UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA
MELALUI MEDIA BUKU DONGENG ATAU BUKU CERITA
BERGAMBAR PADA SISWA KELAS 1 SDN 021/VIII BEDARO
RAMPAK
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Oleh:
DINA MARIANA
SDN 021/VIII BEDARO RAMPAK
TAHUN PELAJARAN
2024/2025
ABSTRAK
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA
MELALUI MEDIA BUKU DONGENG ATAU BUKU
PENGETAHUAN BERGAMBAR PADA SISWA KELAS 1 SDN
021/VIII BEDARO RAMPAK
Penelitian ini bertujuan untuk (1) untuk mendeskripsikan bagaimana cara
mudah anak dalam memahami kata atau kalimat melalui buku dongeng bergambar
atau buku pengetahuan bergambar di SDN 021/VIII BEDARO RAMPAK, tahun
ajaran 2024/[Link] untuk meningkatkan kemampuan membaca Permulaan
Bahasa Indonesia siswa kelas I SD. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) dilaksanakan dalam 2 siklus dengan 3 kali pertemuan tiap siklusnya
dengan jumlah siswa sebanyak 11 siswa. Pada pra tindakan persentase ketuntasan
siswa baru mencapai 23%, setelah dilaksanakan tindakan pada siklus I persentase
ketuntasan siswa meningkat menjadi 55%, pada siklus II meningkat menjadi 77%
sehingga peneliti tidak melanjutkan ke siklus III.
ii
Kata Kunci: Buku dongeng bergambar atau buku pengetahuan bergambar , kemampuan
membaca, Bahasa
Indonesia.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah mengkaruniakan kesehatan
dan kekuatan sehinggan penulisan laporan penelitian tindakan kelas
yang berjudul UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA
MELALUI MEDIA PERMAINAN KARTU BERGAMBAR PADA SISWA
KELAS 1 SD NEGERI 12 PONTIANAK TIMUR dapat diselesaikan dengan
baik.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada orang-orang yang telah berperan sehingga dapat
terselesaikannya tugas ini, antara lain:
1. Ibu Sofia, [Link] selaku kepala sekolah SD Negeri 12 Pontianak Timur yang
telah meluangkan banyak waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan
pengarahan dalam penulisan karya ilmiah ini.
2. Segenap Rekan Guru dan staff Tenaga Kependidikan di SD Negeri 12
pontianak Timur.
3. Keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan moril maupun materil.
iii
4. Pihak-pihak lain yang telah memberikan bantuan secara langsung maupun
tidak langsung dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini yang tidak dapat
disebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan penelitian tindakan kelas ini
masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan segala petunjuk,
kritik, dan saran yang membangun dari pembaca agar dapat menunjang
pengembangan dan perbaikan penulisan selanjutnya.
Akhir kata penulis mohon maaf atas kekurangan dalam laporan penelitian
ini dan penulis dengan senang hati menerima saran dan kritik yang membangun
dari pembaca.
Semoga laporan peneleitian tindakan kelas ini dapat berguna untuk menambah
wawasan bagi rekan-rekan tenaga pendidik.
Pontianak, 17 Januari 2022
Penulis
Nurhasanah, [Link]
iv
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ v
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
A. Latar Belakang ......................................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................................. 4
C. Pembatasan Masalah ................................................................................. 4
D. Rumusan Masalah ..................................................................................... 5
E. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 6
F. Manfaat Penelitian ..................................................................................... 6
BAB II Landasan Teori ...................................................................................... 7
A. Kajian Pustaka ........................................................................................... 7
1. Membaca ............................................................................................. 7
2. Pengertian Media Gambar................................................................... 8
3. Media Gambar ..................................................................................... 9
4. Hakikat Kemampuan Membaca ..........................................................
11
5. Tujuan Utama Dalam Membaca .........................................................
15
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 17
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ............................................................... 17
B. Subyek dan Lokasi Penelitian ...................................................................
19
C. Teknik Pengumpulan Data ........................................................................
19
D. Prosedur Penelitian.................................................................................... 21
E. Teknik Analisis Data .................................................................................
25
F. Indikator Keberhasilan dan Hipotesis Tindakan .......................................
26
BAB IV Hasil Penelitian ....................................................................................
28
A. Deskripsi Data Pra Siklus ......................................................................... 28
B. Deskripsi Hasil Penelitian .........................................................................
29
C. Pembahasan ...............................................................................................
44
BAB V Kesimpulan dan Saran .......................................................................... 47
A. Kesimpulan .............................................................................................. 47
B. Saran ..........................................................................................................
48
Daftar Pustaka .....................................................................................................
50
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Lahirnya Undang-undang No. 20 Tahun 2004 tentang Sistem
Pendidikan Nasional telah membawa dampak positif bagi pembelajaran
Bahasa Indonesia. Hal ini mencerminkan dengan diangkatkannya membaca,
menulis dan berhitung sebagai kemampuan dasar berbahasa yang secara dini
dan berkesinambungan menjadi perhatian dan kegiatan di sekolah Dasar atau
Madrasah Ibtidaiyah dari kelas I.
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial,
dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam
mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu
peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain,
mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang
menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan
kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
1
Pada hakikatnya belajar bahasa adalah belajar komunikasi. Dengan
pendekatan komunikatif ini siswa harus diberi kesempatan untuk melakukan
komunikasi Baik secara lisan maupun tulisan. Supaya siswa mampu
berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,
maka siswa perlu dilatih sebanyak-banyaknya atau diberi kesempatan seluas-
luasnya untuk melakukan kegiatan berkomunikasi.
Dengan mempertimbangkan karakteristik anak yang lebih memperhatikan
terhadap sesuatu yang menarik perhatian mereka, membangkitkan minat dan
motivasi belajar serta melatih imajinasi anak, maka penerapan media gambar
dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya untuk meningkatkan
kemampuan bercerita anak dapat dilakukan secara optimal.
Proses belajar tidak akan bisa dilepaskan dari kehidupan setiap
manusia. Karena belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada
diri setiap orang Sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya
interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar
dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. salah satu pertanda bahwa seseorang
itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang
mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat
pengetahuan,keterampilan, atau sikapnya.
2
Kegiatan yang menarik dan menyenangkan merupakan suatu bagian
penting dalam mendorong perkembangan bahasa, karena anak harus mampu
mengungkapkan dan menggunakan kata-kata, untuk mendorong anak agar
mampu mengungkapkan diri dengan kata-kata, maka kegiatan yang akan
dilakukan adalah melalui cerita dongeng bergambar atau cerita pengetahuan
bergambar. Melalui buu cerita bergambar bisa membuat anak tertarik dalam
belajar membaca dan tidak membuat anak jenuh jika hanya berebntuk tulisan
tanpa disertai gambar.
Salah satu fokus pembelajaran Bahasa di Sekolah Dasar yang
memegang peranan penting ialah pembelajaran membaca, tanpa memiliki
kemampuan membaca yang memadai sejak dini, anak akan mengalami
kesulitan belajar dikemudian hari. Kemampuan membaca menjadi dasar utama
tidak saja pembelajaran bahasa sendiri, tetapi juga bagi pembelajaran mata
pelajaran lain. Dengan membaca siswa akan memperoleh pengetahuan yang
sangat bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan daya nalar, sosial dan
emosional.
Peran guru kelas I memegang peranan penting dalam bidang
pengajaran Bahasa Indonesia khususnya membaca. Tanpa memiliki
kemampuan membaca yang memadai sejak dini maka anak akan mengalami
kesulitan belajar dikemudian hari. Kemampuan membaca menjadi dasar yang
utama tidak saja bagi pengajaran Bahasa Indonesia sendiri, akan tetapi juga
bagi pengajaran mata pelajaran lain.
3
Saat ini masih banyak guru yang belum melakukan fungsinya sebagai
guru yang profesional. Masih banyak melalaikan tugas sebagai guru. Guru
hanya bertugas menyelesaikan target materi dalam kurikulum setiap akhir
semester atau setiap tahun. Namun tidak memperhatikan masih terdapat
ketidakseimbangan antara target kurikulum dengan saya serap yang dicapai
peserta didik. Guru kurang mengenal siswa secara menyeluruh sehingga tidak
bisa membedakan antara siswa yang lemah dengan siswa yang pandai dalam
menerima pembelajaran. Pembagian tugas mengajar kelas harus betul-betul
sesuai kemampuan guru, khususnya guru kelas I harus guru yang bisa
mengenal siswa secara keseluruhan.
Pembelajaran Bahasa Indonesia yang diterapkan disekolah belum
memanfaatkan media pembelajaran sebagai penunjang kegiatan pembelajaran.
