0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan39 halaman

Praktikum Crushing di Teknik Pertambangan

Diunggah oleh

jb5zdvw8nr
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan39 halaman

Praktikum Crushing di Teknik Pertambangan

Diunggah oleh

jb5zdvw8nr
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

CRUSHING

SASA PRIMADINA
09320220378

LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN


PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR
2024
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertambangan merupakan salah satu jenis kegiatan yang melakukan ekstraksi


mineral dan bahan tambang lainnya dari dalam bumi atau pertambangan biji-biji dan
mineral-mineral dalam tanah. Hukum pertambangan yaitu hukum yang mengatur
tentang penggali. Pertambangan salah satu jenis kegiatan yang melakukan ekstraksi
mineral dan bahan tambang lainnya dari dalam bumi kegiatan mengeluarkan sumber
daya alam dari dalam bumi. Penambangan yaitu proses pengambilan material yang
dapat diektraksi dari dalam bumi, tambang yaitu tempat terjadinya kegiatan
penambangan. (Abadi, M. R., Winarno, E. 2020).
Jaw Crusher merupakan suatu mesin atau alat yang banyak digunakan dalam
industri dibidang pertambangan, bahan bangunan, kimia, metalurgi dan sebagainya.
Sangat cocok untuk penghancuran primer dan sekunder dari semua jenis mineral dan
batuan dengan kekuatan tekan sekitar 320 MPa, seperti bijih besi, bijih tembaga, bijih
emas, bijih mangan, batu kali, kerikil, granit, basalt, kuarsa, diabas , dan bahan galian
lainnya. Jaw crusher mempunyai keunggulan struktur sederhana, kinerja stabil,
perawatan mudah, menghasilkan partikel akhir dan rasio penghancuran tinggi. Jadi
jaw crusher merupakan salah satu mesin penghancuran paling penting dalam lini
produksi penghancuran batu. Secara umum mesin Crusher dapat digunakan untuk
mengurangi ukuran atau mengubah bentuk bahan tambang sehingga dapat diolah lebih
lanjut. (Zaynuddin, S. 2023)
Pada laboratorium pengolahan bahan galian kita akan melakukan proses
pengolahan bijih dengan cara mengecilkan ukuran bijih dengan cara peremukan atau
crushing serta penggerusan yang lebih dikenal dengan sebutan kominusi. Tujuan dari
praktikum ini untuk memahami bagimana cara kerja Jaw Crusher dengan mekanisme
penghancuran material yang keras dan besar. Serta dapat mengetahui cara kerja
Double Roll Crusher untuk pemecahan lebih lanjut terhadap material. Selain itu
diharapkan mahasiswa yang telah mengikuti praktikum Jaw Crusher dan Double Roll
Crusher mampu menganalisis faktor yang mempengaruhi efisiensi alat, seperti
pemgukuran ukuran bukaan pada jaw crusher (Sasa Primadina, 2024).

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

1.2 Manfaat dan Tujuan

1.2.1 Maksud
Maksud dari praktikum ini adalah praktikan dapat mengenal, mengetahui dan
menguasai ilmu tentang pengolahan bahan galian yang menjadi salah satu aplikasi
dasar dalam dunia pertambangan.
1.2.2 Tujuan
Adapun tujuan dilakukan praktikum ini, yaitu agar:
1. Memahami mekanisme peremukan dan cara kerja alat remuk
2. Mengetahui distribusi ukuran butir sampel dari proses crushing.

1.3 Alat dan Bahan

1.3.1 Alat
a. Jaw crusher;
b. Double Roll crusher;
c. Sieve shaker;
d. Timbangan;
e. Perlengkapan Safety (Masker, Kacamata Safety, Helm, dan Kaos tangan);
f. Kuas
g. Mistar
h. Talang
i. Lap Kain;
j. Jas Laboratorium;
k. Alat Tulis Menulis.
1.3.2 Bahan
a. Sampel Batubara;
b. Tabel Data Pengamatan;
c. Kantong Sampel.

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kominusi atau Reduksi Ukuran

Kominusi atau pengecilan ukuran bijih atau feed merupakan tahap paling awal
dari proses pengolahan mineral. Tahap ini diperlukan selain untuk mereduksi ukuran
tentunya, juga untuk meningkatkan liberasi dari mineral berharga yang akan diambil.
Artinya, semakin kecil ukuran bijih maka semakin besar juga kemungkinan mineral
berharga untuk terbebas dari mineral-mineral pengotor. Proses pengolahan bahan
galian pada proses awal bertujuan untuk membebaskan atau meliberasi (to liberate)
mineral berharga dari material pengotornya, menghasilkan ukuran dan bentuk partikel
yang sesuai dengan kebutuhan pada proses berikutnya serta memperluas permukaan
partikel agar dapat mempercepat kontak dengan zat lain, misalnya reagen flotasi.
Kominusi ada 2 (dua) macam, yaitu:
1. Peremukan atau pemecahan (crushing)
2. Penggerusan atau penghalusan (grinding)
Disamping itu kominusi, baik peremukan maupun penggerusan, bisa terdiri dari
beberapa tahap, yaitu:
1. Tahap pertama atau primer (primary stage)
2. Tahap kedua atau sekunder (secondary stage)
3. Tahap ketiga atau tersier (tertiary stage)
4. Kadang-kadang ada tahap keempat atau kwarter (quaternary stage)
2.1.1. Peremukan atau Pemecahan (Crushing)
Peremukan adalah proses reduksi ukuran dari bahan galian/bijih yang langsung
dari tambang (ROM = Run Of Mine) dan berukuran besar-besar (diameter sekitar 100
cm) menjadi ukuran 20-25 cm bahkan bisa sampai ukuran 2,5 cm. Peralatan yang
dipakai antara lain adalah:
1. Jaw crusher
2. Gyratory crusher
3. Cone crusher
4. Roll crusher
5. Impact crusher

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

6. Rotary breaker
7. Hammer mill
2.1.2 Penggerusan atau Penghalusan (Grinding)
Penggerusan adalah proses lanjutan pengecilan ukuran dari yang sudah
berukuran 2,5 cm menjadi ukuran yang lebih halus. Pada proses penggerusan
dibutuhkan media penggerusan yang antara lain terdiri dari:
1. Bola-bola baja atau keramik (steel or ceramic balls).
2. Batang-batang baja (steel rods).
3. Campuran bola-bola baja dan bahan galian atau bijihnya sendiri yang disebut
semi autagenous mill.
4. Tanpa media penggerus, hanya bahan galian atau bijihnya yang saling
menggerus dan disebut autogenous mill.
Peralatan penggerusan yang dipergunakan adalah:
1. Ball mill dengan media penggerus berupa bola-bola baja atau keramik.
2. Rod mill dengan media penggerus berupa batang-batang baja.
3. Semi Autogenous Mill (SAG) bila media penggerusnya sebagian adalah bahan
galian atau bijihnya sendiri.
4. Autogenous mill bila media penggerusnya adalah bahan galian atau bijihnya
sendiri.

