Asuhan Keperawatan Post SC Gagal Induksi
Asuhan Keperawatan Post SC Gagal Induksi
Disusun oleh :
Cut Renna Ramadhani
40902000016
Disusun oleh :
Cut Renna Ramadhani
40902000016
HALAMAN PERSETUJUAN
v
HALAMAN PENGESAHAN
vi
MOTTO
proses”
KATA PENGANTAR
Penyelesaian Karya Tulis ilmiah ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan
dan arahan dari semua pihak secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena
itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. H. Gunarto, SH., SE., Akt., [Link]. Selaku Rektor Universitas
Islam Sultan Agung Semarang.
2. Bapak Iwan Ardian, SK.M, [Link], Selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Islam Sultan Agung Semarang
3. Bapak Ns. Muh. Abdurrouf, [Link], Selaku Ketua Program Studi Diploma III
Keperawatan Universitas Islam Sultan Agung Semarang
4. Ibu Ns. Hernandia Distinarista, [Link], Selaku pembimbing Karya Tulis
Ilmiah yang sudah sabar meluangkan waktu dan tenaganya serta memberi
motivasi dan ilmu yang bermanfaat kepada penulis dalam penyusunan Karya
Tulis Ilmiah.
5. Seluruh dosen pengajar dan staff karyawan Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Islam Sultan Agung Semarang yang telah memberikan bantuan
kepada penulis saat penulis menempuh studi.
6. Kepala Ruang dan seluruh perawat diruang Baitunnisa Rumah Sakit Islam
Sultan Agung Banjarbaru yang telah mengizinkan penulis untuk mengambil
kasus diruang tersebut.
viii
7. Kepada Orang tua saya Alm. Bapak Tengku Abu Bakar bin Tengku Yusuf dan
Ibu Reny Maulani yang memberikan pendidikan moral kepada saya serta
selalu mendoakan saya.
8. Kepada saudara saya cece, coco, candy, cloe dan mas dwi yang selalu
memberi motivasi, dukungan, semangat, perhatian dan kasih sayang serta
mendoakan penulis sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini
dengan baik.
9. Kepada Abang, Muhammad Habibullah Jabbar yang selalu memberi
semangat, menjadi tempat berkeluh kesah, dan menjadi support system saya
dalam menyelesaikan tugas akhir. Terimakasih atas waktu, doa yang
senantiasa dilangitkan, dan seluruh hal baik yang telah diberikan kepada saya
selama ini.
10. Untuk sahabatku Nazhirah, Ocha, Ayu, Marisa, Alifia, Nisa, Zaifi, Adit,
Supian, Eci yang telah menghibur, mendoakan, menyemangati, memberikan
saran dan mensupport saya yang jauh dari orang tua.
11. Terakhir, teruntuk diri saya sendiri, Terima kasih kepada diri saya sendiri
yang sudah kuat melewati lika-liku kehidupan hingga sekarang. Terima kasih
pada hati yang masih tetap tegar dan ikhlas menjalani semuanya. Terima kasih
pada raga dan jiwa yang masih tetap kuat dan waras hingga sekarang. Saya
bangga pada diri saya sendiri, kedepannya untuk raga yang tetap kuat, hati
yang selalu tegar, mari bekerja sama untuk berkembang lagi menjadi pribadi
yang lebih baik dari hari ke hari.
DAFTAR ISI
A. Pengkajian Keperawatan............................................................................33
B. Analisa Data...............................................................................................38
C. Planning / Intervensi Keperawatan.............................................................39
D. Implementasi Keperawatan........................................................................40
E. Evaluasi Keperawatan................................................................................43
BAB IV PEMBAHASAN......................................................................................46
A. Pengkajian Keperawatan............................................................................46
B. Diagnosa Keperawatan Tambahan.............................................................54
BAB V PENUTUP.................................................................................................56
A. Kesimpulan.................................................................................................56
B. Saran...........................................................................................................57
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................58
LAMPIRAN...............................................................................................................
xi
DAFTAR ISTILAH
DAFTAR LAMPIRAN
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut data Dinas Kesehatan Kota Semarang pada tahun 2018 jumlah
program SC mencapai angka 30-35% dari total seluruh persalinan (Jateng, 2019).
Angka tersebut terus mengalami kenaikan yang disebabkan oleh berbagai faktor
khususnya pada pasien yang dirawat pada tahun 2021 sampai awal 2022 di RSI Sultan
Agung kota Semarang di ruang Bersalin dengan jumlah 30-80% dari keseluruhan
persalinan.
infeksi dan mengurangi rasa nyeri post partum. Sedangkan pada aspek
rehabilitatif perawat berperan untuk membantu mengembalikan kondisi ibu post
partum ke kondisi seperti sebelum melahirkan dengan cara memberikan informasi
mengenai perawatan masa nifas, yang meliputi memperbanyak waktu istirahat,
makan makanan yang bergizi, menekankan pentingnya pemberian asi ekslusif dan
menjaga kebersihan diri termasuk kebersihan area kewanitaan. (Ira Sukyati & Ita
Yulita Sari, 2020)
Dari data diatas terkait dengan ibu Post Partum Sectio Caesarea (SC), maka
alasan penulis mengangkat kasus Post Partum Sectio Caesarea (SC) Ny.I adalah
karena ada banyak komplikasi pada ibu nifas jika tidak dilakukan perawatan dengan
baik. Komplikasinya bisa terjadi pendarahan, maupun infeksi pada bekas luka jahitan
operasi. Berdasarkan dari uraian diatas maka penulis tertarik dan termotivasi untuk
menyusun studi kasus sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan
program studi Diploma III Keperawatan dengan mengambil kasus yang berjudul,
‟Asuhan Keperawatan pada Ny. I Post Partum Sectio Caesarea (SC) dengan indikasi
gagal induksi dan lilitan tali pusat di Ruang Baitunnisa RSI Sultan Agung
Banjarbaru”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, rumusan masalah dalam studi kasus ini
adalah bagaimana Asuhan Keperawatan pada ibu Post Partum Sectio Caesarea (SC)
dengan indikasi gagal induksi dan lilitan tali pusat?
C. Tujuan Studi Kasus
1. Tujuan Umum
Melakukan Asuhan Keperawatan Pada Ny. I dengan Post Partum Sectio Caesarea
(SC) dengan indikasi gagal induksi dan lilitan tali pusat.
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian pada pasien Ny. I dengan Post Partum Sectio
Caesarea (SC) dengan indikasi gagal induksi dan lilitan tali pusat.
b. Melakukan diagnosa pada pasien Ny. I dengan Post Partum Sectio
Caesarea (SC) dengan indikasi gagal induksi dan lilitan tali pusat.
c. Melakukan intervensi pada pasien Ny. I dengan Post Partum Sectio
Caesarea (SC) dengan indikasi gagal induksi dan lilitan tali pusat.
d. Melakukan implementasi pada Ny. I dengan Post Partum Sectio Caesarea
(SC) dengan indikasi gagal induksi dan lilitan tali pusat.
4
e. Melakukan evaluasi pada Ny. I dengan Post Partum Sectio Caesarea (SC)
dengan indikasi gagal induksi dan lilitan tali pusat.
BAB II
KONSEP DASAR
Berdasarkan
i
6
urgensinya, Section Caesarea (SC) dapat dibedakan menjadi SC cito dan elektif.
i i i i i i i i
yang dilakukan sebelum proses persalinan dimulai. (Farrah Fadhilah & Sari, 2021) i i i i
Kategori 3 : persalinan dibutuhkan tanpa adanya tanda gawat janin atau gawat
i i
ibu. Tingkat urgensi section caesarea (SC) akan menentukan waktu tindakan i i i i i i
segera setelah diagnosis dibuat, yaitu dalam kurun waktu 30 menit pada
i i i i i
Section Caesarea (SC) hanya memiliki kontra indikasi relative, tetapi tidak
i i i i i i i
3. Etiologi
Operasi Sectio Caesaria dilakukan atas indikasi yaitu :
i i i
kehamilan dan persalinan yang buruk, kehamilan disertai dengan penyakit (DM,
i i i i i i
seperti preeklampsia dan eklampsia berat, serta atas keinginan ibu sendiri.
i i i i i i i i i
(Agustin, 2022)
b. Indikasi dari janin
Gawat janin, kelainan tali pusat seperti terlilit tali pusat, prolapsus i i i i
tali pusat, mal presentasi dan mal posisi kedudukan janin yaitu bayi yang i i i
besar i
7
(giant baby). Sedangkan faktor dari plasenta meliputi plasenta previa, solutio i i i i i
plasenta, vasa previa dan plasenta accreta, kegagalan persalinan vakum serta
i i i i i i i
4. Patofisiologi
Adanya hambatan atau kelainan saat persalinan yang dapat mengakibatkan bayi i i i
tidak bisa lahir spontan, seperti ketidaksesuaian antara panggul ibu dengan ukuran i i i i i
kepala bayi, pre eklampsia dan eklampsia berat, keracunan kehamilan yang
i i i i i i i
parah, kelainan letak bayi yaitu lintang dan sungsang, persalinan yang i i i
berkepanjangan, plasenta keluar dini atau solusio plasenta, leher rahim yang
i i i i i i i
tertutup oleh plasenta atau dikenal dengan plasenta previa, ibu hamil yang
i i i i i i i
berusia lanjut, bayi kembar, ketuban pecah sebelum waktunya dan bayi yang
i i i i i i
belum keluar dalam waktu 24 jam, serta kontraksi lemah. (Susanto, 2018)
i i i i
konstipasi. Pada dinding abdomen dan rahim pasien dilakukan tindakan insisi i i
merangsang area sensorik. Hal ini yang menyebabkan gangguan rasa nyaman pada
i i i i i
Selepas berakhirnya operasi bedah ini, daerah sayatan yang ditutup akan
i i i i i i
tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan risiko infeksi. Pada saat post i i i i
partum, hormon progestoren dan estrogen akan menurun yang dapat menyebabkan i i i i i i i
kontraksi dan involusi uterus tidak adekuat sehingga terjadi perdarahan dan i i i i i
2021)
5. Komplikasi
Komplikasi Post SC menurut Nurjaya (2022) ialah : i
c. Sepsis setelah pembedahan, frekuensi dan komplikasi ini lebih besar bila
i i i i i i i i i
dalam rahim,
8
d. Cidera pada sekeliling usus besar, kandung kemih yang lebar dan ureter,
i i i i i i i i
g. Gangguan laktasi,
h. Penurunan elastisitas otot perut dan otot dasar panggul.
