0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
144 tayangan35 halaman

Asuhan Keperawatan Dermatitis Atopik Lansia

Diunggah oleh

edjuli1207
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
144 tayangan35 halaman

Asuhan Keperawatan Dermatitis Atopik Lansia

Diunggah oleh

edjuli1207
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PADA LANSIA DENGAN


DERMATITIS ATOPIK

DISUSUN OLEH:

MARIANA SUSIANI
NIM :…………………….

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


INSTITUT KESEHATAN IMMANUEL BANDUNG
TAHUN 2023/2024
LAPORAN PENDAHULUAN DERMATITIS ATOPIK

A. Definisi
Dermatitis atopik adalah peradangan pada kulit yang dapat disebabkan oleh
berbagai faktor seperti zat kimia, alergen, atau iritan. Dermatitis dapat terjadi pada
siapa saja dan dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Penanganan yang tepat
dapat membantu mengurangi gejala dan memperbaiki kualitas hidup pasien (Patel,
V. M., & Green, J. B. 2020).
Dermatitis atopik adalah penyakit kulit inflamatif kronis,disebut juga eksema
atopik, prurigo besnier, neurodermatitis diseminata (Leung et al, 2020).
Manifestasi klinis dermatitis atopik ditandai dengan morfologi dan juga distribusi
ujud kelainan kulit yang khas. Lesi akut berupa papul eritem/vesikel yang
membasah, lesi subakut menampakkan papul atau plak eritem dengan skuamasi,
sedangkan lesi kronik berupa likenifikasi. Distribusi ujud kelainan kulit yang khas
ditandai dengan keterlibatan wajah atau ekstremitas bagian ekstensor pada bayi,
sementara pada anak dan dewasa, predileksi terutama pada area fleksural
(Eigenman, 2018).
Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respons
terhadap pengaruh factor eksogen dan atau factor endogen, menimbulkan kelainan
klinis berupa eflorensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama,
likenifikasi) dan keluhan gatal. Dermatitis cenderung residif dan menjadi kronis
(NANDA NIC-NOC. 2015).

B. Etiologi
Etiologi Berdasarkan di Current Opinion in Pediatrics pada tahun 2020,
etiologi dermatitis sangat bervariasi dan kompleks. Beberapa faktor yang dapat
menyebabkan dermatitis, antara lain:
1. Paparan alergen atau iritan: Bahan kimia atau benda lainnya seperti logam,
lateks, kosmetik, sabun, dan deterjen yang dapat merusak kulit dan
menyebabkan reaksi alergi.
2. Faktor lingkungan: Udara kering atau lembap, cuaca dingin, atau panas yang
ekstrim dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan mudah teriritasi.
3. Faktor genetik: Beberapa jenis dermatitis seperti dermatitis atopik memiliki
faktor risiko yang berhubungan dengan genetik.
4. Infeksi: Bakteri, jamur, dan virus dapat memicu terjadinya dermatitis.
5. Stres: Stres dapat memicu terjadinya flare-up pada beberapa jenis dermatitis.
6. Sistem imun yang lemah: Kondisi medis yang melemahkan sistem kekebalan
tubuh dapat membuat kulit lebih rentan terhadap dermatitis (Singh, M., &
Silverberg, J. I. 2020).

C. Klasifikasi
Klasifikasi Berdasarkan jurnal yang dipublikasikan pada tahun 2019 di
Journal of the American Academy of Dermatology, dermatitis dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Dermatitis kontak alergi: Jenis dermatitis yang terjadi karena paparan zat
kimia atau bahan tertentu yang menyebabkan reaksi alergi pada kulit.
2. Dermatitis kontak iritan: Jenis dermatitis yang terjadi karena paparan zat
kimia atau bahan tertentu yang merusak kulit secara langsung, tanpa reaksi
alergi.
3. Dermatitis atopik: Jenis dermatitis kronis yang disebabkan oleh faktor
genetik, di mana kulit cenderung menjadi kering, gatal, dan rentan terhadap
infeksi.
4. Dermatitis seboroik: Jenis dermatitis yang disebabkan oleh peradangan pada
kelenjar minyak di kulit kepala, wajah, atau bagian tubuh lainnya.
5. Dermatitis stasis: Jenis dermatitis yang terjadi pada orang dengan masalah
peredaran darah yang buruk, terutama pada kaki.
6. Dermatitis numular: Jenis dermatitis kronis yang terjadi pada orang dewasa,
dengan lesi cenderung berbentuk lingkaran (Sidbury, R., Davis, D. M. R., &
Cohen, D. E. 2019).
D. Patofisiologi
Patofisiologi penyakit dermatitis sangat bervariasi tergantung pada jenis dan
penyebabnya. Namun, pada dasarnya dermatitis terjadi akibat peradangan atau
inflamasi pada kulit. Beberapa jenis dermatitis seperti dermatitis atopik memiliki
patofisiologi yang lebih kompleks.
Berikut adalah beberapa hal yang terjadi dalam patofisiologi dermatitis
atopik:
1. Defisiensi lapisan lipid kulit: Kulit penderita dermatitis atopik memiliki
defisiensi pada lapisan lipid atau minyak yang terdapat di dalam kulit. Hal ini
dapat membuat kulit lebih kering dan mudah teriritasi.
2. Gangguan dalam sistem kekebalan tubuh: Penderita dermatitis atopik
memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih sensitif terhadap alergen atau
iritan.
3. Perubahan dalam ekspresi genetik: Penderita dermatitis atopik memiliki
perubahan dalam ekspresi genetik pada beberapa gen yang terkait dengan
fungsi penghalang kulit dan sistem kekebalan tubuh.
4. Infeksi: Infeksi bakteri, jamur, atau virus dapat memicu terjadinya
peradangan pada kulit dan memperburuk dermatitis atopik (Singh, M., &
Silverberg, J. I. 2020).