2.2 Pemisahan Berdasarkan Ukuran (Sizing)

Pemisahan berdasarkan ukuran setelah bahan galian atau bijih diremuk dan
digerus, maka akan diperoleh bermacam-macam ukuran partikel. Proses
penyeragaman ukuran partikel dengan cara memisahkan menjadi beberapa fraksi
dengan menggunakan proses pengayakan atau classifier pengayakan/penyaringan
(screening atau sieving).
Setelah bahan galian atau bijih diremuk dan digerus, maka akan diperoleh
bermacam-macam ukuran partikel. Proses penyeragaman ukuran partikel dengan cara
memisahkan menjadi beberapa fraksi dengan menggunakan proses pengayakan atau
classifier pengayakan/penyaringan (screening atau sieving).
Pengayakan atau penyaringan adalah proses pemisahan secara mekanik
berdasarkan perbedaan ukuran partikel. Pengayakan (screening) dipakai dalam skala
industri, sedangkan penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium.

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

Proses pengayakan juga digunakan sebagai alat pembersih, pemisah kontaminan yang
ukurannya berbeda dengan bahan baku. Pengayakan memudahkan kita untuk
mendapatkan pasir dengan ukuran yang seragam (Anhar, M. Z., 2016).
Produk dari proses pengayakan/penyaringan ada 2 (dua), yaitu:
1. Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).
2. Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan (undersize).
Saringan (sieve) yang sering dipakai di laboratorium adalah:
a. Hand sieve
b. Vibrating sieve series/Tyler vibrating sive
c. Sieve shaker/Rotap
d. Wet and dry sieving
Sedangkan ayakan (screen) yang berskala industri antara lain:
a. Stationary grizzly
b. Roll grizzly
c. Sieve bend
d. Revolving screen
e. Vibrating screen (single deck, double deck, triple deck, etc.)
f. Shaking screen
g. Rotary shifter
2.2.1 Klasifikasi (Classification)
Klasifikasi adalah proses pemisahan partikel berdasarkan kecepatan
pengendapannya dalam suatu media (udara atau air). Klasifikasi dilakukan dalam
suatu alat yang disebut classifier.
Produk dari proses klasifikasi ada 2 (dua), yaitu :
1. Produk yang berukuran kecil/halus (slimes) mengalir di bagian atas disebut
overflow.
2. Produk yang berukuran lebih besar/kasar (sand) mengendap di bagian bawah
(dasar) disebut underflow.
Proses pemisahan dalam classifier dapat terjadi dalam tiga cara (concept):
a. Partition concept
b. Tapping concept
c. Rein concept
Hal ini dapat berlangsung apabila sejumlah partikel dengan bermacam-macam

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

ukuran jatuh bebas di dalam suatu media atau fluida (udara atau air), maka setiap
partikel akan menerima gaya berat dan gaya gesek dari media. Pada saat kecepatan
gerak partikel menjadi rendah (tenang atau laminer), ukuran partikel yang besar-besar
mengendap lebih dahulu, kemudian diikuti oleh ukuran-ukuran yang lebih kecil,
sedang yang terhalus (antara lain slimes) akan tidak sempat mengendap.

2.3 Alat-alat Yang Digunakan Pada Proses Crushing (Peremukan)

2.3.1 Jaw crusher

Gambar 2.1 Jaw Crusher


Jaw crusher merupakan crusher yang digunakan untuk memecahkan batuan
dengan ukuran setting antara 30 mm dan 120 mm. Alat peremuk jaw crusher dalam
prinsip kerja alat ini memiliki dua buah rahang dimana salah satu rahang diam dan
yang satu dapat digerakan, sehingga dengan adanya gerakan rahang tadi menyebabkan
material yang masuk ke dalam kedua sisi rahang akan mengalami proses
penghancuran.
Jaw crusher merupakan alat penghancur dengan sistem operasional paling
sederhana. Prinsip kerjanya secara awam mirip seperti rahang, material akan masuk
dan mengalami proses penghancuran seperti dikunyah untuk diubah menjadi lebih
kecil. Di dalam mesin tersebut, terdapat dua lempengan yang berfungsi melakukan
penggilasan atau pengunyahan tadi.

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

Bijih yang remuk secara leluasa akan bebas turun di antara dua kompresi. Pada
jaw crusher, peremukan bijih hanya terjadi oleh alat, yaitu saat jaw bergerak memberi
tekanan. Mekanisme peremukan ini disebut arrested crushing. ukuran produk
dinyatakan dengan P80. Arti notasi P adalah untuk produk dan 80 menyatakan delapan
puluh persen dari berat produk berukuran lebih kecil dari ukuran P80. Misal P80 =
92,0 mm, artinya delapan puluh persen berat dari produk jaw crusher berukuran
kurang dari 92,0 mm.
Bagian-bagian dari jaw crusher:
1. Gape jarak horizontal pada mouth (lubang penerimaan).
2. Fix jaw bagian alat yang tidak bergerak sebagai pemberi gaya penahan pada
material umpan.
3. Moving jaw merupakan bagian dari alat yang dapat bergerak berfungsi sebagai
pemberi gaya tekan pada material.
4. Toggle merupakan dari alat peremuk yang berfungsi sebagai pengubah gerakan
naik turun menjadi gerakan horizontal.
5. Setting jaw merupakan dari alat yang digunakan untuk mengatur closed setting
6. Pitman merupakan bagian dari alat peremuk yang berfungsi untuk mengubah
gerakan berputar dari encentric rotation menjadi gerakan naik turun.
7. Throat merupakan bagian paling bawah dari alat peremuk yang berfungsi
sebagai lubang pengeluaran hasil peremukan
2.3.2 Gyratory crusher
Mekanisme dari gyratory crusher adalah full time crushing, yang berarti akan
melakukan peremukan material selama proses itu berlangsung, dengan metode
menghancurkan secara berputar. Konsep kerjanya yakni, dua bagian peremuk berada
di bagian atas dan bawah, dengan bentuk wadah mengerucut ke bawah. Nantinya
kedua peremuk itu akan berputar semakin mendekat, sehingga material akan tergerus
secara berkala hingga kemudian menjadi ukuran lebih kecil melalui mulut di bagian
bawah.
2.3.3 Double roll crusher
Double roll crusher adalah produk alat preparasi pertambangan yang berfungsi
untuk menghancurkan batuan atau sampel material seperti mineral, nikel dan batuan

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

tambang lainnya agar bisa menjadi serpihan yang halus dan dapat diatur sedemikian
rupa ketebalan serpihan tersebut melalui alat double roll crusher. Double roll crusher
adalah mesin untuk memudahkan dan mempercepat pengerjaan pemecahan.
diketahui bahwa double roll crusher sangat bermanfaat untuk kebutuhan analisis
sampel bahan tambang.

