0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
279 tayangan34 halaman

PROPOSAL

Diunggah oleh

Faraaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
279 tayangan34 halaman

PROPOSAL

Diunggah oleh

Faraaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENDAPATAN

PETANI KAKAO DI DESA KAPIROE KECAMATAN PALOLO


KABUPATEN SIGI

PROPOSAL

MAGFIRLI

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2024
ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENDAPATAN
PETANI KAKAO DI DESA KAPIROE KECAMATAN PALOLO
KABUPATEN SIGI

“Disusun Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mendapatkan Gelar Sarjana pada”
Program Studi Agribisnis Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian
Fakultas Pertanian Universitas Tadulako

Oleh

MAGFIRLI
E 321 20 145

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS


JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2024

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Analisis Faktor Faktor Yang Memengaruhi Pendapatan


: Petani Kakao Di Desa Kapiore Kecamatan Palolo
Kabupaten Sigi
Nama : Magfirli
Stambuk : E32120145
Program Studi : Agribisnis
Jurusan : Sosial Ekonomi Pertanian
Fakultas : Pertanian
Universitas : Tadulako

Palu,

Menyetujui

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

Prof. Dr. Ir. Hj. Marhawati M, MT Made Krisna Laksmayani Antara SP., MP
NIP : NIP :

Disahkan Oleh:
an. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Tadulako
ub. Koordinator Program StudiAgribisnis

Dr. Alimuddin Laapo, S.P .,[Link]


NIP. 197304211999031002

iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan

rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan

proposal penelitian ini dengan judul “Analisis Faktor Faktor Yang

Memengaruhi Pendapatan Petani Kakao Di Desa Kapiore Kecamatan Palolo

Kabupaten Sigi”. Dapat tersusun sebagai syarat untuk menyelesaikan Studi

Strata Satu (S1) Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas

Tadulako.

Penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-

besarnya kepada dosen pembimbing Ibu Prof. Dr. Ir. Hj. Marhawati M, MT.

Selaku Dosen Pembimbing Utama dan Ibu Made Krisna Laksmayani Antara

SP., MP Selaku Dosen Pembimbing Anggota yang telah meluangkan waktunya

untuk memberikan bimbingan dan pengarahan sampai terselesaikannya proposal

ini. Serta semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu, terima kasih

atas bantuan, nasehat dan dorongan dalam penulisan proposal ini.

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan

proposal ini. Penulis berharap semoga proposal ini dapat menjadi salah satu bahan

reverensi atau tambahan ilmu pengetahuan dan bermanfaat bagi pihak-pihak yang

memerlukan.

iv
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL i
HALAMAN JUDUL ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR TABEL vi
DAFRAT GAMBAR vii

I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang.......................................................................... 1
I.2. Rumusan Masalah..................................................................... 7
I.3. Tujuan Penelitian...................................................................... 7
I.4. Manfaat Penelitian .................................................................... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Penelitian Terdahulu................................................................. 8
2.2. Landasan Teori......................................................................... 11
2.2.1 Sekilas Tentang Tanaman Kakao..................................... 11
2.2.2 Konsep Usahatani............................................................ 12
2.2.3 Konsep Biaya Usahatani.................................................. 12
2.2.4 Konsep Penerimaan.......................................................... 13
2.2.5 Konsep Pendapatan.......................................................... 14
2.2.6 Konsep Analisis Regresi Linier Berganda....................... 14
2.3 Bagan Alir Penelitian................................................................ 15

III. METODE PENELITIAN


3.1 Tempat Dan Waktu Penelitian.................................................. 16
3.2 Penentuan Responden............................................................... 16
3.3 Teknik Pengumpulan Data........................................................ 17
3.4 Analisis Data............................................................................. 17
3.4.1 Analisis Pendapatan Usahatani Kakao........................... 17
3.4.2 Analisis Regresi Linier Berganda................................... 18
3.5 Konsep Operasional.................................................................. 21

DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 24

v
DAFTAR TABEL

Nomor. Halaman

1. Perkembangan Luas Lahan, Produksi dan Produktivitas Tanaman


Kakao Di Provinsi Sulawei Tengah 2018-2022 2

2. Luas Panen, Produksi Dan Produktivitas Tanaman Kakao di Sulawesi


Tengah Menurut Kabupaten, 2023 3

3. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Kakao di Kabupaten


Sigi Menurut Kecamatan, Tahun 2023 4

4. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Kakao di Kecamatan


Palolo Menurut Desa, Tahun 2023 5

vi
DAFTAR GAMBAR

Nomor. Halaman

1. Bagan Alir Penelitian 15

vii
I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Salah satu sub sektor pertanian yang harus dikembangkan adalah sub

sektor perkebunan. Potensi yang perlu dikembangkan berkenaan dengan

diversifikasi komoditi khususnya dibidang perkebunan adalah komoditi kakao

baik di pasar domestik maupun di pasar internasional mempunyai prospek yang

baik antara lain yaitu dengan meningkatnya nilai ekspor secara terus meneruspada

komoditi kakao secara nasional, sehingga memberikan dan menambah devisa bagi

negara (Geonadi, dkk, 2005).

Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran

strategis dalam perekonomian Indonesia. Sebagai salah satu negara produsen

kakao terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk

mengembangkan industri kakao dan meningkatkan kesejahteraan petani kakao

Namun, produktivitas kakao Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan

dengan negara-negara produsen kakao lainnya. (Direktorat Jenderal Perkebunan,

2022).

