Praktikum Crushing di Teknik Pertambangan
Praktikum Crushing di Teknik Pertambangan
CRUSHING
SASA PRIMADINA
09320220378
MAKASSAR
2024
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING
BAB I
PENDAHULUAN
1.2.1 Maksud
Maksud dari praktikum ini adalah praktikan dapat mengenal, mengetahui dan
menguasai ilmu tentang pengolahan bahan galian yang menjadi salah satu aplikasi
dasar dalam dunia pertambangan.
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dilakukan praktikum ini, yaitu agar:
1. Memahami mekanisme peremukan dan cara kerja alat remuk
2. Mengetahui distribusi ukuran butir sampel dari proses crushing.
1.3.1 Alat
a. Jaw crusher;
b. Double Roll crusher;
c. Sieve shaker;
d. Timbangan;
e. Perlengkapan Safety (Masker, Kacamata Safety, Helm, dan Kaos tangan);
f. Kuas
g. Mistar
h. Talang
i. Lap Kain;
j. Jas Laboratorium;
k. Alat Tulis Menulis.
1.3.2 Bahan
a. Sampel Batubara;
b. Tabel Data Pengamatan;
c. Kantong Sampel.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kominusi atau pengecilan ukuran bijih atau feed merupakan tahap paling awal
dari proses pengolahan mineral. Tahap ini diperlukan selain untuk mereduksi ukuran
tentunya, juga untuk meningkatkan liberasi dari mineral berharga yang akan diambil.
Artinya, semakin kecil ukuran bijih maka semakin besar juga kemungkinan mineral
berharga untuk terbebas dari mineral-mineral pengotor. Proses pengolahan bahan
galian pada proses awal bertujuan untuk membebaskan atau meliberasi (to liberate)
mineral berharga dari material pengotornya, menghasilkan ukuran dan bentuk partikel
yang sesuai dengan kebutuhan pada proses berikutnya serta memperluas permukaan
partikel agar dapat mempercepat kontak dengan zat lain, misalnya reagen flotasi.
Kominusi ada 2 (dua) macam, yaitu:
1. Peremukan atau pemecahan (crushing)
2. Penggerusan atau penghalusan (grinding)
Disamping itu kominusi, baik peremukan maupun penggerusan, bisa terdiri dari
beberapa tahap, yaitu:
1. Tahap pertama atau primer (primary stage)
2. Tahap kedua atau sekunder (secondary stage)
3. Tahap ketiga atau tersier (tertiary stage)
4. Kadang-kadang ada tahap keempat atau kwarter (quaternary stage)
2.1.1. Peremukan atau Pemecahan (Crushing)
Peremukan adalah proses reduksi ukuran dari bahan galian/bijih yang langsung
dari tambang (ROM = Run Of Mine) dan berukuran besar-besar (diameter sekitar 100
cm) menjadi ukuran 20-25 cm bahkan bisa sampai ukuran 2,5 cm. Peralatan yang
dipakai antara lain adalah:
1. Jaw crusher
2. Gyratory crusher
3. Cone crusher
4. Roll crusher
5. Impact crusher
6. Rotary breaker
7. Hammer mill
2.1.2 Penggerusan atau Penghalusan (Grinding)
Penggerusan adalah proses lanjutan pengecilan ukuran dari yang sudah
berukuran 2,5 cm menjadi ukuran yang lebih halus. Pada proses penggerusan
dibutuhkan media penggerusan yang antara lain terdiri dari:
1. Bola-bola baja atau keramik (steel or ceramic balls).
2. Batang-batang baja (steel rods).
3. Campuran bola-bola baja dan bahan galian atau bijihnya sendiri yang disebut
semi autagenous mill.
4. Tanpa media penggerus, hanya bahan galian atau bijihnya yang saling
menggerus dan disebut autogenous mill.
Peralatan penggerusan yang dipergunakan adalah:
1. Ball mill dengan media penggerus berupa bola-bola baja atau keramik.
2. Rod mill dengan media penggerus berupa batang-batang baja.
3. Semi Autogenous Mill (SAG) bila media penggerusnya sebagian adalah bahan
galian atau bijihnya sendiri.
4. Autogenous mill bila media penggerusnya adalah bahan galian atau bijihnya
sendiri.
Pemisahan berdasarkan ukuran setelah bahan galian atau bijih diremuk dan
digerus, maka akan diperoleh bermacam-macam ukuran partikel. Proses
penyeragaman ukuran partikel dengan cara memisahkan menjadi beberapa fraksi
dengan menggunakan proses pengayakan atau classifier pengayakan/penyaringan
(screening atau sieving).
