ASUHAN KEPERAWATAN BAHARI PADA TN.
K DENGAN
MASALAH PENYAKIT DEMATITIS DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS TANAH GOYANG
Oleh :
MUNIRA WAKANG
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
MALUKU HUSADA
2024
A. Konsep Penyakit Dermatitis
1. Definisi
Dermatitis merupakan reaksi inflamasi pada kulit yang disebabkan
oleh kontak dengan faktor eksogen dan endogen. Faktor ekstrinsik dan
intrinsic berupa iritan (kimia, fisik dan biologis) berperan penting pada
penyakit ini. Dermatitis adalah penyakit kulit yyang ditandai dengan
peradangan pada kulit yang menunjukkan ciri-ciri seperti gatal, kemerahan,
bersisik, melepuh. Dermatitis dapat dibagi menjadi tiga jenis menurut
(Fatonah, 2016): dermatitis kontak alergi, dermatitis kontak iritan dan
dermatitis atopik.
Dermatitis kontak alergi (DKA) adalah reaksi hipersensitivitas tipe
lambat penyakit yang diperantarai sel (tipe IV) yang disebabkan oleh kontak
kulit dengan alergen lingkungan (Harlim, 2016). Salah satu penyebab
dermatitis kontak alergi biasanya disebabkan oleh paparan alergen seperti
alergi obat-obatan, makanan laut, debu dan bulu.
2. Etiologi
Dermatitis kontak alergi disebabkan oleh bahan kimia sederhana
dengan berat molekul rendah (<1000 Dalton) yang disebut hapten bersifat
lipofilik dan sangat reaktif, Sel-sel hidup epidermis bagian dalam banyak
faktor yang mempengaruhi terjadinya KAD, termasuk potensi sensitisasi
alergen, dosisi persatuan luas, area yang terkena, waktu pemaparan, oklusi,
7
8
suhu dan kelembaban lingkungan, kendaraan dan pH. Ada juga faktor
individu seperti keadaan kontak (struktur stratum korneum, ketebalan
epidermis), status kekebalan (muntah, paparan sinar matahari yang kuat, dll)
juga berperan. (Menaldi, 2017).
Sedangkan menurut (Hussain et al., 2017) terjadi di sebabkan oleh
a. Dermatitis kontak iritan
Penyebab dermatitis kontak iritan biasanya pada bahan yang
bersifat iritan, misalnya bahan pelarut, deterjen, minyak pelumas, asam
alkali, larutan garam konsentrat, plastic berat molekul atau bahan kimia.
b. Dermatitis Kontak Alergen
Penyebab dermatitis kontak alergen biasanya disebabkan oleh
kontak zat-zat yang bersifat alergen seperti alergi pada obat, seafood,
debu dan bulu, mainan bola.
c. Dermatitis Atopik
Dermatitis atopik timbul dari interaksi yang rumit antar faktor
genetik dan faktor lingkungan. Termasuk di antaranya adalah kerusakan
barrier kulit sehingga membuat kulit lebih mudah teriritasi dengan
sabun, udara, suhu, dan pencetus non spesifik lainnya.
3. Tanda dan Gejala
Berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI) tahun
2017 Edisi 1 cetakan III tanda dan gejala gangguan integritas kulit yaitu,
sebagai berikut :
a. Kerusakan jaringan dan lapisan kulit
9
b. Nyeri dan perdarahan
c. Kemerahan dan hematoma
4. Patofisiologi
Sekitar 3.000 bahan kimia di dokumentasikan dengan baik sebagai
penyebab spesifik dari dermatitis kontak alergi (Helm, 2020). Senyawa
harus kurang dari 500 hari untuk penetrasi yang efisien melalui penghalang
stratum korneum, yang merupakan lapisan luar kulit yang kedap air.
Molekul organik kecil yang reaktif secara kimiawi mengikat protein sendiri
untuk menghasilkan neoantigen imunogenik melalui proses yang disebut
haptenisasi. Meskipun hapten dapat menembus melalui kulit utuh pasien
dengan penyakit tertentu menyatakan bahwa gangguan fungsi penghalang
(misalnya, ulkus tungkai, dermatitis perianal) memiliki peningkatan risiko
sensitisasi terhadap obat yang dioleskan dan komponen pembawa mereka.
Banyak pasien dengan dermatitis atopik atau dermatitis kontak alergi
terhadap elemen kimia yang memiliki bentuk cacat gen dari protein, protein
membantu mengumpulkan protein sitoskeletal yang membentuk selubung
sel yang terkornifikasi. Jika tidak ada, penghalang itu rusak (Helm, 2020).
