6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis
1. Tinjauan tentang pengetahuan
a. Pengertian
Pengetahuan adalah hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca
indra manusia, yakni: penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga
(Notoatmodjo, 2010). Pengetahuan bersifat pengenalan terhadap suatu benda atau
hal secara objektif. Pengetahuan merupakan kegiatan yang dikembangkan melalui
proses belajar dan disimpan dalam ingatan, akan digali saat akan dibutuhkan
melalui bentuk ingatan. Pengetahuan merupakan faktor dominan yang penting
untuk terbentuknya tindakan seseorang (Soekanto, 2013).
Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari
oleh seseorang. Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang
ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi (Meliono &
Irmayanti, 2012). Menurut Soekanto (2013), kesan di dalam pikiran manusia
sebagai penggunaan panca indranya yang berbeda sekali dengan kepercayaan
(beliafes), takhayul (superstition), dan penerangan-penerangan tertentu
(misinformation).
7
Pengetahuan pada dasarnya untuk mengetahui sesuatu yang digerakan oleh
tiga perasaan, diantaranya; perasaan terkejut, ingin tahu, dan kagum. Seseorang
terkejut terhadap sesuatu kejadian sehingga muncul keingintahuan dalam dirinya,
apabila keingintahuan ditekuni atau dicoba dan tercapai dengan baik maka
perasaan orang tersebut kagum adanya karena berhasil (Notoatmodjo, 2010).
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Meliono & Irmayanti (2012), beberapa faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi pengetahuan seseorang, diantaranya adalah:
1) Intelegensi
Intelegensi sangat besar pengaruhnya terhadap pengetahuan. Orang yang
mempunyai tingkat intelegensi tinggi akan lebih berhasil dibanding dengan
orang yang mempunyai intelegensi rendah.
2) Minat dan bakat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengingat
berbagai kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan terus-
menerus yang disertai dengan rasa senang. Sedangkan bakat ialah kemampuan
untuk belajar, kemampuan ini baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang
nyata sesudah belajar/ berlatih.
3) Pendidikan
Didalam tindakan setiap individu selalu dipengaruhi oleh pengetahuan, sering
kali faktor pendidikan merupakan syarat paling pokok untuk fungsi-fungsi
tertentu, akan tetapi pada pekerjaan lain menuntut pendidikan yang lebih
tinggi, sehingga pendidikan harus sesuai dengan jabatannya.
8
4) Pengalaman
Melalui pengalaman seseorang mengembangkan sikap mengenai kemampuan
manajerial, rancangan kerja, tinjauan prestasi dan lain sebagainya. Ada
kecenderungan orang yang umurnya lebih tua, memiliki lebih banyak
pengetahuan dibandingkan yang lebih muda, yang mana pengetahuan ini
didapat dari pengalaman terhadap suatu obyek atau materi yang
mempengaruhi tindakan atau kinerjanya.
5) Motivasi
Motivasi adalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan untuk
berbuat, hal ini memberikan gambaran bahwa walaupun mempunyai
pengetahuan yang tinggi tetapi tidak ada motivasi terhadap sesuatu kegiatan
maka hasilnya belum tentu lebih baik.
c. Tingkat pengetahuan didalam domain kognitif
Menurut Notoadmodjo (2010), pengetahuan yang dicakup didalam domain
kognitif mempunyai enam tingkatan, yaitu:
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingat
kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” ini
adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain:
menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.
9
2) Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menginter-pretasikan materi tersebut
secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek/ materi harus dapat
menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan
sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggu-nakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan
aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan
sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat
menggunakan rumus statistik dalam perhitungan hasil penelitian, dapat
menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah didalam pemecahan
masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.
4) Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek
kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi
tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat
dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan, membedakan,
memisahkan dan mengelompokkan.
