2.
1 Kambing Perah
Kebutuhan masyarakat akan protein hewani senantiasa mengalami peningkatan dengan
bertambahnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Ternak kambing menduduki peranan
penting dalam sistem usaha pertanian di Indonesia, hal ini didukung dari data populasi kambing
di Indonesia yang terus meningkat disetiap tahunnya. Populasi kambing di Jawa Tengah pada
tahun 2019 sebesar 4.084.301 ekor atau mengalami peningkatan sebesar 147.288 ekor
dibanding tahun 2018 (BPS, 2021). Bangsa kambing yang populer dikalangan petanipeternak di
Jawa Tengah adalah kambing Peranakan Etawah (PE). Populasi terbesar kambing PE di Jawa
Tengah salah satunya adalah di Kabupaten Purworejo yang terpusat di Kecamatan Kaligesing.
Data populasi kambing PE di Kecamatan Kaligesing yang dirilis oleh BPS Kabupaten
Purworejo, klaster pertanian pada tahun 2018 berjumlah 36.356 ekor. Kecamatan Kaligesing
merupakan salah satu wilayah yang memiliki jumlah populasi kambing PE terbanyak di
Provinsi Jawa Tengah. Kambing PE merupakan hasil persilangan antara kambing Etawah dari
India dengan kambing Kacang dengan 50% lebih tinggi kambing Etawah. Kambing PE cukup
potensial dikembangkan sebagai penyedia daging dan susu (Widodo et al., 2012). Kambing PE
yang disilangkan dengan kambing lokal mempunyai produktivitas dan beberapa sifat unggul
yaitu mudah beradaptasi dengan lingkungan tropis. Produktivitas merupakan kemampuan
ternak kambing untuk menghasilkan produksi dari tiap periode yang ditentukan, meliputi litter
size, bobot sapih, service per conception, umur pertama dikawinkan, kidding interval, periode
kosong (Budisatria et al., 2012; Murdjito et al., 2011; Nafiu et al., 2020).
2.2 Sapi perah
Sapi perah adalah jenis sapi yang dapat menghasilkan air susu melebihi dari kebutuhan
anaknya dan merupakan salah-satu dari ternak perah yang mampu merubah makanan menjadi air
susu yang sangat bermanfaat bagi anak-anaknya maupun bagi manusia. Sapi perah yang banyak
dipelihara adalah sapi jenis Fries Holland (FH), sedangkan di Indonesia lebih banyak ditemukan
sapi Peranakan Friesien Holstein ( PFH ), yang merupakan hasil persilangan antara sapi Friesien
Holstein ( FH ) dengan sapi lokal yang ada di Indonesia (Siregar, 1998). Dijelaskan lebih lanjut
bahwa sapi PFH ini mempunyai ciri-ciri fisik mirip sapi FH antara lain yaitu warna belang hitam
putih, tanduk pendek yang menjurus ke depan, pada dahi terdapat warna putih yang berbentuk
segitiga dan mempunyai sifat tenang dan jinak. Sapi PFH digolongkan sebagai ternak tipe
dwiguna, yaitu sebagai penghasil susu sekaligus sebagai penghasil daging dengan persentase
karkas dapat mencapai 59,3 % ( Suprayogi, 1989 ). Sapi PFH sangat menonjol karena banyaknya
jumlah produksi susu namun kadar lemaknya rendah, kapasitas perut besar sehingga mampu
menampung pakan banyak, mempunyai kemampuan yang tinggi dalam mengubah pakan
menjadi susu (Blakely dan Bade, 1994).
Sapi Jersey merupakan jenis sapi perah yang berasal sari Inggris bagian selatan
(Girisonta, 1995). Karakteristiknya yaitu memiliki warna coklat muda tatapi pada bagian badab
tertentu kadang-kadang ada warna putihnya, tanduk menjurus agak ke atas dengan ukuran
sedang, sifatnya kurang tenang, lebih mudah tergangu oleh perubahan disekitar, tahan terhadap
panas, bobot badan sapi jantan 625 kg betina 425 kg dengan produksi susu 2500 liter dalam satu
masa laktasi (Syarief dan Bagus, 2011).
