0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan24 halaman

Faktor Mempengaruhi Pengetahuan Manusia

Tinjauan Pustaka

Diunggah oleh

Hardin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan24 halaman

Faktor Mempengaruhi Pengetahuan Manusia

Tinjauan Pustaka

Diunggah oleh

Hardin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis

1. Tinjauan tentang pengetahuan

a. Pengertian

Pengetahuan adalah hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan

penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca

indra manusia, yakni: penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.

Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoatmodjo, 2010). Pengetahuan bersifat pengenalan terhadap suatu benda atau

hal secara objektif. Pengetahuan merupakan kegiatan yang dikembangkan melalui

proses belajar dan disimpan dalam ingatan, akan digali saat akan dibutuhkan

melalui bentuk ingatan. Pengetahuan merupakan faktor dominan yang penting

untuk terbentuknya tindakan seseorang (Soekanto, 2013).

Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari

oleh seseorang. Dalam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang

ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi (Meliono &

Irmayanti, 2012). Menurut Soekanto (2013), kesan di dalam pikiran manusia

sebagai penggunaan panca indranya yang berbeda sekali dengan kepercayaan

(beliafes), takhayul (superstition), dan penerangan-penerangan tertentu

(misinformation).
7

Pengetahuan pada dasarnya untuk mengetahui sesuatu yang digerakan oleh

tiga perasaan, diantaranya; perasaan terkejut, ingin tahu, dan kagum. Seseorang

terkejut terhadap sesuatu kejadian sehingga muncul keingintahuan dalam dirinya,

apabila keingintahuan ditekuni atau dicoba dan tercapai dengan baik maka

perasaan orang tersebut kagum adanya karena berhasil (Notoatmodjo, 2010).

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Menurut Meliono & Irmayanti (2012), beberapa faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi pengetahuan seseorang, diantaranya adalah:

1) Intelegensi

Intelegensi sangat besar pengaruhnya terhadap pengetahuan. Orang yang

mempunyai tingkat intelegensi tinggi akan lebih berhasil dibanding dengan

orang yang mempunyai intelegensi rendah.

2) Minat dan bakat

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengingat

berbagai kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang diperhatikan terus-

menerus yang disertai dengan rasa senang. Sedangkan bakat ialah kemampuan

untuk belajar, kemampuan ini baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang

nyata sesudah belajar/ berlatih.

3) Pendidikan

Didalam tindakan setiap individu selalu dipengaruhi oleh pengetahuan, sering

kali faktor pendidikan merupakan syarat paling pokok untuk fungsi-fungsi

tertentu, akan tetapi pada pekerjaan lain menuntut pendidikan yang lebih

tinggi, sehingga pendidikan harus sesuai dengan jabatannya.


8

4) Pengalaman

Melalui pengalaman seseorang mengembangkan sikap mengenai kemampuan

manajerial, rancangan kerja, tinjauan prestasi dan lain sebagainya. Ada

kecenderungan orang yang umurnya lebih tua, memiliki lebih banyak

pengetahuan dibandingkan yang lebih muda, yang mana pengetahuan ini

didapat dari pengalaman terhadap suatu obyek atau materi yang

mempengaruhi tindakan atau kinerjanya.

5) Motivasi

Motivasi adalah sesuatu yang menimbulkan semangat atau dorongan untuk

berbuat, hal ini memberikan gambaran bahwa walaupun mempunyai

pengetahuan yang tinggi tetapi tidak ada motivasi terhadap sesuatu kegiatan

maka hasilnya belum tentu lebih baik.

c. Tingkat pengetahuan didalam domain kognitif

Menurut Notoadmodjo (2010), pengetahuan yang dicakup didalam domain

kognitif mempunyai enam tingkatan, yaitu:

1) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk kedalam tingkat pengetahuan ini adalah mengingat

kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang

dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” ini

adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk

mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain:

menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.


9

2) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui dan dapat menginter-pretasikan materi tersebut

secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek/ materi harus dapat

menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan

sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

3) Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggu-nakan materi yang telah

dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan

aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan

sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat

menggunakan rumus statistik dalam perhitungan hasil penelitian, dapat

menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah didalam pemecahan

masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.

4) Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek

kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi

tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat

dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan, membedakan,

memisahkan dan mengelompokkan.

5) Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru
10

dari forumulasi-formulasi yang ada. Misalnya: dapat menyusun, merencanakan,

meringkaskan dan dapat menyesuaikan terhadap suatu teori atau rumusan-

rumusan yang telah ada.

6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau

penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu dilakukan

berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-

kriteria yang telah ada.

d. Cara pengukuran tingkat pengetahuan

Mengukur pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menyatakan tentang isi materi yang ingin di ukur dari subyek penelitian atau

responden. Mengukur pengetahuan sesorang tentang apapun hanya dapat diukur

dengan membandingkan pengetahuan orang tersebut dalam kelompoknya

(Notoatmodjo, 2010). Menurut Soekanto (2013) bahwa pengetahuan dapat

dikategorikan menjadi dua yaitu pengetahuan baik dan pengetahuan kurang.

Dikatakan pengetahuan baik apabila individu mampu menjawab pertanyaan

dengan jawaban benar di atas nilai 50%, sedangkan pengetahuan kurang apabila

individu mampu menjawab pertanyaan dengan jawaban di bawah nilai 50%.

2. Tinjauan tentang sikap

a. Pengertian

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang

terhadap suatu stimulus atau objek. Menurut Newcomb, bahwa sikap itu

merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan pelaksana motif

tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi
11

merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku (Notoadmodjo, 2010). Sikap adalah

perasaan seseorang tentang obyek, aktivitas, peristiwa dan orang lain. Sikap

muncul dari berbagai bentuk penilaian (Widiyatun, 2009).

Sikap dikembangkan dalam tiga model, yaitu afeksi, kecenderungan

perilaku, dan kognitif. Respon afektif adalah suatu respon fisiologis yang

mengekspresikan kesukaan individu pada sesuatu. Kecenderungan perilaku adalah

indikasi verbal dari maksud seorang individu. Respon kognitif adalah

pengevaluasian secara kognitif terhadap suatu objek sikap. Kebanyakan sikap

individu adalah hasil belajar sosial dari lingkungannya (Widiyatun, 2009).

b. Komponen sikap

Menurut Niven (2012), sikap terbentuk dari tiga komponen utama, yaitu:

1) Komponen afektif; yaitu berhubungan dengan perasaan dan emosi tentang

sesuatu (contohnya: kita bisa saja suka atau tidak suka bupati/walikota).

2) Komponen kognitif; yaitu sikap mengandung pemikiran atau kepercayaan

tentang seseorang atau sesuatu objek (contohnya: kita kadang percaya atau

tidak percaya terhadap kata-kata yang diucapkan oleh bupati/walikota).

3) Komponen perilaku; yaitu sikap terbentuk dari tingkah laku seseorang dan

perilakunya (contoh: kita dapat tetap menyalakan televisi atau mematikannya

pada saat bupati/walikota muncul di televisi).

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap

Sikap kadang tidak selalu ekstrim, akan tetapi kadang-kadang individu sulit

untuk memutuskan apakah ia senang atau tidak senang (Niven, 2012). Sebagai

makhluk sosial, sikap manusia tidak lepas dari pengaruh interaksi antara individu
12

satu dengan individu lainnya atau biasa juga disebut sebagai faktor eksternal, dan

apa yang timbul dari dalam dirinya atau disebut sebagai faktor internal

(Widiyatun, 2009). Kedua faktor tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1) Faktor internal

Faktor ini berasal dari dalam diri individu. Dalam hal ini individu mengelolah

dan memilih segala sesuatu yang datang dari luar, menentukan mana yang

diterima dan mana yang tidak dapat diterima (Widiyatun, 2009). Oleh karena

itu, faktor indvidu ini merupakan faktor yang menentukan terjadinya

pembentukan sikap. Faktor ini meliputi motif dan sikap yang bekerja dalam

diri individu, serta yang mengarahkan minat dan perhatian sebagai faktor

psikologis, sedangkan adanya perasaan hati, lapar dan haus sebagai faktor

fisiologis (Purwanto, 2012).

2) Faktor eksternal

Faktor ini berasal dari luar individu, berupa stimulus untuk membentuk dan

mengubah sikap individu. Stimulus tersebut dapat bersifat langsung, misalnya

individu dengan individu atau individu dengan kelompok (Purwanto, 2012).

Dapat juga timbul secara tidak langsung melalui perantara, seperti alat

komunikasi dan media massa baik elektronik maupun non-elektronik.

Misalnya: radio, televisi, majallah, dan surat kabar (Widiyatun, 2009).

d. Tingkatan sikap

Dalam kehidupan sehari-hari, individu perlu memahami tingkatan-tingkatan

sikap. Menurut Notoatmodjo (2010), seperti halnya dengan pengetahuan, sikap

memiliki empat tingkatan, yaitu:


13

1) Menerima (receiving); diartikan bahwa individu (subjek) bersedia dan

memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). Misalnya: sikap individu

terhadap pemeriksaan kesehatannya, hal ini dapat diketahui atau diukur

melalui kehadiran individu tersebut mendengarkan penyuluhan terkait dengan

pemeriksaan kesehatan di lingkungannya.

2) Merespon (responding); diartikan memberi tanggapan apabila ditanya,

mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Usaha untuk menjawab

atau menyelesaikan tugas yang diberikan menunjukkan bahwa individu

tersebut dapat menerima ide. Misalnya: seorang ibu mengikuti penyuluhan

kesehatan, saat ditanya ia menjawab dan memberi tanggapan.

3) Menghargai (valuing); diartikan kemampuan individu mengajak orang lain

untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah. Misalnya: seorang ibu

yang mengajak ibu lain untuk membawa anaknya ke Puskesmas atau

mendiskusikan tentang gizi merupakan suatu bukti bahwa si ibu tersebut telah

memiliki sikap positif terhadap gizi anak.

4) Bertanggung jawab (responsible); diartikan bertanggung jawab terhadap apa

yang diyakininya. Individu mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinan

dan berani mengambil risiko. Misalnya: seorang ibu mau menjadi akseptor

KB, meskipun mendapat tantangan dari orang tuanya.

e. Cara pengukuran sikap

Dalam memberikan penilaian terhadap sikap individu, maka sikap dapat

diukur secara langsung dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang

stimulus atau objek yang bersangkutan dengan menggunakan skala Likert


14

(Notoatmodjo, 2010). Skala pengukuran sikap oleh Likert dibuat dengan pilihan

jawaban sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju terhadap sesuatu

pernyataan. Tiap skala penilaian sikap harus valid dan dapat digunakan

(reliabilitas). Untuk menguji validitas dan reliabilitas pertanyaan pada skala

penilaian, harus tepat dan membutuhkan waktu selama melengkapinya, tetapi ini

tidak hanya tergantung oleh kemampuan individu yang akan dilakukan

pengukuran ini (Niven, 2012).

3. Tinjauan tentang keluarga

a. Pengertian

Menurut Burgess, dkk (1963) dikutip Fredmann (2007) membuat defenisi

keluarga yang berorientasi pada tradisi dan digunakan sebagai referensi secara luas,

yaitu:

1) Keluarga terdiri dari orang-orang yang disatukan oleh ikatan perkawinan,

darah dan ikatan adopsi.

2) Para anggota keluarga biasanya hidup bersama-sama dalam satu rumah

tangga, atau jika mereka hidup secara terpisah, mereka tetap menganggap rumah

tangga tersebut sebagai rumah tangga mereka.

3) Anggota keluarga berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dalam peran

sosial keluarga seperti suami istri, ayah dan ibu, anak laki-laki dan anak

perempuan, saudara dan saudari.

4) Keluarga sama-sama menggunakan kultur yang sama, yaitu kultur yang

diambil dari masyarakat dengan beberapa ciri unik tersendiri.


15

b. Struktur keluarga

Menurut Effendi (2012), struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam,

diantaranya adalah:

1) Partrilineal, adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah

dalam beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis

ayah.

2) Martilineal, adalah keluarga sedarah yang terdiri dari saudara sedarah dalam

beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur ibu.

3) Martilokal, adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah

dengan istri.

4) Patrilokal, adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah

dengan suami.

5) Keluarga kawin, adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan

keluarga, dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena

adanya hubungan dengan suami atau istri.

c. Tipe/bentuk keluarga

Menurut Effendi (2012), tipe/bentuk keluarga terdiri dari:

1) Keluarga inti (nuclear family), adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu

dalam anak-anak.

2) Keluarga besar (extended family), adalah keluarga inti ditambah dengan sanak

saudara, misalnya, nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan

sebagainya.

3) Keluarga duda/janda (single family), adalah keluarga yang terdiri karena

perceraian atau kematian


16

4) Keluarga berantai (serial family), adalah keluarga yang terdiri dari wanita

dalam pria yang menikah lebih dari satu kali dalam merupakan satu keluarga

inti.

5) Keluarga berkomposisi (composite), adalah keluarga yang perkawinannya

berpoligami dan hidup secara bersama.

6) Keluarga kabitas (cohabitation), adalah dua orang menjadi satu tanpa

pernikahan tetapi membentuk satu keluarga.

d. Peran keluarga

Menurut Effendi (2012), berbagai peranan yang terdapat dalam keluarga,

sebagai berikut:

1) Peranan ayah

Sebagai suami dan istri dan anak-anak. Berperan sebagai pencari nafkah,

pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai anggota dari kelompok

sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.

2) Peranan ibu

Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Ibu mempunyai peranan untuk

mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya.

Pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta

sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat

berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.

3) Peranan anak

Melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat perkembangannya

baik fisik, mental sosial dan spiritual.


17

e. Fungsi keluarga

Menurut Effendi (2012), ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota

keluarganya adalah:

1) Asih

Memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman, kehangatan kepada keluarga

sehingga memungkinkan mereka tumbuh dan berkembang sesuai usia dan

kebutuhannya.

2) Asah

Memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga siap menjadi manusia

dewasa yang mandiri dalam mempersiapkan masa depannya.

3) Asuh

Memenuhi kebutuhan pemeliharaan dan perawatan anak agar kesehatannya

selalu terpelihara, sehingga diharapkan menjadikan mereka anak-anak yang

sehat baik fisik, mental, sosial dan spiritual.

f. Tahap-tahap kehidupan keluarga

Tahap-tahap kehidupan keluarga menurut Duvall seperti dikutip Effendi

(2012) adalah, sebagai berikut:

1) Tahap pembentukan keluarga

Tahap ini dimulai dari pernikahan, yang dilanjutkan dalam bentuk rumah

tangga.

2) Tahap menjelang kelahiran anak

Tugas keluarga yang utama adalah untuk mendapatkan keturunan sebagai

generasi penerus. Melahirkan anak merupakan kebanggaan bagi sebuah

keluarga dan merupakan saat-saat yang sangat dinantikan oleh keluarga.


18

3) Tahap menghadapi bayi

Dalam hal ini keluarga mengasuh, mendidik dan memberikan kasih sayang

kepada anak, karena pada tahap ini bayi kehidupannya sangat tergantung

kepada kedua orang tuanya.

4) Tahap menghadapi anak pra-sekolah

Anak sudah mulai mengenal kehidupan sosialnya, sudah mulai bergaul dengan

teman sebayanya, tetapi sangat rawan dalam masalah kesehatan, karena tidak

mengetahui mana yang kotor dan mana yang bersih.

5) Tahap menghadapi anak sekolah

Bagaimana mendidik anak, mengajari anak untuk mempersiapkan masa

depannya, membiasakan anak, belajar secara teratur, mengontrol tugas-tugas

sekolah anak dan meningkatkan pengetahuan umum anak.

6) Tahap menghadapi anak remaja

Tahap ini adalah tahap yang paling rawan, karena dalam tahap ini anak akan

mencari identitas diri dalam membentuk kepribadiannya. Oleh karena itu suri

tauladan dari orang tua sangat diperlukan. Komunikasi dan saling pengertian

antara kedua orang tua dalam anak perlu dipelihara dan dikembangkan.

7) Tahap melepaskan anak ke masyarakat

Setelah melalui tahap remaja dan anak telah dapat menyelesaikan

pendidikannya, maka tahap selanjutnya adalah melepaskan anak ke

masyarakat dalam memulai kehidupannya yang sesungguhnya, dalam tahap

ini anak akan memulai kehidupan berumah tangga.


19

8) Tahap berdua kembali

Setelah anak besar dan menempuh kehidupan keluarga sendiri-sendiri,

tinggallah suami istri berdua saja. Dalam tahap ini keluarga akan merasa sepi,

dan bila tidak dapat menerima kenyataan akan dapat menimbulkan defresi dan

stress.

9) Tahap masa tua

Tahap ini masuk ke tahap lanjut usia, dan kedua orang tua mempersiapkan diri

untuk meninggalkan dunia yang fanah ini.

4. Tinjauan tentang diet rendah garam

a. Pengertian

Diet hipertensi adalah salah satu cara untuk mengatasi hipertensi tanpa efek

yang serius, karena metode pengendaliannya yang alami (Purwanti, 2007). Hanya

saja banyak orang yang menganggap diet hipertensi sebagai sesuatu yang

merepotkan dan tidak menyenangkan. Banyak makanan kesukaan bisa masuk

daftar terlarang, misalnya garam penyedap, pop corn asin, dan kentang.

b. Tujuan

Menurut Purwanti (2007) menyatakan tujuan diet hipertensi adalah sebagai

berikut:

1) Mengurangi asupan garam

Mengurangi asupan garam sering juga diimbangi dengan asupan lebih banyak

kalsium, magnesium, dan kalium. Umumnya penderita mengkonsumsi lebih

banyak garam dari pada yang dibutuhkan oleh tubuh. Idealnya penderita

cukup menggunakan sekitar satu sendok teh saja atau sekitar 5 gram per hari.
20

2) Memperbanyak serat

Mengkonsumsi lebih banyak sayur yang mengandung banyak serat akan

memperlancar buang air besar dan menahan sebagian asupan natrium.

Sebaiknya penderita hipertensi menghindari makanan kalengan dan makanan

siap saji dari restoran, yang dikhawatirkan mengandung banyak pengawet dan

kurang serat, misalnya semangkok sereal mengandung 7 gram serat.

3) Menghentikan kebiasaan buruk

Menghentikan rokok, kopi dan alkohol dapat mengurangi beban jantung,

sehingga jantung dapat bekerja dengan baik. Rokok dapat meningkatkan

resiko kerusakan pembuluh darah dengan mengendapkan kolesterol pada

pembuluh darah koroner, sehingga jantung bekerja lebih keras. Sedangkan

alkohol dapat memacu tekanan darah dan kopi dapat memacu detak jantung.

4) Memenuhi kebutuhan magnesium dan kalium

Sumber makanan yang banyak mengandung magnesium misalnya kacang-

kacangan dan makanan laut. Sedangkan makanan yang mengandung kalium

seperti pisang, sari jeruk, jagung, dan brokoli.

5) Melengkapi kebutuhan kalsium

Kalsium berguna untuk mencegah terjadinya komplikasi pada penyakit

hipertensi. Makanan yang mengandung klsium misalnya keju rendah lemak

dan ikan salmon.

6) Memanfaatkan sayuran dan bumbu dapur

Sayur-sayuran dan bumbu dapur bermanfaat untuk mengontrol tekanan darah.

Adapun sayuran dan bumbu yang dimaksud seperti tomat, wortel, seledri,

bawang putih dan kunyit.


21

c. Macam-macam diet rendah garam

1) Diet garam rendah I (200-400 mg Na)

Diet garam rendah I diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan atau

hipertensi berat. Pada pengolahan makanan tidak ditambahkan garam.

Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.

2) Diet garam rendah II (600-1200 mg Na)

Diet garam rendah II diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan atau

hipertensi tidak berat, pemberian makanan sehari sama dengan diet garam

rendah I. Pada pengolahan boleh menggunakan setengah sendok teh garam

dapur (2g). Dihindari bahan makanan yang tinggi kadar natriumnya.

3) Diet garam rendah III (1000-1200 mg Na)

Diet garam rendah III diberikan kepada pasien dengan edema, asites dan atau

hipertensi ringan. Pemberian makanan sehari sama dengan diet garam

rendah I. Pada pengolahan makanannya boleh menggunakan satu sendok teh

(4 gram).

5. Tinjauan tentang hipertensi

a. Pengertian

Menurut World Health Organization (1978) dalam Wiryanto (2008),

hipertensi didefinisikan sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan

diklasifikasikan sesuai derajat keperahannya, mempunyai rentang dari tekanan

darah normal tinggi sampai hipertensi maligna. Hipertensi adalah peningkatan

tekanan systole yang tingginya tergantung umur individu yang terkena. Tekanan

darah berfluktuasi dalam batas-batas tertentu, tergantung posisi tubuh, umur dan

tingkat stress yang dialami (Tambayong, 2010). Hipertensi merupakan suatu


22

keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri

menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung,

serangan jantung dan kerusakan ginjal (Corwin, 2012).

b. Etiologi

Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi menjadi dua golongan

(Mansjoer, dkk, 2007), yaitu:

1) Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya,

disebut juga hipertensi idiopatik. Banyak faktor yang bisa mempengaruhinya

seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem

rennin-angiotensin, defek dalam eksresi natrium, peningkatan natrium dan

calcium intraseluler, dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko seperti

obesitas, alkohol, merokok dan polisitemia.

2) Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Penyebab spesifiknya diketahui seperti

penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskuler renal, sindrom

chusing, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lain-lain.

c. Patofisiologi

Tekanan darah ditentukan oleh dua faktor yaitu aliran darah dan tahanan.

Aliran darah ditentukan oleh cardiak output (kekuatan, kecepatan, ritmi dari denyutan

jantung dan volume darah). Tahanan ditentukan oleh diameter dari pembuluh darah

dan sedikit viskositas darah. Peningkatan tekanan perifer sebagai akibat dari

penyempitan arteriola merupakan karasteristik pada hipertensi (Corwin, 2012).

Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan

abnormal saraf atau hormon pada nodus SA (sinus atrium). Peningkatan

kecepatan denyut jantung yang berlangsung kronik sering menyertai keadaan


23

hipertiroidisme. Namun, peningkatan kecepatan denyut jantung biasanya

dikompensasi oleh penurunan volume sekuncup atau TPR sehingga tidak

menimbulkan hipertensi (Corwin, 2012).

Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi apabila

terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan akibat gangguan

penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang berlebihan.

Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron atau penurunan aliran darah ke ginjal

dapat mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal. Peningkatan volume

plasma akan menyebabkan peningkatan volume diastolik akhir sehingga terjadi

peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah. Peningkatan volume diastolik

akhir disebut sebagai peningkatan preload jantung. Peningkatan preload biasanya

berkaitan dengan peningkatan tekanan sistolik (Corwin, 2012).

Peningkatan TPR (resistensi perifer total) yang berlangsung lama dapat

terjadi apabila pada peningkatan saraf atau hormon pada arteriol atau

responsivitas yang berlebihan dari arteriol terhadap rangsangan normal. Kedua hal

tersebut akan menyebabkan penyempitan pembuluh. Pada peningkatan TPR,

jantung harus memompa secara lebih kuat dan dengan demikian menghasilkan

tekanan yang lebih besar untuk mendorong darah melintasi pembuluh-pembuluh

yang menyempit. Hal ini disebut peningkatan dalam afterload jantung dan

biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan diastolik. Apabila peningkatan

afterload berlangsung lama, maka ventrikel kiri mungkin mulai mengalami

hipertrofi (membesar). Dengan hipertrofi, kebutuhan ventrikel akan oksigen

semakin meningkat sehingga ventrikel harus memompa darah secara lebih keras
24

lagi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. pada hipertrofi, serat-serat otot jantung

juga mulai teregang melebihi panjang normalnya yang pada akhirnya

menyebabkan penurunan kontraktilitas dan volume sekuncup (Corwin, 2012).

Dilatasi dan kontriksi arteriola perifer dapat dikendalikan oleh stimulus

pada sistem saraf simpatis dan pengaktifan sistem angiotensin yang

rangsangannya dapat mengeluarkan epinefrin dan norepinefrin menyebabkan

kontriksi pembuluh darah dan peningkatan resistensi perifer. Epinefrin

meningkatkan kontraksi cardiak sambil menyempitkan saluran sehingga tekanan

darah meningkat, ditandai dengan hipertrofi ventrikel kiri dan penyakit jantung

iskemik. Hipertensi merupakan faktor resiko penyakit jantung insufisiensi yang

kedua dan mempunyai hubungan yang erat gagal jantung, disritmia kordis dan

mati mendadak yang disebabkan oleh kedua macam kelainan tersebut

(Corwin, 2012).

d. Manifestasi klinis

Menurut Corwin (2012), sebagian besar manifestasi klinis timbul setelah

mengalami hipertensi bertahun-tahun, berupa:

1) Nyeri kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah akibat

peningkatan tekanan darah intrakranium.

2) Penglihatan kabur akibat kerusakan retina karena hipertensi.

3) Ayunan langkah tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat.

4) Nokturia karena peningkatan aliran darah ginjal/filtrasi glomerulus.

5) Edema atau pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.

6) Pada wanita dengan hipertensi kehamilan dijumpai proteinuria.


25

Menurut petunjuk WHO-ISH (1999) Kurnia (2007), klasifikasi hipertensi

berdasarkan derajatnya, sebagai berikut:

Tabel 2.1 Klasfikasi Hipertensi Berdasarkan Derajat Hipetensi

No Klasifikasi Sistolik Distolik


1 Optimal < 120 mmHg < 80 mmHg
2 Normal 130-139 mmHg 85-89 mmHg
3 Normal tinggi 130-139 mmHg 85-89 mmHg
4 Hipetensi derajat 1 (ringan) 140-159 mmHg 90-99 mmHg
5 Hipertensi derajat 2 (sedang) 160-179 mmHg 100-109 mmHg
6 Hipertensi derajat 3 (berat) ≥ 180 mmHg ≥ 110 mmHg
7 Hipertensi sistolik ≥ 140 mmHg < 90 mmHg
Sumber: WHO-ISH (1999) dikutip Kurnia (2007)

e. Komplikasi

Hipertensi apabila tidak diobati dan ditanggulangi, maka dalam jangka

panjang akan menyebabkan kerusakan arteri di dalam tubuh sampai organ-organ

yang mendapat suplai darah dari arteri tersebut. Menurut Corwin (2012) bahwa

komplikasi hipertensi dapat terjadi pada organ-organ, yaitu:

1) Jantung

Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan terjadinya gagal jantung dan

penyakit jantung koroner. Pada penderita hipertensi, beban kerja jantung

meningkat, otot jantung akan menyesuaikan sehingga terjadi penyesuaian

jantung dan semakin lama otot jantung akan mengendor dan berkurang

elastisitasnya yang disebut dekompensasi. Akibatnya, jantung tidak mampu

lagi memompa dan menampung darah dari paru sehingga banyak cairan

tertahan di paru maupun jaringan tubuh lain yang dapat menyebabkan sesak

nafas/edema atau disebut gagal jantung.


26

2) Otak

Komplikasi hipertensi pada otak menimbulkan resiko stroke dan apabila tidak

diobati resiko terkena stroke 7 kali lebih besar.

3) Ginjal

Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal. Tekanan darah yang

terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan sistem penyaringan di dalam

ginjal, akibatnya lambat laun ginjal tidak mampu membuang zat-zat yang

tidak dibutuhkan tubuh melalui aliran darah dan terjadi penumpukan di dalam

tubuh.

4) Mata

Pada mata, hipertensi dapat mengakibatkan terjadinya retinopati hipertensi dan

dapat menimbulkan kebutaan.

f. Penatalaksanaan

1) Diet penyakit darah tinggi (hipertensi)

a) Kandungan garam (sodium/natrium) seseorang yang mengidap hipertensi

sebaiknya mengontrol diri dalam mengkonsumsi asin-asinan garam, ada

beberapa tips yang bisa dilakukan untuk pengontrolan diet sodium/natrium ini:

(1) Jangan meletakkan garam diatas meja makan

(2) Pilih jumlah kandungan sodium rendah saat membeli makan

(3) Batasi konsumsi daging dan keju

(4) Hindari cemilan yang asin-asin

(5) Kurangi pemakaian saos yang memiliki kandungan sodium

b) Kandungan potasium/kalium suplements potasium 2-4 gram/hari dapat

membantu penurunan tekanan darah. Potasium umumnya bayak didapati pada


27

beberapa buah-buahan dan sayuran. Buah dan sayuran yang mengandung

potasium dan baik untuk di konsumsi penderita tekanan darah tinggi antara

lain semangka, alpokat, melon, buah pare, labu siam, bligo, labu parang/labu,

mentimun, lidah buaya, seledri, bawang dan bawang putih. Selain itu,

makanan yang mengandung unsur omega-3 sangat dikenal efektif dalam

membantu penurunan tekanan darah (hipertensi).

2) Pengobatan biasanya dikombinasikan dengan beberapa obat

a) Diuretik seperti tablet hydrochlorothiazide (HCT), lasix atau furosemide

merupakan golongan obat hipertensi dengan proses pengeluaran cairan tubuh

via urine. Tetapi karena potasium berkemungkinan terbuang dalam cairan

urine, maka pengontrolan konsumsi potasium harus dilakukan.

b) Beta-blockers seperti atenolol (tenorim), capoten (captopril) merupakan obat

yang dipakai dalam upaya pengontrolan tekanan darah melalui proses

memperlambat kerja jantung dan memperlebar (vasodilatasi) pembuluh darah.

c) Calcium channel blocker seperti norvasc (amlopidine), angiotensin converting

enzyme (ACE) merupakan obat yang biasa dipakai dalam pengontrolan darah

tinggi atau hipertensi melalui proses rileksasi pembuluh darah yang juga

memperlebar pembuluh darah.

g. Pencegahan

Menurut Kurnia (2007), penatalaksanaan non farmakologis merupakan

modifikasi gaya hidup dengan mengurangi faktor-faktor yang dapat memicu

timbulnya tekanan darah tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara, yaitu:

1) Mengatasi obesitas dan menurunkan kelebihan berat badan.


28

2) Mengurangi asupan garam dalam tubuh, nasehat pengurangan garam harus

memperhatikan kebiasaan makan penderita.

3) Melakukan olahraga seperti sena aerobik atau jalan cepat.

4) Menciptakan keadaan rileks seperti medikasi dan yoga dapat mengontrol

sistem saraf yang akhirnya menurunkan tekanan darah

5) Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol.

B. Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan bentuk representatif yang menggambarkan

seorang peneliti memiliki kemampuan untuk menyusun beberapa teori dan

menghubungkannya dengan faktor-faktor yang dianggap penting untuk sebuah

masalah (Hidayat, 2007; Setiadi, 2007). Kerangka konsep dalam penelitian ini

dapat digambarkan dalam skema sebagai beriku:

Gambar 1: Kerangka Konsep Penelitian

Pengetahuan keluarga tentang diet rendah garam Sikap terhadap pasien hipertensi

Keterangan:

: Variabel Independen

: Variabel Dependen

Kerangka konseptual dalam penelitian ini mengacu pada teori-teori diet

rendah garam dan penyakit hipertensi. Pada penelitian ini variabel yang

dioperasionalkan dalam kerangka konsep penelitian adalah variabel pengetahuan

keluarga tentang diet rendah garam dan sikap terhadap pasien hipertensi yang

dijabarkan dalam bentuk variabel bebas (pengetahuan keluarga tentang diet

rendah garam) dan variabel terikat (sikap terhadap pasien hipertensi).


29

C. Hipotesis Penelitian

Untuk membuktikan apakah hipotesa itu diterima atau ditolak, maka

penyelesainnya harus melalui penelitian, maka penulis menuliskan hipotesa

sebagai berikut: “Terdapat hubungan pengetahuan keluarga tentang diet rendah

garam dengan sikap terhadap pasien hipertensi di Kelurahan Bara Kecamatan

Wara Utara Kota Palopo”.

D. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

Definisi operasional dan kriteria objektif dari veriabel yang diteliti tersebut

di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

Tabel 2.1 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

Skala
Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil
Pengukuran
Baik:
Pengetahuan Sesuatu yang diketahui Kuesioner Ordinal
Skor 8-10
keluarga oleh keluarga penderita
tentang diet hipertensi tentang diet Cukup:
rendah garam rendah garam. Skor 6-7
Kurang:
Skor ≤ 5
Positif:
Sikap Tanggapan atau reaksi Kuesioner Ordinal
Skor 26-40
terhadap tertutup dari keluarga
pasien tentang penderita hipertensi. Negatif:
hipertensi Skor 10-25

Anda mungkin juga menyukai