0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan12 halaman

Integrasi Kurikulum Merdeka dalam IPAS

jurnal

Diunggah oleh

Yuyun Apriliyanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
50 tayangan12 halaman

Integrasi Kurikulum Merdeka dalam IPAS

jurnal

Diunggah oleh

Yuyun Apriliyanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

33

JPDSH
Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora
Vol.3, No.1 Nopember 2023

PENGINTEGRASIAN KURIKULUM MERDEKA DALAM PEMBELAJARAN IPAS: UPAYA


MEMAKSIMALKAN PEMAHAMAN SISWA TENTANG BUDAYA LOKAL

Oleh
Agist Hasanah1, Childina Rifka Amelia2, Hanifah Salsabila3, Ranti Dwi Agustin4, Rini
Cahyani Setyawati5, Leonardo Elifas6, Arita Marini7
1,2,3,4,5,6,7
Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas
Negeri Jakarta
Email : 1agisthasanah3@[Link], [Link]@[Link],
3hanifahbil101@[Link], 4rantidwia23@[Link],
5rinicahyanisetyawati@[Link], 6leonardoelifas2@[Link],
7aritamarini@[Link]

Article History: ABSTRACT: Penelitian ini bertujuan untuk


Received: 13-10-2023 mengeksplorasi potensi pengintegrasian Kurikulum
Revised: 18-11-2023 Merdeka dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
Accepted: 23-11-2023 dan Sosial (IPAS) sebagai upaya untuk memaksimalkan
pemahaman siswa tentang sejarah dan budaya lokal.
Melalui metode studi pustaka, penelitian ini menganalisis
Keywords: literatur terkait Kurikulum Merdeka, pendekatan
Kurikulum Merdeka, pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial),
pembelajaran IPAS (Ilmu serta sejarah dan budaya lokal. Hasil analisis
Pengetahuan Alam dan menunjukkan bahwa pengintegrasian Kurikulum
Sosial), budaya lokal, Merdeka dalam pembelajaran IPAS dapat memperkuat
pemahaman siswa pemahaman siswa tentang sejarah dan budaya lokal
dengan memberikan konteks yang relevan dan mendalam.

PENDAHULUAN
Kurikulum merupakan sistem utama dalam pendidikan yang harus dievaluasi secara
inovatif, dinamis dan berkala berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
terkini, keterampilan yang dibutuhkan masyarakat. Oleh karena itu, perubahan kurikulum
sekolah tidak bisa dihindari. Memang, dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi tidak lagi memungkinkan dunia pendidikan berlama-lama berada dalam
“zona aman” kurikulum yang sedang berlaku. Perubahan dan perkembangan pendidikan
terlihat ketika pandemi covid-19 yang dimana semua kalangan baik guru, siswa bahkan
orang tua siswa harus mampu memahami teknologi dengan situasi keadaan yang tidak baik
namun pembelajaran tetap harus dijalankan. Selama pandemi covid-19 peserta didik
mengalami penurunan secara drastis pada bidang akademik. Menanggapi kejadian tersebut
pemerintah kemudian menerapkan Kurikulum Darurat. Pengembangan kurikulum
merupakan sebuah proses dinamik yang dimana dapat merespon terhadap tuntutan
perubahan struktural pemerintahan, maupun perkembangan ilmu dan teknologi.
Kurikulum Darurat yang diterapkan saat pandemi menjadi cikal bakal kurikulum
merdeka. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi resmi menerapkan
kurikulum merdeka pada tahun ajaran 2022/2023 di sekolah-sekolah di Indonesia.
Penerapan tersebut didasarkan atas surat keputusan Menteri Pendidikan, kebudayaan,
……………………………………………………………………………………………………………………………………..
[Link]
34
JPDSH
Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora
Vol.3, No.1 Nopember 2023