2.3 Manajemen Pemeliharaan
Pemeliharaan sapi perah meliputi pemeliharaan sapi dara dan bunting, pemeliharaan sapi
laktasi, pemeliharaan sapi kering kandang dan pemeliharaan pedet (Blakely dan Bade, 1994).
Sapi memerlukan pemeliharaan badan, antara lain. a) daki, lapisan kulit paling atas adalah
lapisan kulit mati sehingga kulit akan mengeluarkan peluh yang bercampur bau hingga kulit
kotor oleh daki. b) kotoran, sapi akan membuang kotoran setiap waktu dan akan berbaring di
tempat tersebut maka kotoran harus dibersihkan. Perawatan kulit bisa dilakukan dengan jalan
memandikan dan menyikat kulit sapi tersebut setiap pagi jika ada bulu-bulu yang tebal dan
tumbuh di daerah ambing, kaki belakang serta lipatan paha belakang untuk menghindarkan
melekatnya kotoran yang tebal (Muldjana, 1985).
Manajemen pedet
Pedet yang baru lahir dikeringkan dengan cara membiarkan induk menjilati pedetnya
sehingga pedet tidak kedinginan apabila cuaca dalam keadaan dingin (Blakely dan Bade, 1994).
Pedet yang baru lahir perlu disiapkan kandang dengan memberi alas berupa jerami kering /
serbuk gergaji dengan tujuan pedet tidak terpeleset sehingga menimbulkan luka (Williamson
dan Payne, 1993). Masa lepas sapih berarti pedet sudah tidak mendapatkan susu lagi dari induk
sehingga untuk memenuhi kebutuhannya dibutuhkan pakan yang dapat menggantikan
kebutuhan akan susu tersebut (Muldjana, 1985).
Manajemen sapi dara
Sapi dara adalah sapi pada masa antara lepas sapih sampai laktasi pertama kali yaitu berkisar
antara umur 12 minggu sampai dengan 2 tahun (Ensminger, 1992). Pada masa lepas sapih,
berarti sapi sudah tidak mendapatkan susu lagi dari induk sehingga untuk memenuhi
kebutuhannya dibutuhkan pakan yang dapat menggantikan kebutuhan akan susu tersebut. Jadi,
pada perawatan sapi dara dan bunting lebih diutamakan pemberian pakan yang tepat yang
nantinya dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal (Siregar, 1998).
Manajemen sapi laktasi
Pakan diperlukan oleh sapi laktasi untuk kebutuhan hidup pokok dan produksi susu. Pakan
yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Konsentrat berpengaruh terhadap kadar berat
jenis susu dan produksi, sehingga semakin tinggi nilai konsentrat berat jenis susu akan tinggi,
sedangkan hijauan akan berpengaruh terhadap kualitas susu yang dihasilkan terutama lemak
yang dihasilkan (Soedono dan Sutardi, 2003). Permulaan laktasi, bobot badan akan mengalami
penurunan, karena sebagian dari zat-zat makanan yang dibutuhkan untuk pembentukan susu
diambil dari tubuh sapi. Pada saat itu juga sapi laktasi mengalami kesulitan untuk memenuhi
zat-zat makanan yang dibutuhkan sebab nafsu makannya rendah, oleh karena itu pemberian
ransum terutama konsentrat harus segera ditingkatkan begitu nafsu makannya membaik
(Siregar, 1998).
2.4 Manajemen pakan
Pakan sapi perah terdiri dari hijauan leguminosa dan rumput yang berkualitas baik serta
dengan konsentrat tinggi kualitas dan palatabel (Blakely dan Bade, 1994). Pemberian pakan
dimaksudkan agar sapi dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sekaligus untuk pertumbuhan dan
[Link] pakan hendaknya mencukupi kebutuhan dan harus efisien, sehingga tidak
menimbulkan kerugian (Djarijah, 1996).Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak
10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1-2% dari berat badan (Hartadi, et
al,. 1993). Kebutuhan BK ternak meningkat sesuai dengan bertambahnya produksi susu
(Williamsom dan Payne, 1993).