Gambar 2.2 Double Roll Crusher


Dengan demikian ketika material sampel yang didapat dari lahan pertambangan
merupakan batuan tambang yang masih bersifat kasar layaknya seperti batuan. Oleh
karena itu, untuk menghancurkan alat tersebut kita bisa menggunakan double roll
crusher. Double roller crusher adalah mesin produk dari Italy dengan merk bedesch
dengan desain kapasitas 1.600-1.800 ton/hari, mempunyai bagian serta fungsi tertentu,
bagian-bagian tersebut adalah :
1. Hopper feeder, adalah lubang bukaan dimana tempat material masuk, sebelum
dilakukan proses reduksi, kapasitas feeder double roller crusher + 150 – 200
ton/jam.
2. Apron feeder, memiliki fungsi untuk membawa material tanah liat dari hopper
feeder menuju ke primary crusher untuk dilakukan proses reduksi. Apron feeder
ini dapat diatur kecepatan putarnya (variable speed) yang di atur dari central
control room.

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

3. Rantai (chain), rantai ini terpasang pada sisi kanan dan kiri apron feeder, yang
berfungsi untuk memnggerakkan apron feeder, dalam membawa material/ tanah
liat menuju roller press.
4. Belt stacker, merupakan alat jenis belt conveyor yang digunakan untuk membagi
tanah liat hasil reduksi ke storage 1 dan storage 2.
5. Gudang penyimpanan (storage) tempat penyimpanan material dirasa sangat
perlu dimiliki oleh perusahaan sebagai upaya menjaga kesetabilan kesediaan
bahan baku, ada tiga tempat penyimpanan material tanah liat. Yang pertama clay
storage terletak + 200 meter dari hopper roller crusher, memiliki kapasitas +
5000 ton, di isi oleh material yang memiliki ukuran butiran 0,3 mm – 80 mm
dengan kandungan air + 20%. Yang kedua stock pile 1 tanah liat dengan
kapasitas 6.000 ton. Dan yang ketiga adalah stock pile 2 tanah liat dengan
kapasitas 5.500 ton.
Double roll crusher adalah produk alat preparasi pertambangan yang berfungsi
untuk menghancurkan batuan atau sampel material seperti mineral, nikel dan batuan
tambang lainnya agar bisa menjadi serpihan yang halus dan dapat diatur sedemikian
rupa ketebalan serpihan tersebut melalui alat double roll crusher, seperti yang telah
diketahui bahwa double roll crusher sangat bermanfaat untuk kebutuhan analisis
sampel bahan tambang, dengan demikian ketika material sampel yang didapat dari
lahan pertambangan merupakan batuan tambang yang masih bersifat kasar layaknya
seperti batuan, untuk menghancurkan alat tersebut kita bisa menggunakan double roll
crusher. Double Roll crusher bisa menangani umpan-umpan yang relatif besar,
sebagai contohnya 14 inch , maksimum 24 inch.
Double Roll crusher memiliki dua buah logam berat yang memiliki permukaan
licin, biasanya hanya satu dari beberapa roll yang diugerakkan dan satu spring
dipasang untuk mencegah kerusakan akibat material yang keras dan tidak bisa
dihancurkan dalam umpan. Mesin ini merupakan pemecah sekunder yang
menghasilkan produk dengan ukuran kira-kira 20 mesh. Ukuran umpan maksimum
yang dapat dijepit oleh roll sangat bergantung pada koefisien gesek antar partikel dan
permukaan roll. Set rolls dalam rangkaian dengan posisi menurun digunakan untuk
mencapai rasio pengurangan yang tinggi secara keseluruhan. Mesin Double roller
crusher terdiri dari dua rol yang berputar dipasang secara paralel di dalam rangka.
2.3.4 Dodge crusher

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

Crusher tipe ini memiliki lempengan jaw yang menjadi pivot atau titik engsel
pada bagian bawahnya. Sementara bagian atasnya akan bergerak secara maju mundur.
Karena titik pivotnya berada di bagian atas mesin, maka akan memberikan celah untuk
memungkinkan material keluar dengan ukuran yang konstan. Untuk
pengoperasiannya, dibutuhkan bijih material lebih kecil dari mulut lempengan jaw.
Namun karena jaw bagian atau bergerak, maka gape atau mulut jaw menjadi
variatif. Saat bergerak maju, maka gape menjadi minimum. Sebaliknya ketika jaw
bergerak mundur, gape menjadi maksimum. Kondisi ini mensyaratkan bahwa ukuran
bijih yang masuk sebagai umpan harus benar-benar lebih kecil dari g ape saat posisi
minimum.

Gambar 2.3 Dodge Crusher

2.3.5 Cone crusher


Mesin cone crusher memiliki suatu struktur yang memiliki massa dan kekuatan.
Dengan demikian massa mesin tersebut memiliki kemampuan untuk bergetar. Dalam
proses pengoperasiannya, besarnya getaran yang dihasilkan oleh cone crusher berbeda
dengan getaran yang dihasilkan oleh jaw crusher atau mesin lainnya, apabila getaran
yang diberikan di luar ambang batas dapat mengakibatkan efek negative dan
berkurangnya kosenterasi pada pekerjaan. Aktivitas di industri hampir semua memiliki
faktor- faktor yang mempunyai resiko yang bisa menimbulkan terjadinya kecelakaan
maupun penyakit dalam berkerja, salah satunya yaitu bahaya yang diakibatkan dari

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

pemakaian mesin maupun alat- alat mekanis dalam bentuk getaran mekanis. Getaran
mekanis dapat dirasakan pada seluruh tubuh dengan range frekuensi yang besar, yaitu
antara 0,1–10.000 Hz.
Selain getaran suara kebising pada mesin dapat menyebabkan lingkunggan tidak
nyaman, pada operator dan mengganggu pendengaran mulai dari tuli sementara,
sampai tuli yang bersifat menetap. Kerusakan pada pendengaran tidak cuma
bergantung pada tingkatnya tapi juga terhadap lama paparan suara bising yang
menyebabkan gangguan konsentrasi, gangguan dalam berbicara, serta gangguan
psikologis yang lain (stress, lelah, emosional) (Laura Anastasi Seseragi Lapono,
2018).

Gambar 2.4 Cone Crusher


Cone crusher adalah mesin penghancur batu populer dalam produksi agregat,
operasi penambangan, dan aplikasi daur ulang, Ini adalah jenis kompresi mesin yang
mengurangi bahan dengan meremas diatau mengkompres bahan pengisi di antara
sepotong baja yang bergerak dan sepotong baja yang diam. Cone Crusher ini
dipergunakan pada secondary crushing dan merupakan modifikasi dari Gyratory
crusher. Kelebihannya adalah, ketika material masih terlalu besar dan keras, akan
dikeluarkan melalui saluran khusus, untuk kemudian diremukkan kembali hingga
menjadi benar-benar halus.
2.4 Peningkatan Kadar dan Konsentrasi