5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru
10
dari forumulasi-formulasi yang ada. Misalnya: dapat menyusun, merencanakan,
meringkaskan dan dapat menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan-
rumusan yang telah ada.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu dilakukan
berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-
kriteria yang telah ada.
d. Cara pengukuran tingkat pengetahuan
Mengukur pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menyatakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subyek penelitian atau
responden. Mengukur pengetahuan sesorang tentang apapun hanya dapat diukur
dengan membandingkan pengetahuan orang tersebut dalam kelompoknya
(Notoatmodjo, 2010). Menurut Soekanto (2013) bahwa pengetahuan dapat
dikategorikan menjadi dua yaitu pengetahuan baik dan pengetahuan kurang.
Dikatakan pengetahuan baik apabila individu mampu menjawab pertanyaan
dengan jawaban benar di atas nilai 50%, sedangkan pengetahuan kurang apabila
individu mampu menjawab pertanyaan dengan jawaban di bawah nilai 50%.
2. Tinjauan tentang sikap
a. Pengertian
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang
terhadap suatu stimulus atau objek. Menurut Newcomb, bahwa sikap itu
merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan pelaksana motif
tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi
11
merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku (Notoadmodjo, 2010). Sikap adalah
perasaan seseorang tentang obyek, aktivitas, peristiwa dan orang lain. Sikap
muncul dari berbagai bentuk penilaian (Widiyatun, 2009).
Sikap dikembangkan dalam tiga model, yaitu afeksi, kecenderungan
perilaku, dan kognitif. Respon afektif adalah suatu respon fisiologis yang
mengekspresikan kesukaan individu pada sesuatu. Kecenderungan perilaku adalah
indikasi verbal dari maksud seorang individu. Respon kognitif adalah
pengevaluasian secara kognitif terhadap suatu objek sikap. Kebanyakan sikap
individu adalah hasil belajar sosial dari lingkungannya (Widiyatun, 2009).
b. Komponen sikap
Menurut Niven (2012), sikap terbentuk dari tiga komponen utama, yaitu:
1) Komponen afektif; yaitu berhubungan dengan perasaan dan emosi tentang
sesuatu (contohnya: kita bisa saja suka atau tidak suka bupati/walikota).
2) Komponen kognitif; yaitu sikap mengandung pemikiran atau kepercayaan
tentang seseorang atau sesuatu objek (contohnya: kita kadang percaya atau
tidak percaya terhadap kata-kata yang diucapkan oleh bupati/walikota).
3) Komponen perilaku; yaitu sikap terbentuk dari tingkah laku seseorang dan
perilakunya (contoh: kita dapat tetap menyalakan televisi atau mematikannya
pada saat bupati/walikota muncul di televisi).
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap
Sikap kadang tidak selalu ekstrim, akan tetapi kadang-kadang individu sulit
untuk memutuskan apakah ia senang atau tidak senang (Niven, 2012). Sebagai
makhluk sosial, sikap manusia tidak lepas dari pengaruh interaksi antara individu
12
satu dengan individu lainnya atau biasa juga disebut sebagai faktor eksternal, dan
apa yang timbul dari dalam dirinya atau disebut sebagai faktor internal
(Widiyatun, 2009). Kedua faktor tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Faktor internal
Faktor ini berasal dari dalam diri individu. Dalam hal ini individu mengelolah
dan memilih segala sesuatu yang datang dari luar, menentukan mana yang
diterima dan mana yang tidak dapat diterima (Widiyatun, 2009). Oleh karena
itu, faktor indvidu ini merupakan faktor yang menentukan terjadinya
pembentukan sikap. Faktor ini meliputi motif dan sikap yang bekerja dalam
diri individu, serta yang mengarahkan minat dan perhatian sebagai faktor
psikologis, sedangkan adanya perasaan hati, lapar dan haus sebagai faktor
fisiologis (Purwanto, 2012).
2) Faktor eksternal
Faktor ini berasal dari luar individu, berupa stimulus untuk membentuk dan
mengubah sikap individu. Stimulus tersebut dapat bersifat langsung, misalnya
individu dengan individu atau individu dengan kelompok (Purwanto, 2012).
Dapat juga timbul secara tidak langsung melalui perantara, seperti alat
komunikasi dan media massa baik elektronik maupun non-elektronik.
