminasi.

Sedangkan kelemahannya adalah persiapannya mahal dalam hal

peralatan, bahan, waktu maupun energi; memerlukan keahlian khusus

untuk memproduksi; memerlukan perencanaan yang cermat;

pengguanannya memerlukan ruangan yang cukup gelap; peralatan

yang selalu berkembang dan berubah.


46

3) Video

Video sebagai audio-visual yang menampilkan gerak, semakin lama

semakin popular dalam masyarakat, pesan yang disajikan bersifat fakta

(kejadian/ peristiwa penting, berita) maupun fiktif misalnya kiteria,

bisa bersifat informative, edukatif maupun instruksional.

Adapun kelebihan-kelebihan penggunaan media video adalah memilki

semua kemampuan yang dipunyai media audio, visual maupun film;

dapat merangkum beberapa jenis media dalam satu program; dapat

digunakan berbagi efek dan teknik yang tidak dipunyai oleh media

lain; dapat menghadirkan sumber yang sukar dan langkah;

penggunaannya tidak memerlukan ruangan yang terlalu gelap.

Sedangkan kelemahannya adalah tidak berdiri sendiri melainkan

merupakan bagian dari rangkaian kegiatan produksi video; harus

memenuhi persyaratan teknis produksi; memerlukan tenaga listrik atau

batere yang pendek umurnya; kesesuaian sukar dijamin karena jenis

format/ standart yang berbeda-beda; persiapan memerlukan kontinuitas

kerja yang berurutan.

4) Televisi (TV)

Televisi adalah sisyem elektronik yang mengirimkan gambar diam dan

gambar hidup bersama suara melalui kabel atau ruang. Sistem ini

menggunakan peralatan yang mengubah cahaya dan susra ke dalam


47

gelombang elektrik dan mengkonversinya kembali ke dalam cahaya

yang dapat dilihat dan suara yang dapat didengar.48

Adapun kelebihan-kelebihan menggunakan media TV adalah bersifat

langsung dan nyata; serta dapat menyajikan peristiwa yang

sebenarnya; memeperluas tinjauan kelas; melintasi berbagai daerah

atau berbagai Negara; dapat menciptakan kembali peristiwa masa

lampau; dapat memepertunjukkan banyak hal dan banyak segi yang

beraneka ragam; banyak mempergunakan sumber-sumber masyrakat;

menarik minat anak; dapat melati guru, baik dalam preservise maupun

dalam incervice training, masyarakat diajak berpartisispasi dalam

rangka meningkatkan perhatian mereka terhadap sekolah.

Sedangkan beberapa kelemahannya adalah harga pesawat TV relative

murah; sifat komunikasinya hanya satu arah, jika akan dimanfaatkan di

kelas jadwal sisran dan jadwal pelajaran di sekolah sering kali

disesuaikan; program di luar kontrol guru; besarnya gambar di layer

relative kecil disbanding dengan film; sehingga jumlah siswa yang

dapat memenfaatkan terbatas.49

Dari beberapa uraian tentang karakteristik dari beberapa jenis media

diatas, semoga dapat memberikan dasar wawasan untuk melihat media

menurut aspek kebutuhan, manfaat dan tujuan sehingga terdapat persepsi yang

benar dalam pengadaan, pengembangan maupun penentuan pemelihannya.

Dengan demikian, kita dapat mempunyai kepekaan untuk menganalisis

48
Azhar Arsyad, [Link]., h. 20.
49
Arief S. Sadirman, dkk. [Link]., h. 73-75.
48

sendiri, media mana yang pantas digunakan untuk mengantrkan pesan setiap

mata pelajaran dalam kegiatan belajar mengajar.

C. Prestasi Belajar

1. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yakni

prestasi dan belajar, dimana diantara keduanya mempunyai arti yang berbeda

anatara satu dengan yang lain.

Sebelum membicarakan pengertian prestasi, terlebih dahulu akan

dikemukakan apa yang dimaksud dengan belajar. Para pakar pendidikan

mengemukakan pengertian yang berbeda antara satu dengan yang lainnya,

namun demikian selalu mengacu pada prinsip yang sama yaitu setiap orang

yang melakukan proses belajar akan mengalami suatu perubahan dalam

dirinya.

