Peluang Fintech untuk UMKM Gresik
Peluang Fintech untuk UMKM Gresik
Abstract
The purpose of this study is to describe and interpret the challenges and opportunities of
financial technology (fintech) for the development of MSMEs. This study seeks to describe
the research subjects, namely SMEs. This study uses a qualitative descriptive approach
because data analysis comes from written information and considers opinions from
informants. Based on the results of interviews with MSMEs, it can be concluded that
MSMEs have a good interpretation of fintech, namely fintech as something that provides
financial services with technological assistance, and it is beneficial for the development of
MSME businesses, although not all MSME owners use this facility. This research also
shows that in adopting fintech, SMEs must consider the obstacles that can affect success in
implementing fintech. Some factors that have been identified as the causes of the inadequate
application of fintech in the Gresik region are time, information and skills, security, legal
issues, market needs, number of transactions and doubts about the technology to be used.
Gresik was chosen as a research location because MSMEs in Gresik have a lot of potential
to develop, namely around 200,000 MSMEs located in the Gresik region. In addition, there
are also opportunities that can be used by MSMEs through fintech to expand its business,
namely the ease and interest offered by fintech, as well as opportunities to minimize fraud.
The SMEs also realize that fintech is a potential technology for the future of MSMEs.
Therefore, there needs to be a support mechanism from various parties, such as the Office of
Cooperatives and SMEs, and educational institutions in order to increase awareness,
financial literacy in maximizing the benefits of fintech.
30
Jurnal TECHNOBIZ Vol. 3, No. 1, 2020, 30-44. ISSN 2655-3457 (print)
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menginterpretasikan tantangan dan
peluang financial technology (fintech) terhadap perkembangan UMKM. Penelitian ini
berupaya untuk menggambarkan subjek penelitian yaitu pelaku UMKM. Penelitian ini
menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif karena analisis data berasal dari informasi
tertulis dan mempertimbangkan opini dari para informan. Berdasarkan hasil wawancara pada
pelaku UMKM, dapat disimpulkan bahwa pelaku UMKM memiliki interpretasi yang baik
tentang fintech, yaitu fintech sebagai sesuatu yang memberikan jasa keuangan dengan
bantuan teknologi, dan hal tersebut menguntungkan bagi perkembangan bisnis UMKM,
meskipun tidak semua pemilik UMKM menggunakan fasilitas ini. Penelitian ini juga
menunjukkan bahwa dalam mengadopsi fintech, UMKM harus mempertimbangkan
hambatan-hambatan yang dapat memengaruhi kesuksesan dalam menerapkan fintech.
Adapun beberapa faktor yang berhasil diidentifikasi sebagai penyebab kurang optimalnya
penerapan fintech di wilayah Gresik, yaitu faktor waktu, informasi dan keterampilan,
keamanan, masalah hukum, kebutuhan pasar, jumlah transaksi dan keraguan pada teknologi
yang akan digunakan. Gresik dipilih sebagai lokasi penelitian karena UMKM di Gresik
memiliki banyak potensi untuk berkembang, yaitu sekitar 200.000 UMKM berada di wilayah
Gresik. Disamping itu, terdapat pula peluang yang dapat digunakan oleh UMKM melalui
fintech untuk memperluas bisnisnya, yaitu kemudahan dan ketertarikan yang ditawarkan oleh
fintech, serta peluang untuk meminimalkan kecurangan. Para pelaku UMKM juga menyadari
bahwa fintech merupakan teknologi yang berpotensi bagi masa depan UMKM. Oleh karena
itu, perlu adanya mekanisme dukungan dari berbagai pihak, seperti Dinas Koperasi dan
UMKM, dan institusi pendidikan agar dapat meningkatkan kesadaran, literasi keuangan
dalam memaksimalkan manfaat fintech.