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan ransum sapi adalah a) makanan
cukup mengandung protein, karbohidrat dan lemak, b) perlu diperhatikan efek dari bahan
makanan ternak, c) ransum tersusun dari bahan makanan ternak (Lubis, 1963). Ransum ternak
besar (sapi) terdiri dari 60% hijauan dan 40% limbah pengolahan pangan (bekatul dan bungkil),
sedangkan pemberian pakan konsentrat hendaknya sebelum hijauan, bertujuan untuk merangsang
pertumbuhan mikrobia rumen (Reksohadiprojo, 1984). Untuk mendapatkan pakan sapi perah
yang berkoefisien cerna tinggi dan murah harganya, maka pakan yang diberikan 60% dari
hijauan dan 40% dari konsentrat (Soedono dan Sutardi, 2003).
Konsentrat adalah pakan ternak yang berasal dari biji-bijian atau hasil samping dari
pengolahan suatu produk, misalnya bungkil kacang, bungkil kedelai, bungkil kelapa, dedak padi,
dan lain-lain (Darmono, 1993). Bahan pakan konsentrat mengandung kadar serat kasar rendah
dan mudah dicerna, tersusun atas bijian dan limbah olahan hasil pertanian (Soedono dan Sutardi,
2003).
Campuran konsentrat terdiri dari bahan yang mengandung protein dan energi, dengan
kandungan protein bervariasi antara 12-18% protein kasar, yang paling umum dipakai 14-16%
berdasarkan bahan kering (Blakely dan Bade, 1994). Pemberian konsetrat adalah 1 kg untuk tiap
4 kg susu yang dihasilkan. Pemberian konsentrat hendaknya sebelum hijauan, karena untuk
merangsang mikroba [Link] sebaiknya diberikan sebelum pemerahan agar mikroba
dalam rumen dapat memanfaatkan karbohidrat sehingga dapat dicerna (Lubis, 1963).
Pemberian pakan kasar berupa hijauan dilakukan setelah pemerahan, agar tidak
mengganggu mutu air susu (Supardi, 1981). Hal ini dilakukan karena apabila pemberian hijauan
dilakukan pada pagi hari sebelum pemerahan bisa mengakibatkan terganggunya proses
pemerahan, karena proses pencernaan hijauan pada sapi berlangsung sangat lama. Hijauan
merupakan pakan utama sapi perah yang pada umumnya terdiri dari hijauan segar ataupun jenis
legum maupun rumput (Muldjana, 1985). Kebutuhan hijauan sapi perah sebesar 2,5 pound (1,1
kg) per 100 pound (45 kg) bobot badan. Apabila hijauan segar yang diberikan, maka jumlahnya
tiga kali lebih besar (Ensminger, 1992). Lebih lanjut dikatakan bahwa ketentuan jumlah pakan
tersebut didasarkan pada kapasitas sistem pencernaan.
Air penting artinya bagi tubuh, terutama untuk peredaran bahan dan sari makanan
keseluruh tubuh, air juga penting dalam proses pernafasan dan pengaturan panas tubuh
(Soelistiyono,1976). Konsumsi air minum sapi perah laktasi dipengaruhi oleh ukuran tubuh,
produksi susu yang dihasilkan, kelembaban udara dan kadar air pakan. Pemberian air minum
pada sapi perah dilakukan secara add libitum (Muldjana, 1985).
2.5 Manajemen pemerahan
Tujuan dari pemerahan adalah menjaga agar sapi tetap sehat dan ambing tidak rusak,
karena pelaksanaan pemerahan yang kurang baik, mudah sekali menimbulkan kerusakan pada
ambing dan putting karena infeksi mastitis yang sangat merugikan hasil susu. Dan ju ga untuk
mendapatkan susu yang maksimal dari ambing(Blakely dan Bade, 1994). Sistem pemerahan
pada sapi perah ada 2 macam yaitu pemerahan dengan mesin dan pemerahan dengan cara manual
(menggunakan tangan). Pemerahan dengan tangan terdapat 3 cara pemerahan yaitu “Whole
hand”, “Strippen”, dan “Knivelen” (Sindoeredjo, 1960).