Sejalan dengan penjelasan di atas bahwa belajar adalah suatu

perubahan tingkah laku yang relative menetap yang terjadi sebagai hasil dari

pengalaman atau tingkah laku.50

Menurut Slameto belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan

seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara

keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan

lingkungannya.51 Selanjutnya Winkel mengungkapkan bahwa belajar adalah

suatu aktivitas mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi yang aktif

50
Muhaimin, dkk. Strategi Belajar Mengajar (Surabaya: CV. Citra Media, 1996), h. 43.
51
Slameto. Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya (Jakarta: Rineka Cipta,
2003), h. 2.
49

dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam

pengetahuan, pemahaman , keterampilan dan nilai sikap. 52 Perubahan itu

bersifat secara relative konstat. Kemudian Hamalik mendefinisikan belajar

adalah suatu pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang

dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan

latihan.53

Menurut Fudyartanto belajar adalah usaha untuk mencapai kepandaian

atau ilmu merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya

mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dipunyai sebelumnya.54

Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa

dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang

dalam belajar maka perlu dilakukan seutu evaluasi. tujuannya untuk

mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar

berlangsung.

Adapun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya

akativitas belajar yang telah dilakukan. Namun banyak orang beranggapan

bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu dan menuntut ilmu.

Ada lagi yang lebih khusus mengartikan bahwa belajar adalah

menyerap pengetahuan. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam tingkah

52
Winkel W.S. Psikologi pendidikan dan Evaluasi Belajar. (Jakarta: Gramedia 1984) h.
53.
53
Oemar Hamalik. [Link]., h. 28.
54
H. baharuddin & Esa Nur Wahyuni. Teori Belajar dan Pembelajaran (Jogjakarta: Ar
Ruzz Media, 2007), h. 13.
50

laku manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi apabila tidak ada suatu yang

mendorong pribadi yang bersangkutan.

Prestasi adalah hasil yang telah dicapai. 55 Prestasi juga berarti hasil

dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individu

maupun kelompok.

Prestasi merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kagiatan

belajar, karena kegiatan belajar merupakan proses, sedangkan prestasi

merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi secara

garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu

para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan

pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat

kita temukan sati titik persamaan. Sehubungan dengan prestasi, Poerwanto

berpendapat bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dilakukan,

dikerjakan dan sebagainya) oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana

yang dinyatakan dalam raport.56

Sedangkan menurut Mas’ud Abdul Qohar, perstasi adalah apa yang

telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang

diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Sementara Nasrun Harahap dan kawan-

kawan memberikan batasan, bahwa prestasi adalah penilaian pendidikan

tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan

55
Pius A. Partanto & M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Arkola,
1994), h. 623.
56
Ngalim, Purwanto. Evaluasidan Supervisi Pendidikan (Jakarta: Fakultas Ilmu
Pendidikan, Institut Keguruan dan Pendidikan), h. 28.
51

penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta niali-nilai

yang terdapat dalam kurikulum.

Selanjutnya Winkel mengatakan bahwa prestasi adalah suatu bukti

keberhasilan belajar atau keampuan seseorang siswa dalam melakukan

kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya. 57 Selanjutnya

menurut S. Nasution prestasi adalah Kesempurnaan yang dicapai sesorang

dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi dikatakan sempurna apabila

memenuhi tiga aspek yaitu: Kognitif, affektif dan psikomotor. Sebaliknya

dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu

memenuhi target dalam ketiga criteria tersebut.58

Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat dijelaskan bahwa prestasi

merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima,

menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar

mengajar. Prestasi siswa sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam

mempelajari materi pelajaran yang nyatakan dalam bentuk nilai atau raport

setiap bidang studi setelah menagalami proses belajar mengajar.

jadi dapat dipahami bahwa prestai belajar adalah hasil dari suatu

kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan yang menyenangkan hati yang

diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun

kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.

Uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa prestasi belajar adalah

hasil yang diperoleh, berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan

57
Winkel, [Link]., h. 162.
58
Nasution. Dodaktis Azas-azas Mengajar: Bandung: Jemmars, h. 17.
52

dalam diri individu sebagai akibat hasil dari aktivitas dalam belajar, atau dapat

dikatakan prestasi belajar adalah penilaian pendidikan di sekolah yang

menyangkut pengetahuan atau kecakapan/ ketrampilan yang dinyatakan

sesudah hasil penilaian.

2. Prinsip-prinsip Belajar

Menurut para pakar psikologi belajar, seperti B.F. Slainner dan

kawankawannya, hasil penelitian membuktikan bahwa prinsip-prinsip belajar

pada umumnya dapat dibedakan menjadi 10 prinsip sebagai berikut:

a. Persiapan belajar, kegiatan belajar itu harus dimulai dengan persiapan,

sehingga dalam proses belajar nanti akan lancer dan dapat dicapai tujuan

yang maksimal.

b. Motivasi, berdasarkan pengalaman belajar siswa yang lebih disukai agar

perhatian belajarnya meningkat atau dengan kata lain, motivasi belajar

siswa.

c. Perbedaan individual, dalam menyusun rancangan pengajaran, perancang

harus mempertimbangkan dan memperhatikan perbedaan-perbedaan

individual siswa sehubungan dengan perbedaan moyivasi tersebut.

d. Kondisi pengajaran, prinsip belajar juga berkaitan dengan bagaimana

kondisi pengajarannya. Kondisi pengajaran yang baik sudah tentu

mempengaruhi hasil belajar.

e. Partisipasi aktif, guru hanya menyediakan bahan dan menunjukan cara

belajar yang sebaik-baiknya. Keaktifan sepenuhnya ada pada siswa.


53

f. Cara penyampaian yang berhasil, untuk memudahkan belajar agar berhasil

dengan baik, perlu diatur sedemikian rupa sehingga tetap merangasang

siswa untuk belajar dan menggairahkan keseimbangan usaha.

g. Hasil yang sudah diperoleh. Motivasi belajar akan bertambah bila system

dalam belajar selalu mendapat informasi apakah yang sedang dipelajari

dapat diketahui benar tidaknya. Soal yang dikerjakan selalu ada kunci

jawabannya. Kunci jawaban tersebut penting untuk mengecek sendiri

kebenarannya sehingga siswa selalu mendapat informasi dan menjadi

umpan balik yang mendorong untuk maju terus.

h. Latihan, pengetahuan maupun ketrampilan yang sudah didapat hendaknya

disertai latihan, praktik penerapannya.

i. Kadar bahan pengajaran (materi pengajaran) yang diberikan kepada siswa

hendaknya disesuaikan dengan kemampuan siswa, sebab tidak semua

siswa kemampuanya sama.

j. Sikap pengajar, sikap positif pengajar dengan segala ketulusan bimbingna,

bantuan dan dedikasi pengabdian pengajar, sangat mempengaruhi sikap

belajar siswa.59

Adapun dalam proses belajar mengajar William Burton menyampaikan

uraian yang cukup panjang tentang prinsip-prinsip belajar, sebagai berikut:

a. Proses belajar adalah pengalaman, berbuat, mereaksi dan melampui.

b. Proses melalui bermacam-macam ragam pengakaman dan mata pelajaran

yang berpusat pada suatu tujuan tertentu.

