Asuhan Keperawatan Dermatitis Atopik Lansia
Asuhan Keperawatan Dermatitis Atopik Lansia
DISUSUN OLEH:
MARIANA SUSIANI
NIM :…………………….
A. Definisi
Dermatitis atopik adalah peradangan pada kulit yang dapat disebabkan oleh
berbagai faktor seperti zat kimia, alergen, atau iritan. Dermatitis dapat terjadi pada
siapa saja dan dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Penanganan yang tepat
dapat membantu mengurangi gejala dan memperbaiki kualitas hidup pasien (Patel,
V. M., & Green, J. B. 2020).
Dermatitis atopik adalah penyakit kulit inflamatif kronis,disebut juga eksema
atopik, prurigo besnier, neurodermatitis diseminata (Leung et al, 2020).
Manifestasi klinis dermatitis atopik ditandai dengan morfologi dan juga distribusi
ujud kelainan kulit yang khas. Lesi akut berupa papul eritem/vesikel yang
membasah, lesi subakut menampakkan papul atau plak eritem dengan skuamasi,
sedangkan lesi kronik berupa likenifikasi. Distribusi ujud kelainan kulit yang khas
ditandai dengan keterlibatan wajah atau ekstremitas bagian ekstensor pada bayi,
sementara pada anak dan dewasa, predileksi terutama pada area fleksural
(Eigenman, 2018).
Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respons
terhadap pengaruh factor eksogen dan atau factor endogen, menimbulkan kelainan
klinis berupa eflorensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama,
likenifikasi) dan keluhan gatal. Dermatitis cenderung residif dan menjadi kronis
(NANDA NIC-NOC. 2015).
B. Etiologi
Etiologi Berdasarkan di Current Opinion in Pediatrics pada tahun 2020,
etiologi dermatitis sangat bervariasi dan kompleks. Beberapa faktor yang dapat
menyebabkan dermatitis, antara lain:
1. Paparan alergen atau iritan: Bahan kimia atau benda lainnya seperti logam,
lateks, kosmetik, sabun, dan deterjen yang dapat merusak kulit dan
menyebabkan reaksi alergi.
2. Faktor lingkungan: Udara kering atau lembap, cuaca dingin, atau panas yang
ekstrim dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan mudah teriritasi.
3. Faktor genetik: Beberapa jenis dermatitis seperti dermatitis atopik memiliki
faktor risiko yang berhubungan dengan genetik.
4. Infeksi: Bakteri, jamur, dan virus dapat memicu terjadinya dermatitis.
5. Stres: Stres dapat memicu terjadinya flare-up pada beberapa jenis dermatitis.
6. Sistem imun yang lemah: Kondisi medis yang melemahkan sistem kekebalan
tubuh dapat membuat kulit lebih rentan terhadap dermatitis (Singh, M., &
Silverberg, J. I. 2020).
C. Klasifikasi
Klasifikasi Berdasarkan jurnal yang dipublikasikan pada tahun 2019 di
Journal of the American Academy of Dermatology, dermatitis dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Dermatitis kontak alergi: Jenis dermatitis yang terjadi karena paparan zat
kimia atau bahan tertentu yang menyebabkan reaksi alergi pada kulit.
2. Dermatitis kontak iritan: Jenis dermatitis yang terjadi karena paparan zat
kimia atau bahan tertentu yang merusak kulit secara langsung, tanpa reaksi
alergi.
3. Dermatitis atopik: Jenis dermatitis kronis yang disebabkan oleh faktor
genetik, di mana kulit cenderung menjadi kering, gatal, dan rentan terhadap
infeksi.
4. Dermatitis seboroik: Jenis dermatitis yang disebabkan oleh peradangan pada
kelenjar minyak di kulit kepala, wajah, atau bagian tubuh lainnya.
5. Dermatitis stasis: Jenis dermatitis yang terjadi pada orang dengan masalah
peredaran darah yang buruk, terutama pada kaki.
6. Dermatitis numular: Jenis dermatitis kronis yang terjadi pada orang dewasa,
dengan lesi cenderung berbentuk lingkaran (Sidbury, R., Davis, D. M. R., &
Cohen, D. E. 2019).
D. Patofisiologi
Patofisiologi penyakit dermatitis sangat bervariasi tergantung pada jenis dan
penyebabnya. Namun, pada dasarnya dermatitis terjadi akibat peradangan atau
inflamasi pada kulit. Beberapa jenis dermatitis seperti dermatitis atopik memiliki
patofisiologi yang lebih kompleks.
Berikut adalah beberapa hal yang terjadi dalam patofisiologi dermatitis
atopik:
1. Defisiensi lapisan lipid kulit: Kulit penderita dermatitis atopik memiliki
defisiensi pada lapisan lipid atau minyak yang terdapat di dalam kulit. Hal ini
dapat membuat kulit lebih kering dan mudah teriritasi.
2. Gangguan dalam sistem kekebalan tubuh: Penderita dermatitis atopik
memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih sensitif terhadap alergen atau
iritan.
3. Perubahan dalam ekspresi genetik: Penderita dermatitis atopik memiliki
perubahan dalam ekspresi genetik pada beberapa gen yang terkait dengan
fungsi penghalang kulit dan sistem kekebalan tubuh.
4. Infeksi: Infeksi bakteri, jamur, atau virus dapat memicu terjadinya
peradangan pada kulit dan memperburuk dermatitis atopik (Singh, M., &
Silverberg, J. I. 2020).
F. Pemeriksaan Penunjang
Berikut adalah beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada
penderita dermatitis :
1. Pemeriksaan kulit : Pemeriksaan kulit untuk melihat tanda-tanda dermatitis,
seperti kemerahan, bercak, lepuhan, atau keringat berlebihan. Pemeriksaan
kulit juga dapat membantu dokter menilai tingkat keparahan dermatitis.
2. Tes alergi : Tes alergi dapat dilakukan dengan metode skin prick test, patch
test, atau tes darah.
3. Kultur bakteri : Jika terdapat tanda-tanda infeksi pada kulit yang terkena
dermatitis, dokter dapat melakukan kultur bakteri untuk menentukan jenis
bakteri penyebab infeksi. Hasil kultur bakteri dapat membantu dokter
memilih antibiotik yang tepat untuk mengobati infeksi.
4. Biopsi kulit : Jika dokter membutuhkan informasi lebih lanjut tentang jenis
dermatitis yang dialami penderita, dokter dapat melakukan biopsi kulit.
Biopsi kulit adalah prosedur mengambil sampel jaringan kulit yang kemudian
diperiksa di laboratorium (Sidbury, R., Davis, D. M., & Cohen, D. E. 2020).
G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dermatitis bergantung pada jenis dan tingkat keparahan
penyakit. Berikut adalah pendekatan umum dalam penanganan dermatitis :
1. Perawatan kulit yang tepat : Menjaga kebersihan kulit dengan mandi
menggunakan air hangat (bukan air panas) dan pembersih ringan.
Menghindari penggunaan produk yang mengandung pewangi atau bahan
kimia keras yang dapat memperburuk gejala dermatitis.
2. Penggunaan pelembap : Menggunakan pelembap yang cocok untuk
menghidrasi kulit dan mengurangi kekeringan. Pelembap yang mengandung
bahan seperti ceramide dapat membantu memperbaiki fungsi penghalang
kulit.
3. Penghindaran pemicu : Mengidentifikasi dan menghindari pemicu yang
memicu flare-up dermatitis, seperti alergen atau iritan tertentu. Jika terjadi
dermatitis kontak alergi, patch test dapat membantu mengidentifikasi alergen
penyebab.
4. Penggunaan obat topical : Penggunaan krim kortikosteroid topikal atau krim
imunomodulator topikal dapat membantu mengurangi peradangan dan gatal
pada dermatitis. Penggunaannya harus sesuai dengan anjuran dokter.
5. Pengobatan antihistamin : Dalam kasus dermatitis yang disertai gatal yang
signifikan, dokter dapat meresepkan antihistamin oral untuk mengurangi gatal
dan membantu meningkatkan tidur.
6. Pengobatan infeksi sekunder : Jika terjadi infeksi bakteri, jamur, atau virus
pada kulit yang terkena dermatitis, dokter dapat meresepkan antibiotik,
antijamur, atau antivirus yang sesuai.
7. Perubahan gaya hidup : Menerapkan gaya hidup sehat, termasuk menghindari
stres berlebihan, menjaga kebersihan kulit, mengonsumsi makanan sehat, dan
menghindari paparan lingkungan yang memperburuk dermatitis. Penting
untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli dermatologi untuk menentukan
penatalaksanaan yang tepat berdasarkan jenis, tingkat keparahan, dan
karakteristik individu dari dermatitis yang dialami.
H. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1 Data Subjektif : Agen Nyeri akut
Mengeluh nyeri pencederaan (luka
Data Objektif : lecet, luka
Tampak meringis dermatitis)
Bersikap protektif (mis:
waspada, posisi Merangsang
menghindari nyeri) respon nyeri
Gelisah
Frekuensi nadi meningkat Nyeri Akut
Sulit tidur
Dermatitis
Kerusakan
integritas kulit
Diagnosa 2 :
Dx Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit
Definisi Kerusakan kulit (dermis dan/atau
epidermis) atau jaringan (membran
mukosa, kornea, fasia, otot, tendon,
tulang, kartilago, kapsul sendi dan
/atau ligamen).
Batasan Karakteristik Gejala dan tanda mayor
Subjektif : (tidak tersedia)
Objektif :
Kerusakan jaringan dan/atau kulit
Gejala dan tanda minor
Subjektif : (tidak tersedia)
Objektif :
Nyeri
Perdarahan
Kemerahan
Hematoma
Kriteria Hasil :
Integritas kulit yang baik bisa
dipertahankan (sensasi, elastisitas,
temperatur, hidrasi, pigmentasi)
Tidak ada luka/lesi pada kulit
Perfusi jaringan baik
Menunjukkan pemahaman dalam
proses perbaikan kulit dan
mencegah terjadinya cedera
berulang
Mampu melindungi kulit dan
mempertahankan kelembaban kulit
dan perawatan alam
Intervensi (NIC) Intervensi keperawatan
Observasi :
Identifikasi penyebab kerusakan
integritas kulit (mis. Perubahan
sirkulasi darah, perubahan status
gizi, penurunan kelembaban, suhu
lingkungan ekstrim, penurunan
mobilitas)
Teraupetik :
Ubah posisi setiap 2 jam jika tirah
baring
Gunakan produk berbahan
petroleum atau minyak pada kulit
kering
Gunakan produk berbahan
ringan/alami dan hipoalergik pada
kulit sensitive
Hindari produk berbahan dasar
alkohol pada kulit kering
Edukasi :
Anjurkan menggunakan pelembab
(mis: lotion, serum)
Anjurkan minum air yang cukup
Anjurkan meningkatkan asupan
nutrisi
Anjurkan meningkatkan asupan
buah dan sayur
Anjurkan menghindari terpapar
suhu ekstrim
Anjurkan menggunakan tabir surya
SPF minimal 30 saat berada diluar
rumah
Anjurkan mandi dan menggunakan
sabun secukupnya
Sumber : Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2021). APLIKASI Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.
Diagnosa 3 :
Dx Keperawatan Gangguan Pola Tidur
Definisi Gangguan kualitas dan kuantitas
waktu tidur akibat faktor eksternal
Batasan Karakteristik Perubahan pola tidur normal
Penurunan kemampuan berfungsi
Ketidakpuasan tidur
Menyatakan sering terjaga
Meyatakan tidak mengalami
kesulitan tidur
Menyatakan tidak merasa cukup
istirahat
Pengkajian Pengkajian dilakukan dengan
observasi dan wawancara serta
pemeriksaan fisik
Faktor Yang Berhubungan Kelembaban lingkungan sekitar
Suhu lingkungan sekitar
Tanggung jawab memberi asuhan
Perubahan pejanan terhadap cahaya
gelap
Gangguan(mis.,untuk tujuan
terapeutik, pemantauan,
pemeriksaan laboratorium)
Kurang kontrol tidur
Kurang privasi, Pencahayaan
Bising, Bau gas
Restrain fisik, Teman tidur
Tidak familier dengan prabot tidur
Alternatif Dx (Saran Penggunaan) Gangguan Pola tidur berhubungan
dengan agen cedera fisik
Nursing Outcome (NOC) NOC
Anxiety reduction
Comfort level
Pain level
Rest : Extent and Pattern
Sleep : Extent an Pattern
Kriteria Hasil :
Jumlah jam tidur dalam batas
normal 6-8 jam/hari
Pola tidur, kualitas dalam batas
normal
Perasaan segar sesudah tidur atau
istirahat
Mampu mengidentifikasikan hal-
hal yang meningkatkan tidur
Intervensi (NIC) NIC
Sleep Enhancement
Determinasi efek-efek medikasi
terhadap pola tidur
Jelaskan pentingnya tidur yang
adekuat
Fasilitas untuk mempertahankan
aktivitas sebelum tidur (membaca)
Ciptakan lingkungan yang nyaman
Kolaborasikan pemberian obat
tidur
Diskusikan dengan pasien dan
keluarga tentang teknik tidur
pasien
Instruksikan untuk memonitor tidur
pasien
Monitor waktu makan dan minum
dengan waktu tidur
Monitor/catat kebutuhan tidur
pasien setiap hari dan jam
Sumber : Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2021). APLIKASI Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.
Diagnosa 4 :
Dx Keperawatan Defisit Pengetahuan
Definisi Tidak adanya atau kurangnya
informasi kognitif sehubungan dengan
topic spesifik.
Batasan Karakteristik Memverbalisasikan adanya
masalah
Ketidakakuratan mengikuti
instruksi
Perilaku tidak sesuai.
Pengkajian Pengkajian dilakukan dengan
wawancara dan observasi serta
berdasarkan pemeriksaan fisik
Faktor Yang Berhubungan Keterbatasan kognitif
Interpretasi terhadap informasi
yang salah
Kurangnya keinginan untuk
mencari informasi
Tidak mengetahui sumber-
sumber informasi.
Alternatif Dx (Saran Penggunaan) Defisit Pengetahuan berhubungan
dengan kurang terpapar informasi
Nursing Outcome (NOC) NOC :
Kowlwdge : disease process
Kowledge : health Behavior
Kriteria Hasil :
Pasien dan keluarga menyatakan
pemahaman tentang penyakit,
kondisi, prognosis dan program
pengobatan
Pasien dan keluarga mampu
melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar
Pasien dan keluarga mampu
menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat/tim kesehatan
lainnya
Intervensi (NIC) NIC :
Teaching : disease Process
Berikan penilaian tentang tingkat
pengetahuan pasien tentang
proses penyakit yang spesifik
Jelaskan patofisiologi dari
penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan anatomi dan
fisiologi, dengan cara yang tepat.
Gambarkan tanda dan gejala yang
biasa muncul pada penyakit,
dengan cara yang tepat
Gambarkan proses penyakit,
dengan cara yang tepat
Identifikasi kemungkinan
penyebab, dengna cara yang tepat
Sediakan informasi pada pasien
tentang kondisi, dengan cara yang
tepat
Hindari harapan yang kosong
Sediakan bagi keluarga informasi
tentang kemajuan pasien dengan
cara yang tepat
Diskusikan perubahan gaya hidup
yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi di masa
yang akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
Eksplorasi kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan cara yang
tepat
Rujuk pasien pada grup atau
agensi di komunitas lokal, dengan
cara yang tepat
Instruksikan pasien mengenai
tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan cara
yang tepat
Sumber : Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2021). APLIKASI Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.
J. Intervensi Keperawatan
No Dx. Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
1. Nyeri Akut berhubungan Setelah dilakukan Tindakan Observasi :
dengan agen pencederaan keperawatan selama ……x 24 1. Lakukan pengkajian nyeri 1. Mengetahui skala
(mis. Fisik, biologis, zat jam diharapkan nyeri dapat secara komprehensif nyeri, lokasi dan
kimia, dll) berkurang dengan kriteria hasil termasuk lokasi, frekuensi nyeri
: karakteristik, durasi 2. Mengetahui respon
Mampu mengontrol nyeri frekuensi, kualitas dan nyeri
(tahu penyebab nyeri, faktor presipitasi 3. Membantu dalam
mampu menggunakan 2. Observasi reaksi memudahkan
tehnik nonfarmakologi nonverbal dan komunikasi dan
untuk mengurangi nyeri, ketidaknyamanan mempermudah proses
mencari bantuan) 3. Gunakan teknik intervensi
Melaporkan bahwa nyeri komunikasi terapeutik 4. Mengetahui penyebab
berkurang dengan untuk mengetahui nyeri
menggunakan manajemen pengalaman nyeri pasien 5. Untuk mengetahui
nyeri Teraupetik : pengalaman nyeri yang
Mampu mengenali nyeri 4. Kaji kultur yang dirasakan
(skala, intensitas, mempengaruhi respon 6. Untuk menentukan
frekuensi dan tanda nyeri) nyeri Tindakan intervensi
Menyatakan rasa nyaman 5. Evaluasi pengalaman nyeri yang lebih efektif
setelah nyeri berkurang nyeri masa lampau untuk diterapkan
6. Evaluasi bersama pasien 7. Untuk memberikan
dan tim kesehatan lain dukungan dan motivasi
tentang ketidakefektifan 8. Untuk mengurangi rasa
kontrol nyeri masa nyeri dengan
Iampau memberikan rasa aman
7. Bantu pasien dan keluarga dan nyaman
untuk mencari dan 9. Untuk mengurangi rasa
menemukan dukungan nyeri
8. Kontrol lingkungan yang 10. Untuk membantu
dapat mempengaruhi mengontrol nyeri
nyeri seperti suhu secara mandiri
ruangan, pencahayaan dan 11. Memberikan
kebisingan pengetahuan dalam
9. Kurangi faktor presipitasi mengontrol nyeri
nyeri secara mandiri
10. Pilih dan lakukan 12. Membantu mengurangi
penanganan nyeri nyeri dengan terapi
(farmakologi, non 13. Membantu proses
farmakologi dan inter penyembuhan
personal)
Edukasi :
11. Ajarkan tentang teknik
non farmakologi
Kolaborasi :
12. Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
13. Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan
dan tindakan nyeri tidak
berhasil
2. Gangguan integritas kulit Setelah dilakukan Tindakan Observasi :
berhubungan dengan : keperawatan selama ……x 24 1. Identifikasi penyebab 1. Untuk mengetahui
Perubahan sirkulasi jam diharapkan masalah kerusakan integritas kulit penyebab kerusakan
Perubahan status kerusakan integritas kulit dapat (mis. Perubahan sirkulasi integritas kulit
nutrisi (kelebihan atau teratasi dengan Kriteria Hasil : darah, perubahan status 2. Memberikan rasa aman
kekurangan) Integritas kulit yang baik gizi, penurunan dan nyaman
Kekurangan/kelebihan bisa dipertahankan kelembaban, suhu 3. Mengurangi kerusakan
volume cairan (sensasi, elastisitas, lingkungan ekstrim, kulit dan menjaga
Penurunan mobilitas temperatur, hidrasi, penurunan mobilitas) kelembapan
Bahan kimia iritatif pigmentasi) Teraupetik : 4. Untuk mencegah
Suhu lingkungan yang Tidak ada luka/lesi pada 2. Ubah posisi setiap 2 jam kerusakan integritas kulit
ekstrim kulit jika tirah baring yang lebih parah
Faktor mekanis (mis: Perfusi jaringan baik 3. Gunakan produk berbahan 5. Membantu menjaga
penekanan pada Menunjukkan pemahaman petroleum atau minyak kelembapan kulit
tonjolan tulang, dalam proses perbaikan pada kulit kering 6. Untuk mencegah kulit
gesekan) atau faktor kulit dan mencegah 4. Gunakan produk berbahan kering
elektris terjadinya cedera berulang ringan/alami dan 7. Nutrisi dapat menjaga
(elektrodiatermi, Mampu melindungi kulit hipoalergik pada kulit Kesehatan kulit
energi listrik dan mempertahankan sensitive 8. Menbantu dalam
bertegangan tinggi) kelembaban kulit dan Edukasi : menjaga Kesehatan kulit
Efek perawatan alam 5. Anjurkan menggunakan 9. Mencegah terjadinya
samping terapi radiasi pelembab (mis: lotion, kerusakan kulit yang
Kelembaban serum) lebih parah
Proses penuaan 6. Anjurkan minum air yang 10. Membantu menjaga
Neuropati perifer cukup kebersihan kulit
Perubahan pigmentasi 7. Anjurkan meningkatkan 11. Membantu proses
Perubahan hormonal asupan nutrisi penyembuhan
Kurang terpapar 8. Anjurkan meningkatkan 12. Membantu mencegah
informasi tentang asupan buah dan sayur kejadian lebih parah
upaya 9. Anjurkan menghindari
mempertahankan/meli terpapar suhu ekstrim
ndungi integritas 10. Anjurkan mandi dan
jaringan menggunakan sabun
secukupnya
Kolaborasi
11. Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian terapi
12. Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk membatasi
makanan yang dapat
menyebabkan muncul
alergi
3. Gangguan Pola tidur Setelah dilakukan tindakan Observasi :
berhubungan dengan agen keperawatan selama …..x 24 1. Kaji pola tidur 1. Untuk mengetahui pola
cedera fisik jam diharapkan masalah 2. Kaji penyebab gangguan tidur
gangguan pola tidur dapat tidur 2. Untuk mengetahui
teratasi dengan Terapeutik : penyebab susah tidur
Kriteria Hasil : 3. Fasilitas untuk 3. Untuk membantu dalam
Jumlah jam tidur dalam mempertahankan aktivitas memudahkan tidur dan
batas normal 6-8 jam/hari sebelum tidur (membaca) memberikan relaksasi
Pola tidur, kualitas dalam 4. Ciptakan lingkungan yang 4. Untuk memberikan rasa
batas normal nyaman nyaman dan mebantu
Perasaan segar sesudah 5. Diskusikan dengan pasien memudahkan tidur
tidur atau istirahat dan keluarga tentang 5. Untuk membantu dalam
Mampu teknik tidur pasien proses memudahkan
mengidentifikasikan hal-hal Edukasi : tidur
yang meningkatkan tidur 6. Jelaskan pentingnya tidur 6. Memberikan
yang adekuat pemahaman tentang
7. Jelaskan cara pentingnya tidur
memperbaiki pola tidur 7. Memberikan motivasi
Kolaborasi : dan pengetahuan untuk
8. Kolaborasikan pemberian memenuhi tidur cukup
obat tidur 8. Membantu proses
9. Kolaborasi dengan dokter penyembuhan dan
dalam memberikan memudahkan tidur
edukasi tentang obat 9. Untuk memberikan
obatan pengetahuan agar tidak
terjadi efek samping
yang beresiko
4. Defisit Pengetahuan Setelah dilakukan Tindakan Observasi : 1. Untuk mengetahui
berhubungan dengan keperawatan selama ……x24 1. Kaji tingkat pengetahuan tingkat pengetahuan
kurang terpapar informasi jam diharapkan pengetahuan pasien tentang proses pasien
dapat meningkat dengan penyakit yang spesifik 2. Mengetahui sejauh mana
Kriteria Hasil : 2. Kaji tingkat pemahaman pemahaman yang
Pasien dan keluarga pasien tentang kondisinya dimiliki
menyatakan pemahaman Terapeutik : 3. Membantu dalam proses
tentang penyakit, kondisi, 3. Jelaskan patofisiologi dari pemberian informasi
prognosis dan program penyakit dan bagaimana 4. Membantu dalam proses
pengobatan hal ini berhubungan pemberian informasi
Pasien dan keluarga dengan anatomi dan 5. Membantu dalam proses
mampu melaksanakan fisiologi, dengan cara pemberian informasi
prosedur yang dijelaskan yang tepat. 6. Membantu dalam proses
secara benar 4. Gambarkan tanda dan pemberian informasi
Pasien dan keluarga gejala yang biasa muncul 7. Membantu dalam proses
mampu menjelaskan pada penyakit, dengan pemberian informasi
kembali apa yang cara yang tepat 8. Membantu dalam proses
dijelaskan perawat/tim 5. Gambarkan proses pemberian informasi
kesehatan lainnya penyakit, dengan cara 9. Membantu dalam
yang tepat peningkatan pemahaman
6. Sediakan informasi pada 10. Menentukan terapi yang
pasien tentang kondisi, tepat
dengan cara yang tepat 11. Memberikan
7. Hindari harapan yang pemahaman tentang
kosong terapi yang tepat dan
8. Sediakan bagi keluarga cara minum obat
informasi tentang 12. Memberikan
kemajuan pasien dengan pemahaman lebih
cara yang tepat lengkap dan jelas
Edukasi :
9. Diskusikan perubahan
gaya hidup yang mungkin
diperlukan untuk
mencegah komplikasi di
masa yang akan datang
dan atau proses
pengontrolan penyakit
10. Diskusikan pilihan terapi
atau penanganan
Kolaborasi :
11. Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian terapi
dan penjelasan tentang
terapi
12. Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian edukasi
lebih lanjut
Sumber :
Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2021). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC.
Jogjakarta: MediAction.
Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC.
Jogjakarta: MediAction.
K. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan tindakan nyata dari intervensi yang sudah
ditentukan sebelumnya, tujuan dari implementasi adalah untuk mencukupi
kebutuhan pasien secara maksimal. Perawat melaksanakan tahap-tahap
pengetahuan intelektual, melakukan komunikasi secara langsung terhadap pasien,
melakukan asuhan keperawatan, menemukan perubahan yang terjadi pada pasien.
Implementasi dilakukan secara mantap sehingga mampu menciptakan rasa
nyaman dan aman pada pasien (Nusatirin, 2018)
L. Evaluasi
Evalusi dilakukan guna menilai proses keperawatan yang bertujuan untuk
menangani kebutuhan pasien secara maksimal serta menentukan hasil dari
tindakan keperawatan yang sudah dilakukan menurut (Nusatirin, 2018). Penilaian
evaluasi menggunakan 4 langkah yaitu S (Subjective), O (Objective), A
(Assesment), P (Plan).
DAFTAR PUSTAKA
Chung, H. Y., Lee, E. K., & Choi, Y. J. (2020). Physical function changes of older
adults. The Journal of Nutrition, Health & Aging, 24(3), 367-372.
Ebrahim, W., & Weerakoon, S. (2020). Social change and the impact on the
elderly: understanding the dynamics of elderly support in contemporary
Sri Lanka. Ageing & Society, 40(8), 1747-1765.
Frost, R., & Belk, C. (2020). Health care professional perspectives on geriatric
care in the United States: a scoping review. BMC Health Services
Research, 20(1), 1-16.
Jung, H. K., & Kim, M. H. (2020). The Effects of Walking and Meditation on
Cognitive Function and Emotional Well-Being in Elderly People: A
Randomized Controlled Trial. International Journal of Environmental
Research and Public Health, 17(15), 5462
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI. 41