Dengan demikian perlu pemanfaatan media pembelajaran agar siswa mudah
menangkap dan mencapai tujuan pembelajaran. Salah satu media
pembelajaran yang dapat digunakan adalah media gambar. Media gambar ini
menarik bagi siswa karena dari media tersebut banyak tema yang dapat dipilih
untuk dikembangkan dan semua siswa memperoleh kesempatan yang sama
selain itu mereka mendapatkan pengalaman yang berharga dan secara tidak
langsung dapat meningkatkan minat mereka terhadap pembelajaran membaca.
Penggunaan alat bantu sebagai media pembelajaran diharapkan mampu
membantu proses belajar seperti yang dikemukanan oleh Hamalik (dalam
Arsyad, 2006), bahwa pemakaian media dalam proses pembelajaran dapat
membangkitkan keinginan dan minat, membangkitkan motivasi, memberikan
4
rangsangan kegiatan belajar, bahkan membawa pengaruh psikologis siswa.
Media dapat menarik minat belajar dan konsentrasi anak untuk memahami
pelajaran.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik melaksanakan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul. UPAYA MENINGKATKAN
KEMAMPUAN MEMBACA
MELALUI MEDIA BUKU DONGENG ATAU BUKU PENGETAHUAN
BERGAMBAR PADA SISWA KELAS 1 SDN 021/VIII BEDARO RAMPAK
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang di atas dapat diidentifikasikan beberapa masalah
sebagai berikut:
1. Kemampuan siswa dalam membaca permulaan masih kurang.
2. Guru kurang memperhatikan media yang digunakan dalam pembelajaran.
3. Guru hanya mengejar target materi yang sesuai kurikulum tanpa
memperhatikan daya serap yang dicapai oleh siswa.
C. Pembatasan masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka penelitian ini
difokuskan pada Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan
menggunakan Media Pembalajaran Buku Dongeng atau buku pengetahuan
Bergambar Pada Siswa Kelas 1 SD
Negeri 021/VIII BEDARO RAMPAK.
5
D. Rumusan Masalah
Dengan latar belakang masalah di atas, masalah dalam penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut: Apakah dengan menggunakan media
pembelajaran Buku bergambar dapat meningkatkan kemampuan membaca
permulaan pada siswa kelas 1 SD Negeri 021/VIII BEDARO RAMPAK?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah: Untuk meningkatkan kemampuan
membaca melalui penggunaan media pembelajaran Buku dongeng bergambar
atau buku pengetahuan bergambar pada siswa kelas 1 SD Negeri 021/VIII
Bedaro Rampak.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini di harapkan dapat bermanfaat untuk :
1. Bagi siswa, Agar prestasi belajar siswa menjadi baik, sehingga
kemampuan dalam pelajaran Bahasa Indonesia meningkat.
2. Bagi guru
Sebagai bahan masukan bagi guru SD, bahwa dengan menggunakan media
gambar dapat meningkatkan kemampuan bercerita siswa sehingga tujuan
pendidikan tercapai.
3. Bagi sekolah
Sebagai bahan masukan bagi sekolah dalam memfasilitasi penggunaan
media di SD Negeri 021/VIII BEDARO RAMPAK
6
4. Bagi peneliti
Sebagai pedoman pada saat menjadi guru bahwa dengan menggunakan
media gambar dapat menarik minat anak untuk belajar dan meningkatkan
kemampuan siswa pada pelajaran Bahasa Indonesia
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
Kajian pustaka ini merupakan upaya untuk menunjukkan bahwa
penelitian ini bukan penelitian baru, sudah banyak ditemukan penelitian
semisal dilakukan oleh para peneliti sebelumnya. Kajian pustaka ini digunakan
sebagai bahan perbandingan atas karya ilmiah yang ada, baik mengenai
kekurangan atau kelebihan yang sudah ada sebelumnya. Selain itu, kajian
pendahulu juga mempunyai andil besar dalam rangka mendapatkan suatu
informasi yang ada sebelumnya tentang teori yang berkaitan dengan judul
yang digunakan untuk memperoleh landasan teori ilmiah.
1. Membaca
Membaca merupakan sebuah kegiatan meresepsi, menginterpretasi,
serta menganalisa yang dilakukan oleh pemabca untuk mendapatkan pesan
yang sampaikan oleh seorang penulis dalam media tulisan.
7
Membaca adalah suatu kegiatan atau proses kognitif yang berupaya
untuk menemukan berbagai informasi yang terdapat dalam tulisan. Hal ini
dapat diartikan membaca sebagai proses berfikir untuk memahami teks
yang dibaca. (Dalman, 2013). Sedangkan Klien, dkk (Rahim, 2007)
mengemukakan bahwa definisi membaca mencakup (1) suatu proses.
Maksudnya adalah informasi dari teks atau pengetahuan yang dimiliki oleh
pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna.
(2) strategis. Pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi
membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengonstruk
makna ketika membaca. (3) interaktif. Keterlibatan pembaca dengan teks
tergantung pada konteks. Orang yang senang membaca suatu teks yang
bermanfaat, akan menemukan beberapa tujuan yang ingin dicapainya.
Kemampuan membaca permulaan merupakan suatu kesatuan yang terpadu
mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata,
menghubungkan dengan bunyi, maknanya, serta menarik kesimpulan
mengenai maksud bacaan (Dhieni, 2005).
Membaca semakin penting dalam kehidupan masyarakat yang
semakin kompleks. Setiap aspek kehidupan yang melibatkan kegiatan
membaca. Disamping itu, kemampuan membaca merupakan tuntutan
realitas kehidupan sehari-hari manusia. (Rahim, 2007). Dengan membaca
anak akan memiliki wawasan yang luas dan terbiasa menggunakan otak
dan imajinasinya sehingga anak akan menjadi orang dewasa yang berilmu
dan memiliki cara pandang yang luas.
8
2. Pengertian Media Gambar
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak
dari kata medium yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar.
Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima
pesan. Di bawah ini beberapa pengertian media gambar, diantaranya :
a. Menurut Hamalik (1994:95) mengemukakan bahwa media gambar
adalah Segala sesuatu yang diwujudkan secara visual ke dalam
bentuk-bentuk dimensi sebagai curahan ataupun pikiran yang
bermacam-macam seperti lukisan, potret, slide, film, opaque
proyektor.
b. Menurut Arief S. Sadiman (2006:29) media gambar adalah : Media
yang paling umum dipakai, yang merupakan bahasan umum yang
dapat dimengerti dan dinikmati di mana saja.
c. Menurut Soelarko (1980:3) media gambar adalah : merupakan
penurunan dari benda-benda dan pemandangan dalam hal bentuk, rupa
serta ukurannya relatif terhadap lingkungan.
Berpijak dari beberapa pengertian di atas maka kami simpulkan
bahwa media gambar adalah media yang paling umum dipakai. Hal ini
dikarenakan siswa lebih menyukai gambar, apalagi jika dibuat gambar
yang berwarna-warni dan disajikan sesuai dengan kondisi dan kemampuan
anak didik. Tentu media gambar tersebut akan menambah semangat siswa
dalam mengikuti proses pembelajaran.
9
3. Media Gambar
Media gambar adalah penyajian visual 2 dimensi yang dibuat
berdasarkan unsur dan prinsip rancangan gambar, yang berisi unsur
kehidupan sehari-hari tentang manusia, benda-benda, binatang, peristiwa,
tempat dan lain sebagainya (Rachmat, 1994).
Gambar banyak digunakan guru sebagai media dalam proses
belajar mengajar, sebab mudah diperoleh, tidak mahal, dan efektif. Di
dalam buku-buku, majalah, dan surat kabar, banyak gambar yang pada
suatu saat dapat digunakan dan dimanfaatkan sebagai media pembelajaran.
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan
dan dimanfaatkan sebagai media [Link] pembelajaran adalah
segala sesuatu yang diguinakan guru untuk menyampaikan pesan
pembelajaran yang dapat merangsang, menarik perhatian dan
memudahkan anak didik sehingga terjadi proses belajar yang
menyenangkan. Dengan demikian di samping berfungsi sebagai sarana
yang digunakan untuk menyalurkan pesan, media pembelajaran juga
berfungsi mempermudah anak didik untuk belajar.
a. Jenis-Jenis Media Gambar
Dalam buku media pengajaran, media gambar atau visual dapat
dibedakan menjadi beberapa macam, diantaranya adalah :
1) Gambar datar
Media gambar datar seperti foto, gambar ilustrasi, flash card
10
(kartu bergambar), gambar pilihan dan potongan gambar.