i i i
yang muncul pada Sectio Caesarea (SC) ialah mencakup perdarahan, infeksi i i i i i i
sesudah pembedahan. Penyebab utama triase kematian pada ibu hamil dan nifas
i i i i i i i
bengkak dan darah tinggi) sebanyak 24 %, dan infeksi 11%. Asuhan masa nifas
i i i
diperlukan dalam periode awal karena merupakan masa kritis bagi ibu. Di
i i i i i
Persalinan bedah sesar (sectio caesarea) memiliki resiko 5 kali lebih besar
i i i i i i i i i i
paling dominan adalah faktor anastesi, pengeluaran darah oleh ibu selama proses i i i i i i
pembuluh darah) dan pemulihan bentuk dan letak rahim menjadi tidak sempurna.
i i i i i i
Dampak daripada sectio caesarea ini adalah terjadinya infeksi pada ibu seperti i i i i i i i
infeksi Rahim, infeksi kandung kemih, infeksi usus dan infeksi pada lukabekas
i i i i i i
operasi. Jika infeksi ini dibiarkan berlarut maka akan menyebabkan kematian
i i i i i i
6. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis pada pasien dengan post sectio caesaria menurut
i i i i i i i
a. Perawatan awal i
menit sekali pada 1 jam pertama, kemudian tiap 30 menit sekali untuk
i i i i i i
2) Pemberian cairan
i i
Pasca operasi sectio caesaria, pasien akan puasa dalam 6 jam pertama. i i i i i
Oleh karena itu dalam pemberian cairan intravena ke pasien harus tercukupi
i i i i i i i i
Jika kadar hemoglobin rendah maka pasien diberikan transfusi darah sesuai i i i i i
1) Diit
Biasanya pemberian cairan intravena dihentikan setelah pasien i i i i i i i
melalui mulut. Minuman diberikan dalam jumlah yang sedikit pada 6-8 jam
i i i
2) Kateterisasi i i
nyaman pada pasien, hal ini dapat menghambat involusi uteri dan i i i
pasien. i
a) Antibiotik,
b) Analgesik, i
c) Supposituria
10
7. Pathway
Sectio Caesaria
Risiko 9.
Perdarahan Imobilisasi
Terputusnya inkonuitas
jaringan, pembuluh
Jaringan Terbuka darah, dan saraf-saraf
10. di sekitar daerah insisi Defisit Perawatan
Diri
[Link]
Kurang Merangsang
pengeluaran histamin
dan prostaglandin
Invasi
[Link]
Nyeri Akut
[Link]
Risiko
bagi pasien untuk merawat bekas luka operasi sectio caesarea terutama saat
i i i i i i i i
meminimalkan potensi risiko agar tidak terjadi komplikasi, yaitu dengan cara
i i i i
melakukan mobilisasi dini, dan perawatan luka post sectio caesarea untuk
i i i i i
dan analgetik, perawat harus berkolaborasi dengan tim medis lain dalam pemberian
i i i i i i i
obat yang bertujuan untuk mengatasi tanda dan gejala yang terjadi pada ibu
i i i i
minum obat secara teratur dan mengingatkan pasien untuk selalu kontrol ke
i i i i i i
preventif, kuratif, dan rehabilitatif penting dilakukan pada ibu post partum
i i i i
pada masa persalinan dan masa nifas penting bagi kesehatan serta dapat
i i i i i
mengatasi masalah pada ibu post partum sedini mungkin untuk mencegah
i i i i
a) Rahim
(1) Involusi uterus (Kembalinya rahim) i i
2012)
Dilakukan pemeriksaan palpasi yang bertujuan untuk i i i
(a) Saat bayi baru dilahirkan maka fundus uteri masih berada di i i
setinggi pusat yang beratnya sekitar 1000 gr, pada saat bayi baru
i i i
lahir.
(b) Fundus uteri teraba 2 jari dibawah pusat, pada akhir kala i i
berat sekitar 500 gr, pada satu minggu atau 7 hari post partum.
i i
(d) Fundus uteri teraba diatas simfisis pubis beratnya sekitar 350 i i i i
(e) Fundus uteri akan mengecil atau tidak teraba dengan berat i i i i i i
(e) Anestesi, i i
(g) Usia,
(h) Nutrisi,
(i) Paritas,
(j) Pekerjaan. i i
(2) Lokhea i
et al., 2022)
i
menjadi : i
postpartum.
(d) Lokhea alba. i
(e) Servik. i
(3) Laktasi
Manajemen laktasi merupakan segala daya upaya yang i i i i
dilahirkan, umumnyabayi
14
akan menyusu setiap 1-2 jam di siang hari dan beberapa kali saja di i i i i
malam hari. Rata-rata durasi menyusu adalah 15-20 menit untuk tiap i i
yang terjadi pada serviks pada masa postpartum adalah dari bentuk i i i
perubahan ketika masa kehamilan. Tonus dan mobilitas otot tractus akan
i i i
sekresi salivanya menjadi lebih asam dan lebih banyak. Hal ini
i i i i i
Pada masa nifas sering terjadi konstipasi setelah persalinan. hal ini i i i i i
angsur untuk kembali normal. Pola makan ibu nifas tidak akan seperti i i i
biasa dalam beberapa hari dan perineum ibu akan terasa sakit saat i i i i i
eliminasi pada ibu nifas akan tetapi, terjadinya konstipasi juga dapat
i i i
terhadap lukanya akan terbuka apabila ibu buang air besar. (Nurul Azizah,
i i i
2019)
3) Sistem Perkemihan i i i
(Susanto, 2018)
kelima setelah persalinan. Jumlah urine yang keluar dapat melebihi 3000 ml
i i i i i i i i
perharinya. Tindakan ini disebut normal dari bagian kehamilan. Selain itu,
i i i i
meningkat secara relative. Oleh karena itu, distensi yang berlebihan, urine
i i i i i i i i i i
distensi akan kembali normal pada dua sampai delapan minggu setelah i i i i i
tertimbun selama hamil melalui diaforesis dan diuresis. Trauma jalan lahir,
i i i i i
4) Sistem Muskuloskeletal i i i
lama, tetapi biasanya pulih dalam 6 minggu. Ligamen, fasia, dan diafragma
i i
pelvis yang meregang pada waktu persalinan, setelah bayi lahir, secara
i i i i i i i
berangsur- angsur menjadi ciut dan pulih Kembali sehingga tidak jarang
i i i i
yang berlangsung lama akibat besarnya uterus pada saat hamil, dinding i i i
yang terjadi selama hamil berlangsung secara terbalik pada masa pasca
i i i i i
pembesaran rahim.
i i
dari peritoneum, fascia tipis dan kulit. Tempat yang lemah ini i i i i
b) Kulit abdomen i
c) Striae i
memiliki i
17
d) Perubahan ligameni i
5) Tanda-Tanda Vital
a) Suhu Tubuh
Dalam 24 jam post partum suhu akan naik sekitar 37,5°C - i
kehilangan banyak cairan dan kelelahan. Pada hari ketiga suhu akan
i i i i
(Susanto, 2018)
b) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa berkisar 60-80 kali
i i i
c) Tekanan Darah i
d) Pernafasan i
nadi. Apabila nadi dan suhu tidak normal, pernafasan juga akan i
bila kelahiran melalu section caesaria kehilangan darah dapat dua kali lipat.
i i i i i
hematokrit akan naik, sedangkan pada SC, hematokrit cenderung stabil dan
i i i i i
pascapartum yang
terjadi pada wanita antara lain sebagai berikut:
i i i
vasodilatasi.
c) Terjadinya mobilisasi air ekstravaskular yang disimpan selama wanita
i i i
hamil
Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat
i i i i
meningkat bahkan lebih tinggi selama 30-60 menit karena darah yang
i i i i i
umum. Nilai ini meningkat pada semua jenis kelahiran. (Nurul Azizah, i i i i
2019)
7) Sistem Hematologi i i
ml. Total volume darah Kembali normal dalam waktu 3 minggu postpartum. i i
pada awal-awal masa post partum sebagai akibat dari volume darah. i i
ke-3 sampai ke-7 post partum dan akan kembali normal dalam 4-5
i i i
b. Adaptasi Psikologis
Menurut Susanto, (2018) 3 tahap penyesuaian psikologi ibu dalam masa
i i i
Fase ini biasanya setelah melahirkan sampai hari kedua dengan ciri-ciri :
i i i i i i
peningkatan nutrisi
i
Fase ini biasanya terjadi pada hari ketiga sampai hari ke sepuluh
i i i i i
dengan ciri-ciri :
i
3) Fase Letting Go
i i
Pada fase ini biasanya terjadi pada hari ke sepuluh sampai akhir i i i i
a) Ibu merasa percaya diri untuk merawat diri dan bayinya. Setelah
i i i i i
perhatian keluarga.