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

Agar bahan galian yang mutu atau kadarnya rendah (marginal) dapat diolah
lebih lanjut, yaitu diambil (diekstrak) logamnya, maka kadar bahan galian itu harus
ditingkatkan dengan proses konsentrasi. Sifat-sifat fisik mineral yang dapat
dimanfaatkan dalam proses konsentrasi adalah:
1. Perbedaan berat jenis atau kerapatan untuk proses konsentrasi gravitasi dan
media berat.
2. Perbedaan sifat kelistrikan untuk proses konsentrasi elektrostatik.
3. Perbedaan sifat kemagnetan untuk proses konsentrasi magnetik.
4. Perbedaan sifat permukaan partikel untuk proses flotasi.
Proses peningkatan kadar itu ada bermacam-macam, antara lain:
2.4.1 Pemilahan (Sorting)
Bila ukuran bongkahnya cukup besar, maka pemisahan dilakukan dengan tangan
(manual), artinya yang terlihat bukan mineral berharga dipisahkan untuk dibuang.
2.4.2 Konsentrasi Gravitasi (Gravity Concentration)
Konsentrasi Gravitasi yaitu pemisahan mineral berdasarkan perbedaan berat
jenis dalam suatu media fluida, jadi sebenarnya juga memanfaatkan perbedaan
kecepatan pengendapan mineral-mineral yang ada.
Ada 3 (tiga) cara pemisahan secara gravitasi bila dilihat dari segi gerakan
fluidanya, yaitu:
1. Fluida tenang, contoh Dense Medium Separation (DMS) atau Heavy Medium
Separation (HMS).
2. Aliran fluida horizontal, contoh sluice box, shaking table dan spiral
concentration.
3. Aliran fluida vertikal, contoh jengkek (jig).
Produk dari proses konsentrasi gravitasi ada 3 (tiga), yaitu:
1. Konsentrat (concentrate) yang terdiri dari kumpulan mineral berharga dengan
kadar tinggi.
2. Amang (Middling) yaitu konsentrat yang masih kotor.
3. Ampas (Tailing) yang terdiri dari mineral-mineral pengotor yang harus
dibuang.
2.4.5 Konsentrasi dengan Media Berat (Dense/Heavy Medium Separation)
Konsentrasi dengan Media merupakan proses konsentrasi yang bertujuan untuk
memisahkan mineral- mineral berharga yang lebih berat dari pengotornya yang terdiri

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

dari mineral-mineral ringan dengan menggunakan medium pemisah yang berat


jenisnya lebih besar dari air (berat jenisnya > 1). Produk dari proses konsentrasi ini
adalah:
1. Endapan (sink) yang terdiri dari mineral-mineral berharga yang berat.
2. Apungan (float) yang terdiri dari mineral-mineral pengotor yang ringan.
Media pemisah yang pernah dipakai antara lain:
1. Air + magnetit halus dengan kerapatan 1,25 – 2,20 ton/m3.
2. Air + ferrosilikon dengan kerapatan 2,90 – 3,40 ton/m3.
3. Air + magnetit + ferrosilikon dengan kerapatan 2,20 – 2,90.
4. Larutan berat seperti tetra bromo ethana (b.j. = 2,96), bromoform (b.j. = 2,85)
dan methylene jodida (b.j. = 3,32). Tetapi larutan berat ini harganya mahal, oleh
sebab itu hanya dipakai untuk percobaan-percobaan di laboratorium.
Peralatan yang biasa dipakai adalah gravity dense/heavy medium separators
yang berdasarkan bentuknya ada 2 (dua) macam, yaitu:
1. Drum separator karena bentuknya silindris.
2. Cone separator karena bentuknya seperti corongan.
2.4.6 Konsentrasi Elektrostatik (Electrostatic Concentration)
Konsentrasi elektrostatik merupakan proses konsentrasi dengan memanfaatkan
perbedaan sifat konduktor (mudah menghantarkan arus listrik) dan non-konduktor (nir
konduktor) dari mineral. Kendala proses konsentrasi ini adalah:
1. Hanya sesuai untuk proses konsentrasi dengan jumlah umpan yang tidak terlalu
besar.
2. Karena prosesnya harus kering, maka timbul masalah dengan debu.
Mineral-mineral yang bersifat konduktor antara lain adalah:
1. Magnetit (Fe3O4)
2. Kasiterit (SnO2)
3. Ilmenit (FeTiO3)
4. Molibdenit (MoS2)
5. Wolframit (Fe, M)WO4)
6. Galena (PbS)
7. Pirit (FeS2)

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

2.5 Penanganan Material (Material Handling)


Bahan galian (mineral atau bijih) yang mengalami pengolahan bahan galian
harus ditangani dengan cepat dan seksama, baik yang berupa konsentrat basah dan
kering maupun yang berbentuk ampas (tailing).
Bahan galian adalah adalah unsur-unsur kimia, mineral-mineral, bijih-bijih dan
segala macam batuan termasuk batu-batu mulia yang merupakan endapan- endapan
alam. Adapun beberapa penanganan yang dilakukan pada berbagai bahan galian:
2.6.1 Penanganan Material Padat Kering (Dry Solid Handling)
Bila masih berupa bahan galian hasil penambangan (rom), maka harus ditumpuk
di tempat yang sudah ditentukan yang di sekelilingnya telah dilengkapi dengan saluran
penyaliran (drainage system). Tetapi jika sudah berupa konsentrat, maka harus
disimpan di dalam gudang yang tertutup sebelum sempat diproses lebih lanjut.
2.6.2 Penanganan Lumpur (Slurry Handling)
Bila lumpur itu sudah mengandung mineral berharga yang kadarnya tinggi, maka
dapat segera dimasukkan ke pemekat (thickener) atau penapis (filter). Jika masih agak
kotor (middling), maka harus diproses dengan alat khusus yang sesuai. Bahan galian
adalah adalah unsur-unsur kimia, mineral-mineral, bijih-bijih.
2.6.3 Penanganan atau pembuangan ampas (tailing disposal)
Kegiatan ini yang paling sulit penanganannya karena:
1. Jumlahnya (volume) sangat banyak, antara 70%–90% dari material yang
ditambang.
2. Kadang-kadang mengandung bahan berbahaya dan beracun (b-3).
Sulit mencarikan lahan yang cocok untuk menimbun ampas bila metode
penambangan timbun-balik (back fill mining method) tak dapat segera dilakukan,
sehingga kadang-kadang harus dibuatkan kolam pengendap. Oleh sebab itu
pembuangan ampas ini seringkali menjadi komponen kegiatan penambangan yang
meminta pemikiran khusus sepanjang umur tambang.
Bahan galian (mineral/bijih yang mengalami pengolahan bahan galian ditangani
dengan cepat dan seksama, baik berupa konsentrat basah dan kering maupun yang
berbentuk ampas (tailing). Penanganan material padat kering (dry solid handling.

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Prosedur Kerja Jaw Crusher

1. Pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan.

Gambar 3.1 Menyiapkan Sampel


2. Sampel Batubara (2 kg) dimasukkan kedalam talang dan atur gape pada jaw
crusher (1 cm dan 2 cm).

Gambar 3.2 memasukkan sampel ke talang

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

3. Pastikan Jaw Crusher Telah terhubung dengan arus listrik.

Gambar 3.3 Menyalakan sumber listrik

4. Kemudian jalankan alat jaw crusher.

Gambar 3.4 Menjalankan Alat Jaw Crusher

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

5. Masukkan umpan sedikit demi sedikit pada mulut jaw crusher, kemudian
konsentratnya akan keluar melalui bagian bawah alat jaw crusher.

