BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Febris
1. Definisi Febris
Febris merupakan suatu keadaan suhu tubuh diatas normal sebagai akibat
peningkatan pusat pengatur suhu dihipotalamus. Sebagian besar demam pada anak
merupakan akibat perubahan pada pusat panas (termoregulasi) dihipotalamus.
Penyakit- penyakit yang ditandai dengan adanya demam dapat menyerang sistem
tubuh. Selain itu demam mungkin berperan dalam meningkatkan perkembangan
imunitas spesifik dan non spesifik dalam membantu pemulihan atau pertahanan
terhadap infeksi Demam merupakan suatu kondisi dimana suhu tubuh mengalami
peningkatan di atas normal. Seseorang dapat dikatakan normal jika suhu tubuhnya
berkisar antara 36,5 °C sampai 37,5°C (Pangesti, [Link] 2021).
Demam pada dasarnya dapat dialami oleh seluruh kalangan usia, mulai dari
bayi sampai orang lanjut usia. Hal ini dapat terjadi karena pada dasarnya demam
menunjukan bahwa mekanisme dalam tubuh berjalan normal dalam melawan
penyakit yang menimbulkan reaksi infeksi oleh virus, bakteri, jamur, atau parasit
(Sodikin, 2012). Dapat disimpukan bahwa Observasi febris (OF) adalah pemantauan
terhadap demam untuk mengetahui pekembangan demam dan mencari solusi
terhadap demam tersebut. Dalam diagnosis Observasi Febris (OF) tidak selalu
demam biasa, pada sebagian kasus dapat menjadi gejala awal Demam Berdarah
Dengue (DBD), Typhoid (tifus), Malaria, demam pasca imunisasi, dan lain-lain
(Baig Fitrihan, [Link], 2022).
6
2. Klasifikasi
Klasifikasi Menurut Nurarif (2015) adalah sebagai berikut:
a. Demam septic
Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari
dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai
keluhan menggigil dan berkeringat.
b. Demam interminten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam
satu hari. Bila demam seperti ini, terjadi dalam dua hari sekali disebut tersina
dan bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut
kertanan.
c. Demam kontinu
Variasi suhu sepanjang hari tidak tidak berbeda lebih dari satu derajat.
Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.
d. Demam siklis
Terjadi Demam terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran.
Demam dapat berhubungan dengan infeksi penyakit kologen keganasan
penyakit matabolik maupun penyakit lain. Demam dapat disebabkan karena
kelainan dalam otak sendiri atau zat toksit yang pusat pengaturan suhu
penyakit-penyakit bakteri tumor otak atau dihidrasi (Goyton dalam Thobroni,
2015).
3. Etiologi
Peningkatan suhu tubuh ini disebabkan oleh beredarnya suatu molekul kecil
di dalam tubuh kita yang disebut dengan pirogen, yaitu zat pencetus panas. Biasanya
7
penyebab demam sudah bisa diketahui dalam waktu satu atau dua hari dengan
pemeriksaan medis yang terarah. Secara umum, penyebab demam adalah: Penyakit
infeksi, penyakit kolagen, keganasan, dehidrasi, penyakit latrogenik, gangguan di
susunan saraf pusat, penyakit darah, kerusakan jaringan, penyakit spesifik ( Mawarti,
2019 )
4. Manifestasi Klinis
Menurut neurarif (2015) tanda dan gejala terjadinya febris adalah:
a. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,6℃)
b. Kulit kemerahan
c. Hangat pada sentuhan
d. Peningkatan frekuensi pernapasan
e. Menggigil dehidrasi
f. Kehilangan napsu makan
5. Patofisiologi
Demam terjadi bila berbagai proses infeksi dan non infeksi berinteraksi
dengan mekanisme pertahanan hospes. Saat mekanisme ini berlangsung bakteri atau
pecahan jaringan akan difagositosis oleh leukosit, makrofag, serta lymfosit
pembunuh yang memiliki granula dalam ukuran besar. Seluruh sel ini kemudian
mencerna hasil pemecah bakteri, dan melepaskan zat interleukinke dalam cairan
tubuh (zat pirogen leukosit/ pirogen endogen) (Sodikin, 2012).