59
Harjanto. Perencanaan Pengajaran (Jakarta: rineka Cipta, 2000), h. 225-258.
54

c. Pengalaman belajar secara maksimum bermakna bagi kehidupan murid.

d. Pengalaman bersumber dari kebutuhan dan tujuan murid sendiri yang

mendorong motivasi yang kontinyu.

e. Proses belajar dan hasil usaha disyarati oleh hereditas dan lingkungan.

f. Proses belajar dan hasil usaha belajar secara materiil dipengaruhi oleh

perbedaan-perbedaan individual dikalangan murid-murid.

g. Proses belajar berlangsung secara efektif apabila pengalaman-pengalaman

dan hasil-hasil yang diinginkan disesuaikan dengan kematangan murid.

h. Proses belajar yang terbaik apabila murid status dan kemajuan.

i. Proses belajar merupakan kesatuan fungsional dari berbagai prosedur.

j. Hasil-hasil belajar secara fungsional bertalian satu sama lain, tetapi dapat

didiskusikan secara terpisah.

k. Proses belajar berlangsung secara efektif dibawah bimbingan yang

merangsang dan membimbing tanpa tekanan dan paksaan.

l. Hasil-hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nialai-nilai,

pengertianpengertian, sikap-sikap apresiasi abilitas dan ketrampilan.

m. Hasil-hasil belajar diterima oleh murid apabila memberi kepuasan pada

kebutuhannya dan berguna serta bermakna baginya.

n. Hasil-hasil belajar lambat laun dipersatukan menjadi kepribadian dengan

kecepatan yang berbeda-beda.

o. Hasil-hasil belajar yang telah dicapai adalah bersifat kompleks dan dapat

berubah-rubah.60

60
Oemar Hamalik. [Link]., h. 31-32.
55

Selain itu dalam buku strategi Belajar Mengajar Penerapannya dalam

Pembelajaran Pendidikan Agama (Muhaimin dkk), juga dikemukakan

mengenai prinsip-prinsip belajar sebagai berikut:

a. Prinsip siap guna yaitu bahwa dalam belajar hendaknya anak didik sadar

bahwa apa yang dipelajarinya berguna bagi kehidupan kelak.

b. Prinsip ekspresi, dalam rangka menunjang keberhasilan belajar menurut

adanya latuhan ekspresi sehingga anak didik disamping menguasai

pengetahuan juga mampu menyatakan kembali.

c. Prinsip tenggang waktu, maksudnya tidak boleh memforsir diri dalam

belajar dengan pengertian setiap tahapan belajar perlu ada, masa

pengedapan atau tenggang waktu untuk istirahat.61

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya,

tetapi dapat digolongkan menjadi tiga golongan yaitu

a. Faktor intern (faktor dari dalam siswa), yaitu kondisi atau keadaan jasmani

dan rohani siswa. Faktor intern ini memiliki fakor yaitu:

1) Faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan

kondisi fisik individu. Faktor ini memiliki unsur yaitu:

a) Faktor kesehatan, proses belajar sesorang akan terganggu jika

kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga akan cepat lelah,

kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badanya lemah,

kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan atau kelainan fungsi

61
Muhaimin, dkk. [Link]., h. 49.
56

alat inderanya serta tubuhnya. Agar seseorang dapat belajar dengan

baik, baik maka kesehatan badanya harus tetap terjamin, denagan

cara selalu mengindahkan ketentuanketentuan tentang bekerja,

tidur, makan olah raga dan rekreasi.

b) Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau

kurang sempurna mengenai tubuh atau badan, seperti buta, tuli,

patah kaki, patah tangan, lumpuh dan lain-lain. Siswa yang cacat,

belajarnya akan teganggu dan hendaknya belajar pada lembaga

pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar dapat

menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatan tersebut.

2) Faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat

memengaruhi proses belajar. Faktor ini memilki beberapa unsure

yaitu:

a) Kecerdasan/ intelingensi. Intelingensi pada umumnya dapat

diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi

rangsangan atau menyesuaikan diri dengan cara yang tepat.62

Menurut S.T. Caplin, intelingensi adalah kecakapan yang terdiri

dari tiga jenis yaitu kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu

kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan kedalam situasi

yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan

konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan

62
Muhibbin Syah. Psikologi dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rodaskarya,
2000), h. 132.
57

mempelajari dengan cepat.63 Siswa yang mempunyai tingkat

inteligensi yang normal dapat berhasil dengan baik dalam belajar,

jika belajar dengan baik. Sedangkansiswa yang memiliki

inteligensi rendah, ia perlu mendapat pendidikan khusus.