Misalnya: radio, televisi, majallah, dan surat kabar (Widiyatun, 2009).
d. Tingkatan sikap
Dalam kehidupan sehari-hari, individu perlu memahami tingkatan-tingkatan
sikap. Menurut Notoatmodjo (2010), seperti halnya dengan pengetahuan, sikap
memiliki empat tingkatan, yaitu:
13
1) Menerima (receiving); diartikan bahwa individu (subjek) bersedia dan
memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). Misalnya: sikap individu
terhadap pemeriksaan kesehatannya, hal ini dapat diketahui atau diukur
melalui kehadiran individu tersebut mendengarkan penyuluhan terkait dengan
pemeriksaan kesehatan di lingkungannya.
2) Merespon (responding); diartikan memberi tanggapan apabila ditanya,
mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Usaha untuk menjawab
atau menyelesaikan tugas yang diberikan menunjukkan bahwa individu
tersebut dapat menerima ide. Misalnya: seorang ibu mengikuti penyuluhan
kesehatan, saat ditanya ia menjawab dan memberi tanggapan.
3) Menghargai (valuing); diartikan kemampuan individu mengajak orang lain
untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah. Misalnya: seorang ibu
yang mengajak ibu lain untuk membawa anaknya ke Puskesmas atau
mendiskusikan tentang gizi merupakan suatu bukti bahwa si ibu tersebut telah
memiliki sikap positif terhadap gizi anak.
4) Bertanggung jawab (responsible); diartikan bertanggung jawab terhadap apa
yang diyakininya. Individu mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinan
dan berani mengambil risiko. Misalnya: seorang ibu mau menjadi akseptor
KB, meskipun mendapat tantangan dari orang tuanya.
e. Cara pengukuran sikap
Dalam memberikan penilaian terhadap sikap individu, maka sikap dapat
diukur secara langsung dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang
stimulus atau objek yang bersangkutan dengan menggunakan skala Likert
14
(Notoatmodjo, 2010). Skala pengukuran sikap oleh Likert dibuat dengan pilihan
jawaban sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju terhadap sesuatu
pernyataan. Tiap skala penilaian sikap harus valid dan dapat digunakan
(reliabilitas). Untuk menguji validitas dan reliabilitas pertanyaan pada skala
penilaian, harus tepat dan membutuhkan waktu selama melengkapinya, tetapi ini
tidak hanya tergantung oleh kemampuan individu yang akan dilakukan
pengukuran ini (Niven, 2012).
3. Tinjauan tentang keluarga
a. Pengertian
Menurut Burgess, dkk (1963) dikutip Fredmann (2007) membuat defenisi
keluarga yang berorientasi pada tradisi dan digunakan sebagai referensi secara luas,
yaitu:
1) Keluarga terdiri dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan,
darah dan ikatan adopsi.
2) Para anggota keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah
tangga, atau jika mereka hidup secara terpisah, mereka tetap menganggap rumah
tangga tersebut sebagai rumah tangga mereka.
3) Anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dalam peran
sosial keluarga seperti suami istri, ayah dan ibu, anak laki-laki dan anak
perempuan, saudara dan saudari.
4) Keluarga sama-sama menggunakan kultur yang sama, yaitu kultur yang
diambil dari masyarakat dengan beberapa ciri unik tersendiri.
15
b. Struktur keluarga
Menurut Effendi (2012), struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam,
diantaranya adalah:
1) Partrilineal, adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis
ayah.
2) Martilineal, adalah keluarga sedarah yang terdiri dari saudara sedarah dalam
beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur ibu.
3) Martilokal, adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
dengan istri.
4) Patrilokal, adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
dengan suami.
5) Keluarga kawin, adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena
adanya hubungan dengan suami atau istri.
c. Tipe/bentuk keluarga
Menurut Effendi (2012), tipe/bentuk keluarga terdiri dari:
1) Keluarga inti (nuclear family), adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu
dalam anak-anak.
2) Keluarga besar (extended family), adalah keluarga inti ditambah dengan sanak
saudara, misalnya, nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan
sebagainya.