Disamping mudah didapat dan murah harganya, media ini juga
mudah dimengerti dan dinikmati di mana-mana. Media ini dapat
digunakan untuk memperkuat impresi, menambah fakta baru dan
memberi arti dari suatu abstraksi.
2) Media proyeksi diam
Dalam media proyeksi diam, gambar yang mengandung
pesan yang akan disampaikan ke penerima harus diproyeksikan
terlebih dahulu dengan proyektor agar dapat dilihat oleh penerima
pesan. Ada kelasnya media ini hanya visual sifatnya, tapi ada pula
yang disertai rekaman audio. Media proyeksi diam dapat digunakan
guru-guru untuk mengajar berbagai mata pelajaran di semua
tingkatan. Media ini bertujuan memberi informasi faktual, memberi
persepsi yang benar dan cepat terutama dalam pengembangan
keterampilan, merangsang apresiasi terhadap seni, gejala alam,
orang dan sebagainya.
3) Media Grafis
Grafis merupakan media yang paling mudah ditemui dan
banyak digunakan sebagai halnya media lain, media grafis
berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima
pesan. Pesannya dinyatakan dalam symbol kata-kata, gambar dan
menggunakan ciri grafis yaitu garis Basuki Wibawa dan Farida
11
Mukti, 2001: 35-60
4. Hakikat Kemampuan Membaca
a. Pengertian Kemampuan
Kemampuan membaca merupakan hal yang sangat urgen
dalam mempelajari segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang selalu
[Link] merupakan kemampuan yang sangat kompleks.
Membaca tidak sekadar kegiatan memandangi lambang-lambang
tertulis semata, bermacam-macam kemampuan dikerahkan oleh
seseorang pembaca agar ia mampu memahami materi yang dibacanya.
Pembaca berupaya agar lambang-lambang yang dilihatnya itu menjadi
lambang-lambang yang bermakna baginya.
Kemampuan (Chaplin,2000:1) dapat diartikan sebagai
kecakapan, ketangkasan, bakat, kesanggupan; tenaga (daya kekuatan)
untuk melakukan sesuatu perbuatan. Sedangkan menurut Sternberg
(1994: 3) kemampuan adalah suatu kekuatan untuk menunjukkan
suatu tindakan khusus atau tugas khusus, baik secara fisik maupun
mental. Senada dengan pendapat Sternberg, Warren (1994: 1)
mengemukakan bahwa kemampuan adalah kekuatan siswa dalam
menunjukkan tindakan responsif, termasuk gerakan-gerakan
terkoordinasi yang bersifat kompleks dan pemecahan problem mental.
Lain halnya dengan pendapat Gagne dan Briggs (1997: 57)
kemampuan adalah hasil belajar yang diperoleh siswa setelah
12
mengikuti suatu proses belajar-mengajar. Selaras dengan itu, Eysenck,
Arnold, dan Meili (1995: 5) mengemukakan bahwa kemampuan
adalah suatu pertimbangan konseptual. Selanjutnya mereka
mengatakan bahwa kemampuan berarti semua kondisi psikologi yang
diperlukan siswa untuk menunjukkan suatu aktivitas.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat
disimpulkan bahwa kemampuan adalah suatu kecakapan atau
kesanggupan yang sangat diperlukan siswa untuk melakukan suatu
tindakan atau aktivitas.
b. Pengertian Membaca
Ada beberapa ahli memberikan definisi tentang membaca, baik
membaca sebagai suatu aktivitas umum bagi kebanyakan orang dan
sebagai aspek yang digunakan dalam pembelajaran bahasa. Menurut
Heilman, dalam suwaryono Wiryodijoyo (1989: 1), Membaca ialah
pengucapan kata-kata dan perolehan arti dari barang cetakan. Kegiatan
itu melibatkan analisis, dan pengorganisasian berbagai keterampilan
yang kompleks. Termasuk di dalamnya pelajaran, pemikiran,
pertimbangan, perpaduan, pemecahan masalah, yang berati
menimbulkan kejelasan informasi bagi pembaca. Senada dengan
pendapat Davis (1995: 1-11) menyatakan: Reading is a complex
which, since the turne of the century, has been extensively studied
across a wide range of different disciplines. Lebih jauh dikatakan:
13
Reading is privet. It is a mental, or cognitive, process whicen involves
a reader in trying to follow and respond to a massage from a writer
who is distant in space and time.
Horby, (1995: 699) mengemukakan, Reading is a look and
understand something written or printed. Senada dengan pendapat
Harris (1971: 13) bahwa, Reading is a meaningfull interpretation of
printed or written verbal symbols. Berdasarkan pendapat tersebut
bahwa membaca adalah melihat dan mengetahui sesuatu yang berupa
tulisan atau cetakan. Membaca adalah suatu penafsiran yang
bermakna dari cetakan atau simbol verbal tulisan.
Lain halnya menurut Martinus Yamin (2006: 106) membaca
adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi yang disampaikan
secara verbal dan merupakan hasil ramuan pendapat, gagasan,
teoriteori, hasil peneliti para ahli untuk diketahui dan menjadi
pengetahuan siswa. Sementara Ngalim Purwanto (1997: 27)
menyebutkan bahwa membaca ialah menangkap pikiran dan perasaan
orang lain dengan tulisan (gambar dari bahasa yang dilisankan).
Membaca merupakan suatu proses sensoris, membaca dimulai
dari melihat. Stimulus masuk lewat indra penglihatan atau mata.
Kelemahan penglihatan yang umum diderita anak adalah kekeliruan
kesiapan (refractive error), yang berarti tidak lain dari kondisi mata
14
yang tidak terpusat. Kesiapan membaca dimulai dengan
mendengarkan. Persiapan auditoris anak dimulai dari rumah dalam
bentuk pembinaan kosakata, menyimak efektif dan keterampilan
membedakan.
Membaca sebagai proses perkembangan, ini dapat dilihat
bahwa kemajuan kemampuan membaca pada umumnya bergerak
teratur, anak yang tidak dapat membaca karena belum cukup matang,
mereka akan meminta kesabaran guru untuk menanti dia sampai pada
tingkat kematangannya. Kesiapan anak didik itu harus dikembangkan
pada setiap taraf perkembangan kemampuannya. Oleh karena itu, guru
harus betul-betul menyiapkan kesiapan anak tersebut pada taraf
sebelumnya. Ada dua hal yang harus diperhatikan guru dalam proses
perkembangan membaca anak. Yang pertama adalah guru harus selalu
sadar bahwa membaca merupakan sesuatu yang diajarkan dan bukan
sesuatu yang terjadi secara insidental, tidak ada seorang anak yang
dapat membaca dengan jalan menonton orang lain membaca dan yang
kedua membaca bukanlah sesuatu subjek melainkan suatu proses.
5. Tujuan utama dalam membaca
Tujuan Utama membaca adalah mencari dan memperoleh
informasi yang terkandung dalam suatu bacaan. Makna yang terkandung
dalam suatu bacaan erat sekali berhubungan dengan maksud dan tujuan
dalam membaca. Menurut Anderson (1972: 214) mengemukakan beberapa
tujuan penting dalam membaca:
15
a. Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta
(reading for details or facts);
b. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas);
c. Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita
(reading for sequence or organization);
d. Membaca untuk menyimpulkan (reading for inference);
e. Membaca untuk mengklasifikasikan (reading for classify);
f. Membaca menilai, membaca untuk evaluasi (reading for evaluate);
g. Membaca untuk membandingkan atau mempertentangkan (reading
to compare or contrast).
Menurut Ngalim Purwanto (1997: 27) bahwa, tujuan membaca
ialah menangkap bahasa yang tertulis dengan tepat dan teratur.
Menangkap bahasa yang tertulis yang dimaksudkan adalah memahami isi
bacaan yang merupakan buah pikiran penulisnya.
16
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Menurut David Hopkins dalam (Kunandar, 2008: 44-45)
mengungkapkan bahwa PTK adalah sebuah bentuk kegiatan refleksi diri yang
dilakukan oleh para pelaku pendidikan dalam suatu situasi kependidikan
untuk memperbaiki rasionalitas dan keadilan tentang: (a) Pratik
kependidikan, (b) pemahaman tentang praktik kependidikan, (c) Situasi
tempat praktik dilaksanakan. Suharsimi Arikunto (2006: 57) menyebutkan
bahwa Penelitian tindakan kelas (Classroom Action Rresearch) yaitu
penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelas bekerjasama dengan
peneliti yang menekankan pada penyempurnaan atau peningkatan proses
pembelajaran.