b) Perhatian, menurut Ghozali adalah keaktifan jiwa yang tertinggi,

jiwa itupun semata-mata tertuju kepada sustu obyek (benda/ hal)

atau sekumpulan obyek.64 Untuk dapat menjamin hasil belajar yang

baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang

dipelajari, dan usakanlah bahan pelajaran selalu menarik perhatian

dengan cara mengusahakan pelajaran sesuai dengan hobi dan

bakatnya.

c) Minat adalah kecendrungan yang tetap untuk memperhatikan dan

mengenang beberapa kegiatan. Minat juga bisa diartikan

kecendrungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang

besar terhadap sesuatu. Berbeda dengan perhatian, perhatian

bersifat sementara (tidak dalam waktu yang lama) dan belum tentu

diikuti dengan perasaan yang senang dan dari situ diperoleh

[Link] besar pengaruhnya terhadap belajar, karena siswa

tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya apabila pelajaran yang

dipelajari tidak sesuai dengan minatnya. Sedangkan pelajaran yang

menarik minat siswa, lebih mudah dihafalkan dan disimpan, karena

minat menambah kegiatan belajar.

63
Slameto. [Link]., h. 57.
64
Ibid., h. 58.
58

d) Bakat adalah kemampuan potensial yang dimilki seseorang untuk

mencapai keberhasilan.65 Bakat juga mempengaruhi belajar, karena

jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya,

maka hasil belajarnya menjadi lebih baik

e) Kematangan adalah suatu tingkat/ fase dalam pertumbuhan

seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk

melaksanakan kecakapan baru. Mengerjakan sesuatu yang baru

kepada anak dapat berhasil jika taraf pertumbuhan pribadi telah

memungkinkan.

f) Motivasi siswa. Pengertian motivasi siswa adalah keadaan internal

organisme, baik manusia maupun hewan yang mendorongnya

untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti

pemasok daya untuk bertingkah laku secara terarah. Motivasi dapat

dibedakan menjadi dua macam yaitu:

1) Motivasi intrinsik yaitu hal atau keadaan yang berasal dari luar

diri siswa itu sendiri, seperti:perasaan yang menyenangi materi

dan kebutuhannya terhadap materi tersebut.

2) Motivasi ekstrinsik yaitu hal atau keadaan yang dating dari luar

diri siswa yang juga mendorongnya untuk melakukan kegiatan

belajar seperti: pujian, hadiah, peraturan sekolah, suri tauladan,

orang tua dan lain-lain.66

65
Muhibbin Syah, [Link]., h.135.
66
Ibid., h. 136-137.
59

g) Kesiapan atau rediness menurut James Drever adalah kesediaan

untuk memberikan respon atau bereaksi.67 Kesiapan sangat

diperlukan dalam proses belajar, karena jilka siswa belajar dan

sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik

3) Faktor kelelahan, faktor kelelahan pada seseorang dapat dibedakan

menjadi 2 macam, yaitu:

a) kelelahan jasmani. Kelelahan jasmani dapat dilihat dari

kecendrungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan ini terjadi

kekacuan substansi sisa pembakaran didalam tubuh, sehingga

darah tidak dapat atau kurang lancar pada bagianbagian tertentu.

b) Kelelahan rohani terlihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan,

sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.

Kelelahan ini sangat terasa pada bagian kepala, sehingga sulit

untuk berlosentrasi, seolah-olah otak kehabisan daya untuk

bekerja.