3) Keluarga duda/janda (single family), adalah keluarga yang terdiri karena
perceraian atau kematian
16
4) Keluarga berantai (serial family), adalah keluarga yang terdiri dari wanita
dalam pria yang menikah lebih dari satu kali dalam merupakan satu keluarga
inti.
5) Keluarga berkomposisi (composite), adalah keluarga yang perkawinannya
berpoligami dan hidup secara bersama.
6) Keluarga kabitas (cohabitation), adalah dua orang menjadi satu tanpa
pernikahan tetapi membentuk satu keluarga.
d. Peran keluarga
Menurut Effendi (2012), berbagai peranan yang terdapat dalam keluarga,
sebagai berikut:
1) Peranan ayah
Sebagai suami dan istri dan anak-anak. Berperan sebagai pencari nafkah,
pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai anggota dari kelompok
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
2) Peranan ibu
Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Ibu mempunyai peranan untuk
mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya.
Pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta
sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat
berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
3) Peranan anak
Melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya
baik fisik, mental sosial dan spiritual.
17
e. Fungsi keluarga
Menurut Effendi (2012), ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota
keluarganya adalah:
1) Asih
Memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada keluarga
sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan
kebutuhannya.
2) Asah
Memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi manusia
dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.
3) Asuh
Memenuhi kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya
selalu terpelihara, sehingga diharapkan menjadikan mereka anak-anak yang
sehat baik fisik, mental, sosial dan spiritual.
f. Tahap-tahap kehidupan keluarga
Tahap-tahap kehidupan keluarga menurut Duvall seperti dikutip Effendi
(2012) adalah, sebagai berikut:
1) Tahap pembentukan keluarga
Tahap ini dimulai dari pernikahan, yang dilanjutkan dalam bentuk rumah
tangga.
2) Tahap menjelang kelahiran anak
Tugas keluarga yang utama adalah untuk mendapatkan keturunan sebagai
generasi penerus. Melahirkan anak merupakan kebanggaan bagi sebuah
keluarga dan merupakan saat-saat yang sangat dinantikan oleh keluarga.
18
3) Tahap menghadapi bayi
Dalam hal ini keluarga mengasuh, mendidik dan memberikan kasih sayang
kepada anak, karena pada tahap ini bayi kehidupannya sangat tergantung
kepada kedua orang tuanya.
4) Tahap menghadapi anak pra-sekolah
Anak sudah mulai mengenal kehidupan sosialnya, sudah mulai bergaul dengan
teman sebayanya, tetapi sangat rawan dalam masalah kesehatan, karena tidak
mengetahui mana yang kotor dan mana yang bersih.
5) Tahap menghadapi anak sekolah
Bagaimana mendidik anak, mengajari anak untuk mempersiapkan masa
depannya, membiasakan anak, belajar secara teratur, mengontrol tugas-tugas
sekolah anak dan meningkatkan pengetahuan umum anak.
6) Tahap menghadapi anak remaja
Tahap ini adalah tahap yang paling rawan, karena dalam tahap ini anak akan
mencari identitas diri dalam membentuk kepribadiannya. Oleh karena itu suri
tauladan dari orang tua sangat diperlukan. Komunikasi dan saling pengertian
antara kedua orang tua dalam anak perlu dipelihara dan dikembangkan.
7) Tahap melepaskan anak ke masyarakat
Setelah melalui tahap remaja dan anak telah dapat menyelesaikan
pendidikannya, maka tahap selanjutnya adalah melepaskan anak ke
masyarakat dalam memulai kehidupannya yang sesungguhnya, dalam tahap
ini anak akan memulai kehidupan berumah tangga.
19
8) Tahap berdua kembali
Setelah anak besar dan menempuh kehidupan keluarga sendiri-sendiri,
tinggallah suami istri berdua saja. Dalam tahap ini keluarga akan merasa sepi,
dan bila tidak dapat menerima kenyataan akan dapat menimbulkan defresi dan
stress.
