Pengaruh Faktor Terhadap Income Smoothing
Pengaruh Faktor Terhadap Income Smoothing
I. PENDAHULUAN
Dalam membangun dan menjalankan sebuah perusahaan membutuhkan dana atau modal, baik dana yang berasal
dari internal atau dari laba perusahaan atau dana eksternal yang berasal dari investor dalam bentuk saham maupun
obligasi. Para investor dalam menentukan pada perusahaan mana akan berinvestasi, akan melihat dari kinerja
perusahaan yang terdapat pada laporan keuangan. Manajemen perusahaan, pemegang saham, karyawan, pemasok,
kreditur, pelanggan, pemerintah, dan anggota masyarakat lainnya pada dasarnya dibagi menjadi dua kategori yaitu
internal dan eksternal, semua pihak tersebut membutuhkan informasi dari laporan keuangan, yang memberikan acuan
mengenai keadaan keuangan perusahaan. Laporan keuangan meliputi catatan atas laporan keuangan, laporan laba rugi,
perubahan posisi keuangan (laporan arus kas, atau laporan arus dana). Laporan keuangan yang berfungsi sebagai
standar kinerja perusahaan dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan laba.
Masa depan perusahaan sangat dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan laba, investor lebih cenderung berinvestasi
dalam perusahaan dengan laba stabil daripada perusahaan dengan laba tinggi namun berfluktuasi. Selain itu kestabilan
laba juga dapat mendukung kebijakan dividen yang stabil[1]. Kepemilikan perusahaan atas laba yang stabil dapat
memberikan keamanan investasi serta memastikan kelangsungan hidup dan kesuksesan jangka panjang perusahaan.
Manajemen mungkin tergoda untuk terlibat dalam perilaku yang tidak semestinya (dysfunctional behavior) sebagai
akibat dari fakta bahwa investor sangat bergantung pada keuntungan dalam mengambil keputusan.
Manajemen biasanya melakukan pendekatan perataan laba atau income smoothing. Income smoothing digunakan
untuk mengurangi variabilitas arus laba yang dilaporkan sehubungan dengan tujuan yang dirasakan manajemen dengan
menggunakan teknik akuntansi atau manipulasi transaksi [2].
Perkembangan laba yang dapat dihasilkan oleh suatu perusahaan sangat mempengaruhi masa depan perusahaan,
perusahaan dengan laba yang terlihat stabil lebih menarik perhatian para investor untuk beriventasi dibandingkan
perusahaan dengan laba yang tinggi namun tidak stabil. Selain itu laba yang stabil juga dapat mendukung kebijakan
deviden yang stabil[3]. Perusahaan dengan laba yang stabil akan memberikan jaminan keamanan untuk beriventasi
dan memiliki masa depan serta kelangsungan perusahaan yang baik dalam jangka waktu yang panjang. Dikarenakan
laba sangat penting bagi para investor untuk dapat pengambilan keputusan, hal ini dapat membuat peluang bagi para
manajemen untuk melakukan perilaku yang tidak semestinya (disfunctional behavior) [4].
Berikut grafik presentase laba perusahaan manufaktur periode tahun 2018 sampai 2021, dimana perhitungan
rasio profitabilitas yaitu Profit Margin Ratio (PMR).
LABA PERUSAHAAN MANUFAKTUR PERIODE
2018 SAMPAI 2021
100,00%
80,00%
60,00%
40,00%
20,00%
0,00%
-20,00%
2018 2019 2020 2021
AISA -7,80% 75,13% 93,89% 0,58%
JPFA 6,22% 4,85% 2,71% 4,75%
PBID 6,84% 4,83% 9,65% 9,29%
UNVR 21,72% 17,27% 16,67% 14,56%
Profitabilitas
Profitabilitas suatu perusahaan mewujudkan perbandingan antara laba dan aktiva atau modal yang menghasilkan laba
tersebut. Profitabilitas suatu perusahaan dapat diukur dengan menghubungkan antara keuntungan atau laba yang
diperoleh dari kegiatan pokok perusahaan dengan kekayaan atau aset yang dimilikiuntuk menghasilkan
keuntungan perusahaan[7].
Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan dapat dinilai dari aset yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Perusahaan besar memiliki
kecenderungan untuk melakukan praktik perataan laba dibanding dengan perusahaan kecil, hal ini dikarenakan
perusahaan besar memperoleh perhatian yang lebih besar dari pihak analis,investor,maupun pemerintah [5]
Pengukuran ukuran perusahaan dilakukan dengan transformasi total aktiva/aset entitas ke logaritma natural (Ln).
Pengukuran ukuran perusahaan dengan Ln(total Aset) dinilai lebih stabil jika dibandingkan dengan proksi lainnya.
Nilai total aktiva/aset biasanya bernilai lebih besar, maka nilai total aset disederhanakan dengan logaritma natural
tanpa merubah proporsi jumlah aset yang sebenarnya [8].
