BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Laboratorium Klinik
a. Pengertian Laboratorium Klinik
Laboratorium klinik adalah laboratorium kesehatan yang
melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik untuk
mendapatkan informasi tentang kesehatan perorangan terutama
untuk menunjang upaya diagnosis penyakit, penyembuhan penyakit
dan pemulihan kesehatan (Permenkes, 2013).
b. Tahap Pemeriksaan Laboratorium Klinik
1) Tahap pra analitik
Tahap pra analitik merupakan tahap persiapan awal dan
sangat mempengaruhi kualitas sampel yang akan dihasilkan
nantinya, serta berpengaruh untuk proses kerja selanjutnya
(Siregar, 2018). Tahap pra analitik meliputi:
a) Formulir permintaan pemeriksaan
b) Persiapan pasien
c) Pengambilan dan penerimaan spesimen
d) Pengolahan spesimen
e) Persiapan sampel untuk analisa (Permenkes, 2013).
7
8
2) Tahap analitik
Tahap analitik pemeriksaan laboratorium mengacu pada
pelaksanaan pemeriksaan yang diinginkan. Tahap ini mencakup
pemeliharaan serta kalibrasi peralatan dan instrumen
laboratorium yang digunakan dalam pemeriksaan dan
implementasi kendali mutu (Liseke dan Zeibig, 2017). Tahap
analitik bertujuan untuk menjamin hasil pemeriksaan spesimen
dari pasien valid. Tahap analitik meliputi:
a) Persiapan reagen/ media
b) Pipetasi reagen dan sampel
c) Inkubasi
d) Pemeriksaan
e) Pembacaan hasil (Permenkes, 2013).
3) Tahap pasca analitik
Tahap pasca analitik pemeriksaan laboratorium terdiri dari,
pendokumentasian dan pelaporan hasil laboratorium,
penyimpanan dan/ atau pembuangan spesimen setelah
pemeriksaan, serta penyampaian hasil pemeriksaan kepada
pasien dan penyedia layanan (Liseke dan Zeibig, 2017).
2. Darah
Terminologi medis yang berhubungan dengan darah dimulai
dengan kata hemo- atau hemato-, yang berasal dari bahasa Yunani
haima, berarti darah. Darah merupakan cairan tubuh yang terbentuk
9
dari jaringan hidup, beredar ke seluruh tubuh melalui jaringan
pembuluh darah. Darah memiliki fungsi penting dalam kesehatan
manusia. Salah satunya adalah mendistribusikan nutrisi seperti
hormon, oksigen dan gula ke seluruh tubuh, serta menghilangkan zat-
zat yang tidak diperlukan oleh tubuh. Namun, setiap komponen darah
memiliki fungsi dan makna yang berbeda. Darah berfungsi sebagai
pertahanan tubuh terhadap virus dan kuman, mengangkut zat-zat yang
diciptakan oleh metabolisme, serta mengirimkan nutrisi dan oksigen ke
jaringan tubuh (Supriyono, 2022). Total volume darah dalam tubuh
manusia dewasa berkisar antara 3,6 liter (wanita) hingga 4,5 liter (pria)
(Firani, 2018)
3. Serum
a. Pengertian Serum
Serum adalah komponen cair darah yang tidak memiliki sel
darah dan fibrinogen karena protein darah telah membentuk jalinan
fibrin dan terkoagulasi dengan sel. Serum merupakan bagian cair
darah yang tidak diberi antikoagulan dan bebas dari sel apapun. Jika
dibandingkan dengan plasma kandungan protein yang terdapat
dalam serum lebih sedikit. Terkadang kandungan protein dapat
mengganggu zat tertentu dalam beberapa pemeriksaan
laboratorium (Ramadhani, dkk., 2019). Kandungan protein yang
sedikit dalam serum mengakibatkan serum digunakan oleh
sebagian besar laboratorium.