Beberapa alasan penulis menggunakan PTK adalah untuk
memperbaiki proses pembelajaran menjadi lebih baik. Adapun kelebihan
PTK yang dikemukakan oleh Shumsky dalam (Kunandar, 2008: 69) yaitu: (1)
Kerjasama dalam PTK menimbulkan rasa saling memiliki, (2) Kerjasama
dalam PTK mendorong kreativitas dan pemikiran kritis dalam hal ini guru
sekaligus sebagai peneliti, (3) Kerjasama dalam PTK menghasilkan
perubahan yang positif, (4) Kerjasama dalam PTK meningkatkan kesepakatan
dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.
17
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (classroom
action research) yang berkolaborasi dengan teman sejawat. Suharsimi
Arikunto (2006 : 60 ) yang mneyebutkan tujuan utama penelitian tindakan
kelas ini adalah untuk memecahkan masalah yang nyata yang ada di kelas,
yang tidak saja bertujuan memecahkan masalah, tetapi sekaligus mencari
jawaban mengapa hal itu dapat dipecahkan melalui tindakan yang dilakukan.
Penelitian ini dikembangkan secara Bersama-sama oleh peneliti dan
kolaborator untuk menentukan kebijakan dan pembangunan. Variabel
penelitian ini terdiri atas dua variabel yaitu variabel bebas dan variable
terikat. Variabel bebas dari penelitian ini adalah teknik media kartu kata dan
variabel terikat penelitian ini adalah membaca kata (kata). Penelitian tindakan
kelas merupakan proses kegiatan yang dilakukan di kelas. Pada siklus (satu)
siklus, yang terdiri dari tahap perencanaan, Pelaksanaan (action) dan refleksi
atau perenungan. Berlanjut tidaknya ke siklus II tergantung dari hasil refleksi
siklus I.
Data dikumpulkan melalui observasi dan tes lisan. Adapun kriteria
penilaiannya ada tiga tingkatan sebagai berikut:
No Kategori Bobot
1 BS = bisa 2
Anak bisa membaca kata yang telah disediakan dengan
benar dan jelas secara mandiri
2 Dengan Bantuan (BSB) 1
Anak bisa membaca kata yang telah disediakan dengan
18
benar dan jelas secara mandiri bila diberikan bantuan
3 Tidak bisa (TB) 0
Anak tidak bisa membaca kata yang telah disediakan
dengan benar dan jelas secara mandiri
B. Subyek dan Lokasi Penelitian
Subjek pada penelitian ini 31 orang anak kelas I yang mengalami lambat
belajar. Penelitian ini dilaksanakan di Kelas I SD Negeri 12 Pontianak Timur
Kecamatan Pontianak Timur kelurahan tambelan sampit, Provinsi Kalimantan
Barat yang dilaksanakan pada Tahun Pelajaran 2021/2022
C. Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dalam penelitian ini, meliputi data primer dan data
sekunder. Data primer ialah data-data yang diperoleh langsung dari lapangan,
seperti dari sumber informasi atau sampel. Sedangkan data sekunder ialah
data-data penelitian yang dipeoleh dari bahan bacaan, seperti buku, surat
kabar, dokumen dan lain sebagainya. Pengumpulan data dilakukan dengan
metode observasi, wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan.
1. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah suatu teknik atau cara
mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap
kegiatan yang sedang berlangsung (Syaodih, 2007: 220). Observasi ini
dilakukan sebelum tindakan dimulai dan pada saat pelaksanaan tindakan
19
dan untuk mengetahui hasil pencapaian dari eksperimen penggunaan
metode bercerita dengan media flashcard terhadap kemampuan membaca
anak SD Kelas I.
20
2. Test
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini selain
observasi adalah test. Test ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana
kemampuan membaca permulaan siswa. Test yang dimaksud adalah test
membaca permulaan.
D. Prosedur Peneltian
Berdasarkan hasil pengamatan di SD Negeri 12 Pontianak Timur
tingkat kemampuan membaca anak masih kurang optimal, anak masih kurang
tertarik dengan membaca. Salah satu penyebabnya karena guru jarang
menggunakan media yang bias merangsang kemampuan anak untuk
membaca, sehingga anak akan lebih antusias untuk belajar membaca.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut
Wardani, dkk (2016: 14) Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang
dilakukan olh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan
tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar
siswa menjadi meningkat. Prosedur penelitian ini mencakup tahapan-tahapan
sebagai berikut: (1) perencanaan (planning); (2) penerapan tindakan (action);
(3) mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan(observation
and evaluation); (4) melakukan refleksi (reflecting). Dan seterusnya sampai
perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai (kriteria keberhasilan).
21
Adapun prosedur penelitian Dikemukakan oleh Kemmis & Mc.
Taggart (dalam Arikunto 2010: 137) terdapat beberapa langkah yang harus
dilakukan dalam suatu Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai berikut:
Gambar 3.1 Skema Prosedur penelitian Kemmis Taggart
Setiap urutan dalam prosedur penelitian tersebut disebut dengan siklus.
Masing-masing siklus terdiri dari empat komponen, yaitu perencanaan,
tindakan, observasi, dan refleksi.
1. Siklus 1
a. Perencanaan Tindakan
1) Menetapkan Subjek yang akan digunakan sebagai kelas penelitian
2) Membuat RPP
22
3) Mempersiapkan media pembelajaran yaitu flashcard (gambar, tulisan)
yang disesuaikan dengan tema pembelajaran.
4) Melaksanakan simulasi cara penggunaan metode bercerita dengan
media flashcard dalam kegiatan pembelajaran.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pembelajaran membaca dini dilaksanakan
melalui prosedur sebagai berikut.
1) Pelaksanaan pembelajaran membaca dini dimulai dengan perencanaan.
2) Melaksanakan tindakan pembelajaran sesuai dengan indikator
kemampuan bahasa yang didukung dengan pemilihan metode bercerita
dengan media flashcard yang sesuai dengan indikator.
3) Observasi terhadap penggunaan metode bercerita dengan media
flashcard dalam meningkatkan kemampuan membaca dini.
4) Refleksi terhadap tindakan yang sudah dilaksanakan berdasarkan
temuan selama proses pembelajaran (hasil refleksi ini dijadikan
sebagai rujukan dalam perbaikan pelaksanaan tindakan berikutnya. 5)
Prosedur ini dilakukan secara berulang sampai memperoleh perubahan
6) kemampuan membaca dini sesuai dengan yang diharapkan.
c. Pengamatan (Observasi)
Pengamatan dapat dilaksanakan dengan pedoman pengamatan
23
(format, daftar cek), catatan lapangan, jurnal harian, observasi aktifitas di
kelas, penggambaran interaksi dalam kelas, alat perekam elektronik atau
pemetaan kelas mills dalam (Kunandar, 2008; 143).
Pengamatan dilakukan selama proses penelitian tindakan
dilaksanakan mulai dari siklus I dan siklus II. Melalui pengamatan ini
diharapkan dapat mengetahui kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaan
tindakan, sebagai modifikasi rancangan dapat dilakukan secepatnya.
Dengan kata lain pengamatan dilakukan untuk mengumpulkan bukti hasil
tindakan agar dapat dievaluasi dan dijadikan landasan dalam melakukan
refleksi. Pengamatan dilakukan secara terus menerus mulai dari siklus I
sampai siklus yang diharapkan bisa tercapai. Pengamatan yang dilakukan
dalam satu siklus memberikan pengaruh pada penyusunan tindakan yang
dilakukan pad siklus berikutnya.
d. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan mengkaji semua informasi yang
diperoleh dari penelitian untuk mengetahui hal-hal yang dirasakan sesudah
berjalan baik dan bagian mana yang belum atau dikatakan sebagai
evakuasi diri. Kegiatan refleksi dilaksanakan secara kolaboratif antara
peneliti dan guru untuk mendiskusikan hasil dari kegiatan yang sudah
dilakukan. Beberapa tindakan yang dilakukan pada saat refleksi, yaitu:
1) Mengidentifikasi kembali aktivitas yang telah dilakukan selama proses
pembelajaran berlangsung pada setiap siklus.
24
2) Menganalisis pengolahan data hasil evaluasi dan merinci kembali
tindakan pembelajaran yang telah dilaksanakan.
3) Menetapkan tindakan selanjutnya berdasarkan hasil analisis kegiatan.
4) Jika pelaksanaan tindakan telah tercapai maka penelitian dianggap
selesai, tetapi jika belum tercapai kembali pada siklus rencana
pembelajaran berikutnya.