Setelah bahan galian atau bijih diremuk dan digerus, maka akan diperoleh
bermacam-macam ukuran partikel. Proses penyeragaman ukuran partikel dengan cara
memisahkan menjadi beberapa fraksi dengan menggunakan proses pengayakan atau
classifier pengayakan/penyaringan (screening atau sieving).
Pengayakan atau penyaringan adalah proses pemisahan secara mekanik
berdasarkan perbedaan ukuran partikel. Pengayakan (screening) dipakai dalam skala
industri, sedangkan penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium.
Proses pengayakan juga digunakan sebagai alat pembersih, pemisah kontaminan yang
ukurannya berbeda dengan bahan baku. Pengayakan memudahkan kita untuk
mendapatkan pasir dengan ukuran yang seragam (Anhar, M. Z., 2016).
Produk dari proses pengayakan/penyaringan ada 2 (dua), yaitu:
1. Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).
2. Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan (undersize).
Saringan (sieve) yang sering dipakai di laboratorium adalah:
a. Hand sieve
b. Vibrating sieve series/Tyler vibrating sive
c. Sieve shaker/Rotap
d. Wet and dry sieving
Sedangkan ayakan (screen) yang berskala industri antara lain:
a. Stationary grizzly
b. Roll grizzly
c. Sieve bend
d. Revolving screen
e. Vibrating screen (single deck, double deck, triple deck, etc.)
f. Shaking screen
g. Rotary shifter
2.2.1 Klasifikasi (Classification)
Klasifikasi adalah proses pemisahan partikel berdasarkan kecepatan
pengendapannya dalam suatu media (udara atau air). Klasifikasi dilakukan dalam
suatu alat yang disebut classifier.
Produk dari proses klasifikasi ada 2 (dua), yaitu :
1. Produk yang berukuran kecil/halus (slimes) mengalir di bagian atas disebut
overflow.
2. Produk yang berukuran lebih besar/kasar (sand) mengendap di bagian bawah
(dasar) disebut underflow.
Proses pemisahan dalam classifier dapat terjadi dalam tiga cara (concept):
a. Partition concept
b. Tapping concept
c. Rein concept
Hal ini dapat berlangsung apabila sejumlah partikel dengan bermacam-macam
ukuran jatuh bebas di dalam suatu media atau fluida (udara atau air), maka setiap
partikel akan menerima gaya berat dan gaya gesek dari media. Pada saat kecepatan
gerak partikel menjadi rendah (tenang atau laminer), ukuran partikel yang besar-besar
mengendap lebih dahulu, kemudian diikuti oleh ukuran-ukuran yang lebih kecil,
sedang yang terhalus (antara lain slimes) akan tidak sempat mengendap.
Bijih yang remuk secara leluasa akan bebas turun di antara dua kompresi. Pada
jaw crusher, peremukan bijih hanya terjadi oleh alat, yaitu saat jaw bergerak memberi
tekanan. Mekanisme peremukan ini disebut arrested crushing. ukuran produk
dinyatakan dengan P80. Arti notasi P adalah untuk produk dan 80 menyatakan delapan
puluh persen dari berat produk berukuran lebih kecil dari ukuran P80. Misal P80 =
92,0 mm, artinya delapan puluh persen berat dari produk jaw crusher berukuran
kurang dari 92,0 mm.
Bagian-bagian dari jaw crusher:
1. Gape jarak horizontal pada mouth (lubang penerimaan).
2. Fix jaw bagian alat yang tidak bergerak sebagai pemberi gaya penahan pada
material umpan.
3. Moving jaw merupakan bagian dari alat yang dapat bergerak berfungsi sebagai
pemberi gaya tekan pada material.
4. Toggle merupakan dari alat peremuk yang berfungsi sebagai pengubah gerakan
naik turun menjadi gerakan horizontal.
5. Setting jaw merupakan dari alat yang digunakan untuk mengatur closed setting
6. Pitman merupakan bagian dari alat peremuk yang berfungsi untuk mengubah
gerakan berputar dari encentric rotation menjadi gerakan naik turun.