riset, dan teknologi republik Indonesia Nomor 56/M/2022 tentang pedoman penerapan
kurikulum dalam rangka pemulihan pembelajaran. Sebelum penerapan kurikulum merdeka
di Indonesia adalah masih menggunakan kurikulum 2013 atau kurikulum tematik.
Kurikulum merdeka hadir sebagai kurikulum alternatif yang mengatasi penurunan belajar
selama masa pandemi dan memberikan kebebasan “merdeka belajar” pada pelaksanaan
pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran dan mengembangkan kurikulum di
sekolah memperhatikan pada kebutuhan dan potensi siswa. Melalui merdeka belajar dan
penguatan profil pelajar Pancasila serta fokus pada materi esensial kurikulum merdeka
diharapkan mampu untuk mengatasi permasalahan Pendidikan yang terjadi saat ini dan
masa yang akan datang.
Kurikulum merdeka hadir memberikan tiga opsi untuk sekolah yaitu mandiri belajar,
mandiri berubah dan mandiri berbagi, hal ini dibebaskan untuk sekolah mempelajari lebih
dalam dari tiga opsi tersebut dan sekolah dapat memilih sesuai dengan kesiapan masing-
masing sekolah. Oleh karena itu sekolah dapat memilih tiga opsi yang akan diterapkan
kemudian masing-masing sekolah mencoba untuk mengimplementasikan kurikulum
merdeka di tiap sekolahnya dengan sebaik mungkin. Karena mengimplementasikan sesuatu
yang lama menuju ke yang baru pasti ada kesulitan dalam prosesnya, tetapi hal tersebut
harus tetap dijalankan dan dipelajari lebih mendalam lagi, karena perkembangan setiap
kurikulum memiliki dampak yang baik bagi peserta didik. Salah satu ciri khas baru
kurikulum merdeka adalah penanaman Pendidikan karakter melalui Proyek Penguatan
Profil Pelajar Pancasila atau disingkat P5. P5 merupakan pembelajaran lintas disiplin untuk
mengamati dan memikirkan pemecahan masalah di lingkungan sekitar, dimana
pembelajaran ini berbasis proyek (PBL) yang diintegrasikan dalam mata pelajaran sekolah.
Kurikulum merdeka hadir sebagai inovasi dalam menciptakan suasana belajar yang
menyenangkan, adanya pembelajaran yang tidak menyusahkan guru atau peserta didik
dengan peserta didik juga diberi kebebasan untuk berfikir, kreatif dan aktif dengan
memanfaatkan sumber belajar dari mana saja.
IPAS hadir ketika sekolah mulai mengimplementasikan kurikulum merdeka di
sekolahnya. IPAS sendiri adalah gabungan antara pelajaran IPA dan IPS yang sebelumnya
adalah mereka mata pelajaran yang terpisah. Di dalam penerapan kurikulum merdeka
banyak pengintegrasian dari beberapa pelajaran lain menjadi satu kesatuan dan menjadi
nama baru sebuah mata pelajaran yang harus dikuasai. Alasan perubahan mata pelajaran IPA
digabung dengan IPS menjadi IPAS yaitu: 1) siswa MI/SD mampu memandang sesuatu
secara utuh, 2) mampu mengembangkan pemikiran holistic terkait lingkungan alam dan
social, 3) penguatan profil pelajar Pancasila (Astuti, 2022). Perubahan status mata
pelajaran IPA yang digabung dengan IPS menjadi IPAS bertujuan untuk memantapkan
pengembangan kompetensi yang penting bagi seluruh peserta didik saat ini dan di masa
depan. Selain itu, perubahan ini bertujuan untuk menyelaraskan pembelajaran antara satu
level dan level berikutnya. Pembelajaran IPA dan IPS yang semula terpisah pada
kurikulum 2013 diubah dalam prototype kurikulum menjadi IPAS sebagai landasan
sebelum anak SMA belajar IPA secara terpisah.
IPAS merupakan mata pelajaran yang ditujukan untuk membangun literasi
[Link] dari mata pelajaran ini adalah untuk memperkuat siswa dalam mempelajari
ilmu-ilmu alam dan sosial yang lebih kompleks di SMP. Dalam mempelajari lingkungan,

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
[Link]
35
JPDSH
Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora
Vol.3, No.1 Nopember 2023