Financial Leverage
Financial leverage menunjukan seberapa efisien perusahaan memanfaatkan ekuitas pemilik dalam rangka
mengantisipasi utang jangka pendek dan utang jangka panjang perusahaan, sehingga tidak akan mengganggu operasi
perusahaan secara keseluruhan dalam jangka panjang. Financial leverage yang besar menyebabkan turunnya minat
investor menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut, sehingga dapat memicu adanya perataan laba [9]. Adapun
manfaat yang terdapat dalam financial leverage:
1. Alat penting yang dapat digunakan manajemen perusahaan untuk membuat keputusan pendanaan dan investasi
terbaik.
2. Menyediakan berbagai sumber pembiayaan dimana perusahaan dapat mencapai target pendapatannya.
3. Teknik penting dalam berinvestasi karena membantu perusahaan menetapkan ambang batas untuk perluasan
4. operasi bisnis. Misalnya, dapat digunakan untuk merekomendasikan pembatasan ekspansi bisnis setelah
pengembalian investasi tambahan yang diproyeksikan lebih rendah daripada biaya utang.
5. Untuk dapat mengetahui posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada pihak lainnya.
6. Sebagai alat menilai seberapa besar dampak utang perusahaan mengenai manajemen modal.
7. Untuk dapat mengetahui seberapa besar pengaruh utang perusahaan terhadap penggelolaan aktiva (Harmony,
2021).
Cash Holding
Rasio cash holding menggambarkan seberapa banyak total aset yang dimiliki dalam bentuk tunai atau setara kas.
Semakin tinggi rasio cash holding, maka semakin rendah resiko yang dimiliki perusahaan dalam memenuhi kewajiban
dengan tepat waktu. Akan tetapi, tingkat pengembalian menjadi rendah karena kas atau uang tunai itu sendiri tidak
dimanfaatkan untuk menghasilkan keuntungan [10]. Terdapat beberapa faktor yang dianggap dapat mempengaruhi
tingkat cash holding, yaitu:
1. Growth Opportunity
Dari sudut pandang investor, pertumbuhan suatu perusahaan merupakan tanda bahwa perusahaan memiliki
aspek yang menguntungkan, dan mereka mengharapkan rate of return (tingkat pengembalian) dari investasi
mereka memberikan hasil yang lebih baik
2. Leverage
Perusahaan dengan tingkat leverage yang tinggi mempunyai tingkat ketergantungan yang sangat tinggi pada
pinjaman luar untuk membiayai asetnya. Sedangkan perusahaan dengan tingkat leverage yang lebih rendah
menunjukkan bahwa pendanaan perusahaan berasal dari modal sendiri
3. Net Working Capital
Berperan sebagai substitusi terhadap cash holdings suatu perusahaan. Hal ini dikarenakan kemudahan dalam
mengubahnya ke dalam bentuk kas saat perusahaan memerlukannya
4. Cash Flow
Apabila arus kas masuk lebih besar dari arus kas keluar, hal ini menunjukkan arus kas bersih positif dan
sebaliknya, apabila arus kas masuk lebih kecil dari arus kas keluar, maka terjadi arus kas bersih negatif. Arus
kas bersih positif menyebabkan naiknya jumlah kas yang dimiliki perusahaan, dan sebaliknya, arus kas bersih
negatif menyebabkan turunnya jumlah kas perusahaan.
5. Dividend Payment
Perusahaan yang membagikan dividen kepada pemegang saham lebih mampu mengumpulkan dana dengan
biaya rendah ketika dibutuhkan dengan mengurangi dividen. Biaya ini dapat dihindari bagi perusahaan yang
menghadapi sumber dana internal yang rendah dengan menerbitkan ekuitas atau bahkan mengurangi
pembayaran dividen [11].
Kerangka Pemikiran
Perumusan Hipotesa
1. Pengaruh Profitabilitas terhadap Income Smoothing
Rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba melalui semua kemampuan
dan sumber daya yang dimilikinya, yaitu berasal dari kegiatan penjualan, penggunaan aset, maupun penggunaan
modal. [12] yang menyimpulkan bahwa Profitabilitas berpengaruh positif terhadap praktik perataan laba. [4]
menyatakan bahwa Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap Income Smoothing.
H1 : Profitabilitas berpengaruh terhadap Income Smoothing
2. Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Income Smoothing
Pengukuran perusahaan bertujuan untuk membedakan secara kuantitatif antara perusahaan besar (Large Firm)
dengan perusahaan kecil ( Small Firm), besar kecilnya suatu perusahaan dapat mempengaruhi kemampuan
manajemen dalam mengoperasikan perusahaan dengan berbagai situasi dan kondisi yang dihadapinya. [13] Ukuran
perusahaan berpengaruh positif terhadap perataan laba. Serta [14] berpendapat bahwa ukuran Perusahaan tidak
berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan laba.