Pada saat interleukim- 1 sudah sampai ke hipotalamus akan menimbulkan
demam dengan cara meningkatkan temperature tubuh dalam waktu 8-10 menit.
Interluekim-1 juga memiliki kemampuan untuk menginduksi pembentukan
prostaglandin ataupun zat yang memiliki kesamaan dengan zat ini, kemudian
8
bekerja dibagian hipotalamus untuk membangkitkan reaksi demam. Karena cairan
dan elektrolit ini dapat mengakibatkan demam, mempengaruhi keseimbangan
teremogulasi di hipotalamus arterior. Jadi apabila terjadi dehidrasi atau kekurangan
cairan dan elektrolit maka keseimbangan tremogulasi di hipotalamus anterior
terganggu.
Menggigil merupakan salah satu mekanisme sistem imun dalam tubuh untuk
meningkatkan suhu tubuh dalam melawan virus atau bakteri. Kondisi ini biasanya
muncul disertai saat demam.
Sedangkan demam disertai dengan keluhan adanya ruam kemerahan pada kulit
merupakan salah satu gejala pada saat demam, kemerahan dapat disebabkan karena
infeksi virus yang menyerang pada kulit. Keluhan dapat disertai dengan rasa gatal,
panas, dan sebagainya.
PATHWAY FEBRIS
Agen infeksius Dehidrasi
Mediator inflamasi
Tubuh kehilangan cairan
Monosit/makrofag
Penurunan cairan intrasel
Sitoksin pirogen
Mempengaruhi hipotalamus Anterior
Demam
Peningkatan suhu tubuh
Peningkatan evaporasi
Mk : Hipetermi
M.k Resiko defisit volume.
9
6. Komplikasi
Menurut Nurarif (2015) komplikasi dari demam adalah : pertama dehidrasi
yaitu proses meningkatnya penguapan cairan tubuh akibat demam. Kedua kejang
demam, kejang jarang sekali terjadi perbandingannya antara 1 dari 30 anak
menderita demam, kejang sering ditemui pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun.
Serangan kejang berlangsung dalam waktu 24 jam pertama demam dan umumnya
sebentar serta tidak berulang.
Anak mengalami kejang saat demam tinggi karena adanya kenaikan drastis
pada temperatur tubuh. Kejang demam ini umumnya disebabkan oleh infeksi dan
merupakan respon dari otak terhadap demam yang biasanya terjadi pada hari
pertama demam. Gejala demam pada anak dapat beragam, mulai dari yang ringan,
seperti mata tinggi, hingga yang berat, misalnya gerakan tubuh menyentak-nyentak
dengan hebat atau otot-otot menjadi kencang dan kaku. Umumnya, anak yang
mengalami kejang demam ditandai dengan gejala, yaitu. Hilang kesadaran dan
berkeringat,tangan dan kakinya kejang. Demam tinggi, lebih dari 38 derajat Celsius,
terkadang keluar busa dari mulutnya atau muntah, matanya terkadang juga akan
terbalik, setelah reda, terlihat mengantuk dan tertidur (Baig Fitrihan, [Link], 2022).
Kejang adalah manifestasi klinis khas yang berlangsung secara intermitten
dapat berupa gangguan kesadaran, tingkah laku, emosi, motorik, sensorik, dan atau
otonom yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik yang berlebihan di neuron
otak. Status epileptikus adalah kejang yang terjadi lebih dari 30 menit atau kejang
berulang lebih dari 30 menit tanpa disertai pemulihan kesadaran, mekanisme dasar
terjadinya kejang adalah peningkatan aktifitas listrik yang berlebihan pada neuron-
neuron dan mampu secara berurutan merangsang sel neuron lain secara bersama-
10
sama melepaskan muatan listriknya. Hal tersebut diduga disebabkan oleh,
kemampuan membran sel sebagai pacemaker neuron untuk melepaskan muatan
listrik yang berlebihan, berkurangnya inhibisi oleh neurotransmitter asam gama
amino butirat [GABA], atau meningkatnya eksitasi sinaptik oleh transmiter asam
glutamat dan aspartat melalui jalur eksitasi yang berulang (Baig Fitrihan, [Link],
2022).
