0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan15 halaman

Pengertian dan Klasifikasi Febris pada Anak

Kirim

Diunggah oleh

serlincelolomurri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan15 halaman

Pengertian dan Klasifikasi Febris pada Anak

Kirim

Diunggah oleh

serlincelolomurri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Febris

1. Definisi Febris

Febris merupakan suatu keadaan suhu tubuh diatas normal sebagai akibat

peningkatan pusat pengatur suhu dihipotalamus. Sebagian besar demam pada anak

merupakan akibat perubahan pada pusat panas (termoregulasi) dihipotalamus.

Penyakit- penyakit yang ditandai dengan adanya demam dapat menyerang sistem

tubuh. Selain itu demam mungkin berperan dalam meningkatkan perkembangan

imunitas spesifik dan non spesifik dalam membantu pemulihan atau pertahanan

terhadap infeksi Demam merupakan suatu kondisi dimana suhu tubuh mengalami

peningkatan di atas normal. Seseorang dapat dikatakan normal jika suhu tubuhnya

berkisar antara 36,5 °C sampai 37,5°C (Pangesti, [Link] 2021).

Demam pada dasarnya dapat dialami oleh seluruh kalangan usia, mulai dari

bayi sampai orang lanjut usia. Hal ini dapat terjadi karena pada dasarnya demam

menunjukan bahwa mekanisme dalam tubuh berjalan normal dalam melawan

penyakit yang menimbulkan reaksi infeksi oleh virus, bakteri, jamur, atau parasit

(Sodikin, 2012). Dapat disimpukan bahwa Observasi febris (OF) adalah pemantauan

terhadap demam untuk mengetahui pekembangan demam dan mencari solusi

terhadap demam tersebut. Dalam diagnosis Observasi Febris (OF) tidak selalu

demam biasa, pada sebagian kasus dapat menjadi gejala awal Demam Berdarah

Dengue (DBD), Typhoid (tifus), Malaria, demam pasca imunisasi, dan lain-lain

(Baig Fitrihan, [Link], 2022).

6
2. Klasifikasi

Klasifikasi Menurut Nurarif (2015) adalah sebagai berikut:

a. Demam septic

Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari

dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai

keluhan menggigil dan berkeringat.

b. Demam interminten

Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam

satu hari. Bila demam seperti ini, terjadi dalam dua hari sekali disebut tersina

dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut

kertanan.

c. Demam kontinu

Variasi suhu sepanjang hari tidak tidak berbeda lebih dari satu derajat.

Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.

d. Demam siklis

Terjadi Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran.

Demam dapat berhubungan dengan infeksi penyakit kologen keganasan

penyakit matabolik maupun penyakit lain. Demam dapat disebabkan karena

kelainan dalam otak sendiri atau zat toksit yang pusat pengaturan suhu

penyakit-penyakit bakteri tumor otak atau dihidrasi (Goyton dalam Thobroni,

2015).

3. Etiologi

Peningkatan suhu tubuh ini disebabkan oleh beredarnya suatu molekul kecil

di dalam tubuh kita yang disebut dengan pirogen, yaitu zat pencetus panas. Biasanya

7
penyebab demam sudah bisa diketahui dalam waktu satu atau dua hari dengan

pemeriksaan medis yang terarah. Secara umum, penyebab demam adalah: Penyakit

infeksi, penyakit kolagen, keganasan, dehidrasi, penyakit latrogenik, gangguan di

susunan saraf pusat, penyakit darah, kerusakan jaringan, penyakit spesifik ( Mawarti,

2019 )

4. Manifestasi Klinis

Menurut neurarif (2015) tanda dan gejala terjadinya febris adalah:

a. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,6℃)

b. Kulit kemerahan

c. Hangat pada sentuhan

d. Peningkatan frekuensi pernapasan

e. Menggigil dehidrasi

f. Kehilangan napsu makan

5. Patofisiologi

Demam terjadi bila berbagai proses infeksi dan non infeksi berinteraksi

dengan mekanisme pertahanan hospes. Saat mekanisme ini berlangsung bakteri atau

pecahan jaringan akan difagositosis oleh leukosit, makrofag, serta lymfosit

pembunuh yang memiliki granula dalam ukuran besar. Seluruh sel ini kemudian

mencerna hasil pemecah bakteri, dan melepaskan zat interleukinke dalam cairan

tubuh (zat pirogen leukosit/ pirogen endogen) (Sodikin, 2012).