7. Throat merupakan bagian paling bawah dari alat peremuk yang berfungsi
sebagai lubang pengeluaran hasil peremukan
2.3.2 Gyratory crusher
Mekanisme dari gyratory crusher adalah full time crushing, yang berarti akan
melakukan peremukan material selama proses itu berlangsung, dengan metode
menghancurkan secara berputar. Konsep kerjanya yakni, dua bagian peremuk berada
di bagian atas dan bawah, dengan bentuk wadah mengerucut ke bawah. Nantinya
kedua peremuk itu akan berputar semakin mendekat, sehingga material akan tergerus
secara berkala hingga kemudian menjadi ukuran lebih kecil melalui mulut di bagian
bawah.
2.3.3 Double roll crusher
Double roll crusher adalah produk alat preparasi pertambangan yang berfungsi
untuk menghancurkan batuan atau sampel material seperti mineral, nikel dan batuan
tambang lainnya agar bisa menjadi serpihan yang halus dan dapat diatur sedemikian
rupa ketebalan serpihan tersebut melalui alat double roll crusher. Double roll crusher
adalah mesin untuk memudahkan dan mempercepat pengerjaan pemecahan.
diketahui bahwa double roll crusher sangat bermanfaat untuk kebutuhan analisis
sampel bahan tambang.
3. Rantai (chain), rantai ini terpasang pada sisi kanan dan kiri apron feeder, yang
berfungsi untuk memnggerakkan apron feeder, dalam membawa material/ tanah
liat menuju roller press.
4. Belt stacker, merupakan alat jenis belt conveyor yang digunakan untuk membagi
tanah liat hasil reduksi ke storage 1 dan storage 2.
5. Gudang penyimpanan (storage) tempat penyimpanan material dirasa sangat
perlu dimiliki oleh perusahaan sebagai upaya menjaga kesetabilan kesediaan
bahan baku, ada tiga tempat penyimpanan material tanah liat. Yang pertama clay
storage terletak + 200 meter dari hopper roller crusher, memiliki kapasitas +
5000 ton, di isi oleh material yang memiliki ukuran butiran 0,3 mm – 80 mm
dengan kandungan air + 20%. Yang kedua stock pile 1 tanah liat dengan
kapasitas 6.000 ton. Dan yang ketiga adalah stock pile 2 tanah liat dengan
kapasitas 5.500 ton.
Double roll crusher adalah produk alat preparasi pertambangan yang berfungsi
untuk menghancurkan batuan atau sampel material seperti mineral, nikel dan batuan
tambang lainnya agar bisa menjadi serpihan yang halus dan dapat diatur sedemikian
rupa ketebalan serpihan tersebut melalui alat double roll crusher, seperti yang telah
diketahui bahwa double roll crusher sangat bermanfaat untuk kebutuhan analisis
sampel bahan tambang, dengan demikian ketika material sampel yang didapat dari
lahan pertambangan merupakan batuan tambang yang masih bersifat kasar layaknya
seperti batuan, untuk menghancurkan alat tersebut kita bisa menggunakan double roll
crusher. Double Roll crusher bisa menangani umpan-umpan yang relatif besar,
sebagai contohnya 14 inch , maksimum 24 inch.
Double Roll crusher memiliki dua buah logam berat yang memiliki permukaan
licin, biasanya hanya satu dari beberapa roll yang diugerakkan dan satu spring
dipasang untuk mencegah kerusakan akibat material yang keras dan tidak bisa
dihancurkan dalam umpan. Mesin ini merupakan pemecah sekunder yang
menghasilkan produk dengan ukuran kira-kira 20 mesh. Ukuran umpan maksimum
yang dapat dijepit oleh roll sangat bergantung pada koefisien gesek antar partikel dan
permukaan roll. Set rolls dalam rangkaian dengan posisi menurun digunakan untuk
mencapai rasio pengurangan yang tinggi secara keseluruhan. Mesin Double roller
crusher terdiri dari dua rol yang berputar dipasang secara paralel di dalam rangka.
2.3.4 Dodge crusher
Crusher tipe ini memiliki lempengan jaw yang menjadi pivot atau titik engsel
pada bagian bawahnya. Sementara bagian atasnya akan bergerak secara maju mundur.
Karena titik pivotnya berada di bagian atas mesin, maka akan memberikan celah untuk
memungkinkan material keluar dengan ukuran yang konstan. Untuk
pengoperasiannya, dibutuhkan bijih material lebih kecil dari mulut lempengan jaw.