i i
suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua pada saat post
i i i
Bagi ibu post partum, apalagi pada ibu yang pertama kali melahirkan i i
barunya yang begitu fantastis terjadi dalam waktu yang begitu cepat, i i i i
yakni peran sebagai “ibu” Dengan respon positif dari lingkungan, akani i i i
aspirasi Hal yang dialami oleh ibu ketika melahirkan akan sangat i i i
4) Pengaruh budaya i
melewati saat transisi ini, apalagi jika ada hal yang tidak sinkron antara
i i
asuhan dan perawatan yang harus diberikan pada ibu dan bayi akan i i
3. Penatalaksanaan Keperawatan
Menurut Samsider Sitorus (2021) Penatalaksanaan keperawatan untuk
i i i i i
mengatasi nyeri post sectio caesaria yaitu berupa teknik non farmakologis
i i i i i i
b. Hipnosis
c. Perubahan dan pergerakan posisi
i i i
g. Aromaterapi i
menjadi pilihan yang lebih aman digunakan bagi ibu postpartum. Berbagai
i i i
yaitu analgesik non narkotik dan analgesik narkotik, pilihan obat tegantung pada
i i i
rasa nyeri. Namun penggunaan obat terlalu sering dapat menimbulkan efek
i i i i i i i
tidak memiliki kekuatan efek yang diharapkan. Salah satu contoh terapi
i i i i i
4. Pengkajian
Pengkajian atau anamnesa adalah langkah pertama yang dilakukan untuk
i i i
menggali informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang
i i i i
terkait keluhan dan kondisi pasien. Anamnesa dilakukan untuk memperoleh data
i i i i i i i
pasien untuk memperoleh data tentang pasien. Hal ini dapat dilakukan pada
i i i i i i
keadaan darurat ketika pasien tidak memungkinkan lagi untuk memberikan data
i i i i i i
1) Biodata
Untuk biodata bisa ditanyakan langsung ke pasien atau ke keluarga. i i i i
a) Keluhan utama i
c) Riwayat menstruasi i
d) Riwayat KB
Data yang diperoleh dari Riwayat KB menurut Susanto (2018) adalah i i i
Terutama pada masa nifas yang sangat dibutuhkan cairan yang cukup.
i
(Susanto, 2018)
f) Pola istirahat
Istirahat dibutuhkan oleh ibu postpartum. Oleh karena itu, perawat i i i i
rata waktu yang diperlukan adalah 6-8 jam. (Nurul Azizah, 2019) i
g) Personal hygienei i i
Menurut Susanto (2018), data ini sangat penting untuk diketahui karena
i i i i
hal ini akan mempengaruhi kesehatan pasien dan bayinya. Jika pasien i i i i i i
a. Data Objektif i
Periksa dan cek keadaan ibu secara umum, apakah ibu merasa
i i i i i
lelah setelah melahirkan. Hal ini akan memengaruhi ibu dalam proses
i i i i i i i
hal ini karena pengeluaran tenaga selama proses persalinan dan keletihan,
i i i i i i i i i
24
Pada saat post partum suhu dalam beberapa hari akan naik antara i i
37,2- 37,8°C, hal ini disebabkan karena adanya resorspi atau penyerapan i i i i i
resorpsi.
i Adanya infeksi i pada ibu akan ditunjukkan dengan i
a) Mata
Pemeriksaan konjungtiva mata yang anemis, karena perdarahan pada
i i i i i
2019)
b) Hidung
Menanyakan dan memeriksa hidung ibu, apakah ibu menderita sinusitis,
i i i i i
polip atau pilek. Jika hal ini terjadi kemungkinan sang ibu i i i
c) Telinga i
infeksi atau ada peradangan ditelinga ibu, dan memeriksa apakah ada
i i i i i
dapat masuk kedalam gigi yang berlubang dan secara sistemik dapat i i i i
e) Leher i i
Memeriksa leher ibu, apakah terdapat kelenjar tiroid dan kelenjar limfe
i i i i i i i i i i
yang membesar. Apabila ibu mengalami pembesaran limfe itu tanda nya i i i i i i
terjadi infeksi pada ibu. Didukung dengan data lain yaitu dengan
i i i i
a) Payudara
(1) Inspeksi i bentuk, i kesimetrisan,
i i ukuran payudara. Ukuran
danbentuk payudara tidak mempengaruhi produksi ASI.
i i i
(Susanto, 2018)
25
2018)
b) Aerola i
menjadi lebar dan warnanya akan menjadi lebih hitam, hal ini
i i i i
c) Puting
(1) Inspeksi ukuran dan bentuk puting. Puting mempunyai ukuran yang
i i i
(Wahyuni, 2020)
(2) Inspeksi apakah terdapat lecet, lesi ataupun luka. (Wahyuni, 2020)
i i i i i
payudara atau tidak, untuk mengetahui apakah ada massa atau tidak. i i
(Wahyuni, 2020)
5) Menurut Wahyuni (2020), lakukan pemeriksaan fundus uteri dan
i i i i
a) Kaji luka pada persalinan section caesarea, apakah luka terdapat tanda- i i i i i
tanda infeksi i
celah memanjang setelah itu lalu diukur lebar dan panjang dari
i i i i i
a) Inspeksi apakah ada edema pada tractus urinarius, jika ada hal ini dapat
i i i
pembalut. i
berikut : i
(3) Kaji warna dan bau lokhea. Lokhea dibagi menjadi 3, yaitu : i i i
27
(1) Lokhea rubra, berwarna merah dan merah muda, lokhea ini
i i i i i
(3) Lokhea alba, terjadi pada minggu kedua sampai enam post
i i i i
busuk.
7) Menurut Wahyuni (2020), cara melakukan pemeriksaan perineum
i i i i i i
partum.
8) Menurut Wahyuni (2020), cara melakukan pemeriksaan ekstremitas adalah
i i i i i i
b) Adakah pembengkakan/oedem. i i i i
nyeri pada betis, jika nyeri maka tanda homan positif. Tanda homan
i i i
5. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri Akut b.d Agen Pencedera Fisik (D.0077)
i i i i i
6. Intervensi Keperawatan
Terapeutik
i i
meredakan nyeri i i i
Edukasi
i
pemicu nyeri i i
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian analgetic, i i i
Jika perlu i
Kehamilan
i tingkat perdarahan menurun, 1. Monitor
i i tanda dan
(D.0012) dengan kriteria hasil :
i i gejala perdarahan
i i
Jika perlu i
2. Pertahankan i bedrest i i
selama i
perdarahan i
Edukasi
i
30
perdarahan i
konstipasi
3. Anjurkan meningkatkan asupan i
terjadi perdarahan
i i
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian obat i i
Efek
i i Prosedur selama 3x24 jam maka tingkat Observasi
i i i
kriteria hasil :
i lokal dan sistemik i
Edukasi
i
cairan
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian i i
menumbuhkan kepercayaan i i i
ansietas i
Edukasi
i
1. Jelaskan i prosedur, i
termasuk sensasii i
yang dialami
2. Anjurkan keluarga untuk i
5. Defisit Perawatan
i i Setelah dilakukan intervensi Dukungan perawatan diri
i i i i i
Kelemahan
i i perawatan
i diri meningkat, 1. Identifikasi kebiasaan aktivitas
i i i
5. Verbalisasi
i keinginan
i 3. Dampingi dalam melakukan
i
6. Mempertahankan
i i diri
kebersihan mulut
i i Edukasi
i
sesuai kemampuan
i i
33
BAB III
A. Pengkajian Keperawatan
1. Pengkajian i
Pengkajian dilakukan dengan cara allo dan auto anamnesa, serta dengan cara
i i i i i
melihat data rekam medik, pengkajian dilakukan pada tanggal 4 Juni 2022
i i i i
pada pukul 11.25 WITA, dengan hasil berikut : pasien atas nama Ny. I, umur 24 i i i
status obstetric yaitu nifas hari ke 0, P1 A0. Tipe persalinan pasien adalah i i i i i
Sectio Caesaria (SC), dengan berat bayi lahir 2,970 Kg, keadaan bayi waktu
i i i i i
2. Keluhan utama i
Pasien mengeluh nyeri pada perut bekas operasi post Sectio Caesaria (SC), dan
i i i i i i i i i
Pasien post SC hari 0 dengan indikasi gagal indikasi dan lilitan tali pusat,
i i
terdapat luka post SC pada abdomen ibu dengan keadaan tertutup kasa steril,
i i i i i i
4. Masalah kehamilan i
5. Riwayat menstruasi i
menstruasi normal setiap bulan bisa mundur atau maju kurang lebih 2 hari dari
i i i
jadwal dibulan sebelumnya. Dan lama menstruasi pasien sekitar kurang lebih i i i i i i
7 hari setiap kali menstruasi , pada satu bulan satu kali. Pasien mengatakan tidak
i i i i
6. Riwayat KB
Pasien mengatakan belum pernah menggunakan KB dengan jenis apapun
i i i i i i i
a. Tanda-tanda vital
34
diantaranya adalah : Tekanan darah 122/86 mmHg, nadi 89x /menit, suhu i i
36,5
°C, frekuensi pernafasan 20x /menit, dan saturasi oksigen 98%.
i i i i i
b. Keadaan umum
i
1) Kepala i
2) Leher i i
Leher normal, tidak ada tonjolan, trakea berada ditengah, tidak ada benjolan
i i i i i i
d. Thorax
Inspeksi i : Dada simetris, kulit bersih, tidak ada edema yang terlihati i i i i
Palpasi : Tidak ada edema yang teraba, kultur kulit halus, iktus kordis i i i
teraba i
Perkusi
i : Bunyi jantung pekak i
f. Abdomen i
Inspeksi i : Perut normal, terdapat linea alba, uterus kontraksi, terdapat luka
i i i i i
Untuk fundus uteri tingginya 14cm dengan posisi 2 jari dibawah pusar, dan i i
kontraksi uterus i
35
g. Lokia
Jumlah lokia pada pasien kurang lebih 300 cc, berwarna merah kecoklatan i i i i i
bau amis.
h. Perineum i i
Keadaan perineum utuh, tidak ada tanda REEDA, terdapat darah dengan
i i i i i i i
i. Eliminasi
i
Pasien mengeluh perut nyeri saat bergerak dengan aktif, tidak ada kesulitan
i i i i i i i i i
dalam BAK dan BAB, klien menggunakan kateter. Pasien mengatakan BAB i i i i i i
kurang lebih 3 hari sekali, dan sejak di Rumah Sakit belum ada BAB. Tidak i i i i
j. Ekstremitas
i i
Ekstremitas pasien tidak ada varises dan tanda homans yang negatif.
