0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan7 halaman

Penyuluhan Demam Tifoid untuk Pasien

Diunggah oleh

Aprilia Damayanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan7 halaman

Penyuluhan Demam Tifoid untuk Pasien

Diunggah oleh

Aprilia Damayanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

DEMAM THYPOID

DOSEN PENGAMPU: Ns. Meily Nirnasari, [Link], M. Biomed


DISUSUN OLEH :
CHARISMA NIRJARA
22223011

PROGRAM D-III KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG
TUAH TANJUNGPINANG
2024
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok Bahasan : Demam Thypoid
Hari/Tanggal : Jumat, 6 desember 2024
Waktu : 30 menit
Tempat : Ruang kelas A
Sasaran : Pasien demam thypoid
Penyuluh : Charisma Nirjara
A. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan atau pendidikan kesehatan pada pasien dan
keluarga selama 30 menit, diharapkan dapat memahami tentang
“Gambaran Demam Tifoid”

B. Tujuan Instruksional Khusus


Setelah dilakukan penyuluhan atau pendidikan kesehatan diharapkan
keluarga dapat menjelaskan:
1. Pengertian Demam Tifoid
2. Tanda dan gejala Demam Tifoid
3. Komplikasi demam tifoid
4. Cara pencegahan Demam Tifoid
5. Cara pengobatan Demam Tifoid