E. Tanda Dan Gejala


Pada umumnya penderita dermatitis mengeluh gatal. Kelainan kulit
bergantung pada stadium penyakit, batasnya sirkumskrip, dapat pula
[Link] dapat setempat generalisata, dan universalis.
Menurut Juanda (2016) dermatitis memiliki tiga tahap primer yaitu kondisi
dapat terbatas pada salah satu dari ketiga tahap, atau ketiga tahap dapat terjadi
bersamaan.
1. Dermatitis akut : dicirikan oleh erosi ekstensif dengan eksudat serosa atau
oleh papul, dan vesikel eritematosa yang sangat gatal pada dasar eritema.
2. Dermatitis subakut : dicirikan oleh papul atau plak eritematosa, berekskoriasi
dan mengelupas yang dapat berkelompok atau tersebar pada kulit yang
eritematosa, pengelupasan dapat sangat halus dan difus sehingga kulit
menjadi mengkilap keperakan.
3. Dermatitis kronis : dicirikan oleh kulit yang menebal dan peningkatan
penanda kulit sekunder terhadap gosokan dan garukan (likenifikasi), papul
ekskoriasi, papul fibrotic, dan nodul (prurigo nodularis) dan hiperpigmentasi
dan hipopigmentasi pascainflamasi.

F. Pemeriksaan Penunjang
Berikut adalah beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada
penderita dermatitis :
1. Pemeriksaan kulit : Pemeriksaan kulit untuk melihat tanda-tanda dermatitis,
seperti kemerahan, bercak, lepuhan, atau keringat berlebihan. Pemeriksaan
kulit juga dapat membantu dokter menilai tingkat keparahan dermatitis.
2. Tes alergi : Tes alergi dapat dilakukan dengan metode skin prick test, patch
test, atau tes darah.
3. Kultur bakteri : Jika terdapat tanda-tanda infeksi pada kulit yang terkena
dermatitis, dokter dapat melakukan kultur bakteri untuk menentukan jenis
bakteri penyebab infeksi. Hasil kultur bakteri dapat membantu dokter
memilih antibiotik yang tepat untuk mengobati infeksi.
4. Biopsi kulit : Jika dokter membutuhkan informasi lebih lanjut tentang jenis
dermatitis yang dialami penderita, dokter dapat melakukan biopsi kulit.
Biopsi kulit adalah prosedur mengambil sampel jaringan kulit yang kemudian
diperiksa di laboratorium (Sidbury, R., Davis, D. M., & Cohen, D. E. 2020).

G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dermatitis bergantung pada jenis dan tingkat keparahan
penyakit. Berikut adalah pendekatan umum dalam penanganan dermatitis :
1. Perawatan kulit yang tepat : Menjaga kebersihan kulit dengan mandi
menggunakan air hangat (bukan air panas) dan pembersih ringan.
Menghindari penggunaan produk yang mengandung pewangi atau bahan
kimia keras yang dapat memperburuk gejala dermatitis.
2. Penggunaan pelembap : Menggunakan pelembap yang cocok untuk
menghidrasi kulit dan mengurangi kekeringan. Pelembap yang mengandung
bahan seperti ceramide dapat membantu memperbaiki fungsi penghalang
kulit.
3. Penghindaran pemicu : Mengidentifikasi dan menghindari pemicu yang
memicu flare-up dermatitis, seperti alergen atau iritan tertentu. Jika terjadi
dermatitis kontak alergi, patch test dapat membantu mengidentifikasi alergen
penyebab.
4. Penggunaan obat topical : Penggunaan krim kortikosteroid topikal atau krim
imunomodulator topikal dapat membantu mengurangi peradangan dan gatal
pada dermatitis. Penggunaannya harus sesuai dengan anjuran dokter.
5. Pengobatan antihistamin : Dalam kasus dermatitis yang disertai gatal yang
signifikan, dokter dapat meresepkan antihistamin oral untuk mengurangi gatal
dan membantu meningkatkan tidur.
6. Pengobatan infeksi sekunder : Jika terjadi infeksi bakteri, jamur, atau virus
pada kulit yang terkena dermatitis, dokter dapat meresepkan antibiotik,
antijamur, atau antivirus yang sesuai.
7. Perubahan gaya hidup : Menerapkan gaya hidup sehat, termasuk menghindari
stres berlebihan, menjaga kebersihan kulit, mengonsumsi makanan sehat, dan
menghindari paparan lingkungan yang memperburuk dermatitis. Penting
untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli dermatologi untuk menentukan
penatalaksanaan yang tepat berdasarkan jenis, tingkat keparahan, dan
karakteristik individu dari dermatitis yang dialami.

H. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1 Data Subjektif : Agen Nyeri akut
 Mengeluh nyeri pencederaan (luka
Data Objektif : lecet, luka
 Tampak meringis dermatitis)
 Bersikap protektif (mis:
waspada, posisi Merangsang
menghindari nyeri) respon nyeri
 Gelisah
 Frekuensi nadi meningkat Nyeri Akut
 Sulit tidur

2 Data Subjektif : Paparan alergi, Kerusakan


 Tidak tersedia faktor integritas kulit
Data Objektif : lingkungan,
 Kerusakan jaringan genetic, imun
dan/atau lapisan kulit tubuh

Dermatitis

Kerusakan
integritas kulit

3 Data Subjektif : Agen Gangguan Pola


 Mengeluh sulit tidur pencederaan Tidur
 Mengeluh sering terjaga (fisik, biologis,
 Mengeluh tidak puas tidur psikososial)
 Mengeluh pola tidur
berubah Nyeri dan Gatal
 Mengeluh istirahat tidak
cukup Gangguan Pola
 Mengeluh kemampuan Tidur
beraktivitas menurun
Data Objektif :
 (tidak tersedia)

4 Data Subjektif : Kurang inisiatif Defisit


 Menanyakan masalah mencari informasi Pengetahuan
yang dihadapi
Data Objektif : Kurang
 Menunjukkan perilaku terpaparnya
tidak sesuai anjuran informasi
 Menunjukkan persepsi
yang keliru terhadap Defisit
masalah Pengetahuan

Sumber : PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan


Indikator Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.

I. Ringkasan Diagnosa Keperawatan


Diagnosa 1 :
Dx Keperawatan Nyeri Akut
Definisi Pengalaman sensori dan emosional
yang tidak menyenangkan yang
muncul akibat kerusakan jaringan
yang aktual atau potensial atau
digambarkan dalam hal kerusakan
sedemikian rupa (International
Association for the study of Pain):
awitan yang tiba-tiba atau lambat dan
intensitas ringan hingga berat dengan
akhir yang dapat diantisipasi atau
diprediksi dan berlangsung <6 bulan.
Batasan Karakteristik  Perubahan selera makan
 Perubahan tekanan darah
 Perubahan frekwensi jantung
 Perubahan frekwensi pernapasan
 Laporan isyarat
 Diaforesis
 Perilaku distraksi (mis,berjaIan
mondar-mandir mencari orang
lain dan atau aktivitas lain,
aktivitas yang berulang)
 Mengekspresikan perilaku (mis,
gelisah, merengek, menangis)
 Masker wajah (mis, mata kurang
bercahaya, tampak kacau,
gerakan mata berpencar atau tetap
pada satu fokus meringis)
 Sikap melindungi area nyeri
 Fokus menyempit (mis, gangguan
persepsi nyeri, hambatan proses
berfikir, penurunan interaksi
dengan orang dan lingkungan)
 Indikasi nyeri yang dapat diamati
 Perubahan posisi untuk
menghindari nyeri
 Sikap tubuh melindungi
 Dilatasi pupil
 Melaporkan nyeri secara verbal
 Gangguan tidur
Pengkajian Pengkajian dilakukan dengan
wawancara dan observasi dengan
metode PQRST
Faktor Yang Berhubungan Agen cedera (mis. biologis, zat kimia,
fisik, psikologis)
Alternatif Dx (Saran Penggunaan) Nyeri Akut berhubungan dengan agen
cedera (mis. Biologis, zat kimia, fisik,
psikologis)
Nursing Outcome (NOC) NOC
 Pain Level,
 Pain control
 Comfort level
Kriteria Hasil :
 Mampu mengontrol nyeri (tahu
penyebab nyeri, mampu
menggunakan tehnik
nonfarmakologi untuk
mengurangi nyeri, mencari
bantuan)
 Melaporkan bahwa nyeri
berkurang dengan menggunakan
manajemen nyeri
 Mampu mengenali nyeri (skala,
intensitas, frekuensi dan tanda
nyeri)
 Menyatakan rasa nyaman setelah
nyeri berkurang
Intervensi (NIC) NIC
Pain Management
 Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi frekuensi,
kualitas dan faktor presipitasi
 Observasi reaksi nonverbal dan
ketidaknyamanan
 Gunakan teknik komunikasi
terapeutik untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien
 Kaji kultur yang mempengaruhi
respon nyeri
 Evaluasi pengalaman nyeri masa
lampau
 Evaluasi bersama pasien dan tim
kesehatan lain tentang
ketidakefektifan kontrol nyeri
masa Iampau
 Bantu pasien dan keluarga untuk
mencari dan menemukan
dukungan
 Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan
kebisingan
 Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Pilih dan lakukan penanganan
nyeri (farmakologi, non
farmakologi dan inter personal)
 Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
 Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
 Berikan anaIgetik untuk
mengurangi nyeri
 Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
 Tingkatkan istirahat
 Kolaborasikan dengan dokter jika
ada keluhan dan tindakan nyeri
tidak berhasil
 Monitor penerimaan pasien
tentang manajemen nyeri
Analgesic Administration
 Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri
sebelum pemberian obat
 Cek instruksi dokter tentang jenis
obat, dosis, dan frekuensi
 Cek riwayat alergi
 Pilih analgesik yang diperlukan
atau kombinasi dari analgesik
ketika pemberian lebih dari satu
 Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya nyeri
 Tentukan analgesik pilihan, rute
pemberian, dan dosis optimal
 Pilih rute pemberian secara IV,
IM untuk pengobatan nyeri secara
teratur
 Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik
pertama kali
 Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
 Evaluasi efektivitas analgesik,
tanda dan gejala