Gambar 3.5 Memasukkan Sampel ke Dalam Jaw Crusher

6. Setelah itu konsentrat kemudian di masukkan kedalam cawan untuk


selanjutnya ke tahap screening. Ukuran ayakan yang digunakan antara lain 1,
4, 8, 10, 14 dan -20 Mesh.

Gambar 3.6 Memasukkan Konsentrat ke dalam cawan

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

7. Kemudian sampel dimasukkan kedalam alat sizing untuk selanjutnya dilakukan


tahap screening selama 5 menit.

Gambar 3.7 Memasukkan Sampel ke Dalam Alat Sizing

8. Kemudian melakukan tahap screening selama 5 menit.

Gambar 3.8 Screening

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

9. Setelah tahap screening, pisahkan material sesuai dengan ukuran ayakan.

Gambar 3.9 Memisahkan Material Berdasarkan Ukurannya

9. Masukkan material ke dalam kantong sampel sesuai dengan


ukuran yang telah dipisahkan.

Gambar 3.10 Memasukkan material ke dalam kantong sampel

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING
10. Timbang dan catat hasil berat tertahan pada setiap mesh.

Gambar 3.11 Menimbang berat tertahan

Gambar 3.12 Mencatat hasil berat tertahan

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

3.2 Prosedur Kerja Roll Crusher

1. Siapkan sampel batubara (2 kg) kemudian masukkan kedalam cawan sambil


mengatur ukuran gape dari Double roll crusher (1 cm dan 2 cm).

Gambar 3.13 Mengukur Gape Double Roll Crusher

Gambar 3.14 Mengatur Ukuran Gape

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

2. Pastikan Double Roll Crusher telah terhubung dengan sumber Listrik.

Gambar 3.15 Menyalakan sember Listrik

3. Kemudian jalankan alat Double roll crusher lalu masukkan umpan sedikit
demi sedikit kedalam alat Double roll crusher.

Gambar 3.16 Menjalankan Double Roll Crusher

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

Gambar 3.17 Memasukkan umpan sedikit demi sedikit

4. Setelah itu material dimasukkan kedalam alat sizing untuk selanjutnya


dilakukan tahap screening selama 5 menit. Lalu masukkan material ke dalam
kantong sampel sesuai dengan ukuran masing-masing.

Gambar 3.18 Tahapan Screening

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

Gambar 3.19 Memasukkan material ke dalam kantong sampel

5. Setelah itu timbang dan catat berat tertahan pada masing-masing ukuran ayakan.

Gambar 3.20 Menimbang Berat Tertahan

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

Gambar 3.21 Mencatat hasil berat tertahan

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Tabel 4.1 Tabel hasil pengolahan data jaw crusher 2 cm

% Berat % Berat
Fraksi Berat %
Ukuran Tertahan Lolos
(Mm) Tertahan Fraksi
Kumulatif Kumulatif

4 4,76 778% 53,77% 53,77% 46,21%


8 2,38 150,11% 10,37% 64,14% 35,84%
10 1,68 122,85% 8,49% 72,63% 27,35%
14 1,19 128,26% 8,86% 81,49% 18,49%
20 0,84 125,07% 8,64% 90,13% 9,85%
-20 0 142,58% 9,85% 99,98% 0
Total 10,550,84 1.446,87% 99,96% 462,14% 137,74%

Tabel 4.2 Tabel hasil Pengolahan Data Jaw Crusher 1 cm


% Berat % Berat
Fraksi Berat %
Ukuran Tertahan Lolos
(Mm) Tertahan Fraksi
Kumulatif Kumulatif
4 4,76 778% 40,22% 40,22% 59,74%
8 2,38 150,11% 15,16% 55,38% 44,58%
10 1,68 122,85% 10,41% 65,79% 23,75%
14 1,19 128,26% 10,42% 76,21% 23,75%
20 0,84 125,07% 10,61% 86,82% 13,14%
-20 0 142,585% 13,14% 99,96% 0
Total 10.550,84 1.476,87% 99,96% 414,38% 164,96%

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING
Tabel 4.3 Tabel hasil Pengolahan Data Double Roll Crusher 2 cm

% Berat % Berat
Fraksi Berat %
Ukuran Tertahan Lolos
(Mm) Tertahan Fraksi
Kumulatif Kumulatif
4 4,76 578% 53,97% 53,97% 46%
8 2,38 278,5% 10,93% 64,9% 35,07%
10 1,68 124,29% 8,65% 73,55% 26,42%
14 1,19 124,5% 8,63% 85,18% 17,79%
20 0,84 123,71% 8,58% 90,76% 9,21%
-20 0 132,84% 9,21% 99,97% 0
Total 10.550,84 1.383,09% 99,97% 587,2% 134,49%

Tabel 4.4 Tabel hasil Pengolahan Data Double Roll Crusher 1 cm


% Berat % Berat
Fraksi Berat %
Ukuran Tertahan Lolos
(Mm) Tertahan Fraksi
Kumulatif Kumulatif

4 4,76 578% 41,79% 41,79% 58,18%

8 2,38 278,5% 20,14% 61,93% 38,04%

10 1,68 139,26% 10,06% 71,99% 27,98%

14 1,19 127,24% 9,19% 81,8% 18,79%

20 0,84 122,47% 8,86% 90,04% 9,93%

-20 0 137,47% 9,93% 99,97% 0

Total 10.550,84 1.383,09% 99,97% 446,9% 152,92%

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

Grafik Jaw Crusher 2 cm


SASA PRIMADINA
60
y = 9.0823x - 8.8313
Berat Total Kumulatif 50 R² = 0.9992
46.21
40
35.84
30
27.35
20 18.49
10 9.85
4.76
0 0.84 1.19 1.68 2.38
0
1 2 3 4 5 6 7
Fraksi (mm)

Grafik 4.1 Hasil Pengolahan Data Jaw Crusher 2 cm

Grafik Jaw Crusher 1 cm


SASA PRIMADINA
70
y = 11.229x - 11.809
60 R² = 0.9504 59.74
Berat Total Kumulatif

50
44.58
40
30
23.75 23.75
20
13.14
10
2.38 4.76
0 0 0.84 1.19 1.68
1 2 3 4 5 6
-10
Fraksi (mm)

Grafik 4.2 Hasil Pengolahan Data Jaw Crusher 1 cm

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

Grafik Double Roll Crusher 2 cm


SASA PRIMADINA
60
y = 9.0346x - 9.206
50 R² = 0.9984
46
Berat Lolos Kumulatif

40
35.07
30
26.42
20
17.79
10 9.21
4.76
0 0.84 1.19 1.68 2.38
0
1 2 3 4 5 6 7
-10
Fraksi (mm)

Grafik 4.3 Hasil Pengolahan Data Double roll Crusher 2 cm

Grafik Double Roll Crusher 1 cm


SASA PRIMADINA
70
y = 10.983x - 12.955
60 R² = 0.9733 58.18
Berat Lolos Kumulatif