31
Jurnal TECHNOBIZ Vol. 3, No. 1, 2020, 30-44. ISSN 2655-3457 (print)
32
Jurnal TECHNOBIZ Vol. 3, No. 1, 2020, 30-44. ISSN 2655-3457 (print)
utamanya dalam hal penciptaan nilai melalui telah tersedia, seperti kemudahan
dukungan teknologi. penggunaan fintech dalam memperoleh akses
Peran fintech yang sangat keuangan. [19] menjelaskan minimnya
mendominasi di era industri 4.0, pada optimalisasi penggunaan sistem berbasis
dasarnya dapat diselaraskan dengan teknologi informasi disebabkan oleh
keberadaan UMKM yang mampu keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh
berkontribusi bagi penguatan perekonomian UMKM. [9] berpendapat bahwa sekalipun
suatu negara. Data terbaru per 2017 UMKM memiliki kontribusi yang sangat
menunjukkan bahwa UMKM di Indonesia nyata, ternyata tidak cukup mampu untuk
terbukti mampu menopang PDB Indonesia mengakses fasilitas keuangan atau dikenal
sebesar 60% atau meningkat 9,02% dengan istilah unbankable. Fenomena seperti
dibandingkan tahun 2016, jumlah UMKM itu berpotensi untuk menimbulkan
pun kian meningkat dan bahkan memiliki pertanyaan mengenai bagaimana sebenarnya
proporsi sekitar 99,9% dari total usaha yang UMKM mengoptimalkan fungsi fintech agar
ada di Indonesia [14]. Kondisi tersebut juga UMKM menjadi sektor usaha yang dapat
dilegitimasi oleh beberapa peneliti yang memperkuat potensinya, ditengah-tengah
menyebutkan bahwa UMKM merupakan tantangan dan peluang yang sedang dihadapi.
mesin pertumbuhan ekonomi dunia, karena Sementara, informasi atau penelitian yang
perannya dalam menciptakan lapangan membahas mengenai penerapan fungsi
pekerjaan dan dapat mempertahankan fintech pada UMKM pada konteks Indonesia,
keseimbangan makroekonomi [15]–[17]. masih relatif terbatas. Oleh karena itu, perlu
Keselarasan yang terjalin antara peran fintech dilakukan penelitian kembali yang lebih
dalam bisnis dan peran UMKM dalam memahami peluang dan tantangan penerapan
perekonomian, mengisyaratkan bahwa sudah fintech pada UMKM, termasuk bagaimana
sepatutnya UMKM untuk terus didukung upaya pihak-pihak lain seperti pemerintah,
agar dapat berkembang melalui pemanfaatan regulator, sektor pendidikan untuk
kecanggihan teknologi saat ini, seperti berkontribusi mendukung penguatan UMKM
pembayaran digital yang relatif mudah melalui fintech pembayaran digital.
dijangkau oleh para pelaku UMKM. Penelitian ini berbeda dengan penelitian
Sebagaimana pendapat [18] yang mendukung sebelumnya yang membahas mengenai peran
bahwa pemanfaatan teknologi informasi dan dan kendala implementasi fintech pada
komunikasi diperlukan untuk UMKM, yaitu akan berfokus untuk
mempertahankan keberadaan UMKM menginvestigasi peluang dan tantangan yang
ditengah lingkungan bisnis yang sangat dihadapi oleh beberapa UMKM baik yang
kompetitif dan fluktuatif. sudah maupun yang belum menerapkan
Berbagai manfaat fintech tidak fintech di wilayah Gresik. Gresik dipilih
terlepas dari berbagai macam hambatan dan sebagai lokasi penelitian karena
tantangan. Banyak bukti di lapangan, yang pertimbangan lingkungan industri yang
memperlihatkan bahwa ternyata UMKM mendukung UMKM untuk terus
belum dapat memanfaatkan fasilitas yang mengembangkan usahanya, serta adanya
33
Jurnal TECHNOBIZ Vol. 3, No. 1, 2020, 30-44. ISSN 2655-3457 (print)
bisnis dari konvensional menjadi moderat, (4) Payment, Settlement and Clearing
yang awalnya dalam membayar harus Payment, settlement dan clearing yang
bertatap-muka dan membawa sejumlah uang merupakan sektor fintech dengan layanan
kas, kini dapat melakukan transaksi jarak sistem pembayaran yang diselenggarakan
jauh dengan melakukan pembayaran yang oleh industri perbankan atau lembaga Bank
dapat dilakukan dalam hitungan detik saja Indonesia [23].
[21]. Fintech berasal dari istilah financial Fintech dengan layanan keuangan
technology atau teknologi finansial. Menurut seperti crowd funding, mobile payments, dan
The National Digital Research Centre jasa transfer uang menyebabkan revolusi
(NDRC) Dublin, Irlandia, fintech adalah dalam bisnis startup, dan atau UMKM.