H2 : Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Income Smoothing
3. Pengaruh Financial Leverage terhadap Income Smoothing
Financial leverage menunjukan seberapa efisien perusahaan memanfaatkan ekuitas pemilik dalam rangka
mengantisipasi utang jangka pendek dan utang jangka panjang perusahaan, sehingga tidak akan mengganggu
operasi perusahaan secara keseluruhan dalam jangka panjang. [15] berpendapat bahwa financial leverage
berpengaruh positif pada income smoothing, sedangkan penelitian [14] yang menyatakan bahwa financial Leverage
berpengaruh signifikan negatif terhadap praktik perataan laba.
H3 : Financial Leverage berpengaruh terhadap Income Smoothing
4. Pengaruh Cash Holding terhadap income smoothing
Rasio cash holding menggambarkan seberapa banyak total aset yang dimiliki dalam bentuk tunai atau setara kas.
Semakin tinggi rasio cash holding, maka semakin rendah resiko yang dimiliki perusahaan dalam memenuhi
kewajiban dengan tepat waktu. Akan tetapi, tingkat pengembalian menjadi rendah karena kas atau uang tunai itu
sendiri tidak dimanfaatkan untuk menghasilkan keuntungan. Terlalu tinggi rasio cash holding maka berdampak
negatif terhadap profitabilitas perusahaan. [9] berpendapat bahwa cash holding tidak berpengaruh terhadap income
smoothing. Sedangkan [16] berpendapat bahwa cash holding berpengaruh signifikan terhadap perataan laba.
H4 : Cash Holding berpengaruh terhadap Income Smoothing.
Heri Muliati & Lia Dama Yanti
eCo-Fin, 2022, 5 (1), 69
5. Pengaruh profitabilitas, ukuran perusahaan, Financial leverage, Cash holding terhadap Income Smoothing.
[12] menyatakan bahwa Profitabilitas berpengaruh positif terhadap praktik perataan laba. Pada penelitian [4]
Ukuran Perusahaan berpengaruh positif terhadap Income Smoothing [15] berpendapat bahwa financial Leverage
berpengaruh positif pada Income Smoothing. [16] menyatakan bahwa Cash Holding berpengaruh signifikan
terhadap perataan laba.
H5: Profitabilitas,ukuran perusahaan,financial leverage, dan cash holding berpengaruh terhadap income Smoothing
smoothing.
III. METODE
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dengan melakukan uji hipotesis. Jenis data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder merupakan data yang diterbitkan atau digunakan oleh
organisasi yang bukan pengolahannya [17]. Sumber data yang digunakan ialah data dari [Link].
Keterangan 𝐸𝑐𝑘𝑒𝑙 = 𝐶𝑉 ∆𝐼
CV : Koefisien variasi 𝐶𝑉 ∆𝑆
∆I : Perubahan laba dalam satu periode
∆S : Perubahan penjualan dalam satu periode
2. Profitabilitas
Rasio yang digunakan dalam penelitian ini adalah Marjin laba bersih (Net Profit Margin). Rasio ini digunakan
untuk mengukur besarnya presentase laba bersih atas penjualan bersih[19].
NPM = Laba bersih : Penjualan
3. Ukuran Perusahaan
Bersih
Ukuran perusahaan dapat menunjukan besar atau kecilnya suatu perusahaan. Semakin besar nilai total aktiva,
makan semakin besar juga ukuran suatu perusahaan.
Ukuran Perusahaan = Ln(Total Aset)
4. Financial Leverage
Financial leverage menunjukan efisiensi perusahaan dalam )) memanfaatkan ekuitas pemilik dalam rangka
mengantisipasi utang jangka pendek dan utang jangka panjang perusahaan, sehingga tidak akan mengganggu
operasi perusahaan secara keseluruhan dalam jangka panjang [9].
Debit Ratio = Total kewajiban / total aktiva
5. Cash Holding
Rasio cash holding menggambarkan seberapa banyak total aset yang dimiliki dalam bentuk tunai atau setara kas
[10].
Cash Holding = Kas dan setara Kas : Total Aset
Teknik Analisis Data
1. Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif dapat memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean),
standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtosis, dan skewness (kemencengan distribusi) [20].