siswa melihat fenomena alam dan sosial sebagai fenomena yang saling terkait. Siswa
membiasakan mengamati atau meneliti dan melakukan kegiatan yang mendorong
keterampilan inkuiri lainnya yang sangat penting sebagai landasan pembelajaran sebelum
melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi (Kebudayaan, n.d.). IPAS pada jenjang MI/SD
ditujukan untuk mengembangkan kemampuan literasi dasar. Hal ini menjadi dasar
bagi kesiapan siswa dalam mempelajari IPA dan IPS yang lebih kompleks di jenjang
berikutnya. Siswa melihat fenomena alam dan sosial secara terintegrasi ketika
mempelajari lingkungan sekitar, sehingga mereka akan terbiasa melakukan kegiatan
inkuiri misalnya mengobservasi dan mengeksplorasi. Hal ini sangat penting sebagai
pondasi bagi mereka untuk mempelajari konsep lebih dalam lagi pada mata pelajaran IPA
dan IPS pada jenjang SMP (Anggraena et al., 2022). Sesuai dengan teori perkembangan
siswa, usia MI/SD merupakan usia yang strategis dalam pengembangan kemampuan
inkuiri anak. Mata pelajaran IPA dan IPS digabung menjadi IPAS dengan dasar bahwa IPA
dan IPS merupakan pengembangan keterampilan inkuiri/berpikir ilmiah (Anggraena et
al., 2022). Berbagai
problematika kehidupan sehari-hari tidak dapat dipecahkan dengan mengandalkan satu
disiplin ilmu (AtKisson, 2008), sehingga dengan digabungkannya mata pelajaran IPA dan
IPS diharapkan mampu membantu anak berpikir holistic untuk mengatasi permasalahan
kehidupan sehari-hari
Memahami karakteristik peserta didik adalah suatu aspek yang sangat esensial bagi
pendidik, karena pengetahuan ini menjadi landasan utama dalam merancang metode
pengajaran. Pengajaran terdiri dari berbagai metode, teknik, dan prosedur yang bertujuan
untuk memastikan bahwa siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Strategi dan metode pembelajaran berperan penting dalam mencapai tujuan pembelajaran
yang diharapkan. Strategi pembelajaran adalah upaya bersama antara guru dan siswa dalam
mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Dari segi strategi pembelajaran,
pembelajaran dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu: 1) pembelajaran berdasarkan
eksposisi dan penemuan pengetahuan, serta 2) pembelajaran berdasarkan kelompok dan
individu. Masalah yang sedang dihadapi saat ini adalah masih banyak pendidik yang
mengalami kesulitan dalam membedakan antara strategi pembelajaran dan metode
pembelajaran."
Seorang ahli pembelajaran, secara khusus menegaskan bahwa karakteristik siswa
merupakan faktor yang paling signifikan dalam pengembangan strategi pengelolaan
pembelajaran. Para pakar pembelajaran seperti Banathy, Romiszowski, Dick dan Carey,
Gagne, serta Degeng menempatkan analisis karakteristik siswa sebagai langkah yang sangat
penting sebelum memilih dan mengembangkan strategi pembelajaran. Hal ini
mengindikasikan bahwa apapun model pembelajaran yang dibangun atau strategi yang
dipilih untuk proses pembelajaran, harus selalu mempertimbangkan karakteristik individu
atau kelompok siswa yang sedang belajar. Untuk menciptakan strategi pembelajaran yang
optimal, pendidik pertama-tama harus memahami karakteristik siswa sebagai landasan
utamanya. Karakteristik siswa merujuk pada aspek-aspek atau kualitas unik yang dimiliki
oleh siswa. Analisis karakteristik siswa bertujuan untuk mengidentifikasi ciri-ciri unik ini
ciri-ciri unik ini. Hasil dari analisis ini adalah daftar karakteristik siswa yang digunakan
sebagai dasar untuk menentukan metode pembelajaran yang paling sesuai dalam mencapai
tujuan pembelajaran tertentu. Menurut Degeng (1991), langkah-langkah dalam merancang

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
[Link]
36
JPDSH
Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora
Vol.3, No.1 Nopember 2023

pembelajaran meliputi (1) menganalisis tujuan dan karakteristik materi pembelajaran, (2)
menganalisis sumber- sumber belajar dan hambatan, (3) melakukan analisis karakteristik
siswa, (4) menentukan tujuan dan isi pembelajaran, (5) menetapkan strategi
pengorganisasi isi pembelajaran, (6) menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran,
(7) menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan (8) mengembangkan prosedur
pengukuran hasil pembelajaran. Analisis karakteristik siswa dilakukan setelah merancang
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, dan hasil analisis tersebut digunakan sebagai
pedoman dalam pemilihan, penentuan, dan pengembangan strategi pengelolaan
pembelajaran.
Jika guru tidak memperhatikan karakteristik siswa dan tidak menggunakan ciri- ciri
kepribadian siswa sebagai dasar dalam penyampaian materi pelajaran, siswa akan
menghadapi kesulitan dalam memahami materi tersebut. Mereka mungkin merasa bosan
dan bahkan bisa mulai merasa tidak suka terhadap materi yang diajarkan oleh guru. Kondisi
seperti ini dapat menyebabkan penurunan kualitas dan jumlah pembelajaran yang telah
direncanakan. Segala upaya yang dilakukan oleh guru dan perancang pembelajaran akan
kehilangan makna jika tidak mempertimbangkan karakteristik individu siswa sebagai
subjek pembelajaran. Faktor-faktor karakteristik siswa yang sangat berpengaruh terhadap
proses dan hasil pembelajaran termasuk tingkat kecerdasan, kemampuan awal, gaya
kognitif, gaya belajar, motivasi, serta faktor sosial- budaya. Informasi mengenai tingkat
perkembangan kecerdasan siswa sangat penting sebagai dasar dalam menentukan
komponen-komponen pembelajaran seperti tujuan pembelajaran, materi, media, strategi
pembelajaran, dan evaluasi.
Siswa yang berada pada tahap pemikiran operasional konkret memiliki kemampuan
berpikir logis, namun hanya melalui benda-benda konkret, sehingga semua aspek
pembelajaran perlu disesuaikan dengan kemampuan ini. Sebaliknya, siswa yang sudah
mencapai tahap operasi formal mampu berpikir abstrak dan logis menggunakan pola
berpikir "kemungkinan". Mereka mampu berpikir ilmiah, baik deduktif maupun induktif,
serta memiliki kemampuan untuk menarik kesimpulan, menafsirkan, dan mengembangkan
hipotesis. Oleh karena itu, komponen-komponen pembelajaran perlu dirancang dengan
mempertimbangkan karakteristik siswa yang telah dijelaskan di atas. Guru diharapkan
untuk merencanakan dan menyampaikan pengalaman belajar dengan baik, mengaitkan
materi pelajaran dengan lingkungan sehari-hari siswa sehingga materi pelajaran tidak
menjadi abstrak dan memiliki makna yang lebih dalam bagi mereka.