50
40 38.04
30 27.98
20 18.79
10 9.93
2.38 4.76
0 0 0.84 1.19 1.68
1 2 3 4 5 6
-10
Fraksi (mm)

Grafik 4.4 Hasil Pengolahan Data Double roll Crusher 1 cm

4.1.1 Pengolahan Data Jaw Crusher Gape 2 Cm Dan 1cm


1. Pengolahan data Jaw Crusher Gape 2 cm
a. % Fraksi
Fraksi tertahan
% Fraksi = x 100 %
Berat Total
778
% Fraksi (+4) = 1.446,87 x 100% = 53,77%
150,11
% Fraksi (-4/+8) = 1.446,87 x 100% = 10,37%
122,85
% Fraksi (-8/+10) = 1.446,87 x 100% = 8,49%

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING
128,26
% Fraksi (-10/+14) = 1.446,87 x 100% = 8,86%
103,71
% Fraksi (-14/+20) = 1.321,45 x 100 = 7,84 %
112,84
% Fraksi (-20) = 1.321,45 x 100 = 8,53 %

b. % Berat Tertahan Komulatif


% Berat tertahan kumulatif = % Berat tertahan kumulatif + % Fraksi
% Berat tertahan kumulatif (+4) = 0 + 53,77 = 53,77 %
% Berat tertahan kumulatif (-4/+8) = 53,77 + 10,37 = 64,14 %
% Berat tertahan kumulatif (-8/+10) = 64,14 + 8,49 = 72,63 %
% Berat tertahan kumulatif (-10/+14) = 72,63 + 8,86 = 81,49 %
% Berat tertahan kumulatif (-14/+20) = 81,49 + 8,64 = 90,13 %
% Berat tertahan kumulatif ( -20 ) = 90,93 + 9,85 = 99,98 %
c. % Berat Lolos Komulatif
% Berat lolos kumulatif = Total % Fraksi - % Berat tertahan kumulatif
% Berat lolos kumulatif (+4) = 99,98 – 53,77 = 42,21 %
% Berat lolos kumulatif (-4/+8) = 99,98 – 64,14 = 35,84%
% Berat lolos kumulatif (-8/+10) = 99,98 – 72,63 = 27,35 %
% Berat lolos kumulatif (-10/+14) = 99,98 – 81,49 = 18,49 %
% Berat lolos kumulatif (-14/+20) = 99,98 – 90,13 = 9,85 %
% Berat lolos kumulatif ( -20 ) = 99,98 – 99,98 = 0 %
2. Pengolahan Data Jaw Crusher 1cm
a. % Fraksi
Fraksi tertahan
%Fraksi = x 100 %
Berat Total
578
% Fraksi (+4) = 1.436,76 x 100% = 40,22%
217,93
% Fraksi (-4/+8) = 1.436,76 x 100% = 55,38%
144,59
% Fraksi (-8/+10) = 1.436,76 x 100% = 65,79%
149,82
% Fraksi (-10/+14)= 1.436,76 x 100 %= 76,21%
152,55
% Fraksi (-14/+20) = 1.436,76 x 100% = 86,82%
188,88
% Fraksi (-20) = x 100%= 99,96%
1.436,76

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

b. % Berat Tertahan Komulatif


% Berat tertahan kumulatif = % Berat tertahan kumulatif + % Fraksi
% Berat tertahan kumulatif (+4) = 0 + 40,22 = 44,17 %
% Berat tertahan kumulatif (-4/+8) = 40,22 + 15,16 = 55,38 %
% Berat tertahan kumulatif (-8/+10) = 55,38 + 10,41 = 65,79 %
% Berat tertahan kumulatif (-10/+14) = 65,79 + 10,42 = 76,21 %
% Berat tertahan kumulatif (-14/+20) = 76,21 + 10,61 = 86,82 %
% Berat tertahan kumulatif ( -20 ) = 86,82 + 13,14 = 99,96 %
c. % Berat Lolos Komulatif
% Berat lolos kumulatif = Total %Fraksi - % Berat tertahan kumulatif
% Berat lolos kumulatif (+4) = 99,96 – 40,22 = 59,74 %
% Berat lolos kumulatif (-4/+8) = 99,96 – 55,38 = 44,58 %
% Berat lolos kumulatif (-8/+10) = 99,96 – 65,79 = 23,75 %
% Berat lolos kumulatif (-10/+14) = 99,96 – 76,21 = 23,75 %
% Berat lolos kumulatif (-14/+20) 99,96 – 86,82 = 13,14 %
% Berat lolos kumulatif ( -20 ) = 99,96 – 99,96 = 0 %
4.1.2 Pengolahan Data Double Roll Crusher 2 cm Dan 1cm
1. Pengolahan Data Double Roll Crusher 2 cm
a. % Fraksi
Fraksi tertahan
% Fraksi = x 100 %
Berat Total
778
% Fraksi (+4) = 1.441,45 x 100% = 53,97%
157,61
% Fraksi (-4/+8) = 1.441,45 x 100% = 10,93%
124,79
% Fraksi (-8/+10) = 1.441,45 x 100% = 8,65%
124,5
% Fraksi (-10/+14) = 1.441,45 x 100% = 8,63%
123,71
% Fraksi (-14/+20) = 1.441,45 x 100% = 8,58%
132,84
% Fraksi (-20) = 1.441,45 x 100% = 9,21%

b. % Berat Tertahan Komulatif


% Berat tertahan kumulatif = % Berat tertahan kumulatif + % Fraksi
% Berat tertahan kumulatif (+4) = 0 + 53,97 = 60,29 %
% Berat tertahan kumulatif (-4/+8) = 53,97 + 10,93 = 64,9 %

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

% Berat tertahan kumulatif (-8/+10) = 64,9 + 8,65 = 73,55 %


% Berat tertahan kumulatif (-10/+14) = 73,55 + 8,63 = 82,18 %
% Berat tertahan kumulatif (-14/+20) = 82,18 + 8,58 = 90,76 %
% Berat tertahan kumulatif ( -20 ) = 90,76 + 9,21 = 99,97 %
c. % Berat Lolos Komulatif
% Berat lolos kumulatif = Total %Fraksi - % Berat tertahan kumulatif
% Berat lolos kumulatif (+4) = 99,97 – 53,97 = 46 %
% Berat lolos kumulatif (-4/+8) = 99,97 – 64,9 = 35,07 %
% Berat tertahan kumulatif (-8/+10) = 99,97 – 73,55 = 26,42 %
% Berat tertahan kumulatif (-10/+14) = 99,97 – 82,18 = 17,79 %
% Berat tertahan kumulatif (-14/+20) = 99,97 – 90,76 = 9,21 %
% Berat tertahan kumulatif (-20 ) = 99,97 – 99,97 = 0 %
2. Pengolahan Data Double Roll Crusher 1 cm
a. % Fraksi
Fraksi tertahan
% Fraksi = x 100 %
Berat Total
578
% Fraksi (+4) = 1.383,09 x 100% = 41,79 %
278,59
% Fraksi (-4/+8) = 1.383,09 x 100% = 20,44 %
139,26
% Fraksi (-8/+10) = 1.383,09 x 100% = 10,06 %
127,24
% Fraksi (-10/+14) = 1.383,09 x 100% = 9,19 %
122,62
% Fraksi (-14/+20) = 1.383,09 x 100% = 8,86 %
137,47
% Fraksi (-20) = 1.383,09 x 100% = 9,93 %

