Faktor Predisposisi Vaksinasi COVID-19 Lampung
Faktor Predisposisi Vaksinasi COVID-19 Lampung
TESIS
Oleh
BAMBANG PUJIANTO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2022
1
Oleh
BAMBANG PUJIANTO
Tesis
Pada
Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2022
ABSTRAK
OLEH
BAMBANG PUJIANTO
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Severe
Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Kasus COVID-19 di dunia
pertanggal 29 Juni 2022 tercatat 542.188.789 kasus, meninggal 6.339.275 orang. Penerima
vaksin COVID-19 di Kabupaten Lampung Tengah dosis 1 sebesar (81,95%) dari target 80%
yang mendapat vaksin dosis 2 sebesar 62,27% dari target 70% dan vaksin booster sebesar
2,16% dari target 40%, namun masyarakat penerima vaksin COVID-19 pada dosis 2 dan
booster jauh dari target sehingga penelitian terkait faktor predisposisi yang memengaruhi
keikutsertaan vaksinasi COVID-19 perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini menganalisis faktor
predisposisi yang memengaruhi keikutsertaan vaksinasi COVID-19 pada masyarakat di
kabupaten Lampung Tengah tahun 2022. Penelitian ini merupakan penelitian observasional
dengan rancangan cross- sectional. Sampel penelitian sebanyak 110 sampel, menggunakan
teknik Multistage Random Sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan
multivariat. Hasil penelitian didapatkan bahwa pengetahuan baik sebanyak 63,6%, pendidikan
tinggi sebanyak 30%, sikap positif sebanyak 44,5%, mengakses informasi kesehatn positif
sebanyak 62,7%, kepercayaan positif sebanyak 79,1% serta prilaku keikutsertaan vaksinasi
COVID-19 banyak 93,6%. Pengetahuan (p= 0.097), pendidikan (p=0,426) dan sikap
masyarakat (p= 0.129) tidak berpengaruh terhadap perilaku keikutsertaan vaksinasi COVID-
19 sedangkan informasi kesehatan (p= 0.010) dan kepercayaan (p = 0,004) berpengaruh
terhadap keikutsertaan vaksinasi Covid-19 pada masyarakat di kabupaten Lampung Tengah.
Faktor paling dominan yang memengaruhi perilaku vaksinasi COVID-19 pada masyarakat
adalah informasi kesehatan dan kepercayaan masyarakat.
By
BAMBANG PUJIANTO
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan
hidayah-Nya tesis ini dapat diselesaikan. Tesis dengan judul “Analisa faktor
predisposisi yang memengaruhi keikutsertaan vaksinasi Covid-19 pada
masyarakat di kabupaten Lampung Tengah” adalah salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Magister Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Mohammad Sofwan Effendi, [Link]., selaku Plt. Rektor Universitas
Lampung
2. Prof. Dr. Dyah Wulan Sumekar RW, SKM, [Link]., selaku dekan Fakultas
Kedokteran Universitas Lampung;
3. Dr. dr. Susianti, [Link]., [Link]., selaku Ketua Program Studi Magister
Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lampung;
4. Dr. dr. Dian Isti Angraini, MPH, selaku pembimbing utama atas kesediannya
untuk memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam proses penyelesaian tesis
ini;
5. Dr. dr. Aila Karyus, [Link], selaku pembimbing kedua atas kesediaannya
memberikan bimbingan, saran dan kritik dalam proses penyelesaian tesis ini;
6. Prof. Dr. Sudjarwo, M.S, selaku Pembahas Pertama yang telah bersedia
meluangkan waktu, memberikan masukan, ilmu, kritik, saran dan nasihat
bermanfaat dalam penyelesaian tesis ini;
7. Bayu Anggileo Pramesona, [Link]., Ns., MMR., Ph.D, selaku Pembahas Kedua
yang telah bersedia meluangkan waktu, memberikan masukan, ilmu, kritik,
saran dan nasihat bermanfaat dalam penyelesaian tesis ini;
8. Para responden yang telah bersedia atas waktu dan perhatiannya dalam
pelaksanaan penelitian ini;
9. Kepala UPTD Puskesmas Punggur, Kotagajah, Seputih Raman Kabupaten
Lampung Tengah besarta staf dan jajarannya yang telah banyak membantu
dan memberikan dukungan dalam proses penelitian tesis ini;
10. Seluruh staf pengajar Program Studi Kesehatan Masyarakat Unila atas ilmu
yang telah diberikan kepada saya untuk menambah wawasan yang menjadi
landasan untuk mencapai cita-cita;
11. Teman-teman seperjuangan “Angkatan COVID” MKM 2020 yang telah
membantu dan saling memberikan semangat;
12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu-persatu yang telah
memberikan bantuan dan memberi semangat selama kuliah dan dalam
penulisan tesis.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan
akan tetapi, semoga tesis yang sederhana ini dapat bermanfaat dan berguna bagi
kita semua. Aamiin.
Bambang Pujianto
i
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................. 5
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................. 5
1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................ 6
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori...................................................................................... 7
2.2 Penelitian Terdahulu ............................................................................. 46
2.3 Kerangka Pikir ...................................................................................... 48
2.4 Kerangka Konsep ................................................................................. 49
2.5 Hipotesis ............................................................................................... 49
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1 Pembahasan. ....................................................................................... 70
5.2 Keterbatasan Penelitian. ...................................................................... 78
BAB 6 Penutup
6.1 Kesimpulan. ........................................................................................ 79
6.2 Saran. .................................................................................................. 80
Tabel Halaman
1. Tabel 3.1 Definisi Oprasional ............................................................................. 50
2. Tabel 3.2 Sasaran Covid-19 Lampung Tengah .................................................. 51
3. Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Prilaku Ikutserta Vaksinasi, Pengetahuan, Pendidikan,
Sikap, Informasi Kesehatan, Kepercayaan .............................................................. 58
4. Tabel 4.2 Distribusi Kuisioner Pengetahuan) .......................................................... 59
5. Tabel 4.3 Distribusi Kuisioner Sikap.................................................................. 60
6. Tabel 4.4 Distribusi Kuisioner Informasi Kesehatan ......................................... 61
7. Tabel 4.5 Distribusi Kuisioner Kepercayaan ...................................................... 62
8. Tabel 4.6 Analisis Faktor Pengetahuan Memengaruhi Perilaku Keikutsertaan
Vaksinasi COVID-19 pada Masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah ................... 63
9. Tabel 4.6 Analisis Faktor Pendidikan Memengaruhi Perilaku Keikutsertaan Vaksinasi
COVID-19 pada Masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah .................................... 64
10. Tabel 4.6 Analisis Faktor Sikap Memengaruhi Perilaku Keikutsertaan Vaksinasi
COVID-19 pada Masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah .................................... 64
11. Tabel 4.6 Analisis Faktor Informasi Kesehatan Memengaruhi Perilaku Keikutsertaan
Vaksinasi COVID-19 pada Masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah ................... 65
12. Tabel 4.6 Analisis Faktor Kepercayaan Memengaruhi Perilaku Keikutsertaan
Vaksinasi COVID-19 pada Masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah ................... 65
13. Tabel 4.11 Hasil Seleksi Variabel Independen Dengan Dependen Kandidat
Multivariat ............................................................................................................ 66
14. Tabel 4.12 Uji Kelayanan Model Regresi Hosmer and Lemeshow ......................... 66
15. Tabel 4.13 Pengaruh Secara Simultan Antara Variabel Independen dengan
Dependen ............................................................................................................. 67
16. Tabel 4.14 Model Regresi Logistik Variabel Pengetahuan, Pendidikan, Sikap,
Informasi Kesehatan, Kepercayaan Terhadap Perilaku Vaksinasi ............................. 68
17. Tabel 4.17 Hasil Pemodelan Terakhir Analisis Multivariat ..................................... 69
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Gambar 2.1 Perbedaan Pengembangan Vaksin Tradisional dan Masa Pandemi
COVID- 19 ........................................................................................................ 45
2. Gambar 2.2 Kerangka Pikir ................................................................................... 47
3. Gambar 2.3 Kerangka Konsep ............................................................................... 48
4. Gambar 3.1 Alur flow chart sampel .......................................................................... 52
BAB I
PENDAHULUAN
2
Dari hasil pencapaian vaksinasi COVID-19 di Lampung Tengah
terdapat kesenjangan yaitu pencapaian dosis 2 dan booster masih di bawah
target. Hal ini dikarenakan keikutsertaan vaksinasi COVID-19 mengalami
berbagai kendala yaitu perbedaan dari segi sosial, ekonomi dan budaya.
Seperti pengetahuan, sikap kekhawatiran terhadap keamanan dan keefektifan
vaksin, ketidak percayaan terhadap vaksin, dan mempersoalkan kehalalan
vaksin, hal ini disebabkan oleh kurangnya informasi yang beredar tentang
COVID-19, baik melalui sosial media, media massa, maupun poster-poster
dan spanduk-spanduk tentang COVID-19 yang banyak terpasang diberbagai
tempat dan sikap yang menolak vaksinasi dengan alasan takut dengan jarum
suntik (Dinkes Lampung Tengah, 2022).
Pemerintah Lampung Tengah terus berusaha untuk melakukan
pencegahan dan penanggulangan. Upaya yang telah dilakukan adalah
penguatan surveilans COVID-19, pendisiplinan masyarakat dalam melakukan
protokol kesehatan dan percepatan program vaksinasi COVID-19. Vaksinasi
merupakan salah satu komponen penting dalam strategi penanganan dan
pencegahan pandemi untuk menekan angka risiko sakit yang parah hingga
kematian akibat COVID-19. Vaksinasi lengkap ditambah booster dapat
membentuk kekebalan masyarakat herd immunity dan memberikan
perlindungan hingga 91% dari kematian, atau risiko terburuk lainnya akibat
COVID-19 (Dinkes Lampung Tengah, 2022)
Hasil survei di Indonesia pada tahun 2020 keikutsertaan vaksinasi
COVID-19 di Indonesia mengalami perbedaan dari segi sosial, ekonomi dan
budaya. Seperti kekhawatiran terhadap keamanan dan keefektifan vaksin,
ketidak percayaan terhadap vaksin, dan mempersoalkan kehalalan vaksin.
Alasan penolakan vaksin COVID-19 paling umum adalah terkait dengan
keamanan vaksin sebanyak 30%, keraguan terhadap efektifitas vaksin
sebanyak 22%, ketidakpercayaan terhadap vaksin sebanyak 13%,
kekhawatiran adanya efek samping seperti demam dan nyeri sebanyak 12%
dan alasan keagamaan sebanyak 8% (Kemenkes RI, 2020).
3
Persepsi masyarakat terhadap kesehatan dan pencegahan penyakit juga
merupakan faktor penting karena apabila pengetahuan masyarakat tentang
bagaimana cara mengatasi penyakit dengan melakukan vaksin tidak tahu
maka suatu masalah pengendalian COVID-19 tidak berhasil (Kalpana, 2021).
Penelitian yang dilakukan oleh Fauziah (2021), tentang pengetahuan,
persepsi, dan perilaku terkait COVID-19 serta penerimaan vaksin COVID-19
pada masyarakat di Kabupaten Bantul, menunjukkan bahwa semakin baik
tingkat pengetahuan, maka tingkat perilaku masyarakat semakin baik dalam
keikutserta penerimaan vaksin COVID-19.
