0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

Kliping Obat: Ceftriaxone, Ondansetron, Ranitidin, Metamizole

Diunggah oleh

ESWL haryoto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

Kliping Obat: Ceftriaxone, Ondansetron, Ranitidin, Metamizole

Diunggah oleh

ESWL haryoto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KLIPING OBAT

NAMA OBAT PENJELASAN OBAT


CEFTRIAXONE  Indikasi ceftriaxone adalah untuk mengatasi infeksi bakteri gram
negatif maupun gram positif. Dosis ceftriaxone yang diberikan
biasanya berkisar antara 1–2 gram per 12 atau 24 jam, tergantung
pada penyakit dan tingkat keparahan infeksi. Dosis maksimal
yang dapat diberikan adalah 4 gram/hari.
 Kontraindikasi ceftriaxone adalah pada individu dengan riwayat
hipersensitivitas terhadap obat ini atau golongan sefalosporin
lainnya. Penggunaan harus hati-hati pada pasien dengan riwayat
alergi penicillin karena bisa terjadi reaksi silang.
 Farmakologi ceftriaxone adalah sebagai antibiotik dengan
mekanisme aksi menghambat dinding sel bakteri. Ceftriaxone
berperan dalam melawan berbagai mikroorganisme, terutama
bakteri gram negatif. Ceftriaxone didistribusikan dengan baik ke
dalam cairan dan jaringan tubuh, dan sebagian besar
diekskresikan melalui urin.
 Farmakodinamik
Ceftriaxone bekerja membunuh bakteri dengan menginhibisi
sintesis dinding sel bakteri. Ceftriaxone memiliki cincin beta
laktam yang menyerupai struktur asam amino D-alanyl-D-alanine
yang digunakan untuk membuat peptidoglikan. Tautan silang
peptidoglikan dikatalisasi oleh enzim transpeptidase yang
merupakan Penicillin-Binding Proteins (PBP).
 Efek samping ceftriaxone yang sering terjadi meliputi reaksi lokal
pada area injeksi, eosinofilia, trombositosis, diare, dan
leukopenia. Ceftriaxone memiliki interaksi dengan larutan atau
obat lain. Sebagai contohnya ceftriaxone bereaksi dengan larutan
yang mengandung kalsium yang akan membentuk presipitat.

ONDANCENTRON  Ondansetron adalah obat untuk saluran pencernaan yang


digunakan sebagai terapi lini pertama untuk mengatasi dan/atau
mencegah mual dan muntah. Ondansetron bekerja dengan
memblok reseptor serotonin 5HT3. Ondansetron masuk dalam
golongan obat saluran cerna yang memiliki fungsi sebagai
antiemesis.
 Indikasi ondansetron adalah profilaksis dan terapi untuk
mengatasi mual dan muntah akibat kemoterapi seperti cisplatin,
radioterapi, dan pasca operasi. Pada praktik klinis (off-label),
ondansetron dapat mengatasi mual dan muntah dari berbagai
etiologi sebagai tatalaksana simtomatik.
 Indikasi ondansetron adalah sebagai antiemesis profilaksis pada
prosedur kemoterapi, tindakan operasi, ataupun radioterapi. Dosis
ondansetron yang digunakan untuk mengatasi mual dan muntah
akibat obat kemoterapi disesuaikan berdasarkan tingkat
emetogenik obat
 Perlu diingat bahwa dosis maksimal ondansetron IV adalah 16
mg, dosis maksimal 32 mg yang telah ditetapkan sebelumnya
sudah tidak lagi direkomendasikan karena dapat menimbulkan
prolongasi Q dan aritmia
 Penanganan mual dan muntah yang biasanya muncul setelah
tindakan anestesi adalah dengan sediaan oral 16 mg satu jam
sebelum tindakan anestesi ataupun ondansetron intravena 4 mg
sebelum tindakan anestesi.
 Kontraindikasi ondansetron mutlak adalah riwayat
hipersensitivitas terhadap obat dan penggunaannya bersama obat
apomorphin dan dronedarone. Pada beberapa kelompok,
penggunaan ondansetron perlu diawasi dan diperhatikan, namun
tetap dapat diberikan.
 Farmakologi ondansetron merupakan antagonis reseptor serotonin
5-HT3 baik di sentral maupun perifer sehingga dapat menekan
efek mual dan muntah yang timbul. Ondansetron dimetabolisme
secara luas di tubuh dan dieliminasi melalui urin dan feses
 Farmakodinamik
Efek farmakodinamik ondansetron adalah menimbulkan efek
antagonis terhadap reseptor serotonin 5-HT3 yang terletak di area
postrema dan juga pada nervus vagal. Reseptor serotonin 5-HT3
pada area postrema yang merupakan chemoreceptor trigger
zone mengenali neurotransmitter seperti serotonin dan
bertanggungjawab dalam mekanisme terjadinya mual dan
muntah. Reseptor serotonin 5-HT3 juga ditemukan pada terminal
nervus vagal. Bila nervus vagal terstimulasi, maka mual dan
muntah juga dapat terjadi
 Efek samping ondansetron dapat terjadi pada berbagai sistem,
terutama gastrointestinal, kardiovaskular, dan metabolik. Interaksi
obat bersama apomorphin dan dronedarone dapat menimbulkan
efek fatal. Efek samping ondansetron dapat menimbulkan efek
samping pada berbagai sistem organ adalah sebagai berikut, tapi
efek serius yang paling sering dilaporkan adalah nyeri kepala.

RANITIDINE  Ranitidin adalah antagonis reseptor histamin H2 yang digunakan


dalam penanganan GERD atau gastroesophageal reflux disease,
ulkus peptikum, dan sindrom Zollinger-Ellison. Ranitidin bekerja
dengan menghambat reseptor H2 di sel parietal lambung,
menghasilkan pengurangan volume dan konsentrasi asam
lambung. Ranitidin lebih menurunkan sekresi asam lambung
basal dan nokturnal dibandingkan sekresi asam lambung yang
dirangsang oleh makanan
 Indikasi ranitidin adalah untuk penanganan GERD
atau gastroesophageal reflux disease, ulkus peptikum, esofagitis
erosif, dan kondisi hipersekretori seperti sindrom Zollinger-
Ellison. Dosis oral yang biasanya digunakan pada pasien dewasa
adalah 150 mg
 Perlu diketahui bahwa di Amerika Serikat penggunaan ranitidin
telah ditarik oleh FDA karena sediaan diketahui mengandung N-
nitrosodimethylamine (NDMA) yang bersifat karsinogenik.
Meski demikian, di Indonesia ranitidin telah diperbolehkan untuk
diedarkan kembali
 Kontraindikasi ranitidin adalah penggunaan pada pasien dengan
alergi terhadap obat ini atau sediaannya. Peringatan mengenai
ranitidin adalah adanya temuan kontaminasi N-
nitrosodimethylamine (NDMA) pada sediaan ranitidin yang
menyebabkan obat ini telah ditarik dari pasaran di Amerika
Serikat. Di Indonesia, obat ini masih boleh beredar.
Ranitidin dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat
hipersensitivitas terhadap ranitidin atau kandungan lain dalam
sediaan
 Farmakologi ranitidin adalah sebagai obat penekan asam
golongan antagonis reseptor histamin. Ranitidin diserap dengan
cepat pada pemberian per oral, namun melalui metabolisme lintas
pertama yang ekstensif.
 Farmakodinamik
Ranitidin merupakan inhibitor kompetitif reseptor histamin H2.
Penghambatan reversibel reseptor H2 di sel parietal lambung
menyebabkan pengurangan sekresi, volume, dan konsentrasi
asam lambung.
 Efek samping ranitidin umumnya minor, dapat berupa sakit
kepala, ruam, malaise, dan mual. Efek samping biasanya hilang
dengan sendirinya meskipun terapi dilanjutkan. Interaksi obat
ranitidin dapat terjadi dengan sukralfat, warfarin, dan
procainamide
 Efek Samping
Efek samping minor ranitidin dilaporkan pada kurang dari 3%
penggunaan. Efek samping ini mencakup sakit kepala, ruam,
malaise, mual, konstipasi, pusing, dan nyeri perut. Efek samping
biasanya mereda dengan sendirinya meskipun terapi dilanjutkan.

Antrain  Indikasi dan dosis metamizole adalah nyeri berat seperti pada
nyeri setelah operasi dan nyeri kolik renal, yang diakibatkan oleh
batu ginjal. Indikasi lainnya adalah nyeri akibat tumor atau
kanker, nyeri kepala, nyeri akut dan kronis lainnya (jika
pengobatan lain dikontraindikasikan), serta demam yang refrakter
terhadap terapi lain. Dosis metamizole dibedakan berdasarkan
usia.
 Kontraindikasi dan peringatan metamizole adalah pada pasien
yang memiliki riwayat hipersensitivitas terhadap metamizole,
diskrasia darah, dan gangguan fungsi susmsum tulang. Jika terjadi
neutropenia, metamizole harus segera dihentikan.
 Peringatan penting lain yang perlu disampaikan adalah untuk
hati-hati menggunakan metamizole pada pasien dengan gangguan
organ dan pasien lansia.
 Farmakologi metamizole adalah inhibisi siklooksigenase dan
aktivasi sistem opioidergik dan kanabinoid, serta inhibisi
pelepasan Ca2+ intraseluler. Oleh karena itu, obat ini sering
digunakan untuk manajemen nyeri berat.
 Farmakodinamik
Keseluruhan farmakodinamik metamizole belum diketahui secara
pasti. Diduga bahwa metamizole dan metabolit utamanya, 4-
methyl-amino-antipyrine (MAA) memberi efek analgesik dengan
bekerja di sentral dan perifer. Selain itu, metamizole juga bekerja
sebagai antipiretik dan spasmolitik
 Efek samping dan interaksi obat metamizole dapat terjadi walau
relatif jarang, seperti agranulositosis dan anemia aplastik.
Interaksi metamizole dengan beberapa jenis obat, seperti
sulfonilurea, dapat meningkatkan risiko hipoglikemia
 Efek Samping
Efek samping paling umum adalah gangguan pencernaan seperti
mual, muntah, nyeri perut, dan diare. Efek samping lain yang
dapat timbul adalah nyeri kepala, pusing berputar, gangguan
ginjal, hipotensi, dan reaksi hipersensitivitas pada kulit