9) Tahap masa tua
Tahap ini masuk ke tahap lanjut usia, dan kedua orang tua mempersiapkan diri
untuk meninggalkan dunia yang fanah ini.
4. Tinjauan tentang diet rendah garam
a. Pengertian
Diet hipertensi adalah salah satu cara untuk mengatasi hipertensi tanpa efek
yang serius, karena metode pengendaliannya yang alami (Purwanti, 2007). Hanya
saja banyak orang yang menganggap diet hipertensi sebagai sesuatu yang
merepotkan dan tidak menyenangkan. Banyak makanan kesukaan bisa masuk
daftar terlarang, misalnya garam penyedap, pop corn asin, dan kentang.
b. Tujuan
Menurut Purwanti (2007) menyatakan tujuan diet hipertensi adalah sebagai
berikut:
1) Mengurangi asupan garam
Mengurangi asupan garam sering juga diimbangi dengan asupan lebih banyak
kalsium, magnesium, dan kalium. Umumnya penderita mengkonsumsi lebih
banyak garam dari pada yang dibutuhkan oleh tubuh. Idealnya penderita
cukup menggunakan sekitar satu sendok teh saja atau sekitar 5 gram per hari.
20
2) Memperbanyak serat
Mengkonsumsi lebih banyak sayur yang mengandung banyak serat akan
memperlancar buang air besar dan menahan sebagian asupan natrium.
Sebaiknya penderita hipertensi menghindari makanan kalengan dan makanan
siap saji dari restoran, yang dikhawatirkan mengandung banyak pengawet dan
kurang serat, misalnya semangkok sereal mengandung 7 gram serat.
3) Menghentikan kebiasaan buruk
Menghentikan rokok, kopi dan alkohol dapat mengurangi beban jantung,
sehingga jantung dapat bekerja dengan baik. Rokok dapat meningkatkan
resiko kerusakan pembuluh darah dengan mengendapkan kolesterol pada
pembuluh darah koroner, sehingga jantung bekerja lebih keras. Sedangkan
alkohol dapat memacu tekanan darah dan kopi dapat memacu detak jantung.
4) Memenuhi kebutuhan magnesium dan kalium
Sumber makanan yang banyak mengandung magnesium misalnya kacang-
kacangan dan makanan laut. Sedangkan makanan yang mengandung kalium
seperti pisang, sari jeruk, jagung, dan brokoli.
5) Melengkapi kebutuhan kalsium
Kalsium berguna untuk mencegah terjadinya komplikasi pada penyakit
hipertensi. Makanan yang mengandung klsium misalnya keju rendah lemak
dan ikan salmon.
6) Memanfaatkan sayuran dan bumbu dapur
Sayur-sayuran dan bumbu dapur bermanfaat untuk mengontrol tekanan darah.
Adapun sayuran dan bumbu yang dimaksud seperti tomat, wortel, seledri,
bawang putih dan kunyit.
21
c. Macam-macam diet rendah garam
1) Diet garam rendah I (200-400 mg Na)
Diet garam rendah I diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan atau
hipertensi berat. Pada pengolahan makanan tidak ditambahkan garam.
Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.
2) Diet garam rendah II (600-1200 mg Na)
Diet garam rendah II diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan atau
hipertensi tidak berat, pemberian makanan sehari sama dengan diet garam
rendah I. Pada pengolahan boleh menggunakan setengah sendok teh garam
dapur (2g). Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.
3) Diet garam rendah III (1000-1200 mg Na)
Diet garam rendah III diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan atau
hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari sama dengan diet garam
rendah I. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan satu sendok teh
(4 gram).