Pada saat interleukim- 1 sudah sampai ke hipotalamus akan menimbulkan

demam dengan cara meningkatkan temperature tubuh dalam waktu 8-10 menit.

Interluekim-1 juga memiliki kemampuan untuk menginduksi pembentukan

prostaglandin ataupun zat yang memiliki kesamaan dengan zat ini, kemudian

8
bekerja dibagian hipotalamus untuk membangkitkan reaksi demam. Karena cairan
dan elektrolit ini dapat mengakibatkan demam, mempengaruhi keseimbangan
teremogulasi di hipotalamus arterior. Jadi apabila terjadi dehidrasi atau kekurangan
cairan dan elektrolit maka keseimbangan tremogulasi di hipotalamus anterior
terganggu.
Menggigil merupakan salah satu mekanisme sistem imun dalam tubuh untuk
meningkatkan suhu tubuh dalam melawan virus atau bakteri. Kondisi ini biasanya
muncul disertai saat demam.
Sedangkan demam disertai dengan keluhan adanya ruam kemerahan pada kulit
merupakan salah satu gejala pada saat demam, kemerahan dapat disebabkan karena
infeksi virus yang menyerang pada kulit. Keluhan dapat disertai dengan rasa gatal,
panas, dan sebagainya.
PATHWAY FEBRIS

Agen infeksius Dehidrasi


Mediator inflamasi

Tubuh kehilangan cairan

Monosit/makrofag

Penurunan cairan intrasel

Sitoksin pirogen

Mempengaruhi hipotalamus Anterior

Demam

Peningkatan suhu tubuh

Peningkatan evaporasi

Mk : Hipetermi

M.k Resiko defisit volume.

9
6. Komplikasi

Menurut Nurarif (2015) komplikasi dari demam adalah : pertama dehidrasi

yaitu proses meningkatnya penguapan cairan tubuh akibat demam. Kedua kejang

demam, kejang jarang sekali terjadi perbandingannya antara 1 dari 30 anak

menderita demam, kejang sering ditemui pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun.

Serangan kejang berlangsung dalam waktu 24 jam pertama demam dan umumnya

sebentar serta tidak berulang.

Anak mengalami kejang saat demam tinggi karena adanya kenaikan drastis

pada temperatur tubuh. Kejang demam ini umumnya disebabkan oleh infeksi dan

merupakan respon dari otak terhadap demam yang biasanya terjadi pada hari

pertama demam. Gejala demam pada anak dapat beragam, mulai dari yang ringan,

seperti mata tinggi, hingga yang berat, misalnya gerakan tubuh menyentak-nyentak

dengan hebat atau otot-otot menjadi kencang dan kaku. Umumnya, anak yang

mengalami kejang demam ditandai dengan gejala, yaitu. Hilang kesadaran dan

berkeringat,tangan dan kakinya kejang. Demam tinggi, lebih dari 38 derajat Celsius,

terkadang keluar busa dari mulutnya atau muntah, matanya terkadang juga akan

terbalik, setelah reda, terlihat mengantuk dan tertidur (Baig Fitrihan, [Link], 2022).