LANDASAN TEORI
Kurikulum merdeka memberikan kebebasan serta berpusat pada siswa, guru serta
sekolah leluasa memastikan pembelajaran yang cocok, kurikulum merdeka berfokus pada
kebebasan serta pemikiran kreatif salah satu program yang diluncurkan oleh Kemendikbud
dalam peluncuran merdeka belajar yakni dimulainya program sekolah penggerak buat
menunjang tiap sekolah untuk menghasilkan generasi selama hayat yang berkepribadian
sebagai siswa pelajar pancasila (Warsidah, dkk. 2022).
Dalam kurikulum merdeka ini guru serta peserta didik lebih bebas untuk eksplorasi,
kurikulum merdeka lebih menekankan kepada guru untuk menuntun peserta didik. Seperti
yang disampaikan oleh Kemendikbud (Rahmadayanti, Hartoyo 2022)

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
[Link]
37
JPDSH
Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora
Vol.3, No.1 Nopember 2023

Berfokus pada materi yang esensial dan pengembangan kompetensi terhadap


peserta didik pada fasenya sehingga peserta didik dapat belajar lebih mendalam, bermakna
dan menyenangkan serta tidak terburu - buru. Dalam pembelajaran kurikulum merdeka
lebih kepada ke pendekatan diferensiasi yaitu apa yang dipelajari oleh peserta didik
berkaitan dengan materi pembelajaran, peserta didik dapat mengolah ide dan informasi
dengan memilih gaya belajar sendiri ( Angga, dkk. 2022).
Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar bentuk lainnya secara optimal
akan meningkatkan kualitas pelaksanaan pembelajaran di Sekolah Dasar yang terwujud.
Kurikulum Merdeka yang menekankan suatu proses pembelajaran pada pemenuhan
kebutuhan dan karakteristik peserta didik tentunya akan memberikan keleluasan pada
peserta didik untuk terus berkembang sesuai potensi minat bakatnya, apalagi dalam
implementasi kurikulum merdeka di sekolah dasar mengacu pada struktur kurikulum (Fadli,
R. 2022).
Dalam kurikulum merdeka sendiri memiliki pembaruan baru dari kurikulum
sebelumnya yaitu pada pembelajaran IPA dan IPS menjadi IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam
dan Sosial) tujuan dari pembelajaran IPAS pada kurikulum ini yaitu mengembangkan pada
keterampilan inkuiri, mengerti diri sendiri dan lingkungannya yang mengembangkan
pengetahuan dan konsepnya pada pembelajaran. Pada pembelajaran IPAS membantu
peserta didik menumbuhkan keingintahuannya terhadap pengetahuan fenomena yang
terjadi di sekitarnya.

METODE PENELITIAN
Tahapan penelitian ini terdiri dari beberapa langkah kunci. Pertama, peneliti
melakukan identifikasi dan seleksi literatur terkait dengan Kurikulum Merdeka,
pendekatan pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial), sejarah, dan budaya
lokal. Selanjutnya, peneliti melakukan analisis mendalam terhadap literatur yang telah
terpilih untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif terkait dengan topik
penelitian. Setelah itu, peneliti menyusun temuan-temuan dari analisis literatur tersebut
untuk membentuk argumen yang kuat terkait dengan potensi pengintegrasian Kurikulum
Merdeka dalam pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial). Tahap akhir
melibatkan penyusunan hasil analisis dalam bentuk abstrak yang ringkas dan informatif.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Dengan
pendekatan ini, peneliti mampu menyelami dan menganalisis berbagai literatur terkait
dengan Kurikulum Merdeka, pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial),
sejarah lokal, dan budaya lokal. Studi pustaka membantu peneliti untuk memperoleh
informasi terkini dan beragam dari sumber-sumber terpercaya. Analisis mendalam dari
literatur ini kemudian membentuk dasar pemahaman bagi peneliti untuk menghasilkan
kesimpulan yang kuat dan mendukung terkait dengan potensi pengintegrasian Kurikulum
Merdeka dalam pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial).
Dalam konteks artikel ini, implementasi dari temuan penelitian dapat dimulai
dengan mengajukan rekomendasi kepada pihak terkait dalam bidang pendidikan.
Pengintegrasian Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran IPAS (Ilmu Pengetahuan Alam
dan Sosial) dapat direncanakan dengan menyusun modul atau materi pembelajaran yang
menggabungkan aspek sejarah dan budaya lokal. Selain itu, pendekatan pembelajaran aktif
dan kontekstual dapat diterapkan untuk memastikan siswa terlibat secara aktif dalam