i i i i i
a. Oksigenasi i
Pasien tidak ada sesak nafas, tidak ada nafas cuping hidung, tidak ada nafas
i i
b. Nutrisi
Pasien makan sedikit tapi sering, pasien makan-makanan rumah sakit yang
i i i i
terdiri dari bubur, sayur, dan ikan tinggi protein. Pasien mengeluh tidak nafsu
i i i i i
c. Cairan
Pasien minum air putih kurang lebih 700 cc setiap hari sedikit demi sedikit.
i i i i i i
d. Eliminasi
i
kateter. Pasien tidak ada keluhan BAB dan BAK, dan belum ada BAB selama
i i i i i i
di Rumah Sakit. Pasien mengeluh mual dan muntah serta nyeri pada perut i i i i i i
sesudah operasi.
i i
a. Keadaan Umum i
Postur bayi terlentang, ekstermitas baik, bayi menangis kuat, tubuh bayi i i i i i
b. Tanda-tanda vital
Dari pemeriksaan yang dilakukan, didapatkan hasil dengan suhu 36,7 °C,
i i i
c. Antopometri i
Dari pemeriksaan yang dilakukan, didapatkan hasil dengan panjang badan lahir
i i i
52cm, berat badan lahir 2,970 kg, lingkar kepala 34 cm, lingkar dada 33 cm,
i i
d. Kepala i
2) Mata
Mata bersih, tidak ada secret, konjungtiva normal, sklera berwarna putih,
i i i i i
pupil isokor.
3) Telinga i
Telinga simetris, bersih, tidak ada secret yang terlihat, pendengaran baik,
i i i i i i i i
4) Hidung
Hidung bersih, tidak ada secret, tidak ada nafas tambahan, tidak ada napas i i i
5) Mulut
Mulut bersih, gusi baik berwarna merah muda, refeks menghisap bagus. i i i i i i
e. Leher i i
Leher dapat bergerak dengan leluasa, tidak ada pembengkakan yang terjadi,
i i i i i i i i i
f. Dada
Jantung
Inspeksi i : tidak ada edema, tidak ada bekas luka, dada
i i i
g. Abdomen i
Inspeksi i : perut normal, tidak ada bekas luka yang terlihat, tali pusat
i i i
masih basah
Auskultasi : bising usus bayi 10x/menit i
Tidak ada pembengkakan, tulang punggung normal, tidak ada kelumpuhan pada
i i i
ke dalam. i
i. Genitalia i
Anus dan rektum bayi positif, normal. Mekonium keluar beberapa jam setelah
i i i i i i i
melahirkan. i
k. Kulit
Kulit bersih, tidak ada kelainan, ada bekas luka akibat penyuntikan vitamin K
i i i i
10. Pemeriksaan
i i
penunjang
i
Pemeriksaan darah
i i
Hematologi
Darah Rutin 1
Hemoglobin i : 11,3g/dL
(Low) Hematokrit : 33,1 % i
B. Analisa Data
Pada hari selasa tanggal 5 juli 2022 pukul 11.30 WITA, didapatkan data i
subjekttif yang pertama yaitu pasien mengeluh nyeri dibagian perut setelah dilakukan
i i i i i i i i i
tindakan Sectio Caesaria (SC), pasien juga mengeluh sulit tidur karena nyeri i i i i i i i
pada bagian perut. Pasien mengeluh mual dan muntah efek anestesi setelah i i i i i i i i i i
operasi SC. Pasien mengatakan nyeri seperti berdenyut, pasien pun mengatakan
i i i i i i i i i i
nyeri di luka jahitan pada perut dengan skala 4 dari 1 sampai 5 dan nyeri nya
i i i i
Sedangkan data objektifnya pasien tampak tidak nyaman dan gelisah, sesekali
i i i i i i
pasien meringis karena kesakitan saat bergerak. Pasien bersikap protektif untuk
i i i i i i i i i
menghindari nyeri bertambah parah. Pasien pun sesekali mual dan muntah.
i i i i i i
pada perinium setelah operasi dilakukan, pasien khawatir jika darah akan terus
i i i i i i
tampak tidak nyaman dan gelisah dengan keadaannya. Perdarahan kurang lebih i i i i i
kehamilan post SC dengan indikasi gagal induksi dan lilitan tali pusat.
i i
Data fokus yang ketiga, pasien mengatakan luka jahitan diperut pasca operasi i i i i i
mengerti cara untuk merawat diri setelah melahirkan dan tidak tau cara mencuci tangan
i i i i i i i
yang baik dan benar. Pasien mengatakan takut jika terjadi infeksi kepada pasien karena i i i i i i i i
keadaannya yang minim informasi mengenai perawatan ibu hamil pasca operasi SC.
i i i i i
horizontal diatas tulang kemaluan pasien. Pasien nampak tidak tau cara menjaga i i i i
kebersihan diri dan lingkungan pasien, pasien tidak mencuci tangan setelah menyentuh
i i i i i i i i i
kasa bekas perut pasien. Tedapat data leukosit dengan hasil 18,34 ribu (High).
i i i i i i
Diagnosa yang pertama yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik i i i i i i i i
(prosedur operasi). Tujuan dan kriteria hasil yang ditetapkan yaitu: Setelah dilakukan
i i i i i i
intervensi selama 2x24 jam maka tingkat nyeri menurun, dengan kriteria hasil :
i i i i i i i
menurun, Kesulitan tidur menurun, Mual menurun, Muntah menurun, Pola makan
i i i i i
membaik. i
durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan skala nyeri, Indentifikasi faktor pemberat dan
i i i i i i i
mengurangi rasa nyeri, kontrol lingkungan yang memperberat nyeri, Ajarkan Teknik
i i i i i i i
kehamilan. Tujuan dan kriteria hasil yang ditetapkan yaitu: Setelah dilakukan intervensi
i i i i i i i
selama 2x24 jam maka tingkat perdarahan menurun, dengan kriteria hasil: Kelembapan
i i i i i i i
Monitor intake dan output cairan, Monitor tanda dan gejala perdarahan, Jelaskan i i i i
Diagnosa yang ketiga yaitu risiko infeksi dibuktikan dengan efek prosedur i i i i i i
infasif, terdapat jahitan post SC diatas tulang kemaluan. Tujuan dan kriteria hasil yang
i i i
ditetapkan yaitu: Setelah dilakukan intervesi selama 2x24 jam maka tingkat
i i i i i i
infeksi menurun, dengan kriteria hasil: Nyeri menurun, Suhu tubuh dalam batas
i i i i i i
normal, Kultur area luka membaik. Adapun intervensi yang dilakukan yaitu: Monitor i i i i
tanda dan gejala lokal dan sistemik, Batasi jumlah pengunjung, Cuci tangan sebelum i i i i i
dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien, Ajarkan cara mencuci
i i i i i
D. Implementasi Keperawatan
Pada tanggal 5 Juli 2022 pukul 11:58 WITA dilakukan implementasi i i
dan skala nyeri yang didapat yaitu pasien mengatakan nyeri pada bagian perut i i i i i
setelah dilakukan tindakan SC, pasien mengatakan nyeri nya seperti berdenyut,
i i i i i i i i i
nyeri nya diluka jahitan pada perut, dengan skala 4 dari 1 sampai 5. Klien
i i i i
tidak nyaman dan gelisah, sesekali pasien meringis karena kesakitan saat bergerak. i i i i i i i i i
Pada tanggal 5 Juli 2022 pukul 12:15 WITA dilakukan implementasi kedua i i i
yaitu mengidentifikasi faktor pemberat dan faktor memperingan nyeri yang didapat
i i i i i i i
adalah : pasien mengatakan nyeri terus menerus dan akan lebih sakit jika bergerak. i i i i i i i i i
Pasien mengatakan pasien menjadi lebih rileks saat dilakukan Teknik nafas
i i i i i i i
dalam. Sedangkan objektifnya pasien tampak meringis saat bergerak dan dapat lebih i i i i i i i
fokus serta sedikit lebih rileks saat melakukan teknik nafas dalam.
i i i i i i
Pada tanggal 5 Juli 2022 pukul 13:05 WITA dilakukan implementasi ketiga i i i
yaitu memberikan teknik nonfarmakologis (Tarik nafas dalam untuk mengurangi rasa i i i i
nyeri) yang didapat adalah : Pasien mengatakan teknik nafas dalam dapat membantu
i i i i i
pasien untuk tenang dan melupakan nyeri sejenak. Untuk objektifnya pasien tampak
i i i i i i i i
Pada tanggal 6 Juli 2022 pukul 16:52 WITA dilakukan implementasi keempat i i i i
yaitu mengontrol lingkungan yang memperberat nyeri yang di dapat adalah : Pasien
i i i i i i
mengatakan ruang inap yang agak panas membuat pasien tidak nyaman.
i i i
Sedangkan objektifnya pasien terlihat tidak nyaman dengan lingkungan nya dan
i i i i i
gelisah. i
teknik nonfarmakologis (Tarik nafas dalam untuk mengurangi rasa nyeri) yang didapat
i i i
adalah pasien mengatakan teknik nafas dalam sangat membantu pasien, pasien sudah i i i i i i
mengerti cara melakukan teknik nonfarmakologis tarik nafas dalam dan akan
i i i i
pasien diberikan edukasi mengenai teknik nonfarmakologis yaitu tarik nafas dalam,
i i i i i i
Pada tanggal 5 Juli 2022 pukul 13:05 WITA dilakukan implementasi kelima i i i
mengatakan pasien tahu akan diberi obat pereda nyeri dan bersedia. Sedangkan untuk
i i i i i i i i i
objektifnya pasien diberi obat injeksi ketorolac 3x1 intravena dan tramadol 2x1
i i i i i i
intravena. i
diagnosa kedua yaitu memonitor tanda-tanda vital, dan hasil yang didapat adalah i i
Pasien mengatakan selama hamil tekanan darah pasien selalu rendah. Sedangkan
i i i i i i i i
Pada tanggal 5 Juli 2022 pukul 11:52 WITA dilakukan implementasi kedua i i i
yaitu memonitor input dan output cairan, dan hasil yang didapat adalah Pasien i i
mengatakan pasien minum kurang lebih 700 cc. dan untuk hasil objektifnya
i i i i
pasien menggunakan kateter, pada urine bag pasien mengeluarkan urine kurang lebih
i i i i i i i i i i
500 cc.