10
b. Cara Pembuatan serum
Serum diperoleh dengan cara sejumlah volume darah
dimasukkan dalam tabung. Darah didiamkan selama 20–30 menit
pada suhu kamar sebelum disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm
selama 5- 15 menit (Permenkes, 2013). Darah akan membeku
beberapa waktu kemudian dan mengalami retraksi cairan dari dalam
bekuan. Darah biasanya membeku dalam waktu 10 menit, retraksi
terjadi antara 30 sampai 120 menit dan retraksi secara sempurna
terjadi dalam waktu 120 menit. Akibat terperas dari bekuan, cairan
berwarna itu keluar dengan warna kuning pucat. Sehingga, selama
proses pembekuan darah, fibrinogen diubah menjadi fibrin. Oleh
karena itu, serum tidak lagi mengandung fibrinogen tetapi masih
mengandung komponen lain (Maharani, 2018).
c. Jenis- Jenis Serum
1) Serum normal
Serum yang tidak mengalami lipemik, ikterik, atau hemolitik
dianggap normal. Serum normal ditandai dengan rona kuning
cerah, yang menandakan bahwa ketika dilakukan pemeriksaan,
hasilnya tepat dan memenuhi standar pemeriksaan (Mauriska,
2021).
2) Serum hemolisis
Serum berwarna kemerahan yang dikenal sebagai serum
hemolisis diproduksi ketika eritrosit yang telah rusak
11
melepaskan hemoglobinnya. Hasil pemeriksaan tidak dapat
diandalkan jika serum mengalami hemolisis. Serum yang
mengalami hemolisis akan tampak merah pada serum atau
plasma secara visual.
Hemolisis disebabkan oleh kondisi medis seperti infeksi,
anemia hemolitik autoimun, obat- obatan dan genetika. Kondisi
ini tidak dapat dihindari karena kondisi patologis ini akan
menyababkan penghancuran sel darah merah yang
menghasilkan serum hemolisis (Riviana, dkk., 2021).
3) Serum ikterik
Serum yang memiliki warna coklat kekuningan dikenal
sebagai serum ikterik. Kondisi yang dikenal sebagai ikterik
serum disebabkan oleh peningkatan kadar bilirubin (Mauriska,
2021).
4) Serum lipemik
Serum yang memiliki warna putih keruh dikenal sebagai
serum lipemik. Serum lipemik berwarna putih keruh disebabkan
karena peningkatan kadar lemak dalam darah.
Kekeruhan terjadi karena akumulasi lipoprotein. Lipoprotein
merupakan molekul yang mengadung kolesterol dalam bentuk
bebas atau ster, trigliserida dan fosfolipid, yang terikat pada
protein yang disebut apoprotein. Dalam molekul lipoprotein ini
lipid dapat larut dalam darah, sehingga dapat diangkut dari
12
tempat sintesis ke tempat penggunaan dan dapat didistribusikan
ke jaringan tubuh (Mahfirohayati, 2022).
4. Asam Urat
a. Pengertian Asam Urat
Hasil akhir dari metabolisme purin, yang merupakan salah
satu bahan penyusun asam nukleat dalam tubuh, menghasilkan asam
urat. Terjadinya peningkatan kandungan purin akibat penumpukan
kristal didaerah persendian meningkatkan kadar asam urat darah
(Jaliana, dkk., 2018). Kadar asam urat dalam darah yang meningkat
menjadi faktor utama penyebab penyakit asam urat.
Produk akhir dari katabolisme (penguraian) senyawa yang
mengandung purin adalah asam urat. Salah satu golongan senyawa
kimia penyusun deoxyribonucleic acid (DNA) dan ribonucleic acid
(RNA) adalah bahan kimia purin, yaitu molekul yang terbentuk
secara alami. Purin berasal dari dua sumber utama, yaitu purin yang
diproduksi tubuh dan purin didapat melalui asupan makanan dari
tumbuhan atau hewan (Noviyanti, 2015). Adenosine diaminase
(ADA) adalah enzim yang digunakan tubuh untuk mengubah
adenosine (purin) menjadi asam urat pada primata. Selanjutnya,
enzim uricase akan mengolah kembali asam urat menjadi allantoin
yang larut dalam air. Enzim uricase sangat sedikit dalam tubuh
sehingga hasil akhir purin adalah asam urat. Asam urat pada
akhirnya akan mengendap dan mengkristal di dalam tubuh ketika
13
kadarnya lebih besar dan melampaui tingkat kejenuhannya (Jaliana,
dkk., 2018).
b. Metabolisme Asam Urat
Produk sampingan dari metabolisme purin adalah asam urat.
Adenosin monophosphate (AMP) dan guanine monophosphate
(GMP) adalah dua asam nukleat primer yang ditemukan dalam purin
dan masing- maning mengikuti proses metabolisme yang terpisah.