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Tes darah untuk mengetahuai jumlah komponen dari darah seseorang. Jika
penilaian tes ini di luar angka normal, berarti terdapat masalah yang lebih
besar sehingga tubuh mengalami demam
b. Tes urine dengan melihat warna, konsentrasi, dan kandungan dari urine yang
dihasilkan. Pemeriksaan ini mengalami demam dan juga memantau kondisi
kesehatan seseorang.
c. Tes panel metabolisme untuk mengetahui kondisi tubuh terkait dengan
metabolisme, seperti ginjal dan hati. Beberapa pemeriksaan yang terkait
dengan hal ini adalah kadar gula, protein, kalsium, elektrolit, ginjal dan hati.
8. Penatalaksanaan
Menurut Mawarti, S. (2019) penanganan demam penanganan terhadap demam
dapat dilakukan dengan tindakan farmakologis dan non farmakologis serta
kombinasi dari keduanya, berikut tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani
demama pada anak :
a. Tindakan farmakologis Tindakan farmakolosis dapat dilakukan dengan
memberikan antipiretik berupa : Paracetamol, Ibufroren dan Sanmol
b. Tindakan non farmakologis. Menurut Nurarif (2014) tindakan
nonfarmakologis terhadap demam antara lain : Memberikan minum air yang
11
banyak, tempatkan di ruang suhu normal, tidak menggunakan pakaian yang
tebal, memberikan kompres hangat.
B. Konsep Dasar Teori Asuhan Keperawatan Dengan Demam
1. Pengkajian
Pengkajian Mencakup Pengumpulan informasi subjektif dan objektif (Misal:
TTV, wawancara pasien/keluarga,pemeriksaan fisik) dan peninjauan informasi
riwayat pasien yang diberikan oleh psien/keluarga (untuk mencegah atau menunda
potensi masalah).
a. Pengkajian berupa:
1) Identitas: Umur untuk menentukan jumlah cairan yang diperlukan.
2) Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian : Demam 3)
Riwayat kesehatan sekarang: Sejak kapan timbul demam,gejala lain yang
menyertai demam (misalnya: mual, muntah, nafsu makan, eliminasi, nyeri
otot dan sendi) apakah mengigil dan gelisah.
4) Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penykit lain
yang pernah diderita oleh pasien).
5) Riwayat kesehatan Keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain
yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lin bersifat genetik atau
tidak).
b. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: kesadaran, vitalsign , status nutrisi.
c. Pola Fungsi Kesehatan
1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan merupakan data yang didapatkan
dari pasien sebelum dan sesudah masuk rumah sakit. Pola persepsi
menggambarkan tentang pemahaman klien tentang kesehatan.
12
2) Pola nutrisi dan metabolisme pola makan ialah suatu cara untuk mengatur
jenis ataupun jumlah makanan yang sesuai dengan prosepsi kebutuhan
tubuhnya guna mempertahanankan kesehatan, kebutuhan nutrisi, dan
mencegah terjadinya penyakit.
3) Pola eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh
baik yang melalui ginjal berupa urin mampu melui gastrointestianal yang
berupa fekal .
4) Pola aktivitas dan latihan mampu latihan didefinisikan sebagai suatu aksi
ergentik atau keadaan bergerak
5) Pola tidur dan israhat keadaan relaks tampa adanya tekanan emosional tampa
kegiatan yang merupakan urutan siklius yang berulang-ulang dan masing-
masing menyatakan fase kegiatan otak serta badaniah yang berbeda.