Pada tanggal 5 Juli 2022 pukul 12:55 WITA dilakukan implementasi ketiga i i i
yaitu memonitor tanda dan gejala perdarahan, dan hasil yang didapat adalah pasien
i i i i
mengatakan perdarahan tidak terlalu deras dan akan keluar jika pasien
i i i i i i
bergerak. Sedangkan objektifnya darah yang keluar kurang lebih 300 cc,
i i i i i i
Pada tanggal 6 Juli 2022 pukul 17:06 WITA dilakukan implementasi keempat i i i i
yaitu menjelaskan tanda dan gejala perdarahan, dan hasil yang didapat adalah Pasien
i i i i i
Pada tanggal 6 Juli 2022 pukul 17:26 WITA dilakukan implementasi kelima i i i
dan hasil yang didapat adalah pasien mengatakan pasien minum air putih kurang lebih i i i i
700 cc selama satu hari sedikit demi sedikit tetapi sering. Sedangkan objektif nya i i i i i i i i
hasil yang didapat adalah pasien mengatakan ingin makan sepuasnya setelah keluar i i i i i i
dari rumah sakit. Sedangkan objektifnya pasien sudah diberi anjuran untuk i i i i
adalah pasien mengatakan pasien tahu akan diberikan vitamin K dan pasien setuju. i i i i i i
Pada tanggal 5 Juli 2022 pukul 11:42 WITA dilakukan implementasi dari i i
hasil diagnosa ketiga yaitu memonitor tanda dan gejala lokal dan sistemik, dan i i i i
hasil yang didapat adalah pasien mengatakan jahitan tidak terlalu mengganjal dan i i i i
sedangkan objektif nya terdapat jahitan horizontal post SC pada perut pasien
i i i i i
tepatnya di atas tulang kemaluan pasien, tidak terjadi edema ataupun perdarahan
i i i i i i i
Pada tanggal 6 Juli 2022 pukul 18:22 WITA dilakukan implementasi kedua i i i
yaitu membatasi jumlah pengunjung, dengan hasil yang didapat yaitu Pasien
i i i i
mengatakan ingin selalu bersama suami dan ibu pasien, pasien sengaja
i i i i i i
membatasi orang yang berada disekitarnya karena nyeri yang akan bertambah parah
i i i i i i
apabila terlalu banyak orang. Sedangkan objektifnya hanya suami dan ibu pasien yang
i i i i
Pada tanggal 5 Juli 2022 pukul 13:21 WITA dilakukan implementasi ketiga i i i
yaitu mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan i i i i i i
lingkungan pasien, dan hasil yang didapat adalah pasien mengatakan senang dan i i i i
tidak khawatir dengan perawatan dan pelayanan yang diberikan karena terjamin i i i i i i
dan sesudah kontak dengan pasien, selalu menggunakan handscoon ingin melakukan
i i i i i i
tindakan padapasien. i
Pada tanggal 6 Juli 2022 pukul 19:25 WITA dilakukan implementasi keempat i i i i
yaitu mengajarkan cara mencuci tangan, dan hasil yang didapat adalah pasien
i i i
tandanya mengerti bagaimana cara mencuci tangan yang baik dan benar. i i i i
Sedangkan objektifnya adalaha pasien diberi edukasi 6 langkah cara mencuci tangan
i i i i i i
yang baik dan benar agar terhindar dari segala penyakit maupun infeksi, pasien dapat i i i i i i
memahami dan mempraktekkan sendiri dengan baik. Pasien juga dianjurkan untuk
i i i i i i
tidak memegang luka bekas SC untuk menghindari risiko terjadinya infeksi pada
i i i i i i
pasien. i
43
Pada tanggal 5 Juli 2022 pukul 13:15 WITA dilakukan implementasi kelima i i i
mengatakan pasien minum air putih kurang lebih 700 cc dalam satu hari sedikit demi
i i i i i
sedikit tetapi sering. Sedangkan objektif nya pasien terlihat sering meminta air
i i i i i i i i i
kebutuhan cairan di dalam tubuh agar tidak terjadi dehidrasi pada pasien.
i i i i
E. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan yang dilakukan pada tanggal 5 Juli 2022 pukul 13:52
i i i
WITA dengan diagnosa pertama yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera
i i i i i i i i i
fisik, menghasilkan data S : Pasien mengatakan perut pasien masih nyeri setelah
i i i i i i i i
dilakukan operasi SC, tetapi tidak sesakit sebelumnya, pasien masih tidak bisa i i i i i i
tidur dengan nyenyak dan masih mengeluhkan mual, P : Pasien mengatakan nyeri
i i i i i i i
timbul karena prosedur operasi SC, Q : Pasien mengatakan nyeri seperti berdenyut, R i i i i i i i i i i
:Pasien mengatakan nyeri di luka jahitan pada perut, S : Pasien mengatakan skala
i i i i i i
sebelumnya, gelisah pasien sudah mulai berkurang, sikap protektif pasien mulai
i i i i i i i
menghilang, tetapi pasien mengalami muntah-muntah akibat efek anestesi saat operasi
i i i i i i i i i
SC. Tekanan Darah : 112/79 mmHg, Nadi : 89x/menit, Suhu : 36,6 C, RR : 20x/menit,
i i i
intervesi i i
Pada tanggal 5 Juli 2022 pukul 13:57 WITA dilakukan evaluasi keperawatan dengan i i i i
baik. Perdarahan di perinium sudah berkurang 100 cc, Jumlah Hemoglobin : 11,3
i i i i
89x/menit, Suhu i
keperawatan dengan diagnosa ketiga yaitu Risiko Infeksi dibuktikan dengan efek
i i i i i i i i
prosedur infasif, menghasilkan data S : Pasien mengatakan perut pasien masih nyeri
i i i i i i i
mengatakan pasien sudah memahami cara untuk merawat diri dan mencuci tangan
i i i i i
yang baik dan benar, P : Pasien mengatakan nyeri timbul karena prosedur operasi i i i i i i i
di luka jahitan pada perut, S : Pasien mengatakan skala nyeri 2 (1-5), T : Pasien i i i i i
Sedangkan untuk objektifnya suhu tubuh pasien dalam batas normal yaitu 36,6
i i i
C. Suhu tubuh normal, kultur area membaik, tidak terjadi infeksi ataupun edema, i i i i i i
arena luka masih belum kering sepenuhnya dan belum sembuh, pasien masih menjaga
i i i i i i i i i
jarak dengan orang banyak untuk mencegah infeksi pasien dapat memahami cara i i i i i i
menjaga infeksi luka dan juga mempertahankan kebersihan diri untuk mencegah
i i i i i i i i
terjadinya perdarahan ataupun infeksi tetapi pasien sudah bisa tidur dengan normal.
i i i i i i
Pasien terlihat paham dan mengerti edukasi yang diberikan mengenai cara menjaga
i i i i i i i i i
kebersihan diri dan juga cara mencuci tangan 6 langkah. Dengan jumlah leukosit :
i i i i i
1,34 ribu, A : Risiko infeksi tidak terjadi, hentikan intervensi, Masalah teratasi, P : i i i i i i
Hentikan intervensi, tetap anjurkan pasien untuk menjaga kebersihan dengan cara
i i i i i i i i i
mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan suatu aktivitas, selalu periksa luka
i i i i i i i
dan selalu bersihkan luka agar tidak terjadi perdarahan, anjurkan selalu meningkatkan
i i i i i i
keperawatan yang kedua dengan diagnosa Nyeri akut berhubungan dengan agen
i i i i i i i i
Teknik nonfarmakologis berupa nafas dalam karena berhasil untuk mengurangi rasa
i i i i i
nyeri jika timbul. Pasien mengatatakan tidur pasien sudah jauh lebih nyaman
i i i i i
dibandingkan sebelumnya dan pasien sudah tidak merasakan mual ataupun muntah i i i i
hari ini.. P : Pasien mengatakan nyeri timbul karena prosedur operasi SC dan hanya i i i i i i
nyeri jika bergerak terlalu banyak, Q : Pasien mengatakan nyeri seperti berdenyut, R :
i i i i i i i i i i i
Pasien mengatakan nyeri di luka jahitan pada perut, S : Pasien mengatakan skala
i i i i i i
protektif pasien jauh lebih berkurang. Tekanan darah : 90/61 mmHg, Nadi : 93x/menit,
i i i i i i
Hentikan intervensi.
i i i
46
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini, penulis akan membahas menganalisa kasus dari asuhan keperawatan i i i i i
yang dibuat yaitu dengan judul “Asuhan Keperawatan pada Ny. I umur 24 tahun dengan P1A0 i i i i
usia kehamilan 37 Minggu Post Sectio Caesarea (SC) dengan indikasi Gagal Induksi dan
i i i i i
Lilitan Tali Pusat di Ruang Baitunnisa Rumah Sakit Islam Sultan Agung Banjarbaru”.