5. Tinjauan tentang hipertensi
a. Pengertian
Menurut World Health Organization (1978) dalam Wiryanto (2008),
hipertensi didefinisikan sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan
diklasifikasikan sesuai derajat keperahannya, mempunyai rentang dari tekanan
darah normal tinggi sampai hipertensi maligna. Hipertensi adalah peningkatan
tekanan systole yang tingginya tergantung umur individu yang terkena. Tekanan
darah berfluktuasi dalam batas-batas tertentu, tergantung posisi tubuh, umur dan
tingkat stress yang dialami (Tambayong, 2010). Hipertensi merupakan suatu
22
keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri
menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung,
serangan jantung dan kerusakan ginjal (Corwin, 2012).
b. Etiologi
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua golongan
(Mansjoer, dkk, 2007), yaitu:
1) Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya,
disebut juga hipertensi idiopatik. Banyak faktor yang bisa mempengaruhinya
seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem
rennin-angiotensin, defek dalam eksresi natrium, peningkatan natrium dan
calcium intraseluler, dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko seperti
obesitas, alkohol, merokok dan polisitemia.
2) Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Penyebab spesifiknya diketahui seperti
penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskuler renal, sindrom
chusing, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lain-lain.
c. Patofisiologi
Tekanan darah ditentukan oleh dua faktor yaitu aliran darah dan tahanan.
Aliran darah ditentukan oleh cardiak output (kekuatan, kecepatan, ritmi dari denyutan
jantung dan volume darah). Tahanan ditentukan oleh diameter dari pembuluh darah
dan sedikit viskositas darah. Peningkatan tekanan perifer sebagai akibat dari
penyempitan arteriola merupakan karasteristik pada hipertensi (Corwin, 2012).
Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan
abnormal saraf atau hormon pada nodus SA (sinus atrium). Peningkatan
kecepatan denyut jantung yang berlangsung kronik sering menyertai keadaan
23
hipertiroidisme. Namun, peningkatan kecepatan denyut jantung biasanya
dikompensasi oleh penurunan volume sekuncup atau TPR sehingga tidak
menimbulkan hipertensi (Corwin, 2012).
Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi apabila
terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan akibat gangguan
penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang berlebihan.
Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron atau penurunan aliran darah ke ginjal
dapat mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal. Peningkatan volume
plasma akan menyebabkan peningkatan volume diastolik akhir sehingga terjadi
peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah. Peningkatan volume diastolik
akhir disebut sebagai peningkatan preload jantung. Peningkatan preload biasanya
berkaitan dengan peningkatan tekanan sistolik (Corwin, 2012).
Peningkatan TPR (resistensi perifer total) yang berlangsung lama dapat
terjadi apabila pada peningkatan saraf atau hormon pada arteriol atau
responsivitas yang berlebihan dari arteriol terhadap rangsangan normal. Kedua hal
tersebut akan menyebabkan penyempitan pembuluh. Pada peningkatan TPR,
jantung harus memompa secara lebih kuat dan dengan demikian menghasilkan
tekanan yang lebih besar untuk mendorong darah melintasi pembuluh-pembuluh
yang menyempit. Hal ini disebut peningkatan dalam afterload jantung dan
biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolik. Apabila peningkatan
afterload berlangsung lama, maka ventrikel kiri mungkin mulai mengalami
hipertrofi (membesar). Dengan hipertrofi, kebutuhan ventrikel akan oksigen
semakin meningkat sehingga ventrikel harus memompa darah secara lebih keras
24
lagi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. pada hipertrofi, serat-serat otot jantung
juga mulai teregang melebihi panjang normalnya yang pada akhirnya
menyebabkan penurunan kontraktilitas dan volume sekuncup (Corwin, 2012).
Dilatasi dan kontriksi arteriola perifer dapat dikendalikan oleh stimulus
pada sistem saraf simpatis dan pengaktifan sistem angiotensin yang
rangsangannya dapat mengeluarkan epinefrin dan norepinefrin menyebabkan
kontriksi pembuluh darah dan peningkatan resistensi perifer. Epinefrin
meningkatkan kontraksi cardiak sambil menyempitkan saluran sehingga tekanan
darah meningkat, ditandai dengan hipertrofi ventrikel kiri dan penyakit jantung
iskemik. Hipertensi merupakan faktor resiko penyakit jantung insufisiensi yang
kedua dan mempunyai hubungan yang erat gagal jantung, disritmia kordis dan
mati mendadak yang disebabkan oleh kedua macam kelainan tersebut
(Corwin, 2012).
d. Manifestasi klinis
Menurut Corwin (2012), sebagian besar manifestasi klinis timbul setelah
mengalami hipertensi bertahun-tahun, berupa:
1) Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah akibat
peningkatan tekanan darah intrakranium.
2) Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi.
3) Ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat.
4) Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal/filtrasi glomerulus.
5) Edema atau pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.
6) Pada wanita dengan hipertensi kehamilan dijumpai proteinuria.
25
Menurut petunjuk WHO-ISH (1999) Kurnia (2007), klasifikasi hipertensi
berdasarkan derajatnya, sebagai berikut:
Tabel 2.1 Klasfikasi Hipertensi Berdasarkan Derajat Hipetensi
No Klasifikasi Sistolik Distolik
1 Optimal < 120 mmHg < 80 mmHg
2 Normal 130-139 mmHg 85-89 mmHg
3 Normal tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg
4 Hipetensi derajat 1 (ringan) 140-159 mmHg 90-99 mmHg
5 Hipertensi derajat 2 (sedang) 160-179 mmHg 100-109 mmHg
6 Hipertensi derajat 3 (berat) ≥ 180 mmHg ≥ 110 mmHg
7 Hipertensi sistolik ≥ 140 mmHg < 90 mmHg
Sumber: WHO-ISH (1999) dikutip Kurnia (2007)
e. Komplikasi
Hipertensi apabila tidak diobati dan ditanggulangi, maka dalam jangka
panjang akan menyebabkan kerusakan arteri di dalam tubuh sampai organ-organ
yang mendapat suplai darah dari arteri tersebut. Menurut Corwin (2012) bahwa
komplikasi hipertensi dapat terjadi pada organ-organ, yaitu:
1) Jantung
Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan terjadinya gagal jantung dan
penyakit jantung koroner. Pada penderita hipertensi, beban kerja jantung
meningkat, otot jantung akan menyesuaikan sehingga terjadi penyesuaian
jantung dan semakin lama otot jantung akan mengendor dan berkurang
elastisitasnya yang disebut dekompensasi. Akibatnya, jantung tidak mampu
lagi memompa dan menampung darah dari paru sehingga banyak cairan
tertahan di paru maupun jaringan tubuh lain yang dapat menyebabkan sesak
nafas/edema atau disebut gagal jantung.
26
2) Otak
Komplikasi hipertensi pada otak menimbulkan resiko stroke dan apabila tidak
diobati resiko terkena stroke 7 kali lebih besar.
3) Ginjal
Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal. Tekanan darah yang
terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan sistem penyaringan di dalam
ginjal, akibatnya lambat laun ginjal tidak mampu membuang zat-zat yang
tidak dibutuhkan tubuh melalui aliran darah dan terjadi penumpukan di dalam
tubuh.
4) Mata
Pada mata, hipertensi dapat mengakibatkan terjadinya retinopati hipertensi dan
dapat menimbulkan kebutaan.
f. Penatalaksanaan
1) Diet penyakit darah tinggi (hipertensi)
a) Kandungan garam (sodium/natrium) seseorang yang mengidap hipertensi
sebaiknya mengontrol diri dalam mengkonsumsi asin-asinan garam, ada
beberapa tips yang bisa dilakukan untuk pengontrolan diet sodium/natrium ini:
(1) Jangan meletakkan garam diatas meja makan
(2) Pilih jumlah kandungan sodium rendah saat membeli makan
(3) Batasi konsumsi daging dan keju
(4) Hindari cemilan yang asin-asin
(5) Kurangi pemakaian saos yang memiliki kandungan sodium
b) Kandungan potasium/kalium suplements potasium 2-4 gram/hari dapat
membantu penurunan tekanan darah. Potasium umumnya bayak didapati pada
27
beberapa buah-buahan dan sayuran. Buah dan sayuran yang mengandung
potasium dan baik untuk di konsumsi penderita tekanan darah tinggi antara
lain semangka, alpokat, melon, buah pare, labu siam, bligo, labu parang/labu,
mentimun, lidah buaya, seledri, bawang dan bawang putih. Selain itu,
makanan yang mengandung unsur omega-3 sangat dikenal efektif dalam
membantu penurunan tekanan darah (hipertensi).
2) Pengobatan biasanya dikombinasikan dengan beberapa obat
a) Diuretik seperti tablet hydrochlorothiazide (HCT), lasix atau furosemide
merupakan golongan obat hipertensi dengan proses pengeluaran cairan tubuh
via urine. Tetapi karena potasium berkemungkinan terbuang dalam cairan
urine, maka pengontrolan konsumsi potasium harus dilakukan.
b) Beta-blockers seperti atenolol (tenorim), capoten (captopril) merupakan obat
yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui proses
memperlambat kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh darah.
c) Calcium channel blocker seperti norvasc (amlopidine), angiotensin converting
enzyme (ACE) merupakan obat yang biasa dipakai dalam pengontrolan darah
tinggi atau hipertensi melalui proses rileksasi pembuluh darah yang juga
memperlebar pembuluh darah.
g. Pencegahan
Menurut Kurnia (2007), penatalaksanaan non farmakologis merupakan
modifikasi gaya hidup dengan mengurangi faktor-faktor yang dapat memicu
timbulnya tekanan darah tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara, yaitu:
1) Mengatasi obesitas dan menurunkan kelebihan berat badan.
28
2) Mengurangi asupan garam dalam tubuh, nasehat pengurangan garam harus
memperhatikan kebiasaan makan penderita.
3) Melakukan olahraga seperti sena aerobik atau jalan cepat.
4) Menciptakan keadaan rileks seperti medikasi dan yoga dapat mengontrol
sistem saraf yang akhirnya menurunkan tekanan darah
5) Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol.
B. Kerangka Konsep
Kerangka konsep merupakan bentuk representatif yang menggambarkan
seorang peneliti memiliki kemampuan untuk menyusun beberapa teori dan
menghubungkannya dengan faktor-faktor yang dianggap penting untuk sebuah
masalah (Hidayat, 2007; Setiadi, 2007). Kerangka konsep dalam penelitian ini
dapat digambarkan dalam skema sebagai beriku:
Gambar 1: Kerangka Konsep Penelitian
Pengetahuan keluarga tentang diet rendah garam Sikap terhadap pasien hipertensi
Keterangan:
: Variabel Independen
: Variabel Dependen
Kerangka konseptual dalam penelitian ini mengacu pada teori-teori diet
rendah garam dan penyakit hipertensi. Pada penelitian ini variabel yang
dioperasionalkan dalam kerangka konsep penelitian adalah variabel pengetahuan
keluarga tentang diet rendah garam dan sikap terhadap pasien hipertensi yang
dijabarkan dalam bentuk variabel bebas (pengetahuan keluarga tentang diet
rendah garam) dan variabel terikat (sikap terhadap pasien hipertensi).
29
C. Hipotesis Penelitian
Untuk membuktikan apakah hipotesa itu diterima atau ditolak, maka
penyelesainnya harus melalui penelitian, maka penulis menuliskan hipotesa
sebagai berikut: “Terdapat hubungan pengetahuan keluarga tentang diet rendah
garam dengan sikap terhadap pasien hipertensi di Kelurahan Bara Kecamatan
Wara Utara Kota Palopo”.
D. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
Definisi operasional dan kriteria objektif dari veriabel yang diteliti tersebut
di atas dapat diuraikan sebagai berikut:
Tabel 2.1 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
Skala
Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil
Pengukuran
Baik:
Pengetahuan Sesuatu yang diketahui Kuesioner Ordinal
Skor 8-10
keluarga oleh keluarga penderita
tentang diet hipertensi tentang diet Cukup:
rendah garam rendah garam. Skor 6-7
Kurang:
Skor ≤ 5
Positif:
Sikap Tanggapan atau reaksi Kuesioner Ordinal
Skor 26-40
terhadap tertutup dari keluarga
pasien tentang penderita hipertensi. Negatif:
hipertensi Skor 10-25