0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan20 halaman

Risiko Bunuh Diri: Asuhan Keperawatan

Diunggah oleh

sinta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan20 halaman

Risiko Bunuh Diri: Asuhan Keperawatan

Diunggah oleh

sinta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

RISIKO BUNUH DIRI

Disusun Oleh :

Sinta Intan Wulandari (223C1043)

FAKULTAS KESEHATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN MAHARDIKA CIREBON
2024
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gangguan jiwa adalah sindrom pola perilaku seseorang yang secara khas
berkaitan dengan suatu gejala penderitaan (distress) atau hendaya
(impairment) di dalam satu atau lebih fungsi yang penting dari manusia, yaitu
fungsi psikologik, perilaku, biologik, dan gangguan itu tidak hanya terletak di
dalam hubungan antara orang itu tetapi juga dengan masyarakat (Maslim &
Maramis dalam Yusuf, 2015).Perilaku bunuh diri merupakan fenomena yang
marak terjadi di berbagai belahan sunia. Bunuh diri adalah manifestasi dari
sejumlah masalah mendasar, bukan hanya depresi. Tindakan bunuh diri
tertentu dapat diakibatkan oleh berbagai keadaan, misalnya konflik yang
belum terselesaikan, tekanan sosial, kurangnya keterampilan masalah sosial,
kemarahan atau kemarahan yang tidak terungkapkan, frustasi dan sedih
kehilangan seseorang (Zahit et all., 2016).
WHO (2017) mencatat jumlah kematian akibat bunuh diri lebih tinggi
daripada korban meninggal akibat HIV, malaria, kanker payudara, atau
kematian akibat korban perang dan pembunuhan. Survey Out World in Data
menyatakan tahun 2019 angka bunuh diri di Indonesia berada di angka 2,5
orang per 100.000 penduduk dengan total penduduk Indonesia sebanyak 270
juta jiwa. Maka terdapat 6.750 orang meninggal karena bunuh diri (Dattani,
2023). Tahun 2020, data Kepolisian RI melaporkan terdapat 671 kasus
kematian bunuh diri, di tahun 2021, data Potensi Desa (Podes) Badan Pusat
Statistik (BPS) menyebut sebanyak 5.787 korban maupun percobaan bunuh
diri di Indonesia (Firdaus, 2021). Disamping itu 2 dari 3 oarang yang
melakukan bunuh diri diketahui oleh perawat dalam beberapa bulan
sebelumnya. Hal ini mengidentifikasi bahwa tenaga kesehatan kurang
memberikan intervensi yang adekuat (Sukamto, 2014).
Berdasarkan data dan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan
asuhan keperawatan kepada pasien risiko bunuh diri di Rumah Sakit Gunung
Jati Cirebon
B. Tujuan Penelitian
Setelah melakukan studi kasus penulis dapat mengetahui tentang
1. Pengertian risiko bunuh diri
2. Etiologi risiko bunuh diri
3. Manifestasi klinis risiko bunuh diri
4. Fase terjadinya risiko bunuh diri
5. Akibat risiko bunuh diri
6. Diagnosis keperawatan pada klien risiko bunuh diri
7. Tindakan keperawatan pada klien risiko bunuh diri
C. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memperoleh wawasan baru
mengenai intervensi keperawatan pada pasien dengan risiko bunuh diri,
memperdalam pemahaman tentang dinamika risiko bunuh diri, serta
membangun dasar konseptual untuk pengembangan teori risiko bunuh diri
dalam konteks keperawatan.
2. Manfaat Praktis
a) Bagi Peneliti
Dapat mengembangkan kemampuan komunikasi terapeutik,
meningkatkan keterampilan identifikasi dan evaluasi serta merancang
rencana keperawatan pada pasien risiko bunuh diri sesuai dengan
kebutuhan individu.
b) Bagi Rumah Sakit
Dapat memberikan pengembangan pada pelayanan dan pengelolaan
pasien risiko bunuh diri di rumah sakit dengan efisien dan standar
pelayanan yang berlaku dengan intervensi yang lebih terarah.
c) Bagi Pasien
Pasien dapat meningkatkan kualitas hidup pasien risiko bunuh diri,
menjalani proses perawatan personal yang lebih terfokus, dan proses
pemulihan terfasilitasi dengan dukungan perawatan yang
terkoordinasi.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN

A. Masalah Utama
B. Proses Terjadinya Masalah
1. Pengertian
Perilaku bunuh diri merupakan tindakan melukai diri sendiri dengan
sengaja untuk mengakhiri hidupnya. Orang dengan gangguan jiwa
memiliki resiko lebih tinggi dalam percobaan bunuh diri karena individu
lebih sering berperilaku impulsive dan agresif dan dirinya sendiri
(Hidayati dkk, 2021).
Risiko bunuh diri adalah perilaku merusak diri yang langsung dan
disengaja untuk mengakhiri kehidupan (Herdman, 2012). Individu secara
sadar berkeinginan untuk mati, sehingga melakukan tindakan-tindakan
untuk mewujudkan keinginan [Link] Kesehatan Dunia
(WHO) mendefinisikan bunuh diri sebagai tindakan membunuh diri
sendiri
2. Etiologi
a. Faktor Predisposisi
Townsend (2009) menyatakan bahwa faktor predisposisi dari risiko
bunuh diri diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu faktor biologis, faktor
psikologis, dan faktor sosial budaya.
1) Faktor biologis
Faktor-faktor biologis meliputi faktor genetik dan faktor
neurokimia (Townsend, 2009). Perilaku bunuh diri sangat bersifat
familial (keturunan). Riwayat keluarga tentang perilaku bunuh diri
berkaitan dengan usaha bunuh diri dan bunuh diri sepanjang siklus
hidup dan diagnosis psikiatri. Transmisi ini terlepas dari transmisi
gangguan kejiwaan. Sebaliknya, perilaku- perilaku bunuh diri
tampaknya dimediasi oleh transmisi kecenderungan agresi
impulsif, sifat yang mengarahkan klien ke kecenderungan yang
lebih tinggi untuk bertindak atas pemikiran bunuh diri. Sementara
itu,berdasarkan penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan
faktor neurokimia, klien depresi yang mencoba bunuh diri
mengalami kekurangan serotonin dan perubahan dalam sistem
noradrenergik
2) Faktor psikologis
Klien risiko bunuh diri mempunyai riwayat agresi dan kekerasan,
kemarahan, keputusasaan dan rasa bersalah, rasa malu dan terhina,
dan stresor.
a) Kemarahan
Freud dalam Townsend (2009) percaya bahwa bunuh diri
merupakan respons terhadap kebencian diri yang intens yang
dimiliki seorang individu. Dia menafsirkan bahwa bunuh diri
merupakan Tindakan agresif terhadap diri sendiri yang
seringkali sebenarnya diarahkan pada orang lain.
b) Keputusasaan dan rasa bersalah
Seorang individu yang putus asa merasa tak berdaya untuk
berubah, tapi dia juga merasa bahwa hidup itu tidak mungkin
tanpa perubahan semacam itu. Rasa bersalah dan pembenaran
diri adalah aspek lain dari keputusasaan. Komponen afektif ini
ditemukan pada veteran Vietnam dengan gangguan stres
pascatrauma yang menunjukkan perilaku bunuh diri (Carroll-
Ghosh, dkk. dalam Townsend, 2009).
c) Riwayat agresi dan kekerasan
Penelitian menunjukkan bahwa perilaku kekerasan sering
berjalan beriringan dengan perilaku bunuh diri (Carroll-Ghosh,
dkk. dalam Townsend, 2009).Studi ini menghubungkan
perilaku bunuh diri pada individu yang mengalami kekerasan
hingga kemarahan secara sadar. Oleh karena itu, studi ini
mengutip kemarahan sebagai faktor psikologis pentingyang
mendasari perilaku bunuh diri (Hendin dalam Townsend,
2009).
d) Rasa malu dan terhina
Bunuh diri sebagai mekanisme untuk“menyelamatkan muka"
sebuah cara yang dirasakan klien dapat mencegahnya dari
penghinaan publik menyusul adanya kekalahan sosial, seperti
kehilangan status atau kehilangan materi yang tiba-tiba.
Seringkali orang-orang ini terlalu malu untuk mencari
pengobatan atau sistem pendukung lainnya (Townsend, 2009)
e) Stresor
Stresor konflik, perpisahan, dan penolakan berkaitan dengan
perilaku bunuh diri pada masa remaja dan masa dewasa muda.
Stresor utama yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri
kelompok berusia 40 hingga 60 tahun adalah masalah ekonomi.
Sementara itu, setelah usia 60 tahun, penyakit medis
memainkan peran yang signifikan sebagai stressor dan menjadi
faktor predisposisi utama terhadap perilaku bunuh diri pada
individu yang berumur lebih dari 80 tahun
3) Faktor sosial budaya
Durkheim menggambarkan tiga kategori sosial bunuh diri:
a) Bunuh diri egoistik
Bunuh diri egoistik merupakan respons individu yang merasa
terpisah dan terlepas dari arus utama masyarakat. Integrasi
kurang dan individu tidak merasa menjadi bagian dari
kelompok kohesif (seperti keluarga atau gereja).
b) Bunuh diri altruistic
Bunuh diri altruistik adalah kebalikan dari bunuh diri egoistik.
Individu yang rentan terhadap bunuh diri altruistik adalah
individu yang secara berlebihan diintegrasikan ke dalam
kelompok. Kelompok ini sering diatur oleh ikatan budaya,
agama, atau politik, dan kesetiaan yang begitu kuat, sehingga
individu bersedia mengorbankan hidupnya untuk kelompok
tersebut.
c) Bunuh diri anomik
Bunuh diri anomik terjadi sebagai respons terhadap perubahan
yang terjadi dalam kehidupan seseorang (misalnya: perceraian,
kehilanga pekerjaan)yang mengganggu perasaan keterkaitan
dengan kelompok) Interupsi dalam norma kebiasaan perilaku
menanamkan perasaan "keterpisahan" dan ketakutan pada
ketiadaan dukungan dari kelompok kohesif sebelumnya
b. Faktor pencetus risiko bunuh diri adalah:
1) Kehilangan hubungan interpersonal atau gagal melakukan
hubungan yang berarti
2) Kegagalan beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stress
3) Perasaan marah atau bermusuhan di mana bunuh diri dapat
merupakan hukuman pada diri sendiri
4) Cara untuk mengakhiri keputusasaan
3. Manifestasi Klinis
Menurut Sutejo, (2017) Tanda dan gejala risiko bunuh diri dapat dinilai
dari ungkapan klien yang menunjukkan keinginan atau pikiran untuk
mengakhiri hidup dan didukung dengan data hasil wawancara dan
observasi. Data yang digunakan adalah data subjektif dan objektif
a. Data subjektif
Klien mengungkapkan tentang
1) Merasa hidupnya tak berguna lagi
2) Ingin mati
3) Pernah mencoba bunuh diri
4) Mengancam bunuh diri
5) Merasa bersalah, sedih, marah, putus asa, tidak berdaya
b. Data objektif
Data objektif risiko bunuh diri adalah:
1) Ekspresi murung
2) Tak bergairah
3) Banyak diam
4) Ada bekas percobaan bunuh diri
Tanda dan gejala risiko bunuh diri yang dapat ditemukan melalui
observasi adalah:
a. Klien tampak murung
b. Klien tidak bergairah
c. Klien tampak banyak diam
d. Ditemukan adanya bekas percobaan bunuh diri
4. Akibat
Akibat dari resiko bunuh diri adalah keputusasaan, menyalahkan diri
sendiri, perasaan gagal dan tidak berharga, perasaan tertekan, Insomnia
yang menetap, penurunan berat badan, perbicara lamban, keletihan,
menarik diri dari lingkungan social, pikiran dan rencana bunuh diri,
percobaan atau ancaman verbal
C. Pohon Masalah
Risiko Cidera

Risiko Bunuh Diri

Harga Diri Rendah

D. Masalah Yang Harus Dikaji


1. Risiko Bunuh Diri
Data subjektif
Klien mengungkapkan tentang
- Merasa hidupnya tak berguna lagi
- Ingin mati
- Pernah mencoba bunuh diri
- Mengancam bunuh diri
- Merasa bersalah, sedih, marah, putus asa, tidak berdaya
Data objektif
Data objektif risiko bunuh diri adalah:
- Ekspresi murung
- Tak bergairah
- Banyak diam
- Ada bekas percobaan bunuh diri
2. Harga Diri Rendah Kronis
Data Subjektif :
- Menilai diri negatif (mis: tidak berguna, tidak tertolong)
- Merasa malu/bersalah
- Merasa tidak mampu melakukan apapun
- Meremehkan kemampuan mengatasi masalah kehilangan
- Merasa tidak memiliki kelebihan atau kemampuan positif
- Melebih-lebihkan penilaian negatif tentang diri sendiri
- Menolak menilaian positif tentang diri sendiri
Data Objektif :
- Enggan mencoba hal baru
- Berjalan menunduk
- Postur tubuh menunduk
3. Risiko Cedera
Data Subjektif : -
Data Objektif : -
E. Diagnosis Keperawatan
1. Risiko Bunuh Diri
2. Risiko Cedera
3. Harga Diri Rendah Kronis
F. Rencana Keperawatan
Diagnosis Perencanaan
Keperawatan Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional
(TUK/TUM)
Resiko bunuh diri : TUM : Pasien menunjukkan 1.1 Bina hubungan saling Kepercayaan dari pasien
ancaman/percobaa Pasien tidak tanda-tanda percaya percaya dengan merupakan hal yang akan
n bunuh diri mencederai dirinya kepada perawat melalui mengemukakan prinsip memudahkan perawat
sendiri atau tidak a. Ekspresi wajah cerah komunikasi terapeutik dalam melakukan pen-
melakukan bunuh tersenyum a. Mengucapkan salam dekatan keperawatan atau
diri b. Mau berkenalan terapeutik, menyapa intervensi selanjutnya
c. Ada kontak mata klien dengan ramah, terhadap pasien
TUK 1 : d. Bersedia baik verbal maupun
Pasien dapat menceritakan non verbal.
membina hubungan perasaannya b. Berjabat tangan
saling percaya e. Bersedia dengan klien.
mengungkapkan c. Perkenalkan diri
masalah dengan sopan.
d. Tanyakan nama
lengkap klien dan
nama panggilan
yang disukai klien.
e. Jelaskan tujuan
pertemuan
f. Membuat kontrak,
topik, waktu, dan
tempat setiap kali
bertemu klien.
g. Tunjukkan sikap
empati dan
menerima klien apa
adanya.
h. Beri perhatian
kepada klien dan
perhatian kebutuhan
dasar klien.
TUK 2 Pasien tetap aman, 1.1 Menemani pasien terus- Pasien tidak melakukan
Pasien tetap aman terlindungi, dan selamat. menerus sampai dia tindakan percobaan
dan terlindungi dapat dipindahkan ke bunuh diri
tempat yang aman
1.2 Menjauhkan semua
benda-benda yang
berbahaya atau
berpotensi
membahayakan pasien
(misalnya: pisau, silet,
kaca, gelas, ikat
pinggang)
1.3 Mendapatkan orang
yang dapat dengan
segera membawa
pasien ke rumah sakit
untuk pengkajian lebih
lanjut dan kemungkinan
dirawat
1.4 Memeriksa apakah
pasien benar-benar
telah meminum
obatnya, jika pasien
mendapatkan obat.
1.5 Dengan lembut
menjelaskan kepada
pasien bahwa anda
(perawat) akan
melindungi pasien
sampai tidak ada
keinginan bunuh diri.
Risiko bunuh diri : TUK 1 Pasien tetap dalam 1.1 Mendiskusikan cara Pasien tidak melakukan
isyarat bunuh diri Pasien mendapatkan keadaan aman dan mengatasi keinginan tindakan
perlindungan dari selamat bunuh diri, yaitu percobaan bunuh diri
lingkungannya dengan meminta
bantuan dari keluarga
atau teman
TUK 2 Pasien mampu 2.1 Memberi kesempatan Penguatan (reinformance)
Pasien dapat meningkatkan harga pasien untuk positif akan meningkatkan
meningkatkan harga dirinya mengungkapkan harga diri pasien
dirinya perasaannya
2.2 Berikan pujian bila
pasien dapat
mengatakan perasaan
positif
2.3 Meyakinkan pada
pasien bahwa dirinya
penting.
2.4 merencanakan aktivitas
yang pasien dapat
lakukan
TUK 3 Meningkatkan 3.1 mendiskusikan dengan Pasien tidak mencoba
Meningkatkan kemampuan pasien pasien cara melakukan
kemampuan pasien dalam memecahkan menyelesaikan tindakan bunuh diri
dalam memecahkan masalah masalahnya