Sulawesi Tengah diharapkan dapat menjadi pengekspor kakao dengan

terus menikatkan produksi dan produktivitas sehingga diharapkan kedepannya

indonesia tidak perlu lagi mengimpor kakao dari negara lain. Provinsi Sulawesi

Tengah merupakan salah satu daerah penghasil kakao di indonesia. Gambaran

perkembangan luas panen, produksi dan produktivitas tanaman kakao di Provinsi

Sulawei Tengah pada lima tahun disajikan pada tabel 1.

1
2

Tabel 1. Perkembangan Luas Lahan, Produksi dan Produktivitas Tanaman


Kakao di Provinsi Sulawesi Tengah 2018-2022
No. Tahun Luas Lahan Produksi Produktivitas
(Ha) (Ton) (Ton/Ha)
1. 2018 283.625,00 193.885,00 0,68
2. 2019 282.773,00 189.661,00 0,67
3. 2020 279.217,00 127.206,86 0,45
4. 2021 276.325,60 130.649,96 0,47
5. 2022 276.133,72 125.989,47 0,45
Jumlah 1.398.074,32 767.392,29 -
Rata-rata 279,614,86 153,478,45 0,54
Sumber : Badan Pusat Satistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tengah,2023

Tabel 1 menunjukan bahwa perkembangan produksi tanaman kakao di

Sulawesi Tengah pada tahun 2018-2022 yang berfluktuasi. Terjadinya fluktuasi

produksi ini disebabkan oleh adanya perubahan peningkatan dan penurunan luas

panen tiap tahun, adanya faktor cuaca dan iklim yang tidak menentu pada daerah

di Sulawesi Tengah, ganguan hama dan penyakit yang menyerang tanaman kakao

dan terjadinya fluktuasi harga sehingga bedampak pada peningkatan ataupun

penurunan jumlah produksi.

Kabupaten Sigi merupakan Kabupaten yang baru memisahkan diri dan

berdiri sendiri dari pemerintah Kabupaten Donggala. Kabupaten Sigi terbentuk

sejak tanggal 15 Januari 2008, kini merupakan salah satu daerah penghasil kakao

di Provinsi Sulawesi Tengah. Gambaran mengenai perkembangan luas panen,

produksi dan produktivitas tanaman kakao di Kabupaten Sigi jelas terlihat pada

Tabel 2.
3

Tabel 2. Luas Panen, Produksi Dan Produktivitas Tanaman Kakao di


Sulawesi Tengah Menurut Kabupaten, 2023
No Kabupaten/Kota Luas Panen Produksi Produktivitas
(Ha) (Ton) (Ton/Ha)
1. Banggai Kepulauan 5.976,30 270,00 0,45
2. Banggai 45.777,80 15.338,48 0,33
3. Morowali 5.622 1.727,75 0,30
4. Poso 38.553 24.498,20 0,63
5. Donggala 31.365 18.287,62 0,58
6. Toli-Toli 21.254 7.095,58 0,33
7. Buol 6.909 2.173,20 0,31
8. Parigi Moutong 66.839 28.713,23 0,42
9. Tojo Una-Una 10.742 3.603,60 0,33
10. Sigi 27.887,50 19.498,65 0,69
11. Banggai Laut 757,82 85,85 0,11
12. Morowali Utara 14.234,50 4.645,30 0,32
13. Palu 215,80 52,30 0,24
Jumlah 276.133,72 125.989,79 -
Rata-rata 21.241,05 9.691,52 0,38
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawei Tengah, 2024

Tabel 2 menunjukan bahwa Kabupaten Sigi merupakan penghasil

Kakao terbesar kedua setelah Kabupaten Banggai, dengan luas panen

sebesar 27.887,50 ha dan produksi sebesar 19.498,65 ton serta

produktivitas sebesar 0,69 ton/ha. Peningkatan pendapatan petani dari

hasil usahatani kakao ini, secara umum diketahui membutuhkan biaya

produksi yang relatif cukup besar, terutama untuk pembelian sarana

produksi, seperti benih, pupuk, dan upah tenaga kerja. Hal ini akan sangat

berpengaruh terhadap pendapatan yang diperoleh petani dari hasil

usahatani kakao.
4

Kecamatan palolo memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat

besar terutama disektor pertanian dan perkebunan sehingga membutuhkan

pengelolaan yang lebih intensif. Kecamatan palolo merupakan salah satu

kecamatan penghasil kakao yang ada di Kabupaten Sigi. Lebih jelas data

luas panen, produksi, dan produktivitas tanaman kakao Kecamatan palolo

terlihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Luas Panen, Produksi Dan Produktivitas kakao di Kabupaten sigi


Menurut Kecamatan, Tahun 2023
No Kecamatan Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha)
1. Dolo 246.0 153,755 0,62
2. Dolo selatan 1,228.0 1,348,20 1,09
5
3. Dolo barat 292.0 404,050 1,38
4. Kinovara 62.0 1,981,53 31,96
1
5. Marawola 50.0 75,268 1,50
6. Marawola barat 92.0 71,290 0,77
7. Biromaru 278.0 57,187 0,20
8. Gumbasa 728.0 837,697 1,15
9. Ttanambulava 1,027.0 699,204 0,68
10. Palolo 9,033.0 8,874,34 0,98
8
11. Nokilalaki 872.4 15,472 0,01
12. Kulawi 3,217.6 2,321,31 0,72
0
13. Kulawi selatan 635.0 854,406 1,34
14. Lindu 799.0 630,806 0,78
15. Pipikoro 1,579.0 1,174,12 0,74
5
Jumlah 20.139 94.691 -
5