Meningkatnya jumlah proses dan enzim yang terlibat menyebabkan
proses metabolisme adenosin monophosphate (AMP) menjadi
proses yang lebih rumit. Enzim nukleotidase dan adenosin
deaminase pertama- tama mengubah Adenosin monophosphate
(AMP) menjadi inosin. Hypoxanthine dibuat ketika iosin
terfosforilasi. Enzim xantin oksidase mengontrol proses berikutnya,
yang melibatkan konversi hipoksantin menjadi xantin, serta xantin
menjadi asam urat. Sedangkan proses metabolisme untuk guanine
monophosphate (GMP) kurang kompleks. Enzim nukleotidase
mengubah guanine monophosphate (GMP) menjadi guanosin dan
guanin. Selanjutnya akan terjadi proses deaminasi guanin yang akan
menghasilkan xantin, yang kemudian diubah menjadi asam urat
melalui oksidasi (Panggabean, dkk., 2022).
c. Peran Asam Urat
Asam urat urat memiliki dua fungsi yang berbeda, yaitu
sebagai antioksidan (terutama dalam plasma) dan prooksidan
14
(terutama dalam sel). Asam urat dianggap sebagai antioksidan kuat
yang secara efisien menetralkan oksigen reaktif dan nitrogen reaktif.
Asam urat tidak dapat mengikat semua radikal bebas termasuk
superoksida. Dengan mencegah asam urat memasuki sel dan
perbaikan stress oksidatif, fungsinya sebagai penghambat
transporter anion organik mendukung tindakan perlindungan ini.
Namun, asam urat memiliki efek negatif, yaitu radikal bebas dan
kerusakan sel oksidatif juga dapat terjadi akibat kontak asam urat
dengan oksidan. Sebagai agen proinflamasi aktif, asam urat itu
sendiri dan/atau rantai radikal bebas terkait juga membuat oksidan
intraseluler melalui jalur nikotinamid adenin dinukleotida fosfat
(NADPH) oksidase yang dapat meningkatkan stress oksidatif.
Kemampuan antioksidan asam urat dapat diubah menjadi
prooksidan dalam beberapa keadaan, terutama ketika kadar asam
urat dalam darah tinggi (Novitasari, 2021).
d. Metode Pemeriksaan Kadar Asam Urat
1) Metode electrode- based biosensors
UASure blood uric meter dapat digunakan untuk mengukur
kadar asam urat menggunakan teknik biosensor berbasis
elektroda. Prinsip dari tes ini adalah blood uric acid strips
menggunakan katalis dan teknik biosensor yang digabungkan
dan dirancang khusus untuk pengukuran asam urat. Strip
pemeriksaan dirancang khusus sehingga ketika darah diteteskan
15
pada zona reaksi dari strip, katalisator asam urat dalam strip tes
akan menyebabkan oksidasi asam urat dalam darah tersebut
(Hidayati, 2022).
2) Metode Enzimatik
Pemeriksaan kadar asam urat dengan metode enzimatik
adalah uricase memecah asam urat menjadi alantoin dan
hidrogen peroksida (Hidayati, 2022). Berdasarkan Proline
(2022) prinsip pemeriksaan asam urat dengan metode fotometrik
enzimatik menggunakan 2, 4, 6- tribromo 3- hydroxsybenzoic
acid (TBHA), asam urat dioksidasi menjadi alantoin oleh enzim
uricase. Hidrogen peroksida yang dihasilkan bereaksi dengan 4-
aminoantipyrine dan 2, 4, 6- tribromo 3- hydroxsybenzoic acid
(TBHA) menjadi quinoneimine.