Dari dua macam kelelahan diatas dapat dimengerti, bahwasannya

siswa dapat belajar dengan baik haruslah menghindari jangan sampai

terjadi kelelahan dalam belajarnya.

b. Faktor eksternal yang berpengaruhi terhadap belajar, dapat dikelompokkan

menjadi 3 faktor yaitu:

a) Faktor keluarga. Siswa yang belajar akan mendapat pengaruh dari

keluarga berupa:

67
Slameto, [Link]., h. 61.
60

Cara orang tua mendidik

1) Relasi anatar anggota keluarga

2) Suasana rumah

3) Keadaaan ekonomi keluarga

4) Pengertian orang tua

5) Latar belakang kebudayaan68

b) Faktor sekolah. Adapun factor sekolah yang mempengaruhi belajar

mencakup:

1) Metode mengajar

2) Kurikulum

3) Relasi guru dengan siswa

4) Relasi siswa dengan siswa

5) Disiplin sekolah

6) Alat pelajaran

7) Waktu sekolah

8) Standart pelajaran diatas ukuran

9) Keadaan gedung

10) Metode belajar

11) Tugas rumah (PR).69

c) Faktor masyarakat. Adapun yang termasuk kedalam faktor masyarakat

mencakup:

1) Kegiatan siswa dalam masyarakat

68
Ibid., h. 63-66.
69
Ibid., h. 67-72.
61

2) Media massa

3) Teman bergaul

4) Bentuk kehidupan masyarakat70

Selain faktor-faktor tersebut, menurut Muhibbin Syah dalam buku

Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru membagi factor ekstern

menjadi dua macam:

1) Faktor lingkungan sosial

Lingkungan social sekolah seperti guru, staf administrasi dan temanteman

sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar siswa. Para guru yang selau

menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri

tauladan yang baik, misalnya: rajin membaca dan berdikusi dapat menjadi

daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar siswa. Selanjutnya yang

termasuk lingkungan social siswa adalah masyarakat dan tetangga juga

teman-teman sepermainan disekitar lingkungan siswa tersebut. Sedangkan

lingkunngan social yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar

ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri.

2) Faktor lingkungan non sosial

Faktor- faktor yang termasuk linkungan non sosial ialah gedung sekolah

dan letaknya, tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alatalat belajar,

keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-faktor

tersebut dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan siswa.71

c. Faktor pendekatan belajar

70
Ibid., h. 73.
71
Muhibbin Syah, [Link]., h. 137-138.
62

Pendekatan belajar daapt dipahami sebagai segala cara atau strategi

yang digunakan siswa dalam menunjang efektifitas dan efesiensi proses

pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat

langkah operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan

masalah atau mencapai tujuan belajar tertentu. 72

Dari uaraian tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwasanya factor

yang mempengaruhi prestasi belajar ada tiga macam, yaitu faktor intern siswa,

faktor ekstern dan faktor pendekatan belajar.

Pada umumnya guru dalam menunaikan tugas-tugas mengajar akan

menghadapi bermacam-macam kesulitan, lebih-lebih guru yang baru

menunaikan tugas. Zuhairini mengemukakan kesulitan yang dialami oleh guru

pada umumnya yaitu sebagai berikut:

a. Kesulitan dalam menghadapi adanya perbedaan individu siswa yang

disebabkan oleh perbedaan IQ ny, perbedaan wataknya, dan perbedaan

latar belakang hidupnya. Dalam mengatasi hal ini guru guru tidak boleh

terlalu terikat pada perbedaan individu, tetapi guru harus melihat siswa

dalam kesamaannya secara klasikal, walaupun keadaan individu siswa pun

harus mendapatkan perhatian.

b. Kesulitan dalam menetukan materi yang cocok dengan siswa yang

dihadapinya.

72
Ibid., h. 137-138.
63

c. Kesulitan dalam memilih metode yang tepat, untuk menghadapi hal

tersebut guru harus bersedia mencoba bermaca-macam metode, kemudian

membandingkan hasilnya yang dianggap lebih berhasil.

d. Kesulitan dalam memperoleh alat-alat pelajaran alat atau bahan bacaan.

e. Kesulitan dalam mengadakan evaluasi dan kesulitan dalam mengadakan

rencana yang telah ditentukan, karena kadang-kadang kelebihan waktu dan

kadang-kadang kekurangan waktu.

Demikian beberapa kesulitan yang dialami oleh guru pada umumnya,

belum lagi ditambah dengan adanya peran ganda pada guru, yakni guru

sebagai bidang studi juga sebagai wali kelas atau Pembina dalam lingkup

pondok pesantren. Namun demikian guru hendaknya dapat mengatasi

permasalahan tersebut walaupun kadang-kadang diluar kemampuannya.