Rata-rata 1.342,6 6.312,91 2,928


Sumber:Dinas Perkebunan Dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah 2024

Tabel 3 menunjukan luas panen, produksi dan produktivitas

tanaman kakao di beberapa desa menurut Kecamatan Palolo 2023.

mempunyai lahan seluas 9,033.0 Ha. dengan produksi 8,874,348 ton dan

produktivitas 0,98 ton/ha

Tabel 4. Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Kakao di


Kecamatan Palolo Menurut Desa, Tahun 2023
No Kecamatan Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Produktivitas (Ton/Ha)
1. Sigimpu 650 450 0,69
2. Bakubakulu 117 40,5 0,34
3. Bobo 253,25 150 0,59
4. Bunga 171,7 50 0,29
5. Kapiroe 215 100 0,46
6. Petimbe 219 157 0,71
7. Makmur 399,5 100 2,75
8. Ampera 600 350 0,58
9. Rejeki 570 350 0,61
10. Berdikari 7 5 0,71
11. Tanah Harapan 10 5 0,05
12. Ranteleda 15 8 0,53
13. Sarumana 350 250 0,71
14. Sintuwu 442 250 0,57
15. Rahmat 240 116 0,48
16. Karunia 270 100 0,37
17 Bahagia 181 100 0,55
18 Sejahtera 119 50 0,42
19 Uerani 353,1 100 0,28
20. Uenuni 660 350 0,53
21. Tongoa 187,6 50 0,26
22. Lemban Tongoa 650 156 0,24
Jumlah 6.680,15 3.287,5 -
Rata-Rata 303,64 152,02 0,600
Sumber:Badan Penyuluhan Pertanian Kecamatan Palolo,2024

Tabel 4 menunjukan luas panen, produksi dan produktivitas


4

tanaman kakao di beberapa desa menurut Kecamatan Palolo 2023. Desa

Kapiroe mempunyai lahan seluas 215 hektar. dengan produksi 100 ton.

Hal ini menunjukkan bahwa luas lahan dan produksi kakao di Desa

Kapiroe masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan beberapa desa lain

di Kecamatan Palolo.
6

Dalam penelitian ini, faktor-faktor yang memengaruhi pendapatan

usahatani kakao ialah harga kakao, harga benih, harga pupuk, upah tenaga

kerja, luas lahan dan produksi. Penelitian mengenai faktor-faktor yang

memengaruhi pendapatan usahatani kakao tidak dapat dilepaskan dari

faktor-faktor yang disebut diatas (Soraya dkk, 2013).

Berdasarkan hasil observasi dilapangan, permasalahan dalam penelitian ini

adalah terjadinya fluktuasi harga kakao di pasar global seringkali tidak stabil,

yang membuat pendapatan petani sulit diprediksi. terbatasnya penggunaan faktor

faktor produksi yang dimiliki petani juga berpengaruh terhadap pendapatan

petani. Masalah kursial yang dihadapi petani adalah keberadaan pupuk kimia

bersubsidi yang semakin sulit didapatkan. Ketika pupuk bersubsidi tersedia

jumlahnya terbatas dan adanya persyaratan administratif yang harus dilengkapi

akibatnya selain langka harga pupuk menjadi mahal dan seringkali tidak

terjangkau oleh daya beli petani. Selain itu, teknik budidaya tanaman yang masih

rendah kurangnya penggunaan pupuk sehingga hasil produksi kakao menjadi

rendah dan pengolahan tanah yang kurang baik menyebabkan lahan sering

ditumbuhi gulma dapat menghambat pertumbuhan kakao. Hal ini melatar

belakangi penulis untuk melakukan penelitian guna mengkaji berapa besar

pendapatan usahatani kakao dan faktor-faktor apa saja yang memengaruhi

pendapatan yang diperoleh petani di Desa Kapiroe Kecamatan Palolo Kabupaten

Sigi. Berdasarkan kondisi yang terjadi di lapangan, diperlukan suatu pengkajian

mengenai “Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pendapatan Petani Kakao

Di Desa Kapiroe Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi”.


I.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang permasalahan penelitian (research problem)


adalah:
1. Berapa besar pendapatan petani kakao di Desa Kapiroe Kecamatan Palolo

Kabupaten Sigi ?

2. Bagaimana besaran faktor-faktor yang memengaruhi pendapatan petani

Kakao di Desa Kapiroe Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi ?

I.3 Tujuan Penelitian


Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengetahui berapa besar pendapatan petani kakao di Desa Kapiroe

Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi.

2. Untuk mengetahui besaran faktor-faktor yang memengaruhi pendapatan

petani kakao di desa Kapiroe kabupaten Sigi.

I.4 Manfaat Penelitian


Manfaat Penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini diharapkan mampu berguna sebagai bahan

pertimbangan pihak-pihak terkait dalam sistem agribisnis khususnya

dalam produksi usahatani kakao, sehingga dapat mengetahui apa yang

dibutuhkan petani dalam meningkatkan produksi usahataninya

2. Sebagai bahan informasi untuk pemerintah dalam pengambilan

keputusan dan penentuan kebijakan, swasta dan petani untuk

pengembangan skala usahanya

3. Sebagai bahan bacaan, informasi bagi peneliti dalam bidang yang

sama dan sebagai literatur pendukung maupun pembanding.