6) Pola kognitif dan perseptual pola ini melipu seperti pengkajian fungsi
penglihatan, pendengaran, perasaan, pembau, dan komponsesasinya
terhadap tubuh.
7) Pola toleransi dan koping stress suatu upaya individu untuk menunggalangi
suatu stres yang menenangkan akibat masalah yang di hadapi dengan cara
melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa
aman dalam dirinya sendiri
8) Pola nilai dan keyakinan merupakan hubungan antara manusia dengan
tuhannya.
9) Pola hubungan dan peran merupakan menggambarkan keefektifan
hubungan dengan peran dengan individu, keluarga, komunitas, dan
komponen lainnya
13
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperwatan adalah penilaian klinis tentang respons manusia
terhadap gangguan kesehatan/proses kehidupan atau kerentanan respons dari
seorang individu, keluarga, kelompok, atau komunitas (SDKI,2017)
Adapun diagnosa keperawatan yang dapat dikenali pada pasien dengan febris
yaitu :
1. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit.
3. Intervensi/Perencanaan
Tabel 2. 1:Intervensi Keperawatan
Diagnosa Luaran
Intervensi Keperawatan
Keperawatan Keperawatan
Hipertermi Setelah di lakukan Manajemen Hipertermia
berhubungan intervensi Observasi
dengan proses keperawatan selama 1. Identifikasi penyebab
penyakit 4x24 jam maka, hipertermia (Mis:
Termoregulasi dehodrasi, terpapar
membaik dengan lingkungan panas).
kriteria hasil: 2. Monitor suhu tubuh
3. Monitor kadar elektrolit
1. Mengigil dari 4. Monitor komplikasi
meningkat menjadi akibat hipertermia
cukup menurun Terapeutik
2. Suhu tubuh dari 1. Sediakan lingkungan
meningkat menjadi yang dingin
membaik 2. Longgarkan atau
3. Kulit merah dari lepaskan pakaian
memburuk cukup 3. Berikan cairan oral
membaik 4. Ganti linen setiap hari
4. Suhu kulit dari atau lebih sering jika
memburuk cukup mengalami hiperhidrosis
membaik
(keringat berlebih).
5. Hindari pemberian
antipiretik atau aspirin
6. Kompres hangat dengan
suhu 40°c
Edukasi
- Anjurkan tirah baring
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
cairan dan elektrolit
14
4. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk
mencapai tujuan yang spesifik yang bertujuan untuk membantu klien dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan telah mencakup peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan, dan fasilitas koping. Pelaksanaan
keperawatan/implementasi harus sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
sebelumnya dan pelaksanaan ini disesuaikan dengan masalah yang terjadi.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan. Namun, evaluasi
dapat dilakukan pada setiap tahap akhir proses keperawatan. Pada tahap evaluasi
perawatat dapat menemukan reaksi klien terhadap intervensi keperawatan yang telah
diberikan dan menetapkan apakah sasaran dari rencana keperawatan dapat diterima.
Tahap evaluasi merupakan proses yang menentukan sejauh mana perubahan
suhu membaik agar tujuan dapat dicapai, sehingga dalam mengevaluasi efektifitas
Tindakan keperawatan. Perawat perlu mengetahui kriteria keberhasilan dimana
kriteria ini harus dapat diukur dan diamati agar kemajuan perkembangan
keperawatan Kesehatan klien dapat diketahui. Luaran keperawatan yang digunakan
adalah termoregulasi, dengan tindakan keperawatan pemberian kompres air hangat
pada pasien febris diharapkan mengalami penurunan.