Namun karena jaw bagian atau bergerak, maka gape atau mulut jaw menjadi
variatif. Saat bergerak maju, maka gape menjadi minimum. Sebaliknya ketika jaw
bergerak mundur, gape menjadi maksimum. Kondisi ini mensyaratkan bahwa ukuran
bijih yang masuk sebagai umpan harus benar-benar lebih kecil dari g ape saat posisi
minimum.
pemakaian mesin maupun alat- alat mekanis dalam bentuk getaran mekanis. Getaran
mekanis dapat dirasakan pada seluruh tubuh dengan range frekuensi yang besar, yaitu
antara 0,1–10.000 Hz.
Selain getaran suara kebising pada mesin dapat menyebabkan lingkunggan tidak
nyaman, pada operator dan mengganggu pendengaran mulai dari tuli sementara,
sampai tuli yang bersifat menetap. Kerusakan pada pendengaran tidak cuma
bergantung pada tingkatnya tapi juga terhadap lama paparan suara bising yang
menyebabkan gangguan konsentrasi, gangguan dalam berbicara, serta gangguan
psikologis yang lain (stress, lelah, emosional) (Laura Anastasi Seseragi Lapono,
2018).
Agar bahan galian yang mutu atau kadarnya rendah (marginal) dapat diolah
lebih lanjut, yaitu diambil (diekstrak) logamnya, maka kadar bahan galian itu harus
ditingkatkan dengan proses konsentrasi. Sifat-sifat fisik mineral yang dapat
dimanfaatkan dalam proses konsentrasi adalah:
1. Perbedaan berat jenis atau kerapatan untuk proses konsentrasi gravitasi dan
media berat.
2. Perbedaan sifat kelistrikan untuk proses konsentrasi elektrostatik.
3. Perbedaan sifat kemagnetan untuk proses konsentrasi magnetik.
4. Perbedaan sifat permukaan partikel untuk proses flotasi.
Proses peningkatan kadar itu ada bermacam-macam, antara lain:
2.4.1 Pemilahan (Sorting)
Bila ukuran bongkahnya cukup besar, maka pemisahan dilakukan dengan tangan
(manual), artinya yang terlihat bukan mineral berharga dipisahkan untuk dibuang.
2.4.2 Konsentrasi Gravitasi (Gravity Concentration)
Konsentrasi Gravitasi yaitu pemisahan mineral berdasarkan perbedaan berat
jenis dalam suatu media fluida, jadi sebenarnya juga memanfaatkan perbedaan
kecepatan pengendapan mineral-mineral yang ada.
Ada 3 (tiga) cara pemisahan secara gravitasi bila dilihat dari segi gerakan
fluidanya, yaitu:
1. Fluida tenang, contoh Dense Medium Separation (DMS) atau Heavy Medium
Separation (HMS).
2. Aliran fluida horizontal, contoh sluice box, shaking table dan spiral
concentration.
3. Aliran fluida vertikal, contoh jengkek (jig).
Produk dari proses konsentrasi gravitasi ada 3 (tiga), yaitu:
1. Konsentrat (concentrate) yang terdiri dari kumpulan mineral berharga dengan
kadar tinggi.
2. Amang (Middling) yaitu konsentrat yang masih kotor.
3. Ampas (Tailing) yang terdiri dari mineral-mineral pengotor yang harus
dibuang.
2.4.5 Konsentrasi dengan Media Berat (Dense/Heavy Medium Separation)
Konsentrasi dengan Media merupakan proses konsentrasi yang bertujuan untuk
memisahkan mineral- mineral berharga yang lebih berat dari pengotornya yang terdiri
BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN
5. Masukkan umpan sedikit demi sedikit pada mulut jaw crusher, kemudian
konsentratnya akan keluar melalui bagian bawah alat jaw crusher.
3. Kemudian jalankan alat Double roll crusher lalu masukkan umpan sedikit
demi sedikit kedalam alat Double roll crusher.