Hasil penelitian Kevin (2021), menunjukan pengetahuan masyarakat
tentang vaksinasi COVID-19 berdasarkan karakteristik pendidikan dapat
diketahui bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan maka tingkat pengetahuan
semakin baik. Hasil penelitian Argista (2021), pendidikan yang dimiliki oleh
seseorang memengaruhi persepsi dalam menerima vaksin, dimana orang yang
berpendidikan tinggi cenderung memiliki persepsi yang positif terhadap
vaksin COVID-19. Situmeang (2022), mengatakan bahwa pengetahuan
merupakan salah satu hal penting yang memengaruhi pada seseorang dalam
bertindak atau berperilaku. Peningkatan pengetahuan diharapkan berbanding
lurus dengan adanya peningkatan perilaku umtul mengikuti kegiatan
vaksinasi COVID-19. Widjaja (2022), menyatakan bahwa sikap yang
ditunjukkan oleh responden baik dengan pengetahuan yang baik maka
terciptalah sikap yang baik dalam pranserta vaksinasi COVID-19.
Berdasarkan hasil penelitian Durhan (2021), menunjukkan tingginya
tingkat akses informasi terkait vaksin Sinovac di media sosial karena
dipengaruhi oleh tingginya frekuensi, durasi dan atensi masyarakat dalam
mengakses informasi.
Febriyanti (2021), menyatakan bahwa responden yang ikutserta untuk
vaksinasi mereka telah percaya dengan manfaat vaksin COVID-19 yang
mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mampu melawan saat
terkena penyakit tersebut. Faktor utama yang menjadi penyebab keberhasilan
sebuah kebijakan ialah keterlibatan masyarakat di dalamnya, hal tersebut
dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap keikutsertaan
4
vaksinasi COVID-19 (Kriswibowo dkk, 2021).
Menurut L Green (Notoatmodjo, 2012a), faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi prilaku diantaranya adalah faktor predisposisi terdiri dari
pengetahuan, pendidikan, sikap, informasi kesehatan dan kepercayaan. Faktor
enabling terdiri dari kesedian sumber fasilitas Kesehatan dan factor
reinforcing sikap dan prilaku petugas kesehatan, tokoh masyarakat dan
dukungan sosial. Faktor predisposisi merupakan faktor yang dapat
mempermudah terjadinya prilaku pada sesorang atau masyarakat terhadap apa
yang seharusnya dilakukan.
Berdasarkan latar belakang ini peneliti berkeinginan meneliti analisa
faktor predisposisi yang memengaruhi keikutsertaan vaksinasi COVID-19
pada masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah Tahun 2022.
5
c Untuk mengetahui pengaruh pendidikan terhadap keikutsertaan
vaksinasi COVID-19 pada masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah
tahun 2022.
d Untuk mengetahui sikap terhadap keikutsertaan vaksinasi COVID-19
pada masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah tahun 2022.
e Untuk mengetahui pengaruh informasi kesehatan terhadap
keikutsertaan vaksinasi COVID-19 pada masyarakat di Kabupaten
Lampung Tengah tahun 2022.
f Untuk mengetahui pengaruh kepercayaan terhadap keikutsertaan
vaksinasi COVID-19 pada masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah
tahun 2022.
g Untuk mengetahui faktor predisposisi yang paling memengaruhi
terhadap keikutsertaan vaksin COVID-19 pada masyarakat di
Kabupaten Lampung Tengah tahun 2022.
6
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
8
Sebuah studi Yang X, (2020) melaporkan bahwa 12,6%
menunjukkan penularan presimptomatik. Dalam hal ini penting untuk
mengetahui periode presimptomatik karena memungkinkan virus
menyebar melalui droplet atau kontak dengan benda yang terkontaminasi.
Sebagai tambahan terdapat juga kasus konfirmasi dengan tidak bergejala
(asimptomatik), meskipun risiko penularan sangat rendah akan tetapi
masih ada kemungkinan kecil untuk terjadi penularan.
9
pandemi, 40% kasus akan mengalami penyakit ringan, 40% akan
mengalami penyakit sedang termasuk pneumonia, 15% kasus akan
mengalami penyakit parah, dan 5% kasus akan mengalami kondisi kritis.
Pasien mengalami gejala ringan dilaporkan sembuh setelah 1 minggu. Pada
pasien dengan kasus berat akan mengalami Acute Respiratory Distress
Syndrome (ARDS), sepsis dan syok septik, gagal multi- organ, termasuk
gagal ginjal atau gagal jantung akut sampai berakibat kematian. Orang
dengan lanjut usia (lansia) dan orang dengan kondisi medis yang sudah ada
sebelumnya seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung dan paru,
diabetes dan kanker berisiko lebih besar mengalami keparahan (Kemenkes
RI, 2020).
d. Pencegahan
Penyakit COVID-19 harus dilakukan pencegahan dan
pengendalian ditempatkan pada prioritas yang paling utama dalam segala
kebijakan pemerintahan. Institusi kesehatan disemua tingkat/level harus
mengikuti petunjuk pemerintah pusat/daerah setempat dalam memperkuat
pedoman kerja pencegahan. pengendalian epidemilogi serta membentuk
kelompok ahli pencegahan dan pengendalian COVID-19 yang melibatkan
para ahli dan pemangku kepentingan terkait. Seiring dengan prinsip kerja
pencegahan pada tingkat pertama, integrasi pencegahan dan pengendalian,
pedoman ilmiah, pegobatan tepat waktu, prinsip kerja, institusi terkait
harus diorganisasikan untuk merumuskan dan meningkatkan kerja dan
solusi teknologi dan melakukan pencegahan dan pengendalian COVID-19.
Penguatan dalam tindakan pencegahan dan pengendalian bersama,
meningkatkan komunikasi dan kerjasama inter dan antar departemen,
melakukan konsultasi rutin untuk menganalisis perkembangan epidemi
dan mendiskusikan pencegahan dan pengendalian (Kemenkes RI, 2020).
Berdasarkan bukti yang ada COVID-19 ditularkan melalui kontak
dekat dan droplet, bukan melalui transmisi udara. Orang-orang yang
mempunyai resiko terinfeksi adalah mereka yang berhubungan dekat
dengan pasien COVID-19 atau yang merawat pasien COVID-19. Tindakan
pencegahan, pengendalian dan mitigasi merupakan kunci penerapan di
10
pelayanan kesehatan dan masyarakat. Langkah pencegahan yang paling
efektif di masyarakat meliputi:
1) Melakukan kebersihan tangan menggunakan hand sanitizer jika
tangan tidak terlihat kotor atau cuci tangan menggunakan sabun
jika tangan terlihat kotor;menghindari menyentuh mata, hidung dan
mulut
2) Terapkan etika batuk atau jika bersin menutup hidung dan mulut
dengan lengan atas bagian dalam atau tisu, lalu buanglah tisu ke
tempat sampah;pakailah masker medis jika memiliki gejala
pernapasan dan melakukan kebersihan tangan setelah membuang
masker
3) Menjaga jarak (minimal 1 m) dari orang yang mengalami gejala
gangguan pernapasan (Kemenkes RI, 2020).
11
pada pasien COVID-19 sehingga daya tahan tubuh seseorang
menjadi semakin bagus. Penggunaan obat tradisional ini juga dapat
sebagai imunomodulator (tanaman obat yang mengandung zat aktif
seperti jahe merah, temulawak, kunyit, meniran, empon-empon),
mengurangi gejala COVID-19 (batuk pilek memakai rimpang
kencur, sakit kepala memakai bawang putih, sulit tidur memakai
biji pala, dan mual muntah memakai jahe), mengatasi faktor
komorbid COVID-19 (tekanan darah tinggi memakai seledri juga
bawang putih, diabetes memakai daun salam juga sambiloto,
obesitas memakai daun jati belanda juga daun ceremai)
12
yang paling efektif dan ekonomis untuk mencegah penyakit menular
membuat pengembangan dari vaksin untuk memerangi infeksi SARS-
CoV-2 sangat diperlukan. Sejauh ini lebih dari 40 perusahaan farmasi dan
lembaga akademis di seluruh dunia telah meluncurkan program
pengembangan vaksin mereka melawan SARS-CoV-2 (Sari dan
Sriwidodo, 2020).
Selama dua dekade terakhir, tiga coronavirus yang didapatkan pada
manusia (SARS-CoV, MERS-CoV, dan SARS-CoV-2) muncul di seluruh
dunia, menyebabkan ancaman besar terhadap kesehatan global. Namun,
masih belum ada vaksin yang disetujui untuk virus corona manusia.
Kelompok-kelompok penelitian diseluruh dunia mempercepat
pengembangan vaksin COVID-19 menggunakan berbagai pendekatan.
Mekanisme pengenalan yang tepat antara protein permukaan virus dan
reseptor inang penting untuk memahami bagaimana penularan lintas
spesies dan tropis inang serta untuk pembentukan model hewan untuk
pengembangan vaksin. Protein coronavirus spike (S) adalah target
penting untuk pengembangan vaksin karena memediasi mekanisme
infeksi melalui pengikatan reseptor sel inang (Kemenkes RI, 2020).
b. Regulasi Vaksi COVID-19
Peraturan menteri kesehatan republik indonesia nomor 23 tahun
2021 tentang perubahan ketiga atas peraturan menteri kesehatan nomor
10 tahun 2021 tentang pelaksanaan vaksinasi dalam rangka
penanggulangan pandemi corona virus disease 2019 (COVID-19).
Vaksin merupakan produk biologi yang berisi antigen berupa
mikroorganisme yang sudah mati atau masih hidup yang dilemahkan,
masih utuh atau bagiannya, atau berupa toksin mikroorganisme setelah
diolah menjadi toksoid atau protein rekombinan, yang ditambahkan
dengan zat lain, yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan
kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.
Vaksinasi adalah pemberian vaksin khusus yang diberikan dalam
rangka menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu penyakit, sehingga apabila suatu saat terpapar dengan
13
penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan dan
tidak menjadi sumber penularan.
Fasilitas pelayanan Kesehatan (Fasyankes) adalah tempat yang
digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan,
preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif yang dilakukan oleh
pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
Peraturan menteri desa, pembangunan daerah tertinggal dan
transmigrasi No. 6 Tahun 2020 Pasal 8A ayat (2) penanganan dampak
pandemi COVID-19 dapat berupa Penerima Bantuan Langsung Tunai
(BLT)-dana desa kepada keluarga miskin di desa sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang- undangan.
Peraturan Presiden RI Nomor 14 Tahun 2021 tentang perubahan
atas peraturan presiden nomor 99 tahun 2020 tentang pengadaan vaksin
dan pelaksanaan vaksinasi dalam penanggulangan pandemi COVID-19.
Penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) dana desa dengan syarat yang
menyertakan telah divaksin
c. Jenis-Jenis Vaksin
1) Vaksin Inaktif
Vaksin inaktif yang digunakan selama lebih dari seabad untuk
mendorong perlindungan terhadap patogen virus. Vaksin inaktif
mengandung seluruh atau sebagian kecil bakteri atau virus yang telah
terbunuh. Vaksin inaktif merupakan bagia satu dari tiga vaksin yang
berlisensi saat ini. Teknologi inaktif yang dapat bervariasi berdasarkan
strain virus, namun sebagian besar proses pembuatannya menggunakan
formaldehid, beta- propiolactone (BPL) atau iradiasi ultraviolet. Selain
itu disesuaikan dengan strain virus, prosedur pembuatan vaksin
menggunakan teknologi ini memerlukan beberapa elemen penunjang
seperti waktu, suhu inkubasi, buffer, konsentrasi reagen yang digunakan
untuk menghasilkan produk yang fungsional.