2. Siklus II
Prosedur pada siklus kedua dan seterusnya pada dasarnya sama
dengan siklus pertama, hanya saja pada siklus kedua dilakukan perbaikan
terhadap kekurangan pada siklus pertama dari segi perencanaan maupun
pelaksanaan tindakan, yang diketahui dari hasil observasi kegiatan yang
telah dianalisis, demikian juga untuk siklus berikutnya.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
analisis data kualitatif dengan model analisis interaktif yang dikembangkan
oleh Miles dan Huberman (1984) dalam (Kunandar, 2008: 101) yang
mengemukakan bahwa analisis interaktif tersebut memiliki tiga komponen
kegiatan yang saling terkait satu sama lain. Tiga komponen itu antara lain:
reduksi data, beberan (display) data dan penarikan kesimpulan. Reduksi data
merupakan proses menyeleksi, menentukan fokus, menyederhanakan,
25
meringkas, dan merubah bentuk data mentah yang ada dalam catatan laporan.
Dalam proses ini dilakukan penajaman, pemfokusan, penyelisihan data yang
kurang bermakna dan menatanya sedemikian rupa sehingga kesimpulan
terakhir dapat di tarik dan diverifikasi. Kesimpulan yang pertama dengan yang
terakhir saling terkait dan kesimpulan pertama dianggap sebagai pijakan.
Untuk meningkatkan kemmapuan membaca dengan menggunakan
media kartu bergambar pada siswa kelas 1 SD Negeri 12 Pontianak Timur
perlu diadakan teknik analisis data. Analisis data bertujuan untuk mengetahui
ketuntasan belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh tanggapan siswa
terhadap kegiatan pembelajaran.
Untuk menganalisis tingkat keberhasilan siswa setelah proses blajar
mengajar setiap proses nya, dilakukan dengan cara memberikan soal tes
tertulis akhir pembelajaran. Data hasil tes tertulis dianalisis dengan
menghitung mean atau rata-rata dari semua siswa dalam kelas yaitu dengan
membandingkan rata-rata kelas sebelum dan sesudah suatu tindakan
dilakukan.
Untuk menghitung rata-rata kelas dengan menggunakan rumus:
Keterangan:
𝑋̅= Rata-rata
∑ 𝑛= jumlah nilai seluruh siswa n= Jumlah siswa untuk menghitung
persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:
26
p=
F. Indikator Keberhasilan dan Hipotesis Tindakan
1. Indikator Keberhasilan
Sebagai in dikator keberhasilan yang ingin dicapai siswa di dalam
penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar matematika menggunakan
alat peraga kartu gambar bulat. Jika nilai rata-rata hasil belajar siswa
minimal 75 sebanyak 75% dari 31 jumlah siswa, maka siklus di hentikan.
2. Hipotesis Tindakan
Tingkat keberhasilan PTK ini ditandai adanya perubahan ke arah
perbaikan dalam keterampilan mengerjakan soal dengan hasil belajar yang
baik.
27
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data Siswa Pra Siklus
Data ketuntasan siswa pra siklus diperoleh dari pretes yang
dilaksanakan pada 15 Nopember 2021. Data tersebut digunakan sebagai data
awal menentukan keberhasilan. sebanyak 7 (23%) sudah tuntas atau mencapai
KKM. Sebanyak 24 (77%) belum tuntas atau belum mencapai KKM. Ratarata
skor sebesar 60,41. Berdasarkan hasil tes tersebut maka perlu diadakan suatu
tindakan untuk mengatasi permasalahan di atas. Adapun data awal sebelum
tindakan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Persentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Pada Pra Siklus
Persentase
Rata-rata skor
Tuntas KKM Belum Tuntas KKM
7 23% 24 77% 60,41
Berdasarkan tabel di atas dapat dijabarkan sebagai berikut, dari 31
siswa, Hasil yang diperoleh dari pretes adalah sebanyak 7 siswa yang lulus
dengan persentase (23%) dari 31 siswa, hal ini menunjukkan bahwa
kemampuan memahami operasi hitung penjumlahan dan pengurangan
gambar bulat siswa masih rendah. Untuk memperjelas hasil persentase pra
siklus dapat dilihat dari gambar diagram berikut:
28
77%
80% Pra Siklus
70%
60%
50%
40%
30% 23%
20%
10%
0%
Pra Siklus
Tuntas Tidak Tuntas
Gambar 4.1 Persentase Pra Siklus Operasi Hitung gambar Bulat Negatif
B. Deskripsi Hasil Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis penelitian model
Kemmis dan Mc Taggart (Suharsimi Arikunto, 2010: 17) yang dikenal dengan
model spiral. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus. Siklus 1 terdiri dari 2
pertemuan, dimana setiap siklus diadakan evaluasi untuk mengetahui tingkat
kemampuan siswa setelah proses pembelajaran berlangsung. Siklus 2 terdiri
dari 2 pertemuan sama seperti siklus 1. Adapun proses penelitian adalah
sebagai berikut:
1. Tindakan Siklus I
Tindakan siklus I dilaksanakan selama 1 minggu mulai tanggal 11
sampai 15 Januari 2021. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan
metode penelitian tindakan kelas yang terdiri siklus-siklus, tiap siklus
terdiri dari 4 tahapan. Adapun tahapan yang dilaksanakan adalah sebagai
berikut:
29
a. Perencanaan
Guru sebagai pengelola pembelajaran di kelas mempersiapkan
program tahunan, program semester, perencanaan pembelajaran
dengan media gambar, lembar observasi, dan lembar tugas.
Berdasarkan hasil observasi terhadap proses pembelajaran dan prestasi
belajar sebelum tindakan, dapat diperoleh informasi data awal. Hasil
pencatatan menunjukkan bahwa dari dari siswa kelas I sebanyak 31
siswa terdapat 14 siswa atau 45 % yang masih belum mempu membaca
permulaan dan mencapai KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Setelah
dilakukan pemeriksaan pada lembar pekerjaan siswa, ternyata sebagian
besar siswa masih belum dapat membedakan bentuk-bentuk huruf dan
pemahaman siswa banyak yang terbalik membedakan huruf satu
dengan yang lainnya.
Berdasarkan pengamatan dan pencatatan terhadap proses
pembelajaran dan hasil belajar tersebut diperoleh informasi sebagai
data awal bahwa siswa kelas I SD Negeri 12 Pontianak Timur
sebanyak 31 siswa yang mana sebagian besar siswa belum dapat
memahami atau menguasai bentuk-bentuk huruf, sehingga mereka
masih kesulitan membedakannya dan terbalik menggunakannya.
Bertolak dari kenyataan ada melaksanakan pembelajaran bahasa
Indonesia dengan menggunakan media gambar untuk mengatasi
kesulitan belajar membaca permulaan siswa kelas I SD Negeri 12
Pontianak Timur.
30
Dengan berpedoman pada standar kompetensi mata pelajaran
bahasa Indonesia, guru kelas melakukan langkah-langkah
pembelajaran bahasa Indonesia dilakukan dengan menggunakan media
gambar. Berikut ini merupakan langkah-langkah yang
dilakukan dalam proses persiapan pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1. Memilih pokok bahasan atau indikator yang sesuai dengan
membaca permulaan. Indikator yang tepat untuk siklus I adalah
siswa mampu mengucapkan huruf vokal dan konsonan.
2. Menyusun rencana pembelajaran berdasarkan indikator yang telah
dibuat. Rencana pembelajaran yang disusun oleh peneliti memuat 1
kali pertemuan, dalam waktu 2 jam pelajaran dilaksanakan dalam 1
minggu.
3. Menyiapkan media gambar yang akan digunakan
dalam
pembelajaran. Pada siklus I guru menggunakan media gambar yang
di bawahnya ada nama dari gambar tersebut, namun hurufnya
belum lengkap (masih ada yang kosong). Untuk itu siswa diminta
melengkapi huruf apa yang tepat untuk mengisi bagian yang kosong
tersebut. Pada siklus I ini, guru menggunakan gambar yang nama di
bawahnya terdapat huruf yang kosong baik di depan, tengah,
maupun di belakang, dan siswa diminta untuk melengkapinya.
b. Pelaksanaan Tindakan
31
Dalam tahap ini guru menerapkan pembelajaran dengan
menggunakan media gambar sesuai dengan rencana pembelajaran yang
telah disusun. Pembelajaran yang telah disusun pada siklus I dengan
menggunakan media gambar ini dilaksanakan dalam 1 kali pertemuan.