10
Sabun, deterjen, zat kimia Dikonsumsi langsung/kontak
langsung
Kelainan kulit Adanya kontak dengan alergi
Stratum korneum yang rusak Sel plasma dan basofil menghasilkan
Ab IgE
Denaturasi keratin Memicu proses degranulasi
Menyingkirkan stratum yang rusak Pelepasan Mediator Kimia
Mengubah daya air kulit Reaksi Peradangan
Merusak lapisan epidermis Reaksi Menggaruk Berlebih
Gangguan Integritas Gangguan Rasa
Kulit Nyaman
Gangguan Pola Tidur
Nyeri Akut
Defisit Pengetahuan
Resiko Infeksi
Gambar 2.1 Pathway Dermatitis
11
5. Klasifikasi
Menurut (Adhi Djuanda 2010 dalam Zerlika Ferli 2021) klasifikasi dermatitis
yaitu :
a. Dermatitis kontak iritan
b. Dermatitis kontak alergen
c. Dermatitis atopik
6. Faktor Resiko
Faktor Risiko Dermatitis Kontak Alergi :
a. Ditemukan pada orang-orang yang terpajan oleh bahan alergen.
b. Riwayat kontak dengan bahan alergen pada waktu tertentu.
c. Riwayat dermatitis atopic atau riwayat atopi diri dan keluarga
(Permenkes, 2014).
7. Komplikasi
a. Infeksi sekunder (manajemen sesuai lesi, studi jenis antibiotik sesuai
kebijakan rumah sakit)
b. Hipopigmentasi dan hiperpigmentasi pasca inflamasi (PERDOSKI, 2017)
8. Penatalaksanaan
a. Perawatan Nonmedis Kompres basah dan dingin dapat diterapkan pada
area dermatitis yang kecil. Kompres menghilangkan eksim, dan kompres
dingin mengurangi peradangan (Puspasari, 2018).
b. Berdasarkan SK (Kepmenkes RI, 2017) Resep Obat Tradisional
Indonesia (FROTI), dinyatakan bahwa:
12
1) Kunyit (Curcuma Domestica Val) efektif dalam mengobati eksim.
Caranya adalah dengan menggiling bahan tersebut lalu
mengoleskannya pada kulit yang terkena eksim. .
2) Sambiloto efektif dalam mengobati eksim, persiapan : seduh dalam 1
gelas air panas, dinginkan, saring dan segera minum, dengan dosis 15
daun per hari.
3) Herbal ketepang (Cassia alata L) efektif untuk mengobati eksim.
4) Bahan FROTI digunakan untuk menjaga kesehatan dan mengurangi
ketidaknyamanan pasien. Ramuan FROTI ini digunakan dalam
kombinasi dengan pengobatan konvensional setelah komunikasi awal
dengan professional kesehatan. Penggunaan ramuan. Hal ini
dimkasudkan untuk membantu masyarakat umum menjaga dan
meningkatkan kesehatan meraka dengan cara yang wajar dan terarah.
5) Perawatan melibatkan penerapan lapisan tipis krim atau salep yang
mengandung kortikosteroid tertentu. Untuk dermatitis yang luas,
kortikosteroid jangka pendek dapat digunakan untuk menghentikan
peradangan.
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan merupakan langkah awal dalam proses
keperawatan. Fase ini sangat penting dan penting untuk fase selanjutnya.
Data yang komprehensif dan tervalidasi menentukan keputusan yang
akurat dan akurat dalam diagnosis keperawatan, yang kemudian
dimasukkan ke dalam rencana keperawatan. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mendapatkan data yang komprehensif, termasuk data
biopsikologi dan psikiatri. (Tarwoto & Wartonah, 2015).
13
a. Identitas Pasien :
1) Nama : pendataan nama pasien sebagai tanda pengenal yang dimiliki
pasien sejak lahir
14
2) Nomor registrasi : nomor ini adalah no urut pendaftaran pasien
sebagai pembeda dari pasien lain.
3) Jenis kelamin : semua jenis kelamin dapat mempengaruhi kejadian
dermatitis, umumnya dermatitis terjadi pada semua jenis kelamin
dan bisa terjadi pada anak-anak sekalipun.
4) Alamat : tempat dimana pasien tinggal dapat dijadikan sebagai acuan
bagaimana kondisi lingkungan di tempat tinggal pasien. Lingkungan
yang tidak sehat berisiko terkena penyakit kulit atau alergi yang
menyebabkan dermatitis kontak , dermatitis atopik, dermatitis alergi.
5) Tempat dan tanggal lahir : data ini dapat memastikan berapa usia
pasien.
6) Usia : dermatitis dapat menyerang dikalangan anak-anak, remaja
ataupun dewasa sekalipun.
b. Keluhan Utama : Biasanya pasien mengeluh rasa gatal, sulit tidur, rasa
tidak nyaman, rambut rontok, suhu tubuh meningkat, kemerahan, kulit
kering. Keluhan tersebut muncul tergantung bagaimana respon kulit
dari masing-masing orang
c. Riwayat Penyakit Dahulu : Biasnya penderita dengan dermatitis juga
bisa disebabkan oleh adanya riwayat alergi terhadap bahan-bahan
tertentu, kemudian juga dilihat dari sensitivitas kulit seorang itu sendiri
d. Riwayat Penyakit Keluarga : Pada penderita dermatitis ditanyakan ada
penyakit keluarga yang sama dialami penderita, selain itu pada anak-
anak
15
sering ditemukan alergi terhadap bahan tertentu yang mungkin
diketahui oleh keluarganya
e. Riwayat Penyakit sekarang : Biasanya penderita dermatitis akan
mengalami rasa gatal-gatal pada kulit yang akan menimnulkan lesi
akibat adanya infeksi sehingga suhu tubuh bisa meningkat/demam,
kemerahan, edema disertai nyeri, rasa terbakar pada kulit.
f. Riwayat Pemakaian Obat : Apakah penanggung perhubungan
mengabadikan remedy yang dioleskan depan kulit, atau apakah
penanggung tidak toleran (alergi) terhadap remedy tersebut.
g. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan fisik integument (menurut Smeltzer, 2002 Dalam
lisnawati, 2019). Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menilai adanya
warna, sianosis, ikterus, eksim, pucat, eritema, maserasi, papula,
vesikel, ulkus, kekencangan kulit, hidrasi kulit, tekstur kulit, dan
edema. Evaluasi warna kulit untuk mengetahui adanya pigmentasi
dan kondisi normal yang mungkin disebabkan oleh melanin pada
kulit.
2) Pemeriksaan kulit, diarea yang cukup terang periksa seluruh
permukaan kulit, periksa dan palpasi setiap area.
a) Warna : sianosis, penyakit kuning, kerothemia, perubahan melanin
b) Kelembaban : basah, kering, berminyak
c) Suhu : dingin, hangat
d) Tekstur : halus, kasar
16
e) Mobilllitas - kemudahan : edema subkutan berkurang sehingga
memungkinkan pergerakkan
f) Kembung : dikurangi dengan dehidrasi, lipatan kulit kembali ke
keadaan semula, perhatikan adanya lesi
g) Lokasi : anatomi lokal merata
h) Susunan dan bentuknya : linier, majemuk
i) Jenis : macula, papula, pustule, bula, tumor
3) Pemeriksaan Rambut tes rambut dilakukan untuk menilai ada
tidaknya warna, ketebalan, distribusi, dan karakteristi rambut
lainnya, rambut tubuh biasanya menutupi seluruh bagian tubuh
kecuali telapak kaki dan permukaan bagian dalam labia. Rambut
kering, rapuh, tidak berpigmen dapat menunjukkan kekurangan
nutrisi. Pertumbuhan rambut yang tidak teratur atau berkurang dapat
menunjukkan malnutrisi, hipotiroidisme, efek obat, dll. Periksa dan
raba rambut, yaitu
a) Kerumunan : tipis, tebal
b) Distribusi : alopecia parsial atau lengkap
c) Tekstur : halus, kasar
4) Pemeriksaan Kuku dilakukan dengan memeriksa warna, bentuk dan
kondisi kuku, kehadiran jari klub dapat mengindikasikan penyakit
pernapasan kronis atau penyakit jantung. Bentuk kuku yang cekung
atau cembung menunjukkan adanya kerusakan atau infeksi akibat
kekurangan zat besi, dan palpasi pada kuku kaki.
17
a) Warna : sianotik, pucat
b) Bentuk : perkusi jari (Clubbing)
c) Adanya lesi : paronikia, onikolisis
h. Pemeriksaan Head to toe
1) Kepala : biasanya bersih, tidak ada benjolan, tidak ada luka atau lesi.
2) Rambut : biasanya berwarna hitam tergantung tingkatan usia.
3) Wajah : kerbersihan, ada lesi atau tidak ada edema atau tidak dan
tidak pucat sianosis adanya kemerahan atau tidak.
4) Mata : konjungtiva pucat atau tidak, ada kelainan atau tidak, serta
adanya kemerahan atau tidak.