Uricase
Uric acid + H2O + O2 Allantoin + CO2 + H2O2
POD
TBHA + 4-aminoantipyrine + 2 H2O2 Quenoneimine+ 3H2O
e. Nilai Normal Asam Urat
Besaran nilai asam urat normal menurut Proline (2022)
adalah sebagai berikut:
16
Tabel 1. Besaran Nilai Asam Urat Normal
Usia Wanita Laki- Laki
Kadar Asam Urat (mg/ dL)
Dewasa 2,6-6,0 3,5- 7,2
Anak- Anak
1- 30 hari 1,0- 4,6 1,2- 3,9
31- 365 hari 1,1-5,4 1,2-5,6
1-3 tahun 1,8-5,0 2,1-5,6
4-6 tahun 2,0-5,1 1,8-5,5
7-9 tahun 1,8-5,5 1,8-5,4
10-12 tahun 2,5-5,9 2,2-5,8
13- 15 tahun 2,2-6,4 3,1-7,0
16- 18 tahun 2,4-6,6 2,1-7,6
Sumber: Proline, 2022
f. Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kadar Asam Urat dalam Tubuh
Seseorang
1) Faktor genetik (keturunan)
Salah satu faktor risiko asam urat adalah faktor genetik atau
keturunan. Gen memiliki peran dalam menentukan bagaimana
kualitas tertentu diturunkan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Penting untuk melihat enzim yang dapat mendorong
sintesis asam urat, jika pria memiliki kadar asam urat tinggi
sebelum usia 25 tahun karena faktor genetik, terutama pada pria
hemizigot, dapat memengaruhi hasil kadar asam urat. Selain itu,
anggota keluarga mungkin mewarisi penurunan kemampuan
ginjal untuk memproduksi asam urat. Metabolisme purin yang
berlebihan, salah satu produk sampingan dari metabolisme tubuh
dari makanan yang mengandung purin, dianggap bertanggung
jawab atas hubungan antara faktor keturunan dan kadar asam urat
(Anggraini, 2022).
17
2) Asupan makanan
Mengkonsumsi makanan tinggi purin dapat berpengaruh
pada peningkatan kadar asam urat dalam darah. Membatasi
konsumsi harian makanan tinggi purin, seperti daging, jeroan,
berbagai sayuran dan kacang- kacangan, sangat penting terutama
bagi yang memiliki kadar asam urat tinggi. Ini karena
metabolisme purin dalam tubuh bisa meningkat, menghasilkan
lebih banyak asam urat dan kadar asam urat bisa tinggi
(Anggraini, 2022).
3) Alkohol
Salah satu minuman yang mengandung purin adalah
alkohol. Etanol yang ditemukan dalam minuman alkohol seperti
bir, tuak, tape dan lainnya dapat meningkatkan pembentukan
asam urat, yang dapat meningkatkan jumlah nukleotida adenin.
Menurut penelitian dari Jepang, injeksi etanol meningkatkan
pembentukan nukleotida dan asam urat melalui perubahan
adenosine triphosphate (ATP), yang dapat meningkatkan
tingkat di mana adenosin trifosfat dipecah menjadi adenosin
monofosfat, yang merupakan prekursor asam urat. Terjadinya
penghambatan kompetitif laktat terhadap transportasi urat,
mengakibatkan konversi alkohol menjadi asam laktat
mengurangi ekskresi asam urat melalui tubulus proksimal
(Anggraini, 2022).
18
4) Kegemukan (obesitas)
Orang yang mengalami obesitas akan mengalami
peningkatan jumlah asam lemak bebas yang dilepaskan ke
dalam aliran darah. Pada keadaan puasa, asam lemak bebas
merupakan sumber energi utama pada tubuh. Pada keadaan
obesitas terjadi kelebihan asam lemak bebas yang masuk ke
dalam jaringan. Terjadinya resistensi insulin disebabkan oleh
kelebihan asam lemak bebas di otot. Perubahan xantin dapat
disebabkan oleh kematian sel, hipoksia dan resistensi insulin.
Tubulus proksimal reabsorpsi asam urat ginjal difasilitasi oleh
insulin. Akibatnya akan terjadi peningkatan reabsorbsi pada
kondisi hiperinsulinemia pra diabetes, yang akan menimbulkan
hiperurisemia (Anggraini, 2022).
5) Obat- obatan
Penggunaan obat diuretik secara signifikan meningkatkan
kemungkinan terkena asam urat. Obat diuretik dapat
meningkatkan jumlah reabsorpsi urat oleh ginjal, yang
menyebabkan hiperurisemia. Aspirin dosis rendah, yang
biasanya diberikan untuk tujuan kardioprotektif, juga sedikit
meningkatkan kadar asam urat pada orang tua. Pasien yang
menggunakan pirazinamid, etambutol dan niasin juga
mengalami hiperurisemia (Anggraini, 2022).