2. Analisis Regresi Logistik
Dalam regresi logistik hanya variabel dependennya yang merupakan variabel dummy (1 dan 0). Disamping itu,
teknik analisis ini tidak memerlukan uji normalitas, uji heteroskedasitas, dan uji asumsi klasik pada variabel
bebasnya [21].
a) Uji Keseluruhan Model (Overall Model Fit Test)
b) Uji Kesesuaian Model Regresi ( Goodness of Fit Test)
c) Koefisien Determinasi (Cox and Snell’s R Square dan Nagelkerke’s R Square)
d) Matriks Klasifikasi
e) Pengujian Signifikansi Koefisien Regresi
f) Koefisien Regresi (Omnibus Test of Model Coefficients)
IV. HASIL
Statistik Desktiptif
Tabel 2. Tabel Hasil Uji Statistik Deskriptif
1. Nilai rata-rata Income smoothing sebesar 0,54 dengan standar deviation sebesar 0,500. Nilai terendah income
smoothing yaitu sebesar 0 dan nilai tertinggi sebesar 1. Perusahaan yang melakukan perataan laba secara terus
menerus dari tahun 2016 sampai tahun 2021 berjumlah 8 perusahaan yaitu [Link] Wira International Tbk,
[Link] Garam Tbk, [Link] Mandala Sampoerna Tbk, [Link] Indonesia Tbk, [Link] Tbk,
[Link] Indah Tbk, [Link] Bumi Tbk dan [Link] Indonesia Tbk. Sementara untuk perusahaan yang
belum pernah melakukan income smoothing selama periode 2016-2021 berjumlah 4 perusahaan yaitu [Link]
Djakarta Tbk, [Link]-Varia Laboratoria Tbk, [Link] Farma Tbk, dan [Link] Indosari Corpindo Tbk.
Berikut data hasil perhitungan Indeks Eckel untuk Income Smoothing:
Heri Muliati & Lia Dama Yanti
eCo-Fin, 2022, 5 (2), 71
2. Nilai rata-rata Profitabilitas 111,3654 dengan standar deviation sebesar 161,80877. Nilai terendah sebesar 0,00
dan nilai tertinggi sebesar 1901,00. Nilai terendah pada tahun 2016 sampai tahun 2021 dimiliki oleh PT. Sekar
Bumi Tbk dengan nilai NPM sebesar 0,015, 0,014, 0,008, 0,000, 0,002, 0,008. Nilai tertinggi pada tahun 2016
dimiliki oleh PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk dengan nilai NPM sebesar 0,188. Untuk tahun
2017 nilai tertinggi dimiliki oleh PT. Delta Djakarta Tbk dengan nilai NPM sebesar 0,360. Untuk tahun 2018
nilai tertinggi dimiliki oleh PT. Merck Tbk dengan nilai NPM sebesar 1,901. Untuk tahun 2020 nilai tertinggi
dimiliki oleh PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk dengan nilai NPM sebesar 0,280. Dan untuk
tahun 2021 nilai tertinggi di miliki oleh PT. Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk dengan nilai NPM
sebesar 0,314. Berikut hasil perhitungan NPM untuk masing-masing perusahaan :
3. Nilai rata-rata Ukuran Perusahaan sebesar 29108,3141 dengan standar deviation sebesar 1584,41447.
Terdapat beberapa perusahaan yang selalu mengalami kenaikan total aset pada setiap tahunnya adapun perusahaan
tersebut adalah [Link] Primatirta Tbk, [Link]-Varia Laboratoria Tbk, [Link] Abadi Tbk,
[Link] Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, [Link] Top Tbk, [Link] Scan Pacific Tbk dan [Link]
Indocabinet Tbk. Total aset dapat menggambarkan kekayaan perusahaan, kenaikan total aset dapat menandakan
bahwa kinerja perusahaan kinerja perusahaan berjalan dengan baik. Berikut hasil perhitungan ukuran perusahaan:
NO KODE TAHUN
2016 2017 2018 2019 2020 2021
13 KLBF 30,354 30,441 30,529 30,640 30,747 30,876
14 MERK 27,335 27,465 27,865 27,527 27,558 27,657
15 MYOR 30,190 30,333 30,498 30,577 30,616 30,623
16 PYFA 25,842 25,796 25,955 25,974 26,155 27,416
17 ROTI 28,702 29,148 29,111 29,175 29,124 29,064
18 SIDO 28,725 28,781 28,836 28,894 28,979 29,034
19 SKBM 27,633 28,115 28,203 28,230 28,201 28,309