C. Terapi Kompres Hangat
1. Definisi
Kompres hangat merupakan tindakan menurunkan suhu tubuh dengan
menggunakan kain atau handuk yang telah dicelupkan pada air hangat 40°c ,yang
15
ditempelkan pada bagian tubuh tertentu sehingga dapat memberikan rasa nyaman,
kompres tepid sponge bekerja dengan cara vasodilatasi (melebarnya) pembuluh
darah perifer di seluruh tubuh sehingga evaporasi panas dari kulit ke lingkungan
sekitar akan lebih cepat (Mawarti, 2019). Kompres dibedakan menjadi dua yaitu
kompres hangat dan dingin. Pemberian kompres hangat dapat dilakukan pada area
pembuluh darah besar, tujuan kompres hangat adalah memberikan rangsangan pada
hipotalamus untuk menurunkan suhu tubuh. Hipotalamus akan memberikan sinyal
hangat yang selanjutnya menuju hipotalamus untuk merangsang area preoptik
sehingga agar sistem efektor dapat dikeluarkan. Setelah system efektor
mengeluarkan sinyal, maka pengeluaran panas tubuh akan melakukan dilatasi
pembuluh darah perifer dan seseorang mengeluarkan keringat. ompres dingin dapat
menurunan suhu tubuh pada anak. Kompres dingin merangsang vasokonstriksi dan
shivering sehingga pembuluh darah menjadi lebar dan keadaansuhu tubuh menjadi
normal. Selain itu proses normalnya suhu tubuh karena pemberian kompres dingin
terjadi karena adanya penangkapan sinyal oleh hypothalamus melalui sumsum
tulang sehingga tubuh mencapai normal (Ida Rahmawati, 2020).
2. Manfaat Kompres
Pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan sinyal ke
hipotalamus melalui sumsum tulang belakang. Sistem efek mengeluarkan sinyal
untuk berkeringat dan vasodilatasi [Link] vasodilatasi ini menyebabkan
pembuangan energi atau panas melalui keringat karena seluruh tubuh dan kulit
dikompres atau dibilas dengan air. Kulit merupakan radiator panas yang efektif
untuk keseimbangan suhu tubuh, sehingga dengan membilas seluruh tubuh atau kulit
menyebabkan kulit mengeluarkan panas dengan cara berkeringat dengan suhu
16
tubuh yang awalnya meningkat menjadi turun bahkan sampai mencapai batas
normal. Manfaat Kompres Hangat Stimulasi kompres panas atau hangat dapat
menimbulkan respon fisiologis yang berbeda (Mawarti, 2019). Perbandingan
kompres hangat dengan kompres dingin padahasil penelitian menunjukan bahwa
kompres hangat lebih efektif untuk menurunkan suhu tubuh yaitu didapatkan rata-
rata 37,7 C lebih rendah dibandingkan dengan kompres dingin yaitu dengan
rata-rata 38,38 C. Hal ini dipengaruhi oleh cara pelepasan panas akibat kompres,
yaitu pada kompres hangat dapat menurunkan suhu tubuh anak demam karena tubuh
dapat melepaskan panas melalui evaporasi dan kompres dingin dapat menurunkan
panas melalui konduksi. Bahwa panas akan keluar dari tubuh melalui proses radiasi,
konduksi, konveksi, dan evaporasi. Pada kompres dingin secara umum tubuh akan
melepaskan panas melalui proses konduksi (perpindahan panas) (Ida Rahmawati,
2020).
Proses kehilangan panas dengan mekanisme konduksi terjadi dengan sangat
kecil, sedangkan pada kompres hangat akan terjadi evaporasi (penguapan air dari
kulit) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh akibat vasodilatasi. Evaporasi
akan menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilo kalori. Sedangkan
saat anak tidak berkeringat, maka evaporasi terjadi hanya sebesar 450-
600 ml. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan
12-16 kalori per jam. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kompres dingin kurang
efektif untuk menurunkan demam karena tidak adanya proses vasodilatasi, dan
produksi panas (Ida Rahmawati, 2020).