8
7

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

Sarlotha Y. Purimahua (2016) meneliti tentang “Analisis Fakor-Fakor

Yang Mempengaruhi pendapatan Petani Kakao” Penelitian ini dilakukan untuk

mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat produksi, luas lahan dan harga jual

kakao terhadap pendapatan petani kakao di Desa Murnaten Kecamatan Taniwel

Kabupaten Seram Barat. Berdasarkan hasil uji regresi, jumlah produksi

berpengaruh terhadap pendapatan petani kakao dengan pembuktian X1 =

8,54,1,81, maka hipotesis untuk (X1) yaitu H O ditolak dan Ha diterima, begitu

pula variabel X3 ( harga jual), nilai t X3 = 2,35 1,81. Dengan demikian variabel

X1 dan X3 berpengaruh positif terhadap pendapatan petani kakao, sedangkan

variabel X2 (luas lahan) tidak berpengaruh terhadap pendapatan petani kakao

karena berdasarkan uji nilai X2 = 0,38 1,81.

Syamsu alam (2017) meneliti tentang “ Faktor-Faktor Yang Memengaruhi

Pendapatan Petani Kakao Didesa Cendana Kecamatan Burau Kabupaten Luwu

Timur” Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa besar pengaruh

luas lahan, pupuk, modal, iklim, tenaga kerja dan penyuluh pertanian terhadap

pendapatan petani kakao di Desa Cendana Kecamatan Burau Kabupaten Luwu

Timur. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif, Sumber

data yang di gunakan berasal dari interview, observasi, dan dokumentasi. Jumlah

populasi dalam penelitian yaitu sebanyak 110 jiwa, dengan penarikan sampel

menggunakan rumus slovin menjadi 87 responden. Dengan teknik pengolahan

data menggunakan uji regresi linear berganda dengan bantuan software SPSS 23
9

for windows. Perhitungan yang dilakukan untuk mengukur frekuensi serta

presentase dari variasi total variabel dependen yang mampu dijelaskan oleh model

regersi. Dari hasil regresi di atas nilai R squared (R2 ) sebesar 0.732 ini berarti

variabel independen menjelaskan variasi pendapatan petani kakao di Desa

Cendana Kecamatan Burau Kabupaten Luwu Timur sebesar 73,2% sedangkan

sisanya 26,8% dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar penelitian. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa secara parsial modal, pupuk dan tenaga kerja

berpengaruh positif dan signifikan sedangkan variabel luas lahan, iklim dan

penyuluhan pertanian tidak berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap

pendapatan petani kakao dan secara simultan variabel luas lahan, modal, pupuk,

tenaga kerja dan penyuluh pertanian berhubungan positif terhadap pendapatan

petani kakao di Desa Cendana kecamatan Burau Kabupaten Luwu Timur.

Ahmad mairsa (2018) meneliti tentang “Analisis Pendapatan Usahatani

Kakao Pada Daerah Sentra Pengembangan Di Kecamatan Tapalang Kabupaten

Mamuju” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan Usahatani Kakao

pada daerah sentra pengembangan di Kecamatan Tapalang Kabupaten Mamuju.

Jumlah Populasi dalam penenlitian ini adalah sebanyak 250 orang. Dari jumlah

tersebut dilakukan teknik penarikan sampel dengan menggunakan metode acak

sederhana (simple random sampling), dimana setiap anggota dipilih secara acak

yaitu petani kakao yang melakukan usahatani kakao. Jumlah sampel yang diambil

yaitu 10% dari jumlah populasi, yakni 25 orang dengan harapan akan memperkuat

validitas data penelitian. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa

rata-rata pendapatan petani dalam satu kali musim panen yaitu dalam kurun waktu
11

satu tahun sebesar Rp. 11.538,903 Per orang dan pendapatan tersebut diperoleh

dari total penerimaan petani sebesar Rp. 12.328,000 untuk setiap responden.

Jumlah di peroleh total biaya produksi sebesar 789.097 kg per orang dengan harga

penjualan sebesar Rp.23.000 Per kilogram. Adapun biaya produksi terdiri dari

biaya variable Rp. 636.280 Per orang sedangkan biaya tetap sebesar Rp.152.817

Per orang.

Arfawati et al. (2020) meneliti tentang ”Analisis Faktor-Faktor Yang

Memengaruhi Pendapatan Usaha Tani Kakao di Desa Batu Ampa Kecamatan

Papalang Kabupaten Mamuju” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

pengaruh Produksi, Tenaga Kerja, Modal, Harga dan Jumlah Pohon secara Parsial

dan Simultan terhadap pendapatan usaha tani kakao di Desa Batu Ampa

Kecamatan Papalang Kabupaten Mamuju. Jenis penelitian menggunakan

pendekatan kuantitatif. Data yang diolah hasil penyebaran instrumen berupa

kusioner terhadap 54 responden yang menjadi petani kakao. Teknik analisis data

yang digunakan dalam penelitian adalah uji validitas, uji realibilitas, dan uji

hipotesis. Hasil penelitian ditemukan bahwa produksi, tenaga kerja, modal dan

jumlah pohon berpengaruh terhadap pendapatan petani kakao sedangkan harga

tidak berpengaruh terhadap pendapatan petani kakao. Hasil analisis secara

simultan atau keseluruhan variabel antara jumlah produksi, tenaga kerja, modal,

harga dan jumlah pohon memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pendapatan

petani kakao di Desa Batu Ampa Kecamatan Papalang Kabupaten Mamuju.