sebuah inovasi dalam layanan keuangan yang Dengan menggunakan financial technology
merupakan suatu inovasi pada sektor dalam bentuk, crowd funding, pelaku bisnis
finansial yang mendapat sentuhan teknologi dan UMKM bisa memperoleh dana dari
modern. Transaksi keuangan melalui fintech seluruh dunia dengan mudah. Fintech juga
ini meliputi pembayaran, investasi, memungkinkan kegiatan transfer uang secara
peminjaman uang, transfer, rencana global atau internasional. Jasa pembayaran
keuangan dan pembanding produk keuangan. seperti PayPal secara otomatis bisa
Industri financial technology mengubah kurs mata uang, sehingga yang
(fintech) merupakan salah satu metode berada di Amerika bisa membeli barang dari
layanan jasa keuangan yang sedang naik mana saja [24]. Secara global, industri
daun. Salah satu sektor industri fintech yang Fintech terus berkembang dengan pesat.
paling berkembang di Indonesia pada saat ini Terbukti dari bermunculannya perusahaan
adalah sektor pembayaran digital. Pemerintah startup di bidang ini serta besarnya investasi
dan masyarakat berharap pembayaran digital global di dalamnya.
ini bisa mendorong jumlah masyarakat yang
memiliki akses kepada layanan keuangan. Metodologi Penelitian
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Pendekatan penelitian yang dipilih
sampai dengan 7 Agustus 2019, total jumlah adalah penelitian kualitatif yang menekankan
penyelenggara fintech terdaftar dan berizin pada model induksi, yaitu ketika peneliti
adalah sebanyak 127 perusahaan [22]. harus memfokuskan perhatiannya pada data
Berikut adalah klasifikasi fintech yang ada di lapangan daripada teori yang
menurut Kementerian Keuangan: (1) menyertai suatu penelitian, sehingga akan
Crowdfunding dan peer to peer lending (2) muncul suatu teori baru seiring dengan
Market Aggregator, yaitu mengumpulkan fenomena yang terjadi selama penelitian
dan mengelola data yang bisa dimanfaatkan berlangsung. Desain penelitian kualitatif pada
konsumen untuk membantu pengambilan penelitian ini menggunakan format deskriptif
keputusan (3) Risk and Invesment atau kualitatif, yang secara umum dilakukan untuk
manajemen dan penegelolaan resiko investasi meneliti masalah-masalah yang
dalam financial technology yang digunakan membutuhkan studi kasus agar diperoleh
sebagai perencanaan dalam bentuk digital. pemahaman yang mendalam mengenai suatu
35
Jurnal TECHNOBIZ Vol. 3, No. 1, 2020, 30-44. ISSN 2655-3457 (print)
fenomena secara kompleks [25]. Objek dipenuhi adalah keabsahan data melalui
penelitian ini lebih ditekankan pada UMKM proses triangulasi. Setelah memperoleh dan
yang berada di wilayah Gresik, dengan alasan menguji keabsahan data, maka data akan
bahwa Gresik merupakan salah satu kota dianalisis berdasarkan analisis data
industri yang dapat memicu UMKM untuk deskriptif-kualitatif, spesifiknya
terus mengembangkan potensinya. menggunakan metode analisis isi berdasarkan
Pemillihan UMKM menggunakan tema-tema yang telah ditentukan oleh
pendekatan kuota, dimana peneliti peneliti.
menentukan informan berdasarkan beberapa
kriteria yaitu memiliki pengalaman dan 2. Hasil dan Pembahasan
pemahaman tentang fintech dengan tujuan Profil Responden Penelitian
agar diperoleh informasi yang lebih lengkap Pada penelitian ini, responden yang
tentang peluang dan tantangan implementasi dipilih adalah para UMKM yang telah
fintech dari dua sudut pandang (sudah dan menerapkan fintech maupun yang belum
belum menerapkan fintech). Sedangkan para menerapkan fintech, tujuannya adalah untuk
informan berasal dari para pelaku UMKM memperoleh pemahaman yang lebih
diberbagai bidang usaha. Secara khusus, komprehensif mengenai peluang dan
informan yang dipilih meliputi UMKM yang tantangan dalam penerapan fintech,
telah dan belum menerapkan fintech sebagaimana yang telah diungkapkan pada
pembayaran digital dalam aktivitas bisnisnya, latar belakang penelitian. Adapun beberapa
yang dapat diketahui berdasarkan informasi UMKM yang dijadikan sebagai responden
dari para narasumber. Data akan penelitian yaitu:
dikumpulkan melalui metode wawancara 1. Ad, pemilik UMKM Bd, seoramg
mendalam. Metode wawancara mendalam karyawan swasta berusia 28 tahun
dipergunakan untuk memperoleh informasi yang memiliki latar belakang
yang lebih lengkap dari sudut pandang pendidikan S1 Desain Produk.