5. Setelah itu timbang dan catat berat tertahan pada masing-masing ukuran ayakan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
% Berat % Berat
Fraksi Berat %
Ukuran Tertahan Lolos
(Mm) Tertahan Fraksi
Kumulatif Kumulatif
% Berat % Berat
Fraksi Berat %
Ukuran Tertahan Lolos
(Mm) Tertahan Fraksi
Kumulatif Kumulatif
4 4,76 578% 53,97% 53,97% 46%
8 2,38 278,5% 10,93% 64,9% 35,07%
10 1,68 124,29% 8,65% 73,55% 26,42%
14 1,19 124,5% 8,63% 85,18% 17,79%
20 0,84 123,71% 8,58% 90,76% 9,21%
-20 0 132,84% 9,21% 99,97% 0
Total 10.550,84 1.383,09% 99,97% 587,2% 134,49%
50
44.58
40
30
23.75 23.75
20
13.14
10
2.38 4.76
0 0 0.84 1.19 1.68
1 2 3 4 5 6
-10
Fraksi (mm)
40
35.07
30
26.42
20
17.79
10 9.21
4.76
0 0.84 1.19 1.68 2.38
0
1 2 3 4 5 6 7
-10
Fraksi (mm)
50
40 38.04
30 27.98
20 18.79
10 9.93
2.38 4.76
0 0 0.84 1.19 1.68
1 2 3 4 5 6
-10
Fraksi (mm)
= 7,83 mm
2. Pengolahan Data P80 Jaw Crusher 1 cm
Y = 11,229x – 11,809
P80 = 11,229x – 11,809
11,229x = 80 + 11,809
68,191
X = 11,229
= 6,07 mm
4.1.4 Pengolahan Data P80 Roll Crusher 2 cm dan 1 cm
= 7,83 mm
2. Pengolahan Data P80 Roll Crusher 1 cm
Y = 10,983x – 12,955
P80 = 10,983x – 12,955
10,983x = 80 + 12,955
= 6,10 mm
4.1.5 Pengolahan Data RR80 Duble Roll Crusher 2 cm dan 1 cm
1. Pengolahan Data RR80 Duble Roll Crusher 2 cm
RR80 = P80 JC / P80 RC
7,83
RR80 = 7,83
= 1 mm
2. Pengolahan Data RR80 Double Roll Crusher 1,
RR80 = P80 JC / P80 RC
6,07
RR80 = 6.10
= 0,99 mm
4.1.6 Pengolahan Data Berat Hilang Jaw Crusher 2 cm dan 1 cm
1. Pengolahan Data Berat Hilang Jaw Crusher 2 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
1.468-1.446,87
Berat Hilang = 𝑥 100%
1.468
= 1,36 %
2. Pengolahan Data Berat Hilang Jaw Crusher 1 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
1.468-1.436,76
Berat Hilang = 𝑥 100%
1.468
= 1,37 %
4.1.7 Pengolahan Data Berat Hilang Double Jaw Crusher 2 cm dan 1 cm
1. Pengolahan Data Berat Hilang Double Roll Crusher 2 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
1.468-1.441,45
Berat Hilang = 1.468
𝑥 100%
= 1,36 %
2. Pengolahan Data Berat Hilang Roll Crusher 1 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
1.468-1.383,09
Berat Hilang = 𝑥 100%
1.468
= 5,78 %
4.3 Pembahasan
Pada data Jaw Crusher gape 2 cm didapatkan hasil pada mesh (+4) didpatkan
% fraksi yaitu 53,77%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 53,77%, %Berat lolos
kumulatif 46,21%. Pada mesh (-4/+8) didpatkan % fraksi yaitu 10,37%, %Berat
tertahan kumulatif yaitu 64,14%, %Berat lolos kumulatif 35,84%. Pada mesh (-8/+10)
didpatkan % fraksi yaitu 8,49%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 72,63%, %Berat
lolos kumulatif 27,35%. Pada mesh (-10/+14%) didpatkan % fraksi yaitu 8,86%,
%Berat tertahan kumulatif yaitu 81,49%, %Berat lolos kumulatif 18,49%. Pada mesh
(-14/+20) didpatkan % fraksi yaitu 9,85%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 99,98%,
%Berat lolos kumulatif 0. Adapun mesh (-20) yaitu didpatkan hasil % fraksi yaitu
9,85%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 99,98%, %Berat lolos kumulatif 0. Dari data
Jaw Crusher 2 cm yang telah didapatkan dan telah dihitung dihasilkan nilai total
%fraksi yaitu sebesar 99,98%, nilai total %berat tertahan kumulatof 462,14% dan nilai
total % berat lolos kumulatif yaitu sebesar 137,74%.