Salah satu vaksin yang menggunakan teknologi ini adalah vaksin
influenza. Secara komersial vaksin tersebut dihasilkan dari virus
influenza hidup yang ditumbuhkan di telur ayam berembrio. Selain
14
teknologi ini telah berhasil dikembangkan untuk flaviviruses lain seperti
Virus demam kuning dan virus penyakit radang otak atau Japanese
encephalitis. Teknologi tersebut juga telah digunakan dalam
pengembangan vaksin inaktif untuk SARS-CoV. Dalam kelompok
mengevaluasi vaksin inaktif untuk SARS-CoV dan hasilnya
menunjukkan bahwa semua vaksin menginduksi serum antibodi
penawar dan pengurangan yang signifikan SARS-CoV. Meskipun
teknologi ini menuju pada keberhasilan pengembangan vaksin, teknologi
ini memiliki kekurangan. Terdapat penelitian yang mengonfirmasi
terjadinya kerusakan hemagglutinin substansial yang diakibatkan oleh
formaldehid, BPL, atau iradiasi UV. Oleh karena itu disarankan untuk
melakukan uji in vitro untuk memeriksa apakah serum imun yang
diinduksi oleh vaksin inaktif akan memediasi ADE (Antibody-dependent
Enhancement) dalam beberapa sel. Selain itu, penggunaan vaksin ini
juga membutuhkan dosis berulang dan/atau dosis pendorong. Adjuvan
seperti garam aluminium sering ditambahkan ke vaksin ini. Adjuvan
adalah zat yang membantu memperkuat dan memperpanjang respons
kekebalan terhadap vaksin. Akibatnya, reaksi lokal umum (seperti sakit
pada lengan) mungkin lebih sering terjadi (Makmun dan Hazhiyah,
2020).
2) Vaksin Yang Dilemahkan
Sebagian besar dari vaksin telah dikembangkan untuk meningkatkan
respons antibodi penawar anti-S, salah satunya adalah vaksin virus hidup
yang dilemahkan. Vaksin yang telah dilemahkan termasuk ke dalam
vaksin yang berlisensi saat ini, selain vaksin inaktif. Vaksin yang telah
dilemahkan secara langsung sangat efektif dalam memberikan
perlindungan terhadap penyakit dan menghentikan penyebaran epidemi
virus patogen. Salah satu contoh yang paling sukses, vaksin anti polio
Sabin, telah digunakan untuk memberantas poliomyelitis. Selain
teknologi vaksin yang dilemahkan telah diaplikasikan dalam pembuatan
vaksin influenza, yaitu dengan memanfaatkan telur ayam berembrio
yang dimurnikan dengan ultrasonografi gradient sukrosa. Teknologi
15
tersebut sudah dikembangkan dengan baik, namun jika digunakan untuk
virus jenis lain, maka harus ada pembaruan. Pembaruan ini beresiko
mengubah komposisi produk vaksin. Rekayasa teknologi tersebut juga
telah digunakan dalam pengembangan genetika arah-balik untuk virus
corona termasuk SARS-CoV dan MERS-CoV. Dengan metodelogi ini
akan terjadi penghapusan protein amplop. Virus ini telah terbukti dapat
menginduksi respon imun berbasis humoral dan seluler pada hamster
dan tikus. Dibalik kesuksesan dari teknologi penggunaan vaksin yang
dilemahkan mempunyai beberapa resiko seperti terjadinya kembali
virulensi dan cedera jaringan yang memicu terjadinya perkembangan
infeksi sekunder yang lebih parah (Makmun dan Hazhiyah, 2020).
16
bertujuan untuk mengganti gen yang hilang atau rusak secara permanen
dan hanya untuk dicapai jika sistem kekebalan menoleransi pembawa
dan produk transgenik. Sedangkan tujuan vaksin ini adalah untuk
mengekspresikan suatu antigen yang memunculkan kekebalan adaptif
yang kuat secara sementara terhadap antigen yang didukungan dari
respons inflamasi yang disebabkan oleh pembawa. Vaksin dengan
berbasis vektor virus memberikan ekspresi protein tingkat tinggi dan
stabilitas jangka panjang, dan memicu respon imun yang kuat. Vaksin
berbasis vektor ini merupakan vaksin yang berlisensi. Konsep vaksin
vektor virus ini berbeda dengan vaksin subunit, karena vaksin vektor
membantu mencegah penyakit menular dengan menimbulkan respons
humoral. Teknologi yang dikembangkan untuk pembuatan vaksin
ChAd3 untuk Ebola dan ChAdOx1 untuk MERS, yang sekarang dalam
memasuki tahap uji klinik (Dai et al., 2020 ; WHO, 2020).
Secara umum kelebihan vektor virus ini adalah transduksi gen
efisiensi tinggi, pengiriman gen yang sangat spesifik ke sel target, dan
induksi respons imun yang kuat. Terlepas dari keuntungan yang tidak
menutup kemungkinan untuk vektor virus menyebabkan masalah.
Dalam beberapa vektor ini ekspresi stabil dari gen dicapai melalui
mekanisme integrasi virus. Integrasi didalam genom inang dapat
menyebabkan kanker. Hambatan lainnya untuk penggunaan klinik vektor
virus adalah adanya kekebalan terhadap vektor yang sudah ada
sebelumnya. Hal tersebut dikarenakan oleh paparan virus sebelumnya
dan produksi antibodi penawar yang mengurangi kemanjuran vaksin.
Dalam kasus virus direkayasa secara genetika untuk mengurangi atau
menghilangkan patogenisitas. Tipe vaksin tersebut dibagi menjadi dua,
yaitu replikasi vektor dan non-replikasi vektor. Virus yang sudah
digunakan dalam perkembangan vaksin tersebut adalah adenovirus yang
telah dikembangkan dan diujikan sebagai vaksin untuk penyakit HIV,
malaria, dan kanker. Selain adenovirus, beberapa virus lain sudah
digunakan dalam perkembangan pembuatan vaksin diantaranya adalah
alphavirus, herpes virus, poxvirus, vesicular stomatitis virus serta
17
vaccinia virus (Zhang and Liu, 2020).
5) Vaksin Berbasis DNA
Vaksin DNA merupakan teknologi yang berkembang dengan pesat
dan menawarkan pendekatan baru untuk mencegah beberapa penyakit
baik yang berasal dari bakteri ataupun virus. Teknologi ini melibatkan
pengenalan dari asam nukleat ke dalam sel inang yang kemudian
mengarahkan sintesis polipeptida yang dikodekan dan menstimulasi
respon imun. Vaksin DNA telah dilakukan evaluasi secara luas dalam
banyak model hewan penyakit menular dan tidak menular dengan
keberhasilan yang umumnya baik dalam memunculkan tanggapan pada
poten terhadap antigen yang disandikan, yang telah berkisar dari epitop
sel T atau B diskrit hingga kompleks poliprotein besar. Pada umumnya
vaksin ini berbasis DNA plasmid. Pada manusia bukti konsep ini untuk
induksi respon antibodi dan sel T telah ditunjukkan untuk berbagai
indikasi dalam beberapa uji klinik. Namun respons imun yang
ditunjukkan lebih rendah bila dibandingkan dengan penggunaan vaksin
konvensional seperti vaksin inaktif dan vaksin virus yang dilemahkan.
Alasan kekurangan vaksin DNA ini tidak jelas, tetapi kemungkinan
disebabkan karena pengiriman DNA yang tidak efisien ke dalam sel
manusia dan stimulasi sistem imun pada manusia yang tidak memadai
(Zhang and Liu, 2020).
6) Vaksin Berbasis RNA
Vaksin berbasis asam nukleat ini telah lama dijanjikan sebagai
vaksin yang dapat diproduksi dengan cepat sebagai respons terhadap
keadaan darurat pada kesehatan masyarakat, aman, dan memperoleh
respons imun protektif. Namun hingga saat ini masih belum ada vaksin
berbasis asam nukleat yang berlisensi untuk digunakan oleh manusia.
Dalam mengatasi kesenjangan waktu antara munculnya patogen dan
lisensi vaksin, maka diperlukan teknologi vaksin baru yang salah satu
kandidatnya adalah vaksin RNA. Vaksin berbasis RNA ini merupakan
salah satu teknologi vaksin berbasis asam nukelat yang sedang di
kembangkan untuk COVID-19. Vaksin berbasis RNA ini merupakan
18
kandidat yang menjanjikan karena kecepatannya dalam memperoleh
urutan data patogen sehingga dapat diproduksi dengan cepat dan aman.
Teknologi ini mungkin lebih sedikit memerlukan uji pengaturan dari
pada virus yang telah dilemahkan atau dimatikan, karena asam nukleat
merupakan produk basa yang tidak berubah, apapun patogennya. Vaksin
antivirus berbasis mRNA ini juga meminimalkan potensi risiko infeksi
dan mutagenesis yang disebabkan insersi karena degradasi alami Mrna
dalam lingkungan mikro seluler. Khasiat imunogen yang tinggi karena
modifikasi dari struktural mRNA yang direkayasa meningkatkan
stabilitas dan kemanjuran penerjemahannya. Vaksin ini berpotensi tinggi
menghasilkan imunoglobulin penetral antivirus yang kuat dengan hanya
satu atau dua imunisasi dosis rendah yang dapat menginduksi respon
imun yang kuat dengan mengaktifkan sel T CD8+ dan CD4+[47].
Terakhir adalah rekayasa produksi mRNA ini memfasilitasi produksi
besar-besaran dosis vaksin yang diperlukan untuk mengobat populasi
massal. Semua ini membuat vaksin mRNA lebih cocok untuk respons
cepat terhadap pandemi COVID-19 yang baru muncul (Zhang et al.,
2020).
Vaksin berbasis RNA ini lebih menguntungkan dibandingkan
vaksin berbasis DNA karena antigen dapat segera diterjemahkan dari
vaksin RNA setelah antigen tersebut memasuki sitoplasma. Hal ini
meningkatkan efisiensi transfeksi sehingga perlu adanya efek pada
imunogenisitas. Tersedia 2 platform vaksin RNA, yaitu mRNA sintesis
dan sa- RNA. Modifikasi molekul mRNA sintetis ini sendiri dapat
bermanfaat untuk imunogenisitas dan ekspresi antigen. Vaksin ini
didasarkan pada mRNA dapat menawarkan solusi sebagai bahan yang
sesuai dengan urutan sehingga dapat memungkinkan respon cepat
terhadap munculnya strain mikroba pandemi. Sedangkan sa-RNA
berasal dari virus dan mengkode antigen yang diminatinya dan protein
yang memungkinkan replikasi vaksin RNA. Kedua platform telah
terbukti menginduksi respon imun (Zhang, 2020).
19
Vaksin berbasis RNA menggunakan mRNA yang setelah memasuki
sel akan diterjemahkan ke molekul antigenik yang dapat merangsang
sistem kekebalan tubuh. Proses ini telah digunakan secara efektif
terhadap beberapa kanker. Tidak hanya kanker, penggunaan teknologi
vaksin ini mempunyai kemampuan untuk memperoleh porses kekebalan
tubuh yang kuat terhadap penyakit menular, seperti COVID-19.
Produksi vaksin berbasis RNA lebih cepat dan murah daripada vaksin
tradisional. Hal tersebut dapat menjadi keuntungan utama dalam siatusi
pandemi seperti sekarang. Uji klinik vaksin berbasis RNA untuk
COVID-19 saat ini sedang berlangsung (Zhang et al., 2020).
d. Mekanisme Vaksin dalam Memicu Respon Kekebalan
Setiap reaksi kekebalan terhadap patogen atau virus dimulai pada
aktivasi sistem kekebalan bawaan. Memori imunologis, namun berperan
penting dalam mengaktifkan dan mengajari sistem kekebalan adaptif.