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
[Link]
38
JPDSH
Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora
Vol.3, No.1 Nopember 2023

memahami materi yang disampaikan. Diadakannya evaluasi pembelajaran IPAS (Ilmu


Pengetahuan Alam dan Sosial) terdapat asesmen diagnostik, formatif dan sumatif. Pelatihan
tambahan bagi guru juga dapat diperlukan untuk mempersiapkan mereka dalam
mengimplementasikan pendekatan pembelajaran baru ini. Dengan langkah-langkah ini,
diharapkan pemahaman siswa terhadap sejarah dan budaya lokal dapat ditingkatkan secara
signifikan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pendidikan IPAS mempunyai peranan dalam mewujudkan profil siswa Pancasila
sebagai gambaran ideal profil pelajar Indonesia. IPAS membantu siswa membangkitkan
rasa ingin tahu terhadap fenomena yang terjadi disekitarnya. Rasa ingin tahu ini dapat
mendorong siswa untuk memahami cara kerja alam semesta berfungsi dan berinteraksi
dengan kehidupan manusia di bumi. Pemahaman ini dapat digunakan untuk
mengidentifikasi berbagai permasalahan dihadapi dan mencari solusi untuk mencapai
tujuan pembangunan berkelanjutan. Prinsip dasar metodologi ilmiah dalam pembelajaran
ilmu pengetahuan dan teknologi akan membentuk sikap ilmiah (rasa ingin tahu yang besar,
berpikir kritis, analitis dan kemampuan menarik kesimpulan yang tepat) yang memunculkan
kebijaksanaan di kalangan siswa.
Sebagai negara yang kaya akan budaya dan kearifan lokal, melalui IPAS diharapkan
peserta didik menggali kekayaan kearifan lokal terkait IPAS termasuk menggunakannya
dalam memecahkan masalah. Oleh karena itu, fokus utama yang ingin dicapai dari
pembelajaran IPAS di SD/MI/Program Paket A bukanlah pada seberapa banyak konten
materi yang dapat diserap oleh peserta didik, akan tetapi dari seberapa besar kompetensi
peserta didik dalam memanfaatkan pengetahuan yang dimiliki.
Kebijakan pengembangan Kurikulum Merdeka tertuang pada Keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 958/P/2020 tentang Capaian
Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan
Menengah. Dimana dengan kemampuan dan perkembangan peserta didik. Ilmu
pengetahuan sosial atau IPS menjadi payung integrasi dari berbagai cabang disiplin ilmu
sosial dan humaniora untuk menguatkan kompetensi para peserta didik agar memiliki
wawasan dan keterampilan dalam berpikir bertindak dan memiliki kepedulian terhadap
bangsa dan masyarakatnya, dimana mata pelajaran IPS terdiri dari sejarah, sosiologi,
ekonomi dan geografi.
Sejarah fokusnya adalah manusia dalam ruang dan waktu, sementara sosiologi
fokusnya adalah masyarakat, ekonomi manusia dalam memenuhi kebutuhan, serta geografi
fokusnya adalah manusia dalam ruang dan interaksi dengan alam dan lingkungan. Harapan
pada peserta didik dalam pembelajaran IPS agar mereka mampu menganalisis berbagai
fenomena manusia, masyarakat, dan lingkungan dengan perspektif ilmu pengetahuan
sosial. Dimana tujuannya adalah untuk menumbuhkan perspektif IPS peserta didik dalam
mengkaji fenomena manusia, masyarakat, dan lingkungan serta mampu berkontribusi
secara positif menjadi warga negara yang aktif agar berpikir dan bertindak sesuai dengan
nilai-nilai Pancasila.
Hal-Hal Esensial Kurikulum Merdeka di Jenjang SD
1. Penguatan kompetensi yang mendasar dan pemahaman logistik

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
[Link]
39
JPDSH
Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora
Vol.3, No.1 Nopember 2023

