0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan3 halaman

Kebijakan Infrastruktur Bangunan Gedung

Diunggah oleh

emmiliasandy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan3 halaman

Kebijakan Infrastruktur Bangunan Gedung

Diunggah oleh

emmiliasandy
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Materi Seleksi: Infrastruktur Bangunan Gedung dan Kawasan Permukiman

1. Kebijakan Peraturan Perundang-Undangan Terkait Infrastruktur Bangunan


Gedung dan Kawasan Permukiman

a. Undang-Undang dan Peraturan Terkait

1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung


- Mengatur penyelenggaraan bangunan gedung yang meliputi perencanaan, pelaksanaan
konstruksi, pemanfaatan, pelestarian, dan pembongkaran.
- Prinsip utama: fungsi, keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan.
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
- Menjamin pengelolaan kawasan permukiman sesuai standar layanan minimal dan
mencegah perkembangan kawasan kumuh.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021
- Merupakan peraturan pelaksanaan dari UU No. 28 Tahun 2002, yang mencakup standar
teknis bangunan gedung dan prosedur perizinan.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2021
- Mengubah PP No. 14 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan
Permukiman, dengan penekanan pada hunian berimbang dan sanksi bagi pelanggaran.
5. Peraturan Menteri PUPR No. 10 Tahun 2023
- Menetapkan standar bangunan gedung cerdas dan hijau untuk mendorong infrastruktur
berkelanjutan.

b. Implementasi Peraturan Terbaru

- Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU): Diluncurkan untuk mengatasi permukiman


kumuh dan mewujudkan kawasan permukiman yang inklusif, aman, dan berkelanjutan.
- Penerapan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG): Menggantikan Izin Mendirikan
Bangunan (IMB) sebagai upaya penyederhanaan perizinan.

c. Kasus Aktual

- Pengembangan Pulau Rempang: Rencana pembangunan industri dan pariwisata di Pulau


Rempang menghadapi penolakan dari masyarakat lokal yang menolak relokasi.
2. Teori-Teori Bidang Keilmuan yang Terkait Pengelolaan Infrastruktur
Bangunan Gedung dan Kawasan Permukiman

a. Teori Manajemen Infrastruktur

1. Teori Sistem Infrastruktur: Infrastruktur dipandang sebagai sistem terintegrasi yang


mencakup berbagai komponen seperti transportasi, air bersih, energi, dan sanitasi.
Aplikasi Nyata: Pembangunan Trans-Java Toll Road yang menghubungkan berbagai kota
di Pulau Jawa.
2. Manajemen Sumber Daya: Efisiensi dalam penggunaan sumber daya seperti waktu, biaya,
material, dan tenaga kerja.
Aplikasi Nyata: Penerapan Building Information Modeling (BIM) dalam perencanaan dan
konstruksi gedung.

b. Teori Tata Ruang dan Perencanaan Permukiman

1. Teori Lokasi: Pemilihan lokasi optimal untuk mengurangi biaya transportasi dan
meningkatkan efisiensi kawasan permukiman.
Aplikasi Nyata: Penetapan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
2. Teori Urbanisasi dan Suburbanisasi: Pemusatan penduduk di kawasan perkotaan
(urbanisasi) dan perluasan ke daerah pinggiran kota (suburbanisasi).
Aplikasi Nyata: Pengembangan kawasan Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).

c. Teori Keberlanjutan (Sustainability)

1. Triple Bottom Line (TBL): Pendekatan yang mempertimbangkan aspek ekonomi,


lingkungan, dan sosial dalam pengelolaan infrastruktur.
Aplikasi Nyata: Penerapan konsep green building pada gedung-gedung pemerintah.
2. Green Building Concept: Prinsip efisiensi energi, konservasi air, pengelolaan limbah, dan
penggunaan material ramah lingkungan.
Aplikasi Nyata: Pembangunan Gedung Kementerian PUPR dengan sertifikasi bangunan
hijau.

d. Teori Kebijakan Publik

1. Pendekatan Top-Down vs Bottom-Up: Top-Down (Kebijakan dirancang oleh pemerintah


pusat) dan Bottom-Up (Melibatkan partisipasi masyarakat).
Aplikasi Nyata: Program KOTAKU yang melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan
pelaksanaan.
2. Stakeholder Theory: Melibatkan seluruh pemangku kepentingan (pemerintah, swasta,
masyarakat) dalam pengelolaan infrastruktur.

Anda mungkin juga menyukai