Setelah vaksin disuntikkan komponen vaksin akan diambil sel penyaji
antigen (APC) seperti magrofag dan sel dendritik (DC). Sel APC ini
yang telah mengambil antigen menjadi aktif dan mulai bermigrasi
menuju kelenjar getah bening yang ada di dekatnya merupakan tempat
sel T dan B. Pada kelenjar getah bening, antigen yang diproses oleh
APC dipresentasikan ke limfosit. Ketika limfosit ini mengenali antigen
dan menerima sinyal ko- stimulasi yang sesuai, sel T dan sel B akan
menjadi aktif. Sel B ini berfungsi untuk membuat antibodi yang
melawan antigen, sedangkan sel T berfungsi untuk menyerang sel tubuh
yang sudah terpapar virus atau patogen. Sel B dan T spesifik antigen
berkembang secara klonal untuk menghasilkan beberapa progenitor yang
mengenali antigen yang sama. Selain memori sel B dan T terbentuk
yang memberikan perlindungan jangka panjang (terkadang seumur
hidup) terhadap infeksi patogen atau virus (Zhang et al., 2020).
20
COVID-19 yang dipercepat dengan total waktu 10 bulan hingga 1.5
tahun merupakan perubahan yang mendasar dari pengembangan vaksin
pada umumnya. Data pengembangan praklinis kandidat vaksin untuk
SARS dan MERS memungkinkan langkah awal desain vaksin COVID-
19 untuk tahap eksplorasi dihilangkan sehingga menghemat banyak
waktu. Uji klinis vaksin COVID-19 yang dirancang sedemikian rupa
sehingga fase uji klinis tumpang tindih atau paralel dapat
mempersingkat waktu pengembangan vaksin COVID-19. Di mana yang
dimulai dengan uji klinis fase 1 atau 2, diikuti dengan perkembangan
cepat ke uji klinis fase 3 setelah analisis sementara uji klinis 1 atau 2.
Setelah mendapatkan hasil analisis sementara dari uji klinis fase 3,
segera dilakukan pengajuan penggunaan darurat untuk kandidat vaksin.
Meskipun pengembangan vaksin COVID-19 ini menggunakan waktu
yang singkat, namun standar kualitas, keamanan, dan kemanjuran
sesuai dengan persyaratan peraturan yang telah ditetapkan badan
regulator seperti European Medicines Agency (2021).
Tahap perkembangan vaksin dapat dilihat pada gambar 2.1
dibawah ini:
21
f. Mekanisme Kerja Vaksin COVID-19
Proses pembentukan sistem imun adaptif oleh vaksin mRNA pada COVID-
19 dimulai dari injeksi vaksin ke dalam tubuh, biasanya melalui
intramuskular. Pada otot mRNA yang terbungkus oleh lipid nanoparticles
dari vaksin yang diinjeksikan akan masuk ke dalam miosit melalui
endositosis. mRNA lalu dilepaskan dalam sitoplasma dan menyandi S
protein dalam ribosom agar pembentukan S protein terjadi. S protein
kemudian dapat mengalami pemecahan yang menjadi peptida atau keluar
dari sel melalui aparatus golgi (exogenous). Peptida yang berada dalam sel
akan masuk ke dalam major histocompatibility complex (MHC)
class I molecules (MHC I). MHC I kemudian akan keluar dari sel.
Sedangkan S protein ini yang telah keluar dari sel sebelumnya akan masuk
ke sel dendritik melalui endositosis dan didegradasi ke dalam endosom
menjadi MHC class II molecules (MHC II). Selain S protein tersebut dapat
dipresentasikan menjadi MHC I melalui cross- presentation pada sel
dendritik. MHC I dan MHC II ini dipresentasikan masing-masing sebagai
antigen dan menginduksi sel T yang berbeda. MHC I akan menginduksi sel
T CD8+, sedangkan MHC II akan menginduksi sel T CD4+. Aktivasi sel T
CD8+ akan menyebabkan terbentuknya sistem imun antigen specific
cytotoxic T-cell mediated. Di sisi lain, aktivasi CD4+ akan menyebabkan B
cell menjadi memory B cell. Kedua kompleks imun ini kemudian akan
merusak S protein dan mRNA dari vaksin melalui pembentukan antibodi.
Dengan demikian, sistem imun adaptif terhadap SARS-CoV-2 telah
terbentuk (Zhang et al., 2020).
g. Vaksin COVID-19 yang beredar di dunia
1) Sinovac (CoronaVac)
CoronaVac juga dikenal dengan vaksin Sinovac COVID-19 adalah
vaksin virus COVID-19 yang tidak aktif/inactivated virus yang
dikembangkan perusahaan Cina Sinovac Biotech (Wu et al., 2021). Sinovac
pada saat ini menjalankan uji klinis fase 3 di Indonesia, Turki, Brasil, dan
Chili, dengan target total setidaknya 30.000 peserta. Di Indonesia Sinovac
ini bekerja sama dengan perusahaan farmasi milik negara Biofarma dan
22
Universitas Padjajaran telah merekrut 1.620 subjek berumur 18-59 tahun
dikota Bandung, Jawa Barat. Analisis fariabel independen dilakukan oleh
Badan Pengawasan Obat dan Makanan Indonesia (BPOM) dan akan
memberikan Emergency Use Authorization (EUA) jika disetujui. Vaksin ini
diberikan dalam dua dosis dengan jarak dua minggu. Sinovac akan menjadi
vaksin utama yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia, dengan biaya
ditanggung sepenuhnya. Gelombang pertama 1,2 juta dosis vaksin Sinovac
dikirim ke Indonesia pada 6 Desember, dengan gelombang kedua 1,8 juta
dosis diharapkan tiba pada awal Januari. Serupa dengan vaksin tidak aktif
lainnya, Sinovac stabil pada penyimpanan 4 ° C (Ophinni et al., 2020).
2) Sinopharm (Beijing Institute of Biological Products / BBIBP-CorV)
BBIBP-CorV telah dikembangkan oleh Beijing Institute of Biological
Products di Beijing, Cina (Wang et al., 2020). Satu dari dua vaksin
inactivated virus COVID-19 ini yang dikembangkan oleh Sinopharm dan
telah menyelesaikan uji coba Fase III di Argentina, Bahrain, Mesir,
Maroko, Pakistan, Peru, dan Uni Emirat Arab (UEA) dengan lebih dari
60.000 peserta (Ophinni et al., 2020).
BBIBP-CorV ini bersifat imunogenik dan diinduksi kuat oleh respons
humoral dengan cepat. Vaksin BBIBP-CorV ini dapat ditoleransi dan
bersifat imunogenik pada orang sehat. Rapid humoral responses terhadap
SARS- CoV-2 mencatat dari hari ke-4 setelah inokulasi dan 100%
serokonversi ditemukan di semua peserta pada hari ke-42. Efek samping
yang terjadi secara umum adalah rasa sakit dan demam, yang dilaporkan
dalam proporsi kecil penerima vaksin tanpa perbedaan yang signifikan di
seluruh grup (Xia et al., 2021). Serupa dengan vaksin Sinovac BBIBP-
CorV juga dapat disimpan pada suhu 4 ° C (Ophinni et al., 2020).
3) Moderna (mRNA-1273)
Vaksin COVID-19 Moderna bekerja dengan mempersiapkan tubuh
untuk mempertahankan diri melawan COVID-19. Isinya molekul yang
disebut mRNA yang memiliki instruksi untuk membuat spike protein.
Protein ini ada pada permukaan virus SARS-CoV-2 yang dibutuhkan virus
untuk memasuki sel-sel tubuh. Sistem kekebalan tubuh kemudian akan
23
mengenali protein ini sebagai asing dan menghasilkan antibodi dan
mengaktifkan sel T (sel darah putih) untuk menyerangnya (European
Medicines Agency, 2021). Berdasarkan bukti dari uji klinis, vaksin
Moderna 94,1% efektif mencegah penyakit COVID-19 yang dikonfirmasi
di laboratorium pada orang yang menerima dua dosis yang tidak memiliki
bukti terinfeksi sebelumnya (CDC).
4) Pfizer-BioNTech (BNT162b2)
Teknologi BioNTech saat ini untuk vaksin BNT162b2 didasarkan
pada penggunaan nucleoside-modified mRNA (modRNA) yang
mengkodekan bentuk mutasi full-length spike protein yang ditemukan di
permukaan virus SARS-CoV-2 (Vogel et al., 2021). Berdasarkan bukti dari
uji klinis pada orang berumur 16 tahun ke atas, vaksin Pfizer-BioNTech
95% efektif untu mencegah penyakit COVID-19 yang dikonfirmasi di
laboratorium pada orang tanpa bukti infeksi sebelumnya (Oliver et al.,
2021). Vaksin tersebut dapat menyebabkan efek samping ringan setelah
dosis pertama atau kedua, termasuk nyeri, kemerahan atau bengkak di
tempat suntikan vaksin, demam, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, mual,
muntah, gatal, menggigil, dan nyeri sendi serta juga dapat menyebabkan
syok anafilaksis (Meo et al., 2021).
5) OXFORD / ASTRAZENECA (ChAdOx1)
Vaksin AstraZeneca COVID-19 merupakan vaksin monovalen yang
terdiri dari satu rekombinan, replication-deficient chimpanzee adenovirus
(ChAdOx1) pengkodean vector glikoprotein S dari SARS-CoV-2.
Imunogen SARS-CoV-2 S dalam vaksin yang dinyatakan dalam the
trimeric pre-fusion conformation; urutan pengkodean belum dimodifikasi
untuk menstabilkan S-protein yang diekspresikan dalam konformasi pra-
fusi. Setelah pemberian, S glikoprotein SARS-CoV-2 diekspresikan secara
local merangsang antibodi penetral dan respons imun seluler, yang mungkin
berkontribusi untuk perlindungan terhadap COVID-19 (BPOM, 2021).
Menurut dari hasil uji klinis vaksin COVID-19 AstraZeneca pada
23.745 subjek berasal manusia di Inggris, Brasil, dan Afrika Selatan, efek
samping vaksin AstraZeneca bersifat ringan hingga sedang, tidak ada efek
24
samping yang serius terkait dengan pemberian vaksin COVID-19
AstraZeneca yang telah dilaporkan. Efek samping umumnya adalah nyeri di
tempat suntikan, sakit kepala, kelelahan, mialgia, malaise, demam,
menggigil, nyeri sendi dan mual. Kebanyakan terjadi efek samping ringan
sampai sedang dan biasanya sembuh dalam beberapa hari setelah vaksinasi
(BPOM, 2021).
6) GAMALEYA (Sputnik V)
Sputnik adalah two-vector vaccine based on two human adenoviruses
yang mengandung gen mengkode protein lonjakan lengkap (S) dari SARS-
CoV-2 untuk merangsang respons kekebalan. Vaksin Sputnik mulanya
disetujui untuk didistribusikan di Rumur dan kemudian di 59 negara lain
(per April 2021) berdasarkan hasil dari studi Tahap I – II yang akhirnya
diterbitkan pada 4 September 2020 (Logunov et al., 2020).
Efektifitas vaksin Sputnik V adalah 91.4%, berdasarkan analisis
sementara dari kedua data yang diperoleh 28 hari setelah pemberian dosis
pertama. Beberapa mengalami gejala efek samping ringan jangka pendek
seperti nyeri di titik injeksi dan gejala mirip flu. Sputnik V dapat disimpan
pada suhu 4 ° C (Ophinni et al., 2020).