10

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Sekilas Tentang Tanaman Kakao

Kakao (Theobroma Cacao L) merupakan salah satu jenis tanaman

perkebunan yang terus mendapat perhatian untuk dikembangkan. Upaya

pengembangan tanaman kakao disamping masih diarahkan pada peningkatan

populasi (luas lahan) juga telah banyak diarahkan pada peningkatan jumlah

produksi dan mutu hasil. Adapun produksi dan mutu hasil adalah penggunaan

jenis-jenis kakao unggul dalam pembudidayaan tanaman kakao. Saat ini terdapat

sejumlah jenis kakao unggul yang sering digunakan dalam budidaya kakao, antara

lain jenis (klon) Sulawesi 1 dan Sulawesi 2 (Direktorat Jenderal Perkebunan,

2009).

Kakao adalah bahan yang sangat penting dalam industri berbagai makanan

seperti roti, biskuit, permen dan lain sebagainya. Demikian juga dengan industry

berbagai minuman seperti susu, kopi, dan sebagainya, kakao juga dibutuhkan

untuk meningkatkan cita rasa. Kakao yang dimaksud adalah berasal dari biji buah

tanaman kakao ( Theobroma cacao L.). Sebelum digunakan sebagai sebagai salah

satu bahan campuran dalam industri makanan dan minuman tersebut, buah kakao

harus menjalani berbagai proses pengolahan kakao meliputi pemanenan,

pengupasan, pembersihan dan fermentasi biji, pencucian biji, pengeringan biji,

sehingga dihasilkan biji kakao yang siap diolah kembali menjadi berbagai produk

makanan dan minuman. ( Nasaruddin, 2004 ).


12

2.2.2 Konsep Usahatani

Usahatani adalah kegiatan mengorganisasikan atau mengelola aset dan

cara dalam pertanian. Usahatani juga dapat diartikan dalam suatu kegiatan yang

mengorganisasikan sarana produksi pertanian dan teknologi dalam suatu usaha

yang menyangkut bidang pertanian (Faqih, A. 2013).

Usahatani adalah organisasi dari alam, tenaga kerja, modal, kerja modal

dan manajemen yang ditunjukkan pada produksi lapangan, keempat unsusr

tersebut mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan usahatani.

Umumnya ciri-ciri usahatani yang ada di Indonesia memiliki lahan sempit, modal

relatif kecil, tingkat pengetahuan terbatas dan kurang dinamik sehingga berakibat

pada rendahnya pendapatan usahatani (Mandasari, S. 2014).

2.2.3 Konsep Biaya Usahatani

Biaya produksi merujuk pada dana yang harus dikeluarkan oleh

perusahaan untuk memproduksi suatu barang atau jasa. Kalkulasi biaya

produksi dimulai sejak proses pengolahan bahan baku, hingga barang jadi

atau setengah jadi. Karenanya, penghitungan biaya produksi terbilang

rumit, sebab terdapat beberapa jenis komponen pengeluaran perusahaan.

Biaya produksi adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan

untuk menciptakan barang-barang yang diproduksi perusahaan tersebut.

Biaya produksi dimaksudkan untuk memenuhi segala kebutuhan dana

demi terwujudnya suatu barang atau jasa yang siap dipasarkan.


14

Dalam berusaha tani jenis biaya yang dikeluarkan terbagi menjadi

2 (dua) bagian yaitu : biaya tetap (fixed cost), dan biaya tidak tetap

(variable cost). Biaya tetap adalah biaya yang tidak habis dipakai dalam

satu kali proses produksi, dan besarnya tidak tergantung dengan skala

produksi. Biaya tetap meliputi: nilai sewa lahan, pajak/iuran, upah tenaga

kerja tetap, dan penyusutan alat. Sedangkan biaya tidak tetap adalah biaya

yang dikeluarkan dalam proses produksi, habis pakai dalam satu nlaki

produksi. Besar kecilnya biaya sangat tergantung dengan skala produksi.

Biaya tidak tetap meliputi : nilai bibit, nilai pupuk, nilai pestisida, dan nilai

rupiah tenaga kerja harian (Apriani, A. E., Soetoro, S., & Yusuf, M. N.

2017).

2.2.4 Konsep Penerimaan


Penerimaan dalam usahatani adalah total pamasukan yang diterima

oleh produsen atau petani dari kegiatan produksi yang sudah dilakukan

yang telah menghasilkan uang yang belum dikurangi oleh biaya-biaya

yang dikeluarkan selama produksi (Husni, etal., 2014). (Menurut

Ambarsari etal. 2014) penerimaan adalah hasil perkalian antara hasil

produksi yang telah dihasilkan selama proses produksi dengan harga jual

produk. Penerimaan usahatani dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara

lain: luas usahatani, jumlah produksi, jenis dan harga komoditas usahatani

yang di usahakan. Faktor-faktor tersebut berbanding lurus, sehingga

apabila salah satu faktor mengalami kenaikan atau penurunan maka dapat

mempengaruhi penerimaan yang diterima oleh produsen atau petani yang

melakukan usahatani. Semakin besar luas lahan yang dimiliki oleh petani
13

maka 18 hasil produksinya akan semakin banyak, sehingga penerimaan

yang akan diterima oleh produsen atau petani semakin besar pula (Sundari,

2011).

2.2.5 Konsep Pendapatan

Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dengan total biaya produksi

yang digunakan selama proses produksi (biaya pembelian benih, pupuk, obat-

obatan dan tenaga kerja (Soekartawi (1995) dalam (Syafruwardietal. (2012))

Pendapatan di dalam usahatani dibagi menjadi dua, yaitu pendapatan

kotor dan pendapatan bersih. Pendapatan kotor adalah pendapatan yang

belum dikurangi dengan biaya produksi atau yang biasanya disebut dengan

penerimaan. Pendapatan bersih adalah pendapatan yang sudah dikurangi

oleh biaya produksi (Tumoka, 2013).