informan secara langsung, dan para informan UMKM Bd bergerak pada bidang
dapat mendiskusikan pendapatnya secara clothing line. Produk yang dihasilkan
bebas. Pada konteks penelitian ini, berupa kaos, ataupun jasa desain.
wawancara akan dilakukan terhadap Kaos yang diproduksi merupakan
beberapa UMKM yang telah dipilih sesuai kombinasi antara inovasi desain
dengan tujuan penelitian, yaitu UMKM di bertemakan budaya nusantara dan
bidang kuliner, bidang tekstil (clothing line, tema-tema kontemporer. Usaha ini
songkok, dll), bidang retail, dengan didirikan sejak 2016, dan kini telah
pertimbangan bahwa ketiga bidang tersebut berkembang ke berbagai wilayah.
adalah yang menempati 3 besar jenis usaha Usaha Bd dijalankan dengan menjual
yang banyak digeluti oleh UMKM di secara online ataupun offline, yaitu
Kabupaten Gresik, sehingga dianggap cukup dengan menciptakan desain tertentu,
mewakili. Selain penentuan metode lalu diaplikasikan pada suatu
pengumpulan data, aspek lain yang perlu prototype kaos, dan dipasarkan
36
Jurnal TECHNOBIZ Vol. 3, No. 1, 2020, 30-44. ISSN 2655-3457 (print)
37
Jurnal TECHNOBIZ Vol. 3, No. 1, 2020, 30-44. ISSN 2655-3457 (print)
“Fintech adalah suatu alat pembayaran atau bisnis memandang bahwa fintech adalah
instrumen keuangan yang menggunakan suatu alternatif pembayaran yang dapat
bantuan teknologi. Bisa juga diartikan mempermudah transaksi antara penjual dan
sebagai terobosan dibidang keuangan, pembeli. Para penjual dapat memberikan
dimana sudah ada campuran teknologi pilihan pembayaran yang lebih banyak sesuai
didalamnya” (Af) dengan preferensi pelanggan. Para pembeli
Pernyataan tersebut menunjukkan pun juga lebih leluasa untuk memilih metode
bahwa pada dasarnya tidak semua pelaku pembayaran apabila akan bertransaksi,
usaha memahami sepenuhnya tentang fintech. ditambah lagi ketika calon pembeli diberikan
Mereka cenderung memahami fintech secara fasilitas-fasilitas pelengkap seperti tidak
umum, sebagaimana yang telah adanya biaya transaksi antar bank, cashback,
dipersepsikan oleh masyarakat yaitu suatu diskon ketika menggunakan pembayaran
alat yang berhubungan dengan transaksi digital.
keuangan digital. Padahal apabila ditelusuri Adapun fakta lain yang perlu untuk
lebih jauh, fintech memiliki makna yang dipertimbangkan sebagai peran fintech adalah
cukup luas, tidak hanya sebagai suatu jenis usaha. Di wilayah kota Gresik, sebagian
teknologi yang berkaitan dengan pembayaran besar pihak yang telah menggunakan fintech
digital, namun fintech juga berhubungan adalah pelaku bisnis yang bergerak dalam
dengan pembiayaan, seperti konsep peer to bidang kuliner dan atau eceran. Sementara,
peer lending. Persepsi tersebut muncul untuk bisnis-bisnis selain kuliner hanya
karena saat ini pemanfaatan fintech lebih sebagian kecil yang sudah mulai
banyak digunakan untuk pembayaran digital. menggunakan fintech. Para pelaku bisnis,
Bahkan pembayaran digital menjadi suatu memandang bahwa usaha dibidang kuliner
fenomena yang sedang ramai dimanfaatkan merupakan usaha dengan perputaran yang
oleh masyarakat. Walaupun informasi yang cepat dan mudah, sehingga pemilik usaha
diterima tentang fintech masih bersifat tidak enggan untuk menggunakan fintech.
umum, tetapi setidaknya beberapa kalangan Kondisi ini selaras dengan penelitian [26]
sudah mulai memahami apa yang dimaksud yang menyebutkan bahwa mayoritas
dengan fintech, dan hal tersebut dapat masyrakat di NTB menggunakan
menjadi awal yang baik untuk pembayaran digital seperti OVO, GoPay
mengoptimalkan peran fintech terutama untuk bisnis kuliner, karena penawaran
untuk pelaku bisnis. menarik seperti diskon, cash back. Hal
Eratnya kaitan antara fintech dan tersebut juga dikonfirmasi oleh Af sebagai
pembayaran digital dapat pula dijadikan berikut:
sebagai suatu konsensus mengenai fintech, “Kalau menurut saya, fintech itu memang
dimana masing-masing UMKM sepakat lebih sering digunakan oleh pengusaha
bahwa financial technology memiliki peran dibidang kuliner, karena perputaran
yang sangat bermanfaat bagi suatu bisnis, bisnisnya kan cepat. Setiap hari pasti
walaupun tidak semua UMKM menggunakan lakunya, jadi pemilik usaha merasa lebih
fintech dalam aktivitas bisnisnya. Para pelaku membutuhkan fintech seperti ovo, gopay.
38
Jurnal TECHNOBIZ Vol. 3, No. 1, 2020, 30-44. ISSN 2655-3457 (print)
Berbeda dengan jenis bisnis lainnya, yang ini dapat disebabkan karena belum adanya
mungkin tidak setiap hari bisa laku, sehingga urgensi untuk menggunakan fintech oleh para
kebutuhan untuk menggunakan fintech pun UMKM, sebagaimana informasi yang
juga belum terlalu mendesak” (Af) diberikan oleh Ad, Af
Pendapat tersebut dapat “Saat ini kami belum sepenuhnya
diinterpretasikan bahwa besarnya manfaat menggunakan fintech pembayaran digital
fintech tidak selalu dapat dioptimalkan oleh seperti ovo, gopay untuk bisnis kami.
setiap pelaku usaha, walaupun mayoritas Pembayaran yang kami gunakan masih
bersepakat bahwa fintech merupakan berupa pembayaran tunai, transfer antar
teknologi yang sangat berguna dan bank, karena karakteristik pelanggan kami
menguntungkan. Kurangnya optimalisasi bukanlah generasi yang sangat aware
tersebut dapat disebabkan oleh situasi dan dengan fintech, serta belum ada permintaan
kondisi yang sedang dihadapi oleh pelaku dari pelanggan” (Ad)
bisnis, serta kebutuhan dan/atau tuntutan dari “Saya belum menggunakan ovo
para pelanggannya. Walaupun demikian, ataupun gopay, karena belum merasa
fintech, khususnya pada aspek pembayaran membutuhkannya, dan tipe pelanggan kami
digital, layak untuk dipertimbangkan sebagai bukanlah pelanggan yang tech. Disamping
alternatif metode pembayaran bagi para itu, harga jual produk kami juga termasuk
UMKM. Pertimbangan ini dimaksudkan dalam nominal yang cukup besar, jadi saya
sebagai salah satu upaya ataupun inovasi rasa akan kurang efektif kalau
dalam memenangkan dan mempertahankan pembayarannya dengan ovo atau gopay”
bisnis, sehingga para UMKM akan dapat (Af)
terus beradaptasi menghadapi persaingan, Keterangan dari kedua narasumber
terlebih di era revolusi industri 4.0 menunjukkan bahwa saat ini implementasi
fintech belum sepenuhnya dapat berjalan
Tantangan dan Peluang Penerapan dengan baik, karena adanya beberapa
Fintech Pada UMKM tantangan yang masih harus dihadapi para
Diantara empat UMKM yang pelaku bisnis, salah satunya dari sudut
diwawancara, terdapat dua UMKM yang pandang pelanggan. Tidak seluruh pelanggan
telah menerapkan fintech dalam bentuk memandang bahwa pembayaran digital
pembayaran digital seperti OVO, Gopay merupakan teknologi yang perlu
yaitu UMKM “S” dibidang kuliner, dan dimanfaatkan, karena tidaklah mudah bagi
UMKM “M” yang bergerak dibidang masyarakat untuk beradaptasi dan beralih
fashion, sementara dua UMKM lainnya yaitu dari satu metode ke metode lain walaupun
UMKM “B” dan UMKM “N” belum teknologi yang baru memiliki kelebihan
sepenuhnya menggunakan fintech, khususnya tertentu yang dapat mempermudah pelanggan
pada pembayaran digital. Bagi para pelaku untuk bertransaksi. Rendahnya minat ataupun
UMKM, fintech memiliki manfaat yang belum adanya kebutuhan mendesak dari para
sangat banyak, namun pemanfaatannya tidak pelanggan, menjadikan pelaku bisnis juga
selalu bisa diterapkan pada setiap bisnis. Hal enggan untuk menggunakan fintech.
39
Jurnal TECHNOBIZ Vol. 3, No. 1, 2020, 30-44. ISSN 2655-3457 (print)
Disamping itu, nominal transaksi dan faktor kualitasnya, agar kepercayaan para pengguna
privasi juga menjadi pertimbangan para tetap terjaga, terlebih jika berhubungan
pelaku bisnis untuk belum mengoptimalkan dengan uang, kepercayaan adalah modal
peran fintech. Bagi “Af” yang menjual utama yang harus tetap dipertahankan.
produk dengan harga yang cukup tinggi, Tantangan penggunaan fintech juga
masih belum yakin jika menggunakan bisa berasal dari faktor internal, seperti
fintech, apalagi pembayaran digital juga pelaku UMKM “Dn” yang menyebutkan
memiliki batasan nominal transaksi, dan bahwa pada dasarnya dia sangat ingin
faktor ini pun dapat dikaitkan dengan faktor menggunakan fintech, tetapi kurang
privasi, yaitu terkait dengan keamanan memahami bagaimana penggunaannya.
fintech, seperti keharusan mencantumkan “Sebenarnya saya ingin
nomor telepon agar dapat bertransaksi menggunakan seperti ovo, gopay, tapi kok ya
dengan pihak lain seperti pada aplikasi OVO. masih belum bisa sampai sekarang. Mungkin
Selain faktor dari pelanggan, ada perlu ada bantuan informasi atau sosialisasi
pula tantangan lain bagi UMKM yang sudah atau bahkan pendampingan untuk pemilik
menggunakan fintech, salah satunya adalah UMKM seperti saya, maksudnya pelatihan
“Na” pemilik dari bisnis kuliner “Sw”. “Na” yang tidak sekedar sosialisasi bersama-sama
menuturkan bahwa meskipun telah UMKM lainnya, tapi yang benar-benar
menerapkan OVO dan Gopay, tetapi pernah berupa pendampingan gitu lo sampai bisa”
ada sedikit kendala dari pihak penyedia Penuturan dari “Dn” menunjukkan
pembayaran digital, yaitu adanya kesalahan bahwa selain karena faktor eksternal, ternyata
rekapitulasi beban iklan yang ditagihkan faktor internal juga turut menyumbang
kepada “Na”. kurang optimalnya pemanfaatan fintech, yaitu
“Saya sudah menggunakan OVO kurangnya pengetahuan mengenai cara
dan Gopay, tetapi dulu itu ada masalah, mengimplementasikan fintech pada
kami harus membayar tagihan hingga Rp 1 bisnisnya, terutama bagi pemilik UMKM
Milyar, untuk tambahan biaya iklan. Tapi yang berusia lanjut, dan tidak mudah
walaupun begitu, saya tetap pakai, supaya beradaptasi dengan perubahan teknologi.
usaha kami tetap muncul di atas Namun, terlepas dari berbagai tantangan
(diprioritaskan), di aplikasi gojek atau grab” yang dihadapi oleh pelaku UMKM, baik
(Na) karena faktor internal ataupun eksternal, para
Kendala yang dirasakan oleh “N” pelaku UMKM tersebut juga berpendapat
pada saat menggunakan fintech, dapat bahwa peluang-peluang menarik yang
dijadikan sebagai suatu informasi yang ditawarkan oleh fintech harus tetap
penting bahwa kemudahan yang ditawarkan dimanfaatkan dengan optimal, untuk
oleh aplikasi fintech, tidak terlepas dari menunjang perkembangan bisnis.
kelemahan-kelemahan tertentu yang harus “Tapi tidak menutup kemungkinan
tetap diwaspadai. Informasi ini juga dapat jika nantinya kami akan menggunakan
dijadikan sebagai bahan evaluasi bahwa fintech seperti OVO, Gopay, karena tidak
penyedia jasa fintech perlu menjaga harus membayar biaya transfer, dan itu
40
Jurnal TECHNOBIZ Vol. 3, No. 1, 2020, 30-44. ISSN 2655-3457 (print)
menurut kami sangat berpengaruh untuk Manfaat tersebut tentunya juga akan sangat
usaha kami” (Ad) berdampak terutama bagi pelaku UMKM
“Walaupun saya tidak seperti “Dn” yang belum pernah
menggunakan OVO dan Gopay, tetapi saya memanfaatkan teknologi fintech, yaitu dapat
malah berharap bahwa suatu saat nanti lebih memperkenalkan usahanya kepada
semua transaksi bisa cashless, dan saya khalayak ramai, sehingga usaha yang pada
merasa beruntung jika kondisinya demikian, awalnya hanya dikenal oleh kalangan
karena bisa menimalkan kecurangan, seperti tertentu, akan dapat dijangkau oleh berbagai
kecurangan yang berpotensi dilakukan oleh macam pelanggan.
karyawan” (Af) Optimalisasi peran fintech juga
“Selama ini saya sudah pakai ovo perlu dipertahankan bagi UMKM dengan tipe
gopay, banyak para pelanggan yang bisnis yang perputaran modalnya cukup
menanyakan, karena termasuk mudah, cepat, seperti bisnis kuliner, fashion, dimana
tinggal memasukkan nomor handphone, nominal transaksinya relatif kecil. Kondisi
tanpa harus dikenakan biaya administrasi, tersebut adalah kondisi yang sangat ideal
dan ternyata cukup berdampak untuk untuk memaksimalkan peran fintech, karena
penjualan, tapi sejauh ini cuma saya pakai risiko yang ditanggung tidak terlalu besar,
buat transaksi yang nominalnya tidak besar, dan ada kecenderungan bahwa masyarakat
jadi tidak terlalu berisiko” (My) tidak keberatan membayar melalui aplikasi
Penjelasan dari beberapa pembayaran digital apabila masih berada
narasumber, menunjukkan bahwa terdapat pada nominal yang kecil. Walaupun para
peluang yang akan membawa dampak positif, UMKM dapat merasakan manfaatnya secara
seperti memungkinkan UMKM untuk langsung, tetapi pelaku UMKM tetap harus
berinovasi dengan menawarkan berbagai memperoleh dukungan dari para instansi
produk beserta metode pembayaran, berwenang, agar pemanfaatan peluang yang
meningkatkan penjualan, skala bisnis yang ada dapat dioptimalkan dengan baik.
semakin berkembang, mempertahankan Dukungan dapat dilakukan melalui
pangsa pasar sebagaimana yang dialami oleh pendampingan terhadap UMKM, dari awal
“N”. Para narasumber pada dasarnya sudah proses penggunaan fintech hingga UMKM
mulai menyadari bahwa kemampuan untuk dapat menerapkan pada usahanya secara
beradaptasi dengan perubahan teknologi berkelanjutan, serta memfasilitasi dalam hal
merupakan modal yang sangat penting agar peningkatan literasi keuangan, agar UMKM
dapat terus bersaing. Melalui penggunaan dapat lebih memahami perubahan yang
fintech, bisnis yang awalnya hanya terjadi dalam aspek keuangan yang dapat
mengandalkan transfer antar bank, dapat berdampak langsung pada keberlanjutan
menjadi lebih fleksibel dan skala bisnis dapat usahanya.
diperluas, tidak hanya dipasarkan kepada
pelanggan tetap tapi pelanggan baru yang
mudah tertarik dengan fitur-fitur yang
ditawarkan oleh penyedia jasa fintech.
41
Jurnal TECHNOBIZ Vol. 3, No. 1, 2020, 30-44. ISSN 2655-3457 (print)
42
Jurnal TECHNOBIZ Vol. 3, No. 1, 2020, 30-44. ISSN 2655-3457 (print)
[1] P. P. Wiwoho, “Innovation and Fintech [9] Y. Manan, “Sistem Integrasi Proteksi
Development in Retail Payment & Manajemen Resiko Platform Fintech
System in Indonesia,” Jakarta, 2017. peer to peer (P2P) Lending dan
[2] S. Fitra, “Perbankan dan Fintech Payment Gateway untuk
Pembayaran, Bukan Lawan tapi Meningkatkan Akslerasi Pertumbuhan
Kawan,” 2019. [Online]. Available: UMKM 3.0,” Ihtifaz J. Islam. Econ.
[Link] Finance Bank., vol. 2, no. 1, p. 73, Jun.
/perbankan-dan-fintech-pembayaran- 2019, doi: 10.12928/ijiefb.v2i1.847.
bukan-lawan-tapi-kawan. [Accessed: [10] W. A. Kaal, “Dynamic Regulation for
23-Oct-2019]. Innovation,” SSRN Electron. J., 2016,
[3] Ernst and Young, “ASEAN Census doi: 10.2139/ssrn.2831040.
Fintech 2018,” 2018. [Online]. [11] I. Anagnostopoulos, “Fintech and
Available: regtech: Impact on regulators and
[Link] banks,” J. Econ. Bus., vol. 100, pp. 7–
Assets/EY-asean-fintech-census- 25, Nov. 2018, doi:
2018/$FILE/EY-asean-fintech-census- 10.1016/[Link].2018.07.003.