20 SKLT 27,066 27,179 27,340 27,396 27,375 27,514
21 STTP 28,480 28,482 28,598 28,689 28,869 28,997
22 TSPC 29,516 29,637 29,694 29,756 29,840 29,897
23 ULTJ 29,075 29,275 29,346 29,519 29,801 29,633
24 UNVR 30,449 30,571 30,603 30,659 30,653 30,579
25 WIIM 27,934 27,835 27,859 27,893 28,110 28,268
26 WOOD 28,757 28,977 29,155 29,339 29,399 29,548
Sumber : Data yang telah diolah
4. Nilai rata-rata Financial leverage sebesar 369.1346 dengan standar deviation sebesar 156.13138. Nilai
terendah sebesar 18.00 dan nilai tertinggi sebesar 793,00. Berikut Hasil perhitungan Leverage untuk masing-
masing perusahaan:
Tabel 6. Tabel Hasil Perhitungan Financial Leverage
NO KODE TAHUN
2016 2017 2018 2019 2020 2021
1 ADES 0,499 0,497 0,453 0,309 0,269 0,256
2 BUDI 0,603 0,594 0,639 0,572 0,554 0,536
3 CEKA 0,377 0,352 0,165 0,188 0,195 0,018
4 CLEO 0,572 0,549 0,238 0,385 0,317 0,257
5 DLTA 0,155 0,146 0,157 0,149 0,168 0,228
6 DVLA 0,295 0,320 0,287 0,286 0,332 0,338
7 GGRM 0,372 0,368 0,347 0,352 0,252 0,341
8 HMSP 0,196 0,209 0,241 0,299 0,391 0,450
9 HRTA 0,468 0,297 0,289 0,476 0,520 0,564
10 ICBP 0,360 0,357 0,339 0,311 0,514 0,537
11 INDF 0,465 0,467 0,483 0,437 0,515 0,517
12 KINO 0,406 0,365 0,391 0,424 0,510 0,502
13 KLBF 0,181 0,164 0,157 0,176 0,190 0,171
14 MERK 0,217 0,273 0,590 0,341 0,341 0,333
15 MYOR 0,515 0,507 0,514 0,480 0,430 0,430
16 PYFA 0,368 0,318 0,364 0,346 0,310 0,793
17 ROTI 0,506 0,381 0,336 0,339 0,275 0,320
18 SIDO 0,077 0,083 0,130 0,134 0,163 0,147
19 SKBM 0,632 0,370 0,413 0,431 0,456 0,496
20 SKLT 0,479 0,517 0,546 0,519 0,474 0,391
21 STTP 0,500 0,409 0,374 0,255 0,225 0,158
22 TSPC 0,296 0,316 0,310 0,308 0,300 0,287
23 ULTJ 0,177 0,189 0,141 0,144 0,454 0,306
24 UNVR 0,719 0,726 0,588 0,744 0,760 0,773
25 WIIM 0,268 0,202 0,199 0,205 0,265 0,303
26 WOOD 0,536 0,502 0,466 0,510 0,495 0,464
5. Nilai rata-rata Cash Holding sebesar 160.8910 dengan standar deviation sebesar 158.79419. Nilai terendah
cash holding sebesar 1.00 dan nilai tertinggi cash holding sebesar 1000,00. Berikut hasil perhitungan Cash
Holding masing-masing perusahaan:
Tabel 9. Tabel Hasil Uji Keseluruhan (Overall Model Fit Test) Akhir
Iteration Historya,b,c,d
Coefficients
-2 Log PROFITA UKURANPER FINANCIALLE CASHHOL
Iteration likelihood Constant BILITAS USAHAAN VERAGE DING
St 1 192.273 -7.956 .001 .000 .003 -.002
ep 1 2 191.743 -9.236 .001 .000 .003 -.002
3 191.736 -9.312 .001 .000 .003 -.002
4 191.736 -9.312 .001 .000 .003 -.002
a. Method: Enter
b. Constant is included in the model.
Tabel iteration history 0 menunjukkan bahwa nilai -2Log Likelihod (-2LL) awal adalah sebesar 215.004
(Block Number =0). Sedangkan tabel iteration history 1 menunjukkan bahwa nilai -2Log Likelihod (-2LL)
akhir sebesar 191.736 (Block Number =1). Terjadi penurunan nilai antara -2Log Likelihod pada awal dan akhir
sebesar 23.268. dengan adanya suatu penurunan antara -2Log Likelihod awal dengan akhir, ini menunjukkan
bahwa penambahan 4 variabel bebas kedalam model regresi memperbaiki model atau dengan kata lain model
yang dihipotesiskan fit.
Nilai dari statistik uji Hosme and Lemeshow’s Goodness of Fit Test yang diukur dengan nilai Chi-Square
sebesar 5,135 dengan nilai signifikansi sebesar 0,743. Nilai signifikansi tersebut lebih besar dari (α) yang
berarti hipotesis nol (H0) diterima (0,743>0,05). Maka model regresi tersebut dapat memprediksi nilai
observasinya dan model diterima dan dapat digunakan untuk analisis selanjutnya.