Pada pertemuan pada siklus I materi bahasa Indonesia yang diajarkan
tentang membaca permulaan dengan indikator mengucap huruf vokal
dan konsonan sampai mampu membaca suku kata. Kemudian diawali
dengan berdoa bersama, kemudian diajukan absensi siswa. Pada
penelitian siklus I ini, guru memilih pokok bahasan tentang rekreasi.
Alasan memilih pokok bahasan rekreasi karena media gambar yang
akan digunakan guru sebagian besar adalah gambar binatang.
Tujuannya agar siswa lebih tertarik dengan pelajaran dan aktif dalam
mengikuti proses pembelajaran. Setelah kegiatan berdoa bersama dan
absensi siswa selesai, kemudian guru mengawali pelajaran dengan
appersepsi. Setelah appersepsi, guru mulai memasuki materi dengan
menggunakan media gambar. Media gambar yang digunakan pada
siklus I ini adalah gambar binatang yang dibawahnya terdapat nama
dari binatang tersebut. Tulisan nama binatang tersebut hurufnya tidak
lengkap, jadi siswa diberi tugas untuk melengkapinya. Kegiatan itu
dilaksanakan secara berulang-ulang hingga indikatornya dapat
tercapai, yaitu mampu mengucapkan huruf vokal dan konsonan.
Contoh dari kegiatan tersebut adalah: misalnya guru menunjukkan
gambar burung, dan di bawah gambar tersebut ada tulisan nama dari
32
gambar tersebut. Tulisan tersebut adalah B…RUNG, kemudian siswa
diminta menyebut huruf apa yang tepat untuk
melengkapi kata tersebut.
Secara rinci jalannya kegiatan pada siklus I ini adalah sebagai
berikut: Sebagai kegiatan awal, guru menunjukkan media yang berupa
bentuk-bentuk huruf dari A sampai Z, kemudian siswa disuruh
mengucapkan semua susunan huruf tersebut, dan juga hurufnya
ditunjuk secara diacak. Kegiatan ini bertujuan supaya siswa ingat akan
bentuk-bentuk huruf tersebut. Setelah kegiatan itu selesai, guru
menunjukkan media gambar contohnya sebagai
B R U N G
Huruf apa yang sesuai untuk mengisi kotak yang kosong ?
Kegiatan semacam ini diulang-ulang dengan gambar yang
berbeda-beda sampai siswa mengetahui betul tentang materi yang
diajarkan ( mampu mengucapkan huruf vokal dan konsonan). Untuk
33
mengetahui keberhasilan materi, guru menunjuk salah satu siswa untuk
menyebut nama dari gambar yang ditunjukkan oleh guru, dan
menyebutkan huruf apa yang tepat untuk mengisi bagian yang kosong
dari nama gambar tersebut, dan menulisnya di papan tulis.
c. Observasi
Selama pelaksanaan penelitian tindakan kelas, guru melakukan
pencatatan dengan menggunakan daftar observasi (check list).
Mendiagnosis keaktifan siswa, nilai yang dicapai siswa, tingkat
ketertarikan siswa terhadap pelajaran, tingkat keantusiasan, keaktifan
membaca permulaan, kemampuan membedakan huruf, dan
kemampuan membaca permulaan siswa. Pada pelaksanaan siklus I ini,
hasil observasi peneliti menunjukkan bahwa: keaktifan siswa sedang,
nilai yang dicapai siswa sedang, tingkat ketertarikan siswa terhadap
pelajaran sedang, tingkat keantusiasan sedang, keaktifan membaca
permulaan sedang, kemampuan membedakan huruf rendah, dan
kemampuan membaca permulaan siswa rendah.
Dari pengerjaan soal evaluasi diperoleh nilai siklus I. adapun rincian
dari nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2 Persentase Pencapaian KKM Siswa Siklus I
Persentase
Rata-Rata Skor
Tuntas KKM Belum Tuntas KKM
17 55% 14 45% 74,73
34
Berdasarkan tabel di atas dapat dijabarkan sebagai berikut, dari 31
siswa sebanyak 17 (55%) sudah tuntas atau mencapai KKM. Sebanyak 14
(45%) belum tuntas mencapai KKM. Rata-rata skor sebesar 74,73. Untuk
memperjelas pemaparan tabel tersebut, dapat dilihat dalam diagram berikut
ini:
60% 55% Siklus I
50% 45%
40%
30%
20%
10%
0%
Siklus I
Tuntas Tidak Tuntas
Gambar 4.3 Diagram Persentase Pencapaian Kemampuan Membaca Siklus I
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa antara nilai siswa
pra siklus yang belum dikenai tindakan dengan siklus I dengan yang
sudah dikenai tindakan mengalami kenaikan. Persentase ketuntasan
siswa yang sudah mencapai KKM dari seluruh siswa juga mengalami
kenaikan, pada pra siklus 23% dan pada siklus I meningkat menjadi
55%. Sehubungan dengan yang ditetapkan sebagai kriteria
keberhasilan penelitian adalah bahwa siswa tuntas adalah 65% maka
perlu dilanjutkan ke siklus II.
35
d. Refleksi
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama proses pelaksanaan
tindakan, baru 17 dengan persentase 55% siswa yang sudah mulai
menunjukkan adanya peningkatan. Para siswa tersebut sudah mulai mampu
membedakan bentuk huruf dan sedikit-sedikit mampu melengkapi kata yang
hurufnya kurang lengkap.
2. Tindakan Siklus 2
Siklus 2 dilaksanakan dalam waktu 1 minggu mulai 8 Februari
2021 sampai dengan 12 Februari 2021. Adapun tahapannya kegiatan yang
dilaksanakan meliputi :
a. Perencanaan Tindakan
Berdasarkan hasil refleksi dan evaluasi pelaksanaan tindakan
pada siklus I diketahui bahwa belum menunjukkan adanya peningkatan
prestasi belajar yang memuaskan. Karena dari tiga indikator yang
ditetapkan baru indikator nomor 1 dan 2 yang berhasil (mampu
mengucapkan huruf vokal dan konsonan). Sedangkan indikator nomor
3, belum menunjukkan peningkatan prestasi belajar yang diinginkan.
Oleh karena itu peneliti dengan arahan dari para rekan guru dan kepala
sekolah serta berbagai pertimbangan maka peneliti kembali mengulang
pembelajaran materi bahasa Indonesia (membaca permulaan) dengan
indikator mampu membaca suku kata dan kata dengan lafal yang tepat.
Guru menunjukkan media gambar, setelah itu siswa menyebutkan
36
hurufnya. Setelah siswa selesai menyebutkan huruf-huruf tersebut,
guru menyuruh siswa untuk membaca suku katanya.
B U
R U
N G
Bacalah suku katanya dengan tepat dan nyaring !
Langkah-langkah penyusunan rencana pembelajaran seperti
siklus I. indikator yang tepat untuk siklus 2 adalah siswa mampu
mengucapkan suku kata/kata dengan lafal yang tepat. Adapun
indikator yang dibuat sebagai dasar penyusunan rencana pembelajaran
pada siklus 2 adalah sebagai berikut:
1. Memilih/menentukan kompetensi dasar, hasil belajar dan
indikator yang hendak dicapai.
2. Mempersiapkan alat-alat/media yang akan digunakan.
37
3. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasarkan
kesepakatan yang telah disepakati bersama.
Mengingat hasil analisis siklus I, sebagian besar siswa masih
mengalami kesulitan membaca suku kata/ kata dengan lafal yang
tepat, maka rencana penelitian pada siklus 2 ini adalah peneliti
menggunakan media gambar dan kartu suku kata.
Langkah-langkah penyusunan rencana pembelajaran seperti
siklus I. Indikator yang tepat untuk siklus 2 adalah siswa mampu
mengucapkan suku kata/kata dengan lafal yang tepat. Adapun
indikator yang dibuat sebagai dasar penyusunan rencana
pembelajaran pada siklus 2 adalah sebagai berikut:
1. Memilih atau menentukan kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator
yang hendak dicapai.
2. Mempersiapkan alat-alat/media yang akan digunakan.
3. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berdasarkan
kesepakatan yang telah disepakati bersama.
Mengingat hasil analisis siklus I, sebagian besar siswa masih
mengalami kesulitan membaca suku kata/ kata dengan lafal yang tepat,
maka rencana penelitian pada siklus 2 ini adalah peneliti menggunakan
media gambar dan kartu suku kata.
b. Pelaksanaan Tindakan
38
Pembelajaran bahasa Indonesia dengan penggunaan media
gambar sesuai dengan rencana pembelajaran 1 kali pertemuan. Guru
mengawali pembelajaran dengan berdoa bersama, mengabsen siswa,
kemudian untuk memusatkan konsentrasi, siswa diajak tanya jawab
tentang pelajaran yang lalu. Pada penelitian siklus 2 ini, guru memilih
pokok bahasan tentang rekreasi. Setelah kegiatan berdoa bersama dan
absensi siswa selesai, kemudian guru mengawali pelajaran dengan
appersepsi.