Fase persiapan
Fase persiapan yang harus dilakukan antara lain sapi yang akan diperah harus dibersihkan
dari segala macam kotoran, tempat dan peralatan harus telah disediakan dan dalam keadaan
yang bersih ( Muljana ,1985). Peralatan yang harus disediakan adalah ember tempat pemerahan
susu, bangku kecil untuk pemerah, tali tambang pengikat kaki sapi perah, milk can untuk
penampung susu, saringan untuk menyaring susu dari kotoran dan bulu-bulu sapi. Selanjutnya
menenangkan sapi, mengikat ekornya dan mencuci ambing dengan air hangat serta melakukan
massage untuk merangsang keluarnya air susu. Sebelum pemerahan dimulai, pemerah harus
melakukan cuci tangan dengan bersih dan mengeringkannya. (Siregar, 1998). Pemerahan yang
baik dapat diatur antara 11-13 jam, 10-14 jam jika ada interval selain itu tidak dianjurkan
karena perbedaan yang terlalu besar akan berpengaruh buruk terhadap produksinya. Adanya
jarak pemerahan akan menyebabkan produksi susu di pagi hari lebih tinggi dibandingkan
dengan produksi susu di siang hari (Syarif dan Sumoprastowo, 1985).
Adnan (1984), menyatakan bahwa untuk menjaga agar kandungan bakteri dalam susu segar
dapat serendah mungkin, semua peralatan yang dipakai untuk penanganan air susu segar harus
diusahakan tetap bersih. (Sugeng, 1992) menambahkan bahwa langkah-langkah sebelum
melakukan pemerahan yaitu: a) cuci alat-alat dengan air pada suhu 50 derajat atau lebih; b)
pembersihan dikerjakan dengan deterjen alkali atau deterjen asam; c) kemudian alat-alat
tersebut dicuci lagi dengan air hangat untuk menghilangkan residu yang telah dapat dilepaskan
oleh deterjen.
Fase pemerahan
Pemerahan sapi dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pemerah atau dengan
tangan. Proses pemerahan yang baik, dilakukan dalam interval yang teratur, cepat, lembut,
pemerahan dilakukan sampai tuntas, dan menggunakan prosedur sanitasi, serta efisien dalam
penggunaan tenaga kerja (Prihadi, 1996). Menurut Muljana (1985), pemerahan manual (dengan
tangan) dilakukan dengan memegang pangkal puting susu antara ibu jari dan jari tengah,
kemudian kedua jari kita tekan pelan dan menariknya ke bawah hingga air susu keluar, dan cara
yang mempergunakan lima jari yaitu ibu jari diatas dan keempat jari lainnya memegang puting
dan menarik-nariknya dengan pelan hingga air susu dapat keluar dengan baik. Proses
pemerahan dengan mesin, menggunakan bentuk mesin yang menyerupai cakar (claw) dengan
empat mangkuk puting (teatcups) berbentuk tabung yang terbuat dari besi dan karet, tabung
vakum dan pulsator (Nugroho, 2008).Syarief dan Bagus (2011) menyatakan bahwa cara kerja
mesin perah berbeda dengan pemerahan dengan tangan atau penyedotan oleh pedet.
Pengeluaran susu melalui pengisapan oleh sistem vakum mesin, kemudian pulsator akan
mengatur mekanisme vakum dan tekanan yang terputus setiap detik. Perbandingan antara
waktu tabung membuka dan menutup disebut dengan rasio pulsation . Susu yang sudah keluar
dari puting akan disalurkan ke tempat penampungan yang disebut tabung/ ember susu. Susu
dari ember susu kemudian dipindahkan ke tangki utama melalui prinsip kerja mekanik pompa.
Di dalam tangki susu kemudian didinginkan untuk menghambat pertumbuhan bakteri.