2.2.6 Analisis Regresi Linier Berganda

Regresi merupakan suatu alat ukur yang digunakan untuk mengukur ada

atau tidaknya hubungan antar variabel. Analisis regresi merupakan suatu

persamaan regresi atau pesamaan penduga untuk menerangkan pola hubungan

variabel-variabel apakah ada hubungan antara 2 (dua) variabel atau lebih.

Hubungan yang didapat pada umumnya menyatakan hubungan fungisional antara

variabel-variabel. Regresi berganda berguna untuk membuktikan ada atau tidaknya

hubungan antara 2 buah variabel bebas (X) atau lebih dengan sebuah variabel

terikat (Y), dengan faktor-faktor yang menjelaskan yang mempengaruhi lebih dari

1 prediktor atau variabel independent (Jonathan, 2006).


14
15

2.3 Bagan Alir Penelitian

Usahatani Kakao Di Desa Kapiroe Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi

Permasalahan :
1. Terjadinya fluktuasi harga kakao di
pasar global seringkali tidak stabil
2. Teknik budidaya tanaman yang masih
rendah kurangnya penggunaan pupuk
sehingga hasil produksi kakao
menjadi rendah
3. pengolahan tanah yang kurang baik
menyebabkan lahan sering ditumbuhi
gulma dapat menghambat
pertumbuhan kakao

Alat Analisis:
1. Analisis Pendapatan:
- Pendapatan Usahatani Kakao
- Total Biaya
- Total Penerimaan
2. Analisis Regresi Berganda
- Pendapatan Usahatani Kakao (Y)
- Harga Jual Kakao (X1)
- Harga Pupuk (X2)
- Upah Tenaga Kerja (X3)
- LuasLahan (X4)
- Produksi (X5)

Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pendapatan Petani Kakao Di Desa


Kapiroe Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi

Gambar 1: Bagan Alir Penelitian


III. METODE PENELITIAN

III.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Kapiroe, Kecamatan Palolo

Kabupaten Sigi. Penentuan lokasi tersebut dipilih secara sengaja (Purposive

sampling) dengan pertimbangan bahwa Desa Kapiroe merupakan salah satu desa

di Kecamatan Palolo yang memiliki produktivitas kakao yang cukup tinggi.

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan september sampai november 2024.

III.2 Penentuan Responden

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani kakao di Desa

Kapiroe. Jumlah populasi yang ada sebanyak 97 petani kakao. Penentuan

responden dalam penelitian ini menggunakan metode sampel acak sederhana

(Simple Random Sampling). Adapun rumus yang digunakan dalam penentuan

sampel menurut rumus Slovin yaitu:

Keterangan:
n = Besar Sampel
N = Jumlah Populasi
𝛼 = Standar error yang digunakan 15%

Hasil perhitungan sampel menggunakan rumus slovin didapatkan total

sampel sebanyak 30 responden.

16
17

III.3 Pengumpulan Data

Data yang digunakan untuk penelitian ini menggunakan data primer dan

data sekunder. Data primer didapatkan dengan cara observasi dan wawancara

secara langsung kepada responden dengan cara memberikan daftar pertanyaan

(Questionaire). Jenis data primer yang akan dikumpulkan adalah data yang

diperoleh langsung dari petani, seperti identitas, karakteristik, dan saranaproduksi

yang digunakan. Data sekunder didapatkan dari internet, perpustakaan, dan

literatur-literatur yang ada relevansinya dengan penelitian ini, seperti

pemerintahan, Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Penyuluhan Pertanian

(BPP).

III.4 Analisis Data

Analisis data merupakan metode yang dilakukan dalam membuktikan

apakah data sesusai dengan keadaan yang dilapangan atau tidak. Ada beberapa

analisis yang dapat digunakan sesuiai tujuan penelitian yaitu:

III.4.1 Analisis Pendapatan Usahatani kakao

Penelitian ini menggunakan analisis pendapatan sebagai berikut: Analisis

pendapatan adalah selisih antara total penerimaan (TR) dan semua biaya (TC),

dimana penerimaan adalah perkalian antara produksi dan harga jual, sedangkan

biaya adalah semua pengeluaran yang digunakan. Jadi rumus pendapatan dapat

ditulis sebagai berikut.


18

π=TR−TC
Keterangan:

π = Pendapatan (Rp)
TR = Total Penerimaan (Rp)
TC = Total Biaya (Rp)

Total biaya dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:


TC = FC+ VC
Keterangan:

TC = Total Biaya (Rp)


FC = Biaya Tetap (Rp)
VC = Biaya Variabel (Rp)

Penerimaan dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

TR = Q.P

Keterangan:

TR = Total Penerimaan (Rp)


Q = Jumlah Produk Yang Dihasilkan Dalam Suatu Usahatani (Kg)
P = Harga Produk (Rp)

III.4.2 Analisis Regresi Linier Berganda

Berdasarkan tujuan kedua digunakan analisis regresi linier berganda.

