0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan6 halaman

Dampak UU Minerba terhadap Masyarakat

Diunggah oleh

sofia megaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan6 halaman

Dampak UU Minerba terhadap Masyarakat

Diunggah oleh

sofia megaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

“UU MINERBA MEMBERIKAN PELUANG DALAM DISKRIMINASI MASYARAKAT

DALAM PENJARAHAN LAHAN”


DEBAT TIM PRO
UU minerba lama ada pada UU No.4 thn 2009 tentng pertambangan mineral
batu bara, sedangkan UU minerba yang baru adalah UU No. 3 thn 2020 dibuat
untuk memberikan kepastian hukum dalam pengelolaan dan pengusahaan
pertambangan mineral dan batubara. Salah satu perubahan yang ada dalam UU
minerba yang baru adalah kewenangan izin yang diambil alaih dari pemerintah
daerah.
Dewan juri yang terhormat, sedangkan diskriminasi masyarakat adalah sikap
membedakan secara sengaja terhadapa golongan golongan yang berhubungan
dengan kepentingan tertentu. Sehingga revisi ini dianggap menguntungkan karna
ketentuannya lebih mudah namun, masyarakat berpendapat bahwa revisi ini
mengabaikan hak hak masyarakat.
Dewan juri yang terhormat, “Penjarahan lahan” mengacu pada pengembilalihan
lahan secara besar besaran oleh perusahaan besar, baik domestik maupun
internasional / individu dengan modal besar.
Dewan juri yang terhormat, seperti yang sudah kita ketahui bersama Mosi ini
muncul karena konflik masyakat lokal dan perusahaan pertambngan yang
beroperasi di wilayah mereka serta disahkannya UU minerba baru yang
kewenangan perizinan diambil alih dari pemerintah daerah.
Sebagai pembicara pertama saya meyakini bahwa disahkannya UU minerba
terbaru ada dampak positifnya terutama pada sektor perekonomian dan
pembangunan yang berkelanjutan.
Dewan juri yang terhormat, kami setuju dengan mosi tersebut karena :
1. Meminimalisir adanya korupsi di Pemerintahan Daerah
Contoh kasus :korupsi tata niaga timah sebesar 271 T.
tersebut kasus tersebut mengenai kerja sama pengelolaan lahan PT
Timah Tbk dengan pihak swasta yang dilakukan secara ilegal atau
melawan hukum.
2. Meminimalisir adanya pertambangan ilegal
Contoh kasus : Lemah hukum untuk pertambangan ilegal karena
pertambanagan ilegal menghilangkan potensi negara untuk memperoleh
pendapatan sedangkan pertambangan berada pada kawasan konservasi
taman buru semidang bukit kabu, Bengkulu.
3. Meminimalisir pengusaha asing masuk dalam negeri
Contoh kasus : kasus freeport indonesia, freeport McMoran, perusahaan
asing yang mengelola tambang Grasberg, pernah mengalami perdebatan
terkait divesrasi saham. Pemerintah indonesia mengharuskan freeport
untuk menjual sebagian besar sahamnya kepada perusahaan lokal
sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kepemilikan dalam negeri
dan memastikan pengelola yang lebih baik.
 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan
Mineral dan Batubara:
- Pasal 1 Ayat 2 : Menyatakan bahwa pengelolaan sumber daya mineral
dan batubara harus dilakukan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan
rakyat.
- Pasal 37 Ayat 1 : Menyatakan bahwa Izin Usaha Pertambangan (IUP)
dapat diberikan kepada badan usaha yang berbadan hukum Indonesia.