3. Langkah-langkah Kompres Hangat
Tindakan pada metode kompres hangat, pada Langkah awal, dengan
17
mengompres pada lima titik (leher, 2 ketiak, dan 2 pangkal paha). Kemudian
dilanjutkan dengan menyeka bagian perut dan dada, atau seluruh badan dengan air
hangat menggunakan kain atau handuk kecil. Basahi Kembali kain, Ketika sudah
kering. Kompres hangat bekerja dengan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh
darah perifer diseluruh tubuh ini menyebabkan evaporasi dan konduksi panas dari
kulit ke lingkungan sekitar akan lebih cepat. Kompres hangat dilakukan ketika anak
mengalami kenaikan suhu lebih dari 37,6. Kompres ini di berikan 2 kali dalam sehari
(Faridah dan Soesanto 2021).
4. Macam-Macam Kompres Untuk Menurunkan Suhu Tubuh Bila Anak
Mengalami Demam
Ada beberapa macam kompres yang bisa diberikan untuk menurunkan suhu
tubuh yaitu tepid water sponge dan kompres air hangat. Kompres air hangat dapat
menurunkan suhu tubuh melalui proses evaporasi. Dengan kompres air hangat
menyebabkan suhu tubuh diluar akan hangat sehingga tubuh akan
menginterpretasikan bahwa suhu diluar cukup panas, akhirnya tubuh akan
menurunkan control pengatur suhu di otak supaya tidak meningkatkan suhu
pengatur tubuh, dengan suhu di luar hangat akan membuat pembuluh darah tepi di
kulit melebar dan mengalami vasodiatasi sehingga pori-pori kulit akan membuka
dan mempermudah pengeluaran panas sehingga akan terjadi penurunan suhu tubuh
(Dewi, 2016).
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan Fadli tentang pengaruh
kompres hangat terhadap perubahan suhu tubuh pada pasien febris. Hasil penelitian
menunjukan bahwa adanya pengaruh kompres hangat terhadap perubahan suhu
tubuh pasien febris di ruangan instalasi gawat darurat puskesmas Tanru Tedong
Kabupaten Sidrap. Hasil penelitian ini dapat di pergunakan sebagai bahan masukan
18
bagi institusi kesehatan dan penanganan peningkatan suhu tubuh pada pasien febris
(Fadli, 2018).
5. Standar Operasional Prosedur (SOP) Pemberian Kompres Air Hangat
a. Definisi
Melakukan stimulus kulit dan jaringan untuk mengurangi nyeri,
meningkatkan kenyamanan dan mendapatkan efek terapeutik lainnya melalui
paparan hangat|\panas
b. Persiapan Alat
1) Sarungan tangan bersih
2) Alat kompres air hangat
3) Kain penutup kompres Air Hangat
c. Tahap Orientasi
1) Memperkenalkan diri
2) Menjelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan
3) Memberikan posisi yang nyaman pada pasien
4) Ciptakan lingkungan yang nyaman
d. Fase Kerja
1) Identifikasi pasien menggunakan minimal dua intensitas (nama lengkap,
tanggal lahir, dan nomor rekam medik)
2) Jelaskan tujuan dan langkah-langkah prosedur
3) Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
4) Pilih alat kompres yang nyaman dan mudah di dapatkan (seperti kemasan
gel begu, kain atau handuk)
5) Periksa suhu alat kompres ( Handuk dengan suhu alat kompres 40 C).
6) Iakukan kebersihan tangan 6 langkah
19
7) Pasang sarung tangan bersih
8) Pilih lokasi kompres
9) Balut alat kompres hangat dengan kain, jika perlu
10) Lakukan kompres hangat pada daerah yang sudah di pilih, ketiak,
belakang leher dan dahi.
11) Lakukan kompres hangat dengan waktu 10-15 menit
12) Hindari penggunaan kompres pada jaringan yang terpapar terapi radiasi
13) Rapikan pasien dan alat-alat yang di gunakan
14) Lepaskan sarung tangan
15) Lakukan kebersihan tangan 6 langkah
16) Dokumentasikan prosedur yang di lakukan dan respon keluarga pasien.
e. Tahap Terminasi
1) Melakukan evaluasi
2) Menyampaikan rencana tindak lanjut
3) Berpamitan
20