Analisis ini digunakan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi

pendapatan petani kakao di desa kapiroe kecamatan palolo kabupaten sigi, dimana

analisis regresi linier berganda yang digunakan secara matematis dapat

dirumuskan dengan menggunakan pendekatan statistika sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + µ


19

Keterangan :

Y = Pendapatan Usahatani Kakao (Rp/Kg)


X1 = Harga Jual Kakao (Rp/Kg)
X2 = Biaya Produksi (Rp/Kg)
X3 = Luas Lahan (Rp)
X4 = Produksi (Ha)
A = Konstanta
µ = Eror Term

Setelah dilakukan estimasi model diatas, maka selanjutnya adalah

melakukan Uji F untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat.

Sedangkan untuk pengujian keberartian pengaruh masing-masing variabel

dilakukan melalui uji t.

1. Koefisein Determinasi (R squere)

Koefisien determinasi yang dinotasikan R2dilakukan untuk melihat

seberapa besar variasi dari variabel dependen (Y) dapat diterangkan oleh variabel

independen (X). Nilai R2berkisar antara 0 - 1 (0 ≤ R2≤ 1). Nilai R-Square

diperoleh dengan rumus:

2 SSR
R=
SST

Dimana:

SST = Sum OF Squares Total/ Jumlah Kuadrat Total yang merupakan total variasi

Y (SST = SSR + SSE).

SSR = Sum OF Squares Regression/ Jumlah Kuadrat Regresi yang merupakan

total variasi yang dapat dijelaskan oleh garis regresi.

SSE = Sum OF Squares Error/ Jumlah Kuadrat Error yang merupakan total variasi

yang tidak dapat dijelaskan oleh garis regresi.

2. Uji F (Simultan)
20

Uji F ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bersama-sama variabel

bebas terhadap variabel terikat. Hasil output SPSS dapat dilihat pada tabel

ANOVA. Hasil F tes menunjukkan variabel bebas secara bersama-sama

berpengaruh terhadap variabel terikat jika p-value lebih kecil dari level of

significant yang ditentukan (Bhuwono A, 2005), Hipotesis yang diajukan adalah:

a. Hα : b₁ = 0, artinya bahwa faktor-faktor yang diamati berpengaruh tidak

nyata terhadap pendapatan.

b. H₁ : salah satu b₁ ≠ 0, artinya bahwa faktor-faktor yang diamati

berpengaruh nyata terhadap pendapatan.

Dengan ketentuan:

 Jika Fhitung > Ftabel, maka Ho ditolak artinya variabel independen secara

bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel dependen pada tingkat

α tertentu.

 Jika Fhitung ≤ Ftabel, maka Ho diterima artinya variabel independen secara

bersama-sama berpengaruh tidak nyata terhadap variabel dependen pada

tingkat α tertentu.

3. Uji T (Parsial)
Ujit ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh masing-masing

variabel bebas secara individual (parsial) terhadap variabel terikat. Hasil uji ini

pada output SPSS dapat dilihat pada tabel coefficient. Nilai dari uji t dapat dilihat

dari p-value (pada kolom signifikan) pada masing-masing variabel bebas, jika

pvalue lebih kecil dari level of significant yang ditentukan atau t-hitung lebih

besar dari t-tabel (Bhuwono A, 2005), Hipotesis yang diajukan adalah:


21

a. Ho : b₁ = 0, artinya bahwa variabel independen secara individu

berpengaruh tidak nyata terhadap pendapatan.

b. Ho : b₁ ≠ 0, artinya bahwa variabel independen secara individu

berpengaruh nyata terhadap pendapatan.

Dengan ketentuan:

a. Jika Thitung > Ttabel, maka Ho, ditolak artinya secara individual variabel

independen berpengaruh nyata terhadap variabel dependen pada tingkat α

tertentu.

b. Jika Thitung > Ttabel, maka Ho, diterima artinya secara individual variabel

independen berpengaruh tidak nyata terhadap variabel dependen pada

tingkat α tertentu.

III.5 Konsep Operasional

1) Responden adalah petani kakao di Desa Kapiroe yang terpilih dengan cara

metode sampel acak sederhana (Simple Random Sampling). Hasil

perhitungan sampel menggunakan rumus slovin didapatkan total sampel

sebanyak 30 responden.

2) Usahatani Kakao adalah kegiatan pertanaman kakao yang dilakukan oleh

petani kakao di Desa Kapiroe Kecamatan Palolo Kabupaten Sigi.

3) Luas lahan merupakan luas tanah yang digunakan oleh petani kakao dalam

berusahatani, dinyatakan dalam satuan hektar (Ha)

4) Biaya produksi (Cost Of Production) merupakan total pengeluaran yang

harus ditanggung oleh petani selama satu tahun.


22

a. Biaya tetap (FC), ialah biaya yang dikeluarkan petani kakao tanpa

dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi, dinyatakan dalam satuan

rupiah (Rp) meliputi: nilai sewa lahan, pajak/iuran, upah tenaga kerja

tetap, dan penyusutan alat.

b. Biaya variabel (VC), ialah biaya yang besar kecilnya biaya dipengaruhi

oleh produksi, dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp) meliputi : nilai bibit,

nilai pupuk, nilai pestisida, dan nilai rupiah tenaga kerja harian

c. Total biaya (TC), ialah total seluruh biaya yang dikeluarkan dalam proses

usahatani, terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel, dinyatakan dalam

satuan rupiah (Rp).