7) JANSSEN / JOHNSON & JOHNSON
Vaksin viral vector vaccine based on a human adenovirus ini yang
telah dilakukan modifikasi untuk mengandung gen untuk membuat protein
lonjakan virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan COVID-19. Efek samping
yang terjadi paling umum adalah nyeri di tempat suntikan, sakit kepala,
kelelahan, nyeri otot, dan mual memengaruhi lebih dari 1 dari 10 orang,
dengan gejal batuk, nyeri sendi, demam, menggigil, kemerahan, dan
bengkak di tempat suntikan terjadi pada kurang dari 1 dari 10 orang. Terjadi
bersin, tremor, sakit tenggorokan, ruam, berkeringat, kelemahan otot, nyeri
pada lengan dan kaki, sakit punggung, kelemahan serta perasaan tidak enak
badan umumnya terjadi pada kurang dari 1 dari 100 orang. Efek samping
lainyang jarang terjadi (yang terjadi pada kurang dari 1 dari 1.000 orang)
adalah hipersensitivitas (alergi) dan ruam gatal (European Medicines
Agency, 2021)
25
8) NOVAVAX (NVX-CoV2373)
Vaksin diproduksi dengan membuat engineered baculovirus yang
mengandung gen SARS-CoV-2 spike protein yang telah dimodifikasi. Spike
protein ini dilakukan modifikasi dengan memasukkan dua asam amino
prolin untuk menstabilkan bentuk protein pra-fusi. Pada uji coba fase 2
diluncurkan di Afrika Selatan pada bulan Agustus. Untuk fase 3 Novavax
menyelesaikan pendaftaran dengan 15.000 peserta dalam uji coba penting di
Inggris. Di Amerika Serikat dan Meksiko, 100 lokasi uji coba telah dipilih
untuk merekrut 30.000 peserta, dan dijadwalkan akan dimulai pada 28
Desember. Novavax mengatakan bahwa lebih dari 25% peserta dalam uji
coba ini berumur di atas 65 tahun, yang memiliki kondisi medis bawaan.
(Ophinni et al., 2020).
h. Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (KIPI) akibat vaksin COVID-19
1) Defenisi KIPI
Kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI) didefinisikan sebagai
setiap peristiwa medis merugikan yang terjadi setelah imunisasi tetapi
yang tidak selalu memiliki hubungan sebab- akibat dengan
penggunaan vaksin. Kejadian tidak diharapkan dapat berupa tanda
yang merugikan atau tidak dimaksudkan, temuan laboratorium yang
abnormal, gejala, atau penyakit ( WHO and Council for International
Organizations of Medical Sciences, 2005).
2) Penyebab KIPI
KIPI yang disebabkan atau dipicu oleh vaksin karena salah satunya
atau lebih dari sifat yang melekat pada produk vaksin contohnya reaksi
akibat terkait cacat kualitas vaksin, peningkatan produksi vaksin yang
cepat juga menimbulkan potensi risiko tambahan, serta pemberian
vaksin secara masif dalam interval waktu yang singkat dengan
pelatihan minimum dan persiapan lapangan. Selain itu, staf yang
kurang paham dengan imunisasi mungkin diminta untuk melakukan
tugas imunisasi (WHO, 2020).
26
3) Efek yang ditimbukkan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Ontario, total ada 3.092
laporan KIPI yang diterima dari 7.068.229 pemberian vaksin COVID-
19 di Ontario hingga saat ini dengan tingkat pelaporan 43,7 per100.000
dosis yang diberikan. Efek samping yang paling sering dilaporkan
adalah reaksi alergi pada kulit dannyeri / kemerahan / bengkak di
tempat suntikan, dilaporkan pada 26,3% dan 25,6% dari total laporan
KIPI, serta 124 laporan kejadian anafilaksis yang cukup berat, 14
laporan trombosis dengan thrombocytopenia syndrome (TTS) setelah
diterimanya Vaksin AstraZeneca / COVISHIELD, sebelas di antaranya
mengalami vaccine- induced immune thrombotic thrombocytopenia
(VITT) (Public Health Ontario, 2020). Thrombocytopenia syndrome
(TTS) adalah kondisi penggumpalan darah yang terkait dengan jumlah
trombosit yang rendah, yang terjadi setelah diterimanya vaksin.
Mekanisme yang mungkin adalah antibodi yang menginduksi aktivasi
platelet besar-besaran, mengurangi jumlah platelet dan menyebabkan
thrombosis (WHO).
Untuk semua produk vaksin COVID-19 yang digabungkan, efek
samping yang paling sering dilaporkan adalah alergi reaksi kulit dan
nyeri, kemerahan, bengkak di tempat suntikan, dilaporkan pada 26,3%
dan 25,6% dari total Laporan KIPI masing-masing. Reaksi alergi kulit
adalah efek samping yang paling sering dilaporkan untuk Vaksin
Pfizer- BioNTech (11,2 per 100.000 dosis yang diberikan) sementara
nyeri / kemerahan / bengkak pada tempat suntikan adalah kejadian
merugikan yang paling sering dilaporkan untuk vaksin Moderna (35,7
per 100.000 dosis diberikan). Kategori 'kejadian parah atau tidak biasa'
adalah yang paling sering melaporkan kejadian merugikan untuk
vaksin AstraZeneca /COVISHIELD (13,7 per 100.000 dosis yang
diberikan) (Public Health Ontario, 2020).
27
2.1.3 PENGETAHUAN
a. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari setelah tahu dan ini terjadi
setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo,
2012a).
Pengetahuan dan pendidikan sangatlah erat kaitannya, dan
diharapkan masyarakat yang berpendidikan lebih tinggi akan memiliki
wawasan yang lebih luas. Namun perlu ditekankan ini tidak berarti bahwa
orang yang berpendidikan rendah pasti berpengetahuan rendah.
Pengetahuan seseorang tentang objek mengandung dua aspek, yaitu aspek
positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini akan menentukan dari sikap
seseorang, dan semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui
akan menimbulkan sikap positif terhadap objek tertentu (Notoatmodjo,
2012a).
b. Faktor Yang Memengaruhi Pengetahuan
Faktor yang memengaruhi pengetahuan antara lain (Notoatmodjo, 2012a).
1) Faktor Internal
a) Pendidikan
Pendidikan diartikan bimbingan yang diberikan seseorang terhadap
perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang
menjadikan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk
mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan gunakan untuk
mendapatkan informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan
sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup.
b) Pekerjaan
Lingkungan pekerjaan dapat dijadikan seseorang memperoleh
pengalaman dan pengetahuan baik secara langsung maupun secara
tidak langsung.
c) Umur
Bertambahnya umur pada seseorang, tingkat kematangan dan kekuatan
28
seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Pada segi
kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa lebih dipercaya
dari orang yang belum tinggi kedewasaannya. Dalam hal ini ditentukan
dari pengalaman dan kematangan jiwa.
2) Faktor Eksternal
a) Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia
dan pengaruhnya yang dapat memengaruhi perkembangan dan perilaku
orang atau kelompok.
b) Sosial Budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat memengaruhi
dari sikap dalam menerima informasi.
c. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan terhadap objek pada seseorang mempunyai intensitas
atau tingkat yang berbeda – beda. Secara garis besarnya dibagi 6 tingkat,
yakni: (Notoatmodjo, 2012a).
1. Tahu (know)
Tahu dapat diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang
telah ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.
2. Memahami (Comprehensif)
Memahami terhadap suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek
tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus
dapat mengintreprestasikan secara benar tentang bagaimana objek
yang diketahui tersebut.
3. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi dapat diartikan apabila orang yang telah memahami objek
yang dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang
telah diketahui tersebut pada situasi yang lain.
4. Analisis (Analysis
Analisis adalah kemampuan pada seseorang untuk menjabarkan dan
atau memisahkan, kemudian mencari hubungan diantara komponen-
komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang
29
diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan pada seseorang itu sudah
sampai pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat
membedakan, memisahkan, mengelompokkan, membuat diagram
(bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.
5. Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk suatu kemampuan pada seseorang untuk
merangkum atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari
komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain
bahwa sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi
baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.
6. Evaluasi
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan pada seseorang untuk melakukan
penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya
didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma
yang berlaku dimasyarakat.
d. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau
angket yang menayakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek
penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2012b).
Pengukuran pengetahuan dilakukan menggunakan wawancara atau
angket yang yang ingin diketahui atau diukur dapat disesuaikan dengan
tingkat pengetahuan pada responden yang meliputi tahu, memahami,
aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Adapun pertanyaan yang dapat
digunakan untuk pengukuran pengetahuan secara umum dapat
dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu pertanyaan subjektif, misalnya
pada jenis pertanyaan essay dan pertanyaan objektif, misalnya pertanyaan
pilihan ganda, (multiple choice), betul-salah dan pertanyaan menjodohkan.
Pengukuran pengetahuan dengan memberikan pertanyaan, kemudian
dilakukan penilaian 1 untuk jawaban benar dan nilai 0 untuk jawaban
salah. Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan jumlah skor yang
diharapkan (tertinggi) kemudian dikalikan 100% dan hasilnya prosentase
kemudian digolongkan menjadi 3 kategori yaitu kategori baik (76-100%),
sedang atau cukup ( 56%-75%), dan kurang ( <55%) (Arikunto, 2012).
30
2.1.4 Pendidikan
a. Pengertian Pendidikan
Definisi pendidikan kesehatan suatu penerapan konsep pendidikan
didalam bidang kesehatan. Ditinjau dari segi pendidikan, pendidikan
kesehatan adalah suatu pedagogik praktis atau praktek pendidikan. Oleh
sebab itu konsep pendidikan kesehatan adalah suatau proses belajar yang
berarti didalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan,
atau perubahan yang lebih dewasa, lebih baik dan dan lebih matang pada
diri individu, kelompok atau masyarakat. Selain konsep pendidikan
kesehatan tersebut di atas, para ahli pendidikan kesehatan juga telah
mencoba membuat batasan tentang pendidikan kesehatan yang berbeda-
beda. Sesuai dengan konsep mereka masing-masing tentang pendidikan
(Notoatmodjo, 2012a).
b. Metode Pendidikan
Menurut (Notoatmodjo, 2012a), metode pendidikan kesehatan
merupakan salah satu faktor yang memengaruhi suatu proses pendidikan
disamping masukannya sendiri juga metode, matri atau peseannya,
pendidik atau petuga yang melakukannya, dan alat-alat banu atau peraga
pendidikan. Untuk tercapainya suatu hasil pendidikan secara optimal.
Metode yang dikemukakan adalah :
Metode pendidikan perorangan (individual) Dalam pendidikan
kesehatan, metode ini digunakan sebagai pembina perilaku baru atau
seseorang yang telah mulai tertarik pada suatu perubahan perilaku atau
inovasi. Dasar digunakan pendekatan induvidual ini karena setiap orang
mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda sehubungan dengan
penerimaan atau perilaku baru tersebut. Bentuk pendekatan ini antara lain:
1) Bimbingan dan penyuluhan Dengan cara ini kontak antara klien
dengan petugas lebih intensif. Setiap permasalah yang dihadapi oleh
klien dapat dikoreksi dan dibantu penyelesaiannya. Akhirnya klien
dengan sukarela, berdasarkan kesadaran dan penuh pengertian akan
menerima perilaku tersebut.
2) Wawancara (interview) Cara ini sebenarnya merupakan bagian dari
31
bimbingan dan penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan
dengan klien untuk menggali informasi mengapa ia tidak atau belum
menerima perubahan, ia tertarik atau belum menerima perubahan,
untuk memengaruhi apakah perilaku tersebut sudah atau akan diadopsi
itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat, apabila
belum maka perlu penyuluhan yang lebih mendalam lagi.
Metode pendidikan kelompok untuk memilih metode
pendidikan kelompok harus mengingat besarnya kelompok sasaran
serta tingkat pendidikan formal pada sasaran. Untuk kelompok yang
besar, metodenya akan tidak sama dengan kelompok kecil. Efektifitas
suatu metode akan bergantung pula pada besarnya sasaran penyuluhan.