Pada data Jaw Crusher gape 1 cm didapatkan hasil pada mesh (+4) didpatkan
% fraksi yaitu 40,22%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 40,22%, %Berat lolos
kumulatif 59,74%. Pada mesh (-4/+8) didpatkan % fraksi yaitu 15,16%, %Berat
tertahan kumulatif yaitu 55,38%, %Berat lolos kumulatif 44,58%. Pada mesh (-8/+10)
didpatkan % fraksi yaitu 10,41%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 65,79%, %Berat
lolos kumulatif 23,75%. Pada mesh (-10/+14%) didpatkan % fraksi yaitu 10,61%,
%Berat tertahan kumulatif yaitu 86,82%, %Berat lolos kumulatif 13,14%. Pada mesh
(-14/+20) didpatkan % fraksi yaitu 13,14%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 99,96%,
%Berat lolos kumulatif 0. Adapun mesh (-20) yaitu didpatkan hasil % fraksi yaitu
13,145%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 99,96%, %Berat lolos kumulatif 0. Dari
data Jaw Crusher 1 cm yang telah didapatkan dan telah dihitung dihasilkan nilai total
%fraksi yaitu sebesar 99,96%, nilai total %berat tertahan kumulatof 414,38% dan nilai
total % berat lolos kumulatif yaitu sebesar 164,96%.
Pada data Double Roll Crusher gape 2 cm didapatkan hasil pada mesh (+4)
didpatkan % fraksi yaitu 53,97%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 53,97%, %Berat
lolos kumulatif 46%. Pada mesh (-4/+8) didpatkan % fraksi yaitu 10,93%, %Berat
tertahan kumulatif yaitu 64,9%, %Berat lolos kumulatif 35,07%. Pada mesh (-8/+10)
didpatkan % fraksi yaitu 8,65%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 73,55%, %Berat
lolos kumulatif 26,42%. Pada mesh (-10/+14%) didpatkan % fraksi yaitu 8,63%,
%Berat tertahan kumulatif yaitu 85,18%, %Berat lolos kumulatif 17,79%. Pada mesh
(-14/+20) didpatkan % fraksi yaitu 8,58%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 90,76%,
%Berat lolos kumulatif 0 .Adapun mesh (-20) yaitu didpatkan hasil % fraksi yaitu
9,21%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 99,97%, %Berat lolos kumulatif 0. Dari data
Double Roll Crusher 2 cm yang telah didapatkan dan telah dihitung dihasilkan nilai
total %fraksi yaitu sebesar 99,97%, nilai total %berat tertahan kumulatof 578,2% dan
nilai total % berat lolos kumulatif yaitu sebesar 134,49%.
Pada data Double Roll Crusher gape 1 cm didapatkan hasil pada mesh (+4)
didpatkan % fraksi yaitu 41,79%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 41,79%, %Berat
lolos kumulatif 58,18%. Pada mesh (-4/+8) didpatkan % fraksi yaitu 20,14%, %Berat
tertahan kumulatif yaitu 61,93%, %Berat lolos kumulatif 38,04%. Pada mesh (-8/+10)
didpatkan % fraksi yaitu 10,06%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 71,99%, %Berat
lolos kumulatif 27,98%. Pada mesh (-10/+14%) didpatkan % fraksi yaitu 9,19%,
%Berat tertahan kumulatif yaitu 81,8%, %Berat lolos kumulatif 18,79%. Pada mesh
(-14/+20) didpatkan % fraksi yaitu 8,86%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 90,04%,
%Berat lolos kumulatif 0%. Adapun mesh (-20) yaitu didpatkan hasil % fraksi yaitu
9,93%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 99,93%, %Berat lolos kumulatif 0. Dari data
Double Roll Crusher 1 cm yang telah didapatkan dan telah dihitung dihasilkan nilai
total %fraksi yaitu sebesar 99,97%, nilai total %berat tertahan kumulatof 446,9% dan
nilai total % berat lolos kumulatif yaitu sebesar 152,92%.
Kemudian di ketahui nilai p80 dari Jaw Crusher 2 cm yaitu 7,83 mm, nilai
p80 dari Jaw Crusher 1 cm yaitu 6,07 mm. lalu nilai data dari Double Roll Crusher
2cm yaitu 7,83 mm, nilai p80 dari Double Roll Crusher 1 cm yaitu 6,10 mm.
Kemudian nilai RR80 pada Double Roll Crusher 2 cm yaitu 1 mm, nilai RR80 pada
Double Roll Crusher 1 cm yaitu 0,99 mm. dan juga didapatkan nilai pada
pengolahan berat hilang Jaw Crusher 2 cm yaitu 1,36 mm. Pada pengolahan berat
hilang Jaw Crusher 1 cm didapatkan nilai yaitu 1,37 mm. Berat hilang Double Roll
Crusher 2 cm didapatkan nilai yaitu 1,36 mm, berat hilang pada Double Roll
Crusher 1 cm didapatkan nilai yaitu 5,78 mm.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA