PENGARUH KUALITAS COGNITIVE BEHAVIORAL THERAPY (CBT) YANG
DISERTAI DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP PERUBAHAN TINGKAT
PERCAYA DIRI PADA MAHASISWA S1 ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH MALANG
PROPOSAL RISET
Oleh :
1. Muhamad Wildan Tubagus 201710420311164
2. Mubin Asruri 201710420311199
3. Khofifa Ernawati 201810420311155
4. Entressa Alief Windaryoga 201810420311187
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2020
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10 – 19 tahun yang sedang mengalami
masa transisi dari masa anak menuju masa dewasa. Selama masa perkembangannya
remaja menghadapi berbagai rintangan atau masalah, jika remaja tidak dapat
mengatasinya maka akan timbul perasaan gagal, malu, mengalami gangguan emosional,
dan kehilangan harga diri. Remaja dengan harga diri negatif biasanya akan cenderung
menarik diri, kurang berkontribusi, dan enggan bersosialisasi hal ini dapat berdampak
dengan diri remaja, sehingga kurang berhasil dalam prestasi akademik, kurang
mengekpresikan dirinya dengan baik dan ragu-ragu. HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA
DENGAN HARGA DIRI REMAJA KELAS VIII DI SMPN 2 BANTUL YOGYAKARTA
Remaja akan mengalami banyak rintangan atau masalah pada masa
perkembangannya. Menurut Shofyan S. Wilis (2014) mengenai fenomena di akhir abad
20 ini, yaitu berkembangnya kesamaan perlakuan dan harapan terhadap anak -anak dan
orang dewasa. Tuntutan masyarakat dan teknologi menuntut remaja untuk berperan dan
bertingkah laku layaknya orang dewasa dan hal itu juga memberikan dampak pada
perkembangan sosial pada remaja. Jika terkanan-tekanan tersebut terus menumpuk maka
akan menjadi information overload yang dapat menimbulkan dampak seperti kegagalan
di sekolah, penyalahgunaan obat-obatan, keluhan-keluhan somatik dan kesedihan yang
kronis, depresi, bahkan bunuh diri. Dan akan timbul perasaan gagal, malu, mengalami
gangguan emosional, kehilangan harga diri atau kepercayaan diri (Retnowati, 2011).
Kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan dalam jiwa manusia bahwa tantangan
hidup apapun harus dihadapi dengan berbuat sesuatu (Angelis, 2003). Kepercayaan diri
berarti mengapresiasi dan menilai diri sendiri (Utomo & Harmiyanto, 2016). Kepercayaan
diri itu lahir dari kesadaran bahwa jika memutuskan untuk melakukan sesuatu, maka
sesuatu itu pula yang harus dilakukan. Kepercayaan diri itu akan datang dari kesadaran
individu bahwa individu tersebut memiliki tekad untuk melakukan apapun, sampai tujuan
yang ia inginkan tercapai. Hubungan Body Image dengan Kepercayaan Diri Remaja Putri
Menurut Fatimah (2006) kepercayaan diri adalah sikap positif seorang individu yang
memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif, baik terhadap diri sendiri
maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Sedangkan menurut Guilford
( dalam Hakim, 2004) bahwa kepercayaan diri adalah pengharapan umum tentang
keberhasilan. Branden (dalam Iswidarmanjaya dan Agung, 2005) mengemukakan bahwa
kepercayaan diri adalah keyakinan seseorang pada kemampuan yang ada dalam dirinya.
Bandura (dalam Iswidarmanjaya dan Agung, 2005) mendefinisikan kepercayaan diri
sebagai suatu perasaan yang berisi kekuatan, kemampuan, dan keterampilan untuk
melakukan atau menghasilkan sesuatu yang dilandasi keyakinan untuk sukses.
Selanjutnya Radenbach (1998) menyatakan bahwa percaya diri bukan berarti menjadi
keras atau seseorang yang paling sering menghibur dalam suatu kelompok, percaya diri
tidak juga menjadi kebal terhadap ketakutan. Percaya diri adalah kemampuan mental
untuk mengurangi pengaruh negatif dari keraguraguan, dengan demikian biarkan rasa
percaya diri setiap orang digunakan pada kemampuan dan pengetahuan personal untuk
memaksimalkan efek. HUBUNGAN ANTARA PERCAYA DIRI DAN KERJA KERAS DALAM
OLAHRAGA DAN KETERAMPILAN HIDUP
Hasil penelitian Farida (2014) menunjukkan 25% kepercayaan diri remaja berada
pada kategori sedang, 75% kepercayaan diri remaja berada pada kategori rendah.
Selanjutnya, penelitian oleh Adiasih (2015) menunjukkan 9,7% kepercayaan diri siswa
berada pada kategori sangat tinggi, 24,2% berada pada kategori tinggi, 37,1% berada pada
kategori sedang, 22,6% berada pada kategori rendah, dan 6,5% berada pada kategori
sangat rendah. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terlihat kepercayaan diri remaja
berada pada kategori sedang bahkan tergolong rendah. Rendahnya kepercayaan diri pada
remaja disebabkan oleh beberapa faktor. Hubungan Body Image dengan Kepercayaan Diri
Remaja Putri
Santrock (2003) menjelaskan salah satu faktor yang memengaruhi kepercayaan diri
adalah penampilan fisik. Perubahan fisik menimbulkan dampak psikologis yang tidak
diinginkan. Mayoritas anak muda lebih banyak memerhatikan penampilan mereka
dibanding aspek lain dalam diri mereka, dan banyak di antara mereka yang tidak suka
melihat apa yang mereka lihat di cermin. Anak perempuan memiliki perasaan tidak suka
yang lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki, hal ini mencerminkan penekanan kultural
yang lebih besar terhadap atribut fisik wanita (Papalia, Old, & Feldman, 2008). Hubungan
Body Image dengan Kepercayaan Diri Remaja Putri
Adapun faktor yang menyebabkan timbulnya kepercayaan diri yang rendah
diantaranya faktor dari dalam diri individu berupa dominan pemikiran yang negatif, tidak
meyakini bahwa dirinya mampu dalam bidang atau hal yang ingin dilakukan, kurangnya
memiliki rasa keoptimisan dalam diri, adanya rasa minder yang cukup tinggi, bahkan
tidak memiliki tujuan yang ingin dicapai. Selain itu terdapat faktor lingkungan yang dapat
mempengaruhi individu tersebut, diantaranya faktor lingkungan keluarga, sekolah, dan
lingkungan sosial (teman sebaya). Menurut Safta (2015) hal yang diperhatikan dalam
kepercayaan diri diantaranya yakin dengan kemampuan diri, optimis, objektif,
bertanggung jawab, dan realistis individu akan merasa optimal dalam kepercayaan diri
yang dimilikinya (4295).
Menurut Santrock (2007) masa remaja merupakan periode transisi perkembangan
antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan biologis,
kognitif, dan sosioemosional, yang dimulai dari rentang usia 10 hingga 13 tahun dan
berakhir pada usia sekitar 18 hingga 22 tahun. Perubahan biologis yang terjadi
diantaranya adalah pertambahan tinggi tubuh yang cepat, perubahan hormonal, dan
kematangan alat reproduksi. Pada kognitif, perubahan yang terjadi seperti meningkatnya
kemampuan berpikir abstrak, idealistik, dan logis. Sementara, perubahan sosioemosional
yang dialami remaja seperti kemandirian, keinginan untuk lebih sering meluangkan waktu
bersama teman sebaya, dan mulai muncul konflik dengan orang tua (bab 1 unand
santrock).
Berbagai perubahan penting terjadi pada masa remaja, sehingga Hall (dalam Santrock,
2007) memandang masa remaja sebagai masa yang penuh badai dan stress. Pandangan
tersebut dikarenakan pada masa remaja terjadi fluktuasi emosi yang lebih sering daripada
sebelumnya. Berbagai pikiran, perasaan, dan tindakan terjadi berubah-ubah, seperti antara
kesombongan dan kerendahan hati, niat baik dan godaan, kebahagiaan dan kesedihan, dan
kondisi bertolak belakang lainnya yang berubah-ubah dalam jarak waktu yang singkat
(Santrock, 2007). Lebih lanjut, Hurlock (1980) menjelaskan kondisi fluktuasi emosi atau
ketidakstabilan pada remaja merupakan konsekuensi dari usaha penyesuaian dirinya pada
pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. Kondisi tersebut membuat remaja rentan
untuk mengalami kemarahan, depresi, kesulitan dalam 2 mengatasi emosi, yang
selanjutnya dapat memicu munculnya berbagai masalah seperti kesulitan akademis,
penyalahgunaan obat, gangguan makan, dan kenakalan remaja (bab 1 unand santrock).
Peran keluarga dalam proses pembentukan kepribadian anak sangat besar, keluargalah
yang menyiapkan perkembangan kepribadian anak sejak dini. Dengan adanya dorongan
dari keluarga, maka dapat membantu anak dalam melakukan penyesuaian yang
memuaskan baik itu di masa kini atau di masa mendatang. Pemikiran dan perilaku anak
tergantung bagaimana orangtua mendidik. Pembentukan kepribadian anak yang dimulai
sejak dini sangatlah penting, karena dapat memengaruhi kehidupan di masa dewasa.
Sebagai contoh, seorang anak yang memiliki kepribadian baik akan melakukan perbuatan
yang baik juga. Hal itu disebabkan karena peran orangtua dalam membentuk kepribadian
anak sejak dini (119 arikel).
Dukungan keluarga adalah suatu bentuk hubungan interpersonal yang melindungi
seseorang dari efek setres yang buruk (Kaplan dan Sadock, 2002). Dukungan keluarga
menurut Fridman (2010) adalah sikap, tindakan penerimaan keluarga terhadap anggota
keluarganny, berupa dukungan informasional, dukungan penilaian, dukungan
instrumental dan dukungan emosional. Jadi dukunan keluarga adalah suatu bentuk
hubungan interpersonal yang meliputi sikap, tindakan dan penerimaan terhadap anggota
keluarga, sehingga anggota keluarga merasa ada yang memperhatikannya. Jadi dukungan
sosial keluarga mengacu kepada dukungan-dukungan sosial yang dipandang oleh anggota
keluarga sebagai sesuatu yang dapat diakses atau diadakan untuk keluarga yang selalu
siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan (bab 2 ump).
Intervensi lain yang bias diberikan untuk meningkatkan rasa percaya diri adalah
Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Cognitive behavioral therapy merupakan proses
berpikir dan diaplikasikan dengan tingkah laku atau perbuatan. Bentuk rangkaian yang
berupa stimulus dan respon sehingga dapat mengatur perilakunya sendiri dengan merubah
pola pikirnya terhadap rangsangan atau stimulus yang diterima dan menemukan sendiri
penguatan yang positif yang bertujuan untuk kebaikan diri sendiri (156 perpus).
Berdasarkan dari data latar belakang yang sudah dijelaskan, maka peneliti ingin
melakukan penelitian yang berkaitan dengan hal tersebut. Oleh karena itu peneliti
melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kualitas Cognitive Behavioral Therapy
(CBT) Yang Disertai Dukungan Keluarga Terhadap Perubahan Tingkat Percaya Diri Pada
Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang”.
1.2 Rumusan Masalah
Adakah pengaruh cognitive behavior therapy (CBT) yang disertai dukungan keluarga
terhadap perubahan tingkat percaya diri pada mahasiswa S1 ilmu keperawatan
Universitas Muhammadiyah Malang?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Pengaruh kualitas cognitive behavioural therapy (CBT) yang disertai dukungan
keluarga terhadap perubahan tingkat percaya diri pada mahasiswa S1 ilmu keperawatan
universitas muhammadiyah malang.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi perubahan tingkat percaya diri pada mahasiswa S1 ilmu
keperawatan dengan intervensi dukungan keluarga (kelompok kontrol)
b. Mengidentifikasi perubahan tingkat percaya diri pada remaja dengan intervensi
Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang disertai dukungan keluarga (kelompok
intervensi)
c. Menganalisis perbedaan keefektifan antara kelompok kontrol dan kelompok
intervensi terhadap tingkat kepercayaan diri pada mahasiswi S1 ilmu keperawatan
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Menambah informasi tentang Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang disertai
dukungan keluarga sebagai upaya untuk meningkatkan rasa percaya diri pada
mahasiswa S1 ilmu keperawatan.
1.4.2 Manfaat Praktis
a. Hasil dari penelitian ini diharapkan masyarakat mampu menerapkan Cognitive
Behavioral Therapy (CBT) dan menyadari pentingnya dukungan keluarga untuk
meningkatkan rasa percaya diri pada mahasiswa S1 ilmu keperawatan.
b. Menambah wawasan bagi pembaca bahwa Cognitive Behavioral Therapy
(CBT) yang disertai dukungan keluarga dapat meningkatkan kepercayaan diri
pada mahasiswa S1 ilmu keperawatan.
BAB II
4.1 Konsep Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
4.1.1 Pengertian Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
Cognitive behavior therapy merupakan proses berpikir dan diaplikasikan dengan
tingkah laku atau perbuatan. Bentukrangkaian yang berupa stimulus dan respon
sehingga dapat mengatur perilakunya sendiri dengan merubah pola pikirnya
terhadap rangsangan atau stimulus yang diterima dan menemukan sendiri
penguatan yang positif yang bertujuan untuk kebaikan diri sendiri (1563).
Pendekatan CBT merupakan terapi kognitif yang didasarkan pada asumsi bahwa
kognisi merupakan penentu utama mengenai bagaimana kita berfikir dan berbuat.
Beck menulis bahwa, “ terapi kognitif terdiri dari semua pendekatan yang
menjadikan kepedihan psikologis lebih bisa tertahankan melalui medium
mengoreksi konsepsi keliru dan sinyal-sinyal dirinya sendiri”. Menurut Beck Rute
yang paling langsung berubahnya kognisi dan perilaku yang tidak berfungsi
adalah dengan memodifikasi jalan pikiran yang tidak tepat dan tidak berfunfgsi.
(Corey, 1990:486). (1563).
Menurut Corey (2013) Konseling pendekatan CBT adalah konseling yang
berfokus pada wawasan yang menekankan pada proses untuk mengubah pikiran
negatif dan keyakinan maladaptif yang dimiliki oleh individu. Inti dari pendekatan
CBT didasarkan pada alasan teoritis mengenai cara manusia merasa dan
berperilaku, yang ditentukan oleh bagaimana mereka memandang dan
menstruktur pengalaman mereka sendiri.(David, Situmorang, Katolik, & Atma,
2018). Asumsi teoritis konseling CBT adalah bahwa komunikasi internal manusia
dapat diakses oleh introspeksi, bahwa kepercayaan konseli memiliki makna yang
sangat pribadi, dan bahwa makna ini dapat ditemukan oleh konseli dari apa yang
dipelajari atau ditafsirkan oleh konseling.
4.2 Aspek- Aspek Cognitive Behavioral Therapy
Menurut Spiegier & Guevremont 2003, menyatakan bahwa sebagai
langkah penting dalam memahami masalah responden dengan lebih tepat
berdasarkan pendekatan cognitive behavioral, perlu dilakukan analisis fungsional
atau analisis masalah berdasarkan prinsip “S-O-R-C”. S (Stimulus): peristiwa yang
terjadi sebelum individu menunjukkan perilaku tertentu. O (Organism): partisipan
dengan aspek kognisi (C) dan emosi (E) didalamnya. R (Response): apa yang
dilakukan oleh individua tau organism, sering juga disebut dengan perilaku
(behavior), baik perilaku yang tampak (Overt behavior) ataupun yang tidak
tampak. C (Consequences): peristiwa yang terjadi setelah atau sebagai suatu hasil
dari perilaku. (Siregar & Siregar, 2013)
C
O (Organism) R (Response)
S (stimulus) (Consequences)
Cognitive (C) Behavior (overt
EVent Positive (+) dan
dan Emotion (E) dan covert)
negative (-)
Gambar.1 (Analisa S-O-R-C)
4.3 Tujuan Konseling Terapi CBT
Menurut Corey 2013, Konseling CBT pada hakekatnya memiliki tujuan untuk mengubah
cara berpikir seseorang yang maladaptif dengan membantu mereka menyadari automatic
thought (pikiran-pikiran yang otomatis) dan distorsi kognitif yang bersumber pada core belief
(kepercayaan diri) yang telah menetap. Maka hal yang perlu untuk dilakukan dengan
membantu individu menstruktur kembali pikiran negatif yang dimiliki, dan menuju pikiran
yang lebih adaptif. Individu cenderung untuk mempertahankan keyakinan mereka tentang diri
mereka sendiri, dunia mereka, dan masa depan mereka. Fokus utama dari konseling CBT
adalah untuk membantu seseorang dalam menguji dan mengubah keyakinan inti yang mereka
miliki. Dengan mendorong seseorang untuk mengumpulkan dan mempertimbangkan bukti
yang mendukung keyakinan mereka tersebut, konselor membantu individu untuk mengubah
suasana hati dan perilaku mereka. (David et al., 2018).
CBT juga bertujuan membantu seseorang dalam mengubah sistem keyakinan yang
negatif, irrasional, dan mengalami penyimpangan menjadi positif dan rasional sehingga
secara bertahap mempunyai reaksi somatik dan perilaku yang lebih sehat dan normal dengan
cara sebagai berikut.
a. Membuka dan memfokuskan pikiran
b. Mengubah kerangka pandang
c. Menekankan pada pikiran otomatis (AT) dan kesalahan berpikir (distorsi kognitif) agar
individu dapat berfungsi secara efektif.
d. Konseli ditantang dan diajak berdiskusi untuk membawa perasaan, perilaku, dan pikiran
yang positif.
4.4 Konsep Dukungan Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan terdekat bagi remaja, keluarga mempunyai
peran penting bagi remaja dalam bersosialisai di dalam lingkungan sekitar. Dukungan
keluarga sangat penting bagi remaja dalam menjalani kehidupan. Dukungan keluarga
merupakan bagian dari dukungan sosial. & Semarang, 2011).
Dukungan sosial meurut Cohen dan Sme (dalam Harnilawati, 2013) adalah
suatu keadaan yang bermanfaat bagi individu yang diperoleh dari orang lain yang
dapat dipercaya sehingga seseorang akan tahu bahwa ada orang lain yang
memperhatikan, menghargai, dan mencintainya. Sedangkan menurut Sarafino dan
Smith (2014) dukungan sosial adalah suatu kenyamanan, kepedulian, penghargaan,
atau bantuan yang didapatkan individu dari individu lain atau kelompok. dukungan
sosial merupakan kenyamanan secara fisik dan psikologis yang diberikan oleh teman
maupun anggota keluarga (Baron dan Byrne, 2005). HUBUNGAN DUKUNGAN
KELUARGADENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA
Friedman (1998) menyatakan Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan
penerimaan keluarga terhadap anggotanya. Russo, Shteigman, dan Carmelia (2016)
berpendapat dukungan keluarga adalah bagaimana anggota keluarga merasa diterima,
diperhatikan, dan saling mendukung. Sedangkan menurut Hetherington dan Blechman
(2014) dukungan keluarga adalah kepedulian antara anggota keluarga sehingga
anggota keluarga dapat berbagi perasaan dan dapat saling percaya. Anggota keluarga
dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam lingkungan keluarga.
Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap
memberikan pertolongan dan bantuan jika di perlukan. HUBUNGAN DUKUNGAN
KELUARGADENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA
Remaja yang mendapat dukungan dari keluarga berkeyakinan bahwa mereka
disayangi, diperhatikan, akan mendapat bantuan dari orang lain bila mereka
membutuhkannya (Santrock, 2003). Hartanti (2000) mengatakan apabila remaja
mendapat dukungan keluarga akan mengalami berkurangnya kelelahan emosi dan
stress sehingga remaja menjadi tidak sedih lagi, tidak merasa kecewa dan
mendapatkan masukan-masukan untuk masalah yang sedang dihadapi, akibatnya
remaja akan mampu menyelesaikan masalah dengan sikap yang positif. HUBUNGAN
DUKUNGAN KELUARGADENGAN KONSEP DIRI PADA REMAJA
4.5 Jenis – Jenis Dukungan Keluarga
Menurut Sarafino (1997: 97) dukungan sosial keluarga dapat dibedakan menjadi
beberapa bentuk. Dukungan emosional (emotional support) Melibatkan ungkapan rasa
empati dan perhatian terhadap individu, sehingga individu itu merasa nyaman, dicintai
dan diperhatikan. Dukungan ini meliputi perilaku seperti memberikan perhatian dan
afeksi serta bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain. Dukungan penghargaan
(esteem support) Melibatkan ekspresi yang berupa pernyataan setuju dan penilaian
positif terhadap ide-ide, perasaan dan performa orang lain. Dukungan ini akan membantu
membangun perasan menghargai terhadap diri sendiri pada individu dan menghargai
kompetensinya. Dukungan instrumental (instrumental support) melibatkan bantuan
langsung, misalnya yang berupa bantuan finansial atau bantuan dalam mengerjakan
tugas-tugas tertentu. Dukungan informasi (informational support) Dukungan yang
bersifat informasi ini dapat berupa saran, pengarahan dan umpan balik tentang
bagaimana cara memecahkan persoalan. Dukungan jaringan (network support)
Menyediakan suatu perasaan keanggotan dalam sebuah kelompok orang-orang yang
berbagai kepentingan dan aktivitas sosial (Harnilawati, 2013).
4.6 Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga adalah ukuran dari bagaimana sebuah keluarga
Fungsi keluarga mempengaruhi kapasitas kesehatan dan kesejahteraan seluruh
anggota keluarga. Berikut merupakan penjelasan dari fungsi setiap keluarga (Susanti &
Sulistyarini, 2013). Fungsi afektif, berhubungan dengan fungsi internal keluarga yang
merupakan dasar kekuatan keluarga. Fungsi ini berguna untuk pemenuhan kebutuhan
psikososial. Anggota keluarga mengembangkan gambaran diri yang positif, peran
dijalankan dengan baik dan penuh rasa kasih sayang. Fungsi sosialisasi, proses
perkembangan dan perubahan yang dilalui individu menghasilkan interaksi social dan
indidividu dan tersebut melaksanakan perannya dalam lingkungan social. Fungsi
reproduksi, fungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah sumber
daya manusia. Fungsi ekonomu, fungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti
makanan, pakaian, perumahan dll. Fungsi perawatan keluarga, keluarga menyediakan
makanan, pakaian, perlindungan dan asuhan kesehatan.
4.7 Prosedur Pelaksanaan Dukungan Keluarga
Bentuk dukungan keluarga kepada remaja dengan kepercayaan diri rendah
dalam penelitian ini adalah dengan memperhatikan, memenuhi kebutuhan remaja,
menjalin komunikasi terbuka dan memberikan informasi yang adaptif. Keluarga
diberikan pelatihan tentang pemberian dukungan keluarga terhadap remaja dengan
kepercayaan diri rendah sebelum intervensi. Pendampingan dan konseling keluarga
dilakukan dengan telephone kedua orangtua. Prosedur ini dilakukan dua kali
seminggu dalam 1 bulan (Triyanto, Setiyani, & Wulansari, n.d.)
4.8 Konsep Percaya Diri
Branden (dalam Iswidarmanjaya dan Agung, 2005) mengemukakan bahwa
kepercayaan diri adalah keyakinan seseorang pada kemampuan yang ada dalam dirinya.
Bandura (dalam Iswidarmanjaya dan Agung, 2005) mendefinisikan kepercayaan diri sebagai
suatu perasaan yang berisi kekuatan, kemampuan, dan keterampilan untuk melakukan atau
menghasilkan sesuatu yang dilandasi keyakinan untuk sukses. Selanjutnya Radenbach (1998)
menyatakan bahwa percaya diri bukan berarti menjadi keras atau seseorang yang paling
sering menghibur dalam suatu kelompok, percaya diri tidak juga menjadi kebal terhadap
ketakutan. Percaya diri adalah kemampuan mental untuk mengurangi pengaruh negatif dari
keraguraguan, dengan demikian biarkan rasa percaya diri setiap orang digunakan pada
kemampuan dan pengetahuan personal untuk memaksimalkan efek. HUBUNGAN ANTARA
PERCAYA DIRI DAN KERJA KERAS DALAM OLAHRAGA DAN KETERAMPILAN HIDUP
Konsep percaya diri pada dasarnya merupakan suatu keyakinan untuk menjalani
kehidupan, mempertimbangkan pilihan dan membuat keputusan sendiri pada diri sendiri
bahwa ia mampu untuk melakukan sesuatu. Artinya keyakinan dan percaya diri hanya timbul
pada saat seseorang mengerjakan sesuatu yang memang mampu dilakukanya. Pada dasarnya
seseorang merasa puas pada dirinya sendiri hanya pada saat melakukan suatu kegiatan,
pekerjaan atau menyalurkan kemampuanya. Banyak hal yang dapat dilakukan dan banyak
juga kemampuan yang dapat dikuasai seseorang dalam hidupnya. Tetapi jika hanya percaya
diri pada hal-hal tersebut maka seseorang tidak akan pernah menjadi orang yang betul-betul
percaya diri. Hal ini karena orang tersebut hanya akan mepercaya diri terhadap hal-hal yang
berkaitan dengan apa yang dilakukan dan beberapa keterampilan tertentu saja yang dikuasai
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN TEKNIK PERMAINAN DALAM BIMBINGAN KELOMPOK UNTUK
MENINGKATKAN PERCAYA DIRI SISWA
4.9 Proses Terbentuknya Rasa Percaya Diri
Kepercayaan diri merupakan keyakinan dan harapan dan terbentuk tidak instan,
tetapi ada proses tertentu di dalam pribadinya sehingga terjadilah pembentukan rasa
percaya diri. Terbentuknya rasa percaya diri yang kuat terjadi melalui proses sebagai
berikut :
a. Terbentuknya kepribadian yang baik sesuai dengan proses perkembangan yang
melahirkan kelebihan kelebihan tertentu.
b. Pemahaman seseorang terhadap kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dan
melahirkan keyakinan kuat untuk bisa berbuat segala sesuatu dengan memanfaatkan
kelebihan-kelebihannya tersebut.
c. Pemahaman dan reaksi positif seseorang terhadap kelemahan-kelemahan yang
dimilikinya agar tidak menimbulkan rasa rendah diri atau rasa sulit menyesuaikan
diri.
d. Pengalaman di dalam menjalani berbagai aspek kehidupan dengan menggunakan
segala kelebihan yang ada pada dirinya.
HUBUNGAN ANTARA PERCAYA DIRI DAN KERJA KERAS DALAM OLAHRAGA DAN
KETERAMPILAN HIDUP
5. Aspek Percaya Diri
Angelis (2003:58-77), dalam mengembangkan percaya diri terdapat tiga aspek
yaitu:
1) Tingkah laku, yang memiliki tiga indikator; melakukan sesuatu secara maksimal,
mendapat bantuan dari orang lain, dan mampu menghadapi segala kendala,
2) Emosi, terdiri dari empat indikator; memahami perasaan sendiri, mengungkapkan
perasaan sendiri, memperoleh kasih sayang, dan perhatian disaat mengalami
kesulitan, memahami manfaat apa yang dapat disumbangkan kepada orang lain, dan
3) Spiritual, terdiri dari tiga indikator; memahami bahwa alam semesta adalah sebuah
misteri, meyakini takdir Tuhan, dan mengagungkan Tuhan.
HUBUNGAN ANTARA PERCAYA DIRI DAN KERJA KERAS DALAM OLAHRAGA DAN
KETERAMPILAN HIDUP
6. Tujuan Percaya Diri
Iswidharmanjaya dan Agung (2005) mengatakan dengan kepercayaan diri yang
cukup, seseorang individu akan dapat mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya
dengan yakin dan mantap. Kepercayaan yang tinggi sangat berperan dalam
memberikan sumbangan yang bermakna dalam proses kehidupan seseorang, karena
apabila individu memiliki kepercayaan diri yang tinggi, maka akan timbul motivasi
pada diri individu untuk melakukan hal-hal dalam hidupnya.
Dengan kepercayaan diri, individu dapat meningkatkan kreativitas dirinya, sikap
dalam mengambil keputusan, nilai-nilai moral, sikap dan pandangan, harapan dan
aspirasi. Menurut Mastuti dan Aswi (2008) individu yang tidak percaya diri biasanya
disebabkan karena individu tersebut tidak mendidik diri sendiri dan hanya menunggu
orang melakukan sesuatu kepada dirinya. Semakin tinggi kepercayaan diri semakin
tinggi pula apa yang ingin dicapai.
PENGARUH KEPERCAYAAN DIRI (SELF CONFIDENCE) BERBASIS KADERISASI IMM
TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA (STUDI KASUS DI PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH PAREPARE)