Sumber : Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2021). APLIKASI Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.

Diagnosa 2 :
Dx Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit
Definisi Kerusakan kulit (dermis dan/atau
epidermis) atau jaringan (membran
mukosa, kornea, fasia, otot, tendon,
tulang, kartilago, kapsul sendi dan
/atau ligamen).
Batasan Karakteristik Gejala dan tanda mayor
Subjektif : (tidak tersedia)
Objektif :
 Kerusakan jaringan dan/atau kulit
Gejala dan tanda minor
Subjektif : (tidak tersedia)
Objektif :
 Nyeri
 Perdarahan
 Kemerahan
 Hematoma

Kondisi klinis terkait :


1. Imobilisasi
2. Gagal jantung kongestif
3. Gagal ginjal
4. Diabetes melitus
5. Imunodefisiensi ([Link])
Pengkajian Pengkajian dilakukan dengan metode
wawancara dan observasi
Faktor Yang Berhubungan Faktor Yang Berhubungan :
Eksternal :
1. Zat kimia, Radiasi
2. Usia yang ekstrim
3. Kelembapan
4. Hipertermia, Hipotermia
5. Faktor mekanik (mis..gaya gunting
[shearing forces])
6. Medikasi
7. Lembab
8. Imobilitasi fisik
Internal:
1. Perubahan status cairan
2. Perubahan pigmentasi
3. Perubahan turgor
4. Faktor perkembangan
5. Kondisi ketidakseimbangan nutrisi
([Link], emasiasi)
6. Penurunan imunologis
7. Penurunan sirkulasi
8. Kondisi gangguan metabolik
9. Gangguan sensasi
[Link] tulang
Alternatif Dx (Saran Penggunaan) Gangguan integritas kulit
berhubungan dengan :
 Perubahan sirkulasi
 Perubahan status nutrisi
(kelebihan atau kekurangan)
 Kekurangan/kelebihan volume
cairan
 Penurunan mobilitas
 Bahan kimia iritatif
 Suhu lingkungan yang ekstrim
 Faktor mekanis (mis: penekanan
pada tonjolan tulang, gesekan)
atau faktor elektris
(elektrodiatermi, energi listrik
bertegangan tinggi)
 Efek samping terapi radiasi
 Kelembaban
 Proses penuaan
 Neuropati perifer
 Perubahan pigmentasi
 Perubahan hormonal
 Kurang terpapar informasi
tentang upaya
mempertahankan/melindungi
integritas jaringan