Setelah appersepsi, guru mulai memasuki materi dengan
menggunakan media gambar. Media gambar yang digunakan pada
siklus 2 ini adalah gambar binatang. Kemudian guru bertanya tentang
nama dari gambar hewan tersebut. Setelah itu siswa ditugaskan untuk
mengucapkan kata tersebut dan juga mengucapkan suku kata tersebut.
Setelah kegiatan itu, secara bergiliran siswa disuruh menulis di papan
tulis tentang nama dari gambar binatang tersebut.
Selanjutnya siswa menyebutkan huruf apa saja yang terangkai
menjadi kata atau sebuah nama binatang tersebut. Kegiatan itu
dilaksanakan secara berulang-ulang hingga indikatornya dapat
tercapai, yaitu mampu mengucapkan suku kata/ kata dengan lafal yang
tepat.
c. Observasi
39
Peneliti, kepala sekolah, dan rekan guru secara kolaboratif
melaksanakan observasi terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan
menggunakan media gambar. Observasi ini ditujukan pada kegiatan
siswa, yaitu mendiagnosis keaktifan siswa, nilai yang dicapai siswa,
tingkat ketertarikan siswa terhadap pelajaran, tingkat keantusiasan,
keaktifan membaca permulaan, kemampuan membedakan huruf, dan
kemampuan membaca permulaan siswa. Keseluruhan data yang
diperoleh dalam kegiatan ini termasuk pencatatan hasil test akan
digunakan sebagai bahan atau masukan untuk menganalisis
perkembangan prestasi belajar membaca permulaan siswa. Hasil
observasi pada siklus 2 adalah sebagai berikut: keaktifan siswa tinggi,
nilai yang dicapai siswa sedang, tingkat ketertarikan siswa terhadap
pelajaran tinggi, tingkat keantusiasan tinggi, keaktifan membaca
permulaan sedang, kemampuan membedakan huruf tinggi, dan
kemampuan membaca permulaan sedang.
Dari penjelasan pengerjaan soal evaluasi diperoleh nilai siklus
II, seperti pada tabel berikut ini:
Tabel 4.3 Persentase Pencapaian KKM Siswa Siklus II
Persentase
Rata-Rata Skor
Tuntas Belum Tuntas
24 77% 7 23% 80,70
Berdasarkan tabel di atas dapat dijabarkan sebagai berikut, dari
40
31 siswa sebanyak 24 (77%) sudah tuntas atau mencapai KKM.
Terdapat sebanyak 7 ( 23%) belum tuntas atau belum mencapai KKM,
dan rata-rata skor sebanyak 80,70. Untuk memperjelas pemaparan
tabel di atas dapat dilihat pada diagram berikut ini:
77%
80%
70%
Siklus II
60%
50%
40% Tuntas
30% 23%
Tidak Tuntas
20%
10%
0%
Siklus II
Gambar 4.5 Diagram Persentase Kemampuan Membaca Siklus II
Untuk mengetahui peningkatan kemampuan membaca dari siklus I ke
siklus II, dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.4
Perbandingan Persentase Pencapaian KKM Siklus I dengan Siklus II
Persentase Ketuntasan
Siklus I Siklus II
Tuntas Belum Tuntas Belum Tuntas
Tuntas
17 55% 14 45% 24 77% 7 23%
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa pada siklus II
mengalami peningkatan dari siklus I hal ini dapat dibuktikan pada
41
persentasi ketuntasan siklus I meningkat menjadi 35%, sedangkan pada
siklus II persentasi ketuntasan meningkat menjadi 77%. Untuk
memperjelas tabel di atas dapat dilihat dalam diagram berikut :
80% Siklus
77%
I dan siklus II
70%
60% 55%
50% 45%
40% Tuntas
30% Tidak Tuntas
23%
20%
10%
0%
Siklus I
Siklus II
Gambar 4.6 Diagram Peningkatan Persentase Kemampuan Membaca
Mencapai KKM Siklus I dan Siklus II
d. Refleksi
Refleksi dilaksanakan oleh peneliti sebagai guru kelas I, hasil
analisis data pada pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan
media gambar pada siklus 2, secara umum telah menunjukkan
perubahan yang cukup tinggi. Guru dalam melaksanakan pembelajaran
semakin mantap dan luwes dengan memahami kekurangan-kekurangan
kecil diantaranya kurang control waktu dan belum memberikan tindak
lanjut. Presentase hasil belajar dan partisipasi siswa dalam
pembelajaran terlihat meningkat drastis. Para siswa lebih banyak
42
memperhatikan dan menjawab pertanyaan guru, lebih bersemangat,
dan kreatif. Kemampuan dalam mengeja huruf menjadi suatu kata
lebih meningkat, yang tentunya berpengaruh terhadap kemampuan
dalam membaca permulaan. Dengan partisipasi siswa dalam
pembelajaran yang semakin meningkat, suasana kelas pun menjadi
hidup dan lebih menyenangkan. Dari analisis hasil test pada siklus 2 ini
diketahui bahwa nilai rata-rata siswa adalah 80,70 dan siswa yang
memperoleh nilai di bawah batas KKM sebanyak 7 siswa atau 23%.
Dari penelitian ini pembelajaran dikatakan berhasil apabila
partisipasi siswa dalam pembelajaran meningkat. Selain itu hasil yang
dicapai siswa melalui test akhir pembelajaran mencapai nilai rata-rata
kelas 74,73 dan presentase siswa yang memperoleh nilai di atas KKM
sebanyak 55%. Atas dasar ketentuan tersebut dan melihat hasil yang
diperoleh pada masing-masing siklus, maka pembelajaran membaca
permulaan yang menggunakan media gambar yang dilaksanakan pada
siklus 2 sudah berhasil sehingga tidak perlu dilanjutkan ke siklus
berikut.
Pembelajaran bahasa Indonesia dengan materi membaca
permulaan sudah bisa dikatakan berhasil. Hal tersebut terbukti nilai
membaca permulaan siswa dari sebelum tindakan sampai pelaksanaan
siklus 2 terus meningkat, dan nilai rata-rata kelas pun naik. Semula
sebelum tindakan, nilai bahasa Indonesia dengan materi membaca
permulaan rata-rata kelasnya hanya 60,41.
43
Setelah diadakan tindakan, yaitu mengajar
dengan menggunakan media gambar, pada siklus 1 nilai rata-ratanya naik
menjadi 74,73. Pada siklus 1 ini masih terdapat 14 siswa yang nilainya belum
mencapai KKM, maka peneliti melanjutkan penelitian siklus 2. Pada siklus 2
ini, nilai rata-rata kelas naik menjadi 80,70. Maka, tidak dilanjutkan ke siklus
3 karena sudah mencapai 77% siswa yang berhasil. Pada siklus 3 ini,
presentase siswa yang sudah berhasil pembelajaran membaca permulaannya
adalah sebanyak 90,3% dengan
nilai rata-rata 88,80.
Pada penelitian ini, masih terdapat 3 siswa yang nilainya belum
mencapai KKM. Hal tersebut terjadi karena faktor dari siswa itu
sendiri. Siswa tersebut memiliki sifat yang pemalas, kurang motivasi
dari orang tua, di rumah tidak ada yang mau membimbing belajar, dan
pada saat mengikuti pelajaran selalu bermain sendiri. Setiap kali
dinasehati guru, siswa tersebut diam, namun tidak menghiraukan.
Siswa tersebut tetap bermain tanpa merespon
pelajaran, karena dengan alasan malas belajar.
Mengajar dengan menggunakan media gambar ini mampu
menumbuhkan siswa lebih mudah mengingat bentuk huruf, cara
mengucapkan huruf, cara mengeja suku kata, dan cara membaca suatu
kata, sehingga siswa menjadi lebih termotivasi dan tertarik dalam
pelajaran membaca permulaan.
44
C. Pembahasan
Hasil penelitian yang dipaparkan di atas menunjukan bahwa adanya
peningkatan kemampuan membaca khususnya pada pengenalan huruf menggunakan
media kartu bergambar. Media kartu gambar ini membawa dampak positif dalam
usaha meningkatkan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran yang selama ini
kurang menyenangkan. Dengan menggunakan media kartu bergambar, siswa dapat
dengan mudah dan cepat dalam menemukan jawaban karena mereka membaca
dengan memasangkan kartu bergambar yang sudah disediakan oleh guru.
Penggunaan media kartu gambar dapat meningkatkan aktivitas siswa
dalam kelas, dari siswa yang tadinya pendiam dan pemalu menjadi lebih
berani karena mereka bisa menunjukan cara menyelesaikan soal dengan
menggunakan media kartu gambar secara cepat dan mudah. Hal ini
sependapat dengan Sri Subarinah (2006:49) yang mengatakan bahwa Kartu
Gambar adalah alat yang digunakan sebagai pembawa informasi dan pemberi
pesan kepada penerima pesan yang berbentuk persegi panjang yang terbuat
dari potongan kertas yang berukuran 4 cm x 6 cm (atau lainnya yang penting
kongruen) dan dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan gambar pada
masing-masing kartu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2015) media
adalah alat atau serana untuk pembawa informasi dari pemberi pesan
kepenerima pesan. Informasi di sini berarti materi pelajaran, pemberi pesan
adalah guru dan penerima pesan adalah siswa Dengan menggunakan media
kartu gambar selama 2 siklus telah menunjukan peningkatan hasil belajar
45
kemampuan Membaca siswa kelas I SDN 12 Pontianak Timur. Ini dibuktikan
dengan adanya peningkatan kemampuan membaca dalam pembelajaran pada
siklus I dan siklus II.
Hal di atas dapat dilihat dari meningkatnya kemampuan membaca
siswa yang sudah mencapai KKM ≥65. Dari 31 jumlah siswa kelas I selama
penelitian semua hadir. Persentase ketuntasan pada pra siklus yaitu 23%,
siklus I yaitu 55% dan siklus II 77% siswa mencapai KKM.
Berdasarkan observasi pada keaktifan siswa masih kurang, hal ini
dikarenakan sebagian besar proses pembelajaran masih dikuasai oleh guru dan
guru belum sepenuhnya menggunakan media pembelajaran yang ada. Setelah
dilakukan tindakan hasilnya mulai terlihat ada peningkatan. Pada siklus I
keaktifan siswa mulai terlihat, meskipun yang aktif sebagian besar siswa yang
mempunyai keberanian, namun pada siklus II guru merencanakan untuk
mengaktifkan siswa yang belum berani, dengan memberikan kesempatan bagi
siswa untuk mengemukakan pendapat, agar siswa lebih aktif dan dapat
meningkatkan kepercayaan diri pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari siklus I sampai siklus II dapat
disimpulkan bahwa dengan menggunakan media kartu gambar dapat
meningkatkan kemampuan membaca pada siswa kelas I SDN 12 Pontianak
Timur.
D. Keterbatasan Penelitian
46
Penelitian ini masih terdapat keterbatasan yaitu instrumen ini hanya
divalidasi oleh pembimbing dan tidak divalidasi oleh ahli lain.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, penggunaan media gambar dalam
pembelajaran dapat mengatasi kesulitan belajar membaca permulaan pada
siswa kelas I SD Negeri 12 Pontianak Timur dibandingkan dengan
pembelajaran yang sebelum menggunakan media gambar. Hal ini dapat
diketahui dari rata-rata prestasi belajar siswa yang relatif lebih tinggi bila
proses pembelajarannya menggunakan media gambar dibandingkan dengan
nilai rata-rata siswa yang pembelajarannya sebelum menggunakan media
gambar. Nilai rata-rata siswa yang pembelajarannya menggunakan media
gambar adalah 80,70, sedangkan nilai rata-rata siswa yang pembelajarannya
sebelum menggunakan media gambar adalah 74,73. Dengan demikian
berdasarkan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan 2 siklus tersebut
di atas, ternyata hipotesis yang dirumuskan telah terbukti kebenarannya,
artinya bahwa ternyata dengan menerapkan pembelajaran dengan
menggunakan media gambar dapat mengatasi kesulitan belajar membaca
permulaan siswa kelas I SD Negeri 12 Pontianak Timur Kecamatan Pontianak
Timur. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia dengan
menggunakan media gambar dapat mengatasi kesulitan belajar membaca
permulaan pada siswa kelas I SD Negeri 12 Pontianak Timur.
47
B. Saran
Sesuai dengan kesimpulan dan implikasi hasil penelitian di atas, maka dapat
dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut :
1. Bagi sekolah
Oleh karena penggunaan media gambar dapat mengatasi kesuliltan
belajar membaca permulaan siswa kelas I SD, maka seharusnya sekolah
sebagai penentu kebijakan untuk menganjurkan para guru kelas rendah,
khususnya guru kelas I menggunakan media gambar dalam proses
pembelajaran membaca permulaan. Hal ini dimaksudkan agar prestasi
belajar membaca permulaan siswa dapat maksimal, serta mengurangi
jumlah siswa yangmengalami kesuliltan belajar membaca permulaan
siswa.
2. Bagi guru
Mengingat bahwa kelas rendah khususnya kelas I SD merupakan
dasar penentu keberhasilan pembelajaran kelas-kelas di atasnya, maka
proses pembelajaran harus matang dan lancar dalam membaca, menulis,
dan berhitung. Untuk itu guru SD khususnya guru kelas I hendaknya lebih
kreatif dalam memilih metode dan media dalam pembelajaran membaca
permulaan. Salah satunya adalah dalam penggunaan media gambar. Pada
proses pembelajaran dengan menggunakan media gambar memang agak
menyita waktu, tenaga, maupun biaya. Namun bila dilaksanakan dengan
baik, maka proses pembelajaran membaca permulaan akan berhasil dan
48
mampu mengurangi tingkat siswa yang mengalami kesulitan belajar
membaca permulaan.
3. Bagi siswa
Bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar membaca
permulaan,hendaknya dalam belajarnya menggunakan alat bantu yang
konkret, contohnya seperti macam-macam gambar, kartu huruf, kartu kata,
dan kartu kalimat. Karena dengan alat bantu yang konkret, maka siswa
akan lebih mudah dalam belajar membaca permulan karena tertarik oleh
gambar-gambar yang dipelajari.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurahman. 1999. Kesulitan Siswa Membaca Permulaan. Jakarta: Rineka Cipta.
Ahmad Djauzak. 1995. Metodik Khusus Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah
Dasar. Jakarta: Depdikbud.
Asep Herry Hernawan. 2008. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Abdurrahman, Mulyono. (2012). Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta :
Rineka Cipta
Abu Ahmadi Dan Widodo Supriyono. (2013). Psikologi Belajar Dan Mengajar.
Bandung : Sinar Baru
AH. Sanaky, H. 2013. Media Pembelajaran Interaktif-Inovatif. Yogyakarta: Kaukaban
Dipantara
49
Alice, Crow. Dan Lester D, Crow. (1992). Educational Psychology. New Jersey: Littlefeld
Adams and Co.
Arikunto, S. (2016). Prosedur Penelitian Suatu pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Arikunto, S. [Link] Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi. Jakarta:
PT. Rineka Cipta
Cipta. Arikunto, Suharsimi. (2010). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi 2). Jakarta:
PT Bumi Aksara.
Depdiknas. 2000. Permainan Membaca dan Menulis di Taman Kanak-Kanak.
Jakarta: Depdiknas.
Djago Tarigan. 2006. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Di Kelas Rendah.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Djamarah, Bahri Syaiful. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hasan Wallinomo. 1991. Pengajaran Membaca dan Menulis Kelas I, II di SD.
Jakarta: Dekdikbud.
Lerner. 2014. Meningkatkan Efektivitas Mengajar. Jakarta: Pustaka Jaya
Poerwadarminta W.J.S. 1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sardiman . 2012 . Interksi Motivasi & Belajar Mengajar . Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada.
Suryabrata Sumadi. 1993. Psikologi Pendidikan. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.
Suyanto, Wardan., dan dkk. (2014). Penerapan Model Problem-Based Learning untuk
Meningkatkan Keterampilan Berfikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa.
Jurnal Pendidikan Vokasi, 4(1), 125-143.
[Link] (Diakses tanggal
28 November 2021).
Suyono dan Hariyanto. (2012). Belajar dan Pembelajaran (Teori dan Konsep Dasar).
Bandung: Remaja Rosdakarya.
50
Winarno, Budi. 2014. Kebijakan Publik(Teori, Proses dan Studi Kasus). Jakarta: Centre
Of Academic Publishing Service (CAPS)
WS. Winkel. (1983) Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia, 1983
Wardani, dkk.2016. Pengaruh Gaya Belajar Terhadap Hasil Belajar Matematika
Mahasiswa Universitas Trunojoyo. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol
2 No 1 Maret 2016.
51
52
53
54
55
56