Besarnya koefisien determinasi ditunjukan dalam bentuk Nagelkerke’s R Square, dimana besarnya koefisien
determinasi adalah 0,185 atau setara dengan 18,5%. Hal ini berarti variabilitas variabel dependen (Income
Smoothing) dapat dijelaskan oleh variabel independen sebesar 18,5%. Sedangkan sisanya 81,5% dijelaskan
oleh variabel-variabel independen lain.
d. Matriks Klasifikasi
Tabel 12. Tabel Uji Matriks Klasifikasi
Classification Tablea
Predicted
INCOMESMOOTHING
TIDAK
MELAKUKAN MELAKUKA
INCOME N INCOME Percentage
SMOOTHING SMOOTHING Correct
Step INCOMESMOOTHIN TIDAK MELAKUKAN 45 26 63.4
1 G INCOME SMOOTHING
MELAKUKAN 24 61 71.8
INCOME SMOOTHING
Overall Percentage 67.9
a. The cut value is ,500
Sumber : Hasil Pengolahan data SPSS versi 25
Dari total 85 sampel yang melakukan perataan income smoothing, terdapat 61 sampel yang dapat diprediksi
dengan tepat melakukan income smoothing sedangkan 24 sampel lainnya atau setara 63,4% yang diprediksi
dengan tidak tepat, sehingga kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksikan kemungkinan sampel
melakukan income smoothing (nilai 1) adalah sebsar 71,8%.
IC = -9,312+0,001 +0,000+0,003+-9,312+ e
Persamaan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Nilai konstanta (α) sebesar -9,312, menunjukan bahwa adanya pengaruh dari Profitabilitas, Ukuran
perusahaan, Financial leverage, dan Cash holding sebesar -9,312.
2. Variabel profitabilitas (NPM) memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,001 yang menyatakan setiap
penambahan 1 pada profitabilitas, maka akan mengurangi probabilitas perusahaan sebesar 0,001 satuan
dengan asumsi variabel lain bernilai konstanta.
3. Variabel ukuran perusahaan memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,000 yang menyatakan setiap
penambahan 1 pada ukuran perusahaan, maka akan menambah probabilitas perusahaan sebesar 0,000
satuan dengan asumsi variabel lain bernilai konstanta.
4. Variabel financial leverage memiliki nilai koefisien regresi sebesar 0,003 yang menyatakan setiap
penambahan 1 pada financial leverage, maka akan menambah probabilitas perusahaan sebesar 0,003
satuan dengan asumsi variabel lain bernilai konstanta.
5. Variabel cash holding memiliki nilai koefisien regresi sebesar -0,002 yang menyatakan setiap
penambahan 1 pada cash holding, maka akan mengurangi probabilitas perusahaan sebesar 0,002 satuan
dengan asumsi variabel lain bernilai konstanta.
Heri Muliati & Lia Dama Yanti
eCo-Fin, 2022, 5 (2), 77
Uji Hipotesis
Tabel 15. Tabel Hasil Uji Hipotesis
Variables in the Equation
B S.E. Wald df Sig. Exp(B)
Step 1a PROFITABILITAS .001 .002 .613 1 .433 1.001
UKURANPERUSAHAAN .000 .000 6.494 1 .011 1.000
FINANCIALLEVERAGE .003 .001 4.969 1 .026 1.003
CASHHOLDING -.002 .001 2.856 1 .091 .998
Constant -9.312 3.357 7.694 1 .006 .000
a. Variable(s) entered on step 1: PROFITABILITAS, UKURANPERUSAHAAN, FINANCIALLEVERAGE,
CASHHOLDING.
Sumber : Hasil Pengolahan data SPSS versi 25
Nilai koefisien regresi dan nilai signifikan untuk setiap variabel independen dengan tingkat signifikan 0,05,
1. Variabel profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap income smoothing,.
Profitabilitas bukan faktor pendorong adanya praktik perataan laba atau income smoothing. Dimana profit bukan
merupakan ukuran penting bagi para investor untuk menentukan investasi, tetapi para investor lebih
memperhatikan resiko yang akan dihadapi. Laba yang stabil lebih disukai oleh para investor karena laba yang
stabil memiliki resiko yang kecil dan penerimaan yang didapat lebih stabil. Hal ini membuat manajemen tidak
fokus atau tidak terlalu memeperhatikan profitabilitas. Perusahaan dengan profitabilitas yang baik akan
memberikan sinyal yang baik kepada para investor, sehingga perusahaan cenderung tidak melakukan income
smoothing. [16] berpendapat bahwa profitabilitas tidak berpengaruh terhadap income smoothing. Bertentangan
dengan [12] yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap income smoothing, keterkaitan
antara profitabilitas dengan praktik perataan laba adalah ketika profitabilitas yang diperoleh perusahaan kecil
pada periode waktu tertentu akan memicu perusahaan melakukan praktik income smoothing.
2. Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap income smoothing
perusahaan dengan ukuran besar cenderung lebih menarik perhatian yang lebih besar dibanding perusahaan
dengan ukuran kecil. Perusahaan besar akan menghindari fluktuasi laba yang terlalu drastis, dikarenakan
kenaikan laba akan menyebabkan bertambahnya pajak. Sebaliknya penurunan laba akan memberikan image
buruk bagi perusahaan, oleh karena itu perusahaan besar cenderung melakukan income smoothing. [4]
berpendapat bahwa semakin besar suatu perusahan maka memiliki dorongan untuk melakukan perataan laba
dibandingkan perusahaan yang kecil. Bertentangan dengan [22] yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan
tidak berpengaruh terhadap perataan laba. Hal ini berarti semakin besar ukuran perusahaan yang diukur dengan
menggunakan logaritma naturna atas aset maka akan semakin kecil perusahaan untuk melakukan perataan laba.