Metode ini mencakup :
1) Kelompok besar yaitu, apabila peserta penyuluhan lebih dari 15
orang. Metode yang baik untuk kelompok ini adalah seminar dan
ceramah. Ceramah Metode ini baik untuk diterapkan pada sasaran
yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam menggunakan metode ceramah
2) Kelompok kecil, yaitu apabila peserta penyuluhan kurang dari 15
orang. Metode yang cocok dengan kelompok ini adalah diskusi
kelompok, curah pendapat, bola salju, memainkan peranan,
permainan simulasi.
Metode pendidikan massa (public) dalam metode ini pendidikan
(pendekatan) massa untuk memberikan pesan-pesan kesehatan yang
ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau public. Oleh
karena sasaran bersifat umum dalam arti tidak membedakan golongan
umur, jenis kelamin, pekerjaan, status ekonomi, tingkat pendidikan dan
sebagainya, maka pesan kesehatan yang akan disampaikan harus
dirancang sedemikian rupa sehingga dapat ditangkap oleh massa
tersebut. Pada umumnya bentuk pendekatan massa ini tidak langsung,
biasanya menggunakan 10 media massa. Beberapa contoh dari metode
ini adalah ceramah umum, pidato melalui media massa, stimulasi,
dialog antara pasien dan petugas kesehatan, sinetron, tulisan dimajalah
32
atau koran, bill board yang di pasang dipinggir jalan, spanduk, poster,
dan sebagainya (Notoatmodjo, 2012a).
c. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pendidikan
Pendidikan Keberhasilan suatu pendidikan kesehatan dapat dipengaruhi
oleh faktor penyuluh, sasaran dan proses pendidikan
(Notoatmodjo,2012a).
Didalam kegiatan belajar terdapat tiga persoalan pokok, yakni persoalan
masukan (input), proses, dan persoalan keluaran (output).
1) Persoalan Masukan (input) menyangkut sasaran belajar (sasaran didik)
yaitu individu, kelompok, atau masyarakat yang sedang belajar itu
sendiri dengan berbagai latar belakang.
2) Persoalan Proses menyangkut mekanisme dan interaksi terjadinya
perubahan kemampuan (perilaku) pada diri subjek belajar tersebut. Di
dalam proses ini akan terjadi pengaruh timbal balik antara berbagai
faktor antara lain: subjek belajar, pengajar (pendidik atau fasilitator)
metode dan teknik belajar, alat bantu belajar serta materi atau bahan
yang dipelajari.
3) Persoalan keluaran (output) merupakan hasil belajar itu sendiri, yaitu
berupa kemampuan atau perubahan perilaku dari subjek belajar
d. Cara mengukur Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan, perbedaan jenjang pendidikan seseorang. Cara
untuk mengukur dengan menggunakan kuesioner. Tingkat pendidikan
adalah sekolah terakhir pendidikan formal yang dilalui pekerja. Kategori :
(1) SD (2) SMP / SLTP (3) SMA / SLTA (Notoatmodjo,2012b).
2.1.5 SIKAP
a. Pengertian Sikap
1) Teori Stimulus Organism Respons (S-O-R)
Sikap adalah merupakan suatu reaksi dari seseorang yang masih
tertutup terhadap sebuah stimulus atau objek tertentu yang melibatkan
faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan. Sikap bukanlah suatu
33
tindakan dari seseorang, tetapi merupakan kecenderungan tindakan dari
perilaku (Notoatmodjo, 2012a).
Sikap merupakan sebuah respon seseorang yang cenderung menetap
terhadap perasaan dan keyakinan. Sikap seseorang terhadap suatu objek
tertentu dapat dinilai dengan melihat perasaan dalam hatinya, memihak
atau tidak memihak pada objek tersebut (Azwar, 2013).
b. Tingkatan Sikap
Menurut Notoatmodjo (2012a), sikap memiliki 4 tingkatan yang berbeda-
beda yaitu :
1) Menerima (Receiving)
Menerima merupakan tingkatan paling rendah. Menerima merupakan
keadaan dimana seseorang (subjek) mau menerima dan memperhatikan
stimulus (objek) yang diberikan.
2) Merespon (Responding)
Keadaan dimana seseorang saat diberikan pertanyaan, maka akan
memberikan sebuah jawaban atau menanggapi pertanyaan tersebut dan
mengerjakannya jika diberikan tugas.
3) Menghargai (Valuating)
Keadaan dimana seseorang diberikan suatu masalah, maka akan
mengajak orang lain untuk berdiskusi atau mengerjakan masalah
tersebut.
4) Bertanggung jawab (Responsible)
Tingkatan sikap yang terakhir yaitu bertanggung jawab atas segala
sesuatu yang telah dipilihnya dan berani menghadapi segala resikonya.
c. Faktor-faktor yang Memengaruhi Sikap
Terdapat 6 faktor yang memengaruhi sikap seseorang (Azwar, 2013),
yaitu :
1) Pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi yang pernah dialami akan memberikan pengaruh
atau dapat membentuk sikap dari seseorang. Pengalaman pribadi yang
terjadi secara terus-menerus atau dialami secara berulang-ulang dapat
34
meninggalkan kesan yang kuat dan mendalam dan susah untuk
dilupakan.
2) Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pada umumnya, orang lain dapat memengaruhi pembentukan sikap
dari seseorang terhadap penilaian suatu stimulus atau objek tertentu.
Orang lain yang di anggap penting oleh seseorang cenderung memiliki
kesamaan sikap dengannya.
3) Kebudayaan
Setiap daerah memiliki kebudayaannya masing-masing. Sikap yang
terbentuk dari diri seseorang secara tidak disadari di pengaruhi oleh
kebudayaaan yang tumbuh dan berkembang di lingkungannya.
4) Media massa
Media massa mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan opini
dan kepercayaan seseorang. Berbagai bentuk media massa seperti
televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain yang berisi pesan-
pesan sugestif dapat mengarahkan pikiran seseorang untuk menilai
sesuatu.
5) Lembaga pendidikan dan Lembaga agama
Lembaga pendidikan dan Lembaga agama memiliki peran yang
penting dalam pembentuka sikap seseorang. Kedua Lembaga tersebut
membentuk dasar pengertian dan konsep moral dalam diri seseorang
6) Pengaruh faktor emosional
Sikap yang dimiliki seseorang tidak semuanya ditentukan oleh
lingkungan dan pengalaman pribadinya. Terkadang sikap seseorang
merupakan bentuk pernyataan emosi yang berfungsi sebagai
penyaluran frustasi atau pengalihanbentuk pertahanan ego.
d. Cara Pengukuran Sikap
Salah satu aspek yang sangat penting guna untuk memahami sikap
dan perilaku manusia adalah masalah pengungkapan (assesment) dan
pengukuran (Azwar S, 2013), ada berbagai cara untuk melakukan
pengukuran sikap ini yaitu sebagai berikut :
Skala Likert
35
Menurut likert dalam buku Azwar S (2013), sikap dapat diukur
menggunakan metode rating yang dijumlahkan. Metode ini merupakan
metode penskalaan untuk pernyataan sikap yang menggunakan distribusi
respon sebagai dasar penentuan nilai skalanya. Pada pengukuran skala
likert menggunakan interval 1,2,3,4.5, dari pernyataan “sangat setuju”
sampai sangat tidak setuju”. Nilai skala dari setiap pertanyaan tidak
ditentukan oleh derajat favourable masing-masing akan tetapi ditentukan
oleh distribusi respon setuju atau tidak setuju dari pernyataan kelompok
responden yang bertindak sebagai kelompok uji coba (pilot study)
Prosedur penskalaan dengan metode rating yang dijumlahkan didasari oleh
2 asumsi yaitu :
1) Setiap pernyataan sikap yang ditulis dapat disepakati sebagai
penyataan yang favourable atau pernyataan yang unfavourable
36
Andrianto (2020) laman media sosial seperti Facebook, Twitter,
Whatsapp, dan Youtube dibanjiri konten-konten COVID-19 yang saling
berlomba untuk menjadikan yang tercepat untuk menyampaikan kabar
pandemi kepada masyarakat, di media sosial informasi COVID-19 sangat
riuh sekali, seringkali berisik dan menimbulkan kebisingan yang akut.
Sejauh yang dirasakan oleh publik, banyaknya informasi COVID-19 telah
memenuhi kebutuhan informasi mereka namun tidak jarang justru malah
membuat kebingungan sekaligus panik di tengah masyarakat. Walau sudah
berusaha tetap tenang, tetap saja kebimbangan dirasakan publik. Banyak
orang yang bertanya-tanya informasi apa yang benar sebagai rujukan
berpikir untuk menentukan keputusan mereka dalam masa yang serba
tidak pasti seperti sekarang ini. Sesungguhnya masyarakat kita butuh
informasi yang benar dan pasti dari sumber-sumber terpercaya terutama
dari otoritas yang memang menjadi sumber kredibel. Bagi publik,
informasi tersebut penting memengaruhi kehidupan warga baik secara
individu, komunal, sosial, maupun institusional (Andrianto, 2020).
Kehadiran vaksinasi Corona Sinovac pada era new normal di
Indonesia memunculkan berbagai macam pandangan ditengah masyarakat
Indonesia. Informasi pro kontra terkait vaksin corana Sinovac banyak
beredar media social
b. Paparan Media dan Penggabungan Informasi
Terpaan media informasi dalam sistem komunikasi massa, tidak
sekedar menyangkut tentang apakah publik telah merasakan kemunculan
media massa publik itu sebenarnya dapat menerimainformasi atau pesan-
pesan yang disajikan oleh media massa tersebut. Rosengren menjelaskan
bahwa paparan media yang ditayangkan dapat diartikan dalam penggunaan
media massa oleh audiens yang dapat ditentukan dengan menggunakan
durasi waktu yang dihabiskan dalam berbagai media massa, bentuk media,
bentuk isi informasi dalam media, media massa yang digunakan dan
interaksi antara audiens dengan isi Informasi yang digunakan melalui
media massa untuk keseluruhan (Andrianto, 2020).
37
2.1.7 Kepercayaan
a. Pengertian
Menurut Kotler dan Keller (2012) kepercayaan adalah kesediaan
perusahaan untuk bergantung kepada mitra bisnisnya. Kepercayaan
tergantung pada beberapa faktor yaitu pribadi dan antar organisasi seperti
kompetensi, integritas, kejujuran dan kebaikan hati. Membangun
kepercayaan masyarakat bisa menjadi hal yang sulit dalam situasi online,
perusahaan menerapkan peraturan ketat kepada mitra bisnis online mereka
dibanding mitra lainnya. Pembeli bisnis khawatir bahwa mereka tidak
akan mendapatkan produk atau jasa sesuai dengan kualitas yang tepat dan
dihantarkan ke tempat yang tepat dengan waktu yang tepat, begitupun
sebaliknya.
Menurut Andromeda (2015) kepercayaan kepada konsumen
terhadap website online shopping terletak pada popularitas website online
shopping itu sendiri, semakin bagus suatu website, konsumen akan lebih
yakin dan percaya terhadap reliabilitas website tersebut
Menurut Gunawan (2013) kepercayaan adalah sebagai bentuk sikap
yang menunjukkan perasaan suka dan tetap bertahan untuk menggunakan
suatu produk atau merek. Kepercayaan timbul dari benak konsumen
apabila produk yang dibeli mampu memberikan manfaat atau nilai yang
diinginkan konsumen pada suatu produk. Kepercayaan dapat muncul
dalam bidang profesional yang berorientasi tugas dan ditujukan untuk
mencapai tujuan dan pribadi yang berkaitan pada interaksi sosial atau
emosional dan fokus pada hubungan itu sendiri. Kepercayaan yang
berkaitan pribadi akan menetap lebih lama dibandingkan dengan bidang
profesional. Individu yang memiliki rasa percaya dalam hal pribadi akan
menyerahkan segala aktivitasnya kepada orang lain karena yakin bahwa
orang tersebut seperti apa yang diharapkan.