[Link]. [Accessed: 23-Oct-2019]. [12] A. Adiseshann, “Digital Payments (e-
[4] M. Shahrokhi, “E‐finance: status, Payments) are Helping Transform the
innovations, resources and future SME Industry,” 2018. [Online].
challenges,” Manag. Finance, vol. 34, Available: [Link]
no. 6, pp. 365–398, May 2008, doi: [Link]/viewpoint/cx
10.1108/03074350810872787. oinsights/digital-payments-epayments-
[5] APJII, “Hasil Survei Penetrasi dan are-helping-transform-the-sme-
Perilaku Pengguna Internet Indonesia [Link]. [Accessed:
2018,” 2018. [Online]. Available: 23-Oct-2019].
[Link] [13] Deloitte, “Digital Payments New
[Accessed: 24-Oct-2019]. opportunities to optimise The Paytech
[6] N. Pranata, “The Role of Digital Revolution Series,” 2018. [Online].
Payments Fintech in Accelerating the Available:
Development of MSMEs in [Link]
Indonesia,” 2019. m/Deloitte/au/Documents/financial-
[7] E. N. Sugiarti, N. Diana, and M. C. services/deloitte-au-fs-sme-digital-
Mawardi, “PERAN FINTECH [Link]. [Accessed: 23-
DALAM MENINGKATKAN Oct-2019].
LITERASI KEUANGAN PADA [14] Kementerian Koperasi dan UKM,
USAHA MIKRO KECIL “Perkembangan Data Usaha Mikro,
MENENGAH DI MALANG,” vol. 08, Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha
no. 04, p. 15, 2019. Besar (UB) Tahun 2016-2017,”
[8] I. Muzdalifa, I. A. Rahma, and B. G. Jakarta, 2018.
Novalia, “Peran Fintech Dalam [15] D. Jutla, P. Bodorik, and J. Dhaliwal,
Meningkatkan Keuangan Inklusif Pada “Supporting the e‐business readiness of
UMKM Di Indonesia (Pendekatan small and medium‐sized enterprises:
Keuangan Syariah),” J. Masharif Al- approaches and metrics,” Internet Res.,
Syariah J. Ekon. Dan Perbank. vol. 12, no. 2, pp. 139–164, May 2002,
Syariah, vol. 3, no. 1, Jun. 2018, doi: doi: 10.1108/10662240210422512.
10.30651/jms.v3i1.1618.
43
Jurnal TECHNOBIZ Vol. 3, No. 1, 2020, 30-44. ISSN 2655-3457 (print)
[16] K. Jagoda, “The Use of Electronic [23] CNBC Indonesia. “Edukasi Fintech
Commerce by SMEs,” Entrepreneurial [online]. Ini Dia Empat Jenis Fintech di
Practice Review, vol. 1, no. 3, pp. 36– Indonesia”. Available at:
47, 2010. [Link]
[17] M. Zerenler and E. Şahin, “The Impact [Accesed 24 Mar 2020]
on Electronic Commerce Activities of [24] Rizal, Muhammad, Erna Maulina,
SMEs: A Study of the Turkish Nenden Kostini. “Fintech As One Of
Automotive Supplier Industry,” Acad. The Financing Solutions For SMEs”.
J. Interdiscip. Stud., Oct. 2013, doi: AdBispreneur: Jurnal Pemikiran dan
10.5901/ajis.2013.v2n9p69. Penelitian Administrasi Bisnis dan
[18] V. Chimaobi, “Boosting Small and Kewirausahaan 89 Vol.3, No. 2,
Medium Enterprises Performance in Agustus 2018, DOI :
Nigeria through Mobile Commerce,” [Link]
Eur. J. Bus. Manag., p. 8, 2014. 3i2.17836, hal. 89-100
[19] A. Scupola, “SMEs’ e‐commerce [25] Bungin, Burhan. “Metodologi Penelitian
adoption: perspectives from Denmark Kualitatif.”. Jakarta: PT Raja Grafindo
and Australia,” J. Enterp. Inf. Manag., Persada. 2017
vol. 22, no. 1/2, pp. 152–166, Feb. [26] Pranata, Nika. 2019. Fintech For Asian
2009, doi: SMEs: Asian Development Bank
10.1108/17410390910932803. Institute. Indonesia Institute of Science.
[20] Republik Indonesia. 2018. Undang-
undang Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah. Jakarta.
[21] Bank Indonesia. “Laporan Publikasi
[online]”. Avaible at:
[Link] [Accesed 30 Mar
2018]
[22] OJK. “Berita dan Publikasi OJK
[online]. Penyelenggara Fintech
Terdaftar dan Berizin di OJK per 7
Agustus 2019”. Avaible at:
[Link] [Accesed 24 Mar
2020]
44