• Untuk memahami lingkungan sekitar, mata pelajaran IPA dan IPS digabungkan
sebagai mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
• Integrasi computational thinking dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia,
Matematika dan IPAS
• Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan
2. Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila
dilakukan minimal 2 kali dalam satu tahun ajaran
Alasan perubahan mata pelajaran IPA digabung dengan IPS menjadi IPAS yaitu:
1) Siswa MI/SD mampu memandang sesuatu secara utuh,
2) Mampu mengembangkan pemikiran holistic terkait lingkungan alam dan sosial
3) Penguatan profil , pelajar Pancasila (Astuti, 2022)
Sesuai dengan teori perkembangan siswa, usia MI/SD merupakan usia yang strategis
dalam pengembangan kemampuan inkuiri anak. Mata pelajaran IPA dan IPS digabung
menjadi IPAS dengan dasar bahwa IPA dan IPS merupakan pengembangan keterampilan
inkuiri/berpikir ilmiah (Anggrae na et al., 2022). Berbagai problematika kehidupan sehari-
hari tidak dapat dipecahkan dengan mengandalkan satu disiplin ilmu (AtKisson, 2008),
sehingga dengan digabungkannya mata pelajaran IPA dan IPS diharapkan mampu
membantu anak berpikir holistic untuk mengatasi permasalahan kehidupan sehari-hari.
Capaian IPS dalam Kurikulum Merdeka
Memiliki pemahaman IPAS merupakan bukti ketika seseorang memilih dan
mengintegrasikan pengetahuan ilmiah yang tepat untuk menjelaskan serta memprediksi
suatu fenomena atau fakta dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi yang
berbeda. Pengetahuan ilmiah ini berkaitan dengan fakta, konsep, prinsip, hukum, teori dan
model yang telah ditetapkan oleh para ilmuwan.
Pengajaran IPAS, terdapat dua pendekatan pedagogis: pendekatan deduktif dan
induktif (Constantinou [Link], 2018). Peran guru dalam pendekatan deduktif adalah
menyajikan suatu konsep berikut logika terkait dan memberikan contoh penerapan. Dalam
pendekatan ini, peserta didik diposisikan sebagai pembelajar yang pasif (hanya menerima
materi). Sebaliknya, dalam pendekatan induktif, peserta didik diberikan kesempatan yang
lebih leluasa untuk melakukan observasi, melakukan eksperimen dan dibimbing oleh guru
untuk membangun konsep berdasarkan pengetahuan yang dimiliki (Rocard, [Link]., 2007).
Pembelajaran berbasis inkuiri memiliki peran penting dalam pendidikan sains (e.g.
Blumenfeld et al., 1991; Linn, Pea, & Songer, 1994; National Research Council, 1996; Rocard
et al., 2007). Hal ini didasarkan pada pengakuan bahwa sains secara esensial didorong oleh
pertanyaan, proses yang terbuka, kerangka berpikir yang dapat dipertanggungjawabkan,
dan dapat diprediksi. Oleh karenanya peserta didik perlu mendapatkan pengalaman
personal dalam menerapkan inkuiri saintifik agar aspek fundamental IPAS ini dapat
membudaya dalam dirinya (Linn, Songer, & Eylon, 1996; NRC, 1996).
Menurut Ash (2000) dan diadopsi dari Murdoch (2015), sekurang-kurangnya ada
enam Mengamati Mengamati sebuah fenomena dan peristiwa merupakan awal dari proses
inkuiri yang akan terus berlanjut ke tahapan berikutnya.
1. Pada saat melakukan pengamatan, peserta didik memperhatikan fenomena dan
peristiwa dengan saksama, mencatat, serta membandingkan informasi yang
dikumpulkan untuk melihat persamaan dan perbedaannya. Pengamatan bisa
dilakukan langsung atau menggunakan instrumen lain seperti kuesioner,

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
[Link]
40
JPDSH
Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora
Vol.3, No.1 Nopember 2023

wawancara.
2. Mempertanyakan dan memprediksi Peserta didik didorong untuk mengajukan
pertanyaan tentang hal-hal yang ingin diketahui pada saat melakukan pengamatan.
Pada tahap ini peserta didik juga menghubungkan pengetahuan yang dimiliki
dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari sehingga bisa memprediksi apa
yang akan terjadi dengan hukum sebab akibat.
3. Merencanakan dan melakukan penyelidikan Setelah mempertanyakan dan
membuat prediksi berdasarkan pengetahuan dan informasi yang dimiliki, peserta
didik membuat rencana dan menyusun langkahlangkah operasional berdasarkan
referensi yang benar. Peserta didik dapat menjawab pertanyaan dan membuktikan
prediksi dengan melakukan penyelidikan. Tahapan ini juga mencakup identifikasi
dan inventarisasi faktor-faktor operasional baik internal maupun eksternal di
lapangan yang mendukung dan menghambat kegiatan. Berdasarkan perencanaan
tersebut, peserta didik mengambil data dan melakukan serangkaian tindakan yang
dapat digunakan untuk mendapatkan temuan- temuan.
4. Memproses, menganalisis data dan informasi Peserta didik memilih dan
mengorganisasikan informasi yang diperoleh. Ia menafsirkan informasi yang
didapatkan dengan jujur dan bertanggung jawab. Selanjutnya, menganalisis
menggunakan alat dan metode yang tepat, menilai relevansi informasi yang
ditemukan dengan mencantumkan referensi rujukan, serta menyimpulkan hasil
penyelidikan.
5. Mengevaluasi dan refleksi Pada tahapan ini peserta didik menilai apakah kegiatan
yang dilakukan sesuai dengan tujuan yang direncanakan atau tidak. Pada akhir
siklus ini, peserta didik juga meninjau kembali proses belajar yang dijalani dan
halhal yang perlu dipertahankan dan/atau diperbaiki pada masa yang akan datang.
Peserta didik melakukan refleksi tentang bagaimana pengetahuan baru yang
dimilikinya dapat bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar
dalam perspektif global untuk masa depan berkelanjutan.
6. Mengomunikasikan hasil Peserta didik melaporkan hasil secara terstruktur melalui
lisan atau tulisan, menggunakan bagan, diagram maupun ilustrasi, serta
dikreasikan ke dalam media digital dan non-digital untuk mendukung penjelasan.
Peserta didik lalu mengomunikasikan hasil temuannya dengan mempublikasikan
hasil laporan dalam berbagai media, baik digital dan atau non digital. Pelaporan
dapat dilakukan berkolaborasi dengan berbagai pihak.
Tabel 1. Ruang Lingkup Materi IPAS Fase B
Ruang Lingkup Meteri Inti
a. Rentang Bentang Alam
Geografi b. Sistem tata kelola masyarakat (RT -Provinsi)
c. Penggunaan peta konvensional/digital
Peran dan tanggung jawab sebagai bagian warga sekolah
Sosiologi dan lingkungan tempat tinggal

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
[Link]
41
JPDSH
Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora
Vol.3, No.1 Nopember 2023

a. Keragaman budaya dan kearifan lokal serta upaya


pelestariannya
b. Sejarah tokoh dan periodisasinya di provinsi serta
Sejarah hubungan dengan konteks jaman sekarang
a. Profesi Masyarakat
b. Perbedaan Keinginan dan kebutuhan
c. Nilai mata uang dan kegiatan yang berhubungan
Ekonomi dalamkehidupan sehari-hari

Upaya Memaksimalkan Pemahaman Siswa Tentang Sejarah dan Budaya Lokal


Seiring berkembangnya zaman, di era globalisasi saat ini didukung oleh
meningkatnya kebutuhan teknologi informasi yang semakin canggih, menarik serta
memudahkan aktivitas manusia. Hal tersebut tentu dapat membawa dampak negatif
khususnya bagi generasi muda bangsa yang memiliki budaya dan adat istiadat warisan dari
nenek moyang dalam bentuk kearifan lokal di masing-masing daerah akan mudah luntur.
Revitalisasi serta penguatan nilai-nilai karakter bangsa Indonesia yang telah termuat
didalam kearifan lokal, hendaknya harus terus diajarkan dalam dunia pendidikan. Selain itu,
sejarah bangsa juga harus terjaga karena
. Upaya tersebut dilakukan demi mempersiapkan sekaligus mencetak generasi muda
yang tidak hanya melek teknologi (generasi millenial), namun juga mampu menjaga nilai
serta norma yang ada di masyarakat sebagai bentuk kepatuhan makhluk sosial, sehingga
dapat melahirkan suatu keharmonisan dalam kehidupan.
Penanaman nilai-nilai luhur yang berasal dari warisan kearifan lokal sudah
seharusnya untuk terus dikembangkan dengan tujuan agar mampu bersaing di era modern
saat ini dan demi menjaga amanah dari leluhur yang telah diwariskan dalam kearifann lokal
budaya. Menurut (Prasetyo, 2013), Kearifan lokal mengandung arti keaarifan setempat yang
dimaknai sebagai sebuah ide lokal yang bernilai, bijaksana, dan dijadikan sebagai tuntunan
bagi masyarakat.

KESIMPULAN
Objek kebudayaan lokal merupakan bentuk realisasi dari adanya kearifan lokal yang
masih terjaga di suatu lokal tertentu. Dengan adanya objek-objek budaya lokal, maka
berpotensi bagi adanya wisata budaya lokal. Objek kebudayaan lokal pada masyarakat Nilai
sikap spiritual ketaatan beribadah terintegrasi dalam muatan pembelajaran PPKn
(kandungan dan nilai moral Pancasila). Dari hasil wawancara, penanaman nilai sikap
spiritual ketaatan beribadah dapat didukung dengan budaya lokal yang melekat pada
aktivitas anak kelas tinggi yaitu bermain permainan tradisional pengembangan nilai-nilai
sikap spiritual pada anak melalui kebiasaan memberikan beberapa manfaat yaitu
membiasakan anak bersyukur, mengingatkan anak untuk selalu berbuat baik, dan
membelajarkan anak untuk bertanggung jawab. Temuan tersebut juga didukung oleh
pendapat budayawan yang merupakan seorang dalang dengan karya dan inovasinya yang
terkenal.
Memiliki pemahaman IPAS merupakan bukti ketika seseorang memilih dan
mengintegrasikan pengetahuan ilmiah yang tepat untuk menjelaskan serta memprediksi

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
[Link]
42
JPDSH
Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora
Vol.3, No.1 Nopember 2023

suatu fenomena atau fakta dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi yang
berbeda. Pengetahuan ilmiah ini berkaitan dengan fakta, konsep, prinsip, hukum, teori dan
model yang telah ditetapkan oleh para [Link] dukung alam dalam memenuhi
kebutuhan manusia dari waktu ke waktu juga semakin berkurang. Pertambahan populasi
manusia yang terjadi secara eksponensial juga memicu banyaknya permasalahan yang
dihadapi. Seringkali permasalahan yang muncul tidak dapat diselesaikan dengan melihat
dari satu sudut pandang: keilmuan alam atau dari sudut pandang ilmu sosial saja, melainkan
dibutuhkan pendekatan yang lebih holistik yang meliputi berbagai lintas disiplin ilmu.
Daya dukung alam dalam memenuhi kebutuhan manusia dari waktu ke waktu juga
semakin berkurang. Pertambahan populasi manusia yang terjadi secara eksponensial juga
memicu banyaknya permasalahan yang dihadapi. Seringkali permasalahan yang muncul
tidak dapat diselesaikan dengan melihat dari satu sudut pandang: keilmuan alam atau dari
sudut pandang ilmu sosial saja, melainkan dibutuhkan pendekatan yang lebih holistik yang
meliputi berbagai lintas disiplin ilmu (Yanitsky, 2017). Untuk memberikan pemahaman ini
kepada peserta didik, pembelajaran ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial
perlu dipadukan menjadi satu kesatuan yang kemudian kita sebut dengan istilah IPAS.
Dalam pembelajaran IPAS, ada 2 elemen utama yakni pemahaman IPAS (sains dan sosial),
dan keterampilan Proses.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Purba, P, Rahayu, A, & Murniningsih. “Penerapan kurikulum merdeka pada
pembelajaran IPAS kelas IV di SD Negeri Tahunan Yogyakarta”. Bulletin of Educational
Management and Innovation. 2023
[2] Reigeluth, C.M. “Instructional Design: What is It and Why is It?” Dalam C.M. Reigeluth
(Ed.), Instructional Design Theories andModels: an Overview of TheirCurrent
[Link],N.J.:LawrenceErlbaumAssociates. 1983
[3] Degeng. “Karakteristik Belajar Mahasiswa Berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia”.
Jakarta: DepdikbudDirjen Dikti Proyek Pengembangan Pusat Fasilitas Bersama
Antar Universitas/IUC. 1991
[4] Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Keputusan Menteri Pendidikan,
Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 56/M/2022 tentang
Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. 2022.
[5] D. Rahmadayanti and A. Hartoyo, “Potret kurikulum merdeka, wujud merdeka belajar
di sekolah dasar,”J. Basicedu, vol. 6, no. 4, pp. 2247–2255, 2022
[6] Angga, A., Suryana, C., Nurwahidah, I., Hernawan, A. H., & Prihantini, P.
“Komparasi Implementasi Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar
Kabupaten Garut”. Jurnal Basicedu, 6(4), 5877–5889, 2022
[7] Nisa’,Z.“Implementasi Keterampilan Pembelajaran Abad 21 Berorientasi Kurikulum
Merdeka Pada Pembelajaran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Di SMP
Deltasari Sidoarjo.”
[8] Astuti, E. P. “Pengembangan Kurikulum Merdeka Belajar Pada Peningkatan
Pemahaman Konsep Penyerbukan dengan Metode Demonstrasi di Kelas 4 SDN
Sukorejo 2 Kota Blitar”. EDUKASIA: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran, 3(3), Article
3 , 2022

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
[Link]
43
JPDSH
Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora
Vol.3, No.1 Nopember 2023

[9] Anggraena, Y., Felicia, N., Eprijum, D., Pratiwi, I., Utama, B.,
Alhapip, L., & Widiaswati, D. “Kajian akademik kurikulum untuk pemulihan
pembelajaran”. Pusat Kurikulum dan Pembelajaran. 2022
[10] Kebudayaan, K. P. dan. (n.d.). Buku Saku Tanya Jawab Kurikulum Merdeka. 20.
[11] AtKisson, A. “The ISIS Agreement: How Sustainability Can Improve
Organizational Performance and Transform the World(1st edition)” . Routledge .
2008
[12] Badan Standar, Kurikulum, dan Assesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Capaian Pembelajaran Mata
Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) Fase A – Fase C Untuk
SD/MI/Program Paket A.
[13] Wijayanti, D. I. “Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Pembelajaran IPAS SD/MI.”
Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar ISSN Cetak: 2477-2143 ISSN Online: 2548-
6950 Vol. 08 No. 02. 2023
[14] Internalisasi Kearifan Lokal Sebagai Etnopegagogi : Sumber Pengembangan Materi
Pendidikan IPS Bagi Generasi Milenial. Sosial Khatulistiwa: Jurnal Pendidikan IPS Vol.
01, No. 02, Desember 2021, p. 45 - 52.

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
[Link]
44
JPDSH
Jurnal Pendidikan Dasar Dan Sosial Humaniora
Vol.3, No.1 Nopember 2023

HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN

……………………………………………………………………………………………………………………………………..
[Link]

Anda mungkin juga menyukai