3. Financial leverage berpengaruh signifikan terhadap income smoothing
Semakin besar nilai financial leverage maka akan semakin besar peluang perusahaan melakukan praktik income
smoothing. Tingginya nilai financial leverage disebabkan oleh nilai liabilitas yang lebih tinggi dibanding nilai
ekuitas.
[23] yang menyatakan bahwa financial leverage menunjukan proporsi penggunaan utang untuk membiayai
investasinya, semakin besar utang perusahaan maka semakin besar pula resiko yang dihadapi investor sehingga
investor akan meminta tingkat keuntungan yang semakin tinggi. bertentangan dengan [4] yang menyatakan
bahwa financial leverage tidak berpengaruh terhadap income smoothing. Hal ini berarti besar atau kecilnya
financial leverage yang diproksikan dengan DER yang memiliki perusahaan tidak mempengaruhi perusahaan
untuk melakukan praktik income smoothing.
4. Cash holding tidak berpengaruh signifikan terhadap income smoothing
Apabila cash holding rendah, perusahaan akan mengakumulasi kas yang dimiliki, rendahnya cash holding tidak
memberikan kecenderungan bagi manajemen perusahaan untuk melakukan praktik income smoothing. [9] yang
menyatakan bahwa cash holding tidak berpengaruh terhadap praktik income smoothing.
Tabel 16. Tabel Hasil Uji Hipotesis Simultan
Omnibus Tests of Model Coefficients
Chi-
square df Sig.
Step 1 Step 23.268 4 .000
Block 23.268 4 .000
Model 23.268 4 .000
Sumber : Hasil Pengolahan data SPSS versi 25
Variabel independen menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 yang mana lebih kecil dari 0,05
yang artinya variabel profitabilitas, ukuran perusahaan, financial leverage, dan cash holding berpengaruh
secara simultan terhadap income smoothing.
V. KESIMPULAN
Variabel profitabilitas yang diukur menggunakan Net Profit Margin (NPM), menunjukan nilai signifikan sebesar
0,433 > 0,05 yang membuktikan bahwa variabel profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap income
smoothing. Variabel ukuran yang diukur menggunakan Ln(Total Aset), menunjukkan berpengaruh terhadap income
smoothing dengan nilai signifikan sebesar 0,011 < 0,05. Variabel financial leverage yang diukur dengan DER,
menunjukkan berpengaruh terhadap income smoothing dengan nilai signifikan sebesar 0,026<0,05. Variabel cash
holding telah dirumuskan dengan kas dan setara kas dibagi total aset, menunjukan nilai signifikan sebesar 0,091 >
0,05 yang artinya tidak berpengaruh signifikan terhadap income smoothing. Variabel profitabilitas, ukuran perusahaan,
financial leverage, dan cash holding menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 < dari 0,05 yang artinya H5
diterima. Penelitian ini membuktikan bahwa variabel profitabilitas, ukuran perusahaan, financial leverage, dan cash
holding berpengaruh secara simultan terhadap income smoothing.
DAFTAR PUSTAKA
[1] A. Liantanu, L. D. Yanti, and Y. Oktari, “Pengaruh Suku Bunga, Nilai Tukar (Kurs) Rupiah, Inflasi dan
Pertumbuhan Produk Domestik Bruto Terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek
Indonesia Periode 2014-2021,” eCo-Buss, vol. 5, no. 3, pp. 1081–1094, Apr. 2023, doi: 10.32877/eb.v5i3.698.
[2] L. suryadi [Link], “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peluang Terjadinya Income Smoothing,”
[Link], vol. 11, no. 1, pp. 37–54, 2021.
[3] C. M. Teja and L. D. Yanti, “Analisis Pengaruh Kurs, Suku Bunga dan Return Saham Terhadap Aktivitas
Volume Perdagangan,” eCo-Fin, vol. 5, no. 1, pp. 1–12, Feb. 2023, doi: 10.32877/ef.v5i1.701.
[4] T. Setyaningsih, T. P. Astuti, and Y. Harjito, “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage, Dan Profitabilitas
Terhadap Income Smoothing Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode
2014-2018,” Jurnal Ilmiah Edunomika, vol. 5, no. 1, p. 34, 2021, doi: 10.29040/jie.v5i1.1468.
[5] N. Toni, enda noviyanti Simorangkir, and H. Kosasih, Peraktik Perataan Laba (income smoothing)
perusahaan. Indramayu: [Link] Abimata, 2021.