Nursing Outcome (NOC) NOC


 Tissue Integrity : Skin and Mucous
Membranes
 Hemodyalis akses

Kriteria Hasil :
 Integritas kulit yang baik bisa
dipertahankan (sensasi, elastisitas,
temperatur, hidrasi, pigmentasi)
 Tidak ada luka/lesi pada kulit
 Perfusi jaringan baik
 Menunjukkan pemahaman dalam
proses perbaikan kulit dan
mencegah terjadinya cedera
berulang
 Mampu melindungi kulit dan
mempertahankan kelembaban kulit
dan perawatan alam
Intervensi (NIC) Intervensi keperawatan
Observasi :
 Identifikasi penyebab kerusakan
integritas kulit (mis. Perubahan
sirkulasi darah, perubahan status
gizi, penurunan kelembaban, suhu
lingkungan ekstrim, penurunan
mobilitas)
Teraupetik :
 Ubah posisi setiap 2 jam jika tirah
baring
 Gunakan produk berbahan
petroleum atau minyak pada kulit
kering
 Gunakan produk berbahan
ringan/alami dan hipoalergik pada
kulit sensitive
 Hindari produk berbahan dasar
alkohol pada kulit kering
Edukasi :
 Anjurkan menggunakan pelembab
(mis: lotion, serum)
 Anjurkan minum air yang cukup
 Anjurkan meningkatkan asupan
nutrisi
 Anjurkan meningkatkan asupan
buah dan sayur
 Anjurkan menghindari terpapar
suhu ekstrim
 Anjurkan menggunakan tabir surya
SPF minimal 30 saat berada diluar
rumah
 Anjurkan mandi dan menggunakan
sabun secukupnya
Sumber : Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2021). APLIKASI Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.

Diagnosa 3 :
Dx Keperawatan Gangguan Pola Tidur
Definisi Gangguan kualitas dan kuantitas
waktu tidur akibat faktor eksternal
Batasan Karakteristik  Perubahan pola tidur normal
 Penurunan kemampuan berfungsi
 Ketidakpuasan tidur
 Menyatakan sering terjaga
 Meyatakan tidak mengalami
kesulitan tidur
 Menyatakan tidak merasa cukup
istirahat
Pengkajian Pengkajian dilakukan dengan
observasi dan wawancara serta
pemeriksaan fisik
Faktor Yang Berhubungan  Kelembaban lingkungan sekitar
 Suhu lingkungan sekitar
 Tanggung jawab memberi asuhan
 Perubahan pejanan terhadap cahaya
gelap
 Gangguan(mis.,untuk tujuan
terapeutik, pemantauan,
pemeriksaan laboratorium)
 Kurang kontrol tidur
 Kurang privasi, Pencahayaan
 Bising, Bau gas
 Restrain fisik, Teman tidur
 Tidak familier dengan prabot tidur
Alternatif Dx (Saran Penggunaan) Gangguan Pola tidur berhubungan
dengan agen cedera fisik
Nursing Outcome (NOC) NOC
 Anxiety reduction
 Comfort level
 Pain level
 Rest : Extent and Pattern
 Sleep : Extent an Pattern
Kriteria Hasil :
 Jumlah jam tidur dalam batas
normal 6-8 jam/hari
 Pola tidur, kualitas dalam batas
normal
 Perasaan segar sesudah tidur atau
istirahat
 Mampu mengidentifikasikan hal-
hal yang meningkatkan tidur
Intervensi (NIC) NIC
Sleep Enhancement
 Determinasi efek-efek medikasi
terhadap pola tidur
 Jelaskan pentingnya tidur yang
adekuat
 Fasilitas untuk mempertahankan
aktivitas sebelum tidur (membaca)
 Ciptakan lingkungan yang nyaman
 Kolaborasikan pemberian obat
tidur
 Diskusikan dengan pasien dan
keluarga tentang teknik tidur
pasien
 Instruksikan untuk memonitor tidur
pasien
 Monitor waktu makan dan minum
dengan waktu tidur
 Monitor/catat kebutuhan tidur
pasien setiap hari dan jam
Sumber : Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2021). APLIKASI Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.