Resfar  Resfar adalah obat dengan kandungan acetylcysteine, yang


termasuk agen mukolitik (pengencer dahak). Namun, selain
sebagai pengencer dahak, senyawa ini juga dapat membantu
mengobati kondisi keracunan [Link]
diketahui bekerja dengan menaikkan kadar glutathione,
yakni antioksidan yang bisa menetralkan senyawa beracun.
 Dosis umum: 150 mg/kg berat badan selama 60 menit.
Dosis lanjutan: 50 mg/kg berat badan dengan kecepatan
lambat.
 Walaupun Resfar digunakan untuk menangani keracunan,
obat ini tetap dapat menimbulkan efek samping.
Efek samping Resfar yang mungkin terjadi adalah:
Mual,[Link]
Hipertensi,Takikardia,Ruam kulit
Bronkospasme (penyempitan saluran udara bronkus)
 Overdosis
Penggunaan yang berlebihan bisa memicu gejala overdosis,
seperti:Denyut jantung cepat Denyut jantung tidak
beraturanSesak napas
 Kontraindikasi
Obat ini sebaiknya tidak digunakan oleh pasien yang
memiliki riwayat alergi terhadap kandungan Resfar.

Combivent  Combivent bermanfaat untuk meredakan


dan mencegah munculnya gejala sesak napas atau
mengi akibat penyempitan saluran
pernapasan. Penyempitan saluran napas sering
disebabkan oleh asma dan PPOK.
 Combivent mengandung bahan aktif ipratropium bromide
dan salbutamol sulfat. Gabungan bahan aktif ini bekerja
dengan cara melebarkan bronkus dan melemaskan otot-otot
saluran pernapasan, sehingga aliran udara ke paru-paru
akan meningkat.
 Manfaat Meredakan keluhan dan mencegah munculnya
gejala akibat penyempitan saluran pernapasan pada
penderita PPOK dan asma
 Cara penggunaanDosis awal: 1 unit dose vial (UDV). Dosis
bisa ditingkatkan menjadi 2 UDV jika gejala belum
membaik dengan 1 [Link] perawatan: 1 UDV, 3–4 kali
sehari.
 Efek samping yang mungkin timbul akibat penggunaan
Combivent adalah:Sakit kepala,Pusing atau sakit
kepala,Mulut atau tenggorokan kering,Batuk,Mual atau
muntah,Diare,Sembelit

Budesma  Indikasi budesonide adalah terapi asma dan penyakit paru


obstruktif kronik (PPOK), untuk sediaan inhalasi. Sementara,
budesonide intranasal digunakan untuk tata laksana rhinitis alergi.
Budesonide peroral untuk induksi remisi pada Crohn’s
disease ringan-sedang, dengan keterlibatan ileum dan atau kolon
asenden, serta kolitis ulseratif
 Budesonide merupakan kortikosteroid inhalasi (inhaled
corticosteroid / ICS) yang digunakan sebagai terapi asma, untuk
mengontrol gejala (terapi pengontrol) dan mengurangi risiko
eksaserbasi berat. Budesonide digunakan dalam dosis rendah,
yang dapat ditingkatkan jika asma tidak terkontrol. Dosis tinggi
sangat jarang diperlukan, di mana dosis tinggi berisiko
menyebabkan efek samping lokal dan sistemik yang lebih tinggi.
 Kontraindikasi budesonide di antaranya reaksi hipersensitivitas
terhadap budesonide atau bahan-bahan yang terkandung dalam
respul, serta sirosis hepatis dan status asmatikus
 Farmakologi budesonide adalah agonis reseptor glukokortikoid
dan antiinflamasi, yang dapat digunakan untuk tata laksana asma
dan inflammatory bowel disease. Budesonide mampu mengurangi
vasodilatasi dan permeabilitas kapiler, serta mengurangi migrasi
leukosit ke tempat inflamasi.
 Farmakodinamik
Budesonide adalah kortikosteroid yang memiliki aktivitas
glukokortikoid poten dan mineralokortikoid lemah. Budesonide
berikatan dengan reseptor glukokortikoid dengan afinitas lebih
tinggi dibanding kortisol dan prednisolon.
 Efek samping budesonide yang memerlukan perhatian khusus
adalah supresi adrenal. Penggunaan budesonide dengan obat lain
dapat menyebabkan interaksi, seperti penurunan efek terapeutik
vaksin dan interaksi dengan obat-obat inhibitor
 Pengawasan klinis penggunaan budesonide adalah efek obat
sebagai terapi asma maupun penyakit paru obstruktif kronis
(PPOK). Jika diperlukan, dosis budesonide dapat diturunkan atau
ditingkatkan sesuai klinis pasien. Selain itu, perlu pengawasan
efek samping penggunaan budesonide jangka panjang

Anda mungkin juga menyukai