Pasca pemerahan
Susu setelah diperah harus segera ditampung dan dibawa ke kamar susu. Penanganan susu
yang biasa dilakukan adalah penyaringan dan pendinginan. Penyaringan susu bertujuan untuk
mendapatkan susu yang terbebas dari kotoran. Selain penyaringan dan pendinginan, pengujian
kualitas susu juga dilakukan karena merupakan hal yang penting untuk mengetahui kualitas
susu yang dihasilkan (Siregar, 1998). Menurut Sinduredjo (1970) susu yang baik memiliki BJ
susu minimal 1,027 pada temperatur 27,6oC, dan kadar lemak berkisar 3%. Sesudah melakukan
pemerahan sebaiknya putting dicelupkan dalam larutan disinfektan untuk menghindari
terjadinya mastitis (Syarief dan Sumoprastowo, 1984).
2.6 Manajemen Perkandangan
Perkandangan yaitu komplek dari suatu sentra kegiatan ternak yang melindungi ternak
dari gangguan buruk yang merugikan ternak dan menunjang seluruh aktivitas ternak seperti
kandang, gudang pakan, tempat feses, kantor, mess dan kamar susu ( Girisonta, 1995). Kandang
adalah tempat tinggal sapi selama hidupnya selain itu juga sebagai tempat produksi, kawin dan
melahirkan. Tujuan pembuatan kandang tersebut adalah untuk melindungi ternak terhadap
gangguan dari luar yang merugikan, misalnya gangguan terik matahari, hujan dan angin yang
kencang (Djarijah, 1996). Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab dan
kandang dibersihkan setiap hari agar sapi senantiasa bersih dan bebas dari kotoran sehingga susu
yang diperoleh tidak rusak dan tercemar (Syarief dan Sumoprastowo, 1985).
Lokasi Kandang
Penentuan ataupun pemilihan lokasi kandang hendaknya memenuhi ketentuan-ketentuan
yaitu tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk ataupun bangunan-bangunan umum
seperti sekolah, rumah sakit, puskemas, masjid, dan sebagainya, tidak ada rasa keberatan dari
pihak masyarakat disekitar; pembuangan air limbah dan kotoran tersalur dengan baik dan
persediaan air cukup; letak areal kandang lebih tinggi sekitar 20-30 cm dari lahan sekitarnya;
masih memungkinkan untuk perluasan kandang (Siregar, 1998). Lokasi kandang sapi perah
yang bagus yaitu sekitar 1-2 kilometer dari permukiman penduduk atau tempat keramaian hal
ini bertujuan untuk menghindari bau yang tidak sedap yang membuat tidak nyaman, agar sapi
tidak stress sehingga produksi susu tetap bagus, diusahakan lokasi kandang dengan sumber air
dekat agar mudah dalam proses sanitasi, mandikan sapi dan lokasi kandang mudah dijangkau
sehingga dalam proses pengiriman susudan pakan tidak mengalami hambatan (Girisonta,
1995). Suhu yang optimal untuk pemeliharaan sapi PFH adalah 10 – 27oC (Abidin, 2002).
Kontruksi Kandang
Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang utama
yaitu konstruksi kandang yang meliputi ukuran, bahan-bahan yang digunakan dan
perlengkapan kandang (Untung, 1996). Bangunan kandang harus memberikan jaminan hidup
yang sehat, nyaman dan tidak menimbulkan kesulitan dalam meakukan aktivitas ternak
sehingga kontruksi kandang harus kokoh, tidak membahayakan sapi atau [Link]
yang biasa digunakan untuk tempat, tempat minum, penampungan limbah terbuat dari
bangunan permanen dari semen dan jika yang tidak permanen terbuat dari kayu atau
plastik. Atap kandang bisa dibuat dari genteng, seng, asbes, daun kelapa ataupun dari bahan
lain. Tinggi atap dari genting 4,5 m untuk dataran rendah dan menengah dan 4 m untuk dataran
tinggi. Tinggi plafon teras berkisar antara 1,75–2,20 m, lebar teras sekitar 1 m (Siregar, 1998).