38
lain ada tiga yaitu kemampuan (Ability), kebaikan hati (Benevolence), dan
integritas (Integrity). Ketiga faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1) Kemampuan (Ability)
Kemampuan meliputi keterampilan, kompetensi, dan karakteristik
yang memungkinkan seseorang untuk memiliki pengaruh dalam
beberapa domain tertentu. Kemampuan mengacu kepada kompetensi
serta karakteristik seseorang dalam memengaruhi. Dengan kemampuan
yang akan memunculkan keyakinan akan seberapa baik orang lain
memperlihatkan performanya sehingga akan mendasari munculnya
kepercayaan orang lain terhadap individu.
2) Kebaikan Hati (Benevolence)
Kebaikan hati sesorang berkaitan dengan intensi dan ketertarikan
dalam diri seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain. Kebaikan
hati sesorang merupakan sejauh mana trustee diyakini ingin berbuat
baik untuk trustor tersebut, selain dari motif keuntungan egosentris.
Kebaikan hati menunjukkan bahwa trustee seseorang memiliki
beberapa keterikatan khusus untuk trustor tersebut. Contoh keterikatan
ini merupakan hubungan antara mentor (trustee) dan anak didik
(trustor). Mentor mempunyai keinginan membentuk anak didik,
meskipun mentor tidak diperlukan untuk membantu, dan tidak ada
imbalan ekstrinsik untuk mentor.
3) Integritas
Integritas dibuktikan pada konsistensi terhadap ucapan dan
perbuatan diri seseorang, kejujuran yang disertai keteguhan hati dalam
menghadapi tekanan. Hubungan antara integritas dan kepercayaan ini
melibatkan persepsi trustor bahwa trustee berpegang pada prinsip-
prinsip yang ditemukan oleh trustor dan dapat diterima. Berbagai
masalah yang ada pihak trustee seperti tindakan konsistensi di masa
lalu, komunikasi yang dapat dipercaya tentang trustee dari pihak lain,
keyakinan bahwa trustee memiliki rasa keadilan yang kuat serta sejauh
mana tindakan sesuai dengan kata- katanya, berdampak pada tingkatan
pihak yang dinilai memiliki integritas (Mayer, 2014)
39
Kurangnya salah satu dari ketiga faktor tersebut, dapat
melemahkan kepercayaan. Jika kemampuan, kebaikan hati dan
integritas semua dianggap tinggi pada sesorang, trustee akan dianggap
cukup dapat dipercaya. Namun kepercayaan ini harus dianggap sebagai
sebuah kontinum bukan trustee yang baik dapat dipercaya atau tidak
dapat dipercaya. Masing- masing dari ketiga faktor tersebut dapat
bervariasi sepanjang kontinum (Sari, 2017).
c. Jenis-Jenis Kepercayaan
1) Kepercayaan Objek – Atribut
Kepercayaan objek-atribut menghubungkan objek, terhadap seseorang,
barang, atau jasa, dengan atribut. Jadi kepercayaan merupakan sebuah
kendaraan roda empat dikendarai di jalan pedesaan merupakan
kepercayaan objek-atribut. Melalui kepercayaan objek-atribut,
konsumen menyatakan bahwa yang mereka ketahui tentang sesuatu
dalam hal variasi atributnya.
2) Kepercayaan Atribut-Manfaat
Kepercayaan adalah persepsi konsumen tentang seberapa jauh
sebuah atribut tertentu menghasilkan atau memberikan manfaat
tertentu. Seseorang akan mencari produk dan jasa yang akan
menyelesaikan masalah-masalah dan memenuhi kebutuhan mereka,
atau dengan kata lain, memiliki atribut yang akan memberikan
manfaat terhadap apa yang dikenal.
3) Kepercayaan Objek-Manfaat
Kepercayaan objek-manfaat merupakan persepsi konsumen tentang
seberapa jauh produk, orang, atau jasa tertentu.
d. Pengukuran Kepercayaan
Kepercayaan diukur berdasarkan skala Likert. Nilai tertinggi tiap
satu pertanyaan adalah 4
Bobot setiap pertanyaan adalah sebagai berikut:
40
2.1.8 PERILAKU
a. Pengertian Perilaku
Menurut Notoatmojo (2012a), perilaku merupakan hasil dari pada
segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkunganya
yang terwujuddalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku
adalah respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari
luar maupun dari dalam dirinya. Perilaku adalah cara bertindak yang
menunjukkan tingkah laku seseorang dan merupakan hasil kombinasi
anatomi, fisiologi dan perkembangan psikologis
b. Perilaku Kesehatan
Berdasarkan batasan perilaku Skiner dalam Notoatmodjo (2012a),
maka perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme)
terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit
serta sistem pelayanan kesehatan, makanan, minuman serta lingkungan.
Respon manusia dapat bersifat pasif (pengetahuan, sikap, dan persepsi)
maupun bersifat aktif (tindakan atau praktik). Perilaku sehat merupakan
pengetahuan, sikap, tindakan, pro aktif untuk memelihara dan mencegah
risiko terjadinya penyakit . Dari batasan tersebut perilaku kesehatan dapat
diklasifikasikan menjadi tiga kelompok:
1. Perilaku Pemeliharaan Kesehatan (health maintanance):
Perilaku pemeliharaan kesehatan adalah perilaku atau usaha-usaha
seseorang untuk memelihara dan menjaga kesehatan agar tidak sakit dan
usaha untuk penyembuhan bila mana sakit.
2. Perilaku pencarian serta penggunaan system atau fasilitas pelayanan
kesehatan.
Sering disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behaviour).
Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau Tindakan seseorang pada saat
menderita atau kecelakaan (Notoatmodjo, 2012a).
3. Perilaku Kesehatan lingkungan.
a. Perilaku kesehatan lingkungan merupakan bagaimana seseorang
merespons lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya
dan sebagainya, sehingga lingkungan tersebut tidak memengaruhi
41
kesehatannya. Dengan perkataan lain, bagaimana seseorang mengelola
lingkungannya sehingga tidak mengganggu kesehatannya sendiri,
keluarga atau masyarakatnya (Notoatmodjo, 2012a).
b. Praktik atau perilaku kesehatan sesorang mencakup tindakan
sehubungan dengan penyakit (pencegahan dan penyembuhan
penyakit), tindakan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, dan
tindakan kesehatan lingkungan. Becker dalam Notoatmodjo (2012a),
membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan yaitu :
a) Perilaku hidup sehat (healthy behaviour) merupakan perilaku-
perilaku yang berkaitandengan upaya atau kegiatan seseorang
untuk mempertahankan dan meningkatkankesehatannya.
b) Perilaku sakit (illness behaviour). Perilaku sakit ini mencakup
semua respons seseorang terhadap sakit dan penyakit, persepsinya
terhadap sakit, pengetahuan tentang penyebab penyakit, gejala
penyakit, pengobatan penyakit dan sebagainya.
c) Perilaku peran sakit (the sick role behaviour). Dari segi sosiologi,
orang yang sakit (pasien) mempunyai peran, yang mencakup hak-
hak orang sakit (right) dan kewajiban sebagai orang sakit
(obligation).
c. Determinan Perilaku
Notoatmodjo (2012a), seorang ahli psikologi pendidikan membagi
perilaku manusia kedalam tiga ranah atau kawasan, yaitu kognitif, afektif,
psikomotor yang dijelaskan sebagai berikut :
1) Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2012a), pengetahuan adalah apa yang diketahui
oleh seseorang tentang sesuatu hal yang didapat secara formal maupun
nformal. Menurut teori [Link] menerangkan bahwa pengetahuan
merupakan faktor awal dari suatu perilaku yang diharapkan dan pada
umumnya berkorelasi positip dengan perilaku. Pengetahuan Kesehatan
akan perpengaruh kepada perilaku sebagai hasil jangka menengah
(intermediate impact) dari pendidikan kesehatan.
42
2) Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon sesorang yang masih tertutup dari
seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Menurut Newcomb
dalam Notoatmodjo (2012a), salah seseorang ahli psikologis sosial
menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan ketersediaan untuk
bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap
belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi
masihmerupakan predis posisi tindakan suatu perilaku. Sikap
seseorang akan memengaruhi perilaku kesehatan, sikap positif
seseorang akan menghasilkan perilaku kesehatan yang positif pula.
3) Praktik
Suatu sikap yang belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan,
untuk mewujudkan sikap dalam suatu perbuatannya maka diperlukan
faktor pendukung. Praktik adalah melaksanakan atau mempraktikkan
sesuatu apa yang diketahui dan disikapi oleh seseorang. Praktik
kesehatan ini dapat dikatakan tindakan sehubungan dengan penyakit
(pencegahan dan penyembuhan penyakit) (Notoatmojo 2012a). Praktik
memiliki beberapa tingkatan, yaitu :
a) Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih suatu objek sehubungan dengan tindakan
yang akan diambil.
b) Respons terpimpin (guided response)
Dapat melakukan tindakan sesuai dengan urutan yang benar dan
sesuai dengan contoh.
c) Mekanisme (mecanism)
Apabila seseorang telah melaksanakan sesuatu dengan benar secara
otomatis sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan.
d) Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang
dengan baik.
43
d. Jenis Perilaku
Jenis-jenis perilaku individu menurut :
1) Perilaku sadar, perilaku yang melalui kerja otak dan pusat susunan
saraf
2) Perilaku tak sadar, perilaku yang dilakukan spontan atau instingtif
3) Perilaku tampak dan tidak tampak
4) Perilaku sederhana dan kompleks
5) Perilaku kognitif, afektif, konatif, dan psikomotor.
e. Bentuk-Bentuk Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2012a), dilihat dari bentuk respons terhadap
rangsangan (stimulus), maka perilaku dibedakan menjadi dua :
1) Bentuk pasif /perilaku tertutup (covert behavior).
Respons seseorang terhadap suatu stimulusi dalam bentuk terselubung
atau tertutup. Respons atau reaksi ini terhadap stimulus yang masih
terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran serta sikap
yang terjadi pada seseorang yang menerima stimulus tersebut.
2) Perilaku terbuka (overt behavior)
Respons yang terjadi terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam
bentuk tindakan atau praktik, yang dengan mudah dapat diamati atau
dilihat orang lain.
g. Bentuk-bentuk Perubahan Perilaku
Perubahan perilaku dikelompokkan menjadi:
1) Perubahan Alamiah (Natural Change)
Sebagian perubahan perilaku disebabkan karena kejadian alamiah.
Apabila dalam masyarakat sekitar terjadi karena suatu perubahan
lingkungan fisik atau sosial budaya dan ekonomi, maka anggota-
anggota masyarakat di dalamnya juga akanmengalami perubahan.
2) Perubahan Terencana (Planned Change)
Perubahan perilaku ini terjadi karena memang direncanakan sendiri
oleh subyek
3) Kesediaan untuk berubah (Readdiness to Change)
44
Apabila terjadi inovasi atau program-program pembangunan
masyarakat, maka yang sering terjadi adalah seseorang sangat cepat
untuk menerima inovas baru atau perubahan tersebut (berubah
perilakunya) dan sebagian orang lagisangat lambat untuk menerima
inovasi atau perubahan tersebut. Hal ini disebabkan setiap orang
mempunyai kesediaan untuk berubah (readdiness to change) yang
berbeda-beda
h. Strategi Perubahan Perilaku
Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku oleh WHO dalam
buku Notoadmodjo (2012a):
1) Menggunakan Kekuatan/Kekuasaan atau Dorongan
Merupakan perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran atau
masyarakat sehingga ia mau melakukan (berperilaku) seperti yang
diharapkan. Cara ini dapat ditempuh dengan adanya peraturan-
peraturan/perundang-undangan yang harus dipatuhi oleh anggota
masyarakat.