Hendaklah kesulitan tersebut jangan dijadikan alasan untuk tidak efektif dalam

kediatan belajar mengajar.

Selain guru, peran orang tua juga sangat berpengaruh dalam

membentuk kepribadian seorang anak.73 Melalui berbagai komunikasi serta

interaksi dengan orang tua akan terbentuk sikap, kebiasaan dan kepribadian

siswa atau seorang anak, selain itu ada pula factor lingkungan yang secara

tidak langsung mempengaruhi perkembangan siswa, seperti halnya dengan

kebudayaan. Kebudayaan (culture) secara tidak langsung ikut mewarnai

situasi, kondisi ataupun corak interaksi di mana siswa itu berada, seperti

halnya di lingkungan pondok pesantren Madrasah Aliyah DDI Kaballangang

73
Ibid., h. 137-138.
64

yang memiliki siswa dari berbagai daerah, yang mana kebudayaan masing-

masing siswa berbeda pula, jadi tidak sedikit kemungkinan watak siswa

terbentuk dengan pergaulan antar sesama.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang kedua setelah

pendidikan keluarga. Maka dari itu sekolah mempunyai peranan penting untuk

meneruskan dasar-dasar pendidikan keluarga. Pada umumnya sekolah

merupakan tempat siswa untuk memperoleh pengalaman-pengalaman,

pengetahuan, keterampilan sehingga siswa akan mendapat bekal hidup kelak

bekerja di lingkungan masyarakat luas.

Yang harus diperhatikan pengaruh lingkungan dan kebudayaan

masyarakat terhadap perkembangan pribadi siswa misalnya anak yang terdidik

dalam keluarga yang religius, setelah dewasa akan cenderung menajdi

manusia yang relegius pula, apalagi siswa yang hidup dalam lingkungan

pondok pesantren kelak akan menjadi manusia yang berintelektual religious.

4. Penilaian Terhadap Prestasi

Prestasi merupakan suatu bentuk pengakuan terhadap hasil belajar.

Suatu hasil belajar dapat dikategorikan memiliki prestasi jika hasil belajar

sesuai dengan tujuan pembelajaran. Gagne membagi lima macam hasil belajar,

yaitu informasi verbal, keterampilan intelektual, stratego kognitif, sikap dan

keterampilan motoris. Konsep Gagne pada dasarnya sesuai dengan konsep

taksonomi Bloom, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.74

74
Sudjana, [Link]., h. 22.
65

Nana Sudjana menjelaskan bahwa hasil belajar dalam ranah kognitif

berupa pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. 75

Pengetahuan merupakan hasil belajar paling awal yang biasanya diterapkan

dalam pembelajaran yang bersifat hafalan seperti rumus, sefinisi, istilah,

perundangan, dan lainnya. Setelah pengetahuan, tingkat berikutnya adalah

pemahaman yang terdiri dari pemahaman terjemahan arti sebenarnya,

pemahaman penafsiran dengan menghubungkan suatu pemahaman dengan

pemahaman sebelumnya, dan pemahaman ekstrapolasi yang berupa

pemahaman terhadap makna di balik pemahaman yang tampak. Tahapan

kognitif aplikasi berupa penggunaan abstraksi pada situasi konkrit atau situasi

khusus, yang dapat berupa ide, teori atau petunjuk teknis. Tahap aplikasi dapat

diterapkan untuk menjelaskan suatu gejala baru berdasarkan sejala yang telah

diketahui sebelumnya. Tahap analisis merupakan tahap memilah suatu

integritas menjadi bagian-bagian sehingga jelas susunannya. Dengan analisis

diharapkan siswa mempunyai pemahaman yang komprehensif dan terpadu

sehingga mampu mengaplikasikannya pada situasi baru yang kreatif. Pada

tahap evaluasi siswa telag mampu membuat suatu keputusan tentang nilai

berdasarkan tujuan, gagasan, metode, dan lain-lain.