b. % Berat Tertahan Komulatif


% Berat tertahan kumulatif = % Berat tertahan kumulatif + % Fraksi
% Berat tertahan kumulatif (+4) = 0 + 41,79 = 41,79 %
% Berat tertahan kumulatif (-4/+8) = 41,79 + 20,14 = 61,93 %
% Berat tertahan kumulatif (-8/+10) = 61,93 + 10,06 = 71,99 %
% Berat tertahan kumulatif (-10/+14) = 71,99 + 9,19 = 81,18 %
% Berat tertahan kumulatif (-14/+20) = 81,18 + 8,86 = 90,04 %
% Berat tertahan kumulatif (-20) = 90,04 + 9,93 = 99,97 %
c. % Berat Lolos Komulatif

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

% Berat lolos kumulatif = Total %Fraksi - % Berat tertahan kumulatif


% Berat lolos kumulatif (+4) = 99,97 – 41,79 = 58,18 %
% Berat lolos kumulatif (-4/+8) = 99,97 – 61,93 = 38,04 %
% Berat lolos kumulatif (-8/+10)= 99,97 – 71,99 = 27,98 %
% Berat lolos kumulatif (-10/+14)= 99,97 – 81,18 = 18,79 %
% Berat lolos kumulatif (-14/+20)= 99,97 – 90,04 = 9,93 %
% Berat lolos kumulatif (20) = 99,97 – 99,81 = 0 %
4.1.3 Data Pengolahan P80 Jaw Crusher 2cm dan 1 cm
1. Pengolahan Data P80 Jaw Crusher 2 cm
Y = 9,0823x – 8,8313
P80 = 9,0823x – 8,8313
9,0823x = 80 + 8,8313
71,168
X =
9,0823

= 7,83 mm
2. Pengolahan Data P80 Jaw Crusher 1 cm
Y = 11,229x – 11,809
P80 = 11,229x – 11,809
11,229x = 80 + 11,809
68,191
X = 11,229

= 6,07 mm
4.1.4 Pengolahan Data P80 Roll Crusher 2 cm dan 1 cm

1. Pengolahan Data P80 Roll Crusher 2 cm


Y = 9,0346 –9,206
P80 = 9,0346 –9,206
9,0346x = 80 + 9,206
70,794
X = 9,0346

= 7,83 mm
2. Pengolahan Data P80 Roll Crusher 1 cm
Y = 10,983x – 12,955
P80 = 10,983x – 12,955
10,983x = 80 + 12,955

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING
67,045
X = 10,983

= 6,10 mm
4.1.5 Pengolahan Data RR80 Duble Roll Crusher 2 cm dan 1 cm
1. Pengolahan Data RR80 Duble Roll Crusher 2 cm
RR80 = P80 JC / P80 RC
7,83
RR80 = 7,83

= 1 mm
2. Pengolahan Data RR80 Double Roll Crusher 1,
RR80 = P80 JC / P80 RC
6,07
RR80 = 6.10

= 0,99 mm
4.1.6 Pengolahan Data Berat Hilang Jaw Crusher 2 cm dan 1 cm
1. Pengolahan Data Berat Hilang Jaw Crusher 2 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
1.468-1.446,87
Berat Hilang = 𝑥 100%
1.468

= 1,36 %
2. Pengolahan Data Berat Hilang Jaw Crusher 1 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
1.468-1.436,76
Berat Hilang = 𝑥 100%
1.468

= 1,37 %
4.1.7 Pengolahan Data Berat Hilang Double Jaw Crusher 2 cm dan 1 cm
1. Pengolahan Data Berat Hilang Double Roll Crusher 2 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
1.468-1.441,45
Berat Hilang = 1.468
𝑥 100%
= 1,36 %
2. Pengolahan Data Berat Hilang Roll Crusher 1 cm
Berat Hilang = (Berat Awal – Berat Akhir) / Berat Awal x (100%)
1.468-1.383,09
Berat Hilang = 𝑥 100%
1.468

= 5,78 %

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

4.3 Pembahasan
Pada data Jaw Crusher gape 2 cm didapatkan hasil pada mesh (+4) didpatkan
% fraksi yaitu 53,77%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 53,77%, %Berat lolos
kumulatif 46,21%. Pada mesh (-4/+8) didpatkan % fraksi yaitu 10,37%, %Berat
tertahan kumulatif yaitu 64,14%, %Berat lolos kumulatif 35,84%. Pada mesh (-8/+10)
didpatkan % fraksi yaitu 8,49%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 72,63%, %Berat
lolos kumulatif 27,35%. Pada mesh (-10/+14%) didpatkan % fraksi yaitu 8,86%,
%Berat tertahan kumulatif yaitu 81,49%, %Berat lolos kumulatif 18,49%. Pada mesh
(-14/+20) didpatkan % fraksi yaitu 9,85%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 99,98%,
%Berat lolos kumulatif 0. Adapun mesh (-20) yaitu didpatkan hasil % fraksi yaitu
9,85%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 99,98%, %Berat lolos kumulatif 0. Dari data
Jaw Crusher 2 cm yang telah didapatkan dan telah dihitung dihasilkan nilai total
%fraksi yaitu sebesar 99,98%, nilai total %berat tertahan kumulatof 462,14% dan nilai
total % berat lolos kumulatif yaitu sebesar 137,74%.
Pada data Jaw Crusher gape 1 cm didapatkan hasil pada mesh (+4) didpatkan
% fraksi yaitu 40,22%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 40,22%, %Berat lolos
kumulatif 59,74%. Pada mesh (-4/+8) didpatkan % fraksi yaitu 15,16%, %Berat
tertahan kumulatif yaitu 55,38%, %Berat lolos kumulatif 44,58%. Pada mesh (-8/+10)
didpatkan % fraksi yaitu 10,41%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 65,79%, %Berat
lolos kumulatif 23,75%. Pada mesh (-10/+14%) didpatkan % fraksi yaitu 10,61%,
%Berat tertahan kumulatif yaitu 86,82%, %Berat lolos kumulatif 13,14%. Pada mesh
(-14/+20) didpatkan % fraksi yaitu 13,14%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 99,96%,
%Berat lolos kumulatif 0. Adapun mesh (-20) yaitu didpatkan hasil % fraksi yaitu
13,145%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 99,96%, %Berat lolos kumulatif 0. Dari
data Jaw Crusher 1 cm yang telah didapatkan dan telah dihitung dihasilkan nilai total
%fraksi yaitu sebesar 99,96%, nilai total %berat tertahan kumulatof 414,38% dan nilai
total % berat lolos kumulatif yaitu sebesar 164,96%.
Pada data Double Roll Crusher gape 2 cm didapatkan hasil pada mesh (+4)
didpatkan % fraksi yaitu 53,97%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 53,97%, %Berat
lolos kumulatif 46%. Pada mesh (-4/+8) didpatkan % fraksi yaitu 10,93%, %Berat
tertahan kumulatif yaitu 64,9%, %Berat lolos kumulatif 35,07%. Pada mesh (-8/+10)