C. Materi
Terlampir

D. Metode
Ceramah, diskusi

E. Media
Leaflet

F. Strategi Penyuluhan

No Tahap Kegiatan
Penyuluh Pasien Waktu
1 Pembukaan - Penyuluh membuka - Mendengarkan 5 menit
pembicaraan, - Menjawab
- Menyampaikan salam, salam
- Menyapa pasien - Kooperatif
berkenalan - Mendengarkan
- Menyampaikan tujuan
2 Inti - Menanyakan Waktu - Menjelaskan 15 menit
- Inti pengetahuan pasien secara singkat
tentang demam tifoid. pengetahuan
- Menjelaskan pengertian audiens caries
dari demam tifoid. dentis.
- Menjelaskan tanda dan - Mendengarkan
gejala dari demam tentang
tifoid. - Mendengarkan
- Menjelaskan penyebab - Mendengarkan
pada demam tifoid. - Mendengarkan
- Menjelaskan cara - Mendengarkan
penanganan pada dan mengamati
demam tifoid.
- Menjelaskan cara
pengobatan
3 Penutup - Menyimpulkan materi yang - Mendengarkan 10 menit
telah disampaikan - Mengajukan
- Memberikan kesempatan pertanyaan
pasien untuk bertanya - Menjawab
- Penyaji mengajukan pertanyaan
pertanyaan - Menjawab
- Menutup pertemuan dan salam
mengucapkan salam
MATERI
A. Pengertian
Demam Tifoid Demam Tifoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik
bersifat akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Penyakit ini ditandai
oleh panas berkepanjangan,ditopang dengan bakteremia tanpa keterlibatan
struktur endotelial atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus
multiplikasi ke dalam sel fagosit mononuklear dari limpa,kelenjar limfe
usus dan Peyer’s patch. Terjadinya penularan salmonella typhi sebagian
besar melalui makanan / minuman yang tercemar oleh kuman yang berasal
dari penderita atau pembawa kuman, biasanya keluar bersama-sama
dengan tinja (melalui rute oral fekal = jalur oro-fekal).
B. Tanda dan Gejala
Masa tunas demam tifoid berlangsung 10–14 hari. Gejala-gejala yang
timbul sangat bervariasi. Perbedaan ini tidak saja antara berbagai bagian
dunia, tetapi juga di daerah yang sama dari waktu ke waktu. Selain itu
gambaran penyakit bervariasi dari penyakit ringan yang tidak terdiagnosis,
sampai gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi dan kematian.
Hal ini menyebabkan bahwa seorang ahli yang sudah sangat
berpengalaman pun dapat mengalami kesulitan untuk membuat diagnosis
klinis demam tifoid. Dalam minggu pertama penyakit, keluhan dan gejala
serupa dengan penyakit akut pada umumnya. Yaitu demam, nyeri kepala,
pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan
tidak enak diperut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya
dijumpai suhu badan meningkat. Dalam minggu kedua gejala gejala
menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardi relatif, lidah yang khas
(kotor ditengah, tepi dan ujung merah dan tremor), hepatomegali,
splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa samnolen, stupor,
koma, delirium atau psikosis, roseolae jarang ditemukan pada orang
Indonesia.
C. Komplikasi Demam Typhoid
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit ini yaitu:
1. Perforasi usus halus dilaporkan dapat terjadi pada 0,5 – 3%, sedangkan
perdarahan usus pada 1 – 10% kasus dema Tifoid anak. Penyulit ini
biasanya terjadi pada minggu ke-3 sakit, walau pernah dilaporkan
terjadi pada minggu pertama. Komplikasi di dahului dengan penurunan
suhu, tekanan darah dan peningkatan frekuensi nadi. Pada perforasi
usus halus ditandai oleh nyeri abdomen lokal pada kuadran kanan
bawah akan tetapi dilaporkan juga nyeri yang menyelubung.
Kemudian akan diikuti muntah, nyeri pada perabaan abdomen, defance
muskulare, hilangnya keredupan hepar dan tanda-tanda peritonitis
yang lain. Beberapa kasus perforasi usus halus mempunyai manifestasi
klinis yang tidak jelas.
2. Komplikasi pada neuropsikiatri. Sebagian besar bermanifestasi
gangguan kesadaran, disorientasi, delirium, obtundasi, stupor bahkan
koma. Beberapa penulis mengaitkan manifestasi klinis neuropsikiatri
dengan prognosis buruk. Penyakit neurologi lain adalah rombosis
sereberal, afasia, ataksia sereberal akut, tuli, mielitis tranversal, neuritis
perifer maupun kranial, meningitis, ensefalomielitis, sindrom Guillain-
Barre. Dari berbagai penyakit neurologik yang terjadi, jarang
dilaporkan gejala sisa yang permanen (sekuele).
3. Miokarditis. Dapat timbul dengan manifestasi klinis berupa aritmia,
perubahan ST-T pada EKG, syok kardiogenik, infiltrasi lemak maupun
nekrosis pada jantung.
4. Hepatitis tifosa asimtomatik juga dapat dijumpai pada kasus demam
Tifoid ditandai peningkatan kadar transaminase yang tidak mencolok.
5. Ikterus dengan atau tanpa disertai kenaikan kadar transaminase,
maupun kolesistitis akut juga dapat dijumpai, sedang kolesistitis
kronik yang terjadi pada penderita setelah mengalami demam Tifoid
dapat dikaitkan dengan adanya batu empedu dan fenomena pembawa
kuman (karier). [Link] bahkan pielonefritis dapat juga merupakan
penyulit demam Tifoid.
6. Proteinuria transien sering dijumpai, sedangkan glomerulonefritis yang
dapat bermanifestasi sebagai gagal ginjal maupun sindrom nefrotik
mempunyai prognosis buruk. h. Pneumonia sebagai komplikasi sering
dijumpai pada demam Tifoid. Keadaan ini dapat ditimbulkan oleh
kuman Salmonella typhi, namun sering kali sebagai akibat infeksi
sekunder oleh kuman lain. i. Penyakit lain yang dapat dijumpai adalah
trombositopenia, koagulasi intrvaskular diseminata, Hemolytic Uremic
Syndrome (HUS), fokal infeksi di beberapa lokasi sebagai akibat
bakteremia misalnya infeksi pada tulang,otak, hati, limpa, otot,