Pembahasan berdasarkan beberapa bagian dalam asuhan keperawatan, meliputi
i i i i i i i
pengkajian, penegakkan diagnosa dan penegakkan diagnosa yang seharusnya ada dalam
i i i i i i
keperawatan. Dalam menyusun asuhan keperawatan disusun dalam jangka waktu 2 shift
i i i i i
dari mulai tanggal 5 Juli 2022 hingga 6 Juli 2022. Dalam asuhan keperawatan ini ditegakkan i i i
3 diagnosa keperawatan yaitu Nyeri akut, Risiko perdarahan, dan Risiko Infeksi.
i i i i i
A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian atau anamnesa adalah langkah pertama yang dilakukan untuk menggali
i i i i
informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi i i i i i
pasien melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan terkait keluhan dan kondisi pasien. (Nurul
i i i i i i i i
bahwa masih terdapat kekurangan, dan pengkajian harus dilakukan lebih lengkap dan i i i i i
lebih dalam untuk melengkapi data sehingga dapat menegakkan diagnosa keperawatan
i i i i i i i i
yang tepat. i
Pada pengkajian keperawatan penulis belum mencantumkan berat badan dan tinggi
i i i i i i i
badan pasien untuk mengetahui IMT pasien. Pada pengkajian pemeriksaan fisik i i i i i i i
pada abdomen penulis tidak mendeskripsikan keadaan abdomen pasien secara rinci i i i i i i i i
mengenai luka pasca operasi sectio caesarea. Pada pemeriksaan abdomen yang
i i i i i i i i i
harus dikaji yaitu Diastasis Rektus Abdominis (DRA). DRA adalah regangan pada otot i i
memanjang dari prosessus xiphoideus ke umbilikus sehingga dapat diukur panjang dan
i i i i i
lebarnya. Beberapa wanita pasca melahirkan merasa longgar pada bagian dinding
i i i i i
perut karena bagian abdominal melebar selama kehamilan dan persalinan. Kondisi
i i i i i i i
ini dinamakan diastasis recti, dibutuhkan waktu sekitar 4 hingga 8 minggu setelah i i i i
Diastasis rektus abdominis dapat diukur di sepanjang line alba, dimana pusat insersinya
i i i i
adalah di rectus abdominis, internal obliques, exsternal obliques dan transverses abdominis.
i i i i i i i i
perhatian khusus (senam abdominal) untuk dilakukan segera dengan latihan khusus unruk
i i i i i
mengurangi diastasis recti diprioritaskan jika celah antara rectus lebarnya 3 jari atau
i i i i i
lebih. Otot dinding abdomen tidak dapat menahan tegangan yang diberikan kepadanya,
i i i i i i
danotot- otot rektus terpisah digaris tengah sehingga membentuk diastasis rekti i i i i i i i
Pada pemeriksaan fisik perinium penulis tidak mendeskripsikan bahwa pasien memiliki
i i i i i i i i
hemoroid pada grade ke berapa. Pada bagian ini penulis akan menjabarkan tentang
i i i i i i i
hemoroid pada ibu hamil menurut beberapa jurnal yang didapat oleh penulis.
i i i i i i
Menurut Pradiantini & Dinata (2021), Hemoroid merupakan pelebaran dan inflamasi
i i i i i
pembuluh darah vena di anus dari pleksus hemoroidalis. Hemoroid dibedakan menjadi
i i i i i i i
dua bagian yaitu hemoroid eksterna dan hemoroid interna. Berdasarkan letaknya dari i i i i i i i
garis mukokutan (garis dentata). Hemoroid eksterna timbul dari pelebaran dan inflamasi i i i i i i
vena subkutan (di bawah kulit) di bawah atau di luar garis dentate dan hemoroid
i i i i
interna timbul dari dilatasi vena submukosa (di bawah mukosa) di atas garis dentata.
i i i
Faktor resiko terhadap kejadian hemoroid adalah aktifitas fisik sering mengejan bila
i i i i i i i
BAB merupakan faktor risiko paling tinggi pada kejadian hemoroid dan merupakan
i i i i
pencetus terjadinya hemoroid. Akibat jika hemoroid yang tidak segera ditangani
i i i i i i i
defisiensi besi, trombosis yang dapat membuat nyeri yang intens, dan 3 strangulasi
i i i i i i
prolapsnya. Derajat I, bantalan anal yang berdarah dan tidak ada prolaps, derajat II, i i i
terdapat prolaps pada saat mengejan dan dapat hilang spontan, derajat III, terdapat
i i i i i
prolaps saat mengejan dan diperlukan dorongan manual untuk memasukkannya serta i i i i i
sering disertai pruritus dan kotoran, dan derajat IV, adanya prolaps yang terjadi setiap saat
i i i i i
paling utama adalah ditemukannya massa atau tonjolan di daerah anus. Gejala lain i i i
yang
48
dibagi menjadi terapi nonbedah dan terapi bedah. Pilihan spesifik perawatan tergantung i i i i i i i i
pada usia pasien, keparahan gejala, dan komorbiditas. Diagnosis banding untuk i i i
hemoroid yaitu karsinoma kolorektum, penyakit divertikel, polip dan kolitis ulserosa.
i i i i i i
Berdasarkan data yang diperoleh pada pasien, Ny. I melakukan tindakan operasi Sectio
i i i i i i i
Caesarea (SC) dan mengatakan keluhan sesudah tindakan operasi ialah nyeri pada perut
i i i i i i i i
bekas operasi Sectio Caesarea (SC), dan merasa sakit pada bagian selangkangan. Pasien
i i i i i i i i
juga mengeluh tidak nafsu makan karena mual akibat anestesi yang diberikan. Keluhan lain
i i i i i i i
yang dirasakan oleh pasien adalah pasien mengatakan terjadi pengeluaran darah i i i i i i i
pada perinium setelah operasi dilakukan, dan pasien khawatir jika darah keluar i i i i i i
secara terus menerus dan membahayakan pasien. Selain itu, pasien juga
i i i i i i i i
mengatakan bingung bagaimana perawatan diri dan perawatan luka bekas jahitan pada
i i i i
perut pasien, pasien khawatir akan terjadi infeksi, pasien juga mengatakan belum bisa
i i i i i i i i
melakukan cuci tangan dengan baik dan benar. Berdasarkan data subjektif pengkajian
i i i i i i
pemeriksaan laboratorium didapatkan hasil Hemoglobin yang rendah yaitu 11,3 g/dL dan
i i i i
Leukosit yang tinggi yaitu 18,34 ribu/µl. Masalah keperawatan pada Ny. I yang dapat
i i i
ditegakkan dari hasil data pengkajian dan analisa data tersebut ialah Nyeri Akut,
i i i i i
keperawatan tersebut i i i i
dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau
i i i i i
lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan. i i i i
misalnya inflamasi iskemia dan neoplasma. Agen pencedera kimiawi misalnya terbakar i i i i i i i
atau terkena bahan kimia iritan. Agen pencedera fisik misalnya abses, amputasi, i i i i i i i
terbakar, terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, dan latihan fisik
i i i i i i
berlebih. Ditandai dengan gejala mayor dan minor. Gejala mayor secara
i i i i i i
pasien tampak meringis, bersikap protektif seperti waspada dan berposisi untuk
i i i i i i i
menghindari nyeri, gelisah, frekuensi nadi meningkat, dan sulit tidur. Dalam
i i i i i i
gejala minor dengan data objektif nya adalah peningkatan tekanan darah, pola nafas
i i i i i
yang berubah, nafsu makan yang menurun, proses berpikir yang terganggu, menarik diri, i i i i i i
pasien mengeluh nyeri, gelisah, bersikap protektif dan sulit tidur. Penyebab agen
i i i i i i i i i i
mengatakan nyeri timbul karena prosedur operasi Sectio Caesarea (SC). Nyeri
i i i i i i i i i
seperti berdenyut dibagian luka jahitan pada perut, dengan skala 4 dari rentang 1-5.
i i i i i i i
manajemen nyeri. Tujuan intervensi yang dilakukan setelah dilakukan selama 2x24 jam i i i i i i i i
yaitu untuk mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri dengan kriteria hasil keluhan i i i i i i
nyeri menurun, meringis menurun, sikap protektif menurun, gelisah menurun, kesulitan
i i i i i i i i i
tidur menurun, mual menurun, muntah menurun dan pola makan membaik. (SLKI i i i i
PPNI, 2019)
Dalam implementasi yang dilakukan penulis yaitu manajemen nyeri dengan i i i i i i i
nafas dalam (SIKI PPNI, 2018). Menurut Tri & Niken (2019) Relaksasi merupakan i i i i
metode yang efektif untuk mengatasi nyeri kronis. Relaksasi yang sempurna dapat
i i i i i i i i
peningkatan intensitas nyeri. Tiga hal utama yang diperlukan dalam teknik relaksasi
i i i i i i
adalah posisi klien yang tepat, pikiran yang beristirahat, dan lingkungan yang i i i
tenang.
i
mengurangi kecemasan i i i
50
yang memperburuk persepsi nyeri dan relaksasi napas dalam mempunyai efek distraksi
i i i i i i i i i
atau pengalihan perhatian. (Tri & Niken, 2019) Dengan menarik nafas dalam – dalam
i i i i i
pada saat ada kontraksi dengan menggunakan pernafasan dada melalui hidung i i i i
akan mengeluarkan hormone endorphin yang merupakan peghilang rasa sakit yang i i i i i i
nafas dalam adalah sebagai berikut : Atur posisi yang nyaman dan lingkungan yang i i
tenang, Usahakan rileks dan tenang, Menarik nafas dalam memalui hidung
i i i i i
dengan hitungan 1,2,3 kemudian tahan sekitar 5-10 detik, Hembuskan nafas
i i i i i
melalui mulut secara perlahan-lahan sambil membiarkan tubuh menjadi kendor dan
i i i i i i
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Hanifah & Risdiana (2020) mengatakan
i i i i
pengeluaran CO2, frekuensi nadi, dan kebutuhan oksigen oleh tubuh dan otot-
i i i i i i i
otot tubuh yang menandakan tingkat stress menurun, selain itu saturasi oksigen i i i i i
dan PO2 akan tetap konstan atau berangsur-angsur meningkat. Sesorang dikatakan i i i i
dalam kondisi stabil ketika otak tercukupi dengan kebutuhan oksigen, sehingga i i i i i i
secara umum akan timbul perasaan rileks dalam tubuh. Perasaan rileks ini akan
i i i i i
pada presinaptik atau dengan menghambat impuls nyeri post sinaptik sehingga stimulus
i i i i i
nyeri tidak dapat mencapai kesadaran dan nyeri sensorik tidak dialami.