Bahan-bahan yang bisa digunakan sebagai dinding adalah anyaman bambu, papan atau bata,
ketinggian dinding sebaiknya diperhatikan, yaitu harus setinggi atau lebih tinggi dari tubuh
ternak sapi (kurang lebih 2 m), karena berhubungan dengan pengaturan ventilasi dan masuknya
sinar matahari sehingga tidak terhalang oleh dinding, tinggi kandang dari lantai sekitar 125-150
cm (Syarief dan Sumoprastowo, 1984). Lantai kandang sebaiknya dibuat dari bahan yang
cukup keras dan tidak licin untuk dapat menjaga kebersihan dan kesehatan kandang. Tempat
pakan dibuat memanjang sepanjang kandang dan diusahakan sapi dapat mengambil pakan yang
disediakan. Tempat minum porsi yang cukup untuk ternak dan bisa dibuat disebelah pakan,
namun juga harus diperhatikan cara pergantiannya agar terhindar dari kontaminasi pakan yang
tercecer oleh ternak (Darmono, 1993).
Tipe Kandang
Kandang sapi perah dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu: kandang tipe tunggal
merupakan tipe kandang yang memiliki bentuk atap tunggal atau berdiri satu baris kandang
dengan demikian sapi yang ditempatkan dikandang ini mengikuti bentuk atap yang hanya satu
baris dan kandang tipe ganda merupakan kandang yang memiliki bentuk atap kanda atau dua
baris yang saling berhadpan sehingga sapi yang berada dalam kandang ini berdiri dua baris
dengan posisi saling berhadapan atau dengan saling bertolak belakang (Girisonta, 1995).
Sanitasi dan Penanganan Limbah
Penyakit pada sapi perah akan dapat menimbulkan kerugian ekonomis yang tidak
sedikit yaitu terlambatnya pertumbuhan sapi muda dan kematian (Siregar, 1998). Beberapa hal
yang perlu dilakukan untuk pencegahan penyakit antara lain karantina ternak yang sakit,
vaksinasi, penjagaan kebersihan kandang dan peralatan, drainase yang lancar serta lantai yang
tidak dingin dan tidak lembab (Soedono dan Sutardi, 2003).
Usaha pemeliharaan kesehatan dilakukan melalui kebersihan kandang, kebersihan
ternak, peralatan dan petugas kandang. Gerak badan atau exercisediperlukan oleh sapi kering
kandang setiap hari selama 1-2 jam di lapangan untuk mendapatkan sinar matahari. Program
kesehatan dalam peternakan sapi perah harus dijalankan secara teratur, terutama di wilayah
yang sering terjadi penyakit menular, seperti TBC, brucellosis, penyakit mulut dan kuku, dan
radang [Link] yang tidak baik dapat menyebabkan kematian pada anak sapi,
terutama yang baru berumur 2 – 3 minggu (Sudono dan Sutardi, 2003). Kandang yang baik
harus memiliki saluran pembuangan limbah atau feses [Link] pembuangan limbah yang
ideal adalah dengan lebar 30 cm, yang berfungsi untuk mengalirkan kotoran sapi ke saluran
biogas (bila di peternakan terdapat instalasi biogas) atau ke saluran penampungan kotoran
untuk dijual sebagai pupuk kandang (Syarief dan Bagus, 2011).
2.7 Manajemen Perkawinan
Perkawinan merupakan cara perkembangbiakan dengan cara dikawinkan, baik secara
alami maupun buatan. Perkawinan secara buatan dilakukan dengan bantuan IB (Inseminasi
Buatan). Proses perkawinan akan berhasil jika didukung oleh tiga hal yaitu pakan, kondisi sapi,
lingkungan. Perkawinan secara buatan atau IB maka yang berpengaruh untuk keberhasilan
proses perkawinan yaitu inseminator, sperma, pakan dan kondisi ternak diusahakan dalam
kondisi benar-benar dalam kondisi berahi (Girisonta, 1995). Perkawinan yang tepat bagi sapi
yang sedang berahi dilakukan pada masa-masa subur. Masa subur yang dialami sapi perah
berlangsung selama 15 jam, masa subur ini dicapai 9 jam sesudah tanda-tanda berahi terlihat dan
6 jam sesudah berahi itu berakhir. Ovulasi terjadi 10-12 jam sesudah berahi terakhir. Perkawinan
kembali setelah melahirkan yaitu dilakukan setelah 60-90 hari harus dilakukan perkawinan
kembali karena jika terlalu lama maka perkawinan berikutnya lama dan jarak kelahiran
berikutnya terlalu panjang (Ensminger, 1992).