2) Pemberian Informasi
Dengan memberikan informasi-informasi tentang cara bagaimana
mencapai hidup sehat, cara pemeliharaan kesehatan, cara menghindari
suatu penyakit dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan
masyarakat tentang hal tersebut.
3) Diskusi Partisipasi
Cara ini adalah sebagai peningkatan cara pemberian informasi
kesehatan tidak bersifat searah saja, tetapi dua arah. Artinya
masyarakat tidak hanya pasif menerima informasi, tetapi juga harus
aktif berpartisifasi melalui diskusi-diskusi tentang informasi yang
diterimanya.
i. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Perilaku
Notoatmodjo (2012), perilaku ditentukan olehfaktor, yaitu:
1) Faktor Predisposisi (Prediposisi Factors)
Faktor predisposisi terdiri beberapa hal, antara lain pengetahuan dan
sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi, dan kepercayaan
45
masyarakat tentang masalah kesehatan, sistem nilai diadopsi oleh
masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan dan masih
banyak lagi.
2) Faktor Pendukung (Enabling Factors)
Aspek ini merupakan ketersediaan alat, sarana dan prasarana atau
fasilitas kesehatan warga.
3) Faktor Penguat (Reinforcing Factors)
Sikap serta perilaku petugas dalam mendukungan suami dan perilaku
tokoh masyarakat.
46
kurangnya pengetahuan, sikap dan perilaku lansia; (2) kurangnya dukungan
dari keluarga untuk vaksinasi COVID-19; dan (3) lemahnya implementasi
vaksinasi COVID-19 bagi lansia.
Durhan (2021) meneliti pengaruh paparan informasi melalui media sosial
terhadap tingkat kepercayaan masyarakat mengenai vaksin Corona Sinovac
bagi kesehatan di kota Makassar berdasarkan uji t diketahui nilai t hitung
0,217 dan nilai t tabel 1,998 maka nilai t hitung 0,217 < t tabel 1,998.
47
2.3 KERANGKA PIKIR
Kerangka berfikir penelitian ini mengacu kepada kerangka teori yang ada
(Notoatmodjo, 2012a) pada studi pustaka yang telah dilakukan. Adapun
kontruksi kerja berfikir tersebut adalah sebagai berikut :
FaktorPredisposisi
(Predisposing factorrs)
1. Pendidikan
2. Pengetahuan
3. Sikap
4. Persepsi
5. Kepercayaan
6. Akses Informasi
Faktorpendorong
(reinforcing factor)
1. Sikap dan Perilaku petugas
kesehatan
2. Tokoh masyarakat
3. Dukungan social
4. Informasi Kesehatan
Gambar 2.2 Kerangka pikir berdasarkan L Green ( Notoatmodjo, 2012a)
48
2.4 KERANGKA KONSEP
Kerangka konsep penelitian adalah kerangka hubungan antara konsep-
konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang akan dilakukan
(Notoatmodjo, 2012b).
1. Pengetahuan
2. Pendidikan Perilaku Keikut sertaan dalam
3. Sikap Vaksinasi COVID-19
4. Informasi Kesehatan
5. Kepercayaan
2.5 HIPOTESIS
Hipotesis penelitian alternatif, yakni :
H1
1. Pengetahuan memengaruhi terhadap keikutsertaan vaksinasi COVID-19
pada masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah
2. Pendidikan memengaruhi terhadap keikutsertaan vaksinasi COVID-19
pada masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah
3. Sikap memengaruhi terhadap keikutsertaan vaksinasi COVID-19 pada
masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah
4. Informasi kesehatan memengaruhi terhadap keikutsertaan vaksinasi
COVID-19 pada masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah
5. Kepercayaan memengaruhi terhadap keikutsertaan vaksinasi COVID-19
pada masyarakat di Kabupaten Lampung Tengah
49
BAB 3
METODE PENELITIAN
51
3.5 Populasi dan Sampel
52
3.5.2 Sampel Penelitian
110 Sampel
Gambar 3.1 Alur flow chart sampel
Adapun kriteria inklusi dan eksklusi untuk kelompok tersebut adalah
sebagai berikut:
a. Kriteria inklusi
1. Warga Kabupaten Lampung Tengah berumur 18-59 tahun
2. Bersedia menjadi responden dalam penelitian
53
3. Sehat secara jasmani dan rohani
b. Kriteria eksklusi
1. Responden yang tidak mengisi kuesioner hingga selesai
2. Responden yang tidak mengembalikan kuesioner
3. Para pengidap penyakit kronik, seperti PPOK, asma, penyakit
jantung, penyakit gangguan ginjal, penyakit hati yang sedang
dalam kondisi akut atau belum terkendali, vaksinasi ditunda dan
tidak bisa diberikan.
4. Terkonfirmasi COVID-19 kurang dari 3 bulan
Dalam penelitian ini ditentukan 3 kecamatan yang akan di
lakukan dalam pengambilan sampel dengan jumlah 82.119 orang.
Dalam penelitian ini digunakan perhitungan sampel menurut rumus
Slovin (Sugiyono, 2012)
N
n =
1 + Ne²
Keterangan :
n : Total sampel 0
N : Total populasi
e : derajat toleransi 0.10
n= 82.119
1 + 82.119 x 0.10²
n = 99,8 dibulatkan 100 sampel + 10 % = 110 sampel
Untuk menentukan jumlah besar sampel pada wilayah
terpilih dengan menggunakan rumus Proportionate Stratified
Random Sampling sebagai berikut :
Nh
nh = n
N
Keterangan :
nh =Jumlah sampel terpilih dengan proportionate stratified random sampling
Nh = Jumlah populasi strata
N = Jumlah totaol populasi
n = Jumlah sampel (rumus slovin)
54
Tabel. 3.2 Jumlah sampel
1 Punggur 34.451 45
3 Kotagajah 20.522 29
55
3.7 Analisa Data
a Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi
dan karakteristik responden penelitian meliputi tingkat pendidikan,
pekerjaan, tingkat pengetahuan, sikap, kepercayaan dan informasi
kesehatan tentang keikutsertaan vaksinasi COVID-19
b Analisis Bivariat
Analisis variabel merupakan analisis variabel yang digunakan
terhadap dua variabel yaitu satu variabel independen dan satu
variabel dependen. Uji statistik dengan pertama kali menggunakan
uji Chi Square untuk tabel 2 x 2 namun bila tidak memenuhi syarat,
digunakan uji alternatif fisher exact (tabel 2x2) berdasarkan hasil
56
perhitungan variabel dapat dilihat kemaknaan hubungan antar
variabel berdasarkan probabilitas. Signifikansi sebesar 0,05
mempunyai kesempatan untuk benar sebesar 95% dan untuk salah
sebesar 5%. Jika angka signifikansi sebesar 0,05, maka tingkat
kepercayaan adalah sebesar 95%. Jika probabilitas (p-) <0,05 maka
H0 ditolak dan H1 diterima.
c Analisis Multivariat
Analisis multivariat digunakan untuk melihat pengaruh antara
variabel dengan seluruh variabel yang diteliti yaitu seluruh variabel
independen, sehingga diketahui variabel mana yang paling dominan
berpengaruh dengan menggunakan uji regresi logistik. Adapun
tahapan proses analisis multivariat, sebagai berikut: 1 Memasukkan
variabel kandidat dalam proses analisis multivariat regresi logistik
dengan cara memilih variabel independen yang memiliki nilai p 0,25.
2 Melakukan analisis semua variabel independen yang masuk dalam
pemodelan dengan cara mengeluarkan variabel independen yang
memiliki nilai p ≥ 0,05 sehingga didapatkan model awal dengan
variabel faktor penentu yang memiliki nilai p 0,05.
57
BAB 6
PENUTUP
6.1 Simpulan
Berdasarkan uraian hasil penelitian yang telah di uraikan pada bab
sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Masyarakat yang mengikuti vaksinasi (93,6%), pengetahuan baik
(63,6%), pendidikan rendah (70%), sikap positif (55,5%), mengakses
informasi Kesehatan (62,7%), kepercayaan negatif mengikuti vaksinasi
(56,4%), jenis vaksin dosis I yang banyak dipakai Sinovac (49%),
jenis vaksin dosis II yang banyak dipakai Sinovac (48%), jenis vaksin
dosis booster yang banyak dipakai Pfizer (25%), dan dilihat alasan
mengikuti vaksinasi karena imunitas (89%).
2. Pengetahuan tidak terbukti memengaruhi dengan keikutsertaan
vaksinasi COVID-19 dan pada pemodelan multivariat variabel
pengetahuan tidak terbukti sebagai variabel memengaruhi
keikutsertaan vaksinasi COVID-19.
3. Tingkat pendidikan tidak memengaruhi dengan perilaku keikutsertaan
vaksinasi COVID-19.
4. Sikap masyarakat tidak memengaruhi dengan perilaku keikutsertaan
vaksinasi COVID -19.
5. Ada pengaruh akses informasi kesehatan terhadap perilaku
keikutsertaan vaksinasi COVID-19.
6. Ada pengaruh antara kepercayaan masyarakat terhadap perilaku
keikutsertaan vaksinasi COVID-19.
7. Faktor predosposisi yang paling dominan memengaruhi perilaku
keikutsertaan vaksinasi COVID-19 adalah informasi kesehatan dan
kepercayaan.
6.3 Saran
1. Bagi masyarakat dalam mencapai herd immunity yang belum
melakukan vaksinasi COVID-19 hendaknya segera melakukan
vaksinasi COVID-19 yang terdapat di fasilitas kesehatan terdekat atau
di pos pelayanan vaksin. Pemanfaatan obat tradisional untuk
pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, dan perawatan
kesehatan pada masyarakat agar tetap terus melakukan protokol
kesehatan dan melakukan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
2. Bagi SATGAS COVID-19 Kabupaten Lampung Tengah, Advokasi
dan penguatan kerjasama lintas sectoral dalam menumbuhkan
kepercayaan masyarakat untuk berpranserta aktif dalam upaya
pencegahan dan pengendalian penyakit terutama menikuti kegiatan
vaksinasi COVID-19. Pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama
tenaga kesehatan hendaknya terus berupaya untuk memberikan
informasi dan edukasi tentang manfaat vaksinasi untuk mencapai herd
immunity dan mengenali apabila terjadinya efek samping setelah
melakukan vaksinasi dengan melibatkan seluruh lintas sektor yang
memberikan dukungan kepada masyarakat sehingga upaya pencegahan
dan pengendalian COVID-19 melalui berbagai media baik media
online (internet) maupun offline (pamflet, leaflet, dan brosur-brosur)
karena penyebaran informasi ini dapat memberikan kontribusi
terhadap perilaku masyarakat dalam melakukan vaksinasi COVID-19.
3. Bagi peneliti lain yang ini melakukan penelitian terkait dengan
perilaku keikutsertaan vaksinasi COVID-19 hendaknya dapat
menggunakan metode penelitian lain seperti metode kualitatif ataupun
media digital google form sehingga hasilnya dapat memperkuat
penelitian ini dan dapat memberikan informasi yang lebih luas bagi
perkembangan informasi dalam dunia kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Kotler, Philip dan Kevin Lane Keller. 2012. Marketing Management. Edisi 13.
New Jersey : Pearson Prentice Hall, Inc.
Pusat Kajian Anggaran Sekretariat Jendral DPR RI. (2022). Budget Issui Brief
Kesejahteraan Rakyat, Jakarta