masalah 3.2 mendiskusikan dengan
pasien tentang
efektivitas tiap-tiap
cara penyelesaian
masalah tersebut.
3.3 mendiskusikan dengan
pasien cara
menyelesaikan
masalah yang baik
TUK 4 Pasien mampu 4.1 Mendiskusikan dengan Meningkatkan
menyusun rencana masa
Meningkatkan pasien tentang harapan kepercayaan diri dan
depan
kemampuan pasien harapan pasien serta
menyusun rencana 4.2 Mendiskusikan cara- mencegah
masa depan cara mencapai masa perilaku destruktif diri
depan
4.3 Melatih pasien langkah-
langkah kegiatan
mencapai masa depan
4.4 Mendiskusikan dengan
pasien efektivitas
masing-masing
kegiatan mencapai
masa depan
TUK 5 Keluarga mengetahui 5.1 Mengajarkan keluarga Mendorong keluarga
tanda-tanda dan gejala
Meningkatkan tentang tanda dan gejala untuk mampu merawat
bunuh diri serta
pengetahuan dan perawatannya terhadap bunuh diri yang muncul pasien secara mandiri di
kersiapan keluarga anggota keluarga dengan pada pasien dan tanda rumah
risiko bunuh diri.
dalam merawat dan gejala yang
pasien dengan risiko umumnya muncul pada
bunuh diri pasien berisiko bunuh
diri
5.2 Mengajarkan cara Keluarga sebagai support
melindungi pasien dari system (sistem
perilaku bunuh diri pendukung) akan sangat
seperti : berpengaruh dalam
a. Mendiskusikan mempercepat proses
cara yang dapat penyembuhan pasien
dilakukan jika
pasien
memperlihatkan
tanda dan gejala
bunuh diri
b. Memberikan
tempat aman
c. Menjauhkan
barang-barang
yang berpotensi
digunakan untuk
bunuh diri
d. Senantiasa
melakukan
pengawasan
5.3 Mengajarkan keluarga Meningkatkan peran
tentang hal-hal yang keluarga dalam
dapat dilakukan merawat pasien di rumah
apabila pasien
melakukan percobaan
bunuh diri yaitu :
a. Mencari bantuan
pada tetangga
sekitar atau
pemuka
masyarakat
b. Segera membawa
pasien ke rumah
sakit atau
puskesmas untuk
mendapatkan
penanganan medis
5.4 Membantu keluarga
mencari rujukan
fasilitas kesehatan
yang tersedia bagi
pasien dengan cara:
a. Memberikan
informasi tentang
nomor telepon
darurat tenaga
kesehatan
b. Menganjurkan
keluarga untuk
mengantarkan
pasien berobat atau
kontrol secara
teratur
c. Menganjurkan
pasien membantu
pasien meminum
obat sesuai prinsip
5 benar
DAFTAR PUSTAKA
Firdaus, Andi. 2021. “Kesehatan Mental dan Fenomena Tragedi Bunuh Diri”.
Antara Kantor Berita Indonesia. [Link]
Herdman, T. H. (2012). Diagnose Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2012-
2014. Jakarta: EGC
Nur Oktavia Hidayati, Aviorizki Badori, Alifia Zalfa, Contantius Augusto, Gina
Saufika, K. A., & Salafi, Mitsni Mardhiyatul, Siti Noor Sya’fa, S. R. F.
(2021). Efek DIalectical Behavior Therapy Bagi Pasien Dengan Perilaku
Kekerasan dan Resiko Bunuh Diri. 4, 99–106.
PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan.(Edisi 1). Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Indonesia.
Saloni Dattani, Lucas Rodés-Guirao, Hannah Ritchie, Max Roser and Esteban
Ortiz-Ospina (2023) - “Suicides” Published online at
[Link]. Retrieved from: '[Link]
[Online Resource]
Sukamto, E., Rusini, M., & Agustina. (2014). HUBUNGAN PERAN PERAWAT
SEBAGAI PELAKSANA DALAM MENCEGAH IDE BUNUH DIRI
PADA PENDERITA GANGGUAN JIWA. Jurnal Husada Mahakam, 3(7)
(online). ([Link] diakses pada
tanggal 17 Januari 2023.

Sutejo. 2017. Konsep dan Praktik Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa: Ganguan
Jiwa dan Psikososial. Yogyakarta: PT. Pustaka Baru.
Townsend & Mery.(2009). Psychiatric Mental Health Nursing. (6th).
Philadelphia: F.A Davis Company.
WHO, "Suicide", World Health Organization, acessed on June 17, 2021,
[Link]
Yosep, Iyus. 2011. Keperawatan Jiwa (Edisi Revisi). Bandung: PT. Refika
Aditama
Yusuf, Ah., Rizky, F.P.K., & Hanik, E.N. (2015). Buku Ajar Keperawatan
Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika
Zahit, Ross, Aina Razlin Mohammad Roose. 2016. "Suicide in Adolescence:
Assessments and Interventions. Journal of Adolescence, , 1.

Anda mungkin juga menyukai