5) Mulut dan gigi : bersih atau tidaknya warna bibir, ada stomatis atau
tidak, gigi berlubang, gusi berdarah. Biasanya pada herpes terdapat
lesi pada bagian bibir akibat infeksi
6) Leher : ada kelainan atau tidak, adanya nyeri tekan atau tidak,
adanya kemerahan atau tidak karena dermatitis bisa menyerang
bagian kulit manapun.
7) Thorak : irama cepat atau tidak, apakah ada suara jantung normal
atau tidak, tidak ada suara nafas asing, tidak ada benjolan atau
benjolan, dan nyeri tekan.
8) Abdomen : ada atau tidak luka bekas operasi, distensi abdomen atau
tidak, kembung atau tidak, warna, kebersihan.
9) Genitalia : apakah ada varises, bersih adanya nyeri tekan atau tidak,
18
edema atau tidak, biasanya pada dermatitis yang menyerang genital
mengalami kelainan seperti warna kemerahan serta adanya rasa
nyeri.
10) Rectum : bersih atau tidak, tidak ada edema, adanya tanda infeksi
atau tidak)
11) Ekstrimitas : edema atau tidak adanya varises atau tidak, sianosis,
CRT, kembali normal atau tidak.
12) Intergumen : biasanya pada dermatitis akan ditemukan radang akut
teruma pruritus (sebagai pengganti dolor), kemerahan (rubor)
gangguan fungsi kulit (function laisa), terdapat vesikel-vesikel
fungtiformid yang berkelompok yang kemudian memperbesar,
terdapat bula atau pustule, hiperpigmentasi atau hipopigmentasi.
Adanya nyeri tekan atau tidak, edema atau pembengkakan serta kulit
bersisik.
i. Pola Fungsi Kesehatan
1) Pola hidup sehat biasanya kepada penderita dermatitis tidak begitu
paham dengan kondisi kesehatan terutama terhadap alergi yang dapat
menimbulkan dermatitis jika penderita merasakan keluhan biasanya
pasien minum obat dan apabila penyakitnya tidak sembuh pasien
biasnya datang ke pelayanan kesehatan
2) Pola nutrisi biasanya pada penderita dermatitis bisa ditemukan nafsu
makan terganggu karena penyakit yang dirasakan seperti rasa
pana,demam, dan nyeri bagian kulit biasnya membuat nafsu makan
turun tetapi tergantung dari individu masing-masing
19
3) Pola eliminasi pada penderita dermatitis biasanya tidak ditemukan
gangguan pada eliminasi, kecuali dermatitis timbul pada bagian
genital sehingga membuat penderita takut BAK
4) Pola aktivitas pada penderita dermatitis tidak mengganggu aktivitas
sehari-hari tetapi tergantung dari tingkat keparahan penyakitnya
5) Pola tidur dan istirahat biasanya penderita dermatitis terjadi
gangguan pola tidur dikarenakan rasa gatal dan nyeri.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan pemikiran klinis tentang respon
pasien terhadap bidang kesehatan atau strategi aktivitas yang dialami oleh
staf operasi aktual dan potensial. Diagnosa keperawatan melibatkan
kegiatan dua bagian strategi keperawatan, yaitu mengklasifikasikan bidang
kesehatan sebagai bagian dari ruang lingkup keperawatan. Diagnosis
keperawatan membuat peniliain klinis tentang respons individu dan
membuat peniliain klinis tentang respons individu, keluarga, atau
komunitas, seperti inflamasi tentang startegi atau aktivitas kesehatan actual
atau potensial. Diagnose keperawatan dirancang untuk menemukan
bagaimana klien individu, keluarga dan keluarga mengatasi kondisi dan
kesehatan terkait.. Tujuan pencatatan diagnosis keperawatan adalah
sebagai alat komunikasi mengenai masalah pasien saat ini, dan merupakan
tanggung jawab perawat untuk mengidentifikasi masalah berdasarkan data
dan untuk menentukan pengembangan rencana intervensi keperawatan
(Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
20
a. Gangguan intergrits kulit
b. Gangguan rasa nyaman
c. Gangguan pola tidur
d. Defisit pengetahuan
e. Risiko Infeksi
3. Perencanaan
Intervensi keperawatan untuk masalah keselamatan dan
perlindungan bergantung pada diagnosis keperawatan, berdasarkan Standar
Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) dan kriteria tujuan dan hasil
menggunakan Standar Luaran Keperawatan Indnesia. Edisi 1, 2018 Cetak
II intervensi dari diagnosis gangguan integritas kulit antara lain: (Tim
pokja SLKI, 2018)
21
Intervensi Keperawatam
Diagnosa
N Tujuan dan Kriteria Hasil
Keperawatan Intervensi Keperawatan (SIKI)
o (SLKI)
(SDKI)
1 Gangguan Intergritas Kulit dan jaringan Perawatan Intergritas kulit (I.11353)
intergritas kulit (L.14125)
berhubungan Observasi :
dengan Setelah dilakukan intervensi 1.1 Mengidentifikasi penyebab berkurangnya integritas kulit
kelembaban keperawatan selama 1 x 24 (misalnya, perubahan aliran darah, perubahan status gizi, penurunan
(D.0129) jam diharapkan integritas kulit kelembaban, suhu lingkungan yang ekstrim, penurunan mobilitas).
dan jaringan klien
diharapkan Terapeutik:
ekspetasi meningkat sesuai 1.2 Lakukan pemijatan pada area penonjolan tulang, sesuai kebutuhan
kriteria hasil : 1.3 Gunakan produk petrolium atau minyak bumi pada kulit kering
1. Kerusakan lapisan kulit 1.4 Gunakan produk ringan/alami dan hipoalergi pada kulit yang sensitif
menurun (Terapi Pemberian Topikal Kunyit)
2. Nyeri menurun 1.5 Hindari produk dasar alkohol pada kulit kering
3. Perdarahan menurun 1.6 Dengan Terapi Herbal Pemberian Topikal Kunyit
4. Kemerahan menurun
5. Nekrosis menurun
Edukasi :
Keterangan : 1.7 Gunakan pelembab (mis. Lation, serum)
1. Meningkat 1.8 Minum air putih yang cukup dengan sesuai kebutuhan
2. Cukup meningkat 1.9 Memenuhi asupan nutrisi
3. Sedang 1.10 Mandi dan menggunakan sabun secukupnya
4. Cukup menurun
5. Menurun
22
2 Gangguan Rasa Status kenyamanan (L.08064) Perawatan kenyamanan (l.08245)
Nyaman
Berhubungan Setelah dilakukan intervensi Observasi :
Dengan Dengan keperawatan selama 1 x 24 3.1 Mengidentifikasi gejala yang tidak menyenangkan (mis, mual, nyeri,
Rasa Gatal jam diharapkan status gatal, sesak)
(D.0074) kenyaman klien meningkat 3.2 Mengidentifikasi pemahaman tentang kondisi, situasi dan perasaanya
sesuai kriteria hasil :
1. Keluhan sulit tidur Terapeutik :
menurun 3.3 Berikan posisi yang nyaman
2. Gatal menurun 3.4 Ciptakan lingkungan yang aman
3. Lelah menurun 3.5 Dukungan keluarga serta orang terdekat terlibat dalam
4. Gelisah menurun terapi/pengobatan
3.6 Diskusikan kondisi dan pilihan terapi/penobatan yang diinginkan
keterangan :
1. Meningkat Edukasi :
2. Cukup meningkat 3.7 Jelaskan kondisi dengan pilihan terapi/pengobatan (Terapi
3. Sedang Pemberian Topikal Kunyit)
4. Cukup menurun 3.8 Mengajarkan terapi relaksasi
5. Menurun 3.9 Mengajarkan tehnik distraki dan imajinasi terbimbing
.
3 Gangguan pola Pola Tidur (L.05045) Dukungan Tidur (I.09265)
tidur b/d kurang
kontrol tidur Setelah dilakukan intervensi Observasi :
(D.0056) keperawatan 1 x 24 jam 3.10 Mengidentifikasi aktivitas dan tidur
diharapkan pola tidur klien 3.11 Mengidentifikasi faktor penggangu tidur (fisik dan/ psikologis )
membaik sesuai kriteria hasil : 3.12 Mengidentifikasi obat tidur yag dikonsumsi
23
1. Sulit tidur membaik Terapeutik :
2. Mengeluh sering terjaga 3.13 Merubah lingkungan (mis. Pencahayaan, suhu, kebisingan,
membaik matras, dan tempat tidur)
3. tidak puas tidur membaik 3.14 Fasilitasi menghilangkan stress sebelum tidur
4. Mengeluh istirahat tidak 3.15 Tetapkan jadwal tidur rutin
cukup membaik
Edukasi :
keterangan ; 3.16 Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
1. Menurun 3.17 Biasakan menepati waktu tidur
2. Cukup menurun 3.18 Ajarkan faktor - faktor yang berhubungan dengan gangguan pola
3. Sedang tidur (mis. Psikologis, gaya hidup)
4. Cukup meningkat 3.19 Ajarkan relaksasi otot autogenic / nonfarmakologi laiinya.
5. Meningkat
4 Defisit Tingkat Pengetahuan Edukasi Kesehatan
Pengetahuan
Behubungan (L.12111) Observasi :
Dengan Kurang Setelah dilakukan tindakan 4.1 Mengidentifikasi kemampuan menerima informasi
Terpapar keperawatan selama 1 x 24 4.2 Memonitor faktor - faktor yang dapat mengembangkan motivasi
Informasi jam diharapkan kemampuan perilaku hidup bersih dan sehat
(D.0111) tingkat pengetahuan klien
meningkat sesuai kriteria hasil Terapeutik :
: 4.3 Persiapkan materi dan media pendidikan kesehatan
4.4 Berikan kesempatan untuk bertanya yang tida dimengerti
1. Kemampuan menjelaskan 4.5 Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
pengetahuan tentang suatu
topic meningkat
24
2. Perilaku sesuai anjuran Edukasi :
Verbalisasi minat dalam 4.6 Perilaku hidup bersih dan sehat
belajar menngkat 4.7 Startegi yang dapat dilakukan guna meningkatkan perilaku hidup
3. Perilaku sesuai dengan
bersih dan sehat
pengetahuan meningkat
4. Kemampuan
menggambarkan
pengalaman sebelumnya
yang sesuai dengan topik
meningkat
keterangan :
1. Menurun
2. Cukup menurun
3. Sedang
4. Cukup meningkat
5. Meningkat
5 Risiko Infeksi Tingkat infeksi (L.14137) Pencegahan Infeksi (l.14539)
(D.0142)
Setelah dilakukan intervensi Obsevasi
keperawatan selama 1 x 24 .1. Memantau tanda dan gejala
jam diharapkan tingkat infeksi Terapeutik
menurun sesuai kriteria hasil : 4.1 Lakukan perawatan kulit pada area edema
4.2 Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan
1. Kebersihan lingkungan pasien
tangan meningkat 4.3 Pertahankan tehnik aseptik
2. Kebersihan badan Edukasi
meningkat
3. Demam menurun 4.4 Sampaikan tanda dan gejala infeksi
4. Kemerahan menurun 4.5 Mengajarkan cara mencuci tangan dengan benar
4.6 Berikan cara etika batuk
4.7 Sampaikan cara memeriksa kondisi luka atau luka operasi
Keterangan :
4.8 dianjurkan meningkatkan asupan nutrisi
1. Meningkat
2. Cukup Meningkat 4.9 dianjurkan meningkatkan asupan cairan
3. Sedang
4. Cukupu Menurun
5. Menurun
A. Data Biografi
Nama : TN. K
Umur : 40 Tahun
No RM : 034287
Suku/Bangsa : Bugis/Indonesia
Status Perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Nelayan
Alamat : Tanah Goyang
Tanggal Masuk RS : 20-11-2024 Jam 07.00 WIT
Tanggal Pengkajian : 20 -11-2024 Jam 07.30 WIT
Catatan Kedatangan : Pasien dibawa oleh keluarga
Keluarga terdekat yang dapat dihubungi :
Nama : Ny. O
Umur : 38 Tahun
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
Alamat : Tanah Goyang
Sumber Informasi : Istri Pasien
B. Riwayat Kesehatan / Keperawatan
1. Keluhan utama: Gatal di area kaki dan punggung
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien mengatakan mengalami gatal pada area kaki dan punggung, disertai nyeri.
Diagnosa Medis: Dermatitis
Alergi : alergi cuaca
Obat-obatan yang pernah digunakan :
Ibuprofen tab
CTM tab
Amoxicilin Tab
C. Riwayat Kesehatan Keluarga
Penyakit menular atau keturunan dalam keluarga : pasien mengatakan dalam keluarga tidak ada yang
memiliki penyakit menular maupun keturunan
D. Pola Fungsi Kesehatan
1. Pola persepsi dan pemeliharan kesehatan
Persepsi terhadap penyakit : Pasien merasa tidak senang karena aktifitas terganggu aktivitas
sehari-hari
Penggunaan
1) Tembakau : pasien merupakan perokok aktif.
2) Alcohol : pasien tidak mengonsumsi alkohol.
3) Alergi : tidak ada riwayat alergi
4) Reaksi alergi : tidak ada
2. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Diet/supplement khusus : tidak ada
Intruksi diet sebelumnya : tidak ada
Penurunan sensasi kecap, mual muntah, stomatis : tidak ada
Fluktuasi BB 6 bulan terakhir : 55 kg
Kesulitan menelan (disfagia) : tidak ada
Gigi : lengkap, tidak ada masalah
Riwayat masalah kulit : ada
Jumlah minum/24 jam dan jenis : menghabiskan ±2000 cc/hari
Frekuensi makan : 3x sehari
Jenis makanan : nasi,ikan,sayur
Pantangan atau alergi : tidak ada
3. Pola Eliminasi
a. Buang Air Besar (BAB)
1) Frekuensi : 1x/hari
2) Warna : kuning kecoklatan
3) Konsistensi : padat lunak
4) Kesulitan : tidak ada
b. Buang Air Kecil (BAK)
1) Frekuensi : 5-6x/hari
2) Warna : kuning
3) Bau : khas
4) Alat bantu tidak ada
0 = mandiri 3 = dibantu orang lain dan peralatan
1 = dengan alat bantu 4 = ketergantungan dan ketidakmampuan
2 = dibantu orang lain
Kegiatan 0 1 2 3 4
Makan dan minum
Mandi
Berpakaian / berdandan
Toiletting
Mobilisasi ditempat tidur
Berpindah
Berjalan
Menaiki tangga
Berbelanja
Memasak
Pemeliharan rumah
c. Kekuatan otot
5 5 ket : Normal
5 5
d. Kemampuan ROM : normal aktif
e. Keluhan saat beraktivitas : tidak ada
4. Pola istirahat dan tidur
a. Lama tidur : 4-5 jam (malam), 1-2 jam (siang)
b. Kebiasaan sebelum tidur : tidak ada
c. Masalah tidur : Sulit tidur karena gatal
d. Merasa tidak segar saat bangun
5. Pola Kognitif dan Presepsi
Status mental : sadar, orientasi baik
Bicara : normal
Kemampuan komunikasi : ya komunikasi dengan baik.
Tingkat ansietas : ringan
Pendengaran : baik, tidak menggunakan alat bantu dengar
Penglihatan : normal, tidak menggunakan alat bantu
Vertigo : tidak ada
Ketidaknyaman/nyeri : nyeri pada seluruh tubuh
6. Persepsi Diri dan konsep diri
Perasaan Klien tentang masalah kesehatan:
Pasien merharap demamnya segera turun
7. Pola Peran Hubungan
Pekerjaan : Nelayan
Sistem pendukung : Istri dan keluarga
Masalah keluarga berkenan dengan perawatan RS : Tidak ada
Kegiatan Sosial ; Tidak ada
8. Pola Seksual dan Reproduksi
Masalah seksual berhubungan dengan penyakit : Tidak ada
9. Pola koping dan toleransi stress
Pasien mengatakan harus tetap berdoa untuk kesembuhan
Kehilangan/Perubahan di masa lalu : tidak ada
Hal yang dilakukan saat ada masalah (sumber koping) : Klien selalu berfikir positif dan berserah
diri dalam menghadapi masalah
Penggunaan obat untuk menghilangkan Stress : Tidak ada
Keadaan emosi dalam sehari-hari : berusaha untuk tetap santai, tidak suka emosi
10. Keyakinan dan kepercayaan.
Agama : Islam
Pengaruh agama dalam kehidupan : menjadi sumber kekuatan dalam hidup.
E. Pemeriksaan Fisik.
1. Keadaan umum
Kesadaran : Compos mentis
GCS : Eye4 Verbal5 Motorik6 Total = 15
Klien tampak pucat
BB : 55 Kg TB : 155 cm
Klien tampak lemas
2. Tanda tanda vital
TD : 130/80mmHg S : 37,5℃ SPO2 : 98%
N : 117x/m RR : 20x/m
3. Kulit
warna kulit : Sawo matang
Kelembapan : Lembab
Tugor kulit : Kembali kurang dari 3 detik
Ada atau tidaknya oedema : Tidak ada
Terasa hangat
Ada Bula pada kaki kanan dan punggung
4. Kepala/Rambut
Inspeksi : Rambut bersih,
Palpasi : Tidak ada oedema,tidak ada nyeri tekan
5. Mata
Inspeksi : simetris kanan dan kiri, reaksi pupil terhadap cahaya: konstriksi
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
6. Telinga
Inspeksi : Normal, tidak ada benjolan
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
7. Hidung dan Sinus
Inspeksi : Normal, tidak ada benjolan
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
8. Mulut dan Tenggorokan
Inspeksi : lidah tampak kotor, tidak sumbing
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
9. Leher
Inspeksi : Normal, tidak ada benjolan
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
10. Toraks atau Paru
Inspeksi : Simetris, pengembangan paru kanan dan kiri
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Terdengar bunyi vesikuler
11. Jantung
Inspeksi : Tidak tampak icus cordis
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : suara pekak
Auskultasi : S1 dan S2 tunggal
12. Abdomen
Inspeksi : Normal, tidak ada benjolan
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi :normal
Auskultasi : Terdengar bising usus 27x/menit
13. Genetalia : Tidak dikaji
14. Rektal : Tidak dikaji
15. Ektremitas
Inspeksi : Normal, jari lengkap, tidak ada benjolan
Palpasi : Akral terasa panas
16. Vaskuler Perifer
CRT : < 3 detik
Clubbing : Tidak ada masalah
Perubahan Warna : tidak ada
17. Neurologis
a. Status mental/GCS : Sadar/ Eye4 Verbal5 Motorik6 Total : 15
b. Motorik : tidak ada masalah
c. Sensorik : tidak ada masalah
d. Tanda rangsangan meningeal : Tidak ada masalah
e. Saraf kranial : tidak ada masalah
f. Reflex fisiologis : reflex Patella (-) Negatif
g. Reflex patologis : reflex Babinski (-) Negatif
ANALISA DATA
DATA ETIOLOGI PROBLEM
DS :
- Tn.A mengatakan merasa tidak nyaman
karena mengalami gatal-gatal pada area
kaki dan punggung disertai nyeri dan
sering digaruk-garuk mengunakan tangan Terpapar allergen Kerusakan integritas
saat gatal menyerang. kulit
- Tn.A mengatakan terdapat bintik – bintik
merah ditangannya terasa gatal ketika
berkeringat
- Tn.A mengatakan menggunakan alat
mandi (sabun dan handuk) bersama
dengan anggota keluarga yang lain.
DO :
- Kulit terlihat terkelupas
- Tampak warna kulit kemerahan
disekitar kulit yang digaruk
- Tampak Bula pada tubuh pasien
Diagnosa
N Tujuan dan Kriteria Hasil
Keperawatan Intervensi Keperawatan (SIKI)
o (SLKI)
(SDKI)
1 Gangguan Intergritas Kulit dan jaringan Perawatan Intergritas kulit (I.11353)
intergritas kulit (L.14125)
berhubungan Observasi :
dengan terpapar Setelah dilakukan intervensi 1.7 Mengidentifikasi penyebab berkurangnya integritas kulit
alergen (D.0129) keperawatan selama 1 x 24 (misalnya, perubahan aliran darah, perubahan status gizi, penurunan
jam diharapkan integritas kulit kelembaban, suhu lingkungan yang ekstrim, penurunan mobilitas).
dan jaringan klien
diharapkan Terapeutik:
ekspetasi meningkat sesuai 1.8 Lakukan pemijatan pada area penonjolan tulang, sesuai kebutuhan
kriteria hasil : 1.9 Gunakan produk petrolium atau minyak bumi pada kulit kering
1. Kerusakan lapisan kulit 1.10 Gunakan produk ringan/alami dan hipoalergi pada kulit yang
menurun sensitif (Terapi Pemberian Topikal Kunyit)
2. Nyeri menurun 1.11 Hindari produk dasar alkohol pada kulit kering
1.12 Dengan Terapi Herbal Pemberian Topikal Kunyit
Edukasi :
Keterangan : 1.11 Gunakan pelembab (mis. Lation, serum)
6. Meningkat 1.12 Minum air putih yang cukup dengan sesuai kebutuhan
7. Cukup meningkat 1.13 Memenuhi asupan nutrisi
8. Sedang 1.14 Mandi dan menggunakan sabun secukupnya
9. Cukup menurun
10. Menurun
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
NO DX KEPERAWATAN IMPLEMENTASI EVALUASI
1 Setelah dilakukan asuhan 1. Mengidentifikasi penyebab gangguan S : Pasien mengatakan gatal
keperawatan selama 1x24 jam integritas kulit dan nyeri sedikit berkurang
Kerusakan integritas kulit 2. Menganjurkan meningkatkan asupan O : Klien tampak tenang
berhubungan dengan terpapar buah dan sayur A: Kerusakan integritas
alergen dapat menurun dengan 3. Menganjurkan mandi dan kulit
kriteria hasil : menggunakan sabun secukupnya P: Intervensi dilanjutkan
1. Kerusakan kulit menurun DS:klien mengtakan mandi 3x sehari
2. Nyeri menurun dan menggunakan sabun secukupnya
4. Mengolesi salp hydrocortison pada
kulit klien.
DS: Klien mengatakan sedikit nyeri
saat obat dioleskan