kelenjar ludah dan persendian.
D. Penatalaksanaan Pengobatan
Pengobatan demam tifoid terdiri atas tiga bagian yaitu : Perawatan, Diet
dan Obat-obatan.
1. Perawatan Pasien dengan demam tifoid perlu dirawat di rumah sakit
untuk isolasi, observasi dan pengobatan. Pasien harus tirah baring
absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama
14 hari. Mobilisasi pasien harus dilakukan secara bertahap, sesuai
dengan pulihnya kekuatan pasien. Pasien dengan kesadaran yang
menurun, posisi tubuhnya harus diubah-ubah pada waktu-waktu
tertentu untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan
dekubitus. Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena
kadang-kadang terjadi obstipasi dan retensi air kemih.
2. Diet Dimasa lampau, pasien dengan demam tifoid diberi bubur saring,
kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat
kesembuhan pasien. Karena ada pendapat bahwa usus perlu
diistirahatkan. Beberapa peneliti menunjukkan bahwa pemberian
makanan padat dini dapat diberikan dengan aman pada pasien demam
tifoid.
3. Obat Obat-obat antimikroba yang sering dipergunakan ialah :
a. Kloramfenikol
b. Tiamfenikol
c. Kotrimoksazol
d. Ampisillin dan Amoksisilin
e. Sefalosporin generasi ketiga
f. Fluorokinolon.
Obat-obat simptomatik :
1. Antipiretika (tidak perlu diberikan secara rutin).
2. Kortikosteroid (tapering off Selama 5 hari).
3. Vitamin B komp. Dan C sangat diperlukan untuk menjaga
kesegaran dan kekuatan badan serta berperan dalam kestabilan
pembuluh darah kapiler.
E. Pencegahan Demam Tifoid
Pencegahan adalah segala upaya yang dilakukan agar setiap anggota
masyarakat tidak tertular oleh bakteri Salmonella. Ada 3 pilar strategis
yang menjadi program pencegahan yakni:
1. Mengobati secara sempurna pasien dan carrier demam Tifoid.
2. Mengatasi faktor-faktor yang berperan terhadap rantai penularan.
3. Perlindungan dini agar tidak tertular. Demam Tifoid dapat dicegah
dengan kebersihan pribadi dan kebersihan lingkungan. “Orang
Indonesia itu umumnya cuci tangan setelah makan, padahal harusnya
sebelum makan. Setelah makan, tangannya kotor, baru dicuci. Tapi
kalau sebelum makan dia lupa. Padahal tangan itu paling kotor, kena
segala macam. Lewat tangan kita bisa memindahkan kuman.
Berikut beberapa petunjuk untuk mencegah penyebaran demam Tifoid:
1. Cuci tangan. Cuci tangan dengan teratur meruapakan cara terbaik
untuk mengendalikan demam Tifoid atau penyakit infeksi lainnya.
Cuci tangan anda dengan air (diutamakan air mengalir) dan sabun
terutama sebelum makan atau mempersiapkan makanan atau setelah
menggunakan toilet. Bawalah pembersih tangan berbasis alkohol jika
tidak tersedia air.
2. Hindari minum air yang tidak dimasak. Air minum yang
terkontaminasi merupakan masalah pada daerah endemik Tifoid.
Untuk itu, minumlah air dalam botol atau kaleng. Seka seluruh bagian
luar botol atau kaleng sebelum anda membukanya. Minum tanpa
menambahkan es di dalamnya. Gunakan air minum kemasan untuk
menyikat gigi dan usahakan tidak menelan air di pancuran kamar
mandi.
3. Tidak perlu menghindari buah dan sayuran mentah. Buah dan sayuran
mentah mengandung vitamin C yang lebih banyak daripada yang telah
dimasak, namun untuk menyantapnya, perlu diperhatikan hal-hal
sebagai berikut. Untuk menghindari makanan mentah yang tercemar,
cucilah buah dan sayuran tersebut dengan air yang mengalir.
Perhatikan apakah buah dan sayuran tersebut masih segar atau tidak.
Buah dan sayuran mentah yang tidak segar sebaiknya tidak disajikan.
Apabila tidak mungkin mendapatkan air untuk mencuci, pilihlah buah
yang dapat dikupas.
4. Pilih makanan yang masih panas. Hindari makanan yang telah disiman
lama dan disajikan pada suhu ruang. Yang terbaik adalah makanan
yang masih panas. Walaupun tidak ada jaminan makanan yang
disajikan di restoran itu aman, hindari membeli makanan dari penjual
di jalanan yang lebih mungkin terkontaminasi.
Jika anda adalah pasien demam Tifoid atau baru saja sembuh dari demam
Tifoid, berikut beberapa tips agar anda tidak menginfeksi orang lain:
1. Sering cuci tangan anda. Ini adalah cara penting yang dapat anda
lakukan untuk menghindari penyebaran infeksi ke orang lain. Gunakan
air (diutamakan air mengalir) dan sabun, kemudian gosoklah tangan
selama minimal 30 detik, terutama sebelum makan dan setelah
menggunakan toilet.
2. Bersihkan alat rumah tangga secara teratur. Bersihkan toilet, pegangan
pintu, telepon, dan keran air setidaknya sekali sehari.
3. Hindari memegang makanan. Hindari menyiapkan makanan untuk
orang lain sampai dokter berkata bahwa anda tidak menularkan lagi.
Jika anda bekerja di industri makanan atau fasilitas kesehatan, anda
tidak boleh kembali bekerja sampai hasil tes memperlihatkan anda
tidak lagi menyebarkan bakteri Salmonella.
4. Gunakan barang pribadi yang terpisah. Sediakan handuk, seprai, dan
peralatan lainnya untuk anda sendiri dan cuci dengan menggunakan air
dan sabun.

DAFTAR PUSTAKA
Aru W, Sudoyo, dkk. (2020). editor ; Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam; Jilid III,
edisi IV;Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI, Jakarta
Alan R. Tumbelaka. (2019). Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Dalam
Pediatrics Update. Cetakan pertama; Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta
Brunner & Suddath. (2020) Buku ajar keperawatan medical bedah, Buku 3, Edisi 4
Penerbit Buku Kedokteran EGC

Anda mungkin juga menyukai