Diagnosa 4 :
Dx Keperawatan Defisit Pengetahuan
Definisi Tidak adanya atau kurangnya
informasi kognitif sehubungan dengan
topic spesifik.
Batasan Karakteristik  Memverbalisasikan adanya
masalah
 Ketidakakuratan mengikuti
instruksi
 Perilaku tidak sesuai.
Pengkajian Pengkajian dilakukan dengan
wawancara dan observasi serta
berdasarkan pemeriksaan fisik
Faktor Yang Berhubungan  Keterbatasan kognitif
 Interpretasi terhadap informasi
yang salah
 Kurangnya keinginan untuk
mencari informasi
 Tidak mengetahui sumber-
sumber informasi.
Alternatif Dx (Saran Penggunaan) Defisit Pengetahuan berhubungan
dengan kurang terpapar informasi
Nursing Outcome (NOC) NOC :
 Kowlwdge : disease process
 Kowledge : health Behavior
Kriteria Hasil :
 Pasien dan keluarga menyatakan
pemahaman tentang penyakit,
kondisi, prognosis dan program
pengobatan
 Pasien dan keluarga mampu
melaksanakan prosedur yang
dijelaskan secara benar
 Pasien dan keluarga mampu
menjelaskan kembali apa yang
dijelaskan perawat/tim kesehatan
lainnya
Intervensi (NIC) NIC :
Teaching : disease Process
 Berikan penilaian tentang tingkat
pengetahuan pasien tentang
proses penyakit yang spesifik
 Jelaskan patofisiologi dari
penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan anatomi dan
fisiologi, dengan cara yang tepat.
 Gambarkan tanda dan gejala yang
biasa muncul pada penyakit,
dengan cara yang tepat
 Gambarkan proses penyakit,
dengan cara yang tepat
 Identifikasi kemungkinan
penyebab, dengna cara yang tepat
 Sediakan informasi pada pasien
tentang kondisi, dengan cara yang
tepat
 Hindari harapan yang kosong
 Sediakan bagi keluarga informasi
tentang kemajuan pasien dengan
cara yang tepat
 Diskusikan perubahan gaya hidup
yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi di masa
yang akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit
 Diskusikan pilihan terapi atau
penanganan
 Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion
dengan cara yang tepat atau
diindikasikan
 Eksplorasi kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan cara yang
tepat
 Rujuk pasien pada grup atau
agensi di komunitas lokal, dengan
cara yang tepat
 Instruksikan pasien mengenai
tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi
perawatan kesehatan, dengan cara
yang tepat
Sumber : Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2021). APLIKASI Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.
J. Intervensi Keperawatan
No Dx. Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional
1. Nyeri Akut berhubungan Setelah dilakukan Tindakan Observasi :
dengan agen pencederaan keperawatan selama ……x 24 1. Lakukan pengkajian nyeri 1. Mengetahui skala
(mis. Fisik, biologis, zat jam diharapkan nyeri dapat secara komprehensif nyeri, lokasi dan
kimia, dll) berkurang dengan kriteria hasil termasuk lokasi, frekuensi nyeri
: karakteristik, durasi 2. Mengetahui respon
 Mampu mengontrol nyeri frekuensi, kualitas dan nyeri
(tahu penyebab nyeri, faktor presipitasi 3. Membantu dalam
mampu menggunakan 2. Observasi reaksi memudahkan
tehnik nonfarmakologi nonverbal dan komunikasi dan
untuk mengurangi nyeri, ketidaknyamanan mempermudah proses
mencari bantuan) 3. Gunakan teknik intervensi
 Melaporkan bahwa nyeri komunikasi terapeutik 4. Mengetahui penyebab
berkurang dengan untuk mengetahui nyeri
menggunakan manajemen pengalaman nyeri pasien 5. Untuk mengetahui
nyeri Teraupetik : pengalaman nyeri yang
 Mampu mengenali nyeri 4. Kaji kultur yang dirasakan
(skala, intensitas, mempengaruhi respon 6. Untuk menentukan
frekuensi dan tanda nyeri) nyeri Tindakan intervensi
 Menyatakan rasa nyaman 5. Evaluasi pengalaman nyeri yang lebih efektif
setelah nyeri berkurang nyeri masa lampau untuk diterapkan
6. Evaluasi bersama pasien 7. Untuk memberikan
dan tim kesehatan lain dukungan dan motivasi
tentang ketidakefektifan 8. Untuk mengurangi rasa
kontrol nyeri masa nyeri dengan
Iampau memberikan rasa aman
7. Bantu pasien dan keluarga dan nyaman
untuk mencari dan 9. Untuk mengurangi rasa
menemukan dukungan nyeri
8. Kontrol lingkungan yang 10. Untuk membantu
dapat mempengaruhi mengontrol nyeri
nyeri seperti suhu secara mandiri
ruangan, pencahayaan dan 11. Memberikan
kebisingan pengetahuan dalam
9. Kurangi faktor presipitasi mengontrol nyeri
nyeri secara mandiri
10. Pilih dan lakukan 12. Membantu mengurangi
penanganan nyeri nyeri dengan terapi
(farmakologi, non 13. Membantu proses
farmakologi dan inter penyembuhan
personal)
Edukasi :
11. Ajarkan tentang teknik
non farmakologi
Kolaborasi :
12. Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
13. Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan
dan tindakan nyeri tidak
berhasil
2. Gangguan integritas kulit Setelah dilakukan Tindakan Observasi :
berhubungan dengan : keperawatan selama ……x 24 1. Identifikasi penyebab 1. Untuk mengetahui
 Perubahan sirkulasi jam diharapkan masalah kerusakan integritas kulit penyebab kerusakan
 Perubahan status kerusakan integritas kulit dapat (mis. Perubahan sirkulasi integritas kulit
nutrisi (kelebihan atau teratasi dengan Kriteria Hasil : darah, perubahan status 2. Memberikan rasa aman
kekurangan)  Integritas kulit yang baik gizi, penurunan dan nyaman
 Kekurangan/kelebihan bisa dipertahankan kelembaban, suhu 3. Mengurangi kerusakan
volume cairan (sensasi, elastisitas, lingkungan ekstrim, kulit dan menjaga
 Penurunan mobilitas temperatur, hidrasi, penurunan mobilitas) kelembapan
 Bahan kimia iritatif pigmentasi) Teraupetik : 4. Untuk mencegah
 Suhu lingkungan yang  Tidak ada luka/lesi pada 2. Ubah posisi setiap 2 jam kerusakan integritas kulit
ekstrim kulit jika tirah baring yang lebih parah
 Faktor mekanis (mis:  Perfusi jaringan baik 3. Gunakan produk berbahan 5. Membantu menjaga
penekanan pada  Menunjukkan pemahaman petroleum atau minyak kelembapan kulit
tonjolan tulang, dalam proses perbaikan pada kulit kering 6. Untuk mencegah kulit
gesekan) atau faktor kulit dan mencegah 4. Gunakan produk berbahan kering
elektris terjadinya cedera berulang ringan/alami dan 7. Nutrisi dapat menjaga
(elektrodiatermi,  Mampu melindungi kulit hipoalergik pada kulit Kesehatan kulit
energi listrik dan mempertahankan sensitive 8. Menbantu dalam
bertegangan tinggi) kelembaban kulit dan Edukasi : menjaga Kesehatan kulit
 Efek perawatan alam 5. Anjurkan menggunakan 9. Mencegah terjadinya
samping terapi radiasi pelembab (mis: lotion, kerusakan kulit yang
 Kelembaban serum) lebih parah
 Proses penuaan 6. Anjurkan minum air yang 10. Membantu menjaga
 Neuropati perifer cukup kebersihan kulit
 Perubahan pigmentasi 7. Anjurkan meningkatkan 11. Membantu proses
 Perubahan hormonal asupan nutrisi penyembuhan
 Kurang terpapar 8. Anjurkan meningkatkan 12. Membantu mencegah
informasi tentang asupan buah dan sayur kejadian lebih parah
upaya 9. Anjurkan menghindari
mempertahankan/meli terpapar suhu ekstrim
ndungi integritas 10. Anjurkan mandi dan
jaringan menggunakan sabun
secukupnya
Kolaborasi
11. Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian terapi
12. Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk membatasi
makanan yang dapat
menyebabkan muncul
alergi
3. Gangguan Pola tidur Setelah dilakukan tindakan Observasi :
berhubungan dengan agen keperawatan selama …..x 24 1. Kaji pola tidur 1. Untuk mengetahui pola
cedera fisik jam diharapkan masalah 2. Kaji penyebab gangguan tidur
gangguan pola tidur dapat tidur 2. Untuk mengetahui
teratasi dengan Terapeutik : penyebab susah tidur
Kriteria Hasil : 3. Fasilitas untuk 3. Untuk membantu dalam
 Jumlah jam tidur dalam mempertahankan aktivitas memudahkan tidur dan
batas normal 6-8 jam/hari sebelum tidur (membaca) memberikan relaksasi
 Pola tidur, kualitas dalam 4. Ciptakan lingkungan yang 4. Untuk memberikan rasa
batas normal nyaman nyaman dan mebantu
 Perasaan segar sesudah 5. Diskusikan dengan pasien memudahkan tidur
tidur atau istirahat dan keluarga tentang 5. Untuk membantu dalam
 Mampu teknik tidur pasien proses memudahkan
mengidentifikasikan hal-hal Edukasi : tidur
yang meningkatkan tidur 6. Jelaskan pentingnya tidur 6. Memberikan
yang adekuat pemahaman tentang
7. Jelaskan cara pentingnya tidur
memperbaiki pola tidur 7. Memberikan motivasi
Kolaborasi : dan pengetahuan untuk
8. Kolaborasikan pemberian memenuhi tidur cukup
obat tidur 8. Membantu proses
9. Kolaborasi dengan dokter penyembuhan dan
dalam memberikan memudahkan tidur
edukasi tentang obat 9. Untuk memberikan
obatan pengetahuan agar tidak
terjadi efek samping
yang beresiko
4. Defisit Pengetahuan Setelah dilakukan Tindakan Observasi : 1. Untuk mengetahui
berhubungan dengan keperawatan selama ……x24 1. Kaji tingkat pengetahuan tingkat pengetahuan
kurang terpapar informasi jam diharapkan pengetahuan pasien tentang proses pasien
dapat meningkat dengan penyakit yang spesifik 2. Mengetahui sejauh mana
Kriteria Hasil : 2. Kaji tingkat pemahaman pemahaman yang
 Pasien dan keluarga pasien tentang kondisinya dimiliki
menyatakan pemahaman Terapeutik : 3. Membantu dalam proses
tentang penyakit, kondisi, 3. Jelaskan patofisiologi dari pemberian informasi
prognosis dan program penyakit dan bagaimana 4. Membantu dalam proses
pengobatan hal ini berhubungan pemberian informasi
 Pasien dan keluarga dengan anatomi dan 5. Membantu dalam proses
mampu melaksanakan fisiologi, dengan cara pemberian informasi
prosedur yang dijelaskan yang tepat. 6. Membantu dalam proses
secara benar 4. Gambarkan tanda dan pemberian informasi
 Pasien dan keluarga gejala yang biasa muncul 7. Membantu dalam proses
mampu menjelaskan pada penyakit, dengan pemberian informasi
kembali apa yang cara yang tepat 8. Membantu dalam proses
dijelaskan perawat/tim 5. Gambarkan proses pemberian informasi
kesehatan lainnya penyakit, dengan cara 9. Membantu dalam
yang tepat peningkatan pemahaman
6. Sediakan informasi pada 10. Menentukan terapi yang
pasien tentang kondisi, tepat
dengan cara yang tepat 11. Memberikan
7. Hindari harapan yang pemahaman tentang
kosong terapi yang tepat dan
8. Sediakan bagi keluarga cara minum obat
informasi tentang 12. Memberikan
kemajuan pasien dengan pemahaman lebih
cara yang tepat lengkap dan jelas
Edukasi :
9. Diskusikan perubahan
gaya hidup yang mungkin
diperlukan untuk
mencegah komplikasi di
masa yang akan datang
dan atau proses
pengontrolan penyakit
10. Diskusikan pilihan terapi
atau penanganan
Kolaborasi :
11. Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian terapi
dan penjelasan tentang
terapi
12. Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian edukasi
lebih lanjut

Sumber :
Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2021). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC.
Jogjakarta: MediAction.
Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC.
Jogjakarta: MediAction.
K. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan tindakan nyata dari intervensi yang sudah
ditentukan sebelumnya, tujuan dari implementasi adalah untuk mencukupi
kebutuhan pasien secara maksimal. Perawat melaksanakan tahap-tahap
pengetahuan intelektual, melakukan komunikasi secara langsung terhadap pasien,
melakukan asuhan keperawatan, menemukan perubahan yang terjadi pada pasien.
Implementasi dilakukan secara mantap sehingga mampu menciptakan rasa
nyaman dan aman pada pasien (Nusatirin, 2018)

L. Evaluasi
Evalusi dilakukan guna menilai proses keperawatan yang bertujuan untuk
menangani kebutuhan pasien secara maksimal serta menentukan hasil dari
tindakan keperawatan yang sudah dilakukan menurut (Nusatirin, 2018). Penilaian
evaluasi menggunakan 4 langkah yaitu S (Subjective), O (Objective), A
(Assesment), P (Plan).
DAFTAR PUSTAKA

Anintyas, N. (2021) ‘Makalah Kebutuhan Dasar Manusia’, Angewandte Chemie


International Edition, 6(11), 951–952., pp. 6–39.

Chung, H. Y., Lee, E. K., & Choi, Y. J. (2020). Physical function changes of older
adults. The Journal of Nutrition, Health & Aging, 24(3), 367-372.

Ebrahim, W., & Weerakoon, S. (2020). Social change and the impact on the
elderly: understanding the dynamics of elderly support in contemporary
Sri Lanka. Ageing & Society, 40(8), 1747-1765.

Frost, R., & Belk, C. (2020). Health care professional perspectives on geriatric
care in the United States: a scoping review. BMC Health Services
Research, 20(1), 1-16.

Haslinda Pratiwi1, Melda Yenni2, E. M. (2022) ‘Faktor Yang Berhubungan


Dengan Gejala Dermatitis Kontak Pada Petani Di Wilayah Kerja
Puskesmas Paal Merah Ii’, Jurnal Inovasi Penelitian, 2(10), pp. 3415–
3420.

Jung, H. K., & Kim, M. H. (2020). The Effects of Walking and Meditation on
Cognitive Function and Emotional Well-Being in Elderly People: A
Randomized Controlled Trial. International Journal of Environmental
Research and Public Health, 17(15), 5462

Patel, V. M., & Green, J. B. (2020). Contact Dermatitis: A Review. Current


dermatology reports, 9(3), 103-111

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:Definisi dan Indikator


Diagnostik, Edisi 1 Cetakan III (Revisi). Jakarta: PPNI.

PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI. 41

PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan


Keperawatan, Edisi 1 Cetakan II. Jakarta: PPNI..
Sidbury, R., Davis, D. M. R., & Cohen, D. E. (2019). Guidelines of care for the
management of atopic dermatitis: section 3. Management and treatment
with phototherapy and systemic agents. Journal of the American
Academy of Dermatology, 81(2), 255-281

Singh, M., & Silverberg, J. I. (2020). Eczema: A Review of the Pathophysiology,


Clinical Features, and Management of Atopic Dermatitis. Current
Opinion in Pediatrics, 32(4), 516-521

Van Winkle, L. J., Galat, V. and Iannaccone, P. M. (2020) ‘Lysine deprivation


during maternal consumption of low-protein diets could adversely affect
early embryo development and health in adulthood’, International Journal
of Environmental Research and Public Health, 17(15), pp. 1–9.

Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2015). APLIKASI Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta:
MediAction.

Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. (2021). APLIKASI Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta:
MediAction.

Anda mungkin juga menyukai