i i i i i
pertemuan. Pada evaluasi hari kedua skala nyeri pasien berkurang dari skala nyeri 4
i i i i i i i i
darah baik internal yang terjadi di dalam tubuh maupun eksternal yang terjadi di i i i i i
luar tubuh (SDKI PPNI, 2017). Perdarahan post partum merupakan penyebab penting i i i i i
post partum dengan pemantauan tanda-tanda vital meliputi tekanan darah, dimana i i i i
biasanya tekanan darah ibu rendah setelah melahirkan dicurigai ibu berisiko i i i i i i
perdarahan post partum, dan denyut nadi sehabis melahirkan biasanya akan lebih
i i i i i
cepat dimana denyut nadi sehabis melahirkan biasanya akan lebih cepat dimana
i i i i i i
infeksi atau perdarahan post partum, kemudian pernafasan ibu pada masa post
i i i i
partum menjadi lebih cepat, dan kemungkinan akan ada tanda-tanda syok. i i i i
yaitu pasien mengatakan terjadi pengeluaran darah pada perinium secara terus i i i i i i i i
menerus dan khawatir jika darah akan terus keluar dan membahayakan pasien.
i i i i i i
Sedangkan data objektif nya adalah pasien tampak tidak nyaman dan gelisah dengan
i i i i i
keadaannya.
i
Intervensi atau tindakan keperawatan yang dilakukan selama 2x24 jam untuk
i i i i i
menjelaskan edukasi tentang tanda dan gejala perdarahan dan menganjurkan asupan
i i i i i i i
makanan dan vitamin K. Tanda dan gejalanya berupa perdarahan terus menerus dan i i i i i i
perubahan tanda- tanda vital seperti denyut nadi menjadi cepat dan lemah, tekanan
i i i i i i i i
darah menurun, pasien berubah menjadi pucat dan dingin, nafas sesak, terengah-
i i i i i i i
fungsi kompensasi tidak dipertahankan lagi, akan terjadi perubahan tanda vital i i i i
seperti denyut nadi meningkat dengan cepat, tekanan darah tiba-tiba menurun, pasien
i i i i i i i i i
dalam keadaan syok. Uterus bisa saja terisi darah dalam jumlah yang banyak i i i
evaluasi keperawatan bahwa pasien tidak terjadi risiko perdarahan tetapi tetap
i i i i i i i i
dianjurkan ke pasien untuk selalu meningkatkan asupan cairan dan nutrisi serta i i i i i
vitamin K saat berada dirumah. Dalam melakukan asuhan keperawatan ini, pasien i i i i i
kooperatif dan bersedia. Sehingga, tidak ada kendala dalam pemberian tindakan
i i i i i i i
keperawatan. i i
organisme patogenik (SDKI PPNI, 2017). Infeksi luka pasca operasi merupakan salah i i i i i
satu masalah utama dalam praktek pembedahan dalam hal ini post operasi seksio i i i i i
morbiditas dan mortalitas bertambah besar yang menyebabkan lama hari perawatan i i i i i
dan yang paling buruk terjadinya abses hingga kematian (Yanti et al., 2021). i i i i
yaitu pasien mengatakan luka jahitan di perut pasca operasi membuat tidak nyaman, i i i i i
pasien juga mengatakan belum mengerti bagaimana cara perawatan diri dan belum
i i i i i i i
mengetahui cara mencuci tangan dan benar. Pasien takut jika terjadi infeksi kepada
i i i i i i i i
pasien karena keadaannya yang minim informasi mengenai perawatan ibu hamil
i i i i i i
pasca operasi SC. Sedangkan data objektif nya adalah pasien nampak tidak nyaman i i i i
dengan jahitan horizontal diatas tulang kemaluan pasien. Pasien tidak mencuci
i i i i i
tangan setelah menyentuh kasa bekas perut pasien dan didapatkan data leukosit i i i i i i i i
tanda infeksi i yang disebabkan i perawatan i luka post operasi i yang tidak
memperhatikan teknik steril yang benar sehingga terjadi infeksi luka oprasi (ILO).
i i i i i i i i
Salah satu penyebab ILO adalah kurangnya memperhatikan teknik steril dalam i i i i i i
perawatan luka, Sebagian besar perawat melakukan perawatan luka dengan teknik
i i i i i i i i
mengikuti SOP perawatan luka karena mereka beranggapan bahwa luka tidak
i i i i i i
hanya cukup dibersihkan tetapi perlu memperhatikan teknik steril dalam perawatan i i i i i i i i
luka karena untuk menekan pertumbuhan bakteri yang berkembang diarea luka i i i i i i i i
Enam langkah cuci tangan yang benar menurut WHO adalah sebagai berikut.
i i i i i
Pertama, tuang cairan handrub atau sabun pada telapak tangan kemudian usap dan
i i i
53
gosok kedua telapak tangan secara lembut dengan arah memutar. Kedua, Usap dan
i i i i i i i
gosok juga kedua punggung tangan secara bergantian. Ketiga, Gosok sela-sela i i i i i i
jari tangan hingga bersih. Keempat, bersihkan ujung jari secara bergantian dengan i i i i i i i
posisi saling mengunci. Kelima, gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian. i i i i i
Intervensi atau tindakan keperawatan yang dilakukan selama 2x24 jam untuk
i i i i i
mengatasi risiko infeksi yang bertujuan supaya tingkat infeksi menurun dengan kriteria
i i i i i i i
hasil nyeri menurun, suhu tubuh dalam batas normal, kultur area luka membaik. i i i i
Intervensi keperawatan yang dilakukan yaitu monitor tanda dan gejala lokal dan
i i i i i
sistemik, batasi jumlah pengunjung, cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan
i i i i i i
pada point terapeutik cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien i i i i i i i
dilakukan pada saat mengganti perban luka post operasi pada pasien, hal ini i i i i
bertujuan untuk menjaga kebersihan dan mengurangi resiko infeksi pada luka post
i i i i i i i
operasi pada pasien. Salah satu cara pencegahan infeksi yang bisa dilakukan pasien yaitu
i i i i i i
jangan menyentuh daerah luka insisi dengan tangan, cuci tangan sebelum dan sesudahi i i i i i i
tindakan atau perawatan luka, alat-alat perawatan luka yang akan digunakan harus dalam i i
keadaan steril (bebas dari kuman), bersihkan luka dengan menggunakan teknik
i i i i i i i
septic dan antiseptic dan setelah dibersihkan luka insisi ditutup kembali dengan kassa,
i i i i i i i
ini disebabkan oleh faktor lain yang mempengaruhi infeksi luka operasi itu sendiri
i i i i i i i
seperti durasi rawat inap pra operatif, persiapan kulit pra oprasi, penggunaan antibiotik
i i i i i
Selain perawatan luka yang benar, pasien juga dianjurkan untuk meningkatkan
i i i i i
asupan nutrisi dengan baik karena dengan memenuhi asupan nutrisi dengan baik bisa i i i i i i
satu hal yang penting dalam proses penyembuhan luka dimana protein mampu i i i i i
dipengaruhi oleh nutrisi, daya tahan tubuh dan pemberian suplemen. Nutrisi yang
i i i i i i
akan protein. Protein didapatkan pada makanan, daging dan ikan. Semua jenis ikan i i i i
evaluasi keperawatan untuk diagnosis risiko infeksi berhubungan dengan efek prosedur
i i i i i i i i i
dilakukan operasi SC, tetapi tidak sesakit sebelumnya. Pasien juga mengatakan sudah i i i i i i i
memahami cara untuk merawat diri dan mencuci tangan dengan baik dan benar.
i i i i i
O : luka post operasi SC tidak ada tanda infeksi, A : risiko infeksi tidak terjadi, i i i i
sebelum dan sesudah melakukan aktivitas, selalu periksa luka dan selalu bersihkan
i i i i i i i i
luka agar tidak terjadi perdarahan, menganjurkan selalu meningkatkan cairan dan i i i i i
B. Tambahan Diagnosa
1. Risiko defisit nutrisi d.d faktor psikologis i
keengganan untuk makan). Defisit nutrisi merupakan risiko yang mengalami asupan
i i i i i
nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Gejala tanda mayor i i i i i i
dan minor terdiri dari : berat badan pasien yang menurun minimal 10% dibawah i i i i
rentang ideal, cepat kenyang setelah makan, kram atau nyeri abdomen, nafsu
i i i i i i i i
makan menurun, bising usus hiperaktif, otot pengunyah lemah, otot menelan lemah, i i i i i i i
membran mukosa pucat, sariawan, serum albumin turun, rambut rontok berlebih, dan
i i i i
diare. (SDKI PPNI, 2017) Dari pengkajian yang didapat seharusnya penulis
i i i i
menambahkan diagnosa risiko defisit nutrisi karena terdapat data subjektifnya pasien
i i i i i i
mengeluh tidak nafsu makan, pasien juga mengeluh mual dan hemoglobin pasien
i i i i i i i
yang menurun. i
manajemen nutrisi dengan tujuan status nutrisi membaik dan kriteria hasil nafsu
i i i i i
makan membaik, frekuensi makan membaik. (SLKI PPNI, 2019) Intervensi yang i i i i i i
tinggi serat untuk mencegah konstipasi, memberikan makanan tinggi kalori dan i i i i i
makan (misal Pereda nyeri, antiemetik) jika perlu. (SIKI PPNI, 2018) i i i i i i
terapeutik melakukan pemberian makanan tinggi kalori dan tinggi protein, dan
i i i i i i
55
secara
i
56
pemberian ASI secara langsung dari payudara kepada bayi dan anak yang dapat
i i i i
memenuhi kebutuhan nutrisi. Gejala dan tanda mayor nya adalah ASI
i i i i
konsultasi laktasi dengan tujuan status menyusui membaik dan kriteria hasil i i i i
tetesan/pancaran ASI meningkat, suplai ASI adekuat meningkat. (SLKI PPNI, 2019)
i i i i i
perilaku ibu yang benar. Secara edukasi adalah mengajarkan teknik menyusui yag
i i i i i i i
Pada asuhan keperawatan ini, implementasi yang dilakukan yaitu secara edukasi i i i i i i
dan terapeutik yaitu mengajarkan bagaimana teknik menyusui yang tepat sesuai
i i i i i i i
kebutuhan ibu dan memberikan pujian terhadap perilaku ibu yang benar
i i i i i i
57
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada karya tulis ilmiah dengan judul “Asuhan Keperawatan pada Ny. I post Sectio i i i i
Caesarea (SC) dengan indikasi gagal induksi dan lilitan tali pusat diruang
i i i
kesimpulan berupa:
i i
keperawatan. Prioritas masalah atau diagnosa utama pada Ny. I dengan post SC
i i i
adalah nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisik, diagnosa kedua adalah i i i i i i i i
3. Rencana tindakan yang dilakukan untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan.
i i
Pada langkah ini disusun perencanaan sesuai yang dibutuhkan oleh Ny. I, salah i i i i
satu contoh tindakan keperawatan atau implementasi untuk mengatasi nyeri akut i i i i i i
dengan cara nonfarmakologis adalah dengan terapi relaksasi tarik nafas dalam,
i i i i
risiko infeksi adalah menjelaskan tanda dan gejala dari infeksi serta mengajarkan
i i i i i i i
Salah satu contoh evaluasi keperawatan yang efektif pada diagnosa pertama yaitu i i i i i i
pengaruh teknik relaksasi tarik nafas dalam yang mampu untuk mengatasi dan
i i i i
mengurangi nyeri yang dirasakan pasien post sectio caesarea, dalam hal ini tujuan
i i i i i i
tercapai dan masalah telah teratasi. Sedangkan pada diagnosa kedua pasien
i i i i i i
diberikan edukasi tentang selalu menjaga asupan makanan dan vitamin K, dalam
i i i i i
hal ini tujuan tercapai dan masalah teratasi. Pada diagnosa ketiga pasien diberikan i i i i i
58
edukasi tentang bagaimana cara mencuci tangan yang baik dan benar, dalam hal ini
i i i i
B. Saran
1. Institusi pendidikan i
dan mahasiswi untuk lebih memperdalam lagi ilmu tentang obstetri dan i i i i i
2. Lahan praktek i
Bagi tempat atau lahan praktek perlu meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
i i i i i i i
dan keperawatan yang optimal tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan
i i i i i i i
3. Masyarakat
Bagi masyarakat perlu menambah pengetahuan tentang post sectio caesarea dengan
i i i i i i i i i
DAFTAR PUSTAKA
Agustin, D. (2022). Asuhan keperawatan pada pasien post partum sectio caesarea dengan i i i i i i i
pemenuuhan kebutuhan aman dan nyaman. Braz Dent J., 33(1), 1–12.
i i i i
Amalia, R., & Masita, E. D. (2019). Ketrampilan Bidan dalam Melakukan Pemeriksaan i i i i i
Derajat Diastasis Rekti Abdominalis pada Ibu Nifas. Journal for Quality in Women’s
i i i
Ana Amalia, E. M. (2012). Jenis persalinan dengan skala nyeri involusi uterus masa nifas di
i i i i i i
Anggorowati, & Sudiharjani, N. (2018). Mobilisasi Dini dan Penyembuhan Luka Operasi i i i
Pada Ibu Post Sectio Caesarea (SC) di Ruang Dahlia Rumah Sakit Umum Daerah Kota i i i i
1281/1334
Apriani, L. (2016). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Perdarahan Post i i i i
Partum Di Rsud Dr. Pirngadi Kota Medan Periode Januari 2011–Juni 2015. i i i
Ayu Zaharany, T. (2022). Asuhan Keperawatan Pada Ibu Post Partum Sectio Caesarea i i i i i
[Link]
Ayuningtyas, D., Oktarina, R., Nyoman, N., & Sutrisnawati, D. (2018). Etika kesehatan pada i i i
persalinan melalui sectio caesarea tanpa indikasi medis bioethics in childbirth through
i i i i i i i
Dahlia, Ridhasha, S., Ermiati, F., & Solehati, T. (2013). Gambaran Kondisi Fisik Ibu Pada i i
Hari Ketiga Post Partum Setelah Diberikan Reminder Tentang Perawatan Post Partum.
i i i i i i i i
1, 1–14.
Ediyanto, A. K. (2019). Studi Kasus: Upaya Penurunan Nyeri pada Klien Post
i i i i
Farrah Fadhilah, G., & Sari, I. (2021). Analisis Perawatan Partus Sektio Caesarea Pasien i i i i i
Laporan Kasus: Efektivitas Terapi Akupunktur pada Pasien dengan Hemoroid. Journal i i i i i i
Hanifah, A. W., & Risdiana, N. (2020). Efek Kombinasi Aromaterapi Lavender Dan i i i i i
Relaksasi Benson Pada Nyeri Pasien Post Operasi Sectio Caesarea. Jurnal Ilmu
i i i i i i i i
Ira Sukyati, & Ita Yulita Sari. (2020). Asuhan Keperawatan Pada Ny.W Post Partum i i
Tindakan Seksio Sesaria Atas Indikasi Letak Lintang Dan Plasenta Previa Di Ruang i i i i i
Delima Rsud Pasar Rebo Jakarta. Buletin Kesehatan: Publikasi Ilmiah Bidang
i i i i i
Jateng, D. P. (2019). Renstra Dinas Kesehatan Jawa Tengah Tahun 2018-2023. 2, 12–13.
i i i i i
Juliathi, N. L. P., Marhaeni, G. A., & Dwi Mahayati, N. M. (2021). Gambaran Persalinan i i
dengan Sectio Caesarea di Instalasi Gawat Darurat Kebidanan Rumah Sakit Umum
i i i i i
Pusat Sanglah Tahun 2020. Jurnal Ilmiah Kebidanan (The Journal Of Midwifery), 9(1), i i i
19–27.
Kemenkes RI. (2018). Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Kementrian Kesehatan RI,
i i i i i i i i i i
53(9), 1689–1699.
Maharani, K., Qomariyah, Q., & Juwariyah, S. (2022). Pemberian Senam Postnatal Terhadap i i i i
Pengeluaran Lochea Pada Ibu Post Partum. Jurnal Ilmu Kebidanan, 9(1), 13–17.
i i i i
[Link]
Nurjaya, Kasiati, Subriah, Agustina Ningsi, H. (2022). Pemberdayaan Ibu Hamil Untuk i i
Perilaku Pemilihan Persalinan Upaya Menurunkan Sectio Caesarea Indikasi Non Medis
i i i i i i i i
Nurul Azizah; Rafhani Rosyidah. (2019). Buku Ajar Mata Kuliah Asuhan Kebidanan NIfas i
dan Menyusui (M. T. Septi Budi Sartika, Multazam (ed.)). Umsida press. i i i i
Priatna, H., & Evi Nurafiah. (2020). Pengetahuan Ibu Tentang Manajemen Laktasi Dengan i i i i i i i
[Link] i i
Purba, A., Anggorowati, A., Sujianto, U., & Muniroh, M. (2021). Penurunan Nyeri Post i i
Sectio Caesarea Melalui Teknik Relaksasi Benson dan Natural Sounds Berbasis Audio
i i i i i i i i
[Link]
Ramadhanti, N. A., Juniartati, E., Barlia, G., Suhariyanto, & Agustina, M. (2022). i
Asuhan Keperawatan pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarea dengan indikasi Partus i i i i i i i i
Rimadeni, Y., Faisal, T. I., Halimatussakdiah, H., Afdhal, A., & Hartika, N. (2022). Asuhan
i
Keperawatan Ibu Nifas Dengan Post Sectio Caesarea : Studi Kasus. Journal
i i i i i i
Safitri, M. A. C., Putri, A. E., & Tilarso, D. P. (2020). Jurnal Sains dan Kesehatan. i i i
simarmata (ed.)). i
Persalinan Upaya Menurunkan Sectio Caesarea Indikasi Non Medis. Yayasan kita
i i i i i i
menulis. i
SDKI PPNI. (2017). Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia (DPP PPNI (ed.); 1 ed.). i i i i i
DPP PPNI.
Setijanto, I. T. (2020). Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Luaran Klinis Seksio
i i i i i
Sesaerea Emergensi di Rumah Sakit Sint Carolus Jakarta. The Journal of Hospital
i i i i i i i
60
SIKI PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (DPP PPNI (ed.); 1 i i i i i i
Sinaga, E. W., & Aulia, T. N. (2022). Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin dengan
i i i i
336. [Link]
SLKI PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (DPP PPNI (ed.); 1 i i i i
Tri, A. M., & Niken, S. (2019). Teknik Relaksasi Nafas Dalam Untuk i i i
Menurunkan Skala Nyeri Pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarea. Jurnal
i i i i i i i
[Link]
Utami, S. (2016). Efektifitas relaksasi napas dalam dan distraksi dengan i i i i
13.
Wahyuni, S., Rahayu, T., Wuriningsih, A. Y., Distinarista, H., & Astuti, I. T.
(2020). Buku Panduan Praktikum Keperawatan Maternitas (S. K. A. Retno i i i i
Setyawati, [Link]., [Link], Dwi Retno S., [Link]., [Link], Indra Tri
i i i i
WHO, W. H. O. (n.d.). Pocket of Hospital Care for Children: Guideline for the i i i i i i
Yanti, D. A. M., Anggraini, S., & Yatmi, S. (2021). Hubungan Teknik Steril i i
Kesehatan Panca
i Bhaktii Lampung, 9(2), 82–91.
[Link]
Yuanita Syaiful. (2020). Asuhan keperawatan pada ibu bersalin (Tika Lestari i i i i
Zuiatna, D., Pemiliana, P. D., & Damanik, S. (2020). Pengaruh Konsumsi Diit
i i
[Link] i i i i