 2 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman


Modal:
- Pasal 4 Ayat 1 : Menyatakan bahwa penanaman modal harus
memberikan manfaat bagi perekonomian nasional dan masyarakat.
- Pasal 10 : Mengatur tentang batasan dan syarat investasi asing,
termasuk kewajiban untuk melakukan kemitraan dengan perusahaan
lokal

Dewan juri yang terhormat tidak bisa dipungkiri lagi kalo ada dampak
positif jelas selalu ada dmapk negatif namun kami memberikan solusi
tepat yakni :
 Penekanan pada praktik pertambangn yang ramah lingkungan
 Perizinan yang lebih terintegrasi
 Mekanisme bagi hasil yang lebih adil untuk daerah
 Pengembangan SDM untuk meningkatkan keterampilan dan
pengetahuan tenaga kerja lokal.
Maka dari itu dewan juri yang terhormat berdasarkan point point argumentasi
yang kami sampaikan kami yakin bahwa disahkannya UU minerba mempunyai
dampak positif bagi kelnjutan pembangunan dan perekonomian.

DEBAT TIM KONTRA


Mosi ini muncul ditengah meningkatnya konflik antara masyarakat lokal dan
perusahaan pertambangan yang beroperasi diwilayah mereka. UU minerba,
sebagai regulasi utama dalam pengelolaan sumber daya mineral dan batu bara.
Seringkali dianggap memberikan keleluasaan kpda perusahaan untuk pengalihan
lahan yang sebenarnya menjadi hak masyarakat. Hal ini memicu kekhawatiran
akan potensi diskriminasi dan penjarahan lahan yang merugikan masyarakat
lokal.
Saat ini, UU minerba mengatur pengelolaan sumber daya mineral dan batubara
yang ada pada UU No. 3 thn 2020 tentang pertambangan mineral dan batubara,
tetapi dalam praktiknya implementasi UU tersebut sering mengabaikan hak hak
masyarakat lokal banyak perusahaan yang mendapatkan izin tapa
mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan, yang mengakibatkan
pejarahan lahan dan pelanggaran HAM.
Dewan juri yang terhormat, kami TIDAK SETUJU dengan mosi kali ini karena:
 UU minerba sebenarnya memiliki ketentuan yang bertujuan melindugi
masyarakat dan lingkungan.
 Banyak pasal dalam UU ini dengan mengharuskan perusahaan untuk
melakukan pendekatan masyarakat sebelum melalukan eksploitasi salah
satunya pada pasal 66 ayat 1 yakni : “ pemegang izin usaha
pertambangan wajib melakukan konsultansi publik dengan masyarakat
yang terkena dampak langsung dari kegiatan pertambangan”.
Sedangkan dalam praktiknya sering kali tidak di ikuti.
Dewan juri yang terhormat, Tujuan munculnya mosi ini mengeksplorasi apakh
UU minerba benar – bnar memberikan peluang untuk diskriminasi/ justru
menawarkan perlindungan nagi masyarakat.
Dewan juri yang terhormat UU minerba seharusnya berorentasi pada keadilan
sosial, tetapi dalam banyak kasus, masyarakat justru dirugikan
1. Masyarakat Tidak Lagi Bisa Protes ke Pemerintah Daerah
Sebelum UU No. 4 Tahun 2009 dihapus dan digantikan dengan UU Minerba,
sebuah perusahaan atau perorangan apabila ingin melakukan aktifitas
pertambangan di suatu daerah harus ijin dulu ke Pemda Kabupaten atau Kota
setempat. Dimana nantinya Pemda di tiap lokasi pertambangan memiliki tugas
dalam melakukan pembinaan, penyelesaian konflik bahkan pengawasan usaha
pertambangan.

Nah, dengan adanya peran pemerintah daerah ini, kalau terjadi konflik antara
perusahaan tambang dan masyarakat wilayah tambang, Pemda dapat berperan
layaknya mediator. Jadi setiap ada laporan masyarakat terkait pelanggaran yang
dilakukan oleh perusahaan tambang, apabila terbukti bersalah, maka Pemda
memiliki kewenangan untuk menghentikan sementara bahkan mencabut Ijin
Usaha Pertambangan (IUP).
Sayangnya, dengan disahkan UU Minerba No. 3 Tahun 2020, mulai sekarang
kalau ada masyarakat yang dirugikan akibat ulah perusahaan tambang, baik itu
berupa perusakan lingkungan hidup ataupun terjadi konflik sengketa lahan,
Pemda tidak lagi bisa melakukan tindakan apapun. Karena seluruh kewenangan
pertambangan diatur oleh pemerintah pusat, bukan lagi Pemda Kabupaten atau
Kota setempat.
Jadi saat ini masyarakat yang ingin melakukan protes terkait aktifitas tambang di
daerahnya, maka harus melapor ke pemerintah pusat atau minimal provinsi.
Padahal sejauh ini lokasi tambang kebanyakan ada di daerah terpencil bahkan
luar Jawa. Aturan ini sangat jauh dari logika tata kelola pemerintahan yang baik,
pasalnya masyarakat yang tinggal di wilayah pertambangan tidak bisa berbuat
banyak ketika lingkungannya rusak akibat ulah perusahaan tambang.

2. Resiko Dipolisikan Apabila Menolak Perusahaan Tambang


Bak jatuh tertimpa tangga, masyarakat daerah yang dirugikan akibat aktifitas
perusahaan tambang yang merusak ruang hidupnya bukan hanya tidak bisa lagi
melapor ke Pemda. Lebih parah lagi, terlihat dari bunyi Pasal 162 UU Minerba
No. 3 Tahun 2020, bahwa masyarakat yang mencoba mengganggu aktifitas
pertambangan dalam bentuk apapun bisa dilaporkan balik oleh perusahaan dan
dijatuhi pidana, bahkan denda hingga sebesar 100 juta rupiah.
Aturan yang sangat tidak masuk akal ini justru melenggang kangkung dan
diapresiasi oleh Presiden, di tengah maraknya ketidakadilan dan kriminalisasi
yang banyak dilakukan oleh perusahaan terhadap masyarakat daerah tambang.
Melalui UU Minerba yang baru ini masyarakat daerah selain bakal dihabisi
kekayaan alamnya oleh segelintir konglomerat tambang, mereka yang mencoba
menolak daerahnya untuk diesploitasi bakal kena pidana.
3. Perusahaan Tambang Masih Bisa Beroperasi Meskipun Terbukti Merusak
Lingkungan
Ada lagi peraturan yang terkesan memanjakan pengusaha dari segi tanggung
jawab perbaikan lahan bekas tambang. Aturan perbaikan lahan bekas tambang
ini terdiri dari dua kegiatan yang terpisah, yakni reklamasi dan kegiatan
pascatambang. Sebelum membahas permasalahan aturan yang menguntungkan
pengusaha tambang ini, maka perlu kiranya memahami perbedaan antara
Reklamasi dan Kegiatan Pascatambang.
Reklamasi yaitu aktifitas untuk memulihkan ekosistem supaya bisa berfungsi
kembali seperti sedia kala. Sedangkan Kegiatan Pascatambang yakni aktifitas
perbaikan lahan bekas tambang untuk memulihkan kembali fungsi lingkungan,
dan fungsi sosial menurut kondisi lokal di seluruh wilayah penambangan.
Kalau mengikuti aturan UU No. 4 Tahun 2009, perusahaan tambang wajib
melakukan semua kegiatan Reklamasi dan Kegiatan Pascatambang sekaligus
menyetor dana jaminan Reklamasi dan Pascatambang. Meskipun ada aturan
seperti ini, nyatanya di lapangan masih saja banyak terjadi pelanggaran berupa
lubang-lubang bekas tambang batubara dibiarkan terbuka dan menjadi danau
raksasa yang menelan korban jiwa.
Bukannya mempertegas aturan Reklamasi dan Kegiatan Pascatambang, alih-alih
mempidanakan perusahaan yang tidak memperbaiki lahan bekas tambang,
ajaibnya pemerintah justru membuat aturan baru yang membebaskan kewajiban
pengusaha tambang perusak lingkungan dengan jalan merubah isi Undang-
Undang. Seperti tertulis dalam UU Minerba Pasal 96 huruf b, kewajiban
perusahaan dalam perbaikan lahan bekas tambang sekarang ini cukup
mengerjakan salah satu kewajiban perbaikan saja. Perusahaan tambang bisa
bebas memilih antara Kegiatan Reklamasi atau Kegiatan Pascatambang.
Tidak hanya itu, perusahaan yang terbukti abai dan tidak melaksanakan
reklamasi ataupun kegiatan pascatambang, ternyata tetap bisa memperpanjang
ijin kontraknya. Bahkan sesuai dengan UU Minerba Pasal 169A, dengan dalih
meningkatkan penerimaan negara, pemerintah malah memberi jaminan
perpanjangan kontrak berupa KK dan PKP2B sebanyak 2 kali 10 tahun.
4. Perusahaan Tambang Bisa Mengeruk Keuntungan Sebanyak Mungkin,
Bahkan Mendapat Jaminan Royalti 0%
Bisa dibilang UU Minerba No. 3 Tahun 2020 ini merupakan kado terbaik dari
pemerintah untuk pengusaha dan kabar buruk bagi masyarakat daerah tambang
di Indonesia . Bagaimana tidak, seakan belum cukup dengan pemberian tiket
eksploitasi sumber daya alam yang masif dan destruktif kepada segelintir
konglomerat pengusaha tambang, pemerintah secara gamblang memberi lampu
hijau bagi pelaku kegiatan eksploitasi sumber daya alam tak terbarukan di bumi
Indonesia dengan bebas biaya.
Di dalam Pasal 128A Naskah UU Cipta Kerja No. 11 Tahun 2020 pengganti UU
Minerba, dijelaskan bahwa pelaku usaha yang bisa meningkatkan nilai tambah
batu bara akan mendapat perlakuan istimewa berupa pengenaan royalti sebesar
0%. Padahal selama ini royalti yang ditentukan oleh pemerintah pada pengusaha
tambang merupakan bagian pendapatan negara dan masuk sebagai pendapatan
daerah melalui mekanisme Dana Bagi Hasil.
Jelas sekali melalui UU Minerba No. 3 Tahun 2020 serta beberapa perubahan
Pasal dalam UU Cipta Kerja, Pemerintah Pusat bersama dengan segelintir
konglomerat pengusaha tambang sangat bernafsu untuk menghabisi sumber
daya alam yang masih tersisa di Indonesia. Bukannya menjaga lingkungan hidup
dari bencana kerusakan ekologis, Pemerintah justru semakin bersemangat untuk
melakukan eksploitasi sebesar-besarnya tanpa lagi mempedulikan nasib masa
depan masyarakat daerah tambang.
beberapa pasal penting dalam UU Minerba terbaru :
1. Pasal 2
Ayat (1): Pengelolaan sumber daya mineral dan batubara dilakukan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
2. Pasal 3
Ayat (1): Prinsip pengelolaan dilakukan secara berkelanjutan dan bertanggung
jawab.
3. Pasal 66
Ayat (1): Setiap pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) wajib melakukan
pengolahan dan pemurnian mineral di dalam wilayah Negara Republik Indonesia.
4. Pasal 34
Ayat (1): Mengatur kewajiban pemegang IUP untuk melakukan reklamasi dan
pascatambang.
5. Pasal 37
Ayat (1): Mengatur kewajiban pemegang IUP untuk melaporkan kegiatan usaha
pertambangan secara berkala.
6. Pasal 41
Ayat (1): Menyatakan larangan bagi pemegang IUP untuk melakukan kegiatan
yang dapat merusak lingkungan.
7. Pasal 60
Ayat (1): Mengatur tentang sanksi administratif bagi pemegang IUP yang
melanggar ketentuan.
8. Pasal 128
Ayat (1): Mengatur tentang pengelolaan mineral strategis dan penting bagi
kepentingan nasional.

Anda mungkin juga menyukai