Volume 1 Issue 4, October 2022: pp. 377-390 Copyright @ NoLaJ.
NoLaJ Master of Notary, Faculty of Law, Lambung Mangkurat University,
Banjarmasin, South Kalimantan, Indonesia. ISSN: 2808-7860 | e-ISSN: 2808-7348
Open Access at: [Link]
Kedudukan Bank Garansi yang diklaim Penerima Jaminan saat
Debitur Diputus PKPU oleh Pengadilan
Nurul Jamilah1, Irna Nurhayati2
1
Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada
Jl. Sosio Yustisia No 1, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Email: nuruljamilah@[Link]
Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada
2
Jl. Sosio Yustisia No 1, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Email:[Link]@[Link]
Submitted : 29-04-2022 Reviewed: 15-10-2022 Accepted:26-10-2022
Abstract: This study aims to analyze the position of the bank guarantee claimed by the
guarantee recipient when the debtor is decided PKPU by the court in the guarantee
agreement at the Head Office of PT. Bank BNI (Persero) Tbk and legal measures which can
be taken by the Bank in order to prevent losses due to the debtor being unable to pay its
obligations. The study was conducted with an empirical and normative juridical approach,
which prioritized field research, but as a first step the study was conducted by means of
library research in order to obtain data. Moreover, the data used were secondary data which
were obtained through library research and interviews with interviewee. Existing data were
then analyzed using a qualitative descriptive method. The results of the study show that
the bank still has an obligation to withdraw the bank guarantee if the guarantee recipient
submits a claim even though the debtor is terminated PKPU by the court. Furthermore, the
legal efforts which can be taken by the Bank in order to prevent losses due to the debtor
being unable to pay its obligations are that the bank should be selective by applying the
precautionary principle; besides, before issuing a bank guarantee letter, asks the debtor to
sign a contract of guarantee agreement. The last step which can be conducted is that the
Bank registers the bank guarantee in the PKPU billing list.
Keywords: Bank Guarantee; Suspension of Payment; Borgtocht
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan bank garansi yang
diklaim penerima jaminan saat debitur diputus PKPU oleh pengadilan dalam perjanjian
penanggungan di Kantor Pusat PT. Bank BNI (Persero) Tbk dan upaya hukum yang dapat
dilakukan oleh Bank untuk mencegah kerugian akibat debitor tidak sanggup membayar
kewajibannya. Penelitian dilakukan dengan pendekatan yuridis empiris dan normatif,
yang mana mengutamakan penelitian lapangan, namun sebagai langkah awal penelitian
dilakukan dengan cara penelitian kepustakaan untuk memperoleh data. Data yang
digunakan adalah data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan dan wawancara
dengan narasumber. Data yang ada kemudian dianalisis dengan menggunakan metode
deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bank tetap memiliki kewajiban
untuk mencairkan bank garansi apabila penerima jaminan mengajukan klaim meskipun
377
Notary Law Journal Vol 1 Issue 4 October 2022 P-ISSN:2808-7860| E-ISSN:2808-7348
debitor diputus PKPU oleh pengadilan. Adapun upaya hukum yang dapat dilakukan Bank
untuk mencegah terjadinya kerugian akibat debitor tidak sanggup membayar kewajibannya
yakni bank bersikap selektif dengan menerapkan prinsip kehati-hatian, kemudian sebelum
mengeluarkan warkat bank garansi meminta debitur menandatangani surat perjanjian
kontra garansi. Langkah terakhir yang dapat dilakukan yakni Bank mendaftarkan bank
garansi tersebut ke dalam daftar tagihan PKPU.
Kata Kunci: Bank Garansi; Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang; Penjaminan
I. PENDAHULUAN
Pembangunan adalah usaha untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan raky-
at. Kegiatan perekonomian merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan berhasil
tidaknya pembangunan karena perekonomian merupakan tulang punggung pembangunan
nasional di Indonesia1. Dalam kegiatan perekonomian biasanya ditunjang dengan adanya
suatu kucuran dana. Dana tersebut merupakan salah satu faktor yang menunjang terwujudnya
kemakmuran dan kesejahteraan rakyat di dalam pembangunan. Pemerintah di dalam melak-
sanakan kegiatan perekonomian tidak terlepas dari campur tangan lembaga perbankan yang
mempunyai fungsi menggerakkan laju pertumbuhan ekonomi pembangunan.2
Seiring berjalannya waktu semakin pesatnya perkembangan pembangunan di Indonesia,
dalam hal tersebut perbankan berperan cukup penting dalam menjaga dan membangun sta-
bilitas perekonomian dalam suatu negara. Undang- Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang selanjutnya
disebut UU Perbankan menyatakan bahwa Bank adalah badan usaha menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dana dan menyalurkannya dalam bentuk kredit atau ben-
tuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat.3
Lembaga perbankan dimaksudkan sebagai perantara antara pihak-pihak yang memiliki
dana yang lebih (surplus of funds) dan pihak-pihak yang membutuhkan dana lebih (lacks
of funds).4 Kalangan dunia usaha terlihat lebih aktif dalam menggunakan fasilitas dan jasa
perbankan, bahkan dalam perkembangannya perbankan memberi pengaruh yang cukup luas
bagi dunia usaha. Hal ini dikarenakan perbankan telah menjadi bagian dari kegiatan usaha,
di samping berperan sebagai sarana penghubung di antara pelaku kegiatan usaha. Sebagian
besar masyarakat menggunakan jasa perbankan untuk mendapatkan berbagai macam fasili-
tas dan kemudahan lainnya, salah satunya menggunakan jasa jaminan pelayanan perbankan
1
Syamsiah Badrudin, “Teori Dan Indikator Pembangunan,” Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, 2017,
[Link]
badrudinmsi-20.
Badrudin.
2
Malayu Hasibuhan, Dasar-Dasar Perbankan (Jakarta: Bumi Aksara, 2005).
3
4
Muchdarsyah Sinungan, Uang Dan Bank (Jakarta: Bina Aksara, 2001). dikutip dalam Neni Sri Imaniyati, Pengantar
Hukum Perbankan Indonesia (Bandung: Refika Ditama, 2010).
378
Kedudukan Bank Garansi yang diklaim Penerima Jaminan saat Debitur Diputus PKPU oleh Pengadilan
dalam bentuk Bank Garansi.5
Bank Garansi merupakan jaminan yang diberikan oleh bank untuk kepentingan nasabah,
yakni untuk memberikan jaminan kepada pen erima jaminan (pihak ketiga) bahwa bank
akan memenuhi kewajiban nasabah kepada penerima jaminan apabila nasabah tidak melak-
sanakan pekerjaan sesuai apa yang diperjanjikan atau wanprestasi kepada penerima jaminan.6
Bank garansi merupakan produk perbankan nasional dan sifatnya yang telah menjadi kebu-
tuhan dalam aktivitas berbisnis maka dari itu dikeluarkan Surat Edaran Bank Indonesia No.
23/7/UKU tanggal 18 Maret 1991 jo Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 23/88/
KEP/DIR tanggal 18 Maret 1991 dijelaskan bahwa bank garansi adalah pemberian janji se-
cara tertulis dari bank kepada oblige untuk jangka waktu tertentu, jumlah tertentu dan keper-
luan tertentu.7
Bank garansi merupakan suatu jaminan berupa janji atau pernyataan kesanggupan yang
diberikan oleh perusahaan penanggung untuk memenuhi kewajiban debitor, manakala debi-
tor sendiri wanprestasi. Bank garansi ada 3 (tiga) pihak yang saling berkaitan yaitu pihak
kreditor, debitor dan pihak ketiga (dalam bentuk perusahaan) yang bertindak sebagai penang-
gung utang (borg, guarantor) kemudian penanggung berupa Bank.8
Debitor jika tidak memiliki kemampuan untuk membayar utangnya, upaya yang dilaku-
kan kreditor salah satunya adalah dengan mengajukan penundaan kewajiban pembayaran
utang (PKPU), sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang
Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang selanjutnya disebut (UUK-PKPU).
Pada jaminan penanggungan apabila terjadi kepailitan, kreditur mempunyai hak menun-
tut pemenuhan piutangnya selain kepada debitur yang utama juga kepada penanggung atau
dapat menuntut pemenuhan kepada debitur lainnya. Agar terhindar dari proses kepailitan
debitur lebih memilih Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang selanjutnya disebut PKPU,
bertujuan untuk menyelamatkan perusahaan yang masih baik prospeknya dari kepailitan.9
Proses PKPU merupakan alternatif penyelesaian utang piutang yang terjadi dalam perusa-
haan. Bank tentu sering mengadakan perjanjian dengan pihak lain, salah satunya perjanjian
penanggungan, yakni bank ditunjuk sebagai penanggung atau penjamin antara debitor (ter-
jamin) dan kreditor (penerima jaminan), yang mana jika debitor tidak melaksanakan peker-
jaan sesuai perjanjian (wanprestasi), maka Bank sebagai penjamin/ penanggung yang akan
membayar sejumlah uang yang sudah diperjanjikan kepada pihak kreditor (penerima jami-
nan) apabila kreditor mengajukan klaim bank garansi. Salah satu Lembaga perbankan yang
5
Muttatoh Hirin, “Hambatan Dan Solusi Dalam Praktik Bank Garansi Bagi Masyarakat Pengguna (Tinjauan Sistem
Syariah Dan Konvensional),” Menara Riau: Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan Pengembangan Masyarakat Islam 13,
no. 2 (2014): 187, [Link]
6
Muhammad DJumhana, Hukum Perbankan Di Indonesia, Cetakan II (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000).
7
DJumhana.
8
Veronica Sri Rahayuningtyas, “Aspek Kontraktual Dalam Lembaga Corporate Guarantee” (Universitas Airlangga,
2010).
9
Zulfina Susanti, “Penarikan Personal Guarantee/ Corporate Guarantee Sebagai Pihak Dalam Permohonan Penundaan
Kewajiban Pembayaran Utang Di Indonesia,” Wasaka Hukum 7, no. 1 (2019): 159, [Link]
[Link]/wasaka/article/view/14.
379
Notary Law Journal Vol 1 Issue 4 October 2022 P-ISSN:2808-7860| E-ISSN:2808-7348
mengeluarkan produk bank garansi adalah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
Bank BNI sendiri merupakan salah satu lembaga perbankan bonafide di Indonesia. Bank
BNI juga merupakan bank umum yang memiliki jaringan yang luas di Indonesia dan memi-
liki produk funding yang cukup merakyat. Melalui pra riset yang telah dilakukan oleh penulis
di Kantor Pusat PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk selanjutnya disebut Bank BNI
Kantor Pusat, bahwa pada tahun 2021 bank BNI melakukan pencapaian tertinggi laba bersih
mencapai Rp [Link].000,- yang merupakan tiga kali lipat dari tahun 2020, hal ini
karena upaya perbaikan kualitas kredit melalui monitoring, penanganan dan kebijakan yang
efektif membuat cost of credit membaik menjadi 3,3%, peningkatan pendapatan operasional
Bank BNI dihasilkan dari pertumbuhan kredit yang sehat.
Permasalahan pernah terjadi di Bank BNI Kantor Pusat pada tahun 2019 yakni antara
Perusahaan A sebagai penerima jaminan dengan PT X sebagai pihak yang dijamin (debitur)
dalam perjanjian Pengadaan Barang dan Bank BNI Kantor Pusat sebagai Bank Penjamin.
Tahun 2020 debitor (terjamin) terbukti tidak melaksanakan pekerjaan sesuai apa yang sudah
diperjanjikan (wanprestasi) kepada kreditor (penerima jaminan), kemudian pihak kreditor
(penerima jaminan) mengajukan klaim bank garansi kepada Bank BNI Kantor Pusat, na-
mun pada saat kreditor mengajukan klaim pencairan bank garansi, debitor (terjamin) dipu-
tus PKPU oleh pengadilan. Permasalahannya yakni bank memegang kontra jaminan berupa
asset dan sejumlah uang yang dimiliki oleh debitur yang mana pada saat debitur diputus
PKPU oleh pengadilan maka mengakibatkan suatu proses di mana pengadilan melarang
kreditor untuk memaksa debitor untuk membayar utangnya selama proses penundaan ke-
wajiban pembayaran utang sehingga status eksekusi jaminan selama penundaan kewajiban
pembayaran utang menjadi ditunda, hal tersebut diatur dalam Pasal 246 UUK-PKPU. Alasan
penulis mengangkat kasus ini sebagai penelitian yaitu belum banyak penelitian yang memba-
has mengenai klaim pencairan jaminan oleh kreditur khususnya jaminan bank garansi kepada
bank pada saat debitur diputus PKPU oleh pengadilan, maka dari itu penulis mengangkat
kasus ini sebagai objek penelitian.
Berdasarkan Pasal 242 UUK-PKPU selama berlangsungnya PKPU, debitur tidak dapat
dipaksa membayar utang dan semua tindakan eksekusi yang telah dimulai untuk memperoleh
pelunasan utang harus ditangguhkan. Sehubungan dengan hal tersebut, peneliti menemukan
permasalahan yakni apakah perusahaan (debitor) yang telah diputus PKPU oleh pengadilan
dapat menerima tagihan bank garansi oleh Bank, yang mana bank garansi masih berlaku
saat debitur diputus PKPU oleh pengadilan. Sering kali terjadi dalam kepailitan maupun
PKPU saat penerima jaminan melakukan klaim pencairan bank garansi kepada Bank penja-
min pada saat debitur diputus PKPU oleh pengadilan, yang mana penjamin dari debitor yang
diputus PKPU tanpa terlebih dahulu melihat harta kekayaan debitor sesungguhnya.10 Bank
memiliki risiko apabila mencairkan bank garansi kepada penerima jaminan, yakni bank tidak
mendapatkan return/ pengembalian dari sejumlah bank garansi yang telah dicairkan karena
debitur diputus PKPU oleh pengadilan. Berdasarkan uraian tersebut penulis tertarik untuk
10
Lubis Ubaid Prasetyo, “Kedudukan Dan Tanggung Jawab Penanggung (Borg) Terhadap Debitor Dalam Kepailitan”
(Universitas Jember, 2015).
380
Kedudukan Bank Garansi yang diklaim Penerima Jaminan saat Debitur Diputus PKPU oleh Pengadilan
mengangkat judul “Kedudukan Bank Garansi yang Diklaim Penerima Jaminan Saat Debitur
Diputus Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) Oleh Pengadilan (Studi Kasus di
Kantor Pusat PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.)”
II. METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan dengan metode pendekatan yuridis empiris dan normatif, yang
mana mengutamakan penelitian lapangan, namun sebagai langkah awal penelitian dilakukan
dengan cara penelitian kepustakaan untuk memperoleh data. Data yang digunakan adalah
data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan dan wawancara dengan narasumber.
Data yang ada kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif.
III. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1.1 Kedudukan Bank Garansi yang Diklaim Penerima Jaminan saat Debitur Diputus
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) oleh Pengadilan
A. Bank Melepaskan Hak Istimewa
Bank sebagai penjamin dalam perjanjian dalam kasus ini mengenai pengadaan ba-
rang berada dalam posisi lemah, hal ini disebabkan karena pemberian jaminan dibuat
untuk melindungi kepentingan kreditor sehingga pada saat debitor mengalami kegaga-
lan dalam pemenuhan kewajibanya, penjamin segera dapat dimintakan pemenuhannya
berdasarkan perjanijan pemberian jaminan yang telah dibuat.11 Posisi penjamin ini
membuat KUHPerdata memberikan beberapa hak istimewa yang dimiliki oleh seorang
penjamin, antara lain: 12
Hak meminta agar pemenuhan utang debitor dilakukan dengan cara menyita dan selan-
jutnya menjual harta debitor terlebih dahulu. Jika setelah dihitung ternyata harta debi-
tor masih kurang, kreditor baru meminta kepada penjamin untuk membayar kekuran-
gan utang yang belum terpenuhi. Dasar hukumnya adalah Pasal 1831 KUHPerdata:
a. Melakukan perjumpaan utang. Penjamin berhak melakukan perjumpaan utang anta-
ra kreditor dan debitor, dengan demikian dapat menyebabkan utang debitor kepada
kreditor lunas karena debitor punya piutang yang besarnya sama dengan utangnya
kepada kreditor.
b. Meminta pemecahan utang. Penjamin yang terdiri dari beberapa perusahaan berhak
meminta pemecahan terhadap utang yang ditanggung secara bersama-sama sesuai
proporsinya masing- masing. Ketidakmampuan salah satu penjamin untuk memen-
uhi kewajibannya harus digantikan oleh penjamin yang lain, jika ketidakmampuan
tersebut terjadi setelah utang dipecah maka tidak ada kewajiban penjamin lainnya
untuk memenuhi kewajiban penjamin tersebut, atau pemecahan kewajiban pemenu-
han utang oleh penjamin tersebut dapat dilakukan atas inisiatif dari kreditor. Dasar
11
Diah Handayani, “Kedudukan Corporate Guarantee Sebagai Pihak Penjamin Debitor Utama Dalam Proses
Kepailitan” (Universitas Sumatera Utara, 2013).
12
Irma Devita Purnamasari, Panduan Lengkap Hukum PRaktis Populer Kiat-Kiat Cerdas, Mudah, Dan Bijak
Memahami Masalah Hukum Jaminan Perbankan, Cetakan I (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2014).
381
Notary Law Journal Vol 1 Issue 4 October 2022 P-ISSN:2808-7860| E-ISSN:2808-7348
hukumnya adalah Pasal 1837 dan Pasal 1838 KUHPerdata.
c. Meminta ganti rugi kepada debitor atau dibebaskan dari kewajibannya untuk mem-
berikan jaminan perusahaan. Penjamin berhak meminta meminta ganti rugi kepada
debitor atau dibebaskan dari kewajibannya untuk memberikan jaminan perusahaan
kepada kreditor atas utang debitor yang bersangkutan, apabila:
1) penjamin digugat di muka hakim untuk memenuhi pembayaran utang debitor,
2) terdapat perjanjian antara debitor dan penjamin bahwa setelah lewat jangka
waktu tertentu penjamin akan dibebaskan dari kewajibannya menjamin utang
debitor,
3) dalam perjanjian kredit tidak ditetapkan lamanya penjamin harus menang-
gung utang debitor kepada kreditor sehingga penjamin dapat meminta untuk
berhenti bertindak sebagai penjamin setelah lewat dari 10 tahun.
d. Mengajukan bantahan. Penjamin berhak mengajukan segala bantahan yang dapat di-
gunakan oleh debitor kepada kreditor. Bantahan tersebut tidak boleh hanya berkaitan
dengan pribadi debitor, sebagaimana diatur dalam Pasal 1847 KUHPerdata.
e. Menuntut debitor agar memenuhi kewajibannya kepada kreditor. Penjamin berhak
menuntut debitor agar memenuhi kewajibannya kepada kreditor atau menuntut
debitor agar melepaskan penjamin dari kewajiban membayar utang debitor kepada
kreditor, sebagaimana diatur dalam Pasal 1850 KUHPerdata.
Praktiknya dalam wawancara dengan Ibu Pradipta Pranadewi, meskipun penjamin
telah diberikan hak-hak istimewa oleh KUHPerdata, namun hak istimewa yang dimi-
liki seorang penjamin tersebut biasanya dilepaskan, baik beberapa maupun keseluruhan
hak istimewanya. Pelepasan ini biasanya dimintakan oleh kreditor. Pelepasan hak-hak
istimewa penjamin dalam perjanjian penjaminan oleh kreditor dengan penjamin berarti
kreditor dapat langsung meminta, menuntut atau menggugat penjamin untuk segera
memenuhi kewajiban debitor manakala debitor telah cidera janji atau wanprestasi.13
Berdasarkan penjelasan mengenai hasil penelitian di atas, Bank BNI Kantor Pusat
melepaskan hak-hak istimewa yang diatur oleh KUHPerdata. Dengan adanya bentuk
baku dari isi rumusan perjanjian maka penjamin/ Bank melakukan persetujuan dalam
melepaskan hak-hak istimewanya yang secara yuridis penjamin/ Bank akan kehilan-
gan hak untuk melakukan negoisasi (asas kebebasan berkontrak) dalam merumuskan
isi dan rumusan perjanjian penjaminan. Berdasarkan hak-hak terpenting yang dimiliki
oleh seorang penjamin/ Bank yang diminta agar dilepaskan pada saat penanggung tadi
menandatangani perjanjian penjaminan adalah:
a. Pelepasan hak istimewa diatur dalam Pasal 1832 KUHPerdata bahwa, kreditor da-
pat langsung menagih kepada penjamin/ Bank manakala debitor melakukan wan-
prestasi. Penjamin/ bank tidak dapat menuntut kepada pihak debitor untuk menjual
harta atau benda-bendanya lebih dahulu untuk disita dan dijual untuk pelunasan
utang kreditor.
13
Hasil Wawancara dengan Pradipta Pranadewi, Wawancara Pribadi, Asisten Manajer Operasional Kredit Kantor
Pusat PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Jakarta, tanggal 18 Februari 2022, pukul 11.00 WIB
382
Kedudukan Bank Garansi yang diklaim Penerima Jaminan saat Debitur Diputus PKPU oleh Pengadilan
b. Pasal 1837 KUHPerdata juga membahas mengenai pelepasan hak istimewa ten-
tang pemecahan utang membawa akibat hukum yakni, penjamin tidak dapat me-
minta untuk diadakannya pembagian utang oleh kreditor, sehingga penjamin tetap
harus melunasi tanggungan dari yang ditanggung yang tidak mampu melaksana-
kan kewajibannya.
c. Pasal 1847 KUHPerdata tentang tangkisan oleh penjamin membawa akibat hukum
yakni, penjamin tidak dapat lagi mengajukan bantahan yang dapat dipakai oleh
debitor terhadap kreditor.
d. Pasal 1859 KUHPerdata membawa akibat hukum yakni, penjamin tidak berhak
lagi menuntut debitor agar memenuhi kewajibannya kepada kreditor atau menun-
tut debitor agar melepaskan penjamin dari kewajiban membayar sejumlah uang
debitor kepada kreditor.
Bank yang telah melepaskan hak istimewanya dianggap telah mengikatkan diri
bersama-sama dengan debitor secara tanggung menanggung untuk membayar semua
utang debitor dan mengambil alih semua tanggung jawab debitor untuk memenuhi pr-
estasinya jika debitor tidak mampu membayar, pelepasan hak istimewa ini juga mem-
beri hak opsi bagi kreditor untuk mengajukan tuntutan kepada debitor atau kepada
penjamin/ Bank.
Penjamin/ Bank mengambil alih hak-hak debitur terhadap kreditur dalam kasus
disini bank bertanggung jawab membayar sejumlah uang yang telah diperjanjikan apa-
bila debitur tidak melaksanakan pekerjaan sesuai dengan apa yang diperjanjikan. Hu-
kum di Indonesia mengatur dua hal bagi penjamin yang telah menyelesaikan kewajiban
debitur terhadap kreditur, yakni dinamakan hak regres dan hak subrogasi. Pertama ada-
lah hak untuk menuntut kembali seluruh jumlah yang telah dibayarkan kepada kreditur.
Dalam hal debitur diputus PKPU oleh pengadilan dan pemegang bank garan-
si melakukan klaim kepada Bank BNI maka walaupun klaim terjadi di masa debitur
diputus PKPU, Bank tetap berkewajiban mencairkan bank garansi seluruhnya, karena
tidak terdapat batasan untuk Bank tidak mencairkan bank garansi tersebut dikarena-
kan hubungan hukum yang terjadi saat PKPU adalah antara debitur dan krediturnya,
sedangkan dalam bank garansi, hubungan hukum yang terjadi adalah antara Bank dan
penerima jaminan/ kreditur, karena itu Bank tetap memiliki kewajiban untuk mencair-
kan bank garansi dikarenakan dalam perjanjian bahwa Bank berkewajiban membayar
bank garansi yang telah diperjanjikan segera setelah timbul cidera janji/ wanprestasi
dan menerima tuntutan pemenuhan kewajiban/ klaim dari penerima jaminan/ kreditor.
1.2 Upaya Hukum yang Dapat Dilakukan oleh Bank untuk Mencegah Kerugian Akibat
Debitor Tidak Sanggup Membayar Kewajibannya Terhadap Bank
A. Penerapan Prinsip Kehati-hatian dalam Penerbitan Bank Garansi
Prinsipnya setiap penerbitan dan pemberian bank garansi akan mendapat kewajiban
yang mengandung risiko, oleh sebab itu bank dalam memberikan penjaminan/ garansi
harus mengadakan penilaian atas bonafiditas dan reputasi pihak yang dijamin. Oleh
sebab itu sebelum Bank BNI menerbitkan bank garansi dan memberikannya kepada
383
Notary Law Journal Vol 1 Issue 4 October 2022 P-ISSN:2808-7860| E-ISSN:2808-7348
pihak terjamin/ debitor, Kantor Pusat Bank BNI terlebih dahulu melakukan penelitian
yang sama halnya dalam pemberian kredit yakni sebelum bank menerbitkan bank ga-
ransi dan meberikannya kepada debitor/ terjamin, bank telah terlebih dahulu menelaah
mulai dari identitas, badan hukum usaha sampai menelaah hasil pekerjaan yang telah
dilakukan oleh debitor. Bank melakukan hal ini, selain amanat dari Direksi BI, juga
kewajiban yang nantinya akan menanggung risiko yang cukup besar. Oleh sebab itu
telaah sebelum penerbitan selalu bank lakukan untuk memperkecil risiko kedepannya.
Penerapan prinsip tersebut dalam hukum perbankan dіkеnal dеngan іstіlah prіnsіp 5C’s
yakni Charactеr, Capacіty, Capіtal, Condіtіon, Dan Collatеral yakni prinsip kehati-
hatian Bank dalam penerbitan bank garansi:14
a. Character (Kepribadian)
Bank melihat kepribadian dari pihak yang mengajukan garansi, karena hal ini juga
berkaitan dengan sifat dan karakter sebagai mana bank melihat nasabah. Begitu
pula untuk memperoleh informasi mengenai pemohon garansi, bank melalukan
survei melaui pihak marketing untuk mencari informasi seperti: Daftar riwayat
hidup pemohon; survei ke Bank lain tempat di mana pemohon pernah mengaju-
kan permohonan jaminan pelaksanaan maupun jaminan lainnya; survei nasabah
bank yang memiliki bidang usaha yang sama dengan pemohon; serta asosiasi dari
perusahaan yang sejenis. Hal tersebut bank lakukan agar data pribadi dan latar
belakang pemohon benar-benar telah memenuhi syarat, agar tidak terjadi kesala-
han di kemudian hari. Selain itu aspek kepribadian pemohon sangat menentukan
keberhasilan pekerjaan yang akan bank jamin.
b. Capacity (Kemampuan)
Bank juga akan menelaah kemampuan pemohon, seperti kemampuan pembayaran,
sebab hal ini akan bergantung pada hal-hal yang akan mempengaruhi seperti, pen-
jualan atau pembiaayan yang berkaitan dengan pengeluaran, serta berpengaruh
terhadap pembelian barang, ada atau tidaknya bahan baku serta juga kemampuan
melayani tenaga kerja. Kemampuan membayar merupakan pendapatan dari hasil
usaha, maka bank harus yakin bahwa nasabah mampu memenuhi kewajiban finan-
sialnya, serta integritas nasabah pemohon harus dapat dibuktikan serta tidak ada
perbedaan dari hasil bank black list checking Bank Indonesia dan juga pengala-
man masa lalu yang bersangkutan. Oleh sebab itu, untuk mengukur kemampuan
pembayaran tersebut pemohon harus memiliki rekening Bank BNI terlebih dahulu,
baik berupa tabungan, giro maupun deposito. Rekening tersebut harus sudah di-
miliki pemohon/ calon debitor minimal enam bulan terakhir.
c. Capital (Modal)
Prinsip bahwa jumlah dana yang dіmіlіkі olеh calon debitor pеnеrіma fasіlіtas
yang mana pеnіlaіan іnі dіlakukan untuk mеngеtahuі sеbеrapa bеsar jumlah dana
atau modal sеndіrі yang dіmіlіkі calon nasabah. Bank akan meneliti apakah pemo-
14
Nur Khaleda Zia, Wawancara Pribadi, Asisten Manajer Divisi Remedial dan Recovery Kantor Pusat PT. Bank
Negara Indonesia (Persero) Tbk. Jakarta, tanggal 18 Februari 2022.
384
Kedudukan Bank Garansi yang diklaim Penerima Jaminan saat Debitur Diputus PKPU oleh Pengadilan
hon/ calon debitor memiliki cukup modal untuk membiayai pekerjaan yang dis-
erahkan oleh Bank penerbit. Besarnya modal yang dimiliki pemohon menunjuk-
kan tingkat risiko yang dipikul oleh debitur dalam pembiyaan suatu proyek. Untuk
memastikan hal tersebut Bank BNI akan melihat dokumen keuangan perusaahan.
Bank memastikan apakah pemohon memiliki modal sebelum bank menerbitkan
garansi. Bank akan melihat besaran modal dari akta pendirian perusahaan seperti,
neraca serta laporan laba perusahaan sebelumnya.
d. Condition of Economy (Kondisi Ekonomi)
Prinsip dengan melihat kondіsі atau prospеk usaha calon nasabah pеnеrіma fasіlіtas
yang mana pеnіlaіan іnі dіlakukan untuk mеngеtahuі sеbеrapa baіk prospеk usaha
calon nasabah yang akan dіbіayaі dеngan fasіlіtas pеmbіayaan. Untuk melihat
kondisi ekonomi pemohon bank akan menganalisa yang berkaitan dengan kon-
trak antara pihak pemohon dengan penerima jaminan. Adapun yang bank analisis
diantaranya, memastikan kontrak tersebut tidak melanggar ketentuan pelaksanaan
pekerjaan pengadaan barang, kemudian melihat cara kerja atau manajemen dari
pelaksanaan pekerjaan pengadaan barang, dan selanjutnya melihat tingkat resiko
dari pelaksanaan pekerjaan pengadaan barang tersebut.
e. Collateral (Agunan)
Mеrupakan prinsip bahwa sеluruh asеt bеnda maupun yang laіnnya yang
dіsеrahkan calon nasabah pеnеrіma fasіlіtas sеbagaі agunan yang mana pеnіlaіan
іnі dіlakukan untuk mеngеtahuі bahwa asеt bеnda maupun yang laіnnya tеrsеbut
cukup mеmadaі sеbagaі sumbеr pеlunasan tеrakhіr apabіla nasabah tіdak mampu
mеlunasі kеwajіbannya. Agunan yang dimaksud adalah agunan yang mungkin
saja disita atau dicairkan, agunan ini dikuasai sepenuhnya oleh Bank. Prinsip ini
dilakukan apabila terjadi wanprestasi dan terdapat pencairan bank garansi.
Analisis tersebut merupakan analisis kelayakan sebelum diterbitkan dan diberikan-
nya bank garansi kepada nasabah, analisis dengan memakai prinsip 5C’s tersebut meru-
pakan analisis kualitatif. Selain itu jika dibutuhkan juga bisa memakai analisis kuan-
titatif dengan melihat berdasarkan reputasi pihak ketiga, dengan menganalisa neraca/
analisis laba-rugi, analisis ratio dan cashflow. Analisis kelayakan dengan prinsip 5C’s
tersebut berdasarkan aturan, asas dan prinsip perbankan di Indonesia dengan mengacu
pada Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia.
[Link] Pemberian Bank Garansi
General Manajer Bisnis Unit Kantor Pusat Bank BNI dan nasabah sebelum warkat
bank garansi diterbitkan terlebih dahulu melakukan Bank Garansi Plafond/ Fasilitas
Kredit Tidak Langsung (Non Cash Loan): 15
a) Menandatangani surat perjanjian kontra garansi.
b) Nasabah memberikan surat kuasa persetujuan kepada Bank BNI untuk langsung
mencairkan kontra garansi yang berupa setoran tunai apabila terjadi klaim.
15
Pradipta Pranadewi, Wawancara Pribadi, Asisten Manajer Operasional Kredit Kantor Pusat PT. Bank Negara
Indonesia (Persero) Tbk. Jakarta, tanggal 18 Februari 2022.
385
Notary Law Journal Vol 1 Issue 4 October 2022 P-ISSN:2808-7860| E-ISSN:2808-7348
c) Melakukan pengikatan kontra garansi sesuai dengan jenisnya berdasarkan per-
syaratan yang ditetapkan dalam Putusan Kredit Bank Garansi.
Marginal Deposit atau uang yang diterima bank sebagai jaminan yang akan diperhi-
tungkan pada waktu penyekesaian transaksi minimal sebesar 100 % (full cover), yaitu
berupa setoran tunai atau simpanan pada Bank. Kontra garansi berupa setoran tunai
yang disetor ke rekening marginal deposit pada Bank, sedangkan untuk kontra garansi
dalam bentuk simpanan akan diblokir (saldo/ rekening) dan diikat secara gadai (Perjan-
jian Gadai) sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Fasilitas kredit tidak
langsung (non cash loan). Pemohon memiliki fasilitas kredit tidak langsung berdasar-
kan Perjanjian Penebitan Garansi Bank yang telah disetujui oleh bank kontra garansi
dari perusahaan asuransi yang ditentukan oleh Bank.
Kontra garansi yang berupa aktiva tetap (tanah dan bangunan), pada prinsipnya di-
lakukan pengikatan nyata. Jangka waktu bank garansi yang diterbitkan relatif pendek,
dimungkinkan tidak dilakukan pengikatan nyata khusus berkaitan dengan hak tang-
gungan, sepanjang pejabat pemutus telah memperhitungkan aspek positif dan negatif
serta keyakinan kemampuan nasabah dalam memenuhi kewajibannya. Pengikatan kon-
tra garansi berupa aktiva tetap termasuk asuransi atas aktiva tetap tersebut, merupakan
bagian dari persyaratan dalam Putusan Kredit Bank Garansi yang menjadi kewenangan
dan tanggung jawab pejabat pemutus. Dalam surat perjanjian kontra garansi, agar di-
cantumkan klausula mengenai kesediaan nasabah untuk membayar biaya-biaya yang
mungkin timbul pada saat berubahnya fasilitas-fasilitas bank garansi menjadi kredit
efektif, termasuk ketentuan suku bunga serta jangka waktu kredit.
[Link] ke Daftar Tagihan PKPU
Meminimalisir terjadinya risiko yang mungkin akan diterima Bank BNI melalui
hasil wawancara dengan Ibu Nur Khaleda Zia selaku Asisten Manajer Remedial &
Recovery Kantor Pusat Bank BNI yakni Bank BNI harus mendaftarkan bank garansi
tersebut ke dalam daftar tagihan PKPU, walaupun belum timbul kewajiban pada Bank
untuk membayar bank garansi tersebut.16 Namun sebagaimana juga disebutkan dalam
definisi Utang di Undang-Undang Kepailitan dan PKPU No.37 Tahun 2004 bahwa:
“Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam jumlah uang
baik dalam mata uang Indonesia maupun mata uang asing, baik secara langsung mau-
pun yang akan timbul di kemudian hari atau kontinjen, yang timbul karena perjanjian
atau undang-undang dan yang wajib dipenuhi oleh Debitor dan bila tidak dipenuhi
memberi hak kepada Kreditor untuk mendapat pemenuhannya dari harta kekayaan De-
bitor.”
Melalui pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa bank garansi dapat dimasuk-
kan ke dalam daftar tagihan PKPU yang akan ditagihkan ke pengurus dikarenakan sifat
dari bank garansi sendiri adalah sebagai kewajiban yang akan datang. Apabila tidak
mengajukan tagihan ke dalam daftar tagihan PKPU menyebabkan tidak termasuknya
16
Hasil Wawancara dengan Nur Khaleda Zia, Wawancara Pribadi, Asisten Manajer Divisi Remedial dan Recovery
Kantor Pusat PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Jakarta, tanggal 18 Februari 2022, pukul 14.00 WIB
386
Kedudukan Bank Garansi yang diklaim Penerima Jaminan saat Debitur Diputus PKPU oleh Pengadilan
kreditor yang tercantum dalam putusan pengesahan perdamaian.
Menjamin keberlangsungan bank garansi pada saat terjadinya PKPU hendaknya
Bank BNI menambahkan klausul pada perjanjian perdamaian bahwa jika bank garansi
tersebut diklaim: “maka jika bank garansi tersebut diklaim, maka porsi tagihan sebe-
sar bank garansi tersebut merupakan kewajiban debitor untuk membayar sebesar porsi
garansi bank tersebut.“ Apabila selama masa bank garansi tersebut tidak terjadi klaim
maka porsi sebesar bank garansi tersebut tidak menjadi kewajiban debitur untuk mem-
bayar. Hal tersebut dilakukan untuk menjamin kepentingan Bank BNI dan debiturnya
agar kepentingan masing-masing pihak dapat terlindungi.
Dilihat apakah jaminan termasuk bagian dari hutang atau tidak, karena jika jami-
nan maka tidak dapat didaftarkan sebagai hutang, namun pada praktek hal seperti ini
kemungkinan akan terjadi yakni jaminan didaftarkan sebagai hutang dan diterima oleh
Pengurus PKPU, hal ini sebaiknya dalam hutang tersebut diberikan catatan bahwa jam-
inan tersebut masih dalam dalam bentuk jaminan belum berbentuk sebagai hutang, se-
lama debitornya masih memenuhi syarat sampai akhir perjanjian (tidak wanprestasi).17
Debitur pada saat diputus PKPU oleh pengadilan maka risiko yang mungkin diteri-
ma oleh Bank BNI yakni saat terjadinya klaim pencairan bank garansi oleh penerima
jaminan (kreditur), namun Bank tidak mendaftarkan bank garansi ke daftar tagihan
PKPU maka menyebabkan Bank BNI tidak mendapat pengembalian atas sejum-
lah bank garansi yang telah dibayarkan kepada penerima jaminan, sedangkan debi-
tur memiliki batasan dalam PKPU sebagaimana disebutkan dalam Pasal 245 PKPU:
“Pembayaran semua utang, selain yang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 244 yang
sudah ada sebelum diberikannya penundaan kewajiban pembayaran utang selama ber-
langsungnya penundaan kewajiban pembayaran utang, tidak boleh dilakukan, kecuali
pembayaran utang tersebut dilakukan kepada semua Kreditor, menurut perimbangan
piutang masing-masing, tanpa mengurangi berlakunya juga ketentuan sebagaimana di-
maksud dalam Pasal 185 ayat (3)”
IV. PENUTUP
Kesimpulan
a. Bank BNI Kantor Pusat melepaskan hak-hak istimewa yang diatur oleh KUHPerdata. Den-
gan adanya bentuk baku dari isi rumusan perjanjian maka penjamin/ Bank melakukan per-
setujuan dalam melepaskan hak-hak istimewanya yang secara yuridis Bank akan kehilangan
hak untuk melakukan negoisasi (asas kebebasan berkontrak) dalam merumuskan isi dan
rumusan perjanjian penjaminan. Bank yang telah melepaskan hak istimewanya dianggap
telah mengikatkan diri bersama-sama dengan debitor secara tanggung menanggung untuk
membayar semua utang debitor dan mengambil alih semua tanggung jawab debitor untuk
memenuhi prestasinya jika debitor tidak mampu membayar, pelepasan hak istimewa ini
juga memberi hak opsi bagi kreditor untuk mengajukan tuntutan kepada debitor atau kepada
17
Hasil Wawancara dengan Budiharto, Wawancara Pribadi, Dosen Hukum Perbankan Universitas Diponegoro,
tanggal 18 Maret 2022, pada pukul 14.00 WIB
387
Notary Law Journal Vol 1 Issue 4 October 2022 P-ISSN:2808-7860| E-ISSN:2808-7348
penjamin/ Bank, karena itu Bank tetap memiliki kewajiban untuk mencairkan bank garan-
si dikarenakan dalam perjanjian bahwa Bank berkewajiban membayar bank garansi yang
telah diperjanjikan segera setelah timbul cidera janji/ wanprestasi dan menerima tuntutan
pemenuhan kewajiban/ klaim dari penerima jaminan/ kreditor.
b. Lembaga perbankan diwajibkan untuk bersikap selektif dan cermat dalam melaku-
kan aktivitas untuk meminimalisasi risiko (akibat hukum). Berdasarkan prinsip
kehati-hatian (prudential banking) dalam pemberian bank garansi, bank harus melakukan
penilaian/ analisis secara seksama terhadap calon nasabah mengingat bahwa setiap penge-
luaran atau penerbitan bank garansi mengandung suatu risiko bagi bank. Analisis tersebut
merupakan analisis kelayakan sebelum diterbitkan dan diberikannya bank garansi kepa-
da calon debitur yang akan ditanggung oleh Bank, analisis dengan memakai prinsip 5C’s
(Character, Capacity, Capital, Condition, dan Collateral). Kemudian Kantor Pusat Bank
BNI sebelum mengeluarkan warkat bank garansi meminta debitur/ terjamin menandatan-
gani surat perjanjian kontra garansi nilai garansi berasal dari kontra jaminan yang diajukan
Bank BNI kepada terjamin dan kontra jaminan tersebut selanjutnya merupakan ganti rugi
yang diberikan pihak terjamin kepada pihak BNI. Kontra jaminan tersebut dapat berupa rek-
ening terjamin itu sendiri atau aset-aset lain yang dimiliki oleh pihak terjamin. Setelah bank
melakukan pembayaran klaim, maka bank selanjutnya mencairkan jaminan lawan (kontra
garansi) dari pihak terjamin. Langkah terakhir yang dapat dilakukan bank BNI yakni Bank
BNI mendaftarkan garansi bank tersebut ke dalam daftar tagihan PKPU, walaupun belum
timbul kewajiban pada Bank untuk membayar bank garansi tersebut.
Saran
a. Bagi pihak Bank selaku penjamin
Bank selaku penjamin seharusnya tetap menerapkan prinsip kehati-hatian bank untuk me-
minimalisir risiko dan meningkatkan pelayanannya supaya senantiasa menumbuhkan citra
baik dalam berhubungan dengan masing-masing pihak khususnya terjamin sehingga terja-
min dapat selalu melaksanakan kewajibannya sesuai dengan yang telah diperjanjikan. Bank
juga baiknya melakukan pendaftaran ke daftar tagihan PKPU terhadap garansi bank apabila
debiturnya dijatuhi PKPU oleh pengadilan.
b. Bagi pihak terjamin
Penyedia barang/jasa selaku terjamin hendaknya selalu mempertahankan itikad baik dan
transparan dalam melaksanakan kewajibannya sesuai dengan perjanjian yang telah disepak-
ati bersama yang berkaitan dengan pekerjaan pengadaan barang.
c. Bagi pihak penerima jaminan
Pengguna barang/jasa selaku penerima jaminan hendaknya melakukan pengawasan secara
rutin terhadap pelaksanaan suatu proyek pengadaan barang supaya pelaksanaan pengadaan
barang tersebut dapat terlaksana dengan baik dan lancar.
REFERENSI
Badrudin, Syamsiah. “Teori Dan Indikator Pembangunan.” Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah, 2017. [Link]
388
Kedudukan Bank Garansi yang diklaim Penerima Jaminan saat Debitur Diputus PKPU oleh Pengadilan
pembangunan-menurut-profdrhsyamsiah-badrudinmsi-20.
DJumhana, Muhammad. Hukum Perbankan Di Indonesia. Cetakan II. Bandung: Citra Aditya
Bakti, 2000.
Handayani, Diah. “Kedudukan Corporate Guarantee Sebagai Pihak Penjamin Debitor Utama
Dalam Proses Kepailitan.” Universitas Sumatera Utara, 2013.
Hasibuhan, Malayu. Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta: Bumi Aksara, 2005.
Hasil Wawancara dengan Pradipta Pranadewi, Wawancara Pribadi, Asisten Manajer Operasional
Kredit Kantor Pusat PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Jakarta, tanggal 18 Februari
2022, pukul 11.00 WIB
Hasil Wawancara dengan Budiharto, Wawancara Pribadi, Dosen Hukum Perbankan Universitas
Diponegoro.
Hirin, Muttatoh. “Hambatan Dan Solusi Dalam Praktik Bank Garansi Bagi Masyarakat Pengguna
(Tinjauan Sistem Syariah Dan Konvensional).” Menara Riau: Jurnal Ilmu Pengetahuan Dan
Pengembangan Masyarakat Islam 13, no. 2 (2014): 187. [Link]
[Link]/Menara/article/view/851.
Imaniyati, Neni Sri. Pengantar Hukum Perbankan Indonesia. Bandung: Refika Ditama, 2010.
Prasetyo, Lubis Ubaid. “Kedudukan Dan Tanggung Jawab Penanggung (Borg) Terhadap Debitor
Dalam Kepailitan.” Universitas Jember, 2015.
Purnamasari, Irma Devita. Panduan Lengkap Hukum PRaktis Populer Kiat-Kiat Cerdas, Mudah,
Dan Bijak Memahami Masalah Hukum Jaminan Perbankan. Cetakan I. Bandung: PT Mizan
Pustaka, 2014.
Rahayuningtyas, Veronica Sri. “Aspek Kontraktual Dalam Lembaga Corporate Guarantee.”
Universitas Airlangga, 2010.
Sinungan, Muchdarsyah. Uang Dan Bank. Jakarta: Bina Aksara, 2001.
Susanti, Zulfina. “Penarikan Personal Guarantee/ Corporate Guarantee Sebagai Pihak Dalam
Permohonan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang Di Indonesia.” Wasaka Hukum 7, no.
1 (2019): 159. [Link]
Zia, Nur Khaleda. Wawancara Pribadi, Asisten Manajer Divisi Remedial dan Recovery Kantor
Pusat PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Jakarta, tanggal 18 Februari 2022.
Peraturan Perundang-Undangan
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Burgerlijk Wetboek voor Indonesie, (Staatsblad Tahun
1847 Nomor 23).
Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor : 23 / 88 / KEP / DIR tanggal 18 Maret 1991
Tentang Pemberian Bank Garansi oleh Bank.
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 23 / 7 / UKU Tanggal 18 Maret 1991 Tentang Pemberian
Bank Garansi oleh Bank.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Tahun 1992
Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3472).
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1992 tentang Perbankan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1998 Nomor
182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3790).
389
Notary Law Journal Vol 1 Issue 4 October 2022 P-ISSN:2808-7860| E-ISSN:2808-7348
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang. (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 131,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4443).
390