[6] A. A. I. R. Pradnyandari and I. B. Putra Astika, “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Nilai Saham, Financial
Leverage, Profitabilitas Pada Tindakan Perataan Laba di Sektor Manufaktur,” E-Jurnal Akuntansi, vol. 27, p.
149, 2019, doi: 10.24843/eja.2019.v27.i01.p06.
[7] P. Tirtanata and L. D. Yanti, “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Perputaran Modal Kerja dan Leverage Terhadap
Profitabilitas Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Barang Konsumsi yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Periode 2017-2019,” eCo-Fin, vol. 3, no. 1, pp. 172–188, Feb. 2021, doi: 10.32877/ef.v3i1.399.
Heri Muliati & Lia Dama Yanti
eCo-Fin, 2022, 5 (2), 79
[8] C. Tanjaya and N. Nazir, “Pengaruh profitabilitas, leverage, pertumbuhan penjualan, dan ukuran perusahaan
terhadap penghindaran pajak pada perusahaan manufaktur sektor barang konsumsi yang terdaftar di BEI tahun
2015-2019.,” Jurnal Akuntansi Trisakti, vol. 8, no. 2, pp. 189–208, Sep. 2021, doi: 10.25105/jat.v8i2.9260.
[9] I. P. Dalimunte and W. Prananti, “Pengaruh Cash Holding, Profitabilitas, Dan Financial Leverage Terhadap
Income Smoothing Pada Perusahaan Manufaktur,” EkoPreneur, vol. 1, no. 1, p. 13, 2019, doi:
10.32493/ekop.v1i1.3666.
[10] S. U. Firza, “Peran Cash Holding Dalam Memediasi Kinerja Keuangan dan Ukuran Perusahaan Terhadap
Kebijakan Dividen,” Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil, vol. 11, no. 1, pp. 51–64, 2021, doi:
10.55601/jwem.v11i1.770.
[11] M. Riadi, “Cash Holding (Pengertian, Motif dan Faktor yang Mempengaruhi),” Kajian [Link], 2021.
[Link]
[12] N. S. Maotama and I. B. P. Astika, “Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, dan Kepemilikan Manajerial
terhadap Praktik Perataan Laba (Income Smoothing),” E-Jurnal Akuntansi, vol. 30, no. 7, p. 1767, 2020, doi:
10.24843/eja.2020.v30.i07.p12.
[13] K. T. Jayanti, P. E. D. M. Dewi, and E. Sujana, “Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, dan Dividend
Payout Ratio Pada Praktik Perataan Laba Dengan Struktur Kepemilikan Manajerial Sebagai Variabel
Moderasi Pada Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014-2017,” JIMAT (Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Akuntansi), vol. 9, no. 1, pp. 121–132, 2018.
[14] D. R. Mirwan and M. N. Amin, “Pengaruh Financial Leverage, Profitabilitas, Net Profit Margin, Dan Ukuran
Perusahaan Terhadap Praktik Perataan Laba,” Akuntabilitas, vol. 14, no. 2, pp. 225–242, 2020, doi:
10.29259/ja.v14i2.10982.
[15] P. A. D. W. Putri and I. G. A. N. Budiasih, “Pengaruh Financial Leverage, Cash Holding, dan ROA Pada
Income Smoothing di Bursa Efek Indonesia,” E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, vol. 22, no. 3, pp.
1936–1964, 2018.
[16] Amalia Haniftian and V. J. Dillak, “Pengaruh Profitabilitas, Cash Holding, Dan Nilai Perusahaan Terhadap
Perataan Laba,” Jae (Jurnal Akuntansi Dan Ekonomi), vol. 5, no. 1, pp. 88–98, 2020, doi:
10.29407/jae.v5i1.14163.
[17] ir syofian siregar, Metode penelitian kuantitatif dilengkapi dengan perbandingan perhitungan manual&SPSS,
Pertama. Jakarta: [Link] Interpratama Mandiri, 2013.
[18] Sugiyono, metode penelitian kuantitatif kualitatif. bandung: alfabeta, 2020.
[19] Hery, Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Grasido, 2017.
[20] I. Ghozali, Aplikasi analisis multivariate dengan program IBM SPSS 25 edisi 9, 9th ed. semarang: Badan
penerbit Universitas Diponogoro, 2018.
[21] I. Ghozali, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21 Update PLS Regresi, 7th ed.
semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2013.
[22] T. P. S. Gian Ramanel, “Peran Financial Leverage, Ukuran Perusahaan dan Profitabilitas terhadap Income
Smoothing,” Ekonomi dan Bisnis, vol. 8, no. 2, pp. 211–232, 2018.
[23] K. Apandi, Pengaruh Board size, cash holding, financial leverage dan non performing financing (NPF)
terhadap income smoothing pada perusahaan perbankan syariah yang terdaftar di bursa efek indonesia (BEI)
periode 2015-2020, vol. 26, no. 2. 2021.