Kejang adalah manifestasi klinis khas yang berlangsung secara intermitten

dapat berupa gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik, sensorik, dan atau

otonom yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang berlebihan di neuron

otak. Status epileptikus adalah kejang yang terjadi lebih dari 30 menit atau kejang

berulang lebih dari 30 menit tanpa disertai pemulihan kesadaran, mekanisme dasar

terjadinya kejang adalah peningkatan aktifitas listrik yang berlebihan pada neuron-

neuron dan mampu secara berurutan merangsang sel neuron lain secara bersama-

10
sama melepaskan muatan listriknya. Hal tersebut diduga disebabkan oleh,

kemampuan membran sel sebagai pacemaker neuron untuk melepaskan muatan

listrik yang berlebihan, berkurangnya inhibisi oleh neurotransmitter asam gama

amino butirat [GABA], atau meningkatnya eksitasi sinaptik oleh transmiter asam

glutamat dan aspartat melalui jalur eksitasi yang berulang (Baig Fitrihan, [Link],

2022).

7. Pemeriksaan Penunjang

a. Tes darah untuk mengetahuai jumlah komponen dari darah seseorang. Jika

penilaian tes ini di luar angka normal, berarti terdapat masalah yang lebih

besar sehingga tubuh mengalami demam

b. Tes urine dengan melihat warna, konsentrasi, dan kandungan dari urine yang

dihasilkan. Pemeriksaan ini mengalami demam dan juga memantau kondisi

kesehatan seseorang.

c. Tes panel metabolisme untuk mengetahui kondisi tubuh terkait dengan

metabolisme, seperti ginjal dan hati. Beberapa pemeriksaan yang terkait

dengan hal ini adalah kadar gula, protein, kalsium, elektrolit, ginjal dan hati.

8. Penatalaksanaan

Menurut Mawarti, S. (2019) penanganan demam penanganan terhadap demam

dapat dilakukan dengan tindakan farmakologis dan non farmakologis serta

kombinasi dari keduanya, berikut tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani

demama pada anak :

a. Tindakan farmakologis Tindakan farmakolosis dapat dilakukan dengan

memberikan antipiretik berupa : Paracetamol, Ibufroren dan Sanmol

b. Tindakan non farmakologis. Menurut Nurarif (2014) tindakan

nonfarmakologis terhadap demam antara lain : Memberikan minum air yang


11
banyak, tempatkan di ruang suhu normal, tidak menggunakan pakaian yang

tebal, memberikan kompres hangat.

B. Konsep Dasar Teori Asuhan Keperawatan Dengan Demam

1. Pengkajian

Pengkajian Mencakup Pengumpulan informasi subjektif dan objektif (Misal:

TTV, wawancara pasien/keluarga,pemeriksaan fisik) dan peninjauan informasi

riwayat pasien yang diberikan oleh psien/keluarga (untuk mencegah atau menunda

potensi masalah).

a. Pengkajian berupa:

1) Identitas: Umur untuk menentukan jumlah cairan yang diperlukan.

2) Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian : Demam 3)

Riwayat kesehatan sekarang: Sejak kapan timbul demam,gejala lain yang

menyertai demam (misalnya: mual, muntah, nafsu makan, eliminasi, nyeri

otot dan sendi) apakah mengigil dan gelisah.

4) Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penykit lain

yang pernah diderita oleh pasien).

5) Riwayat kesehatan Keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain

yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lin bersifat genetik atau

tidak).

b. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum: kesadaran, vitalsign , status nutrisi.

c. Pola Fungsi Kesehatan

1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan merupakan data yang didapatkan

dari pasien sebelum dan sesudah masuk rumah sakit. Pola persepsi

menggambarkan tentang pemahaman klien tentang kesehatan.


12
2) Pola nutrisi dan metabolisme pola makan ialah suatu cara untuk mengatur

jenis ataupun jumlah makanan yang sesuai dengan prosepsi kebutuhan

tubuhnya guna mempertahanankan kesehatan, kebutuhan nutrisi, dan

mencegah terjadinya penyakit.

3) Pola eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh

baik yang melalui ginjal berupa urin mampu melui gastrointestianal yang

berupa fekal .

4) Pola aktivitas dan latihan mampu latihan didefinisikan sebagai suatu aksi

ergentik atau keadaan bergerak

5) Pola tidur dan israhat keadaan relaks tampa adanya tekanan emosional tampa

kegiatan yang merupakan urutan siklius yang berulang-ulang dan masing-

masing menyatakan fase kegiatan otak serta badaniah yang berbeda.

