1.
Kebijakan Peraturan Perundang-Undangan Terkait Infrastruktur Bangunan Gedung dan
Kawasan Permukiman
a. Undang-Undang yang Relevan
1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
Mengatur penyelenggaraan bangunan gedung yang meliputi perencanaan, pelaksanaan
konstruksi, pemanfaatan, pelestarian, dan pembongkaran.
Prinsip utama: fungsi, keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan.
2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
Fokus pada penyediaan rumah yang layak huni bagi masyarakat.
Menjamin pengelolaan kawasan permukiman sesuai standar layanan minimal.
Menekankan pengendalian pembangunan permukiman untuk mencegah kawasan kumuh.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pelaksanaan Undang-Undang
Bangunan Gedung
Menjelaskan persyaratan administratif dan teknis bangunan gedung, termasuk perizinan.
4. Peraturan Menteri PUPR
Contoh: Permen PUPR No. 21/PRT/M/2018 tentang Standar Teknis Bangunan Gedung.
Memuat pedoman teknis untuk memastikan keselamatan konstruksi.
b. Isu Strategis
Penanganan kawasan kumuh: Program Kotaku (Kota Tanpa Kumuh).
Peningkatan kualitas permukiman berbasis masyarakat.
Integrasi konsep green building dan keberlanjutan dalam pembangunan gedung.
c. Kebijakan Pelaksanaan
Penggunaan Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG) untuk perizinan dan
pengelolaan data gedung.
Pengawasan pelaksanaan melalui Inspektorat Jenderal Kementerian PUPR.
2. Teori-Teori Bidang Keilmuan yang Terkait Pengelolaan Infrastruktur Bangunan Gedung dan
Kawasan Permukiman
a. Teori Manajemen Infrastruktur
1. Teori Sistem Infrastruktur
Infrastruktur dianggap sebagai sistem yang saling terhubung, seperti transportasi, air bersih,
energi, dan sanitasi.
Pendekatan holistik untuk memahami hubungan antar-komponen.
2. Manajemen Sumber Daya
Efisiensi penggunaan sumber daya: waktu, biaya, material, dan tenaga kerja.
Contoh: Metode Value Engineering untuk meminimalkan biaya tanpa mengurangi kualitas.
b. Teori Tata Ruang dan Perencanaan Permukiman
1. Teori Lokasi (Von Thünen, Weber, dan Christaller)
Pentingnya pemilihan lokasi yang optimal untuk mengurangi biaya transportasi dan
meningkatkan efisiensi kawasan permukiman.
2. Teori Urbanisasi dan Suburbanisasi
Pemusatan penduduk di kawasan perkotaan (urbanisasi) versus perluasan ke daerah pinggiran
kota (suburbanisasi).
c. Teori Keberlanjutan (Sustainability)
1. Triple Bottom Line (TBL)
Pendekatan yang mempertimbangkan ekonomi, lingkungan, dan sosial dalam pengelolaan
infrastruktur.
2. Green Building Concept
Prinsip efisiensi energi, konservasi air, pengelolaan limbah, dan material ramah lingkungan.
d. Teori Kebijakan Publik
1. Pendekatan Top-Down vs Bottom-Up
Top-Down: Kebijakan dirancang oleh pemerintah pusat dan diimplementasikan di daerah.
Bottom-Up: Melibatkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan.
2. Stakeholder Theory
Melibatkan seluruh pemangku kepentingan (pemerintah, swasta, masyarakat) dalam pengelolaan
infrastruktur.
e. Teknologi dalam Pengelolaan Infrastruktur
1. BIM (Building Information Modeling)
Memungkinkan perencanaan, desain, dan pengelolaan gedung secara digital.
2. GIS (Geographic Information System)
Digunakan untuk pemetaan dan analisis kawasan permukiman.