5) Tenaga kerja merupakan jumlah keseluruhan tenaga yang digunakan selama

melakukan kegiatan usahatani Kakao, dinyatakan dalam satuan Hari Orang

Kerja (HOK)

6) Pupuk merupakan zat tambahan (nutrisi) berupa zat organik maupun kimia

yang digunakan oleh petani kakao untuk meningkatkan produksi dalam

kegiatan berusahatani kakao, dinyatakan dalam satuan Kilogram (Kg)

7) Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk menolak, atau membasmi

organisme pengganggu tanaman, dinyatakan dalam satuan Liter (L)

8) Produksi merupakan rata-rata hasil panen usahatani kakao yang dipanen

dalam satu hektar are persatu tahun, dinyatakan dalam satuan kilogram (Kg)

9) Harga produksi (Price of production) adalah nilai tukar yang diterima oleh

petani kakao dari pedagang atas penjualan produksinya, dinyatakan dalam

satuan rupiah (Rp)


23

10) Penerimaan (Revenue) adalah jumlah yang diterima petani kakao di Desa

Kapiroe dan merupakan hasil perkalian antara jumlah produksi dengan

harga jual produksi, dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp)

11) Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dengan total biaya yang

dikeluarkan, yang dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp)

12) Analisis Pendapatan adalah analisis yang digunakan untuk melihat seberapa

besar pendapatan yang diterima oleh petani kakao dalam satu hektar are

selama satu tahun.

13) Data yang dihitung dalam penelitian ini adalah data satu tahun terakhir

usahatani kakao di tahun 2023.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Mairsa.(2018). Analisis Pendapatan Usahatani Kakao Pada Daerah Sentra


Pengembangan Di Kecamatan Tapalang Kabupaten [Link]
Programstudi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah
Makassar

Apriani, A. E., Soetoro, S., & Yusuf, M. N. (2017). Analisis Usahatani Jagung
(Zea Mays L). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh, 2(3), 145-150.

Arfawati1, Agus Syam2, Marhawati3, Muh Ihsan Said4, Ilham Thaief5.(2020).


Analisis Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pendapatan Usaha Tani Kakao
Di Desa Batu Ampa Kecamatan Papalang Kabupaten Mamuju. Indonesian
Journal Of Social And Educational Studies Vol.1, No.2

Badan penyuluhan Pertanian Kecamatan Palolo,2022

Badan Pusan Statistik Kabupaten Donggala Dalam Angka, 2023.

Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tangah Dalam Angka, 2023.

Bhuwono, (A, 2005). Rumus Dan Data Dalam Analisis Statistik, Alfabeta.
Bandung

Ditjen Perkebunan, (2009). Sosialisasi Gerakan Peningkatan Produksi Dan Mutu


Kakao Nasional.

Faqih, A. (2013). Peranan Penyuluh Pertanian Lapangan (Ppl) Dalam


Pemberdayaan Kelompok Tani (Studi Kasus Pada Kelompok Tani
Tanaman Pangan Di Pesisir Pantai Kabupaten Cirebon) (Doctoral
Dissertation, Uns (Sebelas Maret University)).

Geonadi, Didiek. H, John Bako Baon, Herman Adreng Purwanto, (2005). Prospek
Dan Arah Pengembangan Agribisnis Kakao Di Indonesia Jakarta. Di
Indonesia Akses Dari [Link]. Dalam
Www,[Link]. Pada Tanggal 3 Juni 2014.

Husni, Abdul Kholik Hidayah, Dan Maskan Af, (2014). Analisis Finasial
Usahtani Cabai Rawit (Capsium Frutetescens L) Desa Puwajaya
Kecamatan Loa Jana. Jurnal Agrifor Volume Xiii Nomor 1. Maret 2014

Jonathan.(2006). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengeluaran Rumah Tangga


(Studi Kasus Di Kelurahan Padang Sambian). Jonathan.2006.E-Jurnal Ep
Unud. Vol 2. (11) 525-532. Issn: 2303-0178.

24
25

Mandasari, S.(2014). Hubungan Peran Kelompok Tani Dengan Produktivitas


Usaha Tani Benih Padi: Studi Kasus Kelompok Tani Surya Bangkit Di
Desa Mandalawangi, Kecamatan, Sukasari, Kabupaten Subang.

Nasaruddin.(2004). Budidaya Kakao Dan Beberapa Aspek Fisiologinya.


Universitas Hasanuddin, Makassar.

Profitabilitas Usahatani Padi (Oryza Sativa) Di Kabupaten [Link]


Agri Wiralodra, 6 (2) : 19-27.

Sarlotha Y. Purimahua.(2016). Analisis Fakor-Fakor Yang Mempengaruhi


pendapatan Petani [Link] Universitas Kristen Indonesia
[Link] X Nomor 2, Oktober 2016

Soekartawi, (1995). Analisis Usaha Tani. Ui Press, Jakarta

Direktorat Jenderal Perkebunan. (2022). Statistik Perkebunan Indonesia 2021.


Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung:


Alfabet

Sundari, M. T.(2011) Analisis Dan Pendapatan Usahatani Wortel Di Kabupaten


Karanganyar. Jurnal Sepa. 7 (2). (2011) : 119-126.

Syafruwardi, A., H. Fajeri Dan Hamdani.(2012). Analisis Finansial Usahatani


Padi Varietas Unggul Di Desa Guntung Ujung Kecamatan Gambut
Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Jurnal Agribisnis. 2 (3) : 181-192

Syamsu Alam .(2017). Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pendapatan Petani


Kakao Didesa Cendana Kecamatan Burau Kabupaten Luwu [Link]
Ekonomi Pembangunan.

Tumoka, N (2013). Analisis Pendapatan Usahatani Tomat Di Kecamatan


Kawangkoan Barat Kabupaten Minahasa. Jurnal Emba. 1 (3) (2013).:
345-354.

Anda mungkin juga menyukai