6) Pola kognitif dan perseptual pola ini melipu seperti pengkajian fungsi

penglihatan, pendengaran, perasaan, pembau, dan komponsesasinya

terhadap tubuh.

7) Pola toleransi dan koping stress suatu upaya individu untuk menunggalangi

suatu stres yang menenangkan akibat masalah yang di hadapi dengan cara

melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa

aman dalam dirinya sendiri

8) Pola nilai dan keyakinan merupakan hubungan antara manusia dengan

tuhannya.

9) Pola hubungan dan peran merupakan menggambarkan keefektifan

hubungan dengan peran dengan individu, keluarga, komunitas, dan

komponen lainnya

13
2. Diagnosa keperawatan

Diagnosa keperwatan adalah penilaian klinis tentang respons manusia

terhadap gangguan kesehatan/proses kehidupan atau kerentanan respons dari

seorang individu, keluarga, kelompok, atau komunitas (SDKI,2017)

Adapun diagnosa keperawatan yang dapat dikenali pada pasien dengan febris

yaitu :

1. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit.

3. Intervensi/Perencanaan

Tabel 2. 1:Intervensi Keperawatan

Diagnosa Luaran
Intervensi Keperawatan
Keperawatan Keperawatan
Hipertermi Setelah di lakukan Manajemen Hipertermia
berhubungan intervensi Observasi
dengan proses keperawatan selama 1. Identifikasi penyebab
penyakit 4x24 jam maka, hipertermia (Mis:
Termoregulasi dehodrasi, terpapar
membaik dengan lingkungan panas).
kriteria hasil: 2. Monitor suhu tubuh
3. Monitor kadar elektrolit
1. Mengigil dari 4. Monitor komplikasi
meningkat menjadi akibat hipertermia
cukup menurun Terapeutik
2. Suhu tubuh dari 1. Sediakan lingkungan
meningkat menjadi yang dingin
membaik 2. Longgarkan atau
3. Kulit merah dari lepaskan pakaian
memburuk cukup 3. Berikan cairan oral
membaik 4. Ganti linen setiap hari
4. Suhu kulit dari atau lebih sering jika
memburuk cukup mengalami hiperhidrosis
membaik
(keringat berlebih).
5. Hindari pemberian
antipiretik atau aspirin
6. Kompres hangat dengan
suhu 40°c
Edukasi
- Anjurkan tirah baring
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
cairan dan elektrolit
14
4. Implementasi

Implementasi keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk

mencapai tujuan yang spesifik yang bertujuan untuk membantu klien dalam

mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan telah mencakup peningkatan kesehatan,

pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan, dan fasilitas koping. Pelaksanaan

keperawatan/implementasi harus sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan

sebelumnya dan pelaksanaan ini disesuaikan dengan masalah yang terjadi.

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan. Namun, evaluasi

dapat dilakukan pada setiap tahap akhir proses keperawatan. Pada tahap evaluasi

perawatat dapat menemukan reaksi klien terhadap intervensi keperawatan yang telah

diberikan dan menetapkan apakah sasaran dari rencana keperawatan dapat diterima.

Tahap evaluasi merupakan proses yang menentukan sejauh mana perubahan

suhu membaik agar tujuan dapat dicapai, sehingga dalam mengevaluasi efektifitas

Tindakan keperawatan. Perawat perlu mengetahui kriteria keberhasilan dimana

kriteria ini harus dapat diukur dan diamati agar kemajuan perkembangan

keperawatan Kesehatan klien dapat diketahui. Luaran keperawatan yang digunakan

adalah termoregulasi, dengan tindakan keperawatan pemberian kompres air hangat

pada pasien febris diharapkan mengalami penurunan.

C. Terapi Kompres Hangat

1. Definisi

Kompres hangat merupakan tindakan menurunkan suhu tubuh dengan

menggunakan kain atau handuk yang telah dicelupkan pada air hangat 40°c ,yang

15
ditempelkan pada bagian tubuh tertentu sehingga dapat memberikan rasa nyaman,

kompres tepid sponge bekerja dengan cara vasodilatasi (melebarnya) pembuluh

darah perifer di seluruh tubuh sehingga evaporasi panas dari kulit ke lingkungan

sekitar akan lebih cepat (Mawarti, 2019). Kompres dibedakan menjadi dua yaitu

kompres hangat dan dingin. Pemberian kompres hangat dapat dilakukan pada area

pembuluh darah besar, tujuan kompres hangat adalah memberikan rangsangan pada

hipotalamus untuk menurunkan suhu tubuh. Hipotalamus akan memberikan sinyal

hangat yang selanjutnya menuju hipotalamus untuk merangsang area preoptik

sehingga agar sistem efektor dapat dikeluarkan. Setelah system efektor

mengeluarkan sinyal, maka pengeluaran panas tubuh akan melakukan dilatasi

pembuluh darah perifer dan seseorang mengeluarkan keringat. ompres dingin dapat

menurunan suhu tubuh pada anak. Kompres dingin merangsang vasokonstriksi dan

shivering sehingga pembuluh darah menjadi lebar dan keadaansuhu tubuh menjadi

normal. Selain itu proses normalnya suhu tubuh karena pemberian kompres dingin

terjadi karena adanya penangkapan sinyal oleh hypothalamus melalui sumsum

tulang sehingga tubuh mencapai normal (Ida Rahmawati, 2020).

2. Manfaat Kompres

Pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan sinyal ke

hipotalamus melalui sumsum tulang belakang. Sistem efek mengeluarkan sinyal

untuk berkeringat dan vasodilatasi [Link] vasodilatasi ini menyebabkan

pembuangan energi atau panas melalui keringat karena seluruh tubuh dan kulit

dikompres atau dibilas dengan air. Kulit merupakan radiator panas yang efektif

untuk keseimbangan suhu tubuh, sehingga dengan membilas seluruh tubuh atau kulit

menyebabkan kulit mengeluarkan panas dengan cara berkeringat dengan suhu

16
tubuh yang awalnya meningkat menjadi turun bahkan sampai mencapai batas

normal. Manfaat Kompres Hangat Stimulasi kompres panas atau hangat dapat

menimbulkan respon fisiologis yang berbeda (Mawarti, 2019). Perbandingan

kompres hangat dengan kompres dingin padahasil penelitian menunjukan bahwa

kompres hangat lebih efektif untuk menurunkan suhu tubuh yaitu didapatkan rata-

rata 37,7 C lebih rendah dibandingkan dengan kompres dingin yaitu dengan

rata-rata 38,38 C. Hal ini dipengaruhi oleh cara pelepasan panas akibat kompres,

yaitu pada kompres hangat dapat menurunkan suhu tubuh anak demam karena tubuh

dapat melepaskan panas melalui evaporasi dan kompres dingin dapat menurunkan

panas melalui konduksi. Bahwa panas akan keluar dari tubuh melalui proses radiasi,

konduksi, konveksi, dan evaporasi. Pada kompres dingin secara umum tubuh akan

melepaskan panas melalui proses konduksi (perpindahan panas) (Ida Rahmawati,

2020).

Proses kehilangan panas dengan mekanisme konduksi terjadi dengan sangat

kecil, sedangkan pada kompres hangat akan terjadi evaporasi (penguapan air dari

kulit) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh akibat vasodilatasi. Evaporasi

akan menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilo kalori. Sedangkan

saat anak tidak berkeringat, maka evaporasi terjadi hanya sebesar 450-

600 ml. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan

12-16 kalori per jam. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kompres dingin kurang

efektif untuk menurunkan demam karena tidak adanya proses vasodilatasi, dan

produksi panas (Ida Rahmawati, 2020).

3. Langkah-langkah Kompres Hangat

Tindakan pada metode kompres hangat, pada Langkah awal, dengan

17
mengompres pada lima titik (leher, 2 ketiak, dan 2 pangkal paha). Kemudian

dilanjutkan dengan menyeka bagian perut dan dada, atau seluruh badan dengan air

hangat menggunakan kain atau handuk kecil. Basahi Kembali kain, Ketika sudah

kering. Kompres hangat bekerja dengan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh

darah perifer diseluruh tubuh ini menyebabkan evaporasi dan konduksi panas dari

kulit ke lingkungan sekitar akan lebih cepat. Kompres hangat dilakukan ketika anak

mengalami kenaikan suhu lebih dari 37,6. Kompres ini di berikan 2 kali dalam sehari

(Faridah dan Soesanto 2021).

4. Macam-Macam Kompres Untuk Menurunkan Suhu Tubuh Bila Anak

Mengalami Demam

Ada beberapa macam kompres yang bisa diberikan untuk menurunkan suhu

tubuh yaitu tepid water sponge dan kompres air hangat. Kompres air hangat dapat

menurunkan suhu tubuh melalui proses evaporasi. Dengan kompres air hangat

menyebabkan suhu tubuh diluar akan hangat sehingga tubuh akan

menginterpretasikan bahwa suhu diluar cukup panas, akhirnya tubuh akan

menurunkan control pengatur suhu di otak supaya tidak meningkatkan suhu

pengatur tubuh, dengan suhu di luar hangat akan membuat pembuluh darah tepi di

kulit melebar dan mengalami vasodiatasi sehingga pori-pori kulit akan membuka

dan mempermudah pengeluaran panas sehingga akan terjadi penurunan suhu tubuh

(Dewi, 2016).

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Fadli tentang pengaruh

kompres hangat terhadap perubahan suhu tubuh pada pasien febris. Hasil penelitian

menunjukan bahwa adanya pengaruh kompres hangat terhadap perubahan suhu

tubuh pasien febris di ruangan instalasi gawat darurat puskesmas Tanru Tedong

Kabupaten Sidrap. Hasil penelitian ini dapat di pergunakan sebagai bahan masukan
18
bagi institusi kesehatan dan penanganan peningkatan suhu tubuh pada pasien febris

(Fadli, 2018).

5. Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemberian Kompres Air Hangat

a. Definisi

Melakukan stimulus kulit dan jaringan untuk mengurangi nyeri,

meningkatkan kenyamanan dan mendapatkan efek terapeutik lainnya melalui

paparan hangat|\panas

b. Persiapan Alat

1) Sarungan tangan bersih

2) Alat kompres air hangat

3) Kain penutup kompres Air Hangat

c. Tahap Orientasi

1) Memperkenalkan diri

2) Menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan

3) Memberikan posisi yang nyaman pada pasien

4) Ciptakan lingkungan yang nyaman

d. Fase Kerja

1) Identifikasi pasien menggunakan minimal dua intensitas (nama lengkap,

tanggal lahir, dan nomor rekam medik)

2) Jelaskan tujuan dan langkah-langkah prosedur

3) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan

4) Pilih alat kompres yang nyaman dan mudah di dapatkan (seperti kemasan

gel begu, kain atau handuk)

5) Periksa suhu alat kompres ( Handuk dengan suhu alat kompres 40 C).

6) Iakukan kebersihan tangan 6 langkah


19
7) Pasang sarung tangan bersih

8) Pilih lokasi kompres

9) Balut alat kompres hangat dengan kain, jika perlu

10) Lakukan kompres hangat pada daerah yang sudah di pilih, ketiak,

belakang leher dan dahi.

11) Lakukan kompres hangat dengan waktu 10-15 menit

12) Hindari penggunaan kompres pada jaringan yang terpapar terapi radiasi

13) Rapikan pasien dan alat-alat yang di gunakan

14) Lepaskan sarung tangan

15) Lakukan kebersihan tangan 6 langkah

16) Dokumentasikan prosedur yang di lakukan dan respon keluarga pasien.

e. Tahap Terminasi

1) Melakukan evaluasi

2) Menyampaikan rencana tindak lanjut

3) Berpamitan

20

Common questions

Didukung oleh AI

Common causes of fever include infections, inflammatory diseases, malignancy, dehydration, and central nervous system disorders. Identifying the cause involves a thorough medical assessment, which includes patient history, physical examination, and diagnostic tests like blood and urine tests to check for infections or metabolic issues. Often, the cause can be determined within a couple of days with a directed medical evaluation .