19
6) Jenis kelamin
Asam urat biasanya lebih banyak menyerang laki-laki
daripada perempuan. Meskipun kadar asam urat mungkin tidak
meningkat sebanyak laki -laki ketika wanita mengalami
menopouse, mereka tetap berisiko terkena asam urat
(Anggraini, 2022).
Pada wanita terdapat hormon estrogen didalam tubuh.
hormon estrogen dalam tubuh membantu pembuangan asam
urat melalui urine. Sementara pada didalam tubuh laki- laki
jumlah hormon estrogennya sedikit sehingga sistem ekskresi
asam urat lebih susah untuk dikeluarkan. Pengaruh adanya
hormon esterogen dalam tubuh inilah yang menyebabkan laki-
laki lebih mudah terserang asam urat daripada perempuan.
7) Usia
Usia mempengaruhi terjadinya peningkatan asam urat. Pada
orang lanjut usia (lansia) kemampuan ekskresi ginjal menurun
hal ini mengakibatnya terhambatnya asam urat untuk keluar dari
tubuh sehingga kristal asam urat menumpuk dalam tubuh.
penumpukan yang kristal asam urat dalam tubuh menyebabkan
kadar asam urat meningkat.
Usia juga mempengaruhi peningkatan kadar asam urat dalam
tubuh wanita lanjut. Wanita berusia lanjut lebih banyak terkena
asam urat karena telah menopouse, sehingga kemampuan
20
hormon estrogen dalam tubuh wanita menurun. Sebelum masa
menopouse hormon esterogen membantu pengeluran asam urat
dalam tubuh, karena masa telah mengalami menopouse dan
kemampuan hormon estrogen dalam tubuh berkurang
mengakibatkan peningkatan kadar asam urat dalam tubuh.
8) Olahraga berat
Kadar asam urat dapat meningkat karena berbagai faktor,
termasuk olahraga berat. Ini terkait dengan pemecahan
nukleotida adenin dan konversi xanthine dehidrogenase menjadi
xanthine oxidase. Olahraga berat menyebabkan konversi
xanthine menjadi asam urat. Enzim xanthine oxidase merupakan
sumber radikal bebas yang dihasilkan selama berolahraga
(Penggalih, dkk., 2021).
Olahraga berat juga dapat mempengaruhi ekskresi asam urat
melalui urin. Setelah 4 jam latihan berat, ekskresi menurun
sebesar 32%. Penyakit ini disebabkan oleh perubahan aliran
plasma ginjal dan filtrasi glomerulus. Asam laktat yang
dihasilkan selama glikolisis anaerobik mempengaruhi
modifikasi ini. Aktivitas berat dapat mengakibatkan hipohidrasi,
yang menurunkan laju filtrasi glomerulus dan plasma di ginjal,
yang mengakibatkan retensi asam urat. Peningkatan asam urat
juga dapat berkembang sebagai akibat dari peningkatan sintesis
asam urat dari otot rangka, yang berhubungan dengan penurunan
21
adenosine triphosphate (ATP) dan pembentukan adenosine
monophospat (AMP) dan Inosine monophosphat (IMP) di sel
otot (Penggalih, dkk., 2021).
22
B. Kerangka Teori
. Tahap Pemeriksaan Laboratorium
Pra Analitik Analitik Pasca Analitik
Presentase Presentase Presentase
kesalahan kesalahan kesalahan
60% - 70% 10%- 15% 15%- 20%
Pelaporan
hasil
Persiapa- Inkubasi Pipetasi Pemerik- Pembacaan
n reagen/ reagen saan hasil
media dan
media
Formulir Persiapan Pengambilan Pengolahan Persiapan
permintaan pasien dan spesimen sampel
pemeriksaan penerimaan untuk
spesimen analisa
Pemeriksaan kadar
asam urat
Gambar 1. Kerangka Teori
Keterangan
: Diteliti
: Tidak Diteliti
23
C. Hubungan antar variabel
Variabel Bebas Variabel Terikat
Darah yang ditunda Kadar asam urat
pembuatan serumnya
selama 30 menit, 90 menit
dan 120 menit sebelum
disentrifus
Variabel Pengganggu
Asupan makanan sumber
purin
Gambar 2. Hubungan antar Variabel
D. Hipotesis penelitian
Ada pengaruh lama penundaan pembuatan serum terhadap
penurunan kadar asam urat.