Belajar efektif berhubungan dengan sikap dan nilai. Dalam masyarakat

pada umumnya berkembang asumsi bahwa rana afektif tidak dapat diukur

namun beberapa ahli menyatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan

75
Ibid., h. 92.
66

perubahannya, bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat

tiggi.

Nana Sudjana Mengkategorikan lima jenis hasil belajar yang efektif,

yaitu:76

a. Reciving atau attending yang berupa kepekaan dalam menerima

stimulan dari luar yang berbentuk masalah, situasi, gejala, dan lain-

lain.

b. Responding, berupa reaksi yang diberikan terhadap stimulant dari

luar seperti perasaan, ketepatan reaksi, dan kepuasan dalam

menjawab stimulant.

c. Valuing (penilaian) berhubungan dengan nilai dan kepercayaan

terhadap gejala dan stimulus seperti penerimaan terhadap nilai atau

kesepakatan terhadap nilai.

d. Organisasi, berupa pengembangan nilai ke dalam satu sistem

organisasi sperti konsep tentang nilai maupun organisasi nilai.

e. Karakteristik nilai atau internalisasi nilai, yaitu perpaduan sistem

nilai yang mempengaruhi terhadap kepribadian dan perilakunya.

Hasil belajar psikomotorik tampak dalam bentuk skill dan aktivitas

siswa. Menurut Nana Sudjana hasil belajar psikomotorik merupakan

merupakan tahap kelanjutan dari belajar efektif, sehingga aktivitas yang

muncul merupakan kelanjutan dari sikap (efektif) seperti segera memasuki

76
Ibid., h. 30.
67

kelas saat guru dating, mencatat bahan pelajarn, membaca buku referens,

latihan mengerjakan soal, mampu bergaul dan lain sebagainya.77

Menurut Sumadi.78 tentang penilaian prestasi dikelompokan menjadi

tiga adalah sebagai berikut:

a. Dasar Psikologis

Didalam tiap usaha manusia pada umumnya selalu dibutuhkan

penilaian terhadap usaha-usaha yang telah dilakukan, yang berguna

sebagai bahan orientasi untuk menghadapi usha-usaha yang lebih

jauh secara psikologis. Setiap orang selalu butuh mengetahui

sampai sejauh manakah dia berjalan menuju kepada tujuan yang

ingin atau yang harus diacapai.

b. Dasar Didaktis

Mengenai dasar ini dapat ditinjau dari dua segi, yaitu:

1) Ditinjau dari segi siswa, pengetahuan akan kemajuan-kemajuan

yang telah dicapai pada umumnya berpengaruh pada pekerjaan

artinya menyebabkan prestasi yang selanjutnya itu lebih baik.

2) Dipandang dari segi guru, dengan menilai hasil atau kemajuan

siswa-siswanya, sebenarnya guru tidak hanya menilai hasil

usaha siswanya saja. Tetapi sekaligus dia juga menilai hasil-

hasil usaha nsendiri, dengan mengetahui hasil-hasil usaha

77
Ibid., h. 31.
78
Sumadi Suryabrata. Sistem Penilaian dalam Pembelajaran. Jakarta : PT Raja
Grafindo. h. 17.
68

siswanya itu, guru menjadi tahu seberapa dan dalam hal mana

dia berhsdil serta dalam hal mana dia gagal.

c. Dasar Administratif

Orang menilai hasil pendidikan itu juga mempunyai dasar

administrative, dengan adanya penilaian yang rumusnya berwujud

raport maka dapat dipenuhi berbagai kebutuhan administrative.

Dengan demikian penilaian merupakan bagian yang terpenting dari

proses belajar mengajar, penilaian itu bermanfaat bagi guru karena

dapat membantu menjawab masalah-masalah penting mengenai

siswanya dalam prosedur mengajarnya bahkan memberikan inti

laporan tentang kemajuan siswa-siswanya terhadap orang tua

mereka masing-masing dan masyarakat pada umumnya.

Anda mungkin juga menyukai