Febrile convulsions in children are characterized by a sudden rise in body temperature leading to loss of consciousness, involuntary shaking, or rigidity. Management includes ensuring a safe environment to prevent injury, keeping the airway open, and monitoring the child's vital signs until medical help arrives. After the seizure, the child should be positioned on their side to maintain an open airway. It is also important to reduce fever using antipyretics once the convulsion subsides .

Seizures in the context of high fever occur due to an increase in neuronal excitability, where excessive electrical discharges across neurons happen. The rapid increase in body temperature can disrupt the balance of excitatory and inhibitory neurotransmitters in the brain, particularly due to lowered inhibitory function of GABA and increased excitatory transmission from glutamate and aspartate. This predisposes the neuronal networks to synchronous discharges, resulting in convulsions .

Warm compresses are more effective than cold compresses for managing fever because they induce peripheral vasodilation, which accelerates heat loss through evaporative cooling from the skin, thus reducing body temperature. Conversely, cold compresses can cause vasoconstriction and may lead to shivering, which can actually raise the core body temperature. Studies show that warm compresses better support physiological cooling processes compared to the conductance-driven cooling of cold compresses .

Antipyretics, such as paracetamol and ibuprofen, lower fever by inhibiting the synthesis of prostaglandins, thus reducing the hypothalamic set point and subsequently lowering body temperature. Non-pharmacological methods, such as warm compresses, complement this by promoting peripheral heat dissipation. Together, these methods provide a multi-faceted approach to fever management by blocking internal heat production while facilitating external heat loss, enhancing comfort, and reducing overall body temperature efficiently .

To effectively administer a warm compress for fever reduction, follow these steps: select a warm compress or soak a cloth in water at approximately 40°C, squeeze excess water, and apply to areas with large blood vessels, such as the neck and underarms. Ensure the patient is comfortable and in a violence-free environment, and repeat the compress application if the cloth cools down. Maintain the compress in place for about 10-15 minutes to properly facilitate heat evaporation and ensure vasodilation .

Potential complications of high fevers, particularly in children, include dehydration due to increased fluid loss through sweat and respiration, and febrile seizures, which are most common between the ages of 6 months and 5 years. These seizures are typically brief and occur in the early stages of a fever when the temperature rises rapidly. Proper management of fever and monitoring for these complications are crucial in pediatric care .

Fever plays a role in enhancing both specific and non-specific immune responses to help combat infections. This process is regulated by the hypothalamus, which increases body temperature in response to pyrogens. Pyrogens can be exogenous (like bacteria and viruses) or endogenous, such as cytokines released by the body's immune cells. When pyrogens reach the hypothalamus, they induce the release of prostaglandins, which elevate the body's set temperature, resulting in fever. This increase in temperature can help inhibit microbial growth and enhance immune function .

Fevers are classified into several types based on their temperature patterns: septic fever involves high body temperature at night with a decrease in the morning, often accompanied by chills and sweating; intermittent fever sees the body temperature returning to normal at least once within 24 hours; continuous fever has a consistent elevated temperature with minimal variation; and cyclic fever occurs in regular intervals. These variations are linked with different underlying causes, such as infections or immune responses .

Observation of fever characteristics, such as its pattern, duration, and associated symptoms, can be pivotal in diagnosing diseases like dengue fever or malaria. Specific fever types, like intermittent fever, are characteristic of malaria, while dengue fever might exhibit a continuous fever with distinct rash and other symptoms. Identifying these patterns early through close fever monitoring can guide prompt diagnosis and treatment, which is critical for managing such potentially severe diseases .

Anda mungkin juga menyukai