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

didpatkan % fraksi yaitu 8,65%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 73,55%, %Berat
lolos kumulatif 26,42%. Pada mesh (-10/+14%) didpatkan % fraksi yaitu 8,63%,
%Berat tertahan kumulatif yaitu 85,18%, %Berat lolos kumulatif 17,79%. Pada mesh
(-14/+20) didpatkan % fraksi yaitu 8,58%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 90,76%,
%Berat lolos kumulatif 0 .Adapun mesh (-20) yaitu didpatkan hasil % fraksi yaitu
9,21%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 99,97%, %Berat lolos kumulatif 0. Dari data
Double Roll Crusher 2 cm yang telah didapatkan dan telah dihitung dihasilkan nilai
total %fraksi yaitu sebesar 99,97%, nilai total %berat tertahan kumulatof 578,2% dan
nilai total % berat lolos kumulatif yaitu sebesar 134,49%.
Pada data Double Roll Crusher gape 1 cm didapatkan hasil pada mesh (+4)
didpatkan % fraksi yaitu 41,79%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 41,79%, %Berat
lolos kumulatif 58,18%. Pada mesh (-4/+8) didpatkan % fraksi yaitu 20,14%, %Berat
tertahan kumulatif yaitu 61,93%, %Berat lolos kumulatif 38,04%. Pada mesh (-8/+10)
didpatkan % fraksi yaitu 10,06%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 71,99%, %Berat
lolos kumulatif 27,98%. Pada mesh (-10/+14%) didpatkan % fraksi yaitu 9,19%,
%Berat tertahan kumulatif yaitu 81,8%, %Berat lolos kumulatif 18,79%. Pada mesh
(-14/+20) didpatkan % fraksi yaitu 8,86%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 90,04%,
%Berat lolos kumulatif 0%. Adapun mesh (-20) yaitu didpatkan hasil % fraksi yaitu
9,93%, %Berat tertahan kumulatif yaitu 99,93%, %Berat lolos kumulatif 0. Dari data
Double Roll Crusher 1 cm yang telah didapatkan dan telah dihitung dihasilkan nilai
total %fraksi yaitu sebesar 99,97%, nilai total %berat tertahan kumulatof 446,9% dan
nilai total % berat lolos kumulatif yaitu sebesar 152,92%.

Kemudian di ketahui nilai p80 dari Jaw Crusher 2 cm yaitu 7,83 mm, nilai
p80 dari Jaw Crusher 1 cm yaitu 6,07 mm. lalu nilai data dari Double Roll Crusher
2cm yaitu 7,83 mm, nilai p80 dari Double Roll Crusher 1 cm yaitu 6,10 mm.
Kemudian nilai RR80 pada Double Roll Crusher 2 cm yaitu 1 mm, nilai RR80 pada
Double Roll Crusher 1 cm yaitu 0,99 mm. dan juga didapatkan nilai pada
pengolahan berat hilang Jaw Crusher 2 cm yaitu 1,36 mm. Pada pengolahan berat
hilang Jaw Crusher 1 cm didapatkan nilai yaitu 1,37 mm. Berat hilang Double Roll
Crusher 2 cm didapatkan nilai yaitu 1,36 mm, berat hilang pada Double Roll
Crusher 1 cm didapatkan nilai yaitu 5,78 mm.

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Mekanisme peremukan pada proses mengurangi ukuran bahan padat pada


praktikum kali ini ialah menjadi fragmen yang lebih kecil melalui penggunaan gaya
mekanis, hal ini dapat dilakukan menggunakan berbagai jenis alat remuk, seperti
mesin penghancur crusher atau penggiling, cara kerja alat remuk tergantung pada
jenisnya, tetapi prinsip dasarnya adalah menerapkan gaya mekanis untuk memecahkan
material menjadi fragmen yang lebih kecil.
Distribusi ukuran butir sampel dari proses crushing, atau distribusi ukuran
partikel hasil dari proses peremukan yang dilakukan di Laboratorium, sangat
bergantung pada beberapa faktor, termasuk jenis alat remuk yang digunakan, sifat
material baku, serta pengaturan operasional alat, dalam pengaturan industri, distribusi
ukuran butir dari produk akhir yang dihasilkan dari proses peremukan biasanya harus
sesuai dengan spesifikasi tertentu. Memiliki data P80 jaw crusher 2 cm sebesar 7,83
mm, data p80 jaw crusher 1 cm sebesar 6,07 mm, kemudian Memiliki data P80 roll
crusher 2 cm sebesar 7,83 mm, data p80 roll crusher 1 cm sebesar 6,10 mm, kemudian
memiliki berat hilang jaw crusher 2 cm sebesar 1,36 %, nilai berat hilang jaw crusher
1 cm sebesar 1,37%, nilai berat hilang double roll crusher 2 cm sebesar 1,36%, nilai
berat hilang double roll crusher 1 cm sebesar 5,78%.

5.2 Saran

5.2.1 Saran untuk Laboratorium


Meningkatkan sarana dan prasarana di dalam Laboratorium seperti alat safety
tambahan, alat praktek dan lain sebagainya agar pada saat proses praktikum dan
asistensi lebih nyaman lagi.
5.2.2 Saran untuk Asisten
Meningkatkan saat menjelaskan materi asisten tidak terlalu cepat agar kami
dapat memahami materi dengan baik dan kami harap asisten dapat selalu sabar dalam
membimbing kami.

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378
PRAKTIKUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
LABORATORIUM PENGOLAHAN BAHAN GALIAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
CRUSHING

DAFTAR PUSTAKA

Abadi, M. R,. (2020). Wills' Mineral Processing Technology. United Kingdom:


ScientDirect.
Abdurrahman, M. (2020). Teknik Pengolahan Bahan Galian. Jakarta: Salemba
Empat.
Asisten, T. (2024). Modul Praktikum Pengolahan Bahan Galian 2024. Makassar: Tim
Asisten Pengolahan Bahan Galian 2024.
Prabowo, Y. (2018). Teknik Pemrosesan Mineral. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Rasyid, A. (2019). Prinsip dan Aplikasi Teknologi Pertambangan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Riadi, M. (2021). Pengertian, Jenis, Asas dan Tahapan Pertambangan. Bengkulu:
[Link].
Primadina Sasa,. (2024).
Widayat, A. (2017). Pengantar Teknologi Pertambangan dan Pengolahan Mineral.
Yogyakarta: Penerbit Andi.
Zaynuddin, S,. (2023). Teknologi Pengolahan Bahan Galian. Yogyakarta: Penerbit
Andi.

NUR KHAERA FAJRIATI SASA PRIMADINA


09320210275 09320220378

Anda mungkin juga menyukai