LAPORAN PENDAHULUAN RESUME KEPERAWATAN PADA AN.
G
DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI
RUANGAN IGD DI RSUD AL-FATAH AMBON
DISUSUN OLEH :
NAMA : SRI ASTARI RUMODAR
NPM : 142012310114
PROGRAM ILMU KEPERAWATAN PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
MALUKU HUSADA
AMBON 2024
LEMBARAN PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN RESUME KEPERAWATAN PADA AN.G
DENGAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI
RUANGAN IGD DI RSUD AL-FATAH AMBON
DISUSUN OLEH:
NAMA : SRI ASTARI RUMODAR
NPM : 142012310114
CI LAHAN CI AKADEMIK
LAPORAN PENDAHULUAN
A. KONSEP DASAR
1. Definisi Demam Berdarah Dengue (DBD)
Demam dengue (DBD) merupakan penyakit tular-nyamuk yang disebabkan oleh virus
dengue. Penyakit demam berdarah dengue mengenai seseorang melalui gigitan nyamuk
Aedes aegypti lebih tepatnya nyamuk betina dewasa. Nyamuk betina memerlukan darah
manusia atau binatang untuk hidup dan berkembang biak. Bila imunitas seseorang baik
maka derajat penyakit tidak berat. Sebaliknya apabila imunitas rendah seperti pada anak-
anak, penyakit infeksi dengue ini dapat menjadi berat bahkan dapat mematikan (Ngadino,
Marlik, and Nurmayanti 2021).
2. Etiologi
Diakibatkan virus dengue dari kelompok arthropod-borne virus. Ada empat serotipe yaitu
DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4, yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti.
Nyamuk ini berkembang biak di wilayah tropis dan bersarang pada genangan air. Semua
tipe ada di Indonesia dan DEN-3 merupakan serotipe terbanyak. Infeksi akibat satu
serotip akan menimbulkan antibodi yang terbentuk terhadap serotipe yang sama,
sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap serotipe yang
lain. Seseorang yang menetap di wilayah endemis dengue dapat terinfeksi oleh 3 atau 4
serotipe 10 selama hidupnya. Keempat serotipe virus dengue dapat ditemukan diberbagai
daerah di Indonesia (Dian Herani, 2020). Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue
dari kelompok arbovirus B, yaitu arthropod-born envirus atau virus yang disebarkan oleh
artropoda. Vector utama penyakit DBD adalah nyamuk aedes aegypti (didaerah
perkotaan) dan aedes albopictus (didaerah pedesaan). Sifat nyamuk senang tinggal pada
air yang jernih dan tergenang, telurnya dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu 20-
42◦C. Bila kelembaban terlalu rendah telur ini akan menetas dalam waktu 4 hari,
kemudian untuk menjadi nyamuk dewasa ini memerlukan waktu 9 hari. Nyamuk dewasa
yang sudah menghisap darah 3 hari dapat bertelur 100 butir (Silvia, 2017).
3. Manefestasi klinis
Pada pasien anak bisa dijumpai dengan tanda klinis seperti :
a. Demam berlangsung lebih dari 3 hari dengan suhu mencapai 40 derajat celcius, dan
pemberian obat penurun panas.
b. Demam disertai bintik-bintik merah di kulit yang tidak hilang dengan penekanan
c. Demam disertai perdarahan spontan dari mulut, hidung atau tempat lain yang tidak
biasa
d. Demam yang disertai penurunan kadar trombosit, penurunan kadar leukosit, dan
peningkatan hematokrit
e. Terdapat penderita DBD di sekitar tempat tinggal atau sekolah
f. Anak cenderung tidur dan sulit dibangunkan, meracau, ujung – ujung jari teraba
dingin saat bebas demam (kemungkinan anak mengalami renjatan)
g. Demam yang disertai dengan tanda bahaya DBD seperti muntah-muntah yang sering,
sakit perut hebat atau buang air kecil yang berkurang atau tidak ada dalam 4-6 jam
terakhir
4. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang mungkin dilakukan pada penderita DBD antara lain adalah
(Wijayaningsih 2017) :
a. Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan darah rutin dilakukan untuk memeriksa kadar hemoglobin, hematokrit,
jumlah trombosit. Peningkatan nilai hematokrit yang selalu dijumpai pada pasien DBD
merupakan indikator terjadinya perembesan plasma.
b. Uji Serologi
Uji HI (Hemaglutination Inhibition Test) Uji serologi didasarkan atas timbulnya
antibody pada penderita yang terjadi setelah infeksi. Untuk menentukan kadar
antibody atau antigen didasarkan pada manifestasi reaksi antigen-antibody.
c. Uji hambatan
Hemaglutinasi Prinsip metode ini adalah mengukur campuran titer IgM dan IgG
berdasarkan pada kemampuan antibody-dengue yang dapat menghambat reaksi
hemaglutinasi darah angsa oleh virus dengue yang disebut reaksi hemaglutinasi
inhibitor (HI).
d. Uji netralisasi
(Neutralisasi Test = NT test) Merupakan uji serologi yang paling spesifik dan sensitif
untuk virus dengue. Menggunakan metode plague reduction neutralization test 21
(PRNT). Plaque adalah daerah tempat virus menginfeksi sel dan batas yang jelas akan
dilihat terhadap sel di sekitar yang tidak terkena infeksi.
e. Uji ELISA
Anti dengue Uji ini mempunyai sensitivitas sama dengan uji Hemaglutination
Inhibition (HI). Dan bahkan lebih sensitive dari pada uji HI. Prinsip dari metode ini
adalah mendeteksi adanya antibody IgM dan IgG di dalam serum penderita.
f. Rontgen Thorax, pada foto thorax (pada DBD grade III/ IV dan sebagian besar grade
II) di dapatkan efusi pleura.
5. Komplikasi
Demam berdarah yang tidak tertangani dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti
dengue shock syndrome (DSS). Selain menampakkan gejala demam berdarah, DSS juga
memunculkan gejala seperti:
a. Tekanan darah menurun.
b. Pelebaran pupil.
c. Napas tidak beraturan.
d. Mulut kering.
e. Kulit basah dan terasa dingin.
f. Denyut nadi lemah.
g. Jumlah urine menurun.
6. Patofisiologi
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala
karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh tubuh,
hyperemia di tenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin terjadi pada
system retikolo endhothelial seperti pembesaran kelenjar- kelenjar getah bening, hati dan
limpa. Reaksi yang berbeda nampak bila seseorang mendapatkan infeksi berulang dengan
tipe virus yang berlainan. Berdasarkan itu, akan timbul the secondary heterologous
infection atau the sequential infection of hypothesis. Re-infeksi akan menyebabkan suatu
reaksi anamnetik antibody, sehingga menimbulkan konsentrasi kompleks antigen
antibody (kompleks virus antibody) yang tinggi.
7. Penatalaksanaan DBD
Penatalaksanaan medis menurut (KEMENKES RI, 2017) adalah :
a. Pada fase demam, pasien dianjurkan :
1) Tirah baring selama masih demam,
2) Memberikan kompres hangat,
3) Memberikan terapi farmakologi (antipiretik) dan terapi nonfarmakologi
(pemberian obat dari bahan herbal)
4) Memberikan cairan elektrolit per oral
5) Memonitor suhu tubuh, jumlah trombosit, hematokrit sampai fase kovalensens.
(Kemenkes RI, 2017)
b. Tatalaksana DBD tanpa syok :
Perbedaan patofisiologik utama antara DBD dan penyakit lain adalah adanya
peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan perembesan plasma dan
gangguan hemostatis. Prognosis DBD terletak pada pengenalan awal terjadinya
perembesan plasma, yang dapat diketahui dari peningkatan kadar hematokrit. Fase
kritis pada umumnya mulai terjadi pada hari ketiga sakit. Penurunan jumlah trombosit
sampai ≤100.000/μl atau kurang dari 1-2 trombosit/Ipb (rata-rata dihitung pada 10
Ipb) terjadi sebelum peningkatan hematokrit dan sebelum terjadi penurunan suhu.
Peningkatan hematokrit ≥20% mencerminkan perembesan plasma dan merupakan
indikasi untuk pemberian cairan. Larutan garam isotonik atau kristaloid sebagai
cairan awal pengganti volume plasma dapat diberikan sesuai dengan berat ringan
penyakit.(Kemenkes RI, 2017)
c. Tatalaksana DBD dengan syok :
Syok merupakan keadaan kegawatan. Cairan pengganti (volume replacement) adalah
pengobatan yang utama, berguna untuk memperbaiki kekurangan volume plasma.
Pasien harus dirawat dan segera diobati bila dijumpai tanda-tanda syok yaitu gelisah,
letargi/lemah, ekstrimitas dingin, bibir sianosis, oliguri, dan nadi lemah, tekanan nadi
menyempit (≤ 20mmHg) atau hipotensi, dan peningkatan mendadak dari kadar
hematokrit atau kadar hematokrit meningkat terus menerus walaupun telah diberi
cairan [Link] penderita SRD dengan tensi tak terukur dan tekanan nadi ≤20
mm Hg segera berikan cairan kristaloid sebanyak 20 ml/kg BB selama 30 menit, bila
syok teratasi turunkan menjadi 10 ml/kgBB/jam.
8. WOC
B. TINJAUAN ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian Keperawatan
a. Pemeriksaan Fisik meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi dari ujung rambut
sampai ujung kaki.
1) Status Kesehatan Umum Berdasarkan tingkatan (grade) DBD keadaan umum
2) Kepala dan leher
3) Dada (Thorx)
4) Abdomen/perut
5) System integuman
6) Genetalia
7) Ekstermitas
b. Pengkajian focus
1) Didapatkan Suhu tubuh meningkat 37,5 ℃ – 40 ℃ dan berlangsung 2-7 hari,
menggigil, wajah tampak kemerahan.
2) Mukosa mulut kering, perdarahan gusi, lidah kotor
3) Didapatkan bintik merah pada kulit (petekia), uji torniquet (+),epistaksis, ekimosis,
hematoma, hematemesis, melena.
4) Adanya peningkatan TD, HR, nadi, kulit hangat dan kemerahan.
5) Adanya penurunan berkemih, urine berwana gelap, berkemih malam hari
(nokturia), diare/konstipasi.
6) Adanya Tanda mual-mual, muntah.
7) Tampak gejala Keletihan/kelelahan terus menerus sepanjang hari,insomnia, nyeri
dada dengan aktivitas, dispnea pada istirahat dan 26 tanda Gelisah, perubahan
status mental mis : letargi, tanda vital berubah pada aktivitas.
8) Terkadang anak ansietas, kuatir dan takut.
9) Adanya nyeri tekan pada epigastrik
10) Didapatkan palpasi teraba dan adanya pembesaran hati dan limpa
11) Adanya renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah, hipotensi, ekstremitas dingin,
gelisah, sianosis perifer, nafas dangkal.
12) Adanya Hasil dari pemeriksaan laboratorium didapatkan Hemoglobin dan
Hematokrit meningkat ( ≥20%), penurunan trambositopenia (≤100.000/ml),
Leukopenia (mungkin normal atau lekositosis). Ig.D dengue Positif, Hasil
pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia, hipokloremia, dan
hiponatremia, Urium dan Ph darah mungkin meningkat, Asidosis metabolic : Pco2
2. Diagnose Keperawatan
a. Risiko pendarahan berhubungan dengan gangguan koagulasi ditandai dengan
trombositopeni.
b. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis ditandai dengan
mengeluh nyeri.
c. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan suhu tubuh
diatas normal, kulit merah, takikardi, kulit terasa hangat
d. Defisit nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan mencerna makanan
e. Risiko hipovolemi berhubungan dengan kehilangan cairan secara aktif ditandai
dengan pendarahan.
f. Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi ditandai
dengan menanyakan masalah yang dihadapi.
g. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional ditandai dengan merasa bingung
dan sulit berkonsentrasi.
3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Kriteria hasil Intervensi
1 Risiko Setelah dilakukan Pencegahan Perdarahan (I.02067)
pendarahan tindakan Observasi :
(D.0012) keperawatan 1. Monitor nilai hematokrit/ hemoglobin sebelum dan setelah
berhubungan selama 3x24 jam kehilangan darah
dengan diharapkan [Link] tanda-tanda vital ortostatik
gangguan Tingkat 3 Monitor koagulasi (mis. prothrombin time (PT), partial
koagulasi perdarahan thromboplastin time (PTT), fibrinogen, degradasi fibrin dan
ditandai dengan menurun dengan atau platelet)
trombositopeni. kriteria hasil : Terapeutik
- Kelembapan 4 Pertahankan bed rest selama perdarahan
membrane Edukasi
mukosa 5 Jelaskan tanda dan gejala perdarahan
(Menurun) 6 Menggunakan kaus kaki saat ambulasi
- Hemoglobin 7 Anjurkan meningkatkan asupan cairan untuk menghindari
(Membaik) konstipasi
- Hematokrit 8 Anjurkan meningkatkan asupan makanan dan vitamin K
(Membaik) Kolaborasi
9 Kolaborasi pemberian obat pengontrol perdarahan,jika perlu
2 Nyeri akut Setelah dilakukan Manajemen Nyeri (I.08238)
(D.0077) tindakan Observasi
berhubungan keperawatan 1 Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
dengan agen selama 3x24 jam intensitas nyeri
pencedera diharapkan 2 Identifikasi skala nyeri
fisiologis Tingkat yeri 3 Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan
ditandai dengan menurun dengan nyeri
mengeluh nyeri. kriteria hasil : 4 Monitor efek samping penggunaan analgetik
- Keluhan nyeri Terapeutik
(Menurun) 5 Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa
- Meringis nyeri (mis. TENS, hipnosis, akupresure, terapi musik,
(Menurun) biofeedback, terapi pijat, aromaterapi, teknik imajinasi
- Gelisah terbimbing, kompres hangat atau dingin, terapi bermain)
(Menurun) 6 Fasilitasi istirahat dan tidur
- Kesulitan tidur Edukasi
(Menurun) 7 Jelaskan penyebab periode dan pemicu nyeri
Kolaborasi
8 Kolaborasi pemberian analgetik
3 Hipertermi Setelah dilakukan Manajemen Hipertermi (I,15506)
(D.0130) tindakan Observasi
berhubungan keperawatan 1 Identifikasi penyebab hipertermi (mis. Dehidrasi, terpapar
dengan proses selama 3x24 jam lingkungan panas, penggunaan incubator)
penyakit diharapkan 2 Monitor suhu tubuh
ditandai dengan Termoregulasi 3 Monitor kadar elektrolit
suhu tubuh membaik dengan Terapeutik
diatas normal, kriteria hasil : 4 Longgarkan atau lepaskan pakaian
kulit merah, - Suhu tubuh 5 Berikan cairan oral
takikardi, kulit (Membaik) 6 Berikan oksigen
terasa hangat. - Suhu kulit Edukasi
(membaik) 7 Anjurkan tirah baring
- Pucat (Menurun) Kolaborasi
8 Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena
4 Defisit nutrisiSetelah dilakukan Manajemen Nutrisi (I.03119)
(D.0019) tindakan Observasi
berhubungan keperawatan 1 Identifikasi status nutrisi
dengan selama 3x24 jam 2 Monitor asupan makanan
ketidakmampuan diharapkan Status 3 Monitor berat badan
mencerna Nutrisi membaik 4 Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
makanan dengan kriteria Terapeutik
ditandai dengan hasil : 5 Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein
nafsu makan - Nafsu makan 6 Berikan suplemen makanan
menurun. (Membaik) Edukasi
- Membran 7 Anjurkan posisi duduk, jika mampu
mukosa Kolaborasi
(Membaik) 8 Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis.
- Frekuensi makan Pereda nyeri, antlemetik)
(Membaik)
5 Risiko Setelah dilakukan Manajemen Hipovolemia (I.03116)
hipovolemia tindakan Observasi
(D.0034) keperawatan 1 Periksa tanda dan gejala hipovolemia (mis. frekuensi nadi
berhubungan selama 3x24 jam meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun,
dengan diharapkan Status tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran
kekurangan Cairan membaik mukosa kering, volume urine menurun, hematokrit meningkat,
intake cairan dengan kriteria haus, lemah)
ditandai dengan hasil : 2 Monitor intake dan output cairan
Hematokrit - Kadar Hb Terapeutik
meningkat. (Membaik) 3 Hitung kebutuhan cairan
- Kadar Ht 4 Berikan asupan cairan oral
(Membaik) Edukasi
- Intake cairan 5 Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
(Membaik) Kolaborasi
- Suhu tubuh 6 Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis (mis. NaCl, RL)
(Membaik) 7 Kolaborasi pemberian cairan IV hipotonis (mis. glukosa
2,5%, NaCl 0,4%)
8 Kolaborasi pemberian cairan koloid (mis. albumin,
plasmanate)
6 Defisit Setelah dilakukan Edukasi Kesehatan (I.12383)
Pengetahuan tindakan Observasi
(D.0111) keperawatan 1 Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
berhubungan selama 3x24 jam Terapeutik
dengan kurang diharapkan 2 Berikan kesempatan untuk bertanya
terpapar Tingkat Edukasi
informasi Pengetahuan 3 Jelaskan factor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan,
ditandai dengan meningkat dengan 4 Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat,
menanyakan kriteria hasil : 5 Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan
masalah yang - Kemampuan perilaku hidup bersih dan sehat
dihadapi. menjelaskan
pengetahuan
tentang suatu
topic (Meningkat)
- Perilaku sesuai
dengan
pengetahuan
(Meningkat)
- Persepsi yang
keliru terhadap
masalah
(Menurun)
7 Ansietas Setelah dilakukan Reduksi Ansietas (I.09314)
(D,0080) tindakan Observas
berhubungan keperawatan 1 Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal)
dengan krisis selama 3x24 jam Terapeutik
situasional diharapkan 2 Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan
ditandai dengan Tingkat Ansietas kepercayaan
merasa bingung menurun dengan 3 Dengarkan dengan penuh perhatian
dan sulit kriteria hasil : 4 Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan
berkonsentrasi. - Verbalisasi Edukasi
khawatir akibat 5 Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien
kondisi yang 6 Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi
dihadapi Kolaborasi
(Menurun) 7 Kolaborasi pemberian obat antiansietas, jika perlu
- Perilaku gelisah
(Menurun)
- Konsentrasi
(Membaik)
DAFTAR PUSTAKA
Kartika Taurisia. (2019). Dengue Haemoragic Fever (DHF). 2000, 5–29.
[Link] II Kartika [Link]
Mansjour. (2021). Demam Berdarah Dengue
Ningsih, T. A. (2019). Modul Penanggulangan DBD Oleh Tim Jumantik SD (Issue 0380).
Rahmawati, S. U. (2021). Asuhan Keperawatan Pada An. R Dengan Demam Berdarah Dengue
(Dbd) Di Ruang Baitunnisa 1 Rumah Sakit Islam Sultan
[Link]://[Link]/23688/1/40901800053_fullp [Link]
Rizki, K. A. (2019). DBD pada anak.
Sari, K. (2019). Konsep Dasar Hipovolemia dan Dengue Haemoragic Fever.
Sera Adhe. (2020). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Melalui